Salah satu tumbuhan untuk menyembuhkan demam berdarah adalah daun pepaya. Caranya adalah dengan menumbuk 2 helai daun pepaya hingga dihasilkan air atau jus daun sebanyak minimal dua sendok makan.
Daun pepaya bisa juga dijus atau diblender. Namun dengan mempergunakan mesin blender dibutuhkan air sebanyak 50-75 ml. Kemudian peras dengan mempergunakan kain bersih atau penyaring.
Minum jus daun pepaya ini sekali dalam sehari. Untuk menggantikan darah yang sudah banyak berkurang bisa dengan jus jambu merah dengan tambahan madu.
Salah satu ramuan JSR untuk mengurangi sakit pada gejala asam urat adalah dengan cara mengkonsumsi rumput laut. Rumput laut bisa diolah menjadi agar-agar seperti gambar di atas atau dikonsumsi begitu saja. Caranya adalah dengan merebus rumput laut kering hingga lunak.
Untuk rumput laut yang dikonsumsi langsung bisa ditambahkan di dalamnya yaitu buah kolang kaling. Buah ini juga bisa mengurangi sakit asam urat karena baik rumput laut maupun kolang-kaling sama-sama mengandung kolagen yang bisa mengurangi dan menggantikan kolagen yang berkurang di tempat dimana dirasakan sakit asam urat.
Rumput laut bisa direbus dengan ditambahkan daun pandan wangi. Bisa juga dengan menambahkan jus daun pandan wangi dan pandan betawi untuk menambah warna, rasa dan aroma. Jus dua macam daun ini sebenarnya sangat baik karena setara dengan daun kelor.
Untuk kuahnya bisa digunakan santan masak. Santan masak adalah parutan kelapa yang diperas dengan air masak. Santan masak sangat bergizi dan bernutrisi tinggi, tidak mengandung kholesterol jahat. Bahkan menjadi herbal yang baik untuk beberapa macam sakit. Tambahkan larutan gula aren dan gunakan garam himalaya agar semakin gurih.
Memang herbal untuk asam urat ini adalah herbal terlezat tapi sangat ampuh.
Heci, mungkin anda tahu banget dengan penganan yang cukup populer ini. Sejenis cemilan gorengan yang sangat dikenal di Malang dan di kota-kota lainnya.
Heci cemilan gorengan yang berbahan tepung terigu dan sayuran. Sayur-sayurnya terdiri dari kol, wortel, daun bawang dan lain-lain. Kadang ada yang menambahkan udang di tengahnya. Lalu setelah diaduk merata, adonan ini digoreng dengan metode deep frying hingga berwarna golden brown.
Kadang heci juga diselipkan bukan hanya udang, tetapi kacang tanah beberapa biji di tengahnya. Heci yang satu ini bisa anda temukan di kota Madiun.
Di kota Malang heci biasa disantap dengan petis udang atau ikan. Petis memang sangat digemari oleh masyarakat Jawa Timur terutama di daerah penghasil petis seperti Sidoarjo dan Gresik. Juga Banyuwangi. Petis sangat kental berbentuk pasta padat sehingga harus dicairkan dulu dengan air hangat lalu direbus dengan bumbu-bumbu seperti gula, bawang putih dan cabe rawit.
Seperti halnya di Malang, heci menggunakan saus cocolan petis, maka heci di Bandung yang disebut dengan bala-bala disantap dengan kuah kacang. Orang Bandung sangat menyukai makan gorengan dengan cocolan saus kacang tanah. Bala-bala di Bandung sedikit berbeda dengan heci Malang, dia berbentuk abstrak dan tidak dicetak. Sehingga bentuknya menyerupai bakwan jagung.
Sejenis heci pula, bisa kita temukan di Jepang. Disana disebut Okonomiyaki. Penganan ini berbentuk lebar, lebih mirip ke pancake. Saus yang disukai para muda di Jepang adalah mayones. Okonomiyaki juga disantap dengan saus khusus yang namanya saus okonomiyaki. Pula ditambah dengan saus sambal dan tomat.
Jika kita bergeser ke daerah pelosok kita juga temukan heci dengan sayuran khusus yaitu daun beluntas. Daun yang memiliki cita rasa jamu ini ternyata bisa dicampurkan ke dalam adonan heci. Dan heci daun beluntas disantap dengan cabe rawit hijau, karena tidak menggunakan petis. Heci ini bisa kita temukan di daerah Nganjuk Jawa Timur.
Ada pula varian heci jenis lain yaitu heci dengan sayuran daun kelor. Daun kelor banyak mengandung vitamin dan berkhasiat untuk menyembuhkan banyak penyakit. Tetapi siapa sangka daun yang disebut herbal ajaib ini bisa dijadikan bahan sayuran untuk heci. Heci daun kelor bisa kita temukan di Klaten Jawa Tengah. Disamping daun kelor heci di Klaten ini dicampur juga dengan wortel, tauge dan kol. Heci ini cukup disantap dengan cabe rawit kuning. Di Jawa Tengah heci disebut dengan bakwan.
Meski dekat dengan kota Malang, heci di Porong Sidoarjo disebut dengan Ote-ote Porong. Penganan senada dengan heci di Porong ini menggunakan tepung yang terbuat dari kedelai. Ote-ote Porong berongga di tengahya sehingga terlihat menggelembung. Kebanyakan Ote-ote Porong menggunakan filling atau isian daging. Sayur yang dicampurkan di dalam nya adalah daun bawang perai atau pre. Ote-ote Porong sangat disukai masyarakat Jawa Timur karena rasanya yang lezat. Kebanyakan Ote-ote Porong dijual oleh warga keturunan Chinese karena memang baik heci maupun Ote-ote Porong ini adalah makanan peranakan. Penganan ini seperti halnya heci Jawa Timuran disantap dengan saus petis udang Sidoarjo.
Di Solo kita bisa temukan Ote-ote Porong di penjual jajan basah berdampingan dengan sosis solo, bakwan dan gembus. Dan di Solo Ote-ote Porong disebut dengan Pia-pia.
Membicarakan kuliner ini seperti tak habis-habis. Seperti Soto Rempah ini. Soto ini selalu menjadi santapan wajib di pagi hari di kota Solo. Soto ini pula yang selalu menjadi inspirasi untuk menulis dan mengulas kuliner Nusantara.
Soto Rempah cukup dikenal di kota Solo atau Surakarta karena bumbu-bumbunya yang cukup banyak. Meski tidak sekental Gulai Kambing, bumbu soto rempah ini sudah mendekati paling lengkap. Tentu saja pasti ada kunyit, karena kebanyakan warna soto adalah kuning. Lalu ada bumbu-bumbu wajib lainnya hingga gunakan bunga lawang, kayu manis dan cengkehpun. Hanya memang sekali lagi tidak seperti gulai kambing.
Soto Rempah tidak terlalu pekat, cenderung bening namun cukup berasa rempah-rempahnya. Itulah kemudian dikenal dengan nama Soto Rempah.
Mungkin hanya Soto Rempah di nusantara ini yang memiliki pendamping lauk cukup beragam. Hal ini karena pendamping-pendamping ini selalu tersedia di meja warung. Diantaranya adalah tempe goreng, mendoan, gembus, sundukan dan karak. Kesemuanya ini wajib tersedia di meja warung soto rempah.
Hal ini mengakibatkan kuliner soto rempah menjadi bergeser menunya yaitu soto dengan pendamping tempe dan lain-lain. Resep soto pun bergeser, dari soto yang hanya daging dan topping kecambah berubah menjadi soto dengan pendamping tempe goreng dan sundukan. Bila tidak ada pendamping ini serasa belum afdol makan soto rempah.
Memang saya akui soto rempah sangat lezat bila disantap dengan gembus.
Lagi-lagi terms of address. Membaca tulisan iseng seorang teman yang menyampaikan kebingungannya sesaat. Bingung karena takut salah sebut, sebutan untuk memanggil kepada seseorang. Addressing atau panggilan atau dalam bahasa akademiknya adalah terms of address yang memiliki aturan tertentu pada tiap-tiap keadaan.
Ada seorang dosen yang sangat kami hormati di lingkungan tempat kerja. Beliau menyandang gelar cukup banyak karena pencapaian akademiknya yang cukup panjang. Gelar professor, doktor, bahkan haji sudah lama bertahan di depan namanya. Belum lagi gelar di belakangnya, ada magister macam-macam. Yang belum ada hanya gelar almarhum atau yang sering ditulis dalam tanda kurung (alm).
Namun siapa sangka gelar-gelar berentetan ini justru membuat kita bingung untuk memanggil atau menyebut. Secara lingkungan kerja kami ini adalah lingkungan dimana setiap senior, terutama alumni akan dipanggil dengan sebutan mentereng yaitu USTADZ. Meski bukan alumni pesantren dan meski bukan orang-orang yang mengemban misi agama.
Sehingga semakin panjang daftar kata panggil yang akan kita sebut yang kita ucapkan kepada satu orang saja. Saat kita akan panggil beliau “prof”, nah mungkin tepat bila berada di dalam kelas. Saat berada di kelas dengan mahasiswa alumni maka hampir semua sepakat memanggil dengan sebutan “ustadz”. Karena mahasiswa selalu memanggil dosennya dengan kata ustadz, apapun bidang yang digelutinya.
Sebenarnya kata panggil “pak” kepada seorang pria berumur 25 tahun ke atas mungkin adalah kata yang paling tepat digunakan. Kata “pak” sangat luwes disampaikan kepada siapapun yang bergender laki-laki. Bahkan sangat lebih menghargai apabila disebutkan kata lengkapnya yaitu “bapak”.
Namun pandangan dan pikiran setiap orang berbeda-beda saat ingin dihargai dengan cara memanggil. Kadang dia lupa dan tidak menganut konvensi, akhirnya yang muncul adalah kesalah pahama dan marah-marah. Seorang professor tidak terima dipanggil “pak”. Sudah barang tentu, beliau bersusah payah untuk dapatin gelar berentetan. Lalu dengan terburu-buru segera dikoreksi oleh teman dengan panggilan “ustadz” karena beliau adalah senior di lokasi kerja. Apa yang terjadi?
Malah marah meluap-luap karena ditambah dengan ungkapan kata ganti kedua “anda”.
Kadang terms of address itu banyak dipengaruhi oleh faktor emosi psikologis, latar belakang budaya seseorang hingga ditentukan kata panggil itu, dan lain-lain.
Di instagram ada kisah pilu seorang anak yang membawa ibunya ke panti jompo. Ibu yang memiliki 6 orang anak ini berusia hampir 70 tahun. Menurut keterangan dari pihak panti, ibu ini sudah diserahkan oleh anak-anaknya kepada panti untuk diurus keperluannya sehari-hari.
Dan berita ini lalu menjadi viral lantaran diungkapkan dengan kalimat-kalimat heboh. Seorang ibu dibuang anaknya ke panti jompo. Ada lagi seorang ibu sanggup mengurus 6 orang anaknya sampai menginjak dewasa. Namun 6 orang anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal ini menjadikan salah satu anak klarifikasi atas berita yang sudah tersebar kemana-mana.
Dalam klarifikasinya, anak berusia dewasa dan sudah berumah tangga mengungkapkan ketidak sanggupannya untuk merawat ibu yang sudah tua. Hal ini dikarenakan bahwa ibunya sering berulah dan mengancam anak-anaknya untuk berpisah dengan pasangan masing-masing. Atau ada juga cerita salah satu anak yang memang tidak lagi bisa menerima keadaan sang ibu yang suka berbuat onar, kasar, berbicara kotor dan banyak lagi. Dari klarifikasi sang anak, terlihat dia tidak terima bila disebut membuang orang tuanya, karena banyak sekali penyebab mereka harus dengan terpaksa menitipkan orangtua ke panti jompo.
Di negeri ini memang masih tabu bila ada keluarga yang menitipkan orang tua ke panti jompo. Beda dengan di negara-negara lain yang memang sudah terbiasa dengan keadaan bahwa orang tua bisa tinggal di panti jompo lebih aman.
Mungkin karena suara netizen lebih dominan dan menguasai, memaksa anak-anak ibu ini untuk klarifikasi. Namun si anak ini dengan situasi yang tidak jelas, klarifikasi dengan hanya suara bukan video, menyebut kata ganti kedua untuk ibunya dengan kata panggil “dia”. Hal ini semakin membuat marah netizen. dan semakin yakin bahwa sang anak ini memang sudah melakukan kesalahan besar, menitipkan orang tuanya ke panti jompo.
Sekali lagi kata panggil yang sangat crucial dan tidak lagi mudah untuk disebut.
Kita tidak tahu apa fakta di balik klarifikasi sang anak, dan mengapa anak ini menyebut dengan kata “dia:. Disaat nada suara yang terdengar adalah pelan dan sopan.
Seperti layaknya
Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan
predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya.
Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang
menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang
satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang
sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru
Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi
Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.
Termyata cukup banyak
juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita
cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah
Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia
di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan
sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin
tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos
seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur,
gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan
Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan.
Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis
karena kotanya belum saya sebut.
Namun kuliner Soto
Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang
cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya
diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka
ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di
dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih,
jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang
sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang
putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi
Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan
tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang
seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan
kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.
Seperti misalnya Soto
Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka
kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan
kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip
dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura
menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang
dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang
nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini
sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring
Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki
kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo.
Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena
beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah
ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan
memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto
Suroboyoan tersebut.
Di Kalimantan sebagian
besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner
Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh.
Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing.
Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya.
Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan
pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto
dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa
sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak
sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti
misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto
Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli
Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran
minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita
temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan
Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana,
karena semua enyak.
Karena menyebut Coto
Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang
sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi
selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang
berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah
hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai
Coto Makassar. Juga raja-raja Bugis
Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja
Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai
hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti
hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu
ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar
menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah
cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu
Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya,
dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini
dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan,
pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri
jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di
warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto
Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih
kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong
atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar
sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk
nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan
kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai
pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering
dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.
Dengan mempergunakan
topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto
Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto
Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang
membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping
yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah
goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe
rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini
cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya.
Eh..
Di Pacitan, Sotonya
berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang
dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada
Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput
kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.
Di sebuah desa di
Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan
bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam
atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi
bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung
Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan
lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup
sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi
ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa
legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena
bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah
goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.
Seperti halnya Soto
Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo
yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini
mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto
Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja
berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih
kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq
nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung
hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan
dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu
tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya
disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun
karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping
sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan
hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya
adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe
bacem, dan karak.
Seperti halnya Soto
yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau
Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto
adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama
sebagai warisan dari masyarakat Chinese
yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode
fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak
bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah
satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena
adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih
lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar,
Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto
Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto
lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau.
Hmm jadi pingin L
Rendang Padang memang
paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas
memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan
Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai
cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto
Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto
nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan
Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi
Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu
manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati
bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang.
Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak,
Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto
Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata.
Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto
Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang
Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.
Mirip dengan Coto
Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan
yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto
Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di
beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga
rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan
dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi
dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik
karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun
menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan
kentang rebus seperti soto Jawatimuran.
Bumbu Soto Nusantara
memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan
lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di
Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal
ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini.
Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu
yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang
unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki
rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge,
daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak
mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion
lainnya.
“Bila kita ingin
mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”
Sejatinya kita sebagai manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini akan bertemu “titik akhir” berupa kematian. Pada saat kematian itu tiba, maka sirnalah segala kenikmatan hidup. Dan dimulailah awal perjalanan kita menuju akhirat. Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia lebih memilih dunia daripada akhiratnya. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Betapa banyak manusia sibuk mengejar dunia dan melupakan akhirat. Mereka bersemangat untuk mendapatkan dunia, meskipun harus dengan meninggalkan kewajiban yang disyariatkan Allah Ta’ala. Mereka kemudian terbenam dalam kubangan syahwat dan maksiat. Mereka lupa untuk bersyukur kepada Dzat yang telah memberi segala kenikmatan.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?(QS. al-An’am : 32)
✍️ Agama Islam telah memberikan tuntunan bahwa kehidupan di dunia ini laksana bercocok tanam di mana hasilnya akan dinikmati di akhirat. Siapa yang menanam kebaikan ia akan memperoleh kebaikan dan siapa yang menanam keburukan, maka diapun akan mendapatkan hasil dari keburukan yang ia tanam. Betapa banyak orang yang berlomba-lomba untuk dapat hidup sukses di dunia, tetapi sangat sedikit yang bersusah payah untuk dapat hidup sukses di akhirat. Jika untuk kehidupan dunia, manusia umumnya tak kenal lelah, tetapi untuk kehidupan akhirat begitu berat kaki melangkah untuk ibadah. Dalam kitab Nasho’ihul Ibad disebutkan peringatan Rasullah saw kepada umatnya, yang berbunyi
“Akan datang pada umatku suatu masa di mana mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara pula. Mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat. Mereka mencintai kehidupan dan melupakan kematian. Mereka mencintai gedung-gedung mewah dan melupakan kuburan. Mereka mencintai harta benda dan melupakan hisab (perhitungan amal di akhirat). Mereka mencintai makhluk dan melupakan penciptanya (Khaliq) ”.🙏
👉 Sungguh tepat prediksi Rasulullah SAW tersebut. Di zaman modern sekarang ini sangat mudah kita jumpai manusia-manusia seperti yang digambarkan Rasulullah SAW tersebut. Bahkan mungkin, sosok yang digambarkan Rasulullah SAW itu adalah diri kita sendiri. Ya, disadari atau tidak, sebagian besar dari kita sangat mencintai dunia dan sering melupakan akhirat. Kita lebih mencintai kehidupan dan melupakan kematian. Kita berbangga diri dengan kemewahan rumah yang kita miliki, sementara kita lupa bahwa kelak kita akan mati dan berada di dalam kubur, rumah masa depan kita. 🌷
👉 Kita tumpuk pundi-pundi kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi kita lupa bahwa kelak di akhirat akan ada yaum al-hisab (hari perhitungan), dimana seluruh harta yang kita miliki akan dimintai pertanggung-jawabannya di hadapan Allah. Kita akan ditanya darimana semua harta yang kita miliki berasal, dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan ?
👉Sesungguhnya, barang siapa yang mendahulukan akhiratnya, maka ia akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Hal ini mudah bagi yang diberi kemudahan oleh Allah swt. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah swt. untuk beramal shalih. Karena sesungguhnya, orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah swt, maka Allah swt. akan menggantinya dengan yang lebih baik dari yang ia tinggalkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an Nahl/16:97].🙏
✍️ Al Imam At-Thabari ra di dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan makna Hayatan Thayyibatan (kehidupan yang baik) beliau mengutip pendapat para ahli tafsir, memiliki banyak arti,
a. Allah hidupkan mereka yang beriman dan beramal saleh di dunia dengan limpahan rizki yang halal lagi baik
b. Allah karuniakan mereka yang beriman dan beramal saleh sifat qanaah terhadap pemberian Allah swt
c. Hidup dalam keadaan beriman kepada Allah, dan beramal saleh serta patuh terhadap setiap perintah-Nya
d. Kehidupan yang bahagia lahir batin di dunia dan akherat
e. Kehidupan yang penuh kenikmatan di surga
✍️ Jadi bagi kita sebagai seorang mukmin harus menampilkan diri menjadi pribadi yang thayyib sebagaimana pohon yang akarnya kuat dan rantingnya menjulang tinggi ke langit, maka ia akan senantiasa memberikan manfaat berupa buah dan keteduhan sepanjang masa, maka demikianlah watak seorang mukmin sehingga kebaikan yang ia produksi akan muncul setiap saat untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Bukan sekedar kebaikan yang bersifat musiman. dan Ini adalah petunjuk Al-Qur’an.
👉Maka dari itu, mari kita lihat realitas kehidupan manusia sekarang ini, kita lihat ada sebagian kaum muslimin rajin shalat berjamaah, sedekah, puasa, qiyamul lail hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, namun setelah itu ia meninggalkan semua ibadah tersebut pada bulan-bulan lain. Untuk itu kebaikan yang kita lakukan di dunia ini harus rutin, ajeg dan setiap saat ada kesempatan, bukan hanya musiman saja
“Puang Ika..” Salah
satu teman, Ipung mahasiswa UIN anggota IKAMI SULSEL MALANG memanggilku dengan
serta merta. Kelihatannya aku masih belum familiar dengan panggilan ini. Puang
terdengar sangat hormat dan menjadi terhormat saat diucapkan. Dan dengan tanpa
menunggu langsung kubrowsing kata Puang ini karena rasa penasaran. Terkejut
setelah membacanya. Ternyata Puang sangat berarti dalam. Begitu juga dengan
Andi, Baso, Daeng, Karaeng, Tetta bahkan Petta.. dan lain-lainnya.
Berawal dari sebuah
puisi yang kutulis dengan judul KARAENG GALESONG di blog pribadi, puisi yang
mengisahkan tentang perjalananku mencapai lokasi makam dan merenung yang tak
pernah kukenal sebelumnya, meski aku tinggal di kota yang sama dengan lokasi
makam ini. Dan iyya, sekali lagi aku gunakan Google untuk mengetahui apa makna
dari kata Karaeng. Saat itu tahun 2006, Google masih sepi penghuni, apalagi
saat menelusuri kata Karaeng dan Karaeng Galesong. Hanya ada beberapa halaman
saja kemunculannya.
Tapi rasa penasaranku
Alhamdulillah kemudian terjawab saat ada seorang teman berkomentar terhadap
puisi yang telah kutulis di blog. Adalah Ucheng atau Ahmad Husain yang kemudian
menjadi sahabatku dan sumber inspirasiku. Dari dia pula kemudian aku berkenalan
dengan IKAMI SULSEL MALANG. Uchenglah yang memberi komentar terhadap puisi yang
telah kubuat di blog. Kemudian dia menghubungiku melalui email. Dan sekali lagi
saat itu masih belum banyak aktifitas internet, sehingga lama baru kubalas
email dari dia. Saat bertemu Ucheng, aku juga bertemu dengan Kahfi yang juga
sama-sama memberiku kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-tema
IKAMI SULSEL MALANG.
Foto 1. Blogger
kampus putih UMM bertemu di cafe
Inilah puisi yang
kuciptakan hingga membawaku berkenalan dengan sahabat-sahabatku IKAMI SULSEL
MALANG.
Rinduku Galesong
Oleh : Ika Farihah
Hentihu
Rinduku
Aku Rindu
Aku Rindu Pada Galesong
Aku Rindu Pada Sombayya,
Ayahku
Aku rindu dimandikan Di
Bungung Baraniya
Aku terpaksa tak kembali
duhai Sombangku
Tapi Aku tahu, Ayah panggil
nama kecilku
Baso…sini kau nak, Baso…sini
kau nak
Aku disini aman Ayah, bersama
dengan istriku…
Potre Koneng
Bermimpikah engkau tentang
diriku wahai ayahku?
Aku selalu bermimpi tentang
ayah
Saat kita bersama berkuda di
Pantai Galesong
Mendengar nasihat-nasihat
bijakmu
Aku ingin bersimpuh di
depanmu ayah
Mengenang saat aku akan pergi
ke Marege
Aku tidak ke Marege Ayah,
tolong percayalah
Aku tidak ke Marege
Marege!
Ayah pasti tahu itu.
(Karaeng Galesong,
Malang)
Masih
saja terngiang aku saat membaca puisi ini. Ini adalah kegalauan Karaeng
Galesong karena tidak kembali ke Gowa. Dia pun rindu ingin bertemu Sultan
Hasanuddin dan ingin mengungkapkan bahwa dia tidak jadi pergi ke Marege
Australia. Hal ini karena saat Karaeng Galesong berpamit, dia mengatakan akan
pergi ke Marege. Dan saat melalui pulau Bali, Karaeng Galesong dengan
pasukannya berhenti untuk mengambil air dan makanan. Dari situlah sejarah
dimulai. Karaeng Galesong mendapat khabar bahwa Trunojoyo berjuang melawan VOC.
Sehingga beliau meneruskan perjalanan ke Barat. Semua pasukan yaitu terdiri
dari 700 buah kapal dan sekitar 8000 lasykar dan keluarganya bergerak menuju
Probolinggo dan selanjutnya menuju Malang, kota kelahiranku.
Berkenalan dengan
mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG memang cukup seru. Dan ini menjadi sumber
inspirasi keduaku setelah bertemu dengan Ucheng. Maklum aku hanyalah penulis pemula
yang tau-tau tertarik dengan budaya Bugis Makassar. Padahal aku sama sekali
tidak memiliki informasi tentang Sulsel. Aku belum pernah mencapai pulau
Celebes. Sehingga saat itu hanya berangan-angan saja, bisakah aku mencapai
pulau itu. Melihat secara langsung, life, lokasi dimana Sultan Hasanuddin
berada, lokasi dimana Karaeng Galesong dilahirkan dan juga tak ketinggalan aku
ingin sekali melihat Bone untuk ‘bertemu’ dengan Aru Palakka. Itu semua hanya
angan-anganku selama 6 tahun berinteraksi dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG.
Masih penasaran
dengan bermacam nama panggilan yang sering dilontarkan oleh sahabat-sahabat
IKAMI SULSEL MALANG, akupun bergerak ke asrama mereka yang kutau hanya di
Telaga Al Kautsar. Belakangan baru ku tau bahwa asrama mahasiswa IKAMI SULSEL
MALANG adalah di Jl. Dieng. Dan jujur aku hanya duduk terdiam mendengar mereka
bicara dengan logat yang berbeda, kata panggil yang bermacam pula. Dan dari
sini lah rasa penasaranku berlanjut. Banyak nama panggilan yang sering disebut
oleh mereka, termasuk Daeng. Ini yang paling populer. Hanya saja setelah
kubrowsing info tentang nama panggilan, ada beberapa kata panggil untuk
masyarakat Makassar dan Bugis.
Daeng
adalah kata dalam bahasa daerah Sulawesi Selatan yang berarti kakak lelaki atau
seseorang yang lebih tua. Tapi kata Daeng mempunyai makna yang berbeda di tiap
suku daerah di Sulawesi Selatan. Suku Bugis dan Makassar adalah suku yang besar
di daerah Sulawesi Selatan yang sering menggunakan kata Daeng dalam kehidupan
sosial mereka sehari-hari. “Kita biasanya memanggil daeng sebagai panggilan
untuk lebih menghormati, karena kalau langsung nama akan terkesan kasar,”
Seperti yang dituturkan Ucheng kepadaku.
Di
dalam perkembangannya sendiri, panggilan Daeng telah memiliki makna yang
beragam. Bisa bermakna kakak, bisa juga menunjukkan kelas sosial seseorang.
Dengan demikian penggunaannya harus diperhatikan baik-baik, karena kata Daeng
sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial tertentu. Beberapa
pergeseran kutemui saat berada di Makassar yaitu memanggil supir pete-pete
dengan panggilan Daeng.
Sedangkan
masyarakat Bugis sangat ketat dalam penerapan tata adat di kehidupan sehari-hari,
terutama dalam kehidupan sosial. Sejak masa pra Islam masyarakat Bugis mudah
mengenal stratifikasi sosial (pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat
secara vertikal/bertingkat). Berkembangya pelapisan masyarakat secara tajam
tumbuh di saat yang sama terbentuknya kerajaan. Hal ini menimbulkan jarak
sosial antara golongan bawah dan golongan atas dalam lapisan masyarakat.
Suku
Bugis pada jaman dulu mengenal tiga kasta. Kasta yang paling tinggi adalah Arung
(Bangsawan) yang memiliki beberapa sub kasta turunan. Kasta selanjutnya adalah
To Maradeka atau orang merdeka (Masyarakat Kebanyakan). Sedangkan kasta yang
paling bawah adalah Ata yang berarti budak. Kasta terendah ini kurasa sudah
tidak pernah lagi disebut-sebut alias tidak ada. Hal ini tampak pada bangunan
rumah Bugis yang tidak lagi ditemukan berspesifikasi Ata. Dan kita sebenarnya
adalah To Maradeka, tidak pernah ada lagi yang membedakan status sosial kecuali
kalau memang dibutuhkan untuk kegiatan upacara.
Foto
2. Rumah kediaman Bapak Rindam Latief di Sengkang
Mahasiswa IKAMI
SULSEL MALANG untungnya sangat rajin dan peduli. Berbagai kegiatan diadakan
oleh komunitas ORDA ini. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dari mulai yang
paling kecil skalanya sampai yang paling megah yaitu BUDAYATA. Diskusi lepas
diadakan tiap minggu, hingga ulang tahun salah satu anggota yang dibuat
surprised. Aku tenggelam dalam gegap gempita celoteh mahasiswa asal Celebes
yang cukup nano-nano bagiku. Kadang mengernyit karena tidak tau artinya. Tapi
pelahan kupahami apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka ungkapkan dan apa
yang mereka lakukan dan inginkan.
Mahasiswa IKAMI
SULSEL MALANG sangat peduli dengan lingkungan. Beberapa kali saya diundang
untuk memperingati Hari Bumi, Hari Ibu dan juga hari-hari lainnya. Saat itu
mereka berduyun-duyun menuju alun-alun kota Malang dan membantu membersihkan
daun-daun disana. Benar-benar cape menjadi mahasiswa IKAMI MALANG sepertinya
karena tiada hari tanpa kegiatan bagi mahasiswa. Sampai ada yang sakit hingga
dirawat di RS karena lumayan parah. Sehingga berduyun-duyunlah teman-teman
IKAMI ini, ikutan nginep di RS jagain Syifa Rasyid. Kemanapun mahasiswa IKAMI
selalu grubyak grubyuk, rame dan bersama-sama.
Sesekali mereka
sembelih kambing dan mengolahnya menjadi Coto Makassar. Itulah untuk pertama
kalinya saya merasakan kuliner terbaik Celebes yang sangat legendaris ini.
Sempat kuajak teman kantor yang berasal dari Sengkang untuk ikut menikmati Coto
di Asrama DIeng. Sempat dia ungkapkan dengan nada gurauan bahwa setiap hari dia
makan pecel yang disajikan oleh istrinya yang orang Jawa. Sehingga menyantap
Coto Makassar membuatnya merasa refreshing. Semua teman disana ketawa renyah
mendengar curhatannya.
Setelah kenyang
menyantap Coto, seperti biasa kubrowsing makna kuliner ini. Ternyata sangat
mengejutkan. Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Tidak seperti
soto-soto Nusantara yang lain yang memiliki latar belakang budaya lokal, Coto
ini sangat dikenal legend. Dan baru kutahu bahwa isi Coto Makassar adalah
jerohan sapi dimana hidangan ini sangat disukai oleh para Raja Bugis dan
Makassar. Pertanyaannya kalau jerohannya disantap oleh para raja, apakah rakyat
jelata kemudian yang mengkonsumsi dagingnya. Ini masih menjadi pertanyaan
bagiku. Namun kalau saat ini kita bisa memilih karena sudah banyak yang peduli
dengan kesehatan, untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi jerohan sapi. Setuju
lah.
Beberapa kali
mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG mengadakan kegiatan pra acara BUDAYATA. Meski
begitu tidak mengurangi hingar binger kegiatan BUDAYATA yang sesungguhnya.
Akupun mencoba hadir di kegiatan yang mereka adakan, sambil korek-korek
kebiasaan rakyat SULSEL yang tercermin pada sahabat-sahabat IKAMI SULSEL
MALANG. Ada tari-tari yang menggambarkan permainan saat masa kecil, drama-drama
dengan dialog Bugis bahkan kegiatan permainan anak-anak. Permainan anak sangat
seru apalagi kalau dihadiri oleh mahasiswa Pasca S2 dan S3 asal Bugis Makassar.
Kebanyakan mereka berumur hampir paro baya, sehingga saat diajak main kelereng,
egrang, dende-dende dan permainan lainnya, mereka sangat menikmati. Teman-teman
mahasiswa bahkan sudah pada pulang, tapi teman-teman Pasca masih bertahan
lompat-lompat disana, Kasiang..
Pengalaman yang
paling berkesan saat itu adalah saat Irma, salah satu mahasiswa IKAMI SULSEL
MALANG asal Kalimantan meminjamiku baju Bodo atau baju Tokko. Baju-baju
tersebut adalah koleksi pribadi komunitas, termasuk pula perhiasannya. Wah
betapa bahagianya aku mengenakan baju dan sarung tersebut. Dan surprised,
kemudian kukenakan baju adat Sulsel, ini adalah moment yang kutunggu-tunggu.
Bangga sekali rasanya, setelah sekian lama hanya bicara dan menulis, akhirnya
aku mengenakan. Baju ini yang akhirnya kukenakan saat acara BUDAYATA pertama di
café itu.
Foto 3. Festival
Budayata pertama
Adalah Abi, seorang
mahasiswa jurusan Teknik yang memiliki jiwa seni dan budaya cukup kental yang
dengan ikhlas menyerahkan koleksi keluarga di Bone kepada komunitas mahasiswa
IKAMI. Baju-baju, sarung dan pernak perniknya inilah yang salah satunya kupakai
pada BUDAYATA. Gelang lengan yang tadinya belum lengkap, dengan petunjuk Abi,
akupun mencoba untuk menjahit. Dan jadilah sebuah gelang lengan yang sesekali
dipergunakan menari oleh mahasiswi-mahasiswi. Tari Angin Mamiri, tari Kipas dan
yang paling heboh tari yang para penarinya membawa obor. Abi pun dengan sangat
serius mengolah acara ini dari sejak pemilihan busana hingga mata acara yang
ditampilkan. Abi tipe orang serius, berpuluh toko telah dia lewati bersamaku
dengan Irma. Tapi sedikitpun tidak ada yang menggoyah hatinya. Kain-kain di
Malang tidak ada yang sesuai dengan kata hatinya. Walhasil teman-teman pun
mendatangkan kostum-kostum ini dari Makassar sekaligus dengan pemain
perkusinya. Heboh banget pokoknya.
Sampailah kemudian
pada moment paling penting, aku bisa datang dan hadir melihat Makassar secara
langsung. Saat kuinjak pulau Celebes, udara hangat menyelimuti. Tapi
kebahagiaanku sudah terbayar karena 6 tahun menunggu agar bisa menginjak pulau
Celebes. Adalah Prof. Aminuddin Salle yang banyak membaca tulisanku tentang
Karaeng Galesong di website, beliaulah yang memfasilitasiku untuk datang ke
Galesong dan mengijinkan tulisan-tulisanku untuk diterbitkan oleh Yayasan AS
Center. Merupakan suatu kebanggan dan kehormatan bagiku karena dengan tulisan
yang remeh temah namun membawa dampak cukup terasa bagi keluarga keturunan
Karaeng Galesong hingga raja terakhirnya sekarang yaitu Prof. Aminuddin Salle.
Seorang guru besar bidang Hukum Tanah Adat Universitas Hasanuddin. Dan beliau
pula yang mengantarku ke Bala Lompoa Galesong dan memberiku nama Paddaengang
yaitu Daeng Te’ne. Beberapa kali masih tergagap-gagap karena belum hafal dengan
nama ini. Namun kemudian menjadi terbiasa karena banyak yang memanggilku dengan
nama paddaengang ini, Daeng Te’ne.
Foto 4. Launching
Novel Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram
Tiba di Bala Lompoa
Galesong adalah sebuah keniscayaan, namun siapa nyana aku bisa mencapai Istana
Galesong dimana disana masih tersimpan artefak-artefak peninggalan Raja
Galesong pertama hingga sekarang. Ada juga Bungung Baraniya, sebuah sumur yang
tak jauh dari Bala Lompoa Galesong dimana para lasykar-lasykar Karaeng Galesong
yang hendak berangkat menuju medan laga, dimandikan di sumur ini. Sumur ini
cukup tua, legend dan berbau sejarah cukup kuat. Akupun sudah mencoba minum air
dari Bungung Baraniya, segar dan viral. Karena setelah aku minum air ini, fotoku
tersebar ke socmed. Dibilang seorang peneliti sejarah minum air dari Bungung Baraniya. Waduh!
Foto 5. Minum air
dari Bungung Baraniya Galesong Takalar
Wajo, Sengkang, Barru,
Sidrap dan Takalar adalah daerah yang sudah kulalui, sangat membahagiakan sudah
berada di tanah Bone. Seorang sahabat mengajakku kesana. Beberapa tempat
kulalui, yaitu Tosora dan makam Syekh Jamaluddin Akbar Al Husaini dan juga tak
lupa pula mendatangi makam La Madukeleng. Saat melalui Tosora, temanku banyak
bercerita bahwa daerah ini adalah daerah pertempuran Aru Palakka. Dan
sepertinya aku bisa rasakan itu disana. Sempat mampir sebentar setelah melihat
seorang wanita menenun kain, dan semangat selfie ku jadi membara melihat mesin
tenun manual tersebut. Lalu jadilah sebuah foto seorang cewek asal kota Malang
yang menenun di Tosora. Ngakak berkali-kali melihat polahku yang tak
terkendali.
Foto 6. Di Tosora
Kalau selama ini aku
mendengar lagu Danau Tempe, nah saat itu aku melihat secara life danau
tersebut. Memang airnya sudah sangat berkurang. Hal ini karena pasokan air dari
Sungai Sa’dang Toraja yang juga berkurang. Sungai Sa’dang adalah sungai yang
acap kali dipergunakan para rafter karena geografi sungai yang lumayan
menantang. Namun tidak mengurangi rasa bahagiaku bisa melihat Danau Tempe ini
dari dekat sambil nyanyi-nyanyi Bulu Alauna Tempeeeee.. yihaaa.
Banyak kenangan manis
yang kudapatkan dari mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG. Jayalah IKAMI SULSEL,
Jayalah IKAMI SULSEL MALANG.
Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan) 🙏
👉 Hadits di atas mengisyaratkan suatu perilaku yang dapat mengantarkan seseorang meraih cinta Allah SWT dan manusia. Perilaku itu adalah zuhud. Secara etimologi, zuhud adalah menjauhkan diri dari sesuatu karena menganggap hina dan tidak bernilai. Bagi para sufi, zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang lebih dari keburukan hidup walaupun sudah jelas kehalalannya.
Berlaku zuhud tidak berarti berdiam diri dan tidak melakukan usaha apa pun untuk mendapatkan rezeki yang halal. Zuhud bukan sikap malas. Seorang zahid (orang yang zuhud) sama sekali tidak identik dengan orang fakir yang tidak mempunyai harta apa pun. Seorang zahid adalah orang yang mendapatkan kenikmatan dunia tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Ia tidak diperbudak dunia dengan segala kenikmatannya, dan mampu menahan diri untuk tetap berada di jalan yang diridhai Allah.
Zuhud adalah perbuatan hati (af’al al-qulub). Seorang zahid, dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa apa yang ada dalam genggaman Allah lebih bernilai daripada yang ada dalam genggaman manusia. Ia yakin Allah adalah al-razzaq, penjamin rezeki semua makhluk. Imam Husain bin Ali berkata, ”Salah satu ciri lemahnya iman seseorang adalah menganggap bahwa yang ada pada manusia lebih bernilai daripada yang ada pada Allah.”
“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”
Perilaku zuhud juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Zuhud dalam bermasyarakat adalah dengan menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan sosial yang dapat merusak keharmonisan hidup bermasyarakat seperti menggunjing, mengadu domba, berjudi, dan mengonsumsi narkotika, psikotropika, dan barang terlarang lainnya. 🌿
👉 Dalam hidup bermasyarakat, seorang zahid mampu menahan diri untuk tidak mengambil hak milik orang lain dengan cara yang dilarang oleh agama. Allah SWT berfirman, ”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2: 188). 🙏
👉 Seorang zahid tidak akan dengki terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Ia sadar, perbedaan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia adalah ujian bagi ketaatannya kepada Allah. Rasulullah SAW memerintahkan setiap Muslim untuk menjauhi sifat dengki karena dapat menghapus semua pahala kebaikan seperti api melalap kayu bakar. (HR Abu Daud).🎋
👉 Setiap Muslim hendaknya mampu menanamkan zuhud dalam hidupnya agar mampu menyikapi kenikmatan dunia searif mungkin dan mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.
Berbicara “Maulud Nabi” (Nabi Muhammad saw) atau kelahiran Nabi, berarti berbicara Islam, itu dilahirkan. Sebab, Islam tidak akan diketahui tanpa kelahiran Nabi Muhammad saw yang lahir di Makkah dengan seorang ibu bernama Aminah dan seorang ayah bernama Abdullah, berbangsa dan berbahasa Arab. Maka, dengan kelahiran seorang Nabi yang sangat mulia ini, wujud basyar atau manusia biasa, agar mudah dicontoh suri tauladannya oleh umat manusia pada umumnya; Beliau Nabi Muhammad saw dilahirkan dan dibangkitkan dengan misi dan tugas utamanya untuk memperbaiki akhlaq budi manusia. Maka, dengan demikian, Islam dapat diketahui. Artinya, mengetahui dan bertemu Islam adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yaitu Nabi Muhammad saw, agar manusia selamat mulai awal diadakan sampai kembali ke asal muasal manusia berasal, yaitu Allah swt.
Lalu apa Islam itu, kiranya perlu dijelaskan agar didapatkan suatu pengertian. Sehingga, seseorang yang telah mendapatkan pengertian, sedapat mungkin dirinya bisa mempraktekan atau memperlakukannya secara tepat dan benar. Perlakuan atau praktek yang tepat dan benar, maka akan didapatkan paham yang benar, demi terhindarnya seseorang dari kesalah pahaman atau pahamnya menjadi salah.
Islam, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah swt, di dalam surat Ali Imron ayat 19 adalah yang di sisi Allah. Artinya, Islam itu, yang di sisi Allah. Jalan tempuh menuju yang di sisi-Nya adalah agama (QS 3 : 19). Maka,yang di sisi Allah (‘inda-llah) itulah, al Islam yang musti ditemukan melalui jalan tempuh agama (diin), atau lebih jelasnya disebut “diinul haq”, yaitu jalan kebenaran, berupa petunjuk risalah kenabian beliau Muhammad saw (QS. 48 : 28). Untuk bertemu dengan al Islam yang di sisi Allah, jalan tempuhnya adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yakni Nabi Muhammad saw. Bertemu dengan yang membawa Islam, maka bertemu Islam.
Untuk bisa bertemu dengan yang membawa Islam, janganlah seseorang bersikap keterlaluan (baghyan) dan ingkar terhadap berbagai ayat Allah dengan memperselisihi catatan (imannya) dan ilmu yang ada di dalam dadanya. Maksudnya, setiap diri manusia hendaknya mengikuti catatan (al kitab) yang tiada keraguan di dalamnya, ia bersifat benar, terpercaya, jujur dan tidak dungu (QS. 2 : 2). Catatan itulah, yang disebut dengan iman, ilmu (QS 29 : 49), nikmat (QS QS. 55 : 13, 16, 18, 21 dst) dan taqwa (QS. 22 : 32). Mengikuti iman, ilmu, nikmat dan taqwa, berarti manusia tidak mengikuti keinginan (hawa) nafsu yang bersifat mendorong untuk melakukan kejahatan (ammarah bi su’), wujud mencela selain dirinya (lawwamah). Sehingga, kedua dorongan nafsu nafsu tersebut menjadi tertundukan. Selanjutnya, ia (nafsu) mendorong diri manusia untuk melakukan kebaikan (mulhamah), sehingga didapatkan ketenangan (muthmainnah, kerelaan (radhiyah), demi untuk mendapatkan ridho Allah swt (mardhiyah), agar diri manusia mampu bergabung dengan seluruh manusia (QS. 89 : 27, 28, 29, 30), bagai hamba Allah yang selalu berkasih sayang laksana saudara sekandung (rahim ibu), sebagai cerminan atau pantulan dari rahmah Nabi Muhammad saw (QS. 21 : 107) sebagai Rasul utusan Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim.
Manusia yang mengikuti imannya, maka ia bersifat mukmin dan mukminlah yang menegakkan sholatnya (QS 23 : 1, 2). Maka, manusia yang bersifat mukmin itu, akan menjalankan sholat secara rukun (fisik) yang dipimpin oleh imannya yang di dalam dadanya, minimal 5x dalam sehari semalam. Yaitu, Maghrib, Isya’, Shubuh, Dhuhur dan Ashar.
Maka, “maulud” atau dilahirkan, itu pada diri Nabi Muhammad saw, dan “maulid” adalah pada diri mukmin yang menegakkan sholatnya. Oleh karena itu, lahirnya diri mukmin pada diri manusia dengan menegakkan sholat, merupakan pertemuannya dengan diri Nabi Muhammad saw yang telah dilahirkan atau “maulud” sang pembawa yang di sisi Allah atau atau al Islam. Bertemu dengan yang membawa keselamatan atau Islam, berarti bertemu dengan yang di sisi Allah. Bertemu dengan yang di sisi Allah, berarti kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah, berarti kembali kepada asal muasal manusia berasal, yakni Allah swt, bersama dengan yang di sisi Allah, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai Rasul utusan Allah. Sebab, beliau Nabi Muhammad saw sebagai Rasul utusan Allah, adalah “wasilah” perantara bagi manusia yang dipimpin oleh imannya untuk bisa sampai kepada Allah swt.