Hubungan Kekerabatan dalam Antropologi

Kekerabatan telah lama menjadi domain budaya di mana ahli bahasa antropologi berusaha mengidentifikasi hambatan universal, karena praktik budaya yang ingin diberi label oleh label kekerabatan, yaitu perkawinan dan reproduksi, adalah ciri semua masyarakat manusia. Perdebatan tersebut telah membahas seputar apakah universal ini dapat terjadi. Dinyatakan dalam istilah kawin dan reproduksi yang ketat secara biologis tanpa memperhatikan kategori sosial dan akhirnya budaya. Inti kekerabatan telah diidentifikasi sebagai hubungan ibu-anak reproduksi dan hanya hubungan suami-istri pasangan suami-istri. Kekerabatan dibangun di atas rantai hubungan yang kompleks dari kedua jenis hubungan ini, namun label aktual untuk kerabat individu dalam jaringan kekerabatan yang rumit ini, sistem kekerabatan lokal, akan bervariasi antar bahasa. Analisis potensi jagung dari sistem kekerabatan berusaha untuk mengidentifikasi blok bangunan mendasar yang menyusunnya, mis. Untuk mengidentifikasi mengapa ‘busa’ Watam utan termasuk saudara laki-laki ayah, tapi ayah Inggris tidak, memiliki istilah terpisah untuk keluarga ini. Kerja Lounsbury membuat klaim kuat untuk basis biologis universal dari sistem kekerabatan dengan mengurangi istilah mereka sebagian besar ke inti universal dan gagasan berbasis biologis keluarga inti. Dia melakukan ini dengan serangkaian peraturan pengurangan yang menyamakan kerabat jauh yang secara genealogis (dan secara biologis) lebih dekat dan pada akhirnya adalah keluarga inti. Dia berpendapat bahwa kendala universal semacam itu bahkan berlaku dalam sistem yang mendatangkan malapetaka berdasarkan silsilah melalui penggabungan molo-gical antara keluarga dari generasi yang beragam. Sejauh ini bisa dibuktikan, kasus yang kuat telah dipasang untuk universalitas biologis dalam sistem kekerabatan. Kritik relativisme menentang kesimpulan ini, namun dihadapkan pada fakta yang tak terhindarkan dari jumlah sistem kekerabatan yang didefinisikan dengan cukup baik yang ditemukan dalam bahasa dunia, sebuah fakta yang sangat menyarankan kendala universal yang kuat dalam domain ini.

#kekerabatan

#antropologi

#anthropology

Konsep Kognitif Antropologi

Antropologi kognitif adalah sekolah strukturalis Amerika yang berkembang dari karya Boasian sebelumnya dalam antropologi linguistik. Ini berpendapat bahwa budaya harus dikurangi menjadi kognisi dan tertarik pada representasi mental praktik budaya, dan bukan perilaku itu sendiri, posisi Platonis yang jelas. Berbagai prosedur analitis dan sistem representasi yang diambil dari linguistik struktural atau psikologi kognitif, seperti analisis komparatif, taksonomi dan skrip, digunakan untuk mewakili secara eksplisit kognitif organisasi fenomena budaya ini. Pada periode sebelumnya, antropologi kognitif menunjukkan kecenderungan relativis, namun akhirnya menjadi rasionalis dan universalis sepenuhnya. Ini jelas digambarkan dalam deskripsi Berlin dan lain-lain tentang sistem klasifikasi etnobiologis. Semua sistem klasifikasi etnobiologis disusun dengan cara yang sama, taksonomi dangkal tidak lebih dari enam barisan yang saling eksklusif. Selanjutnya, Berlin mengklaim bahwa klasifikasi ini ditentukan oleh kemampuan perseptual dan kognitif universal, tanpa mediasi praktik budaya. Orang lain telah melacak dasar klasifikasi universal yang bersifat putatif ini terhadap “sifat tersembunyi” yang dipahami secara universal oleh semua kognitif manusia, sementara beberapa bhawa menantang klaim universalis yang kuat untuk basis klasifikasi etnobiologis dan berpendapat bahwa praktik budaya memang memiliki peran dalam pembingkaian mereka. Bidang-bidang lain di mana penelitian antropologi kognitif telah produktif adalah part partikies, hubungan bagian-bagian hingga keseluruhan dan penerapan gagasan kecerdasan buatan skrip sebagai cara untuk menggambarkan praktik budaya.

#antropologi

#anthropolgy

 

Kebudayaan Sebagai Sumber Pengetahuan

Kebudayaan dipandang sebagai pengetahuan karena segala aktivitas public melibatkan proses berpikir dan kemampuan untuk berinteraksi sosial (Geertz, 1973: 76 dan 1973: 83).  Untuk memahami suatu budaya kita dapat melihat perbedaan-perbedaan yang dapat diinterpretasikan dengan pola yang berbeda-beda (Becker, 1995). Pengetahuan menjadi alat budaya yang memperlihatkan intelektualitas kita. Pengetahuan menjadi representasi mental orang yang mengaplikasikannya yang menuntut adanya keseimbangan antara isi pikiran dan isi hati. Masalah antropologi pengetahuan bagaimana praktek budaya lokal  menjadi representasi mental didalam pikiran individu yang keluar menjadi pikiran public. Teori budaya harus menjelaskan cara kita berbicara tentang budaya suatu kelompok tertentu dan proses apa yang terjadi didalam budaya tersebut (Goodenough, 1981:54).

Hal-hal yang menbedakan kebudayaan adalah perbedaan prinsip logis dalam berpikir. Saat ini yang menjadi fokus perhatian adalah model budaya tentang hubungan kekerabatan (kinship) karena hubungan kekerabatan dianggap sebagai jaringan perilaku budaya. Anak-anak yang bersosialisasi didalam lingkungan kelas pekerja (working class children) cenderung memiliki hubungan yang sangat dekat dengan tetangga dan teman-teman di sekolah. Disatu sisi, mereka hanya memiliki pilihan hidup mereka yang cenderung untuk meneruskan pekerjaan dari orang tuanya. akan tetapi disisi lain, mereka akan belajar dan bekerja keras karena budaya bekerja di lingkungan keluarganya terbawa di sekolah. (Willi, 1977). Berikut ini adalah contoh dari budaya yang muncul dari hubungan kekerabatan (kinship) dengan capaian interaksi sosialnya:

Berikut ini faktor-faktor pengaruh interaksi didalam keluarga yang mempengaruhi terbentuknya budaya dalam berinteraksi dengan orang lain yang disesuaikan dengan budaya Jawa

  1. Pengetahuan keluarga tentang citra diri dan citra orang lain

Setiap keluarga mempunyai peranan penting untuk memberikan pengajaran tentang gambaran-gambaran tertentu mengenai dirinya, statusnya, kelebihan dan kekurangannya didalam keluarga. Gambaran itulah yang menentukan apa dan bagaimana orang tua mendidik dalam hal tata cara berbicara, bagaimana berpikir untuk menjaring apa yang dilihatnya, didengarnya, dan bagaimana penilaiannya terhadap segala yang berlangsung disekitarnya. Dengan kata lain, citra diri menentukan ekspresi dan persepsi orang. Tidak hanya citra diri, citra orang lain juga mempengaruhi cara dan kemampuan orang berinterakasi. Orang lain mempunyai gambaran  khas bagi dirinya. Jika seorang ayah mencitrakan anaknya sebagai manusia yang lemah, ingusan, tak tahu apa-apa, harus di atur, maka ia berbicara secara otoriter. Akhirnya, citra diri dan citra orang lain harus saling berkaitan, saling lengkap-melengkapai. Perpaduan kedua citra itu menentukan gaya dan cara komunikasi. Disini dapat disimpulkan keluarga adalah pembentuk budaya dalam mewujudkan citra diri, gaya, dan cara berkomunikasi.

Berikut ini contoh dari ajaran tentang citra diri dalam keluarga Jawa tentang citra diri:  ngundhuh wohing pakarti (menuai buah pekerti) yang bermakna setiap orang akan mendapatkan akibat dari perilakunya sendiri

#kebudayaan

#budaya

#antropologi

Makna dan Praktek Kehidupan, Simbol Antropologi

Domain kebudayaan disini adalah praktek budaya dalam seni dan ritual yang mencerminkan karakteristik individu (Silverstein, 1979 & 1981). Contoh dari makna dalam praktek kehidupan sebagai symbol antropologi adalah kehidupan dalam memahami bahasa yang valid, nyata, benar, dan bagus bagi dunia yang tidak boleh dirusak atau digantikan. Indonesia kaya akan symbol antropologi budaya dan bahasa. Kebudayaan dan bahasa membentuk sebuah prinsip yang mengikat setiap individu untuk melakukannya Levi-Strauss (1966). Bahasa dapat memberikan contoh refleksi budaya dan cara mereka berbagi ide dan pola pikir (Goodenough, 1970, 1981, 1964).

Bahasa merupakan perwujudan budaya masyarakat tergambar pada pepatah Jawa ajining diri dumuning ana ing lathi. Berbicara dengan bahasa yang sopan, dengan kata yang manis, dengan suara yang halus akan membuat simpatik. Dalam bahasa menunjukkan jati diri seseorang terungkap. Orang yang santun, santun pula bahasanya. Bahasa Jawa mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai kemanusiaan antara lain andap asor (rendah hati), empan papan, saling menghormati, pengakuan akan keberagaman, aja dumeh dan tepo seliro. Kesantunan dalam berbahasa Jawa didominasi oleh rasa, oleh karena itu kita sering mendengar orang Jawa mengatakan nek tak rasakake, menawi kula manih, saking manah kula. Ini menunjukkan orang Jawa didalam mengambil keputusan tidak hanya berdasarka logika tetapi rasa dan pikir atau nalar terjadi secara otomatis

Berikut ini adalah contoh-contoh prinsip atau norma didalam kebudayaan Jawa

  • Contoh ngoko lugu yang menunjukkan situasi tidak resmi, status sosial yang sama, berbicara dengan orang asing:

Sapa sing methuk tamu ana ing stasiun Gubeng?

Aku arep menyang pasar

Adhiku arep ditukokake wedhus

  • Contoh ngoko andhap antya basa yang menunjukkan situasi dimana penutur lebih tua daripada mitra tutur, antar priyayi yang sudah kenal dan akrab (kowe diganti seliramu):

Apa wingi seliramu (Kangmas) sido tindak menyang Ngayogya?

Wulan Nopember iki seliramu (Mbakyu) tak aturi rawuh ing kongres Basa Jawa ing Surabaya.

Adhiku arep dipundhutke menda ta pak

  • Contoh ngoko andhap basa antya yang menunjukkan situasi yang akrab dan saling menghormati.

Jare mirsani kethoprak, saiki tindak menyang endi?

Mau esuk tindak kantor, sore iki ngrawuhi pepanggihan ana ing RT

Adhik arep dipundhutke menda to pak

  • Contoh madya ngoko yang menunjukkan situasi akrab, tidak resmi, dan santai antara sesama teman, atasan kepada bawahan (kowe diganti “ndiko”):

Ndiko wayah ngeten kok lungo teng pasar

Kulo ajeng mantuk riyin

  • Contoh Madyatara yang dipakai oleh penutur kepada yang lebih muda atau memiliki derajat yang lebih rendah (kowe diganti kang sliro atau sampeyan):

Sampeyan (kang sliro) napa duwe perlu wigati kok gita-gita?

Kang sliro saiki nyambut gawe ana ngendi?

  • Contoh Madya krama yang dipergunakan untuk menghormati orang lain, tetapi sifatnya sementara dalam suasana yang akrab (tidak ada kosa kata goko kecuali akhiran –e dan –ake dan menggunakan sebutan ‘sampeyan

Wanci ngeten kok sampun kondur, napa empun rampung pandamelan sampeyan?

  • Contoh Basa Krama-Muda Krama yang dipergunakan oleh orng muda kepada orang tua, murid kepada guru, antar teman yang belum akrab. Bentuknya ialah krama, kosa kata krama inggil, kowe diganti dengan panjenengan, awalan dan akhiran krama.

Lho kok, kang Mas, panjenengan punapa saestu tindak dhateng rapat nitihsepeda motor punapan becak?

  • Contoh Basa Krama Kramantara yang dipergunakan dalam pembicaraan antar sesama tetapi si penutur tingkat status sosialnya lebih tinggi dan bukan di tempat umum. Bentuk tuturannya adalah krama. Kata ganti orang kedua ‘kowe’ menjadi ‘sampeyan’.

Sampeyan punapa sampun mlebet dados anggotanipun partai politik, partai punapa?

  • Contoh Basa Krama Wredakrama dipakai dalam pembicaraan oleh orang yang lebih tua kepada mitra bicara yang lebih muda. Betuk tuturannya ialah krama untuk awalan dan akhiran ngoko.

Kados pundi nak, rembag bab kemajenganipun nagari ing parlemen?

  • Contoh Basa Krama Inggil yang dipergunakan oleh orang yang tinggi status sosialnya karena asal usulnya dan jabatannya dimana mitra tutur usianya lebih tua. Krama inggil digunakan untuk menunjukkan rasa hormat.

Nyuwun duka Gusti, kala wingi dalem mboten saged dherekaken tindak dalem, awit anakipun dalem saweg sakit sanget.

  • Contoh Krama Desa yang dipergunakan oleh orang desa yang tidak memahami system tingkat tutur atau kaidah bahasa krama. Kosa kata dijadikan krama karena ingin menunjukkan rasa hormat kepada orang yang diajak bicara misalnya Gunung Kidul menjadi Redi Kidul, Boyo lali menjadi Boyo kesupen, sawahan menjadi sabenan.

Sampeyan punapa kersa mundhut sawo kagungan kula piyambak?

Kula badhe tindak dating sabinan methuk simbah

Punapa panjenengan saking Medunten?

  • Basa Kedaton atau Basa Bagongan adalah bahasa khusus yang dipaki oleh anggota kerajaan dan para pembantu (abdi dalem) bila ada pertemuan dengan raja atau melakukan percakapan di lingkungan kerajaan. Kata-kata yang termasuk bahasa kedaton adalah manise (aku), pukulun atau jengandiko (kowe), enggeh, punapi, boya (ora), seto (doyan), darbe (duwe), besaos (bae).

Pakenira mekaten ampun boya kekirangan punapa-punapi, bebasan kantun dhahar lan tilem besaos

 Basa Kasar adalah bahasa yang dipergunakan oleh penutur untuk merendahkan orang lain karena marah atau emosional

Yen kowe ora jegos, wis minggato kono

Antropologi Linguistik Untuk Menegaskan Psikis Manusia

Dalam prakteknya, hal ini utamanya melibatkan persatuan fundamental dalam fungsi mental semua manusia. Tapi bahkan sepintas lalu sekilas di dunia mengungkapkan bukan kesatuan, tapi keragaman, di semua tingkat perilaku budaya, sosial, dan bahasa manusia. Kontradiksi yang nyata ini telah dipecahkan dengan menerapkan perbedaan mendasar antara penampilan dan kenyataan, di balik keanekaragaman permukaan yang nyata terdapat kesatuan yang lebih dalam dan lebih nyata, dari mana keragaman permukaan yang dihasilkan, pada akhirnya, diharapkan, secara eksplisit dapat dilakukan.

Pandangan ini tidak berarti jika tidak bernilai dan tradisional, kembali ke Plato dan tercermin dalam perumpamaan gua yang terkenal dalam karya terkenalnya, The Republic. Sekelompok orang digambarkan menghabiskan seluruh hidup mereka di sebuah gua. Rantai membelenggu mereka sehingga mereka hanya bisa melihat dinding belakang gua. Api di belakang mereka menyebabkan bayang-bayang dilemparkan ke dinding, inilah yang bisa mereka lihat dari benda-benda di belakang mereka. Bagi Plato, perumpamaan ini merangkum sifat pemahaman manusia. Di luar perubahan dan keragaman hal-hal yang masuk akal di dunia ini merupakan bidang abadi dari bentuk dan gagasan yang murni dan lengkap. Pertimbangkan salah satu contoh Plato; Pengertian tentang persamaan. Tidak ada dua tongkat yang sama persisnya: dan bagaimanapun juga, tidak ada pengukuran yang bisa cukup akurat untuk menunjukkan hal ini secara meyakinkan. Gagasan tentang persamaan ada di luar manifestasi fisiknya di dunia material. Hal ini ada di dunia lain, gagasan, yang sempurna, murni, dan abadi muncul hanya untuk pikiran itu sendiri. Pengetahuan tentang gagasan ini adalah satu-satunya jenis pengetahuan sejati; Hanya yang abadi yang bisa diketahui, segala sesuatu yang lain tidak sempurna, kontingen. Akhirnya, gagasannya adalah penjelasan tentang dunia yang masuk akal. Apapun realitas yang ada di dunia material berasal dari gagasan di baliknya; Kursi bahan tertentu, misalnya, mendapat kenyataan sebagai kursi dari gagasan “kursi” di luar semua manifestasinya yang spesifik di dunia material.

Pandangan Plato memiliki pengaruh besar dalam sejarah pemikiran Barat dan dengan kedok modern, mereka terus melakukannya hari ini. Mereka biasanya diartikulasikan hari ini dalam bentuk modern yang diberikan oleh pemikir rasionalis abad ketujuh belas, seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Doktrin dasar rasionalisme adalah bahwa pengetahuan tentang dunia dapat dicapai dengan penalaran murni, tanpa daya tarik yang diperlukan untuk pengalaman dunia material. Hal ini dilakukan oleh anugerah bawaan dalam pikiran manusia dari kecakapan akal. Kecakapan akal mengandung konsep bawaan seperti substansi atau sebab-akibat, bukan berasal dari pengalaman, tetapi melalui apa yang kita pahami dari pengalaman tersebut. Karena ini adalah bawaan, manusia pada dasarnya diberikan bentuk yang sama, yaitu mereka universal. Dalam sebuah kerangka rasionalis, bawaan inilah alasan universal yang menarik perhatian, bukan perubahan yang terus menerus dari pengalaman yang masuk akal.

#plato

#descartes

#antropology

#linguistics

Makna Sebagai Enaksi pada Linguistik Antropologi

Makna enaksi adalah proses memberlakukan suatu makna baru dengan cara melihat hubungan erat antara yang diterangkan (bagian inti) dengan yang menerangkan (bukan inti). Pendekatan enaktif terhadap makna dan pengetahuan digagas oleh Maturana dan Varela (1987) dan Varela, Thompson, dan Rosch (1991). Beberapa contoh dari makna enaksi adalah:1) debat politik, debat politik memiliki makna enaksi berupa kekuatan (power) dari partisipannya didalam menyampaikan maksudnya bukan apa yang  dijelaskan (Duranti (1988b). Jadi bisa dikatakan makna enaksi dari debat politik adalah menunjukkan kekuatan ideology dari partipan (debat politik ⇒ makna enaksi: kekuatan ideology); 2) penerapan genre, misalnya penggunaan kata ‘pada jaman dahulu’ atau ‘ndek biyen’ cenderung merupakan tanda yang akan dibicarakan adalah cerita rakyat atau dongeng atau legenda.

Didalam pendekatan enaktif terdapat beberapa prinsip antara lain: 1) setiap orang memiliki domain kognitif, yaitu pengetahuan awal yang dimiliki yang berasal dari pengalaman pribadi masing-masing, 2) proses pemahaman tentang informasi merupakan kemampuan dalam memproses informasi yang berasal dari system saraf pusat (central nervous system), 3) kognisi adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi di lingkungan sekitar sebagai control dalam bertindak meskipun pemahaman tersebut bersifat abstrak, 4) representasi kehidupan didunia yang tergantung pada sebanyak apa yang sudah dilakukan terhadap lingkungan fisik. Hal ini sangat tergantung pada masing-masing perspektif, kemampuan, dan niat didalam memahami lingkungannya, 5) pengalaman bukanlah pengetahuan yang didapatkan setelah dilahirkan, tetapi bermula dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Pengalaman memiliki peran yang sangat besar dalam pemahaman kognisi dan pikiran.

Enaktif kognisi adalah interaksi adaptif terhadap lingkungan  yang menunjukkan pola pikir kita yang ada di kepala kemudian terekspresikan pada perilaku. Enaktif kognisi diilustrasikan seperti tindakan berjabat tangan. Kita tidak bisa melakukan proses ‘berjabat tangan’ sendirian, kita membutuhkan partner dan tentu saja itu sengaja dilakukan. Kita tidak pernah berjabat tangan secara tidak sengaja. Saat kita berjabat tangan, kita dapat mengetahui secara kognisi: seberapa erat kita berjabat tangan, berapa lama dalam berjabat tangan, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita memiliki rasa percaya diri atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita tampak ramah atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita menunjukkan ketulusan atau tidak. Disitulah letak dari enaktif kognisi yang bisa kita pahami secara abstrak.

#linguistics

#anthropology

#enaksi

#enaktif

Makna Sebagai Representasi Mental

Disini kita membahas makna dari tanda budaya dan penerapan linguistik. Cara orang memandang sesuatu dengan menggunakan fungsi system nervous sebagai jalinan hubungan kedekatan dari perubahan-perubahan didalam relasi kegiatan diantara komponen-komponennya (Maturana dan Vrela, 1987:164). Biasanya makna mental ditunjukkan dalam penggunaan metafora. Yang dicontohkan oleh kedua peneliti tersebut adalah metaphor orang yang sedang berdansa. Saat berdansa, pasangan tersebut masih tetap kontinu merespon lingkungan dan memberlakukan perilaku yang berubah mengikuti berdasarkan perubahan didalam lingkungannya, misalnya mempercepat atau memperlambat gerakan berdasarkan perubahan ritme. Semuanya itu membutuhkan kepekaan terhadap lingkungan dan koordinasi yang baik didalam hubungan tersebut. Perilaku itu merupakan efek dari pentingnya sejarah dari pembentukan kebiasaan di lingkungan sekitar (Gibson, 1979).

Didalam lingkungan Jawa, makna sebagai representasi mental ini sangat tampak, misalnya kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu perhatian di lingkungan sekitar. Berikut ini adalah contoh-contoh kegiatan di masyarakat Jawa yang menunjukkan makna ‘peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungannya’ yang sering kita sebut dengan kearifan lokal. Contoh-contoh tentang kepedulian masyarakat Jawa terhadap lingkungan dan sesama saya ambil dari sebuah blog: jejakjejakhijau.blogspot.co.id/2012/ sebagai berikut:

  1. Pranoto Mongso

Perhatian petani terhadap lingkungan terutama untuk bercocok tanam dengan mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya, tidak boleh rakus dengan memanfaatkan alam secara terus menerus tanpa memperhitungkan kesuburannya)

  1. Nyabuk gunung

Cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Bentuk bercocok tanam seperti ini mencegah terjadinya longsor. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya)

  1. tong royongIstilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasehat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang peduli terhadap sesama dan lingkungan).Didalam masyarakat Jawa ada beberapa sifat mental yang bisa dilihat atau diamati.
    1. Pemalu, sungkan tapi suka menyapa

    Orang Jawa suka senyum senyum dan mengangguk ketika berpapasan. Mereka suka menyapa namun biasanya jarang berani memulai percakapan.

    1. Pandai menjaga etika dan sopan santun

    Orang Jawa itu sopan, baik terhadap orang yang lebih tua ataupun terhadap sesama, mereka juga pandai menjaga etika ketika berbaur dalam lingkungan bermasyarakat. Merundukkan badan ketika berjalan didepan orang yang lebih tua sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan, tata krama, dan sopan santun. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai dan dapat menempatkan posisi dirinya.

    1. Orang Jawa itu pekerja keras dan penurut

    Bila ditinjau dalam lingkup perusahaan, orang Jawa adalah pekerja terbaik. Mereka mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan, tak pernah mengeluh, dan berdedikasi tinggi terhadap apa yang dibebankan padanya.

    Orang Jawa menganut filosofi hidup mengalir seperti air dengan menjalani kehidupan seolah tanpa beban dan tanggungan. Yang penting adalah bisa makan, ibadah, dan menghidupi keluarga.

    Sikap orang Jawa adalah sikapnya yang menerima apa adanya terutama dalam hal hubungan. Mereka menerima keadaan apapun dari pasangannya.

    Didalam keluarga, orang Jawa adalah orang-orang yangsuka mengalah.

    Wong Jowo kuwi gampang ditekak-tekuk. Orang Jawa mudah berbaur dengan orang-orang dari suku lain walaupun mereka agak pemalu dan sungkan. Kesopanan dan keramahan orang Jawa membuat orang-orang senang bergaul dengan mereka.

    Bahasa Jawa memiliki strata bahasa halus, sedang, dan kasar. Orang orang Jawa terutama yang berasal dari daerah Yogyakarta, Solo, dan Semarang dikenal dengan kehalusan dan kelembutan bicaranya.

    Banyak sekali tradisi-tradisi yang berawal dari leluhur jawa yang masih lestari dan dilakukan sampai sekarang. Beberapa tradisi tersebut merupakan symbol-simbol dari suau peristiwa penting di masa lalu atau bentuk rasa syukur yang dibingkai dalam sebuah acara.

    Kebiasaan masyarakat untuk menyantap makanan dengan menggunakan tangan dirasa lebih nikmat.

    Hidup mengalir seperti air Menerima apa adanya Suka mengalah, kalem, dan menghindari konflik Gaya dan nada bicaranya sopan Orang Jawa itu luwes Mempertahankan tradisi dan budaya Muluk/puluk

#antropologi

#anthropology

#javanese

#jawa

#linguistics

#linguistik

#orangjawa

Makna Alam dalam Linguistik Antropologi

Konsep makna disini adalah pemahaman terhadap suatu tanda yang identik dengan kata ‘berarti’ atau didalam bahasa Inggris menggunakan verba “mean” dan didalam bahasa Jawa menggunakan istilah “tegese” seperti contoh dibawah ini (bahasa Inggris dan bahasa Jawa):

  1. Those clouds mean rain; mendung tegese arep udan
  2. Red means stop; abang tegese kudu mandek
  3. I didn’t mean what I said; duduk iku karepku
  4. I didn’t mean to say it. It just slipped out; aku ora karep ngomong kuwi, keprucut.

Untuk memahami tanda itu merupakan hal yang sudah umum dan dipahami oleh kelompok sosial. Tidak hanya berupa tanda, tetapi untuk ucapan juga perlu dimaknai dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan makna. Terdapat beberapa tanda verba tertentu yang mengindikasikan maksud tertentu.

Terdapat beberapa verba yang memiliki makna proses material yaitu makna melakukan sesuatu dan makna kejadian. Jika ada orang yang menggunanakan verba ini maka dapat diartikan bahwa orang tersebut telah melakukan suatu kegiatan. Beberapa verba yang bermakna proses material misalnya membuat, mengembangkan, mendisain, mengirim, memetik, menendang, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contohnya didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika sosial (Santosa, 2003: 79-80 tanpa modifikasi):

My father went to work

They gave a book to me

They play tennis

The house was built for her by him

 Tono berlari

Ayah membuat mainan untuk adik

Tono menyanyikan sebuah lagu

Surat itu dikirim oleh dia

Bapak lan ibu lagi dhahar

Ibu masak sego

Dewekne lagi munggah gunung

Sayure dimasak kanggo Tono

Verba selanjutnya yaitu verba yang menunjukkan proses mental. Proses mental adalah proses berpikir, mengindera, dan merasa. Didalam bahasa Inggris, proses mental bekerja secara dua arah tetapi didalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak demikian. Berikut ini contoh-contoh dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika (Santosa, 2003: 81 tanpa modifikasi)

He likes it. It pleases him

They believe him. He convinces him

Mereka mempercayainya tidak pernah *ia mempercayakan mereka

Deweke seneng Marni tidak pernah *Marni nyenengke deweke

Berikutnya adalah verba yang menunjukkan proses verbal. Proses ini adalah proses berkata murni, tidak ada unsure perilakunya. Kata kerja dalam proses verbal adalah say, ask, tell, berkata, bertanya, ngomong, takon. Berikut ini adalah contoh-contoh didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa

They said that it was good

Ayah menanyakan itu kepada Ibu

Bocah kuwi kanda ngono kuwi marang aku

Proses selanjutnya adalah proses perilaku verbal yaitu proses perilaku yang menggunakan verbal didalam melakukan tindakan, misalnya menyarankan, mengklaim, mendiskusikan, menjelaskan. Berikut ini contoh-contoh dari proses perilaku verbal yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa (Santosa, 2003 tanpa modifikasi):

The government claimed it’s the right thing to do

Bapak menyarankan seperti itu kepadaku

Masane ngundhat-undhat bantuan pemerintah sing sethithik

Sedangkan untuk proses perilaku mental lebih merupakan gabungan antara proses mental dan materi. Verba yang masuk dalam proses ini adalah menyelidiki, mempelajari, mengecek, meneliti, mengabdi, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa,

The police are investigating the case

Mereka sudah meneliti daerahnya

Bapak lagi ngecek knalpote sing rusak

Proses yang lainnya adalah proses relasional. Proses ini adalah proses yang menghubungkan antara partisipan yang satu dengan partisipan yang lain. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

They are very angry

It matters

John is the actor

Rumah itu sangat mewah

Ayah menjadi marah

Kasus itu menunjukkan kerapuhannya

Bapake ing omah

Ibu dadi wedi marang kowe

Kasus kuwi ngandharake yen dheweke asor

Proses yang terakhir yaitu proses eksistensial. Proses ini menunjukkan adanya sesuatu. Didalam bahasa Inggris ditunjukkan melalui subjek gramatikal there is/there are/exist. Didalam bahasa Indonesia dimulai dengan kata ada atau terdapat atau muncul. Didalam bahasa Jawa ditunjukkan dengan struktur klausa yang dimulai dengan ana.

There are some students in the class

Ebola existed in Ethiopia

Ada masalah penting di instansi kita

Penyerangan itu muncul didaerah selatan

Ana telung perkara ing kantor kuwi

Penyakite ana ing geger

Tanda itu juga muncul hanya berupa gerak tubuh seperti pada saat orang mengangguk maka itu merupakan pertanda bahwa ia setuju, ia paham, atau ia mengetahui tentang sesuatu. Ini disebut sebagai representasi mental (mental representation) atau cermin alam (mirror of nature) yang menjadi pokok penerapan tanda pada domain bahasa dan budaya.

 #linguistik

#linguistics

#antropologi

#anthropology

Makna Pengetahuan dan Domain Linguistik Antropologi

Linguistik antropologi merupakan sub bidang linguistik yang berhubungan konteks bahasa didalam ranah sosial dan budaya yang sangat berperan dalam praktek budaya dan struktur sosial di masyarakat. Linguistik antropologi memandang bahasa sebagai inti konsep antropologi, kebudayaan. Linguistik antropologi melihat makna dibalik kegunaan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan informasi, kesalahan dalam penggunaan bahasa, bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, register dan gaya bahasa. Hal itu dilakukan untuk mengupas bahasa secara detail untuk menemukan pemahaman bahasa.

Sosiolinguistik merupakan hal yang berbeda dengan linguistik antropologi. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sebuah institusi sosial yang didalamnya mengurai tentang interaksi  sosial untuk menemukan bagaimana pola-pola linguistik yang ada pada kelompok sosial tertentu dan mengkorelasikan perbedaan-perbedaan perilaku linguistik dengan variable variable seperti usia, jenis kelamin, kelas, ras, dan sebagainya. Perilaku linguistik bisa dilihat dengan cara melihat cara pengucapan (pronunciation) mereka didalam suatu kelompok tertentu. Perbedaan pengucapan sangat terlihat didalam bahasa Inggris akan tetapi hal itu tidak ditemukan didalam bahasa Jawa hal itu tidak ada, akan tetapi didalam bahasa Jawa terdapat kelas kata untuk menunjukkan perbedaan. Berikut ini contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa dan di bahasa Inggris:

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Inggris: running diucapkan /rʌnɪŋ/ atau /rʌnɪn/. Analisis perilaku bahasanya adalah:

penutur kelompok pria cenderung menggunakan pengucapan /rʌnɪn/; sedangkan penutur kelompok wanita menggunakan pengucapan /rʌnɪŋ/.

Penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪn/ biasanya tergolong pada kelompok bawah yaitu para pekerja, bawahan, buruh, pegawai (lower class background) sedangkan penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪŋ/ biasanya tergolong pada

  • kelompok menengah ke atas (middle and upper class background). Hal ini termasuk dalam kajian semiotik.

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa:

  • Penggunaan bahasa ngoko yang digunakan oleh orang dengan usia yang sama, orang yang memiliki hubungan yang dekat atau akrab, orang yang berusia lebih tua kepada orang yang berusia lebih muda, atasan kepada bawahannya, misalnya: bener yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama madya yang digunakan oleh murid kepada guru, orang yang usinya lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, anak kepada orang tuanya, pegawai atau pembantu kepada majikannya, misalnya: leres yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama inggil adalah bahasa yang tingkatannya paling santun karena disini terdapat prinsip merendahkan hati dan meninggikan posisi orang lain, misalnya: kasinggihan yang berarti benar.

Perilaku linguistik tidak hanya pada bagaimana bahasa itu diucapkan, ternyata juga dari pilihan kata seperti yang ada didalam bahasa Jawa diatas dengan memperhatikan posisi dan maksud. Terkadang apa yang diucapkan memiliki makna yang biasanya sudah dipahami oleh mitra tutur meskipun kalimat tersebut tidak diucapkan secara langsung. Perilaku linguistik tidak terlepas dari tuturan dan konteks serta latar pengetahuan dari penutur dan mitra tutur.

#linguistics

#linguistik

#anthropology

#antropologi

Diri vs Orang Lain

Antropolog, berikut Mauss (1985[1938]), umumnya membuat perbedaan antara gagasan diri dan orang (Fitsgerard 1993, La Fontaine 1985). Diri merujuk pada maksud kesadaran manusia secara universal Dalam perwujudan individu itu sendiri, yang mana orang adalah konsep sosial yang membentuk gagasan lokal hak dan kewajiban seseorang, dan kemudian menjadi antar budaya. Hehr dan Muhlhasler (1990) membuat perbedaan yang mirip, menunjuk kepada pembentuknya sebagai “identitas numerik” dan yang terakhir sebagai “identitas kualitatif”. Hal ini diutarakan dalam istilah tesis sebuah Lokasi ganda dalam diri (Harre dan Muhlhasler (1990: 88)):

          Kita memahami bahwa kita memiliki lokasi yang menjadi perwujudan material lingkungan fisik sementara yang terus-menerus (pemikiran antropologi “diri”). Tapi kita juga memahami saat itu bahwa kurang lebih telah jelas diungkapkan lokasi hak dan kewajiban orang lain dalam lingkungan sosial yang memperoleh tanggungjawab tertentu saat itu (pemikiran antropologi “orang”).

Tesis ini berakibat: terhadap Indeksikalitas Ganda kata ganti “saya”. Kata ganti ini menunjuk kedua gagasan lokasi; jadi pemberi ungkapan menampilkan dirinya ketika memiliki lokasi yang berkaitan dalam hal waktu dan lokasi, juga tanggungjawab sosial tertentu. Diungkapkan dengan jelas adanya perbedaan yang mencolok antara diri dengan orang mungkin sulit dipertahankan. Pertama, tidak jelas bagaimana karakteristik yang diduga pada individu terwujud dalam diri, seperti baik atau jahat, menjadi sangat penting untuk dibicarakan, kecuali pada istilah hubungan sosial antara dua orang (lihat Gergen (1994)). Rosaldo (1984) berpendapat bahwa Ilongot tidak memiliki ideologi tentang perbedaan yang mencolok antara privasi diri individu dan penampilan sosial orang di depan publik. Ia menegaskan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan diri Ilongot adalah hasil aktivitas sosial publik, disadari melalui interaksi antara 2 orang, menyarankan pengaburan kontras yang bersifat universal, antara diri individu dan pribadi sosial. Ilongot menyatakan bahwa biasanya tidak ada gap antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan seseorang. Sebagai masyarakat egaliter, individu tidak memiliki pengalaman yang kuat dalam ketidakleluasaan sosial, yang mana akan memperkuat batas antara orang, diri individu yang terikat, hak dan tanggungjawab sosial pribadi: “tidak ada dasar masalah sosial atau pengalaman individu yang dianggap perlu kontrol, ketika memiliki batasan untuk melindungi atau menjaga gerakan dan keinginan, yang harus dicek apakah mereka mempertahankan statusnya atau terikat dalam kerjasama setiap hari” (Rosaldo 1984:148).

Kesulitan lebih lanjut dalam menegakkan perbedaan yang mencolok antara diri dan orang bergantung pada masalah yang besar akan jelas diselesaikan oleh kesadaran mental perwujudan individu, yang merupakan gagasan paling dasar atas diri. Kesadaran adalah hal yang sangat khas, karena itu bersifat menyebar, tidak terikat dan tidak pula stabil. Sebagian terbesar terlihat sebagai konstruksi linguistik, lokasi tubuh melalui penggunaan I dalam pertemuan berbagai pola pengulangan dalam proses structural coupling yang terikat didalamnya, dan lebih jauh lagi, laporan melalui deskripsi linguistik pada proses structural coupling yang terikat dengan kita (untuk pemikiran sebelumnya lihat Mead (1934)).

Mead (1934). Diri adalah organisme yang tindakannya dilambangkan menggunakan Saya. Karya terakhir (Minsky 1986; Varela, Thompson, dan Rosch 1991) dalam arsitektur pikiran menegaskan bahwa pikiran mengandung banyak “agen” kecil, setiap agen memiliki fungsi domain hanya dalam skala kecil. “Agen” ini dapat disusun ke dalam sistem yang lebih besar dalam tugas yang lebih inklusif, masih bisa disusun lagi dalam sistem yang lebih besar dan seterusnya dalam analogi struktur sosial, shingga membentuk The Society of Mind (Minsky 1986). Apa yang dihitung sebagai kumpulan agen dalam satu level menjadi satu “agen” dalam tingkat yang lebih tinggi. Minsky (1986) menggambarkan contoh “agen” dengan membangun menara-menara diluar blok mainan – sebagai Pembangun. Tetapi dalam tingkatan yang lebih rendah, Pembangun tersusun atas “sub-agen” seperti Pemula, Penambah, Penyelesai, dan lain sebagainya , ini juga butuh “sub-agen” lagi yaitu Penemu, Pengangkat, Pemindah, dan seterusnya. Poinnya adalah dimana ini benar-benar merupakan struktur pikiran bisa secara global yang menebarkan kesadaran diri sebagai perwujudan individu? Seperti yang diungkapkan Varela, Thompson, dan Rosch (1991) di bagian kejadian mental dan pembentukannya, contohnya tindakan “agen” dan “sub-agen” yang memiliki koherensi dan integritas melewati batas waktu. Pemahaman kita soal koherensi dan integritas tentunya dalam ingatan kita, utamanya yang disebut Becker (1971:77-9) sebagai “dalam warta berita,”apa yang tetap diulas dalam mata hati kita sebagai pengalam an hidup, khususnya pengalaman yang meningkatkan harga diri, membuat kita merasa baik dan positif dengan diri kita sendiri (dengan kata lain, pengulangan sejarah yang terpilih dalam structural coupling). Tetapi tentunya, pengalaman hidup ini, baik positif maupun negative face hanya terjadi dalam interaksi 2 orang, konfigurasi bersama orang-orang, kembali memaksa dalam kesimpulan bahwa perbedaan yang mencolok antara diri individu dan pribadi sosial tidak dapat dipertahankan (Tetapi lihat Cohen (1994) untuk argumen lawannya. Ia berpendapat bahwa catatan rosaldo tentang Ilongot tak bisa dipertahankan. Seperti Harré dan Muhlhausler, ia menegaskan bahwa kesadaran pribadi individu yang terwujud sebagai sifat universal manusia, untuk berpendapat dan sebaliknya untuk membuat eksotis orang lain dan menolak karakter yang diinginkan diri kita. ia memperhatikan bahwa kejadian sosial apapun yang dilakukan bersama seperti ritual, setiap pastisipan memiliki pemahaman dan interpretasi kejadian yang berbeda, dan ini menunjukkan kesadaran diri. pengalaman individu dalam kejadian publik apapun benar tidak diragukan lagi, untuk menolaknya akan meniadakan pemusatan organisme manusia dan plastisitas luar biasa dalam sistem saraf dalam hal structural coupling. Bagaimanapun, pengalaman individu tidak dibuat oleh diri sendiri, tidak ada bukti sifat terikat universal apapun yang menyokong pengalaman ini.