Resep Nasi Tumpeng Mogana

Tumpeng Mogana

Tumpeng Mogana adalah salah satu jenis masakan berbahan beras yang disusun berbentuk tumpeng. Di dalam tumpeng diletakkan juga lauk pauknya. Tumpeng Mogana banyak dipergunakan di kegiatan adat masyarakat Jawa Barat atau Sunda. Di masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur nasi atau tumpeng ini disebut megono.

Inilah resep Nasi Tumpeng Mogana

Bahan :

1500 gr beras pulen, cuci hingga bersih dan tiriskan

1 st garam

5 lbr daun salam

3 batang sereh memarkan

1800cc air

2 st kaldu ayam bubuk untuk nasi

3 sm minyak goreng untuk menumis

600gr daging ayam / sapi / kambing potong kecil-kecil

1/2 butir kelapa muda parut dan sangrai hingga kecoklatan lalu tumbuk

Bumbu yang dihaluskan :

1 sdm cabe giling

8 buah bawang merah

3 siung bawang putih

2 sdm ketumbar sangrai

1 sdm garam

75 gr gula Jawa

Cara membuat :

1. Tempatkan beras, garam, daun salam dan serai dalam panci. Beri air dan masak hingga beras setengah matang (aron). Masukkan kaldu ayam bubuk, aduk hingga rata dan sisihkan.

2. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan hingga harum. Masukkan potongan daging dan kelapa halus. Aduk hingga rata dan mengering. Angkat.

3. Lapisi ujung kukusan bambu bentuk kerucut / cetakan nai tumpeng dari aluminium dengan daun pisang, isi 3/4 bagian nasi setengah matang ke dalamnya. Buat lubang di tengah nasi tersebut sambil nasi diratakan ke dinding kukusan.

4. Masukkan masakan daging ke dalam lubang nasi tersebut, isi lagio dengan nasi , padatkan. Kukus dalam dandang pengukus yang sudah dipanaskan hingga matang (1-1,5jam). Angkat.

5. Alasi tampah atau nyiru dengan daun pisang, hiasi tepinya dengan potongan daun pisang berbentuk segitiga. Tumpahkan nasi dari kukusan kerucut secara hati-hati di atas tampah.

#tumpengmogana

#nasitumpeng

 

 

Memahami Budaya Lokal Dengan Lebih Baik

Dunia adalah tempat yang menarik dan perjalanan akan memungkinkan Anda melihat dan menemukan masakan, ritual, dan tradisi yang berbeda. Mereka pasti akan mengubah cara berpikir Anda tentang budaya lain. Anda akan menyadari perbedaan cara melakukan sesuatu dan cara orang lain menghabiskan hari mereka. Ini adalah sesuatu yang harus Anda alami secara langsung.

Anda dapat mengikuti festival lokal dan memahami sepenuhnya mengapa mereka merayakannya, daripada hanya mengikuti perayaan tersebut untuk bersenang-senang. Anda akan menikmati masakan lokal karena Anda memahami sejarah makanan mereka dan cara hidangan disiapkan.

Mungkin Anda pernah mendengar pernyataan ini – bahwa budaya dan bahasa adalah mitra. Dalam perjalanan sejarah, bahasa membentuk kebudayaan, sebagaimana budaya juga dibentuk oleh bahasa. Beberapa orang mengatakan bahwa tidak mungkin memahami budaya suatu negara jika Anda tidak menguasai bahasanya.

Misalnya, jika Anda mengunjungi hutan hujan di Kolombia dan berkesempatan mengunjungi suku setempat, Anda akan mendapatkan pengalaman yang benar-benar baru dan pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan komunitas mereka jika Anda bisa berbicara bahasa Spanyol. Anda akan memahami sepenuhnya bagaimana mereka menghabiskan hari-hari mereka dan tradisi, adat istiadat, dan kepercayaan apa yang mereka ikuti.

Temukan Jalan Anda

Mempelajari bahasa lokal membantu Anda menjelajahi kota. Jika Anda bingung, lebih mudah mencari bantuan. Pengetahuan dalam berbicara, membaca dan menulis dalam bahasa lain membuat Anda beradaptasi lebih baik dengan lingkungan sekitar. Anda dapat membaca tanda, peringatan, label dan petunjuk arah.

Bahkan jika Anda tersesat, lebih mudah untuk kembali ke rencana perjalanan awal karena Anda bisa mendapatkan bantuan. Anda tidak perlu mencari seseorang yang bisa berbicara bahasa Anda untuk menanyakan arah yang benar.

Anda Mendapatkan Kemandirian

Jika Anda tidak dapat berbicara bahasa lokal, rencana perjalanan Anda hanya mencakup mengunjungi semua tempat wisata biasa. Tentu saja, Anda dapat menyewa mobil untuk tur kota, namun biayanya bisa mahal dan sering kali, Anda hanya dapat menghabiskan beberapa menit di setiap tujuan.

Jika Anda berbicara bahasa tersebut, bayangkan kesenangan yang akan Anda rasakan karena Anda dapat berkeliling kota dengan aman dan bahkan menjelajahi pinggiran kota untuk menemukan tempat-tempat yang mungkin tidak termasuk dalam rencana perjalanan rutin Anda. Mungkin Anda akan menemukan toko artis lokal atau toko buku yang menjual barang-barang yang selalu ingin Anda beli. Mungkin terdapat kafe yang menyajikan hidangan lokal terlezat atau toko roti yang menjual roti yang belum pernah Anda cicipi sebelumnya.

#locallanguage

#language

#bahasa

#javanese

Manfaat Mempelajari Bahasa Lokal di Tempat yang Anda Kunjungi

Di beberapa negara, wisatawan dapat berbicara hanya dalam bahasa Inggris, namun wisatawan yang lebih berpengalaman mengatakan bahwa mempelajari bahasa lokal lebih baik, karena akan meningkatkan pengalaman perjalanan Anda.

Faktanya adalah tidak mungkin mempelajari semua bahasa di dunia. Selain itu, tidak semua orang bilingual atau multibahasa, dan dalam kasus khusus, poliglot. Dapat dikatakan bahwa mayoritas orang di dunia adalah monolingual. Namun karena globalisasi, beberapa negara mendorong warganya untuk belajar satu atau dua bahasa. Misalnya, ada beberapa artikel berita yang menyatakan bahwa Inggris menderita secara ekonomi karena kurangnya kemampuan bahasa asing dari sebagian besar angkatan kerjanya. Kurangnya keterampilan bahasa asing menjadi nyata di Amerika Serikat.

Ini adalah sesuatu yang perlu dipikirkan, baik Anda seorang karyawan, pencari kerja, atau pelajar. Namun untuk sementara, mari kita bahas tentang belajar bahasa jika Anda suka bepergian dan manfaat yang akan Anda peroleh dengan menambahkan bahasa baru ke daftar keterampilan yang Anda peroleh.

Apakah Anda merasa khawatir saat bepergian ke tempat yang bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa Anda? Di beberapa destinasi, Anda bisa mendapatkannya dengan berbicara dalam bahasa Inggris, namun meskipun penduduk setempat akan ramah dan membantu, bayangkan betapa lebih memperkaya perjalanan Anda jika Anda dapat berkomunikasi dengan penduduk setempat dalam bahasa mereka sendiri!

Manfaat Belajar Bahasa Daerah

Pernahkah Anda berkunjung ke negara di mana Anda tidak dapat memahami apa pun sehingga membuat berbelanja, bersantap, atau berkeliling menjadi agak sulit? Ini adalah pengalaman yang sangat berbeda ketika Anda bepergian ke negara di mana Anda dapat dengan bebas berbicara dalam bahasa Anda sendiri. Namun mengetahui bahasa lokal pasti akan mengubah cara Anda memandang negara tersebut, masyarakatnya, dan budayanya, saat Anda menjadi jembatan untuk mempersempit hambatan bahasa.

#locallanguage

#language

#bahasa

Benjolan Pada Payudara Rutinkan Konsumsi Kunyit

Kunyit

Untuk mengatasi benjolan di payudara coba rutinkan konsumsi ultimate kunyit. Sediakan larutan ultimate kunyit yaitu dengan cara seperti di bawah ini.

Bahan :

2 jari kelingking kunyit

2 jempol dewasa jahe

1 buah jeruk nipis sedang

Madu secukupnya

Cara membuat:

Rebus kunyit dan jahe kurang lebih 2 menit dan jangan terlalu mendidih. Bisa juga dilakukan cukup dengan diseduh dengan air panas. Setelah hangat tambahkan perasan jeruk nipis dan madu.

Minum ultimate kunyit saat pagi sebelum mengkonsumsi sarapan atau sebelum makan apapun di pagi hari.

Hindari sementara gula, makanan yang mengandung gula, tepung-tepung, susu dan minyak.

#kunyit

#benjolanpayudara

Terbukti Berkhasiat, Meniran Bukan Sekedar Gulma

Daun Meniran

Di Spanyol daun meniran dijuluki sebagai penghancur batu.  Julukan itu diberikan berkat khasiat meniran yang secara turun temurun dipergunakan untuk penghancur batu ginjal dan batu empedu. Dalam sistem pengobatan Tiongkok meniran dipergunakan untuk pengobatan beragam gangguan kesehatan. DIantaranya adalah

  1. disentri
  2. flu
  3. diabetes
  4. gangguan sulit buang air kecil
  5. penyakit kuning
  6. batu ginjal
  7. gangguan saluran cerna.

Di beberapa negara lain meniran juga dipakai sebagai obat luar. Caranya daun ditumbuk dan dipakai sebagai kompres pada luka terbuka atau otot yang terkilir. Pasta meniran juga bisa membantu mengatasi rasa sakit karena pembengkakan payudara pada ibu menyusui.

#daunmeniran

#meniran

#herbal

#batuginjal

Minum Air Rebusan Bawang Putih

Bawang Putih

Air rebusan bawang putih sangat berkhasiat bagi kesehatan. Rebus 3 siung bawang putih lalu minum saat hangat, di pagi hari.

Inilah manfaat minum air rebusan bawang putih

1.  Air bawang putih menyehatkan ginjal, bisa mengobati dan mencegah kerusakan ginjal.

2. Minum air bawang putih bisa menghindarkan gejala-gejala hipertensi dan menurunkan tingkat hipertensi dan juga kolesterol.

3. Air bawang putih bisa menormalkan tekanan darah agar supaya terhindar dari hipertensi.

4. Minum air bawang putih juga menormalkan kadar gula darah atau kadar glukosa darah yang tinggi.

5. Air bawang putih bisa menguatkan tulang dan menghindarkan gejala osteotritis terutama bagi usia lanjut juga memperbaiki penyakit tulang lainnya.

6.  Minum air bawang putih ini bisa menurunkan berat badan secara signifikan karena kandungan alisin dan vitamin c yang terkandung dalam bawang putih bisa meluluhkan lemak jahat dalam tubuh, air bawang putih ini akan keluar melalui keringat.

#herbal

#bawangputih

#kolesterol

#guladarah

Pendidikan Dalam Hubungan Anak dan Orang Tua

Pergeseran peran ayah dari kasih sayang dan kehangatan menjadi penjaga jarak dan pendiam, meskipun hanya satu langkah dalam keseluruhan rangkaian peristiwa yang dengannya anak mempelajari konsep khas Jawa tentang pengendalian diri dan rasa hormat, mungkin merupakan hal yang paling penting. Hal ini paling signifikan karena peran penting ayah dalam kehidupan emosional anak dan karena masa transisi ini terjadi selama periode krisis oedipal. Namun hal ini tidak akan berdampak apa-apa jika tidak diprakirakan dan ditindaklanjuti dengan peristiwa-peristiwa lain dalam kehidupan anak, atau mungkin lebih penting lagi, jika bukan karena konteks makna dari gagasan dan nilai-nilai Jawa yang mendasari keseluruhan transisi tersebut. . (Geertz 1961, 110)

Dalam istilah psikodinamik, perlindungan dari keterkejutan atau frustrasi dapat menunda atau mengurangi intensitas individuasi anak dengan mencegah putusnya perasaan menjadi bagian dari lingkungan keluarga yang menyenangkan yang diciptakan oleh orang tua dan saudara kandungnya. Pola ini terkait dengan apa yang diamati Bary, Child, dan Bacon (1959) melalui observasi lintas budaya. Dalam konsep ketaatan Jawa yang merupakan ciri khas masyarakat agraris atau penggembala, anak-anak dilatih untuk lebih patuh, patuh, dan bertanggung jawab dibandingkan anak-anak dari masyarakat berburu atau menangkap ikan.

Ada sedikit perbedaan antara orang tua petani dan keluarga priyayi berpangkat lebih tinggi atau keluarga bangsawan dalam hal hukuman (Koentjaraningrat 1985). Filosofi priyayi dalam mendidik anak adalah Tut wuri andayani yang artinya “mengikuti dari belakang, senantiasa memberi semangat” (Koentjaraningrat 1985, 241). Oleh karena itu, anak-anak dalam keluarga priyayi lebih leluasa mengeksplorasi dunianya sendiri, yang menurut Koentjaraningrat mencerminkan pengaruh awal Eropa atau Belanda. Namun anak dibimbing secara aktif untuk menyesuaikan diri dengan perilaku yang dapat diterima secara sosial. Berbeda dengan ayah dalam keluarga tradisional, ayah dalam keluarga priyayi juga berperan aktif dalam membimbing anak-anaknya, lebih sering menerapkan hukuman. Namun hukuman fisik jarang dilakukan karena anak-anak Jawa, menurut Geertz, berperilaku baik, patuh, pendiam, dan pemalu.

Jika seorang anak tidak berperilaku sesuai norma, perhatian atau kontak dengan saudara laki-laki atau perempuannya dapat ditarik, dan dia tidak dapat diajak bicara (disatru). Teman bermain pun saling satru atau menjauhi selama beberapa hari. Mengenai hal ini, Geertz mencatat: “Ini adalah mekanisme yang sangat baik untuk penyesuaian permusuhan dalam masyarakat yang meremehkan kekerasan dan ekspresi perasaan yang sebenarnya, karena mekanisme ini memungkinkan untuk menghindari pecahnya kemarahan sambil tetap memungkinkan ekspresi kemarahan yang signifikan. (Geertz 1961, 117-118). Perkelahian fisik antar anak jarang terjadi (Geertz 1961). Orang tua selalu menjaga hubungan baik dengan tetangganya. Mereka selalu menghukum anaknya sendiri jika bertengkar dengan anak lain di lingkungannya, tidak peduli siapa yang salah. Dengan cara ini, anak-anak mempersiapkan diri untuk interaksi sosial di kemudian hari di mana mereka harus berhasil menyembunyikan amarahnya.

Ketaatan dianggap tidak hanya sebagai kualitas yang berguna dalam interaksi sosial, tetapi juga dianggap lebih aman (Koentjaraningrat 1985). Tindakan mengalah pada orang lain yang tidak dikenalnya dianggap aman, menghindari konflik. Ketaatan dipuji secara luas baik dalam nilai-nilai petani maupun priyayi. Seorang anak diajarkan ketaatan dengan memaksakan rasa takut akan akibat yang tidak menyenangkan dari suatu tindakan, atau wedi (takut). Cara yang biasa dilakukan orang tua, yang menurut Koentjaraningrat sangat disayangkan, adalah menakut-nakuti anak dengan ancaman hukuman dari tangan makhluk halus atau orang asing. Lebih lanjut ia menjelaskan, hal ini memicu mudahnya munculnya perasaan takut terhadap orang lain. Menurut Geertz, konsep wedi diajarkan sebelum konsep shaming ditanamkan. Geertz juga menjelaskan cara orang tua menanamkan wedi dengan cara menakut-nakuti anak. Dia pernah mengamati “anak berusia dua tahun, diam dalam ketakutan bahwa laki-laki asing yang datang berkunjung, seperti yang telah diperingatkan ibunya, akan menggigitnya jika dia membuat keributan …” (Geertz 1961, 113). Perasaan ini menyampaikan norma-norma orang Jawa dewasa dalam pergaulan sosial untuk merasakan wedi terlebih dahulu ketika berhadapan dengan orang asing. Karena tidak mengetahui apakah mereka akan mencelakakan, menyakiti, atau mempermalukannya (Koentjaraningrat 1985), orang Jawa menunggu dan tidak melakukan apa-apa hingga ia yakin bagaimana situasi akan berkembang.

Dalam mengajarkan pengendalian diri dan perilaku hormat pada anak Jawa, orang tua menekankan konsep isin atau mempermalukan. Orang tua selalu berusaha membangkitkan rasa malu terhadap perilaku buruk yang akan “diperhatikan oleh orang-orang jalanan” (Koentjaraningrat 1985, 242) Hendaknya anak merasa isin terhadap atasannya. Geertz menemukan, akibat penanaman isin, anak-anak Jawa bisa duduk tenang dan berperilaku baik selama berjam-jam di setiap kesempatan publik. Dalam budaya Jawa, mengetahui kapan harus merasa isin berarti mengetahui “sifat sosial dasar dari pengendalian diri dan menghindari ketidaksetujuan” (Geertz 1961, 114).

Ketika anak memasuki masa remaja, konsep sungkan (kesantunan penuh hormat) (Geertz 1961), diperkenalkan secara bertahap. Perasaan ini ditujukan kepada atasan atau orang asing yang sederajat. Koentjaraningrat (1985) menggambarkannya sebagai “perasaan canggung” terhadap atasan atau orang yang dihormatinya. Mereka akan bertindak malu-malu dalam interaksi sosialnya, berusaha untuk tidak mengganggu atasannya. Menurut Geertz, konsep sungkan merupakan dasar bagi orang Jawa “untuk mampu melakukan minuet sosial dengan anggun” (Geertz 1961, 114).

Ajaran wedi, isin, dan sungkan dianggap sebagai prasyarat untuk mengadopsi unsur-unsur dasar keutamaan manusia. Seperti disebutkan sebelumnya, ketaatan, kemurahan hati, menghindari konflik, memahami orang lain, dan empati merupakan nilai-nilai dasar orang Jawa dalam menjalin hubungan, tercermin dari penekanan mereka pada interkoneksi sesama manusia. Nilai ini mewajibkan masyarakat Jawa untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat dalam pergaulan sosialnya.

Bagaimana Mengajarkan Sopan Santun dan Nilai

Budaya Jawa menghargai kebajikan yang berkontribusi pada integrasi sosial yang harmonis. Kebajikan manusia yang ideal meliputi ketaatan kepada atasan (manut), kemurahan hati, menghindari konflik, pengertian terhadap orang lain, dan empati (Geertz 1961; Koentjaraningrat 1985; Magnis-Suseno 1988). Pandangan tradisional Jawa bahwa semua laki-laki tidak setara secara sosial ditunjukkan dalam berbagai aspek perilaku sosial. Oleh karena itu, perilaku hormat selalu ditanamkan pada anak-anak Jawa.

Sikap permisif yang dikemukakan sebelumnya terhadap anak-anak di bawah lima atau enam tahun terutama bertujuan untuk mengatur urusan-urusan agar meminimalkan munculnya dorongan-dorongan yang mengganggu kehidupan sosial. Anak dianggap durung Jawa (belum orang Jawa) atau durung ngerti (belum paham) (Geertz 1961), sehingga penggunaan kekerasan atau hukuman atas kesalahan yang tidak dapat dipahami dianggap tidak ada gunanya. Magnis-Suseno (1988) mengamati bahwa orang tua jarang marah terhadap anak kecilnya.

Perilaku yang tidak dapat diterima secara tidak langsung ditentang dengan menakut-nakuti anak dengan hantu, orang asing, atau anjing, yang menurut MagnisSuseno (1988), juga mengarahkan anak kepada orang tuanya demi keamanan emosional. Namun, Koentjaraningrat (1985) mencatat bahwa beberapa petani di Jawa mengancam anak-anak mereka dengan hukuman, dan bahkan dengan kemarahan. Namun ia setuju bahwa perilaku anak-anak pada umumnya dikendalikan tanpa hukuman.

Berbeda dengan pentingnya hukuman di kalangan suku Yoruba, hanya 5 persen ibu di Jawa yang menampar atau memukul anaknya ketika ada pengawas, dan hanya 10 persen yang menghukum anak tersebut lebih dari sekali dalam seminggu. Geertz (1961) mencatat bahwa seiring bertambahnya usia anak, pelatihan untuk masa dewasa mungkin melibatkan disiplin bahkan hukuman fisik untuk menanamkan perilaku yang “benar”. Anak-anak yang lebih tua dalam kumpulan data kami cenderung lebih disiplin dibandingkan anak-anak yang lebih muda.

Geertz (1961) mengilustrasikan sikap permisif yang mungkin ditunjukkan ibu terhadap anaknya:

Jika seorang anak ingin begadang biasanya tidak ada keberatan dari orang tuanya, dan pada saat wayang kulit anak-anak duduk semalaman di depan layar, menonton dan tidur siang secara bergantian. Pada malam hari biasa, ibu hanya akan bertanya kepada anaknya apakah ia ingin tidur dan akan terus bertanya hingga ia menjawab ya. Jarang terjadi pertarungan keinginan; tidak ada pertentangan langsung… Jika anak menjadi lepas kendali dan cara diam tidak berhasil, ibu mungkin akan menakutinya dengan pembicaraan tentang lelaki hantu yang akan dia lihat jika dia tidak menutup matanya. (Geertz 1961, 103)

Ibu juga umumnya sangat permisif atau memanjakan anak dalam memberikan camilan dan makanan lain sesuai permintaan, dan anak biasanya tidak diharapkan untuk menunggu makanan sepanjang hari (Geertz 1961; Tan dkk. 1970). Hanya 26 persen ibu dalam sampel kami menjawab bahwa anak tidak boleh ngemil kapan pun dia lapar dan harus menunggu hingga waktu makan untuk diberi makan; 84 persen anak-anak mengonsumsi makanan ringan manis dan asin – menyediakan 1$ persen dari total energi yang dikonsumsi. Produk makanan ringan ini, atau “makanan cepat saji Jawa” (produk singkong manis dan beras ketan, kue goreng asin yang diproduksi secara komersial, dan minuman) umumnya rendah zat gizi mikro. Bukti anekdot menunjukkan bahwa anak-anak mungkin mengonsumsi begitu banyak makanan ringan berkalori tinggi dan kepadatan nutrisi rendah di antara waktu makan sehingga makanan yang lebih “bergizi” dalam makanannya mungkin akan segera diubah.

Menurut Geertz, anak-anak kecil memiliki sedikit kesempatan untuk mengembangkan inisiatif mereka sendiri dan mandiri, karena mereka sangat terlindungi dari frustrasi dan bahaya. Menurut Koentjaraningrat, hal ini hanya berlaku sampai anak tersebut mencapai usia sekitar lima tahun, setelah itu ia bebas bermain dengan teman-temannya di lingkungan sekitar. Namun sebaliknya, Megawangi, Sumarwan, dan Hartoyo (1994) menemukan bahwa 94 persen orang tua di Jawa ingin memiliki anak yang mandiri.

Seiring bertambahnya usia anak, lambat laun ia ditanamkan konsep Jawa tentang pengendalian diri dan kepatuhan. Dia menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya tidak memberikan respons seperti dulu, dan mereka menghukumnya jika dia tidak patuh. Transisi ini, menurut Geertz, mempunyai dampak yang signifikan.

