Sejatinya kita sebagai manusia harus menyadari bahwa perjalanan hidup kita di dunia ini akan bertemu “titik akhir” berupa kematian. Pada saat kematian itu tiba, maka sirnalah segala kenikmatan hidup. Dan dimulailah awal perjalanan kita menuju akhirat. Sungguh sangat mengherankan jika ada manusia lebih memilih dunia daripada akhiratnya. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal. Betapa banyak manusia sibuk mengejar dunia dan melupakan akhirat. Mereka bersemangat untuk mendapatkan dunia, meskipun harus dengan meninggalkan kewajiban yang disyariatkan Allah Ta’ala. Mereka kemudian terbenam dalam kubangan syahwat dan maksiat. Mereka lupa untuk bersyukur kepada Dzat yang telah memberi segala kenikmatan.
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya ?(QS. al-An’am : 32)
✍️ Agama Islam telah memberikan tuntunan bahwa kehidupan di dunia ini laksana bercocok tanam di mana hasilnya akan dinikmati di akhirat. Siapa yang menanam kebaikan ia akan memperoleh kebaikan dan siapa yang menanam keburukan, maka diapun akan mendapatkan hasil dari keburukan yang ia tanam. Betapa banyak orang yang berlomba-lomba untuk dapat hidup sukses di dunia, tetapi sangat sedikit yang bersusah payah untuk dapat hidup sukses di akhirat. Jika untuk kehidupan dunia, manusia umumnya tak kenal lelah, tetapi untuk kehidupan akhirat begitu berat kaki melangkah untuk ibadah. Dalam kitab Nasho’ihul Ibad disebutkan peringatan Rasullah saw kepada umatnya, yang berbunyi
“Akan datang pada umatku suatu masa di mana mereka mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara pula. Mereka mencintai dunia dan melupakan akhirat. Mereka mencintai kehidupan dan melupakan kematian. Mereka mencintai gedung-gedung mewah dan melupakan kuburan. Mereka mencintai harta benda dan melupakan hisab (perhitungan amal di akhirat). Mereka mencintai makhluk dan melupakan penciptanya (Khaliq) ”.🙏
👉 Sungguh tepat prediksi Rasulullah SAW tersebut. Di zaman modern sekarang ini sangat mudah kita jumpai manusia-manusia seperti yang digambarkan Rasulullah SAW tersebut. Bahkan mungkin, sosok yang digambarkan Rasulullah SAW itu adalah diri kita sendiri. Ya, disadari atau tidak, sebagian besar dari kita sangat mencintai dunia dan sering melupakan akhirat. Kita lebih mencintai kehidupan dan melupakan kematian. Kita berbangga diri dengan kemewahan rumah yang kita miliki, sementara kita lupa bahwa kelak kita akan mati dan berada di dalam kubur, rumah masa depan kita. 🌷
👉 Kita tumpuk pundi-pundi kekayaan sebanyak-banyaknya, tetapi kita lupa bahwa kelak di akhirat akan ada yaum al-hisab (hari perhitungan), dimana seluruh harta yang kita miliki akan dimintai pertanggung-jawabannya di hadapan Allah. Kita akan ditanya darimana semua harta yang kita miliki berasal, dan untuk apa harta tersebut dibelanjakan ?
👉Sesungguhnya, barang siapa yang mendahulukan akhiratnya, maka ia akan mendapatkan kenikmatan akhirat dan kenikmatan dunia sekaligus. Hal ini mudah bagi yang diberi kemudahan oleh Allah swt. Dan semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemudahan oleh Allah swt. untuk beramal shalih. Karena sesungguhnya, orang yang meninggalkan sesuatu karena Allah swt, maka Allah swt. akan menggantinya dengan yang lebih baik dari yang ia tinggalkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [an Nahl/16:97].🙏
✍️ Al Imam At-Thabari ra di dalam kitab tafsirnya ketika menjelaskan makna Hayatan Thayyibatan (kehidupan yang baik) beliau mengutip pendapat para ahli tafsir, memiliki banyak arti,
a. Allah hidupkan mereka yang beriman dan beramal saleh di dunia dengan limpahan rizki yang halal lagi baik
b. Allah karuniakan mereka yang beriman dan beramal saleh sifat qanaah terhadap pemberian Allah swt
c. Hidup dalam keadaan beriman kepada Allah, dan beramal saleh serta patuh terhadap setiap perintah-Nya
d. Kehidupan yang bahagia lahir batin di dunia dan akherat
e. Kehidupan yang penuh kenikmatan di surga
✍️ Jadi bagi kita sebagai seorang mukmin harus menampilkan diri menjadi pribadi yang thayyib sebagaimana pohon yang akarnya kuat dan rantingnya menjulang tinggi ke langit, maka ia akan senantiasa memberikan manfaat berupa buah dan keteduhan sepanjang masa, maka demikianlah watak seorang mukmin sehingga kebaikan yang ia produksi akan muncul setiap saat untuk dirinya, keluarganya dan masyarakatnya. Bukan sekedar kebaikan yang bersifat musiman. dan Ini adalah petunjuk Al-Qur’an.
👉Maka dari itu, mari kita lihat realitas kehidupan manusia sekarang ini, kita lihat ada sebagian kaum muslimin rajin shalat berjamaah, sedekah, puasa, qiyamul lail hanya dilakukan pada bulan Ramadhan, namun setelah itu ia meninggalkan semua ibadah tersebut pada bulan-bulan lain. Untuk itu kebaikan yang kita lakukan di dunia ini harus rutin, ajeg dan setiap saat ada kesempatan, bukan hanya musiman saja
“Puang Ika..” Salah
satu teman, Ipung mahasiswa UIN anggota IKAMI SULSEL MALANG memanggilku dengan
serta merta. Kelihatannya aku masih belum familiar dengan panggilan ini. Puang
terdengar sangat hormat dan menjadi terhormat saat diucapkan. Dan dengan tanpa
menunggu langsung kubrowsing kata Puang ini karena rasa penasaran. Terkejut
setelah membacanya. Ternyata Puang sangat berarti dalam. Begitu juga dengan
Andi, Baso, Daeng, Karaeng, Tetta bahkan Petta.. dan lain-lainnya.
Berawal dari sebuah
puisi yang kutulis dengan judul KARAENG GALESONG di blog pribadi, puisi yang
mengisahkan tentang perjalananku mencapai lokasi makam dan merenung yang tak
pernah kukenal sebelumnya, meski aku tinggal di kota yang sama dengan lokasi
makam ini. Dan iyya, sekali lagi aku gunakan Google untuk mengetahui apa makna
dari kata Karaeng. Saat itu tahun 2006, Google masih sepi penghuni, apalagi
saat menelusuri kata Karaeng dan Karaeng Galesong. Hanya ada beberapa halaman
saja kemunculannya.
Tapi rasa penasaranku
Alhamdulillah kemudian terjawab saat ada seorang teman berkomentar terhadap
puisi yang telah kutulis di blog. Adalah Ucheng atau Ahmad Husain yang kemudian
menjadi sahabatku dan sumber inspirasiku. Dari dia pula kemudian aku berkenalan
dengan IKAMI SULSEL MALANG. Uchenglah yang memberi komentar terhadap puisi yang
telah kubuat di blog. Kemudian dia menghubungiku melalui email. Dan sekali lagi
saat itu masih belum banyak aktifitas internet, sehingga lama baru kubalas
email dari dia. Saat bertemu Ucheng, aku juga bertemu dengan Kahfi yang juga
sama-sama memberiku kesempatan yang luas untuk berinteraksi dengan teman-tema
IKAMI SULSEL MALANG.
Foto 1. Blogger
kampus putih UMM bertemu di cafe
Inilah puisi yang
kuciptakan hingga membawaku berkenalan dengan sahabat-sahabatku IKAMI SULSEL
MALANG.
Rinduku Galesong
Oleh : Ika Farihah
Hentihu
Rinduku
Aku Rindu
Aku Rindu Pada Galesong
Aku Rindu Pada Sombayya,
Ayahku
Aku rindu dimandikan Di
Bungung Baraniya
Aku terpaksa tak kembali
duhai Sombangku
Tapi Aku tahu, Ayah panggil
nama kecilku
Baso…sini kau nak, Baso…sini
kau nak
Aku disini aman Ayah, bersama
dengan istriku…
Potre Koneng
Bermimpikah engkau tentang
diriku wahai ayahku?
Aku selalu bermimpi tentang
ayah
Saat kita bersama berkuda di
Pantai Galesong
Mendengar nasihat-nasihat
bijakmu
Aku ingin bersimpuh di
depanmu ayah
Mengenang saat aku akan pergi
ke Marege
Aku tidak ke Marege Ayah,
tolong percayalah
Aku tidak ke Marege
Marege!
Ayah pasti tahu itu.
(Karaeng Galesong,
Malang)
Masih
saja terngiang aku saat membaca puisi ini. Ini adalah kegalauan Karaeng
Galesong karena tidak kembali ke Gowa. Dia pun rindu ingin bertemu Sultan
Hasanuddin dan ingin mengungkapkan bahwa dia tidak jadi pergi ke Marege
Australia. Hal ini karena saat Karaeng Galesong berpamit, dia mengatakan akan
pergi ke Marege. Dan saat melalui pulau Bali, Karaeng Galesong dengan
pasukannya berhenti untuk mengambil air dan makanan. Dari situlah sejarah
dimulai. Karaeng Galesong mendapat khabar bahwa Trunojoyo berjuang melawan VOC.
