Cita Rasa Kartini

Banyak yang tidak tau diantara kita bahwa Ibu Kartini pernah mengarang sebuah buku. Yang kita tau ibu Kartini adalah menulis banyak surat yang telah dikompilasi oleh orang berkebangsaan Belanda, Abendanon. Buku yang telah beliau karang tersebut adalah sebuah buku sederhana yang dipergunakan sebagai materi bahan ajar di sekolah yang beliau bangun tepat di belakang kediaman R.A. Kartini, di belakang keraton tersebut.

Surat-surat R.A Kartini yang dikompilasi dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang begitu sangat membahana hingga sekarang. Perjuangan seorang wanita bangsawan yang dikungkung dalam tembok penghapus peradaban. Motivasi didalam dirinya yang sangat kuat tersebut tak pupus menghentikannya untuk terus belajar. Rasa iri terhadap kakaknya R. Sosrokartono yang lanjut studi di Italia membuat dirinya tersadar bahwa ilmu itu luas tanpa batas, tak memandang siapa pembelajarnya. Persepsi belajar itu bebas bagi siapapun yang menginginkannya tampak suram di masyarakat lingkungan keraton.

Namun itulah Kartini, semangat belajar dan tetap menulis yang beliau miliki ternyata tidak bisa stagnant. Semangat itu mengalir dalam jutaan butir darah dalam dirinya. Ia ingin dan terus ingin belajar. Kakak yang dikasihinya tau betul semangat adiknya yang ingin terus lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga saat itu disaat kertas masih sangat langka, kakak Kartini mengirimkan berim-rim kertas untuk adik tersayangnya, untuk menulis. Baru ingat ibunda saya saat beliau mengenyam pendidikan SR atau setara SD saat itu, mungkin buku masih langka. Hingga kemudian sebuah buku yang habis ditulis dengan menggunakan pena tinta (saat itu belum ada ballpoint), kemudian buku yang telah habis ditulisi tersebut dicelup kedalam seember air. Tentu saja air itu kemudian menghitam. Semakin menghitam air di dalam ember, maka semakin bersih dan habis tinta yang menempel pada buku tersebut.

Dan hilanglah semua ilmu yang tertulis di buku itu. Menyedihkan!

Padahal peristiwa itu terjadi di sekitar tahun 50an. Buku masih langka apalagi kertas. Dan apa yang terjadi saat ibu Kartini masih gencar-gencarnya belajar dan hoby menulis surat. Sungguh tak bisa saya bayangkan.

Namun pada abad ke 16 di Sulawesi orang sudah mempergunakan teknologi kertas alam yang sangat dikenal hingga saat ini, LONTARAK. Huruf yang dipergunakan juga bernama Lontarak. Hingga kemudian puluhan ribu lembar lontarak telah ditulis dimana satu diantaranya menggambarkan kisah yang melegenda I LA GALIGO.

Itulah teknologi kertas saat itu, kertas yang kemudian menjadi inspirasi dan motivasi kuat ibu Kartini untuk menulis. Dan buku itu, banyak yang belum tau bahwa ibunda Kartini telah menulisnya. Buku itu adalah buku resep sebagai materi mengajar di sekolah yang telah beliau bangun bersama Ibu Kardinah. Sebagai seorang wanita, ibunda Kartini ternyata hobby memasak. Perkenalannya dengan warga Belanda saat masih berada di Jepara dilanjutkan dengan korespondensi dengan mereka memberikan nuansa penting dalam menekuni hobi memasaknya. Oleh karena itu banyak resep-resep Kartini dipengaruhi oleh resep-resep dari negeri Belanda.

Negeri Belanda memang dipengaruhi oleh cuaca yang cukup dingin. Oleh karena itu makanan-makanannya seringkali dibumbuin dengan bahan-bahan penghangat seperti kayu manis, jahe, cengkeh, pala, dan merica. Salah satu resep masakan yang telah ditulis oleh beliau adalah setup pisang. Setup ini menggunakan bahan pisang, gula dan kayu manis. Karena bahan ini bisa menghangatkan tubuh maka resep setup ini begitu digemari di negeri Belanda. Ini adalah salah satu resep yang ditulis oleh beliau di bukunya disamping resep-resep yang lain. Kue yang sangat disukai oleh bunda Kartini adalah kue Soes dan penganan kecil yang kita kenal dengan Perkedel yang di dalam bahasa Belanda disebut dengan Vrikadel. Selain itu pula ada juga panekoek tabur gula kayu manis yang juga sama, bersifat menghangatkan tubuh. Panekoek mempergunakan bahan tepung terigu, tepung yang sangat terkenal dari negeri Belanda karena tepung ini diolah dibawah kincir angin.

Ibunda Kartini adalah wanita yang tidak hanya menginspirasi kehidupan sosialita di saat ini, namun juga kecerdasannya begitu mengilhami saya khususnya untuk tetap maju dan berkembang. Masalah yang menyelimuti beliau sebagai putri bangsawan tidak menyurutkan beliau untuk tetap belajar dan maju, dan hal ini sangat mempengaruhi saya pribadi. Masalah pasti ada, namun jangan masalah membuat saya berhenti untuk maju dan berpikir. Kalau toh orang tidak bisa menerima hasil karyamu disini, di tempat lain kehidupan masih sangat luas dan bisa menampung segala keinginan dan kemauan. Insya Allah bunda Kartini, saya akan teruskan perjuanganmu.

