Terms of Address Kedua

Lagi-lagi terms of address. Membaca tulisan iseng seorang teman yang menyampaikan kebingungannya sesaat. Bingung karena takut salah sebut, sebutan untuk memanggil kepada seseorang. Addressing atau panggilan atau dalam bahasa akademiknya adalah terms of address yang memiliki aturan tertentu pada tiap-tiap keadaan.

Ada seorang dosen yang sangat kami hormati di lingkungan tempat kerja. Beliau menyandang gelar cukup banyak karena pencapaian akademiknya yang cukup panjang. Gelar professor, doktor, bahkan haji sudah lama bertahan di depan namanya. Belum lagi gelar di belakangnya, ada magister macam-macam. Yang belum ada hanya gelar almarhum atau yang sering ditulis dalam tanda kurung (alm).

Namun siapa sangka gelar-gelar berentetan ini justru membuat kita bingung untuk memanggil atau menyebut. Secara lingkungan kerja kami ini adalah lingkungan dimana setiap senior, terutama alumni akan dipanggil dengan sebutan mentereng yaitu USTADZ. Meski bukan alumni pesantren dan meski bukan orang-orang yang mengemban misi agama.

Sehingga semakin panjang daftar kata panggil yang akan kita sebut yang kita ucapkan kepada satu orang saja. Saat kita akan panggil beliau “prof”, nah mungkin tepat bila berada di dalam kelas. Saat berada di kelas dengan mahasiswa alumni maka hampir semua sepakat memanggil dengan sebutan “ustadz”. Karena mahasiswa selalu memanggil dosennya dengan kata ustadz, apapun bidang yang digelutinya.

Sebenarnya kata panggil “pak” kepada seorang pria berumur 25 tahun ke atas mungkin adalah kata yang paling tepat digunakan. Kata “pak” sangat luwes disampaikan kepada siapapun yang bergender laki-laki. Bahkan sangat lebih menghargai apabila disebutkan kata lengkapnya yaitu “bapak”.

Namun pandangan dan pikiran setiap orang berbeda-beda saat ingin dihargai dengan cara memanggil. Kadang dia lupa dan tidak menganut konvensi, akhirnya yang muncul adalah kesalah pahama dan marah-marah. Seorang professor tidak terima dipanggil “pak”. Sudah barang tentu, beliau bersusah payah untuk dapatin gelar berentetan. Lalu dengan terburu-buru segera dikoreksi oleh teman dengan panggilan “ustadz” karena beliau adalah senior di lokasi kerja. Apa yang terjadi?

Malah marah meluap-luap karena ditambah dengan ungkapan kata ganti kedua “anda”.

Kadang terms of address itu banyak dipengaruhi oleh faktor emosi psikologis, latar belakang budaya seseorang hingga ditentukan kata panggil itu, dan lain-lain.

Di instagram ada kisah pilu seorang anak yang membawa ibunya ke panti jompo. Ibu yang memiliki 6 orang anak ini berusia hampir 70 tahun. Menurut keterangan dari pihak panti, ibu ini sudah diserahkan oleh anak-anaknya kepada panti untuk diurus keperluannya sehari-hari.

Dan berita ini lalu menjadi viral lantaran diungkapkan dengan kalimat-kalimat heboh. Seorang ibu dibuang anaknya ke panti jompo. Ada lagi seorang ibu sanggup mengurus 6 orang anaknya sampai menginjak dewasa. Namun 6 orang anak belum tentu bisa mengurus seorang ibu. Hal ini menjadikan salah satu anak klarifikasi atas berita yang sudah tersebar kemana-mana.

Dalam klarifikasinya, anak berusia dewasa dan sudah berumah tangga mengungkapkan ketidak sanggupannya untuk merawat ibu yang sudah tua. Hal ini dikarenakan bahwa ibunya sering berulah dan mengancam anak-anaknya untuk berpisah dengan pasangan masing-masing. Atau ada juga cerita salah satu anak yang memang tidak lagi bisa menerima keadaan sang ibu yang suka berbuat onar, kasar, berbicara kotor dan banyak lagi. Dari klarifikasi sang anak, terlihat dia tidak terima bila disebut membuang orang tuanya, karena banyak sekali penyebab mereka harus dengan terpaksa menitipkan orangtua ke panti jompo.

Di negeri ini memang masih tabu bila ada keluarga yang menitipkan orang tua ke panti jompo. Beda dengan di negara-negara lain yang memang sudah terbiasa dengan keadaan bahwa orang tua bisa tinggal di panti jompo lebih aman.

Mungkin karena suara netizen lebih dominan dan menguasai, memaksa anak-anak ibu ini untuk klarifikasi. Namun si anak ini dengan situasi yang tidak jelas, klarifikasi dengan hanya suara bukan video, menyebut kata ganti kedua untuk ibunya dengan kata panggil “dia”. Hal ini semakin membuat marah netizen. dan semakin yakin bahwa sang anak ini memang sudah melakukan kesalahan besar, menitipkan orang tuanya ke panti jompo.

Sekali lagi kata panggil yang sangat crucial dan tidak lagi mudah untuk disebut.

Kita tidak tahu apa fakta di balik klarifikasi sang anak, dan mengapa anak ini menyebut dengan kata “dia:. Disaat nada suara yang terdengar adalah pelan dan sopan.

Memang terms of address cukup rumit.

Love Soto Nusantara

Seperti layaknya Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya. Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi  Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.

Termyata cukup banyak juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur, gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan. Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis karena kotanya belum saya sebut.

Namun kuliner Soto Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih, jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.

Seperti misalnya Soto Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo. Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto Suroboyoan tersebut.

Di Kalimantan sebagian besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh. Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing. Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya. Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana, karena semua enyak.

Karena menyebut Coto Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai Coto Makassar.  Juga raja-raja Bugis Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya, dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan, pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.

Dengan mempergunakan topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya. Eh..

Di Pacitan, Sotonya berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.

Di sebuah desa di Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.

Seperti halnya Soto Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada  malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe bacem, dan karak.

Seperti halnya Soto yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama sebagai warisan  dari masyarakat Chinese yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar, Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau. Hmm jadi pingin L

Rendang Padang memang paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang. Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak, Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata. Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.

Mirip dengan Coto Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan kentang rebus seperti soto Jawatimuran.

Bumbu Soto Nusantara memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini. Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge, daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion lainnya.

“Bila kita ingin mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”

IKAMI Sulsel Inspirasiku

I

Oleh : Ika Farihah Hentihu (Daeng Te’ne)

“Puang Ika..” Salah satu teman, Ipung mahasiswa UIN anggota IKAMI SULSEL MALANG memanggilku dengan serta merta. Kelihatannya aku masih belum familiar dengan panggilan ini. Puang terdengar sangat hormat dan menjadi terhormat saat diucapkan. Dan dengan tanpa menunggu langsung kubrowsing kata Puang ini karena rasa penasaran. Terkejut setelah membacanya. Ternyata Puang sangat berarti dalam. Begitu juga dengan Andi, Baso, Daeng, Karaeng, Tetta bahkan Petta.. dan lain-lainnya.

Berawal dari sebuah puisi yang kutulis dengan judul KARAENG GALESONG di blog pribadi, puisi yang mengisahkan tentang perjalananku mencapai lokasi makam dan merenung yang tak pernah kukenal sebelumnya, meski aku tinggal di kota yang sama dengan lokasi makam ini. Dan iyya, sekali lagi aku gunakan Google untuk mengetahui apa makna dari kata Karaeng. Saat itu tahun 2006, Google masih sepi penghuni, apalagi saat menelusuri kata Karaeng dan Karaeng Galesong. Hanya ada beberapa halaman saja kemunculannya.

Tapi rasa penasaranku Alhamdulillah kemudian terjawab saat ada seorang teman berkomentar terhadap puisi yang telah kutulis di blog. Adalah Ucheng atau Ahmad Husain yang kemudian menjadi sahabatku dan sumber inspirasiku. Dari dia pula kemudian aku berkenalan dengan IKAMI SULSEL MALANG. Uchenglah yang memberi komentar terhadap puisi yang telah kubuat di blog. Kemudian dia menghubungiku melalui email. Dan sekali lagi saat itu masih belum banyak aktifitas internet, sehingga lama baru kubalas email dari dia. Saat bertemu Ucheng, aku juga bertemu dengan Kahfi yang juga sama-sama memberiku kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-tema IKAMI SULSEL MALANG.

Foto 1. Blogger kampus putih UMM bertemu di cafe

Inilah puisi yang kuciptakan hingga membawaku berkenalan dengan sahabat-sahabatku IKAMI SULSEL MALANG.

Rinduku Galesong

Oleh : Ika Farihah Hentihu

Rinduku

Aku Rindu

Aku Rindu Pada Galesong

Aku Rindu Pada Sombayya, Ayahku

Aku rindu dimandikan Di Bungung Baraniya

Aku terpaksa tak kembali duhai Sombangku

Tapi Aku tahu, Ayah panggil nama kecilku

Baso…sini kau nak, Baso…sini kau nak

Aku disini aman Ayah, bersama dengan istriku…

Potre Koneng

Bermimpikah engkau tentang diriku wahai ayahku?

Aku selalu bermimpi tentang ayah

Saat kita bersama berkuda di Pantai Galesong

Mendengar nasihat-nasihat bijakmu

Aku ingin bersimpuh di depanmu ayah

Mengenang saat aku akan pergi ke Marege

Aku tidak ke Marege Ayah, tolong percayalah

Aku tidak ke Marege

Marege!

Ayah pasti tahu itu.

(Karaeng Galesong, Malang)

Masih saja terngiang aku saat membaca puisi ini. Ini adalah kegalauan Karaeng Galesong karena tidak kembali ke Gowa. Dia pun rindu ingin bertemu Sultan Hasanuddin dan ingin mengungkapkan bahwa dia tidak jadi pergi ke Marege Australia. Hal ini karena saat Karaeng Galesong berpamit, dia mengatakan akan pergi ke Marege. Dan saat melalui pulau Bali, Karaeng Galesong dengan pasukannya berhenti untuk mengambil air dan makanan. Dari situlah sejarah dimulai. Karaeng Galesong mendapat khabar bahwa Trunojoyo berjuang melawan VOC. Sehingga beliau meneruskan perjalanan ke Barat. Semua pasukan yaitu terdiri dari 700 buah kapal dan sekitar 8000 lasykar dan keluarganya bergerak menuju Probolinggo dan selanjutnya menuju Malang, kota kelahiranku.

Berkenalan dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG memang cukup seru. Dan ini menjadi sumber inspirasi keduaku setelah bertemu dengan Ucheng. Maklum aku hanyalah penulis pemula yang tau-tau tertarik dengan budaya Bugis Makassar. Padahal aku sama sekali tidak memiliki informasi tentang Sulsel. Aku belum pernah mencapai pulau Celebes. Sehingga saat itu hanya berangan-angan saja, bisakah aku mencapai pulau itu. Melihat secara langsung, life, lokasi dimana Sultan Hasanuddin berada, lokasi dimana Karaeng Galesong dilahirkan dan juga tak ketinggalan aku ingin sekali melihat Bone untuk ‘bertemu’ dengan Aru Palakka. Itu semua hanya angan-anganku selama 6 tahun berinteraksi dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG.

Masih penasaran dengan bermacam nama panggilan yang sering dilontarkan oleh sahabat-sahabat IKAMI SULSEL MALANG, akupun bergerak ke asrama mereka yang kutau hanya di Telaga Al Kautsar. Belakangan baru ku tau bahwa asrama mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG adalah di Jl. Dieng. Dan jujur aku hanya duduk terdiam mendengar mereka bicara dengan logat yang berbeda, kata panggil yang bermacam pula. Dan dari sini lah rasa penasaranku berlanjut. Banyak nama panggilan yang sering disebut oleh mereka, termasuk Daeng. Ini yang paling populer. Hanya saja setelah kubrowsing info tentang nama panggilan, ada beberapa kata panggil untuk masyarakat Makassar dan Bugis.

Daeng adalah kata dalam bahasa daerah Sulawesi Selatan yang berarti kakak lelaki atau seseorang yang lebih tua. Tapi kata Daeng mempunyai makna yang berbeda di tiap suku daerah di Sulawesi Selatan. Suku Bugis dan Makassar adalah suku yang besar di daerah Sulawesi Selatan yang sering menggunakan kata Daeng dalam kehidupan sosial mereka sehari-hari. “Kita biasanya memanggil daeng sebagai panggilan untuk lebih menghormati, karena kalau langsung nama akan terkesan kasar,” Seperti yang dituturkan Ucheng kepadaku.

Di dalam perkembangannya sendiri, panggilan Daeng telah memiliki makna yang beragam. Bisa bermakna kakak, bisa juga menunjukkan kelas sosial seseorang. Dengan demikian penggunaannya harus diperhatikan baik-baik, karena kata Daeng sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial tertentu. Beberapa pergeseran kutemui saat berada di Makassar yaitu memanggil supir pete-pete dengan panggilan Daeng.

Sedangkan masyarakat Bugis sangat ketat dalam penerapan tata adat di kehidupan sehari-hari, terutama dalam kehidupan sosial. Sejak masa pra Islam masyarakat Bugis mudah mengenal stratifikasi sosial (pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat secara vertikal/bertingkat). Berkembangya pelapisan masyarakat secara tajam tumbuh di saat yang sama terbentuknya kerajaan. Hal ini menimbulkan jarak sosial antara golongan bawah dan golongan atas dalam lapisan masyarakat.

Suku Bugis pada jaman dulu mengenal tiga kasta. Kasta yang paling tinggi adalah Arung (Bangsawan) yang memiliki beberapa sub kasta turunan. Kasta selanjutnya adalah To Maradeka atau orang merdeka (Masyarakat Kebanyakan). Sedangkan kasta yang paling bawah adalah Ata yang berarti budak. Kasta terendah ini kurasa sudah tidak pernah lagi disebut-sebut alias tidak ada. Hal ini tampak pada bangunan rumah Bugis yang tidak lagi ditemukan berspesifikasi Ata. Dan kita sebenarnya adalah To Maradeka, tidak pernah ada lagi yang membedakan status sosial kecuali kalau memang dibutuhkan untuk kegiatan upacara.

Foto 2. Rumah kediaman Bapak Rindam Latief di Sengkang

Mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG untungnya sangat rajin dan peduli. Berbagai kegiatan diadakan oleh komunitas ORDA ini. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dari mulai yang paling kecil skalanya sampai yang paling megah yaitu BUDAYATA. Diskusi lepas diadakan tiap minggu, hingga ulang tahun salah satu anggota yang dibuat surprised. Aku tenggelam dalam gegap gempita celoteh mahasiswa asal Celebes yang cukup nano-nano bagiku. Kadang mengernyit karena tidak tau artinya. Tapi pelahan kupahami apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka ungkapkan dan apa yang mereka lakukan dan inginkan.

Mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG sangat peduli dengan lingkungan. Beberapa kali saya diundang untuk memperingati Hari Bumi, Hari Ibu dan juga hari-hari lainnya. Saat itu mereka berduyun-duyun menuju alun-alun kota Malang dan membantu membersihkan daun-daun disana. Benar-benar cape menjadi mahasiswa IKAMI MALANG sepertinya karena tiada hari tanpa kegiatan bagi mahasiswa. Sampai ada yang sakit hingga dirawat di RS karena lumayan parah. Sehingga berduyun-duyunlah teman-teman IKAMI ini, ikutan nginep di RS jagain Syifa Rasyid. Kemanapun mahasiswa IKAMI selalu grubyak grubyuk, rame dan bersama-sama.

Sesekali mereka sembelih kambing dan mengolahnya menjadi Coto Makassar. Itulah untuk pertama kalinya saya merasakan kuliner terbaik Celebes yang sangat legendaris ini. Sempat kuajak teman kantor yang berasal dari Sengkang untuk ikut menikmati Coto di Asrama DIeng. Sempat dia ungkapkan dengan nada gurauan bahwa setiap hari dia makan pecel yang disajikan oleh istrinya yang orang Jawa. Sehingga menyantap Coto Makassar membuatnya merasa refreshing. Semua teman disana ketawa renyah mendengar curhatannya.

Setelah kenyang menyantap Coto, seperti biasa kubrowsing makna kuliner ini. Ternyata sangat mengejutkan. Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Tidak seperti soto-soto Nusantara yang lain yang memiliki latar belakang budaya lokal, Coto ini sangat dikenal legend. Dan baru kutahu bahwa isi Coto Makassar adalah jerohan sapi dimana hidangan ini sangat disukai oleh para Raja Bugis dan Makassar. Pertanyaannya kalau jerohannya disantap oleh para raja, apakah rakyat jelata kemudian yang mengkonsumsi dagingnya. Ini masih menjadi pertanyaan bagiku. Namun kalau saat ini kita bisa memilih karena sudah banyak yang peduli dengan kesehatan, untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi jerohan sapi. Setuju lah.

