Upaya-upaya Menarik Para Blogger

Semakin bertambah jumlah sosial media dan penggunanya, maka semakin bertambah pula jumlah user atau penggunnya. Trik-trik untuk membuat konten dan menulis konten menjadi sebuah upaya pencapaian yang tidak mudah baik itu berupa video, tulisan untuk blog atau bahkan hanya sekedar foto.

Kali ini ada beberapa video menarik yang saya lihat bahkan berkali-kali karena isinya sangat bermanfaat. Namun memang ada hal-hal unik yang saya lihat dalam dua video ini yang cukup menggelitik untuk dibahas. Salah satunya adalah video tiktok dengan nama akun sebut saja Septi. Si mbak ini memiliki ratusan postingan bertema kuliner. Keunikan video milik Septi dan suaminya ini adalah setting lokasi yang mengambil tema rumah klasik yang terbuat dari bambu. Rumah ini mungkin tidak bisa disebut dengan rumah lengkap, ini hanya sebuah dapur kecil yang terbuat dari dinding bambu. Semua peralatan masak yang dipergunakan  terbuat dari tembikar atau tanah liat. Termasuk yang digunakan disana adalah anglo atau kompor  tanah liat yang menggunakan bahan kayu bakar. Anglo initidak seperti biasanya digunakan di desa, tetapi anglo ini diletakkan di meja kayu meski dengan kayu bakar yang menyala.

Piring dan peralatan makan lainnya pun menggunakan bahan-bahan tanah liat dan kayu. Bisa jadi mereka mendapat inspirasi dari Dianxi Xiaoge, seorang vlogger kuliner asal Yunan China.  Bedanya adalah Dianxi menggunakan peralatan yang total terbuat dari tanah liat dan kayu, hanya periuk dan wajan saja yang terbuat dari besi. Semua bahan masaknya pun terlihat masih asli karena Dianxi memetik dan memanennya sendiri naik turun gunung.

Untuk mbak Septi ini memang semua seperti di setting dan diupayakan agar terlihat asli di desa, Air yang dipergunakan diletakkan di sebuah gentong kecil dan gayung yang terbuat dari batok kelapa, Namun jadi terlihat kikuk saat mengambil air dari dalam gentong kecil ini. Semacam agak ribet dan menyulitkan kameramen.

Beberapa viedo sudah kusimak eh ternyata ada video baru yang mematahkan konsep-konsep video-video sebelumnya. Septi akhirnya mengalah dan mulai berpraktik di dapur modern, menggunakan kompor gas dan peralatan yang cukup mumpuni. Mungkin sebagai viewer suka kritik seperti saya, akhirnya ikut menyerah juga. Ternyata semua itu settingan.

Untuk akun youtube bernama Hidup di Desa, patut saya acungi jempol. Adalah seorang suami istri dengan 1 anak kecil hidup di tengah-tengah hutan, di pinggir sebuah sungai. Sang istri adalah aktor utama dalam video ini karena tema akun youtube ini adalah kuliner. Tema yang selalu kunikmati selama ini. Saya sangat suka dengan semua video pasangan ini, Semua bahan makan yang diolah sebagai konten adalah hasil panen dan petik sendiri. Peralatan yang dipergunakan juga dari bahan-bahan tembikar atau lempung. Seperti sendok kayu, ulekan batu dan piring tanah dan juga beberapa panci tanah liat. Namun memang sebagian peralatan mereka juga ada yang modern seperti mixer, toples-toples kaca dan alat=alat pertanian. Kompor yang dipergunakan adalah kompor kayu bakar atau luweng (Jawa red).

Mereka mempergunakan hampir semua hasil kebun dan sawah untuk konten kuliner. Untuk mencuci semua bahan=bahan masak, pasangan ini membuat semacam pipa bambu yang berasal dari sumber air. Namun bisa juga disambungkan dengan air PDAM agar supaya terlihat semakin alami. Sang istri yang terlihat cukup cekatan dalam mempersiapkan masakan untuk keluarganya.

Mungkin untuk settingan hidup di desa, sekedar saran, gunakanlah baju yang tidak ribet seperti jubah hijab besar dll.  Hal ini karena setting hidup di desa lumayan berat, tidak seperti di kota yang tinggal klik saja. Saya kadang agak khawatir saat sang istri memasak di depan luweng yang apinya menyala-nyala, atau saat mencuci bahan masak di air atau sungai yang serba ribet jadinya.

#tiktok

#ikafarihahhentihu

 

Jepang Akhiri Dominasi Barat

Semangat juang para pemain Jepang kemarin saat piala dunia Word Cup saya kira layak diacungi jempol dan diberikan tepuk tangan yang paling meriah. Mereka berhasil mengalahkan salah satu tim favorit juara Piala Dunia Qatar tahun 2022 ini.

Tetapi yang lebih menarik mengapa kemenangan tim Asia ini membuat orang-orang di sekitaran kita merasa bangga. Ketika Arab Saudi mengalahkan Argentina kita merasa bangga. Apakah kita sudah bosan dengan dominasi-dominasi Barat selama ini.  Baik dominasi bidang politik, dominasi bidang budaya, bahkan di bidang olah raga. Sehingga kemenangan ini seolah kita merasa bahwa ini adalah kemenangan peradaban Timur atas peradaban Barat.

Semua itu bisa saja terjadi. tetapi yang pasti ketika Jerman melawan Jepang ini saya menyaksikan satu gelagat arogansi dari salah satu pemain Jerman terutama pemain belakangnya yaitu Antonio Rudiger ketika dia saling adu sprint dengan pemain Jepang di sisi kiri pertahanan Jerman  lalu kemudian pemain Jepang ini kalah lari, dia lari dengan mengangkat kaki seolah dia sedang berolah raga.

Ada pertunjukan bahwa menghadapi Jepang seperti dengan berhadapan pada saat latihan. Tetapi dia lupa bahwa pertandingan masih sedang berjalan, jepang mampu melipat gandakan semangatnya, melipatgandakan kecepatannya  dan akhirnya mereka menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan 2-1 sebagaimana Arab Saudi mengalahkan Argentina sehari sebelumnya.

#qatar2022

#ikafarihahhentihu

Masih Saja Terjadi

Anda pernah mendengar istilah “scammer” dari media email, seperti yahoo dan gmail? Atau dari social media seperti instagram, facebook, dan tiktok? Dan mungkin juga melalui media komunikasi seperti sms dan whatsapp? Perlu diketahui bahwa scammer adalah sebuah trik menipu demi mendapatkan uang dengan segala macam cara. Dan yang pasti scammer ini apapun bentuknya akibatnya sangat merugikan korbannya. Korban kadang tidak sadar karena ada satu cara para penipu ini membujuk dengan rayuan-rayuan gombal seperti yang terjadi pada teman saya beberapa tahun lalu.

Kapan sebenarnya terjadi aktifitas penipuan dengan model scammer ini dimulai dan terjadi? Dari beberapa teman yang pernah bercerita juga cerita-cerita yang pernah saya baca, scammer mulai sering terjadi pada 2006 an. Seorang teman bercerita dengan sangat riang bahwa ada bule yang hendak melamarnya. Sebenarnya saya merasa curiga ada bule yang kesasar ke negara Indonesia yang notabene jauh dari negara dia berasal yaitu Inggris.

ini perlu diketahui juga bahwa negara asal para scammer ini kebanyakan adalah dari Inggris. jadi bukan ratu-ratunya saja yang terkenal. Penipunya juga bejibun hingga melintas batas negara. Namun mungkin mereka sudah berkali-kali sukses menipu cici-ciwi Indo yang mudah banget ditipu dengan cara bujuk rayu yang manjur. Sehingga singkat cerita teman saya ini sempat mengirimkan sejumlah uang kepada bule tersebut.

Awalnya si bule PDKT yang cukup intens ke temen saya ini. Nah berhubung temen saya ini jomblo maka bagai gayung bersambutlah cerita keduanya. Beberapa waktu berlalu kemudian bule ini bermaksud mengirimkan hadiah sebagai tanda kedekatan mereka. Dan juga sebagai tanda bahwa bule tersebut serius akan melamar. Hadiah ini akan dikirim ke alamat rumah temen di Blitar. Saat itu mereka sudah menggunakan komunikasi whassap sehingga bisa terlihat online tidaknya sang lawan bicara. Hadiah tersebut sempat difoto oleh si bule ini dengan tulisan nama dan alamat yang dituju. Dia menyebutkan isi dari kotak tersebut adalah laptop baru, tas bermerk Hermes dan sejumlah uang dalam amplop sebesar Rp. 25juta. Dan seketika itu pula teman saya girang, seluruh teman kerabat dan saudara kesemuanya ikut bergembira karena temen saya mengumumkan bahwa dia akan segera mengakhir masa jomblonya.

Namun kemudian sesuatu terjadi, apa itu? Beberapa hari kemudian teman saya ditelpon dengan nomor Malaysia. Dari suaranya terdengar logat Melayu kata teman saya, yang isinya mengatakan bahwa teman saya mendapat paket kiriman dari Inggris yang tidak dikirimkan ke alamat Indonesia dengan alasan tidak ada wakil biro penerimaan paket. Sehingga paket itu dikirimkan ke alamat biro Malaysia. Konsekwensinya teman saya harus mengirimkan sejumlah uang ke biro tersebut dengan jumlah Rp. 10juta agar biro tersebut kemudian mengirimkan paket tersebut ke Indonesia. Saat itu sayapun tidak bisa memberi pertimbangan apapun. Sepertinya baru teman saya ini yang mengalami kisah tertipu oleh bule. Saya tidak bisa memberi diskusi apapun karena memang tidak paham apa yang sedang terjadi.

Dan akhirnya beneran, temen saya benar-benar mengirimkan uang ke bule tersebut dengan akun bank pengiriman ke Malaysia. Tadinya teman saya bilang tidak bisa memberikan uang sebanyak itu, Dan anehnya dari pihak biro Malaysia memberikan keringanan beberapa ribu rupiah saya kurang paham. Dan setelah dikirimkan uang tersebut, apa yang terjadi? Anda sudah bisa mengira sendiri. Yaa.. bule itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan saat no WA nya dalam keadaan online.

Dan akhirnya tinggal berkeluh kesah saja teman saya. Saya juga tidak bisa menahan sedih. Apalagi teman saya juga sudah sering dibully oleh keluarganya dibilang karena perawan tua.

Ok saya akan coba sampaikan pengalaman teman saya agar teman-teman tidak mudah tertipu oleh bule-bule scammer.

1. Kebanyakan para bule ini menyamar di FB, Instagram dan Tiktok dengan memakai pakaian seragam Army.

2. Namun scammer yang jalani aksinya melalui email akan berperan sebagai orang kaya yang ingin menitipkan sebagian uangnya ke akun bank kita. Bisa jadi ini adalah pencucian uang. Orang ini kadang mengaku sebagai anak dari raja di kerajaan yang digulingkan sehingga ingin menyelamatkan hartanya sebagian ke para korban.

3. Para bule yang sering nampang di socmed ini juga kadang berfoto dengan 2 anaknya yang kecil-kecil atau kembar. Kadang akan mengaku sebagai duda yang ditinggal mati istrinya.

4. Bila mereka sudah bisa berkomunikasi lancar maka akan tiba-tiba memberi hadiah. Hadiah ini berupa kardus berisi laptop, tas mahal, dan sejumlah uang dalam amplop. Setelah difoto kardusnya lalu dikirimkan ke dm korban

5. Bule lebih menyukai korban yang tidak bisa berbahasa Inggris karena ini justru merangsang korban untuk ujug-ujug belajar bahasa Inggris sehingga bule tersebut akan membahaca gaya bahasa inggris korban yang belepotan sehingga akan mudah untuk diperdayakan.

6. Namun bule ini juga akan lebih bersemangat apabila korban bisa berbahasa inggris dengan baik. Tentu saja korban yang tidak paham scammer dan bisa dibujuk rayu karena statusnya yang jomblo.

7. Bule ini juga tak segan-segan menawarkan pergi haji kepada korban apabila korban adalah wanita muslim.

Oleh karena itu wahai para wanita Indonesia, mohon berhati-hati dan waspada ya..

Sesajen di Makam Karaeng Galesong

Sesajen di Makam Karaeng Galesong

Indonesia sebagai sebuah negara kepulauan yang memiliki beragam kebudayaan dan budaya yang masih berkembang hingga saat ini. Adanya beragam suku, dan agama di masyarakat jawa dan di temukan sistem nilai-nilai budaya. Salah satu tradisi masyarakat Jawa yang hingga sekarang masih tetap eksis dilaksanakan dan masyarakat Jawa adalah ritual sesajen. Ritual sesajen ini merupakan salah satu bentuk ritual tradisional masyarakat di pulau Jawa yang sudah berlangsung secara turun-temurun dari nenek moyang.

Di era globalisasi masyarakat jawa masih menggunakan sesajen sebagai sarana untuk menghormat roh-roh nenek moyang yang telah meninggal dunia. Banyak orang yang masih menggunakan tradisi jaman dulu tentang sesajen yang digunakan untuk selametan atau memuja para roh-roh. Orang-orang menganggap bahwa memuja roh sudah menjadi tradisi para leluhur terutama di pulau jawa kejawen. Banyak terjadi di masyarakat jawa yang masih memuja roh-roh para dewa yang di anggap sebagai ritual agar mendapatkan keselamatan.

Dalam agama Buddha seseorang yang masih menggunakan sesajen dalam altar yaitu berupa buah-buahan dan makanan sebagai simbol penghormatan. Menghormat merupakan memberi atau menyatakan hormat. Dalam falsafah hidup Jawa berbakti kepada kedua orang tua dan para leluhur yang menurunkan adalah suatu ajaran yang diagungkan. Orang Jawa yang memahami hakekat hidup tentunya kepada orang tua dan para leluhur yang menurunkannya.

Salah satu wujud konkrit rasa berbakti tersebut adalah berupa sesaji sebagai persembahan atas segala rasa hormat dan rasa terimakasih tak terhingga kepada para leluhur yang telah wafat yang mana semasa hidupnya telah berjasa memberikan warisan ilmu, harta-benda, dan lingkungan alam yang terpelihara dengan baik sehingga dapat kita nikmati sampai saat ini dan memberikan manfaat untuk kebaikan hidup kita.

Sesajen yaitu makanan  yang disajikan kepada arwah yang telah meninggal dengan tujuan ingin mendoakan dengan media. Tujuan dari sesajen yaitu untuk mengucapkan terima kasih kepada semua mahkluk atau kepada roh-roh.

Sarana yaitu segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai maksud dan tujuan. Keagamaan orang jawa kejawen selanjutnya ditentukan oleh kepercayaan pada berbagai macam roh yang tidak kelihatan. Orang melindungi diri dengan memberi sesajen yang terdiri dari nasi dan makanan lain, daun-daun bunga dan kemenyan. Bunga mempunyai makna filosofis agar kita dan keluarga senantiasa mendapatkan “keharuman” dari para leluhur.

Masyarakat kota Malang sering melihat bunga-bunga yang berserakan di perempatan jalan. Tujuannya mungkin agar semua yang melewati perempatan tersebut aman-aman saja atau tidak terjadi kecelakaan. Ritual pemberian sajen memang memiliki nilai magis yang sangat tinggi. Kesalahan umat manusia sering terjebak pada hal-hal yang bersifat abstrak sebagai dunia yang pasti atau nyata demi membela keyakinan dunia ghaibnya. sesungguhnya orang yang menabur bunga di perempatan jalan sambil mengucapkan doa yang mensiratkan makna yang dalam dalam limpahan kasih sayang yang tidak pilih kasih. Adapun doanya misalnya sebagai berikut :

“Ya Tuhan berilah keselamatan dan berkah kepada siapapun yang melewati jalan ini, baik manusia, makhluk halus, maupun binatang apapun jenis dan namanya”.

Doa dan apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi dari budi pekerti mereka yang sungguh adiluhung. Mengucapkan doa dengan ketulusan dan kasih sayang yang penuh limpahan berkah. Alam menyambutnya dengan limpahan berkah dan keselamatan lahir batin kepada seluruh makhluk yang melewati perempatan jalan itu. Itulah kodrat alam yang telah terbentuk dalam relung-relung hukum keadilan Tuhan.

Sebelum masuknya agama Hindu, Budha, dan Islam, masyarakat Jawa sudah mempunyai tradisi menghormati Tuhan, alam, dan roh – roh leluhur.

Ini berarti umurnya sudah tua sekali, tetapi orang-orang yang masih memegang budaya  Jawa dengan erat tetap membuat sesajen pada saat-saat spesial. Sesajen dibuat untuk mengucap syukur atau sebagai tanda penghormatan kepada Tuhan / leluhur. Karena kaitannya dengan hal-hal paranormal/ghaib, dan fungsinya untuk berdoa kepada leluhur, banyak yang mengatakan bahwa penggunaan sesajen adalah hal yang musrik atau menantang nilai-nilai agama. Namun sebenarnya fungsi sesajen itu adalah sebagai simbol permintaan kepada Yang Maha Kuasa. Saat dulu masyarakat masih buta aksara, doa diwujudkan dalam sesajen. Sehingga sesajen adalah pengejawantahan dan maksud dari doa yang dipanjatkan. Sunan Kalijaga acapkali menggunakan symbol-simbol dalam berdoa dalam apapun kegiatan dakwah beliau.

Kecamatan Ngantang di Kabupaten Malang sekitar 50km di sebelah Barat kota Malang adalah lokasi makam Karaeng Galesong dimana sering ditemukan sesajen pada hari-hari tertentu. Makam ini sangat kuno yaitu berasal dari abad ke 16. Itulah mengapa makam tersebut menjadi jujugan warga desa meletakkan sesajennya disana.

Dan sesajen ini pula yang saya temui beberapa kali di Makam Karaeng Galesong Ngantang, Kabupaten Malang.

Makna Simbolik Dibalik Sesajen

Ritual dalam Islam Jawa bagi masyarakat muslim Jawa, ritualitas sebagai wujud pengabdian dan ketulusan penyembahan kepada Allah, sebagian diwujudkan dalam bentuk simbol-simbol ritual yang memiliki kandungan makna mendalam. Simbol-simbol ritual merupakan ekspresi atau pengejawantahan dari pcnghayatan dan pemahaman akan “realitas yang tak terjangkau” sehingga menjadi “yang sangat dekat”. Dengan simbol-simbol ritual tersebut, terasa bahwa Allah selalu hadir dan selalu terlibat, “menyatu” dalam dirinya, Simbol ritual dipahami sebagai perwujudan maksud bahwa dirinya sebagai manusia merupakan tajalli, atau juga sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Tuhan. Simbol-simbol ritual tersebut di antaranya adalah ubarampe (piranti atau hardware dalam bentuk makanan), yang disajikan dalam ritual selamatan (wilujengan), ruwatan dan sebagainya. Hal itu merupakan aktualisasi dari pikiran, keinginan, dan perasaan pelaku untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Upaya pendekatan diri melalui ritual sedekahan, kenduri, selamatan dan sejenisnya tersebut, sesungguhnya adalah bentuk akumulasi budaya yang bersifat abstrak (Endraswara, 2003: 195). Hal itu terkadang juga dimaksudkan sebagai upaya negosiasi spiritual, sehingga segala hal ghaib yang diyakini berada diatas manusia tidak akan menyentuhnya secara negatif.  Memang harus diakui bahwa sebagian dari simbol-simbol ritual dan simbol spiritual yang diaktualisasikan oleh masyarakat Jawa, mengandung pengaruh asimilasi antara Hindu-Jawa, Budha-Jawa, dan Islam-Jawa yang menyatu padu dalam wacana kultural mistik. Asimilasi yang sering diasosiasikan para pengamat sebagai sinkretisme tersebut juga terlihat dengan diantaranya pembakaran kemenyan pada saat ritual mistik dilaksanakan, yang oleh sebagian masyarakat Jawa diyakini sebagai bagian dari penyembahan kepada Tuhan secara khusyu’ (mencapai tahap hening) dan tadharru’ (mengosongkan diri kemanusiaan sebagai hal yang tidak berarti di hadapan Tuhan), atau katakanlah sebagai salah satu bentuk akhlak penghormatan kepada Tuhan.

Membakar kemenyan itu biasanya diniatkan sebagai “talining iman, urubing cahya kumara, kukuse ngambah swarga, ingkang nampi Dzat ingkang Maha Kuwaos” (sebagai tali pengikat keimanan. Nyalanya diharapkan sebagai cahaya kumara, asapnya diharapkan sebagai bau-bauan surga, dan agar dapat diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa). Memerhatikan niat tersebut, maka dapat dipahami bahwa pembakaran kemenyan dalam ritual mistik sebagian kaum muslim Jawa, atau memasukkannya sebagai unsur mistik bukanlah laku yang musyrik seperti yang dituduhkan oleh sebagian muslim yang merasa lebih puritan, atau sebutlah kearab-araban. Pada zaman Nabi Ibrahim AS. juga sudah ada kebiasaan membakar kemenyan. Untuk zaman Nabi Muhammad SAW., pembakaran kemenyan sering digantikan dengan mengenakan bau-bauan yang harum, yang dinyatakan sebagai “disukai oleh Allah”. Baik kemenyan maupun wangi-wangian esensinya sama, yakni untuk mendekatkan diri kepada Allah.  Malahan, pada sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim dikemukakan, minyak wangi sejak zaman Rasulullah digunakan sebagai salah satu sarana penyembuhan.

Diriwayatkan oleh Anas r.a berkata :

“Sesunqquhnya Nabi SAW. pernah datang ke rumah Ummu Sulaim dan inqin beristirahat yakni tidur siang di rumahnya. Ummu Sulaim lalu meletakskan hamparan dari kulit sebagai alas tidur Nabi. Manakala di saat tidur itulah baginda mengeluarkan banyak keringat. Ummu Sulaim lalu mengumpulkati keringat tersebut kemudian mencampurnya dengan minyak wangi dan memasukkannya ke dalam botol-botol kecil. Kemudian Nabi SAW. bertanya kepada Ummu Sulaim: “Apa ini?” Ummu Sulaim menjawab: Keringat engkau Ya Rasul. Aku mencampurnya deenqan minyak wangiku.” (Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, no. 1363).  Menurut berbagai tafsir hadits, Ummu Sulaim mengggunakan campuran minyak wangi dan keringat Rasulullah itu untuk mengobati anak-anak yang sakit.

Hadits tersebut memberikan makna penting, terutama tentang, dua hal: (1) bahwa penggunaan minyak wangi sebagai sarana ritual (yang dalam hadits itu adalah penyembuhan), sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Muhammad pada abad ke-7 M, dan Rasuulullah mengiyakan. (2) Ummu Sulaim bertabarruk dengan keringat Rasulullah. Hal ini memberikan gambaran tegas, bahwa tradisi tabarruk kepada orang-orang salih dan para wali sebagaimana sangat disukai oleh kalangan mistik dan sufi Islam Jawa, oleh Rasulullah tidak dilarang. Minyak wangi atau wewangian juga dianjurkan digunakan dalam ritual syariat, sebagaimana dinyatakan dalam hadits:
Diriwayatkan oleh Sayidatina Aisyah r.a berkataa:

“Aku memakai wangi-wangian pada tubuh Rasulullah SAW. Ketika baginda ingin memakai Ihram untuk berihram dan ketika bertahallul sebelum baginda Tawaf di Baitullah.”(Muttafaqun ‘Alaih, al-Bayan, no. Hadits 678). Jika dilihat dalam takhrij hadits, maka kontekstualisasi penggunaan wewangian tersebut berlaku saat mandi, berpakaian, beribadah haji, tayammum, dan hampir semua ibadah dalam Islam.

Para penganut mistik dalam muslim Jawa meyakini bahwa berbagai aktivitas yang mempergunakan simbol-simbol ritual serta spiritual tersebut bukanlah suatu tindakan yang mengada-ada dan kurang rasional. Dalam bahasa akhir-akhir ini, bukanlah termasuk perkara bid’ah. Karena dibalik ritual tersebut, terkandung makna sebagai salah satu upaya menyingkirkan setan yang menggoda manusia. Berbagai ritual tersebut dimaksudkan untuk meminimalisir berbagai keburukan, baik yang datang dari manusia maupun jin (Qs. Al-Nas/114).

Setan merupakan entitas yang terbuat dari nyala api (sehingga yang mengikuti perbuatannya bertempat di neraka. Neraka berasal dari bahasa Arab “naruka” yang berarti “apimu sendiri” atau api yang kamu sulut sendiri. Setan hidup dan ada karena perbuatan buruk manusia mengikuti nafsu jeleknya). Karenanya, sebagai salah satu upaya menolaknya adalah dengan “kukus” api itu sendiri. Perwujudan berbagai laku dan ritual sebagaimana sudah disebutkan di atas, tetaplah bersandar kepada kekuatan Tuhan, bukan pada benda simboliknya itu sendiri. Sebagian di antara bentuk simbol ritual dan simbol spiritual adalah apa yang disebut sebagai selamatan (slametan), atau wilujengan, yang menggunakan sarana tumpeng dengan berbagai jenis ubarampenya. Tumpeng itu sendiri bagi orang jawa merupakan ungkapan dari “metu dalam kang lempeng” atau hidup melalui jalan yang lurus (hanif), sebagai aplikasi dari ayat dan doa “ihdinash shirathal mustaqim” (Qs. Al¬Fatihah). Pada acara-acara selamatan khusus, tumpeng itu berwujud besar dan gurih, yang disebut sebagai “tumpeng rangsul/Rasul”, yang maknanya adalah mengikuti jalan lurus sesuai ajaran Rasulullah. Maka sebagian di antara ubarampenya adalah ayam yang dimasak dan disajikan secara utuh yang disebut “ingkung”. Ingkung biasanya mcndampingi tumpeng rasul, sebagai ciri khasnya. Maksudnya adalah, bahwa sebagian ciri khusus dari orang yang mcngikuti Rasulullah “inggalo njungkung” atau bersujud, juga bermakna “inggala manekung” (segera bermuhasabah dan dzikir kepada Allah).

Pada sebagian acara selamatan untuk wilujengan anak (karena sesajen yang ditemukan di makam Karaeng Galesong adalah ditujukan untuk selamatan pemberian nama) dan untuk pernikahan pengantin, kadang menggunakan nasi tumpeng yang disebut dengan “nasi uduk”. Nasi uduk sebenarnya adalah “nasi wudhu”, karena selama memasak nasi tersebut, mereka yang memasak selalu dalam keadaan berwudhu atau selalu dalam keadaan suci. Semua ubarampe wilujengan tersebut, sebelum dipersembahkan untuk orang banyak, diujubkan (sebenarnya diijabkan) terlebih dahulu. Ujub merupakan tradisi dalam bentuk ijab, penyerahan acara ritual kepada orang yang ditunjuk, yang biasanya sesepuh atau ulama setempat. Dalam ujub tersebut, dikemukakan maksud dan tujuan diadakannya selamatan, serta untuk siapa selamatan tersebut diadakan. Kemudian setelah orang yang ditunjuk tersebut memberikan jawaban, ia memulai acara dengan mengatakan tujuan dan maksud pelaksanaan acara sebagaimana ujub dari orang yang punya niat. Barulah ritual dilaksanakan. Karena kemudian ritual tersebut berasimilasi dengan tradisi Islam, maka dalam ritual selamatan muslim Jawa biasanya disertai dengan berbagai pembacaan ayat-ayat al-Qur’an, dzikir, wirid, pembacaan kitab-kitab maulid atau manaqib, dan diakhiri dengan doa khusus yang terkait dengan tujuan ritual tersebut.

 

Karaeng Galesong di Ngantang Kabupaten Malang

Sebagai seorang panglima kerajaan dan putra Sultan Hasanuddin, Karaeng Galesong memiliki karakter kuat. Keresahannya berawal dari semakin sengsara rakyat Sulawesi terutama setelah ditandatanganinya Perjanjian Bungaya. Perjanjian yang sangat merugikan dari pihak rakyat ini membuat Karaeng Galesong bergerak dan akan membela. Sistim tanam paksa, pajak yang  tinggi, dan penyerahan paksa hasil-hasil pertanian kepada Belanda yang membuat hati Karaeng Galesong trenyuh. Setelah perjanjian Bungaya ditandatangani, maka ribuan masyarakat Sulawesi Selatan exodus ke seluruh penjuru dunia. Satu semboyan mereka adalah dari pada harga diri terinjak oleh penjajah, lebih baik pergi meninggalkan tanah kelahiran untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

“Dimana langit dijunjung, disitu bumi dipijak”

Satu-satunya nasehat terbaik dari sang ayah Karaeng Galesong, Sultan Hasanuddin. Yang diberi gelar Ayam Jantan dari Timur. Dengan menggunakan 10.000 anak buah dan 800 kapal perang, bergeraklah Karaeng Galesong  menuju Australia. Yang sebenarnya daerah ini adalah sebagai tujuan abal-abal Karaeng Galesong agar bisa menginjak tanah Jawa. Karena dalam perjanjian Bungaya pasal 9 disebutkan bahwa  seluruh keluarga kerajaan dan para bangsawan dilarang meninggalkan tanah Sulawesi, atau bahkan menuju ke pulau Jawa. Nasehat itu pula yang pernah diucapkan oleh Syech Yusuf Al Makassari, paman Karaeng Galesong saat hendak meninggalkan tanah Sulawesi menuju Cape Town Afrika Selatan. Beliau juga merasakan harga diri yang terinjak-injak sehingga memberanikan diri meninggalkan Sulawesi menuju Afrika.

Perjuangan Karaeng Galesong di pulau Jawa membantu Raden Trunojoyo yang berasal dari Madura cukup dahsyat karena politik adu domba Belanda terhadap Mataram yang lama-lama menghilangkan kepercayaan Trunojoyo terhadap bangsa sendiri. Karaeng Galesong lah yang berkali-kali melindungi Raden Trunojoyo dari serangan-serangan Belanda. Yang lebih mengesankan lagi, Raden Trunojoyo justru sering lengah karena setiap memenangkan peperangan, telah membunuh ratusan serdadu, Raden Trunojoyo justru berfoya-foya minum tuak. Sehingga hanya Karaeng Galesong  yang mampu melindungi mertuanya. Raden Trunojoyo adalah ayah dari Potre Koneng, istri Karaeng Galesong.

Yang sungguh tragis adalah cara kematian Karaeng Galesong  yang menjadikan sejarah di Ngantang Kabupaten Malang menjadi heroik.  Dengan bantuan seorang kapitan dari Ambon, Belanda menyuruh Kapitan Jonker untuk mengejar Karaeng Galesong sampai ke pedalaman pegunungan Malang yang sangat dingin. Dan mereka bertemu. Konon pengejaran kapitan Jonker ini juga dibantu oleh Aru Palakka dari Bone. Sehingga memang yang terjadi adalah Aru Palakka dikenal sebagai pengkhianat di Sulawesi Selatan. Namun bagi warga Bone, Aru Palakka adalah pahlawan. Saat benar-benar ditemukan, sangat menyedihkan, Karaeng Galesong dibunuh dalam keadaan dikubur berdiri. Mungkin ini adalah kematian paling kejam. Namun kisah bersejarah tersebut menjadi cerita hangat  turun temurun warga Ngantang yang  memanggil beliau dengan nama “Mbah Rojo”.

Sejarah heroik Karaeng Galesong ini menjadi perhatian warga terutama karena perjuangan beliau menjadi Panglima Laut, sehingga beberapa kali yang terjadi adalah datanganya warga dari dekat maupun jauh yang akan mencalonkan diri menjadi walikota atau bupati misalnya. Kemudian mereka yang ingin diterima di angkatan baik kepolisian, angkatan darat dll. Belum lagi makam istri Karaeng Galesong. Yaitu Potre Koneng, yang cukup wingit (angker). Beberapa macam sesajen Jawa pun ditemukan disana. Yang banyak ditemukan adalah sesajen dengan maksud akan mengadakan pernikahan, mencari jodoh dll. Makam Raden Trunojoyo pun tak kalah hebohnya. Ada beberapa makam yang diyakinkan itu adalah makam Raden Trunojoyo. Maklum lah karena Raden Trunojoyo teramat sakti. Namun memang kebanyakan orang-orang yang hidup di zaman itu banyak memiliki kelebihan. Hal ini karena mereka kuat berpuasa, kuat bertirakat atau kuat begadang sambil berdoa (melekan). Konon kabarnya, kelemahan Raden Trunojoyo sudah diketahui oleh pasukan Belanda karena ada yang membocorkan. Yaitu beliau tidak akan meninggal apabila dikuburkan dalam satu lubang. Sehingga yang terjadi adalah jazad beliau dipotong-potong oleh pasukan Belanda kemudian dimakamkan di beberapa tempat.

Banyak sekali hal-hal yang belum terungkap di makam-makam mereka. Sehingga makam-makam yang jauh dari pemukiman penduduk ini menjadi sangat penting dan bersejarah bagi warga Ngantang Malang.

 

 

Sesajen di Makam Karaeng Galesong

Karena makam yang sangat dikeramatkan dan usianya yang cukup tua, dari abad 16 maka makam ini menjadi tujuan ritual warga pada hari tanggal tertentu. Selain itu banyak orang datang berziarah ke makam ini untuk berdoa khusus. Ada pula yang berlama-lama di makam tersebut hingga tak jarang sampai menemukan sesuatu disana seperti batu akik dan senjata kuno.  Dan sesajen adalah hal biasa yang selalu ditemukan disana.

Dalam sesajen tersebut ditemukan :

  1. Dupa
  2. Bubur merah putih
  3. Irisan daun pandan
  4. Bumbung berisi badeg (Air tape ketan hitam)
  5. Kendi kecil berisi air
  6. Serit dan kaca
  7. Sirih dan pinang (diikat)
  8. Takir

Pemberian sesajen ini tidak ada kaitannya dengan memberi makan jin, danyang, setan atau sebangsanya. Tetapi sesajen dalam arti yang sebenarnya adalah menyajikan hasil bumi yang telah diolah oleh manusia atas kemurahan Tuhan Penguasa Kehidupan. Sehingga apabila simbol diinterpretasikan artinya adalah :

Dupa yaitu artinya keharuman dan ketentraman, kemudian sebagai simbol sembah sujud dan penghantar doa kita pada Tuhan dan juga menunjukkan eksistensi udara yang bergerak

Bubur Merah Putih : Saat moment pemberian nama kepada anak, ‘bubur abangputih’ ini merupakan simbol dari harapan sebuah keluarga agar kelak si anak memiliki keseimbangan antara sifat berani (dalam kebenaran) dan kesucian (dalam kebenaran).

Irisan Daun Pandan : yaitu sebuah pengharapan orang tua kepada anak agar kelak sang anak memiliki kehidupan dan karir yang baik dan harum seperti daun pandan.

Bumbung Berisi Badeq yaitu simbol dari kenyamanan hidup, ketentraman hidup. Namun bisa juga diartikan adalah keinginan atau kesukaan danyang setempat.

Kendi Berisi Air berarti Sajen ini diwujudkan dalam bentuk sesajian berupa kendhi ditutup dengan daun dhadhap serep. Air tempuran adalah pertemuan dua arus sungai. Makna sajen ini adalah menggambarkan sudah pulangnya kembali arwah yang sudah meninggal di sisi Sang Illahi, seperti sebelum dilahirkan. Dengan demikian, diharapkan arwah tersebut dapat kembali menuju ke dunia kelanggengan, dunia yang kekal abadi. Dari sumber lain dikatakan  bahwa air di dalam kendi melambangkan hati yang suci dan bersih (ikhlas). Lubang kendhi dihiasi carangan (batang bambu kecil), yang menurut keyakinan masyarakat sekitar lubang tersebut bermanfaat ketika anak sedang flu, lubang itu ditiup sehingga anak tersebut sembuh dari flunya.

Serit dan Kaca : Sisir, minyak wangi dan cermin melambangkan sebagai perlengkapan make up atau untuk “dandan’/menghiasi diri, agar rapi dan wangi, jika perempuan ibarat seperti bidadari, jika laki-laki ibarat sepeti satriya yang tampan. Diharapkan anak yang diberi nama tersebut akan menjadi cantik atau tampan.

Sirih dan Pinang (diikat) : Daun ini muka dan punggungnya berbeda rupa, tetapi kalau digigit sama rasanya. Hal ini bermakna satu hati, berbulat tekad tanpa harus mengorbankan perbedaan. Dan pinang diharapkan bila dewasa nanti mudah mendapatkan jodoh.

Takir yaitu  mangku yang terbuat dari daun pisang atau jati kependekan dari tatag pikir artinya bahwa manusia dalam bertindak harus mantap dan tidak boleh ragu-ragu.

Dari berbagai sumber informasi sesajen ini diletakkan pada hari Kamis (menuju ke hari Jumat) dimana menurut kebiasaan warga mereka datang di makam ini pada hari Kamis Kliwon. Ada kalanya mereka datang pada hari Senin malam Selasa Pahing (tanggalan Jawa) atau hari Anggorokasih. Dan berdasarkan informasi penduduk, sesajen semacam ini memiliki tujuan selamatan pemberian nama pada bayi yang baru lahir.

Manfaat Daun Pare

Buah pare memiliki banyak khasiat meskipun rasanya cukup pahit. Banyak orang masih sulit mengkonsumsi buah pare sehingga ingin mengolah pare menjadi sedikit berkurang rasa pahitnya dan menjadi lebih lezat.

Namun siapa sangka bukan hanya buahnya yang bisa dikonsumsi . Ternyata daun pare pun memiliki khasiat yang tidak sedikit seperti buah pare. Manfaat daun pare adalah bisa menurunkan tekanan darah tinggi atau tensi dan bisa mengencangkan payudara.

Untuk menurunkan tekanan darah tinggi ada dua cara. Cara pertama adalah dengan meremas-remas daun pare dan diberi air masak kemudian disaring dan diminum. Atau bisa juga dengan cara direndam dengan air masak (bukan panas) lalu masukkan dalam botol minuman. Minum larutan ini setelah emrendam daun pare selama 5 jam. Herbal daun pare ini bisa dikonsumsi seminggu 3x. Waktu yang paling baik untuk mengkonsumsi herbal ini adalah pagi hari bersamaan dengan sarapan atau sebelum sarapan pagi.

Untuk mengencangkan payudara bisa dengan cara meremas-remas daun pare hingga mengeluarkan air. Lalu oleskan beserta ampas daunnya ke payudara. Diamkan selama 15 menit lalu basuh. Ini bisa dilakukan 2x seminggu.

Arca Dwarapala Singhasari

Dwarapala Singosari

Dari sekian arca Dwarapala yang pernah saya temui, baik di kompleks percandian maupun di gerbang gedung atau kota, mungkin Dwarapala di Singosari Malang inilah yang paling unik. Bukan karena saya yang tinggal dekat Dwarapala kemudian ingin mengekspos patung ini. Tapi memang patung Dwarapala di Singosari ini sangat bisa disebut dengan patung keren.

Dwarapala adalah sesosok patung yang memiliki tugas menjaga sebuah bangunan. Meski dia berbentuk patung, Dwarapala membawa misi seperti security. Yaitu misi menjaga gedung atau bangunan. Gedung yang dimaksud disini contohnya adalah bangunan suci seperti candi atau gedung-gedung yang lebih kekinian seperti misalnya musium, gedung bersejarah, dan juga gedung modern lainnya. Dwarapala juga ditemukan di pintu masuk sebuah kota atau kabupaten, keraton, makam, dan jembatan besar.

Sosok dwarapala di singosari cukup unik karena desain ukirannya adalah dimulai dengan tangan yang menunjukkan dua jari seperti simbol Peace. Simbol ini sangat cocok sebetulnya dengan ciri khas anak-anak muda Arema yang selalu mengacungkan dua jari. Sehingga simbol dua jari ini adalah salah satu inspirasi juga untuk para arema dan aremanita yang mencintai damai dan kedamaian, tidak mengunggulkan tawuran dan sejenisnya. Simbol dua jari atau sebutlah dengan simbol peace ini sebenarnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan kedamaian dalam memberikan makna sebuah patung dwarapala. Simbol dua jari ini ternyata adalah sebuah ajakan untuk taat beragama. Ini adalah termasuk dalam salah satu ajaran Buddha karena patung ini dibangun di masa  Hindu-Buddha.

Seperti bangunan candi, arca atau patung dwarapala dibangun dengan bahan batu andesit. Batu andesi memiliki ciri khas tidak mudah ditumbuhi oleh lumut. Ternyata para seniman pahat ini memikirkan membangun sebuah patung ini sampai segitunya ya. Dan memang ternyata kita masih bisa menikmatinya hingga detik ini. Patung dwarapala singosari ini masih berdiri tegak dan tersenyum pula. Untungnya ini patung dibangun dengan bahan batu andesit, coba kalau dibangun dengan bahan roti tawar, lak wes mbok krokoti. Kwkwk.. canda.

Satu tangan yang lain dari dwarapala ini memegang gada terbalik. Gada ini juga unik karena cukup gemoy, gemoy seperti tubuh dwarapala yang lumayan gede, chubby dan gemoy pulak. Mata dwarapala yang melotot tapi senyumnya menawan seperti senyum Michael Jackson. (jauh amat Michael Jackson). Senyum dwarapala ini sangat khas karena tersungging dengan gigi taring yang panjang. Jangan-jangan senyum-senyum membawa modus, ingin menerkam siapa-siapa yang mengganggu.

Maklumlah, patung dwarapala memang memiliki misi security yaitu menjaga bangunan suci. Bangunan yang sudah dipastikan untuk tempat peribadatan, dan tempat penghormatan kepada Raja atau tokoh yang sudah meninggal.

Disamping menunjukkan dua jari dan memegang gada, dwarapala singosari juga berkalung selempang ular, beranting-anting dan berkalung tengkorak. Ada semacam ikat kepala yang unik di kepala dwarapala yaitu berhias tengkorak. Sebagian penutup kepala tersebut lebih banyak menutupi kepala bagian belakangnya. Saya melihat itu seperti penutup kepala baju zirah. Namun ada terpikir bahwa itu adalah rambut dwarapala yang berbentuk keriting. Hampir mirip seperti abis dikribo oleh salon pas.

Bagaimanapun bentuknya, keunikannya, dwarapala ini adalah yang terbaik diantara yang pernah kutemui. Keren mujinya.

Herbal Sakit Saluran Kencing

Sakit pada saluran kencing bisa berupa perih di lubang kencing. Salah satu penyebabnya adalah kurang minum. Namun bisa jadi karena adanya infeksi pada salurannya yang disebabkan oleh bakteri.

Untuk infeksi saluran kencing bisa dipergunakan dalam hal ini adalah daun Tempuyung. daun ini seperti gulma karena sering ditemukan tumbuh bersama-sama dengan rumput. Namun banyak masyarakat terutama di kota Malang mengkonsumsinya sebagai sayuran lalapan.

Untuk anak-anak bisa diolah dengan cara diseduh dengan air panas lalu diminum saat hangat. Untuk herbal sangat baik apabila diminum saat pagi. Anak-anak biasanya tidak suka mengkonsumsi dalam bentuk pedas seperti yang dilakukan oleh orang dewasa. Karena daun ini memang seringkali diolah sebagai masakan urap-urap atau gudangan, atau bisa juga diolah dalam bentuk sayur pecel atau sayur bobor.

Untuk itu agar supaya anak-anak mau mengkonsumsinya maka tambahkan 1 sm madu. Masukkan madu saat air rendaman daun tempuyung ini sudah hangat. Minum air daun tempuyung selama 1 minggu, sehari 1x.

Semiotika Seri 5

Semiotika mewakili berbagai studi dalam seni, sastra, antropologi dan media massa daripada disiplin akademis independen. Mereka yang terlibat dalam semiotika termasuk ahli bahasa, filsuf, psikolog, sosiolog, antropolog, ahli teori sastra, estetika dan media, psikoanalis dan pendidik. Di luar definisi yang paling dasar, ada banyak variasi di antara ahli semiotika terkemuka mengenai apa yang melibatkan semiotika. Ini tidak hanya berkaitan dengan komunikasi (disengaja) tetapi juga dengan anggapan kita tentang signifikansi terhadap apa pun di dunia. Semiotika telah berubah dari waktu ke waktu, karena ahli semiotika telah berusaha untuk memperbaiki kelemahan dalam pendekatan semiotik awal. Bahkan dengan istilah semiotika paling dasar pun ada banyak definisi. Akibatnya, siapa pun yang mencoba analisis semiotik akan bijaksana untuk memperjelas definisi mana yang diterapkan dan, jika pendekatan semiotik tertentu diadopsi, apa sumbernya. Ada dua tradisi yang berbeda dalam semiotika yang berasal dari Saussure dan Peirce. Karya Louis Hjelmslev, Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, Julia Kristeva, Christian Metz dan Jean Baudrillard (lahir 1929) mengikuti tradisi ‘semiologis’ Saussure sementara karya Charles W Morris, Ivor A Richards (1893-1979) , Charles K Ogden (1989-1957) dan Thomas Sebeok (b 1920) berada dalam tradisi ‘semiotik’ Peirce. Ahli semiotik terkemuka yang menjembatani kedua tradisi ini adalah penulis Italia terkenal Umberto Eco, yang sebagai penulis buku terlaris The Name of the Rose (novel 1980, film 1986) mungkin satu-satunya ahli semiotika yang hak filmnya bernilai apa pun (Eco 1980) .

Saussure berpendapat bahwa ‘tidak ada yang lebih tepat daripada studi bahasa untuk memunculkan sifat masalah semiologis’ (Saussure 1983, 16; Saussure 1974, 16). Semiotika banyak menarik konsep linguistik, sebagian karena pengaruh Saussure dan karena linguistik adalah disiplin yang lebih mapan daripada studi sistem tanda lainnya. Strukturalis mengadopsi bahasa sebagai model mereka dalam mengeksplorasi fenomena sosial yang lebih luas: Lévi-Strauss untuk mitos, aturan kekerabatan dan totemisme; Lacan untuk ketidaksadaran; Barthes dan Greimas untuk ‘tata bahasa’ narasi. Julia Kristeva menyatakan bahwa ‘apa yang telah ditemukan oleh semiotika… adalah bahwa hukum yang mengatur atau, jika seseorang lebih suka, kendala utama yang mempengaruhi setiap praktik sosial terletak pada kenyataan bahwa hal itu menandakan; yaitu bahwa itu diartikulasikan seperti bahasa’ (dikutip dalam Hawkes 1977, 125). Saussure menyebut bahasa (modelnya adalah ucapan) sebagai ‘yang paling penting’ dari semua sistem tanda (Saussure 1983, 15; Saussure 1974, 16). Bahasa hampir selalu dianggap sebagai sistem komunikasi yang paling kuat sejauh ini. Misalnya, Marvin Harris mengamati bahwa ‘bahasa manusia adalah unik di antara sistem komunikasi dalam memiliki universalitas semantik… Sebuah sistem komunikasi yang memiliki universalitas semantik dapat menyampaikan informasi tentang semua aspek, domain, properti, tempat, atau peristiwa di masa lalu, sekarang atau masa depan, baik aktual atau mungkin, nyata atau imajiner’ (dikutip dalam Wilden 1987, 138). Mungkin bahasa memang fundamental: Emile Benveniste mengamati bahwa ‘bahasa adalah sistem penafsiran dari semua sistem lain, linguistik dan non-linguistik’ (dalam Innis 1986, 239), sementara Claude Lévi-Strauss mencatat bahwa ‘bahasa adalah sistem semiotik par excellence ; itu tidak bisa tidak menandakan, dan hanya ada melalui penandaan’ (Lévi-Strauss 1972, 48).

Saussure melihat linguistik sebagai cabang dari ‘semiologi’:

 

Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum [semiologi] ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik… Sejauh yang kita ketahui… masalah linguistik adalah yang pertama dan terutama semiologis… Jika seseorang ingin menemukan sifat sebenarnya dari sistem bahasa, pertama-tama ia harus pertimbangkan kesamaan mereka dengan semua sistem lain dari jenis yang sama… Dengan cara ini, cahaya akan diberikan tidak hanya pada masalah linguistik. Dengan mempertimbangkan ritus, adat istiadat, dll. sebagai tanda, kami percaya, akan memungkinkan untuk melihatnya dalam perspektif baru. Kebutuhan akan dirasakan untuk menganggapnya sebagai fenomena semiologis dan menjelaskannya dalam kerangka hukum semiologi. (Saussure 1983, 16-17; Saussure 1974, 16-17)

Semiotika Seri 4

Pers menggunakan saluran visual, bahasanya ditulis, dan memanfaatkan teknologi reproduksi fotografi, desain grafis, dan pencetakan. Radio, sebaliknya, menggunakan saluran lisan dan bahasa lisan dan bergantung pada teknologi perekaman dan penyiaran suara, sementara televisi menggabungkan teknologi perekaman dan penyiaran suara dan gambar…

 

Perbedaan saluran dan teknologi ini memiliki implikasi luas yang signifikan dalam hal potensi makna dari media yang berbeda. Misalnya, media cetak dalam arti penting kurang pribadi daripada radio atau televisi. Radio mulai memungkinkan individualitas dan kepribadian didahulukan melalui transmisi kualitas suara individu. Televisi mengambil proses lebih jauh dengan membuat orang tersedia secara visual, dan bukan dalam modalitas foto surat kabar yang beku, tetapi dalam gerakan dan tindakan. (Fairclough 1995, 38-9)

Sementara determinis teknologi menekankan bahwa ekologi semiotik dipengaruhi oleh fitur desain mendasar dari media yang berbeda, penting untuk mengenali pentingnya faktor sosial budaya dan sejarah dalam membentuk bagaimana media yang berbeda digunakan dan status mereka (selalu berubah) dalam budaya tertentu. konteks. Misalnya, banyak ahli teori budaya kontemporer telah berkomentar tentang pertumbuhan pentingnya media visual dibandingkan dengan media linguistik dalam masyarakat kontemporer dan pergeseran terkait dalam fungsi komunikatif media tersebut. Berpikir dalam istilah ‘ekologis’ tentang interaksi struktur dan bahasa semiotik yang berbeda membuat ahli semiotika budaya Rusia Yuri Lotman menciptakan istilah ‘semiosfer’ untuk merujuk pada ‘seluruh ruang semiotik dari budaya yang bersangkutan’ (Lotman 1990, 124-125 ). Konsep ini terkait dengan referensi ahli ekologi ‘untuk ‘biosfer’ dan mungkin referensi ahli teori budaya’ ke ruang publik dan pribadi, tetapi yang paling mengingatkan pada gagasan Teilhard de Chardin (sejak tahun 1949) tentang ‘noosfer’ – domain di pikiran mana yang dilatih. Sementara Lotman mengacu pada semiosfer seperti yang mengatur fungsi bahasa dalam budaya, John Hartley berkomentar bahwa ‘ada lebih dari satu tingkat di mana seseorang dapat mengidentifikasi semiosfer – pada tingkat budaya nasional atau linguistik tunggal, misalnya, atau kesatuan yang lebih besar seperti “Barat”, hingga “spesies”‘; kita mungkin juga mencirikan semiosfer dari periode sejarah tertentu (Hartley 1996, 106). Konsepsi semiosfer ini mungkin membuat ahli semiotika tampak imperialistik teritorial bagi para pengkritiknya, tetapi ia menawarkan visi semiosis yang lebih terpadu dan dinamis daripada studi tentang media tertentu seolah-olah masing-masing ada dalam ruang hampa.

Tentu saja ada pendekatan lain untuk analisis tekstual selain semiotika – terutama analisis retoris, analisis wacana dan ‘analisis isi’. Di bidang studi media dan komunikasi, analisis isi merupakan saingan utama semiotika sebagai metode analisis tekstual. Sedangkan semiotika sekarang terkait erat dengan studi budaya, analisis isi mapan dalam tradisi arus utama penelitian ilmu sosial. Sementara analisis isi melibatkan pendekatan kuantitatif terhadap analisis ‘konten’ manifes teks media, semiotika berusaha menganalisis teks media sebagai keseluruhan yang terstruktur dan menyelidiki makna konotatif laten. Semiotika jarang bersifat kuantitatif, dan seringkali melibatkan penolakan terhadap pendekatan semacam itu. Hanya karena item sering muncul dalam teks tidak membuatnya signifikan. Ahli semiotika strukturalis lebih memperhatikan hubungan unsur-unsur satu sama lain. Seorang ahli semiotika sosial juga akan menekankan pentingnya signifikansi yang dilampirkan pembaca pada tanda-tanda dalam sebuah teks. Sedangkan analisis isi berfokus pada isi eksplisit dan cenderung menyarankan bahwa ini mewakili makna tunggal yang tetap, studi semiotik fokus pada sistem aturan yang mengatur ‘wacana’ yang terlibat dalam teks media, menekankan peran konteks semiotik dalam membentuk makna. Namun, beberapa peneliti telah menggabungkan analisis semiotik dan analisis isi (misalnya Glasgow University Media Group 1980; Leiss et al. 1990; McQuarrie & Mick 1992).

Beberapa komentator mengadopsi definisi semiotika CW Morris (dalam semangat Saussure) sebagai ‘ilmu tentang tanda’ (Morris 1938, 1-2). Istilah ‘sains’ menyesatkan. Sampai sekarang semiotika tidak melibatkan asumsi teoretis, model, atau metodologi empiris yang disepakati secara luas. Semiotika cenderung sebagian besar teoretis, banyak ahli teorinya berusaha membangun ruang lingkup dan prinsip-prinsip umumnya. Peirce dan Saussure, misalnya, sama-sama memperhatikan definisi dasar tanda. Peirce mengembangkan taksonomi logis yang rumit dari jenis tanda. Ahli semiotika berikutnya telah berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan kode atau konvensi sesuai dengan tanda-tanda yang diorganisasikan. Jelas ada kebutuhan untuk membangun landasan teoretis yang kuat untuk subjek yang saat ini dicirikan oleh sejumlah asumsi teoretis yang bersaing. Adapun metodologi, teori Saussure merupakan titik awal untuk pengembangan berbagai metodologi strukturalis untuk menganalisis teks dan praktik sosial. Ini telah sangat banyak digunakan dalam analisis sejumlah fenomena budaya. Namun, metode tersebut tidak diterima secara universal: teori berorientasi sosial telah mengkritik fokus eksklusif mereka pada struktur, dan tidak ada metodologi alternatif yang telah diadopsi secara luas. Beberapa penelitian semiotik berorientasi empiris, menerapkan dan menguji prinsip-prinsip semiotik. Bob Hodge dan David Tripp menggunakan metode empiris dalam studi klasik mereka tentang Anak dan Televisi (Hodge & Tripp 1986). Tetapi saat ini ada sedikit pengertian tentang semiotika sebagai suatu kesatuan usaha yang dibangun di atas penemuan-penemuan penelitian kumulatif.

Semiotika Seri 3

Selektivitas media apa pun mengarah pada penggunaannya yang memiliki pengaruh yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengguna, dan yang mungkin bukan bagian dari tujuan penggunaannya. Kita bisa begitu akrab dengan medium sehingga kita ‘terbius’ terhadap mediasi yang terlibat: kita ‘tidak tahu apa yang kita lewatkan’. Sejauh kita mati rasa terhadap proses yang terlibat, kita tidak bisa dikatakan menggunakan ‘pilihan’ dalam penggunaannya. Dengan cara ini cara yang kita gunakan dapat mengubah tujuan kita. Di antara fenomena yang ditingkatkan atau dikurangi oleh selektivitas media adalah tujuan media yang digunakan. Dalam beberapa kasus, ‘tujuan’ kita mungkin secara halus (dan mungkin tidak terlihat), didefinisikan ulang oleh penggunaan media tertentu oleh kita. Ini adalah kebalikan dari sikap pragmatis dan rasionalistik, di mana cara dipilih sesuai dengan tujuan pengguna, dan sepenuhnya di bawah kendali pengguna.

Kesadaran akan fenomena transformasi oleh media ini sering membuat ahli teori media berargumentasi secara deterministik bahwa sarana dan sistem teknis kita selalu dan tak terhindarkan menjadi ‘tujuan itu sendiri’ (interpretasi umum dari pepatah terkenal Marshall McLuhan, ‘media adalah pesan’) , dan bahkan mendorong beberapa orang untuk menampilkan media sebagai entitas yang sepenuhnya otonom dengan ‘tujuan’ (berlawanan dengan fungsi) mereka sendiri. Namun, seseorang tidak perlu mengambil sikap ekstrem seperti itu dalam mengakui transformasi yang terlibat dalam proses mediasi. Ketika kita menggunakan media untuk tujuan apa pun, penggunaannya menjadi bagian dari tujuan itu. Bepergian adalah bagian yang tak terhindarkan untuk pergi ke suatu tempat; bahkan mungkin menjadi tujuan utama. Bepergian dengan satu metode transportasi tertentu daripada yang lain adalah bagian dari pengalaman. Begitu juga dengan menulis daripada berbicara, atau menggunakan pengolah kata daripada pena. Dalam menggunakan media apa pun, sampai batas tertentu kita melayani ‘tujuannya’ dan juga melayani kita. Ketika kita terlibat dengan media, kita bertindak dan ditindaklanjuti, digunakan dan digunakan. Dimana media memiliki berbagai fungsi mungkin tidak mungkin untuk memilih untuk menggunakannya hanya untuk salah satu fungsi ini secara terpisah. Pembuatan makna dengan media semacam itu harus melibatkan beberapa tingkat kompromi. Identitas lengkap antara tujuan khusus apa pun dan fungsionalitas media mungkin jarang, meskipun tingkat kecocokan pada sebagian besar kesempatan dapat diterima sebagai memadai.

Saya diingatkan di sini akan sebuah pengamatan oleh antropolog Claude Lévi-Strauss bahwa dalam kasus apa yang disebutnya bricolage, proses menciptakan sesuatu bukanlah masalah pilihan yang diperhitungkan dan penggunaan bahan apa pun yang secara teknis paling baik disesuaikan dengan keadaan yang jelas. tujuan yang telah ditentukan, melainkan melibatkan ‘dialog dengan bahan dan sarana eksekusi’ (Lévi-Strauss 1974, 29). Dalam dialog seperti itu, bahan-bahan yang siap pakai mungkin (seperti yang kami katakan) ‘menyarankan’ tindakan adaptif, dan tujuan awal dapat dimodifikasi. Akibatnya, tindakan penciptaan seperti itu tidak murni instrumental: bricoleur ‘”berbicara” tidak hanya dengan benda-benda… tetapi juga melalui medium benda-benda’ (ibid., 21): penggunaan medium dapat bersifat ekspresif. Konteks poin Lévi-Strauss adalah diskusi tentang ‘pemikiran mitos’, tetapi saya berpendapat bahwa bricolage dapat dilibatkan dalam penggunaan media apa pun, untuk tujuan apa pun. Tindakan menulis, misalnya, dapat dibentuk tidak hanya oleh tujuan sadar penulis tetapi juga oleh fitur media yang terlibat – seperti jenis bahasa dan alat tulis yang digunakan – serta oleh proses mediasi sosial dan psikologis yang terlibat. . Setiap ‘perlawanan’ yang ditawarkan oleh materi penulis dapat menjadi bagian intrinsik dari proses penulisan. Namun, tidak setiap penulis bertindak atau merasa seperti seorang bricoleur. Individu berbeda secara mencolok dalam tanggapan mereka terhadap gagasan transformasi media. Mulai dari mereka yang bersikeras bahwa mereka memegang kendali penuh atas media yang mereka ‘gunakan’ hingga mereka yang mengalami perasaan mendalam bahwa mereka dibentuk oleh media yang ‘menggunakannya’ (Chandler 1995).

Norman Fairclough berkomentar tentang pentingnya perbedaan antara berbagai media massa dalam saluran dan teknologi yang mereka gunakan.