Makna Pengetahuan dan Domain Linguistik Antropologi

Linguistik antropologi merupakan sub bidang linguistik yang berhubungan konteks bahasa didalam ranah sosial dan budaya yang sangat berperan dalam praktek budaya dan struktur sosial di masyarakat. Linguistik antropologi memandang bahasa sebagai inti konsep antropologi, kebudayaan. Linguistik antropologi melihat makna dibalik kegunaan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan informasi, kesalahan dalam penggunaan bahasa, bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, register dan gaya bahasa. Hal itu dilakukan untuk mengupas bahasa secara detail untuk menemukan pemahaman bahasa.

Sosiolinguistik merupakan hal yang berbeda dengan linguistik antropologi. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sebuah institusi sosial yang didalamnya mengurai tentang interaksi  sosial untuk menemukan bagaimana pola-pola linguistik yang ada pada kelompok sosial tertentu dan mengkorelasikan perbedaan-perbedaan perilaku linguistik dengan variable variable seperti usia, jenis kelamin, kelas, ras, dan sebagainya. Perilaku linguistik bisa dilihat dengan cara melihat cara pengucapan (pronunciation) mereka didalam suatu kelompok tertentu. Perbedaan pengucapan sangat terlihat didalam bahasa Inggris akan tetapi hal itu tidak ditemukan didalam bahasa Jawa hal itu tidak ada, akan tetapi didalam bahasa Jawa terdapat kelas kata untuk menunjukkan perbedaan. Berikut ini contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa dan di bahasa Inggris:

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Inggris: running diucapkan /rʌnɪŋ/ atau /rʌnɪn/. Analisis perilaku bahasanya adalah:

penutur kelompok pria cenderung menggunakan pengucapan /rʌnɪn/; sedangkan penutur kelompok wanita menggunakan pengucapan /rʌnɪŋ/.

Penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪn/ biasanya tergolong pada kelompok bawah yaitu para pekerja, bawahan, buruh, pegawai (lower class background) sedangkan penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪŋ/ biasanya tergolong pada

  • kelompok menengah ke atas (middle and upper class background). Hal ini termasuk dalam kajian semiotik.

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa:

  • Penggunaan bahasa ngoko yang digunakan oleh orang dengan usia yang sama, orang yang memiliki hubungan yang dekat atau akrab, orang yang berusia lebih tua kepada orang yang berusia lebih muda, atasan kepada bawahannya, misalnya: bener yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama madya yang digunakan oleh murid kepada guru, orang yang usinya lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, anak kepada orang tuanya, pegawai atau pembantu kepada majikannya, misalnya: leres yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama inggil adalah bahasa yang tingkatannya paling santun karena disini terdapat prinsip merendahkan hati dan meninggikan posisi orang lain, misalnya: kasinggihan yang berarti benar.

Perilaku linguistik tidak hanya pada bagaimana bahasa itu diucapkan, ternyata juga dari pilihan kata seperti yang ada didalam bahasa Jawa diatas dengan memperhatikan posisi dan maksud. Terkadang apa yang diucapkan memiliki makna yang biasanya sudah dipahami oleh mitra tutur meskipun kalimat tersebut tidak diucapkan secara langsung. Perilaku linguistik tidak terlepas dari tuturan dan konteks serta latar pengetahuan dari penutur dan mitra tutur.

#linguistics

#linguistik

#anthropology

#antropologi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *