Code Mixing Menjadi Unik di Lagu Ini

NemuCipt. Iskandar Hanafi
Nemu koe pas ati ambyar ambyarePacar seng tak tresnani ninggal aku golek lianeTekamu dadi tomboNgobati ati seng loroMugo ikhlas nompoTekan mbesuk nganti tuoKoe seng paling ngerti marang kahanane atiAku mok semangati ngusap iluhku seng mbrebes miliPepujane ati kinaryo kembange wangiSabar sabarno momong akuMugo selawase dadi sijiMatursuwun gusti mpun maringi seng gemati nemu slirane ngobati ati kang sepiMatur suwun gusti mpun maringi seng gemati yang pergi biarlah pergi ono koe seng ngancani
Code Mixing adalah alih kode , proses peralihan dari satu kode linguistik (bahasa atau dialek) ke kode linguistik lainnya, bergantung pada konteks sosial atau suasana percakapan. Ahli sosiolinguistik, psikolog sosial, dan peneliti identitas tertarik pada cara alih kode, khususnya oleh anggota kelompok etnis minoritas, digunakan untuk membentuk dan mempertahankan rasa identitas dan rasa memiliki terhadap komunitas yang lebih besar.

Lagu Nemu yang dinyanyikan dan dipopulerkan Gilga Sahid ini terdengar unik saat terdengar satu frasa berbahasa Indonesia “yang pergi biarlah pergi”. Lagu ini berbahasa Jawa dan bermakna cukup dalam. Namun apalah daya telinga ini jadi gatal tiba-tiba setelah terdengar dan terselip bahasa Indonesia di dalam keseluruhan lirik berbahasa Jawa yang manis ini.

Jadi ill feel.

#gilgasahid
#nemu
#jawa
#codemixing
#alihkode

Pandangan Keluarga Terhadap Kepemimpinan

Dalam keluarga seorang ayah sebagai pemimpin mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis. Dinamika hubungan dalam keluarga dipengaruhi oleh pola kepemimpinan. Karakteristik seorang pemimpin akan menentukan pola interaksi bagaimana yang akan berproses dalam kehidupan yang membentuk hubungan-hubungan tersebut. Disini keluarga memberikan contoh kepada anak-anaknya. Jika orang tua itu memiliki sikap yang bijaksana maka budaya hidup bijaksanapun akan muncul secara praktis.

Berikut ini contoh dari ajaran dalam keluarga tentang kepemimpinan: adigang, adigung, adiguno yang bermakna untuk menjaga kelakuan, menghindari kesombongan karena kekuatan, kedudukan, dan latar belakang. Aja mbedakake marang sapadha-padha yang bermakna menghargai perbedaan dan tidak membeda-bedakan. Aja dadi uwong sing rumangsa bisa lan rumangsa pinter nanging dadiya uwong sing bisa lan pinter rumangsa yang bermakna larangan untuk jadi orang yang merasa bisa dan merasa pintar tetapi jadilah orang yang bisa dan pintar merasa.

#kepemimpinan

#jawa

Makna dan Praktek Kehidupan, Simbol Antropologi

Domain kebudayaan disini adalah praktek budaya dalam seni dan ritual yang mencerminkan karakteristik individu (Silverstein, 1979 & 1981). Contoh dari makna dalam praktek kehidupan sebagai symbol antropologi adalah kehidupan dalam memahami bahasa yang valid, nyata, benar, dan bagus bagi dunia yang tidak boleh dirusak atau digantikan. Indonesia kaya akan symbol antropologi budaya dan bahasa. Kebudayaan dan bahasa membentuk sebuah prinsip yang mengikat setiap individu untuk melakukannya Levi-Strauss (1966). Bahasa dapat memberikan contoh refleksi budaya dan cara mereka berbagi ide dan pola pikir (Goodenough, 1970, 1981, 1964).

Bahasa merupakan perwujudan budaya masyarakat tergambar pada pepatah Jawa ajining diri dumuning ana ing lathi. Berbicara dengan bahasa yang sopan, dengan kata yang manis, dengan suara yang halus akan membuat simpatik. Dalam bahasa menunjukkan jati diri seseorang terungkap. Orang yang santun, santun pula bahasanya. Bahasa Jawa mengajarkan kepada kita tentang nilai-nilai kemanusiaan antara lain andap asor (rendah hati), empan papan, saling menghormati, pengakuan akan keberagaman, aja dumeh dan tepo seliro. Kesantunan dalam berbahasa Jawa didominasi oleh rasa, oleh karena itu kita sering mendengar orang Jawa mengatakan nek tak rasakake, menawi kula manih, saking manah kula. Ini menunjukkan orang Jawa didalam mengambil keputusan tidak hanya berdasarka logika tetapi rasa dan pikir atau nalar terjadi secara otomatis

Berikut ini adalah contoh-contoh prinsip atau norma didalam kebudayaan Jawa

  • Contoh ngoko lugu yang menunjukkan situasi tidak resmi, status sosial yang sama, berbicara dengan orang asing:

Sapa sing methuk tamu ana ing stasiun Gubeng?

Aku arep menyang pasar

Adhiku arep ditukokake wedhus

  • Contoh ngoko andhap antya basa yang menunjukkan situasi dimana penutur lebih tua daripada mitra tutur, antar priyayi yang sudah kenal dan akrab (kowe diganti seliramu):

Apa wingi seliramu (Kangmas) sido tindak menyang Ngayogya?

Wulan Nopember iki seliramu (Mbakyu) tak aturi rawuh ing kongres Basa Jawa ing Surabaya.

Adhiku arep dipundhutke menda ta pak

  • Contoh ngoko andhap basa antya yang menunjukkan situasi yang akrab dan saling menghormati.

Jare mirsani kethoprak, saiki tindak menyang endi?

Mau esuk tindak kantor, sore iki ngrawuhi pepanggihan ana ing RT

Adhik arep dipundhutke menda to pak

  • Contoh madya ngoko yang menunjukkan situasi akrab, tidak resmi, dan santai antara sesama teman, atasan kepada bawahan (kowe diganti “ndiko”):

Ndiko wayah ngeten kok lungo teng pasar

Kulo ajeng mantuk riyin

  • Contoh Madyatara yang dipakai oleh penutur kepada yang lebih muda atau memiliki derajat yang lebih rendah (kowe diganti kang sliro atau sampeyan):

Sampeyan (kang sliro) napa duwe perlu wigati kok gita-gita?

Kang sliro saiki nyambut gawe ana ngendi?

  • Contoh Madya krama yang dipergunakan untuk menghormati orang lain, tetapi sifatnya sementara dalam suasana yang akrab (tidak ada kosa kata goko kecuali akhiran –e dan –ake dan menggunakan sebutan ‘sampeyan

Wanci ngeten kok sampun kondur, napa empun rampung pandamelan sampeyan?

  • Contoh Basa Krama-Muda Krama yang dipergunakan oleh orng muda kepada orang tua, murid kepada guru, antar teman yang belum akrab. Bentuknya ialah krama, kosa kata krama inggil, kowe diganti dengan panjenengan, awalan dan akhiran krama.

Lho kok, kang Mas, panjenengan punapa saestu tindak dhateng rapat nitihsepeda motor punapan becak?

  • Contoh Basa Krama Kramantara yang dipergunakan dalam pembicaraan antar sesama tetapi si penutur tingkat status sosialnya lebih tinggi dan bukan di tempat umum. Bentuk tuturannya adalah krama. Kata ganti orang kedua ‘kowe’ menjadi ‘sampeyan’.

Sampeyan punapa sampun mlebet dados anggotanipun partai politik, partai punapa?

  • Contoh Basa Krama Wredakrama dipakai dalam pembicaraan oleh orang yang lebih tua kepada mitra bicara yang lebih muda. Betuk tuturannya ialah krama untuk awalan dan akhiran ngoko.

Kados pundi nak, rembag bab kemajenganipun nagari ing parlemen?

  • Contoh Basa Krama Inggil yang dipergunakan oleh orang yang tinggi status sosialnya karena asal usulnya dan jabatannya dimana mitra tutur usianya lebih tua. Krama inggil digunakan untuk menunjukkan rasa hormat.

Nyuwun duka Gusti, kala wingi dalem mboten saged dherekaken tindak dalem, awit anakipun dalem saweg sakit sanget.

  • Contoh Krama Desa yang dipergunakan oleh orang desa yang tidak memahami system tingkat tutur atau kaidah bahasa krama. Kosa kata dijadikan krama karena ingin menunjukkan rasa hormat kepada orang yang diajak bicara misalnya Gunung Kidul menjadi Redi Kidul, Boyo lali menjadi Boyo kesupen, sawahan menjadi sabenan.

Sampeyan punapa kersa mundhut sawo kagungan kula piyambak?

Kula badhe tindak dating sabinan methuk simbah

Punapa panjenengan saking Medunten?

  • Basa Kedaton atau Basa Bagongan adalah bahasa khusus yang dipaki oleh anggota kerajaan dan para pembantu (abdi dalem) bila ada pertemuan dengan raja atau melakukan percakapan di lingkungan kerajaan. Kata-kata yang termasuk bahasa kedaton adalah manise (aku), pukulun atau jengandiko (kowe), enggeh, punapi, boya (ora), seto (doyan), darbe (duwe), besaos (bae).

Pakenira mekaten ampun boya kekirangan punapa-punapi, bebasan kantun dhahar lan tilem besaos

 Basa Kasar adalah bahasa yang dipergunakan oleh penutur untuk merendahkan orang lain karena marah atau emosional

Yen kowe ora jegos, wis minggato kono

Gunung atau Gunungan, Samakah?

Didalam masyarakat Jawa, gunungan biasa dipakai dalam pewayangan, khususnya wayang purwa. Biasanya gunungan ini disebut juga dengan istilah kayon. Gunungan ini dipakai untuk melambangkan pohon kehidupan. Pohon kehidupan yang digambarkan didalam gunungan biasanya adalah pohon Nagasari yang melambangkan pohon kahyangan yakni pohon Dewandaru. Selain pohon kehidupan, juga terdapat gambar binatang yang melukiskan situasi alam.

Dalam pewayangan, ada dua macam gunungan, yakni: gunungan gapuran dan gunungan blumbangan yang diciptakan oleh seniman keraton Kasunan atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwana II pada tahun 1737 Masehi atau 1659. Keunikan dari gunungan gapuran adalah gambar gapura (pintu gerbang) dan diatasnya terdapat gambar banteng dan harimau yang melambangkan konfrontasi antara yang baik dan yang buruk dan ada dua raksasa yang bersenjatakan gada dan perisai yang mengapit gapura disisi kiri dan kanan.

Didalam pewayangan, gunungan digunakan untuk membuka suatu lakon tertentu. Biasanya jika wayang atau lakon belum dimainkan, gunungan ditancapkan di tengah-tengah layar (kelir) dan posisinya sedikit condong ke kanan. Setiap lakon dalam pewayangan mengandung ajaran tentang kebijaksanaan dalam kehidupan.

#gunungan

#gunung

#jawa

Simbol Kepemimpinan Dalam Masyarakat Jawa

Dalam falsafah Jawa, pemimpin yang baik dianggap sebagai titisan Tuhan. Masalah kepemimpinan dalam masyarakat Jawa selalu dikaitkan dengan nilai-nilai ideal yang berorientasi pada dunia supra natural. Pemimpin yang terpilih adalah yang mendapat pulung/ndaru atau wahyu keprabon yang hinggap dalam dirinya sehingga ia sanggup menjadi perantara dunia dan alam gaib, dunia ilahi. Oleh karena itu, pemimpin yang baik adalah orang yang mampu terjemahkan nilai-nilai keadilan dalampraktisi kehidupan.

Tanda-tanda pemimpin sejati (Astabratha) terurai dalam delapan (asta) brata: a) Watak bumi: symbol kemurahan hati seorang pemimpin yang senantiasa memberi kepada sesama, tanpa pamrih menyediakan apapun yang dibutuhkan bagi rakyat yang hidup dibawah naungannya; b) Api: symbol energy dan kekuatan, bukan materi. Kesanggupan dan keberanian untuk menyelesaikan dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara; c) Air atau banyu: adalah watak yang menggambarkan pemimpin harus selalu mengalir dinamis dan memiliki watak rendah hati, andhap asor dan santun dan tidak sombong; d) Watak angin atau udara: watak yang memberikan hak hidup kepada masyarakat dengan memperhatikan kenyamanan bagi masyarakat yang dipimpinnya; e) Surya atau matahari: pemimpin harus menjadi penerang dan pemberi energi kehidupan; f) Bulan atau candra: memiliki kelembutan yang menentramkan; g) Bintang atau kartika: Pemimpin harus menjadi orientasi dan panutan sekaligus mampu memahami perasaan masyarakatnya; Langit atau angkasa: Pemimpin harus memiliki keluasan hati, perasaan, dan pikiran dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa dan Negara.

#jawa

Pikiran, Univerlisme, dan Dunia Nyata

Tradisi Platonis-Rasionalis mengemukakan bahwa gagasan bawaan universal yang mendasari sebuah keanekaragaman pengalaman yang nyata dangkal adalah yang suci. Banyak keinginan mereka bekerja dalam ilmu sosial dan kognitif menganggap tradisi ini sebagai sebuah asumsi latar belakang yang sering tanpa diragukan lagi, di mana teori dilakukan, terutama dalam artikulasi Kantian yang mengasumsikan tingkat menengah representasi mental antara pengalaman indera dan neurologinya realisasi di otak. Kognisi dipahami sebagai penghitungan dengan menggunakan representasi mental ini, Universals of human kognition diturunkan untuk bawaan kendala pada properti dari representasi mental, perdebatan di sebagian besar karya modern dalam ilmu kognitif berputar di sekitar di mana untuk melokalisasi dan bagaimana untuk menyatakan kendala bawaan ini. Pendekatan terakhir, keterkaitan (connectiosm) dan enaksionisme, secara langsung menentang sentralitas representasi mental dalam kognisi ini, dengan alasan bahwa tidak perlu untuk ini tingkat keterwakilan menengah antara dunia sensorik dan neuron aktivitas dan kognisi harus dilihat sebagai hasil jaringan aktivitas, baik neuron (koneksi) atau keseluruhan organisme yang terkandung dan lingkungannya (enactionism).

Sebagai studi komparasi perihal universalisme, pikiran dan keindahan dunia serta implementasinya dalam kehidupan nyata, salah satunya adalah falsafah hidup dalam  budaya Jawa. Filsafat jawa mengandung ajaran “adiluhung” yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat. Ajaran adiluhung tersebut biasanya terwujud dalam mutiara-mutiara kata orang jawa bisa berupa serat, kebudayan jawa, dan lain-lain. Dari ajaran adiluhung tersebut akan dapat mengantarkan seseorang untuk mencapai sebuah keutamaan, kesempurnaan dan kemulyaan. Dan dari sifat-sifa kearifan tersebut seseorang akan memperoleh kesuksesan. Jika disepakati bahwa filsafat jawa di-eja-wantahkan di dalam bentuk seni wayang, maka dalam wayang akan menunjukkan ciri-ciri dasar filsafat jawa didalam pergelarannya, sehingga dasar ontologis bagi wayang adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan atau kearifan.

Di dalam tulisan Dr. Abdullah Ciptoprawiro dalam buku Filsafat Jawa. Beliau mengatakan bahwa isi buku itu menjadi sangat penting karena didalamnya merumuskan adanya sistem filsafat jawa. Beliau melihat bentuk pemikiran di Jawa dari jaman ke jaman, mulai masa pra-sejarah, sampai masa kemerdekaan Indonesia terdapat pola-pola universal yang mendasari filsafat jawa. Beliau sampai pada kesimpulan bahwa pola universal itu adalah usaha manusia untuk mencapai kesempurnaan atau kasunyatan. Oleh karena itu, pada era reformasi, dan demokratisasi pola-pola pemikiran yang universal itu bisa dipastikan tetap ada.

Jika disepakati bahwa filsafat jawa di-eja-wantahkan di dalam bentuk seni wayang, maka dalam wayang akan menunjukkan ciri-ciri dasar filsafat jawa didalam pergelarannya, sehingga dasar ontologis bagi wayang adalah usaha untuk mencapai kesempurnaan atau kearifan. Usaha untuk memperoleh kesempurnaan atau kearifan. itu tidak saja harus bersifat rasional dan empiris tetapi juga harus mengandung unsur rasa yang menjadi ciri khasnya.

#enaksionisme

#adiluhung

#jawa

#wayang

#ontologi

Makna Sebagai Representasi Mental

Disini kita membahas makna dari tanda budaya dan penerapan linguistik. Cara orang memandang sesuatu dengan menggunakan fungsi system nervous sebagai jalinan hubungan kedekatan dari perubahan-perubahan didalam relasi kegiatan diantara komponen-komponennya (Maturana dan Vrela, 1987:164). Biasanya makna mental ditunjukkan dalam penggunaan metafora. Yang dicontohkan oleh kedua peneliti tersebut adalah metaphor orang yang sedang berdansa. Saat berdansa, pasangan tersebut masih tetap kontinu merespon lingkungan dan memberlakukan perilaku yang berubah mengikuti berdasarkan perubahan didalam lingkungannya, misalnya mempercepat atau memperlambat gerakan berdasarkan perubahan ritme. Semuanya itu membutuhkan kepekaan terhadap lingkungan dan koordinasi yang baik didalam hubungan tersebut. Perilaku itu merupakan efek dari pentingnya sejarah dari pembentukan kebiasaan di lingkungan sekitar (Gibson, 1979).

Didalam lingkungan Jawa, makna sebagai representasi mental ini sangat tampak, misalnya kebiasaan masyarakat Jawa yang selalu perhatian di lingkungan sekitar. Berikut ini adalah contoh-contoh kegiatan di masyarakat Jawa yang menunjukkan makna ‘peduli terhadap sesama dan terhadap lingkungannya’ yang sering kita sebut dengan kearifan lokal. Contoh-contoh tentang kepedulian masyarakat Jawa terhadap lingkungan dan sesama saya ambil dari sebuah blog: jejakjejakhijau.blogspot.co.id/2012/ sebagai berikut:

  1. Pranoto Mongso

Perhatian petani terhadap lingkungan terutama untuk bercocok tanam dengan mengikuti tanda-tanda alam dalam mongso yang bersangkutan, tidak memanfaatkan lahan seenaknya sendiri meskipun sarana prasarana mendukung seperti misalnya air dan saluran irigasinya. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya, tidak boleh rakus dengan memanfaatkan alam secara terus menerus tanpa memperhitungkan kesuburannya)

  1. Nyabuk gunung

Cara bercocok tanam dengan membuat teras sawah yang dibentuk menurut garis kontur. Bentuk bercocok tanam seperti ini mencegah terjadinya longsor. (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang menjaga lingkungan alam sekitarnya)

  1. tong royongIstilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Partisipasi aktif tersebut bisa berupa bantuan yang berwujud materi, keuangan, tenaga fisik, mental spiritual, ketrampilan, sumbangan pikiran atau nasehat yang konstruktif, sampai hanya berdoa kepada Tuhan (Makna sebagai representasi mental orang Jawa yang peduli terhadap sesama dan lingkungan).Didalam masyarakat Jawa ada beberapa sifat mental yang bisa dilihat atau diamati.
    1. Pemalu, sungkan tapi suka menyapa

    Orang Jawa suka senyum senyum dan mengangguk ketika berpapasan. Mereka suka menyapa namun biasanya jarang berani memulai percakapan.

    1. Pandai menjaga etika dan sopan santun

    Orang Jawa itu sopan, baik terhadap orang yang lebih tua ataupun terhadap sesama, mereka juga pandai menjaga etika ketika berbaur dalam lingkungan bermasyarakat. Merundukkan badan ketika berjalan didepan orang yang lebih tua sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat Jawa sebagai wujud penghormatan, tata krama, dan sopan santun. Sikap tubuh yang merunduk ini juga merupakan tanda bahwa seseorang sungguh menghargai dan dapat menempatkan posisi dirinya.

    1. Orang Jawa itu pekerja keras dan penurut

    Bila ditinjau dalam lingkup perusahaan, orang Jawa adalah pekerja terbaik. Mereka mengerjakan apa yang seharusnya mereka kerjakan, tak pernah mengeluh, dan berdedikasi tinggi terhadap apa yang dibebankan padanya.

    Orang Jawa menganut filosofi hidup mengalir seperti air dengan menjalani kehidupan seolah tanpa beban dan tanggungan. Yang penting adalah bisa makan, ibadah, dan menghidupi keluarga.

    Sikap orang Jawa adalah sikapnya yang menerima apa adanya terutama dalam hal hubungan. Mereka menerima keadaan apapun dari pasangannya.

    Didalam keluarga, orang Jawa adalah orang-orang yangsuka mengalah.

    Wong Jowo kuwi gampang ditekak-tekuk. Orang Jawa mudah berbaur dengan orang-orang dari suku lain walaupun mereka agak pemalu dan sungkan. Kesopanan dan keramahan orang Jawa membuat orang-orang senang bergaul dengan mereka.

    Bahasa Jawa memiliki strata bahasa halus, sedang, dan kasar. Orang orang Jawa terutama yang berasal dari daerah Yogyakarta, Solo, dan Semarang dikenal dengan kehalusan dan kelembutan bicaranya.

    Banyak sekali tradisi-tradisi yang berawal dari leluhur jawa yang masih lestari dan dilakukan sampai sekarang. Beberapa tradisi tersebut merupakan symbol-simbol dari suau peristiwa penting di masa lalu atau bentuk rasa syukur yang dibingkai dalam sebuah acara.

    Kebiasaan masyarakat untuk menyantap makanan dengan menggunakan tangan dirasa lebih nikmat.

    Hidup mengalir seperti air Menerima apa adanya Suka mengalah, kalem, dan menghindari konflik Gaya dan nada bicaranya sopan Orang Jawa itu luwes Mempertahankan tradisi dan budaya Muluk/puluk

#antropologi

#anthropology

#javanese

#jawa

#linguistics

#linguistik

#orangjawa

Apa Warna Kulitnya?

Mengapa orang Melayu di Malaysia memiliki kulit yang lebih gelap dibandingkan dengan orang Melayu di Indonesia? Saya sudah pergi ke kedua negara ini dan saya masih penasaran tentang ini. Wallace mencatat, warna kulit ras Melayu yang telah berkembang menjadi suku bangsa yang beraneka ragam adalah coklat kemerah-merahan dengan sedikit banyak kuning kecoklatan.

Karena tidak semua orang Indonesia adalah orang Melayu. beberapa di antaranya juga suku Dayak, Sunda, dan Batavia yang cenderung memiliki kulit lebih cerah. Juga, itu karena banyak Melayu Malaysia membawa lebih banyak keturunan India Selatan. Di Malaysia, mereka memiliki komunitas India yang lebih besar daripada di Indonesia dan sebagian besar berasal dari India Selatan.

Dan ras campuran atau “peranakan” di Indonesia sangat umum. Percampuran ras terjadi di seluruh nusantara selama ratusan tahun. Orang Cina dan Arab sudah memiliki koloni perdagangan di seluruh Jawa sejak abad ke-15. Jadi sebenarnya mayoritas orang Indonesia adalah peranakan atau ras campuran.

Tapi, karena Indonesia dan Malaysia memiliki budaya yang sama, menurut saya orang Melayu Indonesia dan Melayu Malaysia memiliki warna kulit dan ciri yang sama.