Hubungan Kekerabatan dalam Antropologi

Kekerabatan telah lama menjadi domain budaya di mana ahli bahasa antropologi berusaha mengidentifikasi hambatan universal, karena praktik budaya yang ingin diberi label oleh label kekerabatan, yaitu perkawinan dan reproduksi, adalah ciri semua masyarakat manusia. Perdebatan tersebut telah membahas seputar apakah universal ini dapat terjadi. Dinyatakan dalam istilah kawin dan reproduksi yang ketat secara biologis tanpa memperhatikan kategori sosial dan akhirnya budaya. Inti kekerabatan telah diidentifikasi sebagai hubungan ibu-anak reproduksi dan hanya hubungan suami-istri pasangan suami-istri. Kekerabatan dibangun di atas rantai hubungan yang kompleks dari kedua jenis hubungan ini, namun label aktual untuk kerabat individu dalam jaringan kekerabatan yang rumit ini, sistem kekerabatan lokal, akan bervariasi antar bahasa. Analisis potensi jagung dari sistem kekerabatan berusaha untuk mengidentifikasi blok bangunan mendasar yang menyusunnya, mis. Untuk mengidentifikasi mengapa ‘busa’ Watam utan termasuk saudara laki-laki ayah, tapi ayah Inggris tidak, memiliki istilah terpisah untuk keluarga ini. Kerja Lounsbury membuat klaim kuat untuk basis biologis universal dari sistem kekerabatan dengan mengurangi istilah mereka sebagian besar ke inti universal dan gagasan berbasis biologis keluarga inti. Dia melakukan ini dengan serangkaian peraturan pengurangan yang menyamakan kerabat jauh yang secara genealogis (dan secara biologis) lebih dekat dan pada akhirnya adalah keluarga inti. Dia berpendapat bahwa kendala universal semacam itu bahkan berlaku dalam sistem yang mendatangkan malapetaka berdasarkan silsilah melalui penggabungan molo-gical antara keluarga dari generasi yang beragam. Sejauh ini bisa dibuktikan, kasus yang kuat telah dipasang untuk universalitas biologis dalam sistem kekerabatan. Kritik relativisme menentang kesimpulan ini, namun dihadapkan pada fakta yang tak terhindarkan dari jumlah sistem kekerabatan yang didefinisikan dengan cukup baik yang ditemukan dalam bahasa dunia, sebuah fakta yang sangat menyarankan kendala universal yang kuat dalam domain ini.

#kekerabatan

#antropologi

#anthropology

Konsep Kognitif Antropologi

Antropologi kognitif adalah sekolah strukturalis Amerika yang berkembang dari karya Boasian sebelumnya dalam antropologi linguistik. Ini berpendapat bahwa budaya harus dikurangi menjadi kognisi dan tertarik pada representasi mental praktik budaya, dan bukan perilaku itu sendiri, posisi Platonis yang jelas. Berbagai prosedur analitis dan sistem representasi yang diambil dari linguistik struktural atau psikologi kognitif, seperti analisis komparatif, taksonomi dan skrip, digunakan untuk mewakili secara eksplisit kognitif organisasi fenomena budaya ini. Pada periode sebelumnya, antropologi kognitif menunjukkan kecenderungan relativis, namun akhirnya menjadi rasionalis dan universalis sepenuhnya. Ini jelas digambarkan dalam deskripsi Berlin dan lain-lain tentang sistem klasifikasi etnobiologis. Semua sistem klasifikasi etnobiologis disusun dengan cara yang sama, taksonomi dangkal tidak lebih dari enam barisan yang saling eksklusif. Selanjutnya, Berlin mengklaim bahwa klasifikasi ini ditentukan oleh kemampuan perseptual dan kognitif universal, tanpa mediasi praktik budaya. Orang lain telah melacak dasar klasifikasi universal yang bersifat putatif ini terhadap “sifat tersembunyi” yang dipahami secara universal oleh semua kognitif manusia, sementara beberapa bhawa menantang klaim universalis yang kuat untuk basis klasifikasi etnobiologis dan berpendapat bahwa praktik budaya memang memiliki peran dalam pembingkaian mereka. Bidang-bidang lain di mana penelitian antropologi kognitif telah produktif adalah part partikies, hubungan bagian-bagian hingga keseluruhan dan penerapan gagasan kecerdasan buatan skrip sebagai cara untuk menggambarkan praktik budaya.

#antropologi

#anthropolgy

 

Makna Sebagai Enaksi pada Linguistik Antropologi

Makna enaksi adalah proses memberlakukan suatu makna baru dengan cara melihat hubungan erat antara yang diterangkan (bagian inti) dengan yang menerangkan (bukan inti). Pendekatan enaktif terhadap makna dan pengetahuan digagas oleh Maturana dan Varela (1987) dan Varela, Thompson, dan Rosch (1991). Beberapa contoh dari makna enaksi adalah:1) debat politik, debat politik memiliki makna enaksi berupa kekuatan (power) dari partisipannya didalam menyampaikan maksudnya bukan apa yang  dijelaskan (Duranti (1988b). Jadi bisa dikatakan makna enaksi dari debat politik adalah menunjukkan kekuatan ideology dari partipan (debat politik ⇒ makna enaksi: kekuatan ideology); 2) penerapan genre, misalnya penggunaan kata ‘pada jaman dahulu’ atau ‘ndek biyen’ cenderung merupakan tanda yang akan dibicarakan adalah cerita rakyat atau dongeng atau legenda.

Didalam pendekatan enaktif terdapat beberapa prinsip antara lain: 1) setiap orang memiliki domain kognitif, yaitu pengetahuan awal yang dimiliki yang berasal dari pengalaman pribadi masing-masing, 2) proses pemahaman tentang informasi merupakan kemampuan dalam memproses informasi yang berasal dari system saraf pusat (central nervous system), 3) kognisi adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi di lingkungan sekitar sebagai control dalam bertindak meskipun pemahaman tersebut bersifat abstrak, 4) representasi kehidupan didunia yang tergantung pada sebanyak apa yang sudah dilakukan terhadap lingkungan fisik. Hal ini sangat tergantung pada masing-masing perspektif, kemampuan, dan niat didalam memahami lingkungannya, 5) pengalaman bukanlah pengetahuan yang didapatkan setelah dilahirkan, tetapi bermula dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Pengalaman memiliki peran yang sangat besar dalam pemahaman kognisi dan pikiran.

Enaktif kognisi adalah interaksi adaptif terhadap lingkungan  yang menunjukkan pola pikir kita yang ada di kepala kemudian terekspresikan pada perilaku. Enaktif kognisi diilustrasikan seperti tindakan berjabat tangan. Kita tidak bisa melakukan proses ‘berjabat tangan’ sendirian, kita membutuhkan partner dan tentu saja itu sengaja dilakukan. Kita tidak pernah berjabat tangan secara tidak sengaja. Saat kita berjabat tangan, kita dapat mengetahui secara kognisi: seberapa erat kita berjabat tangan, berapa lama dalam berjabat tangan, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita memiliki rasa percaya diri atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita tampak ramah atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita menunjukkan ketulusan atau tidak. Disitulah letak dari enaktif kognisi yang bisa kita pahami secara abstrak.

#linguistics

#anthropology

#enaksi

#enaktif

Makna Alam dalam Linguistik Antropologi

Konsep makna disini adalah pemahaman terhadap suatu tanda yang identik dengan kata ‘berarti’ atau didalam bahasa Inggris menggunakan verba “mean” dan didalam bahasa Jawa menggunakan istilah “tegese” seperti contoh dibawah ini (bahasa Inggris dan bahasa Jawa):

  1. Those clouds mean rain; mendung tegese arep udan
  2. Red means stop; abang tegese kudu mandek
  3. I didn’t mean what I said; duduk iku karepku
  4. I didn’t mean to say it. It just slipped out; aku ora karep ngomong kuwi, keprucut.

Untuk memahami tanda itu merupakan hal yang sudah umum dan dipahami oleh kelompok sosial. Tidak hanya berupa tanda, tetapi untuk ucapan juga perlu dimaknai dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan makna. Terdapat beberapa tanda verba tertentu yang mengindikasikan maksud tertentu.

Terdapat beberapa verba yang memiliki makna proses material yaitu makna melakukan sesuatu dan makna kejadian. Jika ada orang yang menggunanakan verba ini maka dapat diartikan bahwa orang tersebut telah melakukan suatu kegiatan. Beberapa verba yang bermakna proses material misalnya membuat, mengembangkan, mendisain, mengirim, memetik, menendang, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contohnya didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika sosial (Santosa, 2003: 79-80 tanpa modifikasi):

My father went to work

They gave a book to me

They play tennis

The house was built for her by him

 Tono berlari

Ayah membuat mainan untuk adik

Tono menyanyikan sebuah lagu

Surat itu dikirim oleh dia

Bapak lan ibu lagi dhahar

Ibu masak sego

Dewekne lagi munggah gunung

Sayure dimasak kanggo Tono

Verba selanjutnya yaitu verba yang menunjukkan proses mental. Proses mental adalah proses berpikir, mengindera, dan merasa. Didalam bahasa Inggris, proses mental bekerja secara dua arah tetapi didalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak demikian. Berikut ini contoh-contoh dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika (Santosa, 2003: 81 tanpa modifikasi)

He likes it. It pleases him

They believe him. He convinces him

Mereka mempercayainya tidak pernah *ia mempercayakan mereka

Deweke seneng Marni tidak pernah *Marni nyenengke deweke

Berikutnya adalah verba yang menunjukkan proses verbal. Proses ini adalah proses berkata murni, tidak ada unsure perilakunya. Kata kerja dalam proses verbal adalah say, ask, tell, berkata, bertanya, ngomong, takon. Berikut ini adalah contoh-contoh didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa

They said that it was good

Ayah menanyakan itu kepada Ibu

Bocah kuwi kanda ngono kuwi marang aku

Proses selanjutnya adalah proses perilaku verbal yaitu proses perilaku yang menggunakan verbal didalam melakukan tindakan, misalnya menyarankan, mengklaim, mendiskusikan, menjelaskan. Berikut ini contoh-contoh dari proses perilaku verbal yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa (Santosa, 2003 tanpa modifikasi):

The government claimed it’s the right thing to do

Bapak menyarankan seperti itu kepadaku

Masane ngundhat-undhat bantuan pemerintah sing sethithik

Sedangkan untuk proses perilaku mental lebih merupakan gabungan antara proses mental dan materi. Verba yang masuk dalam proses ini adalah menyelidiki, mempelajari, mengecek, meneliti, mengabdi, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa,

The police are investigating the case

Mereka sudah meneliti daerahnya

Bapak lagi ngecek knalpote sing rusak

Proses yang lainnya adalah proses relasional. Proses ini adalah proses yang menghubungkan antara partisipan yang satu dengan partisipan yang lain. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

They are very angry

It matters

John is the actor

Rumah itu sangat mewah

Ayah menjadi marah

Kasus itu menunjukkan kerapuhannya

Bapake ing omah

Ibu dadi wedi marang kowe

Kasus kuwi ngandharake yen dheweke asor

Proses yang terakhir yaitu proses eksistensial. Proses ini menunjukkan adanya sesuatu. Didalam bahasa Inggris ditunjukkan melalui subjek gramatikal there is/there are/exist. Didalam bahasa Indonesia dimulai dengan kata ada atau terdapat atau muncul. Didalam bahasa Jawa ditunjukkan dengan struktur klausa yang dimulai dengan ana.

There are some students in the class

Ebola existed in Ethiopia

Ada masalah penting di instansi kita

Penyerangan itu muncul didaerah selatan

Ana telung perkara ing kantor kuwi

Penyakite ana ing geger

Tanda itu juga muncul hanya berupa gerak tubuh seperti pada saat orang mengangguk maka itu merupakan pertanda bahwa ia setuju, ia paham, atau ia mengetahui tentang sesuatu. Ini disebut sebagai representasi mental (mental representation) atau cermin alam (mirror of nature) yang menjadi pokok penerapan tanda pada domain bahasa dan budaya.

 #linguistik

#linguistics

#antropologi

#anthropology

Makna Pengetahuan dan Domain Linguistik Antropologi

Linguistik antropologi merupakan sub bidang linguistik yang berhubungan konteks bahasa didalam ranah sosial dan budaya yang sangat berperan dalam praktek budaya dan struktur sosial di masyarakat. Linguistik antropologi memandang bahasa sebagai inti konsep antropologi, kebudayaan. Linguistik antropologi melihat makna dibalik kegunaan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan informasi, kesalahan dalam penggunaan bahasa, bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, register dan gaya bahasa. Hal itu dilakukan untuk mengupas bahasa secara detail untuk menemukan pemahaman bahasa.

Sosiolinguistik merupakan hal yang berbeda dengan linguistik antropologi. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sebuah institusi sosial yang didalamnya mengurai tentang interaksi  sosial untuk menemukan bagaimana pola-pola linguistik yang ada pada kelompok sosial tertentu dan mengkorelasikan perbedaan-perbedaan perilaku linguistik dengan variable variable seperti usia, jenis kelamin, kelas, ras, dan sebagainya. Perilaku linguistik bisa dilihat dengan cara melihat cara pengucapan (pronunciation) mereka didalam suatu kelompok tertentu. Perbedaan pengucapan sangat terlihat didalam bahasa Inggris akan tetapi hal itu tidak ditemukan didalam bahasa Jawa hal itu tidak ada, akan tetapi didalam bahasa Jawa terdapat kelas kata untuk menunjukkan perbedaan. Berikut ini contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa dan di bahasa Inggris:

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Inggris: running diucapkan /rʌnɪŋ/ atau /rʌnɪn/. Analisis perilaku bahasanya adalah:

penutur kelompok pria cenderung menggunakan pengucapan /rʌnɪn/; sedangkan penutur kelompok wanita menggunakan pengucapan /rʌnɪŋ/.

Penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪn/ biasanya tergolong pada kelompok bawah yaitu para pekerja, bawahan, buruh, pegawai (lower class background) sedangkan penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪŋ/ biasanya tergolong pada

  • kelompok menengah ke atas (middle and upper class background). Hal ini termasuk dalam kajian semiotik.

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa:

  • Penggunaan bahasa ngoko yang digunakan oleh orang dengan usia yang sama, orang yang memiliki hubungan yang dekat atau akrab, orang yang berusia lebih tua kepada orang yang berusia lebih muda, atasan kepada bawahannya, misalnya: bener yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama madya yang digunakan oleh murid kepada guru, orang yang usinya lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, anak kepada orang tuanya, pegawai atau pembantu kepada majikannya, misalnya: leres yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama inggil adalah bahasa yang tingkatannya paling santun karena disini terdapat prinsip merendahkan hati dan meninggikan posisi orang lain, misalnya: kasinggihan yang berarti benar.

Perilaku linguistik tidak hanya pada bagaimana bahasa itu diucapkan, ternyata juga dari pilihan kata seperti yang ada didalam bahasa Jawa diatas dengan memperhatikan posisi dan maksud. Terkadang apa yang diucapkan memiliki makna yang biasanya sudah dipahami oleh mitra tutur meskipun kalimat tersebut tidak diucapkan secara langsung. Perilaku linguistik tidak terlepas dari tuturan dan konteks serta latar pengetahuan dari penutur dan mitra tutur.

#linguistics

#linguistik

#anthropology

#antropologi