Judul tulisan ini adalah dua buah makanan kudapan yang berbeda. Bakwan dan weci.. yaa dua kudapan ini adalah snack favorit banyak orang di Indonesia.
Namun dari jenisnya sebenarnya keduanya adalah dua makanan yang berbeda. Berbeda dari segi arti dan resep. Itupun setiap daerah ternyata memiliki resep kesukaan yang tidak akan sama atau nyaris sama.
Seperti misalnya bakwan. Bakwan di kotaku di Malang adalah makanan berjenis gorengan dan dipergunakan sebagai lauk pendamping. Bakwan terbuat dari bahan jagung muda dengan bumbu yang beragam. Bakwan dibumbui dengan citarasa cenderung pedas. Yaitu cabe, bawang putih, ketumbar, daun jeruk, kencur dan kunci. Untuk 4 bumbu terakhir banyak para bunda yang menvariasikannya atau menggunakan salah satunya.
Beda dengan bakwan yang ini, bakwan yang berbentuk kuah bakso. Ya.. bakwan ini sangat berbeda. Nama bisa sama namun bentuknya sangat jauh berbeda. Asal kata bakwan dalam bahasa China sebenarnya adalah bak yang berarti babi. Dan masih banyak saya temukan kuliner bakso namun dilabel bakwan. Kalau kita tidak meneliti terlebih dahulu saat akan membeli atau makan, mungkin kita akan mendapatkan makanan yang berbeda dengan yang kita perkirakan.
Di Sidoarjo Jawa Timur, Surabaya dan sekitarnya Weci seringkali disebut dengan Ote-ote. Dan Ote-ote yang paling terkenal adalah di kota Porong, kota yang masuk dalam Kotamadya Sidoarjo Jawa Timur. Ote-ote Porong berbahan berbeda dengan Weci. Namun banyak yang mengatakan bahwa Ote-Ote Porong adalah Weci ala Surabaya. Bahan dasar Ote-ote Porong adalah mempergunakan tepung kedelai, bukan tepung terigu. Sedang penganan gurih ini tidak mempergunakan sayuran sebagai campurannya, melainkan cacahan daging ayam atau sapi. Di Solo, dengan bentuk dan resep yang sama snack ini disebut dengan Pia-pia.
Weci di Malang sangat variatif. Terutama pada isi atau campuran adonannya. Sayur yang dipergunakan dalam adonan Weci beragam antara lain kol, kecambah, wortel, daun bawang perai, daun seledri, sawi hijau, atau sawi putih. Namun bukan berarti semua sayuran ini dipergunakan secara bersamaan. Kebanyakan Weci menggunakan 1 hingga 2 macam sayuran yang saya sebut di atas. Bumbu yang dipergunakan adalah bawang putih dan merica bubuk. Adonan Weci seringkali tidak mempergunakan telur, meski bila diberi sebutir telur akan mempermudah penggorengannya (tidak melekat).
Weci memang bagusnya tidak menggunakan telur karenasayur mayur di dalam adonan weci inilah yang akan memproses oksidasi adonan sehingga akan memunculkan gelembung-gelembung udara. Ini akan mempermudah pencetakan Weci dalam sendok sayur di dalam minyak. Rasanyapun akan jauh lebih empuk dan gurih setelah adonan mengalami proses fermentasi.
Kunjarakarna Story, 1st Level, Candi Jago, Malang, East Java
Sejarah Terulang Setelah Ribuan Tahun Oleh Ika Farihah Hentihu
Pengulangan sejarah adalah pengulangan peristiwa serupa di dalam sejarah. Konsep pengulangan sejarah telah diterapkan dengan berbagai cara pada keseluruhan sejarah dunia (misalnya, pada kebangkitan dan kejatuhan kekaisaran) ataupun adanya pola-pola yang terulang dalam sejarah dunia, semisal sejarah pemerintahan tertentu atau dua peristiwa tertentu yang memiliki kesamaan yang mencolok. Secara hipotetis, konsep pengulangan sejarah adalah sebagai bentuk doktrin pengulangan abadi yang tertulis dalam berbagai bentuk sejak zaman kuno yang kemudian dijelaskan pada abad ke-19 oleh Heinrich Heine dan Friedrich Nietzsche. Meskipun sering dikatakan bahwa sejarah berulang dengan sendirinya, dalam siklus yang kurang dari durasi kosmologis, hal ini tidak sepenuhnya benar. Pengulangan terjadi karena keadaan yang dapat dipastikan dengan rantai kausalitas. Memang pengulangan dalam bentuk temuan dapat direproduksi yang diperoleh melalui eksperimen atau pengamatan. Ini sangat penting bagi ilmu-ilmu alam dan sosial juga dalam bentuk pengamatan kebetulan yang dipelajari melalui metode komparatif yang dalam konsep humaniora. GW Trompf, dalam bukunya The Idea of Historical Recurrence in Western Thought, menelusuri pola pemikiran dan perilaku politik yang berulang secara historis di barat sejak zaman kuno. Jika sejarah memiliki pelajaran untuk diberikan, maka bisa ditemukan cukup baik dalam pola yang berulang seperti itu. Pengulangan historis dari jenis kemiripan yang mencolok terkadang dapat menimbulkan rasa konvergensi, resonansi atau bahkan déjà vu. GW Trompf mencatat bahwa sebagian besar konsep barat tentang pengulangan sejarah menyiratkan bahwa masa lalu memberikan pelajaran untuk tindakan di masa depan dan ternyata jenis peristiwa yang sama yang telah terjadi sebelumnya akan terulang kembali. Tema bahwa peradaban berkembang atau gagal karena sesuai dengan tanggapan mereka terhadap tantangan manusia dan lingkungan yang mereka hadapi dan akan diangkat ratusan bahkan ribuan tahun kemudian. Metafora sosial-organisme juga telah ditelusuri kembali ke filsuf Yunani, Aristoteles (384–322 SM), akan terulang berabad-abad kemudian dalam karya-karya filsuf dan sosiolog Prancis Auguste Comte (1798–1857), Filsuf Inggris Herbert Spencer (1820–1903), dan sosiolog Prancis mile Durkheim (1858–1917). Stith Thompson (1976) mengurai ribuan peristiwa di muka bumi ini menjadi sebuah pola teratur yang didesain dalam index peristiwa. Bukunya, The Folktale menjadi rujukan kekinian terhadap semua peristiwa yang terjadi di muka bumi. Layaknya kisah Sampek Engtay yang sangat masyhur nyatanya menjadi inspirasi puluhan film-film Korea dan Jepang. Yaitu seorang perempuan di zaman lalu yang seringkali tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan sekolah sehingga memaksa dia untuk menyamar menjadi laki-laki agar bisa masuk ke lingkungan laki-laki. Dan kisah yang sama pula berulang dalam Folktale Kunjarakarna. Adalah sebuah candi yang terletak di kota Malang yaitu Candi Jago, Candi dengan panel relief yang menyimpan konsep pengulangan sejarah dan siklus hidup manusia yang bukan tidak mungkin mengambil cerita dan peristiwa ribuan tahun sebelumnya sebagai inspirasi. Candi Jago didirikan di abad 13 pada masa Kerajaan Singhasari. Salah satu relief paling fenomenal adalah Relief Kunjarakarna di teras pertama candi. Cerita atau folktale dalam relief yang ditulis dalam kakawin (syair) yang ditulis oleh Mpu Dusun menggambarkan seorang Yaksa (raksasa) bernama Kunjarakarna yang menyaksikan dahsyatnya siksaan neraka. Dan sangat mungkin bahwa cerita yang ditulis di abad 15 ini terispirasi oleh peristiwa Isra Mi’raj di abad ke 7 dan Nabi Idris di tahun 4533 SM. Kedua peristiwa yang mendunia ini mengispirasi semua ideologi saat itu termasuk Mpu Dusun yang telah menulis kakawin Kunjarakarna di abad ke 15. Dan lagi-lagi sejarah terulang, tepat seperti yang telah didesain oleh Stith Thompson, peristiwa kunjungan Nabi Idris AS, lalu dilanjutkan dengan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mi’raj nya lalu diakhiri dengan relief Kunjarakarna di Candi Jago mendapatkan index Internasional yaitu A661 untuk index Visiting Heaven dan A671 untuk index Hell. Nyatanya keduanya menjadi topik penting yang mengispirasi ukiran relief di Candi Jago ini. Mpu Dusun pun bukan berasal dari kalangan berdarah biru seperti kebanyakan kita temukan tentang karya-karya sastra yang banyak ditulis oleh kalangan istana. Namun jurnalis pinggiran ini justru ikut melestarikan peristiwa bersejarah Rasulullah SAW dan Nabi Idris AS dalam folktale Kunjarakarna di Candi Jago. Sangat mirip dengan 2 peristiwa ini yaitu sang Yaksa atau raksasa dalam mitologi Jawa ini menyaksikan adegan penyiksaan di neraka. tepat seperti yang dialami oleh dua Nabi Allah. Ada banyak konsep didaktik yang sarat ajaran moral yang sangat penting guna memahami sistim kepercayaan masyarakat pada masa itu. Pada sisa panel relief yang tertimpa lumut dan jamur itu, lakon siksa neraka ini masih jelas menampilkan pesan betapa hukum sebab akibat berlaku.
Bahasa Arab itu bahasa yang mulia, lembut dapat menentramkan serta menenangkan jiwa dan hati. Umat Islam saat mendengar lantunan ayat suci Al-Quran akan tentram dan nyaman. Dalam Al Qur’an sudah dijelaskan bahwasanya bahasa Arab adalah bahasa yang fasih, jelas, luas dan banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.
Begitu pula dengan bahasa Jawa. Bahasa satu ini saya anggap juga memberikan ketentraman pada pengguna dan pendengarnmya. Sebagai contoh ada seorang wanita dengan logat Bahasa Sunda mengobrol dengan saya melalui telepon. Saat itu wanita tersebut adalah manajer sebuah bank di Bandung yang hendak memberi persetujuan kredit nasabah yaitu adik saya. Sayapun menyetujui untuk dipasang sebagai saksi di permohonan kredit adik sejumlah 1 M tersebut.
Kemudian tersambunglah dialog antara saya sebagai pengguna Bahasa Jawa yang meskipun sudah sedikit bergeser karena saya adalah orang Jawa Timur dengan orang Sunda. Wanita tersebut mengggunakan bahasa Indonesia dialek Sunda dengan cukup berhati-hati karena akan menandatangani kredit bernilai besar.
Dengan hati-hati wanita tersebut bertanya ini ibu Ika (dengan nada Sundanese yang kental)? Dan saya jawab apa coba.. Jawaban saya juga berhati-hati dan cukup pelan, bersahaja dan menghargai dengan satu kata yaitu inggih (Jawa : iya). Selanjutnya bahasa itu pula yang kupergunakan dalam merespon pertanyaan wanita Sunda tersebut.
Kata panggil pun kusesuaikan dengan kondisi yaitu seorang wanita muda di Jawa akan sangat menghargai bila dipanggil dengan panggilan mbak. Dan itu pula yang selalu kukatakan dari awal hingga akhir saat bercakap dengan wanita tersebut. Yaitu “inggih mbak”.
Bahasa Jawa juga selalu diucapkan dengan suara tidak tinggi sebenarnya, halus namun masih terdengar jelas. Kadang diucapkan dengan nada agak tinggi bila ingin menegaskan atau sedikit emosi. Dan itu pula yang kupakai saat berbicara dengan manajer Bank berdarah Sunda ini.
Dan woila! Berhasil..
Kredit yang diajukan oleh adik senilai 1 M itu lolos.
Mudah-mudahan karena bahasa Jawa yang menentramkan didengar seperti Bahasa Arab.
Anda pernah mendengar istilah “scammer” dari media email, seperti yahoo dan gmail? Atau dari social media seperti instagram, facebook, dan tiktok? Dan mungkin juga melalui media komunikasi seperti sms dan whatsapp? Perlu diketahui bahwa scammer adalah sebuah trik menipu demi mendapatkan uang dengan segala macam cara. Dan yang pasti scammer ini apapun bentuknya akibatnya sangat merugikan korbannya. Korban kadang tidak sadar karena ada satu cara para penipu ini membujuk dengan rayuan-rayuan gombal seperti yang terjadi pada teman saya beberapa tahun lalu.
Kapan sebenarnya terjadi aktifitas penipuan dengan model scammer ini dimulai dan terjadi? Dari beberapa teman yang pernah bercerita juga cerita-cerita yang pernah saya baca, scammer mulai sering terjadi pada 2006 an. Seorang teman bercerita dengan sangat riang bahwa ada bule yang hendak melamarnya. Sebenarnya saya merasa curiga ada bule yang kesasar ke negara Indonesia yang notabene jauh dari negara dia berasal yaitu Inggris.
ini perlu diketahui juga bahwa negara asal para scammer ini kebanyakan adalah dari Inggris. jadi bukan ratu-ratunya saja yang terkenal. Penipunya juga bejibun hingga melintas batas negara. Namun mungkin mereka sudah berkali-kali sukses menipu cici-ciwi Indo yang mudah banget ditipu dengan cara bujuk rayu yang manjur. Sehingga singkat cerita teman saya ini sempat mengirimkan sejumlah uang kepada bule tersebut.
Awalnya si bule PDKT yang cukup intens ke temen saya ini. Nah berhubung temen saya ini jomblo maka bagai gayung bersambutlah cerita keduanya. Beberapa waktu berlalu kemudian bule ini bermaksud mengirimkan hadiah sebagai tanda kedekatan mereka. Dan juga sebagai tanda bahwa bule tersebut serius akan melamar. Hadiah ini akan dikirim ke alamat rumah temen di Blitar. Saat itu mereka sudah menggunakan komunikasi whassap sehingga bisa terlihat online tidaknya sang lawan bicara. Hadiah tersebut sempat difoto oleh si bule ini dengan tulisan nama dan alamat yang dituju. Dia menyebutkan isi dari kotak tersebut adalah laptop baru, tas bermerk Hermes dan sejumlah uang dalam amplop sebesar Rp. 25juta. Dan seketika itu pula teman saya girang, seluruh teman kerabat dan saudara kesemuanya ikut bergembira karena temen saya mengumumkan bahwa dia akan segera mengakhir masa jomblonya.
Namun kemudian sesuatu terjadi, apa itu? Beberapa hari kemudian teman saya ditelpon dengan nomor Malaysia. Dari suaranya terdengar logat Melayu kata teman saya, yang isinya mengatakan bahwa teman saya mendapat paket kiriman dari Inggris yang tidak dikirimkan ke alamat Indonesia dengan alasan tidak ada wakil biro penerimaan paket. Sehingga paket itu dikirimkan ke alamat biro Malaysia. Konsekwensinya teman saya harus mengirimkan sejumlah uang ke biro tersebut dengan jumlah Rp. 10juta agar biro tersebut kemudian mengirimkan paket tersebut ke Indonesia. Saat itu sayapun tidak bisa memberi pertimbangan apapun. Sepertinya baru teman saya ini yang mengalami kisah tertipu oleh bule. Saya tidak bisa memberi diskusi apapun karena memang tidak paham apa yang sedang terjadi.
Dan akhirnya beneran, temen saya benar-benar mengirimkan uang ke bule tersebut dengan akun bank pengiriman ke Malaysia. Tadinya teman saya bilang tidak bisa memberikan uang sebanyak itu, Dan anehnya dari pihak biro Malaysia memberikan keringanan beberapa ribu rupiah saya kurang paham. Dan setelah dikirimkan uang tersebut, apa yang terjadi? Anda sudah bisa mengira sendiri. Yaa.. bule itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan saat no WA nya dalam keadaan online.
Dan akhirnya tinggal berkeluh kesah saja teman saya. Saya juga tidak bisa menahan sedih. Apalagi teman saya juga sudah sering dibully oleh keluarganya dibilang karena perawan tua.
Ok saya akan coba sampaikan pengalaman teman saya agar teman-teman tidak mudah tertipu oleh bule-bule scammer.
1. Kebanyakan para bule ini menyamar di FB, Instagram dan Tiktok dengan memakai pakaian seragam Army.
2. Namun scammer yang jalani aksinya melalui email akan berperan sebagai orang kaya yang ingin menitipkan sebagian uangnya ke akun bank kita. Bisa jadi ini adalah pencucian uang. Orang ini kadang mengaku sebagai anak dari raja di kerajaan yang digulingkan sehingga ingin menyelamatkan hartanya sebagian ke para korban.
3. Para bule yang sering nampang di socmed ini juga kadang berfoto dengan 2 anaknya yang kecil-kecil atau kembar. Kadang akan mengaku sebagai duda yang ditinggal mati istrinya.
4. Bila mereka sudah bisa berkomunikasi lancar maka akan tiba-tiba memberi hadiah. Hadiah ini berupa kardus berisi laptop, tas mahal, dan sejumlah uang dalam amplop. Setelah difoto kardusnya lalu dikirimkan ke dm korban
5. Bule lebih menyukai korban yang tidak bisa berbahasa Inggris karena ini justru merangsang korban untuk ujug-ujug belajar bahasa Inggris sehingga bule tersebut akan membahaca gaya bahasa inggris korban yang belepotan sehingga akan mudah untuk diperdayakan.
6. Namun bule ini juga akan lebih bersemangat apabila korban bisa berbahasa inggris dengan baik. Tentu saja korban yang tidak paham scammer dan bisa dibujuk rayu karena statusnya yang jomblo.
7. Bule ini juga tak segan-segan menawarkan pergi haji kepada korban apabila korban adalah wanita muslim.
Oleh karena itu wahai para wanita Indonesia, mohon berhati-hati dan waspada ya..
Pemahaman kita mengenai diri kita
dan orang lain sebagian besar dibangun
melalui bermacam-macam praktik linguistik yang kita lawan. Melalui
penggabungan sosial yang didukung oleh praktik linguistik secara terus menerus
kita perankan dan bangun, aturan yang menjadi konsep dari seseorang dimengerti
adalah ideologi sekitar. Aturan tersebut berbeda di setiap tempat;dasar pembagian dalam dua bagian tentang
kepercayaan sekitar seseorang adalah egosentris yang menekan individu, kebenaran
otonominya dan tindakan yang prerogratif. Yang kedua yakni sosiosentris yang
menyoroti status seorang individu dalam kehidupan sosial yang lebih luas, serta
menganggapnya nilai dalam pada posisinya di kehidupan bersama. Perbedaan ini
dalam ideologi kepribadian sangat diberlakukan dalam praktek linguistik
perbedaan budaya. Konsep dari wajah sendiri telah diusulkan sebagai konsep
penting dalam pemahaman interaksi sosial, dimana hal ini bertujuan untuk
menambah atau paling tidak meminimalkan ekspresi wajah tersebut. Wajah dibagi
menjadi dua tipe, yakni, positif adalah sebagai harga diri seseorang, dan
negatif yakni sebagai pembebanan dan ketidakleluasaan.
Bermacam-macam cara praktik linguistik, digabungkan dibawah rubrik kesopanan.
Dilakukan untuk meminimalisir hambatan kedua tipe tersebut, namun hal ini
diklaim karena analisis ini adalah bagian dari etnosentris;terdapat dalam
lingkungan sosiosentris seperti Jepang, konsep wajah negatif, otonomi tindakan
individu yang marjinal. Lainya juga mengusulkan aturan lintas budaya dalam
interaksi linguistik, seperti prinsip kerjasama. Ide bahwa seseorang akan
mengatakan sesuatu yang tepat dalam hal tertentu saat berinteraksi, dan itu
menghubungkan 4 maksim percakapan, cenderung
pada variasi yang menonjol. Sementara yang sangat penting dalam membangun percakapan dalam bahasa
Inggris Amerika atau bahasa Inggris adalah kepentingan dan fungsi mereka tidak
jelas pada orang lain, contohnya masyarakat di Malagasy, yang mana secara
kontras menekankan pada ketidaklangsungan dan ketidakjelasan. Sama halnya
dengan masyarakat individualis, makna ujaran diarahkan pada apa yang pembicara
maksudkan. Berbeda halnya dalam masyarakat sosiosentris, makna disusun oleh
pelaku percakapan, dan terkadang menggambarkan kontribusi dari bermacam-macam
pelaku percakapan, tergantung posisi sosialnya. Semua perbedaan budaya ini
dalam praktik perbandingan budaya linguistik memberi kesan bahwa sebenarnya
perbedaan makna ditukar dalam sebuah komunitas. Tipe kerelatipan linguistik
lain dan cara mengartikan maksud tersebut akan dibedakan pembagiannya,
tergantung posisi sosialnya.
Di daerah lain yang sangat nampak perbedaan lintas budaya
dalam interpretasi prinsip kerjasama dan
Maksim terkait lebih menyangkut pada siapa dan apa yang menetapkan tujuan
percakapan atau hal lainya, lebih tepatnya, siapa yang menginterpretasi ucapan
pembicara selama percakapan tersebut. Pemahaman umum di barat, mengacu pada
potongan pembahasan karya Searle mengenai tindak tutur (1969) yang dilakukan
oleh pembicara itu sendiri. Hal ini menggambarkan suatu kode atau konsep dalam
sebuah bahasa, dalam artian pembicara memiliki maksud lain melalui tindak tutur
tertentu dalam menyampaikan maksud pada pendengar. Makna tutur kata adalah
tujuan pembicara tersebut, yang berarti dia sebagai individu yang
berinterpretasi assigus pada
ujarannya (pendengar terus menjadi penonton pasif yang hanya dapat
menebak-nebak maksudnya, entah benar ataupun salah).
Karya
terbaru (Duranti 1988b; Rosaldo 1982) berpendapat bahwa konsep makna dan
interpretasi tersirat mengambarkan ideologi kepribadian barat dan tidak menyamaratakan budaya yang
ideologinya cenderung sosiosentris. Duranti (1988b) berpendapat bahwa dalam
budaya Samoan, mengartikan ujaran dalam pidato formal yang menyertakan hal
bersiat politik dan hukum yang biasa disebut fono. Secara terkontruksi hal tersebut datang dari para partisipan
didalamnya, sebuah tugas yang dilihat oleh semua orang sebagai sebuah
kerjasama, sekalipun struktur hirarki
sejalan dengan batasan di masyarakat; “Daripada
menyimpulkan kata-kata berdasarkan pemahaman sendiri [berdasarkan analisis
Searle mengenai tindak tutur], Samoans mempraktekan intepretasi sebagai cara
untuk menjaga hubungan sosial daripada sebagai cara untuk menebak-nebak “makna”
seseorang saat berbicara” (Duranti 1988b:15). Oleh karena itu makna dibuat
secara dialogis dalam pidato yang sedang berlangsung dan tidak tergantung pada
maksud seseorang maupun keadaan psikologis. Sebagai contohnya, Samoans tidak
bertanya “maksut kamu x?” tetapi ia
akan melontarkan pertanyaan “apakah yang
kamu maksud seperti x?”, dapat dikatakan hal tersebut lebih fokus pada
garis besar makna sebagai konteks interpretasi tersebut daripada maksud
pembicara. Selanjutnya, saat berlangsungnya percakapan fono, makna ujaran akan diperdebatkan oleh para orator, yang mana
keduanya kooperatif dan kompetitif terhadap pernyataan interpretasi dan
kejadian di publik. Dalam opini fono sering
diutarakan oleh orator kepada kelompok daripada kepada seorang individu seperti
seorang pemimpin, untuk orator yang berbicara. Walaupun, pembicara sering
mengubah antara kata ganti tunggal “saya”
atau jamak esklusif “kita” (untuk fenomena yang mirip dalam “segmentasi
orang” bahasa di tanah New Guinea, lihat Rumsey (1989). Tindak tutur
selanjutnya tidak digunakan pada individu, melainkan pada suatu kelompok, oleh
karenanya, kelompok secara keseluruhan dilihat sebagai pembagian tanggung jawab
sebagai maksud ujaran. Sekali lagi hal ini menggambarkan ideologi sosiosentris
yang mana memberi nilai pada seseorang yang dimaksudkan dalam posisi kelompok
tersebut.
Hal
sama juga diutarakan oleh Rosaldo (1982) dalam catatannya tentang tindak tutur
diantara masyarakat Ilongot egalitarian dari Filipina. Rosaldo berpendapat
bahwa masyarakat Ilongot tidak menganggap tindak tutur sebagai tanda
individualis dalam ekspresi Linguistik. Namun secara menonjol hanya sebagai
permintaan bekerjasama antar individu, dan kerjasama merupakan hal mendasar
untuk berinteraksi sosial di masyarakat egalitarian. Hal tersebut merupakan
kerjasama sosial dan makna interaktif yang penting dibangun di Ilongot, tidak
terpusat pada pemikiran masing-masing individu, yang mana memang sedikit
manarik perhatian mereka (kata mereka “kita
tidak akan pernah benar-benar tahu isi hati seseorang”). Rosaldo
mengutarakan poin analisisnya tentang kalimat perintah atau tuydek, yang mana dapat dilihat oleh
masyarakat Ilongot sebagai contoh kemampuan berbiacara. Kalimat perintah sering
digunakan oleh orang dewasa kepada anaknya atau laki-laki kepada perempuan.
Seperti halnya disebutkan diatas tentang ucapan Grive soal Prinsip
Kerjasama bersifat cukup samar untuk memenuhi variasi antar budaya yang signifikan.
Empat Maksim berusaha menulis sub-prinsip lebih ekplisit, tapi bukti dari
budaya lain sementara menyarankan bahwa ini mencerminkan perilaku percakapan
etnografis di Eropa Barat yang menurunkan budaya daripada ketidakleluasan
absolut yang bersifat universal. Variasi antarbudaya itu sangat penting dan
benar-benar tidak diakui dalam pembicaraan Maksim milik Grice bahwa Hymes
(1968:78) yang berdampak untuk mengkritik “besarnya etnosentris”. Seperti yang
diungkapkan tadi, wilayah dimana variasi antar budaya diharapkan akan
melibatkan sifat dan jumlah informasi dalam percakapan di budaya tertentu dan
siapa atau apa yang menentukan tujuan dan arah percakapan. Jenis dan jumlah
informasi secara budaya telah jelas ditentukan, seperti yang ditunjukkan dengan
brilian oleh Keenan (1976) melaui studi praktik percakapan diantara para petani
Malagasy. Petani Malagasy, khususnya laki-laki, khususnya yang kurang
informatif dalam memberi penjelasan dibanding orang Amerika atau Australia.
Mereka melihat informasi komoditas penting, sesuatu yang memberikan prestise
dalam desa penganut egaliter yang lebih besar, sehingga mereka enggan untuk
membaginya dengan leluasa. Dalam desa kecil yang satu sama lain saling
membantu, dimana setiap orang terhubung dengan yang lain, yang mana kontak
kecil dengan dunia di luar mereka mungkin terjadi dengan kecilnya rahasia dan
privasi yang kurang, informasi yang tidak tersedia di publik benar-benar
dihargai dalam status sementara yang diberi. Jadi, ketika seseorang bertanya,
tidak mungkin informasi dibutuhkan oleh penanya akan dengan cepat dipenuhi,
agak tidak jelas, sebagian jawaban adalah norma. Jadi ketika seseorang
ditanya kemana mereka akan pergi, mereka tidak akan menjawab “pergi ke toko untuk membeli beberapa botol
beer;kami berencana pergi pesta malam ini.” Tipe jawaban masyarakat
Malagasy akan cenderung “Oh, cuma pergi
kesana”, keterangan jawaban menjadi tidak jelas, dan seseorang yang
bertanya akan paham apa yang dimaksud dari tindakan orang tersebut.
Hal
lain yang juga menjadi faktor penting dalam memengaruhi terjadinya Maksim
Kuantitas dalam percakapan di masyarakat Malagasy adalah budaya bungkam pada
tuntutan khusus di depan umum, kekhawatiran akan hancurnya keberanian jika
tuntutan tersebut akan gagal. Malagasy cenderung menghindari pertanggung
jawaban atas informasi saat berkomunikasi, sehingga informasi yang disampaikan
sangat terbatas dan seringkali terkesan tidak jelas, setidaknya dalam
pendengaran kita (pelanggaran Maksim Perilaku). Jadi, seseorang menghindarkan
dirinya dari kegiatan yang akan terjadi, dengan alasan hal tersebut takut gagal
terjadi. Jika ditanya mengenai kapan sebuah festival akan terjadi, sangat
mungkin jawaban yang diberikan akan tidak jelas atau samar-samar, seperti “Saya tidak yakin kapan festival tersebut terjadi”
atau “Mungkin sekitar bulan Juni”, meskipun jika responden itu dengan sadar
mengetahui tanggal pasti kapan kejadian tersebut akan terjadi. Hilangnya
keberanian juga menyebabkan seseorang sangat berhati-hati ketika memberikan
nasehat atau peringatan, sehingga dapat menghilangkan berbagai kemungkinan yang
mungkin terjadi. Coba beri pertanyaan kapan Mr X berada di rumah, maka jawaban
yang mungkin dikatakan yaitu, “Jika kamu
tidak datang setelah matahari tenggelam, maka kamu tidak akan bertemu Mr X.”
Informasi ini terdengar samar-samar dan tidak jelas, namun memberi nilai budaya
di Malagy, hal ini merupakan jawaban terbaik saat memberikan informasi, namun
menghindari tanggung jawab dikegiatan yang akan datang.
Ketidakjelasan
dan kekurangan dari informasi juga termasuk tipe ekspresi untuk mengarahkan
seseorang. Seseorang menghindar untuk menjelaskan keterangan dirinya dalam
ujarannya, karena dapat membuka kesempatan seseorang campur tangan didalamnya.
Hal ini juga untuk menjaga diri dengan sosiosentris dan keadaan bergantung pada
pengertian seseorang dalam budayanya dan perbedaan dalam individualis barat.
Sebagai konsekuensinya, individu seseorang ditunjukan oleh ekspresi yang
memperhatikan posisi mereka dalam sosial masyarakat. Dan seringkali jejak-jejak
seseorang dihapuskan, sehingga orang-orang desa/udik mungkin menunjukan dirinya
sebagai olona “orang,” zazalahy “laki-laki,” atau rayaman-dreny “orang tua”. Jadi, seorang
perempuan dapat mengatakan “apakah orang (olona) sedang tidur?” kepada putranya, ketika
“orang” yang dimaksud tersebut adalah suaminya sendiri (Keenan,1976:73).
Catatan dalam pemakaian kata-kata dan berkenaan dengan Grice’s (1975) Maxims,
pada penggunaan kata “orang” hanya cocok ketika pembicara tidak sadar pada
keadaan orang yang tidur. Di Malagasy, seseorang pun sewajarnya berkata “seseorang sedang melihatmu” ketika
seseorang yang dimaksud tersebut adalah kakak laki-lakinya (Keenan and Onchs,
1979:153).
Penyampaian
kepercayaan budaya di Malagasy, satu daerah yang menunjukan masalah khusus
dalam interaksi lisan adalah tindak tutur
dari beberapa permintaan seperti yang tercantum dalam Brown and Levinson
(1987), mereka memaksakan kebebasan pribadi to untuk bertindak atau memberi negative
face, tetapi karena mereka terancam dengan positive face di Malagasy
dalam hal nilai persamaan dan tanpa konfrontasi, dan juga jika diterima,
berkomitmen pada yang dituju secara eksplisit dalam beberapa kejadian di masa
depan. Penjelasan sebelumnya masuk akal dalam sebuah egosentris, budaya
individual sama halnya dengan budaya barat, namun kurang tepat untuk
diaplikasikan dalam budaya sosiosentris seperti Malagasy (seperti yang
diungkapkan juga pada Matsumoto (1988) terhadap Jepang). Permintaan cenderung
menunjukan bentuk isyarat secara tidak langsung. Begitupun, seseorang tidak
akan meneruskan isyaratnya secara langsung ketika dalam pertemuan sosial, pun
ketika tujuan utama dari sudut pandang mereka yakni untuk membuat suatu
permintaan. Keenan dan Ochs (1979:154) memberikan contoh yang membentur untuk
menggambarkan poin tersebut. Suatu hari, beberapa lelaki tiba dirumahnya tanpa
terencana sebelumnya. Setelah beberapa menit dan berbincang-bincang ringan,
topik untuk memotong kaki mulai ditunjukan, luka biasa saat gunung meletus
disuatu kota yang mana desa didalamnya terdampak. Beberapa saat setelah itu,
salah satu lelaki paling belakang dalam group tersebut menunjukan Keenan and
Ochs pemotongan kaki yang sangat buruk dan membutuhkan pertolongan segera. Hal
ini mungkin sulit untuk dibayangkan secara langsung, memulai-mengakhiri dan
tidak jelasnya keterangan untuk menunjukan permintaan daripada hal tersebut!
Yang penting sekali pada model kesopanan Brown dan Levinson yaitu prinsip
kerjasama antar lawan bicara dalam saling memelihara rupa dalam percakapan,
Secara ideal pembicacara menampilkan beragam jenis
tindak turur yang lebih atau kurang sopan untuk memelihara rupa orang lain.
analogi penting linguistik ini (dan inspirasi dasar Brown dan Levinson)
ditemukan pada karya filsuf, Grice 91975: 1989). Grice mencoba untuk membongkar
logika atau dasar perilaku rasional dalam interaksi linguistik manusia dalam
percakapan. Prinsip fundamental yang terlibat disini disebut oleh Grice sebagai
prinsip kerjasama, yang mana berarti orang-orang bertaut dalam interaksi
linguistik tertentu akan mengatakan sesuatu layak pada setiap poin dalam
interaksi. Contohnya, jika saya turun ke jalan berteriak kepadamu, “Tolong!
Rumahku kebakaran” dan anda menjawab “OK, jangan panik. Saya akan memanggil
pemadam kebakaran,” ini merupakan jawaban yang cocok dan mentaati prinsip kerjasama,
dan ini akan membuat saya mencoba memahami sebab kurangnya kerjasama. Prinsip
kerjasama mencerminkan rencana rasional untuk menyelaraskan kontribusi selama
percakapan, rencana pertandingan budaya untuk structural coupling bersama
dalam lingual axis. Grice (1975:45) menjelaskan prinsip kerjasama sebagai
“membuat kontribusi percakapan anda dibutuhkan, dalam kondisi yang mana
terjadi, dengan tujuan dan arah yang diterima dalam saling berganti bicara yang
mana anda terlibat didalamnya. “Ini cukup samar dan membiarkan kemungkinan
adanya perlakuan penting dalam variasi antar budaya: contohnya, jenis informasi
dan seberapa banyak dibutuhkan, siapa atau apa yang menentukan arah dan tujuan
pembicaraan, dan lain sebagainya. Seperti yang seharusnya kita lihat,
kemungkinan variasi yang benar-benar diperlihatkan dalam berbagai macam budaya.
Untuk menyempurnakan ketidakjelasan pada Prinsip
Kerjasamanya, Grice (1975:45-6), lebih jauh mengajukan jenis maksim percakapan
yang menunjukkan interaksi komunikatif dalam percakapan. Disini terdapat 4
maksim:
Maksim kuantitas – jangan terlalu banyak atau
sedikit memberikan informasi pada tujuan interaksi yang sedang berlangsung.
Jika saya bertanya padamu bagaimana keadaan anakmu dan anda menjawab, “Baik,
dia kuliah sekarang dan keadaannya baik-baik saja,” informasi yang disediakan
adalah tentang hak dan mencerminkan kegunaan yang tepat dalam Maksim Kuantitas.
Jika, bagaimanapun, anda menjawab “Hidup,” ini merupakan pelanggaran yang jelas
dalam Maksim dengan memberikan informasi terlalu singkat, atau dia menjawab
“Baik, dia kuliah sekarang, punya pacar baru dan potongan baru, membeli
sepasang CD baru kemarin, kasur baru minggu kemarin, dan sedang berencana untuk
melakukan perjalanan ke Canberra minggu depan,” ini jelas juga merupakan
pelanggaran dalam Maxim dengan memberikan terlalu banyak informasi.
Maksim Kualitas – jangan mengatakan sesuatu yang
anda percaya akan salah atau akan kekurangan bukti yang cukup. Menceritakan
kebenaran merupakan perintah dalam Maksim ini, dan kebohongan merupakan
pelanggaran yang jelas. Maksim ini mencerminkan ketulusan pembicara dan
tanggungjawab untuk tidak menyesatkan yang lain.
Maksim Relevansi – jangan mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya
dengan topik selama diskusi. Maksim ini memastikan bahwa percakapan menjadi logis. Contoh jawaban
awal ketika saya menangis meminta bantuan karena rumah saya terbakar
mencerminkan operasinya dengan baik. Jawaban seperti “Oke, jangan panik, aku
akan memanggil Pemadam Kebakaran” adalah sesuai, tapi “Menurutmu apakah
rumputnya perlu dipotong?” merupakan pelanggaran yang jelas.
Maksim Perlakuan – jangan menjadi ambigu atau
tidak jelas, bertele-tele atau tidak logis. Maksim ini mengacu kepada bentuk
kontribusi dalam percakapan: harus ringkas dan jelas dalam mengungkapkan
pemikiran seseorang. Jika menulis ulasan dari pertunjukan Shakespeare berjudul Macbeth,
saya menulis “Ms X memberikan sedikit karakteristik inspiratif Lady
Macbeth” saya mematuhi Maksim Perlakuan. Jika di sisi lain saya menulis “Ms X
mengabarkan baris yang ditulis oleh Shakespeare dengan jelas pada karakter Macbeth,”
saya telah melanggar Maksim.
Pada interaksi percakapan yang tengah berlangsung,
pembicara melanggar atau melawan 4 maksim Grice secara berurutan. Mereka
melakukan ini untuk tujuan tertentu, si pendengar menganggap Prinsip
Kooperatif, berusaha mencari alasan mengapa pembicara melawan Maksim tertentu,
apa yang dia lakukan secara tidak langsung, dan tiba pada kesimpulan tentang
maksudnya, sebuah implicature. Jadi, contoh ulasan terdahulu yang sangat
panjang dan tidak jelas, pembaca diminta untuk menarik kesimpulan mengapa
Maksim Perilaku dilanggar, implicature nya adalah ulasan negative face
terhadap penampilan Ms X. Dalam hal perlawanan terhadap Maksim Relevansi dengan
menjawab “Menurutmu apakah rumputnya perlu dipotong?” ketika saya menangis
butuh pertolongan karena rumah saya terbakar, implicature yang paling
nyata adalah bahwa tetangga saya tidak mau membantu, juga karena tetangga saya
adalah orang egois atau saya telah menyakitkan hatinya di masa lalu, atau
mungkin karena dia sakit jiwa.
Perlawanan terhadap Maksim Grice merupakan cara
paling umum dan santun dalam menunjukkan FTA “off the record” (Brown dan
Levinson 1987:214). Isyarat merupakan salah satu contoh perlawanan terhadap
Maksim Relevansi. Jadi permintaan paling sopan untuk menutup jendela dengan
”Gee, apa kau merasa disini agak dingin dan berangin?” menyempurnakan tujuan
dengan menghasilkan implicature dengan melanggar Maksim Relevansi. Jika
jawabannya sederhana, “ya” tanpa tindakan redresif, pendengar tidak menyadari
bahwa Maksim tersebut telah dilawan dan menghasilkan implicature akan
gagal. Jika di lain sisi pendengar menyadari Maksim telah dilawan dan bertanya
kenapa, kemudian dia mungkin menyimpulkan bahwa pembicara menginginkan beberapa
tindakan untuk memperbaiki situasi ruangan yang dingin dan menutup jendela; implicature
nya telah berhasil dilakukan. Keterangan sebagai cara untuk menjadi sopan
merupakan perlawanan terhadap Maksim Kuantitas: terlalu sedikit informasi yang
telah disediakan, sehingga menghasilkan implicature kepada pendengar
sebagai alasan kenapa perlawanan tersebut telah terjadi. Contoh yang cocok
adalah pernyataan tamu pada tuan rumah,”Oh, rumah ini sepertinya butuh
pengerjaan kecil lagi, bukan begitu?”, Ketika faktanya, rumah itu dipenuhi
rayap yang sebentar lagi terancam roboh atau digusur oleh dewan setempat. Pada
akhirnya, perlawanan terhadap Maksim Perilaku juga efektif disebut sebagai FTA
“off record” yang sopan. Ketidakjelasan atau ambiguitas ekspresim, yang mana
keduanya merupakan pelanggaran Maksim secara langsung sudah umum khususnya
ketika melakukan FTA tertentu seperti meminta atau menuduh, contohnya
“Sepertinya seseorang sedikit terlalu banyak berpesta malam tadi,” kata untuk
pasangan yang merasa sakit yang berat di pagi hari setelah minum minuman keras
terlalu banyak. Ketidakjelasan ekspresi tersebut melawan Maksim Perilaku dan
menyebabkan kita bertanya kenapa. Implicature dihasilkan oleh kritik
perilaku pasangan malam tadi, tapi karena ini merupakan FTA tertentu yang keras
terhadap positive face seseorang, kritik ini tidak diucapkan dan diungkapkan
secara tidak langsung dengan melawan Maksim.
Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki beragam kebudayaan dan budaya yang masih berkembang hingga saat ini. Adanya beragam suku, dan agama di masyarakat jawa dan di temukan sistem nilai-nilai budaya. Salah satu tradisi masyarakat Jawa yang hingga sekarang masih tetap eksis dilaksanakan dan masyarakat Jawa adalah ritual sesajen. Ritual sesajen ini merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau Jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang.
Di era globalisasi masyarakat jawa masih menggunakan sesajen sebagai sarana untuk menghormat roh-roh nenek moyang yang telah meninggal dunia. Banyak orang yang masih menggunakan tradisi jaman dulu tentang sesajen yang digunakan untuk selametan atau memuja para roh-roh. Orang-orang menganggap bahwa memuja roh sudah menjadi tradisi para leluhur terutama di pulau jawa kejawen. Banyak terjadi di masyarakat jawa yang masih memuja roh-roh para dewa yang di anggap sebagai ritual agar mendapatkan keselamatan.
Dalam agama Buddha seseorang yang masih menggunakan sesajen dalam altar yaitu berupa buah-buahan dan makanan sebagai simbol penghormatan. Menghormat merupakan memberi atau menyatakan hormat. Dalam falsafah hidup Jawa berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang diagungkan. Orang Jawa yang memahami hakekat hidup tentunya kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya.
Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik sehingga dapat kita nikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup kita.
Sesajen yaitu makanan yang disajikan kepada arwah yang telah meninggal dengan tujuan ingin mendoakan dengan media. Tujuan dari sesajen yaitu untuk mengucapkan terima kasih kepada semua mahkluk atau kepada roh-roh.
Sarana yaitu segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai maksud dan tujuan. Keagamaan orang jawa kejawen selanjutnya ditentukan oleh kepercayaan pada berbagai macam roh yang tidak kelihatan. Orang melindungi diri dengan memberi sesajen yang terdiri dari nasi dan makanan lain, daun-daun bunga dan kemenyan. Bunga mempunyai makna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur.
Masyarakat kota Malang sering melihat bunga-bunga yang berserakan di perempatan jalan. Tujuannya mungkin agar semua yang melewati perempatan tersebut aman-aman saja atau tidak terjadi kecelakaan. Ritual pemberian sajen memang memiliki nilai magis yang sangat tinggi. Kesalahan umat manusia sering terjebak pada hal-hal yang bersifat abstrak sebagai dunia yang pasti atau nyata demi membela keyakinan dunia ghaibnya. sesungguhnya orang yang menabur bunga di perempatan jalan sambil mengucapkan doa yang mensiratkan makna yang dalam dalam limpahan kasih sayang yang tidak pilih kasih. Adapun doanya misalnya sebagai berikut :
“Ya Tuhan berilah keselamatan dan berkah kepada siapapun yang melewati jalan ini, baik manusia, makhluk halus, maupun binatang apapun jenis dan namanya”.
Doa dan apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari budi pekerti mereka yang sungguh adiluhung. Mengucapkan doa dengan ketulusan dan kasih sayang yang penuh limpahan berkah. Alam menyambutnya dengan limpahan berkah dan keselamatan lahir batin kepada seluruh makhluk yang melewati perempatan jalan itu. Itulah kodrat alam yang telah terbentuk dalam relung-relung hukum keadilan Tuhan.
Sebelum masuknya agama Hindu, Budha, dan Islam, masyarakat Jawa sudah mempunyai tradisi menghormati Tuhan, alam, dan roh – roh leluhur.
Ini berarti umurnya sudah tua sekali, tetapi orang-orang yang masih memegang budaya Jawa dengan erat tetap membuat sesajen pada saat-saat spesial. Sesajen dibuat untuk mengucap syukur atau sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan / leluhur. Karena kaitannya dengan hal-hal paranormal/ghaib, dan fungsinya untuk berdoa kepada leluhur, banyak yang mengatakan bahwa penggunaan sesajen adalah hal yang musrik atau menantang nilai-nilai agama. Namun sebenarnya fungsi sesajen itu adalah sebagai simbol permintaan kepada Yang Maha Kuasa. Saat dulu masyarakat masih buta aksara, doa diwujudkan dalam sesajen. Sehingga sesajen adalah pengejawantahan dan maksud dari doa yang dipanjatkan. Sunan Kalijaga acapkali menggunakan symbol-simbol dalam berdoa dalam apapun kegiatan dakwah beliau.
Kecamatan Ngantang di Kabupaten Malang sekitar 50km di sebelah Barat kota Malang adalah lokasi makam Karaeng Galesong dimana sering ditemukan sesajen pada hari-hari tertentu. Makam ini sangat kuno yaitu berasal dari abad ke 16. Itulah mengapa makam tersebut menjadi jujugan warga desa meletakkan sesajennya disana.
Dan sesajen ini pula yang saya temui beberapa kali di Makam Karaeng Galesong Ngantang, Kabupaten Malang.
Makna Simbolik Dibalik Sesajen
Ritual dalam Islam Jawa bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna mendalam. Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengejawantahan dari pcnghayatan dan pemahaman akan “realitas yang tak terjangkau” sehingga menjadi “yang sangat dekat”. Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat, “menyatu” dalam dirinya, Simbol ritual dipahami sebagai perwujudan maksud bahwa dirinya sebagai manusia merupakan tajalli, atau juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Simbol-simbol ritual tersebut di antaranya adalah ubarampe (piranti atau hardware dalam bentuk makanan), yang disajikan dalam ritual selamatan (wilujengan), ruwatan dan sebagainya. Hal itu merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan pelaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Upaya pendekatan diri melalui ritual sedekahan, kenduri, selamatan dan sejenisnya tersebut, sesungguhnya adalah bentuk akumulasi budaya yang bersifat abstrak (Endraswara, 2003: 195). Hal itu terkadang juga dimaksudkan sebagai upaya negosiasi spiritual, sehingga segala hal ghaib yang diyakini berada diatas manusia tidak akan menyentuhnya secara negatif. Memang harus diakui bahwa sebagian dari simbol-simbol ritual dan simbol spiritual yang diaktualisasikan oleh masyarakat Jawa, mengandung pengaruh asimilasi antara Hindu-Jawa, Budha-Jawa, dan Islam-Jawa yang menyatu padu dalam wacana kultural mistik. Asimilasi yang sering diasosiasikan para pengamat sebagai sinkretisme tersebut juga terlihat dengan diantaranya pembakaran kemenyan pada saat ritual mistik dilaksanakan, yang oleh sebagian masyarakat Jawa diyakini sebagai bagian dari penyembahan kepada Tuhan secara khusyu’ (mencapai tahap hening) dan tadharru’ (mengosongkan diri kemanusiaan sebagai hal yang tidak berarti di hadapan Tuhan), atau katakanlah sebagai salah satu bentuk akhlak penghormatan kepada Tuhan.
Membakar kemenyan itu biasanya diniatkan sebagai “talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos” (sebagai tali pengikat keimanan. Nyalanya diharapkan sebagai cahaya kumara, asapnya diharapkan sebagai bau-bauan surga, dan agar dapat diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa). Memerhatikan niat tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembakaran kemenyan dalam ritual mistik sebagian kaum muslim Jawa, atau memasukkannya sebagai unsur mistik bukanlah laku yang musyrik seperti yang dituduhkan oleh sebagian muslim yang merasa lebih puritan, atau sebutlah kearab-araban. Pada zaman Nabi Ibrahim AS. juga sudah ada kebiasaan membakar kemenyan. Untuk zaman Nabi Muhammad SAW., pembakaran kemenyan sering digantikan dengan mengenakan bau-bauan yang harum, yang dinyatakan sebagai “disukai oleh Allah”. Baik kemenyan maupun wangi-wangian esensinya sama, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah. Malahan, pada sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dikemukakan, minyak wangi sejak zaman Rasulullah digunakan sebagai salah satu sarana penyembuhan.
Diriwayatkan oleh Anas r.a berkata :
“Sesunqquhnya Nabi SAW. pernah datang ke rumah Ummu Sulaim dan inqin beristirahat yakni tidur siang di rumahnya. Ummu Sulaim lalu meletakskan hamparan dari kulit sebagai alas tidur Nabi. Manakala di saat tidur itulah baginda mengeluarkan banyak keringat. Ummu Sulaim lalu mengumpulkati keringat tersebut kemudian mencampurnya dengan minyak wangi dan memasukkannya ke dalam botol-botol kecil. Kemudian Nabi SAW. bertanya kepada Ummu Sulaim: “Apa ini?” Ummu Sulaim menjawab: Keringat engkau Ya Rasul. Aku mencampurnya deenqan minyak wangiku.” (Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, no. 1363). Menurut berbagai tafsir hadits, Ummu Sulaim mengggunakan campuran minyak wangi dan keringat Rasulullah itu untuk mengobati anak-anak yang sakit.
Hadits tersebut memberikan makna penting, terutama tentang, dua hal: (1) bahwa penggunaan minyak wangi sebagai sarana ritual (yang dalam hadits itu adalah penyembuhan), sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad pada abad ke-7 M, dan Rasuulullah mengiyakan. (2) Ummu Sulaim bertabarruk dengan keringat Rasulullah. Hal ini memberikan gambaran tegas, bahwa tradisi tabarruk kepada orang-orang salih dan para wali sebagaimana sangat disukai oleh kalangan mistik dan sufi Islam Jawa, oleh Rasulullah tidak dilarang. Minyak wangi atau wewangian juga dianjurkan digunakan dalam ritual syariat, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:
Diriwayatkan oleh Sayidatina Aisyah r.a berkataa:
“Aku memakai wangi-wangian pada tubuh Rasulullah SAW. Ketika baginda ingin memakai Ihram untuk berihram dan ketika bertahallul sebelum baginda Tawaf di Baitullah.”(Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, no. Hadits 678). Jika dilihat dalam takhrij hadits, maka kontekstualisasi penggunaan wewangian tersebut berlaku saat mandi, berpakaian, beribadah haji, tayammum, dan hampir semua ibadah dalam Islam.
