Analisis Wacana Penutur Dalam Percakapan

Jika seseorang tampak tidak tertarik atau tidak memahami (apakah mereka benar-benar tertarik atau tidak), Anda mungkin akan memperlambat, mengulangi, atau menjelaskan secara berlebihan, sehingga memberi kesan bahwa Anda ‘berbicara.’ Frederick Erickson telah menunjukkan bahwa ini dapat terjadi dalam percakapan antara pembicara kulit hitam dan putih, karena kebiasaan yang berbeda sehubungan dengan menunjukkan pendengar. Penanda Wacana ‘Penanda wacana’ adalah istilah yang diberikan ahli bahasa untuk kata-kata kecil seperti ‘baik’, ‘oh’, ‘tetapi’, dan ‘dan’ yang memecah pembicaraan kita menjadi beberapa bagian dan menunjukkan hubungan antar bagian. ‘Oh’ mempersiapkan pendengar untuk hal yang mengejutkan atau baru diingat, dan ‘tetapi’ menunjukkan bahwa kalimat berikutnya bertentangan dengan kalimat sebelumnya. Namun, penanda ini tidak selalu berarti seperti yang kamus katakan. Beberapa orang menggunakan ‘dan’ hanya untuk memulai pemikiran baru, dan beberapa orang menempatkan ‘tetapi’ di akhir kalimat mereka, sebagai cara untuk mengakhiri dengan lembut. Menyadari bahwa kata-kata ini dapat berfungsi sebagai penanda wacana penting untuk mencegah frustrasi yang dapat dialami jika Anda mengharapkan setiap kata memiliki arti kamusnya setiap kali digunakan.

Speech Act Analisis tindak tutur tidak menanyakan apa bentuk ujaran itu, tetapi apa yang dilakukannya. Mengatakan “Saya sekarang menyatakan Anda pria dan istri” memberlakukan pernikahan. Mempelajari tindak tutur seperti memuji memungkinkan analis wacana menanyakan apa yang dianggap sebagai pujian, siapa yang memberikan pujian kepada siapa, dan fungsi lain apa yang dapat mereka layani. Misalnya, ahli bahasa telah mengamati bahwa wanita lebih mungkin memberikan pujian dan juga mendapatkan pujian. Ada juga perbedaan budaya; di India, kesopanan mengharuskan jika seseorang memuji salah satu milik Anda, Anda harus menawarkan untuk memberikan barang tersebut sebagai hadiah, jadi memuji bisa menjadi cara meminta sesuatu. Seorang wanita India yang baru saja bertemu dengan istri Amerika putranya terkejut mendengar menantu barunya memuji sarinya yang indah. Dia berkomentar, “Gadis seperti apa yang dia nikahi? Dia menginginkan segalanya!” Dengan membandingkan bagaimana orang-orang dalam budaya yang berbeda menggunakan bahasa, analis wacana berharap dapat memberikan kontribusi untuk meningkatkan pemahaman lintas budaya.

Salah Satu Bahasa Tabu

Orang-orang terus-menerus menyensor bahasa yang mereka gunakan (saya membedakan ini dari pengenaan sensor). Dalam masyarakat Barat kontemporer, tabu dan eufemisme terkait erat dengan konsep kesantunan dan wajah (pada dasarnya, citra diri seseorang). Umumnya, interaksi sosial berorientasi pada perilaku yang sopan dan hormat, atau setidaknya tidak menyinggung. untuk mempertimbangkan apakah apa yang mereka katakan akan memelihara, meningkatkan, atau merusak wajah mereka sendiri, serta untuk mempertimbangkan, dan merawat, kebutuhan wajah orang lain.

Kebanyakan sumpah serapah dan sebagian besar penggunaan ekspresi tabu dalam bahasa Inggris mengacu pada agama atau bagian tubuh dan proses tubuh, terutama yang terkait dengan aktivitas seksual atau dengan menggunakan toilet. Dalam bahasa Inggris, umpatan yang mengandung ungkapan tabu ‘agama’ cenderung lebih lemah daripada umpatan yang melibatkan ungkapan tabu ‘bagian tubuh’. Ungkapan tabu yang paling umum yang melibatkan ‘bagian tubuh’ adalah fuck (untuk melakukan hubungan seksual – kata digunakan baik sebagai kata benda dan sebagai kata kerja) dan kotoran (kotoran tubuh – kata digunakan baik sebagai kata benda dan sebagai sebuah kata sifat). Ketika kita bersumpah, kita biasanya menggunakan kata seru. Ini bisa berupa kata tunggal atau frasa atau klausa pendek. Kami paling sering menggunakannya untuk mengekspresikan perasaan yang kuat, terutama perasaan marah. Kekuatan kata-kata dan ekspresi di sini ditandai dengan bintang. Ekspresi yang sangat kuat memiliki lima bintang (******) dan ekspresi yang kurang kuat memiliki satu bintang (*). Orang-orang memiliki pandangan berbeda tentang ekspresi mana yang lebih kuat dari yang lain.

1. F*ck – Kata f-u-c-k adalah salah satu kata umpatan yang paling dikenal dalam bahasa Inggris. Kata f literal adalah versi singkat dari: ‘Percabulan Di Bawah Persetujuan Raja.’ Seperti kebanyakan kata umpatan, itu memang berasal dari referensi seksual, yang masih digunakan sampai sekarang.

2. Persetan kamu – Menambahkan kata ‘Anda’ berarti Anda mengarahkan pelanggaran ke orang lain. Ini sering digunakan sebagai lelucon atau ketika Anda sedang marah pada orang lain.

3. Sial – Arti lain dari kotoran adalah kotoran , tetapi sering digunakan secara internal ketika sesuatu yang tidak terduga muncul dalam hidup Anda. Contohnya adalah jika Anda lupa bahwa Anda memiliki proyek yang akan jatuh tempo minggu ini, Anda akan mengatakan ‘Sial! Saya benar-benar lupa tentang itu.

4. Kesal -Jika Anda ingin seseorang menjauh dari ruang pribadi Anda, Anda cukup menyuruh mereka untuk marah.

5. Kepala kon*ol – anda dapat membayangkan secara visual kata umpatan ini tanpa terlalu banyak usaha, saya yakin. Ini adalah panggilan nama yang umum digunakan untuk menggambarkan seseorang yang tidak adil atau tidak adil, tetapi bisa juga dengan teman sebagai lelucon.

6. Bajingan- ini adalah salah satu kata makian yang secara harfiah menggambarkan bagian tubuh kita (di pantat), tetapi juga digunakan sebagai kata makian.

7. Anak b*tch – Kata serbaguna yang dapat digunakan secara internal seperti kata ‘sialan’ atau ‘sialan’ tetapi juga dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang melemparkannya ke Anda.

8. Bajingan – Terjemahan harfiah untuk bajingan adalah anak haram atau anjing kampung. Ini digunakan sebagai kata benda untuk menggambarkan seseorang yang memberi Anda pengalaman yang tidak menyenangkan. Misalnya, jika seseorang menabrak Anda di kereta bawah tanah dan Anda akhirnya jatuh, menyebutnya bajingan mungkin tepat.

9. Jalang – Sebuah kata umum yang tidak hanya digunakan secara global tetapi dari laki-laki dan perempuan. Menurut penelitian ini, kata ‘jalang’ digunakan dalam 4,5 juta interaksi di Facebook, menjadikannya 5 kata umpatan paling umum dalam bahasa Inggris online.

10. Sialan – Ini bukan kata umpatan paling kasar yang digunakan di Amerika dan yang diucapkan kepada diri sendiri, bukan untuk menyakiti orang lain. Menurut survei ini, kata itu paling sering digunakan di bagian timur bawah Amerika Serikat.

11. T*nt – Sementara kata ini digunakan di Inggris dan di tempat lain, itu jauh lebih keras di Amerika Serikat. Hati-hati menggunakan ini, terutama di sekitar wanita, karena Anda mungkin akan segera memasuki interaksi fisik setelahnya. Kata-Kata Sumpah Inggris (UK) Orang Inggris memiliki salah satu kata umpatan yang paling orisinal. Mengingat dari situlah bahasa Inggris berasal, masuk akal jika mereka sangat unik! Kata-kata umpatan bahasa Inggris British berikut ini paling umum digunakan di Inggris tetapi perlahan-lahan dikenal di seluruh dunia.

12. Omong kosong Bollocks – adalah kata lain untuk ‘kotoran’, dan digunakan dengan cara yang persis sama. Perbedaannya adalah terjemahan literal dari kata-kata tersebut. Sementara ‘kotoran’ berarti kotoran, ‘omong kosong’ digunakan untuk menggambarkan testis Anda.

13. Pengacau – Salah satu kata yang paling umum digunakan oleh orang Inggris, bugger berarti menyodomi seseorang. Cara Anda menggunakannya adalah untuk menyatakan situasi yang tidak menyenangkan atau gangguan.

14. Neraka Berdarah – Dari semua kata-kata umpatan Inggris, ini mungkin yang dengan cepat digunakan oleh orang Amerika. Kata ‘berdarah’ juga merupakan kata dasar yang dapat dilampirkan pada kata lain untuk membentuk kata umpatan, seperti ‘berdarah tolol’ atau untuk menyeru kata lain, seperti ‘berdarah brilian!’

15. Choad – Choad hanyalah kata lain untuk penis dan dapat digunakan mirip dengan cara kata ‘kontol’ digunakan di Amerika.

16. Crikey – Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa ini bukan kata umpatan, tetapi ini adalah kata bahasa Inggris yang penting untuk dikenali. Crikey sering digunakan untuk menunjukkan keheranan dan keterkejutan, mirip dengan cara kata ‘Kristus!’ digunakan.

17. Sampah – Sampah adalah apa yang Inggris sebut sebagai ‘sampah.’ Jadi, ketika Anda memberi tahu seseorang bahwa pekerjaan mereka ‘sampah’, itu berarti itu sampah.

18. Bercinta – Untuk ‘shag’ berarti berhubungan seks. Tidak terlalu menyinggung ketika Anda menggunakannya di sekitar teman-teman Anda, tetapi hanya cara yang kurang langsung untuk menggambarkan percabulan.

19. Pengecut – Kata ‘wank’ berarti masturbasi, yang berarti menambahkan ‘er’ berarti Anda menyebut seseorang masturbasi.

20. Mengambil kencing – Jika seseorang dari tim Anda tidak produktif atau benar-benar bodoh, Anda dapat mengatakan ‘apakah Anda marah?’

21 Twat – diterjemahkan menjadi ‘p*ssy’ sehingga Anda dapat membayangkan bagaimana kata ini dapat digunakan dengan penuh warna dalam berbagai situasi. Lalai Kata-Kata Sumpah Australia (AU)

22. Sumpah Berdarah – Kode untuk: ‘F*ck Yeah!’ Sering digunakan untuk menunjukkan dukungan besar Anda untuk sesuatu.

23. Akar Apa ‘shag’ – bagi orang Inggris, kata ‘root’ untuk orang Australia. Digunakan sangat mirip.

24. Dapatkan Boneka Pengganti yang mudah untuk memberitahu seseorang untuk ‘mengganggu’ atau ‘mengecewakan.’

25. Peluk aku Yang ini mungkin agak membingungkan karena kata ‘saya’ digunakan di sini. Tapi itu juga berarti ‘tersesat.’ Istilah yang lebih tepat adalah ‘bugger off’

26. Cukup menyedot sav Kami harus mengakhiri daftar kata-kata kutukan bahasa Inggris kami dengan yang istimewa ini. Kata “sav” adalah kependekan dari saveloy, atau merah, seasone

Term of Address Lagi

Dunia vlogging makin merajai bundaran internet terutama aplikasi youtube. Ngevlog ada bermacam-macam performance yang ditunjukkan. Salah satu yang saya banyak perhatikan adalah addressing atau panggilan. Hal ini bisa dilihat di vlogging podcast, dongeng atau bercerita dan lain sebagainya. Dengan berbicara di depan kamera hp atau kamera profesional lainnhya maka munculah apa yang disebut dengan addressing.

Addresing adalah bermaksud mengajak interaksi para viewer atau pemirsa dengan cara memberikan panggilan-panggilan akrab. Panggilan akrab akan memberikan kesan bersahaja, mengikut sertakan viewer dalam komunikasi antar pembicara dalam vlog dengan pemirsanya. Addresing akan memberikan kesan seolah-olah viewers atau pemirsa ikut serta aktif di dalam proses vlogging.

Banyak juga terjadi, karena sang vlogger tidak memberikan kesempatan berperan antara pemirsa dengan aktivitas ngevlognya. Jadi hanya sekedar bicara tanpa menyapa dan memanggil. Hal ini b isa mengakibatkan video menjadi kurang menarik. Hal ini pula juga menyebabkan rating berpengaruh ke atas atau bahkan ke bawah.

Pada youtube vlog dengan nama Santo Sapi, dia memberi istilah unik kepada pemirsa videonya yaitu “lilike” atau lik. Dalam bahasa Jawa dialek Cilacap lik adalah kependekan dari bulik. Bulik atau bulek di boso Jawatimuran berarti panggilan untuk yang lebih muda dari ibunda kita. Sehingga lilike yang disebutkan Santo Sapi adalah panggilan kepada viewer yang dibahasakan statusnya lebih muda dari ibunda Santo, yang nama beliau adalah Ibu Dirah.

Panggilan penuh keakaraban yang digunakan Santo Sapi dalam vlognya memang sangat interaktif. Awal vlog Santo Sapi muncul memang masih menggunakan kata bapak/ibu. Namun seiring perjalanan Santo Sapi merubah bahasa vlognya menjadi bahasa Jawa dialeg Cilacap. Dan ternyata menurut pengakuan dia, dengan ngevlog berbahasa Cilacap justru menaikkan rating youtube yang telah dirilisnya 2 tahun lalu. Perubahan dari bapak/ibu menjadi lilike inilah yang merubah rating youtube Santo menjadi significant.

Pada vlog youtube Nadya Omara, seorang pendongeng, dia menggunakan addressing wak atau wak-wak. Wak dalam bahasa Sunda adalah panggilan bagi orang yang lebih tua dari orang tua kita. Bisa juga disebut pakde/bude dalam boso Jawatimuran. Namun Nadya gunakan panggilan wak dalam hal ini adalah istilah dalam bahasa Melayu Riau karena Nadya adalah orang Riau. Penggunaan kata wak dalam youtube vlog Nadya Omara sama seringnya dengan penggunan kata lik/lilike dalam vlog Santo Sapi. Terms of address ini sangat sering disebut dalam vlog mereka sehingga memang yang terjadi pemirsa merasa sangat disertakan dalam komunikasi.

Addressing seperti teman-teman, sobat, pemirsa sangat sering dipergunakan dalam yotube vlog terutama yang banyak menggunakan percakapan. Namun seiring waktu viewers semakin pintar memilih mana yang menarik dan nyaman untuk disimak. Wajah tidak perlu cantik dan bagus, ternyata komunikasi dengan menggunakan addressing yang tepat justru lebih menjanjikan rating youtube.

Heci Makanan Peranakan

Heci, mungkin anda tahu banget dengan penganan yang cukup populer ini. Sejenis cemilan gorengan yang sangat dikenal di Malang dan di kota-kota lainnya.

Heci cemilan gorengan yang berbahan tepung terigu dan sayuran. Sayur-sayurnya terdiri dari kol, wortel, daun bawang dan lain-lain. Kadang ada yang menambahkan udang di tengahnya. Lalu setelah diaduk merata, adonan ini digoreng dengan metode deep frying hingga berwarna golden brown.

Kadang heci juga diselipkan bukan hanya udang, tetapi kacang tanah beberapa biji di tengahnya. Heci yang satu ini bisa anda temukan di kota Madiun.

Di kota Malang heci biasa disantap dengan petis udang atau ikan. Petis memang sangat digemari oleh masyarakat Jawa Timur terutama di daerah penghasil petis seperti Sidoarjo dan Gresik. Juga Banyuwangi. Petis sangat kental berbentuk pasta padat sehingga harus dicairkan dulu dengan air hangat lalu direbus dengan bumbu-bumbu seperti gula, bawang putih dan cabe rawit.

Seperti halnya di Malang, heci menggunakan saus cocolan petis, maka heci di Bandung yang disebut dengan bala-bala disantap dengan kuah kacang. Orang Bandung sangat menyukai makan gorengan dengan cocolan saus kacang tanah. Bala-bala di Bandung sedikit berbeda dengan heci Malang, dia berbentuk abstrak dan tidak dicetak. Sehingga bentuknya menyerupai bakwan jagung.

Sejenis heci pula, bisa kita temukan di Jepang. Disana disebut Okonomiyaki. Penganan ini berbentuk lebar, lebih mirip ke pancake. Saus yang disukai para muda di Jepang adalah mayones. Okonomiyaki juga disantap dengan saus khusus yang namanya saus okonomiyaki. Pula ditambah dengan saus sambal dan tomat.

Jika kita bergeser ke daerah pelosok kita juga temukan heci dengan sayuran khusus yaitu daun beluntas. Daun yang memiliki cita rasa jamu ini ternyata bisa dicampurkan ke dalam adonan heci. Dan heci daun beluntas disantap dengan cabe rawit hijau, karena tidak menggunakan petis. Heci ini bisa kita temukan di daerah Nganjuk Jawa Timur.

Ada pula varian heci jenis lain yaitu heci dengan sayuran daun kelor. Daun kelor banyak mengandung vitamin dan berkhasiat untuk menyembuhkan banyak penyakit. Tetapi siapa sangka daun yang disebut herbal ajaib ini bisa dijadikan bahan sayuran untuk heci. Heci daun kelor bisa kita temukan di Klaten Jawa Tengah. Disamping daun kelor heci di Klaten ini dicampur juga dengan wortel, tauge dan kol. Heci ini cukup disantap dengan cabe rawit kuning. Di Jawa Tengah heci disebut dengan bakwan.

Meski dekat dengan kota Malang, heci di Porong Sidoarjo disebut dengan Ote-ote Porong. Penganan senada dengan heci di Porong ini menggunakan tepung yang terbuat dari kedelai. Ote-ote Porong berongga di tengahya sehingga terlihat menggelembung. Kebanyakan Ote-ote Porong menggunakan filling atau isian daging. Sayur yang dicampurkan di dalam nya adalah daun bawang perai atau pre. Ote-ote Porong sangat disukai masyarakat Jawa Timur karena rasanya yang lezat. Kebanyakan Ote-ote Porong dijual oleh warga keturunan Chinese karena memang baik heci maupun Ote-ote Porong ini adalah makanan peranakan. Penganan ini seperti halnya heci Jawa Timuran disantap dengan saus petis udang Sidoarjo.

Di Solo kita bisa temukan Ote-ote Porong di penjual jajan basah berdampingan dengan sosis solo, bakwan dan gembus. Dan di Solo Ote-ote Porong disebut dengan Pia-pia.

Happy bercemilan..

Kuliner Soto

Soto Rempah

Membicarakan kuliner ini seperti tak habis-habis. Seperti Soto Rempah ini. Soto ini selalu menjadi santapan wajib di pagi hari di kota Solo. Soto ini pula yang selalu menjadi inspirasi untuk menulis dan mengulas kuliner Nusantara.

Soto Rempah cukup dikenal di kota Solo atau Surakarta karena bumbu-bumbunya yang cukup banyak. Meski tidak sekental Gulai Kambing, bumbu soto rempah ini sudah mendekati paling lengkap. Tentu saja pasti ada kunyit, karena kebanyakan warna soto adalah kuning. Lalu ada bumbu-bumbu wajib lainnya hingga gunakan bunga lawang, kayu manis dan cengkehpun. Hanya memang sekali lagi tidak seperti gulai kambing.

Soto Rempah tidak terlalu pekat, cenderung bening namun cukup berasa rempah-rempahnya. Itulah kemudian dikenal dengan nama Soto Rempah.

Mungkin hanya Soto Rempah di nusantara ini yang memiliki pendamping lauk cukup beragam. Hal ini karena pendamping-pendamping ini selalu tersedia di meja warung. Diantaranya adalah tempe goreng, mendoan, gembus, sundukan dan karak. Kesemuanya ini wajib tersedia di meja warung soto rempah.

Hal ini mengakibatkan kuliner soto rempah menjadi bergeser menunya yaitu soto dengan pendamping tempe dan lain-lain. Resep soto pun bergeser, dari soto yang hanya daging dan topping kecambah berubah menjadi soto dengan pendamping tempe goreng dan sundukan. Bila tidak ada pendamping ini serasa belum afdol makan soto rempah.

Memang saya akui soto rempah sangat lezat bila disantap dengan gembus.

Terms of Address Kedua

Lagi-lagi terms of address. Membaca tulisan iseng seorang teman yang menyampaikan kebingungannya sesaat. Bingung karena takut salah sebut, sebutan untuk memanggil kepada seseorang. Addressing atau panggilan atau dalam bahasa akademiknya adalah terms of address yang memiliki aturan tertentu pada tiap-tiap keadaan.

Ada seorang dosen yang sangat kami hormati di lingkungan tempat kerja. Beliau menyandang gelar cukup banyak karena pencapaian akademiknya yang cukup panjang. Gelar professor, doktor, bahkan haji sudah lama bertahan di depan namanya. Belum lagi gelar di belakangnya, ada magister macam-macam. Yang belum ada hanya gelar almarhum atau yang sering ditulis dalam tanda kurung (alm).

Namun siapa sangka gelar-gelar berentetan ini justru membuat kita bingung untuk memanggil atau menyebut. Secara lingkungan kerja kami ini adalah lingkungan dimana setiap senior, terutama alumni akan dipanggil dengan sebutan mentereng yaitu USTADZ. Meski bukan alumni pesantren dan meski bukan orang-orang yang mengemban misi agama.

Sehingga semakin panjang daftar kata panggil yang akan kita sebut yang kita ucapkan kepada satu orang saja. Saat kita akan panggil beliau “prof”, nah mungkin tepat bila berada di dalam kelas. Saat berada di kelas dengan mahasiswa alumni maka hampir semua sepakat memanggil dengan sebutan “ustadz”. Karena mahasiswa selalu memanggil dosennya dengan kata ustadz, apapun bidang yang digelutinya.

Sebenarnya kata panggil “pak” kepada seorang pria berumur 25 tahun ke atas mungkin adalah kata yang paling tepat digunakan. Kata “pak” sangat luwes disampaikan kepada siapapun yang bergender laki-laki. Bahkan sangat lebih menghargai apabila disebutkan kata lengkapnya yaitu “bapak”.

Namun pandangan dan pikiran setiap orang berbeda-beda saat ingin dihargai dengan cara memanggil. Kadang dia lupa dan tidak menganut konvensi, akhirnya yang muncul adalah kesalah pahama dan marah-marah. Seorang professor tidak terima dipanggil “pak”. Sudah barang tentu, beliau bersusah payah untuk dapatin gelar berentetan. Lalu dengan terburu-buru segera dikoreksi oleh teman dengan panggilan “ustadz” karena beliau adalah senior di lokasi kerja. Apa yang terjadi?

Malah marah meluap-luap karena ditambah dengan ungkapan kata ganti kedua “anda”.

Kadang terms of address itu banyak dipengaruhi oleh faktor emosi psikologis, latar belakang budaya seseorang hingga ditentukan kata panggil itu, dan lain-lain.

Di instagram ada kisah pilu seorang anak yang membawa ibunya ke panti jompo. Ibu yang memiliki 6 orang anak ini berusia hampir 70 tahun. Menurut keterangan dari pihak panti, ibu ini sudah diserahkan oleh anak-anaknya kepada panti untuk diurus keperluannya sehari-hari.

Dan berita ini lalu menjadi viral lantaran diungkapkan dengan kalimat-kalimat heboh. Seorang ibu dibuang anaknya ke panti jompo. Ada lagi seorang ibu sanggup mengurus 6 orang anaknya sampai menginjak dewasa. Namun 6 orang anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal ini menjadikan salah satu anak klarifikasi atas berita yang sudah tersebar kemana-mana.

