Tanda Alamiah Linguistik (The Nature of the Linguistic Sign: Icon, Index, Symbol)

Tanda alamiah linguistik meliputi tiga hal yaitu icon, index, dan symbol. Ada hubungan triadic didalam teori tentang tanda yang dinamakan dengan istilah semiotik yaitu tanda dipilih (representation), makna tanda (interpretation) dan objek itu sendiri (Pierce (1839-1914), misalnya: sebuah sepatu. Sepatu direpresentasikan berbeda-beda oleh setiap orang karena ada banyak jenis sepatu yaitu sepatu high heels atau sepatu fantofel, sepatu boots, sepatu sandal, dan sebagainya. Oleh karena itu, Pierce memperhitungkan keambiguitasan sebuah tanda, misalkan: jika seseorang menyebutkan kata “tas”, maka orang dapat melihat dari latar belakang orang yang menyampaikan pesan, ada beberapa faktor seperti gender, usia, tempat tinggal yang mempengaruhi pengertian “tas” tersebut. Pierce membuat komunikasi lebih mudah karena tidak akan terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan sebuah objek.

Dalam objek, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan sebelum memaknai sesuatu yaitu : 1) Ikon yaitu sebuah  tanda yang memiliki kemiripan “rupa” dengan wujud nyatanya. Penggambaran ikon ada dengan dua cara, yaitu ilustratif (sesuai bentuk aslinya) dan diagramattik (dalam bentuk penyederhanaan). Contoh : pohon, gunung, daun, tempat sampah, buku, dan sebagainya; 2) Indeks yaitu tanda yang menunjuk kepada sebuah arti, indeks sering juga disebut sebagai “petunjuk”. Contoh : marka jalan, lampu lalu-lintas, plang nama jalan, dan sebagainya; 3) Simbol yaitu  tanda yang bersifat mewakili sebuah hal yang lebih besar yang ada dibelakangnya. Simbol juga biasanya menunjukkan arti yang telah disepakati bersama dan setiap orang mengetahui makna tersebut,
contoh : logo perusahaan, simbol-simbol keagamaan (salib, bangunan mesjid, kitab suci), dan sebagainya.

Didalam pemaknaan tanda, kajian pragmatik dilakukan untuk melihat pilihan index  yang juga harus mempertimbangkan prinsip kerjasama dimana index dan symbol dapat di interpretasikan dengan cara yang berbeda didalam konteks yang berbeda pula jika tanda, symbol, dan index berada dalam bentuk tuturan yang penuh. Di dalam berkomunikasi dengan orang lain sehari-hari, kita sering mendengarkan orang yang berbicara kepada kita dengan kalimat yang tidak utuh yang tidak bisa kita kelompokkan ke dalam kalimat pernyataan ‘declarative’, kalimat tanya ‘interrogative’ maupun kalimat perintah ‘imperative’. Namun, kita sudah dapat mengerti maksud perkataan orang tersebut. Sehingga banyak kalimat yang dihasilkan didalam percakapan yang tidak bisa dianalisa secara linguistik yang menyebabkan kalimat-kalimat tersebut dibuang didalam keranjang sampah ‘waste basket’ dan kalimat-kalimat itu disebut pseudo-statements.  Sehingga sampai muncullah teori pragmatik karena pragmatics merupakan studi yang bersifat triadic yaitu dengan melihat dan memahami kalimat melalui bentuknya (form), maknanya (meaning), dan konteksnya (context).  Berikut ini contoh-contoh kalimat pragmatik yang menunjukkan icon, index, dan simbol:

  • Saiki wis jam 06.30 (seorang ibu kepada anaknya di jam berangkat sekolah)

Dari contoh kalimat diatas, kita dapat melihat konteksnya sebagai berikut: 1) penutur: ibu; 2) mitra tutur: anak; 3) tempat terjadi penuturan: di dapur; 4) benda-benda yang ada disekitar penuturan: meja makan, makanan, dan minuman; 5) latar pengetahuan ‘background knowledge’: ibu dan anak mengetahui bahwa jam masuk sekolah adalah jam 7, sedangkan waktu untuk makan pagi sebelum berangkat ke sekolah adalah jam 6.30.; sedangkan untuk bentuknya adalah dalam kalimat perintah; dan maknanya adalah ibu menyuruh anak beliau untuk segera makan pagi (rutinitas) karena sudah jam 6.30 sebelum berangkat ke sekolah.

  • Mbok, kula dibungkus lontong lombok kaleh (seorang pembeli kepada penjual rujak)

Dari contoh kalimat diatas, kita dapat melihat konteksnya sebagai berikut: 1) penutur: pembeli; 2) mitra tutur: penjual rujak; 3) tempat terjadi penuturan: di warung; 4) benda-benda yang ada disekitar penuturan: buah-buahan, lontong, petis, kerupuk, meja makan, makanan, dan minuman; 5) latar pengetahuan ‘background knowledge’: penjual dan pembeli sudah tahu bahwa ada rujak iris/tidak diberi lontong dan rujak yang diberi lontong; sedangkan untuk bentuknya adalah dalam kalimat pemberitahuan informasi/meminta sesuatu; dan maknanya adalah pembeli memberikan informasi kepada penjual bahwa dia memesan satu bungkus rujak dengan diberi lontong untuk dibawa pulang.

  • Wetengku wis lesu. Saiki wis jam 12, ayo tak traktir mangan nang kantin.

Dari contoh kalimat diatas, kita dapat melihat konteksnya sebagai berikut: 1) penutur: laki-laki; 2) mitra tutur: perempuan yang disukai oleh laki-laki tersebut; 3) tempat terjadi penuturan: di tempat kerja; 4) benda-benda yang ada disekitar penuturan: meja kerja, kursi; laptop; 5) latar pengetahuan ‘background knowledge’: laki-laki dan perempuan itu mengetahui kalau jam 12 adalah jam istirahat kerja, dan lelaki tersebut mengajak perempuan yang disukainya untuk makan bersama dengannya untuk pendekatan atau memperoleh perhatian dari perempuan tersebut.

#semiotics

#semiotika

#ikon

#indeks

#simbol

Tanda Linguistik Yang Tampak di Bahasa Lokal

Tanda dari ide linguistik tampak pada suatu komunitas yang cenderung lebih suka memakai bahasa lokal atau bahasa komunitas atau bahasa ibu jika berbicara dengan orang yang memiliki hubungan yang dekat dan memiliki latar belakang budaya yang sama (Sapir, 1949; Silverstain, 1976, 1979, 1981; Geertz, 1973; Turner, 1967, 1969). Kalau di Indonesia, hal ini juga sering kita lihat seperti orang Jawa yang lebih suka memilih untuk menggunakan bahasa Jawa ketika bertemu dengan seseorang yang berasal dari bahasa Jawa juga. Orang Sunda yang lebih suka berbicara bahasa Sunda jika bertemu dengan orang Sunda daripada menggunakan bahasa nasional.

Berikut ini contoh percakapan bahasa antara orang Jawa dengan orang Jawa dan orang Sunda dengan orang Sunda dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing (Sumber: http://www.wisatabdg.com/2013/10/contoh-dialog-bahasa-sunda-dengan-teman.html)

Bahasa Lokal Sunda

Dudi      :    Punten. Assalamualaikum

(Permisi. Assalamualaikum)

Andri     :    Mangga. Wa’alaikumsalaam. eh…geuningan Dudi? Sok asup. Urang keur ngabenerkeun komputer. Aya virusan. Karek bieu komputerna dipareuman.

(Silakan. Wa’alaikumsalam. Eh, Dudi? Silakan masuk. Saya lagi membetulkan    komputer. Ada virus. Baru saja komputernya dimatikan)

Dudi      :    Oh, kitu. Sarua, komputer urang ge keur rada ngaco. Teu make antivirus. Jadi we     

                   mindeng error. Kamarana euy di imah sepi kieu?

(Oh, gitu. Sama, komputer saya juga agak ngaco. Tidak pakai anti virus. Jadi sering  error. Pada kemana kok sepi?)

Andri     :    Puguhan keur arindit. Si Bapa tugas kaluar kota. Si Mamah bieu karek indit

                   nganteur  adi urang balanja ka toko buku.

(Lagi pada pergi. Bapak lagi tugas keluar kota. Mama baru saja pergi mengantar

adik  saya belanja ke toko buku).

Dudi      :    Maneh teu kamamana euy?

(Kamu gak pergi kemana-mana?)

Andri     :    Henteu. Haroream rek indit kaluar teh. Wayah kieu, Bandung keur panas jeung

                   macet kieu.

(Gak. Malas mau pergi keluar. Jam segini, Bandung lagi panas dan macet gini)

Dudi      :    Puguhan, matak urang nyimpang kadieu ge. Kabeneran mawa mobil, ari pek macet   geuning dimamana. Tuh, di jalan hareup macetna menta ampun. Inget ka maneh,   nya mengkolwe kadieu. Kabeneran geuning aya di imah.

(Makanya itu, makanya saya berkunjung kesini juga. Kebetulan bawa mobil, eh kena   macet dimana-mana. Tuh, di jalan depan macetnya minta ampun. Ingat ke kamu, ya belok saja ke sini. Kebetulan kamu ada di rumah)

Andri     :    Rek Kamana kitu tadina?

(Tadinya mau kemana gitu?)

Dudi      :    Leu, rek meuli HP ka BEC tadina mah. Batrena geus lowbat. Gancang beak    

                   batrena.

(Ini, tadinya sih mau beli HP ke BEC. Baterainya sudah lowbat. Cepat habis

batrenya)

Andri     :    Nyantai we atuh lah. Geus cicing di dieu heula. Ke dibaturan ku urang ka BEC-na. Sakalian urang ge rek meuli Hardisk eksternal. Hardisk di komputer geus parinuh  ku data. Sakalian rek meuli powerbank keur kabogoh urang.

(Santai saja lah. Udah diam saja dulu disini. Nanti saya temenin ke BEC. Sekalian

saya mau beli hardisk eksternal. Hardisk di komputer saya sudah penuh sama data.  Sekalian mau beli powerbank buat pacar saya)

Dudi      :    Oh, siap ari kitu mah.

(Oh, ok siap kalau begitu)

Andri     :    Rek nginum naon euy? Kopi wae nya? Urang ngopilah. Kabeneran kamari Uwa

                   urang ngirim kopi ti Lampung.

(Mau minum apa? Kopi saja ya? Kita ngopi lah. Kebetulan kemarin Uwa saya

mengirim kopi dari Lampung)

Dudi      :    Sok we lah. Hayang nyobaan kumaha rasana kopi lampung teh.

(Setelah Andri membuat kopi dan menyajikannya pada Dudi)

Dudi      :    Heueuh, ngeunah kieu euy rasana kopi lampung teh.

(Iya, enak juga nih rasanya kopiLampung)

Andri     :    Urang ge karek nyobaan kamari. Bener ngeunah… eh, si Tatang cenah ngajak

                   bisnis muka distro di Jalan Buah Batu?

(Saya juga baru nyobain kemarin. Benar enak. Eh, si Tatang katanya ngajak bisnis buka distro di jalan Buah Batu?)

Dudi      :    Aeh, enya minggu kamari ge manehna ngomong ka urang. Butuh investor cenah.

                   Kabeneran imahna di Buah Batu geus lila teu dipake. Daripada lebar teu dipake,  

                   mending diberdayakeun jadi tempat usaha.

(Iya, minggu kemarin juga dia ngomong kepada saya. Butuh investor katanya.

Kebetulan rumahnya yang di Buah Batu sudah lama tidak terpakai. Daripada sayang tidak terpakai, mending diberdayakan jadi tempat usaha.)

Andri     :    Bapa urang siap cenah kerja sama mantuan keur dana mah.

(Bapa saya siap katanya membantu buat dana)

Dudi      :    Hayu lah. Geus we garap ku urang tiluan usahana. Keur bahan barang dagangan mah  aya dulur urang nu jadi tukang produksi kaos. Terus aya babaturan oge distributor.

(Ayo sudah, usahanya kita garap saja bertiga. Buat bahan barang dagangan ada

saudara saya yang jadi tukang produksi kaos)

Andri     :    Babaturan maneh isa ngasupan barang naon wae cenah?

(Teman kamu bisa masukin/suplai barang apa saja katanya?)

Dudi      :    Sagala aya. Aya kaos, jeket, calana, sandal, jeung lainna.

(Segala ada. Ada kaos, jaket, celana, sandal, dll)

Andri     :  Alus ari kitu mah. Geus we urang gancangkeun lah. Kari urang tiluan ngariung deui  ngadiskusikeun keur usahana.

(Bagus kalu begitu. Ya sudah kita percepat saja. Tinggal kita bertiga kumpul lagi

mendiskusikan untuk usaha)

Dudi      :    Enya. Ke atuh urang telepon heula si Tatang-na. Sugan manehna keur aya di

Bandung. Dua poe kamari mah nga-whatsApp keur indit ka Jakarta cenah.

(Iya. Saya telepon dulu si Tatang. Siapa tahu dia lagi ada di Bandung. Dua hari

kemarin nge-WhattsApp katanya lagi pergi ke Jakarta.

#sundanese

#sunda

#bahasalokal

#bahasa

#linguistics

Ide Linguistik Praktis

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

 A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

#linguistik

#linguistics

Pengetahuan Keluarga Terhadap Bahasa

Dalam berinteraksi orang tua atau anak pasti menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu. Pada suatu kesempatan bahasa yang dipergunakan oleh orang tua ketika secara kepada anaknya dapat mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat. Tetapi dilain kesempatan, bahasa yang digunakan itu tidak   mampu mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat. Maka dari itu dalam berinteraksi dituntut untuk menggunakan bahasa yang mudah dimengerti antara komunikator dan komunikan. Keluarga yang terbiasa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa yang santun maka budaya berbahasa santun pun akan diterapkan dimanapun itu berada tergantung dari pengetahuan dan kemampuan dalam berbahasa yang baik dan sopan berdasarkan unggah ungguh.

Pola interaksi dipengaruhi oleh usia. Itu berarti setiap orang tidak bisa berbicara sekehendak hati tanpa memperhatikan siapa yang diajak bicara. Berbicara kepada anak kecil berbeda ketika berbicara kepada remaja. Mereka mempunyai dunia masing-masing yang harus dipahami. Budaya dan bahasa berbeda berdasarkan perbedaan usia.

#keluarga

#bahasa

#bahasakeluarga

Pandangan Keluarga Terhadap Kepemimpinan

Dalam keluarga seorang ayah sebagai pemimpin mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis. Dinamika hubungan dalam keluarga dipengaruhi oleh pola kepemimpinan. Karakteristik seorang pemimpin akan menentukan pola interaksi bagaimana yang akan berproses dalam kehidupan yang membentuk hubungan-hubungan tersebut. Disini keluarga memberikan contoh kepada anak-anaknya. Jika orang tua itu memiliki sikap yang bijaksana maka budaya hidup bijaksanapun akan muncul secara praktis.

Berikut ini contoh dari ajaran dalam keluarga tentang kepemimpinan: adigang, adigung, adiguno yang bermakna untuk menjaga kelakuan, menghindari kesombongan karena kekuatan, kedudukan, dan latar belakang. Aja mbedakake marang sapadha-padha yang bermakna menghargai perbedaan dan tidak membeda-bedakan. Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa yang bermakna larangan untuk jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.

#kepemimpinan

#jawa

Kebudayaan Sebagai Sumber Pengetahuan

Kebudayaan dipandang sebagai pengetahuan karena segala aktivitas public melibatkan proses berpikir dan kemampuan untuk berinteraksi sosial (Geertz, 1973: 76 dan 1973: 83).  Untuk memahami suatu budaya kita dapat melihat perbedaan-perbedaan yang dapat diinterpretasikan dengan pola yang berbeda-beda (Becker, 1995). Pengetahuan menjadi alat budaya yang memperlihatkan intelektualitas kita. Pengetahuan menjadi representasi mental orang yang mengaplikasikannya yang menuntut adanya keseimbangan antara isi pikiran dan isi hati. Masalah antropologi pengetahuan bagaimana praktek budaya lokal  menjadi representasi mental didalam pikiran individu yang keluar menjadi pikiran public. Teori budaya harus menjelaskan cara kita berbicara tentang budaya suatu kelompok tertentu dan proses apa yang terjadi didalam budaya tersebut (Goodenough, 1981:54).

Hal-hal yang menbedakan kebudayaan adalah perbedaan prinsip logis dalam berpikir. Saat ini yang menjadi fokus perhatian adalah model budaya tentang hubungan kekerabatan (kinship) karena hubungan kekerabatan dianggap sebagai jaringan perilaku budaya. Anak-anak yang bersosialisasi didalam lingkungan kelas pekerja (working class children) cenderung memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tetangga dan teman-teman di sekolah. Disatu sisi, mereka hanya memiliki pilihan hidup mereka yang cenderung untuk meneruskan pekerjaan dari orang tuanya. akan tetapi disisi lain, mereka akan belajar dan bekerja keras karena budaya bekerja di lingkungan keluarganya terbawa di sekolah. (Willi, 1977). Berikut ini adalah contoh dari budaya yang muncul dari hubungan kekerabatan (kinship) dengan capaian interaksi sosialnya:

Berikut ini faktor-faktor pengaruh interaksi didalam keluarga yang mempengaruhi terbentuknya budaya dalam berinteraksi dengan orang lain yang disesuaikan dengan budaya Jawa

  1. Pengetahuan keluarga tentang citra diri dan citra orang lain

Setiap keluarga mempunyai peranan penting untuk memberikan pengajaran tentang gambaran-gambaran tertentu mengenai dirinya, statusnya, kelebihan dan kekurangannya didalam keluarga. Gambaran itulah yang menentukan apa dan bagaimana orang tua mendidik dalam hal tata cara berbicara, bagaimana berpikir untuk menjaring apa yang dilihatnya, didengarnya, dan bagaimana penilaiannya terhadap segala yang berlangsung disekitarnya. Dengan kata lain, citra diri menentukan ekspresi dan persepsi orang. Tidak hanya citra diri, citra orang lain juga mempengaruhi cara dan kemampuan orang berinterakasi. Orang lain mempunyai gambaran  khas bagi dirinya. Jika seorang ayah mencitrakan anaknya sebagai manusia yang lemah, ingusan, tak tahu apa-apa, harus di atur, maka ia berbicara secara otoriter. Akhirnya, citra diri dan citra orang lain harus saling berkaitan, saling lengkap-melengkapai. Perpaduan kedua citra itu menentukan gaya dan cara komunikasi. Disini dapat disimpulkan keluarga adalah pembentuk budaya dalam mewujudkan citra diri, gaya, dan cara berkomunikasi.

