Kesopanan Positive Face dan Negative Face

Brown dan Levinson (1987), pada monof klasik sekarang, mengembangkan teori yang lebih kaya pada kesopanan atau etika linguistik pada konsep rupa milik Goffman. Kesopanan, tentunya, merupakan deretan keahlian sosial yang tujuannya untuk meyakinkan setiap orang memperkuat interaksi sosial, yang terkait dengan Teori face yang jelas (untuk pandangan lain pada kesopanan linguistik, lihat Lakoff (1973, 1977) dan Leech (1983). Brown dan Levinson (1987) mematahkan konsep Goffman pada rupa ke dalam dua aspek, positive face dan negative face. Positive face adalah apa yang khusus kita pahami pada konsep rupa dan apa yang digarisbawahi oleh Goffman: harga diri positif seseorang, “konsistensi positif citra diri atau ‘kepribadian’ (dengan susah payah menyertakan hasrat  bahwa citra diri dihargai dan diakui) ditegaskan oleh orang-orang yang berinteraksi (Brown dan Levinson 1987:61). Negative face merupakan kebebasan setiap orang untuk bertindak, “pernyataan dasar pada wilayah, pemeliharaan orang, hak untuk tidak terganggu — i.e. untuk kebebasan tindakan dan kekebasan dari gangguan” (Brown dan Levinson 1987: 61). Brown dan Levinson melihat 2 aspek rupa sebagai keinginan dasar setiap individu dalam interaksi sosial –untuk dinyatakan pada harga diri positif melalui setidaknya beberapa yang lain dan tindakannya tidak dihalangi. Interaksi sosial dipandang sebagai aktivitas koperatif (see Grice 1975), yang mana orang yang berinteraksi bekerja untuk mempertahankan rupa satu sama lain. Bagaimanapun, tak dapat dielakkan lagi bahwa rangkaian interaksi sosial manusia dalam tindakan tertentu perlu dilakukan untuk mengancam face orang lain. Beberapa tindakan verbal seperti janji atau permintaan mengancam negative face seseorang dengan mencampuri kebebasan dalam bertindak seseorang: sebuah permintaan pasti menghalangi ini. Yang lain, seperti permintaan maaf atau ketidaksetujuan mengancam positive face; tidak setuju dengan pandangan seseorang yang menyarankan ada yang salah dengan pandangan tersebut dan berpotensi tantangan yang jelas pada harga diri atau positive face pada diri mereka. Tindak tutur seperti meminta atau memperingatkan, yang mana mengancam wajah perasaan orang, baik positif atau negative face, disebut sebagai face threatening acts atau disingkat FTA.

Kesopanan Linguistik pada dasarnya memperbaiki penghinaan terhadap rupa sikap FTA pada yang dituju. Jika dihubungkan dengan 2 aspek wajah, kita menemukan baik kesopanan positif maupun negative face. Kesopanan positif, seperti yang diharapkan, mencoba untuk memperbaiki penghinaan pada positive face pendengarnya. Speaker (S) menunjukkan pengakuannya kepada hearer (H) yang berharap untuk dimuliakan dengan wajah positif, secara khusus S menyatakan bahwa ia menginginkan setidaknya apa yang H inginkan. Strategi kesopanan positif menyertakan pernyataan persahabatan, solidaritas, dan pujian. Contoh ungkapan yang memakai strategi kesopanan positif meliputi(untuk penjelasan lebih lengkap, lihat Brown dan Levinson (1987:101-29):

1.Perhatian kepada minat, kebutuhan dan keinginan H

    Kau kelihatan sedih. Apa yang bisa ku lakukan?

2. Menggunakan identitas penanda kesetiakawanan

 Heh, kawan, bisa pinjami aku uang?

3. Menjadi optimistis

    Aku hanya ikut, jika kau tak keberatan.

4. Menyertakan kedua aktivitas S dan H

    Jika kita saling membantu, ku kira, kita berdua akan tenggelam atau menyelami perjalanan ini.

5 Penawaran atau janji

   Jika kamu mencuci piring, aku akan menyedot kotoran di lantai.

6 Melebihkan perhatian pada H dan minatnya

   Potongan rambutmu keren, kamu potong dimana?

7 Menghindari ketidaksetujuan

   Ya, agak lama, tentunya tidak sebentar.

8 Candaan

   Wow, itu sesuatu yang sangat besar!

Perhatikan bahwa strategi ini adalah untuk membuat H merasa dirinya baik pada minatnya atau miliknya. Positive face terhadap negative face H, hasrat otonominya. Secara khusus, strategi kesopanan negative face menekankan pada menghindari pembebanan jadi S mengatur supaya dia minimal tidak mengganggu H. Mereka menyertakan permintaan maaf atau gaya tidak ramah lainnya. Contoh ungkapan yang memakai strategi kesopanan negative face meliputi:

1 Dengan tidak langsung

   Apakah anda tahu Jalan Oxford?

2 Menggunakan pembatas atau pertanyaan

   Mungkin, ia sudah mengambilnya, mungkin saja.

   Bisa minta tolong ambilkan nasinya?

3 Menjadi pesimistis

   Anda tidak bisa meminjami saya uang seribu dolar, bukan begitu?

4 Mengurangi pembebanan

   Tidak sampai melebihi jarak ke arahmu, cuma jarak beberapa blok.

5 Menggunakan struktur yang jelas, seperti nominalisasi, pasif atau pernyataan peraturan umum

   Saya harap pelanggaran tidak dilakukan.

   Pengunjung mengisi buku besar.

   Meludah tidak akan ditoleransi.

6 Meminta maaf

Saya minta maaf, banyak yang saya minta, tapi bisakah anda meminjami saya seribu dolar?

7 Menggunakan kata ganti plural

Kita menyesal telah memberitahumu

Semua strategi ini memiliki efek mencoba untuk memperhalus atau meminimalisir pembebanan kepada H.

Manfaat Daun Pare

Buah pare memiliki banyak khasiat meskipun rasanya cukup pahit. Banyak orang masih sulit mengkonsumsi buah pare sehingga ingin mengolah pare menjadi sedikit berkurang rasa pahitnya dan menjadi lebih lezat.

Namun siapa sangka bukan hanya buahnya yang bisa dikonsumsi . Ternyata daun pare pun memiliki khasiat yang tidak sedikit seperti buah pare. Manfaat daun pare adalah bisa menurunkan tekanan darah tinggi atau tensi dan bisa mengencangkan payudara.

Untuk menurunkan tekanan darah tinggi ada dua cara. Cara pertama adalah dengan meremas-remas daun pare dan diberi air masak kemudian disaring dan diminum. Atau bisa juga dengan cara direndam dengan air masak (bukan panas) lalu masukkan dalam botol minuman. Minum larutan ini setelah emrendam daun pare selama 5 jam. Herbal daun pare ini bisa dikonsumsi seminggu 3x. Waktu yang paling baik untuk mengkonsumsi herbal ini adalah pagi hari bersamaan dengan sarapan atau sebelum sarapan pagi.

Untuk mengencangkan payudara bisa dengan cara meremas-remas daun pare hingga mengeluarkan air. Lalu oleskan beserta ampas daunnya ke payudara. Diamkan selama 15 menit lalu basuh. Ini bisa dilakukan 2x seminggu.

Konstruksi Linguistik Kepribadian pada Konsep Rupa

Bagaimana cara mempelajari dan menjadikan ideologi kepribadian lokal? Bagaimana bisa terwujud dalam tindakan naluriah mereka? Secara garis besar, seperti yang diterangkan Gergen (1990:585) melalui kegunaan bahasa (lihat kutipan pada halaman 262). Selama kita bertentangan dengan hubungan antara 2 orang, dengan demikian membentuk structural coupling, tindakan verbal kita menjadi selaras dengan tindakan komunikatif yang berkelanjutan dengan structural coupling. Ini melalui koordinasi structural coupling yang telah ditempa, dan ini merupakan sejarah hidup yang terkumpul yang mana menentukan orang. Maturana dan Varela (1987) menggarisbawahi peran pokok yang berperan pada structural coupling sosial dengan mengistilahkan sebagai ”lingual axis”, bagian dari trophal axis bahasa, istilah biologis pada korelasi struktural yang terjadi antar organisme melalui pertukaran makanan dan sekresi kimia, seperti ketika oraganisasi sarang lebah ditentukan oleh keseimbangan sekresi hormonal tertentu. Gagasan tindakan linguistik seperti lingual axis didiukung oleh Aiello dan Dunbar (1993) yang menegaskan evolusi bahasa utamanya sebagai jenis dari perekat dalam sosial, menambah dalam merapikan kumpulan manusia meningkatkan ukurannya: perilaku tubuh yang komunikatif dalam social coupling (trophallaxis: grooming) yang ditambahkan oleh perilaku linguistik (lingual axis), yang mana menggantikan secara bertahap pembentuknya selama rangkaian evolusi manusia. Untuk sarang lebah, perubahan dalam keseimbangan hormon dan anda merubah organisasi pada sarang; untuk pengelompokan sosial manusia, dan perubahan pola perilaku verbal (lingual axis) yang sama-sama bisa menghasilkan efek dramatis pada kedudukan sosial, hanya untuk memeprtimbangkan perkara pertemuan sapaan Wolof. lebih jauh, Scweder dan Bourne (1984) memberitahukan bahwa ideologi lokal kepribadian telah disepakati oleh apa yang diketahui orang ketika berbicara, pada jalan yang sangat Whorfi, pembicara menggunakan metafor untuk mendeskripsikan orang dan perilaku yang diturunkan keduanya dan bersifat membangun pemahaman lokal kepribadian.

Goffman (1967, 1971) mengamati secara kasar pada bagaimana koordinasi perilaku linguistik pada hubungan 2 orang berperan pada pemahaman budaya kita pada kepribadian tertentu. Ia memberitahukan bahwa tujuan orang yang berinteraksi pada pertemuan sosial untuk melindungi harga diri rapuh yang mereka miliki, paling sedikit, untuk meminimalisir bahaya ini, yang terbaik, untuk meningkatkannya. Harga diri ini diistilahkan oleh Goffman (1967), menjelaskan sebagai “citra diri publik dimana setiap anggotanya ingin menegaskan dirinya” (Brown dan Levinson 1987:61). Rupa sangat berperan secara linguistik antara orang-orang yang berinteraksi (meskipun cara lain mungkin bisa dilakukan, lihat Goffman (1956) untuk penjelasan klasik yang lebih rinci). Melalui kata yang kita dan yang lain pilih dan gunakan, rupa kita dan orang yang berinteraksi lainnya pada interaksi sosial mempersoalkan modifikasi dan merusak yang mungkin. Rupa secara linguistik dibangun, dan kemampuan untuk menggunakan keahlian verbal dengan fasilitas adalah bagaimana kita bisa memanipulasi pertemuan sosial untuk memaksimalkan rupa yang kita dapatkan dan meminimalisir kehilangan kita, dan lagi, pertemuan sapaan Wolof merupakan paradigma eksemplar pada fakta ini.

Arca Dwarapala Singhasari

Dwarapala Singosari

Dari sekian arca Dwarapala yang pernah saya temui, baik di kompleks percandian maupun di gerbang gedung atau kota, mungkin Dwarapala di Singosari Malang inilah yang paling unik. Bukan karena saya yang tinggal dekat Dwarapala kemudian ingin mengekspos patung ini. Tapi memang patung Dwarapala di Singosari ini sangat bisa disebut dengan patung keren.

Dwarapala adalah sesosok patung yang memiliki tugas menjaga sebuah bangunan. Meski dia berbentuk patung, Dwarapala membawa misi seperti security. Yaitu misi menjaga gedung atau bangunan. Gedung yang dimaksud disini contohnya adalah bangunan suci seperti candi atau gedung-gedung yang lebih kekinian seperti misalnya musium, gedung bersejarah, dan juga gedung modern lainnya. Dwarapala juga ditemukan di pintu masuk sebuah kota atau kabupaten, keraton, makam, dan jembatan besar.

Sosok dwarapala di singosari cukup unik karena desain ukirannya adalah dimulai dengan tangan yang menunjukkan dua jari seperti simbol Peace. Simbol ini sangat cocok sebetulnya dengan ciri khas anak-anak muda Arema yang selalu mengacungkan dua jari. Sehingga simbol dua jari ini adalah salah satu inspirasi juga untuk para arema dan aremanita yang mencintai damai dan kedamaian, tidak mengunggulkan tawuran dan sejenisnya. Simbol dua jari atau sebutlah dengan simbol peace ini sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kedamaian dalam memberikan makna sebuah patung dwarapala. Simbol dua jari ini ternyata adalah sebuah ajakan untuk taat beragama. Ini adalah termasuk dalam salah satu ajaran Buddha karena patung ini dibangun di masa  Hindu-Buddha.

Seperti bangunan candi, arca atau patung dwarapala dibangun dengan bahan batu andesit. Batu andesi memiliki ciri khas tidak mudah ditumbuhi oleh lumut. Ternyata para seniman pahat ini memikirkan membangun sebuah patung ini sampai segitunya ya. Dan memang ternyata kita masih bisa menikmatinya hingga detik ini. Patung dwarapala singosari ini masih berdiri tegak dan tersenyum pula. Untungnya ini patung dibangun dengan bahan batu andesit, coba kalau dibangun dengan bahan roti tawar, lak wes mbok krokoti. Kwkwk.. canda.

Satu tangan yang lain dari dwarapala ini memegang gada terbalik. Gada ini juga unik karena cukup gemoy, gemoy seperti tubuh dwarapala yang lumayan gede, chubby dan gemoy pulak. Mata dwarapala yang melotot tapi senyumnya menawan seperti senyum Michael Jackson. (jauh amat Michael Jackson). Senyum dwarapala ini sangat khas karena tersungging dengan gigi taring yang panjang. Jangan-jangan senyum-senyum membawa modus, ingin menerkam siapa-siapa yang mengganggu.

Maklumlah, patung dwarapala memang memiliki misi security yaitu menjaga bangunan suci. Bangunan yang sudah dipastikan untuk tempat peribadatan, dan tempat penghormatan kepada Raja atau tokoh yang sudah meninggal.

Disamping menunjukkan dua jari dan memegang gada, dwarapala singosari juga berkalung selempang ular, beranting-anting dan berkalung tengkorak. Ada semacam ikat kepala yang unik di kepala dwarapala yaitu berhias tengkorak. Sebagian penutup kepala tersebut lebih banyak menutupi kepala bagian belakangnya. Saya melihat itu seperti penutup kepala baju zirah. Namun ada terpikir bahwa itu adalah rambut dwarapala yang berbentuk keriting. Hampir mirip seperti abis dikribo oleh salon pas.

Bagaimanapun bentuknya, keunikannya, dwarapala ini adalah yang terbaik diantara yang pernah kutemui. Keren mujinya.

Herbal Sakit Saluran Kencing

Sakit pada saluran kencing bisa berupa perih di lubang kencing. Salah satu penyebabnya adalah kurang minum. Namun bisa jadi karena adanya infeksi pada salurannya yang disebabkan oleh bakteri.

Untuk infeksi saluran kencing bisa dipergunakan dalam hal ini adalah daun Tempuyung. daun ini seperti gulma karena sering ditemukan tumbuh bersama-sama dengan rumput. Namun banyak masyarakat terutama di kota Malang mengkonsumsinya sebagai sayuran lalapan.

Untuk anak-anak bisa diolah dengan cara diseduh dengan air panas lalu diminum saat hangat. Untuk herbal sangat baik apabila diminum saat pagi. Anak-anak biasanya tidak suka mengkonsumsi dalam bentuk pedas seperti yang dilakukan oleh orang dewasa. Karena daun ini memang seringkali diolah sebagai masakan urap-urap atau gudangan, atau bisa juga diolah dalam bentuk sayur pecel atau sayur bobor.

Untuk itu agar supaya anak-anak mau mengkonsumsinya maka tambahkan 1 sm madu. Masukkan madu saat air rendaman daun tempuyung ini sudah hangat. Minum air daun tempuyung selama 1 minggu, sehari 1x.

Konsep Lokal Kepribadian

Diatas telah diuraikan secara singat batasan konsep orang, sekarang saya berpindah ke beberapa perbedaan antar budaya dalam pengucapannya, Ideologi lokal kepribadian. Saya mulai dengan yang familiar bagi sebagian besar pembaca– Konsep orang Eropa Barat. Ideologi tempat mungkin akan diringkas dalam satu kata, individualisme, yang mungkin sangat ditekankan dalam Budaya Amerika. Alasan ideologi ini adalah otonomi egosentris personal, yang diringkas oleh Geertz (1983:59) dalam penjelasan klasik berikut:

Konsep Barat tentang orang seperti terikat , unik, lebih atau kurang mempersatukan seluruh teori motivasional, pusat kesadaran dinamis, emosi, pertimbangan dan tindakan yang disusun ke dalam seluruh dan sekumpulan perbedaan khusus terhadap keseluruhan yang lain pada latar belakang sosial dan alam..Pada ideologi egosentris individualis orang, individu memperbudak masyarakat, pada fashion yang berhubungan dengan pemikiran filsuf seperti Hobbes dan Locke, masyarakat membayangkan terciptanya “kontrak sosial” untuk menjaga kepentingan mengidealkan otonomi individu, independen atau masyarakat, sebelum hidup didalamnya. Para individu ini lebih penting dari setiap kelompok pemilihnya. Indikasi dari semua ini adalah pentingnya budaya Barat yang bertempat pada orang dan sifat orang, ini menegaskan adanya pemusatan individu dengan keinginan dan kebutuhannya.

Apakah sifat dari individu sebenarnya? Kebebasan dari paksaan dan sifat otonomi dalam tindakan telah memasuki kriteria ideologi orang sebagai individu. Perhatikan bahwa yang ditangkap dari gerakan feminis yaitu, “orang dengan haknya sendiri” secara tidak langsung menghubungkan kepribadian dengan hak individu atas tindakan dan kebebasan dari paksaan. Setiap orang dipandang memiliki hak yang tidak bisa direnggut pada otonomi yang diklaim oleh individu. Setiap individu adalah unik, tapi semua, setidaknya secara ideologi, memiliki hak yang sama, sistem etika umum yang berpengaruh terhadap semua hubungan sosial, tak diragukan lagi merupakan hasil moralitas para universalis budaya Barat berdasarkan agama Kristen, supaya, menurut ajaran agama Kristen, komponen spiritual yang diberikan ke seluruh orang dalam jumlah yang tak terhitung yang mana harus diakui sebelum secara kemanusiaan atau secara sosial menciptakan sebuah nilai. Ini membawa kita pada pandangan orang sebagai individu, perwujudan absolut sebuah nilai dalam haknya sendiri, dan bukan benar-benar pada kedudukannya dalam setiap pola sosial. Ketidaksamaan yang sebenarnya diantara manusia secara ideologi diterjemahkan sebagai hasil persaingan bebas untuk mendapat penghargaan status antar individu yang menurut teori adalah sama, terlindungi melalui sekumpulan peraturan dan hukum dalam “kontrak sosial”. Tetapi gagasan pada perbedaan status yang tidak sama dan peluang individu yang sama dapat dengan mudah dibedakan. Ini merupakan prinsip yang terdapat dalam sistem yang telah berlaku pada birokrasi organisasi, sebagaimana pengertian oleh Max Weber (1968[1922]). Karakteristik birokrasi yang telah dijelaskan Adalah perbedaan antara pegawai dan pemimpin pegawai atau peran sosial yang tidak sama dan sama dengan individu. Pembagian tugas pegawai pada orang tertentu telah ditentukan, setidaknya secara ideologi, oleh kemampuan individu, tidak berdasarkan pada koneksi sosial. Jadi, ketidaksamaan dan hierarki merupakan ciri-ciri masyarakat; setiap orang adalah bebas dan sama dengan individu.

Konsep egosentris individualis orang pada budaya Barat dianggap kontras dengan berbagai tradisi budaya. Budaya sebelumnya bersifat sosiosentris, konteks tergantung pada konsepsi kepribadian (Scweder dan Bourne 1984). Pada budaya ini budaya individu dan otonominya tidak diperlakukan sebagai  pemahaman lokal orang, agaknya menempel pada konteks sosial merupakan hal yang menyangkut definisinya sebagai orang. Jadi, kepribadian dalam istilah sosiosentris merupakan atas dasar kedudukan sosial khusus yang ditempati manusi. Konsep sosiosentris kepribadian memandang kebaikan social grouping secara fundamental dan membawahi keinginan dan kebutuhan individu pada kebaikan bersama. (Perhatikan disini bahwa poinnya adalah tidak untuk berpendapat bahwa budaya sosiosentris secara eksplisit telah menuturkan ideologi kepribadian sejajar dengan ideologi Individualisme Barat (meski apakah semua masyarakat Barat secara eksplisit peduli terhadap koherensi ideologi yang menciptakan prinsip individualisme yang tercatat untuk diperdebatkan secara serius); agaknya, pernyataannya bahwa pemahaman kepribadian, apakah itu diam-diam atau tidak, dijadikan, dibangun ke dalam berbahasa dan perilaku budaya dan dengan demikiran, ditanamkan dalam tindakan naluriahnya. Tentunya dengan kepercayaan yang dilepaskan melalui kontak budaya, yang mungkin akan dituturkan, seperti halnya yang dikatakan pelajar Bali setelah 2 tahun hidup di Australia, menuturkan pemahaman aslinya, “Kita (orang Bali) punya budaya berkumpul.”) Konsepsi lokal orang secara luas telah ada, contohnya oleh budaya yang sebaliknya sangat berbeda seperti di Bali dan tanah Gahuku di New Guinea.

Bali (Geertz 1983: 62):

Semiotika Seri 5

Semiotika mewakili berbagai studi dalam seni, sastra, antropologi dan media massa daripada disiplin akademis independen. Mereka yang terlibat dalam semiotika termasuk ahli bahasa, filsuf, psikolog, sosiolog, antropolog, ahli teori sastra, estetika dan media, psikoanalis dan pendidik. Di luar definisi yang paling dasar, ada banyak variasi di antara ahli semiotika terkemuka mengenai apa yang melibatkan semiotika. Ini tidak hanya berkaitan dengan komunikasi (disengaja) tetapi juga dengan anggapan kita tentang signifikansi terhadap apa pun di dunia. Semiotika telah berubah dari waktu ke waktu, karena ahli semiotika telah berusaha untuk memperbaiki kelemahan dalam pendekatan semiotik awal. Bahkan dengan istilah semiotika paling dasar pun ada banyak definisi. Akibatnya, siapa pun yang mencoba analisis semiotik akan bijaksana untuk memperjelas definisi mana yang diterapkan dan, jika pendekatan semiotik tertentu diadopsi, apa sumbernya. Ada dua tradisi yang berbeda dalam semiotika yang berasal dari Saussure dan Peirce. Karya Louis Hjelmslev, Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, Julia Kristeva, Christian Metz dan Jean Baudrillard (lahir 1929) mengikuti tradisi ‘semiologis’ Saussure sementara karya Charles W Morris, Ivor A Richards (1893-1979) , Charles K Ogden (1989-1957) dan Thomas Sebeok (b 1920) berada dalam tradisi ‘semiotik’ Peirce. Ahli semiotik terkemuka yang menjembatani kedua tradisi ini adalah penulis Italia terkenal Umberto Eco, yang sebagai penulis buku terlaris The Name of the Rose (novel 1980, film 1986) mungkin satu-satunya ahli semiotika yang hak filmnya bernilai apa pun (Eco 1980) .

Saussure berpendapat bahwa ‘tidak ada yang lebih tepat daripada studi bahasa untuk memunculkan sifat masalah semiologis’ (Saussure 1983, 16; Saussure 1974, 16). Semiotika banyak menarik konsep linguistik, sebagian karena pengaruh Saussure dan karena linguistik adalah disiplin yang lebih mapan daripada studi sistem tanda lainnya. Strukturalis mengadopsi bahasa sebagai model mereka dalam mengeksplorasi fenomena sosial yang lebih luas: Lévi-Strauss untuk mitos, aturan kekerabatan dan totemisme; Lacan untuk ketidaksadaran; Barthes dan Greimas untuk ‘tata bahasa’ narasi. Julia Kristeva menyatakan bahwa ‘apa yang telah ditemukan oleh semiotika… adalah bahwa hukum yang mengatur atau, jika seseorang lebih suka, kendala utama yang mempengaruhi setiap praktik sosial terletak pada kenyataan bahwa hal itu menandakan; yaitu bahwa itu diartikulasikan seperti bahasa’ (dikutip dalam Hawkes 1977, 125). Saussure menyebut bahasa (modelnya adalah ucapan) sebagai ‘yang paling penting’ dari semua sistem tanda (Saussure 1983, 15; Saussure 1974, 16). Bahasa hampir selalu dianggap sebagai sistem komunikasi yang paling kuat sejauh ini. Misalnya, Marvin Harris mengamati bahwa ‘bahasa manusia adalah unik di antara sistem komunikasi dalam memiliki universalitas semantik… Sebuah sistem komunikasi yang memiliki universalitas semantik dapat menyampaikan informasi tentang semua aspek, domain, properti, tempat, atau peristiwa di masa lalu, sekarang atau masa depan, baik aktual atau mungkin, nyata atau imajiner’ (dikutip dalam Wilden 1987, 138). Mungkin bahasa memang fundamental: Emile Benveniste mengamati bahwa ‘bahasa adalah sistem penafsiran dari semua sistem lain, linguistik dan non-linguistik’ (dalam Innis 1986, 239), sementara Claude Lévi-Strauss mencatat bahwa ‘bahasa adalah sistem semiotik par excellence ; itu tidak bisa tidak menandakan, dan hanya ada melalui penandaan’ (Lévi-Strauss 1972, 48).

Saussure melihat linguistik sebagai cabang dari ‘semiologi’:

 

Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum [semiologi] ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik… Sejauh yang kita ketahui… masalah linguistik adalah yang pertama dan terutama semiologis… Jika seseorang ingin menemukan sifat sebenarnya dari sistem bahasa, pertama-tama ia harus pertimbangkan kesamaan mereka dengan semua sistem lain dari jenis yang sama… Dengan cara ini, cahaya akan diberikan tidak hanya pada masalah linguistik. Dengan mempertimbangkan ritus, adat istiadat, dll. sebagai tanda, kami percaya, akan memungkinkan untuk melihatnya dalam perspektif baru. Kebutuhan akan dirasakan untuk menganggapnya sebagai fenomena semiologis dan menjelaskannya dalam kerangka hukum semiologi. (Saussure 1983, 16-17; Saussure 1974, 16-17)

Diri vs Orang Lain

Antropolog, berikut Mauss (1985[1938]), umumnya membuat perbedaan antara gagasan diri dan orang (Fitsgerard 1993, La Fontaine 1985). Diri merujuk pada maksud kesadaran manusia secara universal Dalam perwujudan individu itu sendiri, yang mana orang adalah konsep sosial yang membentuk gagasan lokal hak dan kewajiban seseorang, dan kemudian menjadi antar budaya. Hehr dan Muhlhasler (1990) membuat perbedaan yang mirip, menunjuk kepada pembentuknya sebagai “identitas numerik” dan yang terakhir sebagai “identitas kualitatif”. Hal ini diutarakan dalam istilah tesis sebuah Lokasi ganda dalam diri (Harre dan Muhlhasler (1990: 88)):

          Kita memahami bahwa kita memiliki lokasi yang menjadi perwujudan material lingkungan fisik sementara yang terus-menerus (pemikiran antropologi “diri”). Tapi kita juga memahami saat itu bahwa kurang lebih telah jelas diungkapkan lokasi hak dan kewajiban orang lain dalam lingkungan sosial yang memperoleh tanggungjawab tertentu saat itu (pemikiran antropologi “orang”).

Tesis ini berakibat: terhadap Indeksikalitas Ganda kata ganti “saya”. Kata ganti ini menunjuk kedua gagasan lokasi; jadi pemberi ungkapan menampilkan dirinya ketika memiliki lokasi yang berkaitan dalam hal waktu dan lokasi, juga tanggungjawab sosial tertentu. Diungkapkan dengan jelas adanya perbedaan yang mencolok antara diri dengan orang mungkin sulit dipertahankan. Pertama, tidak jelas bagaimana karakteristik yang diduga pada individu terwujud dalam diri, seperti baik atau jahat, menjadi sangat penting untuk dibicarakan, kecuali pada istilah hubungan sosial antara dua orang (lihat Gergen (1994)). Rosaldo (1984) berpendapat bahwa Ilongot tidak memiliki ideologi tentang perbedaan yang mencolok antara privasi diri individu dan penampilan sosial orang di depan publik. Ia menegaskan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan diri Ilongot adalah hasil aktivitas sosial publik, disadari melalui interaksi antara 2 orang, menyarankan pengaburan kontras yang bersifat universal, antara diri individu dan pribadi sosial. Ilongot menyatakan bahwa biasanya tidak ada gap antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan seseorang. Sebagai masyarakat egaliter, individu tidak memiliki pengalaman yang kuat dalam ketidakleluasaan sosial, yang mana akan memperkuat batas antara orang, diri individu yang terikat, hak dan tanggungjawab sosial pribadi: “tidak ada dasar masalah sosial atau pengalaman individu yang dianggap perlu kontrol, ketika memiliki batasan untuk melindungi atau menjaga gerakan dan keinginan, yang harus dicek apakah mereka mempertahankan statusnya atau terikat dalam kerjasama setiap hari” (Rosaldo 1984:148).

Kesulitan lebih lanjut dalam menegakkan perbedaan yang mencolok antara diri dan orang bergantung pada masalah yang besar akan jelas diselesaikan oleh kesadaran mental perwujudan individu, yang merupakan gagasan paling dasar atas diri. Kesadaran adalah hal yang sangat khas, karena itu bersifat menyebar, tidak terikat dan tidak pula stabil. Sebagian terbesar terlihat sebagai konstruksi linguistik, lokasi tubuh melalui penggunaan I dalam pertemuan berbagai pola pengulangan dalam proses structural coupling yang terikat didalamnya, dan lebih jauh lagi, laporan melalui deskripsi linguistik pada proses structural coupling yang terikat dengan kita (untuk pemikiran sebelumnya lihat Mead (1934)).

Mead (1934). Diri adalah organisme yang tindakannya dilambangkan menggunakan Saya. Karya terakhir (Minsky 1986; Varela, Thompson, dan Rosch 1991) dalam arsitektur pikiran menegaskan bahwa pikiran mengandung banyak “agen” kecil, setiap agen memiliki fungsi domain hanya dalam skala kecil. “Agen” ini dapat disusun ke dalam sistem yang lebih besar dalam tugas yang lebih inklusif, masih bisa disusun lagi dalam sistem yang lebih besar dan seterusnya dalam analogi struktur sosial, shingga membentuk The Society of Mind (Minsky 1986). Apa yang dihitung sebagai kumpulan agen dalam satu level menjadi satu “agen” dalam tingkat yang lebih tinggi. Minsky (1986) menggambarkan contoh “agen” dengan membangun menara-menara diluar blok mainan – sebagai Pembangun. Tetapi dalam tingkatan yang lebih rendah, Pembangun tersusun atas “sub-agen” seperti Pemula, Penambah, Penyelesai, dan lain sebagainya , ini juga butuh “sub-agen” lagi yaitu Penemu, Pengangkat, Pemindah, dan seterusnya. Poinnya adalah dimana ini benar-benar merupakan struktur pikiran bisa secara global yang menebarkan kesadaran diri sebagai perwujudan individu? Seperti yang diungkapkan Varela, Thompson, dan Rosch (1991) di bagian kejadian mental dan pembentukannya, contohnya tindakan “agen” dan “sub-agen” yang memiliki koherensi dan integritas melewati batas waktu. Pemahaman kita soal koherensi dan integritas tentunya dalam ingatan kita, utamanya yang disebut Becker (1971:77-9) sebagai “dalam warta berita,”apa yang tetap diulas dalam mata hati kita sebagai pengalam an hidup, khususnya pengalaman yang meningkatkan harga diri, membuat kita merasa baik dan positif dengan diri kita sendiri (dengan kata lain, pengulangan sejarah yang terpilih dalam structural coupling). Tetapi tentunya, pengalaman hidup ini, baik positif maupun negative face hanya terjadi dalam interaksi 2 orang, konfigurasi bersama orang-orang, kembali memaksa dalam kesimpulan bahwa perbedaan yang mencolok antara diri individu dan pribadi sosial tidak dapat dipertahankan (Tetapi lihat Cohen (1994) untuk argumen lawannya. Ia berpendapat bahwa catatan rosaldo tentang Ilongot tak bisa dipertahankan. Seperti Harré dan Muhlhausler, ia menegaskan bahwa kesadaran pribadi individu yang terwujud sebagai sifat universal manusia, untuk berpendapat dan sebaliknya untuk membuat eksotis orang lain dan menolak karakter yang diinginkan diri kita. ia memperhatikan bahwa kejadian sosial apapun yang dilakukan bersama seperti ritual, setiap pastisipan memiliki pemahaman dan interpretasi kejadian yang berbeda, dan ini menunjukkan kesadaran diri. pengalaman individu dalam kejadian publik apapun benar tidak diragukan lagi, untuk menolaknya akan meniadakan pemusatan organisme manusia dan plastisitas luar biasa dalam sistem saraf dalam hal structural coupling. Bagaimanapun, pengalaman individu tidak dibuat oleh diri sendiri, tidak ada bukti sifat terikat universal apapun yang menyokong pengalaman ini.

Semiotika Seri 4

Pers menggunakan saluran visual, bahasanya ditulis, dan memanfaatkan teknologi reproduksi fotografi, desain grafis, dan pencetakan. Radio, sebaliknya, menggunakan saluran lisan dan bahasa lisan dan bergantung pada teknologi perekaman dan penyiaran suara, sementara televisi menggabungkan teknologi perekaman dan penyiaran suara dan gambar…

 

Perbedaan saluran dan teknologi ini memiliki implikasi luas yang signifikan dalam hal potensi makna dari media yang berbeda. Misalnya, media cetak dalam arti penting kurang pribadi daripada radio atau televisi. Radio mulai memungkinkan individualitas dan kepribadian didahulukan melalui transmisi kualitas suara individu. Televisi mengambil proses lebih jauh dengan membuat orang tersedia secara visual, dan bukan dalam modalitas foto surat kabar yang beku, tetapi dalam gerakan dan tindakan. (Fairclough 1995, 38-9)

Sementara determinis teknologi menekankan bahwa ekologi semiotik dipengaruhi oleh fitur desain mendasar dari media yang berbeda, penting untuk mengenali pentingnya faktor sosial budaya dan sejarah dalam membentuk bagaimana media yang berbeda digunakan dan status mereka (selalu berubah) dalam budaya tertentu. konteks. Misalnya, banyak ahli teori budaya kontemporer telah berkomentar tentang pertumbuhan pentingnya media visual dibandingkan dengan media linguistik dalam masyarakat kontemporer dan pergeseran terkait dalam fungsi komunikatif media tersebut. Berpikir dalam istilah ‘ekologis’ tentang interaksi struktur dan bahasa semiotik yang berbeda membuat ahli semiotika budaya Rusia Yuri Lotman menciptakan istilah ‘semiosfer’ untuk merujuk pada ‘seluruh ruang semiotik dari budaya yang bersangkutan’ (Lotman 1990, 124-125 ). Konsep ini terkait dengan referensi ahli ekologi ‘untuk ‘biosfer’ dan mungkin referensi ahli teori budaya’ ke ruang publik dan pribadi, tetapi yang paling mengingatkan pada gagasan Teilhard de Chardin (sejak tahun 1949) tentang ‘noosfer’ – domain di pikiran mana yang dilatih. Sementara Lotman mengacu pada semiosfer seperti yang mengatur fungsi bahasa dalam budaya, John Hartley berkomentar bahwa ‘ada lebih dari satu tingkat di mana seseorang dapat mengidentifikasi semiosfer – pada tingkat budaya nasional atau linguistik tunggal, misalnya, atau kesatuan yang lebih besar seperti “Barat”, hingga “spesies”‘; kita mungkin juga mencirikan semiosfer dari periode sejarah tertentu (Hartley 1996, 106). Konsepsi semiosfer ini mungkin membuat ahli semiotika tampak imperialistik teritorial bagi para pengkritiknya, tetapi ia menawarkan visi semiosis yang lebih terpadu dan dinamis daripada studi tentang media tertentu seolah-olah masing-masing ada dalam ruang hampa.

Tentu saja ada pendekatan lain untuk analisis tekstual selain semiotika – terutama analisis retoris, analisis wacana dan ‘analisis isi’. Di bidang studi media dan komunikasi, analisis isi merupakan saingan utama semiotika sebagai metode analisis tekstual. Sedangkan semiotika sekarang terkait erat dengan studi budaya, analisis isi mapan dalam tradisi arus utama penelitian ilmu sosial. Sementara analisis isi melibatkan pendekatan kuantitatif terhadap analisis ‘konten’ manifes teks media, semiotika berusaha menganalisis teks media sebagai keseluruhan yang terstruktur dan menyelidiki makna konotatif laten. Semiotika jarang bersifat kuantitatif, dan seringkali melibatkan penolakan terhadap pendekatan semacam itu. Hanya karena item sering muncul dalam teks tidak membuatnya signifikan. Ahli semiotika strukturalis lebih memperhatikan hubungan unsur-unsur satu sama lain. Seorang ahli semiotika sosial juga akan menekankan pentingnya signifikansi yang dilampirkan pembaca pada tanda-tanda dalam sebuah teks. Sedangkan analisis isi berfokus pada isi eksplisit dan cenderung menyarankan bahwa ini mewakili makna tunggal yang tetap, studi semiotik fokus pada sistem aturan yang mengatur ‘wacana’ yang terlibat dalam teks media, menekankan peran konteks semiotik dalam membentuk makna. Namun, beberapa peneliti telah menggabungkan analisis semiotik dan analisis isi (misalnya Glasgow University Media Group 1980; Leiss et al. 1990; McQuarrie & Mick 1992).

Beberapa komentator mengadopsi definisi semiotika CW Morris (dalam semangat Saussure) sebagai ‘ilmu tentang tanda’ (Morris 1938, 1-2). Istilah ‘sains’ menyesatkan. Sampai sekarang semiotika tidak melibatkan asumsi teoretis, model, atau metodologi empiris yang disepakati secara luas. Semiotika cenderung sebagian besar teoretis, banyak ahli teorinya berusaha membangun ruang lingkup dan prinsip-prinsip umumnya. Peirce dan Saussure, misalnya, sama-sama memperhatikan definisi dasar tanda. Peirce mengembangkan taksonomi logis yang rumit dari jenis tanda. Ahli semiotika berikutnya telah berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan kode atau konvensi sesuai dengan tanda-tanda yang diorganisasikan. Jelas ada kebutuhan untuk membangun landasan teoretis yang kuat untuk subjek yang saat ini dicirikan oleh sejumlah asumsi teoretis yang bersaing. Adapun metodologi, teori Saussure merupakan titik awal untuk pengembangan berbagai metodologi strukturalis untuk menganalisis teks dan praktik sosial. Ini telah sangat banyak digunakan dalam analisis sejumlah fenomena budaya. Namun, metode tersebut tidak diterima secara universal: teori berorientasi sosial telah mengkritik fokus eksklusif mereka pada struktur, dan tidak ada metodologi alternatif yang telah diadopsi secara luas. Beberapa penelitian semiotik berorientasi empiris, menerapkan dan menguji prinsip-prinsip semiotik. Bob Hodge dan David Tripp menggunakan metode empiris dalam studi klasik mereka tentang Anak dan Televisi (Hodge & Tripp 1986). Tetapi saat ini ada sedikit pengertian tentang semiotika sebagai suatu kesatuan usaha yang dibangun di atas penemuan-penemuan penelitian kumulatif.

