Herbal Menurunkan Kolesterol

Salah satu cara menurunkan kadar kolesterol dengan mudah dan dengan mempergunakan herbal ala JSR adalah dengan resep ini. Resep ini mudah sekali dibuat dan yang jelas cukup segar, semua orang suka.

Resepnya adalah : sediakan air hangat lalu beri perasan jeruk nipis peras atau jeniper. Beri sesendok madu dan buat jahe 20 cm yang sudah digeprek untuk dijadikan pengaduknya. Aduk wedang jeruk sehat ini dan minum saat masih hangat. Minum saat pagi hari sebelum memulai aktifitas. Bila ada beri selembar daun mint yang sudah diremas-remas.

Tipsnya hindari makanan gorengan, tepung-tepung dan gula atau pemanis. Lakukan puasa senin kamis dan jogging ringan. Lakukan jogging 30 menit saja tapi tanpa jeda.

Mudah2an sukses

Ketupat Lebaran

Lebaran Idul Fitri identik dengan ketupat. Hampir semua daerh di Indonesia menyantap ketupat saat lebaran. Kadang lontong nasi bungkus daun pisang juga mendampingi hidangan ketupat. Keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu sebagai hidangan berbahan beras. Dan tentunya ketupat atau lontong selalu disajikan dengan lauk dan sayur pelengkap yang beraneka ragam.

Lebaran Idul Fitri adalah saat yang tepat menyediakan hidangan ketupat. Saat hari-hari biasa mungkin tidak banyak kita temui ketupat atau lontong di kuliner street food. Yang ada adalah ketupat sayur, dan kadang sate Padang yang bisa ditemukan seminggu sekali.

Hidangan pendamping ketupat yang paling standar adalah opor ayam. Hidangan ini bisa kita temui di berbagai daerah di Indonesia. Dan ketupat dengan lauk opor ayam ini pasti muncul saat hari pertama lebaran. Lauk pendamping ketupat yang lain bisa kita temui seperti sate ayam bumbu kacang, gulai kambing, soto dan lain-lain.

Kata ketupat yang berasal dari ungkapan ngaku lepat atau mengakui kesalahan ini memang sengaja disajikan disaat lebaran karena saat lebaran adalah momentum saling memafkan. Dan memang saat lebaran inilah kita bisa temui ketupat di hampir semua daerah di Indonesia karena lebaran adalah momen saling memaafkan.

Namun di kota Malang, ketupat disajikan pada hari ke 8 lebaran. Mungkin momentnya terlalu jauh dari lebaran yang sudah memasuki hari ke 8 ini. Patokannya bila lebaran adalah hari Senin maka lebaran ketupat dilaksanakan pada hari Senin pula. Ada kisah unik di belakang ikhwal ketupat lebaran di hari ke 8 ini. Awalnya kita mempercayai bahwa saudara-saudara kita yang telah mendahului berpulani, rohnya akan datang saat lebaran Idul Fitri. Dan konon mereka akan menunggu diberi ketupat itu untuk dibawa pulang pada hari ke 8 Lebaran. Sehingga ada juga cerita uniuk lainnya yaitu jangan membuat ketupat sebelum hari ke 8 karena ditakutkan saat mereka kembali ke alamnya ketupat tersebut akan basi.

Walhasil banyak tetangga yang datang mengirim ketupat berikut sayur dan lauknya di hari ke 8 lebaran. Ini jadi hidangan alternatif setelah beberapa hari mengkonsumsi protein-protein hewani.

Sayur pendamping ketupat saat lebaran hari ke 8 adalah sayur manisah atau labu jipang. telur masak petis hitam, emput atau serundeng giling, tahu bumbu bali dan lain-lain.

Manisah adalah komoditi sayur termahal saat itu di kota Malang, karena semua orang mengolah manisah atau labu untuk pendamping ketupat lebaran di hari ke 8. Apa yang terjadi? Manisah menjadi sayur paling mahal karena permintaan tinggi. Harganya menjadi 4 kali lipat.  Maka ada sayur alternatif pengganti manisah yaitu pepaya muda.

Unik banget budaya di kotaku

Resep JSR Untuk Pengidap Asma

Resep herbal untuk penderita asma yaitu

1 sm cengkeh

1 potong lengkuas

2 batang sere (ambil yang putih) potong-potong

1 sm pala atau 3 butir pala digeprek

Cara membuat :

Rebus bahan dengan 2 gelas air hingga mendidih. Lalu saring. Masukkan ke dalam gelas dan tunggu hangat. Setelah hangat beri 1 sm madu. Minum saat pagi

Kehidupan Ibadah

Segala sesuatu yang selain di sisi-Nya, disebut dengan kehidupan. Kehidupan itu, bersifat dunia dan dunia yang dimaksud adalah permainan yang penuh dengan tipuan dan kepalsuan. Maka, kehidupan dunia yang penuh dengan permainan dan tipuan, itu tidak menyelamatkan, artinya kerhidupan dunia itu, berada di dalam zona yang tidak selamat, karena penuh dengan tipuan dan kepalsuan (QS al Qoshos (28) : 60, 61), (Al An’am (6) : 32), Al Hadid (57) : 20). 

Sedangkan, yang di sisi Allah adalah keselamatan (al Islam) dan itulah kekekalan (QS Ali Imron (3) : 19). Karena yang di sisi Allah itu, wujud keselamatan dan kekekalan, maka ia tidak hidup dan tidak mati, namun bersifat selamat dan hidup serta kekal; Dan, itulah fungsinya agama ketika anugerah akal dari Allah bagi dirinya manusia berfungsi (QS Ar Rum (30) : 30).

Maksudnya, kehidupan keduniaan itu, telah Allah berikan kepada dirinya manusia, akan tetapi perlu diingat, bahwa keduniaan dan seluk beluknya itu, semuanya hanyalah permainan dan tipu muslihat oleh nafsu dirinya manusia yang musti dipimpin oleh yang di sisi Allah lewat jalan tempuh yang disebut dengan “agama”.

Lalu, apa dan siapa yang di sisi Allah, itu? Dialah “al Islam” atau keselamatan. Maka, keselamatanlah yang musti memimpin kehidupan kemanusiaan dunia itu, agar dirinya manusia memperoleh keselamatan.

Sebenarnya bukan keselamatan yang musti memimpin kehidupan dunia, akan tetapi yang membawa keselamatan, itulah yang diinginkan untuk memimpin dirinya manusia di dalam menjalani tugas kehidupan di dunia, yang tiada lain adalah Nabi Muhammad saw sang pembawa keselamatan.

Dialah Rasul Allah satu-satunya yang bernama amin (QS Ali Imron (3) : 96,97), ia berada di Baitullah, tanda alamatnya Ka’bah, terlahir ke dunia sebagai putra Abdullah dengan Ibu bernama Aminah, diberi nama Nabi Muhammad saw, yang berbangsa dan berbahasa Arab, wafat dan dimakamkan di Madinah; Di dalam diri Nabi Muhammad saw terdapat rasul utusan Allah, yang diutus oleh-Nya untuk rahmah bagi seluruh alam insan (QS Al Anbiya’ (21) : 107). Maka, dialah satu-satunya yang “shollahu ‘alaihi wa salam” (saw), sedangkan para Nabi dan Rasul selain Nabi Muhammad sebagai rasul utusan Allah sebanyak 124.313, semuanya rasulnya amin yang selalu sambung hubungan dengan dia (amin) satu-satu rasul Allah. Oleh karena itu,  mereka seluruh para Nabi dan Rasul, semuanya selalu atasnya keselamatan (as) (QS Al Ahzab (33) : 56) atau selalu di dalam keselamatan (‘alaihis salam).

Adapun para manusia biasa selain para Nabi dan Rasul seperti yang telah disebutkan di atas; Yang mana, di dalam diri setiap diri manusia itu terdapat iman, ketika imannya berfungsi dan menegakkan 4 sifatnya : yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah, maka dirinya manusia itu sambung terhadap Nabi Muhammad sebagai rasulnya Allah, sehingga diri manusia itu, atasnya selamat. Namun sebaliknya, ketika imannya tidur atau tercover oleh sifat kafir dirinya manusia, maka dirinya manusia itu tidak di dalam keselamatan (QS At Taghabun (64) : 2). 

Oleh karena itulah, “sholat itu, lebih baik dari pada tidur” (ash-sholatu khoirun minan naum), tersambungnya iman dengan amin adalah kebaikan, sebaliknya terputusnya iman dengan amin adalah kejelekan dan kesengsaraan, karena tidak berada di dalam keselamatan.