Dalam klarifikasinya, anak berusia dewasa dan sudah berumah tangga mengungkapkan ketidak sanggupannya untuk merawat ibu yang sudah tua. Hal ini dikarenakan bahwa ibunya sering berulah dan mengancam anak-anaknya untuk berpisah dengan pasangan masing-masing. Atau ada juga cerita salah satu anak yang memang tidak lagi bisa menerima keadaan sang ibu yang suka berbuat onar, kasar, berbicara kotor dan banyak lagi. Dari klarifikasi sang anak, terlihat dia tidak terima bila disebut membuang orang tuanya, karena banyak sekali penyebab mereka harus dengan terpaksa menitipkan orangtua ke panti jompo.

Di negeri ini memang masih tabu bila ada keluarga yang menitipkan orang tua ke panti jompo. Beda dengan di negara-negara lain yang memang sudah terbiasa dengan keadaan bahwa orang tua bisa tinggal di panti jompo lebih aman.

Mungkin karena suara netizen lebih dominan dan menguasai, memaksa anak-anak ibu ini untuk klarifikasi. Namun si anak ini dengan situasi yang tidak jelas, klarifikasi dengan hanya suara bukan video, menyebut kata ganti kedua untuk ibunya dengan kata panggil “dia”. Hal ini semakin membuat marah netizen. dan semakin yakin bahwa sang anak ini memang sudah melakukan kesalahan besar, menitipkan orang tuanya ke panti jompo.

Sekali lagi kata panggil yang sangat crucial dan tidak lagi mudah untuk disebut.

Kita tidak tahu apa fakta di balik klarifikasi sang anak, dan mengapa anak ini menyebut dengan kata “dia:. Disaat nada suara yang terdengar adalah pelan dan sopan.

Memang terms of address cukup rumit.

Love Soto Nusantara

Seperti layaknya Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya. Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi  Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.

Termyata cukup banyak juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur, gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan. Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis karena kotanya belum saya sebut.

Namun kuliner Soto Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih, jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.

Seperti misalnya Soto Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo. Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto Suroboyoan tersebut.

Di Kalimantan sebagian besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh. Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing. Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya. Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana, karena semua enyak.

Karena menyebut Coto Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai Coto Makassar.  Juga raja-raja Bugis Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya, dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan, pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.

Dengan mempergunakan topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya. Eh..

Di Pacitan, Sotonya berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.

Di sebuah desa di Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.

Seperti halnya Soto Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada  malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe bacem, dan karak.

Seperti halnya Soto yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama sebagai warisan  dari masyarakat Chinese yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar, Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau. Hmm jadi pingin L

Rendang Padang memang paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang. Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak, Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata. Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.

Mirip dengan Coto Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan kentang rebus seperti soto Jawatimuran.

Bumbu Soto Nusantara memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini. Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge, daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion lainnya.

“Bila kita ingin mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”

IKAMI Sulsel Inspirasiku

I

Oleh : Ika Farihah Hentihu (Daeng Te’ne)

“Puang Ika..” Salah satu teman, Ipung mahasiswa UIN anggota IKAMI SULSEL MALANG memanggilku dengan serta merta. Kelihatannya aku masih belum familiar dengan panggilan ini. Puang terdengar sangat hormat dan menjadi terhormat saat diucapkan. Dan dengan tanpa menunggu langsung kubrowsing kata Puang ini karena rasa penasaran. Terkejut setelah membacanya. Ternyata Puang sangat berarti dalam. Begitu juga dengan Andi, Baso, Daeng, Karaeng, Tetta bahkan Petta.. dan lain-lainnya.

Berawal dari sebuah puisi yang kutulis dengan judul KARAENG GALESONG di blog pribadi, puisi yang mengisahkan tentang perjalananku mencapai lokasi makam dan merenung yang tak pernah kukenal sebelumnya, meski aku tinggal di kota yang sama dengan lokasi makam ini. Dan iyya, sekali lagi aku gunakan Google untuk mengetahui apa makna dari kata Karaeng. Saat itu tahun 2006, Google masih sepi penghuni, apalagi saat menelusuri kata Karaeng dan Karaeng Galesong. Hanya ada beberapa halaman saja kemunculannya.

Tapi rasa penasaranku Alhamdulillah kemudian terjawab saat ada seorang teman berkomentar terhadap puisi yang telah kutulis di blog. Adalah Ucheng atau Ahmad Husain yang kemudian menjadi sahabatku dan sumber inspirasiku. Dari dia pula kemudian aku berkenalan dengan IKAMI SULSEL MALANG. Uchenglah yang memberi komentar terhadap puisi yang telah kubuat di blog. Kemudian dia menghubungiku melalui email. Dan sekali lagi saat itu masih belum banyak aktifitas internet, sehingga lama baru kubalas email dari dia. Saat bertemu Ucheng, aku juga bertemu dengan Kahfi yang juga sama-sama memberiku kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-tema IKAMI SULSEL MALANG.

Foto 1. Blogger kampus putih UMM bertemu di cafe

Inilah puisi yang kuciptakan hingga membawaku berkenalan dengan sahabat-sahabatku IKAMI SULSEL MALANG.

Rinduku Galesong

Oleh : Ika Farihah Hentihu

Rinduku

Aku Rindu

Aku Rindu Pada Galesong

Aku Rindu Pada Sombayya, Ayahku

Aku rindu dimandikan Di Bungung Baraniya

Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku

Tapi Aku tahu, Ayah panggil nama kecilku

Baso…sini kau nak, Baso…sini kau nak

Aku disini aman Ayah, bersama dengan istriku…

Potre Koneng

Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?

Aku selalu bermimpi tentang ayah

Saat kita bersama berkuda di Pantai Galesong

Mendengar nasihat-nasihat bijakmu

Aku ingin bersimpuh di depanmu ayah

Mengenang saat aku akan pergi ke Marege

Aku tidak ke Marege Ayah, tolong percayalah

Aku tidak ke Marege

Marege!

Ayah pasti tahu itu.

