Code Mixing Menjadi Unik di Lagu Ini

NemuCipt. Iskandar Hanafi
Nemu koe pas ati ambyar ambyarePacar seng tak tresnani ninggal aku golek lianeTekamu dadi tomboNgobati ati seng loroMugo ikhlas nompoTekan mbesuk nganti tuoKoe seng paling ngerti marang kahanane atiAku mok semangati ngusap iluhku seng mbrebes miliPepujane ati kinaryo kembange wangiSabar sabarno momong akuMugo selawase dadi sijiMatursuwun gusti mpun maringi seng gemati nemu slirane ngobati ati kang sepiMatur suwun gusti mpun maringi seng gemati yang pergi biarlah pergi ono koe seng ngancani
Code Mixing adalah alih kode , proses peralihan dari satu kode linguistik (bahasa atau dialek) ke kode linguistik lainnya, bergantung pada konteks sosial atau suasana percakapan. Ahli sosiolinguistik, psikolog sosial, dan peneliti identitas tertarik pada cara alih kode, khususnya oleh anggota kelompok etnis minoritas, digunakan untuk membentuk dan mempertahankan rasa identitas dan rasa memiliki terhadap komunitas yang lebih besar.

Lagu Nemu yang dinyanyikan dan dipopulerkan Gilga Sahid ini terdengar unik saat terdengar satu frasa berbahasa Indonesia “yang pergi biarlah pergi”. Lagu ini berbahasa Jawa dan bermakna cukup dalam. Namun apalah daya telinga ini jadi gatal tiba-tiba setelah terdengar dan terselip bahasa Indonesia di dalam keseluruhan lirik berbahasa Jawa yang manis ini.

Jadi ill feel.

#gilgasahid
#nemu
#jawa
#codemixing
#alihkode

Bahasa Sebagai Tanda dan Kombinasi (part2)

Untuk bahasa Inggris, saya hanya fokus pada infleksional dalam irregular verb. Berdasarkan penafsiran saya setelah melihat perbedaan bunyi pada tiap-tiap vokal di Oxford Dictionary, saya mengelompokkan kata kerja tak beraturan berdasarkan mutasi bunyi vokal yang tampak seperti berikut ini:

  1. Class 1: the vowel /aɪ/ mengalami 8 mutasi bunyi.
  2. /aɪ/ /əʊ/ misalnya: drive /draɪv/ ⇒ drove /drəʊv/

write /raɪt/ ⇒ wrote /rəʊt/

rise /raɪz/ ⇒ rose /rəʊz/

strive /straɪv/ ⇒ strove /strəʊv/

dive /daɪv/ ⇒ dove /dəʊv/

ride /raɪd/ ⇒ rode /rəʊd/

  1. /aɪ/ ⇒ /aʊ/ misalnya: bind /baɪnd/ ⇒ bound /baʊnd/

find /f aɪnd/ ⇒ found /faʊnd/

  1. /aɪ/ ⇒ /ɔː/ misalnya: buy /baɪ/ ⇒ bought /bɔːt/

fight /faɪt/ ⇒ fought /fɔːt/

  1. /aɪ/ ⇒ /uː/ misalnya: fly /flaɪ/ ⇒ flew /flu:/
  2. /aɪ/ ⇒ /ɪ/ misalnya: light /laɪt/ ⇒lit /lɪt/
  3. /aɪ/ ⇒ /eɪ/ misalnya: lie /laɪ/ ⇒ lay /leɪ/
  4. /aɪ/ ⇒ /ʌ/ misalnya: strike /straɪk/ ⇒ struck /strʌk/
  5. /aɪ/ ⇒ /ɒ/ misalnya: shine /ʃaɪn/ ⇒ shone / ʃɒn/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa bunyi /aɪ/ = front open vowel, bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: /əʊ/ = central open mid vowel ; /aʊ/ = back central open vowel; /ɔː/ = back central close mid vowel; /uː/ = back close vowel; /ɪ/ = front close vowel;  /eɪ/ = front close mid vowel; /ʌ/ = open mid vowel; /ɒ/ = back open vowel

  1. Class 2: the vowel // mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. // /əʊ/ misalnya: freeze /friːz/ ⇒ froze /frəʊz/

steal /stiːl/  ⇒ stole /stəʊl/

speak /spiːk/ ⇒ spoke /spəʊk/

  1. // /e/ misalnya: breed /br iːd/ ⇒ bred /bred/

deal /diːl/ ⇒ dealt /delt/

feel /fiːl/ ⇒ felt /felt/

  1. // ⇒ /ɔː/ misalnya: seek /si:k/ ⇒ sought /sɔːt/

teach /ti:tʃ/  ⇒ taught /tɔːt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /iː/ = front close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /əʊ/ = central open mid vowel; 2) /e/ = front open mid vowel; 3)/ɔː/ = back central close mid vowel

  1. Class 3: the vowel/ɪ/ mengalami 5 mutasi bunyi.
  2. / ɪ / ⇒ /æ/ misalnya: forbid /fə’bɪd/ ⇒ forbad /fə’bæd/

ring /rɪŋ/ ⇒ rang /ræŋ/

  1. / ɪ / ⇒ /ʌ/ misalnya: dig /dɪg/ ⇒ dug /dʌg/

sting /stɪŋ/ ⇒ stung /stʌŋ/

  1. / ɪ / / ɪ / misalnya: build /bɪld/ ⇒ built /bɪlt/

slit/slɪt/ ⇒ slit /slɪt/

spill /spɪl/ ⇒ spilt /spɪlt/

  1. / ɪ / ⇒ /eɪ/ misalnya: forgive  /fə’gɪv/ ⇒ forgave /fə’geɪv/
  2. /ɪ / ⇒ /ɔː/ misalnya: think /θɪŋk/ ⇒ thought /θ ɔːt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa / ɪ / = front close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /æ/ = front open vowel; 2) /ʌ/ = open mid vowel; 3) /eɪ/ = front close mid vowel; 4) /ɔː/ = back central close mid vowel; 5) keep the same sound (bunyi yang sama) / ɪ /

  1. Class 4: the vowel/eə / mengalami 1 mutasi bunyi.

          /eə / ⇒ /ɔː/ misalnya:     bear /beə(r)/ ⇒ bore /bɔː(r)/

swear /sweə(r)/ ⇒ swore /swɔː(r)/

tear /teə(r)/ ⇒ tore /tɔː(r)/

wear /weə(r)/ ⇒ wore /wɔː(r)

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /eə / = front open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi:/ɔː/ = back central close mid vowel.

  1. Class 5: the vowel /əʊ/ mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. /əʊ/ ⇒ /uː/ misalnya: know /nəʊ/ ⇒ knew /njuː/

grow /grəʊ/ ⇒ knew /gruː/

throw /θrəʊ/ ⇒ knew /θruː/

  1. /əʊ/ ⇒ /e/ misalnya: hold /həʊld/ ⇒ held /held/
  2. /əʊ/ ⇒ /əʊ/ misalnya: sew /səʊ/ ⇒ sewed /səʊd/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /əʊ/ = central open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1)/uː/ = back close vowel; /e/ = front open mid vowel; keep the same sound (bunyi yang sama) /əʊ/

  1. Class 6: the vowel /æ/ mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. /æ/ ⇒ /ʊ/ misalnya: stand /stænd/ ⇒ stood /stʊd/

understand /ʌndə`stænd/ ⇒ understood /ʌndə` stʊd/

  1. /æ/ ⇒ /æ/ misalnya:     have /hæv/ ⇒ had /hæd/
  2. /æ/ ⇒ /ʌ/ misalnya: hang /hæŋ/ ⇒ hung /hʌŋ/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /æ/ = front open vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1)/ʊ/ = back close mid vowel; 2) /ʌ/ = open mid vowel; 3) Keep the same sound /æ/

  1. Class 7: the vowel /eɪ / mengalami 4 mutasi bunyi.
  2. /eɪ / ⇒ /əʊ/ misalnya: break /breɪk/ ⇒ broke /brəʊk/

wake /weɪk/ ⇒ woke /wəʊk/

  1. /eɪ / ⇒ /ʊ/ misalnya: take /teɪk/ ⇒ took /tʊk/
  2. /eɪ / ⇒ /eɪ / misalnya: lay /leɪ/ ⇒ laid /leɪd/
  3. /eɪ / ⇒ /e/ misalnya: say /seɪ/ ⇒ said /sed/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /eɪ / = front close mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi: 1) /əʊ/ = central open mid vowel; 2) /ʊ/ = back close mid vowel; 3) /e/ = front open mid vowel; 4) Keep the same sound /eɪ /

 Class 8: the vowel/ʊ /, /ɜː/, /ɔɪ/ tidak mengalami mutasi bunyi.

  1. /ʊ / ⇒ /ʊ / misalnya:    put /pʊt/ ⇒ put /pʊt/
  2. /ɜː/ /ɜː/  misalnya:      burn /bɜːn/ ⇒ burnt / bɜːnt/
  3. /ɔɪ/ /ɔɪ/ misalnya: spoil /spɔɪl/ ⇒ spoilt /spɔɪlt/
  4. Class 9: the vowel /ʌ/ mengalami 3 mutasi bunyi.
  5. /ʌ/ ⇒ /eɪ / misalnya:     come /kʌm/ ⇒ came /keɪm/
  6. /ʌ/ ⇒ /ʌ/ misalnya:       cut /kʌt/  ⇒ cut /kʌt/
  7. /ʌ/ ⇒ /æ/ misalnya:      run /rʌn/ ⇒  ran/ræn/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /ʌ/ = open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /eɪ / = front close mid vowel; 2) /æ/ = front open vowel; 3) Keep the same sound /ʌ/

  1. Class 10: the vowel/uː/mengalami 2 mutasi bunyi.
  2. /uː/ / ɪ / misalnya: do /duː/ ⇒ did /dɪd/
  3. /uː/ ⇒ /ɒ/ misalnya: shoot /ʃ uː/ ⇒ shot / ʃɒt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /uː/ = back close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) / ɪ / = front close vowel; 2) /ɒ/ = back open vowel

  1. Class 11: the vowel/ɑː/ mengalami 2 mutasi bunyi.
  2. /ɑː/ ⇒ /uː/ misalnya: draw /drɑː/ ⇒ drew /druː/
  3. /ɑː/ ⇒ /e/ misalnya: fall /f ɑːl/ ⇒ fell /fel/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /ɑː/ = back central close mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /uː/ = back close vowel; 2) /e/ = front open mid vowel.

  1. Class 12: the vowel/əʊ / mengalami 1 mutasi bunyi.

          /əʊ / ⇒ /e/ misalnya:    go /gəʊ/ ⇒ went /went/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /əʊ / = central open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: /e/ = front open mid vowel

  1. Class 13: the vowel/e / mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. /e / ⇒ /e/ misalnya: lend /lend/ ⇒ lent /lent/
  3. /e / ⇒ /əʊ / misalnya: sell /sel/ ⇒ sold /səʊld/
  4. /e / ⇒ /ɒ/ misalnya: get /get/ ⇒ got /gɒt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /e / = front open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /əʊ / = central open mid vowel; 2) /ɒ/ = back open vowel; 3) Keep the same sound /e/

  1. Class 14: the vowel/ɪə/ mengalami 2 mutasi bunyi.
  2. /ɪə/ ⇒ /ɪə/ misalnya: shear / ʃɪə/ ⇒ sheard / ʃɪəd/
  3. /ɪə/ ⇒ /ɜː/ misalnya: overhear /əʊvə`hɪə⇒ overheard /əʊvə`hɜːd/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /ɪə/ = front close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /ɜː/ = central open mid vowel; 2) Keep the same sound /ɪə/.

Untuk selanjutnya adalah tanda bahasa dilihat dari proses pembentukan kata atau derivation. Afiksasi didalam bahasa Jawa dibagi menjadi empat jenis yaitu prefiksasi, infiksasi, sufiksasi, dan konfiksasi.

  1. Aku wis apik marang bocahe nanging bocahe kok malah ngadoh

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

Proses morfologi yang terjadi didalam kalimat diatas dapat dijelas sebagai berikut:

ng- + adoh → ngadoh

kata ‘ngadoh’ merupakan bentuk derivasi karena didalam kata tersebut mengalami perubahan jenis kata yang semula kata sifat atau adjektiva adoh ‘jauh’ menjadi kata verba aktif ngadoh ‘menjauh’.

  1. Aku wes suwe urip karo kangmas, ora tinemu tembung kang elek.

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

temu + -in- → tinemu ‘ditemukan’

‘temu’ merupakan bentuk jenis kata verba dan kata ‘tinemu’ juga merupakan kata kerja atau verba. Yang membedakan disini adalah kata ‘temu’ adalah verba aktif dan kata ‘tinemu’ adalah verba pasif.

  1. Metu Serning dalane wiwit krasa munggah

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

dalan + -e → dalane

dalan disini berarti ‘jalan’ dan begitu pula dengan kata ‘dalane’ yang bermakna ‘jalan’. Disini bisa disimpulkan bahwa ‘dalan’ dan ‘dalane’ memiliki arti dan bentuk jenis kata yang sama. Dengan kata lain, kata-kata tersebut tidak mengalami perubahan makna.

  1. “Sakkabehe kaperluwan urip wis dicukupi karo gusti Allah”

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

di- + cukup + -i → dicukupi

kata ‘cukup’ adalah kata nomina sedangkan kata ‘dicukupi’ merupakan kata yang masuk pada jenis kata verba pasif.

#linguistik

#linguistics

#bahasa

#language

Bahasa Sebagai Tanda dan Kombinasi

Bahasa merupakan system tanda. Didalam bahasa, system tanda juga bisa dilihat dari bentuk fonologinya, derivasi atau pembentukan kata, kata ganti orang (personal pronoun) (Pawley, 1993b; Chomsky, 1980; Hockett, 1958, 1960). Ttanda (sign) yang berupa bentuk fonologi yang paling sering dan mudah kita jumpai misalnya didalam pengucapan huruf vokal. Saya akan membandingkan bentuk fonologi didalam bahasa Jawa dan bahasa Inggris, membahas pembentukan kata dan kata ganti orang yang hanya dibatasi pada bahasa Jawa saja.

Berikut ini contoh dari bentuk fonologi yang ada didalam bahasa Jawa

  1. Vokal /i/, terdiri dari 2 alofon, yaitu: 1) i (i jejeg) dimana bunyi [i] dapat menduduki awal, tengah, dan akhir kata. Misalnya ijab, mrica dan tari; 2) i [i miring] yang terletak pada kata yang diakhiri konsonan. Misalnya pada kata cacing (cacIng), wajik (wajIk).
  2. Vokal /e/, yang mempunyai 2 alofon, yaitu: 1) /e/ (e swara jejeg/ e taling) menduduki semua posisi baik awal, tengah, dan Misalnya kata eman ‘sayang’, sela ‘batu’dan gule’gulai’; 2) /ɛ/ (e swara miring) terletak pada awal dan tengah kata. Misalnya estu’jadi’, saren ’marus’ dan gepeng ’gapeng’.
  3. Vokal ə, dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna. Misal:

Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo

Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung

  1. Vokal ə, dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna. Misal:

Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo

Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung

  1. Vokal /a/ yang terletak di depan, tengah, dan akhir. Contohnya: aku, laris, ora
  2. Vokal /ɔ bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletaki awal, tengah, dan akhir kata. Misal : amba,rata, ula
  3. Vokal /o/ yang terletak di awal, tengah, akhir kata. Misal : obah, coba, kebo
  4. Vokal /u/ yang mempunyai 2 alofon, yaitu u (swara jejeg) terletak di awal, tengah, dan belakang kata. Misal: Urip, wuta, madu serta u swara miring yang berada di tengah kata. Misal: biyung, parut, pupur.

#bahasa

#linguistik

#language

#linguistics

Tanda Alamiah Linguistik (The Nature of the Linguistic Sign: Icon, Index, Symbol)

Tanda alamiah linguistik meliputi tiga hal yaitu icon, index, dan symbol. Ada hubungan triadic didalam teori tentang tanda yang dinamakan dengan istilah semiotik yaitu tanda dipilih (representation), makna tanda (interpretation) dan objek itu sendiri (Pierce (1839-1914), misalnya: sebuah sepatu. Sepatu direpresentasikan berbeda-beda oleh setiap orang karena ada banyak jenis sepatu yaitu sepatu high heels atau sepatu fantofel, sepatu boots, sepatu sandal, dan sebagainya. Oleh karena itu, Pierce memperhitungkan keambiguitasan sebuah tanda, misalkan: jika seseorang menyebutkan kata “tas”, maka orang dapat melihat dari latar belakang orang yang menyampaikan pesan, ada beberapa faktor seperti gender, usia, tempat tinggal yang mempengaruhi pengertian “tas” tersebut. Pierce membuat komunikasi lebih mudah karena tidak akan terjadi kesalahpahaman dalam mengartikan sebuah objek.

Dalam objek, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan sebelum memaknai sesuatu yaitu : 1) Ikon yaitu sebuah  tanda yang memiliki kemiripan “rupa” dengan wujud nyatanya. Penggambaran ikon ada dengan dua cara, yaitu ilustratif (sesuai bentuk aslinya) dan diagramattik (dalam bentuk penyederhanaan). Contoh : pohon, gunung, daun, tempat sampah, buku, dan sebagainya; 2) Indeks yaitu tanda yang menunjuk kepada sebuah arti, indeks sering juga disebut sebagai “petunjuk”. Contoh : marka jalan, lampu lalu-lintas, plang nama jalan, dan sebagainya; 3) Simbol yaitu  tanda yang bersifat mewakili sebuah hal yang lebih besar yang ada dibelakangnya. Simbol juga biasanya menunjukkan arti yang telah disepakati bersama dan setiap orang mengetahui makna tersebut,
contoh : logo perusahaan, simbol-simbol keagamaan (salib, bangunan mesjid, kitab suci), dan sebagainya.

Didalam pemaknaan tanda, kajian pragmatik dilakukan untuk melihat pilihan index  yang juga harus mempertimbangkan prinsip kerjasama dimana index dan symbol dapat di interpretasikan dengan cara yang berbeda didalam konteks yang berbeda pula jika tanda, symbol, dan index berada dalam bentuk tuturan yang penuh. Di dalam berkomunikasi dengan orang lain sehari-hari, kita sering mendengarkan orang yang berbicara kepada kita dengan kalimat yang tidak utuh yang tidak bisa kita kelompokkan ke dalam kalimat pernyataan ‘declarative’, kalimat tanya ‘interrogative’ maupun kalimat perintah ‘imperative’. Namun, kita sudah dapat mengerti maksud perkataan orang tersebut. Sehingga banyak kalimat yang dihasilkan didalam percakapan yang tidak bisa dianalisa secara linguistik yang menyebabkan kalimat-kalimat tersebut dibuang didalam keranjang sampah ‘waste basket’ dan kalimat-kalimat itu disebut pseudo-statements.  Sehingga sampai muncullah teori pragmatik karena pragmatics merupakan studi yang bersifat triadic yaitu dengan melihat dan memahami kalimat melalui bentuknya (form), maknanya (meaning), dan konteksnya (context).  Berikut ini contoh-contoh kalimat pragmatik yang menunjukkan icon, index, dan simbol:

  • Saiki wis jam 06.30 (seorang ibu kepada anaknya di jam berangkat sekolah)

Dari contoh kalimat diatas, kita dapat melihat konteksnya sebagai berikut: 1) penutur: ibu; 2) mitra tutur: anak; 3) tempat terjadi penuturan: di dapur; 4) benda-benda yang ada disekitar penuturan: meja makan, makanan, dan minuman; 5) latar pengetahuan ‘background knowledge’: ibu dan anak mengetahui bahwa jam masuk sekolah adalah jam 7, sedangkan waktu untuk makan pagi sebelum berangkat ke sekolah adalah jam 6.30.; sedangkan untuk bentuknya adalah dalam kalimat perintah; dan maknanya adalah ibu menyuruh anak beliau untuk segera makan pagi (rutinitas) karena sudah jam 6.30 sebelum berangkat ke sekolah.

  • Mbok, kula dibungkus lontong lombok kaleh (seorang pembeli kepada penjual rujak)

Dari contoh kalimat diatas, kita dapat melihat konteksnya sebagai berikut: 1) penutur: pembeli; 2) mitra tutur: penjual rujak; 3) tempat terjadi penuturan: di warung; 4) benda-benda yang ada disekitar penuturan: buah-buahan, lontong, petis, kerupuk, meja makan, makanan, dan minuman; 5) latar pengetahuan ‘background knowledge’: penjual dan pembeli sudah tahu bahwa ada rujak iris/tidak diberi lontong dan rujak yang diberi lontong; sedangkan untuk bentuknya adalah dalam kalimat pemberitahuan informasi/meminta sesuatu; dan maknanya adalah pembeli memberikan informasi kepada penjual bahwa dia memesan satu bungkus rujak dengan diberi lontong untuk dibawa pulang.

  • Wetengku wis lesu. Saiki wis jam 12, ayo tak traktir mangan nang kantin.

Dari contoh kalimat diatas, kita dapat melihat konteksnya sebagai berikut: 1) penutur: laki-laki; 2) mitra tutur: perempuan yang disukai oleh laki-laki tersebut; 3) tempat terjadi penuturan: di tempat kerja; 4) benda-benda yang ada disekitar penuturan: meja kerja, kursi; laptop; 5) latar pengetahuan ‘background knowledge’: laki-laki dan perempuan itu mengetahui kalau jam 12 adalah jam istirahat kerja, dan lelaki tersebut mengajak perempuan yang disukainya untuk makan bersama dengannya untuk pendekatan atau memperoleh perhatian dari perempuan tersebut.

#semiotics

#semiotika

#ikon

#indeks

#simbol

Tanda Linguistik Yang Tampak di Bahasa Lokal

Tanda dari ide linguistik tampak pada suatu komunitas yang cenderung lebih suka memakai bahasa lokal atau bahasa komunitas atau bahasa ibu jika berbicara dengan orang yang memiliki hubungan yang dekat dan memiliki latar belakang budaya yang sama (Sapir, 1949; Silverstain, 1976, 1979, 1981; Geertz, 1973; Turner, 1967, 1969). Kalau di Indonesia, hal ini juga sering kita lihat seperti orang Jawa yang lebih suka memilih untuk menggunakan bahasa Jawa ketika bertemu dengan seseorang yang berasal dari bahasa Jawa juga. Orang Sunda yang lebih suka berbicara bahasa Sunda jika bertemu dengan orang Sunda daripada menggunakan bahasa nasional.

Berikut ini contoh percakapan bahasa antara orang Jawa dengan orang Jawa dan orang Sunda dengan orang Sunda dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing (Sumber: http://www.wisatabdg.com/2013/10/contoh-dialog-bahasa-sunda-dengan-teman.html)

Bahasa Lokal Sunda

Dudi      :    Punten. Assalamualaikum

(Permisi. Assalamualaikum)

Andri     :    Mangga. Wa’alaikumsalaam. eh…geuningan Dudi? Sok asup. Urang keur ngabenerkeun komputer. Aya virusan. Karek bieu komputerna dipareuman.

(Silakan. Wa’alaikumsalam. Eh, Dudi? Silakan masuk. Saya lagi membetulkan    komputer. Ada virus. Baru saja komputernya dimatikan)

Dudi      :    Oh, kitu. Sarua, komputer urang ge keur rada ngaco. Teu make antivirus. Jadi we     

                   mindeng error. Kamarana euy di imah sepi kieu?

(Oh, gitu. Sama, komputer saya juga agak ngaco. Tidak pakai anti virus. Jadi sering  error. Pada kemana kok sepi?)

Andri     :    Puguhan keur arindit. Si Bapa tugas kaluar kota. Si Mamah bieu karek indit

                   nganteur  adi urang balanja ka toko buku.

(Lagi pada pergi. Bapak lagi tugas keluar kota. Mama baru saja pergi mengantar

adik  saya belanja ke toko buku).

Dudi      :    Maneh teu kamamana euy?

(Kamu gak pergi kemana-mana?)

Andri     :    Henteu. Haroream rek indit kaluar teh. Wayah kieu, Bandung keur panas jeung

                   macet kieu.

(Gak. Malas mau pergi keluar. Jam segini, Bandung lagi panas dan macet gini)

Dudi      :    Puguhan, matak urang nyimpang kadieu ge. Kabeneran mawa mobil, ari pek macet   geuning dimamana. Tuh, di jalan hareup macetna menta ampun. Inget ka maneh,   nya mengkolwe kadieu. Kabeneran geuning aya di imah.

(Makanya itu, makanya saya berkunjung kesini juga. Kebetulan bawa mobil, eh kena   macet dimana-mana. Tuh, di jalan depan macetnya minta ampun. Ingat ke kamu, ya belok saja ke sini. Kebetulan kamu ada di rumah)

Andri     :    Rek Kamana kitu tadina?

(Tadinya mau kemana gitu?)

Dudi      :    Leu, rek meuli HP ka BEC tadina mah. Batrena geus lowbat. Gancang beak    

                   batrena.

(Ini, tadinya sih mau beli HP ke BEC. Baterainya sudah lowbat. Cepat habis

batrenya)

Andri     :    Nyantai we atuh lah. Geus cicing di dieu heula. Ke dibaturan ku urang ka BEC-na. Sakalian urang ge rek meuli Hardisk eksternal. Hardisk di komputer geus parinuh  ku data. Sakalian rek meuli powerbank keur kabogoh urang.

(Santai saja lah. Udah diam saja dulu disini. Nanti saya temenin ke BEC. Sekalian

saya mau beli hardisk eksternal. Hardisk di komputer saya sudah penuh sama data.  Sekalian mau beli powerbank buat pacar saya)

Dudi      :    Oh, siap ari kitu mah.

(Oh, ok siap kalau begitu)

Andri     :    Rek nginum naon euy? Kopi wae nya? Urang ngopilah. Kabeneran kamari Uwa

                   urang ngirim kopi ti Lampung.

(Mau minum apa? Kopi saja ya? Kita ngopi lah. Kebetulan kemarin Uwa saya

mengirim kopi dari Lampung)

Dudi      :    Sok we lah. Hayang nyobaan kumaha rasana kopi lampung teh.

(Setelah Andri membuat kopi dan menyajikannya pada Dudi)

Dudi      :    Heueuh, ngeunah kieu euy rasana kopi lampung teh.

(Iya, enak juga nih rasanya kopiLampung)

Andri     :    Urang ge karek nyobaan kamari. Bener ngeunah… eh, si Tatang cenah ngajak

                   bisnis muka distro di Jalan Buah Batu?

(Saya juga baru nyobain kemarin. Benar enak. Eh, si Tatang katanya ngajak bisnis buka distro di jalan Buah Batu?)

Dudi      :    Aeh, enya minggu kamari ge manehna ngomong ka urang. Butuh investor cenah.

                   Kabeneran imahna di Buah Batu geus lila teu dipake. Daripada lebar teu dipake,  

                   mending diberdayakeun jadi tempat usaha.

(Iya, minggu kemarin juga dia ngomong kepada saya. Butuh investor katanya.

Kebetulan rumahnya yang di Buah Batu sudah lama tidak terpakai. Daripada sayang tidak terpakai, mending diberdayakan jadi tempat usaha.)

Andri     :    Bapa urang siap cenah kerja sama mantuan keur dana mah.

(Bapa saya siap katanya membantu buat dana)

Dudi      :    Hayu lah. Geus we garap ku urang tiluan usahana. Keur bahan barang dagangan mah  aya dulur urang nu jadi tukang produksi kaos. Terus aya babaturan oge distributor.

(Ayo sudah, usahanya kita garap saja bertiga. Buat bahan barang dagangan ada

saudara saya yang jadi tukang produksi kaos)

Andri     :    Babaturan maneh isa ngasupan barang naon wae cenah?

(Teman kamu bisa masukin/suplai barang apa saja katanya?)

Dudi      :    Sagala aya. Aya kaos, jeket, calana, sandal, jeung lainna.

(Segala ada. Ada kaos, jaket, celana, sandal, dll)

Andri     :  Alus ari kitu mah. Geus we urang gancangkeun lah. Kari urang tiluan ngariung deui  ngadiskusikeun keur usahana.

(Bagus kalu begitu. Ya sudah kita percepat saja. Tinggal kita bertiga kumpul lagi

mendiskusikan untuk usaha)

Dudi      :    Enya. Ke atuh urang telepon heula si Tatang-na. Sugan manehna keur aya di

Bandung. Dua poe kamari mah nga-whatsApp keur indit ka Jakarta cenah.

(Iya. Saya telepon dulu si Tatang. Siapa tahu dia lagi ada di Bandung. Dua hari

kemarin nge-WhattsApp katanya lagi pergi ke Jakarta.

#sundanese

#sunda

#bahasalokal

#bahasa

#linguistics

Ide Linguistik Praktis

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

 A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

#linguistik

#linguistics

Pengetahuan Keluarga Terhadap Bahasa

Dalam berinteraksi orang tua atau anak pasti menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu. Pada suatu kesempatan bahasa yang dipergunakan oleh orang tua ketika secara kepada anaknya dapat mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat. Tetapi dilain kesempatan, bahasa yang digunakan itu tidak   mampu mewakili suatu objek yang dibicarakan secara tepat. Maka dari itu dalam berinteraksi dituntut untuk menggunakan bahasa yang mudah dimengerti antara komunikator dan komunikan. Keluarga yang terbiasa dalam berkomunikasi menggunakan bahasa yang santun maka budaya berbahasa santun pun akan diterapkan dimanapun itu berada tergantung dari pengetahuan dan kemampuan dalam berbahasa yang baik dan sopan berdasarkan unggah ungguh.

Pola interaksi dipengaruhi oleh usia. Itu berarti setiap orang tidak bisa berbicara sekehendak hati tanpa memperhatikan siapa yang diajak bicara. Berbicara kepada anak kecil berbeda ketika berbicara kepada remaja. Mereka mempunyai dunia masing-masing yang harus dipahami. Budaya dan bahasa berbeda berdasarkan perbedaan usia.

#keluarga

#bahasa

#bahasakeluarga

Pandangan Keluarga Terhadap Kepemimpinan

Dalam keluarga seorang ayah sebagai pemimpin mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis. Dinamika hubungan dalam keluarga dipengaruhi oleh pola kepemimpinan. Karakteristik seorang pemimpin akan menentukan pola interaksi bagaimana yang akan berproses dalam kehidupan yang membentuk hubungan-hubungan tersebut. Disini keluarga memberikan contoh kepada anak-anaknya. Jika orang tua itu memiliki sikap yang bijaksana maka budaya hidup bijaksanapun akan muncul secara praktis.

Berikut ini contoh dari ajaran dalam keluarga tentang kepemimpinan: adigang, adigung, adiguno yang bermakna untuk menjaga kelakuan, menghindari kesombongan karena kekuatan, kedudukan, dan latar belakang. Aja mbedakake marang sapadha-padha yang bermakna menghargai perbedaan dan tidak membeda-bedakan. Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa yang bermakna larangan untuk jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.

#kepemimpinan

#jawa

Kebudayaan Sebagai Sumber Pengetahuan

Kebudayaan dipandang sebagai pengetahuan karena segala aktivitas public melibatkan proses berpikir dan kemampuan untuk berinteraksi sosial (Geertz, 1973: 76 dan 1973: 83).  Untuk memahami suatu budaya kita dapat melihat perbedaan-perbedaan yang dapat diinterpretasikan dengan pola yang berbeda-beda (Becker, 1995). Pengetahuan menjadi alat budaya yang memperlihatkan intelektualitas kita. Pengetahuan menjadi representasi mental orang yang mengaplikasikannya yang menuntut adanya keseimbangan antara isi pikiran dan isi hati. Masalah antropologi pengetahuan bagaimana praktek budaya lokal  menjadi representasi mental didalam pikiran individu yang keluar menjadi pikiran public. Teori budaya harus menjelaskan cara kita berbicara tentang budaya suatu kelompok tertentu dan proses apa yang terjadi didalam budaya tersebut (Goodenough, 1981:54).

Hal-hal yang menbedakan kebudayaan adalah perbedaan prinsip logis dalam berpikir. Saat ini yang menjadi fokus perhatian adalah model budaya tentang hubungan kekerabatan (kinship) karena hubungan kekerabatan dianggap sebagai jaringan perilaku budaya. Anak-anak yang bersosialisasi didalam lingkungan kelas pekerja (working class children) cenderung memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tetangga dan teman-teman di sekolah. Disatu sisi, mereka hanya memiliki pilihan hidup mereka yang cenderung untuk meneruskan pekerjaan dari orang tuanya. akan tetapi disisi lain, mereka akan belajar dan bekerja keras karena budaya bekerja di lingkungan keluarganya terbawa di sekolah. (Willi, 1977). Berikut ini adalah contoh dari budaya yang muncul dari hubungan kekerabatan (kinship) dengan capaian interaksi sosialnya:

Berikut ini faktor-faktor pengaruh interaksi didalam keluarga yang mempengaruhi terbentuknya budaya dalam berinteraksi dengan orang lain yang disesuaikan dengan budaya Jawa

  1. Pengetahuan keluarga tentang citra diri dan citra orang lain

Setiap keluarga mempunyai peranan penting untuk memberikan pengajaran tentang gambaran-gambaran tertentu mengenai dirinya, statusnya, kelebihan dan kekurangannya didalam keluarga. Gambaran itulah yang menentukan apa dan bagaimana orang tua mendidik dalam hal tata cara berbicara, bagaimana berpikir untuk menjaring apa yang dilihatnya, didengarnya, dan bagaimana penilaiannya terhadap segala yang berlangsung disekitarnya. Dengan kata lain, citra diri menentukan ekspresi dan persepsi orang. Tidak hanya citra diri, citra orang lain juga mempengaruhi cara dan kemampuan orang berinterakasi. Orang lain mempunyai gambaran  khas bagi dirinya. Jika seorang ayah mencitrakan anaknya sebagai manusia yang lemah, ingusan, tak tahu apa-apa, harus di atur, maka ia berbicara secara otoriter. Akhirnya, citra diri dan citra orang lain harus saling berkaitan, saling lengkap-melengkapai. Perpaduan kedua citra itu menentukan gaya dan cara komunikasi. Disini dapat disimpulkan keluarga adalah pembentuk budaya dalam mewujudkan citra diri, gaya, dan cara berkomunikasi.

Berikut ini contoh dari ajaran tentang citra diri dalam keluarga Jawa tentang citra diri:  ngundhuh wohing pakarti (menuai buah pekerti) yang bermakna setiap orang akan mendapatkan akibat dari perilakunya sendiri

#kebudayaan

#budaya

#antropologi

Makna dan Praktek Kehidupan, Simbol Antropologi

Domain kebudayaan disini adalah praktek budaya dalam seni dan ritual yang mencerminkan karakteristik individu (Silverstein, 1979 & 1981). Contoh dari makna dalam praktek kehidupan sebagai symbol antropologi adalah kehidupan dalam memahami bahasa yang valid, nyata, benar, dan bagus bagi dunia yang tidak boleh dirusak atau digantikan. Indonesia kaya akan symbol antropologi budaya dan bahasa. Kebudayaan dan bahasa membentuk sebuah prinsip yang mengikat setiap individu untuk melakukannya Levi-Strauss (1966). Bahasa dapat memberikan contoh refleksi budaya dan cara mereka berbagi ide dan pola pikir (Goodenough, 1970, 1981, 1964).

Bahasa merupakan perwujudan budaya masyarakat tergambar pada pepatah Jawa ajining diri dumuning ana ing lathi. Berbicara dengan bahasa yang sopan, dengan kata yang manis, dengan suara yang halus akan membuat simpatik. Dalam bahasa menunjukkan jati diri seseorang terungkap. Orang yang santun, santun pula bahasanya. Bahasa Jawa mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai kemanusiaan antara lain andap asor (rendah hati), empan papan, saling menghormati, pengakuan akan keberagaman, aja dumeh dan tepo seliro. Kesantunan dalam berbahasa Jawa didominasi oleh rasa, oleh karena itu kita sering mendengar orang Jawa mengatakan nek tak rasakake, menawi kula manih, saking manah kula. Ini menunjukkan orang Jawa didalam mengambil keputusan tidak hanya berdasarka logika tetapi rasa dan pikir atau nalar terjadi secara otomatis

Berikut ini adalah contoh-contoh prinsip atau norma didalam kebudayaan Jawa

  • Contoh ngoko lugu yang menunjukkan situasi tidak resmi, status sosial yang sama, berbicara dengan orang asing:

Sapa sing methuk tamu ana ing stasiun Gubeng?

Aku arep menyang pasar

Adhiku arep ditukokake wedhus

  • Contoh ngoko andhap antya basa yang menunjukkan situasi dimana penutur lebih tua daripada mitra tutur, antar priyayi yang sudah kenal dan akrab (kowe diganti seliramu):

Apa wingi seliramu (Kangmas) sido tindak menyang Ngayogya?

Wulan Nopember iki seliramu (Mbakyu) tak aturi rawuh ing kongres Basa Jawa ing Surabaya.

Adhiku arep dipundhutke menda ta pak

  • Contoh ngoko andhap basa antya yang menunjukkan situasi yang akrab dan saling menghormati.

Jare mirsani kethoprak, saiki tindak menyang endi?

Mau esuk tindak kantor, sore iki ngrawuhi pepanggihan ana ing RT

Adhik arep dipundhutke menda to pak

  • Contoh madya ngoko yang menunjukkan situasi akrab, tidak resmi, dan santai antara sesama teman, atasan kepada bawahan (kowe diganti “ndiko”):

Ndiko wayah ngeten kok lungo teng pasar

Kulo ajeng mantuk riyin

  • Contoh Madyatara yang dipakai oleh penutur kepada yang lebih muda atau memiliki derajat yang lebih rendah (kowe diganti kang sliro atau sampeyan):

Sampeyan (kang sliro) napa duwe perlu wigati kok gita-gita?

Kang sliro saiki nyambut gawe ana ngendi?

  • Contoh Madya krama yang dipergunakan untuk menghormati orang lain, tetapi sifatnya sementara dalam suasana yang akrab (tidak ada kosa kata goko kecuali akhiran –e dan –ake dan menggunakan sebutan ‘sampeyan

Wanci ngeten kok sampun kondur, napa empun rampung pandamelan sampeyan?

  • Contoh Basa Krama-Muda Krama yang dipergunakan oleh orng muda kepada orang tua, murid kepada guru, antar teman yang belum akrab. Bentuknya ialah krama, kosa kata krama inggil, kowe diganti dengan panjenengan, awalan dan akhiran krama.

Lho kok, kang Mas, panjenengan punapa saestu tindak dhateng rapat nitihsepeda motor punapan becak?

  • Contoh Basa Krama Kramantara yang dipergunakan dalam pembicaraan antar sesama tetapi si penutur tingkat status sosialnya lebih tinggi dan bukan di tempat umum. Bentuk tuturannya adalah krama. Kata ganti orang kedua ‘kowe’ menjadi ‘sampeyan’.

Sampeyan punapa sampun mlebet dados anggotanipun partai politik, partai punapa?

  • Contoh Basa Krama Wredakrama dipakai dalam pembicaraan oleh orang yang lebih tua kepada mitra bicara yang lebih muda. Betuk tuturannya ialah krama untuk awalan dan akhiran ngoko.

Kados pundi nak, rembag bab kemajenganipun nagari ing parlemen?

  • Contoh Basa Krama Inggil yang dipergunakan oleh orang yang tinggi status sosialnya karena asal usulnya dan jabatannya dimana mitra tutur usianya lebih tua. Krama inggil digunakan untuk menunjukkan rasa hormat.

Nyuwun duka Gusti, kala wingi dalem mboten saged dherekaken tindak dalem, awit anakipun dalem saweg sakit sanget.

  • Contoh Krama Desa yang dipergunakan oleh orang desa yang tidak memahami system tingkat tutur atau kaidah bahasa krama. Kosa kata dijadikan krama karena ingin menunjukkan rasa hormat kepada orang yang diajak bicara misalnya Gunung Kidul menjadi Redi Kidul, Boyo lali menjadi Boyo kesupen, sawahan menjadi sabenan.

Sampeyan punapa kersa mundhut sawo kagungan kula piyambak?

Kula badhe tindak dating sabinan methuk simbah

Punapa panjenengan saking Medunten?

  • Basa Kedaton atau Basa Bagongan adalah bahasa khusus yang dipaki oleh anggota kerajaan dan para pembantu (abdi dalem) bila ada pertemuan dengan raja atau melakukan percakapan di lingkungan kerajaan. Kata-kata yang termasuk bahasa kedaton adalah manise (aku), pukulun atau jengandiko (kowe), enggeh, punapi, boya (ora), seto (doyan), darbe (duwe), besaos (bae).

Pakenira mekaten ampun boya kekirangan punapa-punapi, bebasan kantun dhahar lan tilem besaos

 Basa Kasar adalah bahasa yang dipergunakan oleh penutur untuk merendahkan orang lain karena marah atau emosional

Yen kowe ora jegos, wis minggato kono