Makna Sifat Orang Jawa

Orang Jawa

Didalam masyarakat Jawa ada beberapa sifat mental yang bisa dilihat atau diamati. Berikut ini contoh sifat dan kebiasaan orang Jawa (contoh diambil dari https://salamadian.com/mengenalkarakter-sifat-dan-kebiasaan-orang-jawa/) (tanpa modifikasi):

  1. Pemalu, sungkan tapi suka menyapa

Orang Jawa suka senyum senyum dan mengangguk ketika berpapasan. Mereka suka menyapa namun biasanya jarang berani memulai percakapan.

  • Pandai menjaga etika dan sopan santun

Orang Jawa itu sopan, baik terhadap orang yang lebih tua ataupun terhadap sesama, mereka juga pandai menjaga etika ketika berbaur dalam lingkungan bermasyarakat. Merundukkan badan ketika berjalan didepan orang yang lebih tua sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan, tata krama, dan sopan santun. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai dan dapat menempatkan posisi dirinya.

  • Orang Jawa itu pekerja keras dan penurut

Bila ditinjau dalam lingkup perusahaan, orang Jawa adalah pekerja terbaik. Mereka mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan, tak pernah mengeluh, dan berdedikasi tinggi terhadap apa yang dibebankan padanya.

  • Hidup mengalir seperti air

Orang Jawa menganut filosofi hidup mengalir seperti air dengan menjalani kehidupan seolah tanpa beban dan tanggungan. Yang penting adalah bisa makan, ibadah, dan menghidupi keluarga.

  • Menerima apa adanya

Sikap orang Jawa adalah sikapnya yang menerima apa adanya terutama dalam hal hubungan. Mereka menerima keadaan apapun dari pasangannya.

  • Suka mengalah, kalem, dan menghindari konflik

Didalam keluarga, orang Jawa adalah orang-orang yangsuka mengalah.

  • Orang Jawa itu luwes

Wong Jowo kuwi gampang ditekak-tekuk. Orang Jawa mudah berbaur dengan orang-orang dari suku lain walaupun mereka agak pemalu dan sungkan. Kesopanan dan keramahan orang Jawa membuat orang-orang senang bergaul dengan mereka.

  • Gaya dan nada bicaranya sopan

Bahasa Jawa memiliki strata bahasa halus, sedang, dan kasar. Orang orang Jawa terutama yang berasal dari daerah Yogyakarta, Solo, dan Semarang dikenal dengan kehalusan dan kelembutan bicaranya.

  • Mempertahankan tradisi dan  budaya

Banyak sekali tradisi-tradisi yang berawal dari leluhur jawa yang masih lestari dan dilakukan sampai sekarang. Beberapa tradisi tersebut merupakan symbol-simbol dari suau peristiwa penting di masa lalu atau bentuk rasa syukur yang dibingkai dalam sebuah acara.

  1. Muluk/puluk

Kebiasaan masyarakat untuk menyantap makanan dengan menggunakan tangan dirasa lebih nikmat.

  1. Orang Jawa arif dan ramah

Meski sudah jarang dijumpai dalam kehidupan masyarakat sekarang, masih ada sedikit masyarakat yang menjunjung tinggi kearifan. Sebagai contoh, ketika sedang berkunjung ke suatu desa, masyarakat desa menyambut kita dengan ramah dan menjamu kita dengan beragam hidangan terbaik mereka.

  1. Kebiasaan orang Jawa (banyak melarang)

Ungkapan ‘ora ilok’ dalam bahasa Jawa mengandung pesan atau nilai moral serta budi pekerti bagi masyarakat Jawa. Ungkapan tersebut memiliki arti ‘dilarang melakukan perbuatan yang melanggar unggah ungguh atau nilai kesopanan. Sebagai contoh: ‘ora ilok manan karo ngomong’ yang artinya tidak boleh makan sambil bicara karena dapat menyebabkan tersedak.

  1. Suka menolong dan mangan ora mangan sing penting ngumpul

Kalimat mangan ora mangan sing penting ngumpul yang artinya makan tidak makan yang penting kumpul memiliki makna suka berkumpul, saling membantu, dan gotong royong tanpa mengharapkan imbalan.