Berikut ini contoh dari ajaran tentang citra diri dalam keluarga Jawa tentang citra diri:  ngundhuh wohing pakarti (menuai buah pekerti) yang bermakna setiap orang akan mendapatkan akibat dari perilakunya sendiri

#kebudayaan

#budaya

#antropologi

Makna dan Praktek Kehidupan, Simbol Antropologi

Domain kebudayaan disini adalah praktek budaya dalam seni dan ritual yang mencerminkan karakteristik individu (Silverstein, 1979 & 1981). Contoh dari makna dalam praktek kehidupan sebagai symbol antropologi adalah kehidupan dalam memahami bahasa yang valid, nyata, benar, dan bagus bagi dunia yang tidak boleh dirusak atau digantikan. Indonesia kaya akan symbol antropologi budaya dan bahasa. Kebudayaan dan bahasa membentuk sebuah prinsip yang mengikat setiap individu untuk melakukannya Levi-Strauss (1966). Bahasa dapat memberikan contoh refleksi budaya dan cara mereka berbagi ide dan pola pikir (Goodenough, 1970, 1981, 1964).

Bahasa merupakan perwujudan budaya masyarakat tergambar pada pepatah Jawa ajining diri dumuning ana ing lathi. Berbicara dengan bahasa yang sopan, dengan kata yang manis, dengan suara yang halus akan membuat simpatik. Dalam bahasa menunjukkan jati diri seseorang terungkap. Orang yang santun, santun pula bahasanya. Bahasa Jawa mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai kemanusiaan antara lain andap asor (rendah hati), empan papan, saling menghormati, pengakuan akan keberagaman, aja dumeh dan tepo seliro. Kesantunan dalam berbahasa Jawa didominasi oleh rasa, oleh karena itu kita sering mendengar orang Jawa mengatakan nek tak rasakake, menawi kula manih, saking manah kula. Ini menunjukkan orang Jawa didalam mengambil keputusan tidak hanya berdasarka logika tetapi rasa dan pikir atau nalar terjadi secara otomatis

Berikut ini adalah contoh-contoh prinsip atau norma didalam kebudayaan Jawa

  • Contoh ngoko lugu yang menunjukkan situasi tidak resmi, status sosial yang sama, berbicara dengan orang asing:

Sapa sing methuk tamu ana ing stasiun Gubeng?

Aku arep menyang pasar

Adhiku arep ditukokake wedhus

  • Contoh ngoko andhap antya basa yang menunjukkan situasi dimana penutur lebih tua daripada mitra tutur, antar priyayi yang sudah kenal dan akrab (kowe diganti seliramu):

Apa wingi seliramu (Kangmas) sido tindak menyang Ngayogya?

Wulan Nopember iki seliramu (Mbakyu) tak aturi rawuh ing kongres Basa Jawa ing Surabaya.

Adhiku arep dipundhutke menda ta pak

  • Contoh ngoko andhap basa antya yang menunjukkan situasi yang akrab dan saling menghormati.

Jare mirsani kethoprak, saiki tindak menyang endi?

Mau esuk tindak kantor, sore iki ngrawuhi pepanggihan ana ing RT

Adhik arep dipundhutke menda to pak

  • Contoh madya ngoko yang menunjukkan situasi akrab, tidak resmi, dan santai antara sesama teman, atasan kepada bawahan (kowe diganti “ndiko”):

Ndiko wayah ngeten kok lungo teng pasar

Kulo ajeng mantuk riyin

  • Contoh Madyatara yang dipakai oleh penutur kepada yang lebih muda atau memiliki derajat yang lebih rendah (kowe diganti kang sliro atau sampeyan):

Sampeyan (kang sliro) napa duwe perlu wigati kok gita-gita?

Kang sliro saiki nyambut gawe ana ngendi?

  • Contoh Madya krama yang dipergunakan untuk menghormati orang lain, tetapi sifatnya sementara dalam suasana yang akrab (tidak ada kosa kata goko kecuali akhiran –e dan –ake dan menggunakan sebutan ‘sampeyan

Wanci ngeten kok sampun kondur, napa empun rampung pandamelan sampeyan?

  • Contoh Basa Krama-Muda Krama yang dipergunakan oleh orng muda kepada orang tua, murid kepada guru, antar teman yang belum akrab. Bentuknya ialah krama, kosa kata krama inggil, kowe diganti dengan panjenengan, awalan dan akhiran krama.

Lho kok, kang Mas, panjenengan punapa saestu tindak dhateng rapat nitihsepeda motor punapan becak?

  • Contoh Basa Krama Kramantara yang dipergunakan dalam pembicaraan antar sesama tetapi si penutur tingkat status sosialnya lebih tinggi dan bukan di tempat umum. Bentuk tuturannya adalah krama. Kata ganti orang kedua ‘kowe’ menjadi ‘sampeyan’.

Sampeyan punapa sampun mlebet dados anggotanipun partai politik, partai punapa?

  • Contoh Basa Krama Wredakrama dipakai dalam pembicaraan oleh orang yang lebih tua kepada mitra bicara yang lebih muda. Betuk tuturannya ialah krama untuk awalan dan akhiran ngoko.

Kados pundi nak, rembag bab kemajenganipun nagari ing parlemen?

  • Contoh Basa Krama Inggil yang dipergunakan oleh orang yang tinggi status sosialnya karena asal usulnya dan jabatannya dimana mitra tutur usianya lebih tua. Krama inggil digunakan untuk menunjukkan rasa hormat.

Nyuwun duka Gusti, kala wingi dalem mboten saged dherekaken tindak dalem, awit anakipun dalem saweg sakit sanget.

  • Contoh Krama Desa yang dipergunakan oleh orang desa yang tidak memahami system tingkat tutur atau kaidah bahasa krama. Kosa kata dijadikan krama karena ingin menunjukkan rasa hormat kepada orang yang diajak bicara misalnya Gunung Kidul menjadi Redi Kidul, Boyo lali menjadi Boyo kesupen, sawahan menjadi sabenan.

Sampeyan punapa kersa mundhut sawo kagungan kula piyambak?

Kula badhe tindak dating sabinan methuk simbah

Punapa panjenengan saking Medunten?

  • Basa Kedaton atau Basa Bagongan adalah bahasa khusus yang dipaki oleh anggota kerajaan dan para pembantu (abdi dalem) bila ada pertemuan dengan raja atau melakukan percakapan di lingkungan kerajaan. Kata-kata yang termasuk bahasa kedaton adalah manise (aku), pukulun atau jengandiko (kowe), enggeh, punapi, boya (ora), seto (doyan), darbe (duwe), besaos (bae).

Pakenira mekaten ampun boya kekirangan punapa-punapi, bebasan kantun dhahar lan tilem besaos

 Basa Kasar adalah bahasa yang dipergunakan oleh penutur untuk merendahkan orang lain karena marah atau emosional

Yen kowe ora jegos, wis minggato kono

Gunung atau Gunungan, Samakah?

Didalam masyarakat Jawa, gunungan biasa dipakai dalam pewayangan, khususnya wayang purwa. Biasanya gunungan ini disebut juga dengan istilah kayon. Gunungan ini dipakai untuk melambangkan pohon kehidupan. Pohon kehidupan yang digambarkan didalam gunungan biasanya adalah pohon Nagasari yang melambangkan pohon kahyangan yakni pohon Dewandaru. Selain pohon kehidupan, juga terdapat gambar binatang yang melukiskan situasi alam.

Dalam pewayangan, ada dua macam gunungan, yakni: gunungan gapuran dan gunungan blumbangan yang diciptakan oleh seniman keraton Kasunan atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwana II pada tahun 1737 Masehi atau 1659. Keunikan dari gunungan gapuran adalah gambar gapura (pintu gerbang) dan diatasnya terdapat gambar banteng dan harimau yang melambangkan konfrontasi antara yang baik dan yang buruk dan ada dua raksasa yang bersenjatakan gada dan perisai yang mengapit gapura disisi kiri dan kanan.

Didalam pewayangan, gunungan digunakan untuk membuka suatu lakon tertentu. Biasanya jika wayang atau lakon belum dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar (kelir) dan posisinya sedikit condong ke kanan. Setiap lakon dalam pewayangan mengandung ajaran tentang kebijaksanaan dalam kehidupan.

#gunungan

#gunung

#jawa

Siapa Punakawan Sebenarnya?

“Puna” atau “Pana” dalam terminology Jawa artinya memahami, terang, jelas, cermat, mengerti, cerdik dalam mencermati atau mengamati makna hakikat dibalik kejadian peristiwa alam dan kejadian dalam kehidupan manusia sedangkan kawan berarti pamong atau teman. Jadi punakawan dimaknai seorang yang menjadi teman yang mempunyai kemampuan mencermati, menganalisa, dan mencerna segala fenomena dan kejadian alam serta peristiwa dalam kehidupan manusia.

Punakawan dapat pula diartikan seorang pengasuh, pembimbing yang memiliki kecerdasan berpikir, ketajaman batin, kecerdikan akal budi, wawasannya luas, sikapnya bijaksana, dan arif dalam segala pengetahuan. Ucapannya dapat dipercaya, antara perkataan dan tindakannya sama, tidak bertentangan “tanggap ing sasmita, lan limpat pasang ing grahita”.

Tokoh wayang yang dikenal memiliki sifat punakawan adalah Lurah Semar. Pada hakikatnya semar adalah manusia setengah dewa yang bertugas mengemban (momong) para ksatria sejati. Ki Semar adalah guru sejati atau sukma sejati yang merupakan hakikat tertinggi yang dianggap setiap ucapannya adalah kehendak Tuhan dimana para ksatria jika diasuh beliau akan beruntung karena negaranya menjadi adil dan makmur, gemah ripah, murah sandang pangan, tentram, selalu terhindar dari musibah. Punakawan adalah symbol kerendahan hati dan penebar hikmah yang dimiliki oleh Semar.

#punakawan

#wayang

Simbol Kepemimpinan Dalam Masyarakat Jawa

Dalam falsafah Jawa, pemimpin yang baik dianggap sebagai titisan Tuhan. Masalah kepemimpinan dalam masyarakat Jawa selalu dikaitkan dengan nilai-nilai ideal yang berorientasi pada dunia supra natural. Pemimpin yang terpilih adalah yang mendapat pulung/ndaru atau wahyu keprabon yang hinggap dalam dirinya sehingga ia sanggup menjadi perantara dunia dan alam gaib, dunia ilahi. Oleh karena itu, pemimpin yang baik adalah orang yang mampu terjemahkan nilai-nilai keadilan dalampraktisi kehidupan.

Tanda-tanda pemimpin sejati (Astabratha) terurai dalam delapan (asta) brata: a) Watak bumi: symbol kemurahan hati seorang pemimpin yang senantiasa memberi kepada sesama, tanpa pamrih menyediakan apapun yang dibutuhkan bagi rakyat yang hidup dibawah naungannya; b) Api: symbol energy dan kekuatan, bukan materi. Kesanggupan dan keberanian untuk menyelesaikan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara; c) Air atau banyu: adalah watak yang menggambarkan pemimpin harus selalu mengalir dinamis dan memiliki watak rendah hati, andhap asor dan santun dan tidak sombong; d) Watak angin atau udara: watak yang memberikan hak hidup kepada masyarakat dengan memperhatikan kenyamanan bagi masyarakat yang dipimpinnya; e) Surya atau matahari: pemimpin harus menjadi penerang dan pemberi energi kehidupan; f) Bulan atau candra: memiliki kelembutan yang menentramkan; g) Bintang atau kartika: Pemimpin harus menjadi orientasi dan panutan sekaligus mampu memahami perasaan masyarakatnya; Langit atau angkasa: Pemimpin harus memiliki keluasan hati, perasaan, dan pikiran dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan Negara.

#jawa