Beberapa kali mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG mengadakan kegiatan pra acara BUDAYATA. Meski begitu tidak mengurangi hingar binger kegiatan BUDAYATA yang sesungguhnya. Akupun mencoba hadir di kegiatan yang mereka adakan, sambil korek-korek kebiasaan rakyat SULSEL yang tercermin pada sahabat-sahabat IKAMI SULSEL MALANG. Ada tari-tari yang menggambarkan permainan saat masa kecil, drama-drama dengan dialog Bugis bahkan kegiatan permainan anak-anak. Permainan anak sangat seru apalagi kalau dihadiri oleh mahasiswa Pasca S2 dan S3 asal Bugis Makassar. Kebanyakan mereka berumur hampir paro baya, sehingga saat diajak main kelereng, egrang, dende-dende dan permainan lainnya, mereka sangat menikmati. Teman-teman mahasiswa bahkan sudah pada pulang, tapi teman-teman Pasca masih bertahan lompat-lompat disana, Kasiang..

Pengalaman yang paling berkesan saat itu adalah saat Irma, salah satu mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG asal Kalimantan meminjamiku baju Bodo atau baju Tokko. Baju-baju tersebut adalah koleksi pribadi komunitas, termasuk pula perhiasannya. Wah betapa bahagianya aku mengenakan baju dan sarung tersebut. Dan surprised, kemudian kukenakan baju adat Sulsel, ini adalah moment yang kutunggu-tunggu. Bangga sekali rasanya, setelah sekian lama hanya bicara dan menulis, akhirnya aku mengenakan. Baju ini yang akhirnya kukenakan saat acara BUDAYATA pertama di café itu.

Foto 3. Festival Budayata pertama

Adalah Abi, seorang mahasiswa jurusan Teknik yang memiliki jiwa seni dan budaya cukup kental yang dengan ikhlas menyerahkan koleksi keluarga di Bone kepada komunitas mahasiswa IKAMI. Baju-baju, sarung dan pernak perniknya inilah yang salah satunya kupakai pada BUDAYATA. Gelang lengan yang tadinya belum lengkap, dengan petunjuk Abi, akupun mencoba untuk menjahit. Dan jadilah sebuah gelang lengan yang sesekali dipergunakan menari oleh mahasiswi-mahasiswi. Tari Angin Mamiri, tari Kipas dan yang paling heboh tari yang para penarinya membawa obor. Abi pun dengan sangat serius mengolah acara ini dari sejak pemilihan busana hingga mata acara yang ditampilkan. Abi tipe orang serius, berpuluh toko telah dia lewati bersamaku dengan Irma. Tapi sedikitpun tidak ada yang menggoyah hatinya. Kain-kain di Malang tidak ada yang sesuai dengan kata hatinya. Walhasil teman-teman pun mendatangkan kostum-kostum ini dari Makassar sekaligus dengan pemain perkusinya. Heboh banget pokoknya.

Sampailah kemudian pada moment paling penting, aku bisa datang dan hadir melihat Makassar secara langsung. Saat kuinjak pulau Celebes, udara hangat menyelimuti. Tapi kebahagiaanku sudah terbayar karena 6 tahun menunggu agar bisa menginjak pulau Celebes. Adalah Prof. Aminuddin Salle yang banyak membaca tulisanku tentang Karaeng Galesong di website, beliaulah yang memfasilitasiku untuk datang ke Galesong dan mengijinkan tulisan-tulisanku untuk diterbitkan oleh Yayasan AS Center. Merupakan suatu kebanggan dan kehormatan bagiku karena dengan tulisan yang remeh temah namun membawa dampak cukup terasa bagi keluarga keturunan Karaeng Galesong hingga raja terakhirnya sekarang yaitu Prof. Aminuddin Salle. Seorang guru besar bidang Hukum Tanah Adat Universitas Hasanuddin. Dan beliau pula yang mengantarku ke Bala Lompoa Galesong dan memberiku nama Paddaengang yaitu Daeng Te’ne. Beberapa kali masih tergagap-gagap karena belum hafal dengan nama ini. Namun kemudian menjadi terbiasa karena banyak yang memanggilku dengan nama paddaengang ini, Daeng Te’ne.

Foto 4. Launching Novel Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram

Tiba di Bala Lompoa Galesong adalah sebuah keniscayaan, namun siapa nyana aku bisa mencapai Istana Galesong dimana disana masih tersimpan artefak-artefak peninggalan Raja Galesong pertama hingga sekarang. Ada juga Bungung Baraniya, sebuah sumur yang tak jauh dari Bala Lompoa Galesong dimana para lasykar-lasykar Karaeng Galesong yang hendak berangkat menuju medan laga, dimandikan di sumur ini. Sumur ini cukup tua, legend dan berbau sejarah cukup kuat. Akupun sudah mencoba minum air dari Bungung Baraniya, segar dan viral. Karena setelah aku minum air ini, fotoku tersebar ke socmed. Dibilang seorang peneliti sejarah  minum air dari Bungung Baraniya. Waduh!

Foto 5. Minum air dari Bungung Baraniya Galesong Takalar

Wajo, Sengkang, Barru, Sidrap dan Takalar adalah daerah yang sudah kulalui, sangat membahagiakan sudah berada di tanah Bone. Seorang sahabat mengajakku kesana. Beberapa tempat kulalui, yaitu Tosora dan makam Syekh Jamaluddin Akbar Al Husaini dan juga tak lupa pula mendatangi makam La Madukeleng. Saat melalui Tosora, temanku banyak bercerita bahwa daerah ini adalah daerah pertempuran Aru Palakka. Dan sepertinya aku bisa rasakan itu disana. Sempat mampir sebentar setelah melihat seorang wanita menenun kain, dan semangat selfie ku jadi membara melihat mesin tenun manual tersebut. Lalu jadilah sebuah foto seorang cewek asal kota Malang yang menenun di Tosora. Ngakak berkali-kali melihat polahku yang tak terkendali.