Inspirasi Korea

Banyak teman bercerita summary kisah-kisah dalam drama Korea. Entah mengapa drama Korea beberapa tahun belakangan ini menjadi hits dan digemari oleh orang Indonesia. Namun kemudian baru saya sadar setelah menonton beberapa judul drama Korea di TV. Saya kira memang banyak kesamaan yang bisa kita lihat di dalam sinetron luar negeri ini. Kehidupan remaja di Korea Selatan sepertinya hamper sama dengan kehidupan remaja umumnya di Indonesia. Mungkin ada beberapa gelintir saja yang berbuat di luar kebiasaan umumnya. Namun secara garis besar banyak didapat kesamaan kebiasaan antara remaja Korea dan Indonesia. Hal ini menyebabkan penonton Indonesia merasa melihat refleksi atau cermin kehidupan.

Ada beberapa judul yang telah saya saksikan baik melalui VCD, TV maupun Indovision. Beberapa drama ini selalu berakhir bahagia. Namun juga tak jarang berakhir tragis. Ada dua genre kalau boleh saya bedakan diantaranya, yaitu drama modern dan drama sejarah. Daram modern memiliki setting abad ini dan tahun-tahun terakhir. Namun drama sejarah kebanyakan bersetting abad ke 18 kebawah dan lebih banyak memasukkan unsur-unsur sejarah dan budaya. Kesimpulan-kesimpulan sementara boleh diambil karena kehidupan remaja Korea selatan tidak banyak saya ketahui, apakah mereka memiliki kemiripan dan kesamaan dengan kita di Indonesia atau tidak.

Sepertinya kehidupan remaja Korea Selatan santun dan banyak membatasi diri. Norma agama dan sosial masih dijunjung tinggi. Sebagai contoh mereka akan selalu berat melakukan adegan ciuman dan bahkan hanya dengan berpegangan tangan. Kemudian belum pernah juga saya melihat adegan-adegan di ranjang ataupun yang menuju ke atas ranjang. Kalau boleh dikatakan, justru sinetron-sinetron di Indonesia lebih mengarah kesana.

Ada sebuah drama berjudul TO THE BEAUTIFUL YOU, sebuah drama diilhami dari legenda SAMPEK ENG TAY. Yaitu seorang wanita yang ingin melanjutkan studi namun terhalang boleh tradisi bahwa wanita tidak boleh bersekolah lebih tinggi. Hingga kemudian si gadis bernama Eng Tay ini menyamar dan menyelundupkan diri ke dalam sekolah yang dikuasai oleh kaum pria. Dan drama Korea TO THE BEAUTIFUL YOU tersebut juga memakai tema ini. Hanya saja motivasi si gadis bukan karena studi namun karena ingin memberikan motivasi kepada atlit pujaanya, seorang atlit lompat tinggi. Walhasil romantika kehidupan seorang remaja wanita di dalam sebuah sekolah pria menjadi rumit dan menjadi tema besar dalam drama lucu ini. Drama ini berakhir dengan diketahuinya si lembek (panggilannya), ternyata adalah seorang perempuan. Hal ini mengakibatkan dia tidak bisa menyaksikan atlit idolanya berlaga di kompetisi nasional. Namun kemudian bisa saya simpulkan, bahwa benar-benar remaja Korea tidak begitu banyak berpikir negatif untuk beradegan porno. Hal ini karena adat dan budaya yang ratusan tahun berkembang disana.

Lain halnya dengan drama berjudul MY DAUGHTER THE FLOWER. Kisah ini didasari oleh perbedaan miskin dan kaya, yang begitu banyak mendominasi drama-drama Korea. Seorang gadis yang sederhana kemudian yang tiba-tiba bertemu dengan seorang pria tampan dan kaya. Dan kemudian diisi dengan konflik-konflik keluarga. Gadis dan pria ini menjalin hubungan cinta yang cukup rumit karena diketahui bahwa ayah bunda mereka ternyata adalah suami istri. Namun kemudian hubungan percintaan yang sulit ini tidak membuat mereka menjadi surut. Mereka tetap melanjutkan hubungan dengan berbagai macam masalah yang muncul. Di awal-awal saya masih melihat batasan-batasan norma agama, sosial dan budaya sebagai warga Korea Selatan yang patuh dan menjunjung tinggi adat. Tidak banyak saya melihat adegan-adegan khusus bahkan yang mengarah ke ranjang. Saya simpulkan sementara bahwa remaja Korea Selatan memang sama, bahkan dari puluhan drama yang telah saya saksikan.

Namun kemudian cerita berubah. Si gadis ini lalu hamil..

Sungguh perasaan saya jadi ILL FEEL!!

Saking marahnya pada diri sendiri karena menganggap bahwa drama Korea adalah cermin dari masyarakat Korea, saya jadi berekspresi suntuk. Judul drama ini dengan perasaan marah saya ganti menjadi ‘THE FLOWER HAS DAUGHTER”. Meskipun dia melahirkan anak laki-laki. Saya sadar ini hanya drama, semua sudah diatur oleh sutradara. Bagaimana sebenarnya kehidupan remaja Korea Selatan itu sebenarnya, wallahu alam.

