Judul yang pendek I La Galigo sebenarnya cermin dari sebuah naskah yang cukup panjang berkilo-kilo. Inilah naskah karya sastra berasal dari Bugis klasik yang diyakini terpanjang di dunia. Dan saking panjangnya naskah dan cerita di dalamnya hingga melebihi Ramayana dan Mahabarata. Bahkan Homerus dari Yunani.
I La Galigo adalah naskah susastra yang bisa kita baca saat ini berbentuk puisi 5 baris. Awalnya naskah ini ditulis dalam huruf lontara di atas daun yang disebut dengan daun lontar. Saat I La Galigo ini dituliskan di atas daun lontar, belum ada teknologi kertas atau papyrus seperti saat ini. Sehingga daun lontar inilah yang sanggup merekam semua kejadian dan cerita lisan saat itu. Diyakini cerita lisan I La Galigo terjadi pada abad 9 SM. Dan baru ditranskripsikan oleh Arung Pacana Toa Collieq Pudji pada tahun 1852 selama beberapa tahun.
I La Galigo yang dianggap kitab suci oleh sebagian orang ini berisi kisah tentang I La Galigo itu sendiri, naskah keagamaan, sejarah, dan naskah spiritual. Bagi para Bissu yang menganut agama Bugis Klasik kitab I La Galigo berfungsi sebagai obat dari beberapa penyakit, sebagai tolak bala dan berfungsi magis juga. Para Bissu ini adalah sisa-sisa warisan I La Galigo yang masih tertinggal saat ini. Bersyukur masih ada yang melestarikan kitab I La Galigo. Karena kalau tidak mungkin I La Galigo hanya sekedar gulungan lontar yang mudah rusak karena rapuh.
Kalau diteliti lebih lanjut I La Galigo bisa menjadikan kita lebih waspada, karena ada ayat-ayat yang meramalkan kejadian-kejadian alam seperti gempa, tsunami dll. Kalau kita lebih teliti membaca kita ini mungkin kita bisa lebih waspada akan gejala alam yang terjadi.
Kisah I La Galigo salah satunya yang cukup terkenal, meski ada kisah-kisah lain adalah hubungan cinta antara Sawerigading dengan We Tenri Abeng. Keduanya sebenarnya adalah lahir kembar emas atau di Jawa dikenal dengan kembar dampit. Yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Di zaman itu, sama juga dengan di Jawa, bila lahir bayi kembar laki-laki dan perempuan maka seyogyanya bayi-bayi tersebut dipisahkan. Karena dikhawatirkan keduanya nanti akan saling menyukai dan ingin menikah. Sehingga diputuskan untuk memisahkan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Namun meski dipisahkan justru membuat Sawerigading semakin penasaran dan ingin bertemu We Tenri Abeng. Dan ternyata mereka bertemu. Hingga ending ceritanya bisa ditebak.
Kisah ini hanya sebagian kecil dari naskah I La Galigo yang cukup panjang tersebut. Jumlah cerita lisan yang telah ditranskripsikan oleh Colliq Pudjie adalah 12 jilid dan tiap jilidnya adalah berjumlah 2850 halaman. Sisa-sisa naskah yang belum ditranskripsikan tersebar di Gorontalo, Malaysia, Brunei, Singapura dan Leiden. Jadi bisa dibayangkan cerita yang belum selesai ditulis ini seberapa.
Bu Colliq Pudji yang bagi masyarakat Sulawesi dikenal dengan Kartininya Sulawesi ini adalah seorang penulis handal. Mungkin kalau sekarang bisa se frekwensi dan se server denganku. Eh..
Ternyata beliau tidak sendiri, ada seorang pendeta bernama Pak Matthes yang cukup berjasa dalam aktifitas transkripsi naskah Ibu Colliq Pudjie. Bapak Matthes yang seorang pendeta dan pakar Linguistik Bible ini melihat kepiawaian Ibu Colliq sehingga banyak sekali bantuan diberikan pada sang ibu. Saat itu situasi perang antar suku yang tak menentu didukung dengan kehadiran kolonial yang menghasut, membuat bu Colliq kesulitan untuk menuliskan semua naskah-naskahnya. Dalam keadaan terkucil karena kekejaman kolonial, bu Colliq tak berhenti melanjutkan naskahnya.
Kini kita bisa menikmati tulisan I La Galigo dengan bahagia karena sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.
Meski transkrip lisan dan transliterasi naskah belum selesai.
Mungkin anda salah satu penikmat drakor atau drama Korea yang cukup dikenal di masyarakat milenial belakangan ini. Kalau disebut drakor sebenarnya adalah drama dari Korea Selatan. Sangat mustahil kalau drama itu berasal dari Korea Utarua.
Salah satu contoh drama Korea yang pernah saya lihat adalah Crush Landing on You. Industri drama dan movie di Korea Selatan memang cukup besar hingga membuat penontonnya benar-benar percaya bahwa film itu benar-benar dibuat di Korea Utara atau setidaknya di perbatasan Korea Utara dan Selatan atau yang disebut dengan Demiliterized Zone.
Padahal boro-boro drakor tersebut dibuat di Korea Utara. Sedang masuk ke Negaranya saja sulit. Hingga pernah terjadi seorang mahasiswa yang meninggal di Korea Utara karena dibunuh. Alasannya pun kurang bisa diterima.
Kita perlu tau pintu-pintu mana yang bisa dimasuki menuju ke negara Korea Utara. Salah satunya adalah menggunakan jalur darat masuk ke Korea Utara lewat Cina. Dan mahasiswa ini melalui travel agent bisa dengan sukses masuk kesana. Namun kemudian sebuah peristiwa terjadi, mahasiswa ini dipulangkan ke Amerika dalam keadaan koma dan lalu berujung meninggal. Alasannyapun sampai sekarang belum bisa diketahui dengan pasti.
Nah balik ke drama Korea tadi, bercerita tentang seorang gadis yang kesasar masuk menyebrang ke negara Korea Utara. Awalnya gadis ini main paralayang kemudian angin membawanya menuju ke perbatasa Korea Utara hingga akhirnya terjatuh di dekat Zona Demiliterisasi. Gadis ini memang akhirnya diselamatkan oleh para tentara Korea Utara. Dan endingnya sudah bisa ditebak.
Dari situ bisa disimpulkan bahwa betapa sederhananya bahasa, budaya dan kegiatan masyarakat Korea Utara. Jauh berbeda dengan saudaranya yaitu Korea Selatan. Mungkin bisa dibilang lebih konservatif (baca: ndeso). Suasana di Korea Utara sepertinya agak mencekam. Banyak aturan-aturan yang tidak masuk akal. Seperti tidak adanya internet, jarang nya listrik dan kabel telpon. Tidak banyak pengguna HP android.
Kok miris ya..
Semenanjung yang terbelah menjadi dua ini ternyata memang menjadi berbeda secara signifikan. Satu dikuasai Uni Sovyet yang komunis dan satu dikuasai Amerika yang kapitalis. Uni Sovyet mungkin gak jauh beda dengan Korea Utara, agak sedikit konservatif gitu. Tapi bagaimanapun sudah meluncurkan apolo Soyus, lebih cepat dari negara-begara lain.
Cerita menjadi semakin rumit setelah gadis Korea Selatan ini kepincut tentara dari Korea Utara. Nah ada adegan yang begitu dramatik yaitu saat perpisahan mereka di perbatasa Korea Utara Selatan tepatnya di jalan Tol dimana disana adalah Zona Demiliterisasi. Di sebelah utara garis dijaga oleh tentara-tentara Korea Utara yang dikenal sadis, dan di sebelah Selatan gari dijaga oleh tentara Korea Selatan. Gadis ini berteriak memanggil kekasihnya yang berada di Utara garis. Dan endingnya bisa ditebak.
Lagi-lagi terms of address. Membaca tulisan iseng seorang teman yang menyampaikan kebingungannya sesaat. Bingung karena takut salah sebut, sebutan untuk memanggil kepada seseorang. Addressing atau panggilan atau dalam bahasa akademiknya adalah terms of address yang memiliki aturan tertentu pada tiap-tiap keadaan.
Ada seorang dosen yang sangat kami hormati di lingkungan tempat kerja. Beliau menyandang gelar cukup banyak karena pencapaian akademiknya yang cukup panjang. Gelar professor, doktor, bahkan haji sudah lama bertahan di depan namanya. Belum lagi gelar di belakangnya, ada magister macam-macam. Yang belum ada hanya gelar almarhum atau yang sering ditulis dalam tanda kurung (alm).
Namun siapa sangka gelar-gelar berentetan ini justru membuat kita bingung untuk memanggil atau menyebut. Secara lingkungan kerja kami ini adalah lingkungan dimana setiap senior, terutama alumni akan dipanggil dengan sebutan mentereng yaitu USTADZ. Meski bukan alumni pesantren dan meski bukan orang-orang yang mengemban misi agama.
Sehingga semakin panjang daftar kata panggil yang akan kita sebut yang kita ucapkan kepada satu orang saja. Saat kita akan panggil beliau “prof”, nah mungkin tepat bila berada di dalam kelas. Saat berada di kelas dengan mahasiswa alumni maka hampir semua sepakat memanggil dengan sebutan “ustadz”. Karena mahasiswa selalu memanggil dosennya dengan kata ustadz, apapun bidang yang digelutinya.
Sebenarnya kata panggil “pak” kepada seorang pria berumur 25 tahun ke atas mungkin adalah kata yang paling tepat digunakan. Kata “pak” sangat luwes disampaikan kepada siapapun yang bergender laki-laki. Bahkan sangat lebih menghargai apabila disebutkan kata lengkapnya yaitu “bapak”.
Namun pandangan dan pikiran setiap orang berbeda-beda saat ingin dihargai dengan cara memanggil. Kadang dia lupa dan tidak menganut konvensi, akhirnya yang muncul adalah kesalah pahama dan marah-marah. Seorang professor tidak terima dipanggil “pak”. Sudah barang tentu, beliau bersusah payah untuk dapatin gelar berentetan. Lalu dengan terburu-buru segera dikoreksi oleh teman dengan panggilan “ustadz” karena beliau adalah senior di lokasi kerja. Apa yang terjadi?
Malah marah meluap-luap karena ditambah dengan ungkapan kata ganti kedua “anda”.
Kadang terms of address itu banyak dipengaruhi oleh faktor emosi psikologis, latar belakang budaya seseorang hingga ditentukan kata panggil itu, dan lain-lain.
Di instagram ada kisah pilu seorang anak yang membawa ibunya ke panti jompo. Ibu yang memiliki 6 orang anak ini berusia hampir 70 tahun. Menurut keterangan dari pihak panti, ibu ini sudah diserahkan oleh anak-anaknya kepada panti untuk diurus keperluannya sehari-hari.
Dan berita ini lalu menjadi viral lantaran diungkapkan dengan kalimat-kalimat heboh. Seorang ibu dibuang anaknya ke panti jompo. Ada lagi seorang ibu sanggup mengurus 6 orang anaknya sampai menginjak dewasa. Namun 6 orang anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal ini menjadikan salah satu anak klarifikasi atas berita yang sudah tersebar kemana-mana.
Dalam klarifikasinya, anak berusia dewasa dan sudah berumah tangga mengungkapkan ketidak sanggupannya untuk merawat ibu yang sudah tua. Hal ini dikarenakan bahwa ibunya sering berulah dan mengancam anak-anaknya untuk berpisah dengan pasangan masing-masing. Atau ada juga cerita salah satu anak yang memang tidak lagi bisa menerima keadaan sang ibu yang suka berbuat onar, kasar, berbicara kotor dan banyak lagi. Dari klarifikasi sang anak, terlihat dia tidak terima bila disebut membuang orang tuanya, karena banyak sekali penyebab mereka harus dengan terpaksa menitipkan orangtua ke panti jompo.
Di negeri ini memang masih tabu bila ada keluarga yang menitipkan orang tua ke panti jompo. Beda dengan di negara-negara lain yang memang sudah terbiasa dengan keadaan bahwa orang tua bisa tinggal di panti jompo lebih aman.
Mungkin karena suara netizen lebih dominan dan menguasai, memaksa anak-anak ibu ini untuk klarifikasi. Namun si anak ini dengan situasi yang tidak jelas, klarifikasi dengan hanya suara bukan video, menyebut kata ganti kedua untuk ibunya dengan kata panggil “dia”. Hal ini semakin membuat marah netizen. dan semakin yakin bahwa sang anak ini memang sudah melakukan kesalahan besar, menitipkan orang tuanya ke panti jompo.
