Bahasa Sebagai Tanda dan Kombinasi

Bahasa merupakan system tanda. Didalam bahasa, system tanda juga bisa dilihat dari bentuk fonologinya, derivasi atau pembentukan kata, kata ganti orang (personal pronoun) (Pawley, 1993b; Chomsky, 1980; Hockett, 1958, 1960). Ttanda (sign) yang berupa bentuk fonologi yang paling sering dan mudah kita jumpai misalnya didalam pengucapan huruf vokal. Saya akan membandingkan bentuk fonologi didalam bahasa Jawa dan bahasa Inggris, membahas pembentukan kata dan kata ganti orang yang hanya dibatasi pada bahasa Jawa saja.

Berikut ini contoh dari bentuk fonologi yang ada didalam bahasa Jawa

  1. Vokal /i/, terdiri dari 2 alofon, yaitu: 1) i (i jejeg) dimana bunyi [i] dapat menduduki awal, tengah, dan akhir kata. Misalnya ijab, mrica dan tari; 2) i [i miring] yang terletak pada kata yang diakhiri konsonan. Misalnya pada kata cacing (cacIng), wajik (wajIk).
  2. Vokal /e/, yang mempunyai 2 alofon, yaitu: 1) /e/ (e swara jejeg/ e taling) menduduki semua posisi baik awal, tengah, dan Misalnya kata eman ‘sayang’, sela ‘batu’dan gule’gulai’; 2) /ɛ/ (e swara miring) terletak pada awal dan tengah kata. Misalnya estu’jadi’, saren ’marus’ dan gepeng ’gapeng’.
  3. Vokal ə, dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna. Misal:

Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo

Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung

  1. Vokal ə, dalam bahasa Jawa bukan merupakan alofon fonem /e/ melainkan merupakan fonem tersendiri karena kedua bunyi itu dalam bahasa Jawa dapat membedakan makna. Misal:

Kere [ kere] = miskin                    Kere [kəre] = tirai bamboo

Geger [gɛgɛr]= huru hara              geger [ gəgər]= punggung

  1. Vokal /a/ yang terletak di depan, tengah, dan akhir. Contohnya: aku, laris, ora
  2. Vokal /ɔ bukan merupakan alofon dari /o/, namun vokal yang berdiri sendiri. Terletaki awal, tengah, dan akhir kata. Misal : amba,rata, ula
  3. Vokal /o/ yang terletak di awal, tengah, akhir kata. Misal : obah, coba, kebo
  4. Vokal /u/ yang mempunyai 2 alofon, yaitu u (swara jejeg) terletak di awal, tengah, dan belakang kata. Misal: Urip, wuta, madu serta u swara miring yang berada di tengah kata. Misal: biyung, parut, pupur.

#bahasa

#linguistik

#language

#linguistics

Tanda Linguistik Yang Tampak di Bahasa Lokal

Tanda dari ide linguistik tampak pada suatu komunitas yang cenderung lebih suka memakai bahasa lokal atau bahasa komunitas atau bahasa ibu jika berbicara dengan orang yang memiliki hubungan yang dekat dan memiliki latar belakang budaya yang sama (Sapir, 1949; Silverstain, 1976, 1979, 1981; Geertz, 1973; Turner, 1967, 1969). Kalau di Indonesia, hal ini juga sering kita lihat seperti orang Jawa yang lebih suka memilih untuk menggunakan bahasa Jawa ketika bertemu dengan seseorang yang berasal dari bahasa Jawa juga. Orang Sunda yang lebih suka berbicara bahasa Sunda jika bertemu dengan orang Sunda daripada menggunakan bahasa nasional.

Berikut ini contoh percakapan bahasa antara orang Jawa dengan orang Jawa dan orang Sunda dengan orang Sunda dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing (Sumber: http://www.wisatabdg.com/2013/10/contoh-dialog-bahasa-sunda-dengan-teman.html)

Bahasa Lokal Sunda

Dudi      :    Punten. Assalamualaikum

(Permisi. Assalamualaikum)

Andri     :    Mangga. Wa’alaikumsalaam. eh…geuningan Dudi? Sok asup. Urang keur ngabenerkeun komputer. Aya virusan. Karek bieu komputerna dipareuman.

(Silakan. Wa’alaikumsalam. Eh, Dudi? Silakan masuk. Saya lagi membetulkan    komputer. Ada virus. Baru saja komputernya dimatikan)

Dudi      :    Oh, kitu. Sarua, komputer urang ge keur rada ngaco. Teu make antivirus. Jadi we     

                   mindeng error. Kamarana euy di imah sepi kieu?

(Oh, gitu. Sama, komputer saya juga agak ngaco. Tidak pakai anti virus. Jadi sering  error. Pada kemana kok sepi?)

Andri     :    Puguhan keur arindit. Si Bapa tugas kaluar kota. Si Mamah bieu karek indit

                   nganteur  adi urang balanja ka toko buku.

(Lagi pada pergi. Bapak lagi tugas keluar kota. Mama baru saja pergi mengantar

adik  saya belanja ke toko buku).

Dudi      :    Maneh teu kamamana euy?

(Kamu gak pergi kemana-mana?)

Andri     :    Henteu. Haroream rek indit kaluar teh. Wayah kieu, Bandung keur panas jeung

                   macet kieu.

(Gak. Malas mau pergi keluar. Jam segini, Bandung lagi panas dan macet gini)

Dudi      :    Puguhan, matak urang nyimpang kadieu ge. Kabeneran mawa mobil, ari pek macet   geuning dimamana. Tuh, di jalan hareup macetna menta ampun. Inget ka maneh,   nya mengkolwe kadieu. Kabeneran geuning aya di imah.

(Makanya itu, makanya saya berkunjung kesini juga. Kebetulan bawa mobil, eh kena   macet dimana-mana. Tuh, di jalan depan macetnya minta ampun. Ingat ke kamu, ya belok saja ke sini. Kebetulan kamu ada di rumah)

Andri     :    Rek Kamana kitu tadina?

(Tadinya mau kemana gitu?)

Dudi      :    Leu, rek meuli HP ka BEC tadina mah. Batrena geus lowbat. Gancang beak    

                   batrena.

(Ini, tadinya sih mau beli HP ke BEC. Baterainya sudah lowbat. Cepat habis

batrenya)

Andri     :    Nyantai we atuh lah. Geus cicing di dieu heula. Ke dibaturan ku urang ka BEC-na. Sakalian urang ge rek meuli Hardisk eksternal. Hardisk di komputer geus parinuh  ku data. Sakalian rek meuli powerbank keur kabogoh urang.

(Santai saja lah. Udah diam saja dulu disini. Nanti saya temenin ke BEC. Sekalian

saya mau beli hardisk eksternal. Hardisk di komputer saya sudah penuh sama data.  Sekalian mau beli powerbank buat pacar saya)

Dudi      :    Oh, siap ari kitu mah.

(Oh, ok siap kalau begitu)

Andri     :    Rek nginum naon euy? Kopi wae nya? Urang ngopilah. Kabeneran kamari Uwa

                   urang ngirim kopi ti Lampung.

(Mau minum apa? Kopi saja ya? Kita ngopi lah. Kebetulan kemarin Uwa saya

mengirim kopi dari Lampung)

Dudi      :    Sok we lah. Hayang nyobaan kumaha rasana kopi lampung teh.

(Setelah Andri membuat kopi dan menyajikannya pada Dudi)

Dudi      :    Heueuh, ngeunah kieu euy rasana kopi lampung teh.

(Iya, enak juga nih rasanya kopiLampung)

Andri     :    Urang ge karek nyobaan kamari. Bener ngeunah… eh, si Tatang cenah ngajak

                   bisnis muka distro di Jalan Buah Batu?

(Saya juga baru nyobain kemarin. Benar enak. Eh, si Tatang katanya ngajak bisnis buka distro di jalan Buah Batu?)

Dudi      :    Aeh, enya minggu kamari ge manehna ngomong ka urang. Butuh investor cenah.

                   Kabeneran imahna di Buah Batu geus lila teu dipake. Daripada lebar teu dipake,  

                   mending diberdayakeun jadi tempat usaha.

(Iya, minggu kemarin juga dia ngomong kepada saya. Butuh investor katanya.

Kebetulan rumahnya yang di Buah Batu sudah lama tidak terpakai. Daripada sayang tidak terpakai, mending diberdayakan jadi tempat usaha.)

Andri     :    Bapa urang siap cenah kerja sama mantuan keur dana mah.

(Bapa saya siap katanya membantu buat dana)

Dudi      :    Hayu lah. Geus we garap ku urang tiluan usahana. Keur bahan barang dagangan mah  aya dulur urang nu jadi tukang produksi kaos. Terus aya babaturan oge distributor.

(Ayo sudah, usahanya kita garap saja bertiga. Buat bahan barang dagangan ada

saudara saya yang jadi tukang produksi kaos)

Andri     :    Babaturan maneh isa ngasupan barang naon wae cenah?

(Teman kamu bisa masukin/suplai barang apa saja katanya?)

Dudi      :    Sagala aya. Aya kaos, jeket, calana, sandal, jeung lainna.

(Segala ada. Ada kaos, jaket, celana, sandal, dll)

Andri     :  Alus ari kitu mah. Geus we urang gancangkeun lah. Kari urang tiluan ngariung deui  ngadiskusikeun keur usahana.

(Bagus kalu begitu. Ya sudah kita percepat saja. Tinggal kita bertiga kumpul lagi

mendiskusikan untuk usaha)

Dudi      :    Enya. Ke atuh urang telepon heula si Tatang-na. Sugan manehna keur aya di

Bandung. Dua poe kamari mah nga-whatsApp keur indit ka Jakarta cenah.

(Iya. Saya telepon dulu si Tatang. Siapa tahu dia lagi ada di Bandung. Dua hari

kemarin nge-WhattsApp katanya lagi pergi ke Jakarta.

#sundanese

#sunda

#bahasalokal

#bahasa

#linguistics

Ide Linguistik Praktis

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

 A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

Yang dimaksud dengan linguistik praktis adalah sebuah praktek dalam berkomunikasi yang mengkoordinasikan tindakan diantara sesama manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara langsung melalui makna yang berasal dari kapasitas tanda dari sebuah system tanda yang sangat luas dan kombinasi-kombinasi lain yang memungkinkan yang disebut bahasa. Tanda-tanda didalam system tersebut berupa lisan tetapi didalam beberapa kasus berupa isyarat, seperti tanda bahasa orang tuli.  Ide paling sederhana didalam adalah bentuk tanda dan tindakan  yang biasanya berhubungan pengucapan atau pronunciation. Cara pengucapan atau pronunciation merupakan bentuk domain linguistik. Berikut ini contoh dari domain linguistik tersebut dilihat dari bentuk linguistik bahasa:

A: Did you say ‘table’? ⇒ bermakna meja. Bentuk pengucapannya /teɪbl/

B: No, I said ‘stable’.  ⇒ bermakna stabil. Bentuk pengucapannya /steɪbl/

(adanya kemiripan bunyi tetapi makna berbeda)

A: I have 3 sheep. I feed them everyday. Bentuk pengucapannya /ʃ i:p/

B: How come? Ship does not eat. Bentuk pengucapannya / ʃɪp/

(adanya bunyi yang sama tetapi makna berbeda)

Bentuk linguistik bahasa juga ditemukan didalam bahasa Jawa yang ditunjukkan dengan adanya cara pengucapan yang berbeda yaitu huruf vokal /a/ dibaca /o/ dan huruf vokal /a/ tetap dibaca /a/

randa, jaka, gawa, waja, lara, mara, lawa, maca, pasa, mrana, kana, wana⇒/a/→ /o/

gawan, sarapan, bal, kapan, papat, ora, lawang, nyawang, balang ⇒ /a/ → /a/

Selain dilihat dari bentuk pengucapan, ide linguistik juga dapat diketahui dari gaya bahasa atau tipe bahasa tertentu yang digunakan oleh suatu kelompok tertentu dalam berinteraksi yang sangat tergantung pada dimensi geografis (Giddens, 1984; Wallerstein, 1979), misalnya adalah bentuk bahasa yang digunakan oleh seorang wanita yang satu dengan wanita yang lain didalam kelompok tertentu, laki-laki dengan kelompok tertentu, bahasa di suatu daerah primitive dengan bahasa di kota yang mencerminkan pola-pola hubungan didalam interaksi sosial dan permasalahannya terutama dalam salah memaknai ucapan didalam suatu interaksi sosial karena perbedaan latar belakang etnik (Gumperz, 1982. 1993).

Berikut ini adalah contoh bentuk ide linguistik yang dipandang dari bentuk bahasa yang berbeda antara wanita dan pria (perbedaan bahasa antara pria dan wanita)

#linguistik

#linguistics

Antropologi Linguistik Untuk Menegaskan Psikis Manusia

Dalam prakteknya, hal ini utamanya melibatkan persatuan fundamental dalam fungsi mental semua manusia. Tapi bahkan sepintas lalu sekilas di dunia mengungkapkan bukan kesatuan, tapi keragaman, di semua tingkat perilaku budaya, sosial, dan bahasa manusia. Kontradiksi yang nyata ini telah dipecahkan dengan menerapkan perbedaan mendasar antara penampilan dan kenyataan, di balik keanekaragaman permukaan yang nyata terdapat kesatuan yang lebih dalam dan lebih nyata, dari mana keragaman permukaan yang dihasilkan, pada akhirnya, diharapkan, secara eksplisit dapat dilakukan.

Pandangan ini tidak berarti jika tidak bernilai dan tradisional, kembali ke Plato dan tercermin dalam perumpamaan gua yang terkenal dalam karya terkenalnya, The Republic. Sekelompok orang digambarkan menghabiskan seluruh hidup mereka di sebuah gua. Rantai membelenggu mereka sehingga mereka hanya bisa melihat dinding belakang gua. Api di belakang mereka menyebabkan bayang-bayang dilemparkan ke dinding, inilah yang bisa mereka lihat dari benda-benda di belakang mereka. Bagi Plato, perumpamaan ini merangkum sifat pemahaman manusia. Di luar perubahan dan keragaman hal-hal yang masuk akal di dunia ini merupakan bidang abadi dari bentuk dan gagasan yang murni dan lengkap. Pertimbangkan salah satu contoh Plato; Pengertian tentang persamaan. Tidak ada dua tongkat yang sama persisnya: dan bagaimanapun juga, tidak ada pengukuran yang bisa cukup akurat untuk menunjukkan hal ini secara meyakinkan. Gagasan tentang persamaan ada di luar manifestasi fisiknya di dunia material. Hal ini ada di dunia lain, gagasan, yang sempurna, murni, dan abadi muncul hanya untuk pikiran itu sendiri. Pengetahuan tentang gagasan ini adalah satu-satunya jenis pengetahuan sejati; Hanya yang abadi yang bisa diketahui, segala sesuatu yang lain tidak sempurna, kontingen. Akhirnya, gagasannya adalah penjelasan tentang dunia yang masuk akal. Apapun realitas yang ada di dunia material berasal dari gagasan di baliknya; Kursi bahan tertentu, misalnya, mendapat kenyataan sebagai kursi dari gagasan “kursi” di luar semua manifestasinya yang spesifik di dunia material.

Pandangan Plato memiliki pengaruh besar dalam sejarah pemikiran Barat dan dengan kedok modern, mereka terus melakukannya hari ini. Mereka biasanya diartikulasikan hari ini dalam bentuk modern yang diberikan oleh pemikir rasionalis abad ketujuh belas, seperti Descartes, Spinoza, dan Leibniz. Doktrin dasar rasionalisme adalah bahwa pengetahuan tentang dunia dapat dicapai dengan penalaran murni, tanpa daya tarik yang diperlukan untuk pengalaman dunia material. Hal ini dilakukan oleh anugerah bawaan dalam pikiran manusia dari kecakapan akal. Kecakapan akal mengandung konsep bawaan seperti substansi atau sebab-akibat, bukan berasal dari pengalaman, tetapi melalui apa yang kita pahami dari pengalaman tersebut. Karena ini adalah bawaan, manusia pada dasarnya diberikan bentuk yang sama, yaitu mereka universal. Dalam sebuah kerangka rasionalis, bawaan inilah alasan universal yang menarik perhatian, bukan perubahan yang terus menerus dari pengalaman yang masuk akal.

#plato

#descartes

#antropology

#linguistics

Makna Sebagai Enaksi pada Linguistik Antropologi

Makna enaksi adalah proses memberlakukan suatu makna baru dengan cara melihat hubungan erat antara yang diterangkan (bagian inti) dengan yang menerangkan (bukan inti). Pendekatan enaktif terhadap makna dan pengetahuan digagas oleh Maturana dan Varela (1987) dan Varela, Thompson, dan Rosch (1991). Beberapa contoh dari makna enaksi adalah:1) debat politik, debat politik memiliki makna enaksi berupa kekuatan (power) dari partisipannya didalam menyampaikan maksudnya bukan apa yang  dijelaskan (Duranti (1988b). Jadi bisa dikatakan makna enaksi dari debat politik adalah menunjukkan kekuatan ideology dari partipan (debat politik ⇒ makna enaksi: kekuatan ideology); 2) penerapan genre, misalnya penggunaan kata ‘pada jaman dahulu’ atau ‘ndek biyen’ cenderung merupakan tanda yang akan dibicarakan adalah cerita rakyat atau dongeng atau legenda.

Didalam pendekatan enaktif terdapat beberapa prinsip antara lain: 1) setiap orang memiliki domain kognitif, yaitu pengetahuan awal yang dimiliki yang berasal dari pengalaman pribadi masing-masing, 2) proses pemahaman tentang informasi merupakan kemampuan dalam memproses informasi yang berasal dari system saraf pusat (central nervous system), 3) kognisi adalah kemampuan untuk beradaptasi dengan situasi di lingkungan sekitar sebagai control dalam bertindak meskipun pemahaman tersebut bersifat abstrak, 4) representasi kehidupan didunia yang tergantung pada sebanyak apa yang sudah dilakukan terhadap lingkungan fisik. Hal ini sangat tergantung pada masing-masing perspektif, kemampuan, dan niat didalam memahami lingkungannya, 5) pengalaman bukanlah pengetahuan yang didapatkan setelah dilahirkan, tetapi bermula dari rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Pengalaman memiliki peran yang sangat besar dalam pemahaman kognisi dan pikiran.

Enaktif kognisi adalah interaksi adaptif terhadap lingkungan  yang menunjukkan pola pikir kita yang ada di kepala kemudian terekspresikan pada perilaku. Enaktif kognisi diilustrasikan seperti tindakan berjabat tangan. Kita tidak bisa melakukan proses ‘berjabat tangan’ sendirian, kita membutuhkan partner dan tentu saja itu sengaja dilakukan. Kita tidak pernah berjabat tangan secara tidak sengaja. Saat kita berjabat tangan, kita dapat mengetahui secara kognisi: seberapa erat kita berjabat tangan, berapa lama dalam berjabat tangan, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita memiliki rasa percaya diri atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita tampak ramah atau tidak, apakah mitra kita saat berjabat tangan dengan kita menunjukkan ketulusan atau tidak. Disitulah letak dari enaktif kognisi yang bisa kita pahami secara abstrak.

#linguistics

#anthropology

#enaksi

#enaktif

Makna Sebagai Representasi Mental

Disini kita membahas makna dari tanda budaya dan penerapan linguistik. Cara orang memandang sesuatu dengan menggunakan fungsi system nervous sebagai jalinan hubungan kedekatan dari perubahan-perubahan didalam relasi kegiatan diantara komponen-komponennya (Maturana dan Vrela, 1987:164). Biasanya makna mental ditunjukkan dalam penggunaan metafora. Yang dicontohkan oleh kedua peneliti tersebut adalah metaphor orang yang sedang berdansa. Saat berdansa, pasangan tersebut masih tetap kontinu merespon lingkungan dan memberlakukan perilaku yang berubah mengikuti berdasarkan perubahan didalam lingkungannya, misalnya mempercepat atau memperlambat gerakan berdasarkan perubahan ritme. Semuanya itu membutuhkan kepekaan terhadap lingkungan dan koordinasi yang baik didalam hubungan tersebut. Perilaku itu merupakan efek dari pentingnya sejarah dari pembentukan kebiasaan di lingkungan sekitar (Gibson, 1979).

Didalam lingkungan Jawa, makna sebagai representasi mental ini sangat tampak, misalnya kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu perhatian di lingkungan sekitar. Berikut ini adalah contoh-contoh kegiatan di masyarakat Jawa yang menunjukkan makna ‘peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungannya’ yang sering kita sebut dengan kearifan lokal. Contoh-contoh tentang kepedulian masyarakat Jawa terhadap lingkungan dan sesama saya ambil dari sebuah blog: jejakjejakhijau.blogspot.co.id/2012/ sebagai berikut:

  1. Pranoto Mongso

Perhatian petani terhadap lingkungan terutama untuk bercocok tanam dengan mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya, tidak boleh rakus dengan memanfaatkan alam secara terus menerus tanpa memperhitungkan kesuburannya)

  1. Nyabuk gunung

Cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Bentuk bercocok tanam seperti ini mencegah terjadinya longsor. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya)

  1. tong royongIstilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasehat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang peduli terhadap sesama dan lingkungan).Didalam masyarakat Jawa ada beberapa sifat mental yang bisa dilihat atau diamati.
    1. Pemalu, sungkan tapi suka menyapa

    Orang Jawa suka senyum senyum dan mengangguk ketika berpapasan. Mereka suka menyapa namun biasanya jarang berani memulai percakapan.

    1. Pandai menjaga etika dan sopan santun

    Orang Jawa itu sopan, baik terhadap orang yang lebih tua ataupun terhadap sesama, mereka juga pandai menjaga etika ketika berbaur dalam lingkungan bermasyarakat. Merundukkan badan ketika berjalan didepan orang yang lebih tua sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan, tata krama, dan sopan santun. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai dan dapat menempatkan posisi dirinya.

    1. Orang Jawa itu pekerja keras dan penurut

    Bila ditinjau dalam lingkup perusahaan, orang Jawa adalah pekerja terbaik. Mereka mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan, tak pernah mengeluh, dan berdedikasi tinggi terhadap apa yang dibebankan padanya.

    Orang Jawa menganut filosofi hidup mengalir seperti air dengan menjalani kehidupan seolah tanpa beban dan tanggungan. Yang penting adalah bisa makan, ibadah, dan menghidupi keluarga.

    Sikap orang Jawa adalah sikapnya yang menerima apa adanya terutama dalam hal hubungan. Mereka menerima keadaan apapun dari pasangannya.

    Didalam keluarga, orang Jawa adalah orang-orang yangsuka mengalah.

    Wong Jowo kuwi gampang ditekak-tekuk. Orang Jawa mudah berbaur dengan orang-orang dari suku lain walaupun mereka agak pemalu dan sungkan. Kesopanan dan keramahan orang Jawa membuat orang-orang senang bergaul dengan mereka.

    Bahasa Jawa memiliki strata bahasa halus, sedang, dan kasar. Orang orang Jawa terutama yang berasal dari daerah Yogyakarta, Solo, dan Semarang dikenal dengan kehalusan dan kelembutan bicaranya.

    Banyak sekali tradisi-tradisi yang berawal dari leluhur jawa yang masih lestari dan dilakukan sampai sekarang. Beberapa tradisi tersebut merupakan symbol-simbol dari suau peristiwa penting di masa lalu atau bentuk rasa syukur yang dibingkai dalam sebuah acara.

    Kebiasaan masyarakat untuk menyantap makanan dengan menggunakan tangan dirasa lebih nikmat.

    Hidup mengalir seperti air Menerima apa adanya Suka mengalah, kalem, dan menghindari konflik Gaya dan nada bicaranya sopan Orang Jawa itu luwes Mempertahankan tradisi dan budaya Muluk/puluk

#antropologi

#anthropology

#javanese

#jawa

#linguistics

#linguistik

#orangjawa

Makna Alam dalam Linguistik Antropologi

Konsep makna disini adalah pemahaman terhadap suatu tanda yang identik dengan kata ‘berarti’ atau didalam bahasa Inggris menggunakan verba “mean” dan didalam bahasa Jawa menggunakan istilah “tegese” seperti contoh dibawah ini (bahasa Inggris dan bahasa Jawa):

  1. Those clouds mean rain; mendung tegese arep udan
  2. Red means stop; abang tegese kudu mandek
  3. I didn’t mean what I said; duduk iku karepku
  4. I didn’t mean to say it. It just slipped out; aku ora karep ngomong kuwi, keprucut.

Untuk memahami tanda itu merupakan hal yang sudah umum dan dipahami oleh kelompok sosial. Tidak hanya berupa tanda, tetapi untuk ucapan juga perlu dimaknai dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan makna. Terdapat beberapa tanda verba tertentu yang mengindikasikan maksud tertentu.

Terdapat beberapa verba yang memiliki makna proses material yaitu makna melakukan sesuatu dan makna kejadian. Jika ada orang yang menggunanakan verba ini maka dapat diartikan bahwa orang tersebut telah melakukan suatu kegiatan. Beberapa verba yang bermakna proses material misalnya membuat, mengembangkan, mendisain, mengirim, memetik, menendang, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contohnya didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika sosial (Santosa, 2003: 79-80 tanpa modifikasi):

My father went to work

They gave a book to me

They play tennis

The house was built for her by him

 Tono berlari

Ayah membuat mainan untuk adik

Tono menyanyikan sebuah lagu

Surat itu dikirim oleh dia

Bapak lan ibu lagi dhahar

Ibu masak sego

Dewekne lagi munggah gunung

Sayure dimasak kanggo Tono

Verba selanjutnya yaitu verba yang menunjukkan proses mental. Proses mental adalah proses berpikir, mengindera, dan merasa. Didalam bahasa Inggris, proses mental bekerja secara dua arah tetapi didalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak demikian. Berikut ini contoh-contoh dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika (Santosa, 2003: 81 tanpa modifikasi)

He likes it. It pleases him

They believe him. He convinces him

Mereka mempercayainya tidak pernah *ia mempercayakan mereka

Deweke seneng Marni tidak pernah *Marni nyenengke deweke

Berikutnya adalah verba yang menunjukkan proses verbal. Proses ini adalah proses berkata murni, tidak ada unsure perilakunya. Kata kerja dalam proses verbal adalah say, ask, tell, berkata, bertanya, ngomong, takon. Berikut ini adalah contoh-contoh didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa

They said that it was good

Ayah menanyakan itu kepada Ibu

Bocah kuwi kanda ngono kuwi marang aku

Proses selanjutnya adalah proses perilaku verbal yaitu proses perilaku yang menggunakan verbal didalam melakukan tindakan, misalnya menyarankan, mengklaim, mendiskusikan, menjelaskan. Berikut ini contoh-contoh dari proses perilaku verbal yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa (Santosa, 2003 tanpa modifikasi):

The government claimed it’s the right thing to do

Bapak menyarankan seperti itu kepadaku

Masane ngundhat-undhat bantuan pemerintah sing sethithik

Sedangkan untuk proses perilaku mental lebih merupakan gabungan antara proses mental dan materi. Verba yang masuk dalam proses ini adalah menyelidiki, mempelajari, mengecek, meneliti, mengabdi, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa,

The police are investigating the case

Mereka sudah meneliti daerahnya

Bapak lagi ngecek knalpote sing rusak

Proses yang lainnya adalah proses relasional. Proses ini adalah proses yang menghubungkan antara partisipan yang satu dengan partisipan yang lain. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

They are very angry

It matters

John is the actor

Rumah itu sangat mewah

Ayah menjadi marah

Kasus itu menunjukkan kerapuhannya

Bapake ing omah

Ibu dadi wedi marang kowe

Kasus kuwi ngandharake yen dheweke asor

Proses yang terakhir yaitu proses eksistensial. Proses ini menunjukkan adanya sesuatu. Didalam bahasa Inggris ditunjukkan melalui subjek gramatikal there is/there are/exist. Didalam bahasa Indonesia dimulai dengan kata ada atau terdapat atau muncul. Didalam bahasa Jawa ditunjukkan dengan struktur klausa yang dimulai dengan ana.

There are some students in the class

Ebola existed in Ethiopia

Ada masalah penting di instansi kita

Penyerangan itu muncul didaerah selatan

Ana telung perkara ing kantor kuwi

Penyakite ana ing geger

Tanda itu juga muncul hanya berupa gerak tubuh seperti pada saat orang mengangguk maka itu merupakan pertanda bahwa ia setuju, ia paham, atau ia mengetahui tentang sesuatu. Ini disebut sebagai representasi mental (mental representation) atau cermin alam (mirror of nature) yang menjadi pokok penerapan tanda pada domain bahasa dan budaya.

 #linguistik

#linguistics

#antropologi

#anthropology

Makna Pengetahuan dan Domain Linguistik Antropologi

Linguistik antropologi merupakan sub bidang linguistik yang berhubungan konteks bahasa didalam ranah sosial dan budaya yang sangat berperan dalam praktek budaya dan struktur sosial di masyarakat. Linguistik antropologi memandang bahasa sebagai inti konsep antropologi, kebudayaan. Linguistik antropologi melihat makna dibalik kegunaan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan informasi, kesalahan dalam penggunaan bahasa, bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, register dan gaya bahasa. Hal itu dilakukan untuk mengupas bahasa secara detail untuk menemukan pemahaman bahasa.

Sosiolinguistik merupakan hal yang berbeda dengan linguistik antropologi. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sebuah institusi sosial yang didalamnya mengurai tentang interaksi  sosial untuk menemukan bagaimana pola-pola linguistik yang ada pada kelompok sosial tertentu dan mengkorelasikan perbedaan-perbedaan perilaku linguistik dengan variable variable seperti usia, jenis kelamin, kelas, ras, dan sebagainya. Perilaku linguistik bisa dilihat dengan cara melihat cara pengucapan (pronunciation) mereka didalam suatu kelompok tertentu. Perbedaan pengucapan sangat terlihat didalam bahasa Inggris akan tetapi hal itu tidak ditemukan didalam bahasa Jawa hal itu tidak ada, akan tetapi didalam bahasa Jawa terdapat kelas kata untuk menunjukkan perbedaan. Berikut ini contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa dan di bahasa Inggris:

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Inggris: running diucapkan /rʌnɪŋ/ atau /rʌnɪn/. Analisis perilaku bahasanya adalah:

penutur kelompok pria cenderung menggunakan pengucapan /rʌnɪn/; sedangkan penutur kelompok wanita menggunakan pengucapan /rʌnɪŋ/.

Penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪn/ biasanya tergolong pada kelompok bawah yaitu para pekerja, bawahan, buruh, pegawai (lower class background) sedangkan penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪŋ/ biasanya tergolong pada

  • kelompok menengah ke atas (middle and upper class background). Hal ini termasuk dalam kajian semiotik.

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa:

  • Penggunaan bahasa ngoko yang digunakan oleh orang dengan usia yang sama, orang yang memiliki hubungan yang dekat atau akrab, orang yang berusia lebih tua kepada orang yang berusia lebih muda, atasan kepada bawahannya, misalnya: bener yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama madya yang digunakan oleh murid kepada guru, orang yang usinya lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, anak kepada orang tuanya, pegawai atau pembantu kepada majikannya, misalnya: leres yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama inggil adalah bahasa yang tingkatannya paling santun karena disini terdapat prinsip merendahkan hati dan meninggikan posisi orang lain, misalnya: kasinggihan yang berarti benar.

Perilaku linguistik tidak hanya pada bagaimana bahasa itu diucapkan, ternyata juga dari pilihan kata seperti yang ada didalam bahasa Jawa diatas dengan memperhatikan posisi dan maksud. Terkadang apa yang diucapkan memiliki makna yang biasanya sudah dipahami oleh mitra tutur meskipun kalimat tersebut tidak diucapkan secara langsung. Perilaku linguistik tidak terlepas dari tuturan dan konteks serta latar pengetahuan dari penutur dan mitra tutur.

#linguistics

#linguistik

#anthropology

#antropologi

Komunikasi Fatis, Masih Adakah?

Dalam linguistik, ungkapan fatis adalah komunikasi yang terutama berfungsi untuk membangun atau mempertahankan hubungan sosial. Dengan kata lain, ekspresi fatis sebagian besar memiliki fungsi sosio-pragmatis daripada denotasi. Mereka dapat diamati dalam pertukaran percakapan sehari-hari, seperti dalam, misalnya, pertukaran basa-basi sosial yang tidak mencari atau menawarkan informasi yang bernilai intrinsik, melainkan menandakan kesediaan untuk mematuhi harapan lokal konvensional untuk kesopanan.

Kegunaan lain dari istilah ini termasuk kategori “obrolan ringan” (percakapan untuk kepentingannya sendiri) dalam komunikasi wicara, di mana ia juga disebut “percakapan yang rapi”. Dalam karya Roman Jakobson, fungsi ‘fatik’ bahasa menyangkut saluran komunikasi; misalnya, ketika seseorang berkata “Aku tidak bisa mendengarmu, kamu putus” di tengah percakapan telepon seluler. Penggunaan ini muncul dalam penelitian di komunitas online dan micro-blogging.

Komunikasi fatis dikenal sebagai obrolan ringan: penggunaan bahasa nonreferensial untuk berbagi perasaan atau membangun suasana kemasyarakatan daripada untuk mengkomunikasikan informasi atau ide. Formula komunikasi fatis yang diritualkan (seperti “Uh-huh” dan “Semoga harimu menyenangkan”) umumnya dimaksudkan untuk menarik perhatian pendengar atau memperpanjang komunikasi. Juga dikenal sebagai pidato fatis, komuni fatis, bahasa fatis, token sosial, dan obrolan ringan.

Istilah fatis diciptakan oleh antropolog Inggris Bronislaw Malinowski dalam esainya “The Problem of Meaning in Primitive Languages”, yang muncul pada tahun 1923 dalam The Meaning of Meaning oleh C.K. Ogden dan I.A. Richards.

#phaticcommunication

#linguistics

#sociolinguistics

#bronislawmalinowski

#romanjakobson

 

Sejarah Linguistik Modern

Bidang linguistik modern berasal dari awal abad ke-19. Sementara India kuno dan Yunani memiliki tradisi tata bahasa yang luar biasa, sepanjang sebagian besar linguistik sejarah telah menjadi bidang filsafat, retorika, dan analisis sastra untuk mencoba mencari tahu bagaimana bahasa manusia itu bekerja. Namun pada tahun 1786, sebuah penemuan yang menakjubkan dibuat yaitu ada korespondensi suara yang teratur di antara banyak bahasa yang dipergunakan di Eropa, India, dan Persia. Misalnya, bunyi ‘f’ dalam bahasa Inggris sering dikaitkan dengan bunyi ‘p’, antara lain dalam bahasa Latin dan Sanskerta, bahasa kuno memang penting di India

Para sarjana menyadari bahwa korespondensi ini ditemukan dalam ribuan kata tidak mungkin terjadi karena kebetulan atau pengaruh timbal balik. Satu-satunya kesimpulan yang dapat dipercaya adalah bahwa bahasa-bahasa ini terkait satu sama lain karena berasal dari nenek moyang yang sama. Sebagian besar linguistik abad ke-19 dikhususkan untuk mempelajari sifat bahasa induk ini, yang diucapkan sekitar 6.000 tahun yang lalu, serta perubahan di mana ‘Proto-Indo-Eropa’, seperti yang kita sebut sekarang, berkembang menjadi bahasa Inggris, Rusia, Hindi, dan keturunan modern lainnya.

Program linguistik sejarah ini berlanjut hingga hari ini. Ahli bahasa telah berhasil mengelompokkan sekitar 5.000 bahasa di dunia ke dalam sejumlah rumpun bahasa yang memiliki nenek moyang yang sama.

Studi Struktur Bahasa

Pada awal abad ke-20, perhatian beralih pada fakta bahwa tidak hanya bahasa yang berubah, tetapi juga struktur bahasa, yang sistematis dan diatur oleh aturan dan prinsip yang teratur. Perhatian para ahli bahasa dunia semakin beralih ke studi tentang tata bahasa—dalam pengertian teknis dari istilah organisasi sistem bunyi suatu bahasa dan struktur internal kata-kata dan kalimatnya. Pada tahun 1920-an, program ‘linguistik struktural’, yang sebagian besar diilhami oleh gagasan ahli bahasa Swiss Ferdinand de Saussure, mengembangkan metode analisis gramatikal yang canggih. Periode ini juga menyaksikan studi ilmiah intensif tentang bahasa yang belum pernah ditulis. Saat itu sudah menjadi hal yang biasa, misalnya, bagi seorang ahli bahasa Amerika menghabiskan beberapa tahun untuk mempelajari seluk-beluk tata bahasa Chippewa, Ojibwa, Apache, Mohawk, atau beberapa bahasa asli Amerika Utara lainnya.

Setengah abad terakhir telah melihat pendalaman pemahaman tentang aturan dan prinsip ini dan tumbuhnya keyakinan yang tersebar luas bahwa meskipun tampak beragam, semua bahasa di dunia pada dasarnya dipotong dari kain yang sama. Ketika analisis gramatikal menjadi lebih dalam, kami telah menemukan kesamaan yang lebih mendasar di antara bahasa-bahasa di dunia. Program yang diprakarsai oleh ahli bahasa Noam Chomsky pada tahun 1957 melihat fakta ini sebagai konsekuensi dari otak manusia yang ‘dipersiapkan’ untuk sifat tata bahasa tertentu, sehingga secara drastis membatasi jumlah bahasa manusia yang mungkin. Klaim program ini telah menjadi dasar bagi banyak penelitian linguistik baru-baru ini, dan telah menjadi salah satu pusat kontroversi terpenting di lapangan. Buku dan artikel jurnal secara rutin menghadirkan bukti yang mendukung atau menentang gagasan bahwa sifat utama bahasa adalah bawaan.

Studi Makna

Ada juga tradisi panjang dalam mempelajari apa artinya mengatakan bahwa sebuah kata atau kalimat ‘berarti’ hal tertentu dan bagaimana makna tersebut disampaikan saat kita berkomunikasi satu sama lain. Dua gagasan populer tentang apa makna kembali ke Yunani kuno: Salah satunya adalah bahwa makna adalah semacam representasi mental; yang lain adalah bahwa arti dari suatu ungkapan adalah murni fungsi dari bagaimana ungkapan itu digunakan. Kedua gagasan tersebut telah meluncurkan program penelitian yang aktif saat ini. Mereka telah bergabung dengan pendekatan ketiga, membangun pekerjaan oleh para filsuf seperti Gottlob Frege dan Bertrand Russell, yang menerapkan metode formal yang berasal dari logika dan upaya untuk menyamakan makna ekspresi dengan referensi dan kondisi di mana itu mungkin dinilai. menjadi benar atau salah. Ahli bahasa lain telah melihat prinsip-prinsip kognitif yang mendasari pengorganisasian makna, termasuk proses metafora dasar yang diklaim oleh beberapa orang sebagai inti tata bahasa. Dan yang lain lagi telah meneliti cara kalimat diikat menjadi satu untuk membentuk wacana yang koheren.

Penggunaan Bahasa: Sisi Sosial Bahasa

Dalam 50 tahun terakhir, telah terjadi peningkatan perhatian pada sisi sosial bahasa dan juga sisi mental. Subbidang sosiolinguistik telah berkembang sebagian sebagai konsekuensi dari gerakan sosial pasca Perang Dunia II. Gerakan pembebasan nasional yang aktif di negara-negara dunia ketiga setelah perang mengajukan pertanyaan tentang apa yang akan menjadi bahasa resmi mereka setelah kemerdekaan, sebuah pertanyaan yang mendesak, karena hampir semuanya multibahasa. Ini mengarah pada studi ilmiah tentang situasi bahasa di negara-negara di dunia. Selain itu, gerakan untuk hak-hak minoritas di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya telah mengarah pada penelitian yang cermat terhadap variasi sosial yang melengkapi pekerjaan sebelumnya dalam variasi geografis. Para sarjana telah mengubah alat analisis linguistik untuk mempelajari varietas yang tidak standar seperti Bahasa Inggris Vernakular Afrika-Amerika dan Bahasa Spanyol Chicano. Dan gerakan perempuan telah membuat banyak ahli bahasa menyelidiki perbedaan gender dalam berbicara dan apakah bahasa kita harus melanggengkan ketidaksetaraan seksual.

#linguiistics

#saussure