Makna Alam dalam Linguistik Antropologi

Konsep makna disini adalah pemahaman terhadap suatu tanda yang identik dengan kata ‘berarti’ atau didalam bahasa Inggris menggunakan verba “mean” dan didalam bahasa Jawa menggunakan istilah “tegese” seperti contoh dibawah ini (bahasa Inggris dan bahasa Jawa):

  1. Those clouds mean rain; mendung tegese arep udan
  2. Red means stop; abang tegese kudu mandek
  3. I didn’t mean what I said; duduk iku karepku
  4. I didn’t mean to say it. It just slipped out; aku ora karep ngomong kuwi, keprucut.

Untuk memahami tanda itu merupakan hal yang sudah umum dan dipahami oleh kelompok sosial. Tidak hanya berupa tanda, tetapi untuk ucapan juga perlu dimaknai dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam menginterpretasikan makna. Terdapat beberapa tanda verba tertentu yang mengindikasikan maksud tertentu.

Terdapat beberapa verba yang memiliki makna proses material yaitu makna melakukan sesuatu dan makna kejadian. Jika ada orang yang menggunanakan verba ini maka dapat diartikan bahwa orang tersebut telah melakukan suatu kegiatan. Beberapa verba yang bermakna proses material misalnya membuat, mengembangkan, mendisain, mengirim, memetik, menendang, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contohnya didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika sosial (Santosa, 2003: 79-80 tanpa modifikasi):

My father went to work

They gave a book to me

They play tennis

The house was built for her by him

 Tono berlari

Ayah membuat mainan untuk adik

Tono menyanyikan sebuah lagu

Surat itu dikirim oleh dia

Bapak lan ibu lagi dhahar

Ibu masak sego

Dewekne lagi munggah gunung

Sayure dimasak kanggo Tono

Verba selanjutnya yaitu verba yang menunjukkan proses mental. Proses mental adalah proses berpikir, mengindera, dan merasa. Didalam bahasa Inggris, proses mental bekerja secara dua arah tetapi didalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa tidak demikian. Berikut ini contoh-contoh dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa yang saya ambil dari buku semiotika (Santosa, 2003: 81 tanpa modifikasi)

He likes it. It pleases him

They believe him. He convinces him

Mereka mempercayainya tidak pernah *ia mempercayakan mereka

Deweke seneng Marni tidak pernah *Marni nyenengke deweke

Berikutnya adalah verba yang menunjukkan proses verbal. Proses ini adalah proses berkata murni, tidak ada unsure perilakunya. Kata kerja dalam proses verbal adalah say, ask, tell, berkata, bertanya, ngomong, takon. Berikut ini adalah contoh-contoh didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa

They said that it was good

Ayah menanyakan itu kepada Ibu

Bocah kuwi kanda ngono kuwi marang aku

Proses selanjutnya adalah proses perilaku verbal yaitu proses perilaku yang menggunakan verbal didalam melakukan tindakan, misalnya menyarankan, mengklaim, mendiskusikan, menjelaskan. Berikut ini contoh-contoh dari proses perilaku verbal yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa (Santosa, 2003 tanpa modifikasi):

The government claimed it’s the right thing to do

Bapak menyarankan seperti itu kepadaku

Masane ngundhat-undhat bantuan pemerintah sing sethithik

Sedangkan untuk proses perilaku mental lebih merupakan gabungan antara proses mental dan materi. Verba yang masuk dalam proses ini adalah menyelidiki, mempelajari, mengecek, meneliti, mengabdi, dan sebagainya. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa,

The police are investigating the case

Mereka sudah meneliti daerahnya

Bapak lagi ngecek knalpote sing rusak

Proses yang lainnya adalah proses relasional. Proses ini adalah proses yang menghubungkan antara partisipan yang satu dengan partisipan yang lain. Berikut ini contoh-contoh yang saya ambil dari buku semiotika didalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan bahasa Jawa.

They are very angry

It matters

John is the actor

Rumah itu sangat mewah

Ayah menjadi marah

Kasus itu menunjukkan kerapuhannya

Bapake ing omah

Ibu dadi wedi marang kowe

Kasus kuwi ngandharake yen dheweke asor

Proses yang terakhir yaitu proses eksistensial. Proses ini menunjukkan adanya sesuatu. Didalam bahasa Inggris ditunjukkan melalui subjek gramatikal there is/there are/exist. Didalam bahasa Indonesia dimulai dengan kata ada atau terdapat atau muncul. Didalam bahasa Jawa ditunjukkan dengan struktur klausa yang dimulai dengan ana.

There are some students in the class

Ebola existed in Ethiopia

Ada masalah penting di instansi kita

Penyerangan itu muncul didaerah selatan

Ana telung perkara ing kantor kuwi

Penyakite ana ing geger

Tanda itu juga muncul hanya berupa gerak tubuh seperti pada saat orang mengangguk maka itu merupakan pertanda bahwa ia setuju, ia paham, atau ia mengetahui tentang sesuatu. Ini disebut sebagai representasi mental (mental representation) atau cermin alam (mirror of nature) yang menjadi pokok penerapan tanda pada domain bahasa dan budaya.

 #linguistik

#linguistics

#antropologi

#anthropology

Makna Pengetahuan dan Domain Linguistik Antropologi

Linguistik antropologi merupakan sub bidang linguistik yang berhubungan konteks bahasa didalam ranah sosial dan budaya yang sangat berperan dalam praktek budaya dan struktur sosial di masyarakat. Linguistik antropologi memandang bahasa sebagai inti konsep antropologi, kebudayaan. Linguistik antropologi melihat makna dibalik kegunaan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan pesan dan informasi, kesalahan dalam penggunaan bahasa, bentuk-bentuk bahasa yang berbeda, register dan gaya bahasa. Hal itu dilakukan untuk mengupas bahasa secara detail untuk menemukan pemahaman bahasa.

Sosiolinguistik merupakan hal yang berbeda dengan linguistik antropologi. Sosiolinguistik memandang bahasa sebagai sebuah institusi sosial yang didalamnya mengurai tentang interaksi  sosial untuk menemukan bagaimana pola-pola linguistik yang ada pada kelompok sosial tertentu dan mengkorelasikan perbedaan-perbedaan perilaku linguistik dengan variable variable seperti usia, jenis kelamin, kelas, ras, dan sebagainya. Perilaku linguistik bisa dilihat dengan cara melihat cara pengucapan (pronunciation) mereka didalam suatu kelompok tertentu. Perbedaan pengucapan sangat terlihat didalam bahasa Inggris akan tetapi hal itu tidak ditemukan didalam bahasa Jawa hal itu tidak ada, akan tetapi didalam bahasa Jawa terdapat kelas kata untuk menunjukkan perbedaan. Berikut ini contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa dan di bahasa Inggris:

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Inggris: running diucapkan /rʌnɪŋ/ atau /rʌnɪn/. Analisis perilaku bahasanya adalah:

penutur kelompok pria cenderung menggunakan pengucapan /rʌnɪn/; sedangkan penutur kelompok wanita menggunakan pengucapan /rʌnɪŋ/.

Penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪn/ biasanya tergolong pada kelompok bawah yaitu para pekerja, bawahan, buruh, pegawai (lower class background) sedangkan penutur yang mengucapkan  dengan cara /rʌnɪŋ/ biasanya tergolong pada

  • kelompok menengah ke atas (middle and upper class background). Hal ini termasuk dalam kajian semiotik.

Contoh perilaku linguistik didalam bahasa Jawa:

  • Penggunaan bahasa ngoko yang digunakan oleh orang dengan usia yang sama, orang yang memiliki hubungan yang dekat atau akrab, orang yang berusia lebih tua kepada orang yang berusia lebih muda, atasan kepada bawahannya, misalnya: bener yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama madya yang digunakan oleh murid kepada guru, orang yang usinya lebih muda ke orang yang usianya lebih tua, anak kepada orang tuanya, pegawai atau pembantu kepada majikannya, misalnya: leres yang berarti benar.
  • Penggunaan bahasa krama inggil adalah bahasa yang tingkatannya paling santun karena disini terdapat prinsip merendahkan hati dan meninggikan posisi orang lain, misalnya: kasinggihan yang berarti benar.

Perilaku linguistik tidak hanya pada bagaimana bahasa itu diucapkan, ternyata juga dari pilihan kata seperti yang ada didalam bahasa Jawa diatas dengan memperhatikan posisi dan maksud. Terkadang apa yang diucapkan memiliki makna yang biasanya sudah dipahami oleh mitra tutur meskipun kalimat tersebut tidak diucapkan secara langsung. Perilaku linguistik tidak terlepas dari tuturan dan konteks serta latar pengetahuan dari penutur dan mitra tutur.

#linguistics

#linguistik

#anthropology

#antropologi

Konstruksi Kepribadian Setempat dan Linguistik Relatifitas

Pemahaman kita mengenai diri kita dan orang lain sebagian besar dibangun  melalui bermacam-macam praktik linguistik yang kita lawan. Melalui penggabungan sosial yang didukung oleh praktik linguistik secara terus menerus kita perankan dan bangun, aturan yang menjadi konsep dari seseorang dimengerti adalah ideologi sekitar. Aturan tersebut berbeda di setiap tempat;dasar  pembagian dalam dua bagian tentang kepercayaan sekitar seseorang adalah egosentris yang menekan individu, kebenaran otonominya dan tindakan yang prerogratif. Yang kedua yakni sosiosentris yang menyoroti status seorang individu dalam kehidupan sosial yang lebih luas, serta menganggapnya nilai dalam pada posisinya di kehidupan bersama. Perbedaan ini dalam ideologi kepribadian sangat diberlakukan dalam praktek linguistik perbedaan budaya. Konsep dari wajah sendiri telah diusulkan sebagai konsep penting dalam pemahaman interaksi sosial, dimana hal ini bertujuan untuk menambah atau paling tidak meminimalkan ekspresi wajah tersebut. Wajah dibagi menjadi dua tipe, yakni, positif adalah sebagai harga diri seseorang, dan negatif  yakni  sebagai pembebanan dan ketidakleluasaan. Bermacam-macam cara praktik linguistik, digabungkan dibawah rubrik kesopanan. Dilakukan untuk meminimalisir hambatan kedua tipe tersebut, namun hal ini diklaim karena analisis ini adalah bagian dari etnosentris;terdapat dalam lingkungan sosiosentris seperti Jepang, konsep wajah negatif, otonomi tindakan individu yang marjinal. Lainya juga mengusulkan aturan lintas budaya dalam interaksi linguistik, seperti prinsip kerjasama. Ide bahwa seseorang akan mengatakan sesuatu yang tepat dalam hal tertentu saat berinteraksi, dan itu menghubungkan 4 maksim percakapan,  cenderung pada variasi yang menonjol. Sementara yang sangat penting dalam membangun percakapan dalam bahasa Inggris Amerika atau bahasa Inggris adalah kepentingan dan fungsi mereka tidak jelas pada orang lain, contohnya masyarakat di Malagasy, yang mana secara kontras menekankan pada ketidaklangsungan dan ketidakjelasan. Sama halnya dengan masyarakat individualis, makna ujaran diarahkan pada apa yang pembicara maksudkan. Berbeda halnya dalam masyarakat sosiosentris, makna disusun oleh pelaku percakapan, dan terkadang menggambarkan kontribusi dari bermacam-macam pelaku percakapan, tergantung posisi sosialnya. Semua perbedaan budaya ini dalam praktik perbandingan budaya linguistik memberi kesan bahwa sebenarnya perbedaan makna ditukar dalam sebuah komunitas. Tipe kerelatipan linguistik lain dan cara mengartikan maksud tersebut akan dibedakan pembagiannya, tergantung posisi sosialnya.

Konstruksi Linguistik Kepribadian pada Konsep Rupa

Bagaimana cara mempelajari dan menjadikan ideologi kepribadian lokal? Bagaimana bisa terwujud dalam tindakan naluriah mereka? Secara garis besar, seperti yang diterangkan Gergen (1990:585) melalui kegunaan bahasa (lihat kutipan pada halaman 262). Selama kita bertentangan dengan hubungan antara 2 orang, dengan demikian membentuk structural coupling, tindakan verbal kita menjadi selaras dengan tindakan komunikatif yang berkelanjutan dengan structural coupling. Ini melalui koordinasi structural coupling yang telah ditempa, dan ini merupakan sejarah hidup yang terkumpul yang mana menentukan orang. Maturana dan Varela (1987) menggarisbawahi peran pokok yang berperan pada structural coupling sosial dengan mengistilahkan sebagai ”lingual axis”, bagian dari trophal axis bahasa, istilah biologis pada korelasi struktural yang terjadi antar organisme melalui pertukaran makanan dan sekresi kimia, seperti ketika oraganisasi sarang lebah ditentukan oleh keseimbangan sekresi hormonal tertentu. Gagasan tindakan linguistik seperti lingual axis didiukung oleh Aiello dan Dunbar (1993) yang menegaskan evolusi bahasa utamanya sebagai jenis dari perekat dalam sosial, menambah dalam merapikan kumpulan manusia meningkatkan ukurannya: perilaku tubuh yang komunikatif dalam social coupling (trophallaxis: grooming) yang ditambahkan oleh perilaku linguistik (lingual axis), yang mana menggantikan secara bertahap pembentuknya selama rangkaian evolusi manusia. Untuk sarang lebah, perubahan dalam keseimbangan hormon dan anda merubah organisasi pada sarang; untuk pengelompokan sosial manusia, dan perubahan pola perilaku verbal (lingual axis) yang sama-sama bisa menghasilkan efek dramatis pada kedudukan sosial, hanya untuk memeprtimbangkan perkara pertemuan sapaan Wolof. lebih jauh, Scweder dan Bourne (1984) memberitahukan bahwa ideologi lokal kepribadian telah disepakati oleh apa yang diketahui orang ketika berbicara, pada jalan yang sangat Whorfi, pembicara menggunakan metafor untuk mendeskripsikan orang dan perilaku yang diturunkan keduanya dan bersifat membangun pemahaman lokal kepribadian.

Goffman (1967, 1971) mengamati secara kasar pada bagaimana koordinasi perilaku linguistik pada hubungan 2 orang berperan pada pemahaman budaya kita pada kepribadian tertentu. Ia memberitahukan bahwa tujuan orang yang berinteraksi pada pertemuan sosial untuk melindungi harga diri rapuh yang mereka miliki, paling sedikit, untuk meminimalisir bahaya ini, yang terbaik, untuk meningkatkannya. Harga diri ini diistilahkan oleh Goffman (1967), menjelaskan sebagai “citra diri publik dimana setiap anggotanya ingin menegaskan dirinya” (Brown dan Levinson 1987:61). Rupa sangat berperan secara linguistik antara orang-orang yang berinteraksi (meskipun cara lain mungkin bisa dilakukan, lihat Goffman (1956) untuk penjelasan klasik yang lebih rinci). Melalui kata yang kita dan yang lain pilih dan gunakan, rupa kita dan orang yang berinteraksi lainnya pada interaksi sosial mempersoalkan modifikasi dan merusak yang mungkin. Rupa secara linguistik dibangun, dan kemampuan untuk menggunakan keahlian verbal dengan fasilitas adalah bagaimana kita bisa memanipulasi pertemuan sosial untuk memaksimalkan rupa yang kita dapatkan dan meminimalisir kehilangan kita, dan lagi, pertemuan sapaan Wolof merupakan paradigma eksemplar pada fakta ini.

Konsep Lokal Kepribadian

Diatas telah diuraikan secara singat batasan konsep orang, sekarang saya berpindah ke beberapa perbedaan antar budaya dalam pengucapannya, Ideologi lokal kepribadian. Saya mulai dengan yang familiar bagi sebagian besar pembaca– Konsep orang Eropa Barat. Ideologi tempat mungkin akan diringkas dalam satu kata, individualisme, yang mungkin sangat ditekankan dalam Budaya Amerika. Alasan ideologi ini adalah otonomi egosentris personal, yang diringkas oleh Geertz (1983:59) dalam penjelasan klasik berikut:

Konsep Barat tentang orang seperti terikat , unik, lebih atau kurang mempersatukan seluruh teori motivasional, pusat kesadaran dinamis, emosi, pertimbangan dan tindakan yang disusun ke dalam seluruh dan sekumpulan perbedaan khusus terhadap keseluruhan yang lain pada latar belakang sosial dan alam..Pada ideologi egosentris individualis orang, individu memperbudak masyarakat, pada fashion yang berhubungan dengan pemikiran filsuf seperti Hobbes dan Locke, masyarakat membayangkan terciptanya “kontrak sosial” untuk menjaga kepentingan mengidealkan otonomi individu, independen atau masyarakat, sebelum hidup didalamnya. Para individu ini lebih penting dari setiap kelompok pemilihnya. Indikasi dari semua ini adalah pentingnya budaya Barat yang bertempat pada orang dan sifat orang, ini menegaskan adanya pemusatan individu dengan keinginan dan kebutuhannya.

Apakah sifat dari individu sebenarnya? Kebebasan dari paksaan dan sifat otonomi dalam tindakan telah memasuki kriteria ideologi orang sebagai individu. Perhatikan bahwa yang ditangkap dari gerakan feminis yaitu, “orang dengan haknya sendiri” secara tidak langsung menghubungkan kepribadian dengan hak individu atas tindakan dan kebebasan dari paksaan. Setiap orang dipandang memiliki hak yang tidak bisa direnggut pada otonomi yang diklaim oleh individu. Setiap individu adalah unik, tapi semua, setidaknya secara ideologi, memiliki hak yang sama, sistem etika umum yang berpengaruh terhadap semua hubungan sosial, tak diragukan lagi merupakan hasil moralitas para universalis budaya Barat berdasarkan agama Kristen, supaya, menurut ajaran agama Kristen, komponen spiritual yang diberikan ke seluruh orang dalam jumlah yang tak terhitung yang mana harus diakui sebelum secara kemanusiaan atau secara sosial menciptakan sebuah nilai. Ini membawa kita pada pandangan orang sebagai individu, perwujudan absolut sebuah nilai dalam haknya sendiri, dan bukan benar-benar pada kedudukannya dalam setiap pola sosial. Ketidaksamaan yang sebenarnya diantara manusia secara ideologi diterjemahkan sebagai hasil persaingan bebas untuk mendapat penghargaan status antar individu yang menurut teori adalah sama, terlindungi melalui sekumpulan peraturan dan hukum dalam “kontrak sosial”. Tetapi gagasan pada perbedaan status yang tidak sama dan peluang individu yang sama dapat dengan mudah dibedakan. Ini merupakan prinsip yang terdapat dalam sistem yang telah berlaku pada birokrasi organisasi, sebagaimana pengertian oleh Max Weber (1968[1922]). Karakteristik birokrasi yang telah dijelaskan Adalah perbedaan antara pegawai dan pemimpin pegawai atau peran sosial yang tidak sama dan sama dengan individu. Pembagian tugas pegawai pada orang tertentu telah ditentukan, setidaknya secara ideologi, oleh kemampuan individu, tidak berdasarkan pada koneksi sosial. Jadi, ketidaksamaan dan hierarki merupakan ciri-ciri masyarakat; setiap orang adalah bebas dan sama dengan individu.

Konsep egosentris individualis orang pada budaya Barat dianggap kontras dengan berbagai tradisi budaya. Budaya sebelumnya bersifat sosiosentris, konteks tergantung pada konsepsi kepribadian (Scweder dan Bourne 1984). Pada budaya ini budaya individu dan otonominya tidak diperlakukan sebagai  pemahaman lokal orang, agaknya menempel pada konteks sosial merupakan hal yang menyangkut definisinya sebagai orang. Jadi, kepribadian dalam istilah sosiosentris merupakan atas dasar kedudukan sosial khusus yang ditempati manusi. Konsep sosiosentris kepribadian memandang kebaikan social grouping secara fundamental dan membawahi keinginan dan kebutuhan individu pada kebaikan bersama. (Perhatikan disini bahwa poinnya adalah tidak untuk berpendapat bahwa budaya sosiosentris secara eksplisit telah menuturkan ideologi kepribadian sejajar dengan ideologi Individualisme Barat (meski apakah semua masyarakat Barat secara eksplisit peduli terhadap koherensi ideologi yang menciptakan prinsip individualisme yang tercatat untuk diperdebatkan secara serius); agaknya, pernyataannya bahwa pemahaman kepribadian, apakah itu diam-diam atau tidak, dijadikan, dibangun ke dalam berbahasa dan perilaku budaya dan dengan demikiran, ditanamkan dalam tindakan naluriahnya. Tentunya dengan kepercayaan yang dilepaskan melalui kontak budaya, yang mungkin akan dituturkan, seperti halnya yang dikatakan pelajar Bali setelah 2 tahun hidup di Australia, menuturkan pemahaman aslinya, “Kita (orang Bali) punya budaya berkumpul.”) Konsepsi lokal orang secara luas telah ada, contohnya oleh budaya yang sebaliknya sangat berbeda seperti di Bali dan tanah Gahuku di New Guinea.

Bali (Geertz 1983: 62):

Semiotika Seri 5

Semiotika mewakili berbagai studi dalam seni, sastra, antropologi dan media massa daripada disiplin akademis independen. Mereka yang terlibat dalam semiotika termasuk ahli bahasa, filsuf, psikolog, sosiolog, antropolog, ahli teori sastra, estetika dan media, psikoanalis dan pendidik. Di luar definisi yang paling dasar, ada banyak variasi di antara ahli semiotika terkemuka mengenai apa yang melibatkan semiotika. Ini tidak hanya berkaitan dengan komunikasi (disengaja) tetapi juga dengan anggapan kita tentang signifikansi terhadap apa pun di dunia. Semiotika telah berubah dari waktu ke waktu, karena ahli semiotika telah berusaha untuk memperbaiki kelemahan dalam pendekatan semiotik awal. Bahkan dengan istilah semiotika paling dasar pun ada banyak definisi. Akibatnya, siapa pun yang mencoba analisis semiotik akan bijaksana untuk memperjelas definisi mana yang diterapkan dan, jika pendekatan semiotik tertentu diadopsi, apa sumbernya. Ada dua tradisi yang berbeda dalam semiotika yang berasal dari Saussure dan Peirce. Karya Louis Hjelmslev, Roland Barthes, Claude Lévi-Strauss, Julia Kristeva, Christian Metz dan Jean Baudrillard (lahir 1929) mengikuti tradisi ‘semiologis’ Saussure sementara karya Charles W Morris, Ivor A Richards (1893-1979) , Charles K Ogden (1989-1957) dan Thomas Sebeok (b 1920) berada dalam tradisi ‘semiotik’ Peirce. Ahli semiotik terkemuka yang menjembatani kedua tradisi ini adalah penulis Italia terkenal Umberto Eco, yang sebagai penulis buku terlaris The Name of the Rose (novel 1980, film 1986) mungkin satu-satunya ahli semiotika yang hak filmnya bernilai apa pun (Eco 1980) .

Saussure berpendapat bahwa ‘tidak ada yang lebih tepat daripada studi bahasa untuk memunculkan sifat masalah semiologis’ (Saussure 1983, 16; Saussure 1974, 16). Semiotika banyak menarik konsep linguistik, sebagian karena pengaruh Saussure dan karena linguistik adalah disiplin yang lebih mapan daripada studi sistem tanda lainnya. Strukturalis mengadopsi bahasa sebagai model mereka dalam mengeksplorasi fenomena sosial yang lebih luas: Lévi-Strauss untuk mitos, aturan kekerabatan dan totemisme; Lacan untuk ketidaksadaran; Barthes dan Greimas untuk ‘tata bahasa’ narasi. Julia Kristeva menyatakan bahwa ‘apa yang telah ditemukan oleh semiotika… adalah bahwa hukum yang mengatur atau, jika seseorang lebih suka, kendala utama yang mempengaruhi setiap praktik sosial terletak pada kenyataan bahwa hal itu menandakan; yaitu bahwa itu diartikulasikan seperti bahasa’ (dikutip dalam Hawkes 1977, 125). Saussure menyebut bahasa (modelnya adalah ucapan) sebagai ‘yang paling penting’ dari semua sistem tanda (Saussure 1983, 15; Saussure 1974, 16). Bahasa hampir selalu dianggap sebagai sistem komunikasi yang paling kuat sejauh ini. Misalnya, Marvin Harris mengamati bahwa ‘bahasa manusia adalah unik di antara sistem komunikasi dalam memiliki universalitas semantik… Sebuah sistem komunikasi yang memiliki universalitas semantik dapat menyampaikan informasi tentang semua aspek, domain, properti, tempat, atau peristiwa di masa lalu, sekarang atau masa depan, baik aktual atau mungkin, nyata atau imajiner’ (dikutip dalam Wilden 1987, 138). Mungkin bahasa memang fundamental: Emile Benveniste mengamati bahwa ‘bahasa adalah sistem penafsiran dari semua sistem lain, linguistik dan non-linguistik’ (dalam Innis 1986, 239), sementara Claude Lévi-Strauss mencatat bahwa ‘bahasa adalah sistem semiotik par excellence ; itu tidak bisa tidak menandakan, dan hanya ada melalui penandaan’ (Lévi-Strauss 1972, 48).

Saussure melihat linguistik sebagai cabang dari ‘semiologi’:

 

Linguistik hanyalah salah satu cabang dari ilmu umum [semiologi] ini. Hukum-hukum yang akan ditemukan oleh semiologi akan menjadi hukum-hukum yang berlaku dalam linguistik… Sejauh yang kita ketahui… masalah linguistik adalah yang pertama dan terutama semiologis… Jika seseorang ingin menemukan sifat sebenarnya dari sistem bahasa, pertama-tama ia harus pertimbangkan kesamaan mereka dengan semua sistem lain dari jenis yang sama… Dengan cara ini, cahaya akan diberikan tidak hanya pada masalah linguistik. Dengan mempertimbangkan ritus, adat istiadat, dll. sebagai tanda, kami percaya, akan memungkinkan untuk melihatnya dalam perspektif baru. Kebutuhan akan dirasakan untuk menganggapnya sebagai fenomena semiologis dan menjelaskannya dalam kerangka hukum semiologi. (Saussure 1983, 16-17; Saussure 1974, 16-17)

Diri vs Orang Lain

Antropolog, berikut Mauss (1985[1938]), umumnya membuat perbedaan antara gagasan diri dan orang (Fitsgerard 1993, La Fontaine 1985). Diri merujuk pada maksud kesadaran manusia secara universal Dalam perwujudan individu itu sendiri, yang mana orang adalah konsep sosial yang membentuk gagasan lokal hak dan kewajiban seseorang, dan kemudian menjadi antar budaya. Hehr dan Muhlhasler (1990) membuat perbedaan yang mirip, menunjuk kepada pembentuknya sebagai “identitas numerik” dan yang terakhir sebagai “identitas kualitatif”. Hal ini diutarakan dalam istilah tesis sebuah Lokasi ganda dalam diri (Harre dan Muhlhasler (1990: 88)):

          Kita memahami bahwa kita memiliki lokasi yang menjadi perwujudan material lingkungan fisik sementara yang terus-menerus (pemikiran antropologi “diri”). Tapi kita juga memahami saat itu bahwa kurang lebih telah jelas diungkapkan lokasi hak dan kewajiban orang lain dalam lingkungan sosial yang memperoleh tanggungjawab tertentu saat itu (pemikiran antropologi “orang”).

Tesis ini berakibat: terhadap Indeksikalitas Ganda kata ganti “saya”. Kata ganti ini menunjuk kedua gagasan lokasi; jadi pemberi ungkapan menampilkan dirinya ketika memiliki lokasi yang berkaitan dalam hal waktu dan lokasi, juga tanggungjawab sosial tertentu. Diungkapkan dengan jelas adanya perbedaan yang mencolok antara diri dengan orang mungkin sulit dipertahankan. Pertama, tidak jelas bagaimana karakteristik yang diduga pada individu terwujud dalam diri, seperti baik atau jahat, menjadi sangat penting untuk dibicarakan, kecuali pada istilah hubungan sosial antara dua orang (lihat Gergen (1994)). Rosaldo (1984) berpendapat bahwa Ilongot tidak memiliki ideologi tentang perbedaan yang mencolok antara privasi diri individu dan penampilan sosial orang di depan publik. Ia menegaskan bahwa apa yang dipikirkan dan dirasakan diri Ilongot adalah hasil aktivitas sosial publik, disadari melalui interaksi antara 2 orang, menyarankan pengaburan kontras yang bersifat universal, antara diri individu dan pribadi sosial. Ilongot menyatakan bahwa biasanya tidak ada gap antara apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan seseorang. Sebagai masyarakat egaliter, individu tidak memiliki pengalaman yang kuat dalam ketidakleluasaan sosial, yang mana akan memperkuat batas antara orang, diri individu yang terikat, hak dan tanggungjawab sosial pribadi: “tidak ada dasar masalah sosial atau pengalaman individu yang dianggap perlu kontrol, ketika memiliki batasan untuk melindungi atau menjaga gerakan dan keinginan, yang harus dicek apakah mereka mempertahankan statusnya atau terikat dalam kerjasama setiap hari” (Rosaldo 1984:148).

Kesulitan lebih lanjut dalam menegakkan perbedaan yang mencolok antara diri dan orang bergantung pada masalah yang besar akan jelas diselesaikan oleh kesadaran mental perwujudan individu, yang merupakan gagasan paling dasar atas diri. Kesadaran adalah hal yang sangat khas, karena itu bersifat menyebar, tidak terikat dan tidak pula stabil. Sebagian terbesar terlihat sebagai konstruksi linguistik, lokasi tubuh melalui penggunaan I dalam pertemuan berbagai pola pengulangan dalam proses structural coupling yang terikat didalamnya, dan lebih jauh lagi, laporan melalui deskripsi linguistik pada proses structural coupling yang terikat dengan kita (untuk pemikiran sebelumnya lihat Mead (1934)).

Mead (1934). Diri adalah organisme yang tindakannya dilambangkan menggunakan Saya. Karya terakhir (Minsky 1986; Varela, Thompson, dan Rosch 1991) dalam arsitektur pikiran menegaskan bahwa pikiran mengandung banyak “agen” kecil, setiap agen memiliki fungsi domain hanya dalam skala kecil. “Agen” ini dapat disusun ke dalam sistem yang lebih besar dalam tugas yang lebih inklusif, masih bisa disusun lagi dalam sistem yang lebih besar dan seterusnya dalam analogi struktur sosial, shingga membentuk The Society of Mind (Minsky 1986). Apa yang dihitung sebagai kumpulan agen dalam satu level menjadi satu “agen” dalam tingkat yang lebih tinggi. Minsky (1986) menggambarkan contoh “agen” dengan membangun menara-menara diluar blok mainan – sebagai Pembangun. Tetapi dalam tingkatan yang lebih rendah, Pembangun tersusun atas “sub-agen” seperti Pemula, Penambah, Penyelesai, dan lain sebagainya , ini juga butuh “sub-agen” lagi yaitu Penemu, Pengangkat, Pemindah, dan seterusnya. Poinnya adalah dimana ini benar-benar merupakan struktur pikiran bisa secara global yang menebarkan kesadaran diri sebagai perwujudan individu? Seperti yang diungkapkan Varela, Thompson, dan Rosch (1991) di bagian kejadian mental dan pembentukannya, contohnya tindakan “agen” dan “sub-agen” yang memiliki koherensi dan integritas melewati batas waktu. Pemahaman kita soal koherensi dan integritas tentunya dalam ingatan kita, utamanya yang disebut Becker (1971:77-9) sebagai “dalam warta berita,”apa yang tetap diulas dalam mata hati kita sebagai pengalam an hidup, khususnya pengalaman yang meningkatkan harga diri, membuat kita merasa baik dan positif dengan diri kita sendiri (dengan kata lain, pengulangan sejarah yang terpilih dalam structural coupling). Tetapi tentunya, pengalaman hidup ini, baik positif maupun negative face hanya terjadi dalam interaksi 2 orang, konfigurasi bersama orang-orang, kembali memaksa dalam kesimpulan bahwa perbedaan yang mencolok antara diri individu dan pribadi sosial tidak dapat dipertahankan (Tetapi lihat Cohen (1994) untuk argumen lawannya. Ia berpendapat bahwa catatan rosaldo tentang Ilongot tak bisa dipertahankan. Seperti Harré dan Muhlhausler, ia menegaskan bahwa kesadaran pribadi individu yang terwujud sebagai sifat universal manusia, untuk berpendapat dan sebaliknya untuk membuat eksotis orang lain dan menolak karakter yang diinginkan diri kita. ia memperhatikan bahwa kejadian sosial apapun yang dilakukan bersama seperti ritual, setiap pastisipan memiliki pemahaman dan interpretasi kejadian yang berbeda, dan ini menunjukkan kesadaran diri. pengalaman individu dalam kejadian publik apapun benar tidak diragukan lagi, untuk menolaknya akan meniadakan pemusatan organisme manusia dan plastisitas luar biasa dalam sistem saraf dalam hal structural coupling. Bagaimanapun, pengalaman individu tidak dibuat oleh diri sendiri, tidak ada bukti sifat terikat universal apapun yang menyokong pengalaman ini.

Semiotika Seri 4

Pers menggunakan saluran visual, bahasanya ditulis, dan memanfaatkan teknologi reproduksi fotografi, desain grafis, dan pencetakan. Radio, sebaliknya, menggunakan saluran lisan dan bahasa lisan dan bergantung pada teknologi perekaman dan penyiaran suara, sementara televisi menggabungkan teknologi perekaman dan penyiaran suara dan gambar…

 

Perbedaan saluran dan teknologi ini memiliki implikasi luas yang signifikan dalam hal potensi makna dari media yang berbeda. Misalnya, media cetak dalam arti penting kurang pribadi daripada radio atau televisi. Radio mulai memungkinkan individualitas dan kepribadian didahulukan melalui transmisi kualitas suara individu. Televisi mengambil proses lebih jauh dengan membuat orang tersedia secara visual, dan bukan dalam modalitas foto surat kabar yang beku, tetapi dalam gerakan dan tindakan. (Fairclough 1995, 38-9)

Sementara determinis teknologi menekankan bahwa ekologi semiotik dipengaruhi oleh fitur desain mendasar dari media yang berbeda, penting untuk mengenali pentingnya faktor sosial budaya dan sejarah dalam membentuk bagaimana media yang berbeda digunakan dan status mereka (selalu berubah) dalam budaya tertentu. konteks. Misalnya, banyak ahli teori budaya kontemporer telah berkomentar tentang pertumbuhan pentingnya media visual dibandingkan dengan media linguistik dalam masyarakat kontemporer dan pergeseran terkait dalam fungsi komunikatif media tersebut. Berpikir dalam istilah ‘ekologis’ tentang interaksi struktur dan bahasa semiotik yang berbeda membuat ahli semiotika budaya Rusia Yuri Lotman menciptakan istilah ‘semiosfer’ untuk merujuk pada ‘seluruh ruang semiotik dari budaya yang bersangkutan’ (Lotman 1990, 124-125 ). Konsep ini terkait dengan referensi ahli ekologi ‘untuk ‘biosfer’ dan mungkin referensi ahli teori budaya’ ke ruang publik dan pribadi, tetapi yang paling mengingatkan pada gagasan Teilhard de Chardin (sejak tahun 1949) tentang ‘noosfer’ – domain di pikiran mana yang dilatih. Sementara Lotman mengacu pada semiosfer seperti yang mengatur fungsi bahasa dalam budaya, John Hartley berkomentar bahwa ‘ada lebih dari satu tingkat di mana seseorang dapat mengidentifikasi semiosfer – pada tingkat budaya nasional atau linguistik tunggal, misalnya, atau kesatuan yang lebih besar seperti “Barat”, hingga “spesies”‘; kita mungkin juga mencirikan semiosfer dari periode sejarah tertentu (Hartley 1996, 106). Konsepsi semiosfer ini mungkin membuat ahli semiotika tampak imperialistik teritorial bagi para pengkritiknya, tetapi ia menawarkan visi semiosis yang lebih terpadu dan dinamis daripada studi tentang media tertentu seolah-olah masing-masing ada dalam ruang hampa.

Tentu saja ada pendekatan lain untuk analisis tekstual selain semiotika – terutama analisis retoris, analisis wacana dan ‘analisis isi’. Di bidang studi media dan komunikasi, analisis isi merupakan saingan utama semiotika sebagai metode analisis tekstual. Sedangkan semiotika sekarang terkait erat dengan studi budaya, analisis isi mapan dalam tradisi arus utama penelitian ilmu sosial. Sementara analisis isi melibatkan pendekatan kuantitatif terhadap analisis ‘konten’ manifes teks media, semiotika berusaha menganalisis teks media sebagai keseluruhan yang terstruktur dan menyelidiki makna konotatif laten. Semiotika jarang bersifat kuantitatif, dan seringkali melibatkan penolakan terhadap pendekatan semacam itu. Hanya karena item sering muncul dalam teks tidak membuatnya signifikan. Ahli semiotika strukturalis lebih memperhatikan hubungan unsur-unsur satu sama lain. Seorang ahli semiotika sosial juga akan menekankan pentingnya signifikansi yang dilampirkan pembaca pada tanda-tanda dalam sebuah teks. Sedangkan analisis isi berfokus pada isi eksplisit dan cenderung menyarankan bahwa ini mewakili makna tunggal yang tetap, studi semiotik fokus pada sistem aturan yang mengatur ‘wacana’ yang terlibat dalam teks media, menekankan peran konteks semiotik dalam membentuk makna. Namun, beberapa peneliti telah menggabungkan analisis semiotik dan analisis isi (misalnya Glasgow University Media Group 1980; Leiss et al. 1990; McQuarrie & Mick 1992).

Beberapa komentator mengadopsi definisi semiotika CW Morris (dalam semangat Saussure) sebagai ‘ilmu tentang tanda’ (Morris 1938, 1-2). Istilah ‘sains’ menyesatkan. Sampai sekarang semiotika tidak melibatkan asumsi teoretis, model, atau metodologi empiris yang disepakati secara luas. Semiotika cenderung sebagian besar teoretis, banyak ahli teorinya berusaha membangun ruang lingkup dan prinsip-prinsip umumnya. Peirce dan Saussure, misalnya, sama-sama memperhatikan definisi dasar tanda. Peirce mengembangkan taksonomi logis yang rumit dari jenis tanda. Ahli semiotika berikutnya telah berusaha untuk mengidentifikasi dan mengkategorikan kode atau konvensi sesuai dengan tanda-tanda yang diorganisasikan. Jelas ada kebutuhan untuk membangun landasan teoretis yang kuat untuk subjek yang saat ini dicirikan oleh sejumlah asumsi teoretis yang bersaing. Adapun metodologi, teori Saussure merupakan titik awal untuk pengembangan berbagai metodologi strukturalis untuk menganalisis teks dan praktik sosial. Ini telah sangat banyak digunakan dalam analisis sejumlah fenomena budaya. Namun, metode tersebut tidak diterima secara universal: teori berorientasi sosial telah mengkritik fokus eksklusif mereka pada struktur, dan tidak ada metodologi alternatif yang telah diadopsi secara luas. Beberapa penelitian semiotik berorientasi empiris, menerapkan dan menguji prinsip-prinsip semiotik. Bob Hodge dan David Tripp menggunakan metode empiris dalam studi klasik mereka tentang Anak dan Televisi (Hodge & Tripp 1986). Tetapi saat ini ada sedikit pengertian tentang semiotika sebagai suatu kesatuan usaha yang dibangun di atas penemuan-penemuan penelitian kumulatif.

Semiotika Seri 3

Selektivitas media apa pun mengarah pada penggunaannya yang memiliki pengaruh yang mungkin tidak selalu disadari oleh pengguna, dan yang mungkin bukan bagian dari tujuan penggunaannya. Kita bisa begitu akrab dengan medium sehingga kita ‘terbius’ terhadap mediasi yang terlibat: kita ‘tidak tahu apa yang kita lewatkan’. Sejauh kita mati rasa terhadap proses yang terlibat, kita tidak bisa dikatakan menggunakan ‘pilihan’ dalam penggunaannya. Dengan cara ini cara yang kita gunakan dapat mengubah tujuan kita. Di antara fenomena yang ditingkatkan atau dikurangi oleh selektivitas media adalah tujuan media yang digunakan. Dalam beberapa kasus, ‘tujuan’ kita mungkin secara halus (dan mungkin tidak terlihat), didefinisikan ulang oleh penggunaan media tertentu oleh kita. Ini adalah kebalikan dari sikap pragmatis dan rasionalistik, di mana cara dipilih sesuai dengan tujuan pengguna, dan sepenuhnya di bawah kendali pengguna.

Kesadaran akan fenomena transformasi oleh media ini sering membuat ahli teori media berargumentasi secara deterministik bahwa sarana dan sistem teknis kita selalu dan tak terhindarkan menjadi ‘tujuan itu sendiri’ (interpretasi umum dari pepatah terkenal Marshall McLuhan, ‘media adalah pesan’) , dan bahkan mendorong beberapa orang untuk menampilkan media sebagai entitas yang sepenuhnya otonom dengan ‘tujuan’ (berlawanan dengan fungsi) mereka sendiri. Namun, seseorang tidak perlu mengambil sikap ekstrem seperti itu dalam mengakui transformasi yang terlibat dalam proses mediasi. Ketika kita menggunakan media untuk tujuan apa pun, penggunaannya menjadi bagian dari tujuan itu. Bepergian adalah bagian yang tak terhindarkan untuk pergi ke suatu tempat; bahkan mungkin menjadi tujuan utama. Bepergian dengan satu metode transportasi tertentu daripada yang lain adalah bagian dari pengalaman. Begitu juga dengan menulis daripada berbicara, atau menggunakan pengolah kata daripada pena. Dalam menggunakan media apa pun, sampai batas tertentu kita melayani ‘tujuannya’ dan juga melayani kita. Ketika kita terlibat dengan media, kita bertindak dan ditindaklanjuti, digunakan dan digunakan. Dimana media memiliki berbagai fungsi mungkin tidak mungkin untuk memilih untuk menggunakannya hanya untuk salah satu fungsi ini secara terpisah. Pembuatan makna dengan media semacam itu harus melibatkan beberapa tingkat kompromi. Identitas lengkap antara tujuan khusus apa pun dan fungsionalitas media mungkin jarang, meskipun tingkat kecocokan pada sebagian besar kesempatan dapat diterima sebagai memadai.

Saya diingatkan di sini akan sebuah pengamatan oleh antropolog Claude Lévi-Strauss bahwa dalam kasus apa yang disebutnya bricolage, proses menciptakan sesuatu bukanlah masalah pilihan yang diperhitungkan dan penggunaan bahan apa pun yang secara teknis paling baik disesuaikan dengan keadaan yang jelas. tujuan yang telah ditentukan, melainkan melibatkan ‘dialog dengan bahan dan sarana eksekusi’ (Lévi-Strauss 1974, 29). Dalam dialog seperti itu, bahan-bahan yang siap pakai mungkin (seperti yang kami katakan) ‘menyarankan’ tindakan adaptif, dan tujuan awal dapat dimodifikasi. Akibatnya, tindakan penciptaan seperti itu tidak murni instrumental: bricoleur ‘”berbicara” tidak hanya dengan benda-benda… tetapi juga melalui medium benda-benda’ (ibid., 21): penggunaan medium dapat bersifat ekspresif. Konteks poin Lévi-Strauss adalah diskusi tentang ‘pemikiran mitos’, tetapi saya berpendapat bahwa bricolage dapat dilibatkan dalam penggunaan media apa pun, untuk tujuan apa pun. Tindakan menulis, misalnya, dapat dibentuk tidak hanya oleh tujuan sadar penulis tetapi juga oleh fitur media yang terlibat – seperti jenis bahasa dan alat tulis yang digunakan – serta oleh proses mediasi sosial dan psikologis yang terlibat. . Setiap ‘perlawanan’ yang ditawarkan oleh materi penulis dapat menjadi bagian intrinsik dari proses penulisan. Namun, tidak setiap penulis bertindak atau merasa seperti seorang bricoleur. Individu berbeda secara mencolok dalam tanggapan mereka terhadap gagasan transformasi media. Mulai dari mereka yang bersikeras bahwa mereka memegang kendali penuh atas media yang mereka ‘gunakan’ hingga mereka yang mengalami perasaan mendalam bahwa mereka dibentuk oleh media yang ‘menggunakannya’ (Chandler 1995).

Norman Fairclough berkomentar tentang pentingnya perbedaan antara berbagai media massa dalam saluran dan teknologi yang mereka gunakan.

Semiotike Seri 2

Semiotika tidak secara luas dilembagakan sebagai disiplin akademis. Ini adalah bidang studi yang melibatkan banyak sikap teoretis dan alat metodologis yang berbeda. Salah satu definisi yang paling luas adalah Umberto Eco, yang menyatakan bahwa ‘semiotika berkaitan dengan segala sesuatu yang dapat dianggap sebagai tanda’ (Eco 1976, 7). Semiotika melibatkan studi tidak hanya tentang apa yang kita sebut sebagai ‘tanda’ dalam percakapan sehari-hari, tetapi juga tentang apa pun yang ‘mewakili’ sesuatu yang lain. Dalam pengertian semiotik, tanda berupa kata-kata, gambar, suara, gerak tubuh, dan objek. Sementara bagi ahli bahasa Saussure, ‘semiologi’ adalah ‘ilmu yang mempelajari peran tanda sebagai bagian dari kehidupan sosial’, bagi filosof Charles Peirce ‘semiotik’ adalah ‘doktrin formal tentang tanda’ yang erat kaitannya dengan Logika (Peirce 1931-58, 2.227). Baginya, ‘sebuah tanda… adalah sesuatu yang berarti bagi seseorang untuk sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas’ (Peirce 1931-58, 2.228). Dia menyatakan bahwa ‘setiap pikiran adalah sebuah tanda’ (Peirce 1931-58, 1.538; lih. 5.250 dst, 5.283 dst). Semiotika kontemporer mempelajari tanda-tanda tidak dalam isolasi tetapi sebagai bagian dari ‘sistem tanda’ semiotik (seperti media atau genre). Mereka mempelajari bagaimana makna dibuat: dengan demikian, tidak hanya memperhatikan komunikasi tetapi juga dengan konstruksi dan pemeliharaan realitas. Semiotika dan cabang linguistik yang dikenal sebagai semantik memiliki perhatian yang sama dengan makna tanda, tetapi John Sturrock berpendapat bahwa sementara semantik berfokus pada apa arti kata, semiotika berkaitan dengan bagaimana tanda berarti (Sturrock 1986, 22). Untuk CW Morris (berasal dari klasifikasi tiga kali lipat ini dari Peirce), semiotika menganut semantik, bersama dengan cabang linguistik tradisional lainnya:

 

semantik: hubungan tanda dengan apa yang mereka perjuangkan;

sintaksis (atau sintaksis): hubungan formal atau struktural antara tanda;

pragmatik: hubungan tanda dengan penafsir (Morris 1938, 6-7).

 

Semiotika sering digunakan dalam analisis teks (walaupun jauh lebih dari sekadar mode analisis tekstual). Di sini mungkin perlu dicatat bahwa ‘teks’ dapat eksis dalam media apa pun dan mungkin verbal, non-verbal, atau keduanya, terlepas dari bias logosentris dari perbedaan ini. Istilah teks biasanya mengacu pada pesan yang telah direkam dalam beberapa cara (misalnya menulis, merekam audio dan video) sehingga secara fisik independen dari pengirim atau penerima. Teks adalah kumpulan tanda (seperti kata, gambar, suara dan/atau gerakan) yang dibangun (dan ditafsirkan) dengan mengacu pada konvensi yang terkait dengan genre dan dalam media komunikasi tertentu.

 

Istilah ‘medium’ digunakan dalam berbagai cara oleh ahli teori yang berbeda, dan dapat mencakup kategori luas seperti pidato dan tulisan atau cetak dan penyiaran atau berhubungan dengan bentuk teknis tertentu dalam media massa (radio, televisi, surat kabar, majalah, buku). , foto, film, dan rekaman) atau media komunikasi antarpribadi (telepon, surat, faks, email, konferensi video, sistem obrolan berbasis komputer). Beberapa ahli teori mengklasifikasikan media menurut ‘saluran’ yang terlibat (visual, auditori, taktil, dan sebagainya) (Nöth 1995, 175). Pengalaman manusia secara inheren multiindrawi, dan setiap representasi pengalaman tunduk pada kendala dan keterjangkauan media yang terlibat. Setiap media dibatasi oleh saluran yang digunakannya. Misalnya, bahkan dalam media bahasa yang sangat fleksibel ‘kata-kata mengecewakan kita’ dalam mencoba untuk mewakili beberapa pengalaman, dan kita sama sekali tidak memiliki cara untuk merepresentasikan bau atau sentuhan dengan media konvensional. Media dan genre yang berbeda memberikan kerangka kerja yang berbeda untuk mewakili pengalaman, memfasilitasi beberapa bentuk ekspresi dan menghambat yang lain. Perbedaan antara media membuat Emile Benveniste berpendapat bahwa ‘prinsip pertama’ sistem semiotik adalah bahwa mereka tidak ‘sama’: ‘kita tidak dapat mengatakan “hal yang sama”‘ dalam sistem yang didasarkan pada unit yang berbeda (dalam Innis 1986 , 235) berbeda dengan Hjelmslev, yang menegaskan bahwa ‘dalam praktiknya, bahasa adalah semiotik yang ke dalamnya semua semiotika lainnya dapat diterjemahkan’ (dikutip dalam Genosko 1994, 62).

Penggunaan media sehari-hari oleh seseorang yang tahu bagaimana menggunakannya biasanya tidak diragukan lagi sebagai tidak bermasalah dan ‘netral’: ini tidak mengherankan karena media berkembang sebagai sarana untuk mencapai tujuan di mana mereka biasanya dimaksudkan untuk menjadi insidental. Dan semakin sering dan lancar suatu media digunakan, semakin cenderung ‘transparan’ atau ‘tidak terlihat’ bagi penggunanya. Untuk sebagian besar tujuan rutin, kesadaran akan suatu media dapat menghambat keefektifannya sebagai alat untuk mencapai tujuan. Memang, biasanya ketika media memperoleh transparansi, potensinya untuk memenuhi fungsi utamanya adalah yang terbesar.