(Karaeng Galesong, Malang)

Masih saja terngiang aku saat membaca puisi ini. Ini adalah kegalauan Karaeng Galesong karena tidak kembali ke Gowa. Dia pun rindu ingin bertemu Sultan Hasanuddin dan ingin mengungkapkan bahwa dia tidak jadi pergi ke Marege Australia. Hal ini karena saat Karaeng Galesong berpamit, dia mengatakan akan pergi ke Marege. Dan saat melalui pulau Bali, Karaeng Galesong dengan pasukannya berhenti untuk mengambil air dan makanan. Dari situlah sejarah dimulai. Karaeng Galesong mendapat khabar bahwa Trunojoyo berjuang melawan VOC. Sehingga beliau meneruskan perjalanan ke Barat. Semua pasukan yaitu terdiri dari 700 buah kapal dan sekitar 8000 lasykar dan keluarganya bergerak menuju Probolinggo dan selanjutnya menuju Malang, kota kelahiranku.

Berkenalan dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG memang cukup seru. Dan ini menjadi sumber inspirasi keduaku setelah bertemu dengan Ucheng. Maklum aku hanyalah penulis pemula yang tau-tau tertarik dengan budaya Bugis Makassar. Padahal aku sama sekali tidak memiliki informasi tentang Sulsel. Aku belum pernah mencapai pulau Celebes. Sehingga saat itu hanya berangan-angan saja, bisakah aku mencapai pulau itu. Melihat secara langsung, life, lokasi dimana Sultan Hasanuddin berada, lokasi dimana Karaeng Galesong dilahirkan dan juga tak ketinggalan aku ingin sekali melihat Bone untuk ‘bertemu’ dengan Aru Palakka. Itu semua hanya angan-anganku selama 6 tahun berinteraksi dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG.

Masih penasaran dengan bermacam nama panggilan yang sering dilontarkan oleh sahabat-sahabat IKAMI SULSEL MALANG, akupun bergerak ke asrama mereka yang kutau hanya di Telaga Al Kautsar. Belakangan baru ku tau bahwa asrama mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG adalah di Jl. Dieng. Dan jujur aku hanya duduk terdiam mendengar mereka bicara dengan logat yang berbeda, kata panggil yang bermacam pula. Dan dari sini lah rasa penasaranku berlanjut. Banyak nama panggilan yang sering disebut oleh mereka, termasuk Daeng. Ini yang paling populer. Hanya saja setelah kubrowsing info tentang nama panggilan, ada beberapa kata panggil untuk masyarakat Makassar dan Bugis.

Daeng adalah kata dalam bahasa daerah Sulawesi Selatan yang berarti kakak lelaki atau seseorang yang lebih tua. Tapi kata Daeng mempunyai makna yang berbeda di tiap suku daerah di Sulawesi Selatan. Suku Bugis dan Makassar adalah suku yang besar di daerah Sulawesi Selatan yang sering menggunakan kata Daeng dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari. “Kita biasanya memanggil daeng sebagai panggilan untuk lebih menghormati, karena kalau langsung nama akan terkesan kasar,” Seperti yang dituturkan Ucheng kepadaku.

Di dalam perkembangannya sendiri, panggilan Daeng telah memiliki makna yang beragam. Bisa bermakna kakak, bisa juga menunjukkan kelas sosial seseorang. Dengan demikian penggunaannya harus diperhatikan baik-baik, karena kata Daeng sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial tertentu. Beberapa pergeseran kutemui saat berada di Makassar yaitu memanggil supir pete-pete dengan panggilan Daeng.

Sedangkan masyarakat Bugis sangat ketat dalam penerapan tata adat di kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sosial. Sejak masa pra Islam masyarakat Bugis mudah mengenal stratifikasi sosial (pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal/bertingkat). Berkembangya pelapisan masyarakat secara tajam tumbuh di saat yang sama terbentuknya kerajaan. Hal ini menimbulkan jarak sosial antara golongan bawah dan golongan atas dalam lapisan masyarakat.

Suku Bugis pada jaman dulu mengenal tiga kasta. Kasta yang paling tinggi adalah Arung (Bangsawan) yang memiliki beberapa sub kasta turunan. Kasta selanjutnya adalah To Maradeka atau orang merdeka (Masyarakat Kebanyakan). Sedangkan kasta yang paling bawah adalah Ata yang berarti budak. Kasta terendah ini kurasa sudah tidak pernah lagi disebut-sebut alias tidak ada. Hal ini tampak pada bangunan rumah Bugis yang tidak lagi ditemukan berspesifikasi Ata. Dan kita sebenarnya adalah To Maradeka, tidak pernah ada lagi yang membedakan status sosial kecuali kalau memang dibutuhkan untuk kegiatan upacara.

Foto 2. Rumah kediaman Bapak Rindam Latief di Sengkang

Mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG untungnya sangat rajin dan peduli. Berbagai kegiatan diadakan oleh komunitas ORDA ini. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dari mulai yang paling kecil skalanya sampai yang paling megah yaitu BUDAYATA. Diskusi lepas diadakan tiap minggu, hingga ulang tahun salah satu anggota yang dibuat surprised. Aku tenggelam dalam gegap gempita celoteh mahasiswa asal Celebes yang cukup nano-nano bagiku. Kadang mengernyit karena tidak tau artinya. Tapi pelahan kupahami apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka ungkapkan dan apa yang mereka lakukan dan inginkan.

Mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG sangat peduli dengan lingkungan. Beberapa kali saya diundang untuk memperingati Hari Bumi, Hari Ibu dan juga hari-hari lainnya. Saat itu mereka berduyun-duyun menuju alun-alun kota Malang dan membantu membersihkan daun-daun disana. Benar-benar cape menjadi mahasiswa IKAMI MALANG sepertinya karena tiada hari tanpa kegiatan bagi mahasiswa. Sampai ada yang sakit hingga dirawat di RS karena lumayan parah. Sehingga berduyun-duyunlah teman-teman IKAMI ini, ikutan nginep di RS jagain Syifa Rasyid. Kemanapun mahasiswa IKAMI selalu grubyak grubyuk, rame dan bersama-sama.

Sesekali mereka sembelih kambing dan mengolahnya menjadi Coto Makassar. Itulah untuk pertama kalinya saya merasakan kuliner terbaik Celebes yang sangat legendaris ini. Sempat kuajak teman kantor yang berasal dari Sengkang untuk ikut menikmati Coto di Asrama DIeng. Sempat dia ungkapkan dengan nada gurauan bahwa setiap hari dia makan pecel yang disajikan oleh istrinya yang orang Jawa. Sehingga menyantap Coto Makassar membuatnya merasa refreshing. Semua teman disana ketawa renyah mendengar curhatannya.

Setelah kenyang menyantap Coto, seperti biasa kubrowsing makna kuliner ini. Ternyata sangat mengejutkan. Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Tidak seperti soto-soto Nusantara yang lain yang memiliki latar belakang budaya lokal, Coto ini sangat dikenal legend. Dan baru kutahu bahwa isi Coto Makassar adalah jerohan sapi dimana hidangan ini sangat disukai oleh para Raja Bugis dan Makassar. Pertanyaannya kalau jerohannya disantap oleh para raja, apakah rakyat jelata kemudian yang mengkonsumsi dagingnya. Ini masih menjadi pertanyaan bagiku. Namun kalau saat ini kita bisa memilih karena sudah banyak yang peduli dengan kesehatan, untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi jerohan sapi. Setuju lah.

Beberapa kali mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG mengadakan kegiatan pra acara BUDAYATA. Meski begitu tidak mengurangi hingar binger kegiatan BUDAYATA yang sesungguhnya. Akupun mencoba hadir di kegiatan yang mereka adakan, sambil korek-korek kebiasaan rakyat SULSEL yang tercermin pada sahabat-sahabat IKAMI SULSEL MALANG. Ada tari-tari yang menggambarkan permainan saat masa kecil, drama-drama dengan dialog Bugis bahkan kegiatan permainan anak-anak. Permainan anak sangat seru apalagi kalau dihadiri oleh mahasiswa Pasca S2 dan S3 asal Bugis Makassar. Kebanyakan mereka berumur hampir paro baya, sehingga saat diajak main kelereng, egrang, dende-dende dan permainan lainnya, mereka sangat menikmati. Teman-teman mahasiswa bahkan sudah pada pulang, tapi teman-teman Pasca masih bertahan lompat-lompat disana, Kasiang..

Pengalaman yang paling berkesan saat itu adalah saat Irma, salah satu mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG asal Kalimantan meminjamiku baju Bodo atau baju Tokko. Baju-baju tersebut adalah koleksi pribadi komunitas, termasuk pula perhiasannya. Wah betapa bahagianya aku mengenakan baju dan sarung tersebut. Dan surprised, kemudian kukenakan baju adat Sulsel, ini adalah moment yang kutunggu-tunggu. Bangga sekali rasanya, setelah sekian lama hanya bicara dan menulis, akhirnya aku mengenakan. Baju ini yang akhirnya kukenakan saat acara BUDAYATA pertama di café itu.

Foto 3. Festival Budayata pertama

Adalah Abi, seorang mahasiswa jurusan Teknik yang memiliki jiwa seni dan budaya cukup kental yang dengan ikhlas menyerahkan koleksi keluarga di Bone kepada komunitas mahasiswa IKAMI. Baju-baju, sarung dan pernak perniknya inilah yang salah satunya kupakai pada BUDAYATA. Gelang lengan yang tadinya belum lengkap, dengan petunjuk Abi, akupun mencoba untuk menjahit. Dan jadilah sebuah gelang lengan yang sesekali dipergunakan menari oleh mahasiswi-mahasiswi. Tari Angin Mamiri, tari Kipas dan yang paling heboh tari yang para penarinya membawa obor. Abi pun dengan sangat serius mengolah acara ini dari sejak pemilihan busana hingga mata acara yang ditampilkan. Abi tipe orang serius, berpuluh toko telah dia lewati bersamaku dengan Irma. Tapi sedikitpun tidak ada yang menggoyah hatinya. Kain-kain di Malang tidak ada yang sesuai dengan kata hatinya. Walhasil teman-teman pun mendatangkan kostum-kostum ini dari Makassar sekaligus dengan pemain perkusinya. Heboh banget pokoknya.

Sampailah kemudian pada moment paling penting, aku bisa datang dan hadir melihat Makassar secara langsung. Saat kuinjak pulau Celebes, udara hangat menyelimuti. Tapi kebahagiaanku sudah terbayar karena 6 tahun menunggu agar bisa menginjak pulau Celebes. Adalah Prof. Aminuddin Salle yang banyak membaca tulisanku tentang Karaeng Galesong di website, beliaulah yang memfasilitasiku untuk datang ke Galesong dan mengijinkan tulisan-tulisanku untuk diterbitkan oleh Yayasan AS Center. Merupakan suatu kebanggan dan kehormatan bagiku karena dengan tulisan yang remeh temah namun membawa dampak cukup terasa bagi keluarga keturunan Karaeng Galesong hingga raja terakhirnya sekarang yaitu Prof. Aminuddin Salle. Seorang guru besar bidang Hukum Tanah Adat Universitas Hasanuddin. Dan beliau pula yang mengantarku ke Bala Lompoa Galesong dan memberiku nama Paddaengang yaitu Daeng Te’ne. Beberapa kali masih tergagap-gagap karena belum hafal dengan nama ini. Namun kemudian menjadi terbiasa karena banyak yang memanggilku dengan nama paddaengang ini, Daeng Te’ne.

Foto 4. Launching Novel Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram

Tiba di Bala Lompoa Galesong adalah sebuah keniscayaan, namun siapa nyana aku bisa mencapai Istana Galesong dimana disana masih tersimpan artefak-artefak peninggalan Raja Galesong pertama hingga sekarang. Ada juga Bungung Baraniya, sebuah sumur yang tak jauh dari Bala Lompoa Galesong dimana para lasykar-lasykar Karaeng Galesong yang hendak berangkat menuju medan laga, dimandikan di sumur ini. Sumur ini cukup tua, legend dan berbau sejarah cukup kuat. Akupun sudah mencoba minum air dari Bungung Baraniya, segar dan viral. Karena setelah aku minum air ini, fotoku tersebar ke socmed. Dibilang seorang peneliti sejarah  minum air dari Bungung Baraniya. Waduh!