Matematika Dalam Perspektif Budaya

Dalam studi baru-baru ini tentang epistemologi praktik ahli dan peneliti matematika  dan bagaimana hal ini terkait dan memengaruhi praktik disipliner mereka, saya mengidentifikasi perbedaan antara budaya matematika, aspek-aspek matematika yang terkait dengan disiplin ilmu (seperti sikap tertentu terhadap kecantikan, ketelitian, keringkasan, dll.) dan budaya matematika, sikap sosio-politik, nilai-nilai dan perilaku yang menentukan bagaimana ahli matematika, dan siswanya, mengalami matematika dalam suasana konferensi, ruang kelas, tutorial, dll. Dalam bab ini, saya menyediakan pembenaran empiris untuk menggambarkan perbedaan ini dan kemudian mengeksplorasi cara-cara di mana budaya matematika dan budaya matematika mempengaruhi sikap, perilaku dan nilai-nilai dalam disiplin ilmu. Meskipun aspek budaya matematika, secara historis, telah didefinisikan sebagai bagian integral dari matematika dan dipandang sebagai bagian dari apa yang diharapkan diperoleh siswa dalam proses menjadi ahli matematika, budaya matematika adalah produk dari stereotip dan bias yang mengontrol siapa yang bisa. memasuki disiplin dan bagaimana mereka melakukannya. Namun, membedakan keduanya tidaklah mudah. Saya berpendapat bahwa budaya matematikalah yang menciptakan hambatan masuk bagi anggota kelompok tertentu dan memfasilitasi kelompok lain. Konsekuensinya, budaya matematikalah yang menjalankan kekuasaan atas bagaimana budaya matematika dipahami. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa budaya matematikalah yang harus diatasi jika matematika ingin mencapai aksesibilitas yang luas

Seorang pakar matematika dan budaya mengungkapkan pengalamannya di bawah ini.

Saya juga tahu bahwa kita adalah orang-orang intelektual yang memahami sistem dan pola (misalnya bagaimana dunia saling terhubung), yang merupakan aspek penting dari hubungan mendalam kita dengan Negara. Masyarakat kita memahami dunia secara matematis dengan cara kita sendiri dan pengetahuan ini belum diakui. Anak-anak kita terus-menerus dirugikan dalam sistem pendidikan dan statistik pendidikan saat ini tidak mencerminkan kecerdasan dan kemampuan mereka.

Lalu bagaimana kita bekerja sama untuk mengubah hal ini? Setelah bertahun-tahun menjadi ahli matematika terapan, saya memutuskan untuk berpindah bidang dan bekerja di bidang pendidikan matematika bagi pelajar Aborigin dan Penduduk Pribumi Selat Torres. Saya tertarik untuk mengeksplorasi apa artinya mengajar matematika yang menghargai budaya kita. Saya ingin mengeksplorasi hubungan antara budaya kita dan matematika untuk memberikan informasi lebih lanjut pada pendidikan matematika bagi semua pelajar Aborigin dan Penduduk Pribumi Selat Torres.

Dalam monograf ini, saya berpendapat bahwa pendidikan matematika yang lebih kaya berasal dari pengajaran matematika dari perspektif budaya. Dari cara pengajaran ini, jenis pendidikan matematika yang berbeda dapat diciptakan; potensi siswa untuk mengembangkan pemahaman konseptual matematika yang lebih mendalam serta mengembangkan koneksi dengan matematika.

#math

#matematika

Philology of Ancient Manuscript

Filologi

Filologi (dari bahasa Yunani Kuno φιλολογία (philología) ‘cinta kata’) adalah studi tentang bahasa dalam sumber-sumber sejarah lisan dan tertulis; ini adalah titik temu antara kritik tekstual, kritik sastra, sejarah, dan linguistik yang memiliki ikatan kuat dengan etimologi. Filologi juga diartikan sebagai studi tentang teks sastra dan catatan lisan dan tertulis, penetapan keaslian dan bentuk aslinya, serta penentuan maknanya. Seseorang yang menekuni studi semacam ini dikenal sebagai seorang filolog. Dalam penggunaan yang lebih tua, khususnya di Inggris, filologi lebih umum, mencakup linguistik komparatif dan historis.

Filologi klasik mempelajari bahasa-bahasa klasik. Filologi klasik pada prinsipnya bermula dari Perpustakaan Pergamus dan Perpustakaan Alexandria sekitar abad keempat SM, dilanjutkan oleh bangsa Yunani dan Romawi di seluruh Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Filologi ini akhirnya dilanjutkan oleh para sarjana Eropa pada masa Renaisans, dan segera diikuti oleh filologi dari Eropa lainnya (Jerman, Celtic), Eurasia (Slavistik, dll.), Asia (Arab, Persia, Sansekerta, Cina, dll.), dan Bahasa Afrika (Mesir, Nubia, dll.). Studi Indo-Eropa melibatkan filologi komparatif dari semua bahasa Indo-Eropa.

Istilah filologi berasal dari bahasa Yunani φιλολογία (philología), dari istilah φίλος (phílos) ‘cinta, kasih sayang, dicintai, dicintai, sayang, teman’ dan λόγος (lógos) ‘kata, artikulasi, alasan’, menggambarkan kecintaan terhadap pembelajaran, sastra, serta argumentasi dan penalaran, yang mencerminkan berbagai aktivitas yang termasuk dalam gagasan λόγος. Istilah ini sedikit berubah dengan bahasa Latin philologia, dan kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-16, dari bahasa Prancis Tengah philologie, dalam arti ‘cinta sastra’.

Kata sifat φιλόλογος (philólogos) berarti ‘suka diskusi atau argumen, banyak bicara’, dalam bahasa Yunani Helenistik, juga menyiratkan preferensi argumen yang berlebihan (“sophistic”) dibandingkan cinta akan kebijaksanaan sejati, φιλόσοφος (philósophos). Sebagai alegori pengetahuan sastra, filologia muncul dalam sastra pascaklasik abad kelima (Martianus Capella, De nuptiis Philologiae et Mercurii), sebuah gagasan yang dihidupkan kembali dalam sastra Abad Pertengahan Akhir (Chaucer, Lydgate).

Arti “kecintaan terhadap pembelajaran dan sastra” dipersempit menjadi “studi tentang perkembangan sejarah bahasa” (linguistik sejarah) dalam penggunaan istilah tersebut pada abad ke-19. Karena kemajuan pesat dalam memahami hukum yang masuk akal dan perubahan bahasa, “zaman keemasan filologi” berlangsung sepanjang abad ke-19, atau “dari Giacomo Leopardi dan Friedrich Schlegel hingga Nietzsche”. Filologi juga mencakup studi tentang teks dan sejarahnya. Ini mencakup unsur kritik tekstual, mencoba merekonstruksi teks asli seorang penulis berdasarkan varian salinan naskah. Cabang penelitian ini muncul di kalangan sarjana kuno di dunia berbahasa Yunani pada abad ke-4 SM, yang ingin menetapkan teks standar dari penulis populer untuk interpretasi yang baik dan transmisi yang aman. Sejak saat itu, prinsip-prinsip asli kritik teks telah diperbaiki dan diterapkan pada teks-teks lain yang tersebar luas seperti Alkitab. Para sarjana telah mencoba merekonstruksi bacaan asli Alkitab dari varian manuskripnya. Metode ini diterapkan pada kajian klasik dan teks abad pertengahan sebagai cara untuk merekonstruksi karya asli pengarangnya. Metode ini menghasilkan apa yang disebut “edisi kritis”, yang menyediakan teks yang direkonstruksi disertai dengan “peralatan kritis”, yaitu catatan kaki yang mencantumkan berbagai varian naskah yang tersedia, sehingga memungkinkan para sarjana memperoleh wawasan tentang keseluruhan tradisi naskah dan berdebat tentang varian tersebut.

Metode studi terkait yang dikenal sebagai kritik tinggi mempelajari kepengarangan, tanggal, dan asal teks untuk menempatkan teks tersebut dalam konteks sejarah. Karena permasalahan filologis ini seringkali tidak dapat dipisahkan dari permasalahan penafsiran, tidak ada batas yang jelas antara filologi dan hermeneutika. Ketika teks memiliki pengaruh politik atau agama yang signifikan (seperti rekonstruksi teks Alkitab), para ahli mengalami kesulitan mencapai kesimpulan yang obyektif.

Beberapa sarjana menghindari semua metode kritis filologi tekstual, khususnya dalam linguistik sejarah, yang menganggap penting untuk mempelajari materi rekaman yang sebenarnya. Gerakan yang dikenal sebagai filologi baru menolak kritik tekstual karena memasukkan interpretasi editorial ke dalam teks dan merusak integritas naskah individu, sehingga merusak keandalan data. Pendukung filologi baru menekankan pendekatan “diplomatik” yang ketat: terjemahan teks yang tepat persis seperti yang ditemukan dalam naskah, tanpa perubahan.

#philology

#filologi

#manuscript