Semangat juang para pemain Jepang kemarin saat piala dunia Word Cup saya kira layak diacungi jempol dan diberikan tepuk tangan yang paling meriah. Mereka berhasil mengalahkan salah satu tim favorit juara Piala Dunia Qatar tahun 2022 ini.
Tetapi yang lebih menarik mengapa kemenangan tim Asia ini membuat orang-orang di sekitaran kita merasa bangga. Ketika Arab Saudi mengalahkan Argentina kita merasa bangga. Apakah kita sudah bosan dengan dominasi-dominasi Barat selama ini. Baik dominasi bidang politik, dominasi bidang budaya, bahkan di bidang olah raga. Sehingga kemenangan ini seolah kita merasa bahwa ini adalah kemenangan peradaban Timur atas peradaban Barat.
Semua itu bisa saja terjadi. tetapi yang pasti ketika Jerman melawan Jepang ini saya menyaksikan satu gelagat arogansi dari salah satu pemain Jerman terutama pemain belakangnya yaitu Antonio Rudiger ketika dia saling adu sprint dengan pemain Jepang di sisi kiri pertahanan Jerman lalu kemudian pemain Jepang ini kalah lari, dia lari dengan mengangkat kaki seolah dia sedang berolah raga.
Ada pertunjukan bahwa menghadapi Jepang seperti dengan berhadapan pada saat latihan. Tetapi dia lupa bahwa pertandingan masih sedang berjalan, jepang mampu melipat gandakan semangatnya, melipatgandakan kecepatannya dan akhirnya mereka menyelesaikan pertandingan dengan kemenangan 2-1 sebagaimana Arab Saudi mengalahkan Argentina sehari sebelumnya.
Peringatan hari pahlawan begitu adanya, artinya prosedur, isi dan waktunya sudah distandarkan yaitu dilaksanakan untuk menumbuhkembagkan jiwa kepahlawan bangsa kita tercinta Indonesia.
Tanggal pelaksanannya sudah ditentukan yaitu 10 November, isi cerita di dalamnya demikian pula yakni untuk mengingatkan kembali akan keberanian para pemuda atau arek-arek Surabaya mempertahankan bumi pertiwi dan melawan tentara sekutu yang akan merebut kota Surabaya.
Karena peringatan, maka semuanya sudah terstandarkan; bagaimana, bila mana, kapan dan isinya.
Begitu pula shalat, ketika di pahami sebagai peringatan, maka jumlahnya minimal lima waktu; Waktu Maghrib, Isya’, Shubuh, Dhuhur dan Ashar. Bagaimana dilaksanakan dan berapa jumlah roka’atnya, semua sudah terstandarkan.
Kapan dan berapa roka’at shalat Maghrib, Shalat Isya’, dst dilakukan, semuanya dengan aturannya. Demikian pula Shubuh, Dhuhur dan Ashar serta shalat-shalat yang lainnya yang disebut dengan shalat sunnah.
Fungsi shalat sebagai peringatan, artinya ketika shalat itu dirukunkan atau dilakukan dengan rukun atau anggota badan.
Shalat yang demikian tidak berfungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar, karena memang bukan itu fungsinya, maka ia tidak melahirkan pribadi yang demikian.
Shalat ketika dirukunkan atau dilakukan dengan anggota bada berfungsi sebagai peringatan.
Sungguh Aku ini adalah AKU yang tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkan shalat untuk ingat akan Aku..
Jelas sekali, shalat yang dimaksud dalam firman Allah swt di atas adalah sebagai peringatan, bukan mencegah perbuatan keji dan mungkar.
Karena sebagai peringatan, maka aturan dan berbagai hal di dalamnya sudah ditentukan; kapan, bagaimana dan seterusnya.
Maka tidak perku heran atau dipersoalkan, jika didapatkan orang-orang yang “ahli shalat” dalam artian shalat yang berfungsi sebagai peringatan ini, mereka melakukan perbuatan keji dan mungkar.
Misalnya, kening yang hitam karena banyak melakukan sujud, tapi keras sikapnya terhadap orang, intoleran dan bahkan juga menipu atau mencuri dsb.
Banyak juga para kuroptor yang mencuri uang negara, meraka adalah “ahli shalat” dalam artian shalat rukun ini.
Karena memang shalat dalam arti ketika dirukunkan, itu tidak berfungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar, ia berfungsi untuk peringatan.
Kemudian, shalat yang manakah yang berfungsi untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar..?
Baca apa yang diwahyukan kepadamu dari kitab (catatan) dan tegakkan shalat. Sesungguhnya shalat demikian itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Dan sesunguhnya ingat akan Allah itu adalah dengan ingat Akbar. Allah mengetahui apapun yang kamu perbuat.
Dengan membaca kitab itulah shalat yang berfungsi mencegah perbuatan keji dan mungkar serta dengan ingatan kita akan Allah melalui Akbar.
Apa itu kitab dan siapa Akbar..?
Kitab atau catatan yang ada di dalam dada yang musti dibaca, ia benar adanya.
Selalu membaca catatan diri dan dialah iman kepercayaan Tuhan. Dialah ilmu atau tahu, benar dikata benar dan salah dikata salah. Ia cahaya, karena selalu memberikan penerangan. Dialah yang tiada keraguan di dalamnya dan menjadi petunjuk bagi yang bertaqwa.
Baru diperoleh dzikir akan Allah melalui Akbar.
Akbar adalah sifatnya Allah, dialah Muhammad rasulullah saw.
Allah adalah dzat dan Akbar adalah sifatnya Allah swt.
Dengan selalu membaca catatan diri di dalam dada dan ingat akan Muhammad sebagai rasul atau utusan, artinya selalu mengingat dan mencontoh serta mengikutinya, maka tercegahlah perbuatan keji dan mungkar.
Inilah yang disebut shalat dalam arti hakikiinya shalat, yakni sambung tiada putus selama-lamanya antara Mukmin dengan Rasulullah saw dan Allah swt.
Judul tulisan ini adalah dua buah makanan kudapan yang berbeda. Bakwan dan weci.. yaa dua kudapan ini adalah snack favorit banyak orang di Indonesia.
Namun dari jenisnya sebenarnya keduanya adalah dua makanan yang berbeda. Berbeda dari segi arti dan resep. Itupun setiap daerah ternyata memiliki resep kesukaan yang tidak akan sama atau nyaris sama.
Seperti misalnya bakwan. Bakwan di kotaku di Malang adalah makanan berjenis gorengan dan dipergunakan sebagai lauk pendamping. Bakwan terbuat dari bahan jagung muda dengan bumbu yang beragam. Bakwan dibumbui dengan citarasa cenderung pedas. Yaitu cabe, bawang putih, ketumbar, daun jeruk, kencur dan kunci. Untuk 4 bumbu terakhir banyak para bunda yang menvariasikannya atau menggunakan salah satunya.
Beda dengan bakwan yang ini, bakwan yang berbentuk kuah bakso. Ya.. bakwan ini sangat berbeda. Nama bisa sama namun bentuknya sangat jauh berbeda. Asal kata bakwan dalam bahasa China sebenarnya adalah bak yang berarti babi. Dan masih banyak saya temukan kuliner bakso namun dilabel bakwan. Kalau kita tidak meneliti terlebih dahulu saat akan membeli atau makan, mungkin kita akan mendapatkan makanan yang berbeda dengan yang kita perkirakan.
Di Sidoarjo Jawa Timur, Surabaya dan sekitarnya Weci seringkali disebut dengan Ote-ote. Dan Ote-ote yang paling terkenal adalah di kota Porong, kota yang masuk dalam Kotamadya Sidoarjo Jawa Timur. Ote-ote Porong berbahan berbeda dengan Weci. Namun banyak yang mengatakan bahwa Ote-Ote Porong adalah Weci ala Surabaya. Bahan dasar Ote-ote Porong adalah mempergunakan tepung kedelai, bukan tepung terigu. Sedang penganan gurih ini tidak mempergunakan sayuran sebagai campurannya, melainkan cacahan daging ayam atau sapi. Di Solo, dengan bentuk dan resep yang sama snack ini disebut dengan Pia-pia.
Weci di Malang sangat variatif. Terutama pada isi atau campuran adonannya. Sayur yang dipergunakan dalam adonan Weci beragam antara lain kol, kecambah, wortel, daun bawang perai, daun seledri, sawi hijau, atau sawi putih. Namun bukan berarti semua sayuran ini dipergunakan secara bersamaan. Kebanyakan Weci menggunakan 1 hingga 2 macam sayuran yang saya sebut di atas. Bumbu yang dipergunakan adalah bawang putih dan merica bubuk. Adonan Weci seringkali tidak mempergunakan telur, meski bila diberi sebutir telur akan mempermudah penggorengannya (tidak melekat).
Weci memang bagusnya tidak menggunakan telur karenasayur mayur di dalam adonan weci inilah yang akan memproses oksidasi adonan sehingga akan memunculkan gelembung-gelembung udara. Ini akan mempermudah pencetakan Weci dalam sendok sayur di dalam minyak. Rasanyapun akan jauh lebih empuk dan gurih setelah adonan mengalami proses fermentasi.
Kunjarakarna Story, 1st Level, Candi Jago, Malang, East Java
Sejarah Terulang Setelah Ribuan Tahun Oleh Ika Farihah Hentihu
Pengulangan sejarah adalah pengulangan peristiwa serupa di dalam sejarah. Konsep pengulangan sejarah telah diterapkan dengan berbagai cara pada keseluruhan sejarah dunia (misalnya, pada kebangkitan dan kejatuhan kekaisaran) ataupun adanya pola-pola yang terulang dalam sejarah dunia, semisal sejarah pemerintahan tertentu atau dua peristiwa tertentu yang memiliki kesamaan yang mencolok. Secara hipotetis, konsep pengulangan sejarah adalah sebagai bentuk doktrin pengulangan abadi yang tertulis dalam berbagai bentuk sejak zaman kuno yang kemudian dijelaskan pada abad ke-19 oleh Heinrich Heine dan Friedrich Nietzsche. Meskipun sering dikatakan bahwa sejarah berulang dengan sendirinya, dalam siklus yang kurang dari durasi kosmologis, hal ini tidak sepenuhnya benar. Pengulangan terjadi karena keadaan yang dapat dipastikan dengan rantai kausalitas. Memang pengulangan dalam bentuk temuan dapat direproduksi yang diperoleh melalui eksperimen atau pengamatan. Ini sangat penting bagi ilmu-ilmu alam dan sosial juga dalam bentuk pengamatan kebetulan yang dipelajari melalui metode komparatif yang dalam konsep humaniora. GW Trompf, dalam bukunya The Idea of Historical Recurrence in Western Thought, menelusuri pola pemikiran dan perilaku politik yang berulang secara historis di barat sejak zaman kuno. Jika sejarah memiliki pelajaran untuk diberikan, maka bisa ditemukan cukup baik dalam pola yang berulang seperti itu. Pengulangan historis dari jenis kemiripan yang mencolok terkadang dapat menimbulkan rasa konvergensi, resonansi atau bahkan déjà vu. GW Trompf mencatat bahwa sebagian besar konsep barat tentang pengulangan sejarah menyiratkan bahwa masa lalu memberikan pelajaran untuk tindakan di masa depan dan ternyata jenis peristiwa yang sama yang telah terjadi sebelumnya akan terulang kembali. Tema bahwa peradaban berkembang atau gagal karena sesuai dengan tanggapan mereka terhadap tantangan manusia dan lingkungan yang mereka hadapi dan akan diangkat ratusan bahkan ribuan tahun kemudian. Metafora sosial-organisme juga telah ditelusuri kembali ke filsuf Yunani, Aristoteles (384–322 SM), akan terulang berabad-abad kemudian dalam karya-karya filsuf dan sosiolog Prancis Auguste Comte (1798–1857), Filsuf Inggris Herbert Spencer (1820–1903), dan sosiolog Prancis mile Durkheim (1858–1917). Stith Thompson (1976) mengurai ribuan peristiwa di muka bumi ini menjadi sebuah pola teratur yang didesain dalam index peristiwa. Bukunya, The Folktale menjadi rujukan kekinian terhadap semua peristiwa yang terjadi di muka bumi. Layaknya kisah Sampek Engtay yang sangat masyhur nyatanya menjadi inspirasi puluhan film-film Korea dan Jepang. Yaitu seorang perempuan di zaman lalu yang seringkali tidak bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar dan sekolah sehingga memaksa dia untuk menyamar menjadi laki-laki agar bisa masuk ke lingkungan laki-laki. Dan kisah yang sama pula berulang dalam Folktale Kunjarakarna. Adalah sebuah candi yang terletak di kota Malang yaitu Candi Jago, Candi dengan panel relief yang menyimpan konsep pengulangan sejarah dan siklus hidup manusia yang bukan tidak mungkin mengambil cerita dan peristiwa ribuan tahun sebelumnya sebagai inspirasi. Candi Jago didirikan di abad 13 pada masa Kerajaan Singhasari. Salah satu relief paling fenomenal adalah Relief Kunjarakarna di teras pertama candi. Cerita atau folktale dalam relief yang ditulis dalam kakawin (syair) yang ditulis oleh Mpu Dusun menggambarkan seorang Yaksa (raksasa) bernama Kunjarakarna yang menyaksikan dahsyatnya siksaan neraka. Dan sangat mungkin bahwa cerita yang ditulis di abad 15 ini terispirasi oleh peristiwa Isra Mi’raj di abad ke 7 dan Nabi Idris di tahun 4533 SM. Kedua peristiwa yang mendunia ini mengispirasi semua ideologi saat itu termasuk Mpu Dusun yang telah menulis kakawin Kunjarakarna di abad ke 15. Dan lagi-lagi sejarah terulang, tepat seperti yang telah didesain oleh Stith Thompson, peristiwa kunjungan Nabi Idris AS, lalu dilanjutkan dengan Nabi Muhammad SAW dalam Isra Mi’raj nya lalu diakhiri dengan relief Kunjarakarna di Candi Jago mendapatkan index Internasional yaitu A661 untuk index Visiting Heaven dan A671 untuk index Hell. Nyatanya keduanya menjadi topik penting yang mengispirasi ukiran relief di Candi Jago ini. Mpu Dusun pun bukan berasal dari kalangan berdarah biru seperti kebanyakan kita temukan tentang karya-karya sastra yang banyak ditulis oleh kalangan istana. Namun jurnalis pinggiran ini justru ikut melestarikan peristiwa bersejarah Rasulullah SAW dan Nabi Idris AS dalam folktale Kunjarakarna di Candi Jago. Sangat mirip dengan 2 peristiwa ini yaitu sang Yaksa atau raksasa dalam mitologi Jawa ini menyaksikan adegan penyiksaan di neraka. tepat seperti yang dialami oleh dua Nabi Allah. Ada banyak konsep didaktik yang sarat ajaran moral yang sangat penting guna memahami sistim kepercayaan masyarakat pada masa itu. Pada sisa panel relief yang tertimpa lumut dan jamur itu, lakon siksa neraka ini masih jelas menampilkan pesan betapa hukum sebab akibat berlaku.
Bahasa Arab itu bahasa yang mulia, lembut dapat menentramkan serta menenangkan jiwa dan hati. Umat Islam saat mendengar lantunan ayat suci Al-Quran akan tentram dan nyaman. Dalam Al Qur’an sudah dijelaskan bahwasanya bahasa Arab adalah bahasa yang fasih, jelas, luas dan banyak mengandung makna yang menentramkan jiwa.
Begitu pula dengan bahasa Jawa. Bahasa satu ini saya anggap juga memberikan ketentraman pada pengguna dan pendengarnmya. Sebagai contoh ada seorang wanita dengan logat Bahasa Sunda mengobrol dengan saya melalui telepon. Saat itu wanita tersebut adalah manajer sebuah bank di Bandung yang hendak memberi persetujuan kredit nasabah yaitu adik saya. Sayapun menyetujui untuk dipasang sebagai saksi di permohonan kredit adik sejumlah 1 M tersebut.
Kemudian tersambunglah dialog antara saya sebagai pengguna Bahasa Jawa yang meskipun sudah sedikit bergeser karena saya adalah orang Jawa Timur dengan orang Sunda. Wanita tersebut mengggunakan bahasa Indonesia dialek Sunda dengan cukup berhati-hati karena akan menandatangani kredit bernilai besar.
Dengan hati-hati wanita tersebut bertanya ini ibu Ika (dengan nada Sundanese yang kental)? Dan saya jawab apa coba.. Jawaban saya juga berhati-hati dan cukup pelan, bersahaja dan menghargai dengan satu kata yaitu inggih (Jawa : iya). Selanjutnya bahasa itu pula yang kupergunakan dalam merespon pertanyaan wanita Sunda tersebut.
Kata panggil pun kusesuaikan dengan kondisi yaitu seorang wanita muda di Jawa akan sangat menghargai bila dipanggil dengan panggilan mbak. Dan itu pula yang selalu kukatakan dari awal hingga akhir saat bercakap dengan wanita tersebut. Yaitu “inggih mbak”.
Bahasa Jawa juga selalu diucapkan dengan suara tidak tinggi sebenarnya, halus namun masih terdengar jelas. Kadang diucapkan dengan nada agak tinggi bila ingin menegaskan atau sedikit emosi. Dan itu pula yang kupakai saat berbicara dengan manajer Bank berdarah Sunda ini.
Dan woila! Berhasil..
Kredit yang diajukan oleh adik senilai 1 M itu lolos.
Mudah-mudahan karena bahasa Jawa yang menentramkan didengar seperti Bahasa Arab.
Anda pernah mendengar istilah “scammer” dari media email, seperti yahoo dan gmail? Atau dari social media seperti instagram, facebook, dan tiktok? Dan mungkin juga melalui media komunikasi seperti sms dan whatsapp? Perlu diketahui bahwa scammer adalah sebuah trik menipu demi mendapatkan uang dengan segala macam cara. Dan yang pasti scammer ini apapun bentuknya akibatnya sangat merugikan korbannya. Korban kadang tidak sadar karena ada satu cara para penipu ini membujuk dengan rayuan-rayuan gombal seperti yang terjadi pada teman saya beberapa tahun lalu.
Kapan sebenarnya terjadi aktifitas penipuan dengan model scammer ini dimulai dan terjadi? Dari beberapa teman yang pernah bercerita juga cerita-cerita yang pernah saya baca, scammer mulai sering terjadi pada 2006 an. Seorang teman bercerita dengan sangat riang bahwa ada bule yang hendak melamarnya. Sebenarnya saya merasa curiga ada bule yang kesasar ke negara Indonesia yang notabene jauh dari negara dia berasal yaitu Inggris.
ini perlu diketahui juga bahwa negara asal para scammer ini kebanyakan adalah dari Inggris. jadi bukan ratu-ratunya saja yang terkenal. Penipunya juga bejibun hingga melintas batas negara. Namun mungkin mereka sudah berkali-kali sukses menipu cici-ciwi Indo yang mudah banget ditipu dengan cara bujuk rayu yang manjur. Sehingga singkat cerita teman saya ini sempat mengirimkan sejumlah uang kepada bule tersebut.
Awalnya si bule PDKT yang cukup intens ke temen saya ini. Nah berhubung temen saya ini jomblo maka bagai gayung bersambutlah cerita keduanya. Beberapa waktu berlalu kemudian bule ini bermaksud mengirimkan hadiah sebagai tanda kedekatan mereka. Dan juga sebagai tanda bahwa bule tersebut serius akan melamar. Hadiah ini akan dikirim ke alamat rumah temen di Blitar. Saat itu mereka sudah menggunakan komunikasi whassap sehingga bisa terlihat online tidaknya sang lawan bicara. Hadiah tersebut sempat difoto oleh si bule ini dengan tulisan nama dan alamat yang dituju. Dia menyebutkan isi dari kotak tersebut adalah laptop baru, tas bermerk Hermes dan sejumlah uang dalam amplop sebesar Rp. 25juta. Dan seketika itu pula teman saya girang, seluruh teman kerabat dan saudara kesemuanya ikut bergembira karena temen saya mengumumkan bahwa dia akan segera mengakhir masa jomblonya.
Namun kemudian sesuatu terjadi, apa itu? Beberapa hari kemudian teman saya ditelpon dengan nomor Malaysia. Dari suaranya terdengar logat Melayu kata teman saya, yang isinya mengatakan bahwa teman saya mendapat paket kiriman dari Inggris yang tidak dikirimkan ke alamat Indonesia dengan alasan tidak ada wakil biro penerimaan paket. Sehingga paket itu dikirimkan ke alamat biro Malaysia. Konsekwensinya teman saya harus mengirimkan sejumlah uang ke biro tersebut dengan jumlah Rp. 10juta agar biro tersebut kemudian mengirimkan paket tersebut ke Indonesia. Saat itu sayapun tidak bisa memberi pertimbangan apapun. Sepertinya baru teman saya ini yang mengalami kisah tertipu oleh bule. Saya tidak bisa memberi diskusi apapun karena memang tidak paham apa yang sedang terjadi.
Dan akhirnya beneran, temen saya benar-benar mengirimkan uang ke bule tersebut dengan akun bank pengiriman ke Malaysia. Tadinya teman saya bilang tidak bisa memberikan uang sebanyak itu, Dan anehnya dari pihak biro Malaysia memberikan keringanan beberapa ribu rupiah saya kurang paham. Dan setelah dikirimkan uang tersebut, apa yang terjadi? Anda sudah bisa mengira sendiri. Yaa.. bule itu sudah tidak bisa dihubungi lagi. Bahkan saat no WA nya dalam keadaan online.
Dan akhirnya tinggal berkeluh kesah saja teman saya. Saya juga tidak bisa menahan sedih. Apalagi teman saya juga sudah sering dibully oleh keluarganya dibilang karena perawan tua.
Ok saya akan coba sampaikan pengalaman teman saya agar teman-teman tidak mudah tertipu oleh bule-bule scammer.
1. Kebanyakan para bule ini menyamar di FB, Instagram dan Tiktok dengan memakai pakaian seragam Army.
2. Namun scammer yang jalani aksinya melalui email akan berperan sebagai orang kaya yang ingin menitipkan sebagian uangnya ke akun bank kita. Bisa jadi ini adalah pencucian uang. Orang ini kadang mengaku sebagai anak dari raja di kerajaan yang digulingkan sehingga ingin menyelamatkan hartanya sebagian ke para korban.
3. Para bule yang sering nampang di socmed ini juga kadang berfoto dengan 2 anaknya yang kecil-kecil atau kembar. Kadang akan mengaku sebagai duda yang ditinggal mati istrinya.
4. Bila mereka sudah bisa berkomunikasi lancar maka akan tiba-tiba memberi hadiah. Hadiah ini berupa kardus berisi laptop, tas mahal, dan sejumlah uang dalam amplop. Setelah difoto kardusnya lalu dikirimkan ke dm korban
5. Bule lebih menyukai korban yang tidak bisa berbahasa Inggris karena ini justru merangsang korban untuk ujug-ujug belajar bahasa Inggris sehingga bule tersebut akan membahaca gaya bahasa inggris korban yang belepotan sehingga akan mudah untuk diperdayakan.
6. Namun bule ini juga akan lebih bersemangat apabila korban bisa berbahasa inggris dengan baik. Tentu saja korban yang tidak paham scammer dan bisa dibujuk rayu karena statusnya yang jomblo.
7. Bule ini juga tak segan-segan menawarkan pergi haji kepada korban apabila korban adalah wanita muslim.
Oleh karena itu wahai para wanita Indonesia, mohon berhati-hati dan waspada ya..
Pemahaman kita mengenai diri kita
dan orang lain sebagian besar dibangun
melalui bermacam-macam praktik linguistik yang kita lawan. Melalui
penggabungan sosial yang didukung oleh praktik linguistik secara terus menerus
kita perankan dan bangun, aturan yang menjadi konsep dari seseorang dimengerti
adalah ideologi sekitar. Aturan tersebut berbeda di setiap tempat;dasar pembagian dalam dua bagian tentang
kepercayaan sekitar seseorang adalah egosentris yang menekan individu, kebenaran
otonominya dan tindakan yang prerogratif. Yang kedua yakni sosiosentris yang
menyoroti status seorang individu dalam kehidupan sosial yang lebih luas, serta
menganggapnya nilai dalam pada posisinya di kehidupan bersama. Perbedaan ini
dalam ideologi kepribadian sangat diberlakukan dalam praktek linguistik
perbedaan budaya. Konsep dari wajah sendiri telah diusulkan sebagai konsep
penting dalam pemahaman interaksi sosial, dimana hal ini bertujuan untuk
menambah atau paling tidak meminimalkan ekspresi wajah tersebut. Wajah dibagi
menjadi dua tipe, yakni, positif adalah sebagai harga diri seseorang, dan
negatif yakni sebagai pembebanan dan ketidakleluasaan.
Bermacam-macam cara praktik linguistik, digabungkan dibawah rubrik kesopanan.
Dilakukan untuk meminimalisir hambatan kedua tipe tersebut, namun hal ini
diklaim karena analisis ini adalah bagian dari etnosentris;terdapat dalam
lingkungan sosiosentris seperti Jepang, konsep wajah negatif, otonomi tindakan
individu yang marjinal. Lainya juga mengusulkan aturan lintas budaya dalam
interaksi linguistik, seperti prinsip kerjasama. Ide bahwa seseorang akan
mengatakan sesuatu yang tepat dalam hal tertentu saat berinteraksi, dan itu
menghubungkan 4 maksim percakapan, cenderung
pada variasi yang menonjol. Sementara yang sangat penting dalam membangun percakapan dalam bahasa
Inggris Amerika atau bahasa Inggris adalah kepentingan dan fungsi mereka tidak
jelas pada orang lain, contohnya masyarakat di Malagasy, yang mana secara
kontras menekankan pada ketidaklangsungan dan ketidakjelasan. Sama halnya
dengan masyarakat individualis, makna ujaran diarahkan pada apa yang pembicara
maksudkan. Berbeda halnya dalam masyarakat sosiosentris, makna disusun oleh
pelaku percakapan, dan terkadang menggambarkan kontribusi dari bermacam-macam
pelaku percakapan, tergantung posisi sosialnya. Semua perbedaan budaya ini
dalam praktik perbandingan budaya linguistik memberi kesan bahwa sebenarnya
perbedaan makna ditukar dalam sebuah komunitas. Tipe kerelatipan linguistik
lain dan cara mengartikan maksud tersebut akan dibedakan pembagiannya,
tergantung posisi sosialnya.
Di daerah lain yang sangat nampak perbedaan lintas budaya
dalam interpretasi prinsip kerjasama dan
Maksim terkait lebih menyangkut pada siapa dan apa yang menetapkan tujuan
percakapan atau hal lainya, lebih tepatnya, siapa yang menginterpretasi ucapan
pembicara selama percakapan tersebut. Pemahaman umum di barat, mengacu pada
potongan pembahasan karya Searle mengenai tindak tutur (1969) yang dilakukan
oleh pembicara itu sendiri. Hal ini menggambarkan suatu kode atau konsep dalam
sebuah bahasa, dalam artian pembicara memiliki maksud lain melalui tindak tutur
tertentu dalam menyampaikan maksud pada pendengar. Makna tutur kata adalah
tujuan pembicara tersebut, yang berarti dia sebagai individu yang
berinterpretasi assigus pada
ujarannya (pendengar terus menjadi penonton pasif yang hanya dapat
menebak-nebak maksudnya, entah benar ataupun salah).
Karya
terbaru (Duranti 1988b; Rosaldo 1982) berpendapat bahwa konsep makna dan
interpretasi tersirat mengambarkan ideologi kepribadian barat dan tidak menyamaratakan budaya yang
ideologinya cenderung sosiosentris. Duranti (1988b) berpendapat bahwa dalam
budaya Samoan, mengartikan ujaran dalam pidato formal yang menyertakan hal
bersiat politik dan hukum yang biasa disebut fono. Secara terkontruksi hal tersebut datang dari para partisipan
didalamnya, sebuah tugas yang dilihat oleh semua orang sebagai sebuah
kerjasama, sekalipun struktur hirarki
sejalan dengan batasan di masyarakat; “Daripada
menyimpulkan kata-kata berdasarkan pemahaman sendiri [berdasarkan analisis
Searle mengenai tindak tutur], Samoans mempraktekan intepretasi sebagai cara
untuk menjaga hubungan sosial daripada sebagai cara untuk menebak-nebak “makna”
seseorang saat berbicara” (Duranti 1988b:15). Oleh karena itu makna dibuat
secara dialogis dalam pidato yang sedang berlangsung dan tidak tergantung pada
maksud seseorang maupun keadaan psikologis. Sebagai contohnya, Samoans tidak
bertanya “maksut kamu x?” tetapi ia
akan melontarkan pertanyaan “apakah yang
kamu maksud seperti x?”, dapat dikatakan hal tersebut lebih fokus pada
garis besar makna sebagai konteks interpretasi tersebut daripada maksud
pembicara. Selanjutnya, saat berlangsungnya percakapan fono, makna ujaran akan diperdebatkan oleh para orator, yang mana
keduanya kooperatif dan kompetitif terhadap pernyataan interpretasi dan
kejadian di publik. Dalam opini fono sering
diutarakan oleh orator kepada kelompok daripada kepada seorang individu seperti
seorang pemimpin, untuk orator yang berbicara. Walaupun, pembicara sering
mengubah antara kata ganti tunggal “saya”
atau jamak esklusif “kita” (untuk fenomena yang mirip dalam “segmentasi
orang” bahasa di tanah New Guinea, lihat Rumsey (1989). Tindak tutur
selanjutnya tidak digunakan pada individu, melainkan pada suatu kelompok, oleh
karenanya, kelompok secara keseluruhan dilihat sebagai pembagian tanggung jawab
sebagai maksud ujaran. Sekali lagi hal ini menggambarkan ideologi sosiosentris
yang mana memberi nilai pada seseorang yang dimaksudkan dalam posisi kelompok
tersebut.
Hal
sama juga diutarakan oleh Rosaldo (1982) dalam catatannya tentang tindak tutur
diantara masyarakat Ilongot egalitarian dari Filipina. Rosaldo berpendapat
bahwa masyarakat Ilongot tidak menganggap tindak tutur sebagai tanda
individualis dalam ekspresi Linguistik. Namun secara menonjol hanya sebagai
permintaan bekerjasama antar individu, dan kerjasama merupakan hal mendasar
untuk berinteraksi sosial di masyarakat egalitarian. Hal tersebut merupakan
kerjasama sosial dan makna interaktif yang penting dibangun di Ilongot, tidak
terpusat pada pemikiran masing-masing individu, yang mana memang sedikit
manarik perhatian mereka (kata mereka “kita
tidak akan pernah benar-benar tahu isi hati seseorang”). Rosaldo
mengutarakan poin analisisnya tentang kalimat perintah atau tuydek, yang mana dapat dilihat oleh
masyarakat Ilongot sebagai contoh kemampuan berbiacara. Kalimat perintah sering
digunakan oleh orang dewasa kepada anaknya atau laki-laki kepada perempuan.
Seperti halnya disebutkan diatas tentang ucapan Grive soal Prinsip
Kerjasama bersifat cukup samar untuk memenuhi variasi antar budaya yang signifikan.
Empat Maksim berusaha menulis sub-prinsip lebih ekplisit, tapi bukti dari
budaya lain sementara menyarankan bahwa ini mencerminkan perilaku percakapan
etnografis di Eropa Barat yang menurunkan budaya daripada ketidakleluasan
absolut yang bersifat universal. Variasi antarbudaya itu sangat penting dan
benar-benar tidak diakui dalam pembicaraan Maksim milik Grice bahwa Hymes
(1968:78) yang berdampak untuk mengkritik “besarnya etnosentris”. Seperti yang
diungkapkan tadi, wilayah dimana variasi antar budaya diharapkan akan
melibatkan sifat dan jumlah informasi dalam percakapan di budaya tertentu dan
siapa atau apa yang menentukan tujuan dan arah percakapan. Jenis dan jumlah
informasi secara budaya telah jelas ditentukan, seperti yang ditunjukkan dengan
brilian oleh Keenan (1976) melaui studi praktik percakapan diantara para petani
Malagasy. Petani Malagasy, khususnya laki-laki, khususnya yang kurang
informatif dalam memberi penjelasan dibanding orang Amerika atau Australia.
Mereka melihat informasi komoditas penting, sesuatu yang memberikan prestise
dalam desa penganut egaliter yang lebih besar, sehingga mereka enggan untuk
membaginya dengan leluasa. Dalam desa kecil yang satu sama lain saling
membantu, dimana setiap orang terhubung dengan yang lain, yang mana kontak
kecil dengan dunia di luar mereka mungkin terjadi dengan kecilnya rahasia dan
privasi yang kurang, informasi yang tidak tersedia di publik benar-benar
dihargai dalam status sementara yang diberi. Jadi, ketika seseorang bertanya,
tidak mungkin informasi dibutuhkan oleh penanya akan dengan cepat dipenuhi,
agak tidak jelas, sebagian jawaban adalah norma. Jadi ketika seseorang
ditanya kemana mereka akan pergi, mereka tidak akan menjawab “pergi ke toko untuk membeli beberapa botol
beer;kami berencana pergi pesta malam ini.” Tipe jawaban masyarakat
Malagasy akan cenderung “Oh, cuma pergi
kesana”, keterangan jawaban menjadi tidak jelas, dan seseorang yang
bertanya akan paham apa yang dimaksud dari tindakan orang tersebut.
Hal
lain yang juga menjadi faktor penting dalam memengaruhi terjadinya Maksim
Kuantitas dalam percakapan di masyarakat Malagasy adalah budaya bungkam pada
tuntutan khusus di depan umum, kekhawatiran akan hancurnya keberanian jika
tuntutan tersebut akan gagal. Malagasy cenderung menghindari pertanggung
jawaban atas informasi saat berkomunikasi, sehingga informasi yang disampaikan
sangat terbatas dan seringkali terkesan tidak jelas, setidaknya dalam
pendengaran kita (pelanggaran Maksim Perilaku). Jadi, seseorang menghindarkan
dirinya dari kegiatan yang akan terjadi, dengan alasan hal tersebut takut gagal
terjadi. Jika ditanya mengenai kapan sebuah festival akan terjadi, sangat
mungkin jawaban yang diberikan akan tidak jelas atau samar-samar, seperti “Saya tidak yakin kapan festival tersebut terjadi”
atau “Mungkin sekitar bulan Juni”, meskipun jika responden itu dengan sadar
mengetahui tanggal pasti kapan kejadian tersebut akan terjadi. Hilangnya
keberanian juga menyebabkan seseorang sangat berhati-hati ketika memberikan
nasehat atau peringatan, sehingga dapat menghilangkan berbagai kemungkinan yang
mungkin terjadi. Coba beri pertanyaan kapan Mr X berada di rumah, maka jawaban
yang mungkin dikatakan yaitu, “Jika kamu
tidak datang setelah matahari tenggelam, maka kamu tidak akan bertemu Mr X.”
Informasi ini terdengar samar-samar dan tidak jelas, namun memberi nilai budaya
di Malagy, hal ini merupakan jawaban terbaik saat memberikan informasi, namun
menghindari tanggung jawab dikegiatan yang akan datang.
Ketidakjelasan
dan kekurangan dari informasi juga termasuk tipe ekspresi untuk mengarahkan
seseorang. Seseorang menghindar untuk menjelaskan keterangan dirinya dalam
ujarannya, karena dapat membuka kesempatan seseorang campur tangan didalamnya.
Hal ini juga untuk menjaga diri dengan sosiosentris dan keadaan bergantung pada
pengertian seseorang dalam budayanya dan perbedaan dalam individualis barat.
Sebagai konsekuensinya, individu seseorang ditunjukan oleh ekspresi yang
memperhatikan posisi mereka dalam sosial masyarakat. Dan seringkali jejak-jejak
seseorang dihapuskan, sehingga orang-orang desa/udik mungkin menunjukan dirinya
sebagai olona “orang,” zazalahy “laki-laki,” atau rayaman-dreny “orang tua”. Jadi, seorang
perempuan dapat mengatakan “apakah orang (olona) sedang tidur?” kepada putranya, ketika
“orang” yang dimaksud tersebut adalah suaminya sendiri (Keenan,1976:73).
Catatan dalam pemakaian kata-kata dan berkenaan dengan Grice’s (1975) Maxims,
pada penggunaan kata “orang” hanya cocok ketika pembicara tidak sadar pada
keadaan orang yang tidur. Di Malagasy, seseorang pun sewajarnya berkata “seseorang sedang melihatmu” ketika
seseorang yang dimaksud tersebut adalah kakak laki-lakinya (Keenan and Onchs,
1979:153).
Penyampaian
kepercayaan budaya di Malagasy, satu daerah yang menunjukan masalah khusus
dalam interaksi lisan adalah tindak tutur
dari beberapa permintaan seperti yang tercantum dalam Brown and Levinson
(1987), mereka memaksakan kebebasan pribadi to untuk bertindak atau memberi negative
face, tetapi karena mereka terancam dengan positive face di Malagasy
dalam hal nilai persamaan dan tanpa konfrontasi, dan juga jika diterima,
berkomitmen pada yang dituju secara eksplisit dalam beberapa kejadian di masa
depan. Penjelasan sebelumnya masuk akal dalam sebuah egosentris, budaya
individual sama halnya dengan budaya barat, namun kurang tepat untuk
diaplikasikan dalam budaya sosiosentris seperti Malagasy (seperti yang
diungkapkan juga pada Matsumoto (1988) terhadap Jepang). Permintaan cenderung
menunjukan bentuk isyarat secara tidak langsung. Begitupun, seseorang tidak
akan meneruskan isyaratnya secara langsung ketika dalam pertemuan sosial, pun
ketika tujuan utama dari sudut pandang mereka yakni untuk membuat suatu
permintaan. Keenan dan Ochs (1979:154) memberikan contoh yang membentur untuk
menggambarkan poin tersebut. Suatu hari, beberapa lelaki tiba dirumahnya tanpa
terencana sebelumnya. Setelah beberapa menit dan berbincang-bincang ringan,
topik untuk memotong kaki mulai ditunjukan, luka biasa saat gunung meletus
disuatu kota yang mana desa didalamnya terdampak. Beberapa saat setelah itu,
salah satu lelaki paling belakang dalam group tersebut menunjukan Keenan and
Ochs pemotongan kaki yang sangat buruk dan membutuhkan pertolongan segera. Hal
ini mungkin sulit untuk dibayangkan secara langsung, memulai-mengakhiri dan
tidak jelasnya keterangan untuk menunjukan permintaan daripada hal tersebut!
Yang penting sekali pada model kesopanan Brown dan Levinson yaitu prinsip
kerjasama antar lawan bicara dalam saling memelihara rupa dalam percakapan,
Secara ideal pembicacara menampilkan beragam jenis
tindak turur yang lebih atau kurang sopan untuk memelihara rupa orang lain.
analogi penting linguistik ini (dan inspirasi dasar Brown dan Levinson)
ditemukan pada karya filsuf, Grice 91975: 1989). Grice mencoba untuk membongkar
logika atau dasar perilaku rasional dalam interaksi linguistik manusia dalam
percakapan. Prinsip fundamental yang terlibat disini disebut oleh Grice sebagai
prinsip kerjasama, yang mana berarti orang-orang bertaut dalam interaksi
linguistik tertentu akan mengatakan sesuatu layak pada setiap poin dalam
interaksi. Contohnya, jika saya turun ke jalan berteriak kepadamu, “Tolong!
Rumahku kebakaran” dan anda menjawab “OK, jangan panik. Saya akan memanggil
pemadam kebakaran,” ini merupakan jawaban yang cocok dan mentaati prinsip kerjasama,
dan ini akan membuat saya mencoba memahami sebab kurangnya kerjasama. Prinsip
kerjasama mencerminkan rencana rasional untuk menyelaraskan kontribusi selama
percakapan, rencana pertandingan budaya untuk structural coupling bersama
dalam lingual axis. Grice (1975:45) menjelaskan prinsip kerjasama sebagai
“membuat kontribusi percakapan anda dibutuhkan, dalam kondisi yang mana
terjadi, dengan tujuan dan arah yang diterima dalam saling berganti bicara yang
mana anda terlibat didalamnya. “Ini cukup samar dan membiarkan kemungkinan
adanya perlakuan penting dalam variasi antar budaya: contohnya, jenis informasi
dan seberapa banyak dibutuhkan, siapa atau apa yang menentukan arah dan tujuan
pembicaraan, dan lain sebagainya. Seperti yang seharusnya kita lihat,
kemungkinan variasi yang benar-benar diperlihatkan dalam berbagai macam budaya.
Untuk menyempurnakan ketidakjelasan pada Prinsip
Kerjasamanya, Grice (1975:45-6), lebih jauh mengajukan jenis maksim percakapan
yang menunjukkan interaksi komunikatif dalam percakapan. Disini terdapat 4
maksim:
Maksim kuantitas – jangan terlalu banyak atau
sedikit memberikan informasi pada tujuan interaksi yang sedang berlangsung.
Jika saya bertanya padamu bagaimana keadaan anakmu dan anda menjawab, “Baik,
dia kuliah sekarang dan keadaannya baik-baik saja,” informasi yang disediakan
adalah tentang hak dan mencerminkan kegunaan yang tepat dalam Maksim Kuantitas.
Jika, bagaimanapun, anda menjawab “Hidup,” ini merupakan pelanggaran yang jelas
dalam Maksim dengan memberikan informasi terlalu singkat, atau dia menjawab
“Baik, dia kuliah sekarang, punya pacar baru dan potongan baru, membeli
sepasang CD baru kemarin, kasur baru minggu kemarin, dan sedang berencana untuk
melakukan perjalanan ke Canberra minggu depan,” ini jelas juga merupakan
pelanggaran dalam Maxim dengan memberikan terlalu banyak informasi.
Maksim Kualitas – jangan mengatakan sesuatu yang
anda percaya akan salah atau akan kekurangan bukti yang cukup. Menceritakan
kebenaran merupakan perintah dalam Maksim ini, dan kebohongan merupakan
pelanggaran yang jelas. Maksim ini mencerminkan ketulusan pembicara dan
tanggungjawab untuk tidak menyesatkan yang lain.
Maksim Relevansi – jangan mengatakan sesuatu yang tidak ada hubungannya
dengan topik selama diskusi. Maksim ini memastikan bahwa percakapan menjadi logis. Contoh jawaban
awal ketika saya menangis meminta bantuan karena rumah saya terbakar
mencerminkan operasinya dengan baik. Jawaban seperti “Oke, jangan panik, aku
akan memanggil Pemadam Kebakaran” adalah sesuai, tapi “Menurutmu apakah
rumputnya perlu dipotong?” merupakan pelanggaran yang jelas.
Maksim Perlakuan – jangan menjadi ambigu atau
tidak jelas, bertele-tele atau tidak logis. Maksim ini mengacu kepada bentuk
kontribusi dalam percakapan: harus ringkas dan jelas dalam mengungkapkan
pemikiran seseorang. Jika menulis ulasan dari pertunjukan Shakespeare berjudul Macbeth,
saya menulis “Ms X memberikan sedikit karakteristik inspiratif Lady
Macbeth” saya mematuhi Maksim Perlakuan. Jika di sisi lain saya menulis “Ms X
mengabarkan baris yang ditulis oleh Shakespeare dengan jelas pada karakter Macbeth,”
saya telah melanggar Maksim.
Pada interaksi percakapan yang tengah berlangsung,
pembicara melanggar atau melawan 4 maksim Grice secara berurutan. Mereka
melakukan ini untuk tujuan tertentu, si pendengar menganggap Prinsip
Kooperatif, berusaha mencari alasan mengapa pembicara melawan Maksim tertentu,
apa yang dia lakukan secara tidak langsung, dan tiba pada kesimpulan tentang
maksudnya, sebuah implicature. Jadi, contoh ulasan terdahulu yang sangat
panjang dan tidak jelas, pembaca diminta untuk menarik kesimpulan mengapa
Maksim Perilaku dilanggar, implicature nya adalah ulasan negative face
terhadap penampilan Ms X. Dalam hal perlawanan terhadap Maksim Relevansi dengan
menjawab “Menurutmu apakah rumputnya perlu dipotong?” ketika saya menangis
butuh pertolongan karena rumah saya terbakar, implicature yang paling
nyata adalah bahwa tetangga saya tidak mau membantu, juga karena tetangga saya
adalah orang egois atau saya telah menyakitkan hatinya di masa lalu, atau
mungkin karena dia sakit jiwa.
Perlawanan terhadap Maksim Grice merupakan cara
paling umum dan santun dalam menunjukkan FTA “off the record” (Brown dan
Levinson 1987:214). Isyarat merupakan salah satu contoh perlawanan terhadap
Maksim Relevansi. Jadi permintaan paling sopan untuk menutup jendela dengan
”Gee, apa kau merasa disini agak dingin dan berangin?” menyempurnakan tujuan
dengan menghasilkan implicature dengan melanggar Maksim Relevansi. Jika
jawabannya sederhana, “ya” tanpa tindakan redresif, pendengar tidak menyadari
bahwa Maksim tersebut telah dilawan dan menghasilkan implicature akan
gagal. Jika di lain sisi pendengar menyadari Maksim telah dilawan dan bertanya
kenapa, kemudian dia mungkin menyimpulkan bahwa pembicara menginginkan beberapa
tindakan untuk memperbaiki situasi ruangan yang dingin dan menutup jendela; implicature
nya telah berhasil dilakukan. Keterangan sebagai cara untuk menjadi sopan
merupakan perlawanan terhadap Maksim Kuantitas: terlalu sedikit informasi yang
telah disediakan, sehingga menghasilkan implicature kepada pendengar
sebagai alasan kenapa perlawanan tersebut telah terjadi. Contoh yang cocok
adalah pernyataan tamu pada tuan rumah,”Oh, rumah ini sepertinya butuh
pengerjaan kecil lagi, bukan begitu?”, Ketika faktanya, rumah itu dipenuhi
rayap yang sebentar lagi terancam roboh atau digusur oleh dewan setempat. Pada
akhirnya, perlawanan terhadap Maksim Perilaku juga efektif disebut sebagai FTA
“off record” yang sopan. Ketidakjelasan atau ambiguitas ekspresim, yang mana
keduanya merupakan pelanggaran Maksim secara langsung sudah umum khususnya
ketika melakukan FTA tertentu seperti meminta atau menuduh, contohnya
“Sepertinya seseorang sedikit terlalu banyak berpesta malam tadi,” kata untuk
pasangan yang merasa sakit yang berat di pagi hari setelah minum minuman keras
terlalu banyak. Ketidakjelasan ekspresi tersebut melawan Maksim Perilaku dan
menyebabkan kita bertanya kenapa. Implicature dihasilkan oleh kritik
perilaku pasangan malam tadi, tapi karena ini merupakan FTA tertentu yang keras
terhadap positive face seseorang, kritik ini tidak diucapkan dan diungkapkan
secara tidak langsung dengan melawan Maksim.