Drama Korea

Banyak teman bercerita summary kisah-kisah dalam drama Korea. Entah mengapa drama Korea beberapa tahun belakangan ini menjadi hits dan digemari oleh orang Indonesia. Namun kemudian baru saya sadar setelah menonton beberapa judul drama Korea di TV. Saya kira memang banyak kesamaan yang bisa kita lihat di dalam sinetron luar negeri ini. Kehidupan remaja di Korea Selatan sepertinya hampir sama dengan kehidupan remaja umumnya di Indonesia. Mungkin ada beberapa gelintir saja yang berbuat di luar kebiasaan umumnya. Namun secara garis besar banyak didapat kesamaan kebiasaan antara remaja Korea dan Indonesia. Hal ini menyebabkan penonton Indonesia merasa melihat refleksi atau cermin kehidupan.

Ada beberapa judul yang telah saya saksikan baik melalui VCD, TV maupun Indovision. Beberapa drama ini selalu berakhir bahagia. Namun juga tak jarang berakhir tragis. Ada dua genre kalau boleh saya bedakan diantaranya, yaitu drama modern dan drama sejarah. Drama modern memiliki setting abad ini dan tahun-tahun terakhir. Namun drama sejarah kebanyakan bersetting abad ke 18 kebawah dan lebih banyak memasukkan unsur-unsur sejarah dan budaya. Kesimpulan-kesimpulan sementara boleh diambil karena kehidupan remaja Korea selatan tidak banyak saya ketahui, apakah mereka memiliki kemiripan dan kesamaan dengan kita di Indonesia atau tidak.

Sepertinya kehidupan remaja Korea Selatan santun dan banyak membatasi diri. Norma agama dan sosial masih dijunjung tinggi. Sebagai contoh mereka akan selalu berat melakukan adegan ciuman dan bahkan hanya dengan berpegangan tangan. Kemudian belum pernah juga saya melihat adegan-adegan di ranjang ataupun yang menuju ke atas ranjang. Kalau boleh dikatakan, justru sinetron-sinetron di Indonesia lebih mengarah kesana.

Ada sebuah drama berjudul TO THE BEAUTIFUL YOU, sebuah drama diilhami dari legenda SAMPEK ENG TAY. Yaitu seorang wanita yang ingin melanjutkan studi namun terhalang boleh tradisi bahwa wanita tidak boleh bersekolah lebih tinggi. Hingga kemudian si gadis bernama Eng Tay ini menyamar dan menyelundupkan diri ke dalam sekolah yang dikuasai oleh kaum pria. Dan drama Korea TO THE BEAUTIFUL YOU tersebut juga memakai tema ini. Hanya saja motivasi si gadis bukan karena studi namun karena ingin memberikan motivasi kepada atlit pujaanya, seorang atlit lompat tinggi. Walhasil romantika kehidupan seorang remaja wanita di dalam sebuah sekolah pria menjadi rumit dan menjadi tema besar dalam drama lucu ini. Drama ini berakhir dengan diketahuinya si lembek (panggilannya), ternyata adalah seorang perempuan. Hal ini mengakibatkan dia tidak bisa menyaksikan atlit idolanya berlaga di kompetisi nasional. Namun kemudian bisa saya simpulkan, bahwa benar-benar remaja Korea tidak begitu banyak berpikir negatif untuk beradegan porno. Hal ini karena adat dan budaya yang ratusan tahun berkembang disana.

Lain halnya dengan drama berjudul MY DAUGHTER THE FLOWER. Kisah ini didasari oleh perbedaan miskin dan kaya, yang begitu banyak mendominasi drama-drama Korea. Seorang gadis yang sederhana kemudian yang tiba-tiba bertemu dengan seorang pria tampan dan kaya. Dan kemudian diisi dengan konflik-konflik keluarga. Gadis dan pria ini menjalin hubungan cinta yang cukup rumit karena diketahui bahwa ayah bunda mereka ternyata adalah suami istri. Namun kemudian hubungan percintaan yang sulit ini tidak membuat mereka menjadi surut. Mereka tetap melanjutkan hubungan dengan berbagai macam masalah yang muncul. Di awal-awal saya masih melihat batasan-batasan norma agama, sosial dan budaya sebagai warga Korea Selatan yang patuh dan menjunjung tinggi adat. Tidak banyak saya melihat adegan-adegan khusus bahkan yang mengarah ke ranjang. Saya simpulkan sementara bahwa remaja Korea Selatan memang sama, bahkan dari puluhan drama yang telah saya saksikan.

Namun kemudian cerita berubah. Si gadis ini lalu hamil..

Sungguh perasaan saya jadi ILL FEEL!!

Saking marahnya pada diri sendiri karena menganggap bahwa drama Korea adalah cermin dari masyarakat Korea, saya jadi berekspresi suntuk. Judul drama ini dengan perasaan marah saya ganti menjadi ‘THE FLOWER HAS DAUGHTER”. Meskipun dia melahirkan anak laki-laki. Saya sadar ini hanya drama, semua sudah diatur oleh sutradara. Bagaimana sebenarnya kehidupan remaja Korea Selatan itu sebenarnya, wallahu alam.

Pada dialog ini

Gadis : Ibu, maaf ibu, saya sebenarnya sudah hamil 2 bulan

Ibu : Apah? Hamil?

Ini dialog yang menurutku menyeramkan, saya memprediksikan dialog selanjutanya adalalah kemarahan sang ibu kepada anak bahwa hamil di luar nikah itu adalah pelanggaran agama dan adat Korea Selatan. Toh sahabat si gadis juga diamarahi oleh orang tuanya bahwa hamil di luar nikah itu adalah salah, yang benar adalah nikah dahulu kemudian baru hamil. Hal itu betul-betul saya benarkan. Artinya wanita ibunda dari sahabat si gadis ini menunjukkan kepada audience bahwa di Korea Selatan wanita dan pria itu haru menjalankan nikah terlebih dahulu baru kemudian hamil dan melahirkan. Saya anggap norma ini sudah dipercayai oleh masyarakat Korea Selatan seperti itu.

Namun dengan adanya dialog ini, saya benar-benar menjadi ILL FEEL lagi.

Gadis : Maafkan saya bu

Ibu : Seharusnya kamu bilang pada ibu kalau kamu hamil, kamu tidak bisa rasakan itu sendiri.

Kenapa sang ibu kemudian mengatakan hal itu, dan bukannya memarahi putrinya bahwa ini adalah perbuatan asusila dan tidak dibenarkan oleh adat dan budaya Korea Selatan.

Saya benar-benar tidak habis pikir.

Namun sekilas, dari puluhan judul yang saya saksikan, beradegan sama. Semua masih didasari akhlak dan budi luhur yang tinggi. Dan dibumbui dengan kehidupan dan zaman yang sangat berkembang di KORSEL.

 

Aneyongseo

 

Menulis Adalah Terapi

Menulis Adalah Terapi

Teringat akan instruksi atasan saya, rektor Universitas Islam Negeri Malang memacu saya untuk selalu menulis. Entah tadinya saya anggap ungkapan beliau hanyalah suatu himbauan kosong, namun saat ini bahkan menjadi stigma positif bagi diri saya khususnya. Terinspirasi dengan cara-cara beliau menerjemahkan ide ke dalam sebuah artikel, sayapun berusaha mengikuti cara-cara ini  bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan juga pengalaman-pengalaman adalah inspirasi terbaik untuk mengekspresikan diri ke dalam tulisan.

Dulu banyak tulisan-tulisan yang ingin saya masukkan ke berbagai media. Sebelum ada wadah blog seperti sekarang ini kita harus rela mengantri dan bahkan tidak diterima oleh media karena harus berkompetisi dengan tulisan-tulisan lain. Dulu hanya media cetak yang bisa menampung tulisan-tulisan kita. Namun sekarang saat booming dunia netter dan blogger, para penulis semakin menggeliat dan menunjukkan eksistensinya.

Begitu pula dengan saya yang juga disibukkan dengan kegiatan akademis, dan juga mengembangkan hobi sebagai blogger. Tulisan-tulisan saya yang sempat mengendap di flashdisk dan laptop saat ini sudah saya coba untuk share di website pribadi.

Sebagai seorang ibu seringkali justru disibukkan dengan urusan domestik. Dari sejak pagi setelah sholat shubuh mempersiapkan keperluan anak sekolah, sarapan dan seragam mereka sampai berangkat. Waktu luang hanya saat mereka sudah selesai mengerjakan PR. Itupun kadang kita  sudah lelah. Malam menjelang tidurlah saat yang paling cocok untuk menulis. Teringat pesan atasan saya, rektor UIN Malang untuk selalu menulis kapanpun itu. Beliau selalu menyempatkan diri disaat pagi agar menulis minimal 2-3 tulisan dan menguploadnya ke dalam website. Sehingga dalam satu tahun bisa terkumpul kurang lebih 300 tulisan. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa dan patut ditiru.

Sharing pengalaman dengan memanfaatkan blog dengan tema berbeda saat ini adalah salah satu bagian dari aktifitas blogging saya. Ada 5 blog yang saya kelola berdasarkan tema yang berbeda. Misalnya salah satu blog saya adalah tentang trik dan tips sehat mempersiapkan hidangan sehat untuk keluarga. Saya yakin semua wanita Indonesia memiliki resep-resep favorit keluarga sehingga saya hadirkan dalam blog keluarga Apel Batu saya adalah tips dan triks mempersiapkan hidangan terbaik untuk keluarga. Begitu pula dengan website pribadi saya Lingua Franca yang mencerminkan keingintahuan saya terhadap budaya Indonesia populer.

Kata Bugis atau Makassar seolah-olah seperti energi yang diberikan oleh Tuhan kepada saya untuk menulis. Ada puisi, ada budaya, ada pula sejarah. Kedekatan saya terhadap mahasiswa dan teman-teman asal SULSEL ini cukup menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis. Sehingga ada puluhan tulisan di website pribadi saya diantara 120 yang ada, yaitu tulisan-tulisan mengenai interaksi saya dengan mereka. Tulisan saya lainnya adalah mengenai informasi dan laporan pandangan mata tentang kota Malang, kota dimana saya tinggal. Kota ini benar-benar tak habis-habis memberikan inspirasi untuk menulis. Terutama karena banyaknya candi-candi dan situs yang tersebar di bermacam tempat.

Beberapa lomba blog yang saya ikuti ternyata menjadi cambuk kepada saya untuk tetap menulis dan mencurahkan inspirasi yang telah didapat. Ada tulisan saya yang mengkritik salah satu lomba blog dimana pemenangnya adalah orang-orang yang sama. Seperti ada unsur nepotisme disana. Walhasil tulisan ini menyebabkan derasnya virus hacker dan spamer yang datang bertubi2 ke dalam website saya. Meskipun sempat sedikit kelabakan dan down karena saya yang tidak begitu paham dengan spamer dan hacker maka ini adalah bahan bagi tulisan saya selanjutnya. Belum lagi puluhan email yang ditujukan kepada saya yang mengecam tidak menyurutkan keinginan saya untuk menulis. Artinya dengan menuliskan sebuah akibat dari sebab yang ada, maka tulisan yang baru adalah sebagai terapi. Setelah mengklik publish di dashbor, hati terasa lega dan ringan.

Maka apa yang bunda simpan di dalam hati, di dalam otak, tuangkanlah dalam bentuk tulisan. Dan tulisan adalah sebagai ajang untuk mengekspresikan diri, menuangkan inspirasi dalam bentuk tertulis seperti artikel dan karya seni misalnya puisi, prosa dan novel. Kesemuanya itu begitu melegakan setelah tulisan tersebut dibaca oleh netter. Maka sebenarnya, menulis adalah terapi.

Semangat bunda.. 😀

Analysa Lyric Lagu Genjer2

Latar belakang penciptaan lagu Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), petani di pedesaan sama sekali tidak mampu mengolah lahan karena kebanyakan pria dikerahkan untuk mendukung romusha . Akibatnya terjadi kekurangan pangan dan orang terpaksa memakan segala yang tersedia di lingkungan rumah. Banyak di antaranya yang mengonsumsi genjer , suatu gulma sawah yang sangat pesat tumbuh. Lagu ini memotret situasi pada masa itu.  Kepopuleran lagu Setelah kemerdekaan Indonesia, lagu Genjer-genjer menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia. Penyanyi yang paling dikenal dalam membawakan lagu ini adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet .  Keterkaitan dengan politik  Penggunaan dalam propaganda PKI Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai “lagu PKI”.  Pelarangan oleh pemerintahan Orde Baru Peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965 yang melibatkan PKI membuat rezim Orde Baru yang anti-komunisme melarang disebarluaskannya lagu ini. Menurut versi TNI , para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jendral yang diculik diinterogasi dan disiksa. Peristiwa ini digambarkan pada film Pengkhianatan G 30 S PKI  besutan Arifin C. Noer . Dalam aksi “pembersihan” terhadap komunis di tahun 1966 -1967 di Indonesia, Muhammad Arief , pencipta lagu Genjer-genjer meninggal dibunuh akibat dianggap terlibat dalam organisasi massa onderbouw PKI.  Paska Orde Baru Setelah berakhirnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 , larangan penyebarluasan lagu Genjer-genjer secara formal telah berakhir. Lagu Genjer-genjer mulai beredar secara bebas melalui media internet . Walaupun telah diperbolehkan, masih terjadi beberapa kasus yang melibatkan stigmatisasi lagu ini, seperti terjadinya demo sekelompok orang terhadap suatu stasiun radio di Solo akibat mengudarakan lagu tersebut.

Begitu juga halnya dengan Genjer-Genjer.

Bukalah koran-koran Orba, terutama Api Pantja Sila dan Berita Yudha, edisi hari-hari dekat sesudah 1 Oktober 1965. Selain bercerita tentang perempuan sukarelawan Jamilah yang bersaksi tentang pemotongan penis dan pencungkilan mata para korban, juga bercerita tentang upacara maut sebelum korban dibunuh dengan sadis. Upacara yang berlangsung di Halim itu dinamai “Harum Bunga”, berupa tarian-tarian mesum anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat, di sertai iringan nyanyian bersama lagu Genjer-Genjer. Baris syair yang berbunyi “esuk-esuk pating keleler” (pagi-pagi pada berhamparan), ulangan dari baris yang sama “neng kedhokan pating keleler” (di lahan pada berhamparan), itulah kalimat kunci tentang makna gerakan Letkol Untung. Juga suatu tanda, bahwa G30S sudah dirancang jauh-jauh hari, setidaknya ketika lagu Genjer-Genjer digubah.      Tafsir halusinasi pengidap angst psychose tersebut di atas dikuatkan dengan penemuan berbagai “dokumen” di Halim Perdanakusuma, tempat pasukan Dewan Revolusi berkubu. Salah satu “dokumen” itu berupa buku stensilan kumpulan lagu-lagu untuk paduan suara, yang diterbitkan oleh CC PKI sebagai sumbangan untuk sukarelawan Dwikora yang dilatih di Halim. Isi buku berukuran kertas A4 ini kebanyakan lagu-lagu rakyat, dari berbagai daerah yang diaransemen untuk paduan suara. Yang menarik di antaranya ialah lagu-lagu rakyat Betawi Kr. Kemayoran, Jali-Jali, dan Glatik Nguk-Nguk, aransemen Moh. Sutijoso, dengan syair baru berupa penuangan isi Manipol. Tapi yang lebih menarik lagi ialah dua lagu rakyat Jawa Timur, Madura dan Banyuwangi, yang sejak akhir tahun 1964 telah dinyanyikan sangat meluas, yaitu Tonduk Majeng dan Genjer- Genjer.      Semuanya itu menjadi alasan cukup kuat, bahwa Genjer- Genjer lebih dari sekedar sebuah lagu yang “mempunyai indikasi”. Tapi justru digubah untuk mempersiapkan untuk melakukan gerakan politik, yang diawali dengan pembunuhan secara keji terhadap beberapa jendral TNI Angkatan Darat.

Namun kemudian ini hanya cerita2 non fiktif dibalik lirik lagu Genjer-genjer yang hanya sekedar lirik atau pantun berirama. Secara semantic tak satu katapun mencerminkan konsep gerakan G30S PKI ataupun paham Marxis yang saat itu masih menjadi kontroversi yang cukup kuat tentang kemana arah negara ini akan berada.

Lirik lagu  Versi asli

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler

Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer

Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer

Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh

Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar

Dijejer-jejer diuntingi podo didasar

Dijejer-jejer diuntingi podo didasar

Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan

Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer

ibunya anak-anak datang mencabuti genjer

Dapat sebakul dipilih yang muda-muda

Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Ditata berjajar diikat dijajakan

Ditata berjajar diikat dijajakan

Ibu saya beli genjer dimasukkan dalam tas

Genjer-genjer sekarang akan dimasak

(Jebeng=Saya)

#genjergenjer

Port Rotterdam

Pada suatu kesempatan sekali saya menunjukkan gambar kepada mahasiswa sebagai salah satu dari tujuan pembelajaran yaitu mempergunakan media. Gambar sederhana diperlukan untuk merangsang mahasiswa untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Sebuah gambar langsung saya upload di computer server di ruang laboratorium bahasa dan gambar tersebut dengan jelas tampil di computer mahasiswa sejumlah 24 unit itu.

Saat itu mereka diinstruksikan mengemukakan pendapat apa saja terhadap apa yang mereka lihat, tentu saja dengan mempergunakan bahasa Inggris.

Ini adalah gambar yang dimaksud..

 

Dan setelah gambar ini muncul di PC mereka masing2, saya member pertanyaan sederhana.

“ What do you see in this picture?”

Memandang gambar penuh pesona dengan kualitas warna yang cukup, gedung yang sangat otentik dan lumayan terlihat kuno ini membuat setiap mahasiswaku berkata bahwa gambar ini lokasinya adalah di luar negeri.

Mereka mengatakan “maybe in Europe”

“ Maybe in A village in Dutch”

“ I saw an old house in village”

“ The grass is beautiful that I  never see them in this country”

Sangat beragam opini2 yang muncul sehingga mereka benar2 menyimpulkan bahwa lokasi gambar ini diambil di Eropa.

Akhirnya dengan pelan2 saya menjelaskan dengan hati2  bahwa ini adalah gedung Roterdam.  Gedung ini lokasinya bukan di Belanda atau negara di Eropa lainnya.

Inilah Roterdamm yang letaknya di Makassar Sulawesi Selatan.

Hanya satu pertanyaan yang mereka lontarkan setelah penjelasan itu “Are you sure it is in our country?”

Gigi

Kata kunci memang sangat penting, dalam bahasa Inggris disebut dengan key words. Saat kita sibuk browsing dengan mempergunakan search engine, kata kuncilah yang akan bermain peran disana. Namun kata kunci juga menentukan eratny hubungan antara judul lagu dengan lyric lagu tersebut. Mungkin banyak penikmat lagu yang tidak menyadari bahwa judul lagu dan text lyric lagu tersebut sema sekali tidak berhubungan. Hal ini disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah karena performance dari vokalis yang cukup meyakinkan hingga penikmat lagu bisa menikmati hasil karya musisi ini. Yang lain adalah karena tone lagu bisa diterima oleh semua penggemar lagu di tanah air, baik yang professional maupun  yang tidak, mudah dilantunkan dan bahkan menjadi lahan baru bagi para pengamen karena grip2 yang mudah dimainkan.

Namun perlu kita simak judul lagu ini “My Facebook”. Tadinya harapan saya ingin tahu lebih dalam tentang apa Facebook itu..

My facebook

Berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba, bekas kekasih yang lama hilang, satu dari kekasih yang terbaik, mungkin waktu yang ku persalahkan, mungkin saja keadaan yang salah, terpikir hati untuk mendua, tapi nurani tak bisa mendua, ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama, ku hanya bisa membagi cerita nostalgia, cuma itu yang ku berikan, cuma itu yang ku bisa persembahkan, karna aku ada yang punya, tapi separuh hati ini untukmu, ku bisa saja putuskan dia, ku bisa menutup semua cintaku, tapi apakah kau pun setuju, menyakiti seorang manusia, ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama, berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba hmmm

Dan lalu bandingkan dengan judul lagu dibawah ini “Online” dan simak liriknya.

Online

Siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line.

Tidur telat bangun pagi pagi, nyalain komputer online lagi, bukan mau ngetik kerjaan, e-mail tugas diserahkan, tapi malah buka facebook, padahal face masih ngantuk, beler kayak orang mabuk, pala naik turun ngangguk-ngangguk, sambil ngedownload empitri, colok i pod usb kiri, ngecekin postingan forum, apa ada balesannye? belum

Biar belum sikat gigi belum mandi, tapi kalo belum on line paling anti, liat friendster myspace, youtube, me and him, everybody you too, siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line, jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line.

Nah udah mandi siap berangkat, langsung cabut takut terlambat, tak lupa flash disk gantung di leher, malah lupa sepatu jadi nyeker, flashdisk isinya bokep atau lagu, kalau ada kerjaanpun gue ragu, kalo emang berani coba pada ngaku, cek isi foldernya satu satu, di kantor online pakai proxy, walau diblok server bisa dilolosi, namanya udah ketagihan internet, produktifitaspun kepepet, jam kerja malah chatting ym, ngobrol online sama ehehem, atasan lewat langsung klik data, pura pura kerja di depan mata, siang malam ku selalu , menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line, jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line

Makan siangpun aku cari sinyal wifi, mengapa ku kecanduan oh why why, kadang terasa bagai tak berdaya, ingin ku berubah.. eh ada e-mail dah dulu ya,

Cek e-mail spam semua, email benerannya cuma dua, yang satu email lama, yang satu forwardan yang sama, ngarep komentar buka friendster, loading, gue tinggal beser, pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server, ya udah download lagu, bajakan gratis gak pake ragu, saykoji satu album, setengah jam bisa rampung, sore sore bosen hambar, ide nakal cari cari gambar, download video dengan sabar, ketahuan pacar digampar, siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line, jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line

 

Saya setuju lagu  berjudul Online sangat selaras dengan lirik, dan itulah memang yang terjadi bila seseorang sedang melakukan online. Lain lagi dengan My Facebook, lagu ini mengisahkan tentang seorang pria yang bertemu dengan teman lamanya, sedang dia sudah tidak mungkin lagi untuk melanjutkan hubungan kembali. Kadang memang sama sekali tidak sesuai dengan harapan saya. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Hmm..

Ini hanyalah lagu..bukan yang lain.

Komoditi Kompor

Kompor sudah menjadi komoditi dan home industry bagi sekumpulan warga Joyo. Sejumlah warga aktif memproduk dan  menghasilkan kompor minyak tanah dalam rumah industry mereka. Hasilnya bahkan dikirim ke beberapa negara manca, tentunya yang masih menggunakan kompor sebagai salah satu alat masak mereka.

Seperti salah satunya adalah ibu Simun. Wanita super kaya ini baru saja meninggalkan kita pagi tadi 8 Januari 2009. Rupanya beliau sudah tidak kuasa menahan penyakit diabetes yang telah berpuluh tahun menggerogotinya. Seperti orang kaya yang lain semasa hidup beliau sangat hobby mengenakan perhiasan mas apabila lagi berbelanja ke pasar. Penampilannya sangat menyolok dan membuat mata kita berbinar karena perhiasannya yang berbinar2 pula. Gelang yang beliau pakai bias sampai ke siku2nya. Rantai kalungnya pun lebih dari satu.

Anehnya setiap wanita yang berjualan ataupun para pembeli wanita yang berseliweran di dalam pasar Dinoyo, apabila berpapasan atau bertemu, mereka mencium tangan bu Simun. Seolah2 bu Simun adalah orang yang patut dan sangat dihormati. Dan yang unik lagi bu Simun selalu memanggil setiap wanita di pasar Dinoyo dengan nama panggilan yang sama “Nduk”. Padahal belum tentu mereka lebih muda dari bu Simun. Halah..

Itulah maka, dari sejak puluhan tahun yang lalu, beliau juga mendapat julukan yang khas karena penampilannya. Dialah BUPATI JOYO. Bupati karena beliau adalah salah satu warga Joyo yang cukup berada dan berpenampilan sangat mencolok. Joyo adalah karena beliau dah bertahun2 tinggal di Joyo, desa dengan penduduk yang penghasilannya berasal dari membuat kompor minyak tanah.

Selamat jalan bu Simun..

Berapikah Kawi

Berapikah Kawi?

Di Yogyakarta ada Merapi, di Malang ada gunung Kawi. Tepatnya gugusan gunung Kawi. Kenapa gugusan? Gunung Kawi adalah jajaran perbukitan dan gunung2 yang memanjang dari Selatan yaitu Blitar bagian Timur Selatan sampai sebelah utara kabupaten Malang di sekitar Lawang. Bentuknya nyaris mendekati seseorang yang sedang tertidur lelap menyedekapkan kedua tangannya. Rambutnya pun terurai panjang bak bidadari. Kakiknya terbujur kaku persis di bukit Panderman, bukit dimana menjadi langganan para wall climber.

Tepat di kaki gugusan gunung Kawi disitulah kota Malang berada. Cukup dekat dan dingin. Sebagian hamparan kaki gunung dan puncak2 perbukitan menjadi daerah eksotis dan subur yang sesuai bagi penduduk kota Malang untuk bercocok tanam, menghirup udara yang fresh, dan terutama menngenyam pendidikan di kota yang penuh dengan perguruan tinggi ini. Sungguh lokasi yang cocok.

Tapi betulkah gunung Kawi tidak berapi? Betulkah gunung Kawi mati? Sepertinya hampir2 tidak bisa dibayangkan apabila gunung ini meletus. Gunung ini mati dan terlihat mati, seolah2 sudah tidak ada aktifitas apapun. Hampir setiap orang pun paham sekali dengan gunung Kawi ini. Meski juga mengandung misteri seperti Merapi, gunung Kawi ini hanyalah memiliki kelebihan banyaknya makam para sesepuh yang dikeramatkan, seperti yang ada di Kapanjen. Tepatnya di sebelah selatan gugusan gunung Kawi. Juga seorang keturunan Raja Gowa, Karaeng Galesong, salah satunya dimakamkan di Ngantang, kabupaten Malang. Tepatnya di ujung gugusan Utara gunung Kawi.

Orang2 tua pernah bercerita, konon kabarnya nama Gunung Kawi tidak memiliki arti khusus kalau tidak diperpanjang terlebih dahulu. Kepanjangan dari Kawi adalah ‘kawitan’ atau dalam bahasa Jawa berarti yang awal. Entah benar entah tidak, gunung Kawi memang tidak meletus atau eruption seperti Merapi. Pun tidak memiliki kawah terbelah dan mengeluarkan asap tebal yang membakar. Namun siapa nyana kalau nama kepanjangan Kawi ini adalah ‘kawitan’ yang artinya di akhir hari nanti dia akan meletus.

Nah bila nanti gunung Kawi meletus tandanya adalah awal terjadinya hari Kiamat.

Sebagai manusia yang mempercayai akan adanya hari akhir, ini bukan menjadi masalah besar. Kita sudah terbiasa mendengar khabar letusan dan letupan Merapi yang banyak membawa korban. Bila Kawi meletus kita sudah siap dengan amalan dunia yang sebanyak2nya.

Amin

Sebuah Jalan

SEBUAH JALAN

Sebuah jalan yang tidak terlalu ramai bahkan terkesan sepi, tidak ada aktifitas yang menyolok di jalan kecil ini. Jalan ini berada di tengah2 padat penduduk tak jauh dari Universitas Brawijaya Malang. Hanya beberapa orang lalu lalang dan baberapa sedang menuju ke warung, beberapa yang lain sibuk berbincang di rumah sebelah warung, satu di dalam pagar satu di luar. Salah satu diantara mereka memakai songkok khas Sulawesi.

Karena hari itu hari jumat, mereka sudah siap2 untuk berangkat di masjid Darul Islah, masih di jalan yang sama, jalan “Makassar”. Di masjid ini pula jadwal2 pun terpampang, tugas sebagai muadzin dan khotib tertulis disana, nama2 yang cukup khas.

Warung yang dituju oleh warga di jalan ini pun tidak begitu ramai. Mereka duduk makan pagi dan minum kopi. Sambil sekedar bercengkerama dan berbasa-basi mereka menyantap makan pagi yang tersedia apa adanya di warung kecil ini. Sayup2 terdengar perbincangan2 khusus diantara mereka.

“Kapan ada pengumuman test TPA Bapenas” terdengar salah satu diantara mereka bertanya sambil sedikit nyruput kopi yang sudah mulai dingin.

“Kita musti cari tau itu di PPS atau di FIA” terdengar dengan logat yang cukup khas sambil menghabiskan makanan yang belum juga habis di piring. FIA adalah salah satu fakultas di UB yang memfasilitasi ujian masuk bagi mahasiswa pasca.

Kemudian dengan sedikit tergopoh2 seorang bapak masuk ke dalam rumah. Pria paro baya dan sudah beruban rambutnya ini tinggal kost di dalam rumah warung tersebut. Tas laptop pun tergantung cukup berat di pundaknya. Dengan sedikit mengeluh, keluar juga pembicaraan yang khusus pula.

“Kita ini sudah tua, dosen maunya kita harus buka akun facebook untuk bisa lihat tugas2 yang diberikan melalui internet. Kalo kita sih maunya kerjakan tugas seperti biasa, tapi kalau dosen sudah menginstruksikan begitu kita mau bilang apa” kembali dengan logat yang cukup khas bahkan sedikit lebih cepat dari yang lain. Terutama saat bapak ini mengucapkan kata “apa”, benar2 terdengar sangat khas.

Tak lama kemudian datang kembali beberapa orang. Mereka pun langsung memesan makanan yang tersedia dengan menu yang cukup terbatas pula. Memang hanya warung ini yang ada di jalan ini, ada satu lagi warung yang tidak jauh namun rupanya beberapa orang lebih memilih warung ini. Motor2 pun berhenti persis di bawah pohon mangga depan warung yang sudah cukup tua kelihatan pohonnya. Nomor polisi nya pun hampir seragam, DD. Motor lain dengan nomor polisi yang sama parkir di dalam rumah pemilik warung.

“Bu nanti tolong bikinkan sayur yang dicampur bumbu kelapa” terdengar salah seorang bapak memesan makanan pada pemilik warung, dia sibuk melihat makanan yang didisplay dan ternyata makanan yang dia pesan tidak tersedia disana.

Si ibu pun menjawab dengan cukup ramah.
“Oh bapak suka sayur yaa..” dengan nada ramah ibu pemilik warung tersebut menawarkan menu lain yang mungkin tidak tersedia hari itu. Dan kemudian bapak2 yang lain pun mengangguk mengiyakan. Mungkin ini juga salah satu menu kesukaan mereka, sayur bumbu kelapa.

“ Bu gimana kalo bikin coto? “ salah satu bapak yang duduk disitu langsung menimpali, berharap bisa makan makanan favorit mereka saat di Makassar.

“ Nopo coto niku pak? (apa coto itu pak) Dahinya pun mengernyit. Si ibu pemilik warung rupanya tidak paham dengan nama makanan yang disebutkan oleh salah satu bapak barusan, hingga dengan spontan keluar pertanyaan dengan bahasa jawa, mungkin karena antusiasnya.

“ Ibu tidak tau coto ya” dengan enteng salah satu bapak menjawab. Semua pembeli disitu pun senyam senyum saling melirik. Dan akhirnya salah satu dari mereka berusaha menjelaskan salah satu makanan khas Makassar.

“Coto itu soto bu kalau disini, hanya bahan dan bumbunya ada yang berbeda. Kami biasa makan coto disana” . Si bapak yang berkacamata terlihat cukup bijak menjelaskan apa coto itu kepada ibu. Si ibu pun ngangguk2 seolah memahami apa kata para pembeli disitu. Mungkin saja dia akan mencoba masak coto, mungkin juga tidak. Bumbu coto Makassar sangat beragam dan cara masaknya yang khas pula membuat para penikmatnya menjadi fanatik untuk menyantap makanan yang satu ini.

Sabtu pagi pun mulai menghangat, udara kota Malang berubah dari dingin menjadi sedikit panas. Beberapa orang masih lalu lalang dengan membawa tas laptop. Seseorang diantaranya melirik ke arah kerumunan di warung. Kelihatannya dia ingin menuju ke suatu tempat tapi ingin mampir dulu di warung tempat berkumpul bapak2 dan ibu2 yang memang terlihat sedang ngobrol ringan.

“ Aga kareba” kata bapak berbaju kotak2 datang dengan senyum dan sudah mulai berpeluh. Rupanya dia datang dari gang sebelah dimana banyak juga teman2 dari daerah asal yang sama. Semuapun tersenyum melihat kedatangannya.

“ Lagi ngapain semua ngumpul disini, bikin partai baru ka? senyum bapak berbaju kotak itu semakin melebar.

“ Ti ..da”, dengan logat khas semuapun menjawab sembil senyum2 simpul. Ibu pemilik warung juga tak ketinggalan senyum dengan deretan giginya yang nampak jelas.

“ Saya mau ke Togamas, ada yang mau ikut? bapak berbaju kotak ini menawarkan dengan ramah. Togamas adalah salah satu toko buku yang terkenal murah di Malang. Mungkin karena masih hari itu hari Sabtu, mereka hanya senyum2 saja tidak menjawab. Kuliah lima hari di Universitas Brawijaya membuat kepala menjadi pening, belum lagi tugas2 yang dibebankan begitu berat. Mungkin hari Sabtu adalah hari yang sangat tepat untuk mengstirahatkan pikiran untuk sementara.

Kemudian beberapa saat kemudian muncul lagi dari depan seorang ibu yang datang. Dengan tersenyum simpul ibu berbaju batik masuk ke pelataran warung yang sudah dipenuhi beberapa orang yang makan atau sekedar mampir berbincang sekedarnya.

“ Udah siap” tanya ibu tersebut singkat. Logat khasnya juga terdengar jelas dan sulit dibedakan dengan logat bapak2 dan ibu2 yang berkumpul di warung tersebut.

Bapak berkacamata baru saja menyelesaikan sarapan paginya ternyata dari tadi juga sudah menunggu ibu berbaju batik tersebut. Mereka bertiga akan mengunjungi toko buku Togamas untuk mencari buku2 test TPA Bapenas dan buku2 TOEFL. Kedua buku ini banyak menjadi incaran para mahasiswa yang akan melanjutkan studi ke pasca sarjana.

Jalan Makassar menjadi riuh dengan logat dan suara2 khas. Tak beda dengan jalan Panakukkang di Makassar. Dan kemudian jalan ini menjadi langganan para mahasiswa asal Sulawesi, para candidat doktor terutama mereka yang akan menempuh studi lanjut di pasca sarjana. Jalan yang asalnya adalah jalan MT Haryono Gang VI menjadi legenda khas masyarakat seputar kampung disana yaitu JALAN MAKASSAR.

Salama’

Dangerous Translation

Sylvia Plath dalam puisinya yang cukup terkenal ‘Daddy’ cukup menyentuh. Tapi kemudian setelah baca terjemahan bebas simbah..jadi sama sekali tak tersentuh.
Jadi depresi!!
Kita tidak mungkin mengandalkan Google untuk menerjemahkan situs yang kita buka. Ada beberapa yang benar dan ada banyak yang salah.
1. Tidak adanya kestabilan terjemahan dari bahasa pertama ke bahasa kedua. Kadang Google menerjemahkan, kadang tidak.
2. Tidak stabilnya pemakaian istilah dari baris awal ke baris selanjutnya. Tadinya ayah, kemudian daddy..
3. Pemakaian diterangkan dan menerangkan menjadi masalah besar dalam terjemakan laman ini, ternyata simbah tidak paham bahwa ada perbedaan yang cukup prinsip antara bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
4. Mungkin simbah juga cuma bisa menrjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buktinya ada bahasa Jerman disana. Tapi hasilnya tetap alias nggak ngarti. Xixixi..
5. Terjemah harfiah untuk penulisan karya sastra akan menimbulkan polemik berkepanjangan. Seorang professor di bidang sastra saat ini mendapat tambahan tugas penting yaitu bisa menerjemahkan bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia atau sebaliknya, dan hasil terjemahannya juga memiliki nilai sastra yang sama dengan aslinya. Nah loh..
6. Terjemahkan laman mungkin akan berguna bagi mereka yang punya keperluan mendadak hingga sudah tidak lagi memiliki waktu untuk buka2 kamus. Namun demikian bisa juga berguna bagi kepentingan sains karena tidak terlalu berhubungan dengan huruf melainkan angka. Hmm benarkah asumsi ini..Wallahu alam bisshawab

Selanjutnya pendapat maupun analisa yang ditujukan kepada puisi ataupun hasil karya sastra yang lain adalah sepenuhnya ada pada mereka yang berikan apresiasi. Hasil apresiasi karya sastra adalah buah pikiran positif yang bisa menambah khazanah dan wawasan bahkan kepada orang lain yang membaca karya yang sama. Untuk hasil terjemah laman, simbah masih memberikan kesempatan kepada pembaca untuk keperluan editing demi kebaikan semua. Hal yang sama juga dilakukan oleh situs pengetahuan yaitu Wikipedia.

Sylvia memang betul2 menyentuh, sayang terjemah laman-nya menjadi sangat kacau.

Seorang wanita penulis puisi terkenal, tinggal di London ini seringkali mendesain puisinya sangat terpengaruh oleh latar pribadinya yang dikelilingi oleh Nazi Jerman. Daddy adalah salah satu puisi Sylvia yang yang banyak menceritakan tentang pasukan Panzer ini. Tahun 1920 an adalah waktu yang masih purba bagi masyarakat Indonesia, jarang seorang wanita bisa lanjut study dengan mudah. Tapi tidak di London. Saat itu bahkan Sylvia sudah mengajar di perguruan tinggi, ayahnya yang seorang professor bidang sains meninggal saat Sylvia masih kecil karena diabetes. Ini juga sangat mempengaruhi karya2 Sylvia saat itu. Peristiwa2 saat itu bertemu dengan orang2 Yahudi juga salah satu bahan menarik puisi2 Sylvia.

Inilah puisi Sylvia Plath (penulis pusi/Poet favorit saya) berjudul ‘Daddy’, untuk mengenang ayah Sylvia. Tulisan inipun untuk mengenang Sylvia Plath yang mati muda karena bunuh diri di kediamannya di London.

Daddy
Sylvia Plath – Google

You do not do, you do not do Anda tidak melakukannya, anda tidak melakukan apapun lagi
Any more, black shoe Setiap hitam lebih sepatu
In which I have lived like a foot Dimana saya memiliki hidup seperti kaki
For thirty years, poor and white, Selama tiga puluh tahun, miskin dan putih
Barely daring to breathe or Achoo. Nyaris tak berani bernapas atau Achoo

Daddy, I have had to kill you. Ayah, aku harus membunuhmu
You died before I had time —- Anda meninggal sebelum aku punya waktu
Marble-heavy, a bag full of God, Marmer berat, tas penuh Allah
Ghastly statue with one gray toe Mengerikan patung dengan satu kaki abu-abu
Big as a Frisco seal Besar sebagai materai Frisco

And a head in the freakish Atlantic Dan kepala di Atlantik aneh
Where it pours bean green over blue Dimana menuangkan kacang hijau selama biru
In the waters off the beautiful Nauset. Di perairan dari Nauset indah
I used to pray to recover you. Aku digunakan untuk berdoa untuk memulihkan anda
Ach, du. Ach du

In the German tongue, in the Polish town Dalam bahasa Jerman, di kota Polandia
Scraped flat by the roller Besot datar oleh roler
Of wars, wars, wars. Perang, perang, perang
But the name of the town is common. Tapi nama kota biasa
My Polack friend Saya Polack teman

Says there are a dozen or two. Mengatakan ada selusin atau dua
So I never could tell where you Jadi aku tidak pernah bisa mengatakan dimana anda
Put your foot, your root, Letakkan kaki anda, akar anda
I never could talk to you. Aku tidak pernah bisa bicara dengan anda
The tongue stuck in my jaw. Lidah terjebak di rahang saya

It stuck in a barb wire snare. Hal ini terjebak dalam jerat kawat duri
Ich, ich, ich, ich, Ich, ich, ich, ich
I could hardly speak. Aku hampir tidak bisa bicara
I thought every German was you. Saya piker setiap Jerman Anda
And the language obscene Dan bahasa cabul

An engine, an engine, Sebuah mesin, mesin
Chuffing me off like a Jew. Chuffing me off, seperti Yahudi
A Jew to Dachau, Auschwitz, Belsen. Seorang Yahudi ke Dachau, Auschwitz, Belsen
I began to talk like a Jew. Aku mulai berbicara seperti seorang Yahudi
I think I may well be a Jew. Saya rasa say mungkin seorang Yahudi

The snows of the Tyrol, the clear beer of Vienna Salju dari Tyrol, bir jelas Wina
Are not very pure or true. Apakah tidak sangat murni atau benar
With my gypsy ancestress and my weird luck Dengan leluhur gypsy saya dan keberuntungan saya aneh
And my Taroc pack and my Taroc pack Dan saya Taroc pack, dan saya Taroc pack
I may be a bit of a Jew. Anda mungkin sedikit orang Yahudi

I have always been scared of you, Saya selalu suci dari anda
With your Luftwaffe, your gobbledygoo. Dengan anda Luftwaffe, gobbledygoo anda
And your neat mustache Dan anda rapi kumis
And your Aryan eye, bright blue. Dan mata arya anda, biru terang
Panzer-man, panzer-man, O You —- Panser man, panser man, Oh Anda

Not God but a swastika Bukan Allah tapi swastika
So black no sky could squeak through. Jadi hitam langit pun bisa mencicit melalui
Every woman adores a Fascist, Setiap manusia memuja fasis
The boot in the face, the brute Boot di wajah, kasar
Brute heart of a brute like you. Kasar hati seorang, kasar seperti Anda

You stand at the blackboard, daddy, Anda berdiri di papan tulis, Ayah
In the picture I have of you, Dalam gambar yang saya miliki tentan Anda
A cleft in your chin instead of your foot Sebuah celah di dagu anda bukan kaki anda
But no less a devil for that, no not Namun tidak kurang setan untuk itu, tidak ada tidak
Any less the black man who Kurang orang kulit hitam yang

Bit my pretty red heart in two. Bit merah cantik hati saya di dua
I was ten when they buried you. Aku sepuluh ketika mereka mengubur anda
At twenty I tried to die Pada duapuluh aku mencoba untuk mati
And get back, back, back to you. Dan kembali, kembali, kembali kepada anda
I thought even the bones would do. Saya pikir bahkan tulang akan melakukannya

But they pulled me out of the sack, Tapi mereka menarik saya keluar dari karung
And they stuck me together with glue. Dan mereka terjebak sayabersama dengan lem
And then I knew what to do. Dan kemudian aku tau apa yang harus kulakukan
I made a model of you, Saya membuat model dari Anda
A man in black with a Meinkampf look Seorang pria hitam dengan melihat Meinkapf

And a love of the rack and the screw. Dan cinta dari rak dan sekrup
And I said I do, I do. Dan aku berkata aku lakukan, aku lakukan
So daddy, I’m finally through. Jadi ayah, aku akhirnya melalui
The black telephone’s off at the root, Telepon hitam turun di akar
The voices just can’t worm through. Suara suara tidak bisa cacing melalui

If I’ve killed one man, I’ve killed two —- Jika saya membunuh satu orang, aku membunuh dua…
The vampire who said he was you Vampir yang mengatakan ia anda
And drank my blood for a year, Dan minum darah saya selama setahun
Seven years, if you want to know. Tuju tahun jika anda ingin tahu
Daddy, you can lie back now. Daddy, anda dapat berbohong kembali sekarang

There’s a stake in your fat black heart Ada saham dalam hati lemak hitam anda
And the villagersnever liked you. Dan warga desa tidak pernah menyukai anda
They are dancing and stamping on you. Mereka menari dan stamping pada anda
They always knew it was you. Mereka selalu tau bahwa itu anda
Daddy, daddy, you bastard, I’m through. Ayah, ayah, bajingan aku lewat

Sorry I’m Driving

Pengalaman yang menegangkan, mengesankan, mengasikkan, dan susah untuk dilupakan. Waktu seminar Asia TEFL di Hotel Sanur Paradise Sanur Denpasar Bali. Maklum kita tidak pernah pergi2 jauh. Tapi yang namanya tugas ya harus dijalankan mau tidak mau, jauh2 juga harus disamperin.

 

Berangkat pake bus Gunung Harta yang dingin banget kayak di kutub aja. Inii bis bener2 dah di set seperti di dalam kulkas. Sudah pake jaket dan selimut masih adhemmm … aja, hiiihhh.. Driver Gunung Harta cakep juga, hehe. Tapi aneh juga, dia gak ngobrol sedikitpun, maklum dia lagi serius nyalip2 truk2 dari Pasuruan menuju ke arah Timur. Dia seperti nggak pernah tenang, nggak sabar pengen mendahuluin setiap truk yang menuju ke arah yang sama. Pelit bicara banget dia. Co driver nya juga jarang diajak bicara, padahal tadinya kulihat di garasi bis Pattimura mereka saling ngobrol .

 

Huft ..  ternyata pendapatku salah, setelah di penyebrangan dan sampe Gilimanuk  dan Jembrana di pulau Bali, dia mulai nyerocossh gak karua2an… fiuhh, jadi cerewet banget nih.

 

Dan woww .. aku baru tau ternyata dia Balineese…

Ooo jadi dia nunggu sampe di pulau Bali baru berani bicara.

Wah kengken!!…

 

Yang bikin aku tegang sampe di penyebrangan veri Ketapang Banyuwangi, kita semua yang KTP Jawa suruh turun semua. Mereka memeriksa semua KTP kita, mungkin dikira kita teroris kale. Tapi sebel juga, KTP ku digunting pinggirnya, jadi sekarang KTP ku terbuka. Masih untung, KTP punya pak Joko temenku dipotong jadi dua dhwelll dhwelll.. wahhh. Kenapa seh jadi anarkhis gitu yak??

Tegang banget lah! Abis malem2 masih ngantuk digiring kesana kemari, dah kayak teroris dah ..

Wong kita di penyebrangan sekitar jam 2 malam, siapa gak takut. Kita ngantuk2 dibentak2 suruh turun dan diinterogasi sama polisi2 berbahasa jawa lage. Kirain pake bahasa Bali..Hiiihh.

 

Beruntung sekali aku dapat kesempatan meskipun ke Bali, tapi bisa bertemu dengan 700 orang pakar pendidikan bahasa Inggris dan linguistik. Ada professor Jack Richard ada David Nunan dan Rod Ellis. Sungguh mereka adalah penemu2 metode mengajar yang sangat brilian, karena sudah dipakai dan dibuktikan di seantero penjuru dunia. Mereka masih energik, masih berkarya dan masih amat sangat terkenal sejalan dengan semakin tuanya Noam Chomsky yang juga terkenal di bidang linguistik, dengan semakin tua beliau, sama sekali ntidak menghambat beliau untuk terus berkarya.

 

Untunglah aku punya sahabat di denpasar Endang Sri Rahayu dan segera kukontak dia untuk bisa tinggal di rumah dia sementara. Wah dia seneng banget, aku juga sangat berterimakasih dia mau nerima aku selama dibali bobo dirumah dia gratis..hehe. Selama disana aku diperkenalkan dengan makanan2 Bali dan, pelecing dan segala macam. Aku juga diajak keliling denpasar, hmm bener2 deh, maklum lah aku jarang keluar kota . Aku bener2 melihat pemandangan baru, yang biasanya hanya kulihat di TV.

Betapa ndesonya . .maklum katrok.

 

Di hotel Sanur Paradise, hotel dekat pantai Sanur yang cukup besar dan asri dan lumayan dingin dengan hawa hangat Denpasar yang lumayan membakar, selama seminar aku dapat 3 kali makan, breakfast dinner dan lunch, dan semua notabene makanan khas hotel yang tentunya makanan2 yang tersedia adalah makanan internasional. Pada suatu saat, ini bener2 pengalaman yang cukup mendebarkan berada di hotel itu, aku santai aja ambil makanan di buffet. Semua makanan diberi label, tapi aku lupa melihat label tersebut. Setelah ambil nasi ada berbagai menu ditawarkan, salah satu kusendok aja secukupnya tanpa melihat labelnya. Kayaknya sih ayam di beri saus kuning seperti kunyit. Temen di sebelah senggol2 sambil melirik, eh kenapa ambil itu, coba lihat label nya.

Kuamati dengan seksama sambil mengerbyitkan alis label kayu itu dan kubaca dengan hati2, waduh ternyata Chicken Grilled with Wine. Berarti…??? Eladalahhhh!!

 

Hmm tanpa babibubebo.. kukembalikan semua ayam yang telah kuambil barusan lalu tanpa berpikir panjang aku langsung nyelonong menuju meja lain yang menyediakan menu bali, disana ada pelecing kangkung dan sambel matah. Uh lega rasanya, piring kuletakkan di tempat piring kotor, lalu kuganti dengan piring baru.

 

Ya Tuhan hampir saja menkonsumsi makanan dengan campuran wiski di dalamnya. Aku tak sadar ada seseorang yang mengamati gerak gerikku dari tadi. Dia terheran2 dan curiga banget, seperti ingin bertanya. Akhirnya diapun bertanya juga, in English.

 

“Why did you put them back?” sambil mengernyitkan dahi.

 

Wow aku gak tau bagaimana mau jawab pertanyaan dia. Bagaimana cara mengungkapkan pada dia bahwa makanan ini haram. Bagaimana caranya bilang padanya bahwa makanan ini dilarang oleh agama ku.

 

Hmm aku berpikir cepat untuk menjawab, dia betul2 menunggu jawaban.

 

“Sorry I put them back because I am driving”,

Halah binun.

 

Daripada gak nJawab.