Sapanjang adalah saksi dari kegiatan ritual Dzikir Senin, sebuah fenomena religi yang telah berlaku beratus tahun. Dzikir ini dilaksanakan pada tiap malam Senin di lokasi yang tetap, di desa Sapanjang Galesong kota Makassar. Banyak dzikir yang dilaksanakan dengan berbagai macam variasi doa dan quantitas yang berbeda-beda. Namun mungkin ada perbedaan yang bisa kita saksikan pada Dzikir Senin di desa Sapanjang Galesong.
Seperti yang telah diceritakan oleh keluarga besar di desa Sapanjang, salah satu diantaranya adalah bapak Rahman Uriansyah Manaba, beliau tinggal di Balikpapan namun sering mengikuti dzikir tersebut bahwa dzikir ini adalah warisan dari Tuanta Salamaka atau yang dikenal dengan Syech Yusuf Al Makassari. Sebagai seorang wali klasik dari masa abad ke 17, beliau mengalami berbagai tantangan seiring dengan kodrat kewalian yang dibebankan kepadanya. Syech Yusuf yang konon khabarnya adalah putra dari Nabi Khidir mengikuti kodrat Allah tiba di SULSEL sebagai putra atau diangkat putra oleh Sultan Alauddin, Raja Gowa I yang menganut agama Allah, Islam.
Dari silsilah yang saya dapatkan disana, Syech Yusuf kemudian memiliki putra dan keturunan yang salah satunya dimakamkan di Sapanjang, namanya beliau adalah Syech Sirajuddin. Beliau pula disebut dengan wali oleh masyarakat setempat. Makam Syech Sirajuddin berdampingan dengan istri dan makamnya dinaungi oleh sebuah rumah kecil. Terlihat bahwa makam beliau sering dikunjungi orang karena banyak terdapat bekas-bekas orang yang berziarah, terutama yang dibawa adalah lilin dan air seceret. Air dalam hal ini didoakan dan dikucurkan sepanjang makam, kemudian lilin adalah sebagai penerang dan memberikan cahaya atau nur. Syech Sirajuddin ini adalah putra keturunan Syech Yusuf dari istri beliau putri Johor Manikam, seorang putri Raja asal Indragiri Sumatra Barat. Karena kabar kewalian yang sangat hebat, maka banyak raja yang menginginkan Syech Yusuf atau Tuanta Salamaka menjadi menantunya. Salah satunya adalah juga menjadi menantu Sultan Ageng Tertiyasa.
Memang ada beberapa tempat di Indonesia ini diakui sebagai makam Syech Yusuf, termasuk juga di Cape Town Afrika Selatan. Sampai saat ini Syech Yusuf masih diakui jazad beliau bersemayam di Cape Town Afrika Selatan, bahkan telah diberikan gelar pahlawan Nasional disana. Kabar kewalian beliau yang sangat gempar inipun sempat membuat Belanda kelabakan. Layaknya Rasulullah, kelahiran beliau memang telah diketahui dan ditunggu-tunggu. Namun Syech Yusuf memang benar-benar menakjubkan, sesaat beliau lahir orang tuanyapun menghilang. Dan seperti yang dijelaskan dalam silsilah, beliau adalah putra dari Nabi Khidir.
Seperti pula yang telah diajarkan kepada putra dan keturunannya yaitu Syech Sirajuddin atau dengan nama anumertanya yaitu Syech Sirajuddin Karaeng Ngilau Tuan Pandang Laut, beliau telah melestarikan dzikir Senin, dzikir yang telah diciptakan dan diajarkan oleh Syech Yusuf kepada seluruh putra dan keturunannya.
Dzikir ini pada dasarnya adalah semacam kegiatan ritual Istighosah seperti yang biasa dilakukan di Jawa. Doa-doa yang diucapkan tidak jauh beda. Namun anda mungkin akan terperanjat apabila diungkapkan jumlah butiran-butiran dzikir yang diucapkan. Mereka biasa menggunakan angka 1000 untuk setiap butir doa dzikir. Luar biasa!
Jumlah ini menunjukkan quantitas yang berbeda dengan butir-butir dzikir yang biasa dilakukan di Jawa. Jumlah ini sungguh mencengangkan. Anda bisa bayangkan berapa lama mereka melaksanakan ritual dzikir Senin tersebut. Seribu kali bukan perkara gampang, di suhu hangat desa Sapanjang. Gerakan-gerakan yang tetap dan terus-menerus seolah tanpa sadar. Gerakan-gerakan menggeleng-gelengkan kepala yang dilakukan tanpa henti, terantuk ke kanan dan kekiri dua kali. Ada pula yang terantuk ke kanan dan kekiri hampir sampai 4 antukan. Matapun ikut merespon gerakan kepala yang tanpa henti, mengikuti ucapan mulut dari setiap butir doa dzikir tanpa mempedulikan sekeliling. Semua orang terfokus pada doa dzikir yang diucapkan dengan mantap dan berharap.
