Mungkin anda salah satu penikmat drakor atau drama Korea yang cukup dikenal di masyarakat milenial belakangan ini. Kalau disebut drakor sebenarnya adalah drama dari Korea Selatan. Sangat mustahil kalau drama itu berasal dari Korea Utarua.
Salah satu contoh drama Korea yang pernah saya lihat adalah Crush Landing on You. Industri drama dan movie di Korea Selatan memang cukup besar hingga membuat penontonnya benar-benar percaya bahwa film itu benar-benar dibuat di Korea Utara atau setidaknya di perbatasan Korea Utara dan Selatan atau yang disebut dengan Demiliterized Zone.
Padahal boro-boro drakor tersebut dibuat di Korea Utara. Sedang masuk ke Negaranya saja sulit. Hingga pernah terjadi seorang mahasiswa yang meninggal di Korea Utara karena dibunuh. Alasannya pun kurang bisa diterima.
Kita perlu tau pintu-pintu mana yang bisa dimasuki menuju ke negara Korea Utara. Salah satunya adalah menggunakan jalur darat masuk ke Korea Utara lewat Cina. Dan mahasiswa ini melalui travel agent bisa dengan sukses masuk kesana. Namun kemudian sebuah peristiwa terjadi, mahasiswa ini dipulangkan ke Amerika dalam keadaan koma dan lalu berujung meninggal. Alasannyapun sampai sekarang belum bisa diketahui dengan pasti.
Nah balik ke drama Korea tadi, bercerita tentang seorang gadis yang kesasar masuk menyebrang ke negara Korea Utara. Awalnya gadis ini main paralayang kemudian angin membawanya menuju ke perbatasa Korea Utara hingga akhirnya terjatuh di dekat Zona Demiliterisasi. Gadis ini memang akhirnya diselamatkan oleh para tentara Korea Utara. Dan endingnya sudah bisa ditebak.
Dari situ bisa disimpulkan bahwa betapa sederhananya bahasa, budaya dan kegiatan masyarakat Korea Utara. Jauh berbeda dengan saudaranya yaitu Korea Selatan. Mungkin bisa dibilang lebih konservatif (baca: ndeso). Suasana di Korea Utara sepertinya agak mencekam. Banyak aturan-aturan yang tidak masuk akal. Seperti tidak adanya internet, jarang nya listrik dan kabel telpon. Tidak banyak pengguna HP android.
Kok miris ya..
Semenanjung yang terbelah menjadi dua ini ternyata memang menjadi berbeda secara signifikan. Satu dikuasai Uni Sovyet yang komunis dan satu dikuasai Amerika yang kapitalis. Uni Sovyet mungkin gak jauh beda dengan Korea Utara, agak sedikit konservatif gitu. Tapi bagaimanapun sudah meluncurkan apolo Soyus, lebih cepat dari negara-begara lain.
Cerita menjadi semakin rumit setelah gadis Korea Selatan ini kepincut tentara dari Korea Utara. Nah ada adegan yang begitu dramatik yaitu saat perpisahan mereka di perbatasa Korea Utara Selatan tepatnya di jalan Tol dimana disana adalah Zona Demiliterisasi. Di sebelah utara garis dijaga oleh tentara-tentara Korea Utara yang dikenal sadis, dan di sebelah Selatan gari dijaga oleh tentara Korea Selatan. Gadis ini berteriak memanggil kekasihnya yang berada di Utara garis. Dan endingnya bisa ditebak.
Setiap individu itu, siapa pun orangnya dan apapun keadaannya, ia tidak akan mengalami atau terjadi pada dirinya suatu problematika dan persoalan apapun, terhadap istilah apapun dan dari manapun istilah itu berasal; Dengan catatan, jika masing-masing individu yang bersangkutan tidak mengalami problematika diri, karena telah memproblem atau mempersoalkan sesuatu yang di luar dirinya.
Islam Nusantara, hanyalah sebuah istilah yang dimunculkan oleh pihak tertentu, yang sudah barang tentu mempunyai maksud tertentu, serta untuk kepentingan dan tujuan yang tertentu pula. Dan sudah barang tentu juga, istilah apapun yang berupa perkataan dan pernyataan atau tulisan, ia tidak lebih hanyalah sekedar untuk memberikan penjelasan terhadap Islam itu sendiri, untuk didapatkan penjelasan yang lebih jelas. Oleh karena, ia sekedar penjelasan, maka penjelasan berupa apapun dan oleh siapapun, itu tidak definitif alias, penjelasan itu, tidak akan ada finalnya. Maka, penjelasan berupa apapun dan oleh siapapun, itu masih memungkinkan untuk dijelaskan lagi oleh siapapun, agar didapatkan sebuah penjelasan yang lebih jelas lagi; Begitu dan seterusnya.
Oleh karenanya, apapun istilah yang dipergunakan untuk Islam, apakah Islam Nusantara, Islam Berkemajuan dan bahkan juga Islam Kejawen, Islam Kesumatran atau apapun istilahnya, tetaplah ia Islam yang damai dan mendamaikan, sehingga tercipta sebuah kerukunan, demi hilang dan tiadanya pertengkaran antar satu orang dengan yang lainnya, agar didapatkan sebuah ketenangan dan kebahagiaan hidup di dunia yang fana’ ini, sehingga seseorang bisa berbahagia kelak menuju dan sampai kembali ke hadirat Allah swt.
Artinya, bagaimana Islam itu, mewujud ke dalam kehidupan yang damai dan sejahtera pada masing-masing individu orang; Dan, tidak terjadi bertengkaran antar satu orang dengan yang lainnya, sehingga timbul rasa pada diri masing-masing individu orang tersebut, sebuah ketenangan dan kebahagiaan, ia bukan terletak pada istilah Islam itu, yang menentukannya. Akan tetapi, nilai dan ruh Islam itu sendiri, sangat bergantung erat dengan individu masing-masing orang yang bersangkutan. Apakah individu seseorang itu bersedia untuk berdamai diri, sehingga bersedia pula untuk berdamai terhadap orang lain, demi terciptanya hidup yang rukun dan damai serta sejahtera, semuanya dikembalikan kepada masing-masing diri individu orangnya, bukan pada istilahnya, baik berupa tulisan atau pengumuman dan sejenisnya.
Maka, sebenarnya Islam adalah wujud kedamaian diri seseorang yang bersedia untuk berdamai dengan orang lain, apapun Istilahnya yang dipergunakan. Sebab, istilah itu didapatkan atau dirumuskan oleh seseorang berdasarkan pengamatan dan sejenisnya terhadap kejadian tertentu pada lokal dan budaya tertentu. Islam adalah produk Allah dan ia yang di sisi Allah, sehingga tidak terjadi di dalamnya perbedaan apapun. Sedangkan istilah, apapun itu namanya, ia adalah produk manusia yang sudah barang tentu berbeda-beda antar satu orang dengan yang lainnya.
Mungkin dari sekian diantara kita memahami lebih dari satu bahasa lokal. Semisal beberapa orang di Jawa bisa berbahasa Sunda, Jawa dan bahasa Ngapaq. Hal ini tak lain adalah karena pengguna ketiga bahasa lokal tersebut tinggal di zona perbatasa-perbatasan dimana bahasa mengalami pergeseran.
Seperti misal orang-orang yang tinggal di Cilacap, Tegal, Kebumen, Brebes yang notabene ini adalah masuk di propinsi Jawa Tengah. Kebanyakan masyarakat Jawa Tengah adalah pengguna bahasa Jawa atau Boso Jowo dimana bahasa ini memang digunakan oleh umumnya masyarakat Jawa Tengah. Bahasa Jawa berkarakter halus dan memiliki Speech levels lebih dari satu. Sehingga para pengguna bahasa Jawa dengan berhati-hati memilih salah satu level apabila sedang berbicara dengan seseorang. Pemilihan ini berdasarkan siapa yang diajak bicar, umurnya, jenis kelaminnya, sikonnya dll.
Orang-orang yang mampu menggunakan ke 3 bahasa menurut saya adalah manusia luar biasa. Baik bahasa Jawa, Sunda maupun Ngapaq memiliki kekhasan dan kesulitan masing-masing. Bahasa Sunda memiliki kosakata yang cukup berbeda yaitu sejumlah 75% bedanya dengan bahasa Jawa. Dan bahasa Sunda juga memiliki beberapa speech level seperti bahasa Jawa.
Fenomena tiga bahasa diucapkan oleh masyarakat ini terjadi di Kecamatan Bantar Kabupaten Cilacap. Di pasar bisa kita temui para penjual dan pembeli bisa memahami tiga bahasa lokal ini, baik bahasa Sunda, Jawa maupun Ngapaq. Tidak satu bahasapun diantara ketiganya yang lebih baik maupun lebih unggul. LKetiganya digunakan dengan harmonis dan saling mudah memahami.
Warga Cilacap kadang berbicara dengan menggunakan bahasa Sunda di saat-saat tertentu. Begitu juga dengan bahasa Jawa. Bahasa Ngapaq sendiri saat ini menjadi bagian dari budaya masyarakat Cilacap, Brebes, Tegal dan sekitarnya. Seringkali bahasa ini menjadi begitu komersil digunakan di sinetron-sinetron dan iklan layaknya Bahasa Madura. Keduanya sama-sama begitu komersil karena keduanya sama-sama menarik.
Sebagai pengguna Bahasa Jawatimuran khususnya Boso Malangan, saya bisa dengan mudah memahami Bahasa Ngapaq karena memiliki perbedaan yang tidak terlalu signifikan yaitu perubahan dari huruf vokal O menuju huruf vokal A. Beberapa kosakata yang saya temui di Bahasa Ngapaq ternyata adalah kosakata yang sudah lama tidak terdengar di Bahasa Malangan yaitu :
cihuy |cihui|
yahud |yahut|
asik |asiq|
asoy |ashoi|
dan beberapa kosakata yang sudah menghilang dari peredaran bahasa Malangan.
Sungguh unik belajar bahasa dan budaya lokal khas Indonesia
Yang jelek dan jahat itu, bukan dirinya manusia, akan tetapi sifatnya manusia yang suka mengeluh, gelisah, tergesa-gesa dan sejenisnya, itulah yang menimbulkan perbuatan jelek dan kejahatan, sehingga manusia menjadi jelek dan jahat.
Dirinya manusia, yang di situ terdapat iman kepercayaan Allah, yang bisa diketahui oleh ilmu dan bisa dirasakan oleh nikmatnya, tidaklah jelek dan tidak jahat.
Berbagi sifatnya manusia yang jelek dan jahat, itulah yang musti dipimpin oleh iman, ilmu dan nikmatnya, sehingga manusia yang bersifat suka bertengkar, suka menyerang orang lain, suka mencemooh dan mencela siapa saja selain dirinya itu, menjadi mengikuti imannya yang shidiq, amanah, tabligh dan fathonah yang bisa dicontrol oleh ilmu dan nikmatnya yang ada di dalam dadanya.
Oleh sebab itu, di dalam berbagai kesempatan ketika Nabi Muhammad saw menyampaikan khutbahnya, beliau selalu memperlindungkan berbagai kejahatan dirinya kepada Allah. Sebab, sebenarnya kejahatan itu, tidak berada pada diri orang lain, akan tetapi berbagai kejahatan itu, ada pada diri masing-masing individu orang, yaitu sifat manusia yang terdapat pada diri orang itu sendiri.
Manusia itu ghoib, yang nyata adalah jasadnya manusia. Dan sifat itu, tampak setelah adanya perbuatan, sebab sifatlah yang melahirkan perbuatan dan perbuatan melahirkan nama atau sebutan.
Berbagai sifatnya manusia yang jahat, ketika tidak diperlindungkan kepada Allah oleh iman, ilmu dan nikmatnya, maka ia akan liar sesukanya.
Ketika ia mengeluh dan tergesa-gesa serta kurang pandai berterima kasih, maka sebutan atau namanya adalah “sifat manusia”.
Ketika ingin marah-marah, mudah tersulut emosinya dan ingin melenyapkan orang lain selain dirinya, maka sebutan atau namanya adalah “sifat jin”.
Ketika menyesatkan orang lain selain dirinya, menyusahkan dan berbagai keadaan yang tidak baik pada diri orang lain, itu nama atau sebutannya adalah “sifat syetan”.
Ketika iri dan dengki serta melibatkan dan mengajak orang lain di dalam melakukan kejahatan, itu nama atau sebutannya “sifat iblis”.
Nabi Muhammad saw, menegaskan di dalam sabdanya, sbb :
المؤمن مرآة أخيه، إذا رأى فيه عيبا أصلحه
Mukmin itu cermin saudaranya. Jika terlihat di dalam cermin itu, suatu kejelekan maka mukmin akan memperbaiki (jahat diri) manusianya.
Pada setiap diri manusia itu, ada iman yang bersifat mukmin, itulah yang bersaudara sehingga berkasih sayang (Al Hujurat (49) : 10). Sedangkan sifat manusia itu, tidak untuk dipersaudarakan, tapi untuk saling diperkenalkan antar satu dengan yang lainnya, supaya kebutuhan fisiknya manusia dapat terpenuhi (Al Hujurat (49) : 13).
Maka, ketika seorang melihat orang lain sebuah aib atau kejahatan, sebenarnya aib dan kejahatan tersebut, terjadi karena perbuatan orang lain tersebut yang tidak terpimpin oleh imannya.
Dan jika seseorang tidak mampu menemukan kebaikan yang terdapat pada diri orang lain, sebenarnya orang tersebut masih jahat, karena imannya belum memimpin dirinya, sehingga iman yang bersifat bersaudara itu, terhalang oleh sifat jahatnya sendiri, alias diri orang itu masih dikuasai oleh kejahatan dirinya yaitu sifatnya manusia yang jahat itu.
Sebab pada setiap diri manusia itu, terdapat iman yang hanya bisa diketahui oleh ilmu dan bisa dirasakan oleh nikmat yang ada pada diri masing-masing orang tersebut, siapapun orangnya; Maka, siapapun orangnya jika melihat orang lain tanpa dipimpin oleh imannya, yang terlihat adalah manusia yang tidak terpimpin oleh imannya pula, sehingga saling membenci dan sebagainya sebagai dampak dari sifatnya manusia yang masih menguasai dirinya manusia itu. Sebaliknya, jika seseorang melihat orang lain selain dirinya atas dirinya yang sudah dipimpin oleh imannya, maka ia akan melihat sifat iman yang ada pada diri orang lain itu, yaitu sifat bersaudara dan kasih sayang antar satu dengan lainnya.
Oleh karena itu, semua dikembalikan kepada dirinya masing-masing orang yang bersangkutan, apakah seseorang itu memperlindungkan berbagai kejahatan dirinya kepada Tuhannya dengan iman yang ada di dalam dadanya; Atau sebaliknya, ia justru mengikuti berbagai sifat jahat dirinya, sehingga berdampak pada perkataan dan berbagai perbuatan yang jahat. Di mana, berbagai kejahatan perkataan dan perbuatan tersebut,bisa dirasakan dan bisa diketahui oleh ilmu yang ada di dalamnya dadanya masing-masing orang itu.
“Kiroto”, maksudnya “dikiro” atau lakukan dzikir agar “tumoto” atau tertata. Sedangkan, “boso” adalah bahasa, apakah berupa ucapan atau lisan dan tulisan maupun yang lainnya, seperti Bahasa Isyarat, Bahasa Tubuh dan sebagainya, di mana semuanya itu, merupakan ungkapan sebuah rasa seseorang.
Oleh sebab itu, “kiroto boso”, dimaksudkan adalah bahwa, bahasa itu tidak semata ucapan verbal atau tulisan yang terbaca dan dibunyikan oleh lisan manusia. Akan tetapi, bahasa yang sesungguhnya, itu erat berkaitan dengan rasa yang dihati (dzikir) untuk diperoleh sebuah ketatan atau tertatanya piranti kehidupan di semua sektor kebutuhan dasar hidup diri manusia.
Maka itu, kata kunci dari semua hal berkait tersebut di atas, terdapat pada kata “kiroto” dan “boso”; “dikiro”, lakukan aktifitas dzikir, agar “tumoto-bosomu”, tertata rasamu. Lakukanlah secara terus menerus kegiatan ber-dzikir, demi tertatanya sebuah rasa yang ada di dalam dada manusia, dialah iman, ilmu dan nikmat.
Karena, kata, “dzikir” atau ingat, merupakan atau menunjuk kepada pekerjaan hati atau rasa, di mana ia berbeda sekali dengan kata, “menyebut”, sebab kata “menyebut”, menunjuk kepada perbuatan lisan. Maka, “dikiroto-boso”, berarti selalu ingatlah oleh rasa atau hidupkan rasa (boso) atau bahasamu, agar kehidupanmu menjadi tertata.
Dalam konteks ajaran agama (Islam) yang dibawa oleh Nabi Agung Muhammad saw, kata “dzikir”, menunjuk akan arti sholat atau hubungan diri mukmin dengan amin di tempat ingatan atau di tempat berhubungan yaitu di Baitullah (QS Thoha (20) : 14), (QS Ali Imron (3) : 96-97), oleh rasa atau nikmat yang bisa diketahui oleh ilmu yang di dalam dada setiap insan atau manusia (QS Al ‘Ankabut (29) : 49), (QS Ar Rahman (55) : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).
Oleh sebab itu, kata “kiroto boso”, dalam konteks dzikir dan sholat, dimaksudkan adalah lakukanlah dan tegakkan sholat agar diri mukmin selalu ingat di tempat ingatan, sehingga berjumpa dengan yang dingat, yaitu amin melalui rasa nikmat yang bisa diketahui oleh ilmu yang di dalam dada, agar diri mukmin selalu memimpin diri manusia untuk bisa kembali ke asal mulanya, yaitu Allah swt.
Mintalah pertolongan dengan yang sabar dan tegakkan sholat. Sesungguhnya sholat itu sangat berat, kecuali atas (mereka) yang khusyu’; Yaitu, mereka yang telah memperoleh keyakinan, karena telah berjumpa Tuhan mereka dan mereka kembali (ke asalnya).
#DI_KIROTO-BOSO_MU; dzikirkanlah rasamu, agar dirimu tertata, melalui sholat yang tertegakkan oleh mukmin, supaya dirimu bisa berjumpa amin di tempat perjumpaan, yaitu Baitullah. Lalu, dirimu bisa bersama-sama dan diantar olveh amin menuju kembali ke asal muasal diri manusia, yaitu Allah swt.
Di dalam olah raga, seperti sepak bola ada pertandingan yang dalamnya terdapat sportifitas. Artinya, kalau lawan tanding sudah mengalahkan terhadap lawan tanding yang lainnya, maka lawan tanding yang lainnya menjadi kalah, lalu lawan tanding yang lainnya itu, mau mengakui kekalahan dirinya dan mengakui kemenangan lawan tandingnya.
Di dalam seni terdapat keindahan yang bisa dinikmati oleh masing-masing diri orang. Di dalam permainan terdapat strategi yang mainkan oleh seseorang yang menginginkan sebuah pencapaian secara efektif. Di dalam materi, terdapat metodologi yang musti dilakukan oleh seseorang, sesuai dengan karakter materi yan ada.
Lalu, di dalam agama terdapat dogma atau ajaran yang musti bisa ditangkap isi ajarannya secara tepat dan benar untuk diamalkan secara tepat dan benar pula, agar berdampak kebaikan diri seseorang dan memberikan makna pada diri orang lain.
Sportifitas di dalam olah raga, rasa keindahan oleh masing-masing orang di dalam seni, permainan atau seseorang memainkan sesuatu, demi tercapainya sebuah tujuan secara efektif, perlakuan yang tepat sesuai dengan barangnya atau materi yang diperlakukannya; Semua itu, disebut dengan “nilai atau makna” yang musti dijunjung tinggi oleh masing-masing diri orang yang memiliki rasa atau kepekaan diri.
Begitulah seseorang di dalam menjalankan ajaran agamanya, hendaknya orang yang beragama itu memperhatikan unsur nilai atau makna di balik kata sebagai sebuah dogma atau ajaran.
Oleh sebab itu, temukanlah kebenaran dogma agama itu, melalui proses kajian untuk menemukan benda yang ditunjuk oleh kata, sehingga timbul pada diri orang yang bersangkutan, sebuah laku dan perilaku serta berlaku benar dan baik pada diri orang itu, untuk melahirkan jiwa diri yang berakhlaq budi baik, yang nilai keindahannya bisa dirasakan oleh pihak lain.
#benar itu, berada pada materi yang telah ditemukan dari sebuah dogma berupa kata-kata.
#baik itu, berada pada diri orang yang mengamalkan materi ajaran agamanya.
#indah itu, dampak perilaku mulia yang dilakukan oleh orang yang mengamalkan materi agamanya secara tepat dan benar.
Apapun yang berasal dari selain Allah dan Rasul-nya, baik lisan maupun tulisan, omongan maupun goresan pena di atas kertas dan buku-buku atau yang lainnya, ia tidak lebih dari sebuah penjelasan yang belum final. Maka, selamanya, baik omongan maupun tulisan manusia itu, tidak akan memberikan jawaban terhadap apapun secara pasti. Oleh karenanya, hendaknya masing-masing orang siapapun orangnya, sedapat mungkin menghindarkan diri dari sebuah keterjebakan diri dengan menolak keras, bahkan mengoloknya; Atau, justru sebaliknya, berpegang teguh terhadap kata-kata atau tulisan siapapun selain yang dari Allah dan Rasulnya, itu. Sebab, apa yang dikata dan atau ditulis oleh seseorang, tidak mungkin bisa mengungkap secara total terhadap apa yang dirasakan oleh orang yang bersangkutan.
Baik omongan maupun tulisan orang itu, akan selalu mengalami perubahan, seiring dengan perubahan pengalaman dan kemampuan dirinya di dalam mengungkapkan terhadap apa yang dirasakan, itulah yang secara lazim disebut dengan pengetahuan.
Oleh karenanya, hendaknya seseorang itu, mengambil sikap “antara” atau tengah-tengah. Artinya, terhadap apa saja yang didengarkan dan dibaca, semua dikembalikan kepada rasa yang ada di dalam dirinya sendiri masing-masing dengan berpegang teguh terhadap kitab atau catatan Allah melalui sunnah rasul-Nya, yaitu iman yang bersifat shidiq, amanah, tabligh dan fathonah, serta ilmu yang bersifat tau ada di dalam dada diri masing-masing manusia, dan nikmat yang selalu merasa (QS Al Baqoroh 2 : 143), (QS Ar Rahman 55 : 13-16…), (QS Al ‘Ankabut 29 : 49).
Maka, segeralah setiap diri masing-masing orang itu, melepaskan diri dari pengetahuan yang menuntut untuk membaca apa yang di luar diri, dengan kembali kepada illmu yang mengajaknya untuk membaca apa yang di dalam diri (QS Al Isra” 17 : 14).
Sebab, Allah dan Rasul-Nya banyak membicarakan apa yang di dalam diri (hati), sedangkan manusia banyak bicara apa yang di luar dirinya. Allah dan Rasul-Nya menyuruh kita untuk “wirid” atau banyak membaca kitab (catatan) di dalam diri, sedangkan kita banyak membaca catatan tulisan di atas kertas dan buku-buku terbitan atau karangan dan karya manusia.
Bacalah catatanmu itu, ia benar dan terpercaya serta ia tau dan bisa merasa, ia di dalam dada diri masing-masing manusia, bukan di atas kertas atau tulisan manusia (QS Al Baqoroh 2 : 2).
Maka, kitabmu itu adalah catatan dan ukiran yang dicatat dan diukir oleh-Nya, sehingga catatanmu itu tidak ada sedikit pun apa yang diragukan di dalamnya. Sedangkan tulisan manusia atau omongnya, itu banyak terdapat di dalamnya keraguan.
Lalu, kenapa kita memperbanyak membaca yang banyak keraguan, itu..?.
Kitab Al Qur’an Surat 29 ayat 49, menegaskan, bahwa di dalam dada setiap diri manusia, terdapat berbagai tanda atau ayat yang menyata sangat jelas, disebut dengan ilmu, ia (ilmu) itu, pemberian Allah terhadap setiap diri manusia. Ilmu, berarti tau. Oleh karena ilmu itu tau, maka ia bersifat benar dan tidak salah, sehingga untuk mengetahui kebenaran akan diri seseorang, sebenarnya yang bersangkutan cukup dengan membaca atau mengikuti apa yang terbaca di dalam dadanya.
Ilmu atau tau itu, berbeda dengan pengetahuan. Ilmu, anugerah dari Tuhan untuk setiap diri manusia, ia identik dengan iman dan nikmat, sedangkan pengetahuan adalah produk manusia yang sudah barang tentu, ia berbeda-beda antar satu orang dengan yang lainnya.
Ilmu atau tau, bersifat tau dan memberitahukan suatu kebenaran yang ada di dalam diri manusia, sedangkan pengetahuan bersifat upaya untuk mengetahui sesuatu yang dianggap benar, di luar diri manusia. Ilmu, itu memberitahukan terhadap sesuatu kebenaran secara mutlak apa yang di dalam diri manusia, sedangkan pengetahuan, mencari kebenaran di luar diri manusia yang bersifat nisbi. Ilmu, selalu terbaca, sedangkan pengetahuan memerlukan upaya untuk pembacaan, analisa, metodologi dan sejenisnya. Ilmu, bersifat mutlak kebenarannya, sedangkan pengetahuan, kebenarannya bersifat paradigmatik dan seterusnya.
Oleh sebab itu, al Qur’an mengajak terhadap setiap diri manusia untuk mengikutinya, karena dengan al Qur’an itu, cukup menjadi perhitungan apapun bagi diri manusia.
Bacalah catatanmu, maka cukup dengan dirimu, hari itu menjadi perhitungan atas kamu.
Berarti, Qur’an itu berupa catatan yang ada di dalam dada setiap diri manusia dan dengan terbacanya catatan yang di dalam dada setiap diri manusia tersebut, ia cukup menjadi perhitungan terhadap apapun yang ada pada diri setiap manusia itu. Bacaan tersebut, sangat jelas dan menyatakan akan kebenarannya. Hanya saja, kebenaran yang disebut dengan ilmu itu, sering diingkari oleh sifat kafir manusia yang suka menentang, tidak pandai berterimakasih, ingin menang sendiri dan sejenisnya (QS At Taghabun 64 : 2).
Lalu, bagaimana dan apa fungsinya mushaf kumpulan catatan bacaan al Qur’an yang terdiri dari 30 juz, 114 surat dan seterusnya itu?. Jika catatan mushaf atau kitab al Qur’an yang mulia itu, dibaca oleh lisan manusia yang dipimpin oleh iman, ilmu dan nikmatnya, sehingga bacaan lisan manusia tersebut, diperuntukkan sesuai dengan peruntukkannya, yaitu untuk diri sendiri masing-masing manusia, maka ia tidak akan menimbulkan problematika perbedaan dan pertengkaran apapun terhadap diri masing-masing manusia. Karena, yang demikian itu, ia (mushaf al Qur’an) dibaca dan difungsikan sesuai dengan fungsinya serta diperuntukkan tepat sesuai dengan sasarannya.
Namun, sebaliknya, jika catatan mushaf al Qur’an itu, dibaca oleh lisan manusia untuk mengukur diri orang lain selain dirinya, ia tidak tepat sasarannya dan tidak sesuai dengan fungsinya. Karena tidak sesuai dengan fungsi al Qur’an diturunkan, yaitu menjadi hudan (petunjuk) bagi manusia yang membacanya. Atau, dengan terbacanya al Qur’an pada diri manusia itu, bukan untuk menunjuki orang lain selain dirinya. Di samping itu pula, jika al Qur’an diperuntukkan bagi orang lain, maka ia tidak tepat sasarannya, sehingga akan menimbulkan pertentangan dan bahkan pertengkaran dan seterusnya, sehingga al Qur’an seolah menjadi tidak berfungsi apa-apa terhadap diri manusia.
Maka, sebenarnya al_Qur’an, itulah ilmu atau tau, wujudnya berbagai tanda yang menyata jelas di dalam dada setiap diri manusia. Dialah iman kepercayaan Tuhan dan dialah nikmat anugerah Allah swt, yang bisa merasakan adanya tanda atau berbagai ayat yang menyata jelas di dalam dada manusia itu; Dan ilmu atau al Qur’an itu, untuk diri manusia yang tau atau yang membaca itu sendiri, bukan untuk orang lain.
7/23/18, 21:04 – +62 895-6088-99879: Manusia; Do’a Ifititah dan Haji Akbar
Imam Muslimin
Manusia itu ghoib dan ia berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib. Manusia yang goib itu, dinyata oleh yang ghoib wujud jasad manusia, artinya yang nyata adalah jasad, bukan manusia. Manusia yang telah dinyata pada jasad tersebut, bersama padanya yang tidak nyata, yang disebut dengan “nafsu”. Maka, nafsu itu, tidak nyata dan ia (nafsu) itu, dinyata oleh yang ghoib, wujud kemauan tampak atau nyata pada pekerjaan, oleh fisik atau jasad. Artinya, nafsu yang ghoib itu, nyata pada kemauan, wujudnya pekerjaan jasad manusia.
Yang goib, telah mengasal manusia dengan telah menciptakannya, itu menyata diri pada Akbar. Kemudian, Akbar yang telah dinyatakan oleh yang ghoib tersebut, menyebut yang ghoib yang telah mengasal manusia wujud ciptaan jasad, dengan sebutan Allah.
Artinya, Akbar adalah sifat dari dzat yang disebut Allah. Maka Allah itu, bersifat Akbar, wujud diri manusia (basyar), pada Nabi Muhammad saw, putra Abdullah dengan Ibu bernama Aminah, lahir di Makkah dan wafat serta dimakamkan di Madinah, ia berbangsa dan berbahasa Arab. Namun, hakikinya beliau putra Abdullah tersebut, adalah rasul utusan Allah. Maka, rasul utusan Allah itu ghoib, bernama amin bersifat Akbar berada di Baitullah, wujud atau tanda fisik materi, berupa Ka’bah berada di Makkah, sebuah negeri yang diberkati.
Maka, Baitullah itu ghoib yang nyata adalah bangunan dari batu yang dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya yang bernama Ismail as, di mana, keduanya berasal dari suku Ka’b. Oleh karenanya, nama bangunan dari batu tersebut, dinisbatkan dari mana mereka berdua berasal, yaitu suku Ka’b atau Ka’bah.
Ke sanalah manusia itu, menghadap untuk bertemu dengan yang diutus, agar diantar kembali kepada yang ghoib yang telah mengutus, yaitu Allah swt; Yang menyata diri pada Akbar. Maka, Allahu Akbar, wajjahtu wajhiya lil ladzi fatoro dst, itulah iftitah (do’a iftifah) atau pembukaan. Pembukaan atau al Fatihah (pembuka segala sesuatu), itulah induk dari semua bacaan dan catatan (ummul qur’an dan ummul kitab). Maka, ia terulang 7 kali sebutan (sab’ul matsani), sebagai tanda atau ayat untuk menunjuk kepada amin. Oleh sebab itu, pembukaan atau pembuka segala sesuatu adalah Akbar sifat Allah bernama amin di Baitullah.
Oleh karena manusia yang telah dinyata pada jasad dan bersamanya ada nafsu yang berkeinginan itu, maka nafsu tersebut harus dihadapkan oleh yang dari yang ghoib dan bersama dengan yang ghoib, yaitu iman, ilmu, dan nikmat. Agar kemauan oleh nafsu wujud pada jasad tersebut, tunduk dan patuh kepada yang dari Allah, sehingga ia mendorong untuk berkemauan sesuai dengan apa yang di mau oleh yang ghoib melalui utusan yang ghoib dan berada di tempat yang ghoib, itu.
Nafsu yang diciptakan oleh Allah bersamaan dengan jasad manusia itu, di mana nafsu itu, tidak mati dan tidak hidup, akan tetapi nafsu itu, ada dan tiada. Sedangkan jasad manusia, itu hidup karena adanya nafsu, sehingga ada dan tidak adanya nafsu itu, bersamaan dengan hidup dan matinya jasad, sebagai nyatanya manusia. Artinya, selama jasad manusia, masih hidup maka nafsu akan selalu ada dan berada bersama jasad manusia itu. Sebaliknya, jika jasad manusia mati, maka nafsu menjadi tidak ada.
Jasad manusia yang masih ada kehidupan, karena di dalamnya ada nafsu itu, musti dihadapkan lurus oleh iman kepada amin di Baitullah melalui sholat yang tertegakkan oleh mukmin, agar iman selalu memimpin nafsu, sehingga nafsu yang berkenginan itu, menjadi tunduk dan patuh untuk melakukan kebaikan sesuai dengan ilmu dan rasa yang dipimpin oleh iman.
Ilmu artinya tau dan dialah yang mengetahui akan salah dan benar, karena pada ilmu itu, terdapat berbagai tanda atau ayat yang jelas dan ia bisa dirasakan oleh nikmat anugerah Allah swt pada setiap diri insan manusia.
Maka, ilmu itu bersamanya tau sehingga benar dan bisa dirasakan. Sedangkan nafsu itu, bersamanya kesadaran. Maka, nafsu itulah sebenarnya yang bisa sadar atau ma’rifah. Lalu, wujud kesadaran oleh nafsu, adalah timbulnya kesadaran rahmah, sebagai risalah atau produk dari amin utusan Allah.
Karena itu, haji adalah kesadaran nafsu (arafah, ma’rifatunafs) berupa rahmah pada diri rasul utusan Allah yang bernama amin. Artinya, timbulnya kesadaran oleh nafsu wujud rahmah pada diri rasul utusan Allah bersifat Akbar bernama amin di Baitullah.
Oleh karenanya, ketika haji dilaksanakan secara rukun oleh jasad manusia yang telah dipimpin oleh iman, ilmu dan nikmatnya, ia dimulai dari wuquf (berhenti) di Arafah, di bawah jabal Rahmah, kemudian dilanjutkan dengan mabit atau bermalam (suasana gelap) di Muzdalifah untuk jumroh aqobah pagi harinya. Kemudian dilanjutkan dengan mabit di Mina untuk jumroh ula, wustho dan aqobah selama tiga hari tiga malam dan berakhir berputar (thowaf) di sekeliling Ka’bah serta disempurnakan dengan sa’i antara shofa dan marwa sebanyak 7 kali perjalanan, sehingga tahallul.
Maksudnya, berhenti (wuquf) atau selesai dan tuntas perjalanan manusia itu, ketika bertemu dengan rahmah, setelah berjuang melawan sifat syetan diri kegegalapan (mabit), sehingga diri manusia (dzatnya, bukan sifat) berada di Baitullah bersama amin rasul utusan Allah, untuk didapatkan shofa dan warma (senang dan gembira), karena tahallul atau halal dan boleh serta tidak haram baginya apapun yang ada di surga.
#kesadaran, itu perlakuan dan sifatnya nafsu, wujud perbuatan jasad manusia.
#ifitihah, itu pembuka segalanya bernama amin, wujudnya rahmah.
#haji, itu kesadaran oleh nafsu, karena bertemu dengan amin, wujudnya rahmah sifat Allah yaitu Akbar pada diri Nabi Muhammad saw.
Sehingga, haji akbar itu, hakikinya adalah terlahirnya kembali sifat dan perilaku jasad manusia yang dipimpin oleh imannya, karena ia telah berjumpa dengan amin di Baitullah, melalui kesadaran diri (nafsu) yang telah melihat rahmah.
Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.
Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.
PERMINTAAN TERAKHIR
Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,
Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.
Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah
Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,
Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.
Mendengar itu Rasulullah berkata,
Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.
Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.
KAIN KAFAN DARI ALLAH
Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,
Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?
Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.
Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?
Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.
Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,
Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.
“Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.
Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.
Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.
Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.
Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.
Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?
Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulullah!
PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP
Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,
Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.
Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.
Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.
Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.
Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.
Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.
Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan.” jawab Khadijah.
“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.
“Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.
“Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.
“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.
Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.
Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.
Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah.
Anugerah pemberian Allah, sekaligus sebagai amanah terhadap setiap diri manusia, baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan, apapun suku, bangsa dan agamanya, adalah apa yang disebut dengan nikmat.
Nikmat, tentu berbeda dengan kenikmatan. Nikmat itu, anugerah pemberian Allah untuk setiap diri manusia dan ia bersifat rasa, maka nikmat itulah yang bisa merasa dan merasakan.
Sedangkan kenikmatan, itu lebih bersifat fisik, di mana setiap orang berbeda sesuai dengan keadaan fisik dan sejenisnya masing-masing. Maka, kenikmatan itu, digambar oleh al Qur’an sebagai permaian keduniaan yang penuh dengan permainan tipuan, QS 6 : 36, QS 57 : 20.
Nikmat lebih bersifat batin, sedangkan kenikmatan lebih bersifat fisik atau dhohir.
Oleh karenanya, nikmat merupakan anugerah Allah yang paling besar bagi setiap diri manusia, sebab hanya nikmat yang bisa merasa. Jika nikmat anugerah Allah terhadap diri manusia itu, teringkari oleh manusia, maka ia tidak akan bisa merasa, sehingga seolah nikmat tersebut mati, maka lazim disebut dengan “mati rasa”. Artinya, nikmat anugerah-Nya tersebut, tetap ada, hanya saja sifat atau rasa dari nikmat itu, tertutupi oleh sifat pengingkaran (kafir) diri manusia, itu. QS 64 : 2.
Maka, nikmat tersebut, wujudnya rasa yang Allah tiupkan (nufukh) terhadap setiap diri manusia, berupa iman yang dipercaya oleh Tuhan.
Iman tersebut, berwujud catatan (kitab) yang tidak ada di dalamnya sebuah keraguan sedikipun, QS 2 : 2. Catatan itu, benar maka disebut ilmu, QS 29 : 49. Dan ilmu tersebut menanda jelas dengan cahayanya (nur), maka disebut ayat, ia ada di dalam dada setiap diri manusia, siapapun orangnya, apapun jenis kelaminnya serta dari mana dan apapun bangsa serta agamanya.
Maka, rasa dari dan oleh nikmat Allah terhadap setiap diri manusia itu, sama. Tidak tua dan tidak muda, tidak laki dan tidak perempuan, jika dipijit, nikmat rasanya dan jika dicubit, sakit rasanya.
Artinya, nikmat itulah yang merasa karena adanya ruh yang ditiupkan oleh Allah kepadanya, wujudnya catatan (kitab) dan ia dipercaya oleh iman serta dibenarkan oleh ilmu (bukan pengetahuan).
Oleh sebab itu, nikmat disebut juga dengan iman, kitab dan ilmu. Nikmat itu, benda, kerja nikmat adalah merasa (QS 55 : 13, 16) dan rasa tersebut benar serta terpercaya, sebab rasa itu tiada dusta karena menyampaikan apa adanya, itulah sifat iman yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Rasa yang dipercaya akan kebenarannya itu, tercatat dan terukir di dalam dada, namanya al kitab dan ia terbaca jelas tiada dusta serta benar, namanya al Qur’an, QS 17 : 14.
7/26/18, 18:27 – +62 895-6088-99879: Percaya Kepada Allah
Imam Muslimin
Percaya kepada Allah itu, maksudnya percaya kepada Rasul utusan-Nya. Lalu, percaya kepada Rasul utusa-Nya itu, percaya kepada Nabi Muhammad saw putra Abdullah. Kemudian, percaya kepada Nabi Muhammad saw putra Abdullah itu, berlaku mencontoh beliau Nabi Muhammad saw, sebagai Rasul utusan Allah yang bernama atau disebut amin.
Berlaku mencontoh Nabi Muhammad saw putra Abdullah sebagai Rasul utusan Allah yang bernama atau disebut amin itu, artinya berlaku atas dasar iman yang berisifat empat, yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.
Sehingga, benar apa yang disampaikan, apa yang diomongkan dan benar apa yang dilakukan oleh seseorang, sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Apa yang ada di dalam hati, tidak dikhiyati, itulah amanah nama atau sebutannya. Lalu, tidak ditambah dan atau tidak dikurangi, itu sebutannya tabligh atau apa adanya. Sehingga, cerdas atau fathonah, karena tidak diperlukan “ngarang-ngarang” dan sejenisnya..
Bagi Nabi Muhammad (amin), tidak diperlukan “ngarang-ngarang, karena mendapatkan langsung dari Allah, namanya wahyu.
Bagi selainnya (iman), tidak diperlukan “ngarang-ngarang”, karena mendapatkan dari amin, tinggal membenarkannya, tidak dikhiyanatinya, disampaikan apa adanya sehingga cerdas dan tidak dungu atau bodoh.
Itulah, makna “syahadatain” atau dua persaksian, yang inti dan substansinya adalah percaya kepada Allah, karena benar-benar menyaksikan-Nya. Maka, menyaksikan dan yang disaksikan hanya Allah sebagai Tuhan, sedangkan selain DIA, bukanlah tuhan. Itu, artinya, menyaksikan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah, bukan tuhan. Dia hanya utusan Allah yang amin, sehingga dialah yang shidiq, yang amanah, yang tabligh dan yang fathonah.
Sedangkan, selain beliau (amin), bisa shidiq, bisa amanah, bisa tabligh dan bisa fathonah, oleh karena imannya tegak dengan sholat atau terjadinya hubungan dengan amin. Jika, tidak tegak sholatnya, maka tidak akan terjadi hubungan dengan amin, dan jika tidak terjadi hubungan dengan amin, maka tidak bisa shidiq, tidak bisa amanah, tidak bisa tabligh sehingga dungu dan bodoh, alias tidak cerdas.