Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang
kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di
SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan
di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan
kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah
seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas
Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4
bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup
menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa
yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega
menghabisi gurunya tanpa ampun.
Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang
disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa
ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa
berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam
singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu
sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke
dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.
Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester
ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana
Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana
hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru
salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang
menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan.
Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang
digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap
kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok
apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak
layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya
bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan
perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang
dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan
sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini
sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil
baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat
apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita
disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..
Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan
berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?
Sarung atau lipa adalah jenis kain khas Indonesia. Berbagai macam jenis sarung tersebar di belahan bumi nusantara ini dengan corak dan warna yang khas.
Perjalananku ke Makassar awal puasa lalu berikan pengalaman tentang apa lipa itu. Bagi budaya Sulawesi atau khususnya Makassar, sarung adalah kain yang sangat penting dibutuhkan pada semua kegiatan. Saat melaksanakan ibadah, sarung menjadi hal wajib yang rutin dipakai sehari-hari. Saat tidur sarung pun menjadi perangkat penting. Tidak sekedar mengusir dingin, sarung juga mengusir nyamuk dan kain yang aman dipakai untuk tidur melungker.
Setiba dirumah sahabat, saya diajak berkenalan dengan orangtua sahabat. Beliau seorang tetua yang dihormati di Galesong Makassar. Secara turun temurun, beliau masih keturunan langsung dengan Karaeng Galesong I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na. Ibunda sahabatku, Ibu Nadhir Larigau mempersilahkanku ke kamar yang sudah beliau persiapkan untukku. Aku jadi kikuk berada disana. Sebuah suasana baru, budaya baru yang kupelajari, dan orang2 yang baru kukenal, begitu ramah dan bersahaja.
Sempat kutermenung di dalam kamar itu. Sepertinya kuingat kamar ini, tapi dimana ya..
Hmm baru kusadar, kamar ini adalah kamar kakak sahabatku yang fotonya terpampang di internet. Kakak sahabatku ini sedang melaksanakan pernikahan dengan mempergunakan adat istiadat yang cukup kental. Hmm baru sadar diriku, ini adalaah kamar pengantin. Sahabatku bilang ini adalah kamar tamu dan bukan kamar pengantin. Tapi masuk akal juga, disitu kulihat ada kamar mandi yang menyatu dengan kamar ini.
Sembari termenung, kupandangi langit2 kamar. Nggak jauh beda dengan kamarku di Malang.. Tempat tidur..sama juga dengan milikku. Tempat tidur kayu ini benar2 kokoh. Tapi sepertinya masih baru, maklum baru dipakai oleh pengantin. Tapi yang buat kumerasa aneh.. Ada dua buah sarung tergeletak di kasur. Satu berwarna agak ungu gelap dengan corak kotak2 yang tidak terlalu besar, dan yang satunya lagi kotak2 hitam dengan selingan garis kecil.
Lama2 kupandangi kedua sarung itu, walhasil ngantuk sudah. Mataku tak bisa kubuka lagi. Dan kedua lipa unik itu hanya kupeluk saja, tidur dengan penuh tanda tanya. Tapi perjalanan panjangku dari Malang ke Makassar membuatku lelah tanpa daya. Aku tak sanggup lagi membuka mata. Dan tidurlah aku berpeluk dua lipa.
Sore itu panas masih merambat di Galesong. Saatnya mandi tiba sepertinya. Baru kuingat aku belum buka backpack ku yang berisi baju dan mukena. Baru kuingat, hari itu hari pertama puasaku, dan hari pertama puasa yang kujalankan nun jauh di belahan bumi bagian utara. Yaa..aku saat ini berada di Galesong. Beberapa kilometer dari Makassar. Perjalanan kutempuh hampir selama satu jam. Tok Tok ibunda sahabatku, Wandy .. ketok pintu kamarku.
“Mbak Ika kalau mau mandi itu ada sarung di kasur”, kata Ibu Larigau dari luar kamar. Kudengar suaranya jelas. Hmm kuberpikir2 sejenak. Sambil mengernyitkan dahi ‘sarung untuk mandi’.. Belum selesai kuhilangkan kernyit di dahiku.. Ibu Larigau sudah mengingatkan lagi.. “Mbak Ika kalau mau sholat Ashar sarungnya juga saya letakkan di kasur”..kata beliau pelan.
Wah seketika itu pula kulihat dengan tatapan mata pada kedua Lipa tersebut. Pelan2 kusentuh sudutnya dan kubuka kedua lipa yang ada di kedua tanganku. Ternyata dua sarun ini berbeda fungsi. Satu untuk mandi, dan satu untuk sholat.
Kusadari benar2 pengalaman yang tak terlupakan. Keluarga baruku berikanku pengalaman hidup bahwa begitulah cara orang menghormati tamu. Apalagi apabila tamu tersebut hendak menginap. Seperti biasa, mereka selalu akan menyediakan dua buah sarung buat tamunya.
Sapanjang adalah saksi dari kegiatan ritual Dzikir Senin, sebuah fenomena religi yang telah berlaku beratus tahun. Dzikir ini dilaksanakan pada tiap malam Senin di lokasi yang tetap, di desa Sapanjang Galesong kota Makassar. Banyak dzikir yang dilaksanakan dengan berbagai macam variasi doa dan quantitas yang berbeda-beda. Namun mungkin ada perbedaan yang bisa kita saksikan pada Dzikir Senin di desa Sapanjang Galesong.
Seperti yang telah diceritakan oleh keluarga besar di desa Sapanjang, salah satu diantaranya adalah bapak Rahman Uriansyah Manaba, beliau tinggal di Balikpapan namun sering mengikuti dzikir tersebut bahwa dzikir ini adalah warisan dari Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syech Yusuf Al Makassari. Sebagai seorang wali klasik dari masa abad ke 17, beliau mengalami berbagai tantangan seiring dengan kodrat kewalian yang dibebankan kepadanya. Syech Yusuf yang konon khabarnya adalah putra dari Nabi Khidir mengikuti kodrat Allah tiba di SULSEL sebagai putra atau diangkat putra oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa I yang menganut agama Allah, Islam.
Dari silsilah yang saya dapatkan disana, Syech Yusuf kemudian memiliki putra dan keturunan yang salah satunya dimakamkan di Sapanjang, namanya beliau adalah Syech Sirajuddin. Beliau pula disebut dengan wali oleh masyarakat setempat. Makam Syech Sirajuddin berdampingan dengan istri dan makamnya dinaungi oleh sebuah rumah kecil. Terlihat bahwa makam beliau sering dikunjungi orang karena banyak terdapat bekas-bekas orang yang berziarah, terutama yang dibawa adalah lilin dan air seceret. Air dalam hal ini didoakan dan dikucurkan sepanjang makam, kemudian lilin adalah sebagai penerang dan memberikan cahaya atau nur. Syech Sirajuddin ini adalah putra keturunan Syech Yusuf dari istri beliau putri Johor Manikam, seorang putri Raja asal Indragiri Sumatra Barat. Karena kabar kewalian yang sangat hebat, maka banyak raja yang menginginkan Syech Yusuf atau Tuanta Salamaka menjadi menantunya. Salah satunya adalah juga menjadi menantu Sultan Ageng Tertiyasa.
Memang ada beberapa tempat di Indonesia ini diakui sebagai makam Syech Yusuf, termasuk juga di Cape Town Afrika Selatan. Sampai saat ini Syech Yusuf masih diakui jazad beliau bersemayam di Cape Town Afrika Selatan, bahkan telah diberikan gelar pahlawan Nasional disana. Kabar kewalian beliau yang sangat gempar inipun sempat membuat Belanda kelabakan. Layaknya Rasulullah, kelahiran beliau memang telah diketahui dan ditunggu-tunggu. Namun Syech Yusuf memang benar-benar menakjubkan, sesaat beliau lahir orang tuanyapun menghilang. Dan seperti yang dijelaskan dalam silsilah, beliau adalah putra dari Nabi Khidir.
Seperti pula yang telah diajarkan kepada putra dan keturunannya yaitu Syech Sirajuddin atau dengan nama anumertanya yaitu Syech Sirajuddin Karaeng Ngilau Tuan Pandang Laut, beliau telah melestarikan dzikir Senin, dzikir yang telah diciptakan dan diajarkan oleh Syech Yusuf kepada seluruh putra dan keturunannya.
Dzikir ini pada dasarnya adalah semacam kegiatan ritual Istighosah seperti yang biasa dilakukan di Jawa. Doa-doa yang diucapkan tidak jauh beda. Namun anda mungkin akan terperanjat apabila diungkapkan jumlah butiran-butiran dzikir yang diucapkan. Mereka biasa menggunakan angka 1000 untuk setiap butir doa dzikir. Luar biasa!
Jumlah ini menunjukkan quantitas yang berbeda dengan butir-butir dzikir yang biasa dilakukan di Jawa. Jumlah ini sungguh mencengangkan. Anda bisa bayangkan berapa lama mereka melaksanakan ritual dzikir Senin tersebut. Seribu kali bukan perkara gampang, di suhu hangat desa Sapanjang. Gerakan-gerakan yang tetap dan terus-menerus seolah tanpa sadar. Gerakan-gerakan menggeleng-gelengkan kepala yang dilakukan tanpa henti, terantuk ke kanan dan kekiri dua kali. Ada pula yang terantuk ke kanan dan kekiri hampir sampai 4 antukan. Matapun ikut merespon gerakan kepala yang tanpa henti, mengikuti ucapan mulut dari setiap butir doa dzikir tanpa mempedulikan sekeliling. Semua orang terfokus pada doa dzikir yang diucapkan dengan mantap dan berharap.
Doa adalah harapan, maka gerakan-gerakan menghentak semakin meyakinkan para jama’ah akan dikabulkannya harapan yang dipanjatkan. Duduk membentuk lingkaran adalah bagian dari proses berdzikir karena di tengah-tengah diletakkan batang-batang lilin berwarna merah dan menyala terang membentuk cahaya. Biasanya dzikir dilakukan di tempat kami di Malang menghadap ke kiblat. Namun yang dilakukan disini adalah membentuk lingkaran menghadap kea rah lilin yang diletakkan di meja. Dan disana juga terlihat di tengah tersedia pisang berwarna hijau yang sudah mulai matang merona kuning. Juga terdapat pula batang-batang merah lilin yang menyala di tengah-tengah. Nyala lilin ini sangat konstan mempengaruhi gerakan-gerakan pedzikir. Nyala lilin adalah nur. Nyala lilin mendatangkan aura api abadi, dan cahaya biru lilin adalah roh abadi. Dan lilin adalah penuntun agar focus kepada dzikir maupun semedi dan juga sebagai pertanda kepada pedzikir bahwa yang diundang akan datang yang ditunjukkan dengan gerakan api lilin yang semakin tenang.
Dzikirnya adalah : Ya Allah ya Rabby.. Ya Muhammad ya Rasulullah..
Selebihnya memang hanya orang-orang Sapanjang lah yang tahu Dzikir Senin. Wallahu a’lamu bish shawab.
Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan
terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini
berada di tengah2 padat penduduk tak
jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya
beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang
lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di
luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.
Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2
untuk berangkat di masjid terdekat, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”.
Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun
tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar
bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa
adanya di warung kecil ini. Sayup2 terdengar perbincangan2 khusus diantara
mereka.
“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar
salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit menyeruput kopi yang sudah
mulai dingin.
“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA”
terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum
juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi
ujian masuk bagi mahasiswa pasca.
Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak
masuk ke dalam rumah. Pria paro baya dan sudah beruban rambutnya ini tinggal
kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di
pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.
“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka
akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo
kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah
menginstruksikan begitu kita mau bilang apa”kembali dengan logat yang cukup
khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini
mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.
Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang.
Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup
terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi
warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini.
Motor2 pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup
tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain
dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.
“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur
bumbu kelapa” terdengar salah seorang bapak memesan makanan pada pemilik
warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia
pesan tidak tersedia disana.
Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.
“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu
pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari
itu. Dan kemudian bapak2 yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga
salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.
“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah satu bapak
yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit
mereka saat di Makassar.
“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak). Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung
rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh salah satu bapak
barusan, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa Jawa, mungkin
karena antusiasnya.
“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu
bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik.Dan
akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas
Makassar.
“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan
bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana”. Si bapak yang
berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu
pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia
akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam
dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk
makanan yang satu ini.
Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota
Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu
lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah
kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin
mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak2 dan ibu2 yang memang terlihat
sedang ngobrol ringan.
“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang
dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah
dimana banyak juga teman2 dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum
melihat kedatangannya.
“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai
baru ka? Senyum bapak berbaju kotak itu semakin melebar.
“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab
sembil senyum2 simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan
deretan giginya yang nampak jelas.
“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak
berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku
yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka
hanya senyum2 saja tidak menjawab. Kuliah
lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi
tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat
tepat untuk mengistirahatkan pikiran untuk sementara.
Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari
depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu berbaju batik masuk
ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar
mampir berbincang sekedarnya.
“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat
khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak2 dan ibu2
yang berkumpul di warung tersebut.
Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan
paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut.
Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA
Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa
yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.
Jangan lupa, airnya jangan dibuang ya. Banyak sekali manfaat dari air rebusan jagung. Ada di bawah ini :
1. Air rebusan jagung bisa menurunkan kadar kolesterol anda. Minum hangat, bisa juga rebusannya dimasukkan sepotong jahe,
2. Air rebusan ini berasa manis namun masih bisa aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Ini adalah minuman alternatif bagi penderita diabetes tipe 2 sebagai minuman pengganti. Bisa diminum dingin dengan es batu.
3. Air rebusan jagung juga bisa meluruhkan batu ginjal. Minum air rebusan jagung hangat2 tiap pagi selama 2 minggu.
4. Air rebusan jagung juga bermanfaat bagi penderita tekanan darah tinggi. Sama seperti di poin sebelumnya, minum air rebusan jagung hangat2 di pagi hari sebanyak 1 gelas. Minum selama 1 minggu.
Salah satu cara menurunkan kadar kolesterol dengan mudah dan dengan mempergunakan herbal ala JSR adalah dengan resep ini. Resep ini mudah sekali dibuat dan yang jelas cukup segar, semua orang suka.
Resepnya adalah : sediakan air hangat lalu beri perasan jeruk nipis peras atau jeniper. Beri sesendok madu dan buat jahe 20 cm yang sudah digeprek untuk dijadikan pengaduknya. Aduk wedang jeruk sehat ini dan minum saat masih hangat. Minum saat pagi hari sebelum memulai aktifitas. Bila ada beri selembar daun mint yang sudah diremas-remas.
Tipsnya hindari makanan gorengan, tepung-tepung dan gula atau pemanis. Lakukan puasa senin kamis dan jogging ringan. Lakukan jogging 30 menit saja tapi tanpa jeda.
Lebaran Idul Fitri identik dengan ketupat. Hampir semua daerh di Indonesia menyantap ketupat saat lebaran. Kadang lontong nasi bungkus daun pisang juga mendampingi hidangan ketupat. Keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai hidangan berbahan beras. Dan tentunya ketupat atau lontong selalu disajikan dengan lauk dan sayur pelengkap yang beraneka ragam.
Lebaran Idul Fitri adalah saat yang tepat menyediakan hidangan ketupat. Saat hari-hari biasa mungkin tidak banyak kita temui ketupat atau lontong di kuliner street food. Yang ada adalah ketupat sayur, dan kadang sate Padang yang bisa ditemukan seminggu sekali.
Hidangan pendamping ketupat yang paling standar adalah opor ayam. Hidangan ini bisa kita temui di berbagai daerah di Indonesia. Dan ketupat dengan lauk opor ayam ini pasti muncul saat hari pertama lebaran. Lauk pendamping ketupat yang lain bisa kita temui seperti sate ayam bumbu kacang, gulai kambing, soto dan lain-lain.
Kata ketupat yang berasal dari ungkapan ngaku lepat atau mengakui kesalahan ini memang sengaja disajikan disaat lebaran karena saat lebaran adalah momentum saling memafkan. Dan memang saat lebaran inilah kita bisa temui ketupat di hampir semua daerah di Indonesia karena lebaran adalah momen saling memaafkan.
Namun di kota Malang, ketupat disajikan pada hari ke 8 lebaran. Mungkin momentnya terlalu jauh dari lebaran yang sudah memasuki hari ke 8 ini. Patokannya bila lebaran adalah hari Senin maka lebaran ketupat dilaksanakan pada hari Senin pula. Ada kisah unik di belakang ikhwal ketupat lebaran di hari ke 8 ini. Awalnya kita mempercayai bahwa saudara-saudara kita yang telah mendahului berpulani, rohnya akan datang saat lebaran Idul Fitri. Dan konon mereka akan menunggu diberi ketupat itu untuk dibawa pulang pada hari ke 8 Lebaran. Sehingga ada juga cerita uniuk lainnya yaitu jangan membuat ketupat sebelum hari ke 8 karena ditakutkan saat mereka kembali ke alamnya ketupat tersebut akan basi.
Walhasil banyak tetangga yang datang mengirim ketupat berikut sayur dan lauknya di hari ke 8 lebaran. Ini jadi hidangan alternatif setelah beberapa hari mengkonsumsi protein-protein hewani.
Sayur pendamping ketupat saat lebaran hari ke 8 adalah sayur manisah atau labu jipang. telur masak petis hitam, emput atau serundeng giling, tahu bumbu bali dan lain-lain.
Manisah adalah komoditi sayur termahal saat itu di kota Malang, karena semua orang mengolah manisah atau labu untuk pendamping ketupat lebaran di hari ke 8. Apa yang terjadi? Manisah menjadi sayur paling mahal karena permintaan tinggi. Harganya menjadi 4 kali lipat. Maka ada sayur alternatif pengganti manisah yaitu pepaya muda.
Segala sesuatu yang selain di sisi-Nya, disebut dengan kehidupan. Kehidupan itu, bersifat dunia dan dunia yang dimaksud adalah permainan yang penuh dengan tipuan dan kepalsuan. Maka, kehidupan dunia yang penuh dengan permainan dan tipuan, itu tidak menyelamatkan, artinya kerhidupan dunia itu, berada di dalam zona yang tidak selamat, karena penuh dengan tipuan dan kepalsuan (QS al Qoshos (28) : 60, 61), (Al An’am (6) : 32), Al Hadid (57) : 20).
Sedangkan, yang di sisi Allah adalah keselamatan (al Islam) dan itulah kekekalan (QS Ali Imron (3) : 19). Karena yang di sisi Allah itu, wujud keselamatan dan kekekalan, maka ia tidak hidup dan tidak mati, namun bersifat selamat dan hidup serta kekal; Dan, itulah fungsinya agama ketika anugerah akal dari Allah bagi dirinya manusia berfungsi (QS Ar Rum (30) : 30).
Maksudnya, kehidupan keduniaan itu, telah Allah berikan kepada dirinya manusia, akan tetapi perlu diingat, bahwa keduniaan dan seluk beluknya itu, semuanya hanyalah permainan dan tipu muslihat oleh nafsu dirinya manusia yang musti dipimpin oleh yang di sisi Allah lewat jalan tempuh yang disebut dengan “agama”.
Lalu, apa dan siapa yang di sisi Allah, itu? Dialah “al Islam” atau keselamatan. Maka, keselamatanlah yang musti memimpin kehidupan kemanusiaan dunia itu, agar dirinya manusia memperoleh keselamatan.
Sebenarnya bukan keselamatan yang musti memimpin kehidupan dunia, akan tetapi yang membawa keselamatan, itulah yang diinginkan untuk memimpin dirinya manusia di dalam menjalani tugas kehidupan di dunia, yang tiada lain adalah Nabi Muhammad saw sang pembawa keselamatan.
Dialah Rasul Allah satu-satunya yang bernama amin (QS Ali Imron (3) : 96,97), ia berada di Baitullah, tanda alamatnya Ka’bah, terlahir ke dunia sebagai putra Abdullah dengan Ibu bernama Aminah, diberi nama Nabi Muhammad saw, yang berbangsa dan berbahasa Arab, wafat dan dimakamkan di Madinah; Di dalam diri Nabi Muhammad saw terdapat rasul utusan Allah, yang diutus oleh-Nya untuk rahmah bagi seluruh alam insan (QS Al Anbiya’ (21) : 107). Maka, dialah satu-satunya yang “shollahu ‘alaihi wa salam” (saw), sedangkan para Nabi dan Rasul selain Nabi Muhammad sebagai rasul utusan Allah sebanyak 124.313, semuanya rasulnya amin yang selalu sambung hubungan dengan dia (amin) satu-satu rasul Allah. Oleh karena itu, mereka seluruh para Nabi dan Rasul, semuanya selalu atasnya keselamatan (as) (QS Al Ahzab (33) : 56) atau selalu di dalam keselamatan (‘alaihis salam).
