Pemahaman Ide Relativitas

Relativitas

Relativisme adalah pandangan filosofis terhadap pengalaman hidup manusia. Hal ini dimediasi oleh budaya yang memainkan peran penting dan determinatif dalam fungsi kognitif. Menurut pandangan relativisme, pengetahuan diperoleh melalui skema konseptual yang terdiri dari teori umum dan ilmiah, linguistik dan budaya, dan praktik sosial yang diperoleh sebagai hasil pengalaman hidup seseorang yang mencakup budaya, bahasa, ruang, dan waktu. Salah satu bentuk relativisme yang paling berpengaruh dalam linguistik dan antropologi adalah Neo-Kantianisme. Paham ini menekankan pada kategori pengorganisasian mental yang timbul dari teori, bahasa, atau perbedaan sistem budaya yang mencerminkan kepentingan manusia. Karena itu, pengalaman adalah aktivitas umum, fakta sosial, yang tercantum dalam kategori bahasa dan budaya (Foley, 1997).

Apabila ditelaah dari sudut pandang agama agama Islam, relativitas sudah ada dalam Alquran, yaitu pada firman Allah swt. yang berbunyi:

“…. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun dari       tahun-tahun yang kamu hitung.” (Q.S. Al-Hajj:47).

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanyaNya dalam satu hari yang kadarnya (lamanya) adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.” (Q.S. As-Sajdah:5).

“Yang datang dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.” (Q.S. 70:3-4).

“Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya. Padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Naml:88).

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’.” (Q.S. 23:122-114).

Teori relativitas ini sudah ditelaah oleh Al Kindi “Kita tak dapat mengatakan bahwa sesuatu itu kecil atau besar secara absolut. Tetapi kita dapat mengatakan itu lebih kecil atau lebih besar dalam hubungan kepada objek yang lain”, tutur Al-Kindi. Kesimpulan yang sama diungkapkan Einsten sekitar 11 abad setelah Al-Kindi wafat, “Eksistensi dunia ini terbatas, meskipun eksistensi tak terbatas,” papar Einstein (Ruslan, 2012).

Berdasarkan pemaparan di atas, pengalaman itu menghasilkan proses mental yang relatif  bagi setiap orang. Misalnya, sesuatu makanan itu enak bagi si A, belum tentu enak bagi si B. Hal ini karena pengalaman budaya dan bahasa antara si A dan si B berbeda. Dengan demikian, memahami teori budaya (dalam hal ini antropologi) akan sangat membantu untuk memahami bahasa (dalam hal ini linguistik) suatu komunitas, sehingga kerelatifan dari sesuatu hal dapat lebih mudah dipahami agar terjalin komunikasi dan kerjasama yang baik. Karena pada hakikatnya, pengetahuan antropologi dan linguistik itu berguna untuk memberi kemudahan bagi kehidupan manusia.

 

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#relativity

#williamfoley

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *