Hidangan Lebaran Nusantara

Hari lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita. Semua orang berkumpul, bahkan dari jau datang agar bisa bertemu dengan keluarga. Maka mudik untuk kepentingan lebaran menjadi sebuah kebiasaan yang sudah mendarha daging turun temurun.

Berkumpul dengan keluarga dan semua anggotanya selalu dibarengi dengan makanan-makanan lezat khas lebaran. Hal ini akan selalu diupayakan karena lebaran dirayakan sekali dalam satu tahun.

Kali ini ada sekelumit tulisan mengenai hidangan lebaran yang selalu tersedia di keluarga-keluarga di Indonesia. Pertama adalah hidangan lebaran di Bandung. Saya sudah berkali-kali menyicip hidangan  lezat di hari lebaran resep ala mertua yang selalu ada saat lebaran, Yaitu kornet daging, gulai kambing, soto bandung. Dan tak lupa potongan cabe dalam larutan cuka. Soto Bandung sangat terkenal di dataran tanah Sunda, karena mengandung aspek peranakan di dalam nya yaitu potongan-potongan lobak. Soto daging dengan lobak hampir kita tidak pernah temui kecuali di Bandung. Rasanya sangat segar juga gurih. Untuk kornet, ibu mertua sudah sering membuat hidangan ini dan resep didapat turun temururn dari buyut.

Yang kedua adalah hidangan lebaran ala kota Lampung. Kebetulan saya banyak berteman dengan teman-teman dari Lampung sehingga sayapun bisa berkesempatan mencicip salah satu kue hidangan lebaran yang saat itu dibawakan teman. Kalau nama sebeanrnya adalah lapis legit namun berbeda dengan lapis legit umumnya. Kue ini terbuat dari hanya telur dan gula. Rasanya sangat manis dan gurih. Untuk hidanga lebaran lainnya, masyarakat Lampung juga suka menyediakan Pempek Palembang saat lebaran. Pempek Palembang di Lampung agak sedikit berbeda dengan Pempek Palembang. Bentuknya lebih panjang dan kecil. Teksturnya sangat berbeda, hampir mirip puding. Namun rasanya masih otentik pempek Palembang.

Secara umum hidangan lebaran di Indonesia adalah opor ayam, rendang daging, lontong dan sebagainya. Untuk di kota Malang kelahiran saya, hidangan lebaran pernah mengalami pergeseran. Dulunya tidak pernah tersedia ketupat atau lontong di hari pertama lebaran. Ketupat dan lontong baru bisa kita temui pada minimal hari ke 5 atau 7.  Namun belakangan masyarakat Malang sudah menyediakan ketupat dan lontong sejak hari pertama Lebaran. Lauk ketupatnya adalah sayur labu atau manisah kemudian telur bumbu petis. Hidangan ini kerap kali disebut Lontong Cap Go Meh. Dan juga hidangan lebaran nusantara seperti opor, rendang, gula dan lain-lain yang sering juga terhidang di meja-meja keluarga Jawa Malang.

Yang terakhir ini adalah hidanga Lebaran di keluarga Ambon. Keluarga orang tua, tete dan nenek saya di Pulau Buru. Sup sayuran dan gado-gado adalah hidangan lebaran termewah bagi saudara-saudara kami di Ambon. Hal ini karena banyak bahan baku yang harus didatangkan dari Jawa. Seperti misalnya kol, bunga kol, daun selada,  wortel, daun bawang. Untuk membuat gado-gado yang sudah tersedia di sana adalah kacang tanah, ketimun, tauge, dan lontong. Mereka masih harus menyediakan (mengimpor) kerupuk, kol, kecap. Betapa cukup berjuang untuk mendapatkan dua hidangan ini ke meja untuk lebaran. Sehingga dua hidangan ini menjadi hidangan termewah dan patut disediakan saat lebaran. Karena lebaran hanya satu kali dalam setahun.

Impersonate Atau Cover

Ramai dibicarakan seorang pendatang baru atau musisi baru yang lumayan banyak dibicarakan di medsos. Baik IG, Twitter, FB dan You Tube. Kedua anak muda ini, Tri Suaka dan Zinidine Zidan sering berdua berkolaborasi menyanyi dari panggung ke panggung. Karena musisi yang masih pemula, meski suaranya okay namun mereka banyak menyanyikan lagu cover. Lagu cover adalah istilah yang diberikan bagi penyanyi yang menyanyikan lagu orang lain.

Sudah barang tentu ada unsur memakai barang orang lain atau meminjam. Dan menyanyikan lagu orang lain di negeri kita ternyata memiliki aturan ketat dan baku yaitu harus memberi royalti kepada pemilik lagu yang asli.  Kemudian justru masalah muncul bukan karena dua musisi ini mencover lagu, dalam hal ini lagu beberepa musisi. Salah satunya adalah lagu Andika Kangen Band.  Masalah muncul adalah anak muda ini mneyanyikan lagu cover milik Andika Kangen  Band dengan gaya menghina penyanyi aslinya.

Penampilan Andika dari awal berkarir hingga saat ini sudah mengalami perubahan cukup drastis. Banyak kasus yang dia lakukan dari sejak awal karir 2005 hingga beberapa tahun belakangan sudah membuat jera, terlihat saat ini. Penampilannya yang santun dan peduli dengan putra putrinya. Dan Andika selalu menolak menjawab bila ditanya tentang masa lalunya.

Namun hal ini masih menjadi sasaran empuk Zidan untuk menyanyikan lagu cover kangen Band dengan gaya menghina. Walhasil netizen se-Indonesia memberontak dan membully Zidan dan rekannya. Buntutnyapun mereka akan dituntut salah satu pemilik lagu yang dicover. Belum lagi pengacara Andika yang ikut maju mengeluarkan somasi. Di podcast Uya Kuya, akhirnya Zidan dan Tri datang dan memberikan pernyataan maaf.

Hal-hal seperti ini selalu terjadi di negeri +62. Seseorang dengan bebas merdeka melakukan kesalahan lalu kemudian selalu berakhir dengan permintaan maaf di depan publik. Begitu mudahnya dan begitu meremehkan dengan mempergunakan dalih maaf. Padahal mungkin tidak semudah itu publik memaafkan.

Lalu apa beda menyanyikan lagu orang lain alias cover dengan impersonate? Saat ini artis yang dikenal mahir impersonate adalah Gilang Dirga dan Rina Nose. Mereka berdua begitu lihai menirukan suara tokoh, menyanyikan lagu terkenal dan bahkan berperan seperti orang yang ditirukan. Saat Rina Nose menyanyikan lagu Laksmana Raja Di Laut, dia begitu maksimal menirukan lagu dan gerak Iyet Bustami. Bahkan baju yang dipakai Rina adalah kostum yang biasa dipakai Iyet. Saat itu Iyet juga hadir ikut bernyanyi bersama Rina. Sehingga tidak ada masalah antara keduanya, demikian juga dengan host acara tersebut.

Gilang Dirga juga sangat mahir menirukan maupun menyanyikan lagu para musisi. Dengan cengkok yang cukup mirip dengan penyanyi aslinya, Gilang pun mampu membawakan lagu itu. Disamping itu Gilang juga sangat lihai menirukan gaya tokoh.

Antara cover dan impersonate ada perbedaan tipis. namun bagaimanapun menyanyikan lagu musisi lain atau menirukan gaya tokoh harus diniatkan untuk menghibur. Jangan menyusupkan adegan-adegan menghina musisi atau tokoh aslinya.

Wallahu A’lam

I La Galigo

Judul yang pendek I La Galigo sebenarnya cermin dari sebuah naskah yang cukup panjang berkilo-kilo. Inilah naskah karya sastra berasal dari Bugis klasik yang diyakini terpanjang di dunia. Dan saking panjangnya naskah dan cerita di dalamnya hingga melebihi Ramayana dan Mahabarata. Bahkan Homerus dari Yunani.

I La Galigo adalah naskah susastra yang bisa kita baca saat ini berbentuk puisi 5 baris. Awalnya naskah ini ditulis dalam huruf lontara di atas daun yang disebut dengan daun lontar. Saat I La Galigo ini dituliskan di atas daun lontar, belum ada teknologi kertas atau papyrus seperti saat ini. Sehingga daun lontar inilah yang sanggup merekam semua kejadian dan cerita lisan saat itu. Diyakini cerita lisan I La Galigo terjadi pada abad 9 SM. Dan baru ditranskripsikan oleh Arung Pacana Toa Collieq Pudji pada tahun 1852 selama beberapa tahun.

I La Galigo yang dianggap kitab suci oleh sebagian orang ini berisi kisah tentang I La Galigo itu sendiri, naskah keagamaan, sejarah, dan naskah spiritual. Bagi para Bissu yang menganut agama Bugis Klasik kitab I La Galigo berfungsi sebagai obat dari beberapa penyakit, sebagai tolak bala dan berfungsi magis juga. Para Bissu ini adalah sisa-sisa warisan I La Galigo yang masih tertinggal saat ini. Bersyukur masih ada yang melestarikan kitab I La Galigo. Karena kalau tidak mungkin I La Galigo hanya sekedar gulungan lontar yang mudah rusak karena rapuh.

Kalau diteliti lebih lanjut I La Galigo bisa menjadikan kita lebih waspada, karena ada ayat-ayat yang meramalkan kejadian-kejadian alam seperti gempa, tsunami dll. Kalau kita lebih teliti membaca kita ini mungkin kita bisa lebih waspada akan gejala alam yang terjadi.

Kisah I La Galigo salah satunya yang cukup terkenal, meski ada kisah-kisah lain adalah hubungan cinta antara Sawerigading dengan We Tenri Abeng. Keduanya sebenarnya adalah lahir kembar emas atau di Jawa dikenal dengan kembar dampit. Yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Di zaman itu, sama juga dengan di Jawa, bila lahir bayi kembar laki-laki dan perempuan maka seyogyanya bayi-bayi tersebut dipisahkan. Karena dikhawatirkan keduanya nanti akan saling menyukai dan ingin menikah. Sehingga diputuskan untuk memisahkan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Namun meski dipisahkan justru membuat Sawerigading semakin penasaran dan ingin bertemu We Tenri Abeng. Dan ternyata mereka bertemu. Hingga ending ceritanya bisa ditebak.

Kisah ini hanya sebagian kecil dari naskah I La Galigo yang cukup panjang tersebut. Jumlah cerita lisan yang telah ditranskripsikan oleh Colliq Pudjie adalah 12 jilid dan tiap jilidnya adalah berjumlah 2850 halaman. Sisa-sisa naskah yang belum ditranskripsikan tersebar di Gorontalo, Malaysia, Brunei, Singapura dan Leiden. Jadi bisa dibayangkan cerita yang belum selesai ditulis ini seberapa.

Bu Colliq Pudji yang bagi masyarakat Sulawesi dikenal dengan Kartininya Sulawesi ini adalah seorang penulis handal. Mungkin kalau sekarang bisa se frekwensi dan se server denganku. Eh..

Ternyata beliau tidak sendiri, ada seorang pendeta bernama Pak Matthes yang cukup berjasa dalam aktifitas transkripsi naskah Ibu Colliq Pudjie. Bapak Matthes yang seorang pendeta dan pakar Linguistik Bible ini melihat kepiawaian Ibu Colliq sehingga banyak sekali bantuan diberikan pada sang ibu.  Saat itu situasi perang antar suku yang tak menentu didukung dengan kehadiran kolonial yang menghasut, membuat bu Colliq kesulitan untuk menuliskan semua naskah-naskahnya. Dalam keadaan terkucil karena kekejaman kolonial, bu Colliq tak berhenti melanjutkan naskahnya.

Kini kita bisa menikmati tulisan I La Galigo dengan bahagia karena sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.

 

Meski transkrip lisan dan transliterasi naskah belum selesai.

 

Korea Itu Ada Dua

Mungkin anda salah satu penikmat drakor atau drama Korea yang cukup dikenal di masyarakat milenial belakangan ini. Kalau disebut drakor sebenarnya adalah drama dari Korea Selatan. Sangat mustahil kalau drama itu berasal dari Korea Utarua.

Salah satu contoh drama Korea yang pernah saya lihat adalah Crush Landing on You.  Industri drama dan movie di Korea Selatan memang cukup besar hingga membuat penontonnya benar-benar percaya bahwa film itu benar-benar dibuat di Korea Utara atau setidaknya di perbatasan Korea Utara dan Selatan atau yang disebut dengan Demiliterized Zone.

Padahal boro-boro drakor tersebut dibuat di Korea Utara. Sedang masuk ke Negaranya saja sulit. Hingga pernah terjadi seorang mahasiswa yang meninggal di Korea Utara karena dibunuh. Alasannya pun kurang bisa diterima.

Kita perlu tau pintu-pintu mana yang bisa dimasuki menuju ke negara Korea Utara.  Salah satunya adalah menggunakan jalur darat masuk ke Korea Utara lewat Cina. Dan mahasiswa ini melalui travel agent bisa dengan sukses masuk kesana. Namun kemudian sebuah peristiwa terjadi, mahasiswa ini dipulangkan ke Amerika dalam keadaan koma dan lalu berujung meninggal. Alasannyapun sampai sekarang belum bisa diketahui dengan pasti.

Nah balik ke drama Korea tadi, bercerita tentang seorang gadis yang kesasar masuk menyebrang ke negara Korea Utara. Awalnya gadis ini main paralayang kemudian angin membawanya menuju ke perbatasa Korea Utara hingga akhirnya terjatuh di dekat Zona Demiliterisasi. Gadis ini memang akhirnya diselamatkan oleh para tentara Korea Utara. Dan endingnya sudah bisa ditebak.

Dari situ bisa disimpulkan bahwa betapa sederhananya bahasa, budaya dan kegiatan masyarakat Korea Utara. Jauh berbeda dengan saudaranya yaitu Korea Selatan. Mungkin bisa dibilang lebih konservatif (baca: ndeso). Suasana di Korea Utara sepertinya agak mencekam. Banyak aturan-aturan yang tidak masuk akal. Seperti tidak adanya internet,  jarang nya listrik dan kabel telpon. Tidak banyak pengguna HP android.

Kok miris ya..

Semenanjung yang terbelah menjadi dua ini ternyata memang menjadi berbeda secara signifikan. Satu dikuasai Uni Sovyet yang komunis dan satu dikuasai Amerika yang kapitalis. Uni Sovyet mungkin gak jauh beda dengan Korea Utara, agak sedikit konservatif gitu. Tapi bagaimanapun sudah meluncurkan apolo Soyus, lebih cepat dari negara-begara lain.

Cerita menjadi semakin rumit setelah gadis Korea Selatan ini kepincut tentara dari Korea Utara. Nah ada adegan yang begitu dramatik yaitu saat perpisahan mereka di perbatasa Korea Utara Selatan tepatnya di jalan Tol dimana disana adalah Zona Demiliterisasi.  Di sebelah utara garis dijaga oleh tentara-tentara Korea Utara yang dikenal sadis, dan di sebelah Selatan gari dijaga oleh tentara Korea Selatan. Gadis ini berteriak memanggil kekasihnya yang berada di Utara garis. Dan endingnya bisa ditebak.

 

Istilah Islam Nusantara

Setiap individu itu, siapa pun orangnya dan apapun keadaannya, ia tidak akan mengalami atau terjadi pada dirinya suatu problematika dan persoalan apapun, terhadap istilah apapun dan dari manapun istilah itu berasal; Dengan catatan, jika masing-masing individu yang bersangkutan tidak mengalami problematika diri, karena telah memproblem atau mempersoalkan sesuatu yang di luar dirinya. 

Islam Nusantara, hanyalah sebuah istilah yang dimunculkan oleh pihak tertentu, yang sudah barang tentu mempunyai maksud tertentu, serta untuk kepentingan dan tujuan yang tertentu pula. Dan sudah barang tentu juga, istilah apapun yang berupa perkataan dan pernyataan atau tulisan, ia tidak lebih hanyalah sekedar untuk memberikan penjelasan terhadap Islam itu sendiri, untuk didapatkan penjelasan yang lebih jelas. Oleh karena, ia sekedar penjelasan, maka penjelasan berupa apapun dan oleh siapapun, itu tidak definitif alias, penjelasan itu, tidak akan ada finalnya. Maka, penjelasan berupa apapun dan oleh siapapun, itu masih memungkinkan untuk dijelaskan lagi oleh siapapun, agar didapatkan sebuah penjelasan yang lebih jelas lagi; Begitu dan seterusnya.

Oleh karenanya, apapun istilah yang dipergunakan untuk Islam, apakah Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dan bahkan juga Islam Kejawen, Islam Kesumatran atau apapun istilahnya, tetaplah ia Islam yang damai dan mendamaikan, sehingga tercipta sebuah kerukunan, demi hilang dan tiadanya pertengkaran antar satu orang dengan yang lainnya, agar didapatkan sebuah ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia yang fana’ ini, sehingga seseorang bisa berbahagia kelak menuju dan sampai kembali ke hadirat Allah swt. 

Artinya, bagaimana Islam itu, mewujud ke dalam kehidupan yang damai dan sejahtera pada masing-masing individu orang; Dan, tidak terjadi bertengkaran antar satu orang dengan yang lainnya, sehingga timbul rasa pada diri  masing-masing individu orang tersebut, sebuah ketenangan dan kebahagiaan, ia bukan terletak pada istilah Islam itu, yang menentukannya. Akan tetapi, nilai dan ruh Islam itu sendiri, sangat bergantung erat dengan individu masing-masing orang yang bersangkutan. Apakah individu seseorang itu bersedia untuk berdamai diri, sehingga bersedia pula untuk berdamai terhadap orang lain, demi terciptanya hidup yang rukun dan damai serta sejahtera, semuanya dikembalikan kepada masing-masing diri individu orangnya, bukan pada istilahnya, baik berupa tulisan atau pengumuman dan sejenisnya.

Maka, sebenarnya Islam adalah wujud kedamaian diri seseorang yang bersedia untuk berdamai dengan orang lain, apapun Istilahnya yang dipergunakan. Sebab, istilah itu didapatkan atau dirumuskan oleh seseorang berdasarkan pengamatan dan sejenisnya  terhadap kejadian tertentu pada lokal dan budaya tertentu. Islam adalah produk Allah dan ia yang di sisi Allah, sehingga tidak terjadi di dalamnya perbedaan apapun. Sedangkan istilah, apapun itu namanya, ia adalah produk manusia yang sudah barang tentu berbeda-beda antar satu orang dengan yang lainnya.

Kenapa Ngapaq-Ngapaq

Mungkin dari sekian diantara kita memahami lebih dari satu bahasa lokal. Semisal beberapa orang di Jawa bisa berbahasa Sunda, Jawa dan bahasa Ngapaq. Hal ini tak lain adalah karena pengguna ketiga bahasa lokal tersebut tinggal di zona perbatasa-perbatasan dimana bahasa mengalami pergeseran.

Seperti misal orang-orang yang tinggal di Cilacap, Tegal, Kebumen, Brebes yang notabene ini adalah masuk di propinsi Jawa Tengah. Kebanyakan masyarakat Jawa Tengah adalah pengguna bahasa Jawa atau Boso Jowo dimana bahasa ini memang digunakan oleh umumnya masyarakat Jawa Tengah. Bahasa Jawa berkarakter halus dan memiliki Speech levels lebih dari satu. Sehingga para pengguna bahasa Jawa dengan berhati-hati memilih salah satu level apabila sedang berbicara dengan seseorang. Pemilihan ini berdasarkan siapa yang diajak bicar, umurnya, jenis kelaminnya, sikonnya dll.

Orang-orang yang mampu menggunakan ke 3 bahasa menurut saya adalah manusia luar biasa. Baik bahasa Jawa, Sunda maupun Ngapaq memiliki kekhasan dan kesulitan masing-masing. Bahasa Sunda memiliki kosakata yang cukup berbeda yaitu sejumlah 75% bedanya dengan bahasa Jawa. Dan bahasa Sunda juga memiliki beberapa speech level seperti bahasa Jawa.

Fenomena tiga bahasa diucapkan oleh masyarakat ini terjadi di Kecamatan Bantar Kabupaten Cilacap. Di pasar bisa kita temui para penjual dan pembeli bisa memahami tiga bahasa lokal ini, baik bahasa Sunda, Jawa maupun Ngapaq. Tidak satu bahasapun diantara ketiganya yang lebih baik maupun lebih unggul. LKetiganya digunakan dengan harmonis dan saling mudah memahami.

Warga Cilacap kadang berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda di saat-saat tertentu. Begitu juga dengan bahasa Jawa. Bahasa Ngapaq sendiri saat ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Cilacap, Brebes, Tegal dan sekitarnya. Seringkali bahasa ini menjadi begitu komersil digunakan di sinetron-sinetron dan iklan layaknya Bahasa Madura. Keduanya sama-sama begitu komersil karena keduanya sama-sama menarik.

Sebagai pengguna Bahasa Jawatimuran khususnya Boso Malangan, saya bisa dengan mudah memahami Bahasa Ngapaq karena memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan yaitu perubahan dari huruf vokal O menuju huruf vokal A. Beberapa kosakata yang saya temui di Bahasa Ngapaq ternyata adalah kosakata yang sudah lama tidak terdengar di Bahasa Malangan yaitu :

cihuy |cihui|

yahud |yahut|

asik |asiq|

asoy |ashoi|

dan beberapa kosakata yang sudah menghilang dari peredaran bahasa Malangan.

Sungguh unik belajar bahasa dan budaya lokal khas Indonesia

Kiroto Boso

“Kiroto”, maksudnya “dikiro” atau lakukan dzikir agar “tumoto” atau tertata. Sedangkan, “boso” adalah bahasa, apakah berupa ucapan atau lisan dan tulisan maupun yang lainnya, seperti Bahasa Isyarat, Bahasa Tubuh dan sebagainya, di mana semuanya itu, merupakan ungkapan sebuah rasa seseorang.

