
Situs kesultanan Jawa yang masih aktif, kota Yogyakarta di selatan-tengah Jawa, Indonesia, telah lama dianggap sebagai benteng budaya istana tradisional Jawa. Penduduk kota ini pernah dikenal di seluruh Indonesia karena tutur katanya yang halus dan perilaku sosialnya yang baik. Bahasa Jawa yang secara historis dikaitkan dengan daerah ditandai dengan serangkaian gaya bicara atau “tingkatan” bahasa yang kompleks yang digunakan untuk mengungkapkan dan mengindeks sifat hubungan antara penutur dan lawan bicara. Gaya linguistik ini berkembang di luar istana sebagai salah satu aspek dari sistem rumit diferensiasi simbolis status yang mengatur “hampir setiap aspek penampilan dan pergerakan pribadi”. Gaya bicaranya diperluas pada masa pemerintahan Belanda dan akhirnya menyebar ke luar istana hingga ke banyak wilayah pedesaan. Dalam situasi tutur bahasa Jawa, tidak ada interaksi yang bersifat netral secara linguistik. Dalam setiap pertemuan, pembicara harus menilai status sosial relatif mereka dan memilih gaya bicara yang sesuai dengan hubungan tersebut. Interaksi asimetris merupakan hal yang lumrah. Bahkan di dalam keluarga, anak-anak diharapkan untuk menyapa orang yang lebih tua dengan tingkat ucapan yang lebih hormat dan sebagai balasannya akan menerima bentuk yang lebih familiar.
Pada akhir tahun 1970-an, para ahli bahasa dan antropolog mulai memperhatikan bahwa di Yogyakarta dan di tempat lain, terjadi pergeseran penggunaan bahasa dari bahasa Jawa ke bahasa nasional, bahasa Indonesia. Para ahli menghubungkan pergeseran ini dengan munculnya kelas menengah baru yang terpelajar. Kaum muda merupakan penerima manfaat terbesar dari perluasan kesempatan pendidikan dan pekerjaan yang tersedia di bawah pemerintahan “Orde Baru” Presiden Soeharto (1966–1998). Di Yogyakarta dan di tempat lain, kaum muda perkotaan dan terpelajarlah yang menjadi pendukung paling aktif gerakan menuju penggunaan bahasa Indonesia yang lebih luas.
Peralihan ke bahasa Indonesia baru-baru ini tercatat dalam angka sensus nasional. Membandingkan data sensus tahun 1980 dan 1990, menunjukkan bahwa jumlah remaja yang melaporkan “penggunaan bahasa Jawa sehari-hari” turun 16,3 persen pada periode tersebut, sedangkan jumlah anak muda yang melaporkan “penggunaan bahasa Indonesia sehari-hari” meningkat sebesar 38,9 persen. Meskipun angka-angka ini tampak sederhana dan suku Jawa hampir tidak terancam punah, transformasi penting masih terjadi. Apa yang dapat ditunjukkan oleh angka-angka sensus adalah dua perkembangan penting: pertama, perluasan wilayah Indonesia secara bertahap namun berkelanjutan ke wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan wilayah kekuasaan Jawa, dan, kedua, dampak negatif dari perambahan ini terhadap penggunaan gaya-gaya formal masyarakat. bahasa. Saat ini di Yogyakarta, varian bahasa Jawa formal yang elegan dan halus, yang dulu banyak digunakan di jalanan kota yang ramai, semakin terbatas pada interaksi antar tetangga orang Jawa yang sudah lanjut usia, acara ritual formal (seperti pernikahan), dan pertunjukan kesenian tradisional. Pada saat yang sama, gaya Indonesia yang lebih kasual dan “sosial” semakin populer khususnya di kalangan pemuda Jawa.
#languageshift
#Language
#bahasa
#pergeseranbahasa

