Haji Indonesia

Fenomena Haji di Indonesia sungguh dahsyat dampaknya. Haji bagi masyarakat Madura adalah prestisius.  Seorang Madura tulen belum bisa dibilang orang Madura apabila belum berhaji. Itulah pernak-pernik masyarakat berciri khas pulau di seberang kota Surabaya ini yang begitu dinamis, mengartikan ibadah dengan sangat nyata. Seorang Madura apapun profesianya, akan berusaha sebesar-besarnya mengumpulkan dana untuk berhaji. Itu bagi orang Madura dimanapun tempatnya. Hal ini disebabkan orang Madura tersebar di seluruh dunia karena kegemarannya yang juga suka merantau.

Pun juga dengan orang Bugis yang juga gemar merantau. Hal ini sangat jelas memang disebutkan bahwa dari sejak ditanda tanganinya Perjanjian Bungaya, orang Bugis mulai meninggalkan tanah Sulawesi secara besar-besaran, exodus hingga ujung dunia manapun. Dengung suara Sultan Hasanuddin masih membekas di telinga Orang Bugis bahwa dimanapun kamu berdiri disitulah langut dijunjung. Dimanapun kamu berada disitulah tanah dimana kita hidup, tanpa memandang bangsa apapun. Karena tanah dan langit adalah milik Allah adanya.

Seperti orang Madura juga, fenomena Haji Bugi berdampak sangat besar terhadap kehidupan di Sulawesi. Seorang Bugis yang akan mempersiapk keberangkatan menuju tanah Makkah adalah orang yang memiliki kecukupan spiritual, kecukupan ekonomi, dan kecukupan sosial. Berangkat haji bagi orang Bugis tidaklah mudah. Tidak seperti orang Madura yang bermodalkan ONH only. Apabila ONH 25juta, sedini mungkin orang Madura akan mengejar sepeser demi sepeser untuk mendapatkan dana sebesar 25juta. Apabila sehari bisa mengumpulkan 20ribu mungkin butuh bertahun-tahun bahkan dekade untuk bisa terkumpul uang sejumlah itu. Tak pernah terbersit mereka mengumpulkan uang sampai sebanyak misalnya 100juta untuk biaya haji tersebut. Asal sudah ngumpul 25juta maka segeralah mereka mendaftarkan diri mereka untuk segera berangkat ke Makkah.

Bagaimana dengan orang Bugis, mungkin agak rumit. Orang Bugis akan mengumpulkan uang yang lebih dari biasanya karena persiapan yang harus betul-betul matang. Mereka justru mempersiapkan pula dana untuk kegiatan penjemputan di bandara atau di embarkasi. Menjemput orang yang pulang dari tanah Makkah adalah sebuah kegiatan yang harus diatur sedemikian rupa, direncanakan matang-matang. Siapa yang akan menjemput, kemudian mobil apa yang akan digunakan untuk menjemput. Hal ini karena apabila belum ada mobil yang rencana akan dipergunakan untuk menjemput, maka biasanya seorang haji Bugis perlu mempersiapkan mobil dengan membelinya terlebih dahulu. Sehingga mereka sudah merasa aman dan nyaman nanti saat tiba di Indoensia. Dan mobil-mobil penjemput haji ini sudah barang tentu mobil yang berkelas sehingga seorang haji Bugis bisa mempersiapkan dana yang sangat besar, jauh lebih besar dari ONH yang mereka bayarkan.

Kostum yang akan dipakai saat nanti pulang pun sangat penting karena akan ada perbadaan antara Haji Bugis dan Orang Bugis. Tentu ini sangat berbeda. Inilah yang membedakan mereka yang sudah menunaikan ibadah haji dan yang belum. Kostum Haji Bugis baik wanita maupun pria berbeda dengan mereka yang belum berhaji. Terutama kostum wanita. Seorang wanita Bugis akan mengenakan baju kebaya panjang dan sarung khas Bugis, kemudian memakai jilbab topi yang kadang berwarna hitam. Topi khusus penutup rambut ini disambung dengan kain tile tipis yang juga bercorak hampir sama atau bahkan sama dengan kebayanya. Hampir mirip seperti kerudung yang dipergunakan pengantin barat.

Oleh-oleh haji juga beragam. Hampir semua orang yang pulang dari Makkah selalu disibukkan dengan oleh-oleh Haji. Meskipun begitu ada pula orang-orang yang cukup hanya dengan memberi makan, yaitu dengan hidangan khas Sulsel seperti Coto Makassar. Oleh-oleh ini pula menjadi kegiatan wajib bagi semua orang yang berpulan dari haji. Yang sering dipakai setiap haji yang pulang dari tanah suci adala tasbih dan sajadah. Namun kemudian hal ini berkembang karena makin banyak orang berziarah haji, maka  harus disiapkan pula oleh-oleh yang tidak terlalu mahal tapi berjumlah banyak

 

Out bond

Out Bound

Seorang teman sedianya akan mengajakku rafting di sungai Batang Merangin Jambi. Namun karena jadwal yang tidak sinkron dengan kegiatan akademik kampus maka terpaksa kurelakan keinginanku untuk mengunjungi lokasi rafting terbaik di pulau Sumatera tersebut. Di Sulawesi ada sungai Sa’dang yang berhulu di Toraja dan bermuara di Danau Tempe. Sungai Sa’dang memiliki kesulitan teknik rafting yang cukup kuat pada sungai yang lumayan panjang tersebut. Dibandingkan dengan sungai Batang Merangin yang berhulu di danau Kerinci Jambi ini cukup dikenal para rafter dan kayaker di seluruh Indonesia.

Mungkin anda sering mendengar Aji Massaid (alm) yang sering melakukan rafting arung jeram di lokasi sungai Citarik, Sukabumi Jawa Barat. Beliaulah yang mempopulerkan olah raga sungai ini. Bahkan Aji juga memperkenalkan atraksi dayung pura, yang seharusnya hanya para perwira yang biasa melakukan pesta pedang pura saat prosesi pernikahan. Namun Aji bias-bisanya mengadakan atraksi dayung pura saat menikah dengan Reza.

Sungai Batang Merangin juga memiliki kelebihan tersendiri, sama dengan sungai-sungai Rafting yang lain. Itulah sebabnya saat teman mengajakku kesana, dan ternyata saya tidak menyanggupi karena kesibukan akademik, saya lumayan menyesal. Saya ingin banget menyusuri sungai melegenda tersebut. Seorang sahabat, Amin (alm) adalah wartawan Sriwijaya Pos yang meliput berita bersama bupati Jambi dan meninggal di salah satu jeram yang ekstrim. Sehingga jeram sangat memacu adrenalin itu kemudian diberi nama Jeram Amin. Al Fatihah untuk bang Amin.

Disamping tingkat kesulitan sungai Batang Merangin yang cukup tinggi dibandingkan sungai Citarik, Sa’dang, dan Brantas, sungai ini juga melengkapi agenda wisata siapapun yang dating kesana karena terdapat Taman Batu tertua Geopark berumur 300tahun. Sehingga wah nyesel nggak selesai sampai saat ini. Hmmfth..

Namun memang rencana tinggal rencana, untunglah kemarin kampus  mengadakan kegiatan outbond Rafting dan Airsoft Gun. Ini kesempatan yang tak mungkin kutinggalkan. Rafting harus terlaksana, berhubung hobby. Heheh.. 😀

Saya dan teman-teman bergerak menuju kecamatan Ngantang dimana ada sungai Brantas untuk rafting disana. Bukan hanya rafting atau arung jeram, kami pula mengadakan outbond Airsoft Gun di dekat hotel dimana kami tinggal di danau Selorejo, tepatnya di tengah danau yaitu di pulau Jambu. Kegiatan Airsoft Gun yang sama-sama memacu adrenalin bersama kolega-kolega saya menyisakan cerita-cerita lucu. Banyaknya buah jambu saat itu yang membuat saya lengah. Berkali-kali terkena lecutan cat panas yang membuat paha bengkak selama seminggu. Tapi lumayan lah buat kenang-kenangan dan pengalaman. Bengkak memang.. hihih.. 😀

Esoknya setelah melakukan outbond di pulau Jambu, tibalah saatnya untuk rafting arung jeram di sungai Brantas Ngantang. Mirip dengan sungai Citarik, namun kesulitannya lebih sedikit disbanding sungai Citarik. Tikungannya juga lebih banyak. Saat melalui dam, skipper tidak mengizinkan kami untuk melalui. Mereka bilang tidak ada seorang rafter dan kayaker pun yang sanggup melalui dam bertembok tinggi ini. Sehingga hanya kayak nya saja yang dijatuhkan. Kami menunggu di bawah sambil menikmati heci dan kopi yang dibawakan oleh panitia. Setelah itu kami lanjutkan perjalanan arung jeram menuju finish di selorejo.

Ini harusnya ada foto-foto ‘narsis’ kami selama berafting di Brantas tapi begitulah memang kalau niatnya sudah pengen narsis saja. Sehingga perjalanan rafting kami sama sekali tidak berdokumen. Ini disebabkan karena masalah administrasi. Yaelah.. 😀

Padahal aku dah eksyen seperti James Bond .. ihik!