Doa adalah harapan, maka gerakan-gerakan menghentak semakin meyakinkan para jama’ah akan dikabulkannya harapan yang dipanjatkan. Duduk membentuk lingkaran adalah bagian dari proses berdzikir karena di tengah-tengah diletakkan batang-batang lilin berwarna merah dan menyala terang membentuk cahaya. Biasanya dzikir dilakukan di tempat kami di Malang menghadap ke kiblat. Namun yang dilakukan disini adalah membentuk lingkaran menghadap kea rah lilin yang diletakkan di meja. Dan disana juga terlihat di tengah tersedia pisang berwarna hijau yang sudah mulai matang merona kuning. Juga terdapat pula batang-batang merah lilin yang menyala di tengah-tengah. Nyala lilin ini sangat konstan mempengaruhi gerakan-gerakan pedzikir. Nyala lilin adalah nur. Nyala lilin mendatangkan aura api abadi, dan cahaya biru lilin adalah roh abadi. Dan lilin adalah penuntun agar focus kepada dzikir maupun semedi dan juga sebagai pertanda kepada pedzikir bahwa yang diundang akan datang yang ditunjukkan dengan gerakan api lilin yang semakin tenang.
Dzikirnya adalah : Ya Allah ya Rabby.. Ya Muhammad ya Rasulullah..
Selebihnya memang hanya orang-orang Sapanjang lah yang tahu Dzikir Senin. Wallahu a’lamu bish shawab.
Jangan lupa, airnya jangan dibuang ya. Banyak sekali manfaat dari air rebusan jagung. Ada di bawah ini :
1. Air rebusan jagung bisa menurunkan kadar kolesterol anda. Minum hangat, bisa juga rebusannya dimasukkan sepotong jahe,
2. Air rebusan ini berasa manis namun masih bisa aman dikonsumsi oleh penderita diabetes. Ini adalah minuman alternatif bagi penderita diabetes tipe 2 sebagai minuman pengganti. Bisa diminum dingin dengan es batu.
3. Air rebusan jagung juga bisa meluruhkan batu ginjal. Minum air rebusan jagung hangat2 tiap pagi selama 2 minggu.
4. Air rebusan jagung juga bermanfaat bagi penderita tekanan darah tinggi. Sama seperti di poin sebelumnya, minum air rebusan jagung hangat2 di pagi hari sebanyak 1 gelas. Minum selama 1 minggu.
Lebaran Idul Fitri identik dengan ketupat. Hampir semua daerh di Indonesia menyantap ketupat saat lebaran. Kadang lontong nasi bungkus daun pisang juga mendampingi hidangan ketupat. Keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai hidangan berbahan beras. Dan tentunya ketupat atau lontong selalu disajikan dengan lauk dan sayur pelengkap yang beraneka ragam.
Lebaran Idul Fitri adalah saat yang tepat menyediakan hidangan ketupat. Saat hari-hari biasa mungkin tidak banyak kita temui ketupat atau lontong di kuliner street food. Yang ada adalah ketupat sayur, dan kadang sate Padang yang bisa ditemukan seminggu sekali.
Hidangan pendamping ketupat yang paling standar adalah opor ayam. Hidangan ini bisa kita temui di berbagai daerah di Indonesia. Dan ketupat dengan lauk opor ayam ini pasti muncul saat hari pertama lebaran. Lauk pendamping ketupat yang lain bisa kita temui seperti sate ayam bumbu kacang, gulai kambing, soto dan lain-lain.
Kata ketupat yang berasal dari ungkapan ngaku lepat atau mengakui kesalahan ini memang sengaja disajikan disaat lebaran karena saat lebaran adalah momentum saling memafkan. Dan memang saat lebaran inilah kita bisa temui ketupat di hampir semua daerah di Indonesia karena lebaran adalah momen saling memaafkan.
Namun di kota Malang, ketupat disajikan pada hari ke 8 lebaran. Mungkin momentnya terlalu jauh dari lebaran yang sudah memasuki hari ke 8 ini. Patokannya bila lebaran adalah hari Senin maka lebaran ketupat dilaksanakan pada hari Senin pula. Ada kisah unik di belakang ikhwal ketupat lebaran di hari ke 8 ini. Awalnya kita mempercayai bahwa saudara-saudara kita yang telah mendahului berpulani, rohnya akan datang saat lebaran Idul Fitri. Dan konon mereka akan menunggu diberi ketupat itu untuk dibawa pulang pada hari ke 8 Lebaran. Sehingga ada juga cerita uniuk lainnya yaitu jangan membuat ketupat sebelum hari ke 8 karena ditakutkan saat mereka kembali ke alamnya ketupat tersebut akan basi.
Walhasil banyak tetangga yang datang mengirim ketupat berikut sayur dan lauknya di hari ke 8 lebaran. Ini jadi hidangan alternatif setelah beberapa hari mengkonsumsi protein-protein hewani.
Sayur pendamping ketupat saat lebaran hari ke 8 adalah sayur manisah atau labu jipang. telur masak petis hitam, emput atau serundeng giling, tahu bumbu bali dan lain-lain.
Manisah adalah komoditi sayur termahal saat itu di kota Malang, karena semua orang mengolah manisah atau labu untuk pendamping ketupat lebaran di hari ke 8. Apa yang terjadi? Manisah menjadi sayur paling mahal karena permintaan tinggi. Harganya menjadi 4 kali lipat. Maka ada sayur alternatif pengganti manisah yaitu pepaya muda.
Hari lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita. Semua orang berkumpul, bahkan dari jau datang agar bisa bertemu dengan keluarga. Maka mudik untuk kepentingan lebaran menjadi sebuah kebiasaan yang sudah mendarha daging turun temurun.
Berkumpul dengan keluarga dan semua anggotanya selalu dibarengi dengan makanan-makanan lezat khas lebaran. Hal ini akan selalu diupayakan karena lebaran dirayakan sekali dalam satu tahun.
Kali ini ada sekelumit tulisan mengenai hidangan lebaran yang selalu tersedia di keluarga-keluarga di Indonesia. Pertama adalah hidangan lebaran di Bandung. Saya sudah berkali-kali menyicip hidangan lezat di hari lebaran resep ala mertua yang selalu ada saat lebaran, Yaitu kornet daging, gulai kambing, soto bandung. Dan tak lupa potongan cabe dalam larutan cuka. Soto Bandung sangat terkenal di dataran tanah Sunda, karena mengandung aspek peranakan di dalam nya yaitu potongan-potongan lobak. Soto daging dengan lobak hampir kita tidak pernah temui kecuali di Bandung. Rasanya sangat segar juga gurih. Untuk kornet, ibu mertua sudah sering membuat hidangan ini dan resep didapat turun temururn dari buyut.
Yang kedua adalah hidangan lebaran ala kota Lampung. Kebetulan saya banyak berteman dengan teman-teman dari Lampung sehingga sayapun bisa berkesempatan mencicip salah satu kue hidangan lebaran yang saat itu dibawakan teman. Kalau nama sebeanrnya adalah lapis legit namun berbeda dengan lapis legit umumnya. Kue ini terbuat dari hanya telur dan gula. Rasanya sangat manis dan gurih. Untuk hidanga lebaran lainnya, masyarakat Lampung juga suka menyediakan Pempek Palembang saat lebaran. Pempek Palembang di Lampung agak sedikit berbeda dengan Pempek Palembang. Bentuknya lebih panjang dan kecil. Teksturnya sangat berbeda, hampir mirip puding. Namun rasanya masih otentik pempek Palembang.
Secara umum hidangan lebaran di Indonesia adalah opor ayam, rendang daging, lontong dan sebagainya. Untuk di kota Malang kelahiran saya, hidangan lebaran pernah mengalami pergeseran. Dulunya tidak pernah tersedia ketupat atau lontong di hari pertama lebaran. Ketupat dan lontong baru bisa kita temui pada minimal hari ke 5 atau 7. Namun belakangan masyarakat Malang sudah menyediakan ketupat dan lontong sejak hari pertama Lebaran. Lauk ketupatnya adalah sayur labu atau manisah kemudian telur bumbu petis. Hidangan ini kerap kali disebut Lontong Cap Go Meh. Dan juga hidangan lebaran nusantara seperti opor, rendang, gula dan lain-lain yang sering juga terhidang di meja-meja keluarga Jawa Malang.
Yang terakhir ini adalah hidanga Lebaran di keluarga Ambon. Keluarga orang tua, tete dan nenek saya di Pulau Buru. Sup sayuran dan gado-gado adalah hidangan lebaran termewah bagi saudara-saudara kami di Ambon. Hal ini karena banyak bahan baku yang harus didatangkan dari Jawa. Seperti misalnya kol, bunga kol, daun selada, wortel, daun bawang. Untuk membuat gado-gado yang sudah tersedia di sana adalah kacang tanah, ketimun, tauge, dan lontong. Mereka masih harus menyediakan (mengimpor) kerupuk, kol, kecap. Betapa cukup berjuang untuk mendapatkan dua hidangan ini ke meja untuk lebaran. Sehingga dua hidangan ini menjadi hidangan termewah dan patut disediakan saat lebaran. Karena lebaran hanya satu kali dalam setahun.
Judul yang pendek I La Galigo sebenarnya cermin dari sebuah naskah yang cukup panjang berkilo-kilo. Inilah naskah karya sastra berasal dari Bugis klasik yang diyakini terpanjang di dunia. Dan saking panjangnya naskah dan cerita di dalamnya hingga melebihi Ramayana dan Mahabarata. Bahkan Homerus dari Yunani.
I La Galigo adalah naskah susastra yang bisa kita baca saat ini berbentuk puisi 5 baris. Awalnya naskah ini ditulis dalam huruf lontara di atas daun yang disebut dengan daun lontar. Saat I La Galigo ini dituliskan di atas daun lontar, belum ada teknologi kertas atau papyrus seperti saat ini. Sehingga daun lontar inilah yang sanggup merekam semua kejadian dan cerita lisan saat itu. Diyakini cerita lisan I La Galigo terjadi pada abad 9 SM. Dan baru ditranskripsikan oleh Arung Pacana Toa Collieq Pudji pada tahun 1852 selama beberapa tahun.
I La Galigo yang dianggap kitab suci oleh sebagian orang ini berisi kisah tentang I La Galigo itu sendiri, naskah keagamaan, sejarah, dan naskah spiritual. Bagi para Bissu yang menganut agama Bugis Klasik kitab I La Galigo berfungsi sebagai obat dari beberapa penyakit, sebagai tolak bala dan berfungsi magis juga. Para Bissu ini adalah sisa-sisa warisan I La Galigo yang masih tertinggal saat ini. Bersyukur masih ada yang melestarikan kitab I La Galigo. Karena kalau tidak mungkin I La Galigo hanya sekedar gulungan lontar yang mudah rusak karena rapuh.
Kalau diteliti lebih lanjut I La Galigo bisa menjadikan kita lebih waspada, karena ada ayat-ayat yang meramalkan kejadian-kejadian alam seperti gempa, tsunami dll. Kalau kita lebih teliti membaca kita ini mungkin kita bisa lebih waspada akan gejala alam yang terjadi.
Kisah I La Galigo salah satunya yang cukup terkenal, meski ada kisah-kisah lain adalah hubungan cinta antara Sawerigading dengan We Tenri Abeng. Keduanya sebenarnya adalah lahir kembar emas atau di Jawa dikenal dengan kembar dampit. Yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Di zaman itu, sama juga dengan di Jawa, bila lahir bayi kembar laki-laki dan perempuan maka seyogyanya bayi-bayi tersebut dipisahkan. Karena dikhawatirkan keduanya nanti akan saling menyukai dan ingin menikah. Sehingga diputuskan untuk memisahkan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Namun meski dipisahkan justru membuat Sawerigading semakin penasaran dan ingin bertemu We Tenri Abeng. Dan ternyata mereka bertemu. Hingga ending ceritanya bisa ditebak.
Kisah ini hanya sebagian kecil dari naskah I La Galigo yang cukup panjang tersebut. Jumlah cerita lisan yang telah ditranskripsikan oleh Colliq Pudjie adalah 12 jilid dan tiap jilidnya adalah berjumlah 2850 halaman. Sisa-sisa naskah yang belum ditranskripsikan tersebar di Gorontalo, Malaysia, Brunei, Singapura dan Leiden. Jadi bisa dibayangkan cerita yang belum selesai ditulis ini seberapa.
Bu Colliq Pudji yang bagi masyarakat Sulawesi dikenal dengan Kartininya Sulawesi ini adalah seorang penulis handal. Mungkin kalau sekarang bisa se frekwensi dan se server denganku. Eh..
Ternyata beliau tidak sendiri, ada seorang pendeta bernama Pak Matthes yang cukup berjasa dalam aktifitas transkripsi naskah Ibu Colliq Pudjie. Bapak Matthes yang seorang pendeta dan pakar Linguistik Bible ini melihat kepiawaian Ibu Colliq sehingga banyak sekali bantuan diberikan pada sang ibu. Saat itu situasi perang antar suku yang tak menentu didukung dengan kehadiran kolonial yang menghasut, membuat bu Colliq kesulitan untuk menuliskan semua naskah-naskahnya. Dalam keadaan terkucil karena kekejaman kolonial, bu Colliq tak berhenti melanjutkan naskahnya.
Kini kita bisa menikmati tulisan I La Galigo dengan bahagia karena sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.
Meski transkrip lisan dan transliterasi naskah belum selesai.
Mungkin anda salah satu penikmat drakor atau drama Korea yang cukup dikenal di masyarakat milenial belakangan ini. Kalau disebut drakor sebenarnya adalah drama dari Korea Selatan. Sangat mustahil kalau drama itu berasal dari Korea Utarua.
Salah satu contoh drama Korea yang pernah saya lihat adalah Crush Landing on You. Industri drama dan movie di Korea Selatan memang cukup besar hingga membuat penontonnya benar-benar percaya bahwa film itu benar-benar dibuat di Korea Utara atau setidaknya di perbatasan Korea Utara dan Selatan atau yang disebut dengan Demiliterized Zone.
Padahal boro-boro drakor tersebut dibuat di Korea Utara. Sedang masuk ke Negaranya saja sulit. Hingga pernah terjadi seorang mahasiswa yang meninggal di Korea Utara karena dibunuh. Alasannya pun kurang bisa diterima.
Kita perlu tau pintu-pintu mana yang bisa dimasuki menuju ke negara Korea Utara. Salah satunya adalah menggunakan jalur darat masuk ke Korea Utara lewat Cina. Dan mahasiswa ini melalui travel agent bisa dengan sukses masuk kesana. Namun kemudian sebuah peristiwa terjadi, mahasiswa ini dipulangkan ke Amerika dalam keadaan koma dan lalu berujung meninggal. Alasannyapun sampai sekarang belum bisa diketahui dengan pasti.
Nah balik ke drama Korea tadi, bercerita tentang seorang gadis yang kesasar masuk menyebrang ke negara Korea Utara. Awalnya gadis ini main paralayang kemudian angin membawanya menuju ke perbatasa Korea Utara hingga akhirnya terjatuh di dekat Zona Demiliterisasi. Gadis ini memang akhirnya diselamatkan oleh para tentara Korea Utara. Dan endingnya sudah bisa ditebak.
Dari situ bisa disimpulkan bahwa betapa sederhananya bahasa, budaya dan kegiatan masyarakat Korea Utara. Jauh berbeda dengan saudaranya yaitu Korea Selatan. Mungkin bisa dibilang lebih konservatif (baca: ndeso). Suasana di Korea Utara sepertinya agak mencekam. Banyak aturan-aturan yang tidak masuk akal. Seperti tidak adanya internet, jarang nya listrik dan kabel telpon. Tidak banyak pengguna HP android.
Kok miris ya..
Semenanjung yang terbelah menjadi dua ini ternyata memang menjadi berbeda secara signifikan. Satu dikuasai Uni Sovyet yang komunis dan satu dikuasai Amerika yang kapitalis. Uni Sovyet mungkin gak jauh beda dengan Korea Utara, agak sedikit konservatif gitu. Tapi bagaimanapun sudah meluncurkan apolo Soyus, lebih cepat dari negara-begara lain.
Cerita menjadi semakin rumit setelah gadis Korea Selatan ini kepincut tentara dari Korea Utara. Nah ada adegan yang begitu dramatik yaitu saat perpisahan mereka di perbatasa Korea Utara Selatan tepatnya di jalan Tol dimana disana adalah Zona Demiliterisasi. Di sebelah utara garis dijaga oleh tentara-tentara Korea Utara yang dikenal sadis, dan di sebelah Selatan gari dijaga oleh tentara Korea Selatan. Gadis ini berteriak memanggil kekasihnya yang berada di Utara garis. Dan endingnya bisa ditebak.
Lagi-lagi terms of address. Membaca tulisan iseng seorang teman yang menyampaikan kebingungannya sesaat. Bingung karena takut salah sebut, sebutan untuk memanggil kepada seseorang. Addressing atau panggilan atau dalam bahasa akademiknya adalah terms of address yang memiliki aturan tertentu pada tiap-tiap keadaan.
Ada seorang dosen yang sangat kami hormati di lingkungan tempat kerja. Beliau menyandang gelar cukup banyak karena pencapaian akademiknya yang cukup panjang. Gelar professor, doktor, bahkan haji sudah lama bertahan di depan namanya. Belum lagi gelar di belakangnya, ada magister macam-macam. Yang belum ada hanya gelar almarhum atau yang sering ditulis dalam tanda kurung (alm).
Namun siapa sangka gelar-gelar berentetan ini justru membuat kita bingung untuk memanggil atau menyebut. Secara lingkungan kerja kami ini adalah lingkungan dimana setiap senior, terutama alumni akan dipanggil dengan sebutan mentereng yaitu USTADZ. Meski bukan alumni pesantren dan meski bukan orang-orang yang mengemban misi agama.
Sehingga semakin panjang daftar kata panggil yang akan kita sebut yang kita ucapkan kepada satu orang saja. Saat kita akan panggil beliau “prof”, nah mungkin tepat bila berada di dalam kelas. Saat berada di kelas dengan mahasiswa alumni maka hampir semua sepakat memanggil dengan sebutan “ustadz”. Karena mahasiswa selalu memanggil dosennya dengan kata ustadz, apapun bidang yang digelutinya.
Sebenarnya kata panggil “pak” kepada seorang pria berumur 25 tahun ke atas mungkin adalah kata yang paling tepat digunakan. Kata “pak” sangat luwes disampaikan kepada siapapun yang bergender laki-laki. Bahkan sangat lebih menghargai apabila disebutkan kata lengkapnya yaitu “bapak”.
Namun pandangan dan pikiran setiap orang berbeda-beda saat ingin dihargai dengan cara memanggil. Kadang dia lupa dan tidak menganut konvensi, akhirnya yang muncul adalah kesalah pahama dan marah-marah. Seorang professor tidak terima dipanggil “pak”. Sudah barang tentu, beliau bersusah payah untuk dapatin gelar berentetan. Lalu dengan terburu-buru segera dikoreksi oleh teman dengan panggilan “ustadz” karena beliau adalah senior di lokasi kerja. Apa yang terjadi?
Malah marah meluap-luap karena ditambah dengan ungkapan kata ganti kedua “anda”.
Kadang terms of address itu banyak dipengaruhi oleh faktor emosi psikologis, latar belakang budaya seseorang hingga ditentukan kata panggil itu, dan lain-lain.
Di instagram ada kisah pilu seorang anak yang membawa ibunya ke panti jompo. Ibu yang memiliki 6 orang anak ini berusia hampir 70 tahun. Menurut keterangan dari pihak panti, ibu ini sudah diserahkan oleh anak-anaknya kepada panti untuk diurus keperluannya sehari-hari.
Dan berita ini lalu menjadi viral lantaran diungkapkan dengan kalimat-kalimat heboh. Seorang ibu dibuang anaknya ke panti jompo. Ada lagi seorang ibu sanggup mengurus 6 orang anaknya sampai menginjak dewasa. Namun 6 orang anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal ini menjadikan salah satu anak klarifikasi atas berita yang sudah tersebar kemana-mana.
Dalam klarifikasinya, anak berusia dewasa dan sudah berumah tangga mengungkapkan ketidak sanggupannya untuk merawat ibu yang sudah tua. Hal ini dikarenakan bahwa ibunya sering berulah dan mengancam anak-anaknya untuk berpisah dengan pasangan masing-masing. Atau ada juga cerita salah satu anak yang memang tidak lagi bisa menerima keadaan sang ibu yang suka berbuat onar, kasar, berbicara kotor dan banyak lagi. Dari klarifikasi sang anak, terlihat dia tidak terima bila disebut membuang orang tuanya, karena banyak sekali penyebab mereka harus dengan terpaksa menitipkan orangtua ke panti jompo.
Di negeri ini memang masih tabu bila ada keluarga yang menitipkan orang tua ke panti jompo. Beda dengan di negara-negara lain yang memang sudah terbiasa dengan keadaan bahwa orang tua bisa tinggal di panti jompo lebih aman.
Mungkin karena suara netizen lebih dominan dan menguasai, memaksa anak-anak ibu ini untuk klarifikasi. Namun si anak ini dengan situasi yang tidak jelas, klarifikasi dengan hanya suara bukan video, menyebut kata ganti kedua untuk ibunya dengan kata panggil “dia”. Hal ini semakin membuat marah netizen. dan semakin yakin bahwa sang anak ini memang sudah melakukan kesalahan besar, menitipkan orang tuanya ke panti jompo.
Sekali lagi kata panggil yang sangat crucial dan tidak lagi mudah untuk disebut.
Kita tidak tahu apa fakta di balik klarifikasi sang anak, dan mengapa anak ini menyebut dengan kata “dia:. Disaat nada suara yang terdengar adalah pelan dan sopan.
Seperti layaknya
Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan
predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya.
Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang
menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang
satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang
sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru
Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi
Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.
Termyata cukup banyak
juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita
cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah
Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia
di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan
sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin
tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos
seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur,
gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan
Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan.
Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis
karena kotanya belum saya sebut.
Namun kuliner Soto
Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang
cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya
diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka
ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di
dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih,
jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang
sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang
putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi
Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan
tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang
seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan
kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.
Seperti misalnya Soto
Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka
kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan
kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip
dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura
menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang
dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang
nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini
sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring
Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki
kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo.
Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena
beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah
ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan
memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto
Suroboyoan tersebut.
Di Kalimantan sebagian
besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner
Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh.
Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing.
Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya.
Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan
pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto
dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa
sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak
sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti
misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto
Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli
Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran
minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita
temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan
Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana,
karena semua enyak.
Karena menyebut Coto
Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang
sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi
selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang
berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah
hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai
Coto Makassar. Juga raja-raja Bugis
Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja
Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai
hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti
hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu
ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar
menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah
cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu
Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya,
dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini
dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan,
pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri
jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di
warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto
Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih
kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong
atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar
sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk
nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan
kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai
pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering
dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.
Dengan mempergunakan
topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto
Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto
Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang
membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping
yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah
goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe
rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini
cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya.
Eh..
Di Pacitan, Sotonya
berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang
dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada
Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput
kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.
Di sebuah desa di
Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan
bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam
atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi
bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung
Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan
lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup
sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi
ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa
legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena
bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah
goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.
Seperti halnya Soto
Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo
yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini
mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto
Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja
berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih
kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq
nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung
hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan
dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu
tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya
disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun
karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping
sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan
hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya
adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe
bacem, dan karak.
Seperti halnya Soto
yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau
Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto
adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama
sebagai warisan dari masyarakat Chinese
yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode
fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak
bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah
satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena
adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih
lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar,
Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto
Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto
lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau.
Hmm jadi pingin L
Rendang Padang memang
paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas
memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan
Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai
cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto
Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto
nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan
Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi
Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu
manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati
bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang.
Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak,
Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto
Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata.
Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto
Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang
Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.
Mirip dengan Coto
Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan
yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto
Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di
beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga
rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan
dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi
dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik
karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun
menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan
kentang rebus seperti soto Jawatimuran.
Bumbu Soto Nusantara
memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan
lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di
Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal
ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini.
Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu
yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang
unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki
rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge,
daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak
mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion
lainnya.
“Bila kita ingin
mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”
Seorang teman dengan semangatnya menceritakan bahwa selama 2 tahun hidup di kota Malang tidak pernah sekalipun jalan-jalan di sekitar Malang dan sekitarnya. Padahal semua orang tau bahwa kota Malang penuh dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Tempat wisata gratis pun ada. Tapi dia begitu jujurnya mengatakan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan kemanapun. Kubilang mungkin bukan jalan-jalan, melainkan refreshing di semua tempat-tempat menarik di kota Malang. Dia pun tak bergeming. Jika tidak ada kuliah, apa yang dia lakukan coba? Ternyata dia menyukai mencuci baju. Seorang pria 51 tahun hobi mencuci baju? Kayaknya patut dipertanyakan. Hihihi. Begitu jujurnya temenku ini, seorang bapak yang sedang menempuh studi Doktor di UB.
Selama ini tak sekalipun dia merasakan enaknya naik angkot. Lah naik angkot apa enaknya yah? :p
Tapi alasannya lucu banget, dia begitu suka jalan kaki. Tapi anda tahu jarak rumah kos nya dengan kampus UB? Bisa 2km panjangnya. Sehingga pulang pergi ditempuh jarak 4km. Saya kira itu bukan ngirit lagi, tapi mungkin PELIT. Naik angkot sangat tidak mahal di kota Malang, antara 3000 rupiah hingga 4000 rupiah. Dan parahnya dia bilang saya bisa mengirit uang 8000 rupiah yang bisa saya belikan makan. Wew.. saya hampir tidak habis pikir dengan fenomena itu. Begitu nelangsanya temenku ini, hingga dibela-belain untuk jalan kaki dari rumah kosnya ke kampus UB. Saat ini kukira jarang orang menempuh perjalanan sejauh itu menuju tempat kuliah, karena disamping ongkos angkot yang tidak terlalu mahal, juga jalan di sekitar itu yang dilalui laju kendaraan yang cukup cepat. Jalan pedestrian di Dinoyo juga tidak memungkinkan orang untuk melenggang karena memang tidak ada. Sehingga banyak kekhawatiran2 bagi para pejalan kaki akan tersenggol oleh semua kendaraan yang lalu lalang.
Sedikit menerawang pria paro baya itu menceritakan tentang anak dan istrinya yang tinggal di Bogor. Istrinya menempuh studi doktor nya, anak-anaknya mengikuti perjalanan studi istrinya di Bogor. Sehingga semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di UB pun tak jarang bapak dua anak ini memprotes beberapa kebijakan universitas tentang konsumsi yang harus disediakan mahasiswa untuk ujian kelayakan, terbuka dll. Menurut dia ini sangat memberatkan. Dia bilang dia tak pernah sekalipun makan buah yang namanya anggur, disaat dia harus menghidangkan buah-buahan yang notabene mahal tersebut saat ujian. Ini berat buat dia. Tapi mungkin bagiku ini tragis. Masak nggak pernah makan anggur sih, walau satu. Qeqeqe..
