Ciri-ciri Fonetis Dalam DIstribusi Komplementer

Distribusi Komplementer merupakan ciri-ciri fonetis yang mengarah pada terima atau tidak terimanya suatu gabungan bunyi oleh masyarakat penuturannya. Adapun  Vokal dan Konsonan Bahasa Jawa, secara ringkas diuraikan sebagai berikut:

  1. Fonem Vokal

Bunyi vokal dibedakan berdasarkan posisi lidah dalam mulut, bentuk bibir, dan tingkat pembukaan mulut.

Bunyi vokal dalam bahasa jawa ada sepuluh yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ε/, /ә/, /ʊ/, /ͻ/, dan /I/. Sedangkan fone, bahasa jawa  ada enam yaitu [a], [i], [u], [e], [o], dan [ͻ]. Serta simbol fonetik ada sepuluh yaitu /a/, /i/, /u/, /e/, /o/, /ε/, /ә/, /ʊ/, /ͻ/, dan /I/.

  1. Fonem Konsonan

Konsonan merupakan bunyi yang timbul akibat udara yang keluar dari paru-paru melalui rongga mulut dan rongga hidung. Yang terpenting  dalam konsonan adalah daerah artikulasi dan cara artikulasi.

Ø  Bunyi Bilabial,  yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan oleh kedua bibir yang saling menyatu. Yang termasuk bunyi bilabial yaitu [b], [p], [m], dan [w].

contoh:            -biyung [biyʊŋ]           -rebab [rәbab]              -anteb [antәb]

-palsu [palsu]               -sapi [sapi]                   -karep [karәp]

Ø  Bunyi Dental atau Alveolar, yaitu bunyi bahasa yang dihasilkan oleh daun lidah yang menempel gigi/gusi depan atas bagian dalam.  Yang termasuk bunyi dental yaitu [d], [t], [s], [n], [r], dan [l].

contoh:                        -adil [adɪl]       -babat [babat]              -wekas [wәkas]

-apal [apal]      -reged [rәgәd]             -sikil [sikɪl]

-nakal [nakal]

Ø  Bunyi Retrofleks

adalah bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan ujung lidah bagian bawah yang menempel atau menyentuh langit-langit keras karena hembusan udara dari paru-paru.

Contoh:           -dhawuh [ɖawʊh]        -godha [goɖɔ]

-thuthuk [ʈuʈʊʔ]           -pathi [paʈi]

Ø  Bunyi Palatal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh pelepasan daun lidah yang menempel pada langit-langit keras yang disertai hembusan udara dari paru-paru. Yang termasuk bunyi palatal adalah [j], [c], [z], [y], [ʃ], dan [ɲ].

Contoh:                   -jipuk [jipʊʔ]                    -lunyu [luɲu]               -cekel [cәkәl]

-pacul [pacʊl]

Ø  Bunyi Velar, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh rongga tenggorokan. Yang termasuk bunyi velar adalah [g], [k], [x], dan [ŋ].

Contoh:           -gedhe [gәɖә]              -kawat [kawat]            -ngilo [ŋilo]

Ø  Bunyi Glotal, yaitu bunyi yang dihasilkan oleh pita suara tertahan di tenggorokan. Yang termasuk bunyi glottal yaitu [h] dan [ʔ].

Contoh:           -tahu [tahu]                             -takwa [taʔwa]

-dhahar [ɖahar]                        – bapak [bapaʔ]

  1. Konsonan Homogan

Konsonan homorgan adalah konsonan yang berasal dari satu daerah artikulasi. Seperti bunyi [b] dan [p], [f] dan [v], [d] dan [t], [ɖ] dan [ʈ], [j] dan [c], dan [g] dan [k].

Contoh : -bubut [bubʊt]           ><        puput [pupʊt]

‘cabut’                                 ‘putus’

-bakul [bakʊl]          ><        wakul [wakʊl]

‘penjual’                             ‘tempat nasi’

  1. Fonem Khas Bahasa Jawa
  2. Bunyi Aspirat

Semua bunyi hambat bersuara dan takbersuara dalam bahasa jawa cenderung diikuti bunyi aspirat, yaitu bunyi frikatif glottal takbersuara, atau bunyi [h].

Contoh:           -bapak             →  [bʰapʰaʔ]

-sapa                →  [sɔpʰɔ]

-ketan              →  [kәtʰan]

-adus               →  [adʰʊs]

-adhi                →  [aɖʰi]

-thuyul             →  [ʈʰʊyʊl]

-jembar            →  [jʰәmbʰar]

-ucul                →  [ucʰul]

-gulu                →  [gʰulu]

  1. Bunyi Pranasal, yaitu bunyi yang mendahului nasal.

Contoh:           -bali                 → [ᵐbali]

-boten              → [ᵐboten]

-gresik             → [ᵑgʰrәsɪʔ]

  1. Diftong dan Monoftong

Ø  Diftong atau Vokal Rangkap

Diftong merupakan deret dua fonem vokal yang berbeda yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Contoh: danau, pulau, kerbau dsb.

Bunyi [au] pada contoh tidak dapat dipisahkan menjadi *dana-u, *da-na-u, *pula-u, *pu-la-u.

Ø  Monoftong atau Vokal Tunggal

Contoh:           danau  → dano           satai     → sate

Pulau   → pulo            gulai    → gule

  1. Gugus Konsonan (Klaster)

Klaster adalah dua konsonan yang berbeda berderat dan membentuk satu kesatuan.

Contoh:           -[bl]     → blirik, blarak, bleseg

-[pr]     → priya, prentah, prawan

-[gr]     → griya, grendhel, grudug

-[ky]    → kyai, mangkya

-[sw]    →swiwi, swara, swargi

#phonetic

#phoneme

Logo BST Adalah Wayang

Wayang berarti bayangan, gambar, citraan. Zaman pra sejarah (sebelum orang Hindu), alam pikiran nenek moyang orang Jawa masih sangat sederhana. Mereka selalu dikuasai keinginan untuk mengetahui seluk beluk semua masalah yang berada di sekelilingnya. Mereka percaya bahwa roh yang sudah mati dianggap masih tinggal didaerah sekelilingnya. Roh orang yang sudah meninggal diapandang sebagai pelindung yang kuat artinya dapat memberikan perlindungan kepada orang-orang yang masih hidup. Kehadiran roh yang telah meninggal tersebut diharapkan dapat memberi pertolongan dan bantuan atau berkah kepada mereka yang masih hidup.

Berdasarkan angan-angan itu dengan sendirinya orang sampai pada suatu usaha mendatangkan roh-roh itu. Kesempatan itu adalah kesempatan yang sangat penting karena mereka yang masih hidup dapat menghormati roh leluhurnya. Dengan peristiwa ini orang tersebut merasa terjamin kelangsungan nasib baik, kebahagian dan kemakmuran. Harapan-harapan itulah yang mendorong orang menghasilkan pembuatan wayang, dimana orang dapat membayangkan roh-roh yang telah meninggal. Gambar dari roh-roh tersebut bukan gambar realistis dari nenek moyang tapi berwujud remang-remang atau semu.

Wayang melukiskan manusia, binatang, raksasa, tooh berbudi halus, kuat, lucu. Setiap tokoh yang terdapat dalam wayang memiliki ragam yang disebut wanda. Wanda adalah penggambaran watak yang mengungkapkan perasaan dan keadaan tertentu. Setiap tokoh dapat memiliki 4, 5 bahkan 12 wanda yang masing-masing memiliki perasaan dan keadaan berbeda. Hal ini dilihat dari “tundukan kepala, badan, lekukan mata, mata dan mulut, jarak antara mata dan mulut, serta warna yang digunakan.

Pementasan wayang diadakan dalam berbagai acara keluarga dan sosial untuk menjaga kesejahteraan dan keselamatan, misalnya: upacara tingkepan, khitanan, perkawinan, ruwatan, bersih desa.

 #wayang

Fenomena Sosial atau Social Phenomenon

Manusia hidup didalam kelompok sosial sehingga mereka tidak dapat hidup sendiri atau mereka hidup dengan struktur berpasangan dan saling membutuhkan dengan orang lain. Interaksi tersebut merupakan hukum alam yang harus dijalani yang sudah menjadi ketentuan manusia untuk menjaga hubungan dengan sesama manusia dan Tuhan. Fenomena sosial ini pun akhirnya muncul sebuah fenomena bagaimana manusia itu mengetahui dan membuat pilihan yang mana yang berguna dan mana yang tidak berguna bagi mereka sehingga ada praktek budaya didalam kehidupan mereka sehari-hari yang dianggap sebagai pemahaman pribadi (private understanding) yang menjadi symbol budaya lokal (Geertz, 1973:10-11).

Berikut ini adalah symbol dari budaya lokal Jawa yang menjadi fenomena sosial di masyarakat Jawa didalam berinteraksi dan didalam membuat pilihan hidup

  1. Aksara Jawa (ha-na-ca-ra-ka-da-ta-sa-wa-la-pa-dha-ja-ya-nya-ma-ga-ba-tha-nga)

Keluhuran budaya Jawa tercermin dalam pemaknaan para leluhur terhadap makna huruf-huruf atau aksara Jawa. Huruf  da-ta-sa-wa-la memiliki makna kehidupan manusia adalah sebuah ketentuan yang memiliki batas waktu. Semua makhluk hidup akan mengalami kematian dan tidak abadi. Oleh karena itu manusia tidak bisa sawala atau mengelak dari kehendak dan kepastian dari Allah. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, manusia harus senantiasa bersedia menerima, melaksanakan, dan memenuhi takdir dan nasib manusia. Akan tetapi, karena manusia tidak mengetahui nasibnya seperti apa, maka ia berkewajiban untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha sekuat kemampuannya untuk memenuhi takdir yang baik dari Allah kemudian menyerahkan segalanya  kepada kehendak Tuhan.

Pa-dha-ja-ya-nya berarti menyatukan zat pemberi hidup (Khalik) dengan yang diberi hidup (makhluk). Kalimat ini juga bisa berarti menyatunya kata dengan perbuatan, selarasnya ungkapan dan tindakan yang membuat manusia dihargai karena jujur dan dapat dipercaya. Dalam bahasa Jawa, padha artinya “ sama”, sesuai, jumbuh, cocok, manunggalna lahir batin, kata tindakan yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan budi pekerti. Dengan perilaku semacam ini, orang menjalaninya akan mencapai ke-jaya-an. Jaya berarti menang atau unggul dalam arti yang sungguh-sungguh, bukan sekedar menang-menangan.

Ma-ga-ba-tha-nga berarti taqwa, yaitu berusaha melaksanakan segala sesuatu yang diperintahkan Allah dengan sekuat tenaga berupaya menjauhi apa yang dilarang Allah, Zat yang memberi hidup dan penghidupan. Manusia harus pasrah-sumarah pada garis kodrat, meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat, berusaha untuk menanggulanginya. Namun ada garis ketentuan Allah yang tak dapatdirubah manusia yaitu kelahiran dan kematian. Keduanya tidak dapat dihindari oleh manusia manapun, tanpa memandang status sosial, pangkat, jabatan maupun kekayaan.

#hanacaraka

#socialphenomenon

Sikap Toleransi dan Keterbukaan Suku Tengger

Sikap toleransi mereka tercermin pada kenyataan bahwa mereka dapat bergaul dengan orang beragama lain, ataupun kedatangan orang beragama lain. Dalam keagamaan mereka tetap setia kepada agama yang telah dimiliki namun toleransi tetap tinggi, sebab mereka lebih berorientasi pada tujuan, bukan pada cara mencapai tujuan. Pada dasarnya manusia itu bertujuan satu, yaitu mencapai Tuhan, meskipun jalannya beraneka warna. Sikap toleransi itu tampak pula dalam hal perkawinan, yaitu sikap orang tua yang memberikan kebebasan bagi para putra-putrinya untuk memilih calon istri atau suaminya. Pada dasarnya perkawinan bersifat bebas. Mereka tetap dapat menerima apabila anak-anaknya ada yang berumah tangga dengan wanita atau pria yang berlainan agama sekalipun. Namun dalam hal melaksanakan adat, pada umumnya para generasi muda masih tetap melakukannya sesuai dengan adat kebiasaan orang tuanya. Sikap hidup masyarakat Tengger yang penting adalah tata tentrem (tidak banyak risiko), aja jowal-jawil (jangan suka mengganggu orang lain), kerja keras, dan tetap mempertahankan tanah milik secara turun-temurun. Sikap terhadap kerja adalah positif dengan titi luri-nya, yaitu meneruskan sikap nenek moyangnya sebagai penghormatan kepada leluhur. Sikap terhadap hasil kerja bukanlah semata-mata hidup untuk mengumpulkan harta demi kepentingan pribadi, akan tetapi untuk menolong sesamanya. Dengan demikian, dalam masyarakat Tengger tidak pernah terjadi kelaparan. Untuk mencapai keberhasilan dalam hidup semata-marta diutamakan pada hasil kerja sendiri, dan mereka menjauhkan diri dari sikap nyadhang (menengadahkan telapak tangan ke atas).

Masyarakat Tengger mengharapkan generasi mudanya mampu mandiri seperti ksatria Tengger. Orang tua tidak ingin mempunyai anak yang memalukan, dengan harapan agar anak mampu untuk mikul dhuwur mendhem jero, yaitu memuliakan orangtuanya. Sikap mereka terhadap perubahan cukup baik, terbukti mereka dapat menerima pengaruh model pakaian, dan teknologi, serta perubahan lain yang berkaitan dengan cara mereka mengharapkan masa depan yang lebih baik dan berkeyakinan akan datangnya kejayaan dan kesejahteraan masyarakatnya.  Ada 3 (tiga) tahap penting siklus kehidupan menurut pandangan masyarakat Tengger, yakni:

  1. umur 0 sampal 21 (wanita) atau 27 (pria), dengan lambang bramacari yaitu masa yang tepat untuk pendidikan;
  2. usia 21 (wanita) atau 27 (pria) sampai 60 tahun lambing griasta, masa yang tepat untuk membangun rumah dan mandiri;
  3. 60 tahun ke atas, dengan lambang biksuka, membangun diri sebagai manusia usia lanjut untuk lebih mementingkan masa akhir hidupnya.

Pada masa griasta ada ungkapan yang berbunyi kalau masih mentah sama adil, kalau sudah masak tidak ada harga, yang dimaksudkan adalah hendaklah manusia itu pada waktu mudanya bersikap adil dan masa dewasa menyiapkan dirinya untuk masa tuanya dan hari akhirnya.

#tengger

#sukutengger

Bahasa Keseharian Suku Tengger

Bahasa daerah yang digunakan adalah bahasa Jawa yang masih berbau Jawa Kuno. Mereka menggunakan dua tingkatan bahasa yaitu ngoko, bahasa sehari-hari terhadap sesamanya, dan krama untuk komunikasi terhadap orang yang lebih tua atau orang tua yang dihormati. Pada masyarakat Tengger tidak terdapat adanya perbedaan kasta, dalam arti mereka berkedudukan sama.

Contoh: Aku ( Laki-laki) = Reang , Aku ( wanita ) = Isun , Kamu ( untuk seusia)= Sira , Kamu ( untuk yang lebih tua) = Rika, Bapak/Ayah= Pak , Ibu = Mak , Kakek=Wek , Kakak= Kang , Mbak= Yuk

Mengenai asal usul manusia, orang Tengger mempunya ajaran yang terdapat pada mantra purwa bhumi. Sedangkan tugas manusia di dunia ini dapat dipelajari melalui cara masyarakat Tengger memberi makna kepada aksara Jawa yang mereka kembangkan. Adapun makna yang dimaksudkan adalah seperti tersebut dibawah ini:

–  h.n.c.r.k : hingsun nitahake cipta, rasa karsa,

–  d,t,s,w,l : dumadi tetesing sarira wadi laksana,

–  p, dh, j, y, ny : panca dhawuh jagad yekti nyawiji,

–  m, g, b, th, ng : marmane gantia binuka thukul ngakasa.

Apabila diartikan secara harfiah kurang lebih sebagai berikut: Tuhan Yang Maha Esa menciptakan cahaya, rasa dan kehendak pada manusia, (manusia) dijadikan melalui badan gaib untuk melaksanakan lima perintah di dunia dengan kesungguhan hati, agar saling terbuka tumbuh (berkembang) penuh kebebasan (ngakasa menuju alam bebas angkasa). Pada hakikatnya manusia adalah ciptaan Tuhan, yang dilahirkan dari tidak ada menjadi ada atau dari alam gaib, untuk mengemban tugas di dunia ini melaksanakan lima perintah-Nya dengan menyatukan diri pada tugasnya, agar di dunia ini tumbuh keterbukaan dan perkembangan menuju kesempurnaan. Masih ada lagi tafsiran tentang aksara Jawa yang dikaitkan dengan cerita tentang Aji Saka, yaitu bahwa ada utusan, yang keduanya saling bertengkar (berebut kebenaran). Keduanya sama kuatnya (sama-sama berjaya), yang akhirnya keduanya mengalami nasib yang sama, yaitu menjadi mayat. Hal ini mengandung makna bahwa baik-buruk, senang-susah, sehat-sakit, adalah ada pada manusia dan tak dapat dihindari. Kesempurnaan hidup manusia apabila dapat menyeimbangkan kedua hal itu.

                   Berkaitan dengan hubungan (jasmani)badan dan roh menurut falsafah Tengger, masyarakat Tengger beranggapan bahwa badan manusia itu hanya merupakan pembungkus sukma (roh). Sukma adalah badan halus yang bersifat abadi. Jika orang meninggal, badannya pulang ke pertiwi (bumi), sedangkan sukmanya terbebas dari mengalami suatu proses penyucian di dalam neraka, dan selama itu mereka mengembara tidak mempunyai tempat berhenti. Cahaya, api dan air dari arah timur akan melenyapkan semua kejahatan yang dialami sukma sewaktu berada di dalam badan. Masyarakat Tengger percaya bahwa neraka itu terdiri dari beberapa bagian. Bagian terakhir ialah bagian timur yang disebut juga kawah candradimuka, yang akan menyucikan sukma sehingga menjadi bersih dan suci serta masuk surga. Hal ini terjadi pada hari ke-1000 sesudah kematian dan melalui upacara Entas-entas.

Sedangkan hubungan antar-manusia menurut falsafah Tengger, Sesuai dengan ajaran yang hidup di masyarakat Tengger seperti terkandung dalam ajaran tentang sikap hidup dengan sesanti panca setia, yaitu: (a) setya budaya artinya, taat, tekun, mandiri; (b) setya wacana artinya setia pada ucapan; (c)  setya semya artinya setia pada janji; (d)  setya laksana artinya patuh, tuhu, taat; (e) setya mitra artinya setia kawan. Ajaran tentang kesetiaan berpengaruh besar terhadap perilaku masyarakat Tengger. Hal ini tampak pada sifat taat, tekun bekerja, toleransi tinggi, gotong-royong, serta rasa tanggung jawab. umpamanya menunjukkan bahwa pada umumnya mereka bekerja di ladangnya dari jam 6 pagi sampai jam 6 sore setiap hari secara tekun. Sikap gotong-royongnya terlihat pula pada waktu mendirikan pendopo agung di Tosari, adalah sebagai hasil jerih payah rakyat membuat jalan sepanjang 15 km dari Tosari menuju Bromo (tahun 1971-1976). Demikian pula tanggung jawab mereka terhadap lingkungan sosial tercermin pada kesadaran rakyat untuk ikut serta menjaga keamanan, serta merelakan sebagian tanahnya apabila terkena pembangunan jalan.

Sifat lain yang positif adalah kemampuan menyesuaikan diri terhadap perkembangan, yaitu kesediaan mereka untuk menerima orang asing atau orang lain, meskipun mereka tetap pada sikap yang sesuai dengan identitasnya sebagai orang Tengger. Hubungan antara pria dan wanita tercermin pada sikap bahwa pria adalah sebagai pengayom bagi wanita, yaitu ngayomi, ngayani, ngayemi, artinya memberikan perlindungan, memberikan nafkah, serta menciptakan suasana tenteram dan damai.

Sikap dan pandangan hidup orang Tengger tercermin pada harapannya, yaitu waras (sehat), wareg (kenyang), wastra (memiliki pakaian, sandang), wisma (memiliki rumah, tempat tinggal), dan widya (menguasai ilmu dan teknologi, berpengetahuan dan terampil). Mereka mengembangkan pandangan hidup yang disebut pengetahuan tentang watak yaitu: (a) prasaja berarti jujur, tidak dibuat-buat apa adanya; (b) prayoga berarti senantiasa bersikap bijaksana; (c) pranata berarti senantiasa patuh pada raja, berarti pimpinan atau pemerintah; (d)  prasetya berarti setya; (e)  prayitna berarti waspada. Atas dasar kelima pandangan hidup tersebut, masyarakat Tengger mengembangkan sikap kepribadian tertentu sesuai dengan kondisi dan perkembangan yang ada. Antara lain mengembangkan sikap seperti kelima pandangan hidup tersebut, di samping dikembangkan pula sikap lain sebagai perwujudannya. Mereka mengembangkan sikap rasa malu dalam arti positif, yaitu rasa malu apabila tidak ikut serta dalam kegiatan sosial. Begitu mendalamnya rasa malu itu, sehingga pernah ada kasus (di Tosari) seorang warga masyarakat yang bunuh diri hanya karena tidak ikut serta dalam kegiatan gotong-royong.

#tengger

#sukutengger

#bahasa

Pandangan Kant Terhadap Linguistik

Linguistik kontemporer dan psikologi sangat kontras dengan anthropologi dalam menyelaraskan diri mereka jauh lebih dekat dengan arus rasionalis dalam pikiran Kant. Pandangan rasionalis Chomsky (1980, 1988) dengan postulasinya tentang struktur mental yang kaya dan bawaan ditargetkan secara ketat untuk bidang bahasa telah dibahas di atas. Memang, posisi Chomsky jauh lebih rasional daripada Kant. Bagi Chomsky, peran pengalaman yang masuk akal dalam menentukan bentuk bahasa cukup marjinal; Strukturnya terutama diproyeksikan dari bawaan dan struktur mental universal. Ahli bahasa lain mungkin tidak setuju dengan Chomsky tentang sifat struktur mental ini, betapa kaya struktur mereka ditentukan atau apakah itu memang unik untuk bahasa, namun mengingat banyak bahasa universal yang dibuktikan dengan kuat, sedikit ahli bahasa saat ini akan membantah kebutuhan akan struktur bawaan dan universal yang mendasari bentuk bahasa manusia. Akan tetapi banyak orang berpendapat tentang peran pengalaman, keadaan seorang anak dalam komunitas berbicara tertentu, dikelilingi oleh orang lain yang berbicara dan menggunakan bahasa dengan sifat struktural bahasa yang lain, cukup penting dalam proses dan hasil perolehan bahasa.

Di dalam psikologi, warisan Kantian mungkin paling transparan. Materi pelajaran psikologi adalah jiwa, dan hal ini diasumsikan dalam disiplin bahwa kapasitas ini sama untuk semua manusia. Psikologi mengasumsikan sebuah mekanisme pemrosesan sentral di dalam semua manusia, melalui kita berpikir, mengalami, dan belajar. Tujuan psikologi adalah untuk menggambarkan mekanisme pemrosesan sentral ini, yang diasumsikan untuk diperbaiki, universal dan abstrak, dengan cara yang paling eksplisit. Kita harus mencapai akses terhadap kapasitas ini dengan mempertimbangkan berbagai efek pembelokkan dari lingkungan yang dibangun secara kultural. Oleh karena itu, praktik – praktik psikologi eksperimental berkisar seputar konteks bebas, novel, dan sering kali berarti rangsangan tanpa rasa sakit – semakin baik untuk mengungkapkan formal universal prosessor pusat. Saat dihadapkan pada perbedaan lintas budaya yang signifikan dalam fingsi kognitif (Cole dan Scribner 1974), psikologi berlindung di Kantian Dogma: (1)apakah ada masalah dalam desain uji, dengan tidak dapat diterima bahan uji dari jenis budaya tertentu, sehingga pro pusat universal prosessor tidak dapat mengungkapkan dirinya sendiri atau (2) prosesor pusat belum dikembangkan sepenuhnya pada masyarakat “primitiv & ‘tertentu, karena desain budaya kapasitasnya ada di sana (Hallpike 1979; lihat juga Lévy-Bruhl 1926). Dalam semua kasus, ide dasar untuk mengatasi kecenderungan kinerja ini secara berurutan untuk mengungkap bentuk abstrak yang sebenarnya dan aktivitas dari pusat yang telah diberikan sebelumnya-perangkat pengolah biasa untuk semua manusia.

Apabila ditelaah dari sudut pandang budaya dan suku di Indonesia, misalnya  suku Tengger dimana mereka memiliki budaya, pola pikir dan keunikan tersendiri hingga sekarang. Seperti diketahui bahwa masyarakat suku tengger merupakan salah satu suku yang mendiami lereng gunung Bromo-Bemeru. Gunung bromo (2.392m) adalah gunung yang dianggap suci bagi masyarakat tengger karena merupakan lambang tempat dewa Brahma, tempat wisata terkenal di jawa timur yang dapat ditempuh lewat empat kabupaten, yaitu: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang.

Puncak gunung Bromo yang luasnya 10 km merupakan perpaduan antara lembah dan ngarai dengan panorama yang menakjubkan bisa menikmati hamparan lautan pasir seluas 50 km. Kawah gunung Bromo berada dibagian utara berketinggian 2.392 m. diatas permukaan laut yang masih aktif dan setiap saat mengeluarkan kepulan asap ke udara. Suhu rata-rata digunung Bromo antara 3-170C. Bagian selatan merupakan dataran tinggi yang dipisahkan oleh lembah dan ngarai, danau-danau kecil yang membentang di kaki gunung semeru yang dirimbuni hutan dan pepohonan sungguh merupakan pesona alam yang mengagumkan. Disamping pemandangan alam yang indah gunung bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat tengger yang tetap berpegang teguh pada adat-istiadat dan budaya yang menjadi pedomannya. Masyarakat tengger memiliki rasa persaudaraan serta solidaritas yang sangat tinggi. Menurur nara sumber di masyarakat tengger kriminalitas sangatlah kecil semua itu disebabkan oleh rasa percaya pada adanya tradisi, kualat, serta akibat yang akan didapat dari Sang Hyang Widhi jika mereka melakukan suatu kesalahan Masyarakat Suku tengger berjumlah sekitar 40 ribu (1985) tinggal dilereng gunung semeru dan disekitar kaldera tengger.

                   Sifat umum di dalam kehidupan sehari-hari orang Tengger mempunyai kebiasaan hidup sederhana, rajin dan damai. Mereka adalah petani. Ladang mereka di lereng-lereng gunung dan puncak-puncak yang berbukit-bukit. Alat pertanian yang mereka pakai sangat sederhana, terdiri dari cangkul,sabit dan semacamnya. Hasil pertaniannya itu terutama adalah jagung, kopi, kentang, kubis, bawang prei, Wortel dsb. Kebanyakan mereka bertempat tinggal jauh dari ladangnya, sehingga harus membuat gubuh-gubuk sederhana di ladangnya untuk berteduh sementara waktu siang hari. Mereka bekerja sangat rajin dan pagi hingga petang hari di ladangnya. Pada umumnya masyarakat Tengger hidup sangat sederhana dan hemat. Kelebihan penjualan hasil ladang ditabung untuk perbaikan rumah serta keperluan memenuhi kebutuhan rumah tangga lainnya. Kehidupan masyarakat Tengger sangat dekat dengan adat- istiadat yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya secara turun-temurun. Dukun berperan penting dalam melaksanakan upacara Adat. Dukun berperan dalam segala pelaksanaan adat, baik mengenai perkawinan, kematian atau kegiatan-kegiatan lainnya. Dukun sebagai tempat bertanya untuk mengatasi kesulitan ataupun berbagai masalah kehidupan. Kehidupan pada masyarakat Tengger penuh dengan kedamaian dan kondisi masyarakatnya sangat aman. Segala masalah dapat diselesaikan dengan mudah atas peranan orang yang berpengaruh pada masyarakat tersebut dengan sistem musyawarah.

#chomsky

#kant

immanuelkant

#kantian

#sukutengger

Warisan Kantian

Sangat penting untuk menekankan bahwa kategori mental Kant adalah bawaan, struktur bangunan dan universal, semua fitur yang mereka bagikan dengan pandangan Platonis dan rasionalis sebelumnya. Dalam hal ini, Kant mengikuti tradisi ini. Karya Kant telah sangat berpengaruh dalam pemikiran Barat sejak zamannya. Tidak hanya filsafat, tapi juga ilmu perilaku dan ilmu sosial, seperti psikologi dan antropologi, umumnya memahami masalah dalam kerangka kerja yang sebagian besar dibangun di sepanjang garis Kantian. Memang, sebagian besar psikologi psikologi Kognitif saat ini tidak terbayangkan tanpa adanya pemahaman latar belakang yang diberikan oleh sintesis Kantian yang digambarkan di atas. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa semua teori psikologis dan antropologi secara ketat adalah Kantian. Jauh dari itu. Hanya saja pemikiran Kant yang sering tidak diakui karena teori mereka ini.

Banyak dari posisi teoretis yang kita temukan dalam ilmu pengetahuan kognitif modern seperti psikologi, ilmu pengetahuan, atau antropologi adalah amandemen, perluasan, atau kontradiksi pandangan Kantian. Sebagai contoh, posisi relativisme topik Bagian IV, berasal dari kontradiksi penalaran rasionalis Kant bahwa kategori mental bersifat bawaan, substantif, dan universal. Kita dapat membantah pandangan ini dalam bentuk yang kuat dan lemah, yang menyebabkan dua bentuk relativisme. Posisi yang kuat menyangkal semua kategori mental semacam itu dan mengklaim dalam pandangan empiris yang kuat bahwa mereka dipelajari melalui eksperimen Ence, sedangkan posisi lemah berpendapat bahwa beberapa kategori yang lebih umum dan abstrak mungkin bawaan, tetapi bahwa bentuk substantif sebenarnya yang disadari dalam pikiran mereka adalah hasil dari pengalaman. Perhatikan kategori ruang. Pandangan yang kuat menyatakan bahwa kita tidak memiliki pemahaman bawaan ruang sama sekali, bahkan sebagai gagasan abstrak untuk berada di suatu tempat, tapi memang begitu dipelajari melalui pengalaman yang terjadi di dunia. Dengan demikian, pandangan kuat ini mungkin tidak bisa dipertahankan. Bentuk yang lebih lemah berpendapat bahwa ruang sebagai beberapa gagasan abstrak berada di suatu tempat adalah bawaan dan universal, tapi di luar ini banyak substantif dan struktur-bangunan konsep dalam bidang ini  dipelajari melalui pengalaman.

Meski bukan pasangan yang diperlukan, pendekatannya timbul dari fenomena yang dekat dikaitkan dengan relativisme dalam mayoritas pemikiran modern. Seperti yang ditunjukkan di atas, Kant mengukuti Plato dalam menegaskan sebuah kontras yang tajam antara penampilan yang masuk akal dari hal-hal dan realitas pokok seperti benda-benda itu sendiri, dan selanjutnya menyatakan  bahwa pengalaman kita selamanya terbatas pada bekas. Fenomenologi berkaitan dengan perolehan akses terhadap benda-benda itu sendiri dengan sebuah pengurangan elemen fundamental yang membuat pengalaman itu sendiri. Sine qua non yang tidak dapat diperkecil lagi dari semua pengalaman tersebut merupakan sebuah kesadaran. Tapi tidak ada kesadaran dalam dirinya sendiri; kesadaran itu pasti ada dalam sesuatu. Semua kesadaran diarahkan, dan pengetahuan ada di dalam konteks orientasi terarah ini terhadap dunia. Shweder’s (1990) mengusulkan subdisiplin baru dari kebudayaan psikologi yaitu sebuah contoh yang baik dari sebuah teori kognitif dan ilmu pengetahuan yang terinspirasi secara fenomenologis. Baginya pemahaman manusia tertanam dalam kegiatan praktis sehari-hari di mana manusia berinteraksi satu sama lain dan hal – hal dari dunia. Pemikiran yang tertanam dalam kegiatan praktis ini; dalam arti “alat dan pikiran” (Shweder 1990: 23). Seperti praktik ini terkonstruksi secara membudaya dan pikiran tertanam di dalamnya, sejauh ini pengetahuan secara budaya terbentuk.

#kant

#immanuelkant

#kantian

#shweder

Sintesa Kantian

Agenda rasionalis juga berperan penting dalam disiplin ilmu lain yang berorientasi kognitif seperti antropologi dan psikologi, dan sintesis besar Kant (1958 [1781]) sangat penting di sini. Prestasi besar Kant adalah rekonsiliasi pandangan rasionalis / Platonis dengan gagasan filosofis empiris yang berlawanan, yang berpendapat bahwa pengetahuan diperoleh dengan pengalaman praktis yang masuk akal dan tidak diberikan alasan yang dimiliki secara tahan lama. Sekolah ini terwakili dalam tradisi Barat terutama oleh filsuf Inggris seperti Locke, Berkeley dan Hume, dan berlanjut untuk menjadi sangat berpengaruh di antara filsuf berbahasa Inggris saat ini. Kant sendiri agak rasionalis, tapi rasionalisme dan empirisme memengaruhinya. Memang, Kritiknya tentang pemikiran yang murni adalah upaya yang berani dalam memadukan kedua mazhab filsafat ini, walaupun hasil akhirnya lebih jelas dari sebuah risalah rasionalis, dalam mengemukakan konsep mental bawaan dan universal daripada teori empiris. Bertentangan dengan kaum rasionalis, Kant mengklaim bahwa pengetahuan tidak hanya dapat direduksi menjadi prinsip bawaan, namun seimbang, berlawanan dengan empiris, dia berpendapat bahwa pengetahuan bukanlah refleks dari pengalaman. Kita tahu dunia melalui konsep yang sering diberikan secara bawaan, namun tetap terlepas dari konsep kita. Karena pengetahuan kita tentang dunia dimediasi oleh konsep, kita tidak akan pernah bisa mengetahui secara langsung tentang hal itu; Kita hanya bisa memiliki pengetahuan tentang penampilan. Di sini muncul kembali kontras Plato antara penampilan yang masuk akal dan realitas ideal, namun Kant membantah Plato dengan mengklaim bahwa pengetahuan kita hanya melalui penampilan. Pengetahuan langsung tentang gagasan abadi yang ideal tentang kenyataan berada di luar jangkauan kita. Selanjutnya, apa yang secara langsung disajikan ke dalam pikiran bukanlah penampilan yang holistik dan prestructured, namun kesan yang masuk akal (persepsi, data sensorik, seperti suara, bau, gambar, dll.) masuk ke pikiran dari organ perasaan yang tepat. Ini merupakan perubahan terus-menerus untuk mengubah kesan/pengaruh yang tidak terorganisir. Sejauh ini, ini adalah posisi empiris, tapi dari mana, kemudian kemana, muncul pemahaman kita pada sebuah perintah, dapat diprediksi, dan tampilan realitas yang terstruktur?

Pada titik ini Kant menggunakan pemikiran rasionalisnya. Munculnya kenyataan adalah karena pengenaan konsep mental bawaan terhadap data persepsi organ indera kita. Pikiran kita membangun tatanan ini, seperti yang dikatakan oleh para rasionalis. Bawaan ini, sebelum diberi kategori umumnya bervariasi. Misalnya,  kita mengalami semua hal yang melekat dalam ruang dan waktu. Konsep-konsep ini adalah babak eksistensi kita, dan formatif dari semua pemahaman kita tentang realitas. Kategori bawaan pikiran mencakup gagasan matematis seperti konsep kuantitas (kesatuan, pluralitas dan totalitas), konsep modalitas (kemungkinan, eksistensi dan kebutuhan), dan konsep relasional (sebab dan akibat). Kategori ini mengarahkan apa yang pikiran bawa dalam perasaan untuk mengorganisasikannya. Dengan demikian, pengalaman kita adalah sebuah fungsi dari aktivitas pengorganisasian kognitif pikiran melalui gagasan yang diberikan sebelumnya dan pendistribusian, fungsi penerimaan data dari organ perasaan kita. Hubungan antara data sensorik mentah dan kategori bawaan yang diberikan sebelumnya disediakan oleh Kant yang disebut dengan skema. Skema ini memberikan prinsip yang menentukan bagaimana kategori yang sebelumnya diberikan dikaitkan dengan sebuah kesan sensoris tertentu, misalnya, bagaimana “warna merah” dikaitkan dengan sebuah kesan sensoris tertentu dari warna ini. Skema ini diaktifkan oleh data sensoris tertentu ini, namun masuk dalam kategori mental yang memberikan pemahaman koheren terhadap data ini, oleh karena itu sebuah pengalaman terjadi. Dalam terminologi modern, Kant telah meramalkan gagasan representasi mental, sebuah hubungan antara fisik, dunia sensorik dan struktur pemberi kategori pada pikiran (Gardner 1985). Hal ini merupakan gagasan sangat penting yang akan diulas kembali nanti.

#immanuelkant

#kant

#kantian

Antropologi Linguistik Untuk Menegaskan Psikis Manusia

Dalam prakteknya, hal ini utamanya melibatkan persatuan fundamental dalam fungsi mental semua manusia. Tapi bahkan sepintas lalu sekilas di dunia mengungkapkan bukan kesatuan, tapi keragaman, di semua tingkat perilaku budaya, sosial, dan bahasa manusia. Kontradiksi yang nyata ini telah dipecahkan dengan menerapkan perbedaan mendasar antara penampilan dan kenyataan, di balik keanekaragaman permukaan yang nyata terdapat kesatuan yang lebih dalam dan lebih nyata, dari mana keragaman permukaan yang dihasilkan, pada akhirnya, diharapkan, secara eksplisit dapat dilakukan.

Pandangan ini tidak berarti jika tidak bernilai dan tradisional, kembali ke Plato dan tercermin dalam perumpamaan gua yang terkenal dalam karya terkenalnya, The Republic. Sekelompok orang digambarkan menghabiskan seluruh hidup mereka di sebuah gua. Rantai membelenggu mereka sehingga mereka hanya bisa melihat dinding belakang gua. Api di belakang mereka menyebabkan bayang-bayang dilemparkan ke dinding, inilah yang bisa mereka lihat dari benda-benda di belakang mereka. Bagi Plato, perumpamaan ini merangkum sifat pemahaman manusia. Di luar perubahan dan keragaman hal-hal yang masuk akal di dunia ini merupakan bidang abadi dari bentuk dan gagasan yang murni dan lengkap. Pertimbangkan salah satu contoh Plato; Pengertian tentang persamaan. Tidak ada dua tongkat yang sama persisnya: dan bagaimanapun juga, tidak ada pengukuran yang bisa cukup akurat untuk menunjukkan hal ini secara meyakinkan. Gagasan tentang persamaan ada di luar manifestasi fisiknya di dunia material. Hal ini ada di dunia lain, gagasan, yang sempurna, murni, dan abadi muncul hanya untuk pikiran itu sendiri. Pengetahuan tentang gagasan ini adalah satu-satunya jenis pengetahuan sejati; Hanya yang abadi yang bisa diketahui, segala sesuatu yang lain tidak sempurna, kontingen. Akhirnya, gagasannya adalah penjelasan tentang dunia yang masuk akal. Apapun realitas yang ada di dunia material berasal dari gagasan di baliknya; Kursi bahan tertentu, misalnya, mendapat kenyataan sebagai kursi dari gagasan “kursi” di luar semua manifestasinya yang spesifik di dunia material.

Pandangan Plato memiliki pengaruh besar dalam sejarah pemikiran Barat dan dengan kedok modern, mereka terus melakukannya hari ini. Mereka biasanya diartikulasikan hari ini dalam bentuk modern yang diberikan oleh pemikir rasionalis abad ketujuh belas, seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Doktrin dasar rasionalisme adalah bahwa pengetahuan tentang dunia dapat dicapai dengan penalaran murni, tanpa daya tarik yang diperlukan untuk pengalaman dunia material. Hal ini dilakukan oleh anugerah bawaan dalam pikiran manusia dari kecakapan akal. Kecakapan akal mengandung konsep bawaan seperti substansi atau sebab-akibat, bukan berasal dari pengalaman, tetapi melalui apa yang kita pahami dari pengalaman tersebut. Karena ini adalah bawaan, manusia pada dasarnya diberikan bentuk yang sama, yaitu mereka universal. Dalam sebuah kerangka rasionalis, bawaan inilah alasan universal yang menarik perhatian, bukan perubahan yang terus menerus dari pengalaman yang masuk akal.

#plato

#descartes

#antropology

#linguistics

Dua Macam Kearifan dan Penjelasannya

Kearifan Melihat Pertanda Alam

Ketika kita mendengar dongeng legenda atau kisah-kisah sejarah zaman dahulu, bahwa kita itu orang begitu tinggi kepekaannya terhadap apa yang terjadi dengan alam. Mereka terbiasa menggagas kejadian alam dan mengurai maknanya. Untuk menganalisa kira-kira apa yang harus dilakukan sebuah kejadian. Hal ini bisa dianalogikan dengan sebuah kepekaan semut. Seperti saat menjelang musim penghujan tiba, banyak semut yang berbondong-bondong berderet bermigrasi dari tanah atau sela-sela ubin, menyusuri dinding, bergerak keatas untuk mencari sarang di sela-sela dinding atau langit-langit. Mungkin kita tidak pernah tau pertanda apa yang diterima pengindraan semut, sehingga mereka berpindah tempat tinggal dari bawah ke atas. Kita tahu bahwa kalau hujan tiba, tanah akan menjadi basah dan keadaan ini bisa berbahaya bagi komunitas semut. Sehingga mereka berpindah tempat tinggal dari bawah keatas. Kita tahu bahwa kalau hujan tiba, maka tanah akan menjadi basah dan keadaan ini bisa berbahaya bagi komunitas semut. Sehingga sebelum hujan tiba mereka memindahkan komunitasnya ketempat yang lebih tinggi. Dengan begitu sebenarnya telah memberikan penglihatan pentingnya sebuah pertanda alam, sehingga bisa memberikan kita pertimbangan-pertimbangan untuk melagkah dalam kehidupan.

Kearifan Dalam Menggapai Tujuan.

Kearifan melihat pertanda alam adalah upaya kita untuk melihat manusia sebagai bagian dari alam yang selalu berubah dan patuh pada keberulangan. Tetapi yang paling penting adalah kesadaran kita bahwa mausia ada yang menciptakan yaitu Tuhan Sang Pencipta. Kemudian dalam menjalani hidupi dunia ini, manusia harus melangkah. Arah inilah yang selalu menjaga kita agar tidak keluar dari koridor tujuan hidup kitadan konsisten menuju tuuan tersebut. Untuk itu, manusia harus bisa membiasakan diri untuk bisa mendefinisikan tujuan hidupnya. Apa misi dan visinya pada kehidupan di dunia ini. Kearifan ini adalah cermin dari sebuah gagasan pentingnya sebuah tujuan, visi dan misi, baik secara individu maupun kelompok.

#kearifan