Semiotika Seri 3

Selektivitas media apa pun mengarah pada penggunaannya yang memiliki pengaruh yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengguna, dan yang mungkin bukan bagian dari tujuan penggunaannya. Kita bisa begitu akrab dengan medium sehingga kita ‘terbius’ terhadap mediasi yang terlibat: kita ‘tidak tahu apa yang kita lewatkan’. Sejauh kita mati rasa terhadap proses yang terlibat, kita tidak bisa dikatakan menggunakan ‘pilihan’ dalam penggunaannya. Dengan cara ini cara yang kita gunakan dapat mengubah tujuan kita. Di antara fenomena yang ditingkatkan atau dikurangi oleh selektivitas media adalah tujuan media yang digunakan. Dalam beberapa kasus, ‘tujuan’ kita mungkin secara halus (dan mungkin tidak terlihat), didefinisikan ulang oleh penggunaan media tertentu oleh kita. Ini adalah kebalikan dari sikap pragmatis dan rasionalistik, di mana cara dipilih sesuai dengan tujuan pengguna, dan sepenuhnya di bawah kendali pengguna.

Kesadaran akan fenomena transformasi oleh media ini sering membuat ahli teori media berargumentasi secara deterministik bahwa sarana dan sistem teknis kita selalu dan tak terhindarkan menjadi ‘tujuan itu sendiri’ (interpretasi umum dari pepatah terkenal Marshall McLuhan, ‘media adalah pesan’) , dan bahkan mendorong beberapa orang untuk menampilkan media sebagai entitas yang sepenuhnya otonom dengan ‘tujuan’ (berlawanan dengan fungsi) mereka sendiri. Namun, seseorang tidak perlu mengambil sikap ekstrem seperti itu dalam mengakui transformasi yang terlibat dalam proses mediasi. Ketika kita menggunakan media untuk tujuan apa pun, penggunaannya menjadi bagian dari tujuan itu. Bepergian adalah bagian yang tak terhindarkan untuk pergi ke suatu tempat; bahkan mungkin menjadi tujuan utama. Bepergian dengan satu metode transportasi tertentu daripada yang lain adalah bagian dari pengalaman. Begitu juga dengan menulis daripada berbicara, atau menggunakan pengolah kata daripada pena. Dalam menggunakan media apa pun, sampai batas tertentu kita melayani ‘tujuannya’ dan juga melayani kita. Ketika kita terlibat dengan media, kita bertindak dan ditindaklanjuti, digunakan dan digunakan. Dimana media memiliki berbagai fungsi mungkin tidak mungkin untuk memilih untuk menggunakannya hanya untuk salah satu fungsi ini secara terpisah. Pembuatan makna dengan media semacam itu harus melibatkan beberapa tingkat kompromi. Identitas lengkap antara tujuan khusus apa pun dan fungsionalitas media mungkin jarang, meskipun tingkat kecocokan pada sebagian besar kesempatan dapat diterima sebagai memadai.

Saya diingatkan di sini akan sebuah pengamatan oleh antropolog Claude Lévi-Strauss bahwa dalam kasus apa yang disebutnya bricolage, proses menciptakan sesuatu bukanlah masalah pilihan yang diperhitungkan dan penggunaan bahan apa pun yang secara teknis paling baik disesuaikan dengan keadaan yang jelas. tujuan yang telah ditentukan, melainkan melibatkan ‘dialog dengan bahan dan sarana eksekusi’ (Lévi-Strauss 1974, 29). Dalam dialog seperti itu, bahan-bahan yang siap pakai mungkin (seperti yang kami katakan) ‘menyarankan’ tindakan adaptif, dan tujuan awal dapat dimodifikasi. Akibatnya, tindakan penciptaan seperti itu tidak murni instrumental: bricoleur ‘”berbicara” tidak hanya dengan benda-benda… tetapi juga melalui medium benda-benda’ (ibid., 21): penggunaan medium dapat bersifat ekspresif. Konteks poin Lévi-Strauss adalah diskusi tentang ‘pemikiran mitos’, tetapi saya berpendapat bahwa bricolage dapat dilibatkan dalam penggunaan media apa pun, untuk tujuan apa pun. Tindakan menulis, misalnya, dapat dibentuk tidak hanya oleh tujuan sadar penulis tetapi juga oleh fitur media yang terlibat – seperti jenis bahasa dan alat tulis yang digunakan – serta oleh proses mediasi sosial dan psikologis yang terlibat. . Setiap ‘perlawanan’ yang ditawarkan oleh materi penulis dapat menjadi bagian intrinsik dari proses penulisan. Namun, tidak setiap penulis bertindak atau merasa seperti seorang bricoleur. Individu berbeda secara mencolok dalam tanggapan mereka terhadap gagasan transformasi media. Mulai dari mereka yang bersikeras bahwa mereka memegang kendali penuh atas media yang mereka ‘gunakan’ hingga mereka yang mengalami perasaan mendalam bahwa mereka dibentuk oleh media yang ‘menggunakannya’ (Chandler 1995).

Norman Fairclough berkomentar tentang pentingnya perbedaan antara berbagai media massa dalam saluran dan teknologi yang mereka gunakan.