Para penganut mistik dalam muslim Jawa meyakini bahwa berbagai aktivitas yang mempergunakan simbol-simbol ritual serta spiritual tersebut bukanlah suatu tindakan yang mengada-ada dan kurang rasional. Dalam bahasa akhir-akhir ini, bukanlah termasuk perkara bid’ah. Karena dibalik ritual tersebut, terkandung makna sebagai salah satu upaya menyingkirkan setan yang menggoda manusia. Berbagai ritual tersebut dimaksudkan untuk meminimalisir berbagai keburukan, baik yang datang dari manusia maupun jin (Qs. Al-Nas/114).
Setan merupakan entitas yang terbuat dari nyala api (sehingga yang mengikuti perbuatannya bertempat di neraka. Neraka berasal dari bahasa Arab “naruka” yang berarti “apimu sendiri” atau api yang kamu sulut sendiri. Setan hidup dan ada karena perbuatan buruk manusia mengikuti nafsu jeleknya). Karenanya, sebagai salah satu upaya menolaknya adalah dengan “kukus” api itu sendiri. Perwujudan berbagai laku dan ritual sebagaimana sudah disebutkan di atas, tetaplah bersandar kepada kekuatan Tuhan, bukan pada benda simboliknya itu sendiri. Sebagian di antara bentuk simbol ritual dan simbol spiritual adalah apa yang disebut sebagai selamatan (slametan), atau wilujengan, yang menggunakan sarana tumpeng dengan berbagai jenis ubarampenya. Tumpeng itu sendiri bagi orang jawa merupakan ungkapan dari “metu dalam kang lempeng” atau hidup melalui jalan yang lurus (hanif), sebagai aplikasi dari ayat dan doa “ihdinash shirathal mustaqim” (Qs. Al¬Fatihah). Pada acara-acara selamatan khusus, tumpeng itu berwujud besar dan gurih, yang disebut sebagai “tumpeng rangsul/Rasul”, yang maknanya adalah mengikuti jalan lurus sesuai ajaran Rasulullah. Maka sebagian di antara ubarampenya adalah ayam yang dimasak dan disajikan secara utuh yang disebut “ingkung”. Ingkung biasanya mcndampingi tumpeng rasul, sebagai ciri khasnya. Maksudnya adalah, bahwa sebagian ciri khusus dari orang yang mcngikuti Rasulullah “inggalo njungkung” atau bersujud, juga bermakna “inggala manekung” (segera bermuhasabah dan dzikir kepada Allah).
Pada sebagian acara selamatan untuk wilujengan anak (karena sesajen yang ditemukan di makam Karaeng Galesong adalah ditujukan untuk selamatan pemberian nama) dan untuk pernikahan pengantin, kadang menggunakan nasi tumpeng yang disebut dengan “nasi uduk”. Nasi uduk sebenarnya adalah “nasi wudhu”, karena selama memasak nasi tersebut, mereka yang memasak selalu dalam keadaan berwudhu atau selalu dalam keadaan suci. Semua ubarampe wilujengan tersebut, sebelum dipersembahkan untuk orang banyak, diujubkan (sebenarnya diijabkan) terlebih dahulu. Ujub merupakan tradisi dalam bentuk ijab, penyerahan acara ritual kepada orang yang ditunjuk, yang biasanya sesepuh atau ulama setempat. Dalam ujub tersebut, dikemukakan maksud dan tujuan diadakannya selamatan, serta untuk siapa selamatan tersebut diadakan. Kemudian setelah orang yang ditunjuk tersebut memberikan jawaban, ia memulai acara dengan mengatakan tujuan dan maksud pelaksanaan acara sebagaimana ujub dari orang yang punya niat. Barulah ritual dilaksanakan. Karena kemudian ritual tersebut berasimilasi dengan tradisi Islam, maka dalam ritual selamatan muslim Jawa biasanya disertai dengan berbagai pembacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir, wirid, pembacaan kitab-kitab maulid atau manaqib, dan diakhiri dengan doa khusus yang terkait dengan tujuan ritual tersebut.
Karaeng Galesong di Ngantang Kabupaten Malang
Sebagai seorang panglima kerajaan dan putra Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong memiliki karakter kuat. Keresahannya berawal dari semakin sengsara rakyat Sulawesi terutama setelah ditandatanganinya Perjanjian Bungaya. Perjanjian yang sangat merugikan dari pihak rakyat ini membuat Karaeng Galesong bergerak dan akan membela. Sistim tanam paksa, pajak yang tinggi, dan penyerahan paksa hasil-hasil pertanian kepada Belanda yang membuat hati Karaeng Galesong trenyuh. Setelah perjanjian Bungaya ditandatangani, maka ribuan masyarakat Sulawesi Selatan exodus ke seluruh penjuru dunia. Satu semboyan mereka adalah dari pada harga diri terinjak oleh penjajah, lebih baik pergi meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
“Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak”
Satu-satunya nasehat terbaik dari sang ayah Karaeng Galesong, Sultan Hasanuddin. Yang diberi gelar Ayam Jantan dari Timur. Dengan menggunakan 10.000 anak buah dan 800 kapal perang, bergeraklah Karaeng Galesong menuju Australia. Yang sebenarnya daerah ini adalah sebagai tujuan abal-abal Karaeng Galesong agar bisa menginjak tanah Jawa. Karena dalam perjanjian Bungaya pasal 9 disebutkan bahwa seluruh keluarga kerajaan dan para bangsawan dilarang meninggalkan tanah Sulawesi, atau bahkan menuju ke pulau Jawa. Nasehat itu pula yang pernah diucapkan oleh Syech Yusuf Al Makassari, paman Karaeng Galesong saat hendak meninggalkan tanah Sulawesi menuju Cape Town Afrika Selatan. Beliau juga merasakan harga diri yang terinjak-injak sehingga memberanikan diri meninggalkan Sulawesi menuju Afrika.
Perjuangan Karaeng Galesong di pulau Jawa membantu Raden Trunojoyo yang berasal dari Madura cukup dahsyat karena politik adu domba Belanda terhadap Mataram yang lama-lama menghilangkan kepercayaan Trunojoyo terhadap bangsa sendiri. Karaeng Galesong lah yang berkali-kali melindungi Raden Trunojoyo dari serangan-serangan Belanda. Yang lebih mengesankan lagi, Raden Trunojoyo justru sering lengah karena setiap memenangkan peperangan, telah membunuh ratusan serdadu, Raden Trunojoyo justru berfoya-foya minum tuak. Sehingga hanya Karaeng Galesong yang mampu melindungi mertuanya. Raden Trunojoyo adalah ayah dari Potre Koneng, istri Karaeng Galesong.
Yang sungguh tragis adalah cara kematian Karaeng Galesong yang menjadikan sejarah di Ngantang Kabupaten Malang menjadi heroik. Dengan bantuan seorang kapitan dari Ambon, Belanda menyuruh Kapitan Jonker untuk mengejar Karaeng Galesong sampai ke pedalaman pegunungan Malang yang sangat dingin. Dan mereka bertemu. Konon pengejaran kapitan Jonker ini juga dibantu oleh Aru Palakka dari Bone. Sehingga memang yang terjadi adalah Aru Palakka dikenal sebagai pengkhianat di Sulawesi Selatan. Namun bagi warga Bone, Aru Palakka adalah pahlawan. Saat benar-benar ditemukan, sangat menyedihkan, Karaeng Galesong dibunuh dalam keadaan dikubur berdiri. Mungkin ini adalah kematian paling kejam. Namun kisah bersejarah tersebut menjadi cerita hangat turun temurun warga Ngantang yang memanggil beliau dengan nama “Mbah Rojo”.
Sejarah heroik Karaeng Galesong ini menjadi perhatian warga terutama karena perjuangan beliau menjadi Panglima Laut, sehingga beberapa kali yang terjadi adalah datanganya warga dari dekat maupun jauh yang akan mencalonkan diri menjadi walikota atau bupati misalnya. Kemudian mereka yang ingin diterima di angkatan baik kepolisian, angkatan darat dll. Belum lagi makam istri Karaeng Galesong. Yaitu Potre Koneng, yang cukup wingit (angker). Beberapa macam sesajen Jawa pun ditemukan disana. Yang banyak ditemukan adalah sesajen dengan maksud akan mengadakan pernikahan, mencari jodoh dll. Makam Raden Trunojoyo pun tak kalah hebohnya. Ada beberapa makam yang diyakinkan itu adalah makam Raden Trunojoyo. Maklum lah karena Raden Trunojoyo teramat sakti. Namun memang kebanyakan orang-orang yang hidup di zaman itu banyak memiliki kelebihan. Hal ini karena mereka kuat berpuasa, kuat bertirakat atau kuat begadang sambil berdoa (melekan). Konon kabarnya, kelemahan Raden Trunojoyo sudah diketahui oleh pasukan Belanda karena ada yang membocorkan. Yaitu beliau tidak akan meninggal apabila dikuburkan dalam satu lubang. Sehingga yang terjadi adalah jazad beliau dipotong-potong oleh pasukan Belanda kemudian dimakamkan di beberapa tempat.
Banyak sekali hal-hal yang belum terungkap di makam-makam mereka. Sehingga makam-makam yang jauh dari pemukiman penduduk ini menjadi sangat penting dan bersejarah bagi warga Ngantang Malang.
Sesajen di Makam Karaeng Galesong
Karena makam yang sangat dikeramatkan dan usianya yang cukup tua, dari abad 16 maka makam ini menjadi tujuan ritual warga pada hari tanggal tertentu. Selain itu banyak orang datang berziarah ke makam ini untuk berdoa khusus. Ada pula yang berlama-lama di makam tersebut hingga tak jarang sampai menemukan sesuatu disana seperti batu akik dan senjata kuno. Dan sesajen adalah hal biasa yang selalu ditemukan disana.
Dalam sesajen tersebut ditemukan :
Dupa
Bubur merah putih
Irisan daun pandan
Bumbung berisi badeg (Air tape ketan hitam)
Kendi kecil berisi air
Serit dan kaca
Sirih dan pinang (diikat)
Takir
Pemberian sesajen ini tidak ada kaitannya dengan memberi makan jin, danyang, setan atau sebangsanya. Tetapi sesajen dalam arti yang sebenarnya adalah menyajikan hasil bumi yang telah diolah oleh manusia atas kemurahan Tuhan Penguasa Kehidupan. Sehingga apabila simbol diinterpretasikan artinya adalah :
Dupa yaitu artinya keharuman dan ketentraman, kemudian sebagai simbol sembah sujud dan penghantar doa kita pada Tuhan dan juga menunjukkan eksistensi udara yang bergerak
Bubur Merah Putih : Saat moment pemberian nama kepada anak, ‘bubur abangputih’ ini merupakan simbol dari harapan sebuah keluarga agar kelak si anak memiliki keseimbangan antara sifat berani (dalam kebenaran) dan kesucian (dalam kebenaran).
Irisan Daun Pandan : yaitu sebuah pengharapan orang tua kepada anak agar kelak sang anak memiliki kehidupan dan karir yang baik dan harum seperti daun pandan.
Bumbung Berisi Badeq yaitu simbol dari kenyamanan hidup, ketentraman hidup. Namun bisa juga diartikan adalah keinginan atau kesukaan danyang setempat.
Kendi Berisi Air berarti Sajen ini diwujudkan dalam bentuk sesajian berupa kendhi ditutup dengan daun dhadhap serep. Air tempuran adalah pertemuan dua arus sungai. Makna sajen ini adalah menggambarkan sudah pulangnya kembali arwah yang sudah meninggal di sisi Sang Illahi, seperti sebelum dilahirkan. Dengan demikian, diharapkan arwah tersebut dapat kembali menuju ke dunia kelanggengan, dunia yang kekal abadi. Dari sumber lain dikatakan bahwa air di dalam kendi melambangkan hati yang suci dan bersih (ikhlas). Lubang kendhi dihiasi carangan (batang bambu kecil), yang menurut keyakinan masyarakat sekitar lubang tersebut bermanfaat ketika anak sedang flu, lubang itu ditiup sehingga anak tersebut sembuh dari flunya.
Serit dan Kaca : Sisir, minyak wangi dan cermin melambangkan sebagai perlengkapan make up atau untuk “dandan’/menghiasi diri, agar rapi dan wangi, jika perempuan ibarat seperti bidadari, jika laki-laki ibarat sepeti satriya yang tampan. Diharapkan anak yang diberi nama tersebut akan menjadi cantik atau tampan.
Sirih dan Pinang (diikat) : Daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. Hal ini bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan. Dan pinang diharapkan bila dewasa nanti mudah mendapatkan jodoh.
Takir yaitu mangku yang terbuat dari daun pisang atau jati kependekan dari tatag pikir artinya bahwa manusia dalam bertindak harus mantap dan tidak boleh ragu-ragu.
Dari berbagai sumber informasi sesajen ini diletakkan pada hari Kamis (menuju ke hari Jumat) dimana menurut kebiasaan warga mereka datang di makam ini pada hari Kamis Kliwon. Ada kalanya mereka datang pada hari Senin malam Selasa Pahing (tanggalan Jawa) atau hari Anggorokasih. Dan berdasarkan informasi penduduk, sesajen semacam ini memiliki tujuan selamatan pemberian nama pada bayi yang baru lahir.
Brown dan Levinson menyajikan model dengan konsep
aspek rupa ganda dan menghubungkan strategi kesopanan sebagai yang universal,
dan monografnya menyediakan fakta dan contoh-contoh yang tergambar dalam 3
bahasa, yaitu Inggris, Tzeltal, dan Tamil. Mereka menggunakannya untuk
mengembangkan tipologi budaya berdasarkan tipe dominan kesopanan dan
persebarannya antar kelompok sosial. Pada masyarakat egaliter dengan jarak
sosial, status, dan perbedaan kekuasaan antar orang-orang yang berinteraksi sedikit,
seperti Ilongot, strategi kesopanan positif lebih disukai, mengingat kesadaran
tingkatan status dalam masyarakat, seperti Bali, strategi kesopanan negative
face akan lebih banyak ditunjukkan. Jadi, di Bali kasta rendah petani padi yang
menyuplai pejabat-pejabat tinggi pemerintah akan menggunakan strategi kesopanan
negative face lebih luas, tapi dengan terus terang akan ditujukan tanpa
memperbaiki kesopanan. Brown dan Levinson menduga bahwa pada hierarki
(tingkatan) masyarakat, kelompok orang yang kekuasaan tinggi dalam statusnya
memakai budaya kesopanan negatid (mengakui kelompok tersebut mempunyai
kekuasaan, contohnya kebebasan bertindak sesuai kehendak, dan memperbaiki
pembebanan pada kebebasan mereka), ketika grup yang mendominasi memiliki budaya
kesopanan positif (mengakui kebutuhan untuk menyatakan solidaritas dan saling
menghormati harga diri positif pada pandangan pembatasan yang jelas dalam
kekuasaan, lihat Bab 16). Perbedaan ini menunjukkan dan memberitahukan
pandangan orang pada kelompok seperti otonomi, kebebasan, dan penuh kekuatan
atau bergantung, terikat, dan lemah berturut-turut. Sebuah korelasi diberikan,
tidak mengagetkan untuk ditemukan pada studi gender bahwa perkataan wanita
diucapkan melalui kesopanan yang lebih positif, dan laki-laki dengan kesopanan
negative face (lihat juga bab 15).
Dengan nada yang sama, studi komparatif kesopanan di Inggria dan Yunani,
Sifanou (1992) mencatat perbedaan antara dua budaya ini pada arti berdasarkan
dua aspek rupa. Bahasa Inggris terletak pada nilai yang lebih tinggi pada
privasi dan individualitas (negative face), ketika Yunani menekankan
keterlibatan group dan hubungan in-group (positive face). Batasan
wilayah personal antar orang Yunani melibatkan semua yang termasuk dalam in-group
yang sama, didefiniskan sebagai seseorang yang memperhatikan keselamatan
seseorang. Positive face diperluas untuk mencakup ini, sehingga ada keinginan
yang kuat dari kawan seseorang yang juga menyukai atau menyetujui. Jadi, wajah
positif dijelaskan lebih dari grup dalam gabungan in-group, bukanlah
individu yang terisolasi, seperti sebagian besar kasus di inggris. Anggota ingroup
akan memperoleh kesopanan positif atau tak ada kesopanan antar satu sama
lain dan membatasi kesopanan negative face pada orangluar. Ini merupakan tugas
dari setiap anggota ingroup untuk membantu yang lain, jadi anggota
mengerti tak perlu untuk berterimakasih atau meminta maaf (kesopanan negative
face) untuk layanan meminta atau menyumbangkan. Jadi, permintaan dan harapan
diungkapkan lebih terus terang, tanpa tindakan memperbaiki, daripada di Bahasa
Inggris. Dalam budaya Inggris lebih banyak bentuk perilaku tidak ramah dan
tidak langsung yang berdasarkan norma, dimana bantuan dilihat sebagai
ketergantungan pada kebijaksanaan individu. Terimakasih dan permintaan maaf
dibutuhkan untuk pembebanan minor yang bersifat relatif, bahkan dengan ingroup,
mencerminkan individualis etbos yang berhubungan dengan rupa
(ketinggian negative face).