Binahong Mampu Stop Gagal Ginjal

Daun Binahong

Binahong merupakan tanaman menjalar yang bersifat perenial dengan nama latin Anredera cordifolia. Panjang tanaman perenial (berumur panjang) ini dapat tumbuh hingga mencapai 5 meter.

Tanaman binahong yang termasuk dalam ordo Caryophyllales merupakan tanaman obat potensial yang mampu mengatasi berbagai jenis penyakit. Binahong diketahui berasal dari dataran China dengan nama asli Dheng shan chi.

Daun binahong mampu memperbaiki fungsi ginjal dengan menurunkan kadar kreatinin. Gagal ginjal memamng buka penyebab kematian nomor wahid, tetapi  gagal ginjal merupakan penyakit yang menempati urutan ke 6 penyebab kematian pasien yang dirawat di RS di seluruh Indonesia. Oleh karena itu gagal ginjal tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, penyebab gagal ginjal semakin akrab di kalangan masyarakat seperti mengkonsumsi makanan berpengawet dan minuman berkarbonasi.

Sanitasi yang buruk juga mampu memperburuk fungsi ginjal, maka dari itu pasien gagal ginjal terus meningkat tiap tahunnya. Menurut Kemenkes 58% [asien gangguan ginjal akut meniggal dunia pada tahun 2022.

Menurut Dr Zainal Gani, dokter sekaligus herbalis di Malang Jawa Timur, gagal ginjal merupakan penyakit akibat menurunnya fungsi ginjal sebagai penyaring bahan toksik yang dikeluarkan melalui kencing tidak optimal. Akibatnya tubuh kita tak dapat mengeluarkan sisa metabolisme dan akhirnya masuk ke pembuluh darah, hal itulah yang membuat kita harus cuci darah.

Ciri-ciri orang yang terkena gagal ginjal adalah : selalu ngerasa lelah, pembengkakan di bagian tangan, kaki dan wajah, kesulitan berpikir jernih, urine tidak normal, kulit gatal-gatal.

Lalu bagaimana cara mengkonsumsi binahong:

Cukup rebus 10-15gr daun binahong dalam satu gelas air sampai mendidih lalu diminum saat hangat. Atau bisa juga dikeringkan dengan cara dioven pada suhu 50 hingga kadar airnya tersisa 50%. Air rebusan daun binahong dikonsumsi 3-4x sehari dan diminum dalam kondisi perut kososng atau sebelum makan karena dalam perut kosong penyerapan senyawa aktif lebih optimal.

#binahong

#herbal

#JSR

Manfaat Daun Krokot Yang Dahsyat

Daun Krokot

Daun Krokot (Portulaca Oleracea L) memiliki khasiat dan manfaat cukup besar. 1. Krokot mencegah stroke karena mengandung asam lemak omega 3 yang dapat menurunkan kadar lemak dalam darah termasuk trigilserida. krokot juga mengandung kalium yang baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

2. Krokot juga menyehatkan mata karena mengandung vit A yang tinggi sehingga  mampu mencegah terjadinya gangguan penglihatan seperti rabun senja dan degenerasi makula.  Makula merupakan bagian mata yang diperlukan untuk penglihatan sentral yang tajam yang memungkinkan kita melihat benda yang lurus ke depan. Degenerasi makula biasanya terjadi di usia 50 tahun ke atas. Orang tua yang terkena penyakit ini akan merasakan pandangannya menjadi buram, yang dimulai dari tengah penglihatan.

3. Krokot menjaga kesehatan tulang dan gigi karena mengandung kalsisum, magnesium dan juga fosfor. Sehimgga baik untuk tulang dan gigi serta mencegah osteoporosis.

4. Krokot menjaga daya tahan tubuh karena mengandung Vit A dan C sehingga bisa menjaga sistem imun.

5. Krokot bisa menangkal efek radikal bebas karena mengandung beta karoten, alfa tokoferol dan asam askorbat yang diketahui bisa menangkal radikal bebas.

6. Krokot bisa menghidrasi tubuh karena mengandung banyak air. Tubuh yang terhidrasi dengan baik akan meningkatkan konsentrasi dan sehat.

7. Krokot bisa mengurangi kram saat haid karena mengandung kalium. Kalium merupakan salah satu mineral yang dibutuhkan untuk membuat otot lebih rileks dan tidak tegang, sehingga bisa mengurangi kram saat haid.

8. Krokot membuat tidur lebih nyenyak karena mengandung melatonin. Seimbanganya kadar hormon ini bisa membantu mengatasi gangguan tidur.

Cara mengkonsumsi krokot

1. Bisa dikonsumsi dalam bentuk sayur bening dengan bumbu bawang putih dan rimpang kunci.

2. Bisa dikonsumsi dengan cara diseduh dengan air panas dan diminum airnya saat hangat

3. Bisa dibikin sayur lainnya seperti urap-urap atau gudangan. Hindari penggunaan cabe rawit dalam jumlah besar.

4. Hindari daun krokot yang sudah tua (yang berbiji) karena tidak baik untuk ginjal

#daunkrokot

#herbal

#JSR

Relativitas Dalam Konseptualisasi Ruang: Kasus Guugu Yimidhirr

Konsekuensi kognitif potensial dari perbedaan sistem absolut geosentris untuk penghitungan ruang Guugu-Yimidhirr dan bahasa egosentris bersifat relatif dari bahasa-bahasa Eropa, seperti bahasa Inggris yang bermacam-macam. Desainnya sangat sederhana dan mudah, sistem Guugu-Yimidhirr selalu membutuhkan kemampuan luar biasa untuk menentukan letak yang tepat dari keempat kuadran di wilayah geografis manapun. Di negara terbuka dan pada kondisi siang hari, hal ini mungkin tidak terlalu berat karena menggunakan matahari sebagai panduan, tetapi biasa juga dilakukan dalam kondisi hutan hujan lebat dan di malam hari. Apa yang memang dilakukan adalah adalah penutur Guugu-Yimidhirr membawa peta mental negara mereka memenuhi kuadran dan membiarkan mereka memperbaiki lokasi benda apapun di dalamnya sehubungan dengan posisi mereka sendiri. Memang, mengingat kondisi ekologisnya, sistem absolut Guugu-Yimidhirr nampaknya sangat sesuai untuk navigasi di dalam negara mereka. Hal ini karena selalu memberikan koodinat tetap untuk posisi penutur dan arah tenggara yang ingin dia gambarkan.

Sistem bahasa Inggris egosentris yang sebenarnya agak kurang sesuai dengan kondisi ini, karena ada orang yang hilang di hutan akan mengatakan, arah seperti “pergi 3 km ke kiri, lalu 6 km ke kanan, dan akhirnya 2 km ke kanan lagi”. Sangat tidak mungkin untuk mendapatkan satu rumah untuk makan malam. Arah Guugu-Yimidhirr seperti pergi 3 km kea rah timur, lalu 6 km kea rah selatan, dan akhirnya 2 km ke barat, mungkin juga.

Sementara itu, di Angkola penanda ruang yang digunakan adalah tu jae ‘ke hilir’ dan tu julu ‘ke hulu’. Mengapa penanda ruangnya demikian? Karena daerah Angkola dilewati sungai Batang Angkola sepanjang daerahnya. Selain itu, masyarakatnya memiliki pengalaman di bidang agraris. Karena hal inilah maka penanda ruang utamanya adalah tu jae dan tu julu dari sungai tersebut. Untuk informasi tambahan arah, maka disesuaikan dengan arah mata angin juga, sama seperti Guugu-Yimidhirr ditambah dengan arah siamun ‘kanan’ dan siambirang ‘kiri’ atau juga tu ginjang ‘ke atas’ dan tu toru ‘ke bawah’.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#Guugu-Yimidhirr

#egosentris

#kognitif

 

Pengusulan Semesta Ruang

Konsepsi ruang sangat bergantung pada background knowledge yang mungkin berdasarkan biologis, semesta, sehingga pada dasarnya sama dalam semua bahasa dan budaya. Dengan kondisi semesta dan relung ekologis kita sebagai makhluk yang telah diklaim bahwa kita cenderung membayangkan sumbu dalam istilah relativistik dan egosentris yang diproyeksikan dari ego, titik referensi pusat deiksis untuk semua perhitungan ruang di sepanjang dua sumbu horizontal dan satu vertikal. Dengan demikian, istilah universal mengenai konsep ruang dalam hipotesis (Foley, 1997) ini seperti pada bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa, istilah seperti KIRI-KANAN, DEPAN-BELAKANG seharusnya tidak hanya bersifat semesta pada leksikalnya di antara bahasa-bahasa dunia, namun penggunaannya sebenarnya harus sejajar dengan istilah bahasa Inggris.

Jika demikian, dalam bahasa Angkola juga mengenal istilah yang sama. Penyebutan istilahnya adalah SIAMBIRANG-SIAMUN ‘KIRI-KANAN’ dan JOLO-PUDI ‘DEPAN-BELAKANG’. Kesemestaan ruang juga dialami oleh bahasa Angkola.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

 

Relativitas Konsep Ruang dan Pemerolehan Bahasa

Prinsip relativitas linguistik akan meramalkan bahwa perbedaan linguistik sistematis seperti ini harus tercermin dalam proses pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa menunjukkan pengetahuan yang berkorelasi dengan mitra penutur. Secara khusus, jika sifat-sifat tertentu dari bahasa-bahasa yang dimaksud ditemukan pada awal proses pemerolehan bahasa, maka hal ini kan mengindikasikan bahwa setiap hambatan universal untuk organisasi informasi ruang tidak begitu kuat. Karena pengalaman yang dibentuk dari bahasa ini sangat berperan penting dalam penataan domain ini (Foley, 1997).

Kedua gambar di atas adalah kaitan antara bahasa dan pikiran dan alur pengembangan pikiran dan bahasa anak-anak. Steinberg (1990 dalam Santoso dan Muslich, 2014) menyatakan bahwa sistem pikiran yang terdapat pada anak-anak dibangun sedikit demi sedikit apabila ada rangsangan dari dunia sekitarnya sebagai masukan atau input. Hal yang dapat menjadi input adalah apa yang dilihat anak, didengar, dan yang disentuh yang menggambarkan benda, peristiwa, dan keadaan sekitar anak yang mereka alami. Lama kelamaan pikiran anak akan terbentuk dengan sempurna. Apabila pikiran telah terbentuk dengan sempurna dan apabila masukan bahasa dialami secara serentak dengan benda, peristiwam dan keadaan maka barulah bahasa mulai dipelajari. Lambat laun, sistem bahasanya (perbendaharaan kata dan tata bahasa) pun terbentuk. Sebagian dari sistem bahasa tersebut adalah sistem pikirannya. Mengapa demikian? Karena makna dan semantik bahasa yang digunakan adalah ide yang merupakan bagian dari isi pikirannya. Sistem pikiran dan bahasa menyatu melalui makna dan ide.

            Selanjutnya, pemerolehan bahasa pertama yang dialami oleh anak terdiri dari empat strategi, yaitu:

  1. Strategi pertama adalah meniru. Pedomannya, tirulah apa yang dikatakan orang lain. Contoh: Seorang anak terlalu asyik menonton tv acara film kesukaannya. Tidak disadarinya jarak antara tv dan dirinya terlalu dekat. Melihat hal ini, Ibunya menegur anaknya: Jangan dekat-dekat Toni, nanti matamu rusak. Kalau mata Toni rusak, Toni tidak bisa membaca dan belajar di sekolah lagi. Mundur sedikit ya, Sayang! Di saat yang lain Ibunya terlihat terasa keheranan karena samar-samar terdengar suara Bu Joko, tetangganya muncul di TV, serta merta ia menghampiri TV untuk meyakinkannya. Karena sedang tidak mengenakan kacamaat, ia berupaya mendekati TV. Si Toni, anaknya, yang juga sedang menyaksikan iklan perdana itu dengan lantang berkata: Ma, jangan dekat-dekat dong nanti mata mama rusak. Kalau mata mama rusak, nanti tidak bisa melihat Toni membaca dan belajar di sekolah. Mundur sedikit, ya, Ma!
  2. Strategi kedua adalah produktivitas. Pedomannya adalah buatlah sebanyak mungkin dengan bekal yang telah Anda miliki atau Anda peroleh. Contoh: seperangkat bunyi, kata, struktur kalimat yang terbatas dapat dihasilkan kata, frase, kalimat, dan wacana yang tidak terbatas. Dalam hal bunyi, misalnya, dengan bunyi /k/, /t/, /u/, /a/ kita dapat menyusun kata dalam bahasa Indonesia setidaknya empat kata yaitu:

[kuta]

[kuat]

[tuak]

[akut]

Dari empat kata itu pula, dapat dihasilkan kalimat-kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Contohnya sebagai berikut.

  1. Orang kuat itu terlihat terkapar di pantai Belakangan diketahui ia menderita jantung akut.
  2. Ada indikasi bahwa orang kuat di Kuta itu senang minum
  3. Memang tuak tidak baik meskipun bagi orang kuat karena dapat menyebabkan penyakit yang

Berdasarkan fakta di atas menyadarkan kita bahwa bukan hanya dengan sedikit perangkat saja dapat dihasilkan sejumlah komunikasi bahasa tak terbatas tetapi juga dengan berbagai cara dapat dihasilkan jumlah tak terbatas komunikasi bahasa. Jadi, perangkat terbatas tadi baru menjadi tak terbatas jika diterapkan dengan berbagai cara atau kombinasi berbahasa.

  1. Strategi ketiga adalah hubungan umpan balik antara produksi ujaran dan response. Pedomannya adalah hasilkanlah ujaran dan lihatlah bagaimana orang lain memberi response. Contoh: percakapan anak wanita yang berumur 19 bulan dengan ibunya, yang mendemostrasikan suatu praktik strategi produktif.

Anak         : Saya makan.

Ibu             : O, kamu makan?

Anak         : Saya makan nasi. Saya makan nasi goreng.

Ibu             : O, kamu makan di situ.

Anak         : Ya, makan di sini. Makan?

Ibu             : Ya, kamu boleh makan.

Anak         : (Dia makan). Saya makan.

Ibu             : Ya, kamu boleh makan. Ayo makan.

Anak         : Makan nasi.

Ibu             : Makan nasi goreng.

Ibu secara informal atau secara konvensional, memberikan umpan balik kepada sang anak. Walaupun barangkali strategi ini hanya merupakan salah satu dari sekian banyak kemungkinan, tetapi dapat memberi nilai tertentu. Secara khusus “ukuran” informal bagi perkembangan bahasa seorang anak adalah apa yang “dikatakan” atau yang “diucapkan”nya, bukan apa yang dipahami oleh anak itu. Strategi produktif bersifat sosial dalam pengertian bahwa strategi tersebut dapat meningkatkan interaksi dengan orang lain dan sementara itu bersifat “kognitif” juga.

  1. Strategi keempat adalah prinsip operasi. Pedomannya adalah gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menetapkan bahasa. Pemikiran ini dikembangkan oleh Slobin (dalam Santoso dan Muslich, 2014). Karya Slobin mengenai prinsip-prinsip operasi atau operating principles sungguh menunjang gagasan mengenai anak-anak sebagai pemerhati dan pemakai aktif pola-pola dalam pemerolahn bahasa. Slobin dan mahasiswanya dengan penuh semangat mengumpulkan data mereka sendiri dan telah menelaah secara intensif data yang telah dikumpulkan pakar lain mengenai pemerolehan bahasa pertama lebih dari 40 bahasa. Selain dari “perintah terhadap diri sendiri” oleh anak, prinsip operasi Slobin juga menyarankan “larangan” yang dinyatakan dalam avoidance terms; misalnya “hindari kekcualian”, “hindari pengaturan kembali”.

Dengan demikian, dengan keempat strategi pemerolehan bahasa ini diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk kemudian menjadi sosok yang terampil berbahasa.

 

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

Santoso, Anang dan Muslich, Masnur. 2014. Teori Belajar Bahasa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Properti Tipologi Ruang

Pada banyak kasus, sebuah benda (gambar) terletak berkenaan dengan beberapa tempat atau objek (tanah) dengan menentukan beberapa topologi sifat tanah. Partikel ruang seperti preposisi bahasa Inggris membawa informasi penting tentang semantis untuk menemukan gambar sehubungan dengan tanah. Namun, informasi semantik yang dibawa oleh partikel semacam itu sangan bervariasi dari bahasa ke bahasa.

Sederhananya, preposisi ini misalnya akan dijelaskan dalam contoh bahasa Angkola sebagai berikut. Preposisi dalam bahasa Angkola menurut Sohuturon (1960) terbagi pada empat bagian, yaitu: di, tu, sian, dan ni. Cara penulisannya harus dipisah. Contoh:

  1. Preposisi di ‘di’
  2. Maridi di pancur. ‘mandi di pancur’
  3. Modom di bilik. ‘tidur di kamar’
  4. Marsiajar di sikola. ‘belajar di sekolah’
  5. Tulangta di Medan. ‘paman kita di Medan’
  6. Preposisi tu ‘ke’
  7. Kehe tu poken. ‘pergi ke pekan’
  8. Markopal tu Jawa. ‘berkapal ke Jawa’
  9. Mardalan tu saba. Berjalan ke sawah’
  10. Preposisi sian ‘dari’
  11. Ro sian pasar. ‘datang dari pasar’
  12. Ro ngon Moka. ‘datang dari Mekkah’
  13. Madabu sian tarup. ‘jatuh dari atap’
  14. Preposisi ni ‘dari’
  15. Pat ni meja. ‘kaki dari meja’ à kaki meja
  16. Ulu ni kudo. ‘kepala dari kuda’ à kepala kuda
  17. Jop ni roha. ‘senang dari hati’ à senang hati
  18. Godang ni ate-ate. ‘besar dari hati’ à besar hati

Tetapi pada saat preposisi bertemu dengan kata-kata on, i, adu, indon, indi, indadu, menjadi demostrativa dan harus digabungkan cara penulisannya. Tetapi harus ditambahkan dengan huruf s sebagai penghubung suaranya, dan hal ini khusus hanya untuk kata di dan tu saja.

  1. di ‘di’
  2. di ‘di’+ on ‘ini’ = dison ‘di sini’
  3. di ‘di’+ i ‘itu’ = disi ‘di situ’
  4. di ‘di’+ adu ‘itu’ = disadu ‘di sana’
  5. di ‘di’ + indon ‘ini’ = disindon ‘di sini’
  6. di ‘di’ + indi ‘yang ini’= disindi ‘di sebelah sini’
  7. di di’ + indu ‘yang itu’ = disindu ‘di sebelah situ’
  8. di ‘di’+ indadu ‘yang itu’= disindadu ‘yang di situ’
  9. tu ‘ke’
  10. tu ‘ke’+ on ‘ini’ = tuson ‘ke sini’
  11. tu ‘ke’+ i ‘itu’ = tusi ‘ke situ’
  12. tu ‘ke’+ adu ‘sana’ = tusadu ‘ke sana’
  13. tu ‘ke’+ indi = tusindi ‘ke sini’
  14. tu ke’+ indu = tusindu ‘ke situ’

Demikianlah pemaparan contoh dalam preposisi dan demonstrativa yang dapat memberikan batasan topografi ruang dalam pembahasan ini.

Pengujian Pemahaman Relativitas

Levinson (dalam Foley, 1997) telah menyelidiki konsekuensi kognitif sistem perhitungan ruang absolut dari penutur Guugu-Yimidhirr dan membandingkannya dengan kelompok control penutur bahasa Belanda yang sistem linguistiknya adalah egosentris, setara dengan relativistik bahasa Inggris. Pertanyaan ekssperimental yang dirancang berupa beberpa tugas nonlinguistik yang harus mengungkapkan fungsi kognitif sistem ini. Pertama, ia mencoba untuk menguji kemampuan sepuluh penutur Guugu-Yimidhirr dalam menunjukkan arah lokasi tertentu di luar jangkauan penglihatan, mulai dari beberapa kilometer saat burung gagak terbang ke beberapa ratus orang. Mereka didorong melalui semak-semak dengan berbagai rute berputar dan saat berhenti di tempat yang memiliki pandangan yang terbatas (misalnya hutan hujan lebat), diminta melakukan tugas ini.

Hasilnya luar biasa. Kesalahan rata-rata kurang dari 4 persen diperoleh penutur Guugu-Yimidhirr yang luar biasa menggunakan sistem absolut ini. Untuk menentukan arah tenggara ini tidak cukup tetapi juga untuk mengetahui arah utara, selatan, timur, dan barat.  Arah tenggara tertentu mungkin berada di sebelah selatan dari salah satu bagian wilayah Guugu-Yimidhirr dan harus benar-benar yakin arahnya, sehingga setiap arah tenggara dapat ditemukan berkenaan dengan hal itu dan ditugaskan ke kuadran yang tepat. Sementara itu, sampel penutur Belanda menunjukkan tidak ada kemampuan yang sebanding dengan Guugu-Yimidhirr.

Penutur Guugu-Yimidhirr memiliki prangkat ekspresif yang berefek langsung pada kebiasaan proses berpikir sebagai pengakuan memori dan kesimpulan dari pengeras suara. Penutur Guugu-Yimidhirr harus menyimpan informasi ruang dalam memori dengan cara yang berbeda dari penutur bahasa Inggris atau Belanda. Benda apapun selalu dianggap dalam sebuah ruang beton yang disesuaikan menurut empat sumbu kuadran (Levinson dalam Foley, 1997).

Konfirmasi yang sangat mengejutkan diberikan oleh Haviland (dalam Foley, 1997). Penutur Guugu-Yimidhirr biasanya memberi isyarat untuk menunjukkan arah pada saat mereka menceritakan kidah dan isyarat ini mempertahankan orientasi absolut, sehingga jika sebuah peristiwa terjadi di sebelah timur dalam narasi, narrator akan menunjuk ke timur, terlepas dari orientasi pribadinya. Haviland merekam kisah kapal yang terbalik pada tahun 1980. Dua tahun kemudian, Levinson secara serempak juga merekam cerita yang sama. Pada tahun 1980, narrator duduk menghadap kea rah barat, sedangkan pada versi 1982 dia menghadap kea rah utara. Namun, dalam kedua penafsiran gerak tubuhnya benar-benar berorientasi, sehingga ketika memberi isyarat ke selatan untuk menunjukkan arah selatan dalam versi 1982 di atas bahunya. Sepanjang kedua penafsiran cerita tersebut, isyarat untuk menunjukkan orientasi dan gerak dalam peristiwa cerita secara akurat diberikan. Namun, karena orientasi narator cerita yang sulit, mereka harus memiliki orientasi yang berbeda dalam setiap kasus. Hal ini sangat mendukung anggapan bahwa peserta, tempat, dan kejadian dalam cerita ini dikenal oleh narator dengan orientasi dan koordinat gerakan yang telah ditentukan sesuai dengan sumbu mutlak kuadran tetap.

Dengan demikian, ini buknlah proses mental yang berarti dan tampaknya terkait dengan kebutuhan ekspresif dari bahasa Guugu-Yimidhirr. Namun ini adalah dukungan yang kuat untuk dicatat bahwa klaim atas pengaruh relativitas linguistik untuk kognisi ruang pada penutur Belanda versus Guguu-Yimidhirr tidak melemahkan klaim kesatuan psikis umat manusia. Kemampuan kognitif, bahasa yang independen dari kedua jenis relatif dan absolut dan tersedia untuk setiap kognitif.

Reformulasi Teori Silverstein

Proyek Silverstein pada dasarnya adalah perluasan Prinsip Relativitas Linguistik di luar nilai referensial kategori gramatikal untuk memasukkan sifat pragmatis indeksikalnya. Dia menggabungkan ini dengan tema lain yang diwarisi dari karya sebelumnya dalam tradisi Boasian. Hal ini relatif tidak dapat diakses oleh kesadaran akan kategori linguistik dan penjelasan sekunder yang konsekuen. Silverstein (1981) mengembangkan tipografi kategori gramatikal dalam hal aksesibilitas mereka terhadap kesadaran. Silverstein mengklaim bahwa penutur dapat lebih mudah menyadari bit of speech yang memiliki komponen referensial yang tinggi (yaitu relatif mudah dalam glossing metasemantic) sesuai maknanya, misalnya lexemes lambang nominal dan verbal. Bits of speech yang maknanya lebih pragmatis dan indeksikal, misalnya partikel seperti kata ganti dengan perbedaan kesopanan.

Prinsip Relativitas Linguistik kemudian berubah menjadi sebuah pernyataan tentang bagaimana perbedaan antara makna antara kategori-kategori gram-makro ini (dan parameter-parameter lain seperti segrnentabilitas) dalam berbagai bahasa menyebabkan pola perizinan kognitif yang berbeda dan pada akhirnya menghasilkan sistem pengayaan ideologis yang berbeda. “Dunia” merupakan kendala eksposur. Fakta bahwa siklus waktu diperlakukan secara linguistik sehubungan dengan kategori gramatikal jumlah, seperti objek dalam bahasa Inggris, menyebabkan kedua siklus dan objek dipahami melalui peruntukan kognitif untuk menjadi serupa dengan cara tertentu. Hal ini kemudian diproyeksikan dari refleksi sadar ke dalam ideologi dan konseptualisasi yang meniru berulang interval waktu dengan cara seperti beberapa tanda dari sejenis objek (Whorf dalam Foley, 1997).

Kontribusi penting Silverstein di sini adalah untuk menguraikan teori struktur linguistik dan makna yang dapat diberi parameter sehubungan dengan kemungkinan dan arah dari proses pengambilan kognitif semacam itu. Hal ini terlihat dari jamak dalam bahasa Inggris yang sangat tinggi dalam hal parameter aksesibilitas terhadap kesadaran. Akhirnya, gagasan Silverstein mengklaim bahwa ciri struktur dalam bahasa mengarah pada konsep tentang struktur “dunia”- pandangan Whorfian yang sepenuhnya.

Teori Whorf Dari Pemberian Kognitif

Contoh pendekatan Whorf yang paling komprehensif untuk menunjukkan kelangsungan hidup Prinsip Relativitas Linguistik adalah perbandingan sistem linguistik global dalam dua bahasa dan cara berpikir kebiasaan yang ditunjukkan dalam praktik budaya. Ditemukan dalam esainya, Hubungan pemikiran manusia dan perilaku terhadap bahasa (Whorf 1956: 134-59), ditulis untuk volume peringatan Sapir dan diterbitkan pada tahun 1941 (Lucy (1992b) melihat makalah ini sebagai inti korpus Whorf). Dalam tulisan ini Whorf membandingkan pola linguistik dan pemikiran kebiasaan atau pengalaman dari Hopi dengan apa yang dia sebut dengan Standard Average European (SAE), mengenai perbedaan antara bahasa Inggris dan bahasa Eropa lainnya sebagai hal sederhana sehubungan dengan fitur yang dia selidiki. Domain semantik yang dia minati adalah massa dan waktu. Inti argumen Whorf adalah bahwa abstraksi ini tidak dapat dikenali secara langsung, namun hanya melalui pengalaman dan pengalaman. Sesuai dengan Prinsip Relativitas Linguistik, ditafsirkan melalui kategorisasi yang pada akhirnya berasal dari sistem gramatikal yang bekerja dalam bahasa tersebut.

Neo-Whorfianisme: Studi Empiris Lucy

Sejak sekitar tahun 1980, pertumbuhan baru tentatif mulai muncul dalam tradisi Boasian, terutama di University of Chicago di sekitar Paul Friedrich dan Michael Silverstein, dan murid mereka. Makalah Silverstein (Silverstein 1976, 1979, 1981, 1985, 1987, 1992) mengartikulasikan kembali karya cerdas Sapir dan gagasan Whorf, namun studi paling luas tentang Prinsip Relativitas Linguistik sejak Whorf muncul dalam karya penting oleh John Lucy (1992a, B), dia menawarkan reformulasi yang direvisi dan secara psikologis lebih ketat untuk itu.

Lucy menyimpang dari Sapir dan Whorf dan selanjutnya kemudian peneliti melihat Relativitas Linguistik sebagai hipotesis untuk diuji.

Dia memberi parameter pada hipotesis dengan memisahkan bahasa dan berpikir sebagai domain yang otonom dan kemudian menentukan bagaimana sistem pada sistem terdahulu memiliki efek yang dapat dideteksi pada akhirnya, terutama melalui pengujian kognitif psikologis yang diberikan kepada penutur bahasa yang berbeda. Tidak jelas bahwa pemisahan bahasa dan pemikiran operasional ini sesuai dengan pandangan Whorf sendiri, yang dengan hal tersebut hubungan antara bahasa dan kebiasaan berpikir ternyata jauh lebih langsung dan tidak langsung. Namun bagaimanapun, karya Lucy dapat berdiri sendiri sebagai kontribusi berharga atas haknya sendiri.

Penelitian Lucy (l992a) berkisar pada studi kontrasepsi dengan kategori gramatikal dalam bahasa Inggris dan Yucatec Maya, bahasa Meksiko. Keduanya, English dan Yucatec menandai jamak pada kata benda, namun berbeda sehubungan dengan distribusinya infleksi. Bahasa Inggris kontras menghitung kata benda seperti man dan book dengan nomina massa seperti milk dan rice. Semua nomina hitung jamak, dan infleksi ini wajib, jika secara semantik dipanggil; nomina massa tidak dapat dipantau secara inflektif pada jamak, jadi:  men, book, tapi *milks, *rices. Di Yucatec, pluralisasi bersifat opsional dan, pada saat itu, hanya tersedia untuk kata benda yang menunjukkan makhluk bernyawa. Dengan menggunakan fitur [± animate] untuk animasi dan [± discrete] untuk pembedaan hitungan/massa nomina, tiga kelas kata benda dalam dua bahasa.

Relativitas Linguistik dan Tradisi Boasian

Tradisi Boasian menurut Foley (1997) diambil dari nama Franz Boas yang lahir dan dilatih di Jerman. Tidak mengherankan jika banyak gagasan khas dari tradisi Boasian, termasuk relativitas linguistik dan memiliki prekursor dalam pemikiran Jerman abad kesembilan belas. Semua pemikiran Jerman pada periode ini tentu saja berada dalam bayangan sintesis filosofis Kant yang hebat, sehingga sikap epistemologisnya (yaitu bahwa kategori mental dipaksakan pada pengalaman yang masuk akal) diterima secara luas. Tetapi warisan Kant dikaitkan dengan penekanan romantisme pada kreativitas bebas dan individual, dan makna subjektifnya, yang mengarah pada campuran relativis neo-Kantian yang membingungkan dan memperdebatkan keragaman di antara kategori mental masyarakat menurut budaya, ras, bangsa, dengan akibat perbedaan pengalaman dan harapan mereka.

Boas

Boas yang telah dilatih di Jerman, menurut Foley (1997) mengimpor tradisi intelektual Jerman Herder dan Humboldt ke Amerika Serikat, yang saat itu adalah tokoh sentral dalam tradisi antropologi dan antropologi Amerika. Boas menerima gelar Ph.D. tidak dalam disiplin ilmu ini, namun dalam psikofisika, dan memiliki motivasi yang dalam mendalami pekerjaannya secara empiris yang didasarkan pada antropologi dan linguistik. Hal ini sesuai dengan perannya dalam bereksperimen mengenai ilmu pengetahuan alam. Dia menemukan ketertarikan dalam studi komparatif dan analisis tentang berbagai budaya dan bahasa penduduk asli Amerika Utara, Indian Amerika. Dia mendalami antropologi dan linguistik dalam kerja lapangan di antara budaya dan bahasa. Oleh karena itu, benar-benar untuk pertama kalinya, gagasan Herder dan Humboldt dapat diselidiki berdasarkan fakta empiris yang solid. Boas berpendapat bahwa pembentukan kategori, bahasa, atau etnografi yang tidak disadari, adalah fakta mendasar tentang kehidupan manusia, namun penyelidikan kategori linguistik sangat penting karena mereka selalu tidak sadar dan dapat dipelajari untuk mengetahui apa yang mereka nyatakan tentang konstruksi simbolis budaya.

Sapir

Edward Sapir adalah murid linguistik Boas yang paling cemerlang dan mungkin ahli bahasa Amerika termasyhur pada abad kedua puluh. Dia melanjutkan banyak tema Boas. Namun beliau menambahkan pandangan strukturalis tentang bahasa sebagai sistem koheren dari seperangkat subsistem yang saling terkait dengan gagasan Kantian, guru tentang kategori linguistik sebagai klasifikasi pengalaman. Dengan demikian, setiap bahasa adalah sistem yang secara formal lengkap, keragamannya membuat bahasa tidak sebanding satu sama lain sampai tingkat tertentu (Sapir, 1964 dalam Foley, 1997). Bagi Sapir, sebuah bahasa adalah saluran yang membatasi penuturnya untuk menafsirkan pengalaman, serupa dengan salah satu dari model listrik, bukan cerminan dari beberapa realitas yang sebelumnya diberikan secara independen, baik fisik maupun mental.

Whorf

Benjamin Lee Whorf bukanlah seorang akademisi professional. Setelah mendapat gelar sarjana insinyur kimia, dia bekerja sebagai penyidik ​​perusahaan asuransi dan mempelajari linguistik di waktu senggangnya. Dia berhubungan dengan Sapir setelah terakhir kali datang ke Universitas Yale pada tahun 1931 dan terus melakukan kontak intensif dengan ahli bahasa profesional sejak saat itu sampai kematiannya pada tahun 1941. Whorf adalah nama yang paling akrab dikaitkan dengan Prinsip Relativitas Linguistik, walaupun sebagian besar pemikirannya langsung terinspirasi oleh Sapir. Namun, Whorf berlatih sebagai ilmuwan alam dan minatnya yang tidak biasa membuatnya berhasil menguraikannya dengan caranya sendiri. Dia mengikuti Boas dalam melihat kategori linguistik sebagai kelas inheren dan Sapir dalam desakannya terhadap sistematika kategori ini, namun dia memperkenalkan perbedaan baru dan penting antara dua jenis kategori: terbuka dan tertutup.