Siapakah Srikandi BST Solo?

Driver BST Vega Irawati

Jika lagi di Solo kita akan temukan transportasi umum dengan mempergunakan moda bus atau bus kota. Di Solo transportasi ini disebut BST atau Batik Solo Trans. Bis BST ini ada beberapa type kendaraan bus, ada berbagai macam jurusan atau koridor, dan ada beberapa cara bayar.

Saya adalah pengguna bis yang gede dan mentereng ini. Saya gunakan bis ini dari sejak masih bayar sebesar 4500 rupiah lalu ada beberapa waktu naik bis ini gratis tanpa bayar, meskipu harus tetap tapping kartu. Dan saat ini moda transportasi ini menjadi berbayar yaitu sebesar 3700. Sejak awal Juli bahkan berubah lagi menjadi 3700 untuk dua kali tapping dalam rentang waktu 1,5jam.

Sebenarnya saya tidak pernah mengamati driver BST yang cukup banyak hingga kemudian bertemu dengan seorang wanita cantik, seorang driver BST wanita. Dialah Srikandi BST se Solo Raya, mbak Vega Irawati. Tadinya saya nggak memperhatikan driver bis BST yang kucegat di depan UNS. Dan suatu hal baru yang tidak pernah kutemukan di kotaku, Malang. Bahwa ada saja kutemukan beberapa orang menyapa driver, terutama saat hari masih pagi. Sapaan penumpang kepada driver itu juga kudengar menyapa mbak Vega Irawati dan dijawab pula dengan ramah.

Tiga kali kubertemu dengan mbak Vega, kurasa sangat tepat kalau kusebut beliau dengan Srikandi BST karena memang mbak Vega adalah driver perempuan satu-satunya di Solo. Dan type bis yang dibawa oleh mbak Vega ini adalah type terbesar dan terpanjang rutenya. Yaitu Palur-Bandara.. rute yang harus ditempuh dalam 1,5jam hingga 2 jam. Bisa dibayangkan betapa perkasanya mbak yang mengalahkan driver2 mas-mas yang kadang mungkin kurang sabar dalam menghadapi penumpang. Saya yang nggak bisa stir mobil, cuma duduk dan terpana di bis sambil menunggu turun, jangankan stir mobil, stir odong-odong aja nggak bisa pemirsah.

Di hari Kartini yang sudah berlalu, banyak topik-topik wanita pejuang. Seperti pilot wanita, pelatih anjing wanita dll. Dan mungkin predikat ini sangat tepat diberikan kepada mbak Vega, seorang driver tangguh yang berani ambil type bus terbesar, dan rute terpanjang BST di Solo Surakarta.

Semangat mbak Vega, tetap tampil modis di tengah-tengah para driver arjuna se Solo Raya.

#vegairawati

#BST

#bisBST

#surakarta

#solosurakarta

Sebuah Pertanyaan Konyol

Mobil Ford Mustang GT 5.0 2018

Sebuah pertanyaan konyol muncul.

(Bahasa Jawa) Pangeran Diponegoro sedane tahun pira?

(red) Pangeran Diponegoro meninggal tahun berapa?

Kalau pertanyaan ini pada kata sedane dibaca dengan huruf d, bukan dhe maka jawabannya akan rancu. Karena pertanyaan itu dibacanya menjadi seperti ini :

“Pangeran Diponegoro mobil sedannya tahun berapa ya?”

Huruf d dalam bahasa Jawa ada dua macam yaitu dibaca murni d dan dhe (glottal stop) yang mengandung huruf h di dalamnya. Ada sekilas hembusan nafas keluar dari mulut saat mengucapkan huruf d kedua.

Maka jika ditanyakan Pangeran Diponegoro sedane tahun pira, bisa jadi jawabannya akan menjadi ajang standup comedy. Hal ini seperti pertanyaan “Kamu nikah dengan teman sekelas?” Sudah tentu jawabnya akan memancing gelak tawa juga. Akan nikah dengan salah seorang teman di dalam kelas atau semua teman di dalam kelas akan dinikahin. Bahkan yang LGBT pun.. !@#$%^&*()

Sedang jawaban untuk sedane tahun piro bisa jadi adalah mobil sedan yang dikendarai oleh pangeran Diponegoro saat itu adalah tahun berapa. Nah yang kita tahu Pangeran Diponegoro tidak mengendarai sedan, tapi kuda.  Lalu kemudian muncul jawaban konyol bin kocak. Iya bener Pangeran Diponegoro mengendarai kuda Mustang Ford 2022. Itu kan kuda juga..

Ngarang pol !@#$%^&*()

#mustangford

#pangerandiponegoro

#glottalstop

#MobilFordMustangGT 5.0 2018

Guyonan Pendek Mas Walkot

Pernah sekali bertemu dengan pak Walikota Surakarta yaitu Gibran Rakabuming Raka atau putera dari Presiden Indonesia Bapak Jokowi. Saat itu mas Gibran, orang lebih sering memanggilnya begitu, sedang mengunjungi kampusku UNS Surakarta. Dan selalu ada kerumunan wartawan saat walikota hendak beranjak pulang.

Ada dialog pendek yang dibicarakan saat wartawan berkerumun. Sebuah pembicaraan unik, yaitu saat wartawan iseng menanyakan latar belakang studi Gibran Rakabuming. Tentu saja orang nomor satu di Solo ini menjawab sekenanya. Hal ini karena semua sudah tau kalau  latar belakang pendidikannya terakhir adalah di Singapura.

Sehingga mas walkot ini pun menjawab dengan ringan

“cek’en dewe nang kampusku kono loo, nang Singapura”

(red) Cek saja sendiri di kampusku sana, di Singapore”

Sebuah jawaban yang menohok.

Karena siapa juga yang mau cek latar belakan pendidikan Gibran yang harus ngeloyor ke Singapura. Habis di ongkos.. 😀

Untungnya pertanyaan ini tidak ditanyakan ke arema seperti aku.. 😀

Coba kalau pertanyaan tersebut dilayangkan pada arema. Jawabannya menjadi seperti ini :

Cek’en nang kampusku kono lo ndeng!

Ada kata ndeng di akhir kalimat. Ndeng kependekan dari kata gendeng atau gila. Kadang terms of address dengan phatic communion ini juga menggunakan kata cuk. Dua kata ini seolah sudah menempel tanpa sadar saat berbicara dua arah. Darah arema memang..

#slangwords

#phaticsommunion

#termsofaddress

#arema

Jajanan di Solo, Apa Saja?

Jajanan di Solo apa saja? Yuk simak kuliner di Solo Jawa Tengah yang murah-murah dan yang penting lezat.

Jajanan di Solo identik dengan manis? Oh tidak sama sekali. Kota Solo yang berdekatan dengan kota Yogyakarta memiliki kekhasan tersendiri. Yogyakarta yang notabene khas dengan kuliner gudeg dan tahu bacem yang manis, nyatanya gudeg di Solo memiliki cita rasa yang tidak semanis gudeg Yogyakarta.

Kue-kuenya pun sangat beragam dari mulai manis hingga asin dan bahkan pedas. Seperti bumbu pecel di Solo ternyata bercita rasa pedas bahkan terdapat banyak varian bumbu pecel. Diantaranya adalah bumbu wijen, bumbu cabuk rambak, bumbu pecel manis dan bumbu pecel pedas yang keduanya terbuat dari kacang.

Di bawah ini adalah kue-kue sederhana yang bisa ditemui di pasar atau tukang sayur. Jajanan yang bisa didapat dengan mudah di tukang sayur ini sudah pasti harganya sangat murah, berkisar antara Rp. 1000 hingga Rp. 1500 saja. Hmm bisa kalap kalau beli sayur disana, sepulang dari beli sayuran mendadak lapar dan menghabiskan jajan-jajan ala pasar tradisional.

Gethuk

Gethuk ini terbuat dari singkong yang dikukus kemudian ditumbuk dan diberi campuran sedikit gula Jawa. Rasanya tidak terlalu manis hanya samar-samar saja. Dibungkus dengan daun pisang dengan potongan yang lumayan cukup buat sarapan pagi didampingi dengan susu kambing ettawa. Dan yang pasti jajan ini harganya cuma Rp, 1000

Gendar pecel

Gendar pecel adalah pecel sayuran sebagai pendamping dari punten, Gendar adalah lontong yang diolah dengan teknik khusus yang hampir sama dengan pembuatan lontong bungkus daun pisang. Gendar pecel biasanya menggunakan sayuran yang tidak terlalu mahal harganya yaitu bayam tegal, bayam yang berdaun lebar yang biasa dipergunakan untuk gudangan atau kulupan. Dan bumbu pecel khas Solo ternyata memiliki cita rasa yang pedas, kebetulan lidah saya sekarang sudah mulai manja sehingga tidak terbiasa lagi dengan bumbu sepedas itu. Itu yang oranye krupuk ya, jangan salfok. Dan yang jelas harganya cuma Rp. 1500 saja. Hiks murah banget..

Sate Kere

Sate kere sangat dikenal di Solo. Sate yang bukan terbuat dari daging ini nyatanya sangat digemari. Bahan dari sate kere adalah tempe gembus. Tempe yang terbuat dari ampas tahu. Di kota Malang tempe ini disebut dengan menjes. Tempe gembus ini dilumuri dengan kecap yang juga telah dibumbuin terlebih dahulu. Biasanya bumbu kecap ini dicampur dengan kaldu yang dipergunakan untuk mengungkep tulang-tulang ayam seperti ceker, kepala dan juga usus. Dan seperti biasa harga sate kere ini hanya Rp. 1500. Kalau lokasi banyak tersebar di seluruh penjuru kota Solo. Bisa ditemui di pasar, sekolah dan kampus-kampus.

Jadah Blondo

Jadah Blondo atau tetel blondo, jadah adalah nasi beras ketan yang dicetak dan dipotong-potong. Lalu diberi topping blondo. Blondo adalah produk sampingan dari proses pembuatan minyak kelapa. Blondo berasa manis gurih sehingga sangat sesuai bila dipadu dengan jadah ketan. Jajan ini seperti biasa sangat mudah ditemukan di tukang sayur. Harganya adalah Rp. 1500

Pelas

Pelas kurasa tidak sama dengan pelas yang biasa kusantap di Malang. Tadinya kukira pelas berbentuk panjang tipis, Ternyata cara bungkus pelas Solo ini hampir menyerupai botok yaitu dibungkus dan disemat dengan cara tum. Saat kuicip ternyata isinya memang benar seperti botok yang biasa ditemui di Malang. Pelas di Malang adalah berisi kelapa yang sudah diberi bumbu agak pedas dan diisi dengan irisan kecil ikan tongkol masak. Pelas Solo ini memiliki cita rasa pedas manis. Biasanya dihidangkan saat selamatan tujuh bulanan. Ini saya tidak mendapatkan informasi harga karena diberi gratisan oleh tukang gado-gado. Wah beruntung sekali saya di hari itu, banyak mendapatkan  jajan-jajan pemberian orang.

Nasi Jagung

Nasi Jagung menurut penjualnya terbuat dari jagung yang sudah ditumbuk dan menjadi butiran kecil. Saat kuicipi ternyata dia sama sekali tidak mengandung jagung, Rasa-rasanya lebih ke meniran atau beras yang sudah ditumbuk dan menjadi butiran kecil. Rasanya cukup gurih, karena mungkin diberi santan dan garam. Jajan ini lebih pantas disebut meniran sebenarnya. Hargany cukup Rp. 1000 saja.

Thiwul

Thiwul saat ini bukan lagi kuliner kampung yang memiliki history yang cukup melegenda. Dulu masyarakat sangat miskin, hingga hasil bumi diserahkan kepada penjajah. Tidak ada yang bisa dikonsumsi karena tanah-tanah dikuasai penjajah sehingga hanya bisa memiliki simpanan singkong yang memiliki daya simpan cukup baik. Dan thiwul adalah produk olahan singkong. Saat ini thiwul disajikan dalam bentuk lebih modern dengan cita rasa yang sangat bisa diterima oleh lidah anak-anak muda. Dan karena disajikan hangat dan cantik, harganyapun menjadi sedikit lebih berbeda. Hal ini karena penghargaan terhadap kuliner sederhana yang masih dilestarikan hingga saat ini. Saya menemui thiwul ini tepat di seberang gerbang belakang kampus UNS. Harganya pun lumayan oke.. ehehe. Rp. 10.000 saja,

Lenjongan

Lenjongan adalah yang biasa kita kenal dengan Lupis Campur (red :Malang). Di Malang lenjongan disebut dengan lupis. Isinya pun hampir sama. Saat kita membeli lenjongan sebenarnya hanya satu yang bernama lenjongan, yaitu lontong ketan putih yang dipotong-potong sebagai bagian dari lenjongan keseluruhan. Selain itu di dalam lenjongan terdapat cenil, klepon, nasi ketan hitam, serabi dan ijo-ijo. Saya menyebutnya ijo-ijo karena disamping tidak tau namanya, ijo-ijo ini juga disebut seperti itu di Malang. Topping dari lenjongan ini adalah parutan kelapa, gula halus dan gula aren cair. Rasanya menjadi sangat manis karena dua macam gula digunakan disini. Bagi saya, hanya minta sedikit gula merah cair. Selebihnya makanan ini sudah berasa manis banget karena kelapa dan juga gula di dalam klepon. Lenjongan bisa ditemukan di Pasar Gede pastinya. Tapi saya lebih menyukai lenjongan di pasar Kleco yang lokasinya memang lebih jauh. Harganya adalah Rp. 5000

Mi Pentil

Mi Pentil ini namanya unik. Saya cuma takut aja kalau yang baca tulisan ini salah baca. Mi pentil adalah kuliner mi goreng dengan cita rasa sederhana. Bumbunyapun sederhana, tidak begitu berasa asin atau sedikit hambar. Menurut penjualnya mi ini biasa disantap dengan gendar pecel. Karena harganya yang cukup murah, Rp. 1000 saja maka orang terbiasa membeli mi pentil ini dengan pecel punten sebagai lauk tambahannya. Mi pentil bertekstur kenyal , mi ini memiliki ketebalan lumayan yang mirip dengan mi aceh. Mirip dengan pentil yaitu karet yang ada di penutup ban sepeda gowes. Itulah kenapa disebut dengan pentil. Oyahh..

#jajansolo

#kulinersolo

#jajantradisional

#lenjongan

#pasargedesolo

#gendarpecel

Apa itu Penghargaan Budaya?

Penghargaan budaya mengacu pada penggunaan objek atau elemen budaya non-dominan dengan cara yang memperkuat stereotip atau berkontribusi pada penindasan dan tidak menghargai makna aslinya atau menghargai sumbernya. Ini juga termasuk penggunaan yang tidak sah atas bagian-bagian dari budaya mereka (pakaian, tarian, dll.) tanpa izin.1

Dengan cara ini, penghargaan budaya adalah fenomena berlapis dan bernuansa yang mungkin sulit dipahami oleh banyak orang dan mungkin tidak disadari ketika mereka melakukannya sendiri.

Hal yang wajar untuk menggabungkan dan memadukan budaya karena orang-orang dari latar belakang yang berbeda berkumpul dan berinteraksi. Nyatanya, banyak penemuan dan kreasi luar biasa telah lahir dari penggabungan budaya semacam itu (seperti musik country).

Namun, garis ditarik ketika kelompok budaya dominan memanfaatkan unsur-unsur kelompok non-dominan dengan cara yang dianggap eksploitatif oleh kelompok non-dominan.

Budaya mengacu pada segala sesuatu yang terkait dengan sekelompok orang berdasarkan etnis, agama, geografi, atau lingkungan sosial mereka. Ini mungkin termasuk kepercayaan, tradisi, bahasa, objek, ide, perilaku, adat istiadat, nilai, atau institusi. Tidak jarang budaya dianggap milik kelompok etnis tertentu.

Penghargaan mengacu pada mengambil sesuatu yang bukan milik Anda atau budaya Anda. Dalam kasus perampasan budaya, itu adalah pertukaran yang terjadi ketika kelompok dominan mengambil atau “meminjam” sesuatu dari kelompok minoritas yang secara historis dieksploitasi atau ditindas.

Dalam pengertian ini, penghargaan melibatkan kurangnya pemahaman atau apresiasi terhadap konteks sejarah yang mempengaruhi apa yang diambil. Mengambil benda suci dari budaya yang terpinggirkan secara historis dan memproduksinya sebagai bagian dari kostum Halloween adalah salah satu contohnya.

#budaya

#culture

Apa Si Gap Budaya Itu?

Setiap perbedaan sistematis antara dua budaya yang menghalangi saling pengertian atau hubungan. Perbedaan tersebut meliputi nilai, perilaku, pendidikan, dan adat istiadat budaya masing-masing. Istilah ini awalnya digunakan untuk menggambarkan kesulitan yang dihadapi dalam interaksi antara pelancong awal abad ke-20 dan budaya pra-industri, tetapi sejak itu telah digunakan secara lebih luas untuk merujuk pada kesalahpahaman dan ketidakpahaman bersama yang timbul dengan orang-orang dari latar belakang dan pengalaman yang berbeda. Kesenjangan budaya dapat berhubungan dengan agama, etnis, usia, atau kelas sosial. Contoh perbedaan budaya yang dapat menyebabkan kesenjangan termasuk norma sosial dan peran gender. Istilah ini juga dapat digunakan untuk merujuk pada kesalahpahaman dalam suatu masyarakat, seperti antara spesialisasi ilmiah yang berbeda.

Sebagai penghubung komunikatif antar budaya, penafsir telah memainkan peran yang sangat penting sepanjang sejarah. Tujuan utama dari bab ini adalah untuk menganalisis peran juru bahasa dalam konflik perang, memberikan perhatian khusus pada keterampilan mereka untuk menjembatani kesenjangan bahasa, budaya, dan kekuasaan. Telah diamati bahwa interpretasi dalam konflik biasanya diremehkan meskipun sangat sulit dan berisiko, dan seringkali dukungan yang diberikan dengan cepat dilupakan oleh semua bagian setelah layanan selesai. Kurangnya pertimbangan ini membuat banyak penerjemah dalam bahaya di negara-negara yang bermusuhan. Karena peningkatan pengungsi dan pengungsi dalam beberapa tahun terakhir, tinjauan sejarah singkat tentang perang abad ke-20 dan ke-21 telah dilakukan. Ini nantinya akan dirujuk oleh berbagai penafsir dan koresponden yang bekerja untuk berbagai media dan telah diwawancarai untuk studi empiris yang telah kami lakukan. Pekerjaan juru bahasa dan dilema etis yang harus mereka hadapi disoroti dalam penelitian ini. Studi ini tidak mengejar, dalam hal apa pun, tujuan politik apa pun.

#budaya

#culture

#gapculture

#gapjamming

Mengapa Belajar Bahasa Inggris Itu Sulit?

Sebagai bahasa internasional bisnis, sains, dan akademisi, bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak dipelajari di dunia. Ada 1,5 miliar pembelajar bahasa Inggris dan 527 juta penutur asli bahasa Inggris di seluruh dunia, yang berarti bahwa sekitar seperempat dari populasi global memiliki setidaknya beberapa keakraban dengan bahasa Inggris.

Meskipun penting dalam urusan global dan perdagangan, bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat sulit untuk dipelajari. Bahasa ini menampilkan aturan tata bahasa yang sering dilanggar, alfabet yang dapat membingungkan orang yang terbiasa dengan sistem berbasis karakter, dan penyimpangan ejaan dan pelafalan yang bahkan membingungkan penutur asli.

Berikut adalah beberapa inkonsistensi linguistik yang membuat bahasa Inggris sulit dipelajari oleh penutur asing dan mengapa masih merupakan ide bagus untuk mendapatkan bantuan tambahan saat menggunakan bahasa Inggris (atau bahasa asing lainnya) dalam bisnis atau organisasi Anda.

Kata-kata dengan Ejaan yang Sama Bisa Memiliki Pengucapan yang Berbeda

Untuk pelafalan bahasa Inggris, konteks dan bagian ucapan sangat penting. Kalimat seperti, “It’s time to present her the present” memiliki kata yang sama (“present”) dua kali, tetapi diucapkan berbeda setiap kali (pree-ZENT dan PREZ-ent). Baik dalam pidato maupun saat membaca, penutur asing mungkin mengalami kesulitan mengingat pelafalan mana yang akan digunakan pada waktu tertentu.

Sangat membantu untuk mengingat bahwa dalam banyak kasus, kata-kata dengan ejaan yang sama memiliki bentuk kata kerja dan bentuk kata benda (“produksi dan hasilkan”, “present and present”, “rekam dan rekam”), dengan bentuk kata benda memiliki tekanan pada suku kata pertama (“PRO-duce,” “PREZ-ent,” dan “RE-cord”) dan bentuk kata kerja memiliki penekanan pada suku kata kedua (“pro-DUCE,” “pre-ZENT,” dan “ catatan”).

Tata Bahasa “Aturan” Seringkali Tidak Berlaku

Penutur bahasa Inggris tumbuh dengan mendengar ungkapan “Saya sebelum E, kecuali setelah C.” Tapi bagaimana dengan kata-kata seperti “sains”, “mereka”, atau “asing”, yang semuanya melanggar aturan ini?

Atau aturan sial bahwa kata kerja bahasa Inggris dalam bentuk lampau diakhiri dengan akhiran “-ed” —kecuali Anda “makan” daripada “makan” dan “tidur” daripada “tidur”?

Ejaan dan tata bahasa Inggris memiliki begitu banyak pengecualian pada aturan sehingga penutur non-pribumi kesulitan untuk mengingat semuanya. Menghafal kata kerja tidak beraturan dan ejaan tidak beraturan adalah solusi terbaik, yang hanya datang dengan latihan dan paparan bahasa yang berulang.

Tingkat Formalitas Tidak Jelas

Bahasa seperti Spanyol, Korea, dan Jepang memiliki konjugasi kata kerja yang berbeda berdasarkan tingkat formalitasnya. Dalam bahasa Spanyol, bentuk “tu” digunakan untuk memanggil teman dan keluarga, sedangkan bentuk “usted” digunakan untuk memanggil orang yang lebih tua atau atasan. Bahasa Inggris tidak memiliki padanan langsung, dan karena itu dapat dianggap “terlalu informal” oleh beberapa penutur asing. Tingkat formalitas dalam bahasa Inggris, seperti formal, semiformal, dan informal, lebih didasarkan pada kosa kata daripada konjugasi tegang atau kata kerja tertentu, yang dapat menjadi penyesuaian rumit bagi penutur asing saat menggunakan bahasa Inggris di tempat kerja atau lainnya. konteks profesional.

Bahasa Inggris Menggunakan banyak Idiom

Tidak semua hal dalam bahasa Inggris dimaksudkan untuk dipahami secara harfiah.

Bahasa Inggris penuh dengan idiom, metafora, dan bahasa kiasan lainnya yang dapat membingungkan pembicara baru. Seorang penutur bahasa Inggris mungkin mengatakan bahwa taksi di New York City adalah selusin sepeser pun, tetapi itu tidak berarti harganya sepuluh sen untuk dua belas taksi; itu hanya berarti mereka berlimpah dan karenanya tidak terlalu berharga.

Seperti kata kerja tidak beraturan, idiom adalah tentang menghafal dan berlatih.

Bahasa Inggris Menggunakan Dialek yang Berbeda. Bahasa Inggris Amerika Standar berbeda dari Bahasa Inggris British, yang juga berbeda dari Bahasa Inggris Australia. Bahkan di dalam negara dan wilayah, dialek bisa berbeda. Seseorang dari Amerika Serikat bagian selatan mungkin menggunakan kata “y’all” (kependekan dari “you all”) untuk merujuk pada bentuk jamak orang kedua, sementara sebagian besar wilayah AS lainnya hanya akan menggunakan kata “you”.

Kosa kata juga bisa berbeda — “toilet” Amerika menjadi “toilet” dalam bahasa Inggris, sedangkan “sampah” menjadi “sampah”. Penutur asing biasanya terlatih dalam salah satu dialek “standar”, tetapi bergantung pada konteksnya, mungkin perlu beradaptasi dengan dialek baru agar sesuai dengan audiens yang sesuai.

Menemukan Kata yang Tepat

Selalu ada nilai dalam mempelajari bahasa baru, terutama yang akan digunakan oleh industri atau organisasi Anda saat berinteraksi dengan pelanggan, pasien, mitra bisnis, atau organisasi lain.

Sambil tetap mencapai tujuan pembelajaran Anda, pertimbangkan untuk menggunakan mitra solusi bahasa untuk terjemahan bisnis apa pun atau interpretasi dalam bahasa Inggris untuk memastikan makna Anda dikomunikasikan sejelas mungkin.

#englishlanguage

#english

#language

#difficultlanguage

Apa Sebenarnya Ujaran Kebencian Itu?

Dalam bahasa umum, “ujaran kebencian” mengacu pada wacana ofensif yang menargetkan kelompok atau individu berdasarkan karakteristik yang melekat (seperti ras, agama, atau jenis kelamin) dan yang dapat mengancam perdamaian sosial.

Untuk memberikan kerangka terpadu bagi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengatasi masalah ini secara global, Strategi dan Rencana Aksi PBB untuk Ujaran Kebencian mendefinisikan ujaran kebencian sebagai…“segala jenis komunikasi dalam ucapan, tulisan, atau perilaku, yang menyerang atau menggunakan bahasa yang menghina atau diskriminatif. dengan mengacu pada seseorang atau kelompok atas dasar siapa mereka, dengan kata lain, berdasarkan agama, etnis, kebangsaan, ras, warna kulit, keturunan, jenis kelamin atau faktor identitas lainnya.”

Namun, sampai saat ini tidak ada definisi universal tentang ujaran kebencian di bawah hukum hak asasi manusia internasional. Konsep tersebut masih dalam pembahasan, terutama terkait dengan kebebasan berpendapat dan berekspresi, non-diskriminasi dan kesetaraan.

Ujaran kebencian dapat disampaikan melalui segala bentuk ekspresi, termasuk gambar, kartun, meme, benda, gestur, dan simbol serta dapat disebarluaskan secara offline maupun online.

Ujaran kebencian adalah “diskriminatif” (bias, fanatik atau tidak toleran) atau “merendahkan” (berprasangka, menghina atau merendahkan) individu atau kelompok.

Ujaran kebencian memunculkan “faktor identitas” nyata atau persepsi dari individu atau kelompok, termasuk: “agama, etnis, kebangsaan, ras, warna kulit, keturunan, jenis kelamin,” tetapi juga karakteristik seperti bahasa, asal ekonomi atau sosial, kecacatan, status kesehatan, atau orientasi seksual, di antara banyak lainnya.

Pertumbuhan konten kebencian online telah digabungkan dengan munculnya disinformasi yang mudah dibagikan yang dimungkinkan oleh alat digital. Hal ini menimbulkan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi masyarakat kita saat pemerintah berjuang untuk menegakkan hukum nasional dalam skala dan kecepatan dunia maya.

Tidak seperti di media tradisional, ujaran kebencian online dapat diproduksi dan disebarluaskan dengan mudah, dengan biaya rendah, dan tanpa nama. Ini memiliki potensi untuk menjangkau khalayak global dan beragam secara real time. Permanen relatif dari konten online yang penuh kebencian juga bermasalah, karena dapat muncul kembali dan (kembali) mendapatkan popularitas dari waktu ke waktu.

Memahami dan memantau ujaran kebencian di berbagai komunitas dan platform online adalah kunci untuk membentuk respons baru. Namun upaya tersebut sering terhambat oleh besarnya fenomena tersebut, keterbatasan teknologi sistem pemantauan otomatis, dan kurangnya transparansi perusahaan online.

Sementara itu, meningkatnya penggunaan media sosial untuk menyebarkan narasi yang penuh kebencian dan memecah belah telah dibantu oleh algoritme korporasi online. Hal ini telah mengintensifkan stigma yang dihadapi komunitas rentan dan mengungkap kerapuhan demokrasi kita di seluruh dunia. Ini telah meningkatkan pengawasan terhadap pemain Internet dan memicu pertanyaan tentang peran dan tanggung jawab mereka dalam menimbulkan kerusakan dunia nyata. Akibatnya, beberapa Negara mulai meminta pertanggungjawaban perusahaan Internet untuk memoderasi dan menghapus konten yang dianggap melanggar hukum, menimbulkan kekhawatiran tentang pembatasan kebebasan berbicara dan penyensoran.

#hatespeech

#UNO

#pejorative

#discriminatory

Mengapa Sulit Mengucapkan Huruf R?

Jika Anda meminta orang Jepang untuk mengucapkan kata seperti renraku dengan cepat, dan kemudian secara bertahap meminta mereka untuk mengatakannya lebih dan lebih lambat, Anda akan melihat bahwa apa yang awalnya terdengar seperti r menjadi l saat mereka melambat (biasanya lebih awal untuk wanita). ). Jadi pernyataan bahwa l dan r tidak ada adalah salah — keduanya ada, tetapi sebagai varian (alofon) dari suara yang sama (fonem).

Jika Anda memberi tahu mereka bahwa mereka pertama kali mengatakan r dan kemudian l, Anda akan mengejutkan mereka karena mereka biasanya tidak tahu tentang ini dan mungkin tidak dapat membedakannya. Alasannya cukup sederhana: bunyinya sama dalam bahasa Jepang. Satu-satunya perbedaan antara l Jepang dan r Jepang — bukan r Inggris, yang sangat berbeda — sebagian besar adalah durasi kontak antara lidah dan langit-langit mulut dan sementara fitur ini memungkinkan kedua suara menjadi dibedakan dalam bahasa Eropa, itu BUKAN fitur yang membedakan dalam bahasa Jepang.

Demikian pula, penutur bahasa Inggris gagal membedakan banyak suara. Beberapa bahasa memiliki vokal hidung (Prancis, Portugis, Polandia, dll.): ketika langit-langit lunak diturunkan untuk memungkinkan udara melewati hidung saat vokal diproduksi, itu mengubah vokal menjadi vokal hidung dan ini adalah fitur yang membedakan — tapi tidak dalam bahasa Inggris. Jadi dalam kata seperti bank, a adalah sengau karena diikuti dengan bunyi “ng”, dan jika Anda bertanya kepada penutur bahasa Inggris apa vokal itu, mereka akan mengatakannya sebagai a, sedangkan untuk penutur bahasa Portugis, itu adalah a vokal hidung, bukan “a”. Contoh lain adalah bagaimana bunyi t, p, dan k bahasa Inggris disedot (ada embusan udara) di awal kata atau di antara vokal, tetapi tidak setelah huruf s, misalnya. Penutur bahasa Inggris biasanya tidak mengetahui hal ini, tetapi dalam bahasa lain, seperti bahasa Korea, t yang diaspirasi dan tidak diaspirasi adalah dua konsonan yang sangat berbeda. Jadi, jika Anda ingin mengetahui bagaimana rasanya tidak membedakan l dan r, tanyakan pada diri sendiri mengapa Anda, sebagai penutur bahasa Inggris (jika memang demikian), tidak dapat membedakan nasalitas atau aspirasi.

Jadi masalah pertama adalah bahwa orang Jepang kesulitan mendengar apakah l atau r dihasilkan karena mereka adalah dua kemungkinan realisasi dari satu fonem bagi mereka, dan akibatnya, mereka sangat sulit mengingat yang mana. Anda akan menemukan hal yang sama dengan z/dz. Tanyakan kepada orang Jepang apakah Anda harus mengatakan zettai (dengan huruf z) dan mereka akan menjawab ya. Tanyakan lagi apakah itu dzettai (dengan dz) dan mereka juga akan menjawab ya. Tanyakan mana yang mereka sukai dan mereka akan memberi tahu Anda bahwa mereka hanya mendengar satu pelafalan, meskipun Anda dengan jelas mengatakan z dalam satu kasus dan dz dalam kasus lainnya.

Lebih buruk lagi, mereka mulai belajar bahasa Inggris menggunakan jenis r yang salah (seperti dalam bahasa Spanyol atau Italia), sedangkan r bahasa Inggris tidak mengepak, melainkan r retroflex di mana lidah melengkung ke belakang dan tidak menyentuh. setiap bagian dari mulut. Lebih buruk lagi, cara kata-kata bahasa Inggris dipinjam ke dalam bahasa Jepang mengganggu persepsi mereka tentang kata-kata bahasa Inggris, yaitu. mereka dieja dengan cara yang tidak membedakan l dan r (love=rabu), r akhir diubah menjadi a (komputer=kompyuutaa), dll. Mereka benar-benar harus berhenti menggunakan transkripsi katakana. Perhatikan juga bahwa bahasa Inggris r melibatkan pembulatan bibir, tetapi karena ini tidak digunakan dalam bahasa Jepang — dan mereka mulai belajar melafalkan bahasa Inggris tanpa pernah menggunakan pembulatan bibir — mereka gagal melihat ini sebagai fitur penting bahasa Inggris r.

Masalah kedua adalah bahwa bahkan jika mereka mengingat yang mana, produksinya sangat sulit karena otak digunakan untuk memperlakukan kedua suara sebagai satu, dan mereka biasanya menghabiskan sebagian besar hidup mereka sebagai pembelajar bahasa Inggris dalam konteks di mana Anda hanya mengatakannya. Aku dan r sama dan begitulah cara semua orang melakukannya. Ini seperti belajar kembali berjalan setelah cedera.

Jadi, meskipun benar bahwa beberapa orang Jepang kesulitan mengucapkan r dalam bahasa Inggris, sebagian besar biasanya dapat membuat l dan r secara terpisah setelah mereka memahami cara kerja bunyi.

#japaneselanguage

#japanese

#language

 

 

Komunikasi Fatis, Masih Adakah?

Dalam linguistik, ungkapan fatis adalah komunikasi yang terutama berfungsi untuk membangun atau mempertahankan hubungan sosial. Dengan kata lain, ekspresi fatis sebagian besar memiliki fungsi sosio-pragmatis daripada denotasi. Mereka dapat diamati dalam pertukaran percakapan sehari-hari, seperti dalam, misalnya, pertukaran basa-basi sosial yang tidak mencari atau menawarkan informasi yang bernilai intrinsik, melainkan menandakan kesediaan untuk mematuhi harapan lokal konvensional untuk kesopanan.

Kegunaan lain dari istilah ini termasuk kategori “obrolan ringan” (percakapan untuk kepentingannya sendiri) dalam komunikasi wicara, di mana ia juga disebut “percakapan yang rapi”. Dalam karya Roman Jakobson, fungsi ‘fatik’ bahasa menyangkut saluran komunikasi; misalnya, ketika seseorang berkata “Aku tidak bisa mendengarmu, kamu putus” di tengah percakapan telepon seluler. Penggunaan ini muncul dalam penelitian di komunitas online dan micro-blogging.

Komunikasi fatis dikenal sebagai obrolan ringan: penggunaan bahasa nonreferensial untuk berbagi perasaan atau membangun suasana kemasyarakatan daripada untuk mengkomunikasikan informasi atau ide. Formula komunikasi fatis yang diritualkan (seperti “Uh-huh” dan “Semoga harimu menyenangkan”) umumnya dimaksudkan untuk menarik perhatian pendengar atau memperpanjang komunikasi. Juga dikenal sebagai pidato fatis, komuni fatis, bahasa fatis, token sosial, dan obrolan ringan.

Istilah fatis diciptakan oleh antropolog Inggris Bronislaw Malinowski dalam esainya “The Problem of Meaning in Primitive Languages”, yang muncul pada tahun 1923 dalam The Meaning of Meaning oleh C.K. Ogden dan I.A. Richards.

#phaticcommunication

#linguistics

#sociolinguistics

#bronislawmalinowski

#romanjakobson