Bahasa Dalam Proses Pengadilan


Terdapat banyak macam dari peristiwa sosial yang terjadi di ruang atau tempat sidang sebagai institusi sosial di Amerika, Inggris, dan Australia. Ruang sidang sebagai peristiwa sosial yang dilihat dari perspektif kacamata ilmu bahasa adalah pemerintah dengan jumlah yang besar dengan sangat berhati hati dalam berbahasa. Sebuah ruang sidang termasuk orang didalamnya seperti hakim, pengacara, dan para pasukannya. Peraturan berbicara dari peserta lain, hanya saja juga terikat dengan batasan konvensional yang cukup jelas.

Selama pemeriksaan silang saksi, hakim harus mulai memutuskan bait dari Spenser “The Faeri Queen”, kecerdasannya dianggap sangat aneh oleh orang sekitarnya. Putusan hakim harus difokuskan pada topik yang nantinya bisa disetujui bagi semua pihak.

            Peserta lain mungkin memiliki peran perihal berbicara kepada mereka. Anggota juri, seperti tak terlihat, harus diamati, tidak seperti penonton yang dapat mengambil pose sehubungan dengan proses persidangan, termasuk kebosanan, juri terlihat tertarik dan mengikuti prosesi dengan serius. Sementara itu pada kesempatan lain, dibolehkan untuk berbicara, namun hanya merespon pertanyaan yang dilontarkan pada mereka dengan pengacara atau hakim. Respon mereka ialah : mereka harus meringkas secara langsung topik dari pertanyaan. Orang asing tidak diizinkan. Saksi dapat ditegaskan secara verbal oleh hakim jika tanggapan mereka tidak sepenuhnya memuaskan, sekali lagi dengan sanksi hukum penghinaan terhadap pengadilan. Terdakwa dan penggugat seperti juri harus diam selama proses persidangan, kecuali tentu saja mereka disebut sebagai saksi dalam hal ini mereka berbicara di bawah konvensi.

            Konvensi lebih berkolaborasi dengan mengikuti pengacara dan para pasukannya. Kemudian kepada hakim, mereka hak yang cukup besar dalam memutuskan, namun lagi dan lagidengan adanya batasan dalam berdiam. Pengacara dan para pasukannya mengumumkan lagi dampak dari adanya peraturan ruang sidang oleh hakim. Mereka memberi kesempatan membuka dan menutup pernyataan selaama sidang perihal pertanyaan yang ada. Jika salah satu pengacara melanjutkan untuk berinstruksi yang lain tanpa izin dari hakim dia boleh menggunakan subjek. Pertanyaan pada topik perlu tetap pada tema. Akhirnya model atau gaya oleh pengacara berbeda dari yang lain. Ini khusunya lebih kontras kepada hakim yang seharusnya pelan, selama prosedur.

            Jelas dari ringkasan di atas bahwa ruang sidang orang Amerika, Australia, atau Inggris adalah peristiwa linguistik yang sangat khusus dan bertanda tangan, dengan berbagai peran dan konvensi yang didefinisikan dengan baik berkenaan dengan pembicaraan untuk hasil yang sukses. Ini juga merupakan jenis peristiwa budaya tertentu, sebuah forum ritual dalam masyarakat ini untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Budaya lain memiliki cara yang berbeda dalam menyelesaikan sengketa semacam itu. Biasanya ini terdiri dari diskusi antara pihak pihak yang bersengketa dengan hadirnya anggota majelis atau desa yang berkumpul. Saya akan membahas kasus semacam itu diantara orang orang Ilongot Filipina berikut ini, tapi pertama tama saya ingin membahas apa yang terjadi ketika sistem tradisional semacam itu ada dalam kontrak dengan konvensi linguistik ruang sidang moderen.

Berbicara tentang Aborigin Australia

Orang Aborigin Australia telah menyelasaikan perselisihan melalui metode tradisional untuk diskusi dan sanksi kamp selama puluhan ribu tahun sebelum persiapan ritual diruang sidang dengan invasi Eropa 200 tahun yang lalu. Suku Aborigin di Australia memiliki konvensi yang sudah lama dianut. Orang Australia yang berkulit putih khususnya berada dikelas menengah. Walau dalam publik speaking telah mampu mengimbanginya. Seorang pembicara harus mampu menatap ke hadapan penonton, agar supaya dapat berkomunikasi dengan penonton, maka haruslah dengan menatap penonton. Dalam percakapan, seluruh anggota termasuk; akan serasa menjadi pembicaraan yang serius sebuah percakapan layaknya terdapat beberapa anggota yang saling nyambung apa perihal pembicaraannya. Sebuah percakapan dengan mempercayai pembicaraan tentang budaya pada akhirnya haruslah dijadikan sebagai jalan hidup bagi masyarakat sekitar.

Pada Dua Media yang Berbeda

Kompasiana

Pernahkah anda menulis pada dua media yang berbeda? Misalnya di Kompasiana, di Weblog, atau di Media cetak? Bagaimana rasanya setelah anda menulis disana? Pasti sensenya beda.

Let say sebagai Blogger, anda rajiiinn banget jenguk blog anda dan corat-coret disana, utak atik widget, download-download templat-templat untuk mempercantik weblog anda. Kemudian cari-cari inspirasi untuk content nya. Apa yang anda rasakan setelah itu? Seneng kan. Bahagia banget setelah klik button publish. Rasanya lega tidak kepalang setelah menulis satu post.

Tapi apakah anda pernah menulis dengan tantangan adrenalin yang kuat seperti di Kompasiana?

Saya sudah menulis di berbagai media termasuk di media cetak. Contoh di Jawa Pos. Setelah saya kirimkan artikelnya, beberapa hari kemudian dimuat. Kemudian pagi-pagi beberapa teman sms dan menghubungi via hp kalau mereka sudah membaca artikel saya. Dua hari saja hebohnya. Setelah itu sudah, finish. Tidak ada lagi komentar-komentar masuk, baik komen menyanjung maupun komen miring. Benar-benar sudah hilang dari peredaran. Kecuali kalau anda copy guntingan artikel anda, kemudian anda bagi-bagikan dan sebar. Mungkin anda bisa dapatkan ketenaran kedua. Wahhh..mungkin gak?

Nah kalau Kompasiana gimana? Koq bisa memacu adrenalin?

Coba kalau begitu, anda pasang artikel disana. Syukurlah cukup, mudah tidak begitu ribet. Tidak seribet memiliki weblog dengan basic templat wordpress. Saya sudah menjadi anggota disana meski akhirnya saya menerima untuk menjadi penulis pasif tanpa adrenalin di wordpress ini. Sebagai blogger anda harus rajin mencari pembaca dengan cara meningkatkan kualitas tulisan dan share di berbagai macam media dan tempat. Tapi tidak dengan Kompasiana. Disana pembaca sudah tersedia tanpa harus bingung mencari pembaca. Ribuan kompasianer (sebutan untuk penulis Kompasiana) sudah siap memberi klik dan mengomentari tulisan anda. Sehingga anda akan menyaksikan tulisan mana yang dikomen atau dicaci, tulisan mana yang masuk pada trending topic atau higlight, tulisan mana yang sering dihinggapi pembaca atau sepi, dan juga tulisan mana yang menjadi terkenal karena penulisnya dan jumlah kuantitas artikel yang dia tulis. Semua itu selalu update setiap menit tanpa henti. Saat kita menulis maka tanpa jeda waktu judul dan artikel kita langsung nongol di kolom Tulisan Terbaru. Tapi jangan salah, jumlah penulis Kompasiana yang ribuan akan siap menggeser kedudukan anda  sehingga judul dan artikel anda tidak lagi terpampang di halaman depan Kompasiana. Dan itu benar-benar bikin sense kita anjlog.

Nah kecuali kalau tulisan anda bagus :p

Selain itu apabila tulisan anda benar-benar menyentuh hati dan pikiran para admin Kompasiana, bukan tidak mungkin tulisan anda minimal nampang di kolom tengah yaitu highlight atau kolom kanan si trending topic. Maka anda bisa berbangga nama, foto dan artikel anda nampang sekaligus narsis. Lumayan bisa terkenal, paling tidak di Kompasiana, Koran Nasional ini lo! Tapi Highlight dan Trending Topic tidak lama bertahan, beberapa waktu, orang lain akan menggeser kedudukan anda. Terutama kalau kolomnya sudah tidak muat dan tulisan anda sudah mulai berbau basi. Nah maka anda harus rela digeser kedudukannya oleh tulisan-tulsan yang lebih fresh dan baru. Berarti anda harus rela tergeser. Namun dampaknya memacu adrenalin juga, anda kemudian bingung nyari-nyari inspirasi yang akhirnya ingin membuahkan satu tulisan lagi untuk bisa (siapa tahu) menggeser kolom-kolom yang sudah ada.

Sebagai weblogger, anda cukup puas dengan menulis tanpa direspon langsung oleh pembaca anda. Hal itu bisa anda lihat pada dashbor, siapa-siapa yang-datang dan berkomentar. Jangan-jangan hanya spammer, tak ada satupun komentator yang nongol. Ada satu, itupun temen sendiri! Kcian.. aku.

Tapi lama-lama kemudian muncul opini begini, Kompasiana memiliki ribuan penulis yang mereka benar-benar menyediakan fasilitasnya untuk itu, tanpa banyak syarat. Seolah-olah Kompasiana ini memang membebaskan penulisnya agar mendapatkan banyak artikel dan author tanpa kesulitan. Semua serba dimudahkan disana. Seorang teman mengatakan, “kenapa harus memperkaya orang lain?” Lama saya berpikir tentang kata-kata itu “memperkaya orang lain” . Apakah kita memberi kontribusi berupa financial? Saya rasa tidak. Kemudian apakah kita memberikan sesuatu kepada Kompasiana karena kita disediakan space disana? Itu juga tidak. Malahan kita menjadi lebih terkenal dengan menulis disana karena ribuan pembaca Kompasiana, dan juga pembaca yang tidak menjadi member pun bisa mengakses.

Kalau berpikir tentang mengoptimasi weblog kita pribadi, terutama menuju kepada financial reason, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk menulis di Kompasiana. Kecuali kalau kita mau dua-duanya. Dan kita memiliki kemampuan menulis, bahan-bahan inspirasi yang cukup banyak, dan terutama waktu. Nah kalau tidak, pilihlah satu diantaranya. Anda ingin terkenal atau anda ingin mencari uang dengan menulis di weblog.

Jangan dua-duanya la 😀

Fenomena Haji di Indonesia

Haji Bugis

Fenomena Haji di Indonesia sungguh dahsyat dampaknya. Haji bagi masyarakat Madura adalah prestisius.  Seorang Madura tulen belum bisa dibilang orang Madura apabila belum berhaji. Itulah pernak-pernik masyarakat berciri khas pulau di seberang kota Surabaya ini yang begitu dinamis, mengartikan ibadah dengan sangat nyata. Seorang Madura apapun profesianya, akan berusaha sebesar-besarnya mengumpulkan dana untuk berhaji. Itu bagi orang Madura dimanapun tempatnya. Hal ini disebabkan orang Madura tersebar di seluruh dunia karena kegemarannya yang juga suka merantau.

Pun juga dengan orang Bugis yang juga gemar merantau. Hal ini sangat jelas memang disebutkan bahwa dari sejak ditanda tanganinya Perjanjian Bungaya, orang Bugis mulai meninggalkan tanah Sulawesi secara besar-besaran, exodus hingga ujung dunia manapun. Dengung suara Sultan Hasanuddin masih membekas di telinga Orang Bugis bahwa dimanapun kamu berdiri disitulah langut dijunjung. Dimanapun kamu berada disitulah tanah dimana kita hidup, tanpa memandang bangsa apapun. Karena tanah dan langit adalah milik Allah adanya.