Foto 5. Minum air dari Bungung Baraniya Galesong Takalar

Wajo, Sengkang, Barru, Sidrap dan Takalar adalah daerah yang sudah kulalui, sangat membahagiakan sudah berada di tanah Bone. Seorang sahabat mengajakku kesana. Beberapa tempat kulalui, yaitu Tosora dan makam Syekh Jamaluddin Akbar Al Husaini dan juga tak lupa pula mendatangi makam La Madukeleng. Saat melalui Tosora, temanku banyak bercerita bahwa daerah ini adalah daerah pertempuran Aru Palakka. Dan sepertinya aku bisa rasakan itu disana. Sempat mampir sebentar setelah melihat seorang wanita menenun kain, dan semangat selfie ku jadi membara melihat mesin tenun manual tersebut. Lalu jadilah sebuah foto seorang cewek asal kota Malang yang menenun di Tosora. Ngakak berkali-kali melihat polahku yang tak terkendali.

Foto 6. Di Tosora

Kalau selama ini aku mendengar lagu Danau Tempe, nah saat itu aku melihat secara life danau tersebut. Memang airnya sudah sangat berkurang. Hal ini karena pasokan air dari Sungai Sa’dang Toraja yang juga berkurang. Sungai Sa’dang adalah sungai yang acap kali dipergunakan para rafter karena geografi sungai yang lumayan menantang. Namun tidak mengurangi rasa bahagiaku bisa melihat Danau Tempe ini dari dekat sambil nyanyi-nyanyi Bulu Alauna Tempeeeee.. yihaaa.

Banyak kenangan manis yang kudapatkan dari mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG. Jayalah IKAMI SULSEL, Jayalah IKAMI SULSEL MALANG.

                                                                              Malang, 22 Sept 2021

Hidangan Lebaran

Setiap menjelang lebaran hampir semua orang disibukkan mempersiapkan untuk hari Lebaran, hari kemenangan, hari yang ditunggu-tunggu setelah sebulan menahan diri dengan berpuasa selama 30 hari.

Apa saja persiapan yang biasa dilakukan menjelang lebaran?

Yang jelas selain baju lebaran, ibu-ibu selalu menyiapkan hidangan apa yang nanti akan disantap sepulang dari sholat Ied. Sehingga nggak heran orang belum salam-sal;aman memohon maaf, hidangannya disikat duluan. Mungkin karena nggak sabar menunggu dan sudah menahan selama 30 hari.

Beberapa masyarakat di tanah air banyak menyediakan ketupat untuk hidangan utama di saat lebaran. Yaitu di hari pertama Iedul Fitri. Namun mungkin beda yang terjadi dengan masyarakat di Jawa Timur khususnya di kota Malang, di kota kelahiran saya.

Ketupat.. ketupat..ketupat.. hanya ada di hari ke 5 lebaran. Mungkin banyak yang bertanya kenapa ketupat muncul di hari ke 5 lebaran. Hal ini karena di banyak tempat, ketupat merupakan hidangan wajib di saat lebaran. Apalagi selalu dibarengi dengan opor ayam, sambal goreng kentang hati dan rendang.

Ketupat yang muncul di hari setelah Iedul Fitri berfilosofi bahwa pada hari tersebut adalah hari dimana mereka yang berpuasa Syawal merayakan hari Raya yang sesungguhnya yaitu di hari ke 5. Budaya ini sehingga mengakar di kalangan masyarakat kota Malang dan sebagian kota Blitar..

Kadang kita tidak menemukan daun janur di pasar pada sehari menjelang lebaran. Sehingga digunakanlah daun pisang untuk membuat lontong beras.

Setiap daerah memang memiliki kebiasaan yang unik untuk menyediakan hidangan lebaran. Teman yang berada di Lampung ternyata menyediakan pempek khas Lampung saat lebaran. Kemudian teman-teman di Makassar sudah pasti menyediakan Coto Makassar untuk hidangan lebarannya. Dan pasti disediakan dengan lontong khas mereka yaitu buras. Bagi masyarakat Ambon, kota kelahiran orang tua, hidangan yang cukup penting dan jarang ada di hari -hari biasa yaitu Sup Sayuran dan Gado-gado.

Apa yang membuat hidangan ini sangat istimewa? Nah ternyata karena kesulitan untuk mendapatkan bahan bakunya yang membuat hidangan ini menjadi hidangan wajib saat lebaran.

Di Malang pun saat ini banyak kuliner lebaran sudah mulai bergeser. Bakso adalah makanan khas kota Malang yang cukup digemari. Sehingga bakso seringkali menjadi pilihan untuk disediakan saat lebaran.

Salam

#lebaran


Mudik

Mudik

Mudik menjadi sebuah budaya yang cukup kental dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tidaklah afdol kalau tidak mudik. Mudik merupakan wujud dari silaturahim dan kasih sayang kepada keluarga, orang tua dan sanak saudara..

Hal ini sudah berlaku lama pada budaya masyarakat Indonesia. Persiapan untuk mudik pasti dibuat sedemikian rupa, matang dan mantap. Hal ini karena mudik dilakukan berbatas tempat yang kadang sangat jauh. Sehingga apabila persiapan kurang matang maka kurang sempurna kegiatan mudik nanti

Kata mudik berasal dari kata udik yang berarti desa. Namun kata udik dalam hal ini seringkali berkonotasi kurang pantas. Seperti contoh begini :

“Dasar orang udik lu” (dasar orang desa kamu)

Maka kata udik sering disebut berkonotasi kurang baik karena ungkapan ini.

Namun tidak pernah diungkapkan seperti ini

“Saya berasal dari udik” (saya berasal dari desa)

Karena apabila akan mengungkapkan hal seperti ini maka istilah yang dipergunakan adalah tetap menggunakan kata desa.

Kadang kata membawa makna yang cukup luas. Mudik memang bagi orang kebanyakan adalah pulang ke desa. Namun Desa saat ini sudah tidak lagi berkonotasi sebuah tempat yang jauh dari istilah teknologi . Desa saat ini sudah menjadi lokasi yang lengkap dan modern meski masih diwarnai dengan suasana alam yang indah dan menawan.

#mudik