Jadi, kehidupan itu, erat berkaitan dengan diri manusia diciptakan (fitrah), dan semuanya adalah permainan yang penuh dengan kepalsuan serta tipuan oleh diri nafsu manusia dengan berbagai sifat dirinya manusia. Maka, diri nafsu manusia yang erat hubungannya dengan kehidupan yang penuh dengan permainan (dunia) dan kepalsuan itu, musti dipimpin oleh keselamatan atau yang membawa keselamatan, yaitu Nabi Agung Muhammad saw, sebagai rasul utusan Allah melalui ajaran yang disebut dengan agama (diin-millah), agar dirinya manusia di dalam menjalani tugas kehidupannya, benar-benar penuh ketundukkan dan patuh (QS Adz Dzariyat (51) : 56) terhadap ajaran agama oleh iman, sehingga apa yang dilakukannya bernilai ibadah di sisi-Nya.

Manusia Fir’aun

Di dalam diri setiap manusia terdapat berbagai sifat makhluq ciptaan-Nya, termasuk sifat fir’aun yang ingin dipertuhan dan disembah oleh manusia yang lainnya. Sifat fir’aun dan berbagai sifat yang lainnya tersebut, tidak bisa hilang dari dirinya manusia, sebab sifat itu melekat dan bersama dengan kehidupan jasadnya manusia. Ketika jasadnya manusia mati, maka sifat tersebut akan ikut mati atau tidak ada, sehingga yang tertinggal pada dirinya manusia adalah iman, ilmu dan nikmat yang bersifat ruhaniyah, dan ia berasal dari Allah melalui tiupan, di saat jasad manusia berusia 120 hari di dalam kandungan ibunya.

Oleh karena sifat fir’aun itu, sebagaimana disebutkan di atas melekat pada dirinya manusia, maka sifat tersebut tidak bisa hilang atau dihilangkan dari jasad kehidupan manusia.

Eksistensi sifat fir’aun hanya bisa disadari atau dirasakan oleh nikmat dan bisa diketahui oleh ilmu serta bisa dibenarkan oleh iman yang ada pada dirinya manusia (QS Ar Rahman (55) : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77), (QS Al ‘Ankabut (29) : 49), (QS Al Baqoroh (2) : 2,3).

Berbagai sifatnya manusia, khususnya sifat fir’aun itu, benar bisa dirasakan dan benar bisa diketahui serta benar bisa dicek kebenarannya oleh iman. Semuanya, baik rasa, ilmu maupun iman, itu terukir dan terdapat serta terbaca di dalam catatan (al kitab) yang terdapat di dalam dadanya manusia  (QS Bani Israil (17) : 14). Anapun lisan (qoul) atau ucapan dan tindakan (af’al-fi’li) oleh jasadnya manusia, bisa saja berbeda dengan apa yang dirasakan oleh nikmat itu. Alias, rasa sifat fir’aun di dalam diri manusia, bisa saja dikatakan oleh lisan manusia, wujud perkataan “loyalitas” dan sejenisnya. Atau sifat rasa fir’aun tersebut, diekspresikan oleh perbuatan jasadnya manusia, wujud sopan santun, ahli ibadah dan sebagainya.

Maka, bacaan catatan wujud rasa berbagai sifatnya manusia tersebut, khususnya sifat fir’aun yang menginginkan terhadap dirinya agar dipertuhan dan disembah oleh manusia atau orang lain selain dirinya, itu dikembalikan kepada dirinya masing-masing diri manusia. Oleh karena itu, beruntunglah dan menang bagi siapa yang menyadari akan eksistensi sifatnya serta mau mensucikannya atau tidak diikuti sifat jahatnya itu, khususnya sifat fir’aun yang menginginkan dirinya dipertuhan itu. 

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا 

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا 

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

QS Asy-Syams (91) : 7-8-9-10

Hidangan Lebaran Nusantara

Hari lebaran di negeri kita selalu dirayakan dengan penuh sukacita. Semua orang berkumpul, bahkan dari jau datang agar bisa bertemu dengan keluarga. Maka mudik untuk kepentingan lebaran menjadi sebuah kebiasaan yang sudah mendarha daging turun temurun.

Berkumpul dengan keluarga dan semua anggotanya selalu dibarengi dengan makanan-makanan lezat khas lebaran. Hal ini akan selalu diupayakan karena lebaran dirayakan sekali dalam satu tahun.

Kali ini ada sekelumit tulisan mengenai hidangan lebaran yang selalu tersedia di keluarga-keluarga di Indonesia. Pertama adalah hidangan lebaran di Bandung. Saya sudah berkali-kali menyicip hidangan  lezat di hari lebaran resep ala mertua yang selalu ada saat lebaran, Yaitu kornet daging, gulai kambing, soto bandung. Dan tak lupa potongan cabe dalam larutan cuka. Soto Bandung sangat terkenal di dataran tanah Sunda, karena mengandung aspek peranakan di dalam nya yaitu potongan-potongan lobak. Soto daging dengan lobak hampir kita tidak pernah temui kecuali di Bandung. Rasanya sangat segar juga gurih. Untuk kornet, ibu mertua sudah sering membuat hidangan ini dan resep didapat turun temururn dari buyut.

Yang kedua adalah hidangan lebaran ala kota Lampung. Kebetulan saya banyak berteman dengan teman-teman dari Lampung sehingga sayapun bisa berkesempatan mencicip salah satu kue hidangan lebaran yang saat itu dibawakan teman. Kalau nama sebeanrnya adalah lapis legit namun berbeda dengan lapis legit umumnya. Kue ini terbuat dari hanya telur dan gula. Rasanya sangat manis dan gurih. Untuk hidanga lebaran lainnya, masyarakat Lampung juga suka menyediakan Pempek Palembang saat lebaran. Pempek Palembang di Lampung agak sedikit berbeda dengan Pempek Palembang. Bentuknya lebih panjang dan kecil. Teksturnya sangat berbeda, hampir mirip puding. Namun rasanya masih otentik pempek Palembang.

Secara umum hidangan lebaran di Indonesia adalah opor ayam, rendang daging, lontong dan sebagainya. Untuk di kota Malang kelahiran saya, hidangan lebaran pernah mengalami pergeseran. Dulunya tidak pernah tersedia ketupat atau lontong di hari pertama lebaran. Ketupat dan lontong baru bisa kita temui pada minimal hari ke 5 atau 7.  Namun belakangan masyarakat Malang sudah menyediakan ketupat dan lontong sejak hari pertama Lebaran. Lauk ketupatnya adalah sayur labu atau manisah kemudian telur bumbu petis. Hidangan ini kerap kali disebut Lontong Cap Go Meh. Dan juga hidangan lebaran nusantara seperti opor, rendang, gula dan lain-lain yang sering juga terhidang di meja-meja keluarga Jawa Malang.

Yang terakhir ini adalah hidanga Lebaran di keluarga Ambon. Keluarga orang tua, tete dan nenek saya di Pulau Buru. Sup sayuran dan gado-gado adalah hidangan lebaran termewah bagi saudara-saudara kami di Ambon. Hal ini karena banyak bahan baku yang harus didatangkan dari Jawa. Seperti misalnya kol, bunga kol, daun selada,  wortel, daun bawang. Untuk membuat gado-gado yang sudah tersedia di sana adalah kacang tanah, ketimun, tauge, dan lontong. Mereka masih harus menyediakan (mengimpor) kerupuk, kol, kecap. Betapa cukup berjuang untuk mendapatkan dua hidangan ini ke meja untuk lebaran. Sehingga dua hidangan ini menjadi hidangan termewah dan patut disediakan saat lebaran. Karena lebaran hanya satu kali dalam setahun.

Menjaga Fitrah

Fitrah, artinya ciptaan, bukan suci atau kesucian. Menjaga Fitrah, berarti menjaga ciptaan, bukan menjaga kesucian.

Fitrah atau ciptaan yang dimaksudkan adalah fisik atau jasadnya manusia diciptakan. Di mana, jasadnya manusia itu, memerlukan asupan makanan dan minuman serta yang lainnya yang berhubungan dengan kehidupan fisik atau jasad. Artinya, fisik jasadnya manusia itu, erat berhubungan dengan kehidupannya.

Maka, do’a ketika berbuka untuk mengakhiri puasa adalah sebagai berikut :

اللهُمّ لكَ صُمت وعَلى رِزقك أفطرت 

Ya Allah, karena dan bagi-Mu aku perpuasa dan atas rizki-Mu aku “fitrah” (makan, minum dan yang lain serta sejenisnya).

Maksudnya, puasa atau meninggalkan makan dan minum serta yang lain dan sejenisnya itu, bukanlah fitrah atau ciptaan fisiknya manusia diciptakan. Fisik atau jasadnya manusia, diciptakan (difitrahkan), ia memerlukan makan dan minum serta seterusnya, tersebut. 

Tidak makan dan tidak minum serta tidak memerlukan terjadinya hubungan saling membantu antar satu dengan yang lainnya, itu bukan sifatnya manusia diciptakan. Akan tetapi, tidak makan dan tidak minum serta tidak memerlukan bantuan atau kehadiran dari siapa dan apa saja, itu sifatnya Allah swt Yang Maha segalanya. Dan, DIA-lah yang mem”fitrah” atau menciptakan fisiknya manusia, di mana fisik manusia itu, memerlukan asupan makanan dan minuman serta memerlukan terjadinya hubungan atau kehadiran orang lain antar satu dengan yang lainnya untuk mempertahankan dan melangsungkan kehidupan fisiknya, baik melalui pernikahan maupun yang sejenisnya.

Oleh karena itulah, “menjaga fitrah” yang dimaksudkan adalah fitrah atau ciptaan fisik manusia yang memerlukan kehadiran orang lain di dalam meraih kebutuhan hidupnya, itulah yang musti dijaga lewat ajaran agama, agar di dalam meraih kebutuhan hidupnya, manusia tetap tegak lurus dan menghadapkan dirinya terhadap pencipta-Nya oleh iman yang di di dalam dadanya.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

QS Ar-Rum (30) : 30.

Maka, tegakkan dirimu untuk agama secara sungguh-sungguh, itulah fitrah Allah yang Allah fitrahkan (ciptakan) atas diri (jasad) manusia, di mana ciptaan (fitrah) itu, tidak ada perubahan. Itulah agama yang lurus, akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Maka, puasa dalam arti “pengendalian diri manusia”, itu bukan hanya pada bulan Ramadhan saja. Akan tetapi, puasa dalam arti pengendalian dirinya manusia” atau “mengendalikan dirinya manusia”, adalah sepanjan zaman oleh iman yang di dalam dadanya manusia. Hanya saja, selama pada bulan Ramadhan, iman yang ada di dalam dada setiap manusia itu, disuruh oleh Allah untuk mengendalikan dirinya manusia, agar manusia berpuasa tidak makan dan tidak minum serta yang lainnya, sebagai “test-case” untuk pengendalian dirinya manusia yang sesungguhnya, yaitu sepanjan masa. 

Oleh karena itu, bukan orang-orang yang sudah beriman yang disuruh berpuasa, akan tetapi iman yang di dalam dadanya manusia, itulah yang mempuasakan atau mengendalikan dirinya manusia (jasad) dicipta, agar di dalam meraih kebutuhan fisiknya untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan, manusia tetap dipimpin oleh imannya yang bersifat shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Sehingga, manusia tetap benar dan tidak melakukan kesalahan serta amanah dan tidak  khiyanat, kemudian jujur dan apa adanya di dalam meraih sarana kehidupan dunia yang bersifat jasadi itu.

Impersonate Atau Cover

Ramai dibicarakan seorang pendatang baru atau musisi baru yang lumayan banyak dibicarakan di medsos. Baik IG, Twitter, FB dan You Tube. Kedua anak muda ini, Tri Suaka dan Zinidine Zidan sering berdua berkolaborasi menyanyi dari panggung ke panggung. Karena musisi yang masih pemula, meski suaranya okay namun mereka banyak menyanyikan lagu cover. Lagu cover adalah istilah yang diberikan bagi penyanyi yang menyanyikan lagu orang lain.

Sudah barang tentu ada unsur memakai barang orang lain atau meminjam. Dan menyanyikan lagu orang lain di negeri kita ternyata memiliki aturan ketat dan baku yaitu harus memberi royalti kepada pemilik lagu yang asli.  Kemudian justru masalah muncul bukan karena dua musisi ini mencover lagu, dalam hal ini lagu beberepa musisi. Salah satunya adalah lagu Andika Kangen Band.  Masalah muncul adalah anak muda ini mneyanyikan lagu cover milik Andika Kangen  Band dengan gaya menghina penyanyi aslinya.

Penampilan Andika dari awal berkarir hingga saat ini sudah mengalami perubahan cukup drastis. Banyak kasus yang dia lakukan dari sejak awal karir 2005 hingga beberapa tahun belakangan sudah membuat jera, terlihat saat ini. Penampilannya yang santun dan peduli dengan putra putrinya. Dan Andika selalu menolak menjawab bila ditanya tentang masa lalunya.

Namun hal ini masih menjadi sasaran empuk Zidan untuk menyanyikan lagu cover kangen Band dengan gaya menghina. Walhasil netizen se-Indonesia memberontak dan membully Zidan dan rekannya. Buntutnyapun mereka akan dituntut salah satu pemilik lagu yang dicover. Belum lagi pengacara Andika yang ikut maju mengeluarkan somasi. Di podcast Uya Kuya, akhirnya Zidan dan Tri datang dan memberikan pernyataan maaf.

Hal-hal seperti ini selalu terjadi di negeri +62. Seseorang dengan bebas merdeka melakukan kesalahan lalu kemudian selalu berakhir dengan permintaan maaf di depan publik. Begitu mudahnya dan begitu meremehkan dengan mempergunakan dalih maaf. Padahal mungkin tidak semudah itu publik memaafkan.

Lalu apa beda menyanyikan lagu orang lain alias cover dengan impersonate? Saat ini artis yang dikenal mahir impersonate adalah Gilang Dirga dan Rina Nose. Mereka berdua begitu lihai menirukan suara tokoh, menyanyikan lagu terkenal dan bahkan berperan seperti orang yang ditirukan. Saat Rina Nose menyanyikan lagu Laksmana Raja Di Laut, dia begitu maksimal menirukan lagu dan gerak Iyet Bustami. Bahkan baju yang dipakai Rina adalah kostum yang biasa dipakai Iyet. Saat itu Iyet juga hadir ikut bernyanyi bersama Rina. Sehingga tidak ada masalah antara keduanya, demikian juga dengan host acara tersebut.

Gilang Dirga juga sangat mahir menirukan maupun menyanyikan lagu para musisi. Dengan cengkok yang cukup mirip dengan penyanyi aslinya, Gilang pun mampu membawakan lagu itu. Disamping itu Gilang juga sangat lihai menirukan gaya tokoh.

Antara cover dan impersonate ada perbedaan tipis. namun bagaimanapun menyanyikan lagu musisi lain atau menirukan gaya tokoh harus diniatkan untuk menghibur. Jangan menyusupkan adegan-adegan menghina musisi atau tokoh aslinya.

Wallahu A’lam

Sholat Khusyu

Kata “sholat”, secara asal dan usul bahasa, artinya sambung hubungan. Kemudian, kata “khusyu’, berarti tenang, tenteram dan bahagia. Sehingga, “sholat khusyu’, bisa diartikan, sambungnya hubungan yang menenangkan, menentramkan dan membahagiakan. 

Dengan demikian, maka jika sholat atau sambung hubungan, pasti khusyu’ dan jika tidak sholat berarti, tidak sambung hubungan dan tidak khusyu’ atau tidak bahagia.

Oleh sebab itulah, “sholat” berarti pula, “bertemu” atau “berjumpa”, untuk bisa kembali ke asal mula (Al Baqoroh (2) : 45 – 46). Kalau tidak bisa bertemu atau berjumpa, maka tidak akan bahagia dan jika tidak bahagia, maka tidak akan bisa kembali ke asal mula.

Lalu, siapa dan dengan siapa yang bertemu itu, di mana tempat pertemuan dan ke manakah kembali ke asal mulanya, serta siapa yang berbahagia..?.

Yang bertemu adalah mukmin, dengan amin Rasul utusan Allah di Baitullah, karena sholat yang tertegakkan olehnya (mukmin) (Al Mu’munin (23) : 1- 2) (Ali Imron (3) : 96 – 97). Kemudian, kenapa bertemunya mukmin dengan amin di Baitullah, dan tidak langsung saja mukmin bertemu dengan Allah Yang Maha Esa..?.

Mukmin bertemu dengan amin di Baitullah, melalui sholat yang tertegakkan oleh mukmin, untuk diantar oleh amin kembali menuju bersatu dengan Allah. Sebab, Allah itu (al Mashiir), tempat kembalinya asal muasal segala sesuatu, bukan tempat pertemuan atau perjumpaan. Itulah, yang dimaksudkan dengan “wasilah”, artinya untuk bisa kembali kepada Allah, dengan dan melalui “wasilah” rasul utusan Allah (Al Maidah (5) : 35).

Baitullah itu ghoib, yang nyata adalah Ka’bah dan ia sebagai tanda atau alamat di mana Baitullah itu, berada. Ka’bah, merupakan bangunan yang terbuat dari batu, di bangun okeh Nabi Ibrahim as, bersama putranya yang  bernama Nabi Ismail as, di mana keduanya berasal dari suku Ka’b, maka bangunan berbentuk kubus dari batu tersebut, diberi nama dengan menisbatkan dari mana kedua Nabi tersebut berasal, yaitu Ka’b atau Ka’bah. 

Kemudian, pintu masuk ke Baitullah adalah Hajar Aswad, sebuah batu hitam yang secara dzat adalah jelmaan Malaikat (cahaya) yang bertugas khusus dan berfungsi sebagai pencatat (daftar hadir, cctv, photo dan atau finger print serta sejenisnya), bagi mukmin yang memasuki Baitullah lewat sholat yang tertegakkan ( Bani Israil (17) : 80).

Lalu, siapakah mukmin itu, sebenarnya..?.

Dialah hamba Allah, yang ada di dalam hatinya manusia yang bersifat iman, ilmu dan nikmat (Al Baqoroh (2) : 2 – 3), (Al A’nkabut (29) : 49),  (Ar Rahman (55) : 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, 77).

Artinya, sholat itu pasti khusyu’, karena sholat adalah sambungnya hubungan hamba Allah, bernama mukmin dengan amin di Baitullah (tempat pertemuan) dan khusyu’ itu, berarti bahagia.

Maka, mukminlah yang menyatu (wahhada) dengan amin (tauhid) di tempat kesatuan (Baitullah) melalui sholat yang tertegakkan, untuk bersama-sama diantar oleh amin rasul utusan Allah, menuju bersatu kembali dengan Allah Maha Ahad.

Kemudian, manusia dengan berbagai sifatnya yang ingkar, suka mengeluh, tidak sabaran dan lemah serta berbagai sifatnya manusia yang lainnya, ketika dipimpin oleh imannya yang benar dan terpercaya, dipimpin oleh ilmunya yang yang selalu mengetahui akan kesalahan dan kebenaran serta dipimpin oleh nikmatnya yang selalu merasakan dan tiada dusta, maka manusia dengan berbagai sifatnya yang ingkar dan jahat seperti tersebut di atas, menjadi mengikuti iman, ilmu dan nikmatnya sehingga tegak sholat atau hubungannya dengan amin di Baitullah. 

Itulah, yang maksudkan dengan, “Allahu Akbar”, kemudian “wajjahtu” atau aku menghadapkan diri sifat manusiaku dst.

Lalu, kapan sholat itu, tertegakkan dan dilaksanakan..?. 

Sholat ketika dilaksanakan secara terus menerus, disebut dengan “sholat daim” (mudawamah-Al Ma’arij (70) : 19, 20, 21, 22, 23 ) yang berfungsi untuk menghilangkan sifat keluh kesah dan sejenisnya pada dirinya manusia. Kemudian, sholat ketika dilaksanakan secara rukun oleh anggota badan manusia dan berkaitan dengan waktu, disebut, dengan “sholat lima waktu”, sholat malam, sholat pagi dan seterusnya yang berfungsi untuk peringatan. Karena berfungsi untuk peringatan, maka waktu, tata cara, proses dan prosedurnya serta yang berkaitan dengannya, sudah ditentukannya. Jika sholat dilaksanakan pada waktu Maghrib, maka disebut sholat Maghrib yang waktunya, bilangan rokaatnya dan sebagainya, semua sudah tertentu dan ditentukan. Demikian pula, sholat Isya’ dan  seterusnya.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

 Tha-Ha (20) : 14.

Sesungguhnya Aku adalah Aku, Allah yang tiada tuhan selain Aku, maka sembahlah akan Aku dan tegakkan sholat untuk ingat akan Aku. 

Oleh karena itu, sholat disebut juga dengan amalan yang bersifat “fardhu ‘ain”, atau wajib atas diri masing-masing individu yang tidak boleh ditinggalkan dan tidak bisa diwakilkan terhadap orang lain selain diri orang yang bersangkutan. Meninggalkan sholat, disebut  kafir, atau tertutup dan terputus hubungan. 

Dan sholat merupakan amalan yang pertama kali dilihat atau dihisab, jika sholatnya baik dan benar, maka semua amal perbuatan manusia akan baik dan benar, itulah fungsi sholat ketika telah tertegakkan, yaitu tercegahnya seseorang dari perbuatan keji dan mungkar ( Al ‘Ankabut (29) : 45). Sebaliknya, jika sholatnya rusak, maka seluruh amal perbuatan manusia akan rusak.

Jadi, sholat khusyu’ itu, sholat daim, sholat rukun lima waktu dan waktu-waktu yang lainnya seperti sholat Tahajud, sholat  Dhuha dan sebagainya serta sholat tegaknya hubungan mukmin dengan amin di Baitullah.

I La Galigo

Judul yang pendek I La Galigo sebenarnya cermin dari sebuah naskah yang cukup panjang berkilo-kilo. Inilah naskah karya sastra berasal dari Bugis klasik yang diyakini terpanjang di dunia. Dan saking panjangnya naskah dan cerita di dalamnya hingga melebihi Ramayana dan Mahabarata. Bahkan Homerus dari Yunani.

I La Galigo adalah naskah susastra yang bisa kita baca saat ini berbentuk puisi 5 baris. Awalnya naskah ini ditulis dalam huruf lontara di atas daun yang disebut dengan daun lontar. Saat I La Galigo ini dituliskan di atas daun lontar, belum ada teknologi kertas atau papyrus seperti saat ini. Sehingga daun lontar inilah yang sanggup merekam semua kejadian dan cerita lisan saat itu. Diyakini cerita lisan I La Galigo terjadi pada abad 9 SM. Dan baru ditranskripsikan oleh Arung Pacana Toa Collieq Pudji pada tahun 1852 selama beberapa tahun.

I La Galigo yang dianggap kitab suci oleh sebagian orang ini berisi kisah tentang I La Galigo itu sendiri, naskah keagamaan, sejarah, dan naskah spiritual. Bagi para Bissu yang menganut agama Bugis Klasik kitab I La Galigo berfungsi sebagai obat dari beberapa penyakit, sebagai tolak bala dan berfungsi magis juga. Para Bissu ini adalah sisa-sisa warisan I La Galigo yang masih tertinggal saat ini. Bersyukur masih ada yang melestarikan kitab I La Galigo. Karena kalau tidak mungkin I La Galigo hanya sekedar gulungan lontar yang mudah rusak karena rapuh.

Kalau diteliti lebih lanjut I La Galigo bisa menjadikan kita lebih waspada, karena ada ayat-ayat yang meramalkan kejadian-kejadian alam seperti gempa, tsunami dll. Kalau kita lebih teliti membaca kita ini mungkin kita bisa lebih waspada akan gejala alam yang terjadi.

Kisah I La Galigo salah satunya yang cukup terkenal, meski ada kisah-kisah lain adalah hubungan cinta antara Sawerigading dengan We Tenri Abeng. Keduanya sebenarnya adalah lahir kembar emas atau di Jawa dikenal dengan kembar dampit. Yaitu kembar laki-laki dan perempuan. Di zaman itu, sama juga dengan di Jawa, bila lahir bayi kembar laki-laki dan perempuan maka seyogyanya bayi-bayi tersebut dipisahkan. Karena dikhawatirkan keduanya nanti akan saling menyukai dan ingin menikah. Sehingga diputuskan untuk memisahkan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Namun meski dipisahkan justru membuat Sawerigading semakin penasaran dan ingin bertemu We Tenri Abeng. Dan ternyata mereka bertemu. Hingga ending ceritanya bisa ditebak.

Kisah ini hanya sebagian kecil dari naskah I La Galigo yang cukup panjang tersebut. Jumlah cerita lisan yang telah ditranskripsikan oleh Colliq Pudjie adalah 12 jilid dan tiap jilidnya adalah berjumlah 2850 halaman. Sisa-sisa naskah yang belum ditranskripsikan tersebar di Gorontalo, Malaysia, Brunei, Singapura dan Leiden. Jadi bisa dibayangkan cerita yang belum selesai ditulis ini seberapa.

Bu Colliq Pudji yang bagi masyarakat Sulawesi dikenal dengan Kartininya Sulawesi ini adalah seorang penulis handal. Mungkin kalau sekarang bisa se frekwensi dan se server denganku. Eh..

Ternyata beliau tidak sendiri, ada seorang pendeta bernama Pak Matthes yang cukup berjasa dalam aktifitas transkripsi naskah Ibu Colliq Pudjie. Bapak Matthes yang seorang pendeta dan pakar Linguistik Bible ini melihat kepiawaian Ibu Colliq sehingga banyak sekali bantuan diberikan pada sang ibu.  Saat itu situasi perang antar suku yang tak menentu didukung dengan kehadiran kolonial yang menghasut, membuat bu Colliq kesulitan untuk menuliskan semua naskah-naskahnya. Dalam keadaan terkucil karena kekejaman kolonial, bu Colliq tak berhenti melanjutkan naskahnya.

Kini kita bisa menikmati tulisan I La Galigo dengan bahagia karena sudah ditransliterasikan ke dalam bahasa Indonesia.

 

Meski transkrip lisan dan transliterasi naskah belum selesai.