
Kebudayaan dipandang sebagai pengetahuan karena segala aktivitas public melibatkan proses berpikir dan kemampuan untuk berinteraksi sosial (Geertz, 1973: 76 dan 1973: 83). Untuk memahami suatu budaya kita dapat melihat perbedaan-perbedaan yang dapat diinterpretasikan dengan pola yang berbeda-beda (Becker, 1995). Pengetahuan menjadi alat budaya yang memperlihatkan intelektualitas kita. Pengetahuan menjadi representasi mental orang yang mengaplikasikannya yang menuntut adanya keseimbangan antara isi pikiran dan isi hati. Masalah antropologi pengetahuan bagaimana praktek budaya lokal menjadi representasi mental didalam pikiran individu yang keluar menjadi pikiran public. Teori budaya harus menjelaskan cara kita berbicara tentang budaya suatu kelompok tertentu dan proses apa yang terjadi didalam budaya tersebut (Goodenough, 1981:54).
Hal-hal yang menbedakan kebudayaan adalah perbedaan prinsip logis dalam berpikir. Saat ini yang menjadi fokus perhatian adalah model budaya tentang hubungan kekerabatan (kinship) karena hubungan kekerabatan dianggap sebagai jaringan perilaku budaya. Anak-anak yang bersosialisasi didalam lingkungan kelas pekerja (working class children) cenderung memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tetangga dan teman-teman di sekolah. Disatu sisi, mereka hanya memiliki pilihan hidup mereka yang cenderung untuk meneruskan pekerjaan dari orang tuanya. akan tetapi disisi lain, mereka akan belajar dan bekerja keras karena budaya bekerja di lingkungan keluarganya terbawa di sekolah. (Willi, 1977). Berikut ini adalah contoh dari budaya yang muncul dari hubungan kekerabatan (kinship) dengan capaian interaksi sosialnya:
Berikut ini faktor-faktor pengaruh interaksi didalam keluarga yang mempengaruhi terbentuknya budaya dalam berinteraksi dengan orang lain yang disesuaikan dengan budaya Jawa
- Pengetahuan keluarga tentang citra diri dan citra orang lain
Setiap keluarga mempunyai peranan penting untuk memberikan pengajaran tentang gambaran-gambaran tertentu mengenai dirinya, statusnya, kelebihan dan kekurangannya didalam keluarga. Gambaran itulah yang menentukan apa dan bagaimana orang tua mendidik dalam hal tata cara berbicara, bagaimana berpikir untuk menjaring apa yang dilihatnya, didengarnya, dan bagaimana penilaiannya terhadap segala yang berlangsung disekitarnya. Dengan kata lain, citra diri menentukan ekspresi dan persepsi orang. Tidak hanya citra diri, citra orang lain juga mempengaruhi cara dan kemampuan orang berinterakasi. Orang lain mempunyai gambaran khas bagi dirinya. Jika seorang ayah mencitrakan anaknya sebagai manusia yang lemah, ingusan, tak tahu apa-apa, harus di atur, maka ia berbicara secara otoriter. Akhirnya, citra diri dan citra orang lain harus saling berkaitan, saling lengkap-melengkapai. Perpaduan kedua citra itu menentukan gaya dan cara komunikasi. Disini dapat disimpulkan keluarga adalah pembentuk budaya dalam mewujudkan citra diri, gaya, dan cara berkomunikasi.
Berikut ini contoh dari ajaran tentang citra diri dalam keluarga Jawa tentang citra diri: ngundhuh wohing pakarti (menuai buah pekerti) yang bermakna setiap orang akan mendapatkan akibat dari perilakunya sendiri
#kebudayaan
#budaya
#antropologi
