Benda dan Kata

Para Filusuf Bahasa sepakat, bahwa benda atas kata itu lebih dulu ada dari pada kata atas bendanya. Karena, semua kata itu menunjuk pada bendanya.

Artinya adanya kata-kata itu didahului oleh adanya benda, baru muncul kata-kata. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pengertian atas kata apapun dibalikanlah kepada asal dan usulnya bahasa yang al. dengan cara “mengkirata” atau “kiroto boso”. 

Lakukan dengan seksama alias tidak sekedar hanya mengkira-kira tanpa tata bahasa dan kaidahnya sebagai pertimbangannya, namun perkiraan yang didasarkan pada tata bahasa dengan berbagai seluk beluknya. 

Itulah makna “kiroto” atau mengkira-kira dan menata berdasarkan tata kaidah yang musti dijadikan pertimbangan secara seksama.

Demikian para ahli berpendapat, bahwa benda itu lebih dulu ada baru dikata-kata atau muncul kata. Maka, hendaknya siapapun orangnya tidak mengata atau berkata atas kata atau katanya, namun hendaknya seseorang itu mengata dan berkata atas bendanya.

Katakanlah atas kenyataannya (nyatanya) dan tidak mengata atas katanya yang tidak tahu akan kenyataannya.

Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya sebagai dosa besar (kaburo maqtan) di sisi-Nya jika seseorang hanya mengata namun tidak mampu untuk melakukannnya. Bagaimana mungkin bisa melakukannya, jika kata yang diucapkan tidak menunjuk atas bendanya alias hanya mengata saja tanpa mengerti apa yang dikatakannya karena tidak bisa menemukan bendanya???

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ 

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Ash-Shaf 2 – 3.

Karena iman yang ada pada setiap dada insan manudia tidak dipergunakan cahaya dan ilmunya (tahunya), maka mereka para manusia itu hanya mengata yang tidak mampu untuk  melakukannya. Sehingga “maqtan” atau membikin gatal yang besar atau sangat menggatalkan jika seseorang hanya mengata yang tidak melakukannya, tidak mengata atas benda alias hanya mengata atas kata atau katanya.

Oleh sebab itulah, kemungkinan ada benarnya apa yang dinyata oleh beberapa ahli sejarah berdasarkan data yang diperolehnya, bahwa Abdullah Ibn Mas’ud, sahabat Nabi Agung Muhammad saw, atas perintah Khalifah ke empat Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Kw, pernah tiba di kepulauan Nusantara, khususnya di pulau Jawa, tepatnya di daerah Wonosobo Jawa Tengah.

Bahkan singkatan nama ormas umat Islam terbesar di Indonesia adalah NO (Nahdlatul Oelama’) atau NU (Nahdlatul Ulama’), bukan “nahlu” atau yang lainnya, akan tetapi NU. Kenapa demikian? Karena kata NO-NU, itu diambil dari kata “nusantara” atas ide alm. Kyai Sya’roni dari desa Keras Kediri yang  terinspirasi dari kata “nusantara”.

Dalam musyawarah para Kyai sepuh di Surabaya untuk merumuskan singkatan Nahdlatul Oelama’, pernah ada seorang Kyai sepuh dari Madura yang melontarkan kata “Nahl” yang berarti tawon sebagai singkatan dari Nahdlatul Oelama’.

Namun setelah dikaji dan difikirkan mendalam serta selalu memohon petunjuk Allah swt, maka Mbah Hasyim keluar sebentar dari ruangan musyawarah untuk menemui Kyai Sya’roni. Mbah Hasyim meminta kepada Kyai Sya’roni untuk melakukan istikharah berkenanaan dengan singkatan dari Nahdlatul Oelama’-Nahdlatul Ulama’.

Dalam istkharahnya Kyai Sya’rini diperlihatkan, bahwa Mbah Hasyim membawa tulisan berhuruf Arab :

” نهضة العلماء “

yang di depannya terdapat tulisan huruf latin yaitu NOESWATARA.

Hasil istikharah dari Kyai Sya’roni tersebut dihaturkan kepada beliau Mbah Hasyim, lalu diambillah huruf pertama dan kedua yakni N-O atau NU.

Selanjutnya singkatan NO atau NU dibahas oleh para Kyai untuk ditemukan filosofinya yang dikaitkan dengan kata antara (tengah-tengah) sehingga detemukan kata Nusantara dan Nahdlatul Oelama’ atau Nahdlatul Ulama’.

Maka singkatan NO atau NU, dipilih didasarkan pada berbagai pertimbangan bahasa yang dikira (dikaji) untuk diperoleh “ketataan” atau “tata” yang menjadi idaman semua manusia yaitu hidup tertata; Berkata secara tertata dan bertata kelola negara yang bertata dst.

Semua tahapan berfikir sebagaimana disebutkan di atas sebut menkaji untuk terjadinya ketataan atas segala sesuatunya khususnya, bahasa. Sehingga muncul kata “kirata bahasa” atau “kiroto boso”; bukan hanya sekedar diKIRO KIRO tanpa MIKIR.

Kirata bahasa atau kiroto boso berguna untuk menumbuhkan rasa agar pertimbangan apapun di dalam berkata dan bertindak tidak hanya berdasarkan hasil kajian intelektualitas belaka, namun juga spiritualitas agar tumbuh rasa.

Bekenaan dengan telah ditemukannya berbagai bukti nyata sejarah peninggalan akan perjuangan da’wah umat Islam, maka berbagai nama kota yang terdapat di pulau Jawa semuanya bisa dikirata bahasakan yang didasarkan pada sejarah penamaannya oleh para da’i Muslim saat itu.

Maka nama kota Kediri, konon merupakan ajakan agar semua orang mau ke dirinya masing-masing.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

 Al-Isra’ : 14.

Bagaiman seseorang bisa ke diri masing-masing???. 

Dijelaskan tata caranya untuk bisa dan mampu ke diri yaitu dengan kata “Nganjuk”. Kata “nganjuk” adalah bahasa Arab ” ‘an juu’in”, tentang lapar yakni perut atau hawa nafsu atau nafsu ketika berhawa, hendaknya di imsak dikendalikan dengan berpuasa agar “juu’ ” atau lapar untuk mampu ke diri masing-masing.

Karena nafsu atau hawa nafsu hanya bisa tunduk dengan neraka “juu’ “, bukan dengan 7 neraka sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya yang jumlah pintu neraka itu sebanyak tujuh.

Dengan ke diri masing-masing melalui “juu’ ” barulah diperoleh “madyun” atau Madiun, yakni kondisi senang dan mahabbah yang hampir sakar atau mabuk, tapi tidak sampai mabuk sehingga serasa senang dan ridho atas apapun yang terjadi. Kondisi diri demikian disebut dengan “madyunun”.

Senang bahagia didapatkan, maka ridho dirasakan sehingga tidak terjebak hidupnya oleh hal-hal yang bersifat materialistik alias terlepas dari berbagai hal yang berfifat ragawi (Ponorogo).

Ponorogo atau hilangnya keterjebakkan (fana’) diri dari berbagai hal yang ragawi, maka kegundah gulaan tertinggalkan (tarku qolqin) yang diucap dengan kata “Trenggalek”. 

Tertinggalkannya kegundah gulaan, artinya hilangnya kesedihan.

Hilangnya kesedihan menandakan datangnya pertolongan Tuhan (Tulung Agung). 

Jika dalam kesedihan, maka Tuhan tiada bersama kita alias pertolongan-Nya tidak akan diberikannya kepada kita. 

Maka itulah pesan Nabi Agung Muhammad saw kepada sahabatnya Abu Bakar ra, adalah janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah itu bersama kita.

يا أبا بكر لا تحزن إن الله معنا

Jika pertolongan Allah didapatkan, maka tentara Tartar saat itu yang telah menguasai 3/4 dunia tidak mampu mengalahkan bangsa Indonesia yang memang telah terbimbing oleh Allah dan rasul-Nya.

Maka mereka kembali kembali ke negaranya di Tartar (Balitar atau Blitar) tanpa ada perlawanan yang berarti. Karena mereka para tentara Tartar, saat itu ketika ingin mengalahkan dan menguasai bangsa Indonesia mengejar rakyat Indonesia sampai di pesisir pantai utara. Yang mana para rakyat Indonesia ketika menghadapi tentara Tartar memakai pakaian celana pendek (Tubban atau Tuban), sedangkan Tentara  memakai baju besi sehingga mereka ketakutan dengan sendirinya, baju besi pasti tenggelam di laut melawan orang-orang yang hanya menggunakan “tubban” atau celana dalam.

Bagaimana Malangkucecwara dan Pasuruan serta Surabaya sampai Jakarta?

Semoga di lain waktu bisa saya menjelaskannya.

Tegur Nurani

Tegurlah dengan menyapa secara tulus iklhas yang muncul dari dalamnya, dalam hati..

Agar terasakan, bahwa itu benar-benar bergetar sebagai wujud nurani..

Dialah sebenarnya ayat yang jelas menyata dan membaca..

Ayat berjumpa ayat akan “wajilat qulubuhum” dan rasa bertambah nikmat sebagai getaran iman yang menyata..

Maka tegur sapa adalah perwujudan tumbuhnya persaudaraan yang di dalam hati, dia iman yang tiada tidur karena bersambung shalat dengan menegakkan sifatnya yakni shidiq, amanah, tabligh dan fathonah..

Karena hanya iman yang tiada tidur alias bersifat mukmin yang bisa dipersaudarakan, sedangkan manusia fisik yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan agama tidaklah bisa dipersaurakan..

Manusia fisik hanya bisa diperkenalkan untuk diperoleh kemanfaatan satu dengan yang lainnya sebagai wujud kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian..

 الإنسان مدني بالطبع

Di dalam menjalani tugas kehidupan sebagai wujud ibadah dan pengabdian kepada Tuhan, manusia memerlukan kehadiran manusia yang lainnya..

Satu pakaian saja yang dipergunakan manusia, coba hitung berapa orang yang musti terlibat di dalam penggunaan pakaian tersebut, mulai dari petani kapas yang menanam kapas tersebut sebagai bahan pokok kain tekstil sampai ia siap dipasarkan dan kemudian dijahit oleh penjahit sampai siap kita pergunakan..

Pun juga makanan yang dimakan manusia, bisa dibayangkan berapa banyaknya manusia yang lain ketika makanan tersebut siap untuk disantap sebagai sajian..

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Al-Hujurat : 13.

Ada China, ada Arab, Ada Jawa dan seterusnya agar saling mengenal satu sama lainnya..

Manusia fisik yang berjenis kelamin, ada laki dan ada perempuan serta bersuku dan berbangsa, agar saling mengenal untuk saling menyangga kebutuhan dan hajat hidup secara berdampingan rukun damai dalam naungan ridho Tuhan..

Sedangkan yang dipersaudarakan adalah mukmin yang di dalam dada setiap insan..

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Al-Hujurat : 10.

Dialah mukmin yang tiada berjenis kelamin, berada di dalam dada setiap insan yang bisa dipersaudarakan..

Fisik diperkenalkan agar saling mengenal..

Ruhuni dipersaudarakan agar timbul kedamaian diri dan diri orang lain, sehingga diperoleh kerukunan..

Itulah getaran rasa ayat yang suci…

Itulah hasil tajalliyut tajaliyyat yang dinanti..

Maka bertutur katamu selalu kami amati..

Mengamati apapun, hendanya ingatlah diri sendiri..

Itulah bercermin kaca pantulan gambaran diri sendiri..

Nyatalah dia yang nyata jelas, nyata dan nyatanya jelas itulah tajalli..

Sehingga pertimbangannya adalah nilai budi, bukan harta benda dunia yang dihargai, yang sebenarnya tiada berarti..

Barulah diperoleh magom tempat tertinggi sehingga terangkatlah penyakit hati..

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ 

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 Al-A’raf : 43.

Maka itulah memperbaiki akhlak-budi, adalah misi suci utama Nabi..

Bukan tugas selain Nabi..

Maka jangan merampas tugas itu, tanpa seizinnya Nabi..

Untuk membina akhlak budi, Rasulullah saw  dibangkitkan lagi..

Dari rasulullah saw kita diberi..

Rasulullah saw maha kasih dan sayang dari-Nya..

Kita dikasih dan disayang semoga bisa terima kasihkan dan semoga kembali, maka terima kasih kembali..

Kasih sayangmu wahai Rasulnya Allah, agung terpuji..

Engkau gembira dalam ketawa..

Bukan suka dan ria, tapi suka cita..

Suka cita dalam satu rasa..

Bahagia nan gembira tak terkata..

Engkau jaya di dalam surga..

Surga jaya karena engkau ada..

Engkau tiada di dalam surga..

Di ‘arasy tertinggi bersinggasana…

Engkau jelas di dalam nyata..

Engkau nyata menjelas yang ada..

Engkau ada yang pertama..

Telah menjelma jadi manusia..

Engkau bersih di dalam suci..

Engkau suci di baitul ‘atiq rumah abadi..

Engkau abadi menunggu yang kembali..

Yang bersih-suci dapat menemui..

Kitab Qur’an yang tertuliskan di atas kertas sebagai rujukan..

Kitab dan Qur’an harus sebagai pegangan…

Allah telah memberikan kekayaan..

Untuk kayanya Allah yang dititipkan..

Dengan Kitab kita dapat mendengarkan..

Yang berkata-kata sebagai harta simpanan..

Kenal kenangkan hening ucapan..

Dalam keheningan dia mengucapkan..

Suara hati yang hendak diperkenalkan..

Dia pelita di dalam kegelapan..

Rencana engkau dalam perjalanan..

Penunjuk jalan, karena sudah sampai tujuan..

Berjalan ke depan itulah qiblatkan yang tidak ke kiri dan ke kanan..

Bertemu engkau, sampailah perjalanan..

Kami mohon tolong ingatkan..

Mengingat engkau dalam shalat yang didirikan..

Ingatkan kami yang lupa dan melalaikan..

Engkaulah saksi yang dapat meringankan..

Alangkah sejuk sepoi angin Baitur Rahman..

Menyambut iman-iman yang berdatangan..

Angin bertiup melambaikan tangan..

Alangkah rindunya diri yang terlempar meninggalkan..

Bertiup sayup lagi merata..

Semua dikasih tanpa membeda..

Satu umat usul asalnya..

Kini bercerai berai bersifat manusia..

Neraka berhembus ke pojok alam..

Di pusat alam aman nan tentram..

Maqom Ibrahim batas pekarangan alam..

Bertemu tuan rumah kusampaikan salam..

Bergelora melalui waktu dari masa ke masa..

Gelora rasa berkata-kata tiada dapat ditahan..

Masa berlalu wujud menjelma..

Pendidik manusia telah dinyata..

Sampai di sini bisikan qolbu…

Bukanlah bisikan hawa dan nafsu…

Qolbu berbisik rasa menyeru..

Sampai di sana kita bertemu..

Ijinkan kami menghaturkan diri..

Mohon diri hendaknya kembali..

Ijin diberi tunaikan janji..

Janji ditepati, Tuhan tajalli..

Disambung pula di lain waktu..

Waktu bersambung salam menentu..

Sambung menyambung di tempat yang satu..

Tersambung rasa dalam shalat berwaktu..

Manusia

Membincang “manusia”, seolah tidak pernah ada habisnya. Manusia, sebagai salah satu dari sekian ciptaan Allah SWT, memang serba unik. Sebab, ia satu-satunya ciptaan Tuhan, yang di dalam dirinya terkandung berbagai sifat ciptaan-Nya, bahkan sifat Allah sendiri ada pada diri manusia. Allah bersifat kasih dan sayang, di dalam diri manusia pun, terdapat kasih dan sayang; Allah bersifat memberi dan sebagainya, di dalam diri manusia pun ada sifat memberi dan seterusnya.

Di dalam diri manusia terdapat berbagai sifat ciptaan Allah, maka sifat hewan ada pada diri manusia. Sifat malaikat, sifat jin dan bahkan sifat manusia itu sendiri, ada pada diri manusia. Sifat yang suka menantang dan mudah tersulut emosionalnya, karena ia dicipta dari bara api yang sangat panas, ada pada diri manusia. Sifat malaikat yang selalu berjalan di atas cahaya kebenaran, ada pada diri manusia (QS 15 :26,27,28,29,30, 31). Sifat manusia yang mudah mengeluh, tergesa-gesa, keterlaluan terhadap Tuhannya, karena sangat cintanya terhadap dunia, ada pada diri manusia (QS 70:19,20,21), (QS 17:11), (QS 100:6,7,8).

Lalu, manakah yang disebut manusia, itu?.

Manusia itu ghoib, yang nyata adalah jasad manusia. Manusia yang ghoib, ia berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara manusia dengan sifat manusia. Manusia yang ghoib dan berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib, ia berkait erat dengan fisik atau jasadnya. Artinya, selama jasad manusia masih hidup yang ditandai dengan adanya nafas oleh nafsu, maka selama itu, manusia tidak akan bisa berpisah dengan nafsunya yang selalu berkemauan.

Nafsu itu satu, dan pekerjaan nafsu adalah tujuh. Tujuh pekerjaan oleh nafsu itu, akan melahirkan sifat, kemudian sifat akan melahirkan nama.

Nafsu yang mendorong diri manusia, agar ia melakukan perbuatan jahat, maka ia disebut atau bernama nafsu ammarah bisu’ (nafsu ammara’). Lalu, nafsu yang mendorong diri manusia, agar mecela selain dirinya disebut, nafsu lawwamah.

Kedua nafsu tersebut di atas, baik nafsu ammarah bi su’ maupun nafsu lawwamah, ada dan terdapat pada diri manusia selama jasad belum mati. Selama nafas masih bergerak, maka nafsu yang bekerja untuk mendorong berkemauan pada diri manusia, akan selalu ada. Semakin tua usia jasad manusia, semakin kuat dorongan nafsu dirinya. Ketika jasad manusia di dalam kandungan ibu, maka dorongan kemauannya hanya untuk makan atau minum, yaitu memakan atau minum darah haid ibunya. Kemudian, ketika jasad lahir, dorongan nafsu yang ada pada diri manusia semakin kuat, ia meminta lebih dari sekadar makan atau minum, sampai jasad menginjak dewasa, bahkan tua renta maka dorongan nafsunya, wujud berkeinginan akan bertambah semakin kuat.

Oleh sebab itu, ketika jasad manusia semakin tua, sementara nafsu ammarah dan nafsu lawwamahnya banyak mengusai dirinya, maka ia akan semakin gila harta dengan memperbanyak dan menumpuknya (QS 102:1,2). Dan, semakin gila jabatan serta  sejenisnya yang bersifat keduniaan. Sebaliknya, jika semakin tua usia jasad manusia, kedua dorongan nafsu ammarah dan lawwamahnya terkendali dengan baik, maka manusia akan semakin terdorong untuk melakukan berbagai hal kebaikan oleh nafsu mulhamah. Sehingga, muncul ketenangan oleh nafsu muthamainnah. Selanjutnya, timbul pada diri manusia itu, dorongan untuk bersikap rela oleh nafsu radhiyah, sehingga memperoleh ridho Tuhan oleh nafsu mardhiyah. Dan puncak dari semuanya itu, adalah munculnya nafsu kamilah, yaitu dorongan untuk selalu bergabung dengan para hamba Tuhan yang menginginkan untuk bisa kembali ke asal muasal ia berasal, yaitu damai dalam kedamaian di sisi Tuhan.

Maulid Nabi

Berbicara “Maulud Nabi” (Nabi Muhammad SAW) atau kelahiran Nabi, berarti berbicara Islam, itu dilahirkan. Sebab, Islam tidak akan diketahui tanpa kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir di Makkah dengan seorang ibu bernama Aminah dan seorang ayah bernama Abdullah, berbangsa dan berbahasa Arab. Maka, dengan kelahiran seorang Nabi yang sangat mulia ini, wujud basyar atau manusia biasa, agar mudah dicontoh suri tauladannya oleh umat manusia pada umumnya;  Beliau Nabi Muhammad saw dilahirkan dan dibangkitkan dengan misi dan tugas utamanya untuk memperbaiki akhlaq budi manusia. Maka, dengan demikian, Islam dapat diketahui. Artinya, mengetahui dan bertemu Islam adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yaitu Nabi Muhammad saw, agar manusia selamat mulai awal diadakan sampai kembali ke asal muasal manusia berasal, yaitu Allah SWT.

Lalu apa Islam itu, kiranya perlu dijelaskan agar didapatkan suatu pengertian. Sehingga, seseorang yang telah mendapatkan pengertian, sedapat mungkin dirinya bisa mempraktekan atau memperlakukannya secara tepat dan benar. Perlakuan atau praktek yang tepat dan benar, maka akan didapatkan paham yang benar, demi terhindarnya seseorang dari kesalah pahaman atau pahamnya menjadi salah.

Islam, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT, di dalam surat Ali Imron ayat 19 adalah yang di sisi Allah. Artinya, Islam itu, yang di sisi Allah. Jalan tempuh menuju yang di sisi-Nya adalah agama (QS 3 : 19). Maka, yang di sisi Allah (‘inda-llah) itulah, al Islam yang musti ditemukan melalui jalan tempuh agama (diin), atau lebih jelasnya disebut “diinul haq”, yaitu jalan kebenaran, berupa petunjuk risalah kenabian beliau Muhammad saw (QS. 48 : 28). Untuk bertemu dengan al Islam yang di sisi Allah, jalan tempuhnya adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yakni Nabi Muhammad SAW. Bertemu dengan yang membawa Islam, maka bertemu Islam.

Untuk bisa bertemu dengan yang membawa Islam, janganlah seseorang bersikap keterlaluan (baghyan) dan ingkar terhadap berbagai ayat Allah dengan memperselisihi catatan (imannya) dan ilmu yang ada di dalam dadanya. Maksudnya, setiap diri manusia hendaknya mengikuti catatan (al kitab) yang tiada keraguan di dalamnya, ia bersifat benar, terpercaya, jujur dan tidak dungu (QS. 2 : 2). Catatan itulah, yang disebut dengan iman,  ilmu (QS 29 : 49), nikmat  (QS QS. 55 : 13, 16, 18, 21 dst) dan taqwa (QS. 22 : 32). Mengikuti iman, ilmu, nikmat dan taqwa, berarti manusia tidak mengikuti keinginan (hawa) nafsu yang bersifat mendorong untuk melakukan kejahatan (ammarah bi su’), wujud mencela selain dirinya (lawwamah). Sehingga, kedua dorongan nafsu nafsu tersebut menjadi tertundukan. Selanjutnya, ia (nafsu) mendorong diri manusia untuk melakukan kebaikan (mulhamah), sehingga didapatkan ketenangan (muthmainnah, kerelaan (radhiyah), demi untuk mendapatkan ridho Allah SWT(mardhiyah), agar diri manusia mampu bergabung dengan seluruh manusia (QS. 89 : 27, 28, 29, 30), bagai hamba Allah yang selalu berkasih sayang laksana saudara sekandung (rahim ibu), sebagai cerminan atau pantulan dari rahmah Nabi Muhammad SAW (QS. 21 : 107) sebagai Rasul utusan Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim.

Manusia yang mengikuti imannya, maka ia bersifat mukmin dan mukminlah yang menegakkan sholatnya (QS 23 : 1, 2). Maka, manusia yang bersifat mukmin itu, akan menjalankan sholat secara rukun (fisik) yang dipimpin oleh imannya yang di dalam dadanya, minimal 5x dalam sehari semalam. Yaitu, Maghrib, Isya’, Shubuh, Dhuhur dan Ashar.

Maka, “maulud” atau dilahirkan, itu pada diri Nabi Muhammad SAW, dan “maulid” adalah pada diri mukmin yang menegakkan sholatnya. Oleh karena itu, lahirnya diri mukmin pada diri manusia dengan menegakkan sholat, merupakan pertemuannya dengan diri Nabi Muhammad saw yang telah dilahirkan atau “maulud” sang pembawa yang di sisi Allah atau atau al Islam. Bertemu dengan yang membawa keselamatan atau Islam, berarti bertemu dengan yang di sisi Allah. Bertemu dengan yang di sisi Allah, berarti kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah, berarti kembali kepada asal muasal manusia berasal, yakni Allah SAW, bersama dengan yang di sisi Allah, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul utusan Allah. Sebab, beliau Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul utusan Allah, adalah “wasilah” perantara bagi manusia yang dipimpin oleh imannya untuk bisa sampai kepada Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(QS. 3 : 35)

 

Tahlil

Apa itu “tahlil-tahlilan”, apa itu “ila hadroti” dan seterusnya??? Sebagaimana sudah mentradisi kegiatan tersebut yang diberi nama “tahlilan” dilakukan oleh umat Islam Indonesia, Jawa khususnya dan lebih khusus lagi umat Islam di Jawa Timur.

Apapun yang dilakukan umat Islam sebagai bentuk peribadatan dan ibadah kepada Allah, selama belum ditemukan bendanya, maka selama itu pula akan terjadi perbedaan pendapat.

Dan perbedaan pendapat terhadap suatu kata, karena belum ditunjukkan atau ditemukan bendanya itu akan terus terjadi.

Terjadinya perbedaan pendapat, itulah yang disebut dengan tafsir atau tafsiran yang masing-masing orang akan berbeda tafsirnya sesuai dengan perkiraannya.

Berbeda dengan suatu kata yang sudah menunjuk terhadap bendanya, maka pertanyaan akan benda tersebut tidak diperlukannya lagi.

Jika saya memegang benda bernama HP dan benda yang bernama HP tersebut, sudah dilihat atau diketahui oleh sesesorang misalnya, apakah saya perlu bertanya kepada seseorang itu untuk saya mintai pendapatnya, “apa pendapat anda apakah yang pegang ini HP”?

Tentu tidak diperlukan pertanyaan semacam itu..

Berbeda dengan ketika seseorang mengata yang bukan atas bendanya alias ia mengata atas katanya, maka perkataan orang tersebut akan menimbulkan banyak penafsiran dan hal demikian itu wajar biasa terjadi..

Kata “tahlil”, usul dari asal kata tersebut bukanlah pekerjaan hati, ia pekerjaan qouli atau lisan atau mulut alias kegiatan atau pekerjaan salah satu anggota badan yang bernama mulut, yakni mengucapkan “laa ilaha iLLaLLAH”.

Ia “af’al al Qouliyah” bukan ‘af’al qolbiyah” (pekerjaan lisan atau ucapan, bukan pekerjaan hati).

Kata “tahlil” maupun “tahlilan”, keduanya adalah isim masdar dari kata kerja “hallala – هلل “. Sedangkan perbedaan dibaca marfu’ dan manshub, itu hanya persoalan berbeda i’rob atau kedudukan kata dalam kalimat tertentu.

Maka, baik kata “tahlil” maupun “tahlilan” tidak ada berbedaan arti secara subtantif, kecuali penentuan apakah ia sebagai subyek, predikat dan obyek dalam tata kalimat (nafwu) bahasa Arab.

Kemudian yang dimaksud dengan kata “tahlil” adalah ucapan “laa ilaha illaLLah”.

Kalau “tahmid” adalah ucapan “alhamdulillah”.

Istighfar adalah ucapan “astaghfirullah” 

Ttakbiir” adalah ucapan “Allahu Akbar”..

dst..

Baik, saya akan fokuskan masalah “tahlil” ini terlebih dahulu, kemudian jika masih memungkinkan akan saya bahas di waktu yang lain, apa itu “ila hadroti” dst..

Sebenarnya siapa saja yang membaca apa saja, baik itu ayat-ayat al Qur’an, bacaan sholawatan dan juga tahlil atau tahlilan maupun bacaan yang lainnya, tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang atau apapun.

Artinya, membaca hal itu semuanya boleh dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja asal tidak mengganggu orang lain. Tentu yang dimaksud kapan dan di mana saja ada pembatas, mengingat ia tergolong kalimat yang baik, maka ada pertimbangan hal-hal yang bersifat etis atau etika tertentu.

Pertimbangan tersebut, misalnya jika bacaannya dikeraskan dengan menggunakan sound system, sehingga bisa mengganggu ketenangan tetangga kanan kiri atau mengganggu orang lain.

Maka pekerjaan mengganggu siapa dan apa  saja, oleh siapa saja itu dilarang oleh ajaran agama.

Kemudian bagaimana jika bacaan tahlil tersebut dibaca pada saat atau di rumah seseorang yang salah satu dari anggota keluarganya baru meninggal, boleh apa tidak???

Yaa boleh boleh saja asal, si tuan rumah tidak merasa terganggu dengan bacaan tahlil tersebut.

Lebih-lebih jika tuan rumah merasa senang dengan bacaan tahlil tersebut, maka membacanya dalam kondisi semacam itu sangat dianjurkan.

Karena inti makna takziyah adalah menghibur keluarga yang ditinggal wafat oleh anggoga keluarganya.

Jadi, substansi takziyah itu untuk keluarga yang sebagian anggota keluarganya meninggal dunia atau mati, bukan untuk si mayit atau yang wafat itu sendiri.

Orang yang sudah meninggal dunia, selesai urusannya dengan dunia.

Jika keluarga si mayit mengalami duka dan kesusahan yang berlarut karena wafatnya salah satu dari anggoga keluarganya, maka menghibur mereka itu diebut dengan takziyah.

Sehingga diharapkan, atas kehadiran para orang-orang yang bertakziyah berkunjung kepada keluarga yang ditinggal mati oleh anggota keluarganya, itu bisa menghibur mereka,bukan menambahai masalah atau beban.

Pada umumnya keluarga yang ditinggal mati oleh anggota keluarganya, itu hatinya tentram mana kala ada keyakinan, bahwa si mayit yang meninggal akan bertambah bahagia jika dido’akan dengan membaca Qur’an dan kalimat thoyyibat lainnya seperti tahlilan.

Maka dalam konteks takziyah, tahlilan atau melakukan kegiatan membaca al Qur’an dan berbagai kalimat thayyibah di rumah duka, mana kala keluarga yang ditinggal meninggal salah satu keluarganya, itu merasa senang dan terhibur dengan adanya kegiatan tersebut, maka kegiatan tersebut tidak ada masalah alias boleh bahkan dianjurkan.

Kemudian, apa itu tahlil dalam totalitas ajaran Islam?

Apa itu tahlil pengertiannya adalah totalitas kalimat Adzan.

Adzan dikumandangkan dengan permulaan takbir “Allahu Akbar” dua kali. Apa itu takbir Allahu Akbar dan kenapa dua kali diucapkan? 

Allah adalah dzat dan Akbar adalah sifatnya Allah, dialah Muhammad Rasulullah saw.

Diucapkan dua kali, karena keduanya adalah dzat dan shifat yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya alias dzat dan sifat menjadi satu.

Maka kalimat berikutnya adalah persaksian atas keduanya yang diperkuat dengan bersaksi atas ke-Esaan Allah dua kali dan bersaksi atas diutusnya Muhammad sebagai utusannya Allah dua kali.

Baru kemudian tertegakkan shalat..

Dengan lain kata, hal demikian dapat diperoleh jika shalat antara hamba dengan Allah melalui rasulnya Allah Muhammad saw terwujudkan. 

Wujud shalat adalah menghadap Qiblat ke Akbar dengan i’tiqod keyakinan kepada Allah swt.

Baru kemenangan dan kebahagiaan di dapatkan. Kemenangan atas tetapnya iman kepada Allah swt melalui utusannya Allah yakni, Muhammad rasulullah saw.

Beradalah hamba di dalam benteng Allah swt yang tiada tersentuh oleh api neraka selamanya.

لا إله إلا الله حصمني فمن دخل حصني أمن من عذابي

Laa ilaha illaLLAH adalah benteng-KU, siapa memasuki benteng-KU aman dari siksa-Ku.

Pegagan Herba Untuk Ambeyen

Untuk menyembuhkan sakit ambeyen ternyata mudah. Dan herbanya ada di sekitar kita. Bahkan kadang tumbuh di pinggir jalan aspal.

Daun pegagan adalah salah satu bahan dari resep ramuan yang akan saya lengkapi di bawah ini. Daun pegagan bagi yang belum mengenal, memiliki banyak nama dan istilah. Daun pegagan telah dipergunakan oleh manusia sejak dulu di seluruh belahan dunia. Sehingga wajar kalau daun ini memiliki banyak nama. Agar supaya bisa memahami untuk membuat ramuan herbal untuk ambeyen maka saya list nama-nama daun pegagan berdasarkan tempatnya.

Sunda : Daun Kaki Kuda / Antanan

Madura : Daun Tikusan

Inggris : Pennywort

Amerika : Gotu Kola

Latin : Centella

Sumatera : Ambun

Jawa Kerak batok, Panigowang, Rending, Gagan-gagan, Gangganan

Malaysia : Pegaga, Gaga

Untuk ramuan herbal JSR bagi sakit ambeyen, dibutuhkan daun pegagan, rumput laut dan lidah buaya. Pengolahannya yaitu dengan membuat jus daun pegagan dan lidah buaya. Jumlahnya adalah sebesar satu kali minum dalam gelas 200cc. Untuk rumput lautnya bisa direbus sebentar sekitar 30 menit atau hingga lunak. Lidah buaya dikupas dan dicuci hingga lendir berkurang. Rumput laut bisa dibuat minuman dawet dengan santan masak. Santan masak adalah santan dari kelapa parut yang diperas dengan air matang. Gula yang dipergunakan dalam hal ini adalah gula aren.

Tips bagi penderita ambeyen adalah perbanyak minum air putih hangat, perbanyak makanan berserat seperti sayur, jus buah beserta kulit juga mencampurkan sesendok VCO dan sesendok zaitun dalam jus daun pegagan.

Daun pegagan juga bisa dikonsumsi sebagai lalapan atau direbus sebentar dan dihidangkan dengan sambal cocol yang tidak pedas.

Karto Kasan Oposan

Oposan

Dari hari ke hari upah buruh di sebuah perusahaan perkebunan kapas milik Compeni Belanda, semakin tidak bisa mencukupi kebutuhan primer bagi kaum buruh tani.

Setiap menerima upah pada hari Sabtu selalu mengalami pengurangan dari upah seminggu sebelumnya, padahal harga kebutuhan pokok semakin naik.

Wal hasil, para buruh tani yang dalam menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari mengandalkan upah dari kerja di sebuah perkebunan kapas milik Compeni tersebut, semakin lama semakin berat.

Ngomong punya, akhirnya mereka berkumpul untuk membicarakan upah yang semakin menurun sebagai imbalan dari perusahan yang bergerak di bidang pertanian kapas tersebut.

Dalam perkumpulan diputuskan, mereka sepakat untuk melakukan semacam unjuk rasa, memprotres terhadap pengurangan upah yang mereka terima dari setiap minggunya.

Dalam aksi memprotes kebijakkan perusahaan yang mengurangi upah dari para buruh tersebut, pimpinannya adalah KASAN.

Kasan diangkat dijadikan pimpinan mereka dalam melakukan unjuk rasa memprotes penurunan upah terhadap buruh tani.

Karena dalam menyampaikan aspirasinya, mereka menggunakan bahasa Jawa, maka sang pemilik perusahan kesulitan untuk bisa mengerti apa yang disampaikab oleh kaum buruh.

Akhirnya, sang pemilik perusahaan yang berkebangsaan Belanda tersebut menyuruh KARTO, seorang pribumi yang bekerja sebagai Sinder atau Waker di perusahaan pertanian kapas itu.

Si Karto sangat mengusai bahasa Belanda dengan baik, sekaligus juga bahasa Jawa, karena Karto berasal dari sebuah desa jauh dari kota di Kabupaten Ponorogo.

Setelah Karto mendapatkan perintah dari pemilik perusahaan kapas yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa tersebut, untuk menemui para temonstran yang mendemo perusahaannya. Maka, Karto langsung melaksanakan perintah dari Bossnya.

Si Karto ambil alih posisi Boss untuk menghadapi para demontran yang dipimpin oleh Kasan dengan penuh keyakinan dan kebanggaan atas tugas khusus dari sang Boss tersebut.

Langsung si Karto dengan langkah tegap penuh keyakinan dengan pakaian kewibaan dan kumis diplintir, memanggil pimpinan demo tersebut :

” OPO SAN…???”

Suara Karto yang keras tersebut, terdengar oleh si Boss yang berada di dalam kantor.

Maka, sejak saat itu orang-orang yang melakukan protes terhadap kebijakan di sebuah perusahaan di sebut, “OPOSAN”.

Analisis Wacana Penutur Dalam Percakapan

Jika seseorang tampak tidak tertarik atau tidak memahami (apakah mereka benar-benar tertarik atau tidak), Anda mungkin akan memperlambat, mengulangi, atau menjelaskan secara berlebihan, sehingga memberi kesan bahwa Anda ‘berbicara.’ Frederick Erickson telah menunjukkan bahwa ini dapat terjadi dalam percakapan antara pembicara kulit hitam dan putih, karena kebiasaan yang berbeda sehubungan dengan menunjukkan pendengar. Penanda Wacana ‘Penanda wacana’ adalah istilah yang diberikan ahli bahasa untuk kata-kata kecil seperti ‘baik’, ‘oh’, ‘tetapi’, dan ‘dan’ yang memecah pembicaraan kita menjadi beberapa bagian dan menunjukkan hubungan antar bagian. ‘Oh’ mempersiapkan pendengar untuk hal yang mengejutkan atau baru diingat, dan ‘tetapi’ menunjukkan bahwa kalimat berikutnya bertentangan dengan kalimat sebelumnya. Namun, penanda ini tidak selalu berarti seperti yang kamus katakan. Beberapa orang menggunakan ‘dan’ hanya untuk memulai pemikiran baru, dan beberapa orang menempatkan ‘tetapi’ di akhir kalimat mereka, sebagai cara untuk mengakhiri dengan lembut. Menyadari bahwa kata-kata ini dapat berfungsi sebagai penanda wacana penting untuk mencegah frustrasi yang dapat dialami jika Anda mengharapkan setiap kata memiliki arti kamusnya setiap kali digunakan.

Speech Act Analisis tindak tutur tidak menanyakan apa bentuk ujaran itu, tetapi apa yang dilakukannya. Mengatakan “Saya sekarang menyatakan Anda pria dan istri” memberlakukan pernikahan. Mempelajari tindak tutur seperti memuji memungkinkan analis wacana menanyakan apa yang dianggap sebagai pujian, siapa yang memberikan pujian kepada siapa, dan fungsi lain apa yang dapat mereka layani. Misalnya, ahli bahasa telah mengamati bahwa wanita lebih mungkin memberikan pujian dan juga mendapatkan pujian. Ada juga perbedaan budaya; di India, kesopanan mengharuskan jika seseorang memuji salah satu milik Anda, Anda harus menawarkan untuk memberikan barang tersebut sebagai hadiah, jadi memuji bisa menjadi cara meminta sesuatu. Seorang wanita India yang baru saja bertemu dengan istri Amerika putranya terkejut mendengar menantu barunya memuji sarinya yang indah. Dia berkomentar, “Gadis seperti apa yang dia nikahi? Dia menginginkan segalanya!” Dengan membandingkan bagaimana orang-orang dalam budaya yang berbeda menggunakan bahasa, analis wacana berharap dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan pemahaman lintas budaya.

Salah Satu Bahasa Tabu

Orang-orang terus-menerus menyensor bahasa yang mereka gunakan (saya membedakan ini dari pengenaan sensor). Dalam masyarakat Barat kontemporer, tabu dan eufemisme terkait erat dengan konsep kesantunan dan wajah (pada dasarnya, citra diri seseorang). Umumnya, interaksi sosial berorientasi pada perilaku yang sopan dan hormat, atau setidaknya tidak menyinggung. untuk mempertimbangkan apakah apa yang mereka katakan akan memelihara, meningkatkan, atau merusak wajah mereka sendiri, serta untuk mempertimbangkan, dan merawat, kebutuhan wajah orang lain.

Kebanyakan sumpah serapah dan sebagian besar penggunaan ekspresi tabu dalam bahasa Inggris mengacu pada agama atau bagian tubuh dan proses tubuh, terutama yang terkait dengan aktivitas seksual atau dengan menggunakan toilet. Dalam bahasa Inggris, umpatan yang mengandung ungkapan tabu ‘agama’ cenderung lebih lemah daripada umpatan yang melibatkan ungkapan tabu ‘bagian tubuh’. Ungkapan tabu yang paling umum yang melibatkan ‘bagian tubuh’ adalah fuck (untuk melakukan hubungan seksual – kata digunakan baik sebagai kata benda dan sebagai kata kerja) dan kotoran (kotoran tubuh – kata digunakan baik sebagai kata benda dan sebagai sebuah kata sifat). Ketika kita bersumpah, kita biasanya menggunakan kata seru. Ini bisa berupa kata tunggal atau frasa atau klausa pendek. Kami paling sering menggunakannya untuk mengekspresikan perasaan yang kuat, terutama perasaan marah. Kekuatan kata-kata dan ekspresi di sini ditandai dengan bintang. Ekspresi yang sangat kuat memiliki lima bintang (******) dan ekspresi yang kurang kuat memiliki satu bintang (*). Orang-orang memiliki pandangan berbeda tentang ekspresi mana yang lebih kuat dari yang lain.

1. F*ck – Kata f-u-c-k adalah salah satu kata umpatan yang paling dikenal dalam bahasa Inggris. Kata f literal adalah versi singkat dari: ‘Percabulan Di Bawah Persetujuan Raja.’ Seperti kebanyakan kata umpatan, itu memang berasal dari referensi seksual, yang masih digunakan sampai sekarang.

2. Persetan kamu – Menambahkan kata ‘Anda’ berarti Anda mengarahkan pelanggaran ke orang lain. Ini sering digunakan sebagai lelucon atau ketika Anda sedang marah pada orang lain.

3. Sial – Arti lain dari kotoran adalah kotoran , tetapi sering digunakan secara internal ketika sesuatu yang tidak terduga muncul dalam hidup Anda. Contohnya adalah jika Anda lupa bahwa Anda memiliki proyek yang akan jatuh tempo minggu ini, Anda akan mengatakan ‘Sial! Saya benar-benar lupa tentang itu.

4. Kesal -Jika Anda ingin seseorang menjauh dari ruang pribadi Anda, Anda cukup menyuruh mereka untuk marah.

5. Kepala kon*ol – anda dapat membayangkan secara visual kata umpatan ini tanpa terlalu banyak usaha, saya yakin. Ini adalah panggilan nama yang umum digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak adil atau tidak adil, tetapi bisa juga dengan teman sebagai lelucon.

6. Bajingan- ini adalah salah satu kata makian yang secara harfiah menggambarkan bagian tubuh kita (di pantat), tetapi juga digunakan sebagai kata makian.

7. Anak b*tch – Kata serbaguna yang dapat digunakan secara internal seperti kata ‘sialan’ atau ‘sialan’ tetapi juga dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang melemparkannya ke Anda.

8. Bajingan – Terjemahan harfiah untuk bajingan adalah anak haram atau anjing kampung. Ini digunakan sebagai kata benda untuk menggambarkan seseorang yang memberi Anda pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, jika seseorang menabrak Anda di kereta bawah tanah dan Anda akhirnya jatuh, menyebutnya bajingan mungkin tepat.

9. Jalang – Sebuah kata umum yang tidak hanya digunakan secara global tetapi dari laki-laki dan perempuan. Menurut penelitian ini, kata ‘jalang’ digunakan dalam 4,5 juta interaksi di Facebook, menjadikannya 5 kata umpatan paling umum dalam bahasa Inggris online.

10. Sialan – Ini bukan kata umpatan paling kasar yang digunakan di Amerika dan yang diucapkan kepada diri sendiri, bukan untuk menyakiti orang lain. Menurut survei ini, kata itu paling sering digunakan di bagian timur bawah Amerika Serikat.

11. T*nt – Sementara kata ini digunakan di Inggris dan di tempat lain, itu jauh lebih keras di Amerika Serikat. Hati-hati menggunakan ini, terutama di sekitar wanita, karena Anda mungkin akan segera memasuki interaksi fisik setelahnya. Kata-Kata Sumpah Inggris (UK) Orang Inggris memiliki salah satu kata umpatan yang paling orisinal. Mengingat dari situlah bahasa Inggris berasal, masuk akal jika mereka sangat unik! Kata-kata umpatan bahasa Inggris British berikut ini paling umum digunakan di Inggris tetapi perlahan-lahan dikenal di seluruh dunia.

12. Omong kosong Bollocks – adalah kata lain untuk ‘kotoran’, dan digunakan dengan cara yang persis sama. Perbedaannya adalah terjemahan literal dari kata-kata tersebut. Sementara ‘kotoran’ berarti kotoran, ‘omong kosong’ digunakan untuk menggambarkan testis Anda.

13. Pengacau – Salah satu kata yang paling umum digunakan oleh orang Inggris, bugger berarti menyodomi seseorang. Cara Anda menggunakannya adalah untuk menyatakan situasi yang tidak menyenangkan atau gangguan.

14. Neraka Berdarah – Dari semua kata-kata umpatan Inggris, ini mungkin yang dengan cepat digunakan oleh orang Amerika. Kata ‘berdarah’ juga merupakan kata dasar yang dapat dilampirkan pada kata lain untuk membentuk kata umpatan, seperti ‘berdarah tolol’ atau untuk menyeru kata lain, seperti ‘berdarah brilian!’

15. Choad – Choad hanyalah kata lain untuk penis dan dapat digunakan mirip dengan cara kata ‘kontol’ digunakan di Amerika.

16. Crikey – Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa ini bukan kata umpatan, tetapi ini adalah kata bahasa Inggris yang penting untuk dikenali. Crikey sering digunakan untuk menunjukkan keheranan dan keterkejutan, mirip dengan cara kata ‘Kristus!’ digunakan.

17. Sampah – Sampah adalah apa yang Inggris sebut sebagai ‘sampah.’ Jadi, ketika Anda memberi tahu seseorang bahwa pekerjaan mereka ‘sampah’, itu berarti itu sampah.

18. Bercinta – Untuk ‘shag’ berarti berhubungan seks. Tidak terlalu menyinggung ketika Anda menggunakannya di sekitar teman-teman Anda, tetapi hanya cara yang kurang langsung untuk menggambarkan percabulan.

19. Pengecut – Kata ‘wank’ berarti masturbasi, yang berarti menambahkan ‘er’ berarti Anda menyebut seseorang masturbasi.

20. Mengambil kencing – Jika seseorang dari tim Anda tidak produktif atau benar-benar bodoh, Anda dapat mengatakan ‘apakah Anda marah?’

21 Twat – diterjemahkan menjadi ‘p*ssy’ sehingga Anda dapat membayangkan bagaimana kata ini dapat digunakan dengan penuh warna dalam berbagai situasi. Lalai Kata-Kata Sumpah Australia (AU)

22. Sumpah Berdarah – Kode untuk: ‘F*ck Yeah!’ Sering digunakan untuk menunjukkan dukungan besar Anda untuk sesuatu.

23. Akar Apa ‘shag’ – bagi orang Inggris, kata ‘root’ untuk orang Australia. Digunakan sangat mirip.

24. Dapatkan Boneka Pengganti yang mudah untuk memberitahu seseorang untuk ‘mengganggu’ atau ‘mengecewakan.’

25. Peluk aku Yang ini mungkin agak membingungkan karena kata ‘saya’ digunakan di sini. Tapi itu juga berarti ‘tersesat.’ Istilah yang lebih tepat adalah ‘bugger off’

26. Cukup menyedot sav Kami harus mengakhiri daftar kata-kata kutukan bahasa Inggris kami dengan yang istimewa ini. Kata “sav” adalah kependekan dari saveloy, atau merah, seasone