Yah artinya bahwa menghadirkan hidangan buah-buahan, dan mungkin makanan ringan itu tidak menjadi berat hingga harus jual motor. Entah apa yang ada di pikiran si bapak ini hingga begitu tragis beliau menceritakan, sepertinya berat sekali beban hidup yang dia tanggung. Dari harus mengirit naik angkot karena uangnya bisa dipergunakan untuk sekali makan, sampai harus protes demo di UB untuk mengurangi kebijakan menghadirkan konsumsi saat ujian. Saya yakin saat seseorang berniat untuk studi lanjut sudah pasti akan memikirkan konsekwensi finansial yang akan diemban. Saya sangat heran dengan fenomena unik si bapak. Beliau yang berasal dari Sulawesi Selatan, yang saya paham orang SULSEL itu begitu gengsi dan mempertahankan martabat dan malu. Kalau toh memang sampai nggak punya, mungkin sebaiknya tidak sampai terungkap di ujung mulut. Yang saya tau teman-teman Sulawesi saya seperti itu. Tapi entah lah..
Baru saya ingat beberapa waktu lalu sahabat saya kak Buyung melaksanakan ujian tertutupnya di UB. Saya begitu bangga bagaimana cara beliau menghormati semua dosen penguji, pembimbing dan promotornya. Dan mungkin seperti itu lah idealnya. Toh bagaimanapun prosesnya tak perlu lah orang lain tau. Yang kita tau adalah kak Buyung melaksanakan ujian disertasinya dengan lancar dan mendapatkan nilai memuaskan. Sedangkan kemudian beliau mendatangkan keluarga dan menyadiakan fasilitas untuk tamu dan dosen, saya yakin semua sangat memahami bahwa itulah cara mahasiswa menghormati bagaimana pelaksanaan ujian disertasi tertutup itu dengan baik. Dan semua ittikad baiknya menjadi memori tersendiri bagi para dosen pembimbing, penguji dan promotor yang notabene adalah semua orang Jawa. Semua tamu bisa jadi adalah orang SULAWESI sehingga kita seolah-olah merasa berada di UNHAS Makassar.
Sesampai di rumah pun saya masih merenung lama memikirkan teman saya si bapak yang lagi studi Doktor bidang Lingkungan di Pasca UB itu. Sempat dia melarang saya untuk mencoba-coba studi di Pasca UNHAS. Sayapun sebenarnya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengambil Pasca disana. Bukan apa, jauhnyaaa..
Namun kemudian saya seolah tertantang oleh perkataan beliau bahwa saya yang orang Jawa tidak mungkin berhadapan dengan dosen-dosen UNHAS yang menurut dia ego. Saya jadi agak tersinggung. Saya sampaikan bahwa saya sudah berkomunikasi dengan orang Sulawesi dari sejak tahun 2006, saya tau betul karakter mereka. Sehingga saya tidak pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang Sulawesi. Entah dia begitu skeptik terhadap para pengajar di UNHAS. Saya kira di tempat kuliah saya di UM juga seperti itu, bahwa banyak mahasiswa mengalami drop out gara-gara kesulitan berkomunikasi sosial dengan dosen. Itu hanya masalah bagaimana kita merespon saja. Hanya dari pribadi masing-masing yang bisa menjawab, bahwa kamu bisa beretika komunikasi yang benar atau tidak. Seorang dosen pun tidak akan dengan senang terus menerus menyiksa mahasiswa, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya sampaikan bahwa mungkin anda perlu mengetahui siapa saya lebih mendalam karena saya tidak hanya berkomunikasi sosial dengan masyarakat SULSEL, namun saya juga menulis budaya dan antropologi SULSEL. Artinya saya sangat bisa memahami siapa dan apa SULSEL itu. Entah kenapa sampai saat saya menulis inipun, apa yang dia bilang masih sangat membekas di hati saya. Hampir semua lokasi penting di SULSEL sudah kudatangi, begitu pula orang-orangnya yang saya ajak secara langsung untuk berkomunikasi sosial. Di Sidrap, di Wajo, di Makassar, di Bone..saya sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat orang SULSEL. Apapun dan seperti apapun. Tidak ada budaya yang lebih tinggi dan lebih baik dari budaya yang lain. Itu yang selalu saya pegang sampai saat ini.
Baru kemudian beberapa waktu setelah pembicaraan dengan beliau, sepertinya beliau ingin pulang dan kemudian pamit kepada saya. Ughh saya agak lega setelah melalui perdebatan tersebut. Bisik2 kemudian teman2 yang masih disana mengatakan pada saya kalau si bapak itu baru saja sembuh dari depresinya.
Astagah!
Jadi aku tadi ngobrol sama 90% person??
Ok deh pak, tapi yang jelas saya salut sama kegigihan anda. Cuma satu catatannya “ANDA NGGAK SULSEL BANGETT”