Hermeneutika dan Penerjemahan Kategori Gramatikal

Hermeneutika atau pengiterpretasian berkaitan erat dengan kategori gramatikal. Mulai dari penggunaan tunggal atau jamak, nomina, verba, adjektiva, dan sebagainya. Pemahaman kategori gramatikal yang baik akan menghasilkan penginterpretasian yang baik pula. Para pakar linguistik antropologi telah melakukan pemetaan terhadap kata-kata dari bahasa Indo Eropa dan membuat arti kata-katanya (Foley, 1997).

Salah satu cara untuk memahami hal ini dengan lebih sederhana adalah sebagai berikut.

  1. Kata almoire dalam bahasa Perancis adalah cikal bakal kata lemari dalam bahasa Indonesia. Sebelum menjadi kata lemari terlebih dahulu diucapkan dengan kata almari kemudian terakhir menjadi kata Kemudian diadaptasi oleh bahasa Angkola menjadi kata lamari.
  2. Kata mabit dalam bahasa Arab yang berarti bermalam, merupakan salah satu kegiatan berhaji yaitu mabit di Mina ‘bermalam di Mina’. Kata mabit diadaptasi oleh bahasa Angkola menjadi mebat tetapi artinya memang bermalam hanya saja bermalam yang dimaksud adalah bermalamnya pengantin pria dan wanita ke rumah pengantin wanita setelah mereka menikah.
  3. Kata on the cost dalam bahasa Inggris artinya adalah atas biaya. Jika dibaca dengan cepat, maka secara fonologis akan terdengar seperti bunyi ongkos dalam bahasa Indonesia dan juga digunakan dalam bahasa Angkola yang artinya biaya.
  4. Kata mengangkat dalam bahasa Indonesia terdiri dari dua morfem, yaitu {meng-} yang berfungsi sebagai prefiks penanda aktif dan {angkat} yang berfungsi sebagai verba yang memindahkan sesuatu dari bawah ke atas. Dalam bahasa Angkola, kebetulan memiliki kosakata yang sama dengan bahasa Indonesia, khusus pada kata angkat Namun, perbedaannya adalah pada prefiksnya. Jika dalam bahasa Indonesia menggunakan meng- maka dalam bahasa Angkola menggunakan mang- sehingga menjadi mangangkat, yang terdiri dari {mang-} dan {angkat}.

Dengan demikian, pemahaman grammar memang sangat mendukung dalam menghasilkan interpretasi yang baik. Karena jika ditarik benang merah, akan ditemukan persamaan walaupun sangat tipis, dan itu akan menjadi petunjuk untuk membantu interpreter dalam menerjemahkan bahasa sasaran yang ingin dianalisis.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#hermeneutika

#williamfoley

#almoire

#phonology

 

Hermeneutika, Sebuah Proses Penerjemahan dan Penafsiran

Hermeneutika merupakan proses interpretasi; penerjemahan; penafsiran. Namun, permasalahannya adalah bagaimana jika makna yang sama diungkapkan dalam bentuk yang berbeda dan hal ini berada pada sistem makna dan sistem yang ditentukan sendiri, baik secara parsial maupun secara temporal. Proses hermeneutika ini telah dilakukan langsung terhadap suatu penduduk asli untuk mengetahui teks bahasa proses ritual. Interpretasi seperti ini harus juga didukung dengan kekuatan imajinasi dan mengesampingkan keyakinan penafsir sendiri untuk evaluasi kritis, sehingga mampu mengungkapkan asumsi terdalam berdasarkan sejarahnya. Revisi juga tidak luput untuk dilakukan seiring dengan meningkatnya kemampuan imajinasi dan pemahaman empati kita (Foley, 1997).

Misalnya, pada bahasa Jawa sangat kental dengan undha usuknya sehingga pada saat berbicara dan menginterpretasikan sesuatu kepada mitra tutur sangat berhati-hati dan mempertimbangkan usia, gender, dan jabatannya. Kapan menggunakan ngoko, kromo, kromo inggil sangat diperhatikan karena bentuk kesopanan sebagai orang Jawa. Contohnya: mangan tidak baik diucapkan oleh istri pada suaminya karena kata mangan adalah ngoko, tetapi istri harus menggunakan kromo pada suami yaitu kata dhahar. Contoh ini dilihat berdasarkan gender dari hubungan suami istri pada orang Jawa.

Sementara itu, dalam bahasa Angkola tidak ada speech level seperti pada bahasa Jawa tadi, yang ada adalah bahasa umum dan bahasa adat. Misalnya, kata mangan dalam bahasa Angkola yang kebetulan sama dengan bahasa Jawa, artinya adalah makan. Kata ini dapat digunakan oleh siapa saja tanpa memandang usia, gender, dan jabatannya. Tetapi, ketika masuk dalam acara adat, maka kata mangan ‘makan’ tadi berubah menjadi sangat halus dengan ungkapan marrasoki ‘berezeki; menikmati rezeki (dalam hal ini makanan yang sudah terhidang di depan mata)’. Hal seperti ini membutuhkan kepekaan interpretasi yang terlatih agar tidak terjadi misinterpretasi.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#penerjemahan

#williamfoley

#bahasadaerah

Jembatan Penerjemahan Bahasa Daerah

Pencarian jembatan sebagai sarana untuk memahami bahasa dan budaya tidak selalu mudah ditemukan. Namun, yang dapat menjembatani hal ini adalah latar belakang kepercayaan dan pemahaman universal bagi setiap manusia. Misalnya, Putnam (1981) mencoba membangun jembatan pemahaman melalui ilustrasi perbedaan suhu dengan pemahaman ilmu modern pada abad ketujuh belas. Sayangnya, mengingat konsep suhu pada dewasa ini dengan konsep suhu pada abad ketujuh belas sangat berbed, maka akan menghasilkan penerjemahan yang berbeda. Yang menjembatani adalah suhu, namun konsep berpikirnya berbeda karena zamannya sudah sangat berbeda, otomatis penerjemahan dan interpretasinya pun masing-masing akan berbeda (Foley, 1997).

Misalnya, kata ulang dalam bahasa Indonesia memiliki konsep berpikir sesuatu pekerjaan yang dilakukan beberapa kali, tetapi dalam bahasa Angkola, kata ulang memiliki konsep berpikir sebagai kata imperatif yang berarti jangan; jangan lakukan; hentikan. Sungguh sangat berbeda konsep berpikir dari dua bahasa ini, bagaimana menjembatani penerjemahannya? Saya sepakat dengan membuat ilustrasi akan membantu memudahkan pemahaman dari masing-masing penutur bahasa yang berbeda. Karena dengan ilustrasi, setiap bahasa dan budaya akan dapat membayangkan konsep berpikir yang sama, sehingga mampu menghasilkan pemahaman yang sama pula.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#penerjemahan

#bahasadaerah

#williamfoley

#putnam

Masalah Penerjemahan Bahasa Daerah

Masalah penerjemahan terjadi karena ketidaksetaraan antara background knowledge, pemahaman teori, bahasa, maupun budaya. Hal ini terlihat pada saat mengungkapkan sebuah tanda bahasa, baik teori, bahasa, atau budaya akan diungkapkan dengan cara-cara yang berbeda. Singkatnya, skema konseptual dimediasi oleh bahasa dan budaya. Proses ini terkait lagi dengan relativitas, karena pengalaman seseorang berbeda maka tidak ada sistem tertentu yang dapat sesuai antara bahasa dan budaya yang satu dengan yang lain (Foley, 1997).

Masalah penerjemahan ini dapat dipahami dengan lebih sederhana berdasarkan contoh berikut:

  1. Dalam bahasa Jawa, kata abang artinya merah sedangkan dalam bahasa Angkola, kata abang artinya saudara laki-laki yang lebih tua dari kita.
  2. Dalam bahasa Jawa, kata lombok artinya cabai sedangkan dalam bahasa Angkola, kata lombok dipahami dengan Pulau Lombok.
  3. Dalam bahasa Jawa, kata motor artinya sepeda motor sedangkan dalam bahasa Angkola kata motor artinya
  4. Dalam bahasa Jawa, kata kereta artinya kereta api sedangkan dalam bahasa Angkola, kata kareta artinya sepeda motor.
  5. Dalam bahasa Jawa, kata gulung artinya menggulung sesuatu sedangkan dalam bahasa Angkola, kata gulung artinya rebah; merebahkan badan di atas alas tidur atau tempat tidur.

Dengan demikian, relativitas pengalaman dan mental dari bahasa dan budaya sangat mempengaruhi seseorang dalam memahami sesuatu. Oleh sebab itu, dibutuhkan kepekaan dalam memahami lingkungan sekitar yang penuh dengan etnis dan komunitas yang beraneka ragam. Hal ini sangat berguna dalam membantu memahami maksud dan tujuan dari mitra tutur yang berasal dari komunitas yang berbeda. Tujuannya tidak lain adalah menjaga keharmonisan berbangsa dan bernegara.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#penerjemahan

#bahasadaerah

#translation

Pemahaman Ide Relativitas

Relativitas

Relativisme adalah pandangan filosofis terhadap pengalaman hidup manusia. Hal ini dimediasi oleh budaya yang memainkan peran penting dan determinatif dalam fungsi kognitif. Menurut pandangan relativisme, pengetahuan diperoleh melalui skema konseptual yang terdiri dari teori umum dan ilmiah, linguistik dan budaya, dan praktik sosial yang diperoleh sebagai hasil pengalaman hidup seseorang yang mencakup budaya, bahasa, ruang, dan waktu. Salah satu bentuk relativisme yang paling berpengaruh dalam linguistik dan antropologi adalah Neo-Kantianisme. Paham ini menekankan pada kategori pengorganisasian mental yang timbul dari teori, bahasa, atau perbedaan sistem budaya yang mencerminkan kepentingan manusia. Karena itu, pengalaman adalah aktivitas umum, fakta sosial, yang tercantum dalam kategori bahasa dan budaya (Foley, 1997).

Apabila ditelaah dari sudut pandang agama agama Islam, relativitas sudah ada dalam Alquran, yaitu pada firman Allah swt. yang berbunyi:

“…. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari       tahun-tahun yang kamu hitung.” (Q.S. Al-Hajj:47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanyaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah:5).

“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Q.S. 70:3-4).

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Naml:88).

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Q.S. 23:122-114).

Teori relativitas ini sudah ditelaah oleh Al Kindi “Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi kita dapat mengatakan itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain”, tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat, “Eksistensi dunia ini terbatas, meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein (Ruslan, 2012).

Berdasarkan pemaparan di atas, pengalaman itu menghasilkan proses mental yang relatif  bagi setiap orang. Misalnya, sesuatu makanan itu enak bagi si A, belum tentu enak bagi si B. Hal ini karena pengalaman budaya dan bahasa antara si A dan si B berbeda. Dengan demikian, memahami teori budaya (dalam hal ini antropologi) akan sangat membantu untuk memahami bahasa (dalam hal ini linguistik) suatu komunitas, sehingga kerelatifan dari sesuatu hal dapat lebih mudah dipahami agar terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik. Karena pada hakikatnya, pengetahuan antropologi dan linguistik itu berguna untuk memberi kemudahan bagi kehidupan manusia.

 

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#relativity

#williamfoley

Lagu Paduan Suara Wisuda Bisa Begitu Ya

Malay Language

Peristiwa wisuda baik itu wisuda sekolah maupun wisuda sarjana adalah peristiwa resmi yang diadakan oleh lembaga pendidikan. Mata agendanya sangat rinci dan diatur sedemikian rupa dengan gaya seremonial yang cukup ketat. Hal ini karena waktu yang dibutuhkan biasanya terbatas. Lalu undangan wisuda biasanya dihadiri oleh orang-orang penting dan pejabat institusi. Perhelatannya itu pun cukup akbar karena akan mewisuda hingga 1000 murid atau mahasiswa dalam sekali event.

Lagu paduan suara adalah salah satu bagian penting di dalam mata acara wisuda. Disamping lagu nasional, kadang institusi memiliki kekhasan masing-masing untuk melantunkan lagu favorit. Contohnya di UIN Malang, lagu paduan suara yang selalu dinyanyikan adalah Sholawat UIN dan  Keagungan Tuhan. Lagu Paduan Suara yang dinyanyikan choir mahasiswa UI adalah Gaudeamus Igitur.  Universitas Tadulako cukup unik memberikan sindiran untuk dosennya dengan menyanyikan lagu No Comment yang sudah diaransir.

Namun lain dengan yang ini, sebuah perhelatan wisuda siswa perawat di Malaysia menyanyikan  lagu Indonesia yang lagi hits disana yaitu sebuah lagu lawas yang dinyanyikan oleh Ria Resty Fauzi, Cintaku Sampai ke Ethiopia. Apa sebenarnya yang membuat warga Malaysia begitu gemar dengan lagu-lagu Indonesia terutama lagu-lagu tahun 1980an? Sepertinya dilihat dari lirik lagu Cintaku Sampai ke Ethiopia memiliki lirik kata-kata yang sederhana namun mengena.

Saya akan mencoba bertukar peran, bukan sebagai orang Indonesia. Namun sebagai warga Malaysia yang mempergunakan bahasa Melayu sebagai bahasa sehari-hari. Lirik Teksnya di bawah ini.

Cintaku sampai ke ethiopea

Kalau kau benar sayang padaku
Dan kalau kau benar cinta
Ucapkanlah janji setiamu

Kalau kau benar sungguh mau
Semua milikku untukmu
Jiwa dan ragaku semuanya milikmu

Bukanlah emas permata (intan berlian)
Juga bukan gemerlap dunia (bintang-bintang)
Bulan madu, aku pun tak minta

Asalkan kita dapat berdua
Aku pun bahagia
Ke mana pun kau pergi, ku ‘kan ikut kamu
Walau ke ujung dunia

Jangankan Gunung Fujiyama (Fujiyama)
Puncak Himalaya, ku ikut kamu
Jangankan ke Kamboja (ke Kamboja)
Ke Ethiophia, ku ikut kamu
Kalau memang kamu cinta aku
Ke Kutub Utara, aku ikut kamu

Bukanlah emas permata
Juga bukan gemerlap dunia
Bulan madu, aku pun tak minta

Asalkan kita dapat berdua
Aku pun bahagia
Ke mana pun kau pergi, ku ‘kan ikut kamu
Walau ke ujung dunia

Jangankan Gunung Fujiyama (Fujiyama)
Puncak Himalaya, ku ikut kamu
Jangankan ke Kamboja (ke Kamboja)
Ke Ethiophia, ku ikut kamu
Kalau memang kamu cinta aku
Ke Kutub Utara, aku ikut kamu

Jangankan Gunung Fujiyama (Fujiyama)
Puncak Himalaya, ku ikut kamu
Jangankan ke Kamboja (ke Kamboja)
Ke Ethiophia, ku ikut kamu
Kalau memang kamu cinta aku
Ke Kutub Utara, aku ikut kamu

Jangan, jangan, jangan kau tinggalkan daku, sayang
Jangan, jangan, jangan kau lupa janjimu

Jangan, jangan, jangan kau tinggalkan daku, sayang
Jangan, jangan, jangan kau lupa janjimu

Jangan, jangan, jangan kau tinggalkan…

Orang Malaysia sepertinya tidak mengucapkan aku, mudah-mudahan saya tidak salah. Mereka mengucapkan kata awak untuk kata ganti pertama. dan dalam lagu ini terdapat kata aku, ku dan daku. Lalu apa sebenarnya yang diucapkan orang Malaysia untuk kata Kutub Utara? Apakah sama?

Atau mereka menggunakan bahasa Inggris atau North Pole untuk kata kutub utara. Sepertinya saya perlu belajar banyak bahasa Melayu agar bisa mencerna bahwa lagu ini bisa diterima secara sintaksis oleh warga Malaysia atau hanya sekedar hiburan saja tanpa memandang perbedaan bahasanya.

#cintakusampaikeethiopia

#bahasamelayu

#malaysia

#wisuda

Tanggapan Relativis Terminologi Universal Warna

Jadi, apa respons relativis terhadap badan kerja yang memaksakan ini dan bagaimana mereka memperhitungkan batasan universal pada terminologi warna dasar yang telah disebutkan? Hal ini mungkin paling baik diartikulasikan dalam Sahlins (1976), tapi lihat juga Lucy (1996), Saunders (1992), dan Tornay (1978). Poin dasarnya) tentu saja, adalah bahwa praktik budaya adalah kekuatan mediasi penting dalam penamaan warna dan sistem persyaratan warna dasar. Mereka berpendapat bahwa budaya harus menjadi perantara otonom penting antara persepsi neurologis rasial dan universal tentang rangsangan warna dan pemahaman kognitif mengenai hal ini. Poin ini digaungkan secara linguistik oleh Wierzbicka (1990) yang mencatat bahwa makna istilah warna dalam bahasa tidak mungkin merupakan respons saraf terhadap chip warna, namun pemahaman kognitif penutur asli bahasa memiliki istilah itu: ” Bahasa mencerminkan apa yang terjadi dalam pikiran, bukan apa yang terjadi di otak “(Wierzbicka 1990: 163).

Dorongan dasar kritik relativis terhadap tradisi terinspirasi Berlin dan Kay (1969) adalah untuk membalikkan determinisme; “Maka, tidak, istilah warna itu memiliki maknanya yang dipaksakan oleh kendala sifat manusia dan fisik; Apakah mereka mengambil batasan seperti itu sejauh mereka bermakna “(Sablins 1976: 3), yaitu bermakna dalam sistem simbolis yang dibangun secara budaya; Simbol untuk tindakan publik praktis, seperti di Geertz (1973). Di sini terletak kebohongan; Berlin dan Kay (1969) dan rekan-rekannya menganggap warna tertentu sebagai label yang diberikan sebagai respons terhadap stimulus terkendali, chip warna Murisell, sebuah tindakan untuk menamai perbedaan yang masuk akal. Bahasa warna, dengan demikian, direduksi menjadi nomenklatur rujukan warna murni yang obyektif di dunia yang masuk akal dan terkendali. Istilah warna keranjang dalam bahasa dipisahkan secara semantik dari kata lain yang menunjukkan warna pada dasarnya prinsip ini: warnanya tidak berwarna dan tidak ada yang lain, sedangkan istilah warna sekunder memiliki denotasi dan konotasi tambahan. Tapi untuk relativis seperti Sah lins (1976) dan Lucy (1996), sebenarnya pemisahan ketat inilah yang menjadi masalah. Dan di mana makna istilah warna dalam semua ini? Arti istilah warna adalah pemahaman kognitifnya, hubungan yang didefinisikan secara budaya yang terlibat dan diaktivasi, bukan pengenalan dan pelabelan belaka. Istilah warna dalam budaya tertentu tidak berarti chip Munsell. Dan dari sudut pandang ini, tidak ada dasar untuk pemisahan semantik istilah warna dasar dan sekunder.

Kritik relativis dengan demikian mencerminkan teori makna referensial / behavioris, kata-kata itu hanya label untuk rangsangan yang dirasakan, tersirat dalam metodologi Berlin dan Kay (1969), dan karya selanjutnya Ini mengasumsikan realitas pra-diberikan yang objektif yang hanya diberi label bahasa. . Dalam tradisi terminologi warna dasar, realitas pra-penghargaan ini adalah domain warna yang terpisah, yang terkandung dalam dimensi kontras dari keripik warna Munsell. Relativisme menantang anggapan ini dan mengklaim bahwa domain semacam itu bukanlah bagian dari realitas yang telah ditentukan sebelumnya, namun secara budaya terkonstruksi, terhubung secara mulus dengan bagian lain dari tatanan simbolis budaya tersebut dan praktik-praktik yang bermakna. Mengisolasi warna sebagai satu-satunya dimensi dalam domain yang diberikan kembali, Berlin, Kay, dan rekan menciptakan situasi yang benar-benar buatan, sejajar antara budaya dan bahasa, yang, menurut definisi, harus menghasilkan temuan universal mereka. Dikombinasikan dengan penolakan mereka akan istilah warna sekunder dan makna konstruktif, non-‘4color ‘dari istilah warna dasar dalam bahasa, temuan Berlin dan Kay (1969) hampir dipastikan (Lucy 1996). Lucy (1996) membahas bagaimana perbedaan istilah warna Hanunoo dari presentasi di Berlin dan Kay (1969: 64), jika detail lengkap deskripsi etnografi Conklin (19M) disistematisasikan. Berlin dan Kay (1969) mencirikan Hanunoo hanya sebagai sistem empat-istilah, sekarang dikenal sebagai biak: DARK / BLACK / BLUE, Iagtiq LIGHT / WHITE, raraq RED dan awam YELLOW / GRÆEN. Tapi Conklin (1964) memberikan banyak informasi lebih lengkap. Selain kontras empat kali ini dalam warna / kecerahan, “klasifikasi ini tampaknya memiliki korelasi tertentu di luar apa yang biasanya dianggap sebagai rentang diferensiasi kromatik, dan yang mana  terkait dengan fenomena linguistik di dunia luar “(Conklin 1964: 191).

#color

#colour

#warna

Kendala Universal Pada Terminologi Warna Dasar

Sebagian besar antusiasme awal dalam tradisi penelitian yang diilhami oleh Berlin dan Kay (1969) terletak pada keyakinan bahwa karya ini menemukan hambatan universal yang kuat dalam satu ranah linguistik dan budaya, yang bertentangan dengan kebijaksanaan arus relativisme yang diterima pada pertengahan tahun 1960an. Namun, seperti yang digambarkan di atas, temuan saat ini di bidang ini merupakan retret yang signifikan dari awal universal yang kuat yang diajukan di Berlin dan Kay (1969), dengan banyak kemungkinan sekarang tersedia untuk bahasa dalam terminologi warna dasar mereka terutama pada empat dan tiga puluh sepuluh Sistem. Akun neurophysiological membutuhkan warna yang berlawanan dalam subsistem yang sama, seperti kuning dan biru, berada dalam kategori berlabel yang terpisah, namun jelas tidak. Keberhasilan pemaparan neurofisiologis tentang temuan penelitian ini mungkin bisa jadi pendiri di casa tersebut. Sebagai hipotesis yang berlawanan adalah apa yang bertentangan di sini, MacLaury (1992) mencoba memperhitungkan sistem semacam itu dalam hal kecerahan, dengan alasan bahwa ini mewakili dimensi universal dan neurofisiologis kedua dalam terminologi warna. Langkah ini nampaknya diharuskan oleh data, namun jika harus berubah menjadi tidak termotivasi, maka temuan penelitian ini tidak lagi didukung oleh basis neurofisiologis. Dan jika ini masalahnya, apa sumber kendala yang ditemukan pada terminologi warna dasar? Budaya? Ini bertentangan dengan keseluruhan tradisi ini, segera kembali ke Berlin dan Kay (1969), membuka pintu bagi relativisme, sebuah titik yang tidak hilang pada MacLaury (1992: 137): Memasukkan kategori biru hijau ke dalam urutan Menimbulkan keraguan atas dugaan hubungan antara fisiologi visual panhuman dan keteraturan kategorisasi warna yang banyak diamati; Ini memanggil “untuk mempertanyakan gagasan tentang kategori warna universal. Karena kategori yellow-grten-blue mewakili ekstrem, menjatuhkannya ke dalam urutan universal mengakui perdebatan tersebut kepada para relativis.

#warna

#colour

#color

 

Beda Warna Menurut Munsell

Pada tahun 1858, Munsell menyelidiki warna dengan standar warna untuk aspek fisik dan psikis. Warna dapat didefinisikan secara obyektif atau fisik sebagai sifat cahaya yang dipancarkan, secara subyektif atau psikologis sebagai bagian dari pengalaman indera pengelihatan. Secara obyektif atau fisik, warna dapat diberikan oleh panjang gelombang. Dilihat dari panjang gelombang, cahaya yang tampak oleh mata merupakan salah satu bentuk pancaran energi yang merupakan bagian yang sempit dari gelombang elektromagnetik. Cahaya yang dapat ditangkap indera manusia mempunyai panjang gelombang 380 sampai 780 nanometer. Cahaya antara dua jarak nanometer tersebut dapat diurai melalui prisma kaca menjadi warna-warna pelangi yang disebut spectrum atau warna cahaya, mulai berkas cahaya warna ungu, violet, biru, hijau, kuning, jingga, hingga merah. Di luar cahaya ungu atau violet terdapat gelombang-gelombang ultraviolet, sinar X, sinar gamma, dan sinar cosmic. Di luar cahaya merah terdapat gelombang atau sinar inframerah, gelombang Hertz, gelombang Radio pendek, dan gelombang radio panjang, yang banyak digunakan untuk pemancaran radio dan TV.

Proses terlihatnya warna adalah dikarenakan adanya cahaya yang menimpa suatu benda, dan benda tersebut memantulkan cahaya ke mata (retina) kita hingga terlihatlah warna. Benda berwarna merah karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan warna merah dan menyerap warna lainnya. Benda berwarna hitam karena sifat pigmen benda tersebut menyerap semua warna pelangi. Sebaliknya suatu benda berwarna putih karena sifat pigmen benda tersebut memantulkan semua warna pelangi. Pengaruh warna mampu memberikan impresi yang cepat dan kuat. Kemampuan warna menciptakan impresi, mampu menimbulkan efek-efek tertentu.

Secara psikologis diuraikan oleh J. Linschoten dan Drs. Mansyur tentang warna sebagai berikut:

Warna-warna itu bukanlah suatu gejala yang hanya dapat diamati saja, warna itu mempengaruhi kelakuan, memegang peranan penting dalam penilaian estetis dan turut menentukan suka tidaknya kita akan bermacam-macam benda. Oleh karena itu selain hanya dapat dilihat dengan mata ternyata warna mampu mempengaruhi perilaku seseorang, mempengaruhi penilaian estetis dan turut menentukan suka. Teorinya menyatakan bahwa warna pokok terdiri dari merah, kuning, hijau, biru, dan jingga. Sementara warna sekunder terdiri dari warna jingga, hijau muda, hijau tua, biru tua, dan nila.

Dalam pembagian warna yang kami bahas ini lebih mengacu pada teori Brewster, yaitu :

Merupakan warna dasar yang tidak merupakan campuran dari warna-warna lain. Warna yang termasuk dalam golongan warna primer adalah merah, biru, dan kuning. Warna primer menurut teori warna pigmen dari Brewster adalah warna-warna dasar. Warna-warna lain dibentuk dari kombinasi warna-warna primer. Pada awalnya, manusia mengira bahwa warna primer tersusun atas warna Merah, Kuning, dan Hijau. Namun dalam penelitian lebih lanjut, dikatakan tiga warna primer adalah:

  1. Merah (seperti darah)
  2. Biru (seperti langit atau laut)
  3. Kuning (seperti kuning telur)

Ini kemudian dikenal sebagai warna pigmen primer yang dipakai dalam dunia seni rupa. Campuran dua warna primer menghasilkan warna sekunder. Campuran warna sekunder dengan warna primer menghasilkan warna tertier. Akan tetapi secara teknis, merah – kuning – biru, sebenarnya bukan warna pigmen primer. Tiga warna pigmen primer adalah magenta, kuning dan cyan. (Oleh karena itu apabila menyebut ”merah, kuning, biru” sebagai warna pigmen primer, maka ”merah” adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan ”magenta” sedangkan ”biru” adalah cara yang kurang akurat untuk menyebutkan ”cyan”). Biru dan hijau adalah warna sekunder dalam pigmen, tetapi merupakan warna primer dalam cahaya, bersama dengan merah.

#colour

#warna

#color

#munsell

 

Warna Menurut Newton

Sekalipun usaha untuk membuat pewarna telah dimulai dalam perkembangan awal kebudayaan manusia, pembahasan mengenai keberadaan warna secara ilmiah baru dimulai dari hasil temuan Isaac Newton yang dimuat dalam bukunya “Optics” (1704). Ia mengungkapkan bahwa warna itu ada dalam cahaya. Hanya cahaya satu-satunya sumber warna bagi setiap benda. Asumsi yang dikemukan oleh Newton didasarkan pada penemuannya dalam sebuah eksperimen sederhana (1966). Di dalam sebuah ruangan gelap, seberkas cahaya putih matahari diloloskan lewat lubang kecil dan menerpa sebuah prisma. Ternyata cahaya putih matahari yang bagi kita tidak tampak berwarna, oleh prisma tersebut dipecahkan menjadi susunan cahaya berwarna yang tampak di mata sebagai cahaya merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu (sering disingkat “me-ji-ku-hi-bi-ni-u”), yang kemudian dikenal sebagai susunan spektrum dalam cahaya. Jika spektrum cahaya tersebut dikumpulkan dan diloloskan kembali melalui sebuah prisma, cahaya tersebut kembali menjadi cahaya putih. Jadi,  cahaya putih (seperti cahaya matahari) sesungguhnya merupakan gabungan cahaya berwarna dalam spektrum.

Newton kemudian menyimpulkan: “… benda-benda sama sekali tidak berwarna tanpa ada cahaya yang menyentuhnya. Mata manusia memiliki berbagai “fotoreseptor” (penangkap atau penerima cahaya) untuk menangkap berbagai jenis warna cahaya yang memantul dari sebuah benda. Sebuah benda tampak kuning karena fotoreseptor pada mata manusia menangkap cahaya kuning yang dipantulkan oleh benda tersebut. Sebuah apel tampak merah bukan karena apel tersebut berwarna merah, tetapi karena apel tersebut hanya memantulkan cahaya merah dan menyerap warna cahaya lainnya dalam spektrum. Sebuah benda berwarna putih karena benda tersebut memantulkan semua cahaya spektrum yang menimpanya dan tak satupun diserapnya dan sebuah benda tampak hitam jika benda tersebut menyerap semua unsur warna cahaya dalam spektrum dan tidak satu pun dipantulkan atau memang tidak ada cahaya yang menyentuhnya alias benda tersebut berada dalam gelap.

Cahaya adalah satu-satunya sumber warna di dunia. Benda-benda yang tampak berwarna semuanya hanyalah pemantul, penyerap dan penerus satu atau lebih warna-warna dalam cahaya. Bila cahaya tidak ada maka warna yang paling pucat pun tidak akan pernah ada.

Teori kesehatan menyatakan bahwa semua warna yang dapat ditangkap oleh mata manusia adalah warna pokok.  Thomas Young seorang sarjana kedokteran, adalah orang pertama kali memberi dukungan yang masuk akal terhadap pernyataan Newton tentang penglihatan warna. Pada saat itu pengetahuan tentang hubungan cahaya dan penglihatan sudah menunjukkan banyak kemajuan dan sarat dengan bukti yang melimpah, tetapi informasi mengenai penglihatan warna masih serba terbatas. Asumsi Newton tentang penglihatan, cahaya dan keberadaan warna-warna benda diuji kembali. Didukung oleh pengetahuan yang berlaku saat itu, kebenaran asumsi-asumsi Newton dimungkinkan, tapi Young menolak pernyataan Newton yang menyatakan bahwa mata memiliki banyak reseptor untuk menerima bermacam warna. Pada tahun 1801 ia mengemukakan hipotesa bahwa mata manusia hanya memiliki 3 buah reseptor penerima cahaya, yaitu reseptor yang peka terhadap cahaya biru, merah dan hijau.

#warna

#colour

#isaacnewton