Siti Khadijah

DETIK-DETIK WAFATNYA SITI KHADIJAH, ISTRI TERCINTA RASULULLAH*

Siti Khadijah adalah istri pertama Rasulullah. Orang yang pertama kali beriman kepada ALLAH dan kenabian Rasulullah. Orang yang sangat berjasa bagi dakwah Rasulullah dan penyebaran agama Islam.

Siti Khadijah wafat pada hari ke-11 bulan Ramadlan tahun ke-10 kenabian, tiga tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Khadijah wafat dalam usia 65 tahun, saat usia Rasulullah sekitar 50 tahun.

PERMINTAAN TERAKHIR

Diriwayatkan, ketika Khadijah sakit menjelang ajal, Khadijah berkata kepada Rasululllah SAW,

Aku memohon maaf kepadamu, Ya Rasulullah, kalau aku sebagai istrimu belum berbakti kepadamu.

Jauh dari itu ya Khadijah. Engkau telah mendukung dawah Islam sepenuhnya, jawab Rasulullah

Kemudian Khadijah memanggil Fatimah Azzahra dan berbisik,

Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba, yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, aku malu dan takut memintanya sendiri, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa untuk menerima wahyu agar dijadikan kain kafanku.

Mendengar itu Rasulullah berkata,

Wahai Khadijah, ALLAH menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga.

Ummul mukminin, Siti Khadijah pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya istri Beliau itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Beliau dan semua orang yang ada disitu.

KAIN KAFAN DARI ALLAH

Saat itu Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan. Rasulullah menjawab salam Jibril dan kemudian bertanya,

Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?

Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan jawab Jibril. Jibril berhenti berkata dan kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, Kenapa, ya Jibril?

Cucumu yang satu, Husain tidak memiliki kafan, dia akan dibantai dan tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan sahut Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah,

Wahai Khadijah istriku sayang, demi ALLAH, aku takkan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. ALLAH maha mengetahui semua amalanmu.

“Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu.

“Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban?

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Seluruh kekayan Khadijah diserahkan kepada Rasulullah untuk perjuangan agama Islam. Dua per tiga kekayaan Kota Mekkah adalah milik Khadijah. Tetapi ketika Khadijah hendak menjelang wafat, tidak ada kain kafan yang bisa digunakan untuk menutupi jasad Khadijah.

Bahkan pakaian yang digunakan Khadijah ketika itu adalah pakaian yang sudah sangat kumuh dengan 83 tambalan diantaranya dengan kulit kayu.

Rasulullah kemudian berdoa kepada ALLAH.

Ya ALLAH, ya Ilahi Rabbi, limpahkanlah rahmat-Mu kepada Khadijahku, yang selalu membantuku dalam menegakkan Islam. Mempercayaiku pada saat orang lain menentangku. Menyenangkanku pada saat orang lain menyusahkanku. Menentramkanku pada saat orang lain membuatku gelisah. Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?

Tiba-tiba Ali berkata, Aku, Ya Rasulullah!

PENGORBANAN SITI KHADIJAH SEMASA HIDUP

Dikisahkan, suatu hari ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, Beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu. Ketika Khadijah hendak berdiri, Rasulullah bersabda,

Wahai Khadijah tetaplah kamu ditempatmu.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi.

Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makananpun tak punya. Sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Beliau mengambil Fatimah dari gendongan istrinya lalu diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah seusai pulang berdakwah dan menghadapi segala caci maki dan fitnah manusia itu lalu berbaring di pangkuan Khadijah.

Rasulullah tertidur. Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah. Beliau pun terjaga.

Wahai Khadijah Mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku, Muhammad? tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal wahai Khadijah bersuamikan aku, Muhammad?” lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

Wahai suamiku. Wahai Nabi ALLAH. Bukan itu yang kutangiskan.” jawab Khadijah.

“Dahulu aku memiliki kemuliaan. Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan. Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan. Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya.

“Wahai Rasulullah. Sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah. Sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu ini belum selesai, sekiranya engkau hendak menyebrangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyebarangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit pun atau pun jembatan.

“Maka galilah lubang kuburku, ambilah tulang belulangku. Jadikanlah sebagai jembatan untuk engkau menyebrangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu.

“Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah. Ingatkan mereka kepada yang hak. Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah.

Karena itu, peristiwa wafatnya Siti Khadijah sangat menusuk jiwa Rasulullah. Alangkah sedih dan pedihnya perasaan Rasulullah ketika itu karena dua orang yang dicintainya yaitu istrinya Siti Khadijah dan pamannya Abu Thalib telah wafat.

Tahun itu disebut sebagai Aamul Huzni (tahun kesedihan) dalam kehidupan Rasulullah.

Ilaa hadlratin Nabiyyil musthafa, wa ilaa Khadijah al Kubra, al Fatihah. 

Nikmat dan Anugerah

Anugerah pemberian Allah, sekaligus sebagai amanah terhadap setiap diri manusia, baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan, apapun suku, bangsa dan agamanya, adalah apa yang disebut dengan nikmat.

Nikmat, tentu berbeda dengan kenikmatan. Nikmat itu, anugerah pemberian Allah untuk setiap diri manusia dan ia bersifat rasa, maka nikmat itulah yang bisa merasa dan merasakan.

Sedangkan kenikmatan, itu lebih bersifat fisik, di mana setiap orang berbeda sesuai dengan keadaan fisik dan sejenisnya masing-masing. Maka, kenikmatan itu, digambar oleh al Qur’an sebagai permaian keduniaan yang penuh dengan permainan tipuan, QS 6 : 36, QS 57 : 20.

Nikmat lebih bersifat batin, sedangkan kenikmatan lebih bersifat fisik atau dhohir.

Oleh karenanya, nikmat merupakan anugerah Allah yang paling besar bagi setiap diri manusia, sebab hanya nikmat yang bisa merasa. Jika nikmat anugerah Allah terhadap diri manusia itu, teringkari oleh manusia, maka ia tidak akan bisa merasa, sehingga seolah nikmat tersebut mati, maka lazim disebut dengan “mati rasa”. Artinya, nikmat anugerah-Nya tersebut, tetap ada, hanya saja sifat atau rasa dari nikmat itu, tertutupi oleh sifat pengingkaran (kafir) diri manusia, itu. QS 64 : 2. 

Maka, nikmat tersebut, wujudnya rasa yang Allah tiupkan (nufukh) terhadap setiap diri manusia, berupa iman yang dipercaya oleh Tuhan.

Iman tersebut, berwujud catatan (kitab) yang tidak ada di dalamnya sebuah keraguan sedikipun, QS 2 : 2. Catatan itu, benar maka disebut ilmu, QS 29 : 49. Dan ilmu tersebut menanda jelas dengan cahayanya (nur), maka disebut ayat, ia ada di dalam dada setiap diri manusia, siapapun orangnya, apapun jenis kelaminnya serta dari mana dan apapun bangsa serta agamanya.

Maka, rasa dari dan oleh nikmat Allah terhadap setiap diri manusia itu, sama. Tidak tua dan tidak muda, tidak laki dan tidak perempuan, jika dipijit, nikmat rasanya dan jika dicubit, sakit rasanya.

Artinya, nikmat itulah yang merasa karena adanya ruh yang ditiupkan oleh Allah kepadanya, wujudnya catatan (kitab) dan ia dipercaya oleh iman serta dibenarkan oleh ilmu (bukan pengetahuan).

Oleh sebab itu, nikmat disebut juga dengan iman, kitab dan ilmu. Nikmat itu, benda, kerja nikmat adalah merasa (QS 55 : 13, 16) dan rasa tersebut benar serta terpercaya, sebab rasa itu tiada dusta karena menyampaikan apa adanya, itulah sifat iman yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah. Rasa yang dipercaya akan kebenarannya itu, tercatat dan terukir di dalam dada, namanya al kitab dan ia terbaca jelas tiada dusta serta benar, namanya al Qur’an, QS 17 : 14.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبً

7/26/18, 16:36 – ‪+62 895-6088-99879‬: (اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا)

Al-Isra’ 14

7/26/18, 18:27 – ‪+62 895-6088-99879‬: Percaya Kepada Allah

Imam Muslimin

Percaya kepada Allah itu, maksudnya percaya kepada Rasul utusan-Nya. Lalu, percaya kepada Rasul utusa-Nya itu, percaya kepada Nabi Muhammad saw putra Abdullah. Kemudian, percaya kepada Nabi Muhammad saw putra Abdullah itu, berlaku mencontoh beliau Nabi Muhammad saw, sebagai Rasul utusan Allah yang bernama atau disebut amin. 

Berlaku mencontoh Nabi Muhammad saw putra Abdullah sebagai Rasul utusan Allah yang bernama atau disebut amin itu, artinya berlaku atas dasar iman yang berisifat empat, yaitu shidiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Sehingga, benar apa yang disampaikan, apa yang diomongkan dan benar apa yang dilakukan oleh seseorang, sesuai dengan apa yang ada di dalam hatinya. Apa yang ada di dalam hati, tidak dikhiyati, itulah amanah nama atau sebutannya. Lalu, tidak ditambah dan atau tidak dikurangi, itu sebutannya tabligh atau apa adanya. Sehingga, cerdas atau fathonah, karena tidak diperlukan “ngarang-ngarang” dan sejenisnya..

Bagi Nabi Muhammad (amin), tidak diperlukan “ngarang-ngarang, karena mendapatkan langsung dari Allah, namanya wahyu.

Bagi selainnya (iman), tidak diperlukan “ngarang-ngarang”, karena mendapatkan dari amin, tinggal membenarkannya, tidak dikhiyanatinya, disampaikan apa adanya sehingga cerdas dan tidak dungu atau bodoh. 

Itulah, makna “syahadatain” atau dua persaksian, yang inti dan substansinya adalah percaya kepada Allah, karena benar-benar menyaksikan-Nya. Maka, menyaksikan dan yang disaksikan hanya Allah sebagai Tuhan, sedangkan selain DIA, bukanlah tuhan. Itu, artinya, menyaksikan Nabi Muhammad saw sebagai utusan Allah, bukan tuhan. Dia hanya utusan Allah yang amin, sehingga dialah yang shidiq, yang amanah, yang tabligh dan yang fathonah. 

Sedangkan, selain beliau (amin), bisa shidiq, bisa amanah, bisa tabligh dan bisa fathonah, oleh karena imannya tegak dengan sholat atau terjadinya hubungan dengan amin. Jika, tidak tegak sholatnya, maka tidak akan terjadi hubungan dengan amin, dan jika tidak terjadi hubungan dengan amin, maka tidak bisa shidiq, tidak bisa amanah, tidak bisa tabligh sehingga dungu dan bodoh, alias tidak cerdas.

Aroma Pahala

“Kesuksesan dibangun dari pelajaran-pelajaran berharga yang diajarkan oleh kegagalan”.

Paragraf yang saya sampaikan di atas adalah tulisan hikmah yang pernah ditulis oleh seorang teman yang memiliki kedalaman spiritual bernama Dr. Fadhil Sj. Ia selalu membagi ilmu hikmah atau mutiara hikmahnya di setiap pagi dalam bingkai “Embun Pagi”, sehingga teman-teman sering memanggilnya dengan “Pak Doktor Embun”.

Memperhatikan untaian kata hikmah yang ditulis oleh Pak Doktor Embun di atas, bisa memantik untuk berfikir dan direnungkan lebih dalam sehingga hasil pikiran dan renungan tersebut mudah untuk dipraktekkan oleh siapapun dalam kehidupan sehari-hari 

Realitasnya tidak seorangpun dalam menjalani kehidupannya yang tidak ingin sukses, semua orang ingin sukses. Akan tetapi tidak jarang manusia, juga mengalami kegagalan satu atau dua episode dalam kehidupannya. Dan kegagalan tersebut dianggapnya sebagai sebuah hal yang menakutkan, sehingga kegagalan tidak menjadikannya pelajaran berharga untuk bangkit dan sukses, sebaliknya justru timbul sifat dan sikap pada diri yang gagal tersebut sebuah “traumatika” yang menghantaunya. 

Melihat apa yang disampaikan oleh Pak Doktor Embun, sebuah kegagalan adalah keniscayaan bagi setiap orang dalam menjalani tugas kehidupannya. Artinya, seolah seseorang harus “gagal dulu” atau memiliki sejarah kegagalan atau di dalam kegelapan, barulah tahu akan hakikat kesuksesan atau terang benderang.

Maka, hendaknya tidak dipersoalan sejarah kegagalan manusia siapapun, karena kegagalan atau kegelapan adalah guru yang bisa menunjukkan akan kesuksesan dan penerangan.

Australia menjadi negara yang besar dan kuat, karena dibangun di atas sejarah kegagalan dan kegegelapan atas penindasan penguasa. 

Pada abad 18 Inggris menguasai Australia dan menjadikannya negara ini tempat pembuangan bagi orang-orang yang dianggap menjadi perusuh, karena sikap kritisnya terjadap penguasa saat itu.

Orang-orang yang dibuang oleh penguasa Inggris saat itu atas dugaan dan tuduhan tindak kriminal adalah orang-orang yang memiliki kemampuan di atas rata-rata, sehingga ketika berada di tempat pembuangan mereka justru yang menemukan tambang emas, sehingga selanjutnya merekalah yang di kemudian hari mendirikan dan menguasai berbagai bidang kehidupan di Australia, mulai aspek politik dan pemerintahan, ekonomi dan lainnya.

Indonesia merdeka, karena adanya penjajahan Belanda dan sebagainya. Seandainya tidak ada penjajahan Belanda atas Indonesia, maka perjuangan untuk meraih kemerdekaan tidaklah terjadi dan Indonesia tetap akan dikuasai oleh para raja yang sulit untuk dipersatukan antar satu dengan yang lainnya.

Itulah ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah yang mau menerima Abu Bakar, Umar, Ustsman dan para shahabat yang lainnya, sekalipun sebagian hidup mereka pada masa lalunya terdapat kegegelapan jahiliyah.

Berbeda dengan ajaran Syi’ah yang hanya bisa menerima dan mengakui Sayyidina Ali, juga para keturunannya karena dianggapnya suci sejak kecil tiada punya sejarah kegelapan.

Ajaran mana yang kita anut..???

Syi’ah apa Ahlus Sunnah wal Jama’ah..???

Atau mengaku Ahlus Sunnah wal Jama’ah, akan tetapi prakteknya Syi’ah atau sebaliknya..???

Oleh sebab itu, bukan pengakuan yang dianggap penting dalam kehidupan, akan tetapi amal nyata kerukunan.

Maka disebut Rukun Islam, karena Islam itu pengakuan dan isinya adalah kerukunan alias tidak bertengkar antar satu dengan yang lainnya untuk menciptakan kedamaian, baik damai diri maupun damai terhadap orang lain agar diperoleh kedamaian dalam kerukunan dan kerukunan dalam kedamaian.

Silahkan mengaku beriman sebagai pengikut Nabi Muhammad saw..

Mengaku Yahudi atau pengikut Yahuda putra pertama Nabi Ya’qub..

Silahkan saja mengaku Nasroni atau pengikut Nabi Isa as..

Silahkan saja mengaku sebagai kaum sabiat pengikut Nabi Yahya yang tiada perbah berfikir maksiyat kepada Allah dan rasul-Nya..

Pengakuan semuanya tidaklah penting dari iman dan amal nyata untuk kemaslahatan kemanusiaan. Dan mereka inilah yang dibalas oleh Allah dengan pahala yang besar nanti kelak ketika menghadap Allah swt.

Memang pahala atau “ujroh” bagi manusia beriman dan beramal nyata akan diberikannya ketika sudah atau saat menghadap Allah swt. Akan tetapi, sebelum pahala tersebut dirimakannya secara langsung, Allah akan memberikannya terlebih dahulu kepada manusia yang bermal nyata untuk kerukunan saat masih hidup di dunia. Diandaikan kita memasak atau membikin minuman kopi, sebelum kita meminumnya secara langsung, aroma atau bau kopi tersebut sudah dapat kita rasakan.

Dialah yang disebut dengan “riihul ujroh” aroma pahala, apa itu aroma pahala?

Adalah hilangnya gundah gulana dan kesedihan serta ketakutan.

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Al-Baqarah 62

Artinya, jika anda masih bersedih dan sering dihantaui rasa kekuatiran, anda kurang atau belum beramal nyata demi kemaslahatan umat sekalipun mungkin anda sudah mengakui karena telah melakukannya. Akan tetapi, kenapa masih gundah gulana, sedih dan kuatir terasakannya??

Artinya amal nyata yang anda perbuat itu bukan amal nyata yang maslahah, mungkin amal anda adalah curian dari uang negara atau perilaku anda menolong orang adalah rekayasa dari amanah yang anda emban dengan cara berebut tendang sana dan tendang sini.

Yang tahu, bukan orang lain tapi diri sendiri.

Benda dan Kata

Para Filusuf Bahasa sepakat, bahwa benda atas kata itu lebih dulu ada dari pada kata atas bendanya. Karena, semua kata itu menunjuk pada bendanya.

Artinya adanya kata-kata itu didahului oleh adanya benda, baru muncul kata-kata. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan pengertian atas kata apapun dibalikanlah kepada asal dan usulnya bahasa yang al. dengan cara “mengkirata” atau “kiroto boso”. 

Lakukan dengan seksama alias tidak sekedar hanya mengkira-kira tanpa tata bahasa dan kaidahnya sebagai pertimbangannya, namun perkiraan yang didasarkan pada tata bahasa dengan berbagai seluk beluknya. 

Itulah makna “kiroto” atau mengkira-kira dan menata berdasarkan tata kaidah yang musti dijadikan pertimbangan secara seksama.

Demikian para ahli berpendapat, bahwa benda itu lebih dulu ada baru dikata-kata atau muncul kata. Maka, hendaknya siapapun orangnya tidak mengata atau berkata atas kata atau katanya, namun hendaknya seseorang itu mengata dan berkata atas bendanya.

Katakanlah atas kenyataannya (nyatanya) dan tidak mengata atas katanya yang tidak tahu akan kenyataannya.

Itulah yang ditegaskan oleh Allah swt dalam firman-Nya sebagai dosa besar (kaburo maqtan) di sisi-Nya jika seseorang hanya mengata namun tidak mampu untuk melakukannnya. Bagaimana mungkin bisa melakukannya, jika kata yang diucapkan tidak menunjuk atas bendanya alias hanya mengata saja tanpa mengerti apa yang dikatakannya karena tidak bisa menemukan bendanya???

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ 

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

Ash-Shaf 2 – 3.

Karena iman yang ada pada setiap dada insan manudia tidak dipergunakan cahaya dan ilmunya (tahunya), maka mereka para manusia itu hanya mengata yang tidak mampu untuk  melakukannya. Sehingga “maqtan” atau membikin gatal yang besar atau sangat menggatalkan jika seseorang hanya mengata yang tidak melakukannya, tidak mengata atas benda alias hanya mengata atas kata atau katanya.

Oleh sebab itulah, kemungkinan ada benarnya apa yang dinyata oleh beberapa ahli sejarah berdasarkan data yang diperolehnya, bahwa Abdullah Ibn Mas’ud, sahabat Nabi Agung Muhammad saw, atas perintah Khalifah ke empat Sayyidina Ali Ibn Abi Thalib Kw, pernah tiba di kepulauan Nusantara, khususnya di pulau Jawa, tepatnya di daerah Wonosobo Jawa Tengah.

Bahkan singkatan nama ormas umat Islam terbesar di Indonesia adalah NO (Nahdlatul Oelama’) atau NU (Nahdlatul Ulama’), bukan “nahlu” atau yang lainnya, akan tetapi NU. Kenapa demikian? Karena kata NO-NU, itu diambil dari kata “nusantara” atas ide alm. Kyai Sya’roni dari desa Keras Kediri yang  terinspirasi dari kata “nusantara”.

Dalam musyawarah para Kyai sepuh di Surabaya untuk merumuskan singkatan Nahdlatul Oelama’, pernah ada seorang Kyai sepuh dari Madura yang melontarkan kata “Nahl” yang berarti tawon sebagai singkatan dari Nahdlatul Oelama’.

Namun setelah dikaji dan difikirkan mendalam serta selalu memohon petunjuk Allah swt, maka Mbah Hasyim keluar sebentar dari ruangan musyawarah untuk menemui Kyai Sya’roni. Mbah Hasyim meminta kepada Kyai Sya’roni untuk melakukan istikharah berkenanaan dengan singkatan dari Nahdlatul Oelama’-Nahdlatul Ulama’.

Dalam istkharahnya Kyai Sya’rini diperlihatkan, bahwa Mbah Hasyim membawa tulisan berhuruf Arab :

” نهضة العلماء “

yang di depannya terdapat tulisan huruf latin yaitu NOESWATARA.

Hasil istikharah dari Kyai Sya’roni tersebut dihaturkan kepada beliau Mbah Hasyim, lalu diambillah huruf pertama dan kedua yakni N-O atau NU.

Selanjutnya singkatan NO atau NU dibahas oleh para Kyai untuk ditemukan filosofinya yang dikaitkan dengan kata antara (tengah-tengah) sehingga detemukan kata Nusantara dan Nahdlatul Oelama’ atau Nahdlatul Ulama’.

Maka singkatan NO atau NU, dipilih didasarkan pada berbagai pertimbangan bahasa yang dikira (dikaji) untuk diperoleh “ketataan” atau “tata” yang menjadi idaman semua manusia yaitu hidup tertata; Berkata secara tertata dan bertata kelola negara yang bertata dst.

Semua tahapan berfikir sebagaimana disebutkan di atas sebut menkaji untuk terjadinya ketataan atas segala sesuatunya khususnya, bahasa. Sehingga muncul kata “kirata bahasa” atau “kiroto boso”; bukan hanya sekedar diKIRO KIRO tanpa MIKIR.

Kirata bahasa atau kiroto boso berguna untuk menumbuhkan rasa agar pertimbangan apapun di dalam berkata dan bertindak tidak hanya berdasarkan hasil kajian intelektualitas belaka, namun juga spiritualitas agar tumbuh rasa.

Bekenaan dengan telah ditemukannya berbagai bukti nyata sejarah peninggalan akan perjuangan da’wah umat Islam, maka berbagai nama kota yang terdapat di pulau Jawa semuanya bisa dikirata bahasakan yang didasarkan pada sejarah penamaannya oleh para da’i Muslim saat itu.

Maka nama kota Kediri, konon merupakan ajakan agar semua orang mau ke dirinya masing-masing.

اقْرَأْ كِتَابَكَ كَفَىٰ بِنَفْسِكَ الْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِيبًا

 Al-Isra’ : 14.

Bagaiman seseorang bisa ke diri masing-masing???. 

Dijelaskan tata caranya untuk bisa dan mampu ke diri yaitu dengan kata “Nganjuk”. Kata “nganjuk” adalah bahasa Arab ” ‘an juu’in”, tentang lapar yakni perut atau hawa nafsu atau nafsu ketika berhawa, hendaknya di imsak dikendalikan dengan berpuasa agar “juu’ ” atau lapar untuk mampu ke diri masing-masing.

Karena nafsu atau hawa nafsu hanya bisa tunduk dengan neraka “juu’ “, bukan dengan 7 neraka sebagaimana disebutkan di dalam firman-Nya yang jumlah pintu neraka itu sebanyak tujuh.

Dengan ke diri masing-masing melalui “juu’ ” barulah diperoleh “madyun” atau Madiun, yakni kondisi senang dan mahabbah yang hampir sakar atau mabuk, tapi tidak sampai mabuk sehingga serasa senang dan ridho atas apapun yang terjadi. Kondisi diri demikian disebut dengan “madyunun”.

Senang bahagia didapatkan, maka ridho dirasakan sehingga tidak terjebak hidupnya oleh hal-hal yang bersifat materialistik alias terlepas dari berbagai hal yang berfifat ragawi (Ponorogo).

Ponorogo atau hilangnya keterjebakkan (fana’) diri dari berbagai hal yang ragawi, maka kegundah gulaan tertinggalkan (tarku qolqin) yang diucap dengan kata “Trenggalek”. 

Tertinggalkannya kegundah gulaan, artinya hilangnya kesedihan.

Hilangnya kesedihan menandakan datangnya pertolongan Tuhan (Tulung Agung). 

Jika dalam kesedihan, maka Tuhan tiada bersama kita alias pertolongan-Nya tidak akan diberikannya kepada kita. 

Maka itulah pesan Nabi Agung Muhammad saw kepada sahabatnya Abu Bakar ra, adalah janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah itu bersama kita.

يا أبا بكر لا تحزن إن الله معنا

Jika pertolongan Allah didapatkan, maka tentara Tartar saat itu yang telah menguasai 3/4 dunia tidak mampu mengalahkan bangsa Indonesia yang memang telah terbimbing oleh Allah dan rasul-Nya.

Maka mereka kembali kembali ke negaranya di Tartar (Balitar atau Blitar) tanpa ada perlawanan yang berarti. Karena mereka para tentara Tartar, saat itu ketika ingin mengalahkan dan menguasai bangsa Indonesia mengejar rakyat Indonesia sampai di pesisir pantai utara. Yang mana para rakyat Indonesia ketika menghadapi tentara Tartar memakai pakaian celana pendek (Tubban atau Tuban), sedangkan Tentara  memakai baju besi sehingga mereka ketakutan dengan sendirinya, baju besi pasti tenggelam di laut melawan orang-orang yang hanya menggunakan “tubban” atau celana dalam.

Bagaimana Malangkucecwara dan Pasuruan serta Surabaya sampai Jakarta?

Semoga di lain waktu bisa saya menjelaskannya.

Tegur Nurani

Tegurlah dengan menyapa secara tulus iklhas yang muncul dari dalamnya, dalam hati..

Agar terasakan, bahwa itu benar-benar bergetar sebagai wujud nurani..

Dialah sebenarnya ayat yang jelas menyata dan membaca..

Ayat berjumpa ayat akan “wajilat qulubuhum” dan rasa bertambah nikmat sebagai getaran iman yang menyata..

Maka tegur sapa adalah perwujudan tumbuhnya persaudaraan yang di dalam hati, dia iman yang tiada tidur karena bersambung shalat dengan menegakkan sifatnya yakni shidiq, amanah, tabligh dan fathonah..

Karena hanya iman yang tiada tidur alias bersifat mukmin yang bisa dipersaudarakan, sedangkan manusia fisik yang terdiri dari berbagai suku, bangsa dan agama tidaklah bisa dipersaurakan..

Manusia fisik hanya bisa diperkenalkan untuk diperoleh kemanfaatan satu dengan yang lainnya sebagai wujud kesadaran, bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendirian..

 الإنسان مدني بالطبع

Di dalam menjalani tugas kehidupan sebagai wujud ibadah dan pengabdian kepada Tuhan, manusia memerlukan kehadiran manusia yang lainnya..

Satu pakaian saja yang dipergunakan manusia, coba hitung berapa orang yang musti terlibat di dalam penggunaan pakaian tersebut, mulai dari petani kapas yang menanam kapas tersebut sebagai bahan pokok kain tekstil sampai ia siap dipasarkan dan kemudian dijahit oleh penjahit sampai siap kita pergunakan..

Pun juga makanan yang dimakan manusia, bisa dibayangkan berapa banyaknya manusia yang lain ketika makanan tersebut siap untuk disantap sebagai sajian..

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 Al-Hujurat : 13.

Ada China, ada Arab, Ada Jawa dan seterusnya agar saling mengenal satu sama lainnya..

Manusia fisik yang berjenis kelamin, ada laki dan ada perempuan serta bersuku dan berbangsa, agar saling mengenal untuk saling menyangga kebutuhan dan hajat hidup secara berdampingan rukun damai dalam naungan ridho Tuhan..

Sedangkan yang dipersaudarakan adalah mukmin yang di dalam dada setiap insan..

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Al-Hujurat : 10.

Dialah mukmin yang tiada berjenis kelamin, berada di dalam dada setiap insan yang bisa dipersaudarakan..

Fisik diperkenalkan agar saling mengenal..

Ruhuni dipersaudarakan agar timbul kedamaian diri dan diri orang lain, sehingga diperoleh kerukunan..

Itulah getaran rasa ayat yang suci…

Itulah hasil tajalliyut tajaliyyat yang dinanti..

Maka bertutur katamu selalu kami amati..

Mengamati apapun, hendanya ingatlah diri sendiri..

Itulah bercermin kaca pantulan gambaran diri sendiri..

Nyatalah dia yang nyata jelas, nyata dan nyatanya jelas itulah tajalli..

Sehingga pertimbangannya adalah nilai budi, bukan harta benda dunia yang dihargai, yang sebenarnya tiada berarti..

Barulah diperoleh magom tempat tertinggi sehingga terangkatlah penyakit hati..

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ ۖ 

وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ ۖ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ ۖ 

وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

 Al-A’raf : 43.

Maka itulah memperbaiki akhlak-budi, adalah misi suci utama Nabi..

Bukan tugas selain Nabi..

Maka jangan merampas tugas itu, tanpa seizinnya Nabi..

Untuk membina akhlak budi, Rasulullah saw  dibangkitkan lagi..

Dari rasulullah saw kita diberi..

Rasulullah saw maha kasih dan sayang dari-Nya..

Kita dikasih dan disayang semoga bisa terima kasihkan dan semoga kembali, maka terima kasih kembali..

Kasih sayangmu wahai Rasulnya Allah, agung terpuji..

Engkau gembira dalam ketawa..

Bukan suka dan ria, tapi suka cita..

Suka cita dalam satu rasa..

Bahagia nan gembira tak terkata..

Engkau jaya di dalam surga..

Surga jaya karena engkau ada..

Engkau tiada di dalam surga..

Di ‘arasy tertinggi bersinggasana…

Engkau jelas di dalam nyata..

Engkau nyata menjelas yang ada..

Engkau ada yang pertama..

Telah menjelma jadi manusia..

Engkau bersih di dalam suci..

Engkau suci di baitul ‘atiq rumah abadi..

Engkau abadi menunggu yang kembali..

Yang bersih-suci dapat menemui..

Kitab Qur’an yang tertuliskan di atas kertas sebagai rujukan..

Kitab dan Qur’an harus sebagai pegangan…

Allah telah memberikan kekayaan..

Untuk kayanya Allah yang dititipkan..

Dengan Kitab kita dapat mendengarkan..

Yang berkata-kata sebagai harta simpanan..

Kenal kenangkan hening ucapan..

Dalam keheningan dia mengucapkan..

Suara hati yang hendak diperkenalkan..

Dia pelita di dalam kegelapan..

Rencana engkau dalam perjalanan..

Penunjuk jalan, karena sudah sampai tujuan..

Berjalan ke depan itulah qiblatkan yang tidak ke kiri dan ke kanan..

Bertemu engkau, sampailah perjalanan..

Kami mohon tolong ingatkan..

Mengingat engkau dalam shalat yang didirikan..

Ingatkan kami yang lupa dan melalaikan..

Engkaulah saksi yang dapat meringankan..

Alangkah sejuk sepoi angin Baitur Rahman..

Menyambut iman-iman yang berdatangan..

Angin bertiup melambaikan tangan..

Alangkah rindunya diri yang terlempar meninggalkan..

Bertiup sayup lagi merata..

Semua dikasih tanpa membeda..

Satu umat usul asalnya..

Kini bercerai berai bersifat manusia..

Neraka berhembus ke pojok alam..

Di pusat alam aman nan tentram..

Maqom Ibrahim batas pekarangan alam..

Bertemu tuan rumah kusampaikan salam..

Bergelora melalui waktu dari masa ke masa..

Gelora rasa berkata-kata tiada dapat ditahan..

Masa berlalu wujud menjelma..

Pendidik manusia telah dinyata..

Sampai di sini bisikan qolbu…

Bukanlah bisikan hawa dan nafsu…

Qolbu berbisik rasa menyeru..

Sampai di sana kita bertemu..

Ijinkan kami menghaturkan diri..

Mohon diri hendaknya kembali..

Ijin diberi tunaikan janji..

Janji ditepati, Tuhan tajalli..

Disambung pula di lain waktu..

Waktu bersambung salam menentu..

Sambung menyambung di tempat yang satu..

Tersambung rasa dalam shalat berwaktu..

Manusia

Membincang “manusia”, seolah tidak pernah ada habisnya. Manusia, sebagai salah satu dari sekian ciptaan Allah SWT, memang serba unik. Sebab, ia satu-satunya ciptaan Tuhan, yang di dalam dirinya terkandung berbagai sifat ciptaan-Nya, bahkan sifat Allah sendiri ada pada diri manusia. Allah bersifat kasih dan sayang, di dalam diri manusia pun, terdapat kasih dan sayang; Allah bersifat memberi dan sebagainya, di dalam diri manusia pun ada sifat memberi dan seterusnya.

Di dalam diri manusia terdapat berbagai sifat ciptaan Allah, maka sifat hewan ada pada diri manusia. Sifat malaikat, sifat jin dan bahkan sifat manusia itu sendiri, ada pada diri manusia. Sifat yang suka menantang dan mudah tersulut emosionalnya, karena ia dicipta dari bara api yang sangat panas, ada pada diri manusia. Sifat malaikat yang selalu berjalan di atas cahaya kebenaran, ada pada diri manusia (QS 15 :26,27,28,29,30, 31). Sifat manusia yang mudah mengeluh, tergesa-gesa, keterlaluan terhadap Tuhannya, karena sangat cintanya terhadap dunia, ada pada diri manusia (QS 70:19,20,21), (QS 17:11), (QS 100:6,7,8).

Lalu, manakah yang disebut manusia, itu?.

Manusia itu ghoib, yang nyata adalah jasad manusia. Manusia yang ghoib, ia berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib. Oleh sebab itu, harus dibedakan antara manusia dengan sifat manusia. Manusia yang ghoib dan berasal dari yang ghoib serta akan kembali kepada yang ghoib, ia berkait erat dengan fisik atau jasadnya. Artinya, selama jasad manusia masih hidup yang ditandai dengan adanya nafas oleh nafsu, maka selama itu, manusia tidak akan bisa berpisah dengan nafsunya yang selalu berkemauan.

Nafsu itu satu, dan pekerjaan nafsu adalah tujuh. Tujuh pekerjaan oleh nafsu itu, akan melahirkan sifat, kemudian sifat akan melahirkan nama.

Nafsu yang mendorong diri manusia, agar ia melakukan perbuatan jahat, maka ia disebut atau bernama nafsu ammarah bisu’ (nafsu ammara’). Lalu, nafsu yang mendorong diri manusia, agar mecela selain dirinya disebut, nafsu lawwamah.

Kedua nafsu tersebut di atas, baik nafsu ammarah bi su’ maupun nafsu lawwamah, ada dan terdapat pada diri manusia selama jasad belum mati. Selama nafas masih bergerak, maka nafsu yang bekerja untuk mendorong berkemauan pada diri manusia, akan selalu ada. Semakin tua usia jasad manusia, semakin kuat dorongan nafsu dirinya. Ketika jasad manusia di dalam kandungan ibu, maka dorongan kemauannya hanya untuk makan atau minum, yaitu memakan atau minum darah haid ibunya. Kemudian, ketika jasad lahir, dorongan nafsu yang ada pada diri manusia semakin kuat, ia meminta lebih dari sekadar makan atau minum, sampai jasad menginjak dewasa, bahkan tua renta maka dorongan nafsunya, wujud berkeinginan akan bertambah semakin kuat.

Oleh sebab itu, ketika jasad manusia semakin tua, sementara nafsu ammarah dan nafsu lawwamahnya banyak mengusai dirinya, maka ia akan semakin gila harta dengan memperbanyak dan menumpuknya (QS 102:1,2). Dan, semakin gila jabatan serta  sejenisnya yang bersifat keduniaan. Sebaliknya, jika semakin tua usia jasad manusia, kedua dorongan nafsu ammarah dan lawwamahnya terkendali dengan baik, maka manusia akan semakin terdorong untuk melakukan berbagai hal kebaikan oleh nafsu mulhamah. Sehingga, muncul ketenangan oleh nafsu muthamainnah. Selanjutnya, timbul pada diri manusia itu, dorongan untuk bersikap rela oleh nafsu radhiyah, sehingga memperoleh ridho Tuhan oleh nafsu mardhiyah. Dan puncak dari semuanya itu, adalah munculnya nafsu kamilah, yaitu dorongan untuk selalu bergabung dengan para hamba Tuhan yang menginginkan untuk bisa kembali ke asal muasal ia berasal, yaitu damai dalam kedamaian di sisi Tuhan.

Maulid Nabi

Berbicara “Maulud Nabi” (Nabi Muhammad SAW) atau kelahiran Nabi, berarti berbicara Islam, itu dilahirkan. Sebab, Islam tidak akan diketahui tanpa kelahiran Nabi Muhammad SAW yang lahir di Makkah dengan seorang ibu bernama Aminah dan seorang ayah bernama Abdullah, berbangsa dan berbahasa Arab. Maka, dengan kelahiran seorang Nabi yang sangat mulia ini, wujud basyar atau manusia biasa, agar mudah dicontoh suri tauladannya oleh umat manusia pada umumnya;  Beliau Nabi Muhammad saw dilahirkan dan dibangkitkan dengan misi dan tugas utamanya untuk memperbaiki akhlaq budi manusia. Maka, dengan demikian, Islam dapat diketahui. Artinya, mengetahui dan bertemu Islam adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yaitu Nabi Muhammad saw, agar manusia selamat mulai awal diadakan sampai kembali ke asal muasal manusia berasal, yaitu Allah SWT.

Lalu apa Islam itu, kiranya perlu dijelaskan agar didapatkan suatu pengertian. Sehingga, seseorang yang telah mendapatkan pengertian, sedapat mungkin dirinya bisa mempraktekan atau memperlakukannya secara tepat dan benar. Perlakuan atau praktek yang tepat dan benar, maka akan didapatkan paham yang benar, demi terhindarnya seseorang dari kesalah pahaman atau pahamnya menjadi salah.

Islam, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT, di dalam surat Ali Imron ayat 19 adalah yang di sisi Allah. Artinya, Islam itu, yang di sisi Allah. Jalan tempuh menuju yang di sisi-Nya adalah agama (QS 3 : 19). Maka, yang di sisi Allah (‘inda-llah) itulah, al Islam yang musti ditemukan melalui jalan tempuh agama (diin), atau lebih jelasnya disebut “diinul haq”, yaitu jalan kebenaran, berupa petunjuk risalah kenabian beliau Muhammad saw (QS. 48 : 28). Untuk bertemu dengan al Islam yang di sisi Allah, jalan tempuhnya adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yakni Nabi Muhammad SAW. Bertemu dengan yang membawa Islam, maka bertemu Islam.

Untuk bisa bertemu dengan yang membawa Islam, janganlah seseorang bersikap keterlaluan (baghyan) dan ingkar terhadap berbagai ayat Allah dengan memperselisihi catatan (imannya) dan ilmu yang ada di dalam dadanya. Maksudnya, setiap diri manusia hendaknya mengikuti catatan (al kitab) yang tiada keraguan di dalamnya, ia bersifat benar, terpercaya, jujur dan tidak dungu (QS. 2 : 2). Catatan itulah, yang disebut dengan iman,  ilmu (QS 29 : 49), nikmat  (QS QS. 55 : 13, 16, 18, 21 dst) dan taqwa (QS. 22 : 32). Mengikuti iman, ilmu, nikmat dan taqwa, berarti manusia tidak mengikuti keinginan (hawa) nafsu yang bersifat mendorong untuk melakukan kejahatan (ammarah bi su’), wujud mencela selain dirinya (lawwamah). Sehingga, kedua dorongan nafsu nafsu tersebut menjadi tertundukan. Selanjutnya, ia (nafsu) mendorong diri manusia untuk melakukan kebaikan (mulhamah), sehingga didapatkan ketenangan (muthmainnah, kerelaan (radhiyah), demi untuk mendapatkan ridho Allah SWT(mardhiyah), agar diri manusia mampu bergabung dengan seluruh manusia (QS. 89 : 27, 28, 29, 30), bagai hamba Allah yang selalu berkasih sayang laksana saudara sekandung (rahim ibu), sebagai cerminan atau pantulan dari rahmah Nabi Muhammad SAW (QS. 21 : 107) sebagai Rasul utusan Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim.

Manusia yang mengikuti imannya, maka ia bersifat mukmin dan mukminlah yang menegakkan sholatnya (QS 23 : 1, 2). Maka, manusia yang bersifat mukmin itu, akan menjalankan sholat secara rukun (fisik) yang dipimpin oleh imannya yang di dalam dadanya, minimal 5x dalam sehari semalam. Yaitu, Maghrib, Isya’, Shubuh, Dhuhur dan Ashar.

Maka, “maulud” atau dilahirkan, itu pada diri Nabi Muhammad SAW, dan “maulid” adalah pada diri mukmin yang menegakkan sholatnya. Oleh karena itu, lahirnya diri mukmin pada diri manusia dengan menegakkan sholat, merupakan pertemuannya dengan diri Nabi Muhammad saw yang telah dilahirkan atau “maulud” sang pembawa yang di sisi Allah atau atau al Islam. Bertemu dengan yang membawa keselamatan atau Islam, berarti bertemu dengan yang di sisi Allah. Bertemu dengan yang di sisi Allah, berarti kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah, berarti kembali kepada asal muasal manusia berasal, yakni Allah SAW, bersama dengan yang di sisi Allah, yaitu Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul utusan Allah. Sebab, beliau Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul utusan Allah, adalah “wasilah” perantara bagi manusia yang dipimpin oleh imannya untuk bisa sampai kepada Allah SWT.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

(QS. 3 : 35)

 

Tahlil

Apa itu “tahlil-tahlilan”, apa itu “ila hadroti” dan seterusnya??? Sebagaimana sudah mentradisi kegiatan tersebut yang diberi nama “tahlilan” dilakukan oleh umat Islam Indonesia, Jawa khususnya dan lebih khusus lagi umat Islam di Jawa Timur.

Apapun yang dilakukan umat Islam sebagai bentuk peribadatan dan ibadah kepada Allah, selama belum ditemukan bendanya, maka selama itu pula akan terjadi perbedaan pendapat.

Dan perbedaan pendapat terhadap suatu kata, karena belum ditunjukkan atau ditemukan bendanya itu akan terus terjadi.

Terjadinya perbedaan pendapat, itulah yang disebut dengan tafsir atau tafsiran yang masing-masing orang akan berbeda tafsirnya sesuai dengan perkiraannya.

Berbeda dengan suatu kata yang sudah menunjuk terhadap bendanya, maka pertanyaan akan benda tersebut tidak diperlukannya lagi.

Jika saya memegang benda bernama HP dan benda yang bernama HP tersebut, sudah dilihat atau diketahui oleh sesesorang misalnya, apakah saya perlu bertanya kepada seseorang itu untuk saya mintai pendapatnya, “apa pendapat anda apakah yang pegang ini HP”?

Tentu tidak diperlukan pertanyaan semacam itu..

Berbeda dengan ketika seseorang mengata yang bukan atas bendanya alias ia mengata atas katanya, maka perkataan orang tersebut akan menimbulkan banyak penafsiran dan hal demikian itu wajar biasa terjadi..

Kata “tahlil”, usul dari asal kata tersebut bukanlah pekerjaan hati, ia pekerjaan qouli atau lisan atau mulut alias kegiatan atau pekerjaan salah satu anggota badan yang bernama mulut, yakni mengucapkan “laa ilaha iLLaLLAH”.

Ia “af’al al Qouliyah” bukan ‘af’al qolbiyah” (pekerjaan lisan atau ucapan, bukan pekerjaan hati).

Kata “tahlil” maupun “tahlilan”, keduanya adalah isim masdar dari kata kerja “hallala – هلل “. Sedangkan perbedaan dibaca marfu’ dan manshub, itu hanya persoalan berbeda i’rob atau kedudukan kata dalam kalimat tertentu.

Maka, baik kata “tahlil” maupun “tahlilan” tidak ada berbedaan arti secara subtantif, kecuali penentuan apakah ia sebagai subyek, predikat dan obyek dalam tata kalimat (nafwu) bahasa Arab.

Kemudian yang dimaksud dengan kata “tahlil” adalah ucapan “laa ilaha illaLLah”.

Kalau “tahmid” adalah ucapan “alhamdulillah”.

Istighfar adalah ucapan “astaghfirullah” 

Ttakbiir” adalah ucapan “Allahu Akbar”..

dst..

Baik, saya akan fokuskan masalah “tahlil” ini terlebih dahulu, kemudian jika masih memungkinkan akan saya bahas di waktu yang lain, apa itu “ila hadroti” dst..

Sebenarnya siapa saja yang membaca apa saja, baik itu ayat-ayat al Qur’an, bacaan sholawatan dan juga tahlil atau tahlilan maupun bacaan yang lainnya, tidak ada hubungannya dengan kematian seseorang atau apapun.

Artinya, membaca hal itu semuanya boleh dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja asal tidak mengganggu orang lain. Tentu yang dimaksud kapan dan di mana saja ada pembatas, mengingat ia tergolong kalimat yang baik, maka ada pertimbangan hal-hal yang bersifat etis atau etika tertentu.

Pertimbangan tersebut, misalnya jika bacaannya dikeraskan dengan menggunakan sound system, sehingga bisa mengganggu ketenangan tetangga kanan kiri atau mengganggu orang lain.

Maka pekerjaan mengganggu siapa dan apa  saja, oleh siapa saja itu dilarang oleh ajaran agama.

Kemudian bagaimana jika bacaan tahlil tersebut dibaca pada saat atau di rumah seseorang yang salah satu dari anggota keluarganya baru meninggal, boleh apa tidak???

Yaa boleh boleh saja asal, si tuan rumah tidak merasa terganggu dengan bacaan tahlil tersebut.

Lebih-lebih jika tuan rumah merasa senang dengan bacaan tahlil tersebut, maka membacanya dalam kondisi semacam itu sangat dianjurkan.

Karena inti makna takziyah adalah menghibur keluarga yang ditinggal wafat oleh anggoga keluarganya.

Jadi, substansi takziyah itu untuk keluarga yang sebagian anggota keluarganya meninggal dunia atau mati, bukan untuk si mayit atau yang wafat itu sendiri.

Orang yang sudah meninggal dunia, selesai urusannya dengan dunia.

Jika keluarga si mayit mengalami duka dan kesusahan yang berlarut karena wafatnya salah satu dari anggoga keluarganya, maka menghibur mereka itu diebut dengan takziyah.

Sehingga diharapkan, atas kehadiran para orang-orang yang bertakziyah berkunjung kepada keluarga yang ditinggal mati oleh anggota keluarganya, itu bisa menghibur mereka,bukan menambahai masalah atau beban.

Pada umumnya keluarga yang ditinggal mati oleh anggota keluarganya, itu hatinya tentram mana kala ada keyakinan, bahwa si mayit yang meninggal akan bertambah bahagia jika dido’akan dengan membaca Qur’an dan kalimat thoyyibat lainnya seperti tahlilan.

Maka dalam konteks takziyah, tahlilan atau melakukan kegiatan membaca al Qur’an dan berbagai kalimat thayyibah di rumah duka, mana kala keluarga yang ditinggal meninggal salah satu keluarganya, itu merasa senang dan terhibur dengan adanya kegiatan tersebut, maka kegiatan tersebut tidak ada masalah alias boleh bahkan dianjurkan.

Kemudian, apa itu tahlil dalam totalitas ajaran Islam?

Apa itu tahlil pengertiannya adalah totalitas kalimat Adzan.

Adzan dikumandangkan dengan permulaan takbir “Allahu Akbar” dua kali. Apa itu takbir Allahu Akbar dan kenapa dua kali diucapkan? 

Allah adalah dzat dan Akbar adalah sifatnya Allah, dialah Muhammad Rasulullah saw.

Diucapkan dua kali, karena keduanya adalah dzat dan shifat yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya alias dzat dan sifat menjadi satu.

Maka kalimat berikutnya adalah persaksian atas keduanya yang diperkuat dengan bersaksi atas ke-Esaan Allah dua kali dan bersaksi atas diutusnya Muhammad sebagai utusannya Allah dua kali.

Baru kemudian tertegakkan shalat..

Dengan lain kata, hal demikian dapat diperoleh jika shalat antara hamba dengan Allah melalui rasulnya Allah Muhammad saw terwujudkan. 

Wujud shalat adalah menghadap Qiblat ke Akbar dengan i’tiqod keyakinan kepada Allah swt.

Baru kemenangan dan kebahagiaan di dapatkan. Kemenangan atas tetapnya iman kepada Allah swt melalui utusannya Allah yakni, Muhammad rasulullah saw.

Beradalah hamba di dalam benteng Allah swt yang tiada tersentuh oleh api neraka selamanya.

لا إله إلا الله حصمني فمن دخل حصني أمن من عذابي

Laa ilaha illaLLAH adalah benteng-KU, siapa memasuki benteng-KU aman dari siksa-Ku.

Pegagan Herba Untuk Ambeyen

Untuk menyembuhkan sakit ambeyen ternyata mudah. Dan herbanya ada di sekitar kita. Bahkan kadang tumbuh di pinggir jalan aspal.

Daun pegagan adalah salah satu bahan dari resep ramuan yang akan saya lengkapi di bawah ini. Daun pegagan bagi yang belum mengenal, memiliki banyak nama dan istilah. Daun pegagan telah dipergunakan oleh manusia sejak dulu di seluruh belahan dunia. Sehingga wajar kalau daun ini memiliki banyak nama. Agar supaya bisa memahami untuk membuat ramuan herbal untuk ambeyen maka saya list nama-nama daun pegagan berdasarkan tempatnya.

Sunda : Daun Kaki Kuda / Antanan

Madura : Daun Tikusan

Inggris : Pennywort

Amerika : Gotu Kola

Latin : Centella

Sumatera : Ambun

Jawa Kerak batok, Panigowang, Rending, Gagan-gagan, Gangganan

Malaysia : Pegaga, Gaga

Untuk ramuan herbal JSR bagi sakit ambeyen, dibutuhkan daun pegagan, rumput laut dan lidah buaya. Pengolahannya yaitu dengan membuat jus daun pegagan dan lidah buaya. Jumlahnya adalah sebesar satu kali minum dalam gelas 200cc. Untuk rumput lautnya bisa direbus sebentar sekitar 30 menit atau hingga lunak. Lidah buaya dikupas dan dicuci hingga lendir berkurang. Rumput laut bisa dibuat minuman dawet dengan santan masak. Santan masak adalah santan dari kelapa parut yang diperas dengan air matang. Gula yang dipergunakan dalam hal ini adalah gula aren.

Tips bagi penderita ambeyen adalah perbanyak minum air putih hangat, perbanyak makanan berserat seperti sayur, jus buah beserta kulit juga mencampurkan sesendok VCO dan sesendok zaitun dalam jus daun pegagan.

Daun pegagan juga bisa dikonsumsi sebagai lalapan atau direbus sebentar dan dihidangkan dengan sambal cocol yang tidak pedas.

Karto Kasan Oposan

Oposan

Dari hari ke hari upah buruh di sebuah perusahaan perkebunan kapas milik Compeni Belanda, semakin tidak bisa mencukupi kebutuhan primer bagi kaum buruh tani.

Setiap menerima upah pada hari Sabtu selalu mengalami pengurangan dari upah seminggu sebelumnya, padahal harga kebutuhan pokok semakin naik.

Wal hasil, para buruh tani yang dalam menutupi kebutuhan hidupnya sehari-hari mengandalkan upah dari kerja di sebuah perkebunan kapas milik Compeni tersebut, semakin lama semakin berat.

Ngomong punya, akhirnya mereka berkumpul untuk membicarakan upah yang semakin menurun sebagai imbalan dari perusahan yang bergerak di bidang pertanian kapas tersebut.

Dalam perkumpulan diputuskan, mereka sepakat untuk melakukan semacam unjuk rasa, memprotres terhadap pengurangan upah yang mereka terima dari setiap minggunya.

Dalam aksi memprotes kebijakkan perusahaan yang mengurangi upah dari para buruh tersebut, pimpinannya adalah KASAN.

Kasan diangkat dijadikan pimpinan mereka dalam melakukan unjuk rasa memprotes penurunan upah terhadap buruh tani.

Karena dalam menyampaikan aspirasinya, mereka menggunakan bahasa Jawa, maka sang pemilik perusahan kesulitan untuk bisa mengerti apa yang disampaikab oleh kaum buruh.

Akhirnya, sang pemilik perusahaan yang berkebangsaan Belanda tersebut menyuruh KARTO, seorang pribumi yang bekerja sebagai Sinder atau Waker di perusahaan pertanian kapas itu.

Si Karto sangat mengusai bahasa Belanda dengan baik, sekaligus juga bahasa Jawa, karena Karto berasal dari sebuah desa jauh dari kota di Kabupaten Ponorogo.

Setelah Karto mendapatkan perintah dari pemilik perusahaan kapas yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jawa tersebut, untuk menemui para temonstran yang mendemo perusahaannya. Maka, Karto langsung melaksanakan perintah dari Bossnya.

Si Karto ambil alih posisi Boss untuk menghadapi para demontran yang dipimpin oleh Kasan dengan penuh keyakinan dan kebanggaan atas tugas khusus dari sang Boss tersebut.

Langsung si Karto dengan langkah tegap penuh keyakinan dengan pakaian kewibaan dan kumis diplintir, memanggil pimpinan demo tersebut :

” OPO SAN…???”

Suara Karto yang keras tersebut, terdengar oleh si Boss yang berada di dalam kantor.

Maka, sejak saat itu orang-orang yang melakukan protes terhadap kebijakan di sebuah perusahaan di sebut, “OPOSAN”.