Sekali lagi kata panggil yang sangat crucial dan tidak lagi mudah untuk disebut.
Kita tidak tahu apa fakta di balik klarifikasi sang anak, dan mengapa anak ini menyebut dengan kata “dia:. Disaat nada suara yang terdengar adalah pelan dan sopan.
Seperti layaknya
Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan
predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya.
Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang
menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang
satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang
sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru
Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi
Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.
Termyata cukup banyak
juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita
cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah
Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia
di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan
sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin
tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos
seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur,
gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan
Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan.
Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis
karena kotanya belum saya sebut.
Namun kuliner Soto
Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang
cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya
diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka
ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di
dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih,
jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang
sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang
putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi
Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan
tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang
seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan
kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.
Seperti misalnya Soto
Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka
kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan
kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip
dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura
menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang
dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang
nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini
sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring
Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki
kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo.
Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena
beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah
ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan
memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto
Suroboyoan tersebut.
Di Kalimantan sebagian
besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner
Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh.
Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing.
Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya.
Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan
pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto
dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa
sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak
sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti
misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto
Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli
Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran
minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita
temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan
Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana,
karena semua enyak.
Karena menyebut Coto
Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang
sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi
selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang
berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah
hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai
Coto Makassar. Juga raja-raja Bugis
Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja
Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai
hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti
hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu
ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar
menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah
cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu
Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya,
dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini
dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan,
pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri
jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di
warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto
Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih
kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong
atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar
sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk
nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan
kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai
pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering
dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.
Dengan mempergunakan
topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto
Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto
Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang
membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping
yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah
goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe
rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini
cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya.
Eh..
Di Pacitan, Sotonya
berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang
dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada
Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput
kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.
Di sebuah desa di
Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan
bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam
atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi
bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung
Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan
lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup
sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi
ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa
legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena
bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah
goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.
Seperti halnya Soto
Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo
yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini
mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto
Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja
berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih
kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq
nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung
hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan
dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu
tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya
disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun
karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping
sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan
hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya
adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe
bacem, dan karak.
Seperti halnya Soto
yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau
Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto
adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama
sebagai warisan dari masyarakat Chinese
yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode
fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak
bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah
satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena
adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih
lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar,
Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto
Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto
lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau.
Hmm jadi pingin L
Rendang Padang memang
paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas
memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan
Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai
cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto
Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto
nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan
Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi
Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu
manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati
bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang.
Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak,
Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto
Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata.
Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto
Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang
Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.
Mirip dengan Coto
Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan
yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto
Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di
beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga
rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan
dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi
dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik
karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun
menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan
kentang rebus seperti soto Jawatimuran.
Bumbu Soto Nusantara
memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan
lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di
Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal
ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini.
Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu
yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang
unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki
rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge,
daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak
mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion
lainnya.
“Bila kita ingin
mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”
Seorang teman dengan semangatnya menceritakan bahwa selama 2 tahun hidup di kota Malang tidak pernah sekalipun jalan-jalan di sekitar Malang dan sekitarnya. Padahal semua orang tau bahwa kota Malang penuh dengan tempat-tempat wisata yang menarik. Tempat wisata gratis pun ada. Tapi dia begitu jujurnya mengatakan bahwa dia tidak ingin jalan-jalan kemanapun. Kubilang mungkin bukan jalan-jalan, melainkan refreshing di semua tempat-tempat menarik di kota Malang. Dia pun tak bergeming. Jika tidak ada kuliah, apa yang dia lakukan coba? Ternyata dia menyukai mencuci baju. Seorang pria 51 tahun hobi mencuci baju? Kayaknya patut dipertanyakan. Hihihi. Begitu jujurnya temenku ini, seorang bapak yang sedang menempuh studi Doktor di UB.
Selama ini tak sekalipun dia merasakan enaknya naik angkot. Lah naik angkot apa enaknya yah? :p
Tapi alasannya lucu banget, dia begitu suka jalan kaki. Tapi anda tahu jarak rumah kos nya dengan kampus UB? Bisa 2km panjangnya. Sehingga pulang pergi ditempuh jarak 4km. Saya kira itu bukan ngirit lagi, tapi mungkin PELIT. Naik angkot sangat tidak mahal di kota Malang, antara 3000 rupiah hingga 4000 rupiah. Dan parahnya dia bilang saya bisa mengirit uang 8000 rupiah yang bisa saya belikan makan. Wew.. saya hampir tidak habis pikir dengan fenomena itu. Begitu nelangsanya temenku ini, hingga dibela-belain untuk jalan kaki dari rumah kosnya ke kampus UB. Saat ini kukira jarang orang menempuh perjalanan sejauh itu menuju tempat kuliah, karena disamping ongkos angkot yang tidak terlalu mahal, juga jalan di sekitar itu yang dilalui laju kendaraan yang cukup cepat. Jalan pedestrian di Dinoyo juga tidak memungkinkan orang untuk melenggang karena memang tidak ada. Sehingga banyak kekhawatiran2 bagi para pejalan kaki akan tersenggol oleh semua kendaraan yang lalu lalang.
Sedikit menerawang pria paro baya itu menceritakan tentang anak dan istrinya yang tinggal di Bogor. Istrinya menempuh studi doktor nya, anak-anaknya mengikuti perjalanan studi istrinya di Bogor. Sehingga semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Di UB pun tak jarang bapak dua anak ini memprotes beberapa kebijakan universitas tentang konsumsi yang harus disediakan mahasiswa untuk ujian kelayakan, terbuka dll. Menurut dia ini sangat memberatkan. Dia bilang dia tak pernah sekalipun makan buah yang namanya anggur, disaat dia harus menghidangkan buah-buahan yang notabene mahal tersebut saat ujian. Ini berat buat dia. Tapi mungkin bagiku ini tragis. Masak nggak pernah makan anggur sih, walau satu. Qeqeqe..
Yah artinya bahwa menghadirkan hidangan buah-buahan, dan mungkin makanan ringan itu tidak menjadi berat hingga harus jual motor. Entah apa yang ada di pikiran si bapak ini hingga begitu tragis beliau menceritakan, sepertinya berat sekali beban hidup yang dia tanggung. Dari harus mengirit naik angkot karena uangnya bisa dipergunakan untuk sekali makan, sampai harus protes demo di UB untuk mengurangi kebijakan menghadirkan konsumsi saat ujian. Saya yakin saat seseorang berniat untuk studi lanjut sudah pasti akan memikirkan konsekwensi finansial yang akan diemban. Saya sangat heran dengan fenomena unik si bapak. Beliau yang berasal dari Sulawesi Selatan, yang saya paham orang SULSEL itu begitu gengsi dan mempertahankan martabat dan malu. Kalau toh memang sampai nggak punya, mungkin sebaiknya tidak sampai terungkap di ujung mulut. Yang saya tau teman-teman Sulawesi saya seperti itu. Tapi entah lah..
Baru saya ingat beberapa waktu lalu sahabat saya kak Buyung melaksanakan ujian tertutupnya di UB. Saya begitu bangga bagaimana cara beliau menghormati semua dosen penguji, pembimbing dan promotornya. Dan mungkin seperti itu lah idealnya. Toh bagaimanapun prosesnya tak perlu lah orang lain tau. Yang kita tau adalah kak Buyung melaksanakan ujian disertasinya dengan lancar dan mendapatkan nilai memuaskan. Sedangkan kemudian beliau mendatangkan keluarga dan menyadiakan fasilitas untuk tamu dan dosen, saya yakin semua sangat memahami bahwa itulah cara mahasiswa menghormati bagaimana pelaksanaan ujian disertasi tertutup itu dengan baik. Dan semua ittikad baiknya menjadi memori tersendiri bagi para dosen pembimbing, penguji dan promotor yang notabene adalah semua orang Jawa. Semua tamu bisa jadi adalah orang SULAWESI sehingga kita seolah-olah merasa berada di UNHAS Makassar.
Sesampai di rumah pun saya masih merenung lama memikirkan teman saya si bapak yang lagi studi Doktor bidang Lingkungan di Pasca UB itu. Sempat dia melarang saya untuk mencoba-coba studi di Pasca UNHAS. Sayapun sebenarnya tidak pernah sedikitpun berpikir untuk mengambil Pasca disana. Bukan apa, jauhnyaaa..
Namun kemudian saya seolah tertantang oleh perkataan beliau bahwa saya yang orang Jawa tidak mungkin berhadapan dengan dosen-dosen UNHAS yang menurut dia ego. Saya jadi agak tersinggung. Saya sampaikan bahwa saya sudah berkomunikasi dengan orang Sulawesi dari sejak tahun 2006, saya tau betul karakter mereka. Sehingga saya tidak pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan orang Sulawesi. Entah dia begitu skeptik terhadap para pengajar di UNHAS. Saya kira di tempat kuliah saya di UM juga seperti itu, bahwa banyak mahasiswa mengalami drop out gara-gara kesulitan berkomunikasi sosial dengan dosen. Itu hanya masalah bagaimana kita merespon saja. Hanya dari pribadi masing-masing yang bisa menjawab, bahwa kamu bisa beretika komunikasi yang benar atau tidak. Seorang dosen pun tidak akan dengan senang terus menerus menyiksa mahasiswa, apalagi tanpa alasan yang jelas. Saya sampaikan bahwa mungkin anda perlu mengetahui siapa saya lebih mendalam karena saya tidak hanya berkomunikasi sosial dengan masyarakat SULSEL, namun saya juga menulis budaya dan antropologi SULSEL. Artinya saya sangat bisa memahami siapa dan apa SULSEL itu. Entah kenapa sampai saat saya menulis inipun, apa yang dia bilang masih sangat membekas di hati saya. Hampir semua lokasi penting di SULSEL sudah kudatangi, begitu pula orang-orangnya yang saya ajak secara langsung untuk berkomunikasi sosial. Di Sidrap, di Wajo, di Makassar, di Bone..saya sangat menjunjung tinggi budaya dan adat istiadat orang SULSEL. Apapun dan seperti apapun. Tidak ada budaya yang lebih tinggi dan lebih baik dari budaya yang lain. Itu yang selalu saya pegang sampai saat ini.
Baru kemudian beberapa waktu setelah pembicaraan dengan beliau, sepertinya beliau ingin pulang dan kemudian pamit kepada saya. Ughh saya agak lega setelah melalui perdebatan tersebut. Bisik2 kemudian teman2 yang masih disana mengatakan pada saya kalau si bapak itu baru saja sembuh dari depresinya.
Astagah!
Jadi aku tadi ngobrol sama 90% person??
Ok deh pak, tapi yang jelas saya salut sama kegigihan anda. Cuma satu catatannya “ANDA NGGAK SULSEL BANGETT”
Pesawat yang kutumpangi kala itu, Lion menuju Yogyakarta. Tadinya akan landing 30 menit lagi. Biasanya Juanda Yogyakarta ditempuh satu jam saja. Itu menurut pramugarinya saat dia berceloteh sambil nunjukin pelampung nya. Baru inget seorang teman sempat sms suruh ngembat pelampung di pesawat. Jiaahh..
Pemandangan dari langit Yogyakarta memang seger. Banyak hijau-hijuanya, termasuk biru-biru dari segara Kidul milik mbak Nyai Roro Kidul yang cukup melegenda. Seiring itu dilanjutkan dengan pucuk Gunung Merapi, gunung yang notabene milik mbah Marijan. Jadi ingat extra jos saat itu. Pucuk segitiga yang muncul di tengah-tengah awan padat menunjukkan betapa tingginya Gunung yang abis meluluhlantakkan masyarakat seputar Yogyakarta. Namun tiba tiba kembali lagi pemandangan biru, lautan Segara Kidul milik mbak Roro. Loh.. perasaan jadi nggak enak yah. Mual-mual koq jadi menerpa. Nggak seperti biasanya begini naik pesawat mual-mual. Ciyee sombong sekali, emang naik pesawat berapa kali. Hahah
Lah ituh..bolak-balik kulihat Gunung Merapi kemudian kembali disusul dengan pemandangan Segara Kidul. Berkali-kali nggak habis-habis sampai mual mau muntah. Duh Gusti..please anak saya masih kecil-kecil, itu doaku saat itu. Perasaan begitu dahsyat berkecamuk. Ini pesawat koq cuma muter nggak turun-turun. Sudah 8 kali kuhitung pesawat yang kutumpangi ini berputar-putar di langit Yogyakarta. Beberapa penumpang sudah mulai gelisah dan berteriak Allahu Akbar hingga duh Gusti seperti aku.
Namun akhirnya pesawat mulai mendekat landasan. Aku yang dari tadi nunduk mendekat kursi depan karena mualku yang nggak habis-habis akhirnya melihat daratan dari jendela pesawat di sebelahku. Langsung kuberucap Alhamdulillahhhh sepanjang-panjangnya.. Seperti jalan kenangan aja.
Para penumpang pun mulai berkemas-kemas saat pesawat sudah menghentikan mesinnya dan para pramugari sudah memberikan aba-aba agar segera mengemasi bagasi. Termasuk diriku yang dari tadi cuma cemas-cemas ingat anak dan suami, eheh..
Setiba di bandara Adi Sucipto, para penumpang termasuk akyu jalan menuju arrival gate dengan penasaran dan berkeringat dingin.. karena muncul pertanyaan, ada apa dengan pesawat tadi. Koq muter-muter nggak berhenti-berhenti di udara.
Sebuah pertanyaan klise ternyata, mungkin cuma aku yang nggak paham adat, itu bandara adalah bandara militer. Sehingga semua pesawat mau naik atau turun harus ijin. Kalau nggak diijinkan ya teteup muter di atas sono.
Anda tau finger print atau check clock? Selama berbulan-bulan bahkan sudah menginjak tahun ke 3, urusan finger ini bikin guwe sewot. Dari suaranya saja membuat telinga ini jadi geli-geli gimana gitu. Beberapa mesin check clock yang lain nempel di dinding-dinding kampus tersebut bisa jadi menjadi saksi bisu tapi bicara satu kalimat ‘Masukkan jari anda’ dan ‘Verifikasi sukses’. Dia bisu karena hanya mendengar kita menggerutu. Kadang itu si mesin finger ini bilang ‘Waktu scanning terlampaui’ yang menunjukkan bahwa mesin ini gagal menscan jari-jari guwe.
Saat lain guwe pusing karena sudah 7 kali masih saja berbunyi ‘waktu scaning terlampaui’. Secara kadang nyampe kampus yang kebelet pip*s duluan. Dan mesin yang nempel tembok itu sama sekali tidak mau diajak bekerja. Dianya yang diem aja nempel di tembok maen kedip. Dia tidak mau diajak cepat. Belum lagi yang diantri orang di belakang. Bukannya kita lagi yang menggerutu, malah orang lain yang pada ngedumel, dibilang aneh-aneh. Masukkan jari kaki aja mbak. Lhah!
Emang sosialisasi itu perlu, apalagi hubungannya dengan mesin berprogram ini. Nah gara-gara sosialisasi yang kurang mantep, aku dan teman-temanku jadi termakan gosip-gosip mahal. (Biasanya murah) Soalnya telat sedikit, 3 menit misalnya, gaji langsung dipotong 35 ribu, kalau nggak finger sehari dipotong 50 ribu. Beeuddzz.. Jadi miskin dah! Karena ternyata banyak sekali teman-teman kampusku yang rumahnya sangat jauh. Yang tadinya harus berangkat dari rumah pukul 7 misalnya maka harus dirombak ulang dengan berangkat dari rumah jam 6 pagi. What, jam 6 pagi??
Finger masuk jam 7.30 itu sebenarnya tidak akan memberatkan, tapi kalau harus tepat waktu dan sangsi potongan sebanyak itu yang bikin aku dan temen-temen jadi kewalahan. Banyak yang mengeluh nggak sempat mempersiapkan sarapan untuk diri sendiri dan keluarga. Pagi-pagi buta sudah bangun dan mempersiapkan keluarga dan semua yang akan berangkat pagi. masih aja belum bisa memenuhi standar masuk jam 7.30. Walhasil protes-protes mengalir saat akhir bulan teman-teman sudah menerima gaji yang terpotong ludes gegara terlambat. Hahahay..
Lucunya kalau kita masuk sebelum jam 7.30 tidak ada reward, padahal sangsinya ketat. Yang kutau bila terbit sebuah aturan dengan sangsi, maka harus pula ada reward bagi yang berprestasi. Ini mah engga. Yang datang kepagian dijarno ae..khe khe khe.. Apalagi yang pulang kesorean ngak digubris. Wah kecian cekali dwong..! Nah hal-hal seperti itu yang kadang luput dari pemikir-pemikir dan pengambil kebijakan. Belum lagi yang habis finger langsung kabur. Yampun, kalau ini mah nggak bisa diampuni. Lha tapi siapa juga yang mau ngontrol ratusan dosen dan staff itu?
Ternyata mencari ide untuk menulis dan ngeblog itu susah. Setiap kali akan mengetikkan jari pada tuts keyboard pikiran menjadi kemana-mana. Mata menerawang ke jendela, kepala menjadi kaku di balik kursiku, di belakang meja operator laboratorium bahasa. Berkali-kali tirai terombang-ambing angin di ruang lab ku di lantai dua. Itupun masih saja ku melongo menatap layar compose di dashbor wordpress ku. Weeew..susah memang.
Namun kemudian inspirasi muncul setelah sebuah website Giveaway Sehari Blogger milik bang Abdul Cholik. Beliau bilang kita mudah sekali mendapatkan inspirasi, dan inspirasi itu bisa dengan mudah didapat dari sekeliling kita saja, nggak jauh-jauh. Kupikir nggak jauh-jauh itu dimana gitu. Di rumah, dah habis ide, di kota sudah habis dipakai orang, di kabupaten kejauhan, di luar kota kapan perginya, di luar negeri in my dream. Lhah! Trus ndik endi??
Ternyata yang dimaksud nggak jauh-jauh amat itu disini, di status facebook. Ya Tuhan, hampir tiap hari aku bikin status, posting foto, tag-tag, even, komen dan segala macam. Tak satupun memberikan inspirasi padaku. Ini berarti sinyal lemot memberikan dampak negatif pada ku, ikutan lemot. Ok Bang Cholik kupilih salah satu status di facebook yang panen komentar terbanyak selama ini. Maklum lah, saking terlalu jaimnya, jumlah teman facebookku segitu-gitu aja. Jadi mungkin semakin kesulitan diriku untuk memilih status yang mana yang bisa kupergunakan sebagai ide dan inspirasi ngeblogku kali ini.
Aku memang kadang tidak PD untuk menulis sebuah status sehingga jumlahnya pun tak banyak hingga bisa kupilih menjadi ide dan inspirasi ngeblogku. Baru kuingat ada satu yang kutulis disana , sebuah postingan gambar buku PDF. Kucoba menawarkan pada temen-temen facebookku siapa tau ada yang berminat. Wah ternyata komentar-komentar mereka muncul berdesakan, heboh juga. Mungkin karena masih banyak yang membutuhkan buku IELTS, buku selevel TOEFL yang seringkali dipergunakan para siswa untuk melanjutkan ke luar negeri. Yang unik itu cara mereka memberkan komen, byuh-byuh-byuh.. Kadang bikin stres. Mungkin karena bahasa tulis lebih ‘jleb’ dibandingkan dengan bahasa lisan. Sebagai orang linguistics saya kadang geli sendiri dengan bahasa-bahasa online dan bahasa sms. Sekali lagi semua seperti ‘jleb’ menusuk banget. Itupun juga karena aku hanya menuliskan “Tulis emailnya” sehinggga mereka benar-benar hanya menulis alamat email mereka di kolom komentar.
Picture PDF IELTS pada salah satu status saya di Facebook
Situasi nya jadi lain saat yang menulis komentar adalah orang yang belum saya kenal betul, suddenly ujug-ujug dan moro-moro tau-tau muncul gitu saja. Ada pula orang-orang yang nggak pernah menghubungi, kontak maupun sms. Eh tau-tau muncul..betapa kwagetnya! Hahaha.. Nah belum lagi yang komentar tapi bukan menjawab statusku. Dia malah yang promo web barunya karena melihat jumlah komentator yang lumayan, berharap akan muncul menjadi notifikasi. Masih ada pula yang menanyakan keseriusanku untuk mengirimkan email padanya atau tidak. Lhah??
Masih bagus ada yang menuliskan “jika berkenan”. Wah sungguh tersanjung aku membaca ekspresi kata seperti ini. Dia tidak terlalu mengenalku sehingga muncul kata “jika berkenan”. Urusan mengirim email sungguh sesuatu yang sangat sederhana, “tinggal klik” kita tidak cape dan mengeluarkan keringat. Yang menjadi tidak sederhana itu adalah siapa yan akan kita kirim email tersebut. Jari-jari tak mungkin menjadi asam urat gara-gara hanya menekan tombol send. Namun di balik itu memang panjang ceritanya. Kadang karena salah ketik atau typo, yang ada adalah email tidak tersampaikan. Dan berbalas email dengan mas daemon.
Yeaahh.. *mulet-mulet
Klik publish itu hanya sedetik, seketika itu pula muncul lah artikel manisku di website ini. Tapi yang bikin dendam kesumat banting-banting mouse itu seketika itu pula muncul 12 spammer. !@#$%^&*)(
Salah satunya berbunyi tawaran backlink pada obat penghilang bulu ketiak, jiahhh! Perasaan aku nggak pernah pasang tag dan kata kunci penghilang bulu ketiak. Duh jadi pengen mainan santet. Pengen kubalas backlink-backlink berdosa besar ini. Mereka ini yang selalu bikin ku sibuk remove-remove. Buka dashbor seharusnya lekas menulis dan ngeblog. Ini mah engga! Ini yang sibuk remove spam-spam tak bertuan alias komen gak nyambung.
Status kedua yang kupilih masih saja picture, hal ini karena aku jarang buat status karena ketidak PD an ku. Sehingga picture ke dua ini yang kupilih.
Jackson Five juga salah satu picture yang sudah bikin ngakak offline
Inilah foto yang kuupload sebagai status di facebook ku hari ini, deskripsinya kutulis “Mak Wok itu ternyata anggota Jackson Five yak?” Mungkin karena baru saja kupasang dua jam yang lalu sehingga baru tiga orang yang like dan seorang yang memberikan komentar, itupun sepupuku sendiri. Hihihi..
Foto ini dibuat oleh temen-temen pasca saat lagi santai di kelas dan kemudian dishare. Termasuk aku salah satunya di dalam gambar itu. Semua orang dibuat ngakak gila setelah melihat foto ini, termasuk saudara-saudara di rumah dan rekan-rekan kerjaku di kampus. Foto ini benar-benar berbicara dan membawa misi standup comedy, SUCI 2015 kayaknya. Temen-temen pascaku benar-benar gokil. Teruskan bro!
Dan Giveaway memang bener-bener menginspirasi. Kalau nggada giveaway nya, sepertinya aku juga susah menuangkan ide. Thank somach yawh..
Gara-gara trans tipi aku jadi repot-repot ke pasar Gede. Di sela-sela tugas S3 ku yang bejibun, temen-temen pada riweuh ngomongin kuliner pasar Gede Solo yang legendaris. Sebuah pasar yang bangunan gedungnya terlihat nglasik tur kuno. Apalagi makanan-makanan yang dijual disana. Dah pasti kuno juga.
Sebuah meja sempit yang dihuni 4 orang, salah satunya adalah pemilik warung Dawet yang terkenal itu. Ini loh Dawet yang sering masuk tipi yang bikin orang-orang heboh ingin datang ke Solo. Pemiliknya seorang ibu cantik berkulit bersih. Beliau terlihat cukup ramah meladeni para pembelinya. Beliau seperti nya sangat paham kalau kuliner yang dijual cukup terkenal. Beberapa artis dan pakar kuliner pun dah mampir kesana.
Nah mumpung masih di Solo, di sela-sela studiku, kucoba untuk datang ke warung Dawet ibu cantik ini. Warung Dawet yang legendaris karena sering muncul di tipi. Tapi tak selegendaris aku kalau aku belum nyampe disitu. Eeaaaa..
Dawetnya cukup enak meski dipatok lumayan mahal. Dengan harga 9000 rupiah mungkin kalau di Malang dah mblokek-mblokek mangan dawet (muntah dawet). Ada sedikit bubur sumsum, sedikit tape ketan hijau, sedikit tape ketan hitam, dan sedikit selasih. Lalu dituang santan kental. Nah itu aja komposisinya.
Sayang gak kufoto di era socmed yang menggila ini. Maklum hp nya dah udzur, dan kameraku rusak pulak. Yah silahkan dibrowsing dewe mumpung google gak mbayar. Kalau sudah mbayar.. yaahhh. Binun..
Dan akhirnya daripada cuma muter-muter doang di Pasar Gede, dan karena mau mudik juga, jadi beli oleh-oleh sekalian. Rupanya pasar ini bukan really pasar tradisional. Lebih banyak unsur kulinernya ketimbang sayur-sayurannya. Ada juga sih bahan-bahan jejamuan khas Solo. Wah kalau lihat kios-kios jamu heboh banget. Dah heboh bentuknya, heboh pula aromanya. Njamuuuu banget. Sayang nggak tau aturan minumnya. Pengen sebenarnya kulakan jamu trus jualan di Malang. Jamuuuuuuu…
Trus ku borong lah kacang bawang, kacang jeruk purut, kripik ceker, kulit belinjo, srundeng crunchy. Nah loh unik-unik kan. Apalagi kalau bukan Pasar Gede. So jangan tahan-tahan lagi, datanglah ke Solo, ke Pasar Gede. Bakalan nggak kuciwo. Tipsnya hati-hati banyak yang jualan pork. Jadi cari yang aman. Woke?
Lama tak bertemu, mungkin sekitar 12 tahun yang lalu. Lama tak bertemu secara fisik dengan pimpinanku, rector UIN Maulana Malik Ibrahim, rektor yang jabatannya baru berakhir, 2013 lali. Beliau Prof. Imam Soeprayogo, orang yang sebenarnya sudah lama kukenal dari sejak saya masih kecil.
Awalnya saya tidak mengira akan bertemu beliau kembali. Terakhir saya melihat beliau setahun yang lalu saat pertemuan antar dosen dengan pejabat. Tentu saja beliau tidak begitu perhatian pada satu-satu undangan karena banyak, ada sebanyak 400 dosen di ruangan gedung aula rektorat lantai 5. Mungkin itulah kali terakhir saya melihat beliau namun tidak secara dekat seperti 3 hari yang lalu, saat saya bertemu beliau secara langsung. Saat itu kebetulan saya mendapat amanah dari kepala langsungku, ibu Mufidah untuk menyerahkan sesuatu ke Prof. Imam. Dan kemudian saya berangkat menuju kampus Pasca UIN di kampus II, Batu.
Pak Imam yang masih saja duduk berkoantor meskipun beliau sudah mendapatkan gelar Professornya, memiliki ruang khusus bertuliskan nama beliau di pintu. Persis seperti ruang Prof. Sutandyo, guru besar di UNAIR. Saya ingat betul pak Imam pernah mengatakan tentang ruangan prof. Sutandyo di UNAIR yang tetap dibiarkan seperti itu tanpa ada perubahan. Pak Imam mengatakan bahwa ruangan prof Sutandyo menjadi spirit bagi semua mahasiswanya sehingga memberikan semangat dan motivasi untuk maju seperti beliau. Begitupun dengan pak Imam, beliau mendapatkan ruangan yang tidak terlalu luas namun lengkap dengan satu set computer dan LCD di atap. Saat saya kesana, seperti biasa beliau menhadap ke computer, tetap dengan kesehariannya, menulis.
Teringat saat itu beliau selalu bertanya kepada semua kolega, mana buku yang sudah kamu buat. Ini suatu hal yang tidak mudah. Lama saya jajaki pernyataan itu. Bagaimana saya bisa seproduktif beliau, ratusan buku sudah dikarang. Belum lagi ribuan tulisan, jurnal dan artikel. Menurut pak Imam itu adalah aktifitas rutinnya saat pagi setelah subuh. Ada sedikit waktu sampai menjelang keberangkatan beliau ke kampus sehingga kesempatan tersebut dipergunakannya untuk menuangkan pikiran ke dalam tulisan. Apabila sehari satu tulisan saja, bisa dibayangkan dalam setahun ada lebih dari 300 sentuhan jari-jarinya kedalam tulisan. Entah bagaimana saya bisa membayangkan saya pribadi, apakah saya bisa seperti beliau. Saya sendiri baru mencapai 175 artikel dalam kurun waktu 3 tahun, dan baru satu buku yang sudah terbit. Yaelah broo!
‘Asslamualaikum’, saya mencoba menyapa beliau pelan. Takut mengganggu aktifitasnya, beliau seperti sedang sibuk di depan PC. Saya yang masih berada di luar ruang beliau, tepat di depan pintu. Saya melirik beliau yang masih sibuk menggerakkan jarinya menuliskan dan mencurahkan ide-idenya. Dan segera beliau menjawab ‘Waalaikum salam’ dan segera saya masuk ke dalam ruangan beliau. Saya katakan maksud kedatangan saya dan menyerahkan berkas yang dimaksud untuk ditandatangani. Sambil memeriksa kertas-kertas tersebut beliau sempat menanyakan saya bertugas di fakultas apa, dan saya pun menjawab dengan jujur bahwa saya di humaniora namun berkantor di LP2M. Oh di bu Mufidah situ, responnya. Saya pun mengangguk. Hari sudah menjelang Jumatan, beliau segera berdiri dan mempersiapkan akan berangkat shalat, sambil beresin ini itu, masih saja bertanya. Sedianya saya sudah akan meninggalkan ruang beliau dan berpamit.
Tau-tau pertanyaan lain muncul lagi, “lha sampean itu namanya siapa?”.. Saya terperanjat. “LHAH!”.. jadi dari tadi pak Imam itu lupa sama saya. Ya ampun.. Jadi inget, saya terakhir bertemu dekat dengan beliau itu tahun 2002. Lama sekali memang. Saat itu saya juga bertemu untuk menyampaikan ‘amanah’ kepada beliau. Dan memang sudah kebiasaan pak Imam dari dulu sampai sekarang, masih aja tetep sama. Pak Imam dengan kesederhanaannya, tak pernah mau menerima honor. Alasannya katannya beliau tidak ikut-ikut bekerja dalam kegiatan itu. Dan kemarin itu saya masih membuktikkannya, beliau masih saja lagi-lagi mengeluarkan lembaran-lembaran tersebut dari amplop. Perasaan saya berkecamuk, ingin sekali menolak pemberian beliau itu, dalam kepala saya ada suara-suara mengatakan rejeki koq ditolak. Entah kenapa, setelah 12 tahun tak bertemu perasaan saya jadi iba.
Beliau sudah seperti bapak bagi saya karena memang sejak kecil saya sudah mengenal beliau, Pak Imam pun paham sekali kronologis saya dari sejak kecil. Saat bertemu kemarin sempat mengatakan tentang itu, mengingatkan bapak saya almarhum yang berjuang sejak awal UIN berdiri bersama beliau hingga saya masuk UIN pada 1999. Sayapun mengiyakan. Saya sempat pula ungkapkan saat beliau berhaji bersama-sama dengan keluarga, juga dengan bapak dan ibu saya ke tanah Suci, saya sempat bilang, bapak yang mendampingi orangtua saya dan sempat mengambil banyak gambar foto bapak dan ibu saya yang kemudian menyerahkan foto-foto tersebut kepada orangtua saya. Masih sempat-sempatnya beliau mengafdruk ratusan foto tersebut dan menyerahkannya kepada masing-masing rekan beliau dalam kelompok haji ini.
Dan sambil mengunci ruangan beliau yang bertuliskan Prof. Dr. Imam Soeprayogo, MA tersebut, beliau masih saja bertanya dan bercerita. Padahal sedianya saya sudah berpamitan pulang. Saya tak mungkin jalan bersama beliau, rikuh rasanya. Eh ternyata enggak. DI sebelah ruangan beliau di lantai 3 tersebut ada lift . Bahkan beliau sampai di lift pun masih saja berceritera tentang nostalgianya dengan orangtua ku. Saya jadi kikuk, masak mau turun satu lift dengan beliau, nggak pantas rasanya. Saya masih saja melongo saat beliau memencet tombol lantai satu. Sedianya biarlah saya turun lewat tangga. Tidak terlalu berat karena turun, kalau naik emang iya. Heheh..
“Ayo masuk” katanya. Saya yang ndlahom aja di luar segera maju dan masuk ke dalam lift. Untung tidak terlalu lama. Namun masih saja beliau tidak diam dan bercerita. Saya hanya senyam-senyum aja, lha mau gimana lagi. Jadi bingung ini. Sesampai di lantai satu, saya yang masih kebingungan karena jarang masuk di kampus pasca, masih sempat bertanya sambil bingung. “Lantai berapa ini prof?”.. Sambil clingak clinguk. Bingung saya kemudian hilang karena pak Imam bilang “yaa ini sudah nyampe”
Hahaha..dasar blo’on aku
Dan sambil berlalu beliau masih saja berbicara, padahal sudah beda arah. Saya tunggu sampai bayangan beliau menghilang, baru kemudian saya berlari menuju parkiran. Olala sungguh pengalaman yang unik.
Pribadi beliau memang saya akui, kesederhanaannya yang begitu bergema pada kita semua rekan kerjanya terutama yang sering dekat dan melihat. Makanan kesukaan beliau adalah pecel dan tahu tempe. Sekali pernah putra-putri pak Dimyati Akhyat (alm), sahabat pak Imam, mereka pernah mengatakan..pada suatu saat pernah pak Imam datang ke rumah pak Dimyati yang saat itu masih di dalam perumahan kampus UIN. Sempat pak Imam melihat meja makan yang ditutup oleh tudung saji. Kemudian beliau membuka tudung saji tersebut dan mengatakan Waaaaahhhh. Hahahaha saya jadi ketawa ketiwi diceritain mereka. keluarga Pak Dim, panggilan pak Dimyati, biasa menyajikan masakan-masakan seperti jerohan sapi. Kata pak Imam, wah disini ternyata makanannya enak-enak yah.. sambil berkelakar pak Imam melihat lauk-lauk yang tersaji di rumah pak Dim.
Suatu saat dating tamu-tamu dari luar negeri, para duta besar dari Negara-negara Timur Tengah. Pak Imam menyarankan untuk menyajikan kue dan buah di meja tamu. Dan orang yang sering disuruh beliau adalab ibu Luluk sahabatku, sehingga saya tau betul ceritanya dari bu Luluk. Dia bilang, pak Imam selalu menyuruh memotong kue yang berukuran besar menjadi kecil. Beliau bilang kalau ukurannya besar itu tidak pantas disajikan, orang akan susah memakannya karena harus membuka mulut lebar-lebar. Pak Imam nggak mau hal seperti itu terjadi. Sehingga ibu Luluk selalu siap dengan pisau-pisa di pantry yang dipersiapkan untuk memotong kue-kue ini. Pada suatu saat ada acara lain di ruang beliau, yaitu kedatangan tamu Negara. Saat itu bukan ibu Luluk yang mempersiapkan konsumsinya, sehingga kue-kue yang masih asli dari took itu tidak dipotong-potong. Sehingga setelah acara beliau mulai menyindir dengan bahasa Jawa, “wong opo kon arep maaangapp!” (apakah orang disuruh membuka mulut lebar-lebar)
Ahahaha, saya nggak habis-habis tertawa saat diceritain ibu Luluk. Memang benar kalau dipikir-pikir. Saya bayangin kalau makan lapis Surabaya itu bingung karena lebar banget. Belum lagi kalau makan bikang, roti bikang itu selebar lepek cangkir..xixixi. :D.
Pernah juga saat beliau akan berangkat ke Jakarta, saya dan ibu Luluk berangkat ke loket tiket pesawat untuk membelinya. Ibu Luluk mengatakan sambil melihat-lihat jadwal pesawat, “Pak Imam itu harus dibelikan tiket pagi Ika, supaya berangkatnya aman dan nyaman”, kata nya begitu. Suatu saat pak Imam kembali akan melaksanakan perjalanan jauh menyuruh orang lain untuk membeli tiket. Sehingga dia tidak tau jam-jam berapa yang biasa dipakai oleh beliau apabila. Dan ternyata benar, tiket pesawat tersebut dibeli dengan jadwal berangkat jam 2 dini hari.
Apa yang dikatakan pak Imam saat tau akan berangkat jam 2, “wong opo kon budal bareng maling!” beliau menggerutu.
Saya nggak habis-habis ketawa cara beliau berbicara dalam bahasa Jawa ala Trenggalek, kota kelahiran beliau. Sangat medok.
Lagian beli tiket aja susah amat. Pilih jadwal koq jam 2 pagi. Bingung bayanginnya, brangkat malem-malem. Owalah!
Pak Imam, mudah-mudahan anda membaca tulisan saya. Hehe.