Konstruksi Kepribadian Setempat dan Linguistik Relatifitas

Pemahaman kita mengenai diri kita dan orang lain sebagian besar dibangun  melalui bermacam-macam praktik linguistik yang kita lawan. Melalui penggabungan sosial yang didukung oleh praktik linguistik secara terus menerus kita perankan dan bangun, aturan yang menjadi konsep dari seseorang dimengerti adalah ideologi sekitar. Aturan tersebut berbeda di setiap tempat;dasar  pembagian dalam dua bagian tentang kepercayaan sekitar seseorang adalah egosentris yang menekan individu, kebenaran otonominya dan tindakan yang prerogratif. Yang kedua yakni sosiosentris yang menyoroti status seorang individu dalam kehidupan sosial yang lebih luas, serta menganggapnya nilai dalam pada posisinya di kehidupan bersama. Perbedaan ini dalam ideologi kepribadian sangat diberlakukan dalam praktek linguistik perbedaan budaya. Konsep dari wajah sendiri telah diusulkan sebagai konsep penting dalam pemahaman interaksi sosial, dimana hal ini bertujuan untuk menambah atau paling tidak meminimalkan ekspresi wajah tersebut. Wajah dibagi menjadi dua tipe, yakni, positif adalah sebagai harga diri seseorang, dan negatif  yakni  sebagai pembebanan dan ketidakleluasaan. Bermacam-macam cara praktik linguistik, digabungkan dibawah rubrik kesopanan. Dilakukan untuk meminimalisir hambatan kedua tipe tersebut, namun hal ini diklaim karena analisis ini adalah bagian dari etnosentris;terdapat dalam lingkungan sosiosentris seperti Jepang, konsep wajah negatif, otonomi tindakan individu yang marjinal. Lainya juga mengusulkan aturan lintas budaya dalam interaksi linguistik, seperti prinsip kerjasama. Ide bahwa seseorang akan mengatakan sesuatu yang tepat dalam hal tertentu saat berinteraksi, dan itu menghubungkan 4 maksim percakapan,  cenderung pada variasi yang menonjol. Sementara yang sangat penting dalam membangun percakapan dalam bahasa Inggris Amerika atau bahasa Inggris adalah kepentingan dan fungsi mereka tidak jelas pada orang lain, contohnya masyarakat di Malagasy, yang mana secara kontras menekankan pada ketidaklangsungan dan ketidakjelasan. Sama halnya dengan masyarakat individualis, makna ujaran diarahkan pada apa yang pembicara maksudkan. Berbeda halnya dalam masyarakat sosiosentris, makna disusun oleh pelaku percakapan, dan terkadang menggambarkan kontribusi dari bermacam-macam pelaku percakapan, tergantung posisi sosialnya. Semua perbedaan budaya ini dalam praktik perbandingan budaya linguistik memberi kesan bahwa sebenarnya perbedaan makna ditukar dalam sebuah komunitas. Tipe kerelatipan linguistik lain dan cara mengartikan maksud tersebut akan dibedakan pembagiannya, tergantung posisi sosialnya.

Variasi antar budaya dalam Prinsip Kerjasama: Kasus Malagasy

Malagasy Map

Seperti halnya disebutkan diatas tentang ucapan Grive soal Prinsip Kerjasama bersifat cukup samar untuk memenuhi variasi antar budaya yang signifikan. Empat Maksim berusaha menulis sub-prinsip lebih ekplisit, tapi bukti dari budaya lain sementara menyarankan bahwa ini mencerminkan perilaku percakapan etnografis di Eropa Barat yang menurunkan budaya daripada ketidakleluasan absolut yang bersifat universal. Variasi antarbudaya itu sangat penting dan benar-benar tidak diakui dalam pembicaraan Maksim milik Grice bahwa Hymes (1968:78) yang berdampak untuk mengkritik “besarnya etnosentris”. Seperti yang diungkapkan tadi, wilayah dimana variasi antar budaya diharapkan akan melibatkan sifat dan jumlah informasi dalam percakapan di budaya tertentu dan siapa atau apa yang menentukan tujuan dan arah percakapan. Jenis dan jumlah informasi secara budaya telah jelas ditentukan, seperti yang ditunjukkan dengan brilian oleh Keenan (1976) melaui studi praktik percakapan diantara para petani Malagasy. Petani Malagasy, khususnya laki-laki, khususnya yang kurang informatif dalam memberi penjelasan dibanding orang Amerika atau Australia. Mereka melihat informasi komoditas penting, sesuatu yang memberikan prestise dalam desa penganut egaliter yang lebih besar, sehingga mereka enggan untuk membaginya dengan leluasa. Dalam desa kecil yang satu sama lain saling membantu, dimana setiap orang terhubung dengan yang lain, yang mana kontak kecil dengan dunia di luar mereka mungkin terjadi dengan kecilnya rahasia dan privasi yang kurang, informasi yang tidak tersedia di publik benar-benar dihargai dalam status sementara yang diberi. Jadi, ketika seseorang bertanya, tidak mungkin informasi dibutuhkan oleh penanya akan dengan cepat dipenuhi, agak tidak jelas, sebagian jawaban adalah norma. Jadi ketika seseorang ditanya kemana mereka akan pergi, mereka tidak akan menjawab “pergi ke toko untuk membeli beberapa botol beer;kami berencana pergi pesta malam ini.” Tipe jawaban masyarakat Malagasy akan cenderung “Oh, cuma pergi kesana”, keterangan jawaban menjadi tidak jelas, dan seseorang yang bertanya akan paham apa yang dimaksud dari tindakan orang tersebut.

            Hal lain yang juga menjadi faktor penting dalam memengaruhi terjadinya Maksim Kuantitas dalam percakapan di masyarakat Malagasy adalah budaya bungkam pada tuntutan khusus di depan umum, kekhawatiran akan hancurnya keberanian jika tuntutan tersebut akan gagal. Malagasy cenderung menghindari pertanggung jawaban atas informasi saat berkomunikasi, sehingga informasi yang disampaikan sangat terbatas dan seringkali terkesan tidak jelas, setidaknya dalam pendengaran kita (pelanggaran Maksim Perilaku). Jadi, seseorang menghindarkan dirinya dari kegiatan yang akan terjadi, dengan alasan hal tersebut takut gagal terjadi. Jika ditanya mengenai kapan sebuah festival akan terjadi, sangat mungkin jawaban yang diberikan akan tidak jelas atau samar-samar, seperti “Saya tidak yakin kapan festival tersebut terjadi” atau “Mungkin sekitar bulan Juni”,  meskipun jika responden itu dengan sadar mengetahui tanggal pasti kapan kejadian tersebut akan terjadi. Hilangnya keberanian juga menyebabkan seseorang sangat berhati-hati ketika memberikan nasehat atau peringatan, sehingga dapat menghilangkan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Coba beri pertanyaan kapan Mr X berada di rumah, maka jawaban yang mungkin dikatakan yaitu, “Jika kamu tidak datang setelah matahari tenggelam, maka kamu tidak akan bertemu Mr X.” Informasi ini terdengar samar-samar dan tidak jelas, namun memberi nilai budaya di Malagy, hal ini merupakan jawaban terbaik saat memberikan informasi, namun menghindari tanggung jawab dikegiatan yang akan datang.

            Ketidakjelasan dan kekurangan dari informasi juga termasuk tipe ekspresi untuk mengarahkan seseorang. Seseorang menghindar untuk menjelaskan keterangan dirinya dalam ujarannya, karena dapat membuka kesempatan seseorang campur tangan didalamnya. Hal ini juga untuk menjaga diri dengan sosiosentris dan keadaan bergantung pada pengertian seseorang dalam budayanya dan perbedaan dalam individualis barat. Sebagai konsekuensinya, individu seseorang ditunjukan oleh ekspresi yang memperhatikan posisi mereka dalam sosial masyarakat. Dan seringkali jejak-jejak seseorang dihapuskan, sehingga orang-orang desa/udik mungkin menunjukan dirinya sebagai olona “orang,” zazalahy “laki-laki,” atau rayaman-dreny “orang tua”. Jadi, seorang perempuan dapat  mengatakan “apakah orang (olona) sedang tidur?” kepada putranya, ketika “orang” yang dimaksud tersebut adalah suaminya sendiri (Keenan,1976:73). Catatan dalam pemakaian kata-kata dan berkenaan dengan Grice’s (1975) Maxims, pada penggunaan kata “orang” hanya cocok ketika pembicara tidak sadar pada keadaan orang yang tidur. Di Malagasy, seseorang pun sewajarnya berkata “seseorang sedang melihatmu” ketika seseorang yang dimaksud tersebut adalah kakak laki-lakinya (Keenan and Onchs, 1979:153).

            Penyampaian kepercayaan budaya di Malagasy, satu daerah yang menunjukan masalah khusus dalam interaksi lisan adalah tindak tutur dari beberapa permintaan seperti yang tercantum dalam Brown and Levinson (1987), mereka memaksakan kebebasan pribadi to untuk bertindak atau memberi negative face, tetapi karena mereka terancam dengan positive face di Malagasy dalam hal nilai persamaan dan tanpa konfrontasi, dan juga jika diterima, berkomitmen pada yang dituju secara eksplisit dalam beberapa kejadian di masa depan. Penjelasan sebelumnya masuk akal dalam sebuah egosentris, budaya individual sama halnya dengan budaya barat, namun kurang tepat untuk diaplikasikan dalam budaya sosiosentris seperti Malagasy (seperti yang diungkapkan juga pada Matsumoto (1988) terhadap Jepang). Permintaan cenderung menunjukan bentuk isyarat secara tidak langsung. Begitupun, seseorang tidak akan meneruskan isyaratnya secara langsung ketika dalam pertemuan sosial, pun ketika tujuan utama dari sudut pandang mereka yakni untuk membuat suatu permintaan. Keenan dan Ochs (1979:154) memberikan contoh yang membentur untuk menggambarkan poin tersebut. Suatu hari, beberapa lelaki tiba dirumahnya tanpa terencana sebelumnya. Setelah beberapa menit dan berbincang-bincang ringan, topik untuk memotong kaki mulai ditunjukan, luka biasa saat gunung meletus disuatu kota yang mana desa didalamnya terdampak. Beberapa saat setelah itu, salah satu lelaki paling belakang dalam group tersebut menunjukan Keenan and Ochs pemotongan kaki yang sangat buruk dan membutuhkan pertolongan segera. Hal ini mungkin sulit untuk dibayangkan secara langsung, memulai-mengakhiri dan tidak jelasnya keterangan untuk menunjukan permintaan daripada hal tersebut!

Konstruksi Linguistik Kepribadian pada Konsep Rupa

Bagaimana cara mempelajari dan menjadikan ideologi kepribadian lokal? Bagaimana bisa terwujud dalam tindakan naluriah mereka? Secara garis besar, seperti yang diterangkan Gergen (1990:585) melalui kegunaan bahasa (lihat kutipan pada halaman 262). Selama kita bertentangan dengan hubungan antara 2 orang, dengan demikian membentuk structural coupling, tindakan verbal kita menjadi selaras dengan tindakan komunikatif yang berkelanjutan dengan structural coupling. Ini melalui koordinasi structural coupling yang telah ditempa, dan ini merupakan sejarah hidup yang terkumpul yang mana menentukan orang. Maturana dan Varela (1987) menggarisbawahi peran pokok yang berperan pada structural coupling sosial dengan mengistilahkan sebagai ”lingual axis”, bagian dari trophal axis bahasa, istilah biologis pada korelasi struktural yang terjadi antar organisme melalui pertukaran makanan dan sekresi kimia, seperti ketika oraganisasi sarang lebah ditentukan oleh keseimbangan sekresi hormonal tertentu. Gagasan tindakan linguistik seperti lingual axis didiukung oleh Aiello dan Dunbar (1993) yang menegaskan evolusi bahasa utamanya sebagai jenis dari perekat dalam sosial, menambah dalam merapikan kumpulan manusia meningkatkan ukurannya: perilaku tubuh yang komunikatif dalam social coupling (trophallaxis: grooming) yang ditambahkan oleh perilaku linguistik (lingual axis), yang mana menggantikan secara bertahap pembentuknya selama rangkaian evolusi manusia. Untuk sarang lebah, perubahan dalam keseimbangan hormon dan anda merubah organisasi pada sarang; untuk pengelompokan sosial manusia, dan perubahan pola perilaku verbal (lingual axis) yang sama-sama bisa menghasilkan efek dramatis pada kedudukan sosial, hanya untuk memeprtimbangkan perkara pertemuan sapaan Wolof. lebih jauh, Scweder dan Bourne (1984) memberitahukan bahwa ideologi lokal kepribadian telah disepakati oleh apa yang diketahui orang ketika berbicara, pada jalan yang sangat Whorfi, pembicara menggunakan metafor untuk mendeskripsikan orang dan perilaku yang diturunkan keduanya dan bersifat membangun pemahaman lokal kepribadian.

Goffman (1967, 1971) mengamati secara kasar pada bagaimana koordinasi perilaku linguistik pada hubungan 2 orang berperan pada pemahaman budaya kita pada kepribadian tertentu. Ia memberitahukan bahwa tujuan orang yang berinteraksi pada pertemuan sosial untuk melindungi harga diri rapuh yang mereka miliki, paling sedikit, untuk meminimalisir bahaya ini, yang terbaik, untuk meningkatkannya. Harga diri ini diistilahkan oleh Goffman (1967), menjelaskan sebagai “citra diri publik dimana setiap anggotanya ingin menegaskan dirinya” (Brown dan Levinson 1987:61). Rupa sangat berperan secara linguistik antara orang-orang yang berinteraksi (meskipun cara lain mungkin bisa dilakukan, lihat Goffman (1956) untuk penjelasan klasik yang lebih rinci). Melalui kata yang kita dan yang lain pilih dan gunakan, rupa kita dan orang yang berinteraksi lainnya pada interaksi sosial mempersoalkan modifikasi dan merusak yang mungkin. Rupa secara linguistik dibangun, dan kemampuan untuk menggunakan keahlian verbal dengan fasilitas adalah bagaimana kita bisa memanipulasi pertemuan sosial untuk memaksimalkan rupa yang kita dapatkan dan meminimalisir kehilangan kita, dan lagi, pertemuan sapaan Wolof merupakan paradigma eksemplar pada fakta ini.

Konsep Lokal Kepribadian

Diatas telah diuraikan secara singat batasan konsep orang, sekarang saya berpindah ke beberapa perbedaan antar budaya dalam pengucapannya, Ideologi lokal kepribadian. Saya mulai dengan yang familiar bagi sebagian besar pembaca– Konsep orang Eropa Barat. Ideologi tempat mungkin akan diringkas dalam satu kata, individualisme, yang mungkin sangat ditekankan dalam Budaya Amerika. Alasan ideologi ini adalah otonomi egosentris personal, yang diringkas oleh Geertz (1983:59) dalam penjelasan klasik berikut:

Konsep Barat tentang orang seperti terikat , unik, lebih atau kurang mempersatukan seluruh teori motivasional, pusat kesadaran dinamis, emosi, pertimbangan dan tindakan yang disusun ke dalam seluruh dan sekumpulan perbedaan khusus terhadap keseluruhan yang lain pada latar belakang sosial dan alam..Pada ideologi egosentris individualis orang, individu memperbudak masyarakat, pada fashion yang berhubungan dengan pemikiran filsuf seperti Hobbes dan Locke, masyarakat membayangkan terciptanya “kontrak sosial” untuk menjaga kepentingan mengidealkan otonomi individu, independen atau masyarakat, sebelum hidup didalamnya. Para individu ini lebih penting dari setiap kelompok pemilihnya. Indikasi dari semua ini adalah pentingnya budaya Barat yang bertempat pada orang dan sifat orang, ini menegaskan adanya pemusatan individu dengan keinginan dan kebutuhannya.

Apakah sifat dari individu sebenarnya? Kebebasan dari paksaan dan sifat otonomi dalam tindakan telah memasuki kriteria ideologi orang sebagai individu. Perhatikan bahwa yang ditangkap dari gerakan feminis yaitu, “orang dengan haknya sendiri” secara tidak langsung menghubungkan kepribadian dengan hak individu atas tindakan dan kebebasan dari paksaan. Setiap orang dipandang memiliki hak yang tidak bisa direnggut pada otonomi yang diklaim oleh individu. Setiap individu adalah unik, tapi semua, setidaknya secara ideologi, memiliki hak yang sama, sistem etika umum yang berpengaruh terhadap semua hubungan sosial, tak diragukan lagi merupakan hasil moralitas para universalis budaya Barat berdasarkan agama Kristen, supaya, menurut ajaran agama Kristen, komponen spiritual yang diberikan ke seluruh orang dalam jumlah yang tak terhitung yang mana harus diakui sebelum secara kemanusiaan atau secara sosial menciptakan sebuah nilai. Ini membawa kita pada pandangan orang sebagai individu, perwujudan absolut sebuah nilai dalam haknya sendiri, dan bukan benar-benar pada kedudukannya dalam setiap pola sosial. Ketidaksamaan yang sebenarnya diantara manusia secara ideologi diterjemahkan sebagai hasil persaingan bebas untuk mendapat penghargaan status antar individu yang menurut teori adalah sama, terlindungi melalui sekumpulan peraturan dan hukum dalam “kontrak sosial”. Tetapi gagasan pada perbedaan status yang tidak sama dan peluang individu yang sama dapat dengan mudah dibedakan. Ini merupakan prinsip yang terdapat dalam sistem yang telah berlaku pada birokrasi organisasi, sebagaimana pengertian oleh Max Weber (1968[1922]). Karakteristik birokrasi yang telah dijelaskan Adalah perbedaan antara pegawai dan pemimpin pegawai atau peran sosial yang tidak sama dan sama dengan individu. Pembagian tugas pegawai pada orang tertentu telah ditentukan, setidaknya secara ideologi, oleh kemampuan individu, tidak berdasarkan pada koneksi sosial. Jadi, ketidaksamaan dan hierarki merupakan ciri-ciri masyarakat; setiap orang adalah bebas dan sama dengan individu.

Konsep egosentris individualis orang pada budaya Barat dianggap kontras dengan berbagai tradisi budaya. Budaya sebelumnya bersifat sosiosentris, konteks tergantung pada konsepsi kepribadian (Scweder dan Bourne 1984). Pada budaya ini budaya individu dan otonominya tidak diperlakukan sebagai  pemahaman lokal orang, agaknya menempel pada konteks sosial merupakan hal yang menyangkut definisinya sebagai orang. Jadi, kepribadian dalam istilah sosiosentris merupakan atas dasar kedudukan sosial khusus yang ditempati manusi. Konsep sosiosentris kepribadian memandang kebaikan social grouping secara fundamental dan membawahi keinginan dan kebutuhan individu pada kebaikan bersama. (Perhatikan disini bahwa poinnya adalah tidak untuk berpendapat bahwa budaya sosiosentris secara eksplisit telah menuturkan ideologi kepribadian sejajar dengan ideologi Individualisme Barat (meski apakah semua masyarakat Barat secara eksplisit peduli terhadap koherensi ideologi yang menciptakan prinsip individualisme yang tercatat untuk diperdebatkan secara serius); agaknya, pernyataannya bahwa pemahaman kepribadian, apakah itu diam-diam atau tidak, dijadikan, dibangun ke dalam berbahasa dan perilaku budaya dan dengan demikiran, ditanamkan dalam tindakan naluriahnya. Tentunya dengan kepercayaan yang dilepaskan melalui kontak budaya, yang mungkin akan dituturkan, seperti halnya yang dikatakan pelajar Bali setelah 2 tahun hidup di Australia, menuturkan pemahaman aslinya, “Kita (orang Bali) punya budaya berkumpul.”) Konsepsi lokal orang secara luas telah ada, contohnya oleh budaya yang sebaliknya sangat berbeda seperti di Bali dan tanah Gahuku di New Guinea.

Bali (Geertz 1983: 62):

Semiotika Seri 5

Semiotika mewakili berbagai studi dalam seni, sastra, antropologi dan media massa daripada disiplin akademis independen. Mereka yang terlibat dalam semiotika termasuk ahli bahasa, filsuf, psikolog, sosiolog, antropolog, ahli teori sastra, estetika dan media, psikoanalis dan pendidik. Di luar definisi yang paling dasar, ada banyak variasi di antara ahli semiotika terkemuka mengenai apa yang melibatkan semiotika. Ini tidak hanya berkaitan dengan komunikasi (disengaja) tetapi juga dengan anggapan kita tentang signifikansi terhadap apa pun di dunia. Semiotika telah berubah dari waktu ke waktu, karena ahli semiotika telah berusaha untuk memperbaiki kelemahan dalam pendekatan semiotik awal. Bahkan dengan istilah semiotika paling dasar pun ada banyak definisi. Akibatnya, siapa pun yang mencoba analisis semiotik akan bijaksana untuk memperjelas definisi mana yang diterapkan dan, jika pendekatan semiotik tertentu diadopsi, apa sumbernya. Ada dua tradisi yang berbeda dalam semiotika yang berasal dari Saussure dan Peirce. Karya Louis Hjelmslev, Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, Julia Kristeva, Christian Metz dan Jean Baudrillard (lahir 1929) mengikuti tradisi ‘semiologis’ Saussure sementara karya Charles W Morris, Ivor A Richards (1893-1979) , Charles K Ogden (1989-1957) dan Thomas Sebeok (b 1920) berada dalam tradisi ‘semiotik’ Peirce. Ahli semiotik terkemuka yang menjembatani kedua tradisi ini adalah penulis Italia terkenal Umberto Eco, yang sebagai penulis buku terlaris The Name of the Rose (novel 1980, film 1986) mungkin satu-satunya ahli semiotika yang hak filmnya bernilai apa pun (Eco 1980) .

Saussure berpendapat bahwa ‘tidak ada yang lebih tepat daripada studi bahasa untuk memunculkan sifat masalah semiologis’ (Saussure 1983, 16; Saussure 1974, 16). Semiotika banyak menarik konsep linguistik, sebagian karena pengaruh Saussure dan karena linguistik adalah disiplin yang lebih mapan daripada studi sistem tanda lainnya. Strukturalis mengadopsi bahasa sebagai model mereka dalam mengeksplorasi fenomena sosial yang lebih luas: Lévi-Strauss untuk mitos, aturan kekerabatan dan totemisme; Lacan untuk ketidaksadaran; Barthes dan Greimas untuk ‘tata bahasa’ narasi. Julia Kristeva menyatakan bahwa ‘apa yang telah ditemukan oleh semiotika… adalah bahwa hukum yang mengatur atau, jika seseorang lebih suka, kendala utama yang mempengaruhi setiap praktik sosial terletak pada kenyataan bahwa hal itu menandakan; yaitu bahwa itu diartikulasikan seperti bahasa’ (dikutip dalam Hawkes 1977, 125). Saussure menyebut bahasa (modelnya adalah ucapan) sebagai ‘yang paling penting’ dari semua sistem tanda (Saussure 1983, 15; Saussure 1974, 16). Bahasa hampir selalu dianggap sebagai sistem komunikasi yang paling kuat sejauh ini. Misalnya, Marvin Harris mengamati bahwa ‘bahasa manusia adalah unik di antara sistem komunikasi dalam memiliki universalitas semantik… Sebuah sistem komunikasi yang memiliki universalitas semantik dapat menyampaikan informasi tentang semua aspek, domain, properti, tempat, atau peristiwa di masa lalu, sekarang atau masa depan, baik aktual atau mungkin, nyata atau imajiner’ (dikutip dalam Wilden 1987, 138). Mungkin bahasa memang fundamental: Emile Benveniste mengamati bahwa ‘bahasa adalah sistem penafsiran dari semua sistem lain, linguistik dan non-linguistik’ (dalam Innis 1986, 239), sementara Claude Lévi-Strauss mencatat bahwa ‘bahasa adalah sistem semiotik par excellence ; itu tidak bisa tidak menandakan, dan hanya ada melalui penandaan’ (Lévi-Strauss 1972, 48).

Saussure melihat linguistik sebagai cabang dari ‘semiologi’:

 

Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum [semiologi] ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik… Sejauh yang kita ketahui… masalah linguistik adalah yang pertama dan terutama semiologis… Jika seseorang ingin menemukan sifat sebenarnya dari sistem bahasa, pertama-tama ia harus pertimbangkan kesamaan mereka dengan semua sistem lain dari jenis yang sama… Dengan cara ini, cahaya akan diberikan tidak hanya pada masalah linguistik. Dengan mempertimbangkan ritus, adat istiadat, dll. sebagai tanda, kami percaya, akan memungkinkan untuk melihatnya dalam perspektif baru. Kebutuhan akan dirasakan untuk menganggapnya sebagai fenomena semiologis dan menjelaskannya dalam kerangka hukum semiologi. (Saussure 1983, 16-17; Saussure 1974, 16-17)

Diri vs Orang Lain

Antropolog, berikut Mauss (1985[1938]), umumnya membuat perbedaan antara gagasan diri dan orang (Fitsgerard 1993, La Fontaine 1985). Diri merujuk pada maksud kesadaran manusia secara universal Dalam perwujudan individu itu sendiri, yang mana orang adalah konsep sosial yang membentuk gagasan lokal hak dan kewajiban seseorang, dan kemudian menjadi antar budaya. Hehr dan Muhlhasler (1990) membuat perbedaan yang mirip, menunjuk kepada pembentuknya sebagai “identitas numerik” dan yang terakhir sebagai “identitas kualitatif”. Hal ini diutarakan dalam istilah tesis sebuah Lokasi ganda dalam diri (Harre dan Muhlhasler (1990: 88)):

          Kita memahami bahwa kita memiliki lokasi yang menjadi perwujudan material lingkungan fisik sementara yang terus-menerus (pemikiran antropologi “diri”). Tapi kita juga memahami saat itu bahwa kurang lebih telah jelas diungkapkan lokasi hak dan kewajiban orang lain dalam lingkungan sosial yang memperoleh tanggungjawab tertentu saat itu (pemikiran antropologi “orang”).

Tesis ini berakibat: terhadap Indeksikalitas Ganda kata ganti “saya”. Kata ganti ini menunjuk kedua gagasan lokasi; jadi pemberi ungkapan menampilkan dirinya ketika memiliki lokasi yang berkaitan dalam hal waktu dan lokasi, juga tanggungjawab sosial tertentu. Diungkapkan dengan jelas adanya perbedaan yang mencolok antara diri dengan orang mungkin sulit dipertahankan. Pertama, tidak jelas bagaimana karakteristik yang diduga pada individu terwujud dalam diri, seperti baik atau jahat, menjadi sangat penting untuk dibicarakan, kecuali pada istilah hubungan sosial antara dua orang (lihat Gergen (1994)). Rosaldo (1984) berpendapat bahwa Ilongot tidak memiliki ideologi tentang perbedaan yang mencolok antara privasi diri individu dan penampilan sosial orang di depan publik. Ia menegaskan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan diri Ilongot adalah hasil aktivitas sosial publik, disadari melalui interaksi antara 2 orang, menyarankan pengaburan kontras yang bersifat universal, antara diri individu dan pribadi sosial. Ilongot menyatakan bahwa biasanya tidak ada gap antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan seseorang. Sebagai masyarakat egaliter, individu tidak memiliki pengalaman yang kuat dalam ketidakleluasaan sosial, yang mana akan memperkuat batas antara orang, diri individu yang terikat, hak dan tanggungjawab sosial pribadi: “tidak ada dasar masalah sosial atau pengalaman individu yang dianggap perlu kontrol, ketika memiliki batasan untuk melindungi atau menjaga gerakan dan keinginan, yang harus dicek apakah mereka mempertahankan statusnya atau terikat dalam kerjasama setiap hari” (Rosaldo 1984:148).

Kesulitan lebih lanjut dalam menegakkan perbedaan yang mencolok antara diri dan orang bergantung pada masalah yang besar akan jelas diselesaikan oleh kesadaran mental perwujudan individu, yang merupakan gagasan paling dasar atas diri. Kesadaran adalah hal yang sangat khas, karena itu bersifat menyebar, tidak terikat dan tidak pula stabil. Sebagian terbesar terlihat sebagai konstruksi linguistik, lokasi tubuh melalui penggunaan I dalam pertemuan berbagai pola pengulangan dalam proses structural coupling yang terikat didalamnya, dan lebih jauh lagi, laporan melalui deskripsi linguistik pada proses structural coupling yang terikat dengan kita (untuk pemikiran sebelumnya lihat Mead (1934)).

Mead (1934). Diri adalah organisme yang tindakannya dilambangkan menggunakan Saya. Karya terakhir (Minsky 1986; Varela, Thompson, dan Rosch 1991) dalam arsitektur pikiran menegaskan bahwa pikiran mengandung banyak “agen” kecil, setiap agen memiliki fungsi domain hanya dalam skala kecil. “Agen” ini dapat disusun ke dalam sistem yang lebih besar dalam tugas yang lebih inklusif, masih bisa disusun lagi dalam sistem yang lebih besar dan seterusnya dalam analogi struktur sosial, shingga membentuk The Society of Mind (Minsky 1986). Apa yang dihitung sebagai kumpulan agen dalam satu level menjadi satu “agen” dalam tingkat yang lebih tinggi. Minsky (1986) menggambarkan contoh “agen” dengan membangun menara-menara diluar blok mainan – sebagai Pembangun. Tetapi dalam tingkatan yang lebih rendah, Pembangun tersusun atas “sub-agen” seperti Pemula, Penambah, Penyelesai, dan lain sebagainya , ini juga butuh “sub-agen” lagi yaitu Penemu, Pengangkat, Pemindah, dan seterusnya. Poinnya adalah dimana ini benar-benar merupakan struktur pikiran bisa secara global yang menebarkan kesadaran diri sebagai perwujudan individu? Seperti yang diungkapkan Varela, Thompson, dan Rosch (1991) di bagian kejadian mental dan pembentukannya, contohnya tindakan “agen” dan “sub-agen” yang memiliki koherensi dan integritas melewati batas waktu. Pemahaman kita soal koherensi dan integritas tentunya dalam ingatan kita, utamanya yang disebut Becker (1971:77-9) sebagai “dalam warta berita,”apa yang tetap diulas dalam mata hati kita sebagai pengalam an hidup, khususnya pengalaman yang meningkatkan harga diri, membuat kita merasa baik dan positif dengan diri kita sendiri (dengan kata lain, pengulangan sejarah yang terpilih dalam structural coupling). Tetapi tentunya, pengalaman hidup ini, baik positif maupun negative face hanya terjadi dalam interaksi 2 orang, konfigurasi bersama orang-orang, kembali memaksa dalam kesimpulan bahwa perbedaan yang mencolok antara diri individu dan pribadi sosial tidak dapat dipertahankan (Tetapi lihat Cohen (1994) untuk argumen lawannya. Ia berpendapat bahwa catatan rosaldo tentang Ilongot tak bisa dipertahankan. Seperti Harré dan Muhlhausler, ia menegaskan bahwa kesadaran pribadi individu yang terwujud sebagai sifat universal manusia, untuk berpendapat dan sebaliknya untuk membuat eksotis orang lain dan menolak karakter yang diinginkan diri kita. ia memperhatikan bahwa kejadian sosial apapun yang dilakukan bersama seperti ritual, setiap pastisipan memiliki pemahaman dan interpretasi kejadian yang berbeda, dan ini menunjukkan kesadaran diri. pengalaman individu dalam kejadian publik apapun benar tidak diragukan lagi, untuk menolaknya akan meniadakan pemusatan organisme manusia dan plastisitas luar biasa dalam sistem saraf dalam hal structural coupling. Bagaimanapun, pengalaman individu tidak dibuat oleh diri sendiri, tidak ada bukti sifat terikat universal apapun yang menyokong pengalaman ini.

Semiotika Seri 4

Pers menggunakan saluran visual, bahasanya ditulis, dan memanfaatkan teknologi reproduksi fotografi, desain grafis, dan pencetakan. Radio, sebaliknya, menggunakan saluran lisan dan bahasa lisan dan bergantung pada teknologi perekaman dan penyiaran suara, sementara televisi menggabungkan teknologi perekaman dan penyiaran suara dan gambar…

 

Perbedaan saluran dan teknologi ini memiliki implikasi luas yang signifikan dalam hal potensi makna dari media yang berbeda. Misalnya, media cetak dalam arti penting kurang pribadi daripada radio atau televisi. Radio mulai memungkinkan individualitas dan kepribadian didahulukan melalui transmisi kualitas suara individu. Televisi mengambil proses lebih jauh dengan membuat orang tersedia secara visual, dan bukan dalam modalitas foto surat kabar yang beku, tetapi dalam gerakan dan tindakan. (Fairclough 1995, 38-9)

Sementara determinis teknologi menekankan bahwa ekologi semiotik dipengaruhi oleh fitur desain mendasar dari media yang berbeda, penting untuk mengenali pentingnya faktor sosial budaya dan sejarah dalam membentuk bagaimana media yang berbeda digunakan dan status mereka (selalu berubah) dalam budaya tertentu. konteks. Misalnya, banyak ahli teori budaya kontemporer telah berkomentar tentang pertumbuhan pentingnya media visual dibandingkan dengan media linguistik dalam masyarakat kontemporer dan pergeseran terkait dalam fungsi komunikatif media tersebut. Berpikir dalam istilah ‘ekologis’ tentang interaksi struktur dan bahasa semiotik yang berbeda membuat ahli semiotika budaya Rusia Yuri Lotman menciptakan istilah ‘semiosfer’ untuk merujuk pada ‘seluruh ruang semiotik dari budaya yang bersangkutan’ (Lotman 1990, 124-125 ). Konsep ini terkait dengan referensi ahli ekologi ‘untuk ‘biosfer’ dan mungkin referensi ahli teori budaya’ ke ruang publik dan pribadi, tetapi yang paling mengingatkan pada gagasan Teilhard de Chardin (sejak tahun 1949) tentang ‘noosfer’ – domain di pikiran mana yang dilatih. Sementara Lotman mengacu pada semiosfer seperti yang mengatur fungsi bahasa dalam budaya, John Hartley berkomentar bahwa ‘ada lebih dari satu tingkat di mana seseorang dapat mengidentifikasi semiosfer – pada tingkat budaya nasional atau linguistik tunggal, misalnya, atau kesatuan yang lebih besar seperti “Barat”, hingga “spesies”‘; kita mungkin juga mencirikan semiosfer dari periode sejarah tertentu (Hartley 1996, 106). Konsepsi semiosfer ini mungkin membuat ahli semiotika tampak imperialistik teritorial bagi para pengkritiknya, tetapi ia menawarkan visi semiosis yang lebih terpadu dan dinamis daripada studi tentang media tertentu seolah-olah masing-masing ada dalam ruang hampa.

Tentu saja ada pendekatan lain untuk analisis tekstual selain semiotika – terutama analisis retoris, analisis wacana dan ‘analisis isi’. Di bidang studi media dan komunikasi, analisis isi merupakan saingan utama semiotika sebagai metode analisis tekstual. Sedangkan semiotika sekarang terkait erat dengan studi budaya, analisis isi mapan dalam tradisi arus utama penelitian ilmu sosial. Sementara analisis isi melibatkan pendekatan kuantitatif terhadap analisis ‘konten’ manifes teks media, semiotika berusaha menganalisis teks media sebagai keseluruhan yang terstruktur dan menyelidiki makna konotatif laten. Semiotika jarang bersifat kuantitatif, dan seringkali melibatkan penolakan terhadap pendekatan semacam itu. Hanya karena item sering muncul dalam teks tidak membuatnya signifikan. Ahli semiotika strukturalis lebih memperhatikan hubungan unsur-unsur satu sama lain. Seorang ahli semiotika sosial juga akan menekankan pentingnya signifikansi yang dilampirkan pembaca pada tanda-tanda dalam sebuah teks. Sedangkan analisis isi berfokus pada isi eksplisit dan cenderung menyarankan bahwa ini mewakili makna tunggal yang tetap, studi semiotik fokus pada sistem aturan yang mengatur ‘wacana’ yang terlibat dalam teks media, menekankan peran konteks semiotik dalam membentuk makna. Namun, beberapa peneliti telah menggabungkan analisis semiotik dan analisis isi (misalnya Glasgow University Media Group 1980; Leiss et al. 1990; McQuarrie & Mick 1992).

Beberapa komentator mengadopsi definisi semiotika CW Morris (dalam semangat Saussure) sebagai ‘ilmu tentang tanda’ (Morris 1938, 1-2). Istilah ‘sains’ menyesatkan. Sampai sekarang semiotika tidak melibatkan asumsi teoretis, model, atau metodologi empiris yang disepakati secara luas. Semiotika cenderung sebagian besar teoretis, banyak ahli teorinya berusaha membangun ruang lingkup dan prinsip-prinsip umumnya. Peirce dan Saussure, misalnya, sama-sama memperhatikan definisi dasar tanda. Peirce mengembangkan taksonomi logis yang rumit dari jenis tanda. Ahli semiotika berikutnya telah berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan kode atau konvensi sesuai dengan tanda-tanda yang diorganisasikan. Jelas ada kebutuhan untuk membangun landasan teoretis yang kuat untuk subjek yang saat ini dicirikan oleh sejumlah asumsi teoretis yang bersaing. Adapun metodologi, teori Saussure merupakan titik awal untuk pengembangan berbagai metodologi strukturalis untuk menganalisis teks dan praktik sosial. Ini telah sangat banyak digunakan dalam analisis sejumlah fenomena budaya. Namun, metode tersebut tidak diterima secara universal: teori berorientasi sosial telah mengkritik fokus eksklusif mereka pada struktur, dan tidak ada metodologi alternatif yang telah diadopsi secara luas. Beberapa penelitian semiotik berorientasi empiris, menerapkan dan menguji prinsip-prinsip semiotik. Bob Hodge dan David Tripp menggunakan metode empiris dalam studi klasik mereka tentang Anak dan Televisi (Hodge & Tripp 1986). Tetapi saat ini ada sedikit pengertian tentang semiotika sebagai suatu kesatuan usaha yang dibangun di atas penemuan-penemuan penelitian kumulatif.

Semiotika Seri 3

Selektivitas media apa pun mengarah pada penggunaannya yang memiliki pengaruh yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengguna, dan yang mungkin bukan bagian dari tujuan penggunaannya. Kita bisa begitu akrab dengan medium sehingga kita ‘terbius’ terhadap mediasi yang terlibat: kita ‘tidak tahu apa yang kita lewatkan’. Sejauh kita mati rasa terhadap proses yang terlibat, kita tidak bisa dikatakan menggunakan ‘pilihan’ dalam penggunaannya. Dengan cara ini cara yang kita gunakan dapat mengubah tujuan kita. Di antara fenomena yang ditingkatkan atau dikurangi oleh selektivitas media adalah tujuan media yang digunakan. Dalam beberapa kasus, ‘tujuan’ kita mungkin secara halus (dan mungkin tidak terlihat), didefinisikan ulang oleh penggunaan media tertentu oleh kita. Ini adalah kebalikan dari sikap pragmatis dan rasionalistik, di mana cara dipilih sesuai dengan tujuan pengguna, dan sepenuhnya di bawah kendali pengguna.

Kesadaran akan fenomena transformasi oleh media ini sering membuat ahli teori media berargumentasi secara deterministik bahwa sarana dan sistem teknis kita selalu dan tak terhindarkan menjadi ‘tujuan itu sendiri’ (interpretasi umum dari pepatah terkenal Marshall McLuhan, ‘media adalah pesan’) , dan bahkan mendorong beberapa orang untuk menampilkan media sebagai entitas yang sepenuhnya otonom dengan ‘tujuan’ (berlawanan dengan fungsi) mereka sendiri. Namun, seseorang tidak perlu mengambil sikap ekstrem seperti itu dalam mengakui transformasi yang terlibat dalam proses mediasi. Ketika kita menggunakan media untuk tujuan apa pun, penggunaannya menjadi bagian dari tujuan itu. Bepergian adalah bagian yang tak terhindarkan untuk pergi ke suatu tempat; bahkan mungkin menjadi tujuan utama. Bepergian dengan satu metode transportasi tertentu daripada yang lain adalah bagian dari pengalaman. Begitu juga dengan menulis daripada berbicara, atau menggunakan pengolah kata daripada pena. Dalam menggunakan media apa pun, sampai batas tertentu kita melayani ‘tujuannya’ dan juga melayani kita. Ketika kita terlibat dengan media, kita bertindak dan ditindaklanjuti, digunakan dan digunakan. Dimana media memiliki berbagai fungsi mungkin tidak mungkin untuk memilih untuk menggunakannya hanya untuk salah satu fungsi ini secara terpisah. Pembuatan makna dengan media semacam itu harus melibatkan beberapa tingkat kompromi. Identitas lengkap antara tujuan khusus apa pun dan fungsionalitas media mungkin jarang, meskipun tingkat kecocokan pada sebagian besar kesempatan dapat diterima sebagai memadai.

Saya diingatkan di sini akan sebuah pengamatan oleh antropolog Claude Lévi-Strauss bahwa dalam kasus apa yang disebutnya bricolage, proses menciptakan sesuatu bukanlah masalah pilihan yang diperhitungkan dan penggunaan bahan apa pun yang secara teknis paling baik disesuaikan dengan keadaan yang jelas. tujuan yang telah ditentukan, melainkan melibatkan ‘dialog dengan bahan dan sarana eksekusi’ (Lévi-Strauss 1974, 29). Dalam dialog seperti itu, bahan-bahan yang siap pakai mungkin (seperti yang kami katakan) ‘menyarankan’ tindakan adaptif, dan tujuan awal dapat dimodifikasi. Akibatnya, tindakan penciptaan seperti itu tidak murni instrumental: bricoleur ‘”berbicara” tidak hanya dengan benda-benda… tetapi juga melalui medium benda-benda’ (ibid., 21): penggunaan medium dapat bersifat ekspresif. Konteks poin Lévi-Strauss adalah diskusi tentang ‘pemikiran mitos’, tetapi saya berpendapat bahwa bricolage dapat dilibatkan dalam penggunaan media apa pun, untuk tujuan apa pun. Tindakan menulis, misalnya, dapat dibentuk tidak hanya oleh tujuan sadar penulis tetapi juga oleh fitur media yang terlibat – seperti jenis bahasa dan alat tulis yang digunakan – serta oleh proses mediasi sosial dan psikologis yang terlibat. . Setiap ‘perlawanan’ yang ditawarkan oleh materi penulis dapat menjadi bagian intrinsik dari proses penulisan. Namun, tidak setiap penulis bertindak atau merasa seperti seorang bricoleur. Individu berbeda secara mencolok dalam tanggapan mereka terhadap gagasan transformasi media. Mulai dari mereka yang bersikeras bahwa mereka memegang kendali penuh atas media yang mereka ‘gunakan’ hingga mereka yang mengalami perasaan mendalam bahwa mereka dibentuk oleh media yang ‘menggunakannya’ (Chandler 1995).

Norman Fairclough berkomentar tentang pentingnya perbedaan antara berbagai media massa dalam saluran dan teknologi yang mereka gunakan.

Konstruksi Kepribadian


Sejak awal kurang lebih tahun 1980-an sejumlah besar karya di bidang antrologi karyatelah difokuskan pada perbedaan budaya dalam gambaran orang (Lihat Caerrithers, Collins, dan Lukes 1985; Geerts 1973, 1983, Gergen 1991; Gergen dan Davis 1985; Harris 1989; Kohut 1977; Kondo 1990; Marsella, Devos, dan Hsu 1985; myers, 1986; Read 1955, Rosaldo 1980an, 1984; Shweder and Bourne 1984; Spiro 1993; Taylor 1989; White and Kirkpatrick 1985; Wiergbicka 1993). Tak aneh lagi, semua volume telah diberikan dalam penelitian ini, kesepakatan penuh pada masalah yang dilibatkan tersebut belum dimunculkan, tetapi beberapa perbedaan mendasar berbagai macam kepercayaan pada budaya tentang keorangaan juga terlihat nyata. Lapisan dasar perbedaan budaya kelihatannya bergantung pada bagaimana diri tersebut tergambar dalam hubungan sosial (lihat Gergen 1990). Berdasarkan pandangan ini, kesempatan untuk memahami sifat diri tidak lewat individu atau keadaan jiwa mereka, contohnya kepercayaan, perasaan, maksud, tetapi lebih kepada kolaborasi sosial atau structural coupling dalam lingkungan sosial. Setiap orang tergantung pada yang lainnya, kelangsungan mereka tak lepas dari hubungan dengan yang lainnya, dan, Begitu pula seterusnya, hubungan tergantung pada praktik saling kerjasama antar peran sosial. Gergen (1990) menyebut jaringan kerjasama inti hubungan ini sebagai “sistem berkelanjutan diri dalam praktik kerjasama yang mana 2 orang atau lebih saling terkait” (Gergen 1990: 584-5). Gagasan tersebut sangat mengingatkan pada pemikiran biologi Maturana dan Varela (1987) tentang sistem mengorganisasi diri dalam structural coupling. Bagaimana hubungan inti dibentuk sebagian diperoleh melalui kemampuan berbicara (Gergen 1990: 584-5):

            Keadaan baik individu tidak bisa terlepas dari jaringan hubungan yang terkait dengannya. Karakter hubungan tergantung, begitu pula seterusnya, pada proses penyesuaian dan praktik menyesuaikan kembali. Akibatnya, bentuk hubungan tergantung pada praktik saling kerjasama.. sehingga, contohnya, ketika kita saling bertemu hari demi hari, praktik kita cenderung ke arah kerjasama. Gerakan mata, tangan, dan kaki, contohnya, atau jumlah kata yang kita ucapkan, volume, kecepatan dan seterusnya, semua merupakan proses saling bekerjasama.. Ketika kerjasama terjadi–saling bergantian dalam percakapan, menyesuaikan nada suara sehingga yang lain bisa mendengar dengan nyaman, berbicara dengan saling menerima pola kata, berjalan bersama dalam kecepatan yang mirip dan seterusnya –kita telah sampai pada inti bentuk hubungan.

Perhatikan bahwa kerjasama terjadi melalui tindakan naluriah yang terwujud pada individu kita.

Diatas telah dikemukakan pendapat tentang fungsi sosial, orang muncul benar-benar sebagai poin inti hubungan dalam sejarah structural coupling. Setiap dari kita mempunyai tindakan naluriah pola hubungan yang banyak dikembangkan dari sejarah structural coupling dengan yang lain. Ketika kita bertemu dengan seseorang, interaksi menjadi titik temu berbagai pola hubungan kita yang telah terjaring. Pola yang berkembang dalam hubungan kita akan disalurkan pada lingkup sistem yang lebih luas melalui proses structural coupling yang kita lakukan dalam pertemuan. Sapaan Wolof dalam pertemuan merupakan contoh yang bagus dari ini: bagaimana perbedaan status akan muncul dalam pertemuan yang betul-betul terbentuk dari oleh ketajaman status sosial kita yang telah ada sejak pertemuan sebelumnya, keduanya dengan lawan bicara sekarang dan orang lain yang tak terkira banyaknya.

Semiotika Seri 1

Jika Anda pergi ke toko buku dan bertanya kepada mereka di mana menemukan buku tentang semiotika, kemungkinan besar Anda akan bertemu dengan pandangan kosong. Lebih buruk lagi, Anda mungkin diminta untuk mendefinisikan apa itu semiotika – yang akan sedikit rumit jika Anda mencari panduan untuk pemula. Lebih buruk lagi jika Anda tahu sedikit tentang semiotika, karena mungkin sulit untuk menawarkan definisi sederhana yang banyak digunakan di toko buku. Jika Anda pernah berada dalam situasi seperti itu, Anda mungkin akan setuju bahwa adalah bijaksana untuk tidak bertanya. Semiotika bisa di mana saja. Definisi terpendek adalah bahwa itu adalah studi tentang tanda-tanda. Tapi itu tidak membuat penanya jauh lebih bijaksana. ‘Apa maksudmu dengan tanda?’ orang biasanya bertanya selanjutnya. Jenis-jenis rambu yang mungkin langsung muncul di benak adalah rambu-rambu yang biasa kita sebut sebagai ‘rambu’ dalam kehidupan sehari-hari, seperti rambu jalan, rambu pub dan rambu bintang. Jika Anda setuju dengan mereka bahwa semiotika dapat mencakup studi tentang semua ini dan lebih banyak lagi, orang mungkin akan berasumsi bahwa semiotika adalah tentang ‘tanda-tanda visual’. Anda akan mengkonfirmasi firasat mereka jika Anda mengatakan bahwa tanda juga bisa berupa gambar, lukisan, dan foto, dan sekarang mereka akan mengarahkan Anda ke bagian seni dan fotografi. Tetapi jika Anda berkulit tebal dan memberi tahu mereka bahwa itu juga mencakup kata-kata, suara, dan ‘bahasa tubuh’, mereka mungkin bertanya-tanya apa kesamaan semua hal ini dan bagaimana orang dapat mempelajari fenomena yang berbeda seperti itu. Jika Anda sampai sejauh ini, mereka mungkin sudah ‘membaca tanda-tanda’ yang menunjukkan bahwa Anda eksentrik atau gila dan komunikasi mungkin telah berhenti.

 

Dengan asumsi bahwa Anda bukan salah satu dari orang-orang menyebalkan yang membuat semua orang menunggu dengan pertanyaan canggung Anda, jika Anda mencari buku tentang semiotika, Anda bisa melakukan yang lebih buruk daripada memulai di bagian linguistik.

Adalah… mungkin untuk membayangkan suatu ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Ini akan menjadi bagian dari psikologi sosial, dan karenanya dari psikologi umum. Kita akan menyebutnya semiologi (dari bahasa Yunani semeîon, ‘tanda’). Ini akan menyelidiki sifat tanda dan hukum yang mengaturnya. Karena itu belum ada, seseorang tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa itu akan ada. Tetapi ia memiliki hak untuk hidup, tempat yang siap untuk itu sebelumnya. Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik, dan dengan demikian linguistik akan ditempatkan pada tempat yang jelas dalam bidang pengetahuan manusia. (Saussure 1983, 15-16; Saussure 1974, 16)

 

Demikian tulis ahli bahasa Swiss Ferdinand de Saussure (1857-1913), seorang pendiri tidak hanya linguistik tetapi juga dari apa yang sekarang lebih sering disebut sebagai semiotika (dalam Course in General Linguistics, 1916). Selain Saussure (singkatan biasa), tokoh kunci dalam perkembangan awal semiotika adalah filsuf Amerika Charles Sanders Peirce (sic, diucapkan ‘dompet’) (1839-1914) dan kemudian Charles William Morris (1901-1979), yang mengembangkan semiotika behavioris. Ahli teori semiotika modern terkemuka termasuk Roland Barthes (1915-1980), Algirdas Greimas (1917-1992), Yuri Lotman (1922-1993), Christian Metz (1931-1993), Umberto Eco (lahir 1932) dan Julia Kristeva (lahir 1941) . Sejumlah ahli bahasa selain Saussure telah bekerja dalam kerangka semiotika, seperti Louis Hjelmslev (1899-1966) dan Roman Jakobson (1896-1982). Sulit untuk memisahkan semiotika Eropa dari strukturalisme dalam asal-usulnya; strukturalis utama tidak hanya mencakup Saussure tetapi juga Claude Lévi-Strauss (b. 1908) dalam antropologi (yang melihat subjeknya sebagai cabang semiotika) dan Jacques Lacan (1901-1981) dalam psikoanalisis. Strukturalisme adalah metode analisis yang telah digunakan oleh banyak ahli semiotika dan didasarkan pada model linguistik Saussure. Strukturalis berusaha untuk menggambarkan keseluruhan organisasi sistem tanda sebagai ‘bahasa’ – seperti Lévi-Strauss dan mitos, aturan kekerabatan dan totemisme, Lacan dan ketidaksadaran dan Barthes dan Greimas dan ‘tata bahasa’ narasi. Mereka terlibat dalam pencarian ‘struktur dalam’ yang mendasari ‘fitur permukaan’ fenomena. Namun, semiotika sosial kontemporer telah bergerak melampaui perhatian strukturalis dengan hubungan internal bagian-bagian dalam sistem mandiri, berusaha untuk mengeksplorasi penggunaan tanda-tanda dalam situasi sosial tertentu. Teori semiotika modern juga terkadang bersekutu dengan pendekatan Marxis yang menekankan peran ideologi.

Semiotika mulai menjadi pendekatan utama studi budaya pada akhir 1960-an, sebagian sebagai hasil karya Roland Barthes. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris dari esai populernya dalam koleksi berjudul Mythologies (Barthes 1957), diikuti pada 1970-an dan 1980-an oleh banyak tulisannya yang lain, sangat meningkatkan kesadaran ilmiah tentang pendekatan ini. Menulis pada tahun 1964, Barthes menyatakan bahwa ‘semiologi bertujuan untuk mengambil sistem tanda apa pun, apa pun substansi dan batasannya; gambar, gerak tubuh, suara musik, objek, dan asosiasi kompleks dari semua ini, yang membentuk isi ritual, konvensi atau hiburan publik: ini merupakan, jika bukan bahasa, setidaknya sistem penandaan’ (Barthes 1967, 9). Adopsi semiotika di Inggris dipengaruhi oleh keunggulannya dalam karya Pusat Studi Budaya Kontemporer (CCCS) di Universitas Birmingham sementara pusat itu berada di bawah arahan sosiolog neo-Marxis Stuart Hall (direktur 1969-79) . Meskipun semiotika mungkin kurang sentral sekarang dalam studi budaya dan media (setidaknya dalam bentuknya yang lebih awal, lebih strukturalis), tetap penting bagi siapa pun di lapangan untuk memahaminya. Apa yang harus dinilai oleh para sarjana individu, tentu saja, adalah apakah dan bagaimana semiotika dapat berguna dalam menjelaskan aspek apa pun dari perhatian mereka. Perhatikan bahwa istilah Saussure, ‘semiologi’ kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada tradisi Saussurean, sementara ‘semiotika’ kadang-kadang mengacu pada tradisi Peircean, tetapi saat ini istilah ‘semiotika’ lebih cenderung digunakan sebagai istilah umum untuk merangkul seluruh bidang (Nöth 1990, 14).