Bersama Dancow

Jumat Sabtu kemarin jadwal penuh abis.. Biasanya aku nggak pernah punya jadwal sepenuh ini. Mulai hari Jumat Sabtu dan Minggu aku selalu ancang-ancang untuk mengagendakan dengan anak-anak dan keluarga. Hari Jumat kemarin adalah undangan dari Dancow. Aku tak menyangka bisa ikut di acara ini karena anak-anakku sudah besar-besar, kelas 3 SD dan 1 SMP. Dan mereka sudah tidak mau lagi minum susu bubuk seperti Dancow. Mereka lebih menyukai susu kotak, apalagi yang sudah dingin dari kulkas swalayan. Tapi apa salahnya ikut seminar parenting dari Dancow, toh bermanfaat juga apapun itu. Dari Blogger Malang berikan aku kesempatan untuk ikut di kegiatan yang nota bene hanya ibuk-ibuk yang mengikuti. Adapula 4 orang bapak sih, among 300 women. Wuih banyak amat yah. Tempat nya jaann penuh sesak, dimulai dari pendaftaran hingga yang namanya makan-makan.. Suesekkk..

Tapi semua itu jadi nyaman karena MC nya mbak Sahnaz Haque. Adik mbak Marisa itu.. Duh cantiknya..dan hebatnya aku bisa melihat mbak Sahnaz tepat di depanku, karena aku datang agak awal jadi bisa milih-milih tempat duduk. Akhirnya kupilih tempat duduk terdepan. Tadinya si mbak Sahnaz duduk agak jauhan dariku, di atas stage. Sehingga kamera poketku nggak nyampe ke sana. Tapi sewaktu acara chef Santika mulai masak-masak aku bisa ambil gambar mbak Sahnaz dengan leluasa. Hanya saja giliran masakan sudah matang, mbak Sahnaz koq ya nggak jauh-jauh nunjuknya. Beliau nunjuk akyuu.. Halahhh.. Si embak ini bilang : “Bun..bun.. ayok bagikan makanan ini” Aku Cuma lah loh aja. Karena tadinya aku hanya focus ke Chef Santika yang lagi ngaduk-ngaduk wajannya. Sehingga sewaktu si mbak e nunjuk aku, jadi gelagapan. Seketika kemudian aku berdiri dan datang nyamperin itu piring. Nah bukannya kubagiin langsung eh..malah pada mau foto-foto sama piring. Selfie koq sama piring..Jiahahah.. Tapi aku juga selfie sama piring.. Ternyata nggak jauh beda. Dan lalu kemudian kubagikan makanan itu ke ibu-ibu yang lain. Dan yang lain nggak jauh beda juga, selfie sama piring.. Hehehe..

Pembicaranya pada beken-beken banget, selain mbak Sahnaz sebagai MC yang keren abis, lalu ada bu Dokter, Psikolog dan Pakar Nutrisi yang semua datang dari Jakarta. Wah bener-bener nggak rugi datang di Seminar Dancow ini. Dan pengalaman berada di seminar semakin berasa sebab even ini melibatkan aktifitas socmed ibu-ibu dan para blogger.. Sudah tentu semua ibu disana memiliki akun facebook. Dan siapa yang nggak punya akun facebook di hari genee.. Saat ditanya siapa yang memiliki akun twitter pun banyak juga yang mengangkat tangannya. Acara berlangung gayeng karena semua peserta diharapkan untuk mengaktifkan akunnya dengan status, foto dan hashtag. Itulah yang membuat semua ibu-ibu meski ribet, mereka sibuk mengankat hp untuk memfoto, mengupload, status dan tak lupa hashtag.

Belum lagi suara teriakan para balita ikut meramaikan acara ini. Hampir semua ibu disana membawa anak-anaknya. Dan semua tidak diam..semua berteriak dan berlarian hingga ke atas stage. Malah ada yang tidur di karpet depan stage. Dia sama sekali tidak mau dipindah.. dengan satainya si kecil ini tidur seolah-olah di kasur.. mbk Sahnaz dan pembicara yang lain senyam senyum melihat si kecil baby ngorok di karpet. Para awak kamera dibuat ribet karena harus melangkahi si baby tanpa dosa ini. Dan ibunya pun jadi bingung mau ngangkat anaknya, tapi anaknya nggak mau. Dia begitu enjoy tidur di karpet depan stage ini. Seawaktu diangkat oleh pihak hotel karena acara sudah selesai dan mau diberesin, si baby ini nangis nggak karuan. Lah si ibunya malah lagi enak-enak makan di luar ruangan. Anak yang masih belia dan polos, umur 2 tahun ini menangis meronta-ronta karena dia dipindahkan dari karpet dan petugas hotel menggendongnya dengan suara tangisannya yang menggelegar..

Ini anaknya siapaaaaa..katanya.. #Wikikikkk

Dan siang itu aku benar-benar mendapat keberuntungan ganda, mendapat kesempatan dari Blogger Malang untuk menghadiri seminar Parenting Dancow, dan kedua masih juga dapat doorprize dari Dancow berupa susu dua kotak gede dan tenda camping. Tapi entah kenapa otakku koplak jadi terkena virus rupiah, doorprize itu tau-tau mau dibeli sama temanku karena anaknya masih kecil, umur setahun. Pas dengan susu yang kudapat, dan tenda itu dibeli juga sama dia, disaat aku juga sebenarnya sudah punya tenda camping bahkan lebih luas 2 x 2 meter. Sampai di rumah aku masih terheran-heran kenapa aku jadi matre gini yak. Virus rupiah sudah menyerang otak kotor ku. Wahah.. Ok dah yang jelas ilmu yang sangat bermanfaat telah kudapat dari Seminar Parenting Dancow. Setiba di rumah anak-anak pada  minta bakso, uang yang kudapat dari temenku tadi kulepakan untuk nraktir anak-anak yang udah kutinggal seharian di hari Sabtu. Harusnya aku tinggal di rumah masak makanan kesukaan mereka. Okay dehh..

 

Bencana Budaya

Hari Rabu seminggu setelah erupsi Gunung Kelud saya beranjak menuju Ngantang. Memang lama jeda sejak letusan Kelud yang cukup dahsyat tersebut yang mendorong saya untuk berangkat kesana. Ngantang berjarak sekitar 50km dari kota Malang yang ditempuh dengan perjalanan normal sekitar sejam. Namun perjalanan kali ini bukan perjalanan biasa. Kali ini saya membawa misi teman-teman dari Makassar untuk menengok makam yang biasa kujaga selama ini, makam raja Makassar Karaeng Galesong.  Ada salah satu keturunan  KG (panggilan Karaeng Galesong) yang tidak hanya menanyakan kondisi makam pasca erupsi, namun juga keadaan masyarakat Ngantang yang kondisinya memprihatinkan, begitu porak poranda. Sehingga kemudian saya menghubungi beberapa teman2 komunitas, namun karena saya mendadak memintanya sehingga mereka tidak bisa berangkat ke Ngantang. Ada pula yang tidak bisa mengantar saya kesana karena sebelumnya sudah mendahului, sehari setelah erupsi.

Dan akhirnya saya putuskan untuk berangkat sendirian ke Ngantang.

Tadinya ragu juga menuju lokasi ini, disamping motor MX ku yang akhir-akhir ini kurang bersahabat juga jalan menuju kesana dan lokasinya masih membahayakan. Berkali-kali MX ku terseok-seok karena tumpukan pasir di jalan. Di beberapa ruas jalan menuju ke Ngantang, pasir masih banyak, ada beratus-ratus kubik. Masyarakat setempat yang mungkin punya sedikit kesempatan setelah membersihkan rumahnya dari tumpukan pasir, kemudian menuju ke pinggir jalan untuk mengisi karung-karung dengan pasir. Sehingga di kanan kiri jalan menuju ke Ngantang dan di kecamatannya pun penuh berjejer dengan karung-karung berisi pasir. Teman saya yang juga bagian dari komunitas Karaeng Galesong Makassar, pak Lurah Sumber Agung, bapak Choiri sempat menunjukkan pada saya dua truk pasir yang nangkring di atas rumahnya. Beliau belum selesai-selesai menurunkan pasir-pasir tersebut hingga detik saya datang ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan yang kulalui dengan penuh ketakutan karena jalannya pun masih belum begitu aman, ada beberapa ruas jalan yang baru terputus, sehingga arus nya dibuat buka tutup. Setengah badan jalan sudah tergerus air sungai Kunto yang menggelegak. Lumayan mengerikan melihat arus sungai yang tadinya pernah kuarungi dengan rafting tersebut.  Aku tak bisa memperhatikan pergolakan air sungai yang berwarna hitam dan membawa material gunung pasca erupsi  itu karena sangat menakutkan yang membuat saya hilang kendali. Berkali-kali aku harus berkata lirih kepada MX bututku, ‘Hey ayolah antar aku sampai tujuan, jangan ngambek dulu lah’. Dan berkali-kali itu pula kudengar suara-suara mesin nggak jelas dari sana. Huftt..lama sekali kurasa tak sampai-sampai pada tujuan. Namun saat mendekati perbatasan Pujon-Ngantang aku mulai lega meskipun harus kusadari betapa bencana telah memporak-porandakan kecamatan dengan geografis perbukitan ini.

Sedianya saya ingin mengunjungi makam Potre Koneng dan juga ingin melihat keadaan di sekitar makam. Siapa tahu ada yang bisa saya laporkan untuk teman-teman di Makassar. Makam potre Koneng, istri dari Karaeng Galesong ini terletak di bukit di seberang danau Selorejo. Namun berita-berita di koran yang menghalangi saya datang kesana karena keadaansekeliling  danau yang sudah hancur, warung-warung ikan goreng yang biasa kudatangi bersama teman-teman sudah rubuh semuanya tanpa sisa. Sehingga tak ada yang bisa bantu saya untuk menyeberang di bukit yang bersebelahan dengan pulau Jambu itu. Keadaan masyarakat di sekitar danau juga cukup mengkhawatirkan, rumah-rumah yang rusak parah, terutama di bantaran sungai Kunto yang terkena bandang sungai, jadi mereka mendapat bencana dari atas dan bawah. Betapa sangat mengenaskan.. Sayang saya tidak berani mencapai kesana karena lokasi yang terputus.

Sesampai di rumah teman saya, lurah Sumber Agung bapak Choiri, kusampaikan sumbangan dari teman-teman dan  kusampaikan maksud saya untuk diantar ke makam. Bukannya takut, hany saja saya jaga-jaga nanti apabila ada pohon jatuh yang menghalang di tengah jalan, maka ada yang menunjukkan jalan lain menuju ke makam. Dan ternyata benar, beberapa akses jalan ke makam tua tersebut tertutup pohon roboh. Jangankan pohon besar, semua pohon pisang mati daunnya semua terkulai. Rumput-rumput gajah yang sedianya akan dipakai sebagai pakan sapi perah seolah tak kuasa berdiri. Semua layu.  Beberapa pohon akhirnya kusibakkan dan kutinggalkan motor di kejauhan, kulanjutkan dengan berjalan kaki.

Sesampai di makam kuambil gambar beberapa. Kondisinya masih belum mengkhawatirkan. Tembok yang miring dan hampir roboh dari tahun ke tahun memang seperti itu. Tidak ada satupun penduduk Ngantang yang berani menata kembali batu-batu bata dari abad 17 tersebut. Konon banyak orang yang ingin memperbaiki tembok makam ini tapi terkendala takut karena yang biasa terjadi malah mereka menjadi kesurupan. Maka mereka biarkan batu-batu bata itu, hanya disangga oleh pagar besi agar tidak berantakan. Makam Karaeng Galesong berada di tengah-tengah kotak seperti kolam. Pusara makam tersebut sangat mencengangkan karena tak tersentuh debu. Subhanallah!

Terlihat dari kotak berbentuk kolam terisi penuh pasir. Tembok yang rendah setinggi sekitar 25cm tersebut sangat penuh dengan pasir. Hanya pusara Raja Galesong ini yang sama sekali tak terisi dan tersentuh oleh debu dan pasir gunung Kelud. Terlihat masih saja berlubang, lengang dan bersahaja.

Bentuk makam raja yang saat ini memang sudah berubah dari asalnya memang menjadi kontroversi. Pak Mudin Ngantang yang telah merenovasi makam Karaeng membangunnya tanpa konsultasi dengan keluarga Galesong di Makassar. Akhirnya yang terjadi adalah seperti itu, pak Mudin membuat kotak setinggi 25cm yang sekarang menjadi seperti kolam. Dan kolam tersebut terisi penuh dengan pasir. Tadinya makam Karaeng Galesong berbentuk bujur sangkar yang di dalam falsafah budaya Makassar, bujur sangkar ini disebut dengan “Asulappa Appaka” yaitu empat sifat yang harus dimiliki oleh raja yaitu Pandai, Kaya, Alim, dan Cakap. Dan sifat raja ini menempel pada karakter Karaeng Galesong yang memiliki gelar anumerta I Manindori Kare Tojeng Tumenanga Ri Tampa’na yang artinya meninggal karena mempertahankan keyakinan, keyakinan ingin memerdekakan bangsa.

Kecuali pusara Karaeng Galesong.

Teman yang kuajak mengantar masuk sebentar. Tapi tak lama kemudian dia lari keluar. Saya ketawa dalam hati. Kelihatannya dia lumayan takut berdiri lama-lama di makam yang dikeramatkan ini. Saya berusaha tenang saja karena saya sudah lama ‘kenal’ dengan Karaeng Galesong. Sempat juga kuambil foto-foto di luar kompleks makam Raja. Semua tertutup rata dengan pasir.

Makam Karaeng Galesong memang masih belum mengkhawatirkan, rencana kami nanti akan datang lagi kesana memberikan sumbangan teman-teman dari SULSEL dan kemudian sedikit kami sisihkan untuk membersihkan makam Raja.

Terimakasih Karaeng