Adapun para manusia biasa selain para Nabi dan Rasul seperti yang telah disebutkan di atas; Yang mana, di dalam diri setiap diri manusia itu terdapat iman, ketika imannya berfungsi dan menegakkan 4 sifatnya : yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah, maka dirinya manusia itu sambung terhadap Nabi Muhammad sebagai rasulnya Allah, sehingga diri manusia itu, atasnya selamat. Namun sebaliknya, ketika imannya tidur atau tercover oleh sifat kafir dirinya manusia, maka dirinya manusia itu tidak di dalam keselamatan (QS At Taghabun (64) : 2).
Oleh karena itulah, “sholat itu, lebih baik dari pada tidur” (ash-sholatu khoirun minan naum), tersambungnya iman dengan amin adalah kebaikan, sebaliknya terputusnya iman dengan amin adalah kejelekan dan kesengsaraan, karena tidak berada di dalam keselamatan.
Jadi, kehidupan itu, erat berkaitan dengan diri manusia diciptakan (fitrah), dan semuanya adalah permainan yang penuh dengan kepalsuan serta tipuan oleh diri nafsu manusia dengan berbagai sifat dirinya manusia. Maka, diri nafsu manusia yang erat hubungannya dengan kehidupan yang penuh dengan permainan (dunia) dan kepalsuan itu, musti dipimpin oleh keselamatan atau yang membawa keselamatan, yaitu Nabi Agung Muhammad saw, sebagai rasul utusan Allah melalui ajaran yang disebut dengan agama (diin-millah), agar dirinya manusia di dalam menjalani tugas kehidupannya, benar-benar penuh ketundukkan dan patuh (QS Adz Dzariyat (51) : 56) terhadap ajaran agama oleh iman, sehingga apa yang dilakukannya bernilai ibadah di sisi-Nya.
Di dalam diri setiap manusia terdapat berbagai sifat makhluq ciptaan-Nya, termasuk sifat fir’aun yang ingin dipertuhan dan disembah oleh manusia yang lainnya. Sifat fir’aun dan berbagai sifat yang lainnya tersebut, tidak bisa hilang dari dirinya manusia, sebab sifat itu melekat dan bersama dengan kehidupan jasadnya manusia. Ketika jasadnya manusia mati, maka sifat tersebut akan ikut mati atau tidak ada, sehingga yang tertinggal pada dirinya manusia adalah iman, ilmu dan nikmat yang bersifat ruhaniyah, dan ia berasal dari Allah melalui tiupan, di saat jasad manusia berusia 120 hari di dalam kandungan ibunya.
Oleh karena sifat fir’aun itu, sebagaimana disebutkan di atas melekat pada dirinya manusia, maka sifat tersebut tidak bisa hilang atau dihilangkan dari jasad kehidupan manusia.
Eksistensi sifat fir’aun hanya bisa disadari atau dirasakan oleh nikmat dan bisa diketahui oleh ilmu serta bisa dibenarkan oleh iman yang ada pada dirinya manusia (QS Ar Rahman (55) : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77), (QS Al ‘Ankabut (29) : 49), (QS Al Baqoroh (2) : 2,3).
Berbagai sifatnya manusia, khususnya sifat fir’aun itu, benar bisa dirasakan dan benar bisa diketahui serta benar bisa dicek kebenarannya oleh iman. Semuanya, baik rasa, ilmu maupun iman, itu terukir dan terdapat serta terbaca di dalam catatan (al kitab) yang terdapat di dalam dadanya manusia (QS Bani Israil (17) : 14). Anapun lisan (qoul) atau ucapan dan tindakan (af’al-fi’li) oleh jasadnya manusia, bisa saja berbeda dengan apa yang dirasakan oleh nikmat itu. Alias, rasa sifat fir’aun di dalam diri manusia, bisa saja dikatakan oleh lisan manusia, wujud perkataan “loyalitas” dan sejenisnya. Atau sifat rasa fir’aun tersebut, diekspresikan oleh perbuatan jasadnya manusia, wujud sopan santun, ahli ibadah dan sebagainya.
Maka, bacaan catatan wujud rasa berbagai sifatnya manusia tersebut, khususnya sifat fir’aun yang menginginkan terhadap dirinya agar dipertuhan dan disembah oleh manusia atau orang lain selain dirinya, itu dikembalikan kepada dirinya masing-masing diri manusia. Oleh karena itu, beruntunglah dan menang bagi siapa yang menyadari akan eksistensi sifatnya serta mau mensucikannya atau tidak diikuti sifat jahatnya itu, khususnya sifat fir’aun yang menginginkan dirinya dipertuhan itu.