Muhah ta ya widu jaladdi ikaŋ baba[na]han marenyammanniloka, řg gěr byaŕ kagwat para watěk yaǹ yaǹ sadaya șadatěǹŋinra saǹ kuñjarakaŕņna
Bahasa Indonesia oleh William Van Der Molen:
Kawasan dalam laut dan pintu neraka menjadi kacau. Greg.. Greg.. Byar... terkejut para dewa ketika Kunjarakarna datang.
Pada larik 28 terdapat kata dengan menggunakan majas Snapshot yaitu pada kata ‘matabwan’, kata sebagai tembakan tiba-tiba untuk memperkuat dan menghidupkan suasana, meskipun hanya penulis yang tau artinya kalimat ellipsis dengan struktur tidak lengkap. Kawasan dalam laut dan pintu menjadi menjadi kacau karena Kunjarakarna melalui laut ini menuju ke pintu neraka. Laut menjadi porak poranda karena Kunjarakarna melaluinya dengan berjalan yang seharusnya berenang. Kemudian pintu nerakapun menjadi kacau atau rusak karena terkaget-kaget kedatangan seseorang dari bumi. Para dewa yang berada di sorga (surga) terkejut karena mereka belum siap menerima kedatangan manusia dari bumi, manusia yang akan menyaksikan neraka. Dikhawatirkan hal ini menjadikan surga dan neraka tidak lagi rahasia dan tertutup melainkan terbuka bagi siapa saja, bisa mengetahui sebelum ajal menimpa.
Pada tahun 1979, Hannelore Schmatz adalah wanita keempat di dunia yang mencapai puncak Gunung Everest. Sayangnya, pendakian gemilangnya ke puncak gunung ini menjadi pendakian yang terakhir baginya. Jerman pendaki gunung Hannelore Schmatz senang mendaki. Pada tahun 1979, ditemani suaminya, Gerhard, Schmatz memulai ekspedisi paling ambisius mereka mencapai puncak Gunung Everest. Meskipun pasangan suami-istri tersebut dengan penuh kemenangan berhasil mencapai puncak, perjalanan mereka kembali ke bawah berakhir dengan tragedi karena Schmatz kehilangan nyawanya. Ini menjadikannya wanita pertama dan warga negara Jerman pertama yang meninggal di Gunung Everest.
Selama bertahun-tahun setelah kematiannya, mayat mumi Hannelore Schmatz dikenali dari tas punggungnya dan menjadi peringatan yang mengerikan bagi para pendaki gunung lain yang mencoba melakukan hal yang sama. Hanya pendaki paling berpengalaman di dunia yang berani menghadapi kondisi mengancam jiwa saat pendakian ke puncak Everest. Hannelore Schmatz dan suaminya Gerhard Schmatz adalah sepasang pendaki gunung berpengalaman yang telah melakukan perjalanan untuk mencapai puncak gunung paling sulit ditaklukkan di dunia.
Pada bulan Mei 1973, Hannelore dan suaminya kembali dari ekspedisi yang sukses ke puncak Manaslu, puncak gunung kedelapan di dunia yang berdiri di ketinggian 26.781 kaki di atas permukaan laut, di Kathmandu. Tidak berhenti sejenak, mereka segera memutuskan pendakian mereka berikutnya. Entah kenapa, pasangan suami istri ini lalu memutuskan akan menaklukkan gunung tertinggi di dunia, Gunung Everest. Mereka mengajukan permintaan kepada pemerintah Nepal untuk mendapatkan izin mendaki puncak paling mematikan di dunia dan memulai persiapan yang berat.
Pasangan ini mendaki puncak gunung setiap tahun untuk meningkatkan kemampuan mereka menyesuaikan diri dengan ketinggian. Tahun demi tahun berlalu, gunung yang mereka daki semakin tinggi. Setelah sukses mendaki lagi ke Lhotse, yang merupakan puncak gunung tertinggi keempat di dunia, pada bulan Juni 1977, mereka akhirnya mendapat kabar bahwa permintaan mereka untuk Gunung Everest telah disetujui.
Hannelore, yang suaminya sebut sebagai “seorang jenius dalam hal mencari dan mengangkut material ekspedisi,” mengawasi persiapan teknis dan logistik pendakian Everest mereka.
Selama tahun 1970-an, masih sulit untuk menemukan peralatan pendakian yang memadai di Kathmandu sehingga peralatan apa pun yang akan mereka gunakan untuk ekspedisi tiga bulan ke puncak Everest harus dikirim dari Eropa ke Kathmandu.
Hannelore Schmatz memesan sebuah gudang di Nepal untuk menyimpan peralatan mereka yang total beratnya beberapa ton. Selain perlengkapan, mereka juga perlu membentuk tim ekspedisinya. Selain Hannelore dan Gerhard Schmatz, ada enam pendaki berpengalaman lainnya yang bergabung dengan mereka di Everest.
