Lagi-lagi terms of address. Membaca tulisan iseng seorang teman yang menyampaikan kebingungannya sesaat. Bingung karena takut salah sebut, sebutan untuk memanggil kepada seseorang. Addressing atau panggilan atau dalam bahasa akademiknya adalah terms of address yang memiliki aturan tertentu pada tiap-tiap keadaan.
Ada seorang dosen yang sangat kami hormati di lingkungan tempat kerja. Beliau menyandang gelar cukup banyak karena pencapaian akademiknya yang cukup panjang. Gelar professor, doktor, bahkan haji sudah lama bertahan di depan namanya. Belum lagi gelar di belakangnya, ada magister macam-macam. Yang belum ada hanya gelar almarhum atau yang sering ditulis dalam tanda kurung (alm).
Namun siapa sangka gelar-gelar berentetan ini justru membuat kita bingung untuk memanggil atau menyebut. Secara lingkungan kerja kami ini adalah lingkungan dimana setiap senior, terutama alumni akan dipanggil dengan sebutan mentereng yaitu USTADZ. Meski bukan alumni pesantren dan meski bukan orang-orang yang mengemban misi agama.
Sehingga semakin panjang daftar kata panggil yang akan kita sebut yang kita ucapkan kepada satu orang saja. Saat kita akan panggil beliau “prof”, nah mungkin tepat bila berada di dalam kelas. Saat berada di kelas dengan mahasiswa alumni maka hampir semua sepakat memanggil dengan sebutan “ustadz”. Karena mahasiswa selalu memanggil dosennya dengan kata ustadz, apapun bidang yang digelutinya.
Sebenarnya kata panggil “pak” kepada seorang pria berumur 25 tahun ke atas mungkin adalah kata yang paling tepat digunakan. Kata “pak” sangat luwes disampaikan kepada siapapun yang bergender laki-laki. Bahkan sangat lebih menghargai apabila disebutkan kata lengkapnya yaitu “bapak”.
Namun pandangan dan pikiran setiap orang berbeda-beda saat ingin dihargai dengan cara memanggil. Kadang dia lupa dan tidak menganut konvensi, akhirnya yang muncul adalah kesalah pahama dan marah-marah. Seorang professor tidak terima dipanggil “pak”. Sudah barang tentu, beliau bersusah payah untuk dapatin gelar berentetan. Lalu dengan terburu-buru segera dikoreksi oleh teman dengan panggilan “ustadz” karena beliau adalah senior di lokasi kerja. Apa yang terjadi?
Malah marah meluap-luap karena ditambah dengan ungkapan kata ganti kedua “anda”.
Kadang terms of address itu banyak dipengaruhi oleh faktor emosi psikologis, latar belakang budaya seseorang hingga ditentukan kata panggil itu, dan lain-lain.
Di instagram ada kisah pilu seorang anak yang membawa ibunya ke panti jompo. Ibu yang memiliki 6 orang anak ini berusia hampir 70 tahun. Menurut keterangan dari pihak panti, ibu ini sudah diserahkan oleh anak-anaknya kepada panti untuk diurus keperluannya sehari-hari.
Dan berita ini lalu menjadi viral lantaran diungkapkan dengan kalimat-kalimat heboh. Seorang ibu dibuang anaknya ke panti jompo. Ada lagi seorang ibu sanggup mengurus 6 orang anaknya sampai menginjak dewasa. Namun 6 orang anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal ini menjadikan salah satu anak klarifikasi atas berita yang sudah tersebar kemana-mana.
Dalam klarifikasinya, anak berusia dewasa dan sudah berumah tangga mengungkapkan ketidak sanggupannya untuk merawat ibu yang sudah tua. Hal ini dikarenakan bahwa ibunya sering berulah dan mengancam anak-anaknya untuk berpisah dengan pasangan masing-masing. Atau ada juga cerita salah satu anak yang memang tidak lagi bisa menerima keadaan sang ibu yang suka berbuat onar, kasar, berbicara kotor dan banyak lagi. Dari klarifikasi sang anak, terlihat dia tidak terima bila disebut membuang orang tuanya, karena banyak sekali penyebab mereka harus dengan terpaksa menitipkan orangtua ke panti jompo.
Di negeri ini memang masih tabu bila ada keluarga yang menitipkan orang tua ke panti jompo. Beda dengan di negara-negara lain yang memang sudah terbiasa dengan keadaan bahwa orang tua bisa tinggal di panti jompo lebih aman.
Mungkin karena suara netizen lebih dominan dan menguasai, memaksa anak-anak ibu ini untuk klarifikasi. Namun si anak ini dengan situasi yang tidak jelas, klarifikasi dengan hanya suara bukan video, menyebut kata ganti kedua untuk ibunya dengan kata panggil “dia”. Hal ini semakin membuat marah netizen. dan semakin yakin bahwa sang anak ini memang sudah melakukan kesalahan besar, menitipkan orang tuanya ke panti jompo.
Sekali lagi kata panggil yang sangat crucial dan tidak lagi mudah untuk disebut.
Kita tidak tahu apa fakta di balik klarifikasi sang anak, dan mengapa anak ini menyebut dengan kata “dia:. Disaat nada suara yang terdengar adalah pelan dan sopan.
Seperti layaknya
Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan
predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya.
Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang
menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang
satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang
sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru
Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi
Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.
Termyata cukup banyak
juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita
cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah
Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia
di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan
sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin
tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos
seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur,
gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan
Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan.
Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis
karena kotanya belum saya sebut.
Namun kuliner Soto
Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang
cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya
diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka
ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di
dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih,
jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang
sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang
putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi
Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan
tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang
seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan
kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.
Seperti misalnya Soto
Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka
kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan
kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip
dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura
menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang
dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang
nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini
sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring
Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki
kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo.
Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena
beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah
ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan
memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto
Suroboyoan tersebut.
Di Kalimantan sebagian
besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner
Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh.
Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing.
Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya.
Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan
pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto
dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa
sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak
sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti
misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto
Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli
Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran
minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita
temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan
Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana,
karena semua enyak.
Karena menyebut Coto
Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang
sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi
selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang
berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah
hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai
Coto Makassar. Juga raja-raja Bugis
Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja
Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai
hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti
hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu
ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar
menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah
cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu
Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya,
dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini
dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan,
pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri
jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di
warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto
Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih
kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong
atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar
sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk
nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan
kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai
pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering
dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.
Dengan mempergunakan
topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto
Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto
Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang
membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping
yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah
goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe
rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini
cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya.
Eh..
Di Pacitan, Sotonya
berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang
dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada
Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput
kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.
Di sebuah desa di
Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan
bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam
atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi
bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung
Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan
lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup
sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi
ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa
legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena
bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah
goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.
Seperti halnya Soto
Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo
yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini
mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto
Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja
berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih
kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq
nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung
hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan
dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu
tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya
disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun
karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping
sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan
hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya
adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe
bacem, dan karak.
Seperti halnya Soto
yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau
Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto
adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama
sebagai warisan dari masyarakat Chinese
yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode
fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak
bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah
satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena
adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih
lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar,
Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto
Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto
lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau.
Hmm jadi pingin L
Rendang Padang memang
paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas
memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan
Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai
cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto
Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto
nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan
Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi
Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu
manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati
bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang.
Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak,
Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto
Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata.
Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto
Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang
Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.
Mirip dengan Coto
Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan
yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto
Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di
beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga
rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan
dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi
dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik
karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun
menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan
kentang rebus seperti soto Jawatimuran.
Bumbu Soto Nusantara
memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan
lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di
Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal
ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini.
Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu
yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang
unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki
rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge,
daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak
mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion
lainnya.
“Bila kita ingin
mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”
“Puang Ika..” Salah
satu teman, Ipung mahasiswa UIN anggota IKAMI SULSEL MALANG memanggilku dengan
serta merta. Kelihatannya aku masih belum familiar dengan panggilan ini. Puang
terdengar sangat hormat dan menjadi terhormat saat diucapkan. Dan dengan tanpa
menunggu langsung kubrowsing kata Puang ini karena rasa penasaran. Terkejut
setelah membacanya. Ternyata Puang sangat berarti dalam. Begitu juga dengan
Andi, Baso, Daeng, Karaeng, Tetta bahkan Petta.. dan lain-lainnya.
Berawal dari sebuah
puisi yang kutulis dengan judul KARAENG GALESONG di blog pribadi, puisi yang
mengisahkan tentang perjalananku mencapai lokasi makam dan merenung yang tak
pernah kukenal sebelumnya, meski aku tinggal di kota yang sama dengan lokasi
makam ini. Dan iyya, sekali lagi aku gunakan Google untuk mengetahui apa makna
dari kata Karaeng. Saat itu tahun 2006, Google masih sepi penghuni, apalagi
saat menelusuri kata Karaeng dan Karaeng Galesong. Hanya ada beberapa halaman
saja kemunculannya.
Tapi rasa penasaranku
Alhamdulillah kemudian terjawab saat ada seorang teman berkomentar terhadap
puisi yang telah kutulis di blog. Adalah Ucheng atau Ahmad Husain yang kemudian
menjadi sahabatku dan sumber inspirasiku. Dari dia pula kemudian aku berkenalan
dengan IKAMI SULSEL MALANG. Uchenglah yang memberi komentar terhadap puisi yang
telah kubuat di blog. Kemudian dia menghubungiku melalui email. Dan sekali lagi
saat itu masih belum banyak aktifitas internet, sehingga lama baru kubalas
email dari dia. Saat bertemu Ucheng, aku juga bertemu dengan Kahfi yang juga
sama-sama memberiku kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-tema
IKAMI SULSEL MALANG.
Foto 1. Blogger
kampus putih UMM bertemu di cafe
Inilah puisi yang
kuciptakan hingga membawaku berkenalan dengan sahabat-sahabatku IKAMI SULSEL
MALANG.
Rinduku Galesong
Oleh : Ika Farihah
Hentihu
Rinduku
Aku Rindu
Aku Rindu Pada Galesong
Aku Rindu Pada Sombayya,
Ayahku
Aku rindu dimandikan Di
Bungung Baraniya
Aku terpaksa tak kembali
duhai Sombangku
Tapi Aku tahu, Ayah panggil
nama kecilku
Baso…sini kau nak, Baso…sini
kau nak
Aku disini aman Ayah, bersama
dengan istriku…
Potre Koneng
Bermimpikah engkau tentang
diriku wahai ayahku?
Aku selalu bermimpi tentang
ayah
Saat kita bersama berkuda di
Pantai Galesong
Mendengar nasihat-nasihat
bijakmu
Aku ingin bersimpuh di
depanmu ayah
Mengenang saat aku akan pergi
ke Marege
Aku tidak ke Marege Ayah,
tolong percayalah
Aku tidak ke Marege
Marege!
Ayah pasti tahu itu.
(Karaeng Galesong,
Malang)
Masih
saja terngiang aku saat membaca puisi ini. Ini adalah kegalauan Karaeng
Galesong karena tidak kembali ke Gowa. Dia pun rindu ingin bertemu Sultan
Hasanuddin dan ingin mengungkapkan bahwa dia tidak jadi pergi ke Marege
Australia. Hal ini karena saat Karaeng Galesong berpamit, dia mengatakan akan
pergi ke Marege. Dan saat melalui pulau Bali, Karaeng Galesong dengan
pasukannya berhenti untuk mengambil air dan makanan. Dari situlah sejarah
dimulai. Karaeng Galesong mendapat khabar bahwa Trunojoyo berjuang melawan VOC.
Sehingga beliau meneruskan perjalanan ke Barat. Semua pasukan yaitu terdiri
dari 700 buah kapal dan sekitar 8000 lasykar dan keluarganya bergerak menuju
Probolinggo dan selanjutnya menuju Malang, kota kelahiranku.
Berkenalan dengan
mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG memang cukup seru. Dan ini menjadi sumber
inspirasi keduaku setelah bertemu dengan Ucheng. Maklum aku hanyalah penulis pemula
yang tau-tau tertarik dengan budaya Bugis Makassar. Padahal aku sama sekali
tidak memiliki informasi tentang Sulsel. Aku belum pernah mencapai pulau
Celebes. Sehingga saat itu hanya berangan-angan saja, bisakah aku mencapai
pulau itu. Melihat secara langsung, life, lokasi dimana Sultan Hasanuddin
berada, lokasi dimana Karaeng Galesong dilahirkan dan juga tak ketinggalan aku
ingin sekali melihat Bone untuk ‘bertemu’ dengan Aru Palakka. Itu semua hanya
angan-anganku selama 6 tahun berinteraksi dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG.
Masih penasaran
dengan bermacam nama panggilan yang sering dilontarkan oleh sahabat-sahabat
IKAMI SULSEL MALANG, akupun bergerak ke asrama mereka yang kutau hanya di
Telaga Al Kautsar. Belakangan baru ku tau bahwa asrama mahasiswa IKAMI SULSEL
MALANG adalah di Jl. Dieng. Dan jujur aku hanya duduk terdiam mendengar mereka
bicara dengan logat yang berbeda, kata panggil yang bermacam pula. Dan dari
sini lah rasa penasaranku berlanjut. Banyak nama panggilan yang sering disebut
oleh mereka, termasuk Daeng. Ini yang paling populer. Hanya saja setelah
kubrowsing info tentang nama panggilan, ada beberapa kata panggil untuk
masyarakat Makassar dan Bugis.
Daeng
adalah kata dalam bahasa daerah Sulawesi Selatan yang berarti kakak lelaki atau
seseorang yang lebih tua. Tapi kata Daeng mempunyai makna yang berbeda di tiap
suku daerah di Sulawesi Selatan. Suku Bugis dan Makassar adalah suku yang besar
di daerah Sulawesi Selatan yang sering menggunakan kata Daeng dalam kehidupan
sosial mereka sehari-hari. “Kita biasanya memanggil daeng sebagai panggilan
untuk lebih menghormati, karena kalau langsung nama akan terkesan kasar,”
Seperti yang dituturkan Ucheng kepadaku.
Di
dalam perkembangannya sendiri, panggilan Daeng telah memiliki makna yang
beragam. Bisa bermakna kakak, bisa juga menunjukkan kelas sosial seseorang.
Dengan demikian penggunaannya harus diperhatikan baik-baik, karena kata Daeng
sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial tertentu. Beberapa
pergeseran kutemui saat berada di Makassar yaitu memanggil supir pete-pete
dengan panggilan Daeng.
Sedangkan
masyarakat Bugis sangat ketat dalam penerapan tata adat di kehidupan sehari-hari,
terutama dalam kehidupan sosial. Sejak masa pra Islam masyarakat Bugis mudah
mengenal stratifikasi sosial (pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat
secara vertikal/bertingkat). Berkembangya pelapisan masyarakat secara tajam
tumbuh di saat yang sama terbentuknya kerajaan. Hal ini menimbulkan jarak
sosial antara golongan bawah dan golongan atas dalam lapisan masyarakat.
Suku
Bugis pada jaman dulu mengenal tiga kasta. Kasta yang paling tinggi adalah Arung
(Bangsawan) yang memiliki beberapa sub kasta turunan. Kasta selanjutnya adalah
To Maradeka atau orang merdeka (Masyarakat Kebanyakan). Sedangkan kasta yang
paling bawah adalah Ata yang berarti budak. Kasta terendah ini kurasa sudah
tidak pernah lagi disebut-sebut alias tidak ada. Hal ini tampak pada bangunan
rumah Bugis yang tidak lagi ditemukan berspesifikasi Ata. Dan kita sebenarnya
adalah To Maradeka, tidak pernah ada lagi yang membedakan status sosial kecuali
kalau memang dibutuhkan untuk kegiatan upacara.
Foto
2. Rumah kediaman Bapak Rindam Latief di Sengkang
Mahasiswa IKAMI
SULSEL MALANG untungnya sangat rajin dan peduli. Berbagai kegiatan diadakan
oleh komunitas ORDA ini. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dari mulai yang
paling kecil skalanya sampai yang paling megah yaitu BUDAYATA. Diskusi lepas
diadakan tiap minggu, hingga ulang tahun salah satu anggota yang dibuat
surprised. Aku tenggelam dalam gegap gempita celoteh mahasiswa asal Celebes
yang cukup nano-nano bagiku. Kadang mengernyit karena tidak tau artinya. Tapi
pelahan kupahami apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka ungkapkan dan apa
yang mereka lakukan dan inginkan.
Mahasiswa IKAMI
SULSEL MALANG sangat peduli dengan lingkungan. Beberapa kali saya diundang
untuk memperingati Hari Bumi, Hari Ibu dan juga hari-hari lainnya. Saat itu
mereka berduyun-duyun menuju alun-alun kota Malang dan membantu membersihkan
daun-daun disana. Benar-benar cape menjadi mahasiswa IKAMI MALANG sepertinya
karena tiada hari tanpa kegiatan bagi mahasiswa. Sampai ada yang sakit hingga
dirawat di RS karena lumayan parah. Sehingga berduyun-duyunlah teman-teman
IKAMI ini, ikutan nginep di RS jagain Syifa Rasyid. Kemanapun mahasiswa IKAMI
selalu grubyak grubyuk, rame dan bersama-sama.
Sesekali mereka
sembelih kambing dan mengolahnya menjadi Coto Makassar. Itulah untuk pertama
kalinya saya merasakan kuliner terbaik Celebes yang sangat legendaris ini.
Sempat kuajak teman kantor yang berasal dari Sengkang untuk ikut menikmati Coto
di Asrama DIeng. Sempat dia ungkapkan dengan nada gurauan bahwa setiap hari dia
makan pecel yang disajikan oleh istrinya yang orang Jawa. Sehingga menyantap
Coto Makassar membuatnya merasa refreshing. Semua teman disana ketawa renyah
mendengar curhatannya.
Setelah kenyang
menyantap Coto, seperti biasa kubrowsing makna kuliner ini. Ternyata sangat
mengejutkan. Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Tidak seperti
soto-soto Nusantara yang lain yang memiliki latar belakang budaya lokal, Coto
ini sangat dikenal legend. Dan baru kutahu bahwa isi Coto Makassar adalah
jerohan sapi dimana hidangan ini sangat disukai oleh para Raja Bugis dan
Makassar. Pertanyaannya kalau jerohannya disantap oleh para raja, apakah rakyat
jelata kemudian yang mengkonsumsi dagingnya. Ini masih menjadi pertanyaan
bagiku. Namun kalau saat ini kita bisa memilih karena sudah banyak yang peduli
dengan kesehatan, untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi jerohan sapi. Setuju
lah.
Beberapa kali
mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG mengadakan kegiatan pra acara BUDAYATA. Meski
begitu tidak mengurangi hingar binger kegiatan BUDAYATA yang sesungguhnya.
Akupun mencoba hadir di kegiatan yang mereka adakan, sambil korek-korek
kebiasaan rakyat SULSEL yang tercermin pada sahabat-sahabat IKAMI SULSEL
MALANG. Ada tari-tari yang menggambarkan permainan saat masa kecil, drama-drama
dengan dialog Bugis bahkan kegiatan permainan anak-anak. Permainan anak sangat
seru apalagi kalau dihadiri oleh mahasiswa Pasca S2 dan S3 asal Bugis Makassar.
Kebanyakan mereka berumur hampir paro baya, sehingga saat diajak main kelereng,
egrang, dende-dende dan permainan lainnya, mereka sangat menikmati. Teman-teman
mahasiswa bahkan sudah pada pulang, tapi teman-teman Pasca masih bertahan
lompat-lompat disana, Kasiang..
Pengalaman yang
paling berkesan saat itu adalah saat Irma, salah satu mahasiswa IKAMI SULSEL
MALANG asal Kalimantan meminjamiku baju Bodo atau baju Tokko. Baju-baju
tersebut adalah koleksi pribadi komunitas, termasuk pula perhiasannya. Wah
betapa bahagianya aku mengenakan baju dan sarung tersebut. Dan surprised,
kemudian kukenakan baju adat Sulsel, ini adalah moment yang kutunggu-tunggu.
Bangga sekali rasanya, setelah sekian lama hanya bicara dan menulis, akhirnya
aku mengenakan. Baju ini yang akhirnya kukenakan saat acara BUDAYATA pertama di
café itu.
Foto 3. Festival
Budayata pertama
Adalah Abi, seorang
mahasiswa jurusan Teknik yang memiliki jiwa seni dan budaya cukup kental yang
dengan ikhlas menyerahkan koleksi keluarga di Bone kepada komunitas mahasiswa
IKAMI. Baju-baju, sarung dan pernak perniknya inilah yang salah satunya kupakai
pada BUDAYATA. Gelang lengan yang tadinya belum lengkap, dengan petunjuk Abi,
akupun mencoba untuk menjahit. Dan jadilah sebuah gelang lengan yang sesekali
dipergunakan menari oleh mahasiswi-mahasiswi. Tari Angin Mamiri, tari Kipas dan
yang paling heboh tari yang para penarinya membawa obor. Abi pun dengan sangat
serius mengolah acara ini dari sejak pemilihan busana hingga mata acara yang
ditampilkan. Abi tipe orang serius, berpuluh toko telah dia lewati bersamaku
dengan Irma. Tapi sedikitpun tidak ada yang menggoyah hatinya. Kain-kain di
Malang tidak ada yang sesuai dengan kata hatinya. Walhasil teman-teman pun
mendatangkan kostum-kostum ini dari Makassar sekaligus dengan pemain
perkusinya. Heboh banget pokoknya.
Sampailah kemudian
pada moment paling penting, aku bisa datang dan hadir melihat Makassar secara
langsung. Saat kuinjak pulau Celebes, udara hangat menyelimuti. Tapi
kebahagiaanku sudah terbayar karena 6 tahun menunggu agar bisa menginjak pulau
Celebes. Adalah Prof. Aminuddin Salle yang banyak membaca tulisanku tentang
Karaeng Galesong di website, beliaulah yang memfasilitasiku untuk datang ke
Galesong dan mengijinkan tulisan-tulisanku untuk diterbitkan oleh Yayasan AS
Center. Merupakan suatu kebanggan dan kehormatan bagiku karena dengan tulisan
yang remeh temah namun membawa dampak cukup terasa bagi keluarga keturunan
Karaeng Galesong hingga raja terakhirnya sekarang yaitu Prof. Aminuddin Salle.
Seorang guru besar bidang Hukum Tanah Adat Universitas Hasanuddin. Dan beliau
pula yang mengantarku ke Bala Lompoa Galesong dan memberiku nama Paddaengang
yaitu Daeng Te’ne. Beberapa kali masih tergagap-gagap karena belum hafal dengan
nama ini. Namun kemudian menjadi terbiasa karena banyak yang memanggilku dengan
nama paddaengang ini, Daeng Te’ne.
Foto 4. Launching
Novel Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram
Tiba di Bala Lompoa
Galesong adalah sebuah keniscayaan, namun siapa nyana aku bisa mencapai Istana
Galesong dimana disana masih tersimpan artefak-artefak peninggalan Raja
Galesong pertama hingga sekarang. Ada juga Bungung Baraniya, sebuah sumur yang
tak jauh dari Bala Lompoa Galesong dimana para lasykar-lasykar Karaeng Galesong
yang hendak berangkat menuju medan laga, dimandikan di sumur ini. Sumur ini
cukup tua, legend dan berbau sejarah cukup kuat. Akupun sudah mencoba minum air
dari Bungung Baraniya, segar dan viral. Karena setelah aku minum air ini, fotoku
tersebar ke socmed. Dibilang seorang peneliti sejarah minum air dari Bungung Baraniya. Waduh!
Foto 5. Minum air
dari Bungung Baraniya Galesong Takalar
Wajo, Sengkang, Barru,
Sidrap dan Takalar adalah daerah yang sudah kulalui, sangat membahagiakan sudah
berada di tanah Bone. Seorang sahabat mengajakku kesana. Beberapa tempat
kulalui, yaitu Tosora dan makam Syekh Jamaluddin Akbar Al Husaini dan juga tak
lupa pula mendatangi makam La Madukeleng. Saat melalui Tosora, temanku banyak
bercerita bahwa daerah ini adalah daerah pertempuran Aru Palakka. Dan
sepertinya aku bisa rasakan itu disana. Sempat mampir sebentar setelah melihat
seorang wanita menenun kain, dan semangat selfie ku jadi membara melihat mesin
tenun manual tersebut. Lalu jadilah sebuah foto seorang cewek asal kota Malang
yang menenun di Tosora. Ngakak berkali-kali melihat polahku yang tak
terkendali.
Foto 6. Di Tosora
Kalau selama ini aku
mendengar lagu Danau Tempe, nah saat itu aku melihat secara life danau
tersebut. Memang airnya sudah sangat berkurang. Hal ini karena pasokan air dari
Sungai Sa’dang Toraja yang juga berkurang. Sungai Sa’dang adalah sungai yang
acap kali dipergunakan para rafter karena geografi sungai yang lumayan
menantang. Namun tidak mengurangi rasa bahagiaku bisa melihat Danau Tempe ini
dari dekat sambil nyanyi-nyanyi Bulu Alauna Tempeeeee.. yihaaa.
Banyak kenangan manis
yang kudapatkan dari mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG. Jayalah IKAMI SULSEL,
Jayalah IKAMI SULSEL MALANG.
Setiap menjelang lebaran hampir semua orang disibukkan mempersiapkan untuk hari Lebaran, hari kemenangan, hari yang ditunggu-tunggu setelah sebulan menahan diri dengan berpuasa selama 30 hari.
Apa saja persiapan yang biasa dilakukan menjelang lebaran?
Yang jelas selain baju lebaran, ibu-ibu selalu menyiapkan hidangan apa yang nanti akan disantap sepulang dari sholat Ied. Sehingga nggak heran orang belum salam-sal;aman memohon maaf, hidangannya disikat duluan. Mungkin karena nggak sabar menunggu dan sudah menahan selama 30 hari.
Beberapa masyarakat di tanah air banyak menyediakan ketupat untuk hidangan utama di saat lebaran. Yaitu di hari pertama Iedul Fitri. Namun mungkin beda yang terjadi dengan masyarakat di Jawa Timur khususnya di kota Malang, di kota kelahiran saya.
Ketupat.. ketupat..ketupat.. hanya ada di hari ke 5 lebaran. Mungkin banyak yang bertanya kenapa ketupat muncul di hari ke 5 lebaran. Hal ini karena di banyak tempat, ketupat merupakan hidangan wajib di saat lebaran. Apalagi selalu dibarengi dengan opor ayam, sambal goreng kentang hati dan rendang.
Ketupat yang muncul di hari setelah Iedul Fitri berfilosofi bahwa pada hari tersebut adalah hari dimana mereka yang berpuasa Syawal merayakan hari Raya yang sesungguhnya yaitu di hari ke 5. Budaya ini sehingga mengakar di kalangan masyarakat kota Malang dan sebagian kota Blitar..
Kadang kita tidak menemukan daun janur di pasar pada sehari menjelang lebaran. Sehingga digunakanlah daun pisang untuk membuat lontong beras.
Setiap daerah memang memiliki kebiasaan yang unik untuk menyediakan hidangan lebaran. Teman yang berada di Lampung ternyata menyediakan pempek khas Lampung saat lebaran. Kemudian teman-teman di Makassar sudah pasti menyediakan Coto Makassar untuk hidangan lebarannya. Dan pasti disediakan dengan lontong khas mereka yaitu buras. Bagi masyarakat Ambon, kota kelahiran orang tua, hidangan yang cukup penting dan jarang ada di hari -hari biasa yaitu Sup Sayuran dan Gado-gado.
Apa yang membuat hidangan ini sangat istimewa? Nah ternyata karena kesulitan untuk mendapatkan bahan bakunya yang membuat hidangan ini menjadi hidangan wajib saat lebaran.
Di Malang pun saat ini banyak kuliner lebaran sudah mulai bergeser. Bakso adalah makanan khas kota Malang yang cukup digemari. Sehingga bakso seringkali menjadi pilihan untuk disediakan saat lebaran.
Mudik menjadi sebuah budaya yang cukup kental dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tidaklah afdol kalau tidak mudik. Mudik merupakan wujud dari silaturahim dan kasih sayang kepada keluarga, orang tua dan sanak saudara..
Hal ini sudah berlaku lama pada budaya masyarakat Indonesia. Persiapan untuk mudik pasti dibuat sedemikian rupa, matang dan mantap. Hal ini karena mudik dilakukan berbatas tempat yang kadang sangat jauh. Sehingga apabila persiapan kurang matang maka kurang sempurna kegiatan mudik nanti
Kata mudik berasal dari kata udik yang berarti desa. Namun kata udik dalam hal ini seringkali berkonotasi kurang pantas. Seperti contoh begini :
“Dasar orang udik lu” (dasar orang desa kamu)
Maka kata udik sering disebut berkonotasi kurang baik karena ungkapan ini.
Namun tidak pernah diungkapkan seperti ini
“Saya berasal dari udik” (saya berasal dari desa)
Karena apabila akan mengungkapkan hal seperti ini maka istilah yang dipergunakan adalah tetap menggunakan kata desa.
Kadang kata membawa makna yang cukup luas. Mudik memang bagi orang kebanyakan adalah pulang ke desa. Namun Desa saat ini sudah tidak lagi berkonotasi sebuah tempat yang jauh dari istilah teknologi . Desa saat ini sudah menjadi lokasi yang lengkap dan modern meski masih diwarnai dengan suasana alam yang indah dan menawan.
Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4 bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega menghabisi gurunya tanpa ampun.
Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.
Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan. Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..
Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?
Kadang salah kaprah ingin memanggil seseorang. Dengan cara bagaimana, kosakata apa. Perlu kita tahu lebih dalam bagaimana cara memanggil, jangan-jangan kita menggunakan kosakata yang salah.
Suatu contoh, panggilan kanda. Mungkin anda tidak menyangka kalau panggilan ini sering dipergunakan di Sulawesi khususnya Makassar. Kanda adalah panggilan hormat kepada orang yang lebih tua dengan tujuan ingin menghormati mereka dan membawa suasana menjadi lebih akrab namun masih dalam batas formal. Kanda di pulau Jawa padahal, adalah kosakata yang sudah jarang lagi dipergunakan. Kanda adalah panggilan istri terhadap suami. Dan itupun sudah jarang kita temui. Kanda hanya bisa ditemui di cerita-cerita rakyat klasik.
Panggilan seperti ustadz seringkali dilayangkan kepada orang-orang yang khusus memiliki dan mengenyam ilmu agama atau bahasa Arab. Sehingga biasanya mereka dipanggil ustadz oleh muridnya, audience di kelas, masjid atau komunitas. Namun demikian saat ini ustadz banyak dipergunakan di perguruan tinggi terutama Islam. Sehingga seluruh dosen dipanggil dengan nama panggilan ustadz ini. Kadang disayangkan karena tidak semua dosen memiliki ilmu agama yang cukup kuat sehingga untuk dipanggil dengan julukan tinggi seperti ini mungkin agak rumit jadinya.
Panggilan gelar seperti professor juga menggelitik. Banyak diantara mereka tidak terlalu ribet ingin dipanggil dengan gelar ini. Namun tak sedikit dari mereka ingin dipanggil dengan gelar tertinggi bidang akademis. Kadang ada pula yang moody, ingin dipanggil professor namun disisi lain dipanggil ustadz. Ini justru sungguh menggelikan.
Haji juga sangat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Saat di pasar, seorang ibu yang belum berangkat ke tanah Makkah, dipanggil dengan panggilan umi atau bu haji. Secara tidak sadar wanita itu senyum-senyum dan segera membeli barang yang ditawarkan. Oleh karena itu panggilan haji ini begitu mujarab dilakukan oleh para penjual di pasar, terutama pasar tradisional. Pak haji dan bu haji adalah akal-akalan para penjual agar dagangannya bisa laku.
Kuliah pasca bukan lagi barang baru saat ini. Kuliah di pasca bukan lagi barang mewah di era ini. Ratusan mahasiswa berkehendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah melalui masa wisuda S1 dan atau memang mengambil program elit tersebut dikarenakan kebutuhan kerja yang semakin menantang.
Banyak institusi pendidikan mendirikan program pasca untuk memfasilitasi kebutuhan dan permintaan banyak mahasiswa dan alumni S1 di Indonesia. Sehingga hal ini menjadi kebutuhan dan keinginan banyak orang untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Sekitar tahun 95an sudah banyak permintaan para mahasiswa untuk melanjutkan studi, terutama di perguruan tinggi negeri penyelenggara program pasca sarjana. Saat itu kebanyakan hanya orang-orang yang sudah bekerja dan berumur yang mengikuti program studi pasca sarjana. Namun saat ini bahkan fresh graduate pun tak kalah ambil alih untuk bisa mengupgrade diri melalui studi lanjut ini.
Sekedar ingin memberikan saran, tulisan ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi para mahasiswa pasca dalam memilih perguruan tinggi maupun menjalaninya selama tiga semester ke depan.
Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di program pasca biasanya dilakukan selama 3 semester. Dan selama itu pula biasanya mahasiswa pasca dikenai biaya administrasi sampai menjelang ujian tiba. Apabila bijak memanage waktu, sisa 1 semester bisa dipergunakan untuk menyelesaikan thesis. Bagi mahasiswa S3 diperkirakan satu tahun bisa menyelesaikan disertasinya setelah 3-4 semester teori dilaksanakan.
Banyaknya buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa pasca, mengakibatkan biaya studi menjadi membengkak. Buku-buku tersebut sangat besar dan tebal. Salah satu strategi mahasiswa pasca untuk mengurangi beban biaya buku yang membengkak adalah dengan meminjam kakak tingkat atau dowloand buku-buku e-book. Saat ini buku-buku sudah banyak didapatkan dalam bentuk PDF atau print document file. Buku-buku lama terutama, sudah banyak yang telah dikonversikan ke dalam versi PDF.
Namun demikian banyak para dosen pasca dalam rangka mengisi angka kredit, mereka membuat buku-buku yang terutama ditujukan untuk kepentingan mahasiswa. Buk-buku ajar ini menjadi ajang bisnis para dosen pasca yang bisa dijual langsung kepada mahasiswa pasca. Namun demikian, buku-buku ini juga beragam. Ada buku yang memang sengaja dibuat dan tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa membeli buku ini sebagai pelengkap materi saja. Sedangkan ada juga dosen yang mendesain bukunya yaitu memeras dari puluhan buku-buku wajib yang telah diajarkan dan dipakai oleh mahasiswa pasca sebelumnya.
Sehingga mungkin sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak memanfaatkan buku intisari dari seluruh materi yang telah pernah diajarkan sebelumnya. Buku-buku research banyak direproduksi kembali oleh para dosen agar bisa memanjakan mahasiswanya dengan buku-buku research yang lebih mudah dipahami bahasanya. Kebanyakan buku-buku research terkenal dengan bahasanya yang kurang bisa dipahami. Para pakar research seperti Bogdan dan Bilken tak urung menjadi rujukan utama dosen yang mendesain buku ajar research. Salah satu buku yang sangat enak dibaca dan menjadi rekomendasi untuk mahasiswa pasca adalah buku Research Methodology yang disusun oleh Prof. Adnan Latief. Buku berbahasa Inggris yang mudah dipahami ini mudah juga didapat di UNISMA Malang.
Kuliah di pasca memang berat, namun banyak trik dan cara yang membuat anda menjadi tidak berat. Semisal contoh kelompok diskusi. Banyak kegiatan belajar di pasca sarjana diisi dengan diskusi dan presentasi. Disamping itu pula tugas-tugas mingguan, tengah semester dan tugas akhir semester. Semua itu membutuhkan prioritas penuh dari kita untuk menjalaninya. Trik sangat diperlukan agar tidak menumpuk di awal, tengah maupun akhir. Oleh karena itu saat awal dosen membeberkan silabus perkuliahan saat itulah terbentuk kelompok-kelompok diskusi dan presentasi. Saat itu pula anda mengajukan diri untuk tampil di kelompok awal. Misal kelompok satu atau dua. Apapun yang terjadi, mungkin anda grogi. Namun ini adalah titik awal dari seleuruh presentasi di kelas anda.
Sebenarnya presentasi di depan kelas adalah sekedar test speaking. Apabila anda lancar berbicara, anda pahami apa yang anda tulis dalam paper, dan anda jawab setiap pertanyaan dan tanggapan dengan jelas dan sopan itu sudah lebih dari cukup. Jawaban-jawaban yang tidak menggurui, jawaban yang komprehensif dan jelas tanpa ada rekayasa karena anda tidak paham isi paper, ini akan menjadikan diskusi menjadi hangat. Terima setiap masukan dari rekan di kelas, pula masukan dari dosen pengampu. Yang jelas jangan sampai berargumen dengan dosen dan mempotong bicara mereka. Ini akan menjadi petaka anda seumur hidup, apalagi bila dosen pengampu mata kuliah anda adalah dosen killer.
Ternyata masih ada dosen pasca yang masih mempergunakan OHP atau over head projector dalam kegiatan mengajarnya. Sungguh out of date!
Namun apa yang disajikan oleh dosen Landasan Pendidikan ku ini sangat luar biasa. Pengalamannya sebagai dosen puluhan tahun dan melanglang buana ke seluruh dunia sangat berarti bagi kami mahasiswa yang notabene buta dunia. Tau dunia hanya dari globe! Itu masalah besar sebenarnya.
Namun professor saya ini tak lekang oleh zaman. Staff pasca pun dengan tergopoh-gopoh gotong mesin OHP tersebut ke dalam ruang kelas. Banyak kelakar teman-teman yang mengatakan ingin copy file dan memasukkan flash disc. Lalu mau dimasukkan dimana?? (gue juga binun)
Apa yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasaca justru bukan pada masalah belajar atau masalah keuangan. Mereka semua sudah siap secara finansial. Mereka mendaftar karena ada dana tersebut. Atau mereka mendaftar karena ada yang menyokong dana dari institusi dimana mereka bekerja. Secara finansial dan strategi belajar, sebenarnya justru tidak ada masalah. Itu adalah masalah-masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa S1 sepertinya.
Namun apa sebenarnya yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasca??
Anda tau apa? Hanyalah kesulitan pada masalah-masalah sosial malah! Seperti contoh : masalah yang muncul saat tengah studi adalah nikah, hamil, putus dana SPP karena kebutuhan lain, jarak yang jauh dengan rumah yang mengakibatkan masalah komunikasi, keadaan dirumah yang tidak memungkinkan untuk belajar dengan lancar, situasi kelas dimana harus bersosialisasi dengan orang-orang dewasa (pembelajar dewasa) yang memiliki strategi belajar berbeda dan lain-lain.
Artinya apa? Hal-hal seperti kesulitan keuangan malah bukan mendominasi masalah-masalah mahasiswa pasca.
Saat dosen memberikan tugas-tugas terstruktur, itu adalah prioritas kerja mahasiswa pasca. Semakin kiuta menunda kerja, semakin bertambah masalah. Saat tugas menumpuk di akhir semester, kita tidak tahu apa yang terjadi. Bila sakit melanda, atau masalah lain yang harus diselesaikan saat itu, maka tiada kata lain. Kita hanya bisa mengatakan menyesal kenapa tidak dari awal kita kerjakan.
Oleh karena itu strategi menempatkan kelompok di awal menjadi penting karena anda bisa cepat mengerjakan tugas-tugas yang lain yang masih menunggu. Belum lagi tugas-tugas dari institusi dimana anda bekerja yang belum terselesaikan. Ini bisa anda kerjakan sembari menghabiskan kuliah selama tiga semester.
Teman saya, mahasiswa S3 Ekonomi Universitas Brawijaya Buyung Romadhoni sempat cerita yang keteteran karena tugas-tugas yang menumpuk gunung. Tugasnya mencengangkan! Yaitu mengumpulkan referensi berupa PDF sebanyak 2000 judul. Hal ini mengakibatkan dia mengusung 2 buah laptopnya dari Makassar, karena satu laptop saja ternyata tak cukup. Satu dipakai untuk dibawa kuliah di kelas. Satu tetap di kos2annya sedang mendownload tanpa henti. Memang mencengangkan temenku yang satu ini.
Mungkin anda masih ingat, atau tau mahasiswa S1 itu selalu berpenampilan segar, trendy dan modis. Cowok-cowok juga berambut klimis dan ngebut dengan motornya masuk ke dalam kampus. Lain halnya dengan mahasiswa pasca. Prof. Baradja dosenku sempat berkelakar saat mengajar di kelas S1 mencium bau harum dan segar karena mereka adalah para muda yang selalu tampil fresh. Lalu Prof. Baradja sambil tersenyum mengungkapkan, inilah bedanya kalau mengajar di S1 dan di pasca. Kalau di pasca para mahasiswa ini bau minyak angin. Ahahaha..ada-ada saja Professor satu ini. Hmm cara mengajar beliau juga sangat out of date, menggunakan OHP dan transparansi. Mudah-mudahan beliau diberi kesehatan yang prima. Prof. Baradja, dosen favorit kita di UM. Doa selalu saya ucapkan untuk beliau.
Yang lucu lagi, dulu ada teman yang punya profesi paranormal. Hal ini dia lakukan dari sejak SMP karena kemampuan itu dia dapatkan secara turun temurun. Jadi mau tidak mau dia harus legawa menyimpan kemampuan tersebut. Namun asiknya dia bisa mengetahui soal-soal UTS dan UAS sebelum test itu diadakan. Sehari sebelumnya dia sempat telpon dan menunjukkan kisaran soal-soalnya. Dan woila! Ternyata benar apa yang dia bilang. Haha..
Tapi itu tak lama. Setelah itu sahabat saya ini cepat lulus dan pulang terlebih dahulu ke Kalimantan.
Hmm sebuah pengalaman yang (masih) pendek. Panjang tapi susah untuk diceritakan kembali.
Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.
Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.
Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci
Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.
Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.
Menilik Rutin
Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.
Syarifah Rihana
Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.
Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.
Pelan dia bilang ‘Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja’
Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab ‘..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin’
Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.
Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.
Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.
Sedih sekali!
Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.
Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.
Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.
Hana..Ganbatte!