Oleh sebab itu, “kiroto boso”, dimaksudkan adalah bahwa, bahasa itu tidak semata ucapan verbal atau tulisan yang terbaca dan dibunyikan oleh lisan manusia. Akan tetapi, bahasa yang sesungguhnya, itu erat berkaitan dengan rasa yang dihati (dzikir) untuk diperoleh sebuah ketatan atau tertatanya piranti kehidupan di semua sektor kebutuhan dasar hidup diri manusia.

Maka itu, kata kunci dari semua hal berkait tersebut di atas, terdapat pada kata “kiroto” dan “boso”; “dikiro”, lakukan aktifitas dzikir, agar “tumoto-bosomu”, tertata rasamu. Lakukanlah secara terus menerus kegiatan ber-dzikir, demi tertatanya sebuah rasa yang ada di dalam dada manusia, dialah iman, ilmu dan nikmat. 

Karena, kata, “dzikir” atau ingat, merupakan atau menunjuk kepada pekerjaan hati atau rasa, di mana ia berbeda sekali dengan kata, “menyebut”, sebab kata “menyebut”, menunjuk kepada perbuatan lisan. Maka, “dikiroto-boso”, berarti selalu ingatlah oleh rasa atau hidupkan rasa (boso) atau bahasamu, agar kehidupanmu menjadi tertata.

Dalam konteks ajaran agama (Islam) yang dibawa oleh Nabi Agung Muhammad saw, kata “dzikir”, menunjuk akan arti sholat atau hubungan diri mukmin dengan amin di tempat ingatan atau di tempat berhubungan yaitu di Baitullah (QS Thoha (20) : 14), (QS Ali Imron (3) : 96-97), oleh rasa atau nikmat yang bisa diketahui oleh ilmu yang di dalam dada setiap insan atau manusia (QS Al ‘Ankabut (29) : 49), (QS Ar Rahman (55) : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).

Oleh sebab itu, kata “kiroto boso”, dalam konteks dzikir dan sholat, dimaksudkan adalah lakukanlah dan tegakkan sholat agar diri mukmin selalu ingat di tempat ingatan, sehingga berjumpa dengan yang dingat, yaitu amin melalui rasa nikmat yang bisa diketahui oleh ilmu yang di dalam dada, agar diri mukmin selalu memimpin diri manusia untuk bisa kembali ke asal mulanya, yaitu Allah swt.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِين 

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-Baqarah (2) : 45 – 46

Mintalah pertolongan dengan yang sabar dan tegakkan sholat. Sesungguhnya sholat itu sangat berat, kecuali atas (mereka) yang khusyu’; Yaitu, mereka yang telah memperoleh keyakinan, karena telah berjumpa Tuhan mereka dan mereka kembali (ke asalnya).

#DI_KIROTO-BOSO_MU; dzikirkanlah rasamu, agar dirimu tertata, melalui sholat yang tertegakkan oleh mukmin, supaya dirimu bisa berjumpa amin di tempat perjumpaan, yaitu Baitullah. Lalu, dirimu bisa bersama-sama dan diantar olveh amin menuju kembali ke asal muasal diri manusia, yaitu Allah swt.

Benda dan Kata

Para Filusuf Bahasa sepakat, bahwa benda atas kata itu lebih dulu ada dari pada kata atas bendanya. Karena, semua kata itu menunjuk pada bendanya.

Artinya adanya kata-kata itu didahului oleh adanya benda, baru muncul kata-kata. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pengertian atas kata apapun dibalikanlah kepada asal dan usulnya bahasa yang al. dengan cara “mengkirata” atau “kiroto boso”. 

Lakukan dengan seksama alias tidak sekedar hanya mengkira-kira tanpa tata bahasa dan kaidahnya sebagai pertimbangannya, namun perkiraan yang didasarkan pada tata bahasa dengan berbagai seluk beluknya. 

Itulah makna “kiroto” atau mengkira-kira dan menata berdasarkan tata kaidah yang musti dijadikan pertimbangan secara seksama.

Demikian para ahli berpendapat, bahwa benda itu lebih dulu ada baru dikata-kata atau muncul kata. Maka, hendaknya siapapun orangnya tidak mengata atau berkata atas kata atau katanya, namun hendaknya seseorang itu mengata dan berkata atas bendanya.

Katakanlah atas kenyataannya (nyatanya) dan tidak mengata atas katanya yang tidak tahu akan kenyataannya.

Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya sebagai dosa besar (kaburo maqtan) di sisi-Nya jika seseorang hanya mengata namun tidak mampu untuk melakukannnya. Bagaimana mungkin bisa melakukannya, jika kata yang diucapkan tidak menunjuk atas bendanya alias hanya mengata saja tanpa mengerti apa yang dikatakannya karena tidak bisa menemukan bendanya???

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ 

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Ash-Shaf 2 – 3.

Karena iman yang ada pada setiap dada insan manudia tidak dipergunakan cahaya dan ilmunya (tahunya), maka mereka para manusia itu hanya mengata yang tidak mampu untuk  melakukannya. Sehingga “maqtan” atau membikin gatal yang besar atau sangat menggatalkan jika seseorang hanya mengata yang tidak melakukannya, tidak mengata atas benda alias hanya mengata atas kata atau katanya.

Oleh sebab itulah, kemungkinan ada benarnya apa yang dinyata oleh beberapa ahli sejarah berdasarkan data yang diperolehnya, bahwa Abdullah Ibn Mas’ud, sahabat Nabi Agung Muhammad saw, atas perintah Khalifah ke empat Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Kw, pernah tiba di kepulauan Nusantara, khususnya di pulau Jawa, tepatnya di daerah Wonosobo Jawa Tengah.

Bahkan singkatan nama ormas umat Islam terbesar di Indonesia adalah NO (Nahdlatul Oelama’) atau NU (Nahdlatul Ulama’), bukan “nahlu” atau yang lainnya, akan tetapi NU. Kenapa demikian? Karena kata NO-NU, itu diambil dari kata “nusantara” atas ide alm. Kyai Sya’roni dari desa Keras Kediri yang  terinspirasi dari kata “nusantara”.

Dalam musyawarah para Kyai sepuh di Surabaya untuk merumuskan singkatan Nahdlatul Oelama’, pernah ada seorang Kyai sepuh dari Madura yang melontarkan kata “Nahl” yang berarti tawon sebagai singkatan dari Nahdlatul Oelama’.

Namun setelah dikaji dan difikirkan mendalam serta selalu memohon petunjuk Allah swt, maka Mbah Hasyim keluar sebentar dari ruangan musyawarah untuk menemui Kyai Sya’roni. Mbah Hasyim meminta kepada Kyai Sya’roni untuk melakukan istikharah berkenanaan dengan singkatan dari Nahdlatul Oelama’-Nahdlatul Ulama’.

Dalam istkharahnya Kyai Sya’rini diperlihatkan, bahwa Mbah Hasyim membawa tulisan berhuruf Arab :

” نهضة العلماء “

yang di depannya terdapat tulisan huruf latin yaitu NOESWATARA.

Hasil istikharah dari Kyai Sya’roni tersebut dihaturkan kepada beliau Mbah Hasyim, lalu diambillah huruf pertama dan kedua yakni N-O atau NU.

Selanjutnya singkatan NO atau NU dibahas oleh para Kyai untuk ditemukan filosofinya yang dikaitkan dengan kata antara (tengah-tengah) sehingga detemukan kata Nusantara dan Nahdlatul Oelama’ atau Nahdlatul Ulama’.

Maka singkatan NO atau NU, dipilih didasarkan pada berbagai pertimbangan bahasa yang dikira (dikaji) untuk diperoleh “ketataan” atau “tata” yang menjadi idaman semua manusia yaitu hidup tertata; Berkata secara tertata dan bertata kelola negara yang bertata dst.

Semua tahapan berfikir sebagaimana disebutkan di atas sebut menkaji untuk terjadinya ketataan atas segala sesuatunya khususnya, bahasa. Sehingga muncul kata “kirata bahasa” atau “kiroto boso”; bukan hanya sekedar diKIRO KIRO tanpa MIKIR.

Kirata bahasa atau kiroto boso berguna untuk menumbuhkan rasa agar pertimbangan apapun di dalam berkata dan bertindak tidak hanya berdasarkan hasil kajian intelektualitas belaka, namun juga spiritualitas agar tumbuh rasa.

Bekenaan dengan telah ditemukannya berbagai bukti nyata sejarah peninggalan akan perjuangan da’wah umat Islam, maka berbagai nama kota yang terdapat di pulau Jawa semuanya bisa dikirata bahasakan yang didasarkan pada sejarah penamaannya oleh para da’i Muslim saat itu.

Maka nama kota Kediri, konon merupakan ajakan agar semua orang mau ke dirinya masing-masing.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

 Al-Isra’ : 14.

Bagaiman seseorang bisa ke diri masing-masing???. 

Dijelaskan tata caranya untuk bisa dan mampu ke diri yaitu dengan kata “Nganjuk”. Kata “nganjuk” adalah bahasa Arab ” ‘an juu’in”, tentang lapar yakni perut atau hawa nafsu atau nafsu ketika berhawa, hendaknya di imsak dikendalikan dengan berpuasa agar “juu’ ” atau lapar untuk mampu ke diri masing-masing.

Karena nafsu atau hawa nafsu hanya bisa tunduk dengan neraka “juu’ “, bukan dengan 7 neraka sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya yang jumlah pintu neraka itu sebanyak tujuh.

Dengan ke diri masing-masing melalui “juu’ ” barulah diperoleh “madyun” atau Madiun, yakni kondisi senang dan mahabbah yang hampir sakar atau mabuk, tapi tidak sampai mabuk sehingga serasa senang dan ridho atas apapun yang terjadi. Kondisi diri demikian disebut dengan “madyunun”.

Senang bahagia didapatkan, maka ridho dirasakan sehingga tidak terjebak hidupnya oleh hal-hal yang bersifat materialistik alias terlepas dari berbagai hal yang berfifat ragawi (Ponorogo).

Ponorogo atau hilangnya keterjebakkan (fana’) diri dari berbagai hal yang ragawi, maka kegundah gulaan tertinggalkan (tarku qolqin) yang diucap dengan kata “Trenggalek”. 

Tertinggalkannya kegundah gulaan, artinya hilangnya kesedihan.

Hilangnya kesedihan menandakan datangnya pertolongan Tuhan (Tulung Agung). 

Jika dalam kesedihan, maka Tuhan tiada bersama kita alias pertolongan-Nya tidak akan diberikannya kepada kita. 

Maka itulah pesan Nabi Agung Muhammad saw kepada sahabatnya Abu Bakar ra, adalah janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah itu bersama kita.

يا أبا بكر لا تحزن إن الله معنا

Jika pertolongan Allah didapatkan, maka tentara Tartar saat itu yang telah menguasai 3/4 dunia tidak mampu mengalahkan bangsa Indonesia yang memang telah terbimbing oleh Allah dan rasul-Nya.

Maka mereka kembali kembali ke negaranya di Tartar (Balitar atau Blitar) tanpa ada perlawanan yang berarti. Karena mereka para tentara Tartar, saat itu ketika ingin mengalahkan dan menguasai bangsa Indonesia mengejar rakyat Indonesia sampai di pesisir pantai utara. Yang mana para rakyat Indonesia ketika menghadapi tentara Tartar memakai pakaian celana pendek (Tubban atau Tuban), sedangkan Tentara  memakai baju besi sehingga mereka ketakutan dengan sendirinya, baju besi pasti tenggelam di laut melawan orang-orang yang hanya menggunakan “tubban” atau celana dalam.

Bagaimana Malangkucecwara dan Pasuruan serta Surabaya sampai Jakarta?

Semoga di lain waktu bisa saya menjelaskannya.

Tahlil

Apa itu “tahlil-tahlilan”, apa itu “ila hadroti” dan seterusnya??? Sebagaimana sudah mentradisi kegiatan tersebut yang diberi nama “tahlilan” dilakukan oleh umat Islam Indonesia, Jawa khususnya dan lebih khusus lagi umat Islam di Jawa Timur.

Apapun yang dilakukan umat Islam sebagai bentuk peribadatan dan ibadah kepada Allah, selama belum ditemukan bendanya, maka selama itu pula akan terjadi perbedaan pendapat.

Dan perbedaan pendapat terhadap suatu kata, karena belum ditunjukkan atau ditemukan bendanya itu akan terus terjadi.

Terjadinya perbedaan pendapat, itulah yang disebut dengan tafsir atau tafsiran yang masing-masing orang akan berbeda tafsirnya sesuai dengan perkiraannya.

Berbeda dengan suatu kata yang sudah menunjuk terhadap bendanya, maka pertanyaan akan benda tersebut tidak diperlukannya lagi.

Jika saya memegang benda bernama HP dan benda yang bernama HP tersebut, sudah dilihat atau diketahui oleh sesesorang misalnya, apakah saya perlu bertanya kepada seseorang itu untuk saya mintai pendapatnya, “apa pendapat anda apakah yang pegang ini HP”?

Tentu tidak diperlukan pertanyaan semacam itu..

Berbeda dengan ketika seseorang mengata yang bukan atas bendanya alias ia mengata atas katanya, maka perkataan orang tersebut akan menimbulkan banyak penafsiran dan hal demikian itu wajar biasa terjadi..

Kata “tahlil”, usul dari asal kata tersebut bukanlah pekerjaan hati, ia pekerjaan qouli atau lisan atau mulut alias kegiatan atau pekerjaan salah satu anggota badan yang bernama mulut, yakni mengucapkan “laa ilaha iLLaLLAH”.

Ia “af’al al Qouliyah” bukan ‘af’al qolbiyah” (pekerjaan lisan atau ucapan, bukan pekerjaan hati).

Kata “tahlil” maupun “tahlilan”, keduanya adalah isim masdar dari kata kerja “hallala – هلل “. Sedangkan perbedaan dibaca marfu’ dan manshub, itu hanya persoalan berbeda i’rob atau kedudukan kata dalam kalimat tertentu.

Maka, baik kata “tahlil” maupun “tahlilan” tidak ada berbedaan arti secara subtantif, kecuali penentuan apakah ia sebagai subyek, predikat dan obyek dalam tata kalimat (nafwu) bahasa Arab.

Kemudian yang dimaksud dengan kata “tahlil” adalah ucapan “laa ilaha illaLLah”.

Kalau “tahmid” adalah ucapan “alhamdulillah”.

Istighfar adalah ucapan “astaghfirullah” 

Ttakbiir” adalah ucapan “Allahu Akbar”..

dst..

Baik, saya akan fokuskan masalah “tahlil” ini terlebih dahulu, kemudian jika masih memungkinkan akan saya bahas di waktu yang lain, apa itu “ila hadroti” dst..

Sebenarnya siapa saja yang membaca apa saja, baik itu ayat-ayat al Qur’an, bacaan sholawatan dan juga tahlil atau tahlilan maupun bacaan yang lainnya, tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang atau apapun.

Artinya, membaca hal itu semuanya boleh dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja asal tidak mengganggu orang lain. Tentu yang dimaksud kapan dan di mana saja ada pembatas, mengingat ia tergolong kalimat yang baik, maka ada pertimbangan hal-hal yang bersifat etis atau etika tertentu.

Pertimbangan tersebut, misalnya jika bacaannya dikeraskan dengan menggunakan sound system, sehingga bisa mengganggu ketenangan tetangga kanan kiri atau mengganggu orang lain.

Maka pekerjaan mengganggu siapa dan apa  saja, oleh siapa saja itu dilarang oleh ajaran agama.

Kemudian bagaimana jika bacaan tahlil tersebut dibaca pada saat atau di rumah seseorang yang salah satu dari anggota keluarganya baru meninggal, boleh apa tidak???

Yaa boleh boleh saja asal, si tuan rumah tidak merasa terganggu dengan bacaan tahlil tersebut.

Lebih-lebih jika tuan rumah merasa senang dengan bacaan tahlil tersebut, maka membacanya dalam kondisi semacam itu sangat dianjurkan.

Karena inti makna takziyah adalah menghibur keluarga yang ditinggal wafat oleh anggoga keluarganya.

Jadi, substansi takziyah itu untuk keluarga yang sebagian anggota keluarganya meninggal dunia atau mati, bukan untuk si mayit atau yang wafat itu sendiri.

Orang yang sudah meninggal dunia, selesai urusannya dengan dunia.

Jika keluarga si mayit mengalami duka dan kesusahan yang berlarut karena wafatnya salah satu dari anggoga keluarganya, maka menghibur mereka itu diebut dengan takziyah.

Sehingga diharapkan, atas kehadiran para orang-orang yang bertakziyah berkunjung kepada keluarga yang ditinggal mati oleh anggota keluarganya, itu bisa menghibur mereka,bukan menambahai masalah atau beban.

Pada umumnya keluarga yang ditinggal mati oleh anggota keluarganya, itu hatinya tentram mana kala ada keyakinan, bahwa si mayit yang meninggal akan bertambah bahagia jika dido’akan dengan membaca Qur’an dan kalimat thoyyibat lainnya seperti tahlilan.

Maka dalam konteks takziyah, tahlilan atau melakukan kegiatan membaca al Qur’an dan berbagai kalimat thayyibah di rumah duka, mana kala keluarga yang ditinggal meninggal salah satu keluarganya, itu merasa senang dan terhibur dengan adanya kegiatan tersebut, maka kegiatan tersebut tidak ada masalah alias boleh bahkan dianjurkan.

Kemudian, apa itu tahlil dalam totalitas ajaran Islam?

Apa itu tahlil pengertiannya adalah totalitas kalimat Adzan.

Adzan dikumandangkan dengan permulaan takbir “Allahu Akbar” dua kali. Apa itu takbir Allahu Akbar dan kenapa dua kali diucapkan? 

Allah adalah dzat dan Akbar adalah sifatnya Allah, dialah Muhammad Rasulullah saw.

Diucapkan dua kali, karena keduanya adalah dzat dan shifat yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya alias dzat dan sifat menjadi satu.

Maka kalimat berikutnya adalah persaksian atas keduanya yang diperkuat dengan bersaksi atas ke-Esaan Allah dua kali dan bersaksi atas diutusnya Muhammad sebagai utusannya Allah dua kali.

Baru kemudian tertegakkan shalat..

Dengan lain kata, hal demikian dapat diperoleh jika shalat antara hamba dengan Allah melalui rasulnya Allah Muhammad saw terwujudkan. 

Wujud shalat adalah menghadap Qiblat ke Akbar dengan i’tiqod keyakinan kepada Allah swt.

Baru kemenangan dan kebahagiaan di dapatkan. Kemenangan atas tetapnya iman kepada Allah swt melalui utusannya Allah yakni, Muhammad rasulullah saw.

Beradalah hamba di dalam benteng Allah swt yang tiada tersentuh oleh api neraka selamanya.

لا إله إلا الله حصمني فمن دخل حصني أمن من عذابي

Laa ilaha illaLLAH adalah benteng-KU, siapa memasuki benteng-KU aman dari siksa-Ku.

Karto Kasan Oposan

Oposan

Dari hari ke hari upah buruh di sebuah perusahaan perkebunan kapas milik Compeni Belanda, semakin tidak bisa mencukupi kebutuhan primer bagi kaum buruh tani.

Setiap menerima upah pada hari Sabtu selalu mengalami pengurangan dari upah seminggu sebelumnya, padahal harga kebutuhan pokok semakin naik.

Wal hasil, para buruh tani yang dalam menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari mengandalkan upah dari kerja di sebuah perkebunan kapas milik Compeni tersebut, semakin lama semakin berat.

Ngomong punya, akhirnya mereka berkumpul untuk membicarakan upah yang semakin menurun sebagai imbalan dari perusahan yang bergerak di bidang pertanian kapas tersebut.

Dalam perkumpulan diputuskan, mereka sepakat untuk melakukan semacam unjuk rasa, memprotres terhadap pengurangan upah yang mereka terima dari setiap minggunya.

Dalam aksi memprotes kebijakkan perusahaan yang mengurangi upah dari para buruh tersebut, pimpinannya adalah KASAN.

Kasan diangkat dijadikan pimpinan mereka dalam melakukan unjuk rasa memprotes penurunan upah terhadap buruh tani.

Karena dalam menyampaikan aspirasinya, mereka menggunakan bahasa Jawa, maka sang pemilik perusahan kesulitan untuk bisa mengerti apa yang disampaikab oleh kaum buruh.

Akhirnya, sang pemilik perusahaan yang berkebangsaan Belanda tersebut menyuruh KARTO, seorang pribumi yang bekerja sebagai Sinder atau Waker di perusahaan pertanian kapas itu.

Si Karto sangat mengusai bahasa Belanda dengan baik, sekaligus juga bahasa Jawa, karena Karto berasal dari sebuah desa jauh dari kota di Kabupaten Ponorogo.

Setelah Karto mendapatkan perintah dari pemilik perusahaan kapas yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa tersebut, untuk menemui para temonstran yang mendemo perusahaannya. Maka, Karto langsung melaksanakan perintah dari Bossnya.

Si Karto ambil alih posisi Boss untuk menghadapi para demontran yang dipimpin oleh Kasan dengan penuh keyakinan dan kebanggaan atas tugas khusus dari sang Boss tersebut.

Langsung si Karto dengan langkah tegap penuh keyakinan dengan pakaian kewibaan dan kumis diplintir, memanggil pimpinan demo tersebut :

” OPO SAN…???”

Suara Karto yang keras tersebut, terdengar oleh si Boss yang berada di dalam kantor.

Maka, sejak saat itu orang-orang yang melakukan protes terhadap kebijakan di sebuah perusahaan di sebut, “OPOSAN”.