Pada dialog ini

Gadis : Ibu, maaf ibu, saya sebenarnya sudah hamil 2 bulang

Ibu : Apah? Hamil?

Ini dialog yang menurutku menyeramkan, saya memprediksikan dialog selanjutanya adalalah kemarahan sang ibu kepada anak bahwa hamil di luar nikah itu adalah pelanggaran agama dan adat Korea Selatan. Toh sahabat si gadis juga diamarahi oleh orang tuanya bahwa hamil di luar nikah itu adalah salah, yang benar adalah nikah dahulu kemudian baru hamil. Hal itu betul-betul saya benarkan. Artinya wanita ibunda dari sahabat si gadis ini menunjukkan kepada audience bahwa di Korea Selatan wanita dan pria itu haru menjalankan nikah terlebih dahulu baru kemudian hamil dan melahirkan. Saya anggap norma ini sudah dipercayai oleh masyarakat Korea Selatan seperti itu.

Namun dengan adanya dialog ini, saya benar-benar menjadi ILL FEEL lagi.

Gadis : Maafkan saya bu

Ibu : Seharusnya kamu bilang pada ibu kalau kamu hamil, kamu tidak bisa rasakan itu sendiri.

Kenapa sang ibu kemudian mengatakan hal itu, dan bukannya memarahi putrinya bahwa ini adalah perbuatan asusila dan tidak dibenarkan oleh adat dan budaya Korea Selatan.

Saya benar-benar tidak habis pikir.

Namun sekilas, dari puluhan judul yang saya saksikan, beradegan sama. Semua masih didasari akhlak dan budi luhur yang tinggi. Dan dibumbui dengan kehidupan dan zaman yang sangat berkembang di KORSEL.

 

Aneyongseo

Ribet Sarungan

Make sarung Bugis? Wah belum pernah. Baru kali ini nyobain dengan segala macam rasa dan upaya. Tapi akhirnya berangkat juga aku ke lokasi preliminary cultural night yang diadakan IKAMI Malang. Mereka bilang akan ada cultural dances. Wah kalau denger-denger dance aku langsung bergejolak. Pengen lihat maksudnya. Aku selalu antusias kalau disuruh menyaksikan tari-tari adat SULSEL.

Etapi kalau kostumnya nggak mendukung ya nggak asik dong. Itulah kemudian kubongkar almariku, masih inget aku punya satu koleksi baju bodo yang belum pernah sama sekali kupakai. Lucu juga bikin baju bodo tapi nggak tau akan dipakai kapan. Aku hanya berharap aja, siapa tau terpakai. E-bener ternyata baju bodo itu sudah kurencanakan akan kupakai di kegiatan IKAMI Malang nanti. Malam tlah tiba, dah pasti hari semakin dingin. Ini Malang bro, dan aku lupa bahwa malam itu dingin sekali.

Cepat kupakai sarung yang kubeli di Sidrap bulan Oktober lalu. Ini berhubung sudah malam, aku belum sempat browsing-brosing tutorial gimana pakai sarung Bugis. Koq tutorial youtube yang ada cuma hijab mulu. Beghh.. Aku berusaha make sarung ini dengan segala cara sampai keringetan gobyoss. Kipas angin dah kustel nomor 3 tapi masih aja gobyos. Mbuh nggak tau goobyos itu apa bahasa Indonesianya. Tapi yang jelas belum berangkat ke Asrama Hasanuddin aku sudah berpeluh-peluh gara-gara ini sarung. Pengen jadi orang Sulawesi koq susah amat yak. Ini belum berangkat ke kondangan dah kayak gini. Kulihat prof. Andi Ima Kesuma nggak gini-gini amat. Penampilan baju bodo beliau selalu sangat bersahaja.

Ya maklum lah, belum pernah. Tapi akhirnya jadi juga dengan teknik mbulet-mbulet trampil. Berangkat lah kukesana. Ini kedodoran atau tidak aku nggak paham. Yang panting dah kupake dan nggak ketinggalan jaket hijauku dari almamater Humaniora sudah pasti tak ketinggalan. Setelah kustar motor melajulah aku menuju asrama Hasanuddin. Sesampai di belakang kampus UIN yang masih ada beberapa petak sawah koq jadi terasa agak semriwing gitu ya. Alias dingin menggigit. Aku nggak sadar kenapa.. Baru kutau dan baru nyadar aku nggak pakai rok dalam.. Jadi cuma sarungan aja nih!

Pantesan dinginnya, nusuk!

Aku nggak lihat temen-temen cewek IKAMI itu biasanya pake rok, celana panjang atau legging. Nah aku?

Aku lupa.. hahahay

Nah waktu dah duduk dengan temenku, baru kenal disana sebenarnya, Daeng Muhammad Nur namanya.. Wah jadi agak salah duduk dan salah tingkah gara-gara ni sarung. Agak gengsi juga karena tadinya sombong-sombong bilang beli sarung Bugis di Sidrap. Eh ternyata jangankan duduk, naik motor aja kedinginan.. Weleh-weleh :D

Padamu Sahabatku

Ini adalah waktu terpedih yang pernah kurasakan. Waktu dimana aku mengenang seseorang yang kusayang. Ada dua lagu yang kudendangkan hingga tak lepas-lepas kuhembuskan dalam bisik. Aku benar-benar kehilangan dia, keceriaannya, kelincahannya, manjanya.

Everybody’s changing

You say you wander your own land
But when I think about it
I don’t see how you can
You’re aching, you’re breaking
And I can see the pain in your eyes
Says everybody’s changing
And I don’t know why

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

You’re gone from here
And soon you will disappear
Fading into beautiful light
Cause everybody’s changing
And I don’t feel right

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

Dan lagu yang ini, aku hanya diam mengenangnya dengan mendendangkan lagu ini. Air mataku bertetes-tetes mengalir deras tanpa hulu. Aku mengenangmu sahabatku.

“Don’t Speak”

You and me
We used to be together
Everyday together always
I really feel
That I’m losing my best friend
I can’t believe
This could be the end
It looks as though you’re letting go
And if it’s real
Well I don’t want to knowDon’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurtsOur memories
Well, they can be inviting
But some are altogether
Mighty frightening
As we die, both you and I
With my head in my hands
I sit and cry

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts

It’s all ending
I gotta stop pretending who we are…
You and me I can see us dying…are we?

Don’t speak
I know just what you’re saying
So please stop explaining
Don’t tell me cause it hurts (no, no, no)
Don’t speak
I know what you’re thinking
I don’t need your reasons
Don’t tell me cause it hurts
Don’t tell me cause it hurts!
I know what you’re saying
So please stop explaining

Don’t speak,
don’t speak,
don’t speak,
oh I know what you’re thinking
And I don’t need your reasons
I know you’re good,
I know you’re good,
I know you’re real good
Oh, la la la la la la La la la la la la
Don’t, Don’t, uh-huh Hush, hush darlin’
Hush, hush darlin’ Hush, hush
don’t tell me tell me cause it hurts
Hush, hush darlin’ Hush, hush darlin’
Hush, hush don’t tell me tell me cause it hurts

Musik di Girimulyo

Ada apa di Girimulyo? Girimulyo yang tak kutemukan di internet, GPS, Google Earth, Google Map dan Foursquare kupun membuat aku penasaran. Sebuah desa yang cukup luas terbentang di pegunungan Karst sebelah selatan Yogyakarta. Pegunungan yang cukup unik, keras, hitam, dan hanya bebatuan yang sering nampak. Tanah menjadi terlihat jarang. Namun desa Girimulyo penuh dengan pohon Jati, tidak sedikitpun terlihat desa ini gersang, airpun tak sulit ditemukan meskipun baru saja muncul pipa-pipa di sekitar situ. Pemandangan yang masih sangat hijau ini sungguh menyegarkan mata-mata yang sudah sumpeg dengan kepulan asap di kota Malang. Hiruk-pikuk kota metropolitan kedua di Jawa ini membuatku menjadi semakin penasaran terhadap desa yang cukup unik. Dua malam aku habiskan di desa ini. Mungkin bagiku yang lahir besar di kota ini adalah pemandangan langka, desa yang tak kutemukan di internet. Berkali-kali aku browsing nggak ketemu-ketemu penjelasan mengenai desa ini. Kecuali desa ini, Girimulyo, adalah desa binaan seorang professor nyentrik, dosen promotor temenku di UGM, Professor Kuntjoro.

Seorang dosen senior di bidang Psikologi yang biasa dipanggil Romo ini kemudian sempat disebut-sebut oleh pembawa acara sekaligus ketua komunitas musik Gejlog Lesung, musik bernuansa semi mistis, sang ibu yang mengawali permainan dengan introduction yang cukup rumit kupahami bahasanya. Bahasa yang sudah menjadi native bagiku ini sebenarnya hanyalah bahasa Jawa asli, bahasa Jawa dialek Jawa Tengah yang masih sangat murni, jauh bedanya dengan bahasa biasabahasa  Jawa yang kuucapkan di kota Malang. Sang ibu berkostum khas Jawa Tengah, berkebaya langsing, begitupun dengan pemain2 nya yang memakai lurik dan berkain sewek lurik pula, sang ibu ketua komunitas mengenakan sanggul cempol kecil yang cukup rapi meskipun rambutnya pun sudah dipenuhi oleh uban. Namun ibu yang sudah cukup sepuh ini justru tampil lebih apik. Beliau bergoyang sambil mengitari teman-temannya selama

Gejlog lesung

memukul lesung, beliau sangat menikmati musik tradisional tersebut. Terbukti dari lemas gemulai tubuhnya yang meliuk seiring lagu-lagu dinyanyikan.

Desa Girimulyo memiliki kondisi geografis cukup ekstrim. Dari rumah ke rumah, dari dukuh ke dukuh, dari dusun ke dusun semua sama, harus melalui jalan terjal dan menanjak, naik turun yang sangat ekstrim elevasinya. Bisa mencapai 80 derajat kemiringan. Dan kalau beruntung kita bisa melalui jalan aspal yang kadang bagus. Kalau tidak beruntung kita akan menginjak batu-batu Karst yang menghiasai seluruh geografi desa Girimulyo. Sungguh indah meskipun melelahkan.  Pemandangan yang cukup unik juga selain itu adalah beberapa makam yang kami temui disana tidak seperti makam di Yogyakarta pada umumnya. Makam di Girimulyo sangat unik dan eksotis, semua makam tiap individu nya ditutup oleh rumah kecil beratap genteng. Sehingga apabila dipandang dari atas, kebetulan makam Girimulyo terletak tepat di depan rumah kediaman Professor Kuntjoro, terlihat seperti rumah kost yang kecil-kecil. Kami mengira seperti itu. Saat kulihat dengan jelas dan lebih dekat ternyata itu adalah sebuah bangunan makam, khas dari belahan desa di Gunung Kidul itu.

Alu dipukul, lesung pun bergema mengikuti pukulan alu ibu-ibu desa Girimulyo. Lagu-lagu yang dialunkan adalah lagu-lagu berbahasa Jawa yang sangat syahdu. Malam yang cukup gelap itu sangat mendukung suara-suara semi mistis nan indah. Aku ternganga dan menikmati alunan musik pukul Gejlog Lesung ini. Saat mulai malam, 3 lagu Jawa telah dilantunkan, tiba-tiba pak Abdullah temenku mengambil mike dan mendadak menyanyikan lirik baru tanpa rencana. Benar-benar fantastis bapak ini. Inilah liriknya, sebuah shalawat..

Sholawat Kuntjoro

Sholatullah salamullah

Ala Thoha rosulillah

Sholatullah salamullah

Ala yasin habibillah

Paling enak wong Girimulyo

Nyambut gawe karo noto jiwo

Urip mulyo rukun karo tonggo

Berkat bimbingan Professor Kuntjoro

Dadi manungso ojo keparat

Gak gelem ngaji ora gelem sholat

Ilingo akhirat ora ono sego berkat

Onone mung godone moloekat

Sebuah lirik mendampingin gema shalawat Gejlog Lesung ini menjadi sebuah lirik baru yaitu Sholawat Kuntjoro. Prof Kuntjoro yang saat itu duduk di kursi menyaksikan dengan seksama menjadi terkekeh-kekeh saat nama beliau disebut di dalam lagu sholawat ini. Beliau sangat menikmati kolaborasi Malang-Yogyakarta seperti yang disebut oleh temanku pak Mahpur yang mahasiswa bimbingan disertasi prof Kuntjoro ini.  Kolaborasi ini memancing teman-temenku untuk menggapai alu-alu di dalam lesung yang masih belum terpakai. Akhirnya pemain-pemain Gejlog Lesung pun berubah formasi menjadi temen-temen dari Malang dengan penyanyi pak Abdullah yang telah menciptakan lirik baru tadi.

Akhirnya berakhir dengan lagu-lagu Jawa kembali, akupun kembali ke kamar masing dengan tertidur cukup pulas bermimpi kan suara lesung yang damai. Suara yang masih sangat kuat menemani mimpiku malam itu. Suara sebuah kayu utuh dan besar yang menghasilkan irama-irama indah.

Pantai gesing

Keesokan harinya kunjungan next tripku ini cukup heboh, Pantai Gesing. Pantai di sebelah selatan desa Girimulyo yang sangat terpencil dan mungil, namun indah luar biasa. Pasirnya sangat lembut hingga aku malas beranjak dari sana. Batu-batu karst di sekeliling pantai masih terlihat cukup spektakuler menjadi bagian dari tanjung pantai. Inilah yang membuat ikan-ikan banyak berkumpul disana. Sehingga waktu aku datang ke pantai ini, santapan ikan yang sangat mewah dan banyak sekali menjadi makan siang kami saat itu. Belum lagi kelapa muda berpuluh-puluh glundung kelapa menjadi minuman alami ku saat itu, jadi inget iklan-iklan di pantai yang sambil nyeruput kelapa muda. Biasanya aku minum di gelas dan hanya setengah butir kelapa, kini aku harus menghabiskan sebutir kelapa yang cukup heboh besarnya. Rasanya manisss poll!

Pohon-pohon jati yang mengelilingi seluruh desa Girimulyo ternyata juga menyimpan beberapa species anggrek. Memang sudah lengkap kalau desa ini dikembangkan menjadi desa wisata. Belum lagi ada satu pertunjukan rebana milik warga desa Girimulyo juga yang bisa dijadikan agenda budaya saat berada disana. Untuk itu memang persiapan Desa Girimulyo menuju Desa Wisata dan Budaya menurutku sudah sangat siap. Infrastruktur bukan menjadi halangan kembali. Tidaklah sulit menuju desa ini sebenarnya. Dan kita akan menyaksikan sekelumit Yogyakarta berbentuk mini di Girimulyo.

Ayok kesana

Perjalanan Nostalgia

Yogyakarta memang tak pernah hilang dari ingatanku. 25 tahun lalu saat aku akan menginjak bangku perguruan tinggi, untuk pertama kalinya aku ke Yogyakarta. Ingatanku tak pernah musnah sampai sekarang. Kota yang berbeda dengan Malang kota kelahiranku. Semua tak sama, sampai makanannya pun. Itu tak pernah luput dari mimpiku hingga sekarang. Jalan Timoho, tempat kostku berhadapan dengan jalan besar, sekitar beberapa meter dekat kampus IAIN Sunan Kalijaga. Tiap pagi aku selalu diributkan dengan ibu-ibu penjual makanan yang membawa bakul di pungungnya. Deeen.. deeen begitulah cara ibu penjual memanggil dan menjajakan dagangannya. Kadang ada nasi gudeg, nasi kucing, tahu bacem, tempe benguk dll. Wah pokoknya enak semua. Aku suka semua makanan disana meskipun manis. Nggak tau kenapa.

Herannya tempat kostku itu koq berdempetan dengan rumah kost kakaknya pacar. Hahaha.. Maka yang terjadi adalah sekali pernah diajak jalan-jalan sama kakak ipar itu ke istana raja. Nah ini aneh nggak, masak jalan-jalan sama kakak ipar.. !@#$%^&*)(*

Shopping centre yang saat ini berubah nama menjadi Taman Pinter Bookstore adalah salah satu tempat jalan-jalan favoritku. Dulu namanya shopping centre, atau sering disebut shopping aja. Hampir semua jenis buku ada disana. Bahkan ada skripsi, laporan, dll. Buku yang kucari koq ya tersedia, dan dengan mudah si mbak nya menemukan. Wah bener-bener hebat para penjual buku ini. Apapun bidang yang kita tanyakan dia seperti browser. Ada aja.. Hebat mbak, aplos untukmu. Qeqeqe..

Di pasar Bringharjo lebih unik lagi, saat pertama saya datang disana tahun 1989 ada penjual es rujak cuka tepat di depan pasar. Beberapa tahun kemudian saat saya kesana..eh..lhakoq masih disitu juga. Hebat sekali ibu itu, bertahan di jalan besar depan pasar itu bukan barang mudah. Saat kutanya beliau ternyata adalah orang yang sama yang pernah kutemui dulu. Es rujak cuka nya henaakk bukk.. Jadi pengen. Aku ke Yogyakarta seminggu lalu beliau sudah tidak ada. Hiks.

Ada beberapa jajanan yang dijual di dalam pasar, ada yang berhenti dan ada yang sambil jalan. Seperti contoh yang jual es kelapa muda dan es teh dalam gelas. Wah instan sekali itu. Dalam pasar Bringharjo memang cukup panas suhunya. Dan tiap saya kesana selalu pada saat panas-panasnya. Beeghh.. Es kelapa muda dan es teh itu begitu menggoda. Salah satu mbak penjual baju batik langgananku itu dah paham kayaknya. Simbak itu bilang kalau mau naruh gelas es kelapa mudaku ada di bawah dekat meja tepat dia duduk. Aku sampai tertawa-tawa. Mbak ini tau banget kalau aku haus. Dia juga nggak habis-habis nyalain kipas angin di belakangnya. Ternyata kepanasan juga ya..

gempol plered

gempol plered

Sempat malam itu aku mampir di angkringan Pakualaman. Wah makanannya lucu-lucu dan enak pula. Teh pocinya itu..waduh jadi pengen ngembat poci tanah liatnya. Qeqeqeqe..  Pokoknya nggak bisa lupa. Pengennya duduk disitu aja sampe pagi. Tapi nggak mungkin kan.

Bakpia itu ternyata murah kalau beli di pasar Bringharjo, nggak ada merknya, bungkusnya mika, dan yang jelas harganya murah bok! Ini harusnya sekotak bakpia pathuk no 25 itu dibandrol Rp. 25.000. Nah ini cuma ceban. Murah kan! Dan rasanya? Gak usah jaim-jaim dah. Kita nggak perlu pake yang mahal-mahal, sama aja koq. Makan sambil merem aja lah. Paling juga sama. Hihihi..

Ke candi Prambanan memang asyik, tapi apabila anda lagi terburu-buru sebaiknya jangan kesitu deh. Habis rute mengelilingi candi itu nggak boleh di cut begitu saja. Dan jauhnyaaa.. Naudzubillah!

Gudeg memang lezat, mungkin pasar tradisional adalah tempat orang-orang jujur.  Maka di pasar tradisional lah aku coba untuk mencari gudeg. Setiap berada di kota manapun, yang selalu ingin kulihat adalah pasar tradisional. Dan memang ternyata ketemu, semua ada di pasar. Dan yang pasti murahhh.. hehe

Jalan-jalan di Yogyakarta memang nggak pernah akan membuatku bosan. Sampai kapanpun Yogyakarta akan menarikku kembali kesana. Seperti lagunya KLA Project.

Banjir Nan Heboh

Kemarin siang hujan tak berhenti-henti di Malang, hampir selama 3 jam. Sehingga jalan-jalan pun tumpah ruah dengan air bah seolah tak bisa menampung curah hujan yang banyak itu. Di beberapa titik dan ruas jalan di kota dingin ini menjadi tertutup ratusan kubik air sehingga roda-roda motor pun tinggal separo. Termasuk MX bututku. Orang-orang yang membawa motor-motor matic harus merelakan motornya di bawah rinai hujan harus nuntun sampai kemana kutak tau, orang hujannya kayak gitu. Saking deresnya, melihat aja jadi nggak jelas. Di jl. Bandung yang full pohon rindang menjadi sangat gelap karena tertutup pohon dan air hujan yang terus menetes. Jalan veteran yang cukup luas itu, tinggi air hingga melebihi trotoar. Terlihat di depan Matos, seorang gadis melepas sepatunya dan menginjakkan kakinya di jalan besar. Eh ternyata hampir semata kakinya tenggelam. Karena ragu dia bali lagi ke trotoar matos. Hihihi

Perjalananku ke Gondang Legi memang berat kali ini. Dari berangkat sampai pulang kembali banjir disana sini. Roda motor MX bututku sudah mencapai 60% tenggelam, termasuk sandalku. :( . Tapi sebagai aremanita sejati aku hapal setiap lubang, tikungan dan lampu merah jadi banjir yang menutupi di semua ruas jalan kota aku terjang semua kayak punya sayap. Motor revo itu yang sungguh-sungguh terlihat terbang kalau melintasi air-air bah. Huftt.. Tapi lumayan juga banjir-banjir gini, jadi serasa naik veri Joko Thole di selat Madura. Lumayan terhibur meskipun dinginnya gila amat. Pfft..

Badan sudah mulai terasa basah saat masuk di jalan embong brantas, di atas jembatan. Celana panjangku bagian bawah sudah basah separo, padahal tertutup jas hujan. Belum lagi di leher, ada bajuku dan ujung lengan ada jaketku. Semua terasa dingin. Beberapa kali melalui air yang hangat. Tapi ku curiga, air apa ini. Jangan-jangan air..  !@#$%^&*)( !

Sesampai di Gondang Legi emang nggak hujan. Eit jangan salah. Waktu mau pulang hujannnya datang. Dan derasnya dah ampun-ampun. Gelap di sekitar pabrik gula krebet, ternyata ada lampu-lampu lucu dipasang di depan pabrik. Ada yang gambar kelinci, ada yang gambar kucing. Wah pemandangan indah nih, di saat deras-derasnya air tempias ke mukaku. Hahahay..

Sesampai dirumah rasanya perut penuh, penuh air hujan. Dari tadi minum mulu :(

Bon Jovi di Havana

Pagi itu masih dingin aku harus segera berangkat ke Surabaya untuk menemui professorku di kampus IAIN. Bus Havana yang kunaiki saat itu begitu  laju. Entah kenapa hatikubegitu galau. Benar-benar butuh energi dan rasa yang cukup. Aku masih tak bisa konsentrasi berada di dalam bis ini. Berkali-kali air mataku mengalir deras tak habis-habis. Entah kenapa juga nggak bisa habis. Aku masih belum bisa menerima beberapa statemen-statemen yang telah diungkapkan oleh sahabatku ‘Surya’. Ucapan-ucapannya begitu menembus perasaan dan otakku. Semalam aku tak bisa tidur, itupun sambil menangis sehingga mataku bengkak saat paginya. Masih saja aku tak bisa lupakan apa yang dia bilang semalam sehingga air itu masih pelan-pelan mengalir melalui hidung dan pipiku. Bahkan air itu sudah mulai mengental, masih saja membasahi. Aku yang tak sempat menyiapkan tisu saat berangkat berkali-kali mengusap-usap kelopak mataku dengan jaket merah posdaya. Kain jaket yang cukup keras itu begitu menyakitkan menempel pada kelopak mataku. Kulihat bekas-bekas bedakku menempel disana.

Aku tertegun dengan lagu-lagu lawas yang dimainkan di video dalam bis tersebut. Salah satunya adalah lagu Its My Life oleh Jon Bon Jovi. Videonya unik banget. Seorang pria yang lari sekuat-kuatnya dikejar oleh sekawanan anjing hingga jauh. Ini anjing mengejar atau orangnya memang sengaja lari kencang aku kurang jelas melihat hal itu. Nah si Jon yang nyanyi di panggung sambil sekali-sekali tersenyum lama-lama kulihat seperti Aril Noah. Masih saja Jon Bon Jovi melantunkan lagunya, masih saja air mata di pipiku mengalir deras. Aku nggak bisa membendungnya. Saat sang pria sampai di panggung tempat Bon Jovi dan ternyata kekasihnya telah menanti disana. Entah kenapa kemudian dadaku rasanya perih dan dilanjut dengan derasnya kembali air mataku yang tak bisa kubendung. Kelopak mataku semakin bengkak saja.

Beberapa kali kulihat tulisan-tulisan di jalan ‘Surya’. Ada surya motor, surya cell, bahkan aku diberi koran ‘surya’ saat bis masih menunggu penumpang. Aku jadi tak kuasa karena menunggu pertanda. Apakah ini yang akan terjadi.

This ain’t a song for the broken-hearted

No silent prayer for the faith-departed

I ain’t gonna be just a face in the crowd

You’re gonna hear my voice When I shout it out loud 

It’s my life It’s now or never I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just wanna live while I’m alive It’s my life
This is for the ones who stood their ground For Tommy and Gina who never backed down

Tomorrow’s getting harder make no mistake Luck ain’t even lucky

Got to make your own breaks
It’s my life And it’s now or never I ain’t gonna live forever I just want to live while I’m alive (It’s my life)

My heart is like an open highway Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive ‘Cause it’s my life
Better stand tall when they’re calling you out Don’t bend, don’t break, baby, don’t back down
It’s my life And it’s now or never ‘Cause I ain’t gonna live forever

I just want to live while I’m alive (It’s my life) My heart is like an open highway

Like Frankie said I did it my way I just want to live while I’m alive

Aku mengira pasti nanti sang surya akan datang menemui atau menghubungiku. Aku sudah tak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi lagi. Aku bener-bener main prediksi akan apa yang akan terjadi. Dan Oh My God, hal itu benar-benar terjadi. Surya benar-benar datang ke dekat meja kerjaku yang membuat aku kaget sekaget-kagetnya. Karena jauh sebelumnya tadi saat aku di bis aku sudah tau hal itu akan terjadi. Jarang-jarang Surya datang ke kantorku. Aku bersembunyi di balik meja yang kebetulan aku duduk di lantai. Kakiku yang sakit karena telah alami perjalanan jauh memaksaku untuk duduk selonjor beralas koran. Aku duduk terselubung mejaku. Dan Surya tau-tau kemudian memanggil dari pintu.

Aku masih shock dengan bis yang kutumpangi tadi laju ugal-ugalan. Aku juga masih bingung setelah sesampainya dari Surabaya, aku bicara dan menghampiri bosku. Aku pamit setelah sampai, bukannya pamit saat akan pergi. Mungkin beliau kurang ok dengan caraku ini hingga aku sendiri masih berusaha untuk menempatkan diriku yang sudah salah pergi tanpa pamit. Saat aku masih bersungut-sungut bersembunyi di balik mejaku, Surya datang menyapa dan aku yang masih terbawa shock, cape, dan galau akut. Sehingga aku tak bisa membalas sapa sahabatku sang Surya itu.

Surya.. :’(

Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

Bersyukur

5 karung beras dari berton padi panenan dai sebuah desa.. Beras yang selama ini sempat juga kucicipi. Tidak sepanjang waktu, karena beras ini cuma panen sekali dalam setahun dan dikonsumsi beberapa bulan saja. Selebihnya balik lagi, lagi-lagi harus beli berkarung-karung beras, mencari yang paling bawah. Namun demikian masih saja ku heran. Beras ini harganya lumayan, tidak terlalu mahal, tidak juga murah. Namun rasanya masih jauh lebih nyaman (Madurese). Nyaman adalah istilah yang artinya enak. Rasa beras ini masih lebih sedap dibanding rasa beras yang dipanen oleh paman. Dan entah kenapa beras panenan baru itu berasa seperti mentah dan berair. Walaupun sudah diolah sedemikian rupa, dengan alat yang berbeda-beda, rasanya masih tetap seperti mentah. Dan sedikit berair.

Entah kenapa kemudian rasa nasi dari beras panenan yang tak begitu penting itu jadi mengganjal ya. Ini karena nasi adalah makanan pokok sehari-hari orang Indonesia. Sehingga nasi menjadi komoditi penting masyarakat khususnya Indonesia. Beberapa orang mengatakan sehari kalau belum makan nasi, rasanya belum makan. Sudah makan siang di kantor berupa bakso, rujak, es dan sebagainya, saat pulang masih saja nengok dapur untuk melihat nasi. Sehingga rasa dari nasi yang dimasak baik secara tradisional maupun modern menjadi sangat penting.

Beberapa karung beras dipanen dan datang ke rumah. Biasanya kami menghabiskan beras beli di warung untuk masak sehari-hari. Nah hari ini akan ada menu beda, Nasi Beras Panenan. Rasanya aku sudah hapal dengan beras ini. Tapi sayang banyak persepsi tentang itu. Semua makanan, sayuran, buah, lauk dll pasti punya rasa. Sebagai contoh pare itu pahit, tapi kita tetap mengkonsumsinya, bahkan bisa dipakai sebagai obat diabetes. Contoh lain, cabe itu pedas. Tapi makan jadi tidak lezat tanpa adanya sambel. Kita makan juga kan! Dan lalu beras ini. Beras ini berasa lembek dan berair. Malah terkesan bau saat dimasak di magic jar. Namun bukan karena kita tidak mau bersyukur. Tidak sama sekali. Rasa nasi dari beras panenan itu memang seperti itu. Tepat seperti saat kita mengatakan pare itu pahit, tapi teteup kita makan juga. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan tidak mau bersyukur. Sekali lagi semua makanan, minuman, sayuran dan buah iu semua memiliki rasa yang tentunya beda.

Bingung mau mengatakan itu adalah komentar atau sebutan. Kalau komentar dibilang tidak mau bersyukur. Lah kalau sebutan. Misal beras ini lembab, pare ini pahit, jamu ini pahit dll. Sayang sekali kata tidak bersyukur itu sudah terlanjur terlontar. Yang jelas tidak ada sedikitpun melecehkan rasa itu, apalagi tidak bersyukur.

Wallahu a’lam