Seperti orang Madura juga, fenomena Haji Bugi berdampak sangat besar terhadap kehidupan di Sulawesi. Seorang Bugis yang akan mempersiapk keberangkatan menuju tanah Makkah adalah orang yang memiliki kecukupan spiritual, kecukupan ekonomi, dan kecukupan sosial. Berangkat haji bagi orang Bugis tidaklah mudah. Tidak seperti orang Madura yang bermodalkan ONH only. Apabila ONH 25juta, sedini mungkin orang Madura akan mengejar sepeser demi sepeser untuk mendapatkan dana sebesar 25juta. Apabila sehari bisa mengumpulkan 20ribu mungkin butuh bertahun-tahun bahkan dekade untuk bisa terkumpul uang sejumlah itu. Tak pernah terbersit mereka mengumpulkan uang sampai sebanyak misalnya 100juta untuk biaya haji tersebut. Asal sudah ngumpul 25juta maka segeralah mereka mendaftarkan diri mereka untuk segera berangkat ke Makkah.

Bagaimana dengan orang Bugis, mungkin agak rumit. Orang Bugis akan mengumpulkan uang yang lebih dari biasanya karena persiapan yang harus betul-betul matang. Mereka justru mempersiapkan pula dana untuk kegiatan penjemputan di bandara atau di embarkasi. Menjemput orang yang pulang dari tanah Makkah adalah sebuah kegiatan yang harus diatur sedemikian rupa, direncanakan matang-matang. Siapa yang akan menjemput, kemudian mobil apa yang akan digunakan untuk menjemput. Hal ini karena apabila belum ada mobil yang rencana akan dipergunakan untuk menjemput, maka biasanya seorang haji Bugis perlu mempersiapkan mobil dengan membelinya terlebih dahulu. Sehingga mereka sudah merasa aman dan nyaman nanti saat tiba di Indoensia. Dan mobil-mobil penjemput haji ini sudah barang tentu mobil yang berkelas sehingga seorang haji Bugis bisa mempersiapkan dana yang sangat besar, jauh lebih besar dari ONH yang mereka bayarkan.

Kostum yang akan dipakai saat nanti pulang pun sangat penting karena akan ada perbadaan antara Haji Bugis dan Orang Bugis. Tentu ini sangat berbeda. Inilah yang membedakan mereka yang sudah menunaikan ibadah haji dan yang belum. Kostum Haji Bugis baik wanita maupun pria berbeda dengan mereka yang belum berhaji. Terutama kostum wanita. Seorang wanita Bugis akan mengenakan baju kebaya panjang dan sarung khas Bugis, kemudian memakai jilbab topi yang kadang berwarna hitam. Topi khusus penutup rambut ini disambung dengan kain tile tipis yang juga bercorak hampir sama atau bahkan sama dengan kebayanya. Hampir mirip seperti kerudung yang dipergunakan pengantin barat.

Oleh-oleh haji juga beragam. Hampir semua orang yang pulang dari Makkah selalu disibukkan dengan oleh-oleh Haji. Meskipun begitu ada pula orang-orang yang cukup hanya dengan memberi makan, yaitu dengan hidangan khas Sulsel seperti Coto Makassar. Oleh-oleh ini pula menjadi kegiatan wajib bagi semua orang yang berpulan dari haji. Yang sering dipakai setiap haji yang pulang dari tanah suci adala tasbih dan sajadah. Namun kemudian hal ini berkembang karena makin banyak orang berziarah haji, maka  harus disiapkan pula oleh-oleh yang tidak terlalu mahal tapi berjumlah banyak

Anjlok Dari Halte


Sedianya waktu itu aku ingin beli tiket ke Rosalia di daerah Gilingan. Daerah yang sebelumnya kutau itu di terminal Tirtonadi. Sayang temenku beritau nya nggak lengkap. Sehingga saat ditanya kernet bis dengan santai kujawab Terminal Tirtonadi.

Dan padahal bukan sama sekali. Huaa..

Rosalia tempatnya jauh sebelum Terminal Tirtonadi. Aku rasanya jadi linglung dirasani para tukang-tukang becak iseng. Saat mau menyeberang berkali mukaku terlihat bego karena tidak mengenal dengan jelas tempatnya yang mana. Hampir aku masuk jalur bis yang khusus menuju Terminal Tirtonadi. Dan aku merasakan hawa tidak enak setelah dirasani sama para becakers. Huhft

Setelah tolah toleh kanan kiri, beberapa kernet yang cari-cari penumpang, tukang ojek yang setengah maksa dan tukang-tukang yang lain sudah mulai rame menarik penumpang, dan aku dikira penumpang. Padahal bukan.  Aku akhirnya memberanikan diri untuk jalan cepat dan lurus tanpa tahu dimana kantor Rosalia itu berada. Hmm biarin dibilang PD. Haha.. Dan ternyata di kejauhan terlihat papan Rosalia meskipun bagiku, aku masih belum yakin karena warnanya blur. Semakin dekat pun juga masih blur. Dasar mata tua terpaksa harus kebelalakkan mata untuk melihat dengan jelas itu papan Rosalia atau pasar, uhuk.

Dan ternyata benar itu adalah agen Rosalia.

Ini cerita suksesnya. Cerita bukan suksesnya adalah dibawah ini.

Saat masih di halte, temenku bilang nanti nyegat bis namanya Jamus ya. Dan aku ingat-ingat nama bis tersebut sampai hapal. Hingga hampir semua bisa yang lewat kupantengin sampai kepanasan.  Maklum soalnya takut  nggak dapat bis tersebut. Nah saat dari kejauhan, di bawah lampu kuning depan UNS terlihat bis tersebut, aku segera beranjak dari duduk. Namun ini ternyata di luar dugaan, bis ini tidak mau berhenti karena di depan halte sudah ada bis lain yang ngetem, yaitu bis batik. Yahh terpaksa nunggu bis Jamus lagi datang kembali. Dan sampai setengah jam aku menunggu bi situ datang kembali, baru kemudian bis Jamus yang ketiga baru mau berhenti. Itupun setelah distop dengan cara loncat-loncat. Nah saat bis mendekat, baru kutahu bahwa bis Jamus itu kuecill dan pendekkk.. Aku baru nyadar. Halte ini sama sekali tidak cocok dibangun untuk bis Jamus. Step bus ini sangat pendek dan terlalu dekat dengan jalan, dan jadinya terlalu jauh dengan floor haltenya. Dan apa yang terjadi saudara-saudara..inilah pertama kali aku anjlok dari floor halte yang cukup tinggi itu. Jlokkkk..

Itu suaranya.

Dan dengan bersungut-sungut aku masuk ke dalam bis dengan menahan sakit di telapak kaki, dan paha yang lumayan pegel.

Owalaaa..

Kompor Sebagai Komoditi

Kompor sudah menjadi komoditi dan home industry bagi sekumpulan warga Joyo. Sejumlah warga aktif memproduk dan  menghasilkan kompor minyak tanah dalam rumah industry mereka. Hasilnya bahkan dikirim ke beberapa negara manca, tentunya yang masih menggunakan kompor sebagai salah satu alat masak mereka.

Seperti salah satunya adalah ibu Simun. Wanita super kaya ini baru saja meninggalkan kita pagi tadi 8 Januari 2022. Rupanya beliau sudah tidak kuasa menahan penyakit diabetes yang telah berpuluh tahun menggerogotinya. Seperti orang kaya yang lain semasa hidup beliau sangat hobby mengenakan perhiasan mas apabila lagi berbelanja ke pasar. Penampilannya sangat menyolok dan membuat mata kita berbinar karena perhiasannya yang berbinar2 pula. Gelang yang beliau pakai bias sampai ke siku2nya. Rantai kalungnya pun lebih dari satu. 

Anehnya setiap wanita yang berjualan ataupun para pembeli wanita yang berseliweran di dalam pasar Dinoyo, apabila berpapasan atau bertemu, mereka mencium tangan bu Simun. Seolah2 bu Simun adalah orang yang patut dan sangat dihormati. Dan yang unik lagi bu Simun selalu memanggil setiap wanita di pasar Dinoyo dengan nama panggilan yang sama “Nduk”. Padahal belum tentu mereka lebih muda dari bu Simun. Halah..

Itulah maka, dari sejak puluhan tahun yang lalu, beliau juga mendapat julukan yang khas karena penampilannya. Dialah BUPATI JOYO. Bupati karena beliau adalah salah satu warga Joyo yang cukup berada dan berpenampilan sangat mencolok. Joyo adalah karena beliau dah bertahun2 tinggal di Joyo, desa dengan penduduk yang penghasilannya berasal dari membuat kompor minyak tanah.

Selamat jalan bu Simun..