Lebaran Kemarin

Lebaran kemarin menyisakan kenangan yang indah, sebuah ilmu kuliner yang ok. Tidak semua ku yakin akan mencicipi. Hanya beberapa teman menceritakan apa saja hidangan yang dipersiapkan untuk menyambut lebaran. Hidangan yang disantap sepulang dari shalat Ied.

Seperti contoh, si Endang sahabatku yang orang Banyuwangi tetapi tinggal di Bali. Kesempatan lebaran kali ini dia habiskan di Jember, di kediaman mertuanya. Endang yang doyan masak kemudian mempersiapkan hidangan ala dia, standar buat lebaran memang. Hanya saja dia tambahkan menu favorit dia rujak ulek Jawa Timuran. Seperti biasa dia mempersiapkan menu kare ayam, ketupat, dan pernak-pernik pendamping seperti kerupuk dan sambal. Untuk rujak uleknya Endang memang lebih suka mendapatkan petis yang sesuai. Mungkin petis di Banyuwangi atau bahkan di Denpasar kediamannya, beda dengan petis di Jember Jawa Timur. Kadang rasa petis yang banyak variasi memberikan sensasi pada para penikmatnya. Ada yg suka manis, ada yg suka asin atau keduanya. Di Banyuwangi ada kuliner yang cukup terkenal yaitu rujak soto. Kalau rujaknya tidak mempergunakan petis yang sesuai maka rasa rujak soto nya menjadi kurang lezat. Selain itu Endang juga menyiapkan hidangan pedas ala Banyuwangi yaitu lontong Sayur Pedas. Dan juga Daging masak Kecap dan Soto Daging. Kayaknya beberapa macam daging yang berbeda diolah dengan resep yang berbeda pula. Jadi mirip masakan mertuaku di Bandung.

Melalui BBM beberapa teman-teman di daerah menceritakan berbagai jenis hidangan Indonesia khas daerah masing-masing. Aku selalu senang dan antusias mendengarkan cerita mereka disana. Ada Jazuli teman di pasca yang tinggal di Malang, namun berasal dari Pamekasan pulau Madura. Sesuai dengan kebiasaan kuliner Madura baik di rantau maupun di pulau Madura sendiri, Jazuli menceritakan bahwa hidangan lebaran di rumah dia di Pamekasan adalah kebiasaan turun temurun yaitu menyediakan sate Madura. Saya tidak mengira bahwa sate Madura menjadi bahan santapan di hari Lebaran. Saya kira sate Madura hanya dijual di warung-warung sate dan tidak dikonsumsi di rumah. Selain sate Madura, keluarga Pamekasan biasa menghidangkan gulai Kambing saat lebaran dan soto Sumenep yang khas. Soto Sumenep berkuah bening yang ditaburkan bawang goreng, daun seledri dan berasa jahe. Itu penuturan sahabatku Basri Zain yang alumni Arkansas University.

Beda lagi dengan sahabatku mbak Laily Fitriani yang berasal dari Bondowoso. Keluarga mbak Lel, nama panggilannya biasa mengolah masakan ayam dan daging dengan bumbu merah dan kecap. Kebetulan dia tidak menyebutkan detil kuliner nya. Hanya saja yang dia ceritakan adalah saat lebaran, keluarga mbak Lel selalu mengawali dengan doa sebelum menyantap hidangan lebaran. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan hidangan satu menu ke  tetangga-tetangga terdekat. Sehingga saat lebaran keluarga mbak Lel sengaja masak extra karena akan dibagi-bagikan ke tetangga. Selain mbak Lela ada 3 adiknya yang semua sudah berumah tangga dan sudah membawa anak masing-masing sehingga  mereka juga mempersiapka hidangan-hidangan yang tidak pedas khusus untuk anak-anak. Hidangan yang disukai anak-anak seperti sop sayuran dan telur mata sapi.

Adik ipar yang tinggal di Probolinggo itu juga jago masak. Dan doyan makan juga. Kebetulan sekarang lagi hamil sehingga suka sekali masak untuk disantap. Waktu kutanya masak apa buat lebaran, dia bikin-bikin masakan macam-macam. Kebanyakan masakan-masakan modern, bukan masakan klasik yang selal dihidangkan saat lebaran semisal rendang, opor dll. Di Wulan nama panggilan yang selalu kusebut mempersiapkan hidangan Gado-gado, Opor Ayam, Nasi Kuning dan bahkan masih buat bakso Malang. Lebaran yang identic dengan ketupat justru keluarga dik Wulan menyediakan nasi Kuning. Dia yang keturunan etnis Madura bilang kalau kebanyakan keluarga Madura di Probolinggo justru mempersiapkan nasi Kuning ketimbang ketupat atau lontong. Dia juga tak lupa mempersiapkan sambal goreng kentang seperti adat kebiasaan di rumahku di Malang. Di Probolinggo sambal goreng kentang disebut Sambal Semarang. Entah dari asal nama makanan ini, apa dari Semarang atau bagaimana. Campuran Sambal Goreng Kentang ini adalah telur puyuh yang biasanya di rumah kami di Malang dicampur dengan hati dan ampela ayam. Gado-gadopun sepertinya kurang tepat disajikan saat lebaran tapi justru membuat suasana lebaran bertambah meriah agar tidak hanya daging-daging saja yang disantap.

Hal ini justru menjadi hidangan termewah di keluarga Ambon, keluargaku. Di Ambon, hidangan lebaran paling mewah dan mahal adalah Gado-gado sehingga saat lebaran hidangan gado-gado ini menjadi primadona. Hal ini karena bahan gado-gado yang sulit didapat di Ambon seperti daun selada, wortel, kol, tahu tempe dan kentang. Untuk kecambah, kacang tanah, telur dan cabe sebagai bumbunya banyak tersedia. Termasuk emping belinjo. Namun belinjo juga tidak diolah menjadi emping karena mereka tidak bisa mengolahnya. Justru krupuk kecil untuk taburan itu yang tidak ada. Mereka mengimpor krupuk Fina yang lumayan mahal tersebut dari Surabaya. Di Ambon ada adik kandungku yang tinggal disana si Silfi. Dia sudah menetap di Ambon sehingga sudah menggunakan adat istiadat Ambon saat lebaran. Biasanya keluarga Ambon suka menyediakan masakan dalam bentuk banyak karena dipersiapkan bagi keluarga yang sewaktu-waktu datang. Persiapan makanan mentah juga harus ada untuk 5hari sampai seminggu ke depan karena di Waimangit desa di mana adikku tinggal tidak ada pasar. Kalau berbelanja harus ke kota yang jauhnya 100km. Saat mendekati lebaran sudah tidak ada lagi orang melaut atau mengail istilahnya. Atau ke ladang. Sehingga persiapan bahan sangat dibutuhkan. Orang Ambon memelihara ayam dan menyimpan telurnya jauh-jauh hari sebelumnya. Telur-telur ayam kampung itu adalah untuk persiapan membuat kue. Ada banyak kue lebaran yang dibuat, seperti lapis legit, kue kering, dll. Daging rusa juga menjadi hidangan mewah saat lebaran. Saat puasa akan beruntung sekali bila menemukan rusa di hutan. Daging-daging rusa dipotong besar-besar dan diasap. Sebelum dimasak, daging rusa direbus dulu cukup lama, baru kemudian diolah kembali menjadi masakan Tumis Daging Rusa pedas yang lezat itu. Mereka memakai sebutan untuk memotong ayam, sapi atau rusa adalah BUNU. Yang artinya menyembelih. Kebetulan adik beli ayam potong di kota, dan lekas dibawa ke desa Waimangit untuk diungkep dulu supaya tidak basi. Saat saudara datang tinggal diolah kembali menjadi masakan baru, digoreng atau digaru (ditumis dengan bumbu ulek). Sedangkan ayam tersebut sebelumnya sudah diungkep terlebih dahulu dengan bumbu bawang putih, ketumbar, jahe, kunyit dan garam. Ya mirip ayam goreng lalapan lah. Hanya kadang orang Ambon suka diolah kembali dengan bumbu cabe yang disebut digaru.

Di Lampung, temanku Nia Sarinastiti menceritakan adat istiadat di keluarga Lampung yang juga dipengaruhi oleh adat Palembang. Jadi saat lebaran hidangannya adalah tekwan, pempek dan rending daging sapi. Tekwan adalah masakan khas Palembang seperti semur yang didalamnya ada biji-biji seperti siomai mini yang terbuat dari ikan. Sayuran di dalam semur ini ada bengkuang dan kembang sedap malam. Kue-kue yang dihidangkan adalah dodol agar, lapis legit dan lapis ketan (semacam lapis legit yang terbuat dari tepung ketan).

Paulina sahabat ku di pasca berasal dari Gresik menceritakan bahwa di Gresik orang membuat bandeng yang diolah bermacam-macam. Seperti otak-otak bandeng, bandeng goreng presto, bandeng asap bumbu sate dll. Hidangan lebarang yang mirip dengan hidangan keluarga Indonesia seperti rendang atau opor, maka di Gresik dihidangkan hidangan khas yaitu nasi krawu. Nasi yang melegenda dank has kota Gresik ini kuncinya ada pada abon daging sapi resep Gresik. Abon ini tidak terlalu kering, agak sedikit basah dan bertekstur tebal. Di samping itu nasi krawu ini juga dilengkapi dengan lauk berupa jerohan yang dibumbu sedikit manis. Dan juga sambal bajak tak lupa sebagai pelengkapnya.

Putra yang dulu mahasiswaku, tinggal di Balikpapan menceritakan bahwa keluarga di Balikpapan banyak mendapat pengaruh terutama dalam kulinernya yaitu dipengaruhi oleh adat Bugis. Sehingga saat lebaran hidangan yang sering dipersiapkan disana adalah Coto Makassar. Adapula keluarga-keluarga Banjar yang membuat Soto Banjar untuk hidangan lebarannya. Coto Makassar berbahan jerohan sapi. Namun ada pulan yang memakai daging sapinya saja karena untuk menghindari asam urat. Bumbu Coto Makassar hampir sama dengan soto yang lain, kusebut soto nasional. Bumbunya adalah jahe, ketumbar dll. Sedang kemiri dalam hal ini diganti dengan kacang tanah. Untuk kunyit dalam hal ini tidak dipergunakan di Coto Makassar. Soto Banjar hampir sama juga dengan soto-soto yang lain. Hanya ada tambahan perkedal kentang yang dibentuk sebesar kelereng.

Itulah sekilas hidangan lebaran Nusantara.

Published by Ika

I am Rafter, Blogger, and Teacher

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *