Phonetics VS Pembaca Gerak Bibir

Tina Lannin seorang pembaca gerak bibir di Kepolisian London berhasil mentranskripsikan pembicaraan atau dialog antara anggota kerajaan di perhelatan kemantenan William-Kate tanggal 29 lalu. Beberapa yang berhasil ditangkap adalah dialog antara William dah Harry adiknya. Juga pembicaraan antara William dengan Kate.

William : Apa kita harus masuk?

Harry : Ya benar, kita harus masuk sekarang..

Michael Middleton kpd Kate : Apakah kamu baik2 saja?

Kate : Ya saya baik2 saja

Dan selanjutnya Kate berjalan menuju altar mendekati dimana William dan Harry sudah menunggu disana. Keduanya pun seolah tak sabar dengan menoleh kearah Kate dan ayahnya. Tepat berada disebelah William, Kate berdiri dan membetulkan ekor gaun pengantinnya bersama adik kandung Kate, Pippa.

Menurut Lannin pembicaraan mereka adalah :

William : Kamu terlihat sangat menyenangkan.. Kamu cantik sekali..

Benar saja karena Kate sudah merencanakan tidak akan menunjukkan gaun pengantinnya kepada William agar bisa surprise dan memang sampai hari H pun tidak ada satupun media yang tau dan mengekspos siapa perancang busana Kate. Dan itulah yang keluar dari mulut William ..you are so beautiful..

Dalam ilmu Phonetics seorang Linguist bisa saja berperan penting sebagaimana Pembaca Gerak Bibir yang dalam hal ini dikategorikan kedalam ilmu Forensik. Anggap saja kalimat YOU ARE BEAUTIFUL, dari kejauhan seorang Linguist akan dengan mudah mentranskripsikan kalimat ini kedalam catatannya karena dari ekspresi gerak bibir manusia normal yang terlihat adalah kata BEAUTIFUL. Kata ini di dalam IPA (International Phonetics Alphabet) mengandung huruf “f” atau consonant articulated with the lower lip and the upper teeth..sebuah konsonan yang diucapkan dengan gigi atas bertumbukan dengan bibir bawah.

Dengan membaca ekspresi William jelas terlihat bahwa dia mengucapkan YOU ARE BEAUTIFUL. Tidak mungkin dia mengucapkan YOU ARE FOOL, YOU ARE FUR, dan eF eF yang lain. Situasi dimana percakapan itu juga mendukung data2 bagi pembaca gerak bibir di ilmu Forensik dan Ilmu Phonetics.

Nah lain halnya dengan ekspresi wajah, gerak kepala dan body language? Bila di Jawa seorang pembaca gerak bibir akan bekerja keras untuk mengatasi hal ini. Kadang dia ngangguk tapi menunjukkan kontra atau tidak setuju. Saat seorang gadis Jawa di era jadul dilamar oleh seorang duda misalnya, dia ingin menjawab tidak. Namun tidak ingin menyakiti hati kedua orang tuanya dan pelamar tersebut, maka jawabanya adalah ya tapi kepalanya menunduk. Atau jawaban menggeleng (pacak gulu) seperti di India, ya atau tidak dia tetap menggeleng dengan gaya khasnya.

Maka kemudian ada istilah ilmu akar dari Phonetics yaitu Sociophonetics atau di dalam Ilmu Forensik kemudian muncul Socioforensics..(ni siapa dosennya?)..

Tak jelas..

Tapi ingin kembali saya ungkapkan lagi disini dialog transcript dari ahli pembaca gerak bibir ilmu forensik :

William kepada Kate : Okay? Lihatlah mari kita berciuman, okay?

Kate : Lihatlah orang2 itu, apa selanjutnya?

William : Mereka ingin kita berciuman lagi tampaknya. Ayo sekali lagi ciuman.

Pasangan ini kemudian berciuman untuk kali yang kedua

William : Sudah cukup, mari kita pergi.

Hmm seandainya saya disitu bersama media, mungkin dialog William dan Kate selanjutnya adalah

William : Sudah cukup, mari kita pergi

Kate : Ayo sayang, bajunya dah berat neeh..

William : Nah si Pippa tadi mana yang bawain ekor baju tadi, koq langsung ngeloyor pergi..ter..la..lu..

Kate : Dia lagi digodain sama adik lu tuh..ganjen!

Ooops bagian terakhir adalah rekayasa

The Next Lip Reader

Published by Ika

I am Rafter, Blogger, and Teacher

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *