Apa Pertanyaan Linguistik Paling Menarik yang Belum Ada Jawabannya?

Linguistik, sebagai studi tentang bahasa, menyimpan banyak misteri dan tantangan yang menarik untuk dijelajahi. Meskipun telah banyak kemajuan dalam memahami struktur, perkembangan, dan penggunaan bahasa, masih ada sejumlah pertanyaan yang belum terjawab. Salah satu pertanyaan yang menarik adalah: “Bagaimana bahasa manusia pertama kali muncul dan berkembang?” Meskipun berbagai teori telah diajukan, asal-usul bahasa masih menjadi subjek perdebatan di kalangan ahli linguistik.

Pertanyaan lain yang menarik adalah tentang hubungan antara bahasa dan otak. Meskipun penelitian telah menunjukkan area tertentu di otak yang terkait dengan pemrosesan bahasa, mekanisme tepat yang memungkinkan manusia untuk memproduksi dan memahami bahasa tetap belum sepenuhnya dipahami. Bagaimana otak manusia memproses berbagai aspek bahasa, seperti tata bahasa, makna, dan konteks, masih menjadi misteri. Ini membuka pintu untuk penelitian lebih lanjut dalam neurolinguistik dan psikologi bahasa.

Selain itu, fenomena multibahasa juga menjadi topik yang menarik. Banyak individu di seluruh dunia berbicara lebih dari satu bahasa, tetapi bagaimana poliglossia mempengaruhi cara kita berpikir dan berkomunikasi masih belum sepenuhnya dipahami. Apakah ada perbedaan kognitif antara penutur tunggal dan penutur multibahasa? Pertanyaan ini dapat membuka wawasan baru tentang hubungan antara bahasa dan pikiran.

Di dunia yang semakin terhubung, pertanyaan tentang bagaimana bahasa berubah dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi juga menjadi sangat relevan. Misalnya, bagaimana media sosial dan komunikasi digital mempengaruhi bahasa sehari-hari? Perubahan dalam kosakata, tata bahasa, dan cara kita berinteraksi secara linguistik di era digital membutuhkan penelitian yang lebih mendalam untuk memahami dampaknya terhadap bahasa masa depan.

Akhirnya, pertanyaan tentang keberagaman bahasa dan kemungkinan hilangnya bahasa juga sangat menarik. Dengan banyaknya bahasa yang terancam punah, apa yang dapat kita lakukan untuk melestarikan bahasa-bahasa ini? Mengapa beberapa bahasa bertahan sementara yang lain lenyap? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya penting untuk studi linguistik, tetapi juga untuk pelestarian budaya dan identitas. Dengan berbagai tantangan dan misteri yang ada, linguistik terus menjadi bidang yang kaya untuk eksplorasi dan penelitian.

#linguistics

#linguistik

Apa Perbedaan Antara Linguistik Dan Psikolinguistik?

Batasannya cukup kabur, tetapi pada dasarnya, linguistik adalah tentang bagaimana menggambarkan bahasa, dialek, dan gaya bicara secara akurat dan terperinci: berbagai jenis suara ucapan, bagaimana kalimat disatukan, jenis makna pengantar yang dimiliki kata-kata, bagaimana pembicara membuat kata-kata baru, perbedaan antara bahasa formal dan informal, perubahan dalam ucapan cepat dan kasual,  hubungan mereka satu sama lain, dan bagaimana mereka berubah selama waktu sejarah dan bahkan pra-sejarah. Linguistik juga memberi kita konsep dan kosakata yang kita butuhkan untuk menggambarkan masalah bahasa secara akurat. Ini juga memungkinkan kita membuat katalog perbedaan dan persamaan antara bahasa atau dialek dengan cara yang tidak membuat (atau menyembunyikan tipis-tipis) penilaian nilai.

Psikolinguistik, sebaliknya, mencoba menemukan bagaimana kita berhasil benar-benar melakukan semua hal yang masuk ke dalam berbicara dan memahami, membaca dan menulis. Bagaimana gelombang suara yang mengenai telinga anda menjadi, dalam waktu kurang dari setengah detik, pemahaman anda tentang apa yang dimaksud orang lain? Bagaimana, dalam mengucapkan kalimat dua detik yang sederhana, anda berhasil menemukan selusin kata yang anda butuhkan untuk mengungkapkan makna anda dari puluhan ribu kata yang tersimpan dalam pikiran anda, menempatkannya dalam urutan yang benar sehingga masuk akal, dan membuat semuanya diucapkan cukup jelas untuk dipahami oleh pendengarmu.  Meskipun untuk melakukan ini lidah dan bibir anda harus melakukan balet rumit yang melibatkan ratusan gerakan individu? Psikolinguistik menggunakan eksperimen dan pengamatan laboratorium yang intens untuk masuk ke dalam pertunjukan bahasa yang sangat cepat dan sangat terampil ini dan untuk mempelajari akumulasi pengalaman yang telah membangun keterampilan bawah sadar selama hidup kita. Ini juga mengintegrasikan temuan neurolinguistik saat ini tentang bagaimana bahasa diingat dan digunakan oleh otak kita.

#psycholinguistics

#psikolinguistiks

#linguistics

#linguistik

Definisi Sementara Forensic Linguistics

Sebelum kita melihat tujuan, sejarah, dan beberapa contoh studi kasus linguistik forensik, mari kita lihat definisi dasarnya:

Linguistik forensik: cabang linguistik terapan yang melibatkan penerapan pengetahuan dan metode linguistik pada masalah hukum dan pidana. Sebagai suatu disiplin ilmu, linguistik forensik melibatkan analisis bahasa lisan dan tulisan untuk mencari bukti yang dapat digunakan dalam suatu kasus hukum.

Jaksa dan pengacara dapat menggunakan linguistik forensik ketika mengumpulkan bukti untuk membantu mereka membuktikan siapa yang tidak bersalah dan siapa yang bersalah berdasarkan penggunaan bahasa yang bersifat khusus (seperti dalam kasus Derek Bentley); Namun, ini bukan satu-satunya penggunaan linguistik forensik. Biasanya, linguistik forensik mencakup tiga bidang studi utama:

Bahasa yang digunakan dalam hukum tertulis (misalnya, semantik di balik hukum tertulis dapat mempengaruhi keputusan seseorang).

Bahasa yang digunakan dalam proses peradilan dan forensik (misalnya, bahasa yang digunakan polisi saat melakukan interogasi, misalnya, apakah mereka menggunakan pertanyaan yang mengarahkan?).

Bukti linguistik (misalnya, membandingkan gaya penulisan bukti yang disajikan dengan gaya penulisan terdakwa). Sekarang mari kita melihat sejarah di balik linguistik forensik sebelum melihat lebih dekat pada masing-masing bidang studi ini.

Sejarah Linguistik Forensik

Sejarah linguistik forensik dapat ditelusuri kembali ke sebuah kasus di Amerika Serikat pada tahun 1927. Sebuah catatan tebusan untuk seorang pria bernama Duncan McLure dari orang asing mengeja nama belakang Duncan dengan cara yang hanya diketahui oleh teman dekat atau kerabatnya. Duncan adalah satu-satunya orang di keluarga yang mengeja namanya McLure, bukan McClure. Kecelakaan linguistik ini mengungkapkan bahwa penulis surat tebusan sebenarnya adalah anggota keluarga Duncan.

Seruan lebih lanjut untuk forensik linguistik dibuat di AS pada pertengahan tahun 1900an karena ambiguitas leksikal dalam peringatan Miranda. Peringatan Miranda di AS mengingatkan Anda akan hak-hak hukum Anda. Petugas polisi di AS sering menyampaikannya kepada Anda setelah mereka menahan Anda selama penyelidikan kriminal. Beberapa kekhawatiran muncul mengenai apakah masyarakat di seluruh negeri benar-benar dapat memahami bahasa yang digunakan dalam peringatan Miranda, dan pada tahun 1966 bahasa tersebut distandarisasi dalam bahasa Inggris. Saat ini, pertanyaan serupa muncul ketika berhadapan dengan orang yang bukan penutur asli bahasa Inggris.

Di Inggris, linguistik forensik mulai populer karena meningkatnya ketidakpercayaan terhadap keaslian pernyataan polisi. Ditemukan bahwa polisi tidak menyampaikan pernyataan tersangka atau saksi secara lengkap atau jujur, dan informasi linguistik yang sekarang kami anggap penting, seperti jeda, penelusuran kembali, dan detail kecil, sering kali hilang.

Pada tahun 1968, ahli bahasa Jan Svartvik pertama kali menggunakan istilah linguistik forensik dalam kapasitas resminya dalam bukunya The Evans Statements: A Case for Forensic Linguistics. Svartvik melakukan analisis linguistik terhadap pernyataan polisi Evan, seorang pria yang dituduh membunuh istri dan anaknya, dan dia menemukan banyak ketidakkonsistenan antara gaya tata bahasa dan daftar pernyataan tersebut dan gaya penulisan Evan yang biasa.

#forensiclinguistics

#linguistics

#forensic

Bahasa Sebagai Tanda dan Kombinasi (part2)

Untuk bahasa Inggris, saya hanya fokus pada infleksional dalam irregular verb. Berdasarkan penafsiran saya setelah melihat perbedaan bunyi pada tiap-tiap vokal di Oxford Dictionary, saya mengelompokkan kata kerja tak beraturan berdasarkan mutasi bunyi vokal yang tampak seperti berikut ini:

  1. Class 1: the vowel /aɪ/ mengalami 8 mutasi bunyi.
  2. /aɪ/ /əʊ/ misalnya: drive /draɪv/ ⇒ drove /drəʊv/

write /raɪt/ ⇒ wrote /rəʊt/

rise /raɪz/ ⇒ rose /rəʊz/

strive /straɪv/ ⇒ strove /strəʊv/

dive /daɪv/ ⇒ dove /dəʊv/

ride /raɪd/ ⇒ rode /rəʊd/

  1. /aɪ/ ⇒ /aʊ/ misalnya: bind /baɪnd/ ⇒ bound /baʊnd/

find /f aɪnd/ ⇒ found /faʊnd/

  1. /aɪ/ ⇒ /ɔː/ misalnya: buy /baɪ/ ⇒ bought /bɔːt/

fight /faɪt/ ⇒ fought /fɔːt/

  1. /aɪ/ ⇒ /uː/ misalnya: fly /flaɪ/ ⇒ flew /flu:/
  2. /aɪ/ ⇒ /ɪ/ misalnya: light /laɪt/ ⇒lit /lɪt/
  3. /aɪ/ ⇒ /eɪ/ misalnya: lie /laɪ/ ⇒ lay /leɪ/
  4. /aɪ/ ⇒ /ʌ/ misalnya: strike /straɪk/ ⇒ struck /strʌk/
  5. /aɪ/ ⇒ /ɒ/ misalnya: shine /ʃaɪn/ ⇒ shone / ʃɒn/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa bunyi /aɪ/ = front open vowel, bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: /əʊ/ = central open mid vowel ; /aʊ/ = back central open vowel; /ɔː/ = back central close mid vowel; /uː/ = back close vowel; /ɪ/ = front close vowel;  /eɪ/ = front close mid vowel; /ʌ/ = open mid vowel; /ɒ/ = back open vowel

  1. Class 2: the vowel // mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. // /əʊ/ misalnya: freeze /friːz/ ⇒ froze /frəʊz/

steal /stiːl/  ⇒ stole /stəʊl/

speak /spiːk/ ⇒ spoke /spəʊk/

  1. // /e/ misalnya: breed /br iːd/ ⇒ bred /bred/

deal /diːl/ ⇒ dealt /delt/

feel /fiːl/ ⇒ felt /felt/

  1. // ⇒ /ɔː/ misalnya: seek /si:k/ ⇒ sought /sɔːt/

teach /ti:tʃ/  ⇒ taught /tɔːt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /iː/ = front close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /əʊ/ = central open mid vowel; 2) /e/ = front open mid vowel; 3)/ɔː/ = back central close mid vowel

  1. Class 3: the vowel/ɪ/ mengalami 5 mutasi bunyi.
  2. / ɪ / ⇒ /æ/ misalnya: forbid /fə’bɪd/ ⇒ forbad /fə’bæd/

ring /rɪŋ/ ⇒ rang /ræŋ/

  1. / ɪ / ⇒ /ʌ/ misalnya: dig /dɪg/ ⇒ dug /dʌg/

sting /stɪŋ/ ⇒ stung /stʌŋ/

  1. / ɪ / / ɪ / misalnya: build /bɪld/ ⇒ built /bɪlt/

slit/slɪt/ ⇒ slit /slɪt/

spill /spɪl/ ⇒ spilt /spɪlt/

  1. / ɪ / ⇒ /eɪ/ misalnya: forgive  /fə’gɪv/ ⇒ forgave /fə’geɪv/
  2. /ɪ / ⇒ /ɔː/ misalnya: think /θɪŋk/ ⇒ thought /θ ɔːt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa / ɪ / = front close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /æ/ = front open vowel; 2) /ʌ/ = open mid vowel; 3) /eɪ/ = front close mid vowel; 4) /ɔː/ = back central close mid vowel; 5) keep the same sound (bunyi yang sama) / ɪ /

  1. Class 4: the vowel/eə / mengalami 1 mutasi bunyi.

          /eə / ⇒ /ɔː/ misalnya:     bear /beə(r)/ ⇒ bore /bɔː(r)/

swear /sweə(r)/ ⇒ swore /swɔː(r)/

tear /teə(r)/ ⇒ tore /tɔː(r)/

wear /weə(r)/ ⇒ wore /wɔː(r)

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /eə / = front open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi:/ɔː/ = back central close mid vowel.

  1. Class 5: the vowel /əʊ/ mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. /əʊ/ ⇒ /uː/ misalnya: know /nəʊ/ ⇒ knew /njuː/

grow /grəʊ/ ⇒ knew /gruː/

throw /θrəʊ/ ⇒ knew /θruː/

  1. /əʊ/ ⇒ /e/ misalnya: hold /həʊld/ ⇒ held /held/
  2. /əʊ/ ⇒ /əʊ/ misalnya: sew /səʊ/ ⇒ sewed /səʊd/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /əʊ/ = central open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1)/uː/ = back close vowel; /e/ = front open mid vowel; keep the same sound (bunyi yang sama) /əʊ/

  1. Class 6: the vowel /æ/ mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. /æ/ ⇒ /ʊ/ misalnya: stand /stænd/ ⇒ stood /stʊd/

understand /ʌndə`stænd/ ⇒ understood /ʌndə` stʊd/

  1. /æ/ ⇒ /æ/ misalnya:     have /hæv/ ⇒ had /hæd/
  2. /æ/ ⇒ /ʌ/ misalnya: hang /hæŋ/ ⇒ hung /hʌŋ/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /æ/ = front open vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1)/ʊ/ = back close mid vowel; 2) /ʌ/ = open mid vowel; 3) Keep the same sound /æ/

  1. Class 7: the vowel /eɪ / mengalami 4 mutasi bunyi.
  2. /eɪ / ⇒ /əʊ/ misalnya: break /breɪk/ ⇒ broke /brəʊk/

wake /weɪk/ ⇒ woke /wəʊk/

  1. /eɪ / ⇒ /ʊ/ misalnya: take /teɪk/ ⇒ took /tʊk/
  2. /eɪ / ⇒ /eɪ / misalnya: lay /leɪ/ ⇒ laid /leɪd/
  3. /eɪ / ⇒ /e/ misalnya: say /seɪ/ ⇒ said /sed/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /eɪ / = front close mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi: 1) /əʊ/ = central open mid vowel; 2) /ʊ/ = back close mid vowel; 3) /e/ = front open mid vowel; 4) Keep the same sound /eɪ /

 Class 8: the vowel/ʊ /, /ɜː/, /ɔɪ/ tidak mengalami mutasi bunyi.

  1. /ʊ / ⇒ /ʊ / misalnya:    put /pʊt/ ⇒ put /pʊt/
  2. /ɜː/ /ɜː/  misalnya:      burn /bɜːn/ ⇒ burnt / bɜːnt/
  3. /ɔɪ/ /ɔɪ/ misalnya: spoil /spɔɪl/ ⇒ spoilt /spɔɪlt/
  4. Class 9: the vowel /ʌ/ mengalami 3 mutasi bunyi.
  5. /ʌ/ ⇒ /eɪ / misalnya:     come /kʌm/ ⇒ came /keɪm/
  6. /ʌ/ ⇒ /ʌ/ misalnya:       cut /kʌt/  ⇒ cut /kʌt/
  7. /ʌ/ ⇒ /æ/ misalnya:      run /rʌn/ ⇒  ran/ræn/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /ʌ/ = open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /eɪ / = front close mid vowel; 2) /æ/ = front open vowel; 3) Keep the same sound /ʌ/

  1. Class 10: the vowel/uː/mengalami 2 mutasi bunyi.
  2. /uː/ / ɪ / misalnya: do /duː/ ⇒ did /dɪd/
  3. /uː/ ⇒ /ɒ/ misalnya: shoot /ʃ uː/ ⇒ shot / ʃɒt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /uː/ = back close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) / ɪ / = front close vowel; 2) /ɒ/ = back open vowel

  1. Class 11: the vowel/ɑː/ mengalami 2 mutasi bunyi.
  2. /ɑː/ ⇒ /uː/ misalnya: draw /drɑː/ ⇒ drew /druː/
  3. /ɑː/ ⇒ /e/ misalnya: fall /f ɑːl/ ⇒ fell /fel/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /ɑː/ = back central close mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /uː/ = back close vowel; 2) /e/ = front open mid vowel.

  1. Class 12: the vowel/əʊ / mengalami 1 mutasi bunyi.

          /əʊ / ⇒ /e/ misalnya:    go /gəʊ/ ⇒ went /went/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /əʊ / = central open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: /e/ = front open mid vowel

  1. Class 13: the vowel/e / mengalami 3 mutasi bunyi.
  2. /e / ⇒ /e/ misalnya: lend /lend/ ⇒ lent /lent/
  3. /e / ⇒ /əʊ / misalnya: sell /sel/ ⇒ sold /səʊld/
  4. /e / ⇒ /ɒ/ misalnya: get /get/ ⇒ got /gɒt/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /e / = front open mid vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /əʊ / = central open mid vowel; 2) /ɒ/ = back open vowel; 3) Keep the same sound /e/

  1. Class 14: the vowel/ɪə/ mengalami 2 mutasi bunyi.
  2. /ɪə/ ⇒ /ɪə/ misalnya: shear / ʃɪə/ ⇒ sheard / ʃɪəd/
  3. /ɪə/ ⇒ /ɜː/ misalnya: overhear /əʊvə`hɪə⇒ overheard /əʊvə`hɜːd/

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa /ɪə/ = front close vowel bisa mengalami perubahan bunyi menjadi: 1) /ɜː/ = central open mid vowel; 2) Keep the same sound /ɪə/.

Untuk selanjutnya adalah tanda bahasa dilihat dari proses pembentukan kata atau derivation. Afiksasi didalam bahasa Jawa dibagi menjadi empat jenis yaitu prefiksasi, infiksasi, sufiksasi, dan konfiksasi.

  1. Aku wis apik marang bocahe nanging bocahe kok malah ngadoh

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

Proses morfologi yang terjadi didalam kalimat diatas dapat dijelas sebagai berikut:

ng- + adoh → ngadoh

kata ‘ngadoh’ merupakan bentuk derivasi karena didalam kata tersebut mengalami perubahan jenis kata yang semula kata sifat atau adjektiva adoh ‘jauh’ menjadi kata verba aktif ngadoh ‘menjauh’.

  1. Aku wes suwe urip karo kangmas, ora tinemu tembung kang elek.

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

temu + -in- → tinemu ‘ditemukan’

‘temu’ merupakan bentuk jenis kata verba dan kata ‘tinemu’ juga merupakan kata kerja atau verba. Yang membedakan disini adalah kata ‘temu’ adalah verba aktif dan kata ‘tinemu’ adalah verba pasif.

  1. Metu Serning dalane wiwit krasa munggah

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

dalan + -e → dalane

dalan disini berarti ‘jalan’ dan begitu pula dengan kata ‘dalane’ yang bermakna ‘jalan’. Disini bisa disimpulkan bahwa ‘dalan’ dan ‘dalane’ memiliki arti dan bentuk jenis kata yang sama. Dengan kata lain, kata-kata tersebut tidak mengalami perubahan makna.

  1. “Sakkabehe kaperluwan urip wis dicukupi karo gusti Allah”

(contoh dari Aini, 2014 yang sudah dimodifikasi)

di- + cukup + -i → dicukupi

kata ‘cukup’ adalah kata nomina sedangkan kata ‘dicukupi’ merupakan kata yang masuk pada jenis kata verba pasif.

#linguistik

#linguistics

#bahasa

#language

Bahasa Sebagai Tanda dan Kombinasi

Bahasa merupakan system tanda. Didalam bahasa, system tanda juga bisa dilihat dari bentuk fonologinya, derivasi atau pembentukan kata, kata ganti orang (personal pronoun) (Pawley, 1993b; Chomsky, 1980; Hockett, 1958, 1960). Ttanda (sign) yang berupa bentuk fonologi yang paling sering dan mudah kita jumpai misalnya didalam pengucapan huruf vokal. Saya akan membandingkan bentuk fonologi didalam bahasa Jawa dan bahasa Inggris, membahas pembentukan kata dan kata ganti orang yang hanya dibatasi pada bahasa Jawa saja.

Berikut ini contoh dari bentuk fonologi yang ada didalam bahasa Jawa

  1. Vokal /i/, terdiri dari 2 alofon, yaitu: 1) i (i jejeg) dimana bunyi [i] dapat menduduki awal, tengah, dan akhir kata. Misalnya ijab, mrica dan tari; 2) i [i miring] yang terletak pada kata yang diakhiri konsonan. Misalnya pada kata cacing (cacIng), wajik (wajIk).
  2. Vokal /e/, yang mempunyai 2 alofon, yaitu: 1) /e/ (e swara jejeg/ e taling) menduduki semua posisi baik awal, tengah, dan Misalnya kata eman ‘sayang’, sela ‘batu’dan gule’gulai’; 2) /ɛ/ (e swara miring) terletak pada awal dan tengah kata. Misalnya estu’jadi’, saren ’marus’ dan gepeng ’gapeng’.
  3. Vokal ə, dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna. Misal:

Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo

Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung

  1. Vokal ə, dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna. Misal:

Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo

Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung

  1. Vokal /a/ yang terletak di depan, tengah, dan akhir. Contohnya: aku, laris, ora
  2. Vokal /ɔ bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletaki awal, tengah, dan akhir kata. Misal : amba,rata, ula
  3. Vokal /o/ yang terletak di awal, tengah, akhir kata. Misal : obah, coba, kebo
  4. Vokal /u/ yang mempunyai 2 alofon, yaitu u (swara jejeg) terletak di awal, tengah, dan belakang kata. Misal: Urip, wuta, madu serta u swara miring yang berada di tengah kata. Misal: biyung, parut, pupur.

#bahasa

#linguistik

#language

#linguistics

Tanda Linguistik Yang Tampak di Bahasa Lokal

Tanda dari ide linguistik tampak pada suatu komunitas yang cenderung lebih suka memakai bahasa lokal atau bahasa komunitas atau bahasa ibu jika berbicara dengan orang yang memiliki hubungan yang dekat dan memiliki latar belakang budaya yang sama (Sapir, 1949; Silverstain, 1976, 1979, 1981; Geertz, 1973; Turner, 1967, 1969). Kalau di Indonesia, hal ini juga sering kita lihat seperti orang Jawa yang lebih suka memilih untuk menggunakan bahasa Jawa ketika bertemu dengan seseorang yang berasal dari bahasa Jawa juga. Orang Sunda yang lebih suka berbicara bahasa Sunda jika bertemu dengan orang Sunda daripada menggunakan bahasa nasional.

Berikut ini contoh percakapan bahasa antara orang Jawa dengan orang Jawa dan orang Sunda dengan orang Sunda dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing (Sumber: http://www.wisatabdg.com/2013/10/contoh-dialog-bahasa-sunda-dengan-teman.html)

Bahasa Lokal Sunda

Dudi      :    Punten. Assalamualaikum

(Permisi. Assalamualaikum)

Andri     :    Mangga. Wa’alaikumsalaam. eh…geuningan Dudi? Sok asup. Urang keur ngabenerkeun komputer. Aya virusan. Karek bieu komputerna dipareuman.

(Silakan. Wa’alaikumsalam. Eh, Dudi? Silakan masuk. Saya lagi membetulkan    komputer. Ada virus. Baru saja komputernya dimatikan)

Dudi      :    Oh, kitu. Sarua, komputer urang ge keur rada ngaco. Teu make antivirus. Jadi we     

                   mindeng error. Kamarana euy di imah sepi kieu?

(Oh, gitu. Sama, komputer saya juga agak ngaco. Tidak pakai anti virus. Jadi sering  error. Pada kemana kok sepi?)

Andri     :    Puguhan keur arindit. Si Bapa tugas kaluar kota. Si Mamah bieu karek indit

                   nganteur  adi urang balanja ka toko buku.

(Lagi pada pergi. Bapak lagi tugas keluar kota. Mama baru saja pergi mengantar

adik  saya belanja ke toko buku).

Dudi      :    Maneh teu kamamana euy?

(Kamu gak pergi kemana-mana?)

Andri     :    Henteu. Haroream rek indit kaluar teh. Wayah kieu, Bandung keur panas jeung

                   macet kieu.

(Gak. Malas mau pergi keluar. Jam segini, Bandung lagi panas dan macet gini)

Dudi      :    Puguhan, matak urang nyimpang kadieu ge. Kabeneran mawa mobil, ari pek macet   geuning dimamana. Tuh, di jalan hareup macetna menta ampun. Inget ka maneh,   nya mengkolwe kadieu. Kabeneran geuning aya di imah.

(Makanya itu, makanya saya berkunjung kesini juga. Kebetulan bawa mobil, eh kena   macet dimana-mana. Tuh, di jalan depan macetnya minta ampun. Ingat ke kamu, ya belok saja ke sini. Kebetulan kamu ada di rumah)

Andri     :    Rek Kamana kitu tadina?

(Tadinya mau kemana gitu?)

Dudi      :    Leu, rek meuli HP ka BEC tadina mah. Batrena geus lowbat. Gancang beak    

                   batrena.

(Ini, tadinya sih mau beli HP ke BEC. Baterainya sudah lowbat. Cepat habis

batrenya)

Andri     :    Nyantai we atuh lah. Geus cicing di dieu heula. Ke dibaturan ku urang ka BEC-na. Sakalian urang ge rek meuli Hardisk eksternal. Hardisk di komputer geus parinuh  ku data. Sakalian rek meuli powerbank keur kabogoh urang.

(Santai saja lah. Udah diam saja dulu disini. Nanti saya temenin ke BEC. Sekalian

saya mau beli hardisk eksternal. Hardisk di komputer saya sudah penuh sama data.  Sekalian mau beli powerbank buat pacar saya)

Dudi      :    Oh, siap ari kitu mah.

(Oh, ok siap kalau begitu)

Andri     :    Rek nginum naon euy? Kopi wae nya? Urang ngopilah. Kabeneran kamari Uwa

                   urang ngirim kopi ti Lampung.

(Mau minum apa? Kopi saja ya? Kita ngopi lah. Kebetulan kemarin Uwa saya

mengirim kopi dari Lampung)

Dudi      :    Sok we lah. Hayang nyobaan kumaha rasana kopi lampung teh.

(Setelah Andri membuat kopi dan menyajikannya pada Dudi)

Dudi      :    Heueuh, ngeunah kieu euy rasana kopi lampung teh.

(Iya, enak juga nih rasanya kopiLampung)

Andri     :    Urang ge karek nyobaan kamari. Bener ngeunah… eh, si Tatang cenah ngajak

                   bisnis muka distro di Jalan Buah Batu?

(Saya juga baru nyobain kemarin. Benar enak. Eh, si Tatang katanya ngajak bisnis buka distro di jalan Buah Batu?)

Dudi      :    Aeh, enya minggu kamari ge manehna ngomong ka urang. Butuh investor cenah.

                   Kabeneran imahna di Buah Batu geus lila teu dipake. Daripada lebar teu dipake,  

                   mending diberdayakeun jadi tempat usaha.

(Iya, minggu kemarin juga dia ngomong kepada saya. Butuh investor katanya.

Kebetulan rumahnya yang di Buah Batu sudah lama tidak terpakai. Daripada sayang tidak terpakai, mending diberdayakan jadi tempat usaha.)

Andri     :    Bapa urang siap cenah kerja sama mantuan keur dana mah.

(Bapa saya siap katanya membantu buat dana)

Dudi      :    Hayu lah. Geus we garap ku urang tiluan usahana. Keur bahan barang dagangan mah  aya dulur urang nu jadi tukang produksi kaos. Terus aya babaturan oge distributor.

(Ayo sudah, usahanya kita garap saja bertiga. Buat bahan barang dagangan ada

saudara saya yang jadi tukang produksi kaos)

Andri     :    Babaturan maneh isa ngasupan barang naon wae cenah?

(Teman kamu bisa masukin/suplai barang apa saja katanya?)

Dudi      :    Sagala aya. Aya kaos, jeket, calana, sandal, jeung lainna.

(Segala ada. Ada kaos, jaket, celana, sandal, dll)

Andri     :  Alus ari kitu mah. Geus we urang gancangkeun lah. Kari urang tiluan ngariung deui  ngadiskusikeun keur usahana.

(Bagus kalu begitu. Ya sudah kita percepat saja. Tinggal kita bertiga kumpul lagi

mendiskusikan untuk usaha)

Dudi      :    Enya. Ke atuh urang telepon heula si Tatang-na. Sugan manehna keur aya di

Bandung. Dua poe kamari mah nga-whatsApp keur indit ka Jakarta cenah.

(Iya. Saya telepon dulu si Tatang. Siapa tahu dia lagi ada di Bandung. Dua hari

kemarin nge-WhattsApp katanya lagi pergi ke Jakarta.

#sundanese

#sunda

#bahasalokal

#bahasa

#linguistics

Ide Linguistik Praktis

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

 A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

#linguistik

#linguistics

Antropologi Linguistik Untuk Menegaskan Psikis Manusia

Dalam prakteknya, hal ini utamanya melibatkan persatuan fundamental dalam fungsi mental semua manusia. Tapi bahkan sepintas lalu sekilas di dunia mengungkapkan bukan kesatuan, tapi keragaman, di semua tingkat perilaku budaya, sosial, dan bahasa manusia. Kontradiksi yang nyata ini telah dipecahkan dengan menerapkan perbedaan mendasar antara penampilan dan kenyataan, di balik keanekaragaman permukaan yang nyata terdapat kesatuan yang lebih dalam dan lebih nyata, dari mana keragaman permukaan yang dihasilkan, pada akhirnya, diharapkan, secara eksplisit dapat dilakukan.

Pandangan ini tidak berarti jika tidak bernilai dan tradisional, kembali ke Plato dan tercermin dalam perumpamaan gua yang terkenal dalam karya terkenalnya, The Republic. Sekelompok orang digambarkan menghabiskan seluruh hidup mereka di sebuah gua. Rantai membelenggu mereka sehingga mereka hanya bisa melihat dinding belakang gua. Api di belakang mereka menyebabkan bayang-bayang dilemparkan ke dinding, inilah yang bisa mereka lihat dari benda-benda di belakang mereka. Bagi Plato, perumpamaan ini merangkum sifat pemahaman manusia. Di luar perubahan dan keragaman hal-hal yang masuk akal di dunia ini merupakan bidang abadi dari bentuk dan gagasan yang murni dan lengkap. Pertimbangkan salah satu contoh Plato; Pengertian tentang persamaan. Tidak ada dua tongkat yang sama persisnya: dan bagaimanapun juga, tidak ada pengukuran yang bisa cukup akurat untuk menunjukkan hal ini secara meyakinkan. Gagasan tentang persamaan ada di luar manifestasi fisiknya di dunia material. Hal ini ada di dunia lain, gagasan, yang sempurna, murni, dan abadi muncul hanya untuk pikiran itu sendiri. Pengetahuan tentang gagasan ini adalah satu-satunya jenis pengetahuan sejati; Hanya yang abadi yang bisa diketahui, segala sesuatu yang lain tidak sempurna, kontingen. Akhirnya, gagasannya adalah penjelasan tentang dunia yang masuk akal. Apapun realitas yang ada di dunia material berasal dari gagasan di baliknya; Kursi bahan tertentu, misalnya, mendapat kenyataan sebagai kursi dari gagasan “kursi” di luar semua manifestasinya yang spesifik di dunia material.

Pandangan Plato memiliki pengaruh besar dalam sejarah pemikiran Barat dan dengan kedok modern, mereka terus melakukannya hari ini. Mereka biasanya diartikulasikan hari ini dalam bentuk modern yang diberikan oleh pemikir rasionalis abad ketujuh belas, seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Doktrin dasar rasionalisme adalah bahwa pengetahuan tentang dunia dapat dicapai dengan penalaran murni, tanpa daya tarik yang diperlukan untuk pengalaman dunia material. Hal ini dilakukan oleh anugerah bawaan dalam pikiran manusia dari kecakapan akal. Kecakapan akal mengandung konsep bawaan seperti substansi atau sebab-akibat, bukan berasal dari pengalaman, tetapi melalui apa yang kita pahami dari pengalaman tersebut. Karena ini adalah bawaan, manusia pada dasarnya diberikan bentuk yang sama, yaitu mereka universal. Dalam sebuah kerangka rasionalis, bawaan inilah alasan universal yang menarik perhatian, bukan perubahan yang terus menerus dari pengalaman yang masuk akal.

#plato

#descartes

#antropology

#linguistics

Makna Sebagai Enaksi pada Linguistik Antropologi

Makna enaksi adalah proses memberlakukan suatu makna baru dengan cara melihat hubungan erat antara yang diterangkan (bagian inti) dengan yang menerangkan (bukan inti). Pendekatan enaktif terhadap makna dan pengetahuan digagas oleh Maturana dan Varela (1987) dan Varela, Thompson, dan Rosch (1991). Beberapa contoh dari makna enaksi adalah:1) debat politik, debat politik memiliki makna enaksi berupa kekuatan (power) dari partisipannya didalam menyampaikan maksudnya bukan apa yang  dijelaskan (Duranti (1988b). Jadi bisa dikatakan makna enaksi dari debat politik adalah menunjukkan kekuatan ideology dari partipan (debat politik ⇒ makna enaksi: kekuatan ideology); 2) penerapan genre, misalnya penggunaan kata ‘pada jaman dahulu’ atau ‘ndek biyen’ cenderung merupakan tanda yang akan dibicarakan adalah cerita rakyat atau dongeng atau legenda.

Didalam pendekatan enaktif terdapat beberapa prinsip antara lain: 1) setiap orang memiliki domain kognitif, yaitu pengetahuan awal yang dimiliki yang berasal dari pengalaman pribadi masing-masing, 2) proses pemahaman tentang informasi merupakan kemampuan dalam memproses informasi yang berasal dari system saraf pusat (central nervous system), 3) kognisi adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi di lingkungan sekitar sebagai control dalam bertindak meskipun pemahaman tersebut bersifat abstrak, 4) representasi kehidupan didunia yang tergantung pada sebanyak apa yang sudah dilakukan terhadap lingkungan fisik. Hal ini sangat tergantung pada masing-masing perspektif, kemampuan, dan niat didalam memahami lingkungannya, 5) pengalaman bukanlah pengetahuan yang didapatkan setelah dilahirkan, tetapi bermula dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Pengalaman memiliki peran yang sangat besar dalam pemahaman kognisi dan pikiran.

Enaktif kognisi adalah interaksi adaptif terhadap lingkungan  yang menunjukkan pola pikir kita yang ada di kepala kemudian terekspresikan pada perilaku. Enaktif kognisi diilustrasikan seperti tindakan berjabat tangan. Kita tidak bisa melakukan proses ‘berjabat tangan’ sendirian, kita membutuhkan partner dan tentu saja itu sengaja dilakukan. Kita tidak pernah berjabat tangan secara tidak sengaja. Saat kita berjabat tangan, kita dapat mengetahui secara kognisi: seberapa erat kita berjabat tangan, berapa lama dalam berjabat tangan, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita memiliki rasa percaya diri atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita tampak ramah atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita menunjukkan ketulusan atau tidak. Disitulah letak dari enaktif kognisi yang bisa kita pahami secara abstrak.

#linguistics

#anthropology

#enaksi

#enaktif

Makna Sebagai Representasi Mental

Disini kita membahas makna dari tanda budaya dan penerapan linguistik. Cara orang memandang sesuatu dengan menggunakan fungsi system nervous sebagai jalinan hubungan kedekatan dari perubahan-perubahan didalam relasi kegiatan diantara komponen-komponennya (Maturana dan Vrela, 1987:164). Biasanya makna mental ditunjukkan dalam penggunaan metafora. Yang dicontohkan oleh kedua peneliti tersebut adalah metaphor orang yang sedang berdansa. Saat berdansa, pasangan tersebut masih tetap kontinu merespon lingkungan dan memberlakukan perilaku yang berubah mengikuti berdasarkan perubahan didalam lingkungannya, misalnya mempercepat atau memperlambat gerakan berdasarkan perubahan ritme. Semuanya itu membutuhkan kepekaan terhadap lingkungan dan koordinasi yang baik didalam hubungan tersebut. Perilaku itu merupakan efek dari pentingnya sejarah dari pembentukan kebiasaan di lingkungan sekitar (Gibson, 1979).

Didalam lingkungan Jawa, makna sebagai representasi mental ini sangat tampak, misalnya kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu perhatian di lingkungan sekitar. Berikut ini adalah contoh-contoh kegiatan di masyarakat Jawa yang menunjukkan makna ‘peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungannya’ yang sering kita sebut dengan kearifan lokal. Contoh-contoh tentang kepedulian masyarakat Jawa terhadap lingkungan dan sesama saya ambil dari sebuah blog: jejakjejakhijau.blogspot.co.id/2012/ sebagai berikut:

  1. Pranoto Mongso

Perhatian petani terhadap lingkungan terutama untuk bercocok tanam dengan mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya, tidak boleh rakus dengan memanfaatkan alam secara terus menerus tanpa memperhitungkan kesuburannya)

  1. Nyabuk gunung

Cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Bentuk bercocok tanam seperti ini mencegah terjadinya longsor. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya)

  1. tong royongIstilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasehat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang peduli terhadap sesama dan lingkungan).Didalam masyarakat Jawa ada beberapa sifat mental yang bisa dilihat atau diamati.
    1. Pemalu, sungkan tapi suka menyapa

    Orang Jawa suka senyum senyum dan mengangguk ketika berpapasan. Mereka suka menyapa namun biasanya jarang berani memulai percakapan.

    1. Pandai menjaga etika dan sopan santun

    Orang Jawa itu sopan, baik terhadap orang yang lebih tua ataupun terhadap sesama, mereka juga pandai menjaga etika ketika berbaur dalam lingkungan bermasyarakat. Merundukkan badan ketika berjalan didepan orang yang lebih tua sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan, tata krama, dan sopan santun. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai dan dapat menempatkan posisi dirinya.

    1. Orang Jawa itu pekerja keras dan penurut

    Bila ditinjau dalam lingkup perusahaan, orang Jawa adalah pekerja terbaik. Mereka mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan, tak pernah mengeluh, dan berdedikasi tinggi terhadap apa yang dibebankan padanya.

    Orang Jawa menganut filosofi hidup mengalir seperti air dengan menjalani kehidupan seolah tanpa beban dan tanggungan. Yang penting adalah bisa makan, ibadah, dan menghidupi keluarga.

    Sikap orang Jawa adalah sikapnya yang menerima apa adanya terutama dalam hal hubungan. Mereka menerima keadaan apapun dari pasangannya.

    Didalam keluarga, orang Jawa adalah orang-orang yangsuka mengalah.

    Wong Jowo kuwi gampang ditekak-tekuk. Orang Jawa mudah berbaur dengan orang-orang dari suku lain walaupun mereka agak pemalu dan sungkan. Kesopanan dan keramahan orang Jawa membuat orang-orang senang bergaul dengan mereka.

    Bahasa Jawa memiliki strata bahasa halus, sedang, dan kasar. Orang orang Jawa terutama yang berasal dari daerah Yogyakarta, Solo, dan Semarang dikenal dengan kehalusan dan kelembutan bicaranya.

    Banyak sekali tradisi-tradisi yang berawal dari leluhur jawa yang masih lestari dan dilakukan sampai sekarang. Beberapa tradisi tersebut merupakan symbol-simbol dari suau peristiwa penting di masa lalu atau bentuk rasa syukur yang dibingkai dalam sebuah acara.

    Kebiasaan masyarakat untuk menyantap makanan dengan menggunakan tangan dirasa lebih nikmat.

    Hidup mengalir seperti air Menerima apa adanya Suka mengalah, kalem, dan menghindari konflik Gaya dan nada bicaranya sopan Orang Jawa itu luwes Mempertahankan tradisi dan budaya Muluk/puluk

#antropologi

#anthropology

#javanese

#jawa

#linguistics

#linguistik

#orangjawa