Sedianya waktu itu aku ingin beli tiket ke Rosalia di daerah
Gilingan. Daerah yang sebelumnya kutau itu di terminal Tirtonadi. Sayang
temenku beritau nya nggak lengkap. Sehingga saat ditanya kernet bis dengan
santai kujawab Terminal Tirtonadi.
Dan padahal bukan sama sekali. Huaa..
Rosalia tempatnya jauh sebelum Terminal Tirtonadi. Aku
rasanya jadi linglung dirasani para tukang-tukang becak iseng. Saat mau
menyeberang berkali mukaku terlihat bego karena tidak mengenal dengan jelas
tempatnya yang mana. Hampir aku masuk jalur bis yang khusus menuju Terminal
Tirtonadi. Dan aku merasakan hawa tidak enak setelah dirasani sama para
becakers. Huhft
Setelah tolah toleh kanan kiri, beberapa kernet yang
cari-cari penumpang, tukang ojek yang setengah maksa dan tukang-tukang yang
lain sudah mulai rame menarik penumpang, dan aku dikira penumpang. Padahal
bukan. Aku akhirnya memberanikan diri
untuk jalan cepat dan lurus tanpa tahu dimana kantor Rosalia itu berada. Hmm
biarin dibilang PD. Haha.. Dan ternyata di kejauhan terlihat papan Rosalia
meskipun bagiku, aku masih belum yakin karena warnanya blur. Semakin dekat pun
juga masih blur. Dasar mata tua terpaksa harus kebelalakkan mata untuk melihat
dengan jelas itu papan Rosalia atau pasar, uhuk.
Dan ternyata benar itu adalah agen Rosalia.
Ini cerita suksesnya. Cerita bukan suksesnya adalah dibawah
ini.
Saat masih di halte, temenku bilang nanti nyegat bis namanya
Jamus ya. Dan aku ingat-ingat nama bis tersebut sampai hapal. Hingga hampir
semua bisa yang lewat kupantengin sampai kepanasan. Maklum soalnya takut nggak dapat bis tersebut. Nah saat dari
kejauhan, di bawah lampu kuning depan UNS terlihat bis tersebut, aku segera beranjak
dari duduk. Namun ini ternyata di luar dugaan, bis ini tidak mau berhenti
karena di depan halte sudah ada bis lain yang ngetem, yaitu bis batik. Yahh
terpaksa nunggu bis Jamus lagi datang kembali. Dan sampai setengah jam aku
menunggu bi situ datang kembali, baru kemudian bis Jamus yang ketiga baru mau
berhenti. Itupun setelah distop dengan cara loncat-loncat. Nah saat bis
mendekat, baru kutahu bahwa bis Jamus itu kuecill dan pendekkk.. Aku baru
nyadar. Halte ini sama sekali tidak cocok dibangun untuk bis Jamus. Step bus
ini sangat pendek dan terlalu dekat dengan jalan, dan jadinya terlalu jauh
dengan floor haltenya. Dan apa yang terjadi saudara-saudara..inilah pertama
kali aku anjlok dari floor halte yang cukup tinggi itu. Jlokkkk..
Itu suaranya.
Dan dengan bersungut-sungut aku masuk ke dalam bis dengan
menahan sakit di telapak kaki, dan paha yang lumayan pegel.
Kompor sudah menjadi komoditi dan home industry bagi
sekumpulan warga Joyo. Sejumlah warga aktif memproduk dan menghasilkan kompor minyak tanah dalam rumah
industry mereka. Hasilnya bahkan dikirim ke beberapa negara manca, tentunya
yang masih menggunakan kompor sebagai salah satu alat masak mereka.
Seperti salah satunya adalah ibu Simun. Wanita super kaya
ini baru saja meninggalkan kita pagi tadi 8 Januari 2022. Rupanya beliau sudah
tidak kuasa menahan penyakit diabetes yang telah berpuluh tahun menggerogotinya.
Seperti orang kaya yang lain semasa hidup beliau sangat hobby mengenakan
perhiasan mas apabila lagi berbelanja ke pasar. Penampilannya sangat menyolok
dan membuat mata kita berbinar karena perhiasannya yang berbinar2 pula. Gelang
yang beliau pakai bias sampai ke siku2nya. Rantai kalungnya pun lebih dari
satu.
Anehnya setiap wanita yang berjualan ataupun para pembeli
wanita yang berseliweran di dalam pasar Dinoyo, apabila berpapasan atau
bertemu, mereka mencium tangan bu Simun. Seolah2 bu Simun adalah orang yang
patut dan sangat dihormati. Dan yang unik lagi bu Simun selalu memanggil setiap
wanita di pasar Dinoyo dengan nama panggilan yang sama “Nduk”. Padahal belum
tentu mereka lebih muda dari bu Simun. Halah..
Itulah maka, dari sejak puluhan tahun yang lalu, beliau juga
mendapat julukan yang khas karena penampilannya. Dialah BUPATI JOYO. Bupati
karena beliau adalah salah satu warga Joyo yang cukup berada dan berpenampilan
sangat mencolok. Joyo adalah karena beliau dah bertahun2 tinggal di Joyo, desa
dengan penduduk yang penghasilannya berasal dari membuat kompor minyak tanah.
Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang
kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di
SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan
di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan
kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah
seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas
Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4
bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup
menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa
yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega
menghabisi gurunya tanpa ampun.
Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang
disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa
ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa
berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam
singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu
sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke
dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.
Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester
ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana
Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana
hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru
salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang
menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan.
Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang
digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap
kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok
apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak
layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya
bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan
perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang
dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan
sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini
sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil
baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat
apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita
disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..
Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan
berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?
Sarung atau lipa adalah jenis kain khas Indonesia. Berbagai macam jenis sarung tersebar di belahan bumi nusantara ini dengan corak dan warna yang khas.
Perjalananku ke Makassar awal puasa lalu berikan pengalaman tentang apa lipa itu. Bagi budaya Sulawesi atau khususnya Makassar, sarung adalah kain yang sangat penting dibutuhkan pada semua kegiatan. Saat melaksanakan ibadah, sarung menjadi hal wajib yang rutin dipakai sehari-hari. Saat tidur sarung pun menjadi perangkat penting. Tidak sekedar mengusir dingin, sarung juga mengusir nyamuk dan kain yang aman dipakai untuk tidur melungker.
Setiba dirumah sahabat, saya diajak berkenalan dengan orangtua sahabat. Beliau seorang tetua yang dihormati di Galesong Makassar. Secara turun temurun, beliau masih keturunan langsung dengan Karaeng Galesong I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na. Ibunda sahabatku, Ibu Nadhir Larigau mempersilahkanku ke kamar yang sudah beliau persiapkan untukku. Aku jadi kikuk berada disana. Sebuah suasana baru, budaya baru yang kupelajari, dan orang2 yang baru kukenal, begitu ramah dan bersahaja.
Sempat kutermenung di dalam kamar itu. Sepertinya kuingat kamar ini, tapi dimana ya..
Hmm baru kusadar, kamar ini adalah kamar kakak sahabatku yang fotonya terpampang di internet. Kakak sahabatku ini sedang melaksanakan pernikahan dengan mempergunakan adat istiadat yang cukup kental. Hmm baru sadar diriku, ini adalaah kamar pengantin. Sahabatku bilang ini adalah kamar tamu dan bukan kamar pengantin. Tapi masuk akal juga, disitu kulihat ada kamar mandi yang menyatu dengan kamar ini.
Sembari termenung, kupandangi langit2 kamar. Nggak jauh beda dengan kamarku di Malang.. Tempat tidur..sama juga dengan milikku. Tempat tidur kayu ini benar2 kokoh. Tapi sepertinya masih baru, maklum baru dipakai oleh pengantin. Tapi yang buat kumerasa aneh.. Ada dua buah sarung tergeletak di kasur. Satu berwarna agak ungu gelap dengan corak kotak2 yang tidak terlalu besar, dan yang satunya lagi kotak2 hitam dengan selingan garis kecil.
Lama2 kupandangi kedua sarung itu, walhasil ngantuk sudah. Mataku tak bisa kubuka lagi. Dan kedua lipa unik itu hanya kupeluk saja, tidur dengan penuh tanda tanya. Tapi perjalanan panjangku dari Malang ke Makassar membuatku lelah tanpa daya. Aku tak sanggup lagi membuka mata. Dan tidurlah aku berpeluk dua lipa.
Sore itu panas masih merambat di Galesong. Saatnya mandi tiba sepertinya. Baru kuingat aku belum buka backpack ku yang berisi baju dan mukena. Baru kuingat, hari itu hari pertama puasaku, dan hari pertama puasa yang kujalankan nun jauh di belahan bumi bagian utara. Yaa..aku saat ini berada di Galesong. Beberapa kilometer dari Makassar. Perjalanan kutempuh hampir selama satu jam. Tok Tok ibunda sahabatku, Wandy .. ketok pintu kamarku.
“Mbak Ika kalau mau mandi itu ada sarung di kasur”, kata Ibu Larigau dari luar kamar. Kudengar suaranya jelas. Hmm kuberpikir2 sejenak. Sambil mengernyitkan dahi ‘sarung untuk mandi’.. Belum selesai kuhilangkan kernyit di dahiku.. Ibu Larigau sudah mengingatkan lagi.. “Mbak Ika kalau mau sholat Ashar sarungnya juga saya letakkan di kasur”..kata beliau pelan.
Wah seketika itu pula kulihat dengan tatapan mata pada kedua Lipa tersebut. Pelan2 kusentuh sudutnya dan kubuka kedua lipa yang ada di kedua tanganku. Ternyata dua sarun ini berbeda fungsi. Satu untuk mandi, dan satu untuk sholat.
Kusadari benar2 pengalaman yang tak terlupakan. Keluarga baruku berikanku pengalaman hidup bahwa begitulah cara orang menghormati tamu. Apalagi apabila tamu tersebut hendak menginap. Seperti biasa, mereka selalu akan menyediakan dua buah sarung buat tamunya.
Sapanjang adalah saksi dari kegiatan ritual Dzikir Senin, sebuah fenomena religi yang telah berlaku beratus tahun. Dzikir ini dilaksanakan pada tiap malam Senin di lokasi yang tetap, di desa Sapanjang Galesong kota Makassar. Banyak dzikir yang dilaksanakan dengan berbagai macam variasi doa dan quantitas yang berbeda-beda. Namun mungkin ada perbedaan yang bisa kita saksikan pada Dzikir Senin di desa Sapanjang Galesong.
Seperti yang telah diceritakan oleh keluarga besar di desa Sapanjang, salah satu diantaranya adalah bapak Rahman Uriansyah Manaba, beliau tinggal di Balikpapan namun sering mengikuti dzikir tersebut bahwa dzikir ini adalah warisan dari Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syech Yusuf Al Makassari. Sebagai seorang wali klasik dari masa abad ke 17, beliau mengalami berbagai tantangan seiring dengan kodrat kewalian yang dibebankan kepadanya. Syech Yusuf yang konon khabarnya adalah putra dari Nabi Khidir mengikuti kodrat Allah tiba di SULSEL sebagai putra atau diangkat putra oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa I yang menganut agama Allah, Islam.
Dari silsilah yang saya dapatkan disana, Syech Yusuf kemudian memiliki putra dan keturunan yang salah satunya dimakamkan di Sapanjang, namanya beliau adalah Syech Sirajuddin. Beliau pula disebut dengan wali oleh masyarakat setempat. Makam Syech Sirajuddin berdampingan dengan istri dan makamnya dinaungi oleh sebuah rumah kecil. Terlihat bahwa makam beliau sering dikunjungi orang karena banyak terdapat bekas-bekas orang yang berziarah, terutama yang dibawa adalah lilin dan air seceret. Air dalam hal ini didoakan dan dikucurkan sepanjang makam, kemudian lilin adalah sebagai penerang dan memberikan cahaya atau nur. Syech Sirajuddin ini adalah putra keturunan Syech Yusuf dari istri beliau putri Johor Manikam, seorang putri Raja asal Indragiri Sumatra Barat. Karena kabar kewalian yang sangat hebat, maka banyak raja yang menginginkan Syech Yusuf atau Tuanta Salamaka menjadi menantunya. Salah satunya adalah juga menjadi menantu Sultan Ageng Tertiyasa.
Memang ada beberapa tempat di Indonesia ini diakui sebagai makam Syech Yusuf, termasuk juga di Cape Town Afrika Selatan. Sampai saat ini Syech Yusuf masih diakui jazad beliau bersemayam di Cape Town Afrika Selatan, bahkan telah diberikan gelar pahlawan Nasional disana. Kabar kewalian beliau yang sangat gempar inipun sempat membuat Belanda kelabakan. Layaknya Rasulullah, kelahiran beliau memang telah diketahui dan ditunggu-tunggu. Namun Syech Yusuf memang benar-benar menakjubkan, sesaat beliau lahir orang tuanyapun menghilang. Dan seperti yang dijelaskan dalam silsilah, beliau adalah putra dari Nabi Khidir.
Seperti pula yang telah diajarkan kepada putra dan keturunannya yaitu Syech Sirajuddin atau dengan nama anumertanya yaitu Syech Sirajuddin Karaeng Ngilau Tuan Pandang Laut, beliau telah melestarikan dzikir Senin, dzikir yang telah diciptakan dan diajarkan oleh Syech Yusuf kepada seluruh putra dan keturunannya.
Dzikir ini pada dasarnya adalah semacam kegiatan ritual Istighosah seperti yang biasa dilakukan di Jawa. Doa-doa yang diucapkan tidak jauh beda. Namun anda mungkin akan terperanjat apabila diungkapkan jumlah butiran-butiran dzikir yang diucapkan. Mereka biasa menggunakan angka 1000 untuk setiap butir doa dzikir. Luar biasa!
Jumlah ini menunjukkan quantitas yang berbeda dengan butir-butir dzikir yang biasa dilakukan di Jawa. Jumlah ini sungguh mencengangkan. Anda bisa bayangkan berapa lama mereka melaksanakan ritual dzikir Senin tersebut. Seribu kali bukan perkara gampang, di suhu hangat desa Sapanjang. Gerakan-gerakan yang tetap dan terus-menerus seolah tanpa sadar. Gerakan-gerakan menggeleng-gelengkan kepala yang dilakukan tanpa henti, terantuk ke kanan dan kekiri dua kali. Ada pula yang terantuk ke kanan dan kekiri hampir sampai 4 antukan. Matapun ikut merespon gerakan kepala yang tanpa henti, mengikuti ucapan mulut dari setiap butir doa dzikir tanpa mempedulikan sekeliling. Semua orang terfokus pada doa dzikir yang diucapkan dengan mantap dan berharap.
Doa adalah harapan, maka gerakan-gerakan menghentak semakin meyakinkan para jama’ah akan dikabulkannya harapan yang dipanjatkan. Duduk membentuk lingkaran adalah bagian dari proses berdzikir karena di tengah-tengah diletakkan batang-batang lilin berwarna merah dan menyala terang membentuk cahaya. Biasanya dzikir dilakukan di tempat kami di Malang menghadap ke kiblat. Namun yang dilakukan disini adalah membentuk lingkaran menghadap kea rah lilin yang diletakkan di meja. Dan disana juga terlihat di tengah tersedia pisang berwarna hijau yang sudah mulai matang merona kuning. Juga terdapat pula batang-batang merah lilin yang menyala di tengah-tengah. Nyala lilin ini sangat konstan mempengaruhi gerakan-gerakan pedzikir. Nyala lilin adalah nur. Nyala lilin mendatangkan aura api abadi, dan cahaya biru lilin adalah roh abadi. Dan lilin adalah penuntun agar focus kepada dzikir maupun semedi dan juga sebagai pertanda kepada pedzikir bahwa yang diundang akan datang yang ditunjukkan dengan gerakan api lilin yang semakin tenang.
Dzikirnya adalah : Ya Allah ya Rabby.. Ya Muhammad ya Rasulullah..
Selebihnya memang hanya orang-orang Sapanjang lah yang tahu Dzikir Senin. Wallahu a’lamu bish shawab.
Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan
terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini
berada di tengah2 padat penduduk tak
jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya
beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang
lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di
luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.
Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2
untuk berangkat di masjid terdekat, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”.
Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun
tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar
bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa
adanya di warung kecil ini. Sayup2 terdengar perbincangan2 khusus diantara
mereka.
“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar
salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit menyeruput kopi yang sudah
mulai dingin.
“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA”
terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum
juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi
ujian masuk bagi mahasiswa pasca.
Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak
masuk ke dalam rumah. Pria paro baya dan sudah beruban rambutnya ini tinggal
kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di
pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.
“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka
akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo
kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah
menginstruksikan begitu kita mau bilang apa”kembali dengan logat yang cukup
khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini
mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.
Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang.
Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup
terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi
warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini.
Motor2 pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup
tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain
dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.
“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur
bumbu kelapa” terdengar salah seorang bapak memesan makanan pada pemilik
warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia
pesan tidak tersedia disana.
Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.
“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu
pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari
itu. Dan kemudian bapak2 yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga
salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.
“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah satu bapak
yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit
mereka saat di Makassar.
“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak). Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung
rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh salah satu bapak
barusan, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa Jawa, mungkin
karena antusiasnya.
“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu
bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik.Dan
akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas
Makassar.
“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan
bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana”. Si bapak yang
berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu
pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia
akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam
dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk
makanan yang satu ini.
Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota
Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu
lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah
kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin
mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak2 dan ibu2 yang memang terlihat
sedang ngobrol ringan.
“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang
dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah
dimana banyak juga teman2 dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum
melihat kedatangannya.
“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai
baru ka? Senyum bapak berbaju kotak itu semakin melebar.
“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab
sembil senyum2 simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan
deretan giginya yang nampak jelas.
“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak
berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku
yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka
hanya senyum2 saja tidak menjawab. Kuliah
lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi
tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat
tepat untuk mengistirahatkan pikiran untuk sementara.
Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari
depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu berbaju batik masuk
ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar
mampir berbincang sekedarnya.
“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat
khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak2 dan ibu2
yang berkumpul di warung tersebut.
Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan
paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut.
Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA
Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa
yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.
Lebaran Idul Fitri identik dengan ketupat. Hampir semua daerh di Indonesia menyantap ketupat saat lebaran. Kadang lontong nasi bungkus daun pisang juga mendampingi hidangan ketupat. Keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai hidangan berbahan beras. Dan tentunya ketupat atau lontong selalu disajikan dengan lauk dan sayur pelengkap yang beraneka ragam.
Lebaran Idul Fitri adalah saat yang tepat menyediakan hidangan ketupat. Saat hari-hari biasa mungkin tidak banyak kita temui ketupat atau lontong di kuliner street food. Yang ada adalah ketupat sayur, dan kadang sate Padang yang bisa ditemukan seminggu sekali.
Hidangan pendamping ketupat yang paling standar adalah opor ayam. Hidangan ini bisa kita temui di berbagai daerah di Indonesia. Dan ketupat dengan lauk opor ayam ini pasti muncul saat hari pertama lebaran. Lauk pendamping ketupat yang lain bisa kita temui seperti sate ayam bumbu kacang, gulai kambing, soto dan lain-lain.
Kata ketupat yang berasal dari ungkapan ngaku lepat atau mengakui kesalahan ini memang sengaja disajikan disaat lebaran karena saat lebaran adalah momentum saling memafkan. Dan memang saat lebaran inilah kita bisa temui ketupat di hampir semua daerah di Indonesia karena lebaran adalah momen saling memaafkan.
Namun di kota Malang, ketupat disajikan pada hari ke 8 lebaran. Mungkin momentnya terlalu jauh dari lebaran yang sudah memasuki hari ke 8 ini. Patokannya bila lebaran adalah hari Senin maka lebaran ketupat dilaksanakan pada hari Senin pula. Ada kisah unik di belakang ikhwal ketupat lebaran di hari ke 8 ini. Awalnya kita mempercayai bahwa saudara-saudara kita yang telah mendahului berpulani, rohnya akan datang saat lebaran Idul Fitri. Dan konon mereka akan menunggu diberi ketupat itu untuk dibawa pulang pada hari ke 8 Lebaran. Sehingga ada juga cerita uniuk lainnya yaitu jangan membuat ketupat sebelum hari ke 8 karena ditakutkan saat mereka kembali ke alamnya ketupat tersebut akan basi.
Walhasil banyak tetangga yang datang mengirim ketupat berikut sayur dan lauknya di hari ke 8 lebaran. Ini jadi hidangan alternatif setelah beberapa hari mengkonsumsi protein-protein hewani.
Sayur pendamping ketupat saat lebaran hari ke 8 adalah sayur manisah atau labu jipang. telur masak petis hitam, emput atau serundeng giling, tahu bumbu bali dan lain-lain.
Manisah adalah komoditi sayur termahal saat itu di kota Malang, karena semua orang mengolah manisah atau labu untuk pendamping ketupat lebaran di hari ke 8. Apa yang terjadi? Manisah menjadi sayur paling mahal karena permintaan tinggi. Harganya menjadi 4 kali lipat. Maka ada sayur alternatif pengganti manisah yaitu pepaya muda.
Hari lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita. Semua orang berkumpul, bahkan dari jau datang agar bisa bertemu dengan keluarga. Maka mudik untuk kepentingan lebaran menjadi sebuah kebiasaan yang sudah mendarha daging turun temurun.
Berkumpul dengan keluarga dan semua anggotanya selalu dibarengi dengan makanan-makanan lezat khas lebaran. Hal ini akan selalu diupayakan karena lebaran dirayakan sekali dalam satu tahun.
Kali ini ada sekelumit tulisan mengenai hidangan lebaran yang selalu tersedia di keluarga-keluarga di Indonesia. Pertama adalah hidangan lebaran di Bandung. Saya sudah berkali-kali menyicip hidangan lezat di hari lebaran resep ala mertua yang selalu ada saat lebaran, Yaitu kornet daging, gulai kambing, soto bandung. Dan tak lupa potongan cabe dalam larutan cuka. Soto Bandung sangat terkenal di dataran tanah Sunda, karena mengandung aspek peranakan di dalam nya yaitu potongan-potongan lobak. Soto daging dengan lobak hampir kita tidak pernah temui kecuali di Bandung. Rasanya sangat segar juga gurih. Untuk kornet, ibu mertua sudah sering membuat hidangan ini dan resep didapat turun temururn dari buyut.
Yang kedua adalah hidangan lebaran ala kota Lampung. Kebetulan saya banyak berteman dengan teman-teman dari Lampung sehingga sayapun bisa berkesempatan mencicip salah satu kue hidangan lebaran yang saat itu dibawakan teman. Kalau nama sebeanrnya adalah lapis legit namun berbeda dengan lapis legit umumnya. Kue ini terbuat dari hanya telur dan gula. Rasanya sangat manis dan gurih. Untuk hidanga lebaran lainnya, masyarakat Lampung juga suka menyediakan Pempek Palembang saat lebaran. Pempek Palembang di Lampung agak sedikit berbeda dengan Pempek Palembang. Bentuknya lebih panjang dan kecil. Teksturnya sangat berbeda, hampir mirip puding. Namun rasanya masih otentik pempek Palembang.
Secara umum hidangan lebaran di Indonesia adalah opor ayam, rendang daging, lontong dan sebagainya. Untuk di kota Malang kelahiran saya, hidangan lebaran pernah mengalami pergeseran. Dulunya tidak pernah tersedia ketupat atau lontong di hari pertama lebaran. Ketupat dan lontong baru bisa kita temui pada minimal hari ke 5 atau 7. Namun belakangan masyarakat Malang sudah menyediakan ketupat dan lontong sejak hari pertama Lebaran. Lauk ketupatnya adalah sayur labu atau manisah kemudian telur bumbu petis. Hidangan ini kerap kali disebut Lontong Cap Go Meh. Dan juga hidangan lebaran nusantara seperti opor, rendang, gula dan lain-lain yang sering juga terhidang di meja-meja keluarga Jawa Malang.
Yang terakhir ini adalah hidanga Lebaran di keluarga Ambon. Keluarga orang tua, tete dan nenek saya di Pulau Buru. Sup sayuran dan gado-gado adalah hidangan lebaran termewah bagi saudara-saudara kami di Ambon. Hal ini karena banyak bahan baku yang harus didatangkan dari Jawa. Seperti misalnya kol, bunga kol, daun selada, wortel, daun bawang. Untuk membuat gado-gado yang sudah tersedia di sana adalah kacang tanah, ketimun, tauge, dan lontong. Mereka masih harus menyediakan (mengimpor) kerupuk, kol, kecap. Betapa cukup berjuang untuk mendapatkan dua hidangan ini ke meja untuk lebaran. Sehingga dua hidangan ini menjadi hidangan termewah dan patut disediakan saat lebaran. Karena lebaran hanya satu kali dalam setahun.
Ramai dibicarakan seorang pendatang baru atau musisi baru yang lumayan banyak dibicarakan di medsos. Baik IG, Twitter, FB dan You Tube. Kedua anak muda ini, Tri Suaka dan Zinidine Zidan sering berdua berkolaborasi menyanyi dari panggung ke panggung. Karena musisi yang masih pemula, meski suaranya okay namun mereka banyak menyanyikan lagu cover. Lagu cover adalah istilah yang diberikan bagi penyanyi yang menyanyikan lagu orang lain.
Sudah barang tentu ada unsur memakai barang orang lain atau meminjam. Dan menyanyikan lagu orang lain di negeri kita ternyata memiliki aturan ketat dan baku yaitu harus memberi royalti kepada pemilik lagu yang asli. Kemudian justru masalah muncul bukan karena dua musisi ini mencover lagu, dalam hal ini lagu beberepa musisi. Salah satunya adalah lagu Andika Kangen Band. Masalah muncul adalah anak muda ini mneyanyikan lagu cover milik Andika Kangen Band dengan gaya menghina penyanyi aslinya.
Penampilan Andika dari awal berkarir hingga saat ini sudah mengalami perubahan cukup drastis. Banyak kasus yang dia lakukan dari sejak awal karir 2005 hingga beberapa tahun belakangan sudah membuat jera, terlihat saat ini. Penampilannya yang santun dan peduli dengan putra putrinya. Dan Andika selalu menolak menjawab bila ditanya tentang masa lalunya.
Namun hal ini masih menjadi sasaran empuk Zidan untuk menyanyikan lagu cover kangen Band dengan gaya menghina. Walhasil netizen se-Indonesia memberontak dan membully Zidan dan rekannya. Buntutnyapun mereka akan dituntut salah satu pemilik lagu yang dicover. Belum lagi pengacara Andika yang ikut maju mengeluarkan somasi. Di podcast Uya Kuya, akhirnya Zidan dan Tri datang dan memberikan pernyataan maaf.
Hal-hal seperti ini selalu terjadi di negeri +62. Seseorang dengan bebas merdeka melakukan kesalahan lalu kemudian selalu berakhir dengan permintaan maaf di depan publik. Begitu mudahnya dan begitu meremehkan dengan mempergunakan dalih maaf. Padahal mungkin tidak semudah itu publik memaafkan.
Lalu apa beda menyanyikan lagu orang lain alias cover dengan impersonate? Saat ini artis yang dikenal mahir impersonate adalah Gilang Dirga dan Rina Nose. Mereka berdua begitu lihai menirukan suara tokoh, menyanyikan lagu terkenal dan bahkan berperan seperti orang yang ditirukan. Saat Rina Nose menyanyikan lagu Laksmana Raja Di Laut, dia begitu maksimal menirukan lagu dan gerak Iyet Bustami. Bahkan baju yang dipakai Rina adalah kostum yang biasa dipakai Iyet. Saat itu Iyet juga hadir ikut bernyanyi bersama Rina. Sehingga tidak ada masalah antara keduanya, demikian juga dengan host acara tersebut.
Gilang Dirga juga sangat mahir menirukan maupun menyanyikan lagu para musisi. Dengan cengkok yang cukup mirip dengan penyanyi aslinya, Gilang pun mampu membawakan lagu itu. Disamping itu Gilang juga sangat lihai menirukan gaya tokoh.
Antara cover dan impersonate ada perbedaan tipis. namun bagaimanapun menyanyikan lagu musisi lain atau menirukan gaya tokoh harus diniatkan untuk menghibur. Jangan menyusupkan adegan-adegan menghina musisi atau tokoh aslinya.
Judul yang pendek I La Galigo sebenarnya cermin dari sebuah naskah yang cukup panjang berkilo-kilo. Inilah naskah karya sastra berasal dari Bugis klasik yang diyakini terpanjang di dunia. Dan saking panjangnya naskah dan cerita di dalamnya hingga melebihi Ramayana dan Mahabarata. Bahkan Homerus dari Yunani.
I La Galigo adalah naskah susastra yang bisa kita baca saat ini berbentuk puisi 5 baris. Awalnya naskah ini ditulis dalam huruf lontara di atas daun yang disebut dengan daun lontar. Saat I La Galigo ini dituliskan di atas daun lontar, belum ada teknologi kertas atau papyrus seperti saat ini. Sehingga daun lontar inilah yang sanggup merekam semua kejadian dan cerita lisan saat itu. Diyakini cerita lisan I La Galigo terjadi pada abad 9 SM. Dan baru ditranskripsikan oleh Arung Pacana Toa Collieq Pudji pada tahun 1852 selama beberapa tahun.
I La Galigo yang dianggap kitab suci oleh sebagian orang ini berisi kisah tentang I La Galigo itu sendiri, naskah keagamaan, sejarah, dan naskah spiritual. Bagi para Bissu yang menganut agama Bugis Klasik kitab I La Galigo berfungsi sebagai obat dari beberapa penyakit, sebagai tolak bala dan berfungsi magis juga. Para Bissu ini adalah sisa-sisa warisan I La Galigo yang masih tertinggal saat ini. Bersyukur masih ada yang melestarikan kitab I La Galigo. Karena kalau tidak mungkin I La Galigo hanya sekedar gulungan lontar yang mudah rusak karena rapuh.
Kalau diteliti lebih lanjut I La Galigo bisa menjadikan kita lebih waspada, karena ada ayat-ayat yang meramalkan kejadian-kejadian alam seperti gempa, tsunami dll. Kalau kita lebih teliti membaca kita ini mungkin kita bisa lebih waspada akan gejala alam yang terjadi.
Kisah I La Galigo salah satunya yang cukup terkenal, meski ada kisah-kisah lain adalah hubungan cinta antara Sawerigading dengan We Tenri Abeng. Keduanya sebenarnya adalah lahir kembar emas atau di Jawa dikenal dengan kembar dampit. Yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Di zaman itu, sama juga dengan di Jawa, bila lahir bayi kembar laki-laki dan perempuan maka seyogyanya bayi-bayi tersebut dipisahkan. Karena dikhawatirkan keduanya nanti akan saling menyukai dan ingin menikah. Sehingga diputuskan untuk memisahkan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Namun meski dipisahkan justru membuat Sawerigading semakin penasaran dan ingin bertemu We Tenri Abeng. Dan ternyata mereka bertemu. Hingga ending ceritanya bisa ditebak.
Kisah ini hanya sebagian kecil dari naskah I La Galigo yang cukup panjang tersebut. Jumlah cerita lisan yang telah ditranskripsikan oleh Colliq Pudjie adalah 12 jilid dan tiap jilidnya adalah berjumlah 2850 halaman. Sisa-sisa naskah yang belum ditranskripsikan tersebar di Gorontalo, Malaysia, Brunei, Singapura dan Leiden. Jadi bisa dibayangkan cerita yang belum selesai ditulis ini seberapa.
Bu Colliq Pudji yang bagi masyarakat Sulawesi dikenal dengan Kartininya Sulawesi ini adalah seorang penulis handal. Mungkin kalau sekarang bisa se frekwensi dan se server denganku. Eh..
Ternyata beliau tidak sendiri, ada seorang pendeta bernama Pak Matthes yang cukup berjasa dalam aktifitas transkripsi naskah Ibu Colliq Pudjie. Bapak Matthes yang seorang pendeta dan pakar Linguistik Bible ini melihat kepiawaian Ibu Colliq sehingga banyak sekali bantuan diberikan pada sang ibu. Saat itu situasi perang antar suku yang tak menentu didukung dengan kehadiran kolonial yang menghasut, membuat bu Colliq kesulitan untuk menuliskan semua naskah-naskahnya. Dalam keadaan terkucil karena kekejaman kolonial, bu Colliq tak berhenti melanjutkan naskahnya.
Kini kita bisa menikmati tulisan I La Galigo dengan bahagia karena sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.
Meski transkrip lisan dan transliterasi naskah belum selesai.