Di antara mereka adalah Nick Banks dari Selandia Baru, Hans von Känel dari Swiss, Ray Genet dari Amerika — seorang pendaki gunung ahli yang pernah melakukan ekspedisi bersama keluarga Schmatz sebelumnya — dan sesama pendaki Jerman Tilman Fischbach, Günterfights, dan Hermann Warth. Hannelore adalah satu-satunya wanita di grup itu.
Pada bulan Juli 1979, segala sesuatu telah dipersiapkan dan siap untuk berangkat, dan kelompok yang terdiri dari delapan orang memulai perjalanan mereka bersama dengan lima sherpa – pemandu lokal pegunungan Himalaya – untuk membantu memimpin perjalanan. Selama pendakian, rombongan mendaki pada ketinggian sekitar 24.606 kaki di atas permukaan tanah, tingkat ketinggian yang disebut sebagai “pita kuning”.
Mereka kemudian melintasi Geneva Spur untuk mencapai kamp di South Col yang merupakan punggung bukit bertepi tajam di titik terendah antara Lhotse hingga Everest pada ketinggian 26.200 kaki di atas permukaan tanah. Kelompok tersebut memutuskan untuk mendirikan kamp terakhir mereka di Kol Selatan pada 24 September 1979.
Namun badai salju yang terjadi selama beberapa hari memaksa seluruh kamp turun kembali ke base camp Kamp III. Akhirnya, mereka mencoba lagi untuk kembali ke titik Kol Selatan, kali ini dibagi menjadi kelompok besar yang terdiri dari dua orang. Suami dan istri terpecah – Hannelore Schmatz berada dalam satu kelompok dengan pendaki lain dan dua sherpa, sedangkan sisanya bersama suaminya di kelompok lainnya.
Namun, perjalanan kembali Hannelore penuh dengan bahaya. Menurut anggota kelompok yang masih hidup, Hannelore dan pendaki Amerika Ray Genet – keduanya pendaki yang kuat – menjadi terlalu lelah untuk melanjutkan. Mereka ingin berhenti dan mendirikan kamp bivak (singkapan terlindung) sebelum melanjutkan penurunan.
Sherpa Sungdare dan Ang Jangbu yang bersama Hannelore dan Genet memperingatkan terhadap keputusan para pendaki. Mereka berada di tengah-tengah yang disebut Zona Kematian, dimana kondisinya sangat berbahaya sehingga pendaki paling rentan terkena kematian di sana. Para sherpa menyarankan para pendaki untuk terus melanjutkan perjalanan sehingga mereka dapat kembali ke base camp yang jauh di bawah gunung.
Terguncang karena kehilangan rekan mereka, Hannelore dan dua sherpa lainnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan turun. Namun sudah terlambat – tubuh Hannelore mulai menyerah pada iklim yang merusak. Menurut sherpa yang bersamanya, kata-kata terakhirnya adalah “Air, air,” saat dia duduk untuk beristirahat. Dia meninggal di sana, bersandar di ranselnya.
Setelah kematian Hannelore Schmatz, salah satu sherpa tetap tinggal bersama tubuhnya, mengakibatkan hilangnya satu jari tangan dan beberapa jari kaki karena radang dingin.
Hannelore Schmatz adalah wanita pertama dan orang Jerman pertama yang meninggal di lereng Everest. Menyusul kematiannya yang tragis di Gunung Everest pada usia 39 tahun, suaminya Gerhard menulis, “Meskipun demikian, tim telah pulang. Tapi aku sendirian tanpa Hannelore tercinta.”
Pais atau pepes adalah masakan khas Sunda yang dibungkus dengan daun seperti pepes pada umumnya. Bahan dasar pais hayam bukanlah ikan namun ayam. Inilah resep pais hayam.’
Bahan:
1 ekor / 750gr ayam muda potong menjadi 4
1 bks kaldu ayam bubuk campur dan diamkan 1 jam
Daun pisang
Bumbu yang diiris:
8 siung bawang merah iris
1 buah tomat setengah matang iris
4 batang daun bawang iris
12 buah cabe rawit buang tangkanya
1 sdm garam
2 sdm gula pasir
4 batang serai memarkan
8 lembar daun jeruk
30 lembar daun kemangi
Bumbu yang dihaluskan:
2sdm cabe giling
10 siung bawang merah
3 siung bawang putih
1 sdm garam
1 sdm gula merah
1 sdt asam haluskan
3 batang daun bawang iris
30 lembar daun kemangi
3 buah cabe rawit
8 batang serai
8 lembar daun salam
Cara membuat:
1. Dengan bumbu iris: aduk rata ayam dan semua bumbu, bagi menjadi 4 bagian. Masing-masing bagian bungkus dengan daun pisang.
2. Dengan bumbu halus: aduk potongan ayam dengan bumbu, bungkus masing-masing ayam beserta bumbu dengan daun pisang.
3. Kukus pais hayam selama 6-8 jam hingga tulangnya lunak. Angkat dna dinginkan. Panggang di atas bara api hingga harum
Mamangut adalah sejenis kuliner berkuah dengan bumbu beragam dan tersebar di beberapa tempat di Indonesia. Ada mamangut khas Jawa Tengah, Jawa Timur di pesisir Utara, dan dari Kalimantan. Kali ini mamangut akan disajikan dengan resep berbeda yaitu khas Sunda Jawa Barat yang bahan dasarnya adalah jerohan.
Bahan:
750gr jerohan sapi usus, hati, paru, babat potong sedang
1000cc air
Bumbu:
1sdm cabe giling
10 siung bawang merah
4 butir kemiri
1sdm garam
1 sdm gula merah
1sdt asam
3 buah tomat iris
2 batang serai memarkan
5 lembar daun salam
3 lembar daun jeruk purut
3cm lengkuas memarkan
Cara membuat:
1. Cuci jerohan hingga bersih lalu tiriskan
2. Tempatkan jerohan dalam panci, masukkan air dan semua bumbu. Masak dengan api sedang dalam wadah tertutup hingga bumbu meresap dan air hampir mengering.
3. Tambahkan lagi 500cc air, tutup panci. Masak terus dan tambahkan air setiap kali air hampir habis. Masak terus hingga jerohan lunak dan kuah mengental. Angkat, tempatkan dalam mangkuk saji. Hidangkan
Masak Banten adalah sejenis sup khas Sunda yang memiliki cita rasa seperti gulai Kambing ala Arab karena semua bumbunya hampir sama.
Bahan:
3/4kg daging sandung lamur/tetelan/iga sapi/kambing potong sedang
1500cc air
Bumbu
1 butir pala
3cm kayu manis
3 butir kapulaga
3cm lengkuas memarkan
1sdm cabe giling
8 siung bawang merah
3 siung bawang putih
1/2cm kunyit
1/2cm jahe
1cm kencur
3butir kemiri
1 1/2sdm garam
2 1/2sdm gula jawa
1sdt asam
1/2sdt merica
1sdm ketumbar sangrai dan haluskan
3lbr daun salam
2 batang serai memarkan
3lbr daun jeruk puurut
3 butir cengkih
Cara membuat:
1, Campur semua bahan dan bumbu dalam panci, masak dan ditutup hingga kuah mengering
2. Tambahkan 500cc air, masak terus sambil diaduk hingga mendidih, tutup kembali pancinya. Tambahkan air setiap kali air hampir habis. Masak terus hingga daging lunak dan mengental. Angkat dan hidangkan.
Soto adalah masakan khas Nusantara. Hampir di semua daerah di Indonesia memiliki kuliner Soto masing-masing dengan segala macam kekhasannya. Kali ini saya akan menampilkan resep Soto Bandung yang segar, berkuah bening dan terdapat irisan buah lobak di dalam kuah sotonya. Inilah resepnya.
Bahan:
2500cc air untuk merebus
750gr sandung lamur/kikil/jerohan campur
100gr lobak iris tipi bundar
3sm minyak goreng untuk menumis
Bumbu:
3 siung bawang putih, kupas dan memarkan
50gr lengkuas memarkan
2cm jahe memarkan
3 batang jahe memarkan
1sdm gula pasir
1bks kaldu ayam
Pelengkap:
3sm bawang goreng
100gr kacang kedelai rendam 2jam lalu goreng
5sdm irisan daun bawang
5 sdm irisan daun seledri
merica bubuk sesuai selera
irisan jeruk nipis
emping goreng
sambel rawit
Untuk sambel rawit:
15 cabe rawit tua rendam sebentar dalam air mendidih
1/2st garam
1/2sdm gula pasir tumbuk kasar
1/2st cuka
50cc air
Cara membuat:
Didihkan air, masukkan daging. Masak sambil ditambah air bila perlu hingga daging lunak. Angkat dagingnya lalu potong kecil-kecil. Sisihkan.]
Tumis bawang putih hingga kuning, masukkan ke dalam kaldu bersama bumbu lainnya dan potong daging. Didihkan, masukkan irisan lobak. Masak sebentar. Angkat.
Cara menghidangkan: Tempatkan merica bubuk dalam mangkok saji, beri perasan air jeruk nipis. Tuang kaldu beserta isinya, taburi bawang goreng dan kedelai goreng, daun bawang dan sledri. Hidangkan dengan emping goreng, kecap dan sambal rawit dalam tempat terpisah.
Hidangan ini sangat cocok dibuat saat lebaran Idul Adha. Kadang bingung mau masak apa di hari pembagian daging kambing. Daging kambing tidak selalu harus dimasak menjadi gule atau sate. Cobalah mahbub, ini sangat unik dan lezat.
Bahan:
750gr daging kambing
200gr lembaran lemak kambing
Bumbu yang dihaluskan: 1 sdm ketumbar sangrai
5 buah bawang merah
1 siung bawang putih
1/2 st merica
1,5 sdm garam
2,5 sdm gula pasir
1 cm jahe
Untuk sambal kecap:
5 buah bawang merah iris kasar
cabe rawit secukupnya iris kasar
air jeruk limau secukupnya
kecap manis secukupnya
Cara membuat:
1 Ulek daging kambing cincang dengan bumbu yang dihaluskan hingga kenyal. Bentuk adonan menjadi bulat-bulat kecil.
2. Potong lembaran lemak kambing menjadi segi empat ukuran 8 x 8 cm
3. Bungkus bulatan-bulatan tadi dengan lemak kambing hingga tertutup rata.
4. Tusuk dengan 2 batang tusuk sate, lalu bungkus dengan daun pisang. Ulangi hal yang sama hingga selesai.
5. Panggang mahbub di atas bara hingga daun pisang hangus dan daging matang. Angkat dan buka daunnya, tempatkan dalam piring saji. Hidangkan dengan sambal kecap.
Laksa Ayam adalah sejenis kuliner tradisional berbahan dasar mi atau bihun. Laksa ayam banyak dikonsumsi masyarakat Sunda Jawa Barat. Laksa ayam juga merupakan bagian dari kuliner Melayu yang memiliki sebutan yang hampir sama yaitu Laksam, Laksa Malaysia, Laksa Singapore dll. Bahan dasar laksa berupa mi atau bihun inilah yang membuat kuliner laksa tersebar di beberapa negara karena bisa jadi awal adanya kuliner ini adalah berasal dari dataran China.
Bahan Laksa Ayam:
1 ekor (800 gr) ayam.
2500 cc air untuk merebus ayam
2 sdm minyak untk menumis
50 gr udang kupas
2 bks kaldu ayam bubuk
900 cc santan kental dari 1 butir kelapa
150 gr bihun, seduh air panas
100 gr tauge
2 butir telur rebus
4 sdm bawang goreng
25 gr kemangi
Bumbu:
25 gr kemiri
6 buah bawang merah
1 sdm ketumbar
2 cm kunyit
3 cm lengkuas
1,5 sdm garam
2 sdm gula pasir
3 batang sereh
2 lb daun salam
Untuk sambal:
3 buah cabe merah
10 buah cabe rawit
1/2 st garam
1 sdm gula pasir
semua haluskan dan beri 1 sdm perasan jeruk nipis
Cara membuat:
1. Rebus ayam hingga empuk. Angkat ayamnya suwir-suwir. Sisihkan
2. Tumis bumbu yang dihaluskan hingga wangi, masukkan sereh, daun salam dan udang kupas.
3. Ambil 1500 cc sisa air rebusan ayam, tuang ke dalam tumisan bumbu, beri kaldu ayam bubuk dan santan kental. Masak sambil diaduk hingga santan mendidih. Angkat.
4. Cara penyajian: tempatkan bihun, tauge, suwiran ayam dan telur rebus ke dalam mangkuk saji. Siram kuah panas, taburi bawang goreng dan daun kemangi. Hidangkan dengan sambal dalam tempat terpisah.
Nasi Burih adalah sejenis penganan pokok berbahan dasar nasi putih, Bentuknya hampir mirip seperti buras atau arem-arem. Nasi berbentuk lontong ini dibuat dengan lauk di dalamnya yaitu bisa daging ayam atau hati ampela ayam. Bahannya adalah:
Bahan:
700 gr nasi putih
6 buah hati ayam, iris tipis
2 buah ampela ayam, potong kecil-kecil
daun pisang secukupnya untuk pembungkus
Bumbu:
10 buah bawang merah, kupas iris
2 buah cabe merah buang biji, iris
2 bungkus kaldu ayam
2 sdm margarine
10 batang sereh ambil bagian putihnya memarkan
20 lembar daun salam
Cara membuat:
1. Campur nasi, hati ayam, ampela ayam dan semua bumbu kecuali sereh dan salam, aduk hingga rata.
2. Tempatkan 5 sdm nasi berbumbu dalam selembar daun pisang, beri 1 batang serai dan 2 helai daun salam. Gulung, semat/lipat ujung-ujungnya dengan lidi. Lakukan hal yang sama hingga selesai.
Kukus selama 20 menit, lalu panggang di atas bara supaya berbau wangi.