Dangerous Translation

Sylvia Plath dalam puisinya yang cukup terkenal ‘Daddy’ cukup menyentuh. Tapi kemudian setelah baca terjemahan bebas simbah..jadi sama sekali tak tersentuh.
Jadi depresi!!
Kita tidak mungkin mengandalkan Google untuk menerjemahkan situs yang kita buka. Ada beberapa yang benar dan ada banyak yang salah.
1. Tidak adanya kestabilan terjemahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua. Kadang Google menerjemahkan, kadang tidak.
2. Tidak stabilnya pemakaian istilah dari baris awal ke baris selanjutnya. Tadinya ayah, kemudian daddy..
3. Pemakaian diterangkan dan menerangkan menjadi masalah besar dalam terjemakan laman ini, ternyata simbah tidak paham bahwa ada perbedaan yang cukup prinsip antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
4. Mungkin simbah juga cuma bisa menrjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buktinya ada bahasa Jerman disana. Tapi hasilnya tetap alias nggak ngarti. Xixixi..
5. Terjemah harfiah untuk penulisan karya sastra akan menimbulkan polemik berkepanjangan. Seorang professor di bidang sastra saat ini mendapat tambahan tugas penting yaitu bisa menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, dan hasil terjemahannya juga memiliki nilai sastra yang sama dengan aslinya. Nah loh..
6. Terjemahkan laman mungkin akan berguna bagi mereka yang punya keperluan mendadak hingga sudah tidak lagi memiliki waktu untuk buka2 kamus. Namun demikian bisa juga berguna bagi kepentingan sains karena tidak terlalu berhubungan dengan huruf melainkan angka. Hmm benarkah asumsi ini..Wallahu alam bisshawab

Selanjutnya pendapat maupun analisa yang ditujukan kepada puisi ataupun hasil karya sastra yang lain adalah sepenuhnya ada pada mereka yang berikan apresiasi. Hasil apresiasi karya sastra adalah buah pikiran positif yang bisa menambah khazanah dan wawasan bahkan kepada orang lain yang membaca karya yang sama. Untuk hasil terjemah laman, simbah masih memberikan kesempatan kepada pembaca untuk keperluan editing demi kebaikan semua. Hal yang sama juga dilakukan oleh situs pengetahuan yaitu Wikipedia.

Sylvia memang betul2 menyentuh, sayang terjemah laman-nya menjadi sangat kacau.

Seorang wanita penulis puisi terkenal, tinggal di London ini seringkali mendesain puisinya sangat terpengaruh oleh latar pribadinya yang dikelilingi oleh Nazi Jerman. Daddy adalah salah satu puisi Sylvia yang yang banyak menceritakan tentang pasukan Panzer ini. Tahun 1920 an adalah waktu yang masih purba bagi masyarakat Indonesia, jarang seorang wanita bisa lanjut study dengan mudah. Tapi tidak di London. Saat itu bahkan Sylvia sudah mengajar di perguruan tinggi, ayahnya yang seorang professor bidang sains meninggal saat Sylvia masih kecil karena diabetes. Ini juga sangat mempengaruhi karya2 Sylvia saat itu. Peristiwa2 saat itu bertemu dengan orang2 Yahudi juga salah satu bahan menarik puisi2 Sylvia.

Inilah puisi Sylvia Plath (penulis pusi/Poet favorit saya) berjudul ‘Daddy’, untuk mengenang ayah Sylvia. Tulisan inipun untuk mengenang Sylvia Plath yang mati muda karena bunuh diri di kediamannya di London.

Daddy
Sylvia Plath – Google

You do not do, you do not do Anda tidak melakukannya, anda tidak melakukan apapun lagi
Any more, black shoe Setiap hitam lebih sepatu
In which I have lived like a foot Dimana saya memiliki hidup seperti kaki
For thirty years, poor and white, Selama tiga puluh tahun, miskin dan putih
Barely daring to breathe or Achoo. Nyaris tak berani bernapas atau Achoo

Daddy, I have had to kill you. Ayah, aku harus membunuhmu
You died before I had time —- Anda meninggal sebelum aku punya waktu
Marble-heavy, a bag full of God, Marmer berat, tas penuh Allah
Ghastly statue with one gray toe Mengerikan patung dengan satu kaki abu-abu
Big as a Frisco seal Besar sebagai materai Frisco

And a head in the freakish Atlantic Dan kepala di Atlantik aneh
Where it pours bean green over blue Dimana menuangkan kacang hijau selama biru
In the waters off the beautiful Nauset. Di perairan dari Nauset indah
I used to pray to recover you. Aku digunakan untuk berdoa untuk memulihkan anda
Ach, du. Ach du

In the German tongue, in the Polish town Dalam bahasa Jerman, di kota Polandia
Scraped flat by the roller Besot datar oleh roler
Of wars, wars, wars. Perang, perang, perang
But the name of the town is common. Tapi nama kota biasa
My Polack friend Saya Polack teman

Says there are a dozen or two. Mengatakan ada selusin atau dua
So I never could tell where you Jadi aku tidak pernah bisa mengatakan dimana anda
Put your foot, your root, Letakkan kaki anda, akar anda
I never could talk to you. Aku tidak pernah bisa bicara dengan anda
The tongue stuck in my jaw. Lidah terjebak di rahang saya

It stuck in a barb wire snare. Hal ini terjebak dalam jerat kawat duri
Ich, ich, ich, ich, Ich, ich, ich, ich
I could hardly speak. Aku hampir tidak bisa bicara
I thought every German was you. Saya piker setiap Jerman Anda
And the language obscene Dan bahasa cabul

An engine, an engine, Sebuah mesin, mesin
Chuffing me off like a Jew. Chuffing me off, seperti Yahudi
A Jew to Dachau, Auschwitz, Belsen. Seorang Yahudi ke Dachau, Auschwitz, Belsen
I began to talk like a Jew. Aku mulai berbicara seperti seorang Yahudi
I think I may well be a Jew. Saya rasa say mungkin seorang Yahudi

The snows of the Tyrol, the clear beer of Vienna Salju dari Tyrol, bir jelas Wina
Are not very pure or true. Apakah tidak sangat murni atau benar
With my gypsy ancestress and my weird luck Dengan leluhur gypsy saya dan keberuntungan saya aneh
And my Taroc pack and my Taroc pack Dan saya Taroc pack, dan saya Taroc pack
I may be a bit of a Jew. Anda mungkin sedikit orang Yahudi

I have always been scared of you, Saya selalu suci dari anda
With your Luftwaffe, your gobbledygoo. Dengan anda Luftwaffe, gobbledygoo anda
And your neat mustache Dan anda rapi kumis
And your Aryan eye, bright blue. Dan mata arya anda, biru terang
Panzer-man, panzer-man, O You —- Panser man, panser man, Oh Anda

Not God but a swastika Bukan Allah tapi swastika
So black no sky could squeak through. Jadi hitam langit pun bisa mencicit melalui
Every woman adores a Fascist, Setiap manusia memuja fasis
The boot in the face, the brute Boot di wajah, kasar
Brute heart of a brute like you. Kasar hati seorang, kasar seperti Anda

You stand at the blackboard, daddy, Anda berdiri di papan tulis, Ayah
In the picture I have of you, Dalam gambar yang saya miliki tentan Anda
A cleft in your chin instead of your foot Sebuah celah di dagu anda bukan kaki anda
But no less a devil for that, no not Namun tidak kurang setan untuk itu, tidak ada tidak
Any less the black man who Kurang orang kulit hitam yang

Bit my pretty red heart in two. Bit merah cantik hati saya di dua
I was ten when they buried you. Aku sepuluh ketika mereka mengubur anda
At twenty I tried to die Pada duapuluh aku mencoba untuk mati
And get back, back, back to you. Dan kembali, kembali, kembali kepada anda
I thought even the bones would do. Saya pikir bahkan tulang akan melakukannya

But they pulled me out of the sack, Tapi mereka menarik saya keluar dari karung
And they stuck me together with glue. Dan mereka terjebak sayabersama dengan lem
And then I knew what to do. Dan kemudian aku tau apa yang harus kulakukan
I made a model of you, Saya membuat model dari Anda
A man in black with a Meinkampf look Seorang pria hitam dengan melihat Meinkapf

And a love of the rack and the screw. Dan cinta dari rak dan sekrup
And I said I do, I do. Dan aku berkata aku lakukan, aku lakukan
So daddy, I’m finally through. Jadi ayah, aku akhirnya melalui
The black telephone’s off at the root, Telepon hitam turun di akar
The voices just can’t worm through. Suara suara tidak bisa cacing melalui

If I’ve killed one man, I’ve killed two —- Jika saya membunuh satu orang, aku membunuh dua…
The vampire who said he was you Vampir yang mengatakan ia anda
And drank my blood for a year, Dan minum darah saya selama setahun
Seven years, if you want to know. Tuju tahun jika anda ingin tahu
Daddy, you can lie back now. Daddy, anda dapat berbohong kembali sekarang

There’s a stake in your fat black heart Ada saham dalam hati lemak hitam anda
And the villagersnever liked you. Dan warga desa tidak pernah menyukai anda
They are dancing and stamping on you. Mereka menari dan stamping pada anda
They always knew it was you. Mereka selalu tau bahwa itu anda
Daddy, daddy, you bastard, I’m through. Ayah, ayah, bajingan aku lewat

Published by Ika

I am Rafter, Blogger, and Teacher

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *