Konsep Lokal Kepribadian

Diatas telah diuraikan secara singat batasan konsep orang, sekarang saya berpindah ke beberapa perbedaan antar budaya dalam pengucapannya, Ideologi lokal kepribadian. Saya mulai dengan yang familiar bagi sebagian besar pembaca– Konsep orang Eropa Barat. Ideologi tempat mungkin akan diringkas dalam satu kata, individualisme, yang mungkin sangat ditekankan dalam Budaya Amerika. Alasan ideologi ini adalah otonomi egosentris personal, yang diringkas oleh Geertz (1983:59) dalam penjelasan klasik berikut:

Konsep Barat tentang orang seperti terikat , unik, lebih atau kurang mempersatukan seluruh teori motivasional, pusat kesadaran dinamis, emosi, pertimbangan dan tindakan yang disusun ke dalam seluruh dan sekumpulan perbedaan khusus terhadap keseluruhan yang lain pada latar belakang sosial dan alam..Pada ideologi egosentris individualis orang, individu memperbudak masyarakat, pada fashion yang berhubungan dengan pemikiran filsuf seperti Hobbes dan Locke, masyarakat membayangkan terciptanya “kontrak sosial” untuk menjaga kepentingan mengidealkan otonomi individu, independen atau masyarakat, sebelum hidup didalamnya. Para individu ini lebih penting dari setiap kelompok pemilihnya. Indikasi dari semua ini adalah pentingnya budaya Barat yang bertempat pada orang dan sifat orang, ini menegaskan adanya pemusatan individu dengan keinginan dan kebutuhannya.

Apakah sifat dari individu sebenarnya? Kebebasan dari paksaan dan sifat otonomi dalam tindakan telah memasuki kriteria ideologi orang sebagai individu. Perhatikan bahwa yang ditangkap dari gerakan feminis yaitu, “orang dengan haknya sendiri” secara tidak langsung menghubungkan kepribadian dengan hak individu atas tindakan dan kebebasan dari paksaan. Setiap orang dipandang memiliki hak yang tidak bisa direnggut pada otonomi yang diklaim oleh individu. Setiap individu adalah unik, tapi semua, setidaknya secara ideologi, memiliki hak yang sama, sistem etika umum yang berpengaruh terhadap semua hubungan sosial, tak diragukan lagi merupakan hasil moralitas para universalis budaya Barat berdasarkan agama Kristen, supaya, menurut ajaran agama Kristen, komponen spiritual yang diberikan ke seluruh orang dalam jumlah yang tak terhitung yang mana harus diakui sebelum secara kemanusiaan atau secara sosial menciptakan sebuah nilai. Ini membawa kita pada pandangan orang sebagai individu, perwujudan absolut sebuah nilai dalam haknya sendiri, dan bukan benar-benar pada kedudukannya dalam setiap pola sosial. Ketidaksamaan yang sebenarnya diantara manusia secara ideologi diterjemahkan sebagai hasil persaingan bebas untuk mendapat penghargaan status antar individu yang menurut teori adalah sama, terlindungi melalui sekumpulan peraturan dan hukum dalam “kontrak sosial”. Tetapi gagasan pada perbedaan status yang tidak sama dan peluang individu yang sama dapat dengan mudah dibedakan. Ini merupakan prinsip yang terdapat dalam sistem yang telah berlaku pada birokrasi organisasi, sebagaimana pengertian oleh Max Weber (1968[1922]). Karakteristik birokrasi yang telah dijelaskan Adalah perbedaan antara pegawai dan pemimpin pegawai atau peran sosial yang tidak sama dan sama dengan individu. Pembagian tugas pegawai pada orang tertentu telah ditentukan, setidaknya secara ideologi, oleh kemampuan individu, tidak berdasarkan pada koneksi sosial. Jadi, ketidaksamaan dan hierarki merupakan ciri-ciri masyarakat; setiap orang adalah bebas dan sama dengan individu.

Konsep egosentris individualis orang pada budaya Barat dianggap kontras dengan berbagai tradisi budaya. Budaya sebelumnya bersifat sosiosentris, konteks tergantung pada konsepsi kepribadian (Scweder dan Bourne 1984). Pada budaya ini budaya individu dan otonominya tidak diperlakukan sebagai  pemahaman lokal orang, agaknya menempel pada konteks sosial merupakan hal yang menyangkut definisinya sebagai orang. Jadi, kepribadian dalam istilah sosiosentris merupakan atas dasar kedudukan sosial khusus yang ditempati manusi. Konsep sosiosentris kepribadian memandang kebaikan social grouping secara fundamental dan membawahi keinginan dan kebutuhan individu pada kebaikan bersama. (Perhatikan disini bahwa poinnya adalah tidak untuk berpendapat bahwa budaya sosiosentris secara eksplisit telah menuturkan ideologi kepribadian sejajar dengan ideologi Individualisme Barat (meski apakah semua masyarakat Barat secara eksplisit peduli terhadap koherensi ideologi yang menciptakan prinsip individualisme yang tercatat untuk diperdebatkan secara serius); agaknya, pernyataannya bahwa pemahaman kepribadian, apakah itu diam-diam atau tidak, dijadikan, dibangun ke dalam berbahasa dan perilaku budaya dan dengan demikiran, ditanamkan dalam tindakan naluriahnya. Tentunya dengan kepercayaan yang dilepaskan melalui kontak budaya, yang mungkin akan dituturkan, seperti halnya yang dikatakan pelajar Bali setelah 2 tahun hidup di Australia, menuturkan pemahaman aslinya, “Kita (orang Bali) punya budaya berkumpul.”) Konsepsi lokal orang secara luas telah ada, contohnya oleh budaya yang sebaliknya sangat berbeda seperti di Bali dan tanah Gahuku di New Guinea.

Bali (Geertz 1983: 62):

Semiotika Seri 5

Semiotika mewakili berbagai studi dalam seni, sastra, antropologi dan media massa daripada disiplin akademis independen. Mereka yang terlibat dalam semiotika termasuk ahli bahasa, filsuf, psikolog, sosiolog, antropolog, ahli teori sastra, estetika dan media, psikoanalis dan pendidik. Di luar definisi yang paling dasar, ada banyak variasi di antara ahli semiotika terkemuka mengenai apa yang melibatkan semiotika. Ini tidak hanya berkaitan dengan komunikasi (disengaja) tetapi juga dengan anggapan kita tentang signifikansi terhadap apa pun di dunia. Semiotika telah berubah dari waktu ke waktu, karena ahli semiotika telah berusaha untuk memperbaiki kelemahan dalam pendekatan semiotik awal. Bahkan dengan istilah semiotika paling dasar pun ada banyak definisi. Akibatnya, siapa pun yang mencoba analisis semiotik akan bijaksana untuk memperjelas definisi mana yang diterapkan dan, jika pendekatan semiotik tertentu diadopsi, apa sumbernya. Ada dua tradisi yang berbeda dalam semiotika yang berasal dari Saussure dan Peirce. Karya Louis Hjelmslev, Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, Julia Kristeva, Christian Metz dan Jean Baudrillard (lahir 1929) mengikuti tradisi ‘semiologis’ Saussure sementara karya Charles W Morris, Ivor A Richards (1893-1979) , Charles K Ogden (1989-1957) dan Thomas Sebeok (b 1920) berada dalam tradisi ‘semiotik’ Peirce. Ahli semiotik terkemuka yang menjembatani kedua tradisi ini adalah penulis Italia terkenal Umberto Eco, yang sebagai penulis buku terlaris The Name of the Rose (novel 1980, film 1986) mungkin satu-satunya ahli semiotika yang hak filmnya bernilai apa pun (Eco 1980) .

Saussure berpendapat bahwa ‘tidak ada yang lebih tepat daripada studi bahasa untuk memunculkan sifat masalah semiologis’ (Saussure 1983, 16; Saussure 1974, 16). Semiotika banyak menarik konsep linguistik, sebagian karena pengaruh Saussure dan karena linguistik adalah disiplin yang lebih mapan daripada studi sistem tanda lainnya. Strukturalis mengadopsi bahasa sebagai model mereka dalam mengeksplorasi fenomena sosial yang lebih luas: Lévi-Strauss untuk mitos, aturan kekerabatan dan totemisme; Lacan untuk ketidaksadaran; Barthes dan Greimas untuk ‘tata bahasa’ narasi. Julia Kristeva menyatakan bahwa ‘apa yang telah ditemukan oleh semiotika… adalah bahwa hukum yang mengatur atau, jika seseorang lebih suka, kendala utama yang mempengaruhi setiap praktik sosial terletak pada kenyataan bahwa hal itu menandakan; yaitu bahwa itu diartikulasikan seperti bahasa’ (dikutip dalam Hawkes 1977, 125). Saussure menyebut bahasa (modelnya adalah ucapan) sebagai ‘yang paling penting’ dari semua sistem tanda (Saussure 1983, 15; Saussure 1974, 16). Bahasa hampir selalu dianggap sebagai sistem komunikasi yang paling kuat sejauh ini. Misalnya, Marvin Harris mengamati bahwa ‘bahasa manusia adalah unik di antara sistem komunikasi dalam memiliki universalitas semantik… Sebuah sistem komunikasi yang memiliki universalitas semantik dapat menyampaikan informasi tentang semua aspek, domain, properti, tempat, atau peristiwa di masa lalu, sekarang atau masa depan, baik aktual atau mungkin, nyata atau imajiner’ (dikutip dalam Wilden 1987, 138). Mungkin bahasa memang fundamental: Emile Benveniste mengamati bahwa ‘bahasa adalah sistem penafsiran dari semua sistem lain, linguistik dan non-linguistik’ (dalam Innis 1986, 239), sementara Claude Lévi-Strauss mencatat bahwa ‘bahasa adalah sistem semiotik par excellence ; itu tidak bisa tidak menandakan, dan hanya ada melalui penandaan’ (Lévi-Strauss 1972, 48).

Saussure melihat linguistik sebagai cabang dari ‘semiologi’:

 

Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum [semiologi] ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik… Sejauh yang kita ketahui… masalah linguistik adalah yang pertama dan terutama semiologis… Jika seseorang ingin menemukan sifat sebenarnya dari sistem bahasa, pertama-tama ia harus pertimbangkan kesamaan mereka dengan semua sistem lain dari jenis yang sama… Dengan cara ini, cahaya akan diberikan tidak hanya pada masalah linguistik. Dengan mempertimbangkan ritus, adat istiadat, dll. sebagai tanda, kami percaya, akan memungkinkan untuk melihatnya dalam perspektif baru. Kebutuhan akan dirasakan untuk menganggapnya sebagai fenomena semiologis dan menjelaskannya dalam kerangka hukum semiologi. (Saussure 1983, 16-17; Saussure 1974, 16-17)

Diri vs Orang Lain

Antropolog, berikut Mauss (1985[1938]), umumnya membuat perbedaan antara gagasan diri dan orang (Fitsgerard 1993, La Fontaine 1985). Diri merujuk pada maksud kesadaran manusia secara universal Dalam perwujudan individu itu sendiri, yang mana orang adalah konsep sosial yang membentuk gagasan lokal hak dan kewajiban seseorang, dan kemudian menjadi antar budaya. Hehr dan Muhlhasler (1990) membuat perbedaan yang mirip, menunjuk kepada pembentuknya sebagai “identitas numerik” dan yang terakhir sebagai “identitas kualitatif”. Hal ini diutarakan dalam istilah tesis sebuah Lokasi ganda dalam diri (Harre dan Muhlhasler (1990: 88)):

          Kita memahami bahwa kita memiliki lokasi yang menjadi perwujudan material lingkungan fisik sementara yang terus-menerus (pemikiran antropologi “diri”). Tapi kita juga memahami saat itu bahwa kurang lebih telah jelas diungkapkan lokasi hak dan kewajiban orang lain dalam lingkungan sosial yang memperoleh tanggungjawab tertentu saat itu (pemikiran antropologi “orang”).

Tesis ini berakibat: terhadap Indeksikalitas Ganda kata ganti “saya”. Kata ganti ini menunjuk kedua gagasan lokasi; jadi pemberi ungkapan menampilkan dirinya ketika memiliki lokasi yang berkaitan dalam hal waktu dan lokasi, juga tanggungjawab sosial tertentu. Diungkapkan dengan jelas adanya perbedaan yang mencolok antara diri dengan orang mungkin sulit dipertahankan. Pertama, tidak jelas bagaimana karakteristik yang diduga pada individu terwujud dalam diri, seperti baik atau jahat, menjadi sangat penting untuk dibicarakan, kecuali pada istilah hubungan sosial antara dua orang (lihat Gergen (1994)). Rosaldo (1984) berpendapat bahwa Ilongot tidak memiliki ideologi tentang perbedaan yang mencolok antara privasi diri individu dan penampilan sosial orang di depan publik. Ia menegaskan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan diri Ilongot adalah hasil aktivitas sosial publik, disadari melalui interaksi antara 2 orang, menyarankan pengaburan kontras yang bersifat universal, antara diri individu dan pribadi sosial. Ilongot menyatakan bahwa biasanya tidak ada gap antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan seseorang. Sebagai masyarakat egaliter, individu tidak memiliki pengalaman yang kuat dalam ketidakleluasaan sosial, yang mana akan memperkuat batas antara orang, diri individu yang terikat, hak dan tanggungjawab sosial pribadi: “tidak ada dasar masalah sosial atau pengalaman individu yang dianggap perlu kontrol, ketika memiliki batasan untuk melindungi atau menjaga gerakan dan keinginan, yang harus dicek apakah mereka mempertahankan statusnya atau terikat dalam kerjasama setiap hari” (Rosaldo 1984:148).

Kesulitan lebih lanjut dalam menegakkan perbedaan yang mencolok antara diri dan orang bergantung pada masalah yang besar akan jelas diselesaikan oleh kesadaran mental perwujudan individu, yang merupakan gagasan paling dasar atas diri. Kesadaran adalah hal yang sangat khas, karena itu bersifat menyebar, tidak terikat dan tidak pula stabil. Sebagian terbesar terlihat sebagai konstruksi linguistik, lokasi tubuh melalui penggunaan I dalam pertemuan berbagai pola pengulangan dalam proses structural coupling yang terikat didalamnya, dan lebih jauh lagi, laporan melalui deskripsi linguistik pada proses structural coupling yang terikat dengan kita (untuk pemikiran sebelumnya lihat Mead (1934)).

Mead (1934). Diri adalah organisme yang tindakannya dilambangkan menggunakan Saya. Karya terakhir (Minsky 1986; Varela, Thompson, dan Rosch 1991) dalam arsitektur pikiran menegaskan bahwa pikiran mengandung banyak “agen” kecil, setiap agen memiliki fungsi domain hanya dalam skala kecil. “Agen” ini dapat disusun ke dalam sistem yang lebih besar dalam tugas yang lebih inklusif, masih bisa disusun lagi dalam sistem yang lebih besar dan seterusnya dalam analogi struktur sosial, shingga membentuk The Society of Mind (Minsky 1986). Apa yang dihitung sebagai kumpulan agen dalam satu level menjadi satu “agen” dalam tingkat yang lebih tinggi. Minsky (1986) menggambarkan contoh “agen” dengan membangun menara-menara diluar blok mainan – sebagai Pembangun. Tetapi dalam tingkatan yang lebih rendah, Pembangun tersusun atas “sub-agen” seperti Pemula, Penambah, Penyelesai, dan lain sebagainya , ini juga butuh “sub-agen” lagi yaitu Penemu, Pengangkat, Pemindah, dan seterusnya. Poinnya adalah dimana ini benar-benar merupakan struktur pikiran bisa secara global yang menebarkan kesadaran diri sebagai perwujudan individu? Seperti yang diungkapkan Varela, Thompson, dan Rosch (1991) di bagian kejadian mental dan pembentukannya, contohnya tindakan “agen” dan “sub-agen” yang memiliki koherensi dan integritas melewati batas waktu. Pemahaman kita soal koherensi dan integritas tentunya dalam ingatan kita, utamanya yang disebut Becker (1971:77-9) sebagai “dalam warta berita,”apa yang tetap diulas dalam mata hati kita sebagai pengalam an hidup, khususnya pengalaman yang meningkatkan harga diri, membuat kita merasa baik dan positif dengan diri kita sendiri (dengan kata lain, pengulangan sejarah yang terpilih dalam structural coupling). Tetapi tentunya, pengalaman hidup ini, baik positif maupun negative face hanya terjadi dalam interaksi 2 orang, konfigurasi bersama orang-orang, kembali memaksa dalam kesimpulan bahwa perbedaan yang mencolok antara diri individu dan pribadi sosial tidak dapat dipertahankan (Tetapi lihat Cohen (1994) untuk argumen lawannya. Ia berpendapat bahwa catatan rosaldo tentang Ilongot tak bisa dipertahankan. Seperti Harré dan Muhlhausler, ia menegaskan bahwa kesadaran pribadi individu yang terwujud sebagai sifat universal manusia, untuk berpendapat dan sebaliknya untuk membuat eksotis orang lain dan menolak karakter yang diinginkan diri kita. ia memperhatikan bahwa kejadian sosial apapun yang dilakukan bersama seperti ritual, setiap pastisipan memiliki pemahaman dan interpretasi kejadian yang berbeda, dan ini menunjukkan kesadaran diri. pengalaman individu dalam kejadian publik apapun benar tidak diragukan lagi, untuk menolaknya akan meniadakan pemusatan organisme manusia dan plastisitas luar biasa dalam sistem saraf dalam hal structural coupling. Bagaimanapun, pengalaman individu tidak dibuat oleh diri sendiri, tidak ada bukti sifat terikat universal apapun yang menyokong pengalaman ini.

Semiotika Seri 4

Pers menggunakan saluran visual, bahasanya ditulis, dan memanfaatkan teknologi reproduksi fotografi, desain grafis, dan pencetakan. Radio, sebaliknya, menggunakan saluran lisan dan bahasa lisan dan bergantung pada teknologi perekaman dan penyiaran suara, sementara televisi menggabungkan teknologi perekaman dan penyiaran suara dan gambar…

 

Perbedaan saluran dan teknologi ini memiliki implikasi luas yang signifikan dalam hal potensi makna dari media yang berbeda. Misalnya, media cetak dalam arti penting kurang pribadi daripada radio atau televisi. Radio mulai memungkinkan individualitas dan kepribadian didahulukan melalui transmisi kualitas suara individu. Televisi mengambil proses lebih jauh dengan membuat orang tersedia secara visual, dan bukan dalam modalitas foto surat kabar yang beku, tetapi dalam gerakan dan tindakan. (Fairclough 1995, 38-9)

Sementara determinis teknologi menekankan bahwa ekologi semiotik dipengaruhi oleh fitur desain mendasar dari media yang berbeda, penting untuk mengenali pentingnya faktor sosial budaya dan sejarah dalam membentuk bagaimana media yang berbeda digunakan dan status mereka (selalu berubah) dalam budaya tertentu. konteks. Misalnya, banyak ahli teori budaya kontemporer telah berkomentar tentang pertumbuhan pentingnya media visual dibandingkan dengan media linguistik dalam masyarakat kontemporer dan pergeseran terkait dalam fungsi komunikatif media tersebut. Berpikir dalam istilah ‘ekologis’ tentang interaksi struktur dan bahasa semiotik yang berbeda membuat ahli semiotika budaya Rusia Yuri Lotman menciptakan istilah ‘semiosfer’ untuk merujuk pada ‘seluruh ruang semiotik dari budaya yang bersangkutan’ (Lotman 1990, 124-125 ). Konsep ini terkait dengan referensi ahli ekologi ‘untuk ‘biosfer’ dan mungkin referensi ahli teori budaya’ ke ruang publik dan pribadi, tetapi yang paling mengingatkan pada gagasan Teilhard de Chardin (sejak tahun 1949) tentang ‘noosfer’ – domain di pikiran mana yang dilatih. Sementara Lotman mengacu pada semiosfer seperti yang mengatur fungsi bahasa dalam budaya, John Hartley berkomentar bahwa ‘ada lebih dari satu tingkat di mana seseorang dapat mengidentifikasi semiosfer – pada tingkat budaya nasional atau linguistik tunggal, misalnya, atau kesatuan yang lebih besar seperti “Barat”, hingga “spesies”‘; kita mungkin juga mencirikan semiosfer dari periode sejarah tertentu (Hartley 1996, 106). Konsepsi semiosfer ini mungkin membuat ahli semiotika tampak imperialistik teritorial bagi para pengkritiknya, tetapi ia menawarkan visi semiosis yang lebih terpadu dan dinamis daripada studi tentang media tertentu seolah-olah masing-masing ada dalam ruang hampa.

Tentu saja ada pendekatan lain untuk analisis tekstual selain semiotika – terutama analisis retoris, analisis wacana dan ‘analisis isi’. Di bidang studi media dan komunikasi, analisis isi merupakan saingan utama semiotika sebagai metode analisis tekstual. Sedangkan semiotika sekarang terkait erat dengan studi budaya, analisis isi mapan dalam tradisi arus utama penelitian ilmu sosial. Sementara analisis isi melibatkan pendekatan kuantitatif terhadap analisis ‘konten’ manifes teks media, semiotika berusaha menganalisis teks media sebagai keseluruhan yang terstruktur dan menyelidiki makna konotatif laten. Semiotika jarang bersifat kuantitatif, dan seringkali melibatkan penolakan terhadap pendekatan semacam itu. Hanya karena item sering muncul dalam teks tidak membuatnya signifikan. Ahli semiotika strukturalis lebih memperhatikan hubungan unsur-unsur satu sama lain. Seorang ahli semiotika sosial juga akan menekankan pentingnya signifikansi yang dilampirkan pembaca pada tanda-tanda dalam sebuah teks. Sedangkan analisis isi berfokus pada isi eksplisit dan cenderung menyarankan bahwa ini mewakili makna tunggal yang tetap, studi semiotik fokus pada sistem aturan yang mengatur ‘wacana’ yang terlibat dalam teks media, menekankan peran konteks semiotik dalam membentuk makna. Namun, beberapa peneliti telah menggabungkan analisis semiotik dan analisis isi (misalnya Glasgow University Media Group 1980; Leiss et al. 1990; McQuarrie & Mick 1992).

Beberapa komentator mengadopsi definisi semiotika CW Morris (dalam semangat Saussure) sebagai ‘ilmu tentang tanda’ (Morris 1938, 1-2). Istilah ‘sains’ menyesatkan. Sampai sekarang semiotika tidak melibatkan asumsi teoretis, model, atau metodologi empiris yang disepakati secara luas. Semiotika cenderung sebagian besar teoretis, banyak ahli teorinya berusaha membangun ruang lingkup dan prinsip-prinsip umumnya. Peirce dan Saussure, misalnya, sama-sama memperhatikan definisi dasar tanda. Peirce mengembangkan taksonomi logis yang rumit dari jenis tanda. Ahli semiotika berikutnya telah berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan kode atau konvensi sesuai dengan tanda-tanda yang diorganisasikan. Jelas ada kebutuhan untuk membangun landasan teoretis yang kuat untuk subjek yang saat ini dicirikan oleh sejumlah asumsi teoretis yang bersaing. Adapun metodologi, teori Saussure merupakan titik awal untuk pengembangan berbagai metodologi strukturalis untuk menganalisis teks dan praktik sosial. Ini telah sangat banyak digunakan dalam analisis sejumlah fenomena budaya. Namun, metode tersebut tidak diterima secara universal: teori berorientasi sosial telah mengkritik fokus eksklusif mereka pada struktur, dan tidak ada metodologi alternatif yang telah diadopsi secara luas. Beberapa penelitian semiotik berorientasi empiris, menerapkan dan menguji prinsip-prinsip semiotik. Bob Hodge dan David Tripp menggunakan metode empiris dalam studi klasik mereka tentang Anak dan Televisi (Hodge & Tripp 1986). Tetapi saat ini ada sedikit pengertian tentang semiotika sebagai suatu kesatuan usaha yang dibangun di atas penemuan-penemuan penelitian kumulatif.

Semiotika Seri 3

Selektivitas media apa pun mengarah pada penggunaannya yang memiliki pengaruh yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengguna, dan yang mungkin bukan bagian dari tujuan penggunaannya. Kita bisa begitu akrab dengan medium sehingga kita ‘terbius’ terhadap mediasi yang terlibat: kita ‘tidak tahu apa yang kita lewatkan’. Sejauh kita mati rasa terhadap proses yang terlibat, kita tidak bisa dikatakan menggunakan ‘pilihan’ dalam penggunaannya. Dengan cara ini cara yang kita gunakan dapat mengubah tujuan kita. Di antara fenomena yang ditingkatkan atau dikurangi oleh selektivitas media adalah tujuan media yang digunakan. Dalam beberapa kasus, ‘tujuan’ kita mungkin secara halus (dan mungkin tidak terlihat), didefinisikan ulang oleh penggunaan media tertentu oleh kita. Ini adalah kebalikan dari sikap pragmatis dan rasionalistik, di mana cara dipilih sesuai dengan tujuan pengguna, dan sepenuhnya di bawah kendali pengguna.

Kesadaran akan fenomena transformasi oleh media ini sering membuat ahli teori media berargumentasi secara deterministik bahwa sarana dan sistem teknis kita selalu dan tak terhindarkan menjadi ‘tujuan itu sendiri’ (interpretasi umum dari pepatah terkenal Marshall McLuhan, ‘media adalah pesan’) , dan bahkan mendorong beberapa orang untuk menampilkan media sebagai entitas yang sepenuhnya otonom dengan ‘tujuan’ (berlawanan dengan fungsi) mereka sendiri. Namun, seseorang tidak perlu mengambil sikap ekstrem seperti itu dalam mengakui transformasi yang terlibat dalam proses mediasi. Ketika kita menggunakan media untuk tujuan apa pun, penggunaannya menjadi bagian dari tujuan itu. Bepergian adalah bagian yang tak terhindarkan untuk pergi ke suatu tempat; bahkan mungkin menjadi tujuan utama. Bepergian dengan satu metode transportasi tertentu daripada yang lain adalah bagian dari pengalaman. Begitu juga dengan menulis daripada berbicara, atau menggunakan pengolah kata daripada pena. Dalam menggunakan media apa pun, sampai batas tertentu kita melayani ‘tujuannya’ dan juga melayani kita. Ketika kita terlibat dengan media, kita bertindak dan ditindaklanjuti, digunakan dan digunakan. Dimana media memiliki berbagai fungsi mungkin tidak mungkin untuk memilih untuk menggunakannya hanya untuk salah satu fungsi ini secara terpisah. Pembuatan makna dengan media semacam itu harus melibatkan beberapa tingkat kompromi. Identitas lengkap antara tujuan khusus apa pun dan fungsionalitas media mungkin jarang, meskipun tingkat kecocokan pada sebagian besar kesempatan dapat diterima sebagai memadai.

Saya diingatkan di sini akan sebuah pengamatan oleh antropolog Claude Lévi-Strauss bahwa dalam kasus apa yang disebutnya bricolage, proses menciptakan sesuatu bukanlah masalah pilihan yang diperhitungkan dan penggunaan bahan apa pun yang secara teknis paling baik disesuaikan dengan keadaan yang jelas. tujuan yang telah ditentukan, melainkan melibatkan ‘dialog dengan bahan dan sarana eksekusi’ (Lévi-Strauss 1974, 29). Dalam dialog seperti itu, bahan-bahan yang siap pakai mungkin (seperti yang kami katakan) ‘menyarankan’ tindakan adaptif, dan tujuan awal dapat dimodifikasi. Akibatnya, tindakan penciptaan seperti itu tidak murni instrumental: bricoleur ‘”berbicara” tidak hanya dengan benda-benda… tetapi juga melalui medium benda-benda’ (ibid., 21): penggunaan medium dapat bersifat ekspresif. Konteks poin Lévi-Strauss adalah diskusi tentang ‘pemikiran mitos’, tetapi saya berpendapat bahwa bricolage dapat dilibatkan dalam penggunaan media apa pun, untuk tujuan apa pun. Tindakan menulis, misalnya, dapat dibentuk tidak hanya oleh tujuan sadar penulis tetapi juga oleh fitur media yang terlibat – seperti jenis bahasa dan alat tulis yang digunakan – serta oleh proses mediasi sosial dan psikologis yang terlibat. . Setiap ‘perlawanan’ yang ditawarkan oleh materi penulis dapat menjadi bagian intrinsik dari proses penulisan. Namun, tidak setiap penulis bertindak atau merasa seperti seorang bricoleur. Individu berbeda secara mencolok dalam tanggapan mereka terhadap gagasan transformasi media. Mulai dari mereka yang bersikeras bahwa mereka memegang kendali penuh atas media yang mereka ‘gunakan’ hingga mereka yang mengalami perasaan mendalam bahwa mereka dibentuk oleh media yang ‘menggunakannya’ (Chandler 1995).

Norman Fairclough berkomentar tentang pentingnya perbedaan antara berbagai media massa dalam saluran dan teknologi yang mereka gunakan.

Konstruksi Kepribadian


Sejak awal kurang lebih tahun 1980-an sejumlah besar karya di bidang antrologi karyatelah difokuskan pada perbedaan budaya dalam gambaran orang (Lihat Caerrithers, Collins, dan Lukes 1985; Geerts 1973, 1983, Gergen 1991; Gergen dan Davis 1985; Harris 1989; Kohut 1977; Kondo 1990; Marsella, Devos, dan Hsu 1985; myers, 1986; Read 1955, Rosaldo 1980an, 1984; Shweder and Bourne 1984; Spiro 1993; Taylor 1989; White and Kirkpatrick 1985; Wiergbicka 1993). Tak aneh lagi, semua volume telah diberikan dalam penelitian ini, kesepakatan penuh pada masalah yang dilibatkan tersebut belum dimunculkan, tetapi beberapa perbedaan mendasar berbagai macam kepercayaan pada budaya tentang keorangaan juga terlihat nyata. Lapisan dasar perbedaan budaya kelihatannya bergantung pada bagaimana diri tersebut tergambar dalam hubungan sosial (lihat Gergen 1990). Berdasarkan pandangan ini, kesempatan untuk memahami sifat diri tidak lewat individu atau keadaan jiwa mereka, contohnya kepercayaan, perasaan, maksud, tetapi lebih kepada kolaborasi sosial atau structural coupling dalam lingkungan sosial. Setiap orang tergantung pada yang lainnya, kelangsungan mereka tak lepas dari hubungan dengan yang lainnya, dan, Begitu pula seterusnya, hubungan tergantung pada praktik saling kerjasama antar peran sosial. Gergen (1990) menyebut jaringan kerjasama inti hubungan ini sebagai “sistem berkelanjutan diri dalam praktik kerjasama yang mana 2 orang atau lebih saling terkait” (Gergen 1990: 584-5). Gagasan tersebut sangat mengingatkan pada pemikiran biologi Maturana dan Varela (1987) tentang sistem mengorganisasi diri dalam structural coupling. Bagaimana hubungan inti dibentuk sebagian diperoleh melalui kemampuan berbicara (Gergen 1990: 584-5):

            Keadaan baik individu tidak bisa terlepas dari jaringan hubungan yang terkait dengannya. Karakter hubungan tergantung, begitu pula seterusnya, pada proses penyesuaian dan praktik menyesuaikan kembali. Akibatnya, bentuk hubungan tergantung pada praktik saling kerjasama.. sehingga, contohnya, ketika kita saling bertemu hari demi hari, praktik kita cenderung ke arah kerjasama. Gerakan mata, tangan, dan kaki, contohnya, atau jumlah kata yang kita ucapkan, volume, kecepatan dan seterusnya, semua merupakan proses saling bekerjasama.. Ketika kerjasama terjadi–saling bergantian dalam percakapan, menyesuaikan nada suara sehingga yang lain bisa mendengar dengan nyaman, berbicara dengan saling menerima pola kata, berjalan bersama dalam kecepatan yang mirip dan seterusnya –kita telah sampai pada inti bentuk hubungan.

Perhatikan bahwa kerjasama terjadi melalui tindakan naluriah yang terwujud pada individu kita.

Diatas telah dikemukakan pendapat tentang fungsi sosial, orang muncul benar-benar sebagai poin inti hubungan dalam sejarah structural coupling. Setiap dari kita mempunyai tindakan naluriah pola hubungan yang banyak dikembangkan dari sejarah structural coupling dengan yang lain. Ketika kita bertemu dengan seseorang, interaksi menjadi titik temu berbagai pola hubungan kita yang telah terjaring. Pola yang berkembang dalam hubungan kita akan disalurkan pada lingkup sistem yang lebih luas melalui proses structural coupling yang kita lakukan dalam pertemuan. Sapaan Wolof dalam pertemuan merupakan contoh yang bagus dari ini: bagaimana perbedaan status akan muncul dalam pertemuan yang betul-betul terbentuk dari oleh ketajaman status sosial kita yang telah ada sejak pertemuan sebelumnya, keduanya dengan lawan bicara sekarang dan orang lain yang tak terkira banyaknya.

Manfaat Air Kelapa

Air Kelapa

Manfaat air kelapa terutama bagi bumil yaitu air kelapa tidak menyebabkan akumulasi lemak pada tubuh wanita hamil yang sudah berlebihan berat badan.

Air kelapa memiki kandungan elektrolit yang bermanfaat dalam membantu selama kehamilan seperti masalah mual, morning sickness, dan diare saat tubuh mengalami dehidrasi. Elektrolit ini juga membantu fungsi otot dan mengendalikan tingkat tekanan darah.

Air kelapa memiliki zat diuretik secara alami yang bisa meningkatkan buang air kecil karena kandungan mineral termasuk pottasium dan magnesium. Ini membantu dalam menyingkirkan racun dna membersihkan saluran kencing sehingga membantu fungsi ginjal.

Saat masa kehamilan terjadi perubahan hormon yang menimbulkan masalah sembelit, gangguan pencernaan dan sakit maag. Serat makanan dalam air kelapa memperbaiki sistim pencernaan dna mencegah sembelit.

Asam laurat dalam air kelapa menghasilyang kuat yang kan anti virus yang dapat menetralkan berbagai infeksi dan peningkatan kekebalan pada wanita hamil.

Memperbaiki kondisi jantung karena air kelapa meningkatkan kadar potassium dan magnesium yang mengatur tekanan darah dan mengurangi kolesterol jahat.

Semiotike Seri 2

Semiotika tidak secara luas dilembagakan sebagai disiplin akademis. Ini adalah bidang studi yang melibatkan banyak sikap teoretis dan alat metodologis yang berbeda. Salah satu definisi yang paling luas adalah Umberto Eco, yang menyatakan bahwa ‘semiotika berkaitan dengan segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai tanda’ (Eco 1976, 7). Semiotika melibatkan studi tidak hanya tentang apa yang kita sebut sebagai ‘tanda’ dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga tentang apa pun yang ‘mewakili’ sesuatu yang lain. Dalam pengertian semiotik, tanda berupa kata-kata, gambar, suara, gerak tubuh, dan objek. Sementara bagi ahli bahasa Saussure, ‘semiologi’ adalah ‘ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial’, bagi filosof Charles Peirce ‘semiotik’ adalah ‘doktrin formal tentang tanda’ yang erat kaitannya dengan Logika (Peirce 1931-58, 2.227). Baginya, ‘sebuah tanda… adalah sesuatu yang berarti bagi seseorang untuk sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas’ (Peirce 1931-58, 2.228). Dia menyatakan bahwa ‘setiap pikiran adalah sebuah tanda’ (Peirce 1931-58, 1.538; lih. 5.250 dst, 5.283 dst). Semiotika kontemporer mempelajari tanda-tanda tidak dalam isolasi tetapi sebagai bagian dari ‘sistem tanda’ semiotik (seperti media atau genre). Mereka mempelajari bagaimana makna dibuat: dengan demikian, tidak hanya memperhatikan komunikasi tetapi juga dengan konstruksi dan pemeliharaan realitas. Semiotika dan cabang linguistik yang dikenal sebagai semantik memiliki perhatian yang sama dengan makna tanda, tetapi John Sturrock berpendapat bahwa sementara semantik berfokus pada apa arti kata, semiotika berkaitan dengan bagaimana tanda berarti (Sturrock 1986, 22). Untuk CW Morris (berasal dari klasifikasi tiga kali lipat ini dari Peirce), semiotika menganut semantik, bersama dengan cabang linguistik tradisional lainnya:

 

semantik: hubungan tanda dengan apa yang mereka perjuangkan;

sintaksis (atau sintaksis): hubungan formal atau struktural antara tanda;

pragmatik: hubungan tanda dengan penafsir (Morris 1938, 6-7).

 

Semiotika sering digunakan dalam analisis teks (walaupun jauh lebih dari sekadar mode analisis tekstual). Di sini mungkin perlu dicatat bahwa ‘teks’ dapat eksis dalam media apa pun dan mungkin verbal, non-verbal, atau keduanya, terlepas dari bias logosentris dari perbedaan ini. Istilah teks biasanya mengacu pada pesan yang telah direkam dalam beberapa cara (misalnya menulis, merekam audio dan video) sehingga secara fisik independen dari pengirim atau penerima. Teks adalah kumpulan tanda (seperti kata, gambar, suara dan/atau gerakan) yang dibangun (dan ditafsirkan) dengan mengacu pada konvensi yang terkait dengan genre dan dalam media komunikasi tertentu.

 

Istilah ‘medium’ digunakan dalam berbagai cara oleh ahli teori yang berbeda, dan dapat mencakup kategori luas seperti pidato dan tulisan atau cetak dan penyiaran atau berhubungan dengan bentuk teknis tertentu dalam media massa (radio, televisi, surat kabar, majalah, buku). , foto, film, dan rekaman) atau media komunikasi antarpribadi (telepon, surat, faks, email, konferensi video, sistem obrolan berbasis komputer). Beberapa ahli teori mengklasifikasikan media menurut ‘saluran’ yang terlibat (visual, auditori, taktil, dan sebagainya) (Nöth 1995, 175). Pengalaman manusia secara inheren multiindrawi, dan setiap representasi pengalaman tunduk pada kendala dan keterjangkauan media yang terlibat. Setiap media dibatasi oleh saluran yang digunakannya. Misalnya, bahkan dalam media bahasa yang sangat fleksibel ‘kata-kata mengecewakan kita’ dalam mencoba untuk mewakili beberapa pengalaman, dan kita sama sekali tidak memiliki cara untuk merepresentasikan bau atau sentuhan dengan media konvensional. Media dan genre yang berbeda memberikan kerangka kerja yang berbeda untuk mewakili pengalaman, memfasilitasi beberapa bentuk ekspresi dan menghambat yang lain. Perbedaan antara media membuat Emile Benveniste berpendapat bahwa ‘prinsip pertama’ sistem semiotik adalah bahwa mereka tidak ‘sama’: ‘kita tidak dapat mengatakan “hal yang sama”‘ dalam sistem yang didasarkan pada unit yang berbeda (dalam Innis 1986 , 235) berbeda dengan Hjelmslev, yang menegaskan bahwa ‘dalam praktiknya, bahasa adalah semiotik yang ke dalamnya semua semiotika lainnya dapat diterjemahkan’ (dikutip dalam Genosko 1994, 62).

Penggunaan media sehari-hari oleh seseorang yang tahu bagaimana menggunakannya biasanya tidak diragukan lagi sebagai tidak bermasalah dan ‘netral’: ini tidak mengherankan karena media berkembang sebagai sarana untuk mencapai tujuan di mana mereka biasanya dimaksudkan untuk menjadi insidental. Dan semakin sering dan lancar suatu media digunakan, semakin cenderung ‘transparan’ atau ‘tidak terlihat’ bagi penggunanya. Untuk sebagian besar tujuan rutin, kesadaran akan suatu media dapat menghambat keefektifannya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Memang, biasanya ketika media memperoleh transparansi, potensinya untuk memenuhi fungsi utamanya adalah yang terbesar.

Semiotika Seri 1

Jika Anda pergi ke toko buku dan bertanya kepada mereka di mana menemukan buku tentang semiotika, kemungkinan besar Anda akan bertemu dengan pandangan kosong. Lebih buruk lagi, Anda mungkin diminta untuk mendefinisikan apa itu semiotika – yang akan sedikit rumit jika Anda mencari panduan untuk pemula. Lebih buruk lagi jika Anda tahu sedikit tentang semiotika, karena mungkin sulit untuk menawarkan definisi sederhana yang banyak digunakan di toko buku. Jika Anda pernah berada dalam situasi seperti itu, Anda mungkin akan setuju bahwa adalah bijaksana untuk tidak bertanya. Semiotika bisa di mana saja. Definisi terpendek adalah bahwa itu adalah studi tentang tanda-tanda. Tapi itu tidak membuat penanya jauh lebih bijaksana. ‘Apa maksudmu dengan tanda?’ orang biasanya bertanya selanjutnya. Jenis-jenis rambu yang mungkin langsung muncul di benak adalah rambu-rambu yang biasa kita sebut sebagai ‘rambu’ dalam kehidupan sehari-hari, seperti rambu jalan, rambu pub dan rambu bintang. Jika Anda setuju dengan mereka bahwa semiotika dapat mencakup studi tentang semua ini dan lebih banyak lagi, orang mungkin akan berasumsi bahwa semiotika adalah tentang ‘tanda-tanda visual’. Anda akan mengkonfirmasi firasat mereka jika Anda mengatakan bahwa tanda juga bisa berupa gambar, lukisan, dan foto, dan sekarang mereka akan mengarahkan Anda ke bagian seni dan fotografi. Tetapi jika Anda berkulit tebal dan memberi tahu mereka bahwa itu juga mencakup kata-kata, suara, dan ‘bahasa tubuh’, mereka mungkin bertanya-tanya apa kesamaan semua hal ini dan bagaimana orang dapat mempelajari fenomena yang berbeda seperti itu. Jika Anda sampai sejauh ini, mereka mungkin sudah ‘membaca tanda-tanda’ yang menunjukkan bahwa Anda eksentrik atau gila dan komunikasi mungkin telah berhenti.

 

Dengan asumsi bahwa Anda bukan salah satu dari orang-orang menyebalkan yang membuat semua orang menunggu dengan pertanyaan canggung Anda, jika Anda mencari buku tentang semiotika, Anda bisa melakukan yang lebih buruk daripada memulai di bagian linguistik.

Adalah… mungkin untuk membayangkan suatu ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial. Ini akan menjadi bagian dari psikologi sosial, dan karenanya dari psikologi umum. Kita akan menyebutnya semiologi (dari bahasa Yunani semeîon, ‘tanda’). Ini akan menyelidiki sifat tanda dan hukum yang mengaturnya. Karena itu belum ada, seseorang tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa itu akan ada. Tetapi ia memiliki hak untuk hidup, tempat yang siap untuk itu sebelumnya. Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik, dan dengan demikian linguistik akan ditempatkan pada tempat yang jelas dalam bidang pengetahuan manusia. (Saussure 1983, 15-16; Saussure 1974, 16)

 

Demikian tulis ahli bahasa Swiss Ferdinand de Saussure (1857-1913), seorang pendiri tidak hanya linguistik tetapi juga dari apa yang sekarang lebih sering disebut sebagai semiotika (dalam Course in General Linguistics, 1916). Selain Saussure (singkatan biasa), tokoh kunci dalam perkembangan awal semiotika adalah filsuf Amerika Charles Sanders Peirce (sic, diucapkan ‘dompet’) (1839-1914) dan kemudian Charles William Morris (1901-1979), yang mengembangkan semiotika behavioris. Ahli teori semiotika modern terkemuka termasuk Roland Barthes (1915-1980), Algirdas Greimas (1917-1992), Yuri Lotman (1922-1993), Christian Metz (1931-1993), Umberto Eco (lahir 1932) dan Julia Kristeva (lahir 1941) . Sejumlah ahli bahasa selain Saussure telah bekerja dalam kerangka semiotika, seperti Louis Hjelmslev (1899-1966) dan Roman Jakobson (1896-1982). Sulit untuk memisahkan semiotika Eropa dari strukturalisme dalam asal-usulnya; strukturalis utama tidak hanya mencakup Saussure tetapi juga Claude Lévi-Strauss (b. 1908) dalam antropologi (yang melihat subjeknya sebagai cabang semiotika) dan Jacques Lacan (1901-1981) dalam psikoanalisis. Strukturalisme adalah metode analisis yang telah digunakan oleh banyak ahli semiotika dan didasarkan pada model linguistik Saussure. Strukturalis berusaha untuk menggambarkan keseluruhan organisasi sistem tanda sebagai ‘bahasa’ – seperti Lévi-Strauss dan mitos, aturan kekerabatan dan totemisme, Lacan dan ketidaksadaran dan Barthes dan Greimas dan ‘tata bahasa’ narasi. Mereka terlibat dalam pencarian ‘struktur dalam’ yang mendasari ‘fitur permukaan’ fenomena. Namun, semiotika sosial kontemporer telah bergerak melampaui perhatian strukturalis dengan hubungan internal bagian-bagian dalam sistem mandiri, berusaha untuk mengeksplorasi penggunaan tanda-tanda dalam situasi sosial tertentu. Teori semiotika modern juga terkadang bersekutu dengan pendekatan Marxis yang menekankan peran ideologi.

Semiotika mulai menjadi pendekatan utama studi budaya pada akhir 1960-an, sebagian sebagai hasil karya Roland Barthes. Terjemahan ke dalam bahasa Inggris dari esai populernya dalam koleksi berjudul Mythologies (Barthes 1957), diikuti pada 1970-an dan 1980-an oleh banyak tulisannya yang lain, sangat meningkatkan kesadaran ilmiah tentang pendekatan ini. Menulis pada tahun 1964, Barthes menyatakan bahwa ‘semiologi bertujuan untuk mengambil sistem tanda apa pun, apa pun substansi dan batasannya; gambar, gerak tubuh, suara musik, objek, dan asosiasi kompleks dari semua ini, yang membentuk isi ritual, konvensi atau hiburan publik: ini merupakan, jika bukan bahasa, setidaknya sistem penandaan’ (Barthes 1967, 9). Adopsi semiotika di Inggris dipengaruhi oleh keunggulannya dalam karya Pusat Studi Budaya Kontemporer (CCCS) di Universitas Birmingham sementara pusat itu berada di bawah arahan sosiolog neo-Marxis Stuart Hall (direktur 1969-79) . Meskipun semiotika mungkin kurang sentral sekarang dalam studi budaya dan media (setidaknya dalam bentuknya yang lebih awal, lebih strukturalis), tetap penting bagi siapa pun di lapangan untuk memahaminya. Apa yang harus dinilai oleh para sarjana individu, tentu saja, adalah apakah dan bagaimana semiotika dapat berguna dalam menjelaskan aspek apa pun dari perhatian mereka. Perhatikan bahwa istilah Saussure, ‘semiologi’ kadang-kadang digunakan untuk merujuk pada tradisi Saussurean, sementara ‘semiotika’ kadang-kadang mengacu pada tradisi Peircean, tetapi saat ini istilah ‘semiotika’ lebih cenderung digunakan sebagai istilah umum untuk merangkul seluruh bidang (Nöth 1990, 14).

Herbal Laos Untuk Scabies

Laos/Lengkuas

Banyak ibu-ibu bingung bagaimana cara mengatasi sakit scabies atau terkena virus dari kucing. Kulit akan bergelembung-gelembung dan mengeluarkan air. Ini akan terus dirasa sebelum kucing-kucing tersebut disingkirkan. Resep herbalnya adalah sebagai berikut :

5 cm jahe (digeprek) / 2 sm jahe bubuk , 5 cm lengkuas (digeprek), 5 cm sereh (digeprek), 2 sm madu dan air. Seduh herbal-herbalnya dengan 300 ml air panas. Lalu saat hangat beri 2 sm madu. Minum herbal ala JSR ini saat hangat.

Saran dan tips : jauhkan untuk sementara kucing-kucing di rumah. Olesi kulit yang ada scabies dengan shampo selsun sehari sekali sebelum tidur.