Foto 6. Di Tosora

Kalau selama ini aku mendengar lagu Danau Tempe, nah saat itu aku melihat secara life danau tersebut. Memang airnya sudah sangat berkurang. Hal ini karena pasokan air dari Sungai Sa’dang Toraja yang juga berkurang. Sungai Sa’dang adalah sungai yang acap kali dipergunakan para rafter karena geografi sungai yang lumayan menantang. Namun tidak mengurangi rasa bahagiaku bisa melihat Danau Tempe ini dari dekat sambil nyanyi-nyanyi Bulu Alauna Tempeeeee.. yihaaa.

Banyak kenangan manis yang kudapatkan dari mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG. Jayalah IKAMI SULSEL, Jayalah IKAMI SULSEL MALANG.

                                                                              Malang, 22 Sept 2021

Hidangan Lebaran

Setiap menjelang lebaran hampir semua orang disibukkan mempersiapkan untuk hari Lebaran, hari kemenangan, hari yang ditunggu-tunggu setelah sebulan menahan diri dengan berpuasa selama 30 hari.

Apa saja persiapan yang biasa dilakukan menjelang lebaran?

Yang jelas selain baju lebaran, ibu-ibu selalu menyiapkan hidangan apa yang nanti akan disantap sepulang dari sholat Ied. Sehingga nggak heran orang belum salam-sal;aman memohon maaf, hidangannya disikat duluan. Mungkin karena nggak sabar menunggu dan sudah menahan selama 30 hari.

Beberapa masyarakat di tanah air banyak menyediakan ketupat untuk hidangan utama di saat lebaran. Yaitu di hari pertama Iedul Fitri. Namun mungkin beda yang terjadi dengan masyarakat di Jawa Timur khususnya di kota Malang, di kota kelahiran saya.

Ketupat.. ketupat..ketupat.. hanya ada di hari ke 5 lebaran. Mungkin banyak yang bertanya kenapa ketupat muncul di hari ke 5 lebaran. Hal ini karena di banyak tempat, ketupat merupakan hidangan wajib di saat lebaran. Apalagi selalu dibarengi dengan opor ayam, sambal goreng kentang hati dan rendang.

Ketupat yang muncul di hari setelah Iedul Fitri berfilosofi bahwa pada hari tersebut adalah hari dimana mereka yang berpuasa Syawal merayakan hari Raya yang sesungguhnya yaitu di hari ke 5. Budaya ini sehingga mengakar di kalangan masyarakat kota Malang dan sebagian kota Blitar..

Kadang kita tidak menemukan daun janur di pasar pada sehari menjelang lebaran. Sehingga digunakanlah daun pisang untuk membuat lontong beras.

Setiap daerah memang memiliki kebiasaan yang unik untuk menyediakan hidangan lebaran. Teman yang berada di Lampung ternyata menyediakan pempek khas Lampung saat lebaran. Kemudian teman-teman di Makassar sudah pasti menyediakan Coto Makassar untuk hidangan lebarannya. Dan pasti disediakan dengan lontong khas mereka yaitu buras. Bagi masyarakat Ambon, kota kelahiran orang tua, hidangan yang cukup penting dan jarang ada di hari -hari biasa yaitu Sup Sayuran dan Gado-gado.

Apa yang membuat hidangan ini sangat istimewa? Nah ternyata karena kesulitan untuk mendapatkan bahan bakunya yang membuat hidangan ini menjadi hidangan wajib saat lebaran.

Di Malang pun saat ini banyak kuliner lebaran sudah mulai bergeser. Bakso adalah makanan khas kota Malang yang cukup digemari. Sehingga bakso seringkali menjadi pilihan untuk disediakan saat lebaran.

Salam

#lebaran


Mudik

Mudik

Mudik menjadi sebuah budaya yang cukup kental dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tidaklah afdol kalau tidak mudik. Mudik merupakan wujud dari silaturahim dan kasih sayang kepada keluarga, orang tua dan sanak saudara..

Hal ini sudah berlaku lama pada budaya masyarakat Indonesia. Persiapan untuk mudik pasti dibuat sedemikian rupa, matang dan mantap. Hal ini karena mudik dilakukan berbatas tempat yang kadang sangat jauh. Sehingga apabila persiapan kurang matang maka kurang sempurna kegiatan mudik nanti

Kata mudik berasal dari kata udik yang berarti desa. Namun kata udik dalam hal ini seringkali berkonotasi kurang pantas. Seperti contoh begini :

“Dasar orang udik lu” (dasar orang desa kamu)

Maka kata udik sering disebut berkonotasi kurang baik karena ungkapan ini.

Namun tidak pernah diungkapkan seperti ini

“Saya berasal dari udik” (saya berasal dari desa)

Karena apabila akan mengungkapkan hal seperti ini maka istilah yang dipergunakan adalah tetap menggunakan kata desa.

Kadang kata membawa makna yang cukup luas. Mudik memang bagi orang kebanyakan adalah pulang ke desa. Namun Desa saat ini sudah tidak lagi berkonotasi sebuah tempat yang jauh dari istilah teknologi . Desa saat ini sudah menjadi lokasi yang lengkap dan modern meski masih diwarnai dengan suasana alam yang indah dan menawan.

#mudik

Guru Yang Tak elok

Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4 bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega menghabisi gurunya tanpa ampun.

Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.

Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan. Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..

Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?

 

Term Of Address Nowadays

Kadang salah kaprah ingin memanggil seseorang. Dengan cara bagaimana, kosakata apa. Perlu kita tahu lebih dalam bagaimana cara memanggil, jangan-jangan kita menggunakan kosakata yang salah.

Suatu contoh, panggilan kanda. Mungkin anda tidak menyangka kalau panggilan ini sering dipergunakan di Sulawesi khususnya Makassar. Kanda adalah panggilan hormat kepada orang yang lebih tua dengan tujuan ingin menghormati mereka dan membawa suasana menjadi lebih akrab namun masih dalam batas formal.  Kanda di pulau Jawa padahal, adalah kosakata yang sudah jarang lagi dipergunakan. Kanda adalah panggilan istri terhadap suami. Dan itupun sudah jarang kita temui. Kanda hanya bisa ditemui di cerita-cerita rakyat klasik.

Panggilan seperti ustadz seringkali dilayangkan kepada orang-orang yang khusus memiliki dan mengenyam ilmu agama atau bahasa Arab. Sehingga biasanya mereka dipanggil ustadz oleh muridnya, audience di kelas, masjid atau komunitas. Namun demikian saat ini ustadz banyak dipergunakan di perguruan tinggi terutama Islam. Sehingga seluruh dosen dipanggil dengan nama panggilan ustadz ini. Kadang disayangkan karena tidak semua dosen memiliki ilmu agama yang cukup kuat sehingga untuk dipanggil dengan julukan tinggi seperti ini mungkin agak rumit jadinya.

Panggilan gelar seperti professor juga menggelitik. Banyak diantara mereka tidak terlalu ribet ingin dipanggil dengan gelar ini. Namun tak sedikit dari mereka ingin dipanggil dengan gelar tertinggi bidang akademis. Kadang ada pula yang moody, ingin dipanggil professor namun disisi lain dipanggil ustadz. Ini justru sungguh menggelikan.

Haji juga sangat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Saat di pasar, seorang ibu yang belum berangkat ke tanah Makkah, dipanggil dengan panggilan umi atau bu haji. Secara tidak sadar wanita itu senyum-senyum dan segera membeli barang yang ditawarkan. Oleh karena itu panggilan haji ini begitu mujarab dilakukan oleh para penjual di pasar, terutama pasar tradisional. Pak haji dan bu haji adalah akal-akalan para penjual agar dagangannya bisa laku.

Cukup variatif dan inspiratif

Trend Kuliah Pasca

Kuliah pasca bukan lagi barang baru saat ini. Kuliah di pasca bukan lagi barang mewah di era ini. Ratusan mahasiswa berkehendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah melalui masa wisuda S1 dan atau memang mengambil program elit tersebut dikarenakan kebutuhan kerja yang semakin menantang.

Banyak institusi pendidikan mendirikan program pasca untuk memfasilitasi kebutuhan dan permintaan banyak mahasiswa dan alumni S1 di Indonesia. Sehingga hal ini menjadi kebutuhan dan keinginan banyak orang untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

Sekitar tahun 95an sudah banyak permintaan para mahasiswa untuk melanjutkan studi, terutama di perguruan tinggi negeri penyelenggara program pasca sarjana. Saat itu kebanyakan hanya orang-orang yang sudah bekerja dan berumur yang mengikuti program studi pasca sarjana. Namun saat ini bahkan fresh graduate pun tak kalah ambil alih untuk bisa mengupgrade diri melalui studi lanjut ini.

Sekedar ingin memberikan saran, tulisan ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi para mahasiswa pasca dalam memilih perguruan tinggi maupun menjalaninya selama tiga semester ke depan.

Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di program pasca biasanya dilakukan selama 3 semester. Dan selama itu pula biasanya mahasiswa pasca dikenai biaya administrasi sampai menjelang ujian tiba. Apabila bijak memanage waktu, sisa 1 semester bisa dipergunakan untuk menyelesaikan thesis. Bagi mahasiswa S3 diperkirakan satu tahun bisa menyelesaikan disertasinya setelah 3-4 semester teori dilaksanakan.

Banyaknya buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa pasca, mengakibatkan biaya studi menjadi membengkak. Buku-buku tersebut sangat besar dan tebal. Salah satu strategi mahasiswa pasca untuk mengurangi beban biaya buku yang membengkak adalah dengan meminjam kakak tingkat atau dowloand buku-buku e-book.  Saat ini buku-buku sudah banyak didapatkan dalam bentuk PDF atau print document file. Buku-buku lama terutama, sudah banyak yang telah dikonversikan ke dalam versi PDF.

Namun demikian banyak para dosen pasca dalam rangka mengisi angka kredit, mereka membuat buku-buku yang terutama ditujukan untuk kepentingan mahasiswa. Buk-buku ajar ini menjadi ajang bisnis para dosen pasca yang bisa dijual langsung kepada mahasiswa pasca. Namun demikian, buku-buku ini juga beragam. Ada buku yang memang sengaja dibuat dan tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa membeli buku ini sebagai pelengkap materi saja. Sedangkan ada juga dosen yang mendesain bukunya yaitu memeras dari puluhan buku-buku wajib yang telah diajarkan dan dipakai oleh mahasiswa pasca sebelumnya.

Sehingga mungkin sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak memanfaatkan buku intisari dari seluruh materi yang telah pernah diajarkan sebelumnya. Buku-buku research banyak direproduksi kembali oleh para dosen agar bisa memanjakan mahasiswanya dengan buku-buku research yang lebih mudah dipahami bahasanya. Kebanyakan buku-buku research terkenal dengan bahasanya yang kurang bisa dipahami. Para pakar research seperti Bogdan dan Bilken tak urung menjadi rujukan utama dosen yang mendesain buku ajar research. Salah satu buku yang sangat enak dibaca dan menjadi rekomendasi untuk mahasiswa pasca adalah buku Research Methodology yang disusun oleh Prof. Adnan Latief. Buku berbahasa Inggris yang mudah dipahami ini mudah juga didapat di UNISMA Malang.

Kuliah di pasca memang berat, namun banyak trik dan cara yang membuat anda menjadi tidak berat. Semisal contoh kelompok diskusi. Banyak kegiatan belajar di pasca sarjana diisi dengan diskusi dan presentasi. Disamping itu pula tugas-tugas mingguan, tengah semester dan tugas akhir semester. Semua itu membutuhkan prioritas penuh dari kita untuk menjalaninya. Trik sangat diperlukan agar tidak menumpuk di awal, tengah maupun akhir. Oleh karena itu saat awal dosen membeberkan silabus perkuliahan saat itulah terbentuk kelompok-kelompok diskusi dan presentasi. Saat itu pula anda mengajukan diri untuk tampil di kelompok awal. Misal kelompok satu atau dua. Apapun yang terjadi, mungkin anda grogi. Namun ini adalah titik awal dari seleuruh presentasi di kelas anda.

Sebenarnya presentasi di depan kelas adalah sekedar test speaking. Apabila anda lancar berbicara, anda pahami apa yang anda tulis dalam paper, dan anda jawab setiap pertanyaan dan tanggapan dengan jelas dan sopan itu sudah lebih dari cukup. Jawaban-jawaban yang tidak menggurui, jawaban yang komprehensif dan jelas tanpa ada rekayasa karena anda tidak paham isi paper, ini akan menjadikan diskusi menjadi hangat. Terima setiap masukan dari rekan di kelas, pula masukan dari dosen pengampu. Yang jelas jangan sampai berargumen dengan dosen dan mempotong bicara mereka. Ini akan menjadi petaka anda seumur hidup, apalagi bila dosen pengampu mata kuliah anda adalah dosen killer.

Ternyata masih ada dosen pasca yang masih mempergunakan OHP atau over head projector dalam kegiatan mengajarnya. Sungguh out of date!

Namun apa yang disajikan oleh dosen Landasan Pendidikan ku ini sangat luar biasa. Pengalamannya sebagai dosen puluhan tahun dan melanglang buana ke seluruh dunia sangat berarti bagi kami mahasiswa yang notabene buta dunia. Tau dunia hanya dari globe! Itu masalah besar sebenarnya.

Namun professor saya ini tak lekang oleh zaman. Staff pasca pun dengan tergopoh-gopoh gotong mesin OHP tersebut ke dalam ruang kelas. Banyak kelakar teman-teman yang mengatakan ingin copy file dan memasukkan flash disc. Lalu mau dimasukkan dimana?? (gue juga binun)

Apa yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasaca justru bukan pada masalah belajar atau masalah keuangan. Mereka semua sudah siap secara finansial. Mereka mendaftar karena ada dana tersebut. Atau mereka mendaftar karena ada yang menyokong dana dari institusi dimana mereka bekerja. Secara finansial dan strategi belajar, sebenarnya justru tidak ada masalah. Itu adalah masalah-masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa S1 sepertinya.

Namun apa sebenarnya yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasca??

Anda tau apa? Hanyalah kesulitan pada masalah-masalah sosial malah! Seperti contoh : masalah yang muncul saat tengah studi adalah nikah, hamil, putus dana SPP karena kebutuhan lain, jarak yang jauh dengan rumah yang mengakibatkan masalah komunikasi, keadaan dirumah yang tidak memungkinkan untuk belajar dengan lancar, situasi kelas dimana harus bersosialisasi dengan orang-orang dewasa (pembelajar dewasa) yang memiliki strategi belajar berbeda dan lain-lain.

Artinya apa? Hal-hal seperti kesulitan keuangan malah bukan mendominasi masalah-masalah mahasiswa pasca.

Saat dosen memberikan tugas-tugas terstruktur, itu adalah prioritas kerja mahasiswa pasca. Semakin kiuta menunda kerja, semakin bertambah masalah. Saat tugas menumpuk di akhir semester, kita tidak tahu apa yang terjadi. Bila sakit melanda, atau masalah lain yang harus diselesaikan saat itu, maka tiada kata lain. Kita hanya bisa mengatakan menyesal kenapa tidak dari awal kita kerjakan.

Oleh karena itu strategi menempatkan kelompok di awal menjadi penting karena anda bisa cepat mengerjakan tugas-tugas yang lain yang masih menunggu. Belum lagi tugas-tugas dari institusi dimana anda bekerja yang belum terselesaikan. Ini bisa anda kerjakan sembari menghabiskan kuliah selama tiga semester.

Teman saya, mahasiswa S3 Ekonomi Universitas Brawijaya Buyung Romadhoni sempat cerita yang keteteran karena tugas-tugas yang menumpuk gunung. Tugasnya mencengangkan! Yaitu mengumpulkan referensi berupa PDF sebanyak 2000 judul. Hal ini mengakibatkan dia mengusung 2 buah laptopnya dari Makassar, karena satu laptop saja ternyata tak cukup. Satu dipakai untuk dibawa kuliah di kelas. Satu tetap di kos2annya sedang mendownload tanpa henti. Memang mencengangkan temenku yang satu ini.

Mungkin anda masih ingat, atau tau mahasiswa S1 itu selalu berpenampilan segar, trendy dan modis. Cowok-cowok juga berambut klimis dan ngebut dengan motornya masuk ke dalam kampus. Lain halnya dengan mahasiswa pasca. Prof. Baradja dosenku sempat berkelakar saat mengajar di kelas S1 mencium bau harum dan segar karena mereka adalah para muda yang selalu tampil fresh. Lalu Prof. Baradja sambil tersenyum mengungkapkan, inilah bedanya kalau mengajar di S1 dan di pasca. Kalau di pasca para mahasiswa ini bau minyak angin. Ahahaha..ada-ada saja Professor satu ini. Hmm cara mengajar beliau juga sangat out of date, menggunakan OHP dan transparansi. Mudah-mudahan beliau diberi kesehatan yang prima. Prof. Baradja, dosen favorit kita di UM. Doa selalu saya ucapkan untuk beliau.

Yang lucu lagi, dulu ada teman yang punya profesi paranormal. Hal ini dia lakukan dari sejak SMP karena kemampuan itu dia dapatkan secara turun temurun. Jadi mau tidak mau dia harus legawa menyimpan kemampuan tersebut. Namun asiknya dia bisa mengetahui soal-soal UTS dan UAS sebelum test itu diadakan. Sehari sebelumnya dia sempat telpon dan menunjukkan kisaran soal-soalnya. Dan woila! Ternyata benar apa yang dia bilang. Haha..

Tapi itu tak lama. Setelah itu sahabat saya ini cepat lulus dan pulang terlebih dahulu ke Kalimantan.

Hmm sebuah pengalaman yang (masih) pendek. Panjang tapi susah untuk diceritakan kembali.

Ornamen Daun di Mappacci

Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.

Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.

Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci

Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.

Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.

Salama’

Menilik Rutin

Menilik Rutin
Kunjungan dua mingguan sudah rutin kulakukan ke Ar Rifaie Gondang Legi, kunjungan ke putri sahabatku Rahman Manaba. Si kecil Hana berkacamata tebal yang masih duduk di kelas satu SMP di Ar Rifaie selalu menunggu-nunggu kedatanganku di tiap dua minggu sekali. Akupun tak tega kalau sampai nggak datang ke pesantren megah ini untuk menengok putri temanku itu. Maklum orang tua Hana tinggal di Balikpapan Kaltim sehingga sulit untuk bisa menjenguk putri pertama mereka tiap dua minggu tersebut. Dan saya mencoba untuk itu. Alhasil ini selalu jadi perjalanan panjang ku ke Gondang Legi dengan motor MX ku. Hitung-hitung sambil jalan-jalan menghirup udara segar kabupaten Malang di sebelah selatan yang masih banyak ditanami tebu di sepanjang pinggir jalan raya.

Syarifah Rihana

Syarifah Rihana

Si kecil Hana tak kusangka berbakat menulis. Sebulan lalu dia sempat bilang kalau sudah menulis di beberapa lembar dan beberapa buku selama ada waktu senggang di pesantren itu. Bakat menulisnya memang sudah tertempa sejak dia di Balikpapan dan itu menurun dari orangtuanya, Rahman Manaba yang juga penulis. Tak ragu-ragu Hanin panggilannya sempat menceritakan bahwa tulisannya sudah banyak. Tulisan-tulisan tentang remaja yang menjadi fokus tulisannya disaat umurnya yang masih belia. Hana banyak memiliki inspirasi yang entah kutau dari mana dia dapatkan. Kubayangkan saya sendiri yang sehari-hari hanya mengajar dan hiruk pikuk kehidupan kampus. Itulah kenapa sulit bagiku untuk menuangkan pikiran kepada tulisan terutama di websiteku Linguafranca. Namun beda bagi Hana. Ada beberapa lembar dan buku yang sedianya ingin dia berikan padaku untuk kubaca.
Saat itu hujan lebat dan sangat gelap. Air menggenang di teras ndalem (rumah) pak Kiai Zamachsari yang akrab dipanggil gus Mat. Tak sangka-sangka air sampai setinggi itu, padahal tepat di depan pesantren terdapat sungai yang cukup lebar dan dalam. Namun tetap tak bisa menampung air hujan sederas itu. Di kegelapan dan derasnya hujan kududuk merapat dengan Hana. Di depan kami tinggal beberapa sendok nasi capcay yang kubawa dari rumah dan dua potong roti yang kubuat sehari sebelumnya. Memang sudah hampir dingin.
Pelan dia bilang ‘Bude ini tulisan Hana dibawa sama bude saja’
Saya pun sempat mengernyit mendengar dia berkata seperti itu. Kutanya kenapa.. dan dia menjawab ‘..biar disimpan sama bude aja, nanti kapan-kapan Hanin lanjutin’
Saya benar-benar tak menyangka itu terjadi. Kubilang lanjutin saja novelnya nanti bude buatin blog, dengan sedikit merayu Hana. Saya mencoba untuk memberikan motiovasi dia untuk menulis. Saya anggap Hana ini masih sangat terbuka lebar pikiran dan ide dibanding saya yang sudah umur seperti ini, kadang susah untuk dapatin itu.
Dan ternyata apa dia bilang! Beberapa tulisan-tulisan dia telah dirampas oleh ustadzahnya yang mengakibatkan dia menjadi stagnant dan malas untuk melanjutkan.
Hmm bagai tersengat rasanya. Bisakah hal-hal seperti ini menjadi perhatian para pendidik di lingkungan pesantren terutama. Menulis terutama bagi usia remaja bisa menjadi potensi yang luas. Baru ingat penulis idola saya Teh Pipiet Senja. Beliau baru menulis dan menghasilkan karya-karya apik setelah usia 40. Dan nama Pipiet Senja memang mewakilkan itu sebagai nama penanya. Tulisan-tulisannya begitu menginspirasi saya. Sedangkan Hana yang baru berusia 12 tahun saat ini seolah disekat inspirasinya.
Sedih sekali!
Buku-buku yang sudah berisi tulisannya kemudian kubawa pulang dan kuteliti bahasanya. Sedianya akan kubuatkan blog agar dia nanti bisa mengakses di pesantren dan menulis di blog tanpa ada kekhawatiran untuk dirampas. Jalan Hana untuk mengembangkan studi dan karirnya masih panjang, 6 tahun ke depan.

Teringat Sherin putri sahabatku Kartika Nuswantara di Surabaya, sejak TK dia sudah menulis cerpennya. Sherin sering ditinggal kedua orangtuanya yang sama-sama memiliki kesibukan mengajar. Sehingga dia lebih memilih hari-harinya di rumah dengan menulis. Kemudian dengan tangan dingin ayah Sherin, akhirnya bisa mengorbitkan tulisan putrinya yang masih sangat kecil tapi gemar menulis. Sehingga sekarang orang tua Sherin tinggal memupuk dan melanjutkan saja hobby putrinya tersebut. Saat ini bahkan orang tua Sherin sibuk menjadi presenter seminar karena keberhasilannya memotivasi putrinya untuk menulis.
Dan sepertinya Hana nanti akan seperti itu.
Hana..Ganbatte!