Asa Yang Tak Sampai

Perlahan tapi pasti, perasaan ini melambung. Tekanan menghasilkan apa yang terucap tentang kebaikan. Dalam sepi, menghadirkan makna yang tak bermakna. Dalam kejujuran menghasilkan ketidak jujuran. Dia, hadir dalam khayal yang mengkhayal. Tapi jarak menjadikan tidak berjarak.

Jarak, memang berjarak. Tapi jarak memaknai perbedaan. Mungkin rasa yang memiliki rasa, namun rasa yang tajam sulit untuk membedah antara rasa dan perasaan. Dia tidak merasa, melainkan merasakan apa yang ada dalam jiwanya. Dia, tak berjiwa tetapi menjiwai apa yang telah dilakukannya.

Pasti, memastikan yang belum pasti. Kepastian dalam meniti hari-hari, kadang menimbulkan kadang-kadang. Sulit rasanya menggapai dalam nyata. Tetapi dalam jiwa ada kenyataan yang terselubung menatap kehadiran dan kepergiannya. Waktu terbaik, adalah kesempatan terbaik. Dia, baik hati yang selalu hati-hati dalam meniti perasaan yang tak kerasan.

Dendam yang mendendangkan irama yang ramah dengan lingkungannya. Rindu, merindukan tutur kata yang menuturkan angkasa yang diselimuti awan kelabu. Begitu cepat dia merasakan apa yang telah dimilikinya, dan tak merasa kalau ada yang lain ingin memiliki jiwa raga yang beku dalam ketidak berperasaan.

Merasakan alam sama pula merasakan sesuatu. Daya tarik pada dirinya namun benar kalau dia merasa tak memiliki daya tarik. Mampu meluluhlantakkan apa yang kokoh dalam pandangan. Mampu menggapai apa yang diinginkan, tapi merasa tak mampu dan hanya memiliki ala kadarnya.

Selalu tak memiliki kesadaran jika ia memiliki pelangi, yang membasahi sinar mentari. Dia, membentuk fatamorgana. Membuat fatal bagi yang menginginkannya. Keraguan yang ingin memilikinya. Hadir bagai kilat yang menyambar, menghentakkan aliran darah yang mengalirkan rasa.

Hembusan nafas yang semilir, sayup suaranya mengalun jauh menyapa yang jauh. Dia, mimpi dalam mimpi-mimpi yang indah, menyelimuti diri yang sirna. Meraih harapan yang nyata dalam bathinnya. Mengungkapkan kejujuran yang makin menyiksa dirinya. Dia bisa hadir dalam angan seorang yang mengharapkan tanpa memaknai seluruh jiwa raganya yang berujud. Seorang mengharapkan tepian yang sepoi untuk merengkuh mata bathinnya dalam kenyataan nanti. Harapan yang tak pudar dari seseorang untuknya

Published by Ika

I am Rafter, Blogger, and Teacher

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *