Kiroto Boso

“Kiroto”, maksudnya “dikiro” atau lakukan dzikir agar “tumoto” atau tertata. Sedangkan, “boso” adalah bahasa, apakah berupa ucapan atau lisan dan tulisan maupun yang lainnya, seperti Bahasa Isyarat, Bahasa Tubuh dan sebagainya, di mana semuanya itu, merupakan ungkapan sebuah rasa seseorang.

Oleh sebab itu, “kiroto boso”, dimaksudkan adalah bahwa, bahasa itu tidak semata ucapan verbal atau tulisan yang terbaca dan dibunyikan oleh lisan manusia. Akan tetapi, bahasa yang sesungguhnya, itu erat berkaitan dengan rasa yang dihati (dzikir) untuk diperoleh sebuah ketatan atau tertatanya piranti kehidupan di semua sektor kebutuhan dasar hidup diri manusia.

Maka itu, kata kunci dari semua hal berkait tersebut di atas, terdapat pada kata “kiroto” dan “boso”; “dikiro”, lakukan aktifitas dzikir, agar “tumoto-bosomu”, tertata rasamu. Lakukanlah secara terus menerus kegiatan ber-dzikir, demi tertatanya sebuah rasa yang ada di dalam dada manusia, dialah iman, ilmu dan nikmat. 

Karena, kata, “dzikir” atau ingat, merupakan atau menunjuk kepada pekerjaan hati atau rasa, di mana ia berbeda sekali dengan kata, “menyebut”, sebab kata “menyebut”, menunjuk kepada perbuatan lisan. Maka, “dikiroto-boso”, berarti selalu ingatlah oleh rasa atau hidupkan rasa (boso) atau bahasamu, agar kehidupanmu menjadi tertata.

Dalam konteks ajaran agama (Islam) yang dibawa oleh Nabi Agung Muhammad saw, kata “dzikir”, menunjuk akan arti sholat atau hubungan diri mukmin dengan amin di tempat ingatan atau di tempat berhubungan yaitu di Baitullah (QS Thoha (20) : 14), (QS Ali Imron (3) : 96-97), oleh rasa atau nikmat yang bisa diketahui oleh ilmu yang di dalam dada setiap insan atau manusia (QS Al ‘Ankabut (29) : 49), (QS Ar Rahman (55) : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).

Oleh sebab itu, kata “kiroto boso”, dalam konteks dzikir dan sholat, dimaksudkan adalah lakukanlah dan tegakkan sholat agar diri mukmin selalu ingat di tempat ingatan, sehingga berjumpa dengan yang dingat, yaitu amin melalui rasa nikmat yang bisa diketahui oleh ilmu yang di dalam dada, agar diri mukmin selalu memimpin diri manusia untuk bisa kembali ke asal mulanya, yaitu Allah swt.

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِين 

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Al-Baqarah (2) : 45 – 46

Mintalah pertolongan dengan yang sabar dan tegakkan sholat. Sesungguhnya sholat itu sangat berat, kecuali atas (mereka) yang khusyu’; Yaitu, mereka yang telah memperoleh keyakinan, karena telah berjumpa Tuhan mereka dan mereka kembali (ke asalnya).

#DI_KIROTO-BOSO_MU; dzikirkanlah rasamu, agar dirimu tertata, melalui sholat yang tertegakkan oleh mukmin, supaya dirimu bisa berjumpa amin di tempat perjumpaan, yaitu Baitullah. Lalu, dirimu bisa bersama-sama dan diantar olveh amin menuju kembali ke asal muasal diri manusia, yaitu Allah swt.

Nilai-nilai

Di dalam olah raga, seperti sepak bola ada pertandingan yang dalamnya terdapat sportifitas. Artinya, kalau lawan tanding sudah mengalahkan terhadap lawan tanding yang lainnya, maka lawan tanding yang lainnya menjadi kalah, lalu lawan tanding yang lainnya itu, mau mengakui kekalahan dirinya dan mengakui kemenangan lawan tandingnya.

Di dalam seni terdapat keindahan yang bisa dinikmati oleh masing-masing diri orang. Di dalam permainan terdapat strategi yang mainkan oleh seseorang yang menginginkan sebuah pencapaian secara efektif. Di dalam materi, terdapat metodologi yang musti dilakukan oleh seseorang, sesuai dengan karakter materi yan ada. 

Lalu, di dalam agama terdapat dogma atau ajaran yang musti bisa ditangkap isi ajarannya secara tepat dan benar untuk diamalkan secara tepat dan benar pula, agar berdampak kebaikan diri seseorang dan memberikan makna pada diri orang lain. 

Sportifitas di dalam olah raga, rasa keindahan oleh masing-masing orang di dalam seni, permainan atau seseorang memainkan sesuatu, demi tercapainya sebuah tujuan secara efektif, perlakuan yang tepat sesuai dengan barangnya atau materi yang diperlakukannya; Semua itu, disebut dengan “nilai atau makna” yang musti dijunjung tinggi oleh masing-masing diri orang yang memiliki rasa atau kepekaan diri. 

Begitulah seseorang di dalam menjalankan ajaran agamanya, hendaknya orang yang beragama itu memperhatikan unsur nilai atau makna di balik kata sebagai sebuah dogma atau ajaran.

Oleh sebab itu, temukanlah kebenaran dogma agama itu, melalui proses kajian untuk menemukan benda yang ditunjuk oleh kata, sehingga timbul pada diri orang yang bersangkutan, sebuah laku dan perilaku serta berlaku benar dan baik pada diri orang itu, untuk melahirkan jiwa diri yang berakhlaq budi baik, yang nilai keindahannya bisa dirasakan oleh pihak lain. 

#benar itu, berada pada materi yang telah ditemukan dari sebuah dogma berupa kata-kata.

#baik itu, berada pada diri orang yang mengamalkan materi ajaran agamanya. 

#indah itu, dampak perilaku mulia yang dilakukan oleh orang yang mengamalkan materi agamanya secara tepat dan benar.

Kitab itu Catatan

Apapun yang berasal dari selain Allah dan Rasul-nya, baik lisan maupun tulisan, omongan maupun goresan pena di atas kertas dan buku-buku atau yang lainnya, ia tidak lebih dari sebuah penjelasan yang belum final. Maka,  selamanya, baik omongan maupun tulisan manusia itu, tidak akan memberikan jawaban terhadap apapun secara pasti. Oleh karenanya, hendaknya masing-masing orang siapapun orangnya, sedapat mungkin menghindarkan diri dari sebuah keterjebakan diri dengan menolak keras, bahkan mengoloknya; Atau, justru sebaliknya, berpegang teguh terhadap kata-kata atau tulisan siapapun selain yang dari Allah dan Rasulnya, itu. Sebab, apa yang dikata dan atau ditulis oleh seseorang, tidak mungkin bisa mengungkap secara total terhadap apa yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan.

Baik omongan maupun tulisan orang itu, akan selalu mengalami perubahan, seiring dengan perubahan pengalaman dan kemampuan dirinya di dalam mengungkapkan terhadap apa yang dirasakan, itulah yang secara lazim disebut dengan pengetahuan. 

Oleh karenanya, hendaknya seseorang itu, mengambil sikap “antara” atau tengah-tengah. Artinya, terhadap apa saja yang didengarkan dan dibaca, semua dikembalikan kepada rasa yang ada di dalam dirinya sendiri masing-masing dengan berpegang teguh terhadap kitab atau catatan Allah melalui sunnah rasul-Nya, yaitu iman yang bersifat shidiq, amanah, tabligh dan fathonah, serta ilmu yang bersifat tau ada di dalam dada diri masing-masing manusia, dan nikmat yang selalu merasa (QS Al Baqoroh 2 : 143), (QS Ar Rahman 55 : 13-16…), (QS Al ‘Ankabut 29 : 49).

Maka, segeralah setiap diri masing-masing orang itu, melepaskan diri dari pengetahuan yang menuntut untuk membaca apa yang di luar diri, dengan kembali kepada illmu yang mengajaknya untuk membaca apa yang di dalam diri (QS Al Isra” 17 : 14).

Sebab, Allah dan Rasul-Nya banyak membicarakan apa yang di dalam diri (hati),  sedangkan manusia banyak bicara apa yang di luar dirinya. Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita untuk “wirid” atau banyak membaca kitab (catatan) di dalam diri, sedangkan kita banyak membaca catatan tulisan di atas kertas dan buku-buku terbitan atau karangan dan karya manusia.

Bacalah catatanmu itu, ia benar dan terpercaya serta ia tau dan bisa merasa, ia di dalam dada diri masing-masing manusia, bukan di atas kertas atau tulisan manusia (QS Al Baqoroh 2 : 2).

Maka, kitabmu itu adalah catatan dan ukiran yang dicatat dan diukir oleh-Nya, sehingga  catatanmu itu tidak ada sedikit pun apa yang diragukan di dalamnya. Sedangkan tulisan manusia atau omongnya, itu banyak terdapat di dalamnya keraguan. 

Lalu, kenapa kita memperbanyak membaca yang banyak keraguan, itu..?.

Ilmu Adalah Mengetahui

Kitab Al Qur’an Surat 29 ayat 49, menegaskan, bahwa di dalam dada setiap diri manusia, terdapat berbagai tanda atau ayat yang menyata sangat jelas, disebut dengan ilmu, ia (ilmu) itu, pemberian Allah terhadap setiap diri manusia. Ilmu, berarti tau. Oleh karena ilmu itu tau, maka ia bersifat benar dan tidak salah, sehingga untuk mengetahui kebenaran akan diri seseorang, sebenarnya yang bersangkutan cukup dengan membaca atau mengikuti apa yang terbaca di dalam dadanya.

Ilmu atau tau itu, berbeda dengan pengetahuan. Ilmu, anugerah dari Tuhan untuk setiap diri manusia, ia identik dengan iman dan nikmat, sedangkan pengetahuan adalah produk manusia yang sudah barang tentu, ia berbeda-beda antar satu orang dengan yang lainnya.

Ilmu atau tau, bersifat tau dan memberitahukan suatu kebenaran yang ada di dalam diri manusia, sedangkan pengetahuan bersifat upaya untuk mengetahui sesuatu yang dianggap benar, di luar diri manusia. Ilmu, itu memberitahukan terhadap sesuatu kebenaran secara mutlak apa yang di dalam diri manusia, sedangkan pengetahuan, mencari kebenaran di luar diri manusia yang bersifat nisbi. Ilmu,  selalu terbaca, sedangkan pengetahuan memerlukan upaya untuk pembacaan, analisa, metodologi dan sejenisnya. Ilmu, bersifat mutlak kebenarannya, sedangkan pengetahuan, kebenarannya bersifat paradigmatik dan seterusnya.

Oleh sebab itu, al Qur’an mengajak terhadap setiap diri manusia untuk mengikutinya, karena dengan al Qur’an itu, cukup menjadi perhitungan apapun bagi diri manusia.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

Al-Isra’ 17 : 14.

Bacalah catatanmu, maka cukup dengan dirimu, hari itu menjadi perhitungan atas kamu.

Berarti, Qur’an itu berupa catatan yang ada di dalam dada setiap diri manusia dan dengan terbacanya catatan yang di dalam dada setiap diri manusia tersebut, ia cukup menjadi perhitungan terhadap apapun yang ada pada diri setiap manusia itu. Bacaan tersebut, sangat jelas dan menyatakan akan kebenarannya. Hanya saja, kebenaran yang disebut dengan ilmu itu, sering diingkari oleh sifat kafir manusia yang suka menentang, tidak pandai berterimakasih, ingin menang sendiri dan sejenisnya (QS At Taghabun 64 : 2).

Lalu, bagaimana dan apa fungsinya mushaf kumpulan catatan bacaan al Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat dan seterusnya itu?. Jika catatan mushaf atau kitab al Qur’an yang mulia itu, dibaca oleh lisan manusia yang dipimpin oleh iman, ilmu dan nikmatnya, sehingga bacaan lisan manusia tersebut, diperuntukkan sesuai dengan peruntukkannya, yaitu untuk diri sendiri masing-masing manusia, maka ia tidak akan menimbulkan problematika perbedaan dan pertengkaran apapun terhadap diri masing-masing manusia. Karena, yang demikian itu, ia (mushaf al Qur’an) dibaca dan difungsikan sesuai dengan fungsinya serta diperuntukkan tepat sesuai dengan sasarannya. 

Namun, sebaliknya, jika catatan mushaf al Qur’an itu, dibaca oleh lisan manusia untuk mengukur diri orang lain selain dirinya, ia tidak tepat sasarannya dan tidak sesuai dengan fungsinya. Karena tidak sesuai dengan fungsi al Qur’an diturunkan, yaitu menjadi hudan (petunjuk) bagi manusia yang membacanya.  Atau, dengan terbacanya al Qur’an pada diri manusia itu, bukan untuk menunjuki orang lain selain dirinya. Di samping itu pula, jika al Qur’an diperuntukkan bagi orang lain, maka ia tidak tepat sasarannya, sehingga akan menimbulkan pertentangan dan bahkan pertengkaran dan seterusnya, sehingga al Qur’an seolah menjadi tidak berfungsi apa-apa terhadap diri manusia.

Maka, sebenarnya al_Qur’an, itulah ilmu atau tau, wujudnya berbagai tanda yang menyata jelas di dalam dada setiap diri manusia. Dialah iman kepercayaan Tuhan dan dialah nikmat anugerah Allah swt, yang bisa merasakan adanya tanda atau berbagai ayat yang menyata jelas di dalam dada manusia itu; Dan ilmu atau al Qur’an itu, untuk diri manusia yang tau atau yang membaca itu sendiri, bukan untuk orang lain.

7/23/18, 21:04 – ‪+62 895-6088-99879‬: Manusia; Do’a Ifititah dan Haji Akbar

Imam Muslimin

Manusia itu ghoib dan ia berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib. Manusia yang goib itu, dinyata oleh yang ghoib wujud jasad manusia, artinya yang nyata adalah jasad, bukan manusia. Manusia yang telah dinyata pada jasad tersebut, bersama padanya yang tidak nyata, yang disebut dengan “nafsu”. Maka, nafsu itu, tidak nyata dan ia (nafsu) itu, dinyata oleh yang ghoib, wujud kemauan tampak atau nyata pada pekerjaan, oleh fisik atau jasad. Artinya, nafsu yang ghoib itu, nyata pada kemauan, wujudnya pekerjaan jasad manusia.

Yang goib, telah mengasal manusia dengan telah menciptakannya, itu menyata diri pada Akbar. Kemudian, Akbar yang telah dinyatakan oleh yang ghoib tersebut, menyebut yang ghoib yang telah mengasal manusia wujud ciptaan jasad, dengan sebutan Allah. 

Artinya, Akbar adalah sifat dari dzat yang disebut Allah. Maka Allah itu, bersifat Akbar, wujud diri manusia (basyar), pada Nabi Muhammad saw, putra Abdullah dengan Ibu bernama Aminah, lahir di Makkah dan wafat serta dimakamkan di Madinah, ia berbangsa dan berbahasa Arab. Namun, hakikinya beliau putra Abdullah tersebut, adalah rasul utusan Allah. Maka, rasul utusan Allah itu ghoib, bernama amin bersifat Akbar berada di Baitullah, wujud atau tanda fisik materi, berupa Ka’bah berada di Makkah, sebuah negeri yang diberkati.

Maka, Baitullah itu ghoib yang nyata adalah bangunan dari batu yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya yang bernama Ismail as, di mana, keduanya berasal dari suku Ka’b. Oleh karenanya, nama bangunan dari batu tersebut, dinisbatkan dari mana mereka berdua berasal, yaitu suku Ka’b atau Ka’bah. 

Ke sanalah manusia itu, menghadap untuk bertemu dengan yang diutus, agar diantar kembali kepada yang ghoib yang telah mengutus, yaitu Allah swt; Yang menyata diri pada Akbar. Maka, Allahu Akbar, wajjahtu wajhiya lil ladzi fatoro dst, itulah iftitah (do’a iftifah) atau pembukaan. Pembukaan atau al Fatihah (pembuka segala sesuatu), itulah induk dari semua bacaan dan catatan (ummul qur’an dan ummul kitab). Maka, ia terulang 7 kali sebutan (sab’ul matsani), sebagai tanda atau ayat untuk menunjuk kepada amin. Oleh sebab itu, pembukaan atau pembuka segala sesuatu adalah Akbar sifat Allah bernama amin di Baitullah.

Oleh karena manusia yang telah dinyata pada jasad dan bersamanya ada nafsu yang berkeinginan itu, maka nafsu tersebut harus dihadapkan oleh yang dari yang ghoib dan bersama dengan yang ghoib, yaitu iman, ilmu, dan nikmat. Agar kemauan oleh nafsu wujud pada jasad tersebut, tunduk dan patuh kepada yang dari Allah, sehingga ia mendorong untuk berkemauan sesuai dengan apa yang di mau oleh yang ghoib melalui utusan yang ghoib dan berada di tempat yang ghoib, itu. 

Nafsu yang diciptakan oleh Allah bersamaan dengan jasad manusia itu, di mana nafsu itu,  tidak mati dan tidak hidup, akan tetapi nafsu itu, ada dan tiada. Sedangkan jasad manusia, itu hidup karena adanya nafsu, sehingga ada dan tidak adanya nafsu itu, bersamaan dengan hidup dan matinya jasad, sebagai nyatanya manusia. Artinya, selama jasad manusia, masih hidup maka nafsu akan selalu ada dan berada bersama jasad manusia itu. Sebaliknya, jika jasad manusia mati, maka nafsu menjadi tidak ada. 

Jasad manusia yang masih ada kehidupan, karena di dalamnya ada nafsu itu, musti dihadapkan lurus oleh iman kepada amin di Baitullah melalui sholat yang tertegakkan oleh mukmin, agar iman selalu memimpin nafsu, sehingga nafsu yang berkenginan itu, menjadi tunduk dan patuh untuk melakukan kebaikan sesuai dengan ilmu dan rasa yang dipimpin oleh iman.

Ilmu artinya tau dan dialah yang mengetahui akan salah dan benar, karena pada ilmu itu, terdapat berbagai tanda atau ayat yang jelas dan ia bisa dirasakan oleh nikmat anugerah Allah swt pada setiap diri insan manusia.

Maka, ilmu itu bersamanya tau sehingga benar dan bisa dirasakan. Sedangkan nafsu itu, bersamanya kesadaran. Maka, nafsu itulah sebenarnya yang bisa sadar atau ma’rifah. Lalu, wujud kesadaran oleh nafsu, adalah timbulnya kesadaran rahmah, sebagai risalah atau produk dari amin utusan Allah.

Karena itu, haji adalah kesadaran nafsu (arafah, ma’rifatunafs) berupa rahmah pada diri rasul utusan Allah yang bernama amin. Artinya, timbulnya kesadaran oleh nafsu wujud rahmah pada diri rasul utusan Allah bersifat Akbar bernama amin di Baitullah. 

Oleh karenanya, ketika haji dilaksanakan secara rukun oleh jasad manusia yang telah dipimpin oleh iman, ilmu dan nikmatnya, ia dimulai dari wuquf (berhenti) di Arafah, di bawah jabal Rahmah, kemudian dilanjutkan dengan mabit atau bermalam (suasana gelap) di Muzdalifah untuk jumroh aqobah pagi harinya. Kemudian dilanjutkan dengan mabit di Mina untuk jumroh ula, wustho dan aqobah selama tiga hari tiga malam dan berakhir berputar (thowaf) di sekeliling Ka’bah serta disempurnakan dengan sa’i antara shofa dan marwa sebanyak 7 kali perjalanan, sehingga tahallul. 

Maksudnya, berhenti (wuquf) atau selesai dan tuntas perjalanan manusia itu, ketika bertemu dengan rahmah, setelah berjuang melawan sifat syetan diri kegegalapan (mabit), sehingga diri manusia (dzatnya, bukan sifat) berada di Baitullah bersama amin rasul utusan Allah, untuk didapatkan shofa dan warma (senang dan gembira), karena tahallul atau halal dan boleh serta tidak haram baginya apapun yang ada di surga. 

#kesadaran, itu perlakuan dan sifatnya nafsu, wujud perbuatan jasad manusia. 

#ifitihah, itu pembuka segalanya bernama amin, wujudnya rahmah.

#haji, itu kesadaran oleh nafsu, karena bertemu dengan amin, wujudnya rahmah sifat Allah yaitu Akbar pada diri Nabi Muhammad saw.

Sehingga, haji akbar itu, hakikinya adalah terlahirnya kembali sifat dan perilaku jasad manusia yang dipimpin oleh imannya, karena ia telah berjumpa dengan amin di Baitullah, melalui kesadaran diri (nafsu) yang telah melihat rahmah.

Siti Khadijah

DETIK-DETIK WAFATNYA SITI KHADIJAH, ISTRI TERCINTA RASULULLAH*

Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

PERMINTAAN TERAKHIR

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.

Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasulullah berkata,

Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

KAIN KAFAN DARI ALLAH

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?

Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.

“Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.

“Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.

Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?

Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulullah!

PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,

Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan.” jawab Khadijah.

“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.

“Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.

“Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah. 

Nikmat dan Anugerah

Anugerah pemberian Allah, sekaligus sebagai amanah terhadap setiap diri manusia, baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan, apapun suku, bangsa dan agamanya, adalah apa yang disebut dengan nikmat.

Nikmat, tentu berbeda dengan kenikmatan. Nikmat itu, anugerah pemberian Allah untuk setiap diri manusia dan ia bersifat rasa, maka nikmat itulah yang bisa merasa dan merasakan.

Sedangkan kenikmatan, itu lebih bersifat fisik, di mana setiap orang berbeda sesuai dengan keadaan fisik dan sejenisnya masing-masing. Maka, kenikmatan itu, digambar oleh al Qur’an sebagai permaian keduniaan yang penuh dengan permainan tipuan, QS 6 : 36, QS 57 : 20.

Nikmat lebih bersifat batin, sedangkan kenikmatan lebih bersifat fisik atau dhohir.

Oleh karenanya, nikmat merupakan anugerah Allah yang paling besar bagi setiap diri manusia, sebab hanya nikmat yang bisa merasa. Jika nikmat anugerah Allah terhadap diri manusia itu, teringkari oleh manusia, maka ia tidak akan bisa merasa, sehingga seolah nikmat tersebut mati, maka lazim disebut dengan “mati rasa”. Artinya, nikmat anugerah-Nya tersebut, tetap ada, hanya saja sifat atau rasa dari nikmat itu, tertutupi oleh sifat pengingkaran (kafir) diri manusia, itu. QS 64 : 2. 

Maka, nikmat tersebut, wujudnya rasa yang Allah tiupkan (nufukh) terhadap setiap diri manusia, berupa iman yang dipercaya oleh Tuhan.

Iman tersebut, berwujud catatan (kitab) yang tidak ada di dalamnya sebuah keraguan sedikipun, QS 2 : 2. Catatan itu, benar maka disebut ilmu, QS 29 : 49. Dan ilmu tersebut menanda jelas dengan cahayanya (nur), maka disebut ayat, ia ada di dalam dada setiap diri manusia, siapapun orangnya, apapun jenis kelaminnya serta dari mana dan apapun bangsa serta agamanya.

Maka, rasa dari dan oleh nikmat Allah terhadap setiap diri manusia itu, sama. Tidak tua dan tidak muda, tidak laki dan tidak perempuan, jika dipijit, nikmat rasanya dan jika dicubit, sakit rasanya.

Artinya, nikmat itulah yang merasa karena adanya ruh yang ditiupkan oleh Allah kepadanya, wujudnya catatan (kitab) dan ia dipercaya oleh iman serta dibenarkan oleh ilmu (bukan pengetahuan).

Oleh sebab itu, nikmat disebut juga dengan iman, kitab dan ilmu. Nikmat itu, benda, kerja nikmat adalah merasa (QS 55 : 13, 16) dan rasa tersebut benar serta terpercaya, sebab rasa itu tiada dusta karena menyampaikan apa adanya, itulah sifat iman yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Rasa yang dipercaya akan kebenarannya itu, tercatat dan terukir di dalam dada, namanya al kitab dan ia terbaca jelas tiada dusta serta benar, namanya al Qur’an, QS 17 : 14.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبً

7/26/18, 16:36 – ‪+62 895-6088-99879‬: (اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا)

Al-Isra’ 14

7/26/18, 18:27 – ‪+62 895-6088-99879‬: Percaya Kepada Allah

Imam Muslimin

Percaya kepada Allah itu, maksudnya percaya kepada Rasul utusan-Nya. Lalu, percaya kepada Rasul utusa-Nya itu, percaya kepada Nabi Muhammad saw putra Abdullah. Kemudian, percaya kepada Nabi Muhammad saw putra Abdullah itu, berlaku mencontoh beliau Nabi Muhammad saw, sebagai Rasul utusan Allah yang bernama atau disebut amin. 

Berlaku mencontoh Nabi Muhammad saw putra Abdullah sebagai Rasul utusan Allah yang bernama atau disebut amin itu, artinya berlaku atas dasar iman yang berisifat empat, yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Sehingga, benar apa yang disampaikan, apa yang diomongkan dan benar apa yang dilakukan oleh seseorang, sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Apa yang ada di dalam hati, tidak dikhiyati, itulah amanah nama atau sebutannya. Lalu, tidak ditambah dan atau tidak dikurangi, itu sebutannya tabligh atau apa adanya. Sehingga, cerdas atau fathonah, karena tidak diperlukan “ngarang-ngarang” dan sejenisnya..

Bagi Nabi Muhammad (amin), tidak diperlukan “ngarang-ngarang, karena mendapatkan langsung dari Allah, namanya wahyu.

Bagi selainnya (iman), tidak diperlukan “ngarang-ngarang”, karena mendapatkan dari amin, tinggal membenarkannya, tidak dikhiyanatinya, disampaikan apa adanya sehingga cerdas dan tidak dungu atau bodoh. 

Itulah, makna “syahadatain” atau dua persaksian, yang inti dan substansinya adalah percaya kepada Allah, karena benar-benar menyaksikan-Nya. Maka, menyaksikan dan yang disaksikan hanya Allah sebagai Tuhan, sedangkan selain DIA, bukanlah tuhan. Itu, artinya, menyaksikan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah, bukan tuhan. Dia hanya utusan Allah yang amin, sehingga dialah yang shidiq, yang amanah, yang tabligh dan yang fathonah. 

Sedangkan, selain beliau (amin), bisa shidiq, bisa amanah, bisa tabligh dan bisa fathonah, oleh karena imannya tegak dengan sholat atau terjadinya hubungan dengan amin. Jika, tidak tegak sholatnya, maka tidak akan terjadi hubungan dengan amin, dan jika tidak terjadi hubungan dengan amin, maka tidak bisa shidiq, tidak bisa amanah, tidak bisa tabligh sehingga dungu dan bodoh, alias tidak cerdas.

Aroma Pahala

“Kesuksesan dibangun dari pelajaran-pelajaran berharga yang diajarkan oleh kegagalan”.

Paragraf yang saya sampaikan di atas adalah tulisan hikmah yang pernah ditulis oleh seorang teman yang memiliki kedalaman spiritual bernama Dr. Fadhil Sj. Ia selalu membagi ilmu hikmah atau mutiara hikmahnya di setiap pagi dalam bingkai “Embun Pagi”, sehingga teman-teman sering memanggilnya dengan “Pak Doktor Embun”.

Memperhatikan untaian kata hikmah yang ditulis oleh Pak Doktor Embun di atas, bisa memantik untuk berfikir dan direnungkan lebih dalam sehingga hasil pikiran dan renungan tersebut mudah untuk dipraktekkan oleh siapapun dalam kehidupan sehari-hari 

Realitasnya tidak seorangpun dalam menjalani kehidupannya yang tidak ingin sukses, semua orang ingin sukses. Akan tetapi tidak jarang manusia, juga mengalami kegagalan satu atau dua episode dalam kehidupannya. Dan kegagalan tersebut dianggapnya sebagai sebuah hal yang menakutkan, sehingga kegagalan tidak menjadikannya pelajaran berharga untuk bangkit dan sukses, sebaliknya justru timbul sifat dan sikap pada diri yang gagal tersebut sebuah “traumatika” yang menghantaunya. 

Melihat apa yang disampaikan oleh Pak Doktor Embun, sebuah kegagalan adalah keniscayaan bagi setiap orang dalam menjalani tugas kehidupannya. Artinya, seolah seseorang harus “gagal dulu” atau memiliki sejarah kegagalan atau di dalam kegelapan, barulah tahu akan hakikat kesuksesan atau terang benderang.

Maka, hendaknya tidak dipersoalan sejarah kegagalan manusia siapapun, karena kegagalan atau kegelapan adalah guru yang bisa menunjukkan akan kesuksesan dan penerangan.

Australia menjadi negara yang besar dan kuat, karena dibangun di atas sejarah kegagalan dan kegegelapan atas penindasan penguasa. 

Pada abad 18 Inggris menguasai Australia dan menjadikannya negara ini tempat pembuangan bagi orang-orang yang dianggap menjadi perusuh, karena sikap kritisnya terjadap penguasa saat itu.

Orang-orang yang dibuang oleh penguasa Inggris saat itu atas dugaan dan tuduhan tindak kriminal adalah orang-orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga ketika berada di tempat pembuangan mereka justru yang menemukan tambang emas, sehingga selanjutnya merekalah yang di kemudian hari mendirikan dan menguasai berbagai bidang kehidupan di Australia, mulai aspek politik dan pemerintahan, ekonomi dan lainnya.

Indonesia merdeka, karena adanya penjajahan Belanda dan sebagainya. Seandainya tidak ada penjajahan Belanda atas Indonesia, maka perjuangan untuk meraih kemerdekaan tidaklah terjadi dan Indonesia tetap akan dikuasai oleh para raja yang sulit untuk dipersatukan antar satu dengan yang lainnya.

Itulah ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang mau menerima Abu Bakar, Umar, Ustsman dan para shahabat yang lainnya, sekalipun sebagian hidup mereka pada masa lalunya terdapat kegegelapan jahiliyah.

Berbeda dengan ajaran Syi’ah yang hanya bisa menerima dan mengakui Sayyidina Ali, juga para keturunannya karena dianggapnya suci sejak kecil tiada punya sejarah kegelapan.

Ajaran mana yang kita anut..???

Syi’ah apa Ahlus Sunnah wal Jama’ah..???

Atau mengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akan tetapi prakteknya Syi’ah atau sebaliknya..???

Oleh sebab itu, bukan pengakuan yang dianggap penting dalam kehidupan, akan tetapi amal nyata kerukunan.

Maka disebut Rukun Islam, karena Islam itu pengakuan dan isinya adalah kerukunan alias tidak bertengkar antar satu dengan yang lainnya untuk menciptakan kedamaian, baik damai diri maupun damai terhadap orang lain agar diperoleh kedamaian dalam kerukunan dan kerukunan dalam kedamaian.

Silahkan mengaku beriman sebagai pengikut Nabi Muhammad saw..

Mengaku Yahudi atau pengikut Yahuda putra pertama Nabi Ya’qub..

Silahkan saja mengaku Nasroni atau pengikut Nabi Isa as..

Silahkan saja mengaku sebagai kaum sabiat pengikut Nabi Yahya yang tiada perbah berfikir maksiyat kepada Allah dan rasul-Nya..

Pengakuan semuanya tidaklah penting dari iman dan amal nyata untuk kemaslahatan kemanusiaan. Dan mereka inilah yang dibalas oleh Allah dengan pahala yang besar nanti kelak ketika menghadap Allah swt.

Memang pahala atau “ujroh” bagi manusia beriman dan beramal nyata akan diberikannya ketika sudah atau saat menghadap Allah swt. Akan tetapi, sebelum pahala tersebut dirimakannya secara langsung, Allah akan memberikannya terlebih dahulu kepada manusia yang bermal nyata untuk kerukunan saat masih hidup di dunia. Diandaikan kita memasak atau membikin minuman kopi, sebelum kita meminumnya secara langsung, aroma atau bau kopi tersebut sudah dapat kita rasakan.

Dialah yang disebut dengan “riihul ujroh” aroma pahala, apa itu aroma pahala?

Adalah hilangnya gundah gulana dan kesedihan serta ketakutan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Al-Baqarah 62

Artinya, jika anda masih bersedih dan sering dihantaui rasa kekuatiran, anda kurang atau belum beramal nyata demi kemaslahatan umat sekalipun mungkin anda sudah mengakui karena telah melakukannya. Akan tetapi, kenapa masih gundah gulana, sedih dan kuatir terasakannya??

Artinya amal nyata yang anda perbuat itu bukan amal nyata yang maslahah, mungkin amal anda adalah curian dari uang negara atau perilaku anda menolong orang adalah rekayasa dari amanah yang anda emban dengan cara berebut tendang sana dan tendang sini.

Yang tahu, bukan orang lain tapi diri sendiri.

Benda dan Kata

Para Filusuf Bahasa sepakat, bahwa benda atas kata itu lebih dulu ada dari pada kata atas bendanya. Karena, semua kata itu menunjuk pada bendanya.

Artinya adanya kata-kata itu didahului oleh adanya benda, baru muncul kata-kata. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pengertian atas kata apapun dibalikanlah kepada asal dan usulnya bahasa yang al. dengan cara “mengkirata” atau “kiroto boso”. 

Lakukan dengan seksama alias tidak sekedar hanya mengkira-kira tanpa tata bahasa dan kaidahnya sebagai pertimbangannya, namun perkiraan yang didasarkan pada tata bahasa dengan berbagai seluk beluknya. 

Itulah makna “kiroto” atau mengkira-kira dan menata berdasarkan tata kaidah yang musti dijadikan pertimbangan secara seksama.

Demikian para ahli berpendapat, bahwa benda itu lebih dulu ada baru dikata-kata atau muncul kata. Maka, hendaknya siapapun orangnya tidak mengata atau berkata atas kata atau katanya, namun hendaknya seseorang itu mengata dan berkata atas bendanya.

Katakanlah atas kenyataannya (nyatanya) dan tidak mengata atas katanya yang tidak tahu akan kenyataannya.

Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya sebagai dosa besar (kaburo maqtan) di sisi-Nya jika seseorang hanya mengata namun tidak mampu untuk melakukannnya. Bagaimana mungkin bisa melakukannya, jika kata yang diucapkan tidak menunjuk atas bendanya alias hanya mengata saja tanpa mengerti apa yang dikatakannya karena tidak bisa menemukan bendanya???

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ 

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Ash-Shaf 2 – 3.

Karena iman yang ada pada setiap dada insan manudia tidak dipergunakan cahaya dan ilmunya (tahunya), maka mereka para manusia itu hanya mengata yang tidak mampu untuk  melakukannya. Sehingga “maqtan” atau membikin gatal yang besar atau sangat menggatalkan jika seseorang hanya mengata yang tidak melakukannya, tidak mengata atas benda alias hanya mengata atas kata atau katanya.

Oleh sebab itulah, kemungkinan ada benarnya apa yang dinyata oleh beberapa ahli sejarah berdasarkan data yang diperolehnya, bahwa Abdullah Ibn Mas’ud, sahabat Nabi Agung Muhammad saw, atas perintah Khalifah ke empat Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Kw, pernah tiba di kepulauan Nusantara, khususnya di pulau Jawa, tepatnya di daerah Wonosobo Jawa Tengah.

Bahkan singkatan nama ormas umat Islam terbesar di Indonesia adalah NO (Nahdlatul Oelama’) atau NU (Nahdlatul Ulama’), bukan “nahlu” atau yang lainnya, akan tetapi NU. Kenapa demikian? Karena kata NO-NU, itu diambil dari kata “nusantara” atas ide alm. Kyai Sya’roni dari desa Keras Kediri yang  terinspirasi dari kata “nusantara”.

Dalam musyawarah para Kyai sepuh di Surabaya untuk merumuskan singkatan Nahdlatul Oelama’, pernah ada seorang Kyai sepuh dari Madura yang melontarkan kata “Nahl” yang berarti tawon sebagai singkatan dari Nahdlatul Oelama’.

Namun setelah dikaji dan difikirkan mendalam serta selalu memohon petunjuk Allah swt, maka Mbah Hasyim keluar sebentar dari ruangan musyawarah untuk menemui Kyai Sya’roni. Mbah Hasyim meminta kepada Kyai Sya’roni untuk melakukan istikharah berkenanaan dengan singkatan dari Nahdlatul Oelama’-Nahdlatul Ulama’.

Dalam istkharahnya Kyai Sya’rini diperlihatkan, bahwa Mbah Hasyim membawa tulisan berhuruf Arab :

” نهضة العلماء “

yang di depannya terdapat tulisan huruf latin yaitu NOESWATARA.

Hasil istikharah dari Kyai Sya’roni tersebut dihaturkan kepada beliau Mbah Hasyim, lalu diambillah huruf pertama dan kedua yakni N-O atau NU.

Selanjutnya singkatan NO atau NU dibahas oleh para Kyai untuk ditemukan filosofinya yang dikaitkan dengan kata antara (tengah-tengah) sehingga detemukan kata Nusantara dan Nahdlatul Oelama’ atau Nahdlatul Ulama’.

Maka singkatan NO atau NU, dipilih didasarkan pada berbagai pertimbangan bahasa yang dikira (dikaji) untuk diperoleh “ketataan” atau “tata” yang menjadi idaman semua manusia yaitu hidup tertata; Berkata secara tertata dan bertata kelola negara yang bertata dst.

Semua tahapan berfikir sebagaimana disebutkan di atas sebut menkaji untuk terjadinya ketataan atas segala sesuatunya khususnya, bahasa. Sehingga muncul kata “kirata bahasa” atau “kiroto boso”; bukan hanya sekedar diKIRO KIRO tanpa MIKIR.

Kirata bahasa atau kiroto boso berguna untuk menumbuhkan rasa agar pertimbangan apapun di dalam berkata dan bertindak tidak hanya berdasarkan hasil kajian intelektualitas belaka, namun juga spiritualitas agar tumbuh rasa.

Bekenaan dengan telah ditemukannya berbagai bukti nyata sejarah peninggalan akan perjuangan da’wah umat Islam, maka berbagai nama kota yang terdapat di pulau Jawa semuanya bisa dikirata bahasakan yang didasarkan pada sejarah penamaannya oleh para da’i Muslim saat itu.

Maka nama kota Kediri, konon merupakan ajakan agar semua orang mau ke dirinya masing-masing.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

 Al-Isra’ : 14.

Bagaiman seseorang bisa ke diri masing-masing???. 

Dijelaskan tata caranya untuk bisa dan mampu ke diri yaitu dengan kata “Nganjuk”. Kata “nganjuk” adalah bahasa Arab ” ‘an juu’in”, tentang lapar yakni perut atau hawa nafsu atau nafsu ketika berhawa, hendaknya di imsak dikendalikan dengan berpuasa agar “juu’ ” atau lapar untuk mampu ke diri masing-masing.

Karena nafsu atau hawa nafsu hanya bisa tunduk dengan neraka “juu’ “, bukan dengan 7 neraka sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya yang jumlah pintu neraka itu sebanyak tujuh.

Dengan ke diri masing-masing melalui “juu’ ” barulah diperoleh “madyun” atau Madiun, yakni kondisi senang dan mahabbah yang hampir sakar atau mabuk, tapi tidak sampai mabuk sehingga serasa senang dan ridho atas apapun yang terjadi. Kondisi diri demikian disebut dengan “madyunun”.

Senang bahagia didapatkan, maka ridho dirasakan sehingga tidak terjebak hidupnya oleh hal-hal yang bersifat materialistik alias terlepas dari berbagai hal yang berfifat ragawi (Ponorogo).

Ponorogo atau hilangnya keterjebakkan (fana’) diri dari berbagai hal yang ragawi, maka kegundah gulaan tertinggalkan (tarku qolqin) yang diucap dengan kata “Trenggalek”. 

Tertinggalkannya kegundah gulaan, artinya hilangnya kesedihan.

Hilangnya kesedihan menandakan datangnya pertolongan Tuhan (Tulung Agung). 

Jika dalam kesedihan, maka Tuhan tiada bersama kita alias pertolongan-Nya tidak akan diberikannya kepada kita. 

Maka itulah pesan Nabi Agung Muhammad saw kepada sahabatnya Abu Bakar ra, adalah janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah itu bersama kita.

يا أبا بكر لا تحزن إن الله معنا

Jika pertolongan Allah didapatkan, maka tentara Tartar saat itu yang telah menguasai 3/4 dunia tidak mampu mengalahkan bangsa Indonesia yang memang telah terbimbing oleh Allah dan rasul-Nya.

Maka mereka kembali kembali ke negaranya di Tartar (Balitar atau Blitar) tanpa ada perlawanan yang berarti. Karena mereka para tentara Tartar, saat itu ketika ingin mengalahkan dan menguasai bangsa Indonesia mengejar rakyat Indonesia sampai di pesisir pantai utara. Yang mana para rakyat Indonesia ketika menghadapi tentara Tartar memakai pakaian celana pendek (Tubban atau Tuban), sedangkan Tentara  memakai baju besi sehingga mereka ketakutan dengan sendirinya, baju besi pasti tenggelam di laut melawan orang-orang yang hanya menggunakan “tubban” atau celana dalam.

Bagaimana Malangkucecwara dan Pasuruan serta Surabaya sampai Jakarta?

Semoga di lain waktu bisa saya menjelaskannya.

Tegur Nurani

Tegurlah dengan menyapa secara tulus iklhas yang muncul dari dalamnya, dalam hati..

Agar terasakan, bahwa itu benar-benar bergetar sebagai wujud nurani..

Dialah sebenarnya ayat yang jelas menyata dan membaca..

Ayat berjumpa ayat akan “wajilat qulubuhum” dan rasa bertambah nikmat sebagai getaran iman yang menyata..

Maka tegur sapa adalah perwujudan tumbuhnya persaudaraan yang di dalam hati, dia iman yang tiada tidur karena bersambung shalat dengan menegakkan sifatnya yakni shidiq, amanah, tabligh dan fathonah..

Karena hanya iman yang tiada tidur alias bersifat mukmin yang bisa dipersaudarakan, sedangkan manusia fisik yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan agama tidaklah bisa dipersaurakan..

Manusia fisik hanya bisa diperkenalkan untuk diperoleh kemanfaatan satu dengan yang lainnya sebagai wujud kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian..

 الإنسان مدني بالطبع

Di dalam menjalani tugas kehidupan sebagai wujud ibadah dan pengabdian kepada Tuhan, manusia memerlukan kehadiran manusia yang lainnya..

Satu pakaian saja yang dipergunakan manusia, coba hitung berapa orang yang musti terlibat di dalam penggunaan pakaian tersebut, mulai dari petani kapas yang menanam kapas tersebut sebagai bahan pokok kain tekstil sampai ia siap dipasarkan dan kemudian dijahit oleh penjahit sampai siap kita pergunakan..

Pun juga makanan yang dimakan manusia, bisa dibayangkan berapa banyaknya manusia yang lain ketika makanan tersebut siap untuk disantap sebagai sajian..

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Al-Hujurat : 13.

Ada China, ada Arab, Ada Jawa dan seterusnya agar saling mengenal satu sama lainnya..

Manusia fisik yang berjenis kelamin, ada laki dan ada perempuan serta bersuku dan berbangsa, agar saling mengenal untuk saling menyangga kebutuhan dan hajat hidup secara berdampingan rukun damai dalam naungan ridho Tuhan..

Sedangkan yang dipersaudarakan adalah mukmin yang di dalam dada setiap insan..

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Al-Hujurat : 10.

Dialah mukmin yang tiada berjenis kelamin, berada di dalam dada setiap insan yang bisa dipersaudarakan..

Fisik diperkenalkan agar saling mengenal..

Ruhuni dipersaudarakan agar timbul kedamaian diri dan diri orang lain, sehingga diperoleh kerukunan..

Itulah getaran rasa ayat yang suci…

Itulah hasil tajalliyut tajaliyyat yang dinanti..

Maka bertutur katamu selalu kami amati..

Mengamati apapun, hendanya ingatlah diri sendiri..

Itulah bercermin kaca pantulan gambaran diri sendiri..

Nyatalah dia yang nyata jelas, nyata dan nyatanya jelas itulah tajalli..

Sehingga pertimbangannya adalah nilai budi, bukan harta benda dunia yang dihargai, yang sebenarnya tiada berarti..

Barulah diperoleh magom tempat tertinggi sehingga terangkatlah penyakit hati..

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ 

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 Al-A’raf : 43.

Maka itulah memperbaiki akhlak-budi, adalah misi suci utama Nabi..

Bukan tugas selain Nabi..

Maka jangan merampas tugas itu, tanpa seizinnya Nabi..

Untuk membina akhlak budi, Rasulullah saw  dibangkitkan lagi..

Dari rasulullah saw kita diberi..

Rasulullah saw maha kasih dan sayang dari-Nya..

Kita dikasih dan disayang semoga bisa terima kasihkan dan semoga kembali, maka terima kasih kembali..

Kasih sayangmu wahai Rasulnya Allah, agung terpuji..

Engkau gembira dalam ketawa..

Bukan suka dan ria, tapi suka cita..

Suka cita dalam satu rasa..

Bahagia nan gembira tak terkata..

Engkau jaya di dalam surga..

Surga jaya karena engkau ada..

Engkau tiada di dalam surga..

Di ‘arasy tertinggi bersinggasana…

Engkau jelas di dalam nyata..

Engkau nyata menjelas yang ada..

Engkau ada yang pertama..

Telah menjelma jadi manusia..

Engkau bersih di dalam suci..

Engkau suci di baitul ‘atiq rumah abadi..

Engkau abadi menunggu yang kembali..

Yang bersih-suci dapat menemui..

Kitab Qur’an yang tertuliskan di atas kertas sebagai rujukan..

Kitab dan Qur’an harus sebagai pegangan…

Allah telah memberikan kekayaan..

Untuk kayanya Allah yang dititipkan..

Dengan Kitab kita dapat mendengarkan..

Yang berkata-kata sebagai harta simpanan..

Kenal kenangkan hening ucapan..

Dalam keheningan dia mengucapkan..

Suara hati yang hendak diperkenalkan..

Dia pelita di dalam kegelapan..

Rencana engkau dalam perjalanan..

Penunjuk jalan, karena sudah sampai tujuan..

Berjalan ke depan itulah qiblatkan yang tidak ke kiri dan ke kanan..

Bertemu engkau, sampailah perjalanan..

Kami mohon tolong ingatkan..

Mengingat engkau dalam shalat yang didirikan..

Ingatkan kami yang lupa dan melalaikan..

Engkaulah saksi yang dapat meringankan..

Alangkah sejuk sepoi angin Baitur Rahman..

Menyambut iman-iman yang berdatangan..

Angin bertiup melambaikan tangan..

Alangkah rindunya diri yang terlempar meninggalkan..

Bertiup sayup lagi merata..

Semua dikasih tanpa membeda..

Satu umat usul asalnya..

Kini bercerai berai bersifat manusia..

Neraka berhembus ke pojok alam..

Di pusat alam aman nan tentram..

Maqom Ibrahim batas pekarangan alam..

Bertemu tuan rumah kusampaikan salam..

Bergelora melalui waktu dari masa ke masa..

Gelora rasa berkata-kata tiada dapat ditahan..

Masa berlalu wujud menjelma..

Pendidik manusia telah dinyata..

Sampai di sini bisikan qolbu…

Bukanlah bisikan hawa dan nafsu…

Qolbu berbisik rasa menyeru..

Sampai di sana kita bertemu..

Ijinkan kami menghaturkan diri..

Mohon diri hendaknya kembali..

Ijin diberi tunaikan janji..

Janji ditepati, Tuhan tajalli..

Disambung pula di lain waktu..

Waktu bersambung salam menentu..

Sambung menyambung di tempat yang satu..

Tersambung rasa dalam shalat berwaktu..

Manusia

Membincang “manusia”, seolah tidak pernah ada habisnya. Manusia, sebagai salah satu dari sekian ciptaan Allah SWT, memang serba unik. Sebab, ia satu-satunya ciptaan Tuhan, yang di dalam dirinya terkandung berbagai sifat ciptaan-Nya, bahkan sifat Allah sendiri ada pada diri manusia. Allah bersifat kasih dan sayang, di dalam diri manusia pun, terdapat kasih dan sayang; Allah bersifat memberi dan sebagainya, di dalam diri manusia pun ada sifat memberi dan seterusnya.

Di dalam diri manusia terdapat berbagai sifat ciptaan Allah, maka sifat hewan ada pada diri manusia. Sifat malaikat, sifat jin dan bahkan sifat manusia itu sendiri, ada pada diri manusia. Sifat yang suka menantang dan mudah tersulut emosionalnya, karena ia dicipta dari bara api yang sangat panas, ada pada diri manusia. Sifat malaikat yang selalu berjalan di atas cahaya kebenaran, ada pada diri manusia (QS 15 :26,27,28,29,30, 31). Sifat manusia yang mudah mengeluh, tergesa-gesa, keterlaluan terhadap Tuhannya, karena sangat cintanya terhadap dunia, ada pada diri manusia (QS 70:19,20,21), (QS 17:11), (QS 100:6,7,8).

Lalu, manakah yang disebut manusia, itu?.

Manusia itu ghoib, yang nyata adalah jasad manusia. Manusia yang ghoib, ia berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara manusia dengan sifat manusia. Manusia yang ghoib dan berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib, ia berkait erat dengan fisik atau jasadnya. Artinya, selama jasad manusia masih hidup yang ditandai dengan adanya nafas oleh nafsu, maka selama itu, manusia tidak akan bisa berpisah dengan nafsunya yang selalu berkemauan.

Nafsu itu satu, dan pekerjaan nafsu adalah tujuh. Tujuh pekerjaan oleh nafsu itu, akan melahirkan sifat, kemudian sifat akan melahirkan nama.

Nafsu yang mendorong diri manusia, agar ia melakukan perbuatan jahat, maka ia disebut atau bernama nafsu ammarah bisu’ (nafsu ammara’). Lalu, nafsu yang mendorong diri manusia, agar mecela selain dirinya disebut, nafsu lawwamah.

Kedua nafsu tersebut di atas, baik nafsu ammarah bi su’ maupun nafsu lawwamah, ada dan terdapat pada diri manusia selama jasad belum mati. Selama nafas masih bergerak, maka nafsu yang bekerja untuk mendorong berkemauan pada diri manusia, akan selalu ada. Semakin tua usia jasad manusia, semakin kuat dorongan nafsu dirinya. Ketika jasad manusia di dalam kandungan ibu, maka dorongan kemauannya hanya untuk makan atau minum, yaitu memakan atau minum darah haid ibunya. Kemudian, ketika jasad lahir, dorongan nafsu yang ada pada diri manusia semakin kuat, ia meminta lebih dari sekadar makan atau minum, sampai jasad menginjak dewasa, bahkan tua renta maka dorongan nafsunya, wujud berkeinginan akan bertambah semakin kuat.

Oleh sebab itu, ketika jasad manusia semakin tua, sementara nafsu ammarah dan nafsu lawwamahnya banyak mengusai dirinya, maka ia akan semakin gila harta dengan memperbanyak dan menumpuknya (QS 102:1,2). Dan, semakin gila jabatan serta  sejenisnya yang bersifat keduniaan. Sebaliknya, jika semakin tua usia jasad manusia, kedua dorongan nafsu ammarah dan lawwamahnya terkendali dengan baik, maka manusia akan semakin terdorong untuk melakukan berbagai hal kebaikan oleh nafsu mulhamah. Sehingga, muncul ketenangan oleh nafsu muthamainnah. Selanjutnya, timbul pada diri manusia itu, dorongan untuk bersikap rela oleh nafsu radhiyah, sehingga memperoleh ridho Tuhan oleh nafsu mardhiyah. Dan puncak dari semuanya itu, adalah munculnya nafsu kamilah, yaitu dorongan untuk selalu bergabung dengan para hamba Tuhan yang menginginkan untuk bisa kembali ke asal muasal ia berasal, yaitu damai dalam kedamaian di sisi Tuhan.