Bahasa yang Paling Sulit Dipelajari di Dunia dan Alasan di Baliknya

Menurut Foreign Service Institute (FSI) Amerika Serikat, bahasa-bahasa yang paling sulit bagi penutur bahasa Inggris termasuk dalam Kategori IV atau “super-hard languages”, yaitu Mandarin, Arab, Jepang, dan Korea yang memerlukan sekitar 2.200 jam pelajaran untuk mencapai kemahiran profesional. Bahasa Mandarin sering menduduki peringkat teratas karena sistem nada (tone) yang terdiri dari empat nada utama plus nada netral, di mana pengucapan yang salah dapat mengubah arti kata sepenuhnya—misalnya, “ma” dapat berarti ibu, kuda, hempedu, atau memar tergantung intonasinya. Selain itu, sistem tulisan Hanzi yang logografis mengharuskan pelajar menghafal ribuan karakter, masing-masing memiliki makna dan sering kali pengucapan yang berbeda. Kompleksitas ini diperburuk oleh kurangnya kesamaan kosakata dengan bahasa Indo-Eropa, sehingga pelajar harus membangun fondasi dari nol tanpa bantuan cognates. Faktor budaya dan konteks penggunaan juga menambah tantangan, karena pemahaman bahasa Mandarin tidak hanya melibatkan tata bahasa melainkan juga norma sosial yang halus. Penelitian linguistik menunjukkan bahwa otak pelajar non-native harus mengembangkan kemampuan baru dalam pemrosesan auditif dan visual yang jauh berbeda dari bahasa alfabetik.

Bahasa Arab menyusul sebagai salah satu yang paling menantang karena sistem tulisannya yang berbasis abjad konsonan, di mana vokal sering tidak ditulis dan harus ditebak dari konteks. Bahasa ini memiliki akar kata (root system) yang unik, di mana tiga konsonan dasar dapat menghasilkan puluhan kata turunan dengan makna terkait, tetapi memerlukan pemahaman mendalam tentang pola morfologi. Variasi dialek yang ekstrem antar negara—dari Modern Standard Arabic (MSA) yang digunakan di media hingga dialek sehari-hari seperti Mesir atau Levantine—membuat pelajar harus menguasai dua varian secara bersamaan. Pengucapan huruf seperti ‘ayn, ghayn, dan qaf sulit bagi penutur bahasa Indonesia atau Inggris karena melibatkan bunyi tenggorokan yang jarang ada di bahasa ibu mereka. Selain itu, arah tulisan dari kanan ke kiri dan aturan gramatika yang melibatkan jenis kelamin, angka, dan kasus menambah beban kognitif. Studi menunjukkan bahwa pelajar membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai kefasihan membaca dan mendengar karena kekayaan sastra dan retoris yang mendalam dalam tradisi Arab.

Bahasa Jepang dan Korea juga termasuk dalam kelompok tersulit karena kombinasi sistem tulisan dan struktur gramatika yang unik. Jepang menggunakan tiga sistem tulisan sekaligus: Hiragana, Katakana, dan Kanji (ribuan karakter yang diadopsi dari Hanzi tetapi dengan pengucapan dan makna yang berbeda). Tata bahasa Jepang bersifat aglutinatif dengan partikel yang menunjukkan fungsi kata, serta tingkat kehalusan (honorifics) yang rumit berdasarkan hierarki sosial. Sementara itu, bahasa Korea memiliki Hangul yang fonetis dan relatif mudah dipelajari, tetapi gramatikanya sangat bergantung pada konteks, sistem honorifik yang lebih kompleks, dan urutan kata yang fleksibel. Kedua bahasa ini minim kesamaan dengan bahasa-bahasa Austronesia atau Indo-Eropa, sehingga transfer skill linguistik hampir tidak ada. Faktor psikologis seperti motivasi dan paparan budaya pop (anime, K-drama) dapat membantu, tetapi penelitian kognitif menegaskan bahwa memproses kanji atau pola kalimat Korea memerlukan adaptasi neural yang signifikan. Bahasa-bahasa seperti Hungaria, Finlandia, dan Basque juga sering disebut sulit karena gramatika aglutinatif ekstrem dan kosakata non-Indo-Eropa, meski jumlah penuturnya lebih sedikit.

Secara keseluruhan, kesulitan mempelajari bahasa tidak hanya ditentukan oleh jarak linguistik melainkan juga oleh faktor neuropsikologis, budaya, dan lingkungan belajar. Kemajuan teknologi seperti aplikasi berbasis AI, imersi virtual reality, dan metode pengajaran berbasis bukti telah mengurangi waktu yang dibutuhkan, namun tidak menghilangkan tantangan mendasar. Bagi penutur bahasa Indonesia, kesulitan bisa sedikit berkurang pada aspek fonetik tertentu, tetapi tetap tinggi pada sistem tulisan dan nada. Memahami alasan di balik kesulitan ini tidak hanya membantu calon pelajar mempersiapkan strategi yang tepat—seperti fokus pada nada terlebih dahulu untuk Mandarin atau latihan mendengar dialek untuk Arab—melainkan juga memberikan apresiasi lebih dalam terhadap keragaman bahasa manusia sebagai cerminan kompleksitas pikiran dan budaya. Dengan dedikasi dan pendekatan yang tepat, bahkan bahasa tersulit sekalipun dapat dikuasai, membuka pintu pemahaman global yang lebih luas.

#bahasa

#mandarin

#arabic

#japanese

#ikahentihu

Bahasa Inggris sebagai Bahasa Global: Berkah atau Ancaman bagi Bahasa Lokal?

Bahasa Inggris telah menjadi bahasa global yang paling dominan di era modern. Dengan sekitar 1,5 miliar penutur di seluruh dunia—terdiri dari 380 juta penutur asli dan lebih dari 1,1 miliar penutur kedua—bahasa ini berfungsi sebagai lingua franca dalam bisnis, pendidikan, sains, teknologi, dan diplomasi internasional. Di Indonesia, penguasaan bahasa Inggris menjadi kunci untuk mengakses peluang kerja di perusahaan multinasional, melanjutkan studi ke luar negeri, serta berpartisipasi dalam perdagangan global seperti Masyarakat Ekonomi ASEAN. Keberadaannya membawa berkah berupa akses informasi yang luas, karena lebih dari 50% jurnal ilmiah dan sebagian besar konten internet menggunakan bahasa Inggris. Hal ini memungkinkan generasi muda Indonesia untuk terhubung dengan pengetahuan terkini dan budaya dunia tanpa batas. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran bahwa dominasi bahasa Inggris justru menjadi ancaman bagi keberagaman bahasa lokal. Sebagai negara dengan lebih dari 700 bahasa daerah, Indonesia menghadapi risiko nyata di mana bahasa ibu semakin tersisihkan demi “bahasa sukses” global.

Di satu sisi, bahasa Inggris membawa berkah yang tak terbantahkan bagi kemajuan individu dan bangsa. Dalam bidang ekonomi, penguasaan bahasa ini membuka pintu karir yang lebih baik, meningkatkan daya saing tenaga kerja, dan memudahkan promosi produk lokal ke pasar internasional. Di sektor pendidikan, mahasiswa dan peneliti Indonesia dapat dengan mudah mengakses literatur global, berkolaborasi dengan ilmuwan asing, serta mengikuti konferensi internasional tanpa hambatan bahasa. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari, pengaruh bahasa Inggris memperkaya kosakata bahasa Indonesia melalui serapan kata seperti “computer”, “internet”, atau “meeting”, yang mempercepat adaptasi terhadap kemajuan teknologi. Banyak orang tua di perkotaan mendorong anak-anaknya belajar Inggris sejak dini agar tidak ketinggalan dalam era globalisasi. Fenomena ini menciptakan kesempatan mobilitas sosial yang lebih besar, di mana kemampuan berbahasa Inggris sering dianggap sebagai simbol prestise dan modernitas. Secara keseluruhan, berkah ini membantu Indonesia berintegrasi lebih dalam ke dalam komunitas global, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan pemahaman antarbudaya.

Namun, di sisi lain, dominasi bahasa Inggris juga membawa ancaman serius terhadap bahasa lokal dan identitas budaya. Di Indonesia, lebih dari 425 bahasa daerah terancam punah, dengan puluhan sudah dalam status kritis atau punah total. Generasi muda di kota-kota besar cenderung beralih ke bahasa Indonesia dan Inggris dalam percakapan sehari-hari, media sosial, serta pendidikan, sehingga transmisi bahasa daerah antargenerasi terputus. Fenomena code-mixing atau campur kode antara Inggris dan Indonesia semakin marak di ruang publik, iklan, dan konten digital, yang secara perlahan menggerus kemurnian dan vitalitas bahasa lokal. Bahasa daerah yang kaya akan kearifan lokal—seperti kosakata tentang alam, obat tradisional, atau nilai filosofis—berisiko hilang bersama pengetahuan leluhur. Ancaman ini bukan hanya linguistik, melainkan juga budaya: anak muda yang kehilangan bahasa ibu sering mengalami krisis identitas dan terputus dari akar komunitasnya. Di tingkat global, UNESCO mencatat bahwa sekitar 40% bahasa dunia terancam punah, sebagian besar akibat tekanan dari bahasa dominan seperti Inggris.

Faktor utama yang memperburuk ancaman ini adalah globalisasi, urbanisasi, dan pengaruh media digital. Sekolah-sekolah internasional dan program bilingual sering memprioritaskan Inggris, sementara bahasa daerah jarang mendapat ruang dalam kurikulum. Media sosial dan platform streaming yang mayoritas berbahasa Inggris membuat anak muda lebih tertarik pada konten global daripada cerita lisan atau lagu daerah. Selain itu, persepsi sosial bahwa bahasa Inggris lebih “bergengsi” dan bahasa daerah dianggap “kampungan” semakin mempercepat pergeseran bahasa. Di Indonesia, penggunaan istilah Inggris di nama tempat wisata, gedung perkantoran, atau kampanye publik semakin umum, yang secara tidak langsung menempatkan bahasa lokal di posisi subordinat. Tanpa kesadaran kolektif, proses ini dapat menyebabkan homogenisasi budaya, di mana keberagaman pandangan dunia yang dibawa oleh ratusan bahasa daerah lenyap, meninggalkan dunia yang lebih monoton dan kurang inovatif.

Meskipun demikian, bahasa Inggris tidak harus menjadi musuh bagi bahasa lokal; keduanya bisa hidup berdampingan melalui pendekatan yang bijak. Solusinya adalah menerapkan pendidikan multilingual yang seimbang, di mana bahasa ibu tetap menjadi fondasi di tingkat dasar, sementara bahasa Inggris diajarkan sebagai alat tambahan. Pemerintah dapat mendorong revitalisasi melalui festival bahasa daerah, konten digital dalam bahasa lokal, serta insentif bagi komunitas untuk mendokumentasikan dan mengajarkan bahasa leluhur mereka. Di Indonesia, Badan Bahasa dan program Merdeka Belajar bisa diperluas untuk mengintegrasikan bahasa daerah dalam kurikulum lokal. Masyarakat juga perlu membangun kebanggaan terhadap bahasa ibu tanpa menolak manfaat bahasa Inggris. Dengan demikian, kita bisa menuai berkah globalisasi tanpa kehilangan warisan budaya. Bahasa Inggris sebagai bahasa global memang membawa kemajuan, tetapi hanya akan menjadi berkah sejati jika kita mampu menjaganya agar tidak menjadi ancaman bagi keberagaman bahasa lokal. Mari kita lindungi semua bahasa sebagai bagian dari kekayaan bangsa dan umat manusia.

#bahasainggris

#bahsaglobal

#bahasa

#global

#ikahentihu

Keberagaman Bahasa di Dunia: Mengapa Bahasa Punah dan Bagaimana Menyelamatkannya?

Keberagaman bahasa di dunia merupakan salah satu warisan paling berharga yang dimiliki umat manusia. Menurut data Ethnologue terbaru, saat ini terdapat sekitar 7.170 bahasa yang masih digunakan di berbagai belahan bumi. Angka ini mencerminkan kekayaan budaya yang luar biasa, di mana setiap bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan pembawa identitas, pengetahuan tradisional, dan pandangan dunia yang unik. Di Indonesia saja, sebagai negara dengan keragaman linguistik tertinggi kedua setelah Papua Nugini, tercatat lebih dari 700 bahasa daerah yang hidup. Bahasa-bahasa ini menjadi jembatan antargenerasi, menyimpan cerita rakyat, resep obat herbal, dan nilai-nilai kearifan lokal yang tak ternilai. Namun, di era globalisasi yang serba cepat, keberagaman ini semakin terancam. Bahasa tidak lagi hanya hilang karena bencana alam atau konflik, melainkan karena tekanan sosial dan ekonomi yang sistematis. Kehilangan satu bahasa berarti kehilangan satu sudut pandang tentang kehidupan, yang pada akhirnya mengurangi kekayaan intelektual umat manusia secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami dinamika keberagaman bahasa menjadi penting bagi kita semua untuk menjaga warisan budaya yang rapuh ini.

Meskipun jumlah bahasa di dunia masih ribuan, realitasnya jauh lebih suram. Sekitar 40 persen di antaranya dikategorikan sebagai bahasa yang terancam punah atau rentan. Setiap dua minggu sekali, satu bahasa punah di dunia ini, dan penutur asli yang tersisa sering kali hanya segelintir orang tua yang tak lagi mampu mentransmisikan pengetahuannya kepada generasi muda. Di Indonesia, Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Kemdikbud mencatat bahwa 27 bahasa daerah berstatus rentan, 29 mengalami kemunduran, 26 terancam punah, delapan kritis, dan lima sudah punah total. Contoh nyata adalah bahasa-bahasa di Papua atau pulau-pulau terpencil yang semakin tersisih karena migrasi penduduk ke kota besar. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional memang menyatukan bangsa, tetapi di sisi lain, ia juga menjadi faktor dominan yang mendorong pergeseran bahasa daerah. Fenomena ini bukan hanya terjadi di negara berkembang; bahkan di Eropa dan Amerika, bahasa asli suku asli seperti Navajo atau Gaelic Irlandia pun mengalami penurunan drastis. Tanpa intervensi cepat, keberagaman linguistik dunia bisa menyusut menjadi hanya ratusan bahasa dominan dalam beberapa generasi mendatang.

Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kepunahan bahasa, dan semuanya saling terkait dengan dinamika masyarakat modern. Pertama, globalisasi dan dominasi bahasa besar seperti Inggris, Mandarin, atau Indonesia membuat orang tua enggan mengajarkan bahasa ibu kepada anak-anaknya demi “kesuksesan” ekonomi dan pendidikan. Kedua, urbanisasi dan migrasi memaksa komunitas kecil beradaptasi dengan bahasa mayoritas di tempat kerja atau sekolah, sehingga transmisi antargenerasi terputus. Ketiga, pengaruh media digital dan teknologi yang hampir seluruhnya berbasis bahasa dominan mempercepat proses ini; anak muda lebih tertarik pada konten TikTok atau YouTube dalam bahasa Inggris daripada mendengar dongeng nenek dalam bahasa daerah. Keempat, faktor ekonomi membuat bahasa daerah dianggap “kurang bergengsi” atau bahkan “kampungan”, sehingga penuturnya merasa inferior secara sosial. Akhirnya, kurangnya dukungan kebijakan pemerintah di tingkat lokal dan nasional memperburuk situasi. Ketika sekolah hanya fokus pada bahasa nasional atau asing, bahasa daerah pun tersingkir dari ruang publik. Semua ini bukanlah proses alami, melainkan hasil pilihan sosial dan politik yang dapat diubah.

Dampak kepunahan bahasa jauh melampaui hilangnya kata-kata semata. Setiap bahasa yang punah membawa serta pengetahuan ekologis, medis, dan filosofis yang tak tergantikan. Misalnya, suku-suku di hutan Amazon atau Papua memiliki kosakata khusus untuk tumbuhan obat yang belum pernah diuji ilmu pengetahuan modern; ketika bahasa mereka hilang, pengetahuan itu ikut lenyap. Selain itu, identitas budaya menjadi rapuh, karena bahasa adalah cermin jiwa suatu bangsa. Anak-anak yang tak lagi fasih berbahasa daerah sering mengalami krisis identitas, merasa terputus dari akar leluhur mereka. Secara global, kehilangan keberagaman linguistik juga mengurangi kreativitas manusia, sebab setiap bahasa menawarkan cara berpikir yang berbeda—dari struktur kalimat yang memengaruhi persepsi waktu hingga metafor yang menggambarkan hubungan manusia dengan alam. Pada akhirnya, dunia yang hanya berbicara dalam segelintir bahasa akan menjadi lebih homogen, kurang toleran terhadap perbedaan, dan lebih rentan terhadap hilangnya inovasi budaya. Kepunahan bahasa bukan sekadar isu linguistik, melainkan krisis kemanusiaan yang mengancam keberlanjutan peradaban kita.

Untungnya, masih ada harapan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa yang terancam melalui upaya kolektif yang terstruktur. Pertama, pendidikan berbasis bahasa ibu harus diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dasar, seperti program revitalisasi yang telah sukses di Selandia Baru dengan bahasa Maori. Kedua, dokumentasi digital melalui aplikasi kamus, rekaman cerita lisan, dan platform AI seperti Grok atau Duolingo dapat melestarikan bahasa secara masif dan murah. Ketiga, komunitas lokal perlu diberdayakan dengan festival bahasa, lagu daerah di media sosial, dan insentif ekonomi bagi penutur muda yang aktif menggunakan bahasa ibu. Keempat, pemerintah dan lembaga internasional seperti UNESCO harus menyediakan dana khusus serta kebijakan yang mewajibkan penggunaan bahasa daerah di ruang publik dan media. Di Indonesia, Badan Bahasa telah melakukan berbagai inisiatif, tetapi perlu diperluas hingga ke desa-desa terpencil. Yang terpenting, kesadaran masyarakat—terutama generasi muda—harus dibangun agar mereka bangga menjadi penjaga bahasa leluhur. Dengan kombinasi teknologi, pendidikan, dan komitmen politik, kita masih bisa membalikkan tren kepunahan ini. Keberagaman bahasa bukan hanya masa lalu, melainkan kunci masa depan yang lebih kaya dan inklusif. Mari kita bertindak sekarang, sebelum terlambat.

#ragambahasa

#bahasaindonesia

#bahasa

#ikahentihu

Mengapa Bahasa Jerman Tidak Dipelajari Secara Luas Seperti Bahasa Eropa Lainnya?

Di antara bahasa Eropa yang dipelajari sebagai bahasa kedua:

Bahasa Inggris berada di tempat pertama yang tidak mengherankan karena saat ini merupakan lingua franca de facto (ironis seperti nama ini) dunia.

Bahasa Prancis berada di urutan kedua. Dan ini mungkin mengejutkan banyak orang, tetapi mari kita lihat di mana bahasa Prancis digunakan.

Ini menjelaskan cukup banyak penutur bahasa kedua. Daerah biru tua adalah tempat bahasa Prancis adalah bahasa resmi dan juga bahasa mayoritas. Semua nuansa biru lainnya adalah wilayah di mana bahasa Prancis memiliki kedudukan yang kuat tetapi bukan bahasa mayoritas atau merupakan bahasa kedua yang penting. Ini cukup banyak Afrika, karena masa lalu kolonial Prancis.

Di tempat ketiga kami memiliki bahasa Rusia. Ini terutama artefak masa lalu. Bahasa Rusia mungkin akan kehilangan lebih banyak penutur bahasa kedua di masa depan karena cukup banyak dari mereka berlokasi di bekas negara-negara Pakta Warsawa. Bahasa Rusia masih akan menempati salah satu tempat yang lebih tinggi karena bahkan Rusia bukanlah negara monolingual dan banyak dari bekas Republik Soviet masih memiliki populasi Rusia yang kuat dan oleh karena itu orang-orang akan belajar bahasa tersebut.

Di tempat keempat kami memiliki bahasa Spanyol.

Ini, sekali lagi, karena sejarah kolonial Spanyol.

Dan kemudian di tempat kelima kami memiliki bahasa Jerman. Ini meskipun bahasa Jerman tidak memiliki banyak bekas koloni berbahasa Jerman dan bahasa Jerman kehilangan banyak popularitas di paruh pertama abad ke-20.

Mengingat situasinya, saya pikir Jerman melakukannya dengan cukup baik untuk dirinya sendiri. Daftar bahasa Eropa yang kurang dipelajari dari bahasa Jerman cukup panjang daripada daftar bahasa Eropa yang lebih banyak dipelajari.

#german

#european

#ikahentihu

Menurutmu Apa Tata Bahasa Universal Dalam Linguistik?

Istilah “Tata Bahasa Universal” sangat terkait dengan teori spesifik yang dikembangkan oleh Noam Chomsky, yang mengatur sejumlah Prinsip dan Parameter yang seharusnya membatasi ruang bahasa yang benar-benar mungkin (yaitu bahasa yang benar-benar digunakan di dunia) dari bahasa yang mungkin secara hipotetis (yaitu bahasa yang dapat kita bayangkan). UG ini dia berpendapat harus bawaan, atau seperti yang dia katakan: kita memiliki Perangkat Akuisisi Bahasa sebagai bagian dari otak kita, karena informasi dalam input yang didapat pembelajar bahasa tidak cukup untuk belajar bahasa.

Seperti yang Anda lihat dari jawaban lain untuk pertanyaan ini, teori Chomsky memiliki kecenderungan untuk memprovokasi agresi ekstrem dari orang-orang yang tidak setuju dengannya. Pendapat saya sendiri tentang ini adalah bahwa teori Chomsky salah. Itu berisi wawasan inovatif ketika ia mengembangkannya pada akhir 50-an dan awal 60-an, tetapi tantangan terhadap teori yang dimungkinkan untuk dibuat, tidak menghasilkan perbaikan pada teori, tetapi desakan dogmatis pada premisnya (UG, P&P, LAD yang disebutkan di atas) yang mengarah pada teori yang secara bertahap menjadi teori bahasa yang semakin buruk.

Dan selain itu: Teori Chomsky hanyalah salah satu di antara sejumlah teori generatif dan satu-satunya yang memiliki konsep Tata Bahasa Universal sebagai prinsip sentral. Terlepas dari teori Chomsky, teori generatif jauh lebih kecil kemungkinannya daripada teori non-generatif untuk memiliki klaim aneh tentang apa yang universal dalam bahasa.

Tetapi pada tingkat yang sangat abstrak, Chomsky mungkin menunjuk pada sesuatu yang nyata. Ada universal dalam struktur bahasa dan patut dicoba untuk memahaminya. Salah satunya adalah alih-alih melihat “Prinsip & Parameter” dogmatis Chomsky, mencoba melihat Tipologi dan Universal bahasa atau Universal Linguistik.

Ini adalah pendekatan yang dimulai oleh Greenberg yang mengambil pendekatan yang lebih “naif”, empiris, lebih berorientasi pada permukaan, dan tidak begitu didorong oleh teori terhadap jenis universal apa yang ada dalam bahasa.

Jika Anda bergerak di luar linguisitik generatif, Anda biasanya masuk ke linguistik fungsional dan/atau kognitif yang cenderung membuat klaim tentang universal yang mungkin kurang salah, tetapi kurangnya kesalahan lebih dari sekadar dikompensasi oleh kehalusan.

Diskusi tentang universal sulit karena bahasa adalah sistem formal otonom dan pada saat yang sama dibatasi oleh aspek logika, penggunaan, kognisi, genetika dll. Teori kognitif seperti Lakoffs (seperti dalam bukunya yang terkenal, yang saya rekomendasikan, “Women, Fire and Dangerous Things”, 1986) sama inovatifnya dan salah seperti Chomskys – hanya dengan cara yang berbeda. Orang-orang seperti Terrence Deacon (“The Symbolic Species”, 1997) dan Morten H. Christiansen (“Creating Language”, 2016) adalah penjelasan genetik/kognitif yang cukup baik tentang mengapa bahasa memiliki universal. Tetapi mengangkangi “mengapa” Deacon/Christiansen dan “apa” Greenberg adalah apa yang membawa Chomsky dan Lakoff ke dalam aula cermin (yang berbeda).

#universalgrammar

#ikahentihu

Apa Yang Sulit Tentang Bahasa Belanda?

Saya setuju dengan Rupert, seorang teman berbahasa Belanda. Anda harus  agresif untuk berlatih berbicara bahasa Belanda di Belanda dengan orang-orang etnis Belanda. Tetap berbicara bahasa Belanda bahkan jika anda mendapatkan jawaban dalam bahasa Inggris.

Sayangnya, ini sama sekali bukan kepribadian temanku, si Rupert. Katanya, saya bisa membaca bahasa Belanda dengan cukup baik, setelah hanya satu tahun belajar bahasa Belanda di kelas. (Saya juga telah belajar bahasa Arab, Prancis dan Spanyol, sebagai titik referensi.) Tapi saya tidak bisa benar-benar berbicara, dan saya tidak dapat mengikuti percakapan di sekitar saya. Saya memang memiliki seorang teman Belanda yang senang saya belajar bahasa Belanda, dan agak menggembirakan, tetapi pada saat itu saya tidak tinggal di Belanda lagi.

Suami temanku sedikit lebih, dan tinggal di Belanda selama hampir satu tahun, dan dia dapat membuat sedikit percakapan. Dia mengatakan dia memiliki keberuntungan terbaik berbicara dengan etnis Maroko dan Turki – mereka lebih terkesan dia mencoba belajar, dan lebih menyemangati.

(Sekarang mereka berdua tinggal di New York. Kadang-kadang suaminya  melihat turis Belanda mengalami masalah dengan peta kereta bawah tanah, misalnya, dan bertanya, dalam bahasa Belanda, apakah mereka membutuhkan bantuan. TIDAK PERNAH ini diakui sebagai bagus atau menawan atau luar biasa dengan cara apa pun. Ini sangat berlawanan dengan situasi dalam bahasa lain, itu lucu.)

Akhirnya, untuk bersikap adil tentang peralihan cepat ke bahasa InggrisSaya pikir banyak orang Belanda tidak terbiasa mendengar bahasa Belanda diucapkan dengan buruk, dan mereka benar-benar tidak dapat mengerti apa yang anda katakan, jika anda memiliki aksen yang buruk atau salah mengkonjugaasi kata kerja.

Saya pikir belajar bahasa Belanda dengan santai sulit karena alasan ini. Tetapi jika anda memiliki hubungan dekat dengan orang Belanda, dan anda tinggal di Belanda penuh waktu, idealnya di kota yang lebih kecil, anda memiliki peluang bagus. Tata bahasa dan kosakata tidak terlalu jauh dari bahasa Inggris. Sekarang jika mereka berhenti meloloskan peraturan ejaan baru .

#dutch

#language

#ikahentihu

Mengapa “Nike” Diucapkan Secara Berbeda di US dan UK?

Sebenarnya tidak.

Ini diucapkan secara berbeda oleh yang berpendidikan dan tidak berpendidikan.

Nike adalah Dewi Yunani kuno.

Pengucapannya dari bahasa Yunani. Sementara beberapa sarjana klasik yang baik mungkin dapat secara akurat mengucapkan kata dengan benar, pada dasarnya pengucapan untuk massa terbagi dalam dua kubu,

Nye k. Atau kunci Nye.

Yang pertama berima dengan kata-kata lain seperti sepeda dan hike.

Yang terakhir berima dengan runcing.

Mereka yang tahu tentang Dewi, yang namanya berasal dari bahasa Yunani kuno bukan bahasa Inggris modern, bahwa e itu diucapkan, tidak diam.

Jika anda mengatakan Nike (seperti sepeda), anda menunjukkan bahwa Anda tidak tahu asalnya.

Jika anda mengatakan Nike (likey spikey), anda menunjukkan pemahaman tentang etimologi.

Tentu saja, hanya seorang pedant yang mengoceh yang tidak akan mudah mengenali kata itu dari kedua pengucapan tersebut, jadi apa masalahmu?

#english

#british

#american

#ikahentihu

Apa Paspor Paling Tidak Berguna Di Dunia Ini?

Lupakan negara-negara mikro dan maniak egois; Saya kebetulan memiliki paspor dari negara dengan populasi 250.000 di wilayah daratan yang relatif luas. Ini memiliki infrastruktur sendiri, menghasilkan sebagian besar kekuatannya sendiri dan memiliki ekonomi. Ia juga memiliki paspor yang sangat tidak berguna sehingga tidak mendapat peringkat di Indeks Paspor – Paspor dunia yang diberi peringkat berdasarkan kekuatan.

Lihatlah paspor Republik Turki Siprus Utara:

Didirikan pada tahun 1983, hanya diakui oleh Turki. Statistik:

# negara yang bisa Anda masuki tanpa Visa: SATU. Bawa Sudan Selatan itu dengan 28 negara bebas visa Anda!

# negara yang bisa Anda masuki dengan Visa: 6

Wilayah abu-abu tidak akan menerima Anda apa pun yang Anda lakukan.

Untungnya, Siprus Turki juga memenuhi syarat untuk memiliki paspor Siprus yang merupakan negara yang diakui secara resmi yang mengatur pulau Siprus. Oh dan paspor itu membuat Anda menjadi warga negara Uni Eropa sehingga sedikit menyeimbangkan segalanya.

Jika Anda penasaran tentang bagaimana semua ini terjadi, silakan baca entri Wikipedia yang agak informatif ini dan kagumi kekuatan umat manusia untuk mengacaukan segalanya: Sengketa Siprus

#passport

#cyprus

#ikahentihu

Mengapa Bahasa Islandia Begitu Sulit Meskipun Merupakan Bahasa Jermanik?

Ini tidak terlalu sulit bagi penutur bahasa Jermanik lainnya.

Bahasa Islandia, Inggris, dan Belanda adalah bahasa di mana, anehnya, banyak penutur asli tampaknya berada di bawah kesan bahwa bahasa mereka sendiri adalah kutipan ‘bahasa tersulit’.

Saya menemukan bahasa Belanda sebagai bahasa termudah yang pernah saya tangani. Di Quora, saya sering bertemu dengan pertanyaan yang menganggapnya sangat sulit, dan jawaban Quora yang menyebutkan bagaimana itu adalah salah satu bahasa paling sulit di luar sana. Benar-benar tidak. Bayangkan bahasa Jerman, tetapi tanpa bunyi [g] melainkan [x] atau [ɣ], maskulin dan feminin menjadi satu jenis kelamin, urutan kata kerja-kata kedua di mana kata kerja terkonjugasi muncul sebelum yang tidak terkonjugasi, tidak ada kasus, tidak ada pergeseran konsonan Jerman Tinggi (seperti bahasa Inggris, jadi Air Belanda, Air Inggris, Wasser Jerman), dan vokal yang berbeda, tetapi seringkali vokal yang jauh lebih dekat dengan bahasa Inggris (misalnya,  Pekan Belanda [ve:k], Pekan Bahasa Inggris [wi:k], Woche Jerman [voxə]).

Bahasa Islandia, secara objektif, memiliki morfologi yang hampir sama dengan bahasa Jerman. Ini bukan bahasa Latin, Polandia, Sanskerta, atau Inuktitut.

Banyak keanehan tata bahasa Islandia seperti ‘Quirky Case’, yang mendapat banyak perhatian oleh ahli bahasa, juga hadir dalam bahasa Jerman.

Beberapa suaranya sulit, tetapi banyak yang paling tidak biasa seperti hidung yang dihilangkan suaranya adalah alofon dari suara lain, jadi jika Anda mengacaukannya, penutur asli mungkin masih dapat memahami Anda.

Bahasa Islandia memang memiliki banyak kelenturan dan ketidakteraturan, tetapi begitu juga semua bahasa Jermanik.

#icelandic

#germanic

#ikahentihu

Apakah Bahasa Portugis Adalah Bahasa Internasional?

Ya, tetapi bukan tingkat teratas.

Cara yang baik untuk mengetahuinya adalah dengan menggabungkan apa yang disebut L1 (penutur asli) dan L2 (penutur yang belajar bahasa sebagai bahasa kedua).

Jika kita melihat angka etnolog, itu memberikan 10 teratas (berurutan sebagai) sebagai berikut. Portugis berada di luar 5 besar.

Inggris

Bahasa Mandarin

Hindi

Spanyol

Bahasa Arab Standar Modern [yang hampir tidak memiliki penutur L1, omong-omong.]

Prancis

Bengali

Portugis

Rusia

Bahasa Indonesia (Bahasa)

Dari jumlah tersebut, bahasa Mandarin, Hindi, Bengali dan Indonesia ada di sana karena banyaknya penutur asli.

Jadi, jika kita menghapusnya dan melihat 10 bahasa teratas yang ada karena penggunaannya di beberapa negara, kita mendapatkan yang berikut ini. Portugis berada di 5 besar di sini.

Inggris

Spanyol

Bahasa Arab Standar Modern

Prancis

Portugis

Rusia

Sekarang mari kita ambil dua yang multi-negara, tetapi semua negara yang bersangkutan berada dalam rumpun (MSA dan Rusia.) Itu menyisakan yang berikut. Pada titik ini, saya akan menyertakan angka L1 + L2

Bahasa Inggris – 1.500 juta

Spanyol – 560 juta

Prancis – 310 juta

Portugis – 270 juta

Jadi bahasa Inggris sekitar 3 kali lebih besar dari bahasa Spanyol, dan 5 kali lebih besar dari bahasa Prancis dan Portugis.

#portuguese

#language

#ikahentihu