Sehingga beliau meneruskan perjalanan ke Barat. Semua pasukan yaitu terdiri
dari 700 buah kapal dan sekitar 8000 lasykar dan keluarganya bergerak menuju
Probolinggo dan selanjutnya menuju Malang, kota kelahiranku.
Berkenalan dengan
mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG memang cukup seru. Dan ini menjadi sumber
inspirasi keduaku setelah bertemu dengan Ucheng. Maklum aku hanyalah penulis pemula
yang tau-tau tertarik dengan budaya Bugis Makassar. Padahal aku sama sekali
tidak memiliki informasi tentang Sulsel. Aku belum pernah mencapai pulau
Celebes. Sehingga saat itu hanya berangan-angan saja, bisakah aku mencapai
pulau itu. Melihat secara langsung, life, lokasi dimana Sultan Hasanuddin
berada, lokasi dimana Karaeng Galesong dilahirkan dan juga tak ketinggalan aku
ingin sekali melihat Bone untuk ‘bertemu’ dengan Aru Palakka. Itu semua hanya
angan-anganku selama 6 tahun berinteraksi dengan mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG.
Masih penasaran
dengan bermacam nama panggilan yang sering dilontarkan oleh sahabat-sahabat
IKAMI SULSEL MALANG, akupun bergerak ke asrama mereka yang kutau hanya di
Telaga Al Kautsar. Belakangan baru ku tau bahwa asrama mahasiswa IKAMI SULSEL
MALANG adalah di Jl. Dieng. Dan jujur aku hanya duduk terdiam mendengar mereka
bicara dengan logat yang berbeda, kata panggil yang bermacam pula. Dan dari
sini lah rasa penasaranku berlanjut. Banyak nama panggilan yang sering disebut
oleh mereka, termasuk Daeng. Ini yang paling populer. Hanya saja setelah
kubrowsing info tentang nama panggilan, ada beberapa kata panggil untuk
masyarakat Makassar dan Bugis.
Daeng
adalah kata dalam bahasa daerah Sulawesi Selatan yang berarti kakak lelaki atau
seseorang yang lebih tua. Tapi kata Daeng mempunyai makna yang berbeda di tiap
suku daerah di Sulawesi Selatan. Suku Bugis dan Makassar adalah suku yang besar
di daerah Sulawesi Selatan yang sering menggunakan kata Daeng dalam kehidupan
sosial mereka sehari-hari. “Kita biasanya memanggil daeng sebagai panggilan
untuk lebih menghormati, karena kalau langsung nama akan terkesan kasar,”
Seperti yang dituturkan Ucheng kepadaku.
Di
dalam perkembangannya sendiri, panggilan Daeng telah memiliki makna yang
beragam. Bisa bermakna kakak, bisa juga menunjukkan kelas sosial seseorang.
Dengan demikian penggunaannya harus diperhatikan baik-baik, karena kata Daeng
sering ditujukan untuk masyarakat dengan kelas sosial tertentu. Beberapa
pergeseran kutemui saat berada di Makassar yaitu memanggil supir pete-pete
dengan panggilan Daeng.
Sedangkan
masyarakat Bugis sangat ketat dalam penerapan tata adat di kehidupan sehari-hari,
terutama dalam kehidupan sosial. Sejak masa pra Islam masyarakat Bugis mudah
mengenal stratifikasi sosial (pembedaan atau pengelompokan para anggota masyarakat
secara vertikal/bertingkat). Berkembangya pelapisan masyarakat secara tajam
tumbuh di saat yang sama terbentuknya kerajaan. Hal ini menimbulkan jarak
sosial antara golongan bawah dan golongan atas dalam lapisan masyarakat.
Suku
Bugis pada jaman dulu mengenal tiga kasta. Kasta yang paling tinggi adalah Arung
(Bangsawan) yang memiliki beberapa sub kasta turunan. Kasta selanjutnya adalah
To Maradeka atau orang merdeka (Masyarakat Kebanyakan). Sedangkan kasta yang
paling bawah adalah Ata yang berarti budak. Kasta terendah ini kurasa sudah
tidak pernah lagi disebut-sebut alias tidak ada. Hal ini tampak pada bangunan
rumah Bugis yang tidak lagi ditemukan berspesifikasi Ata. Dan kita sebenarnya
adalah To Maradeka, tidak pernah ada lagi yang membedakan status sosial kecuali
kalau memang dibutuhkan untuk kegiatan upacara.
Foto
2. Rumah kediaman Bapak Rindam Latief di Sengkang
Mahasiswa IKAMI
SULSEL MALANG untungnya sangat rajin dan peduli. Berbagai kegiatan diadakan
oleh komunitas ORDA ini. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dari mulai yang
paling kecil skalanya sampai yang paling megah yaitu BUDAYATA. Diskusi lepas
diadakan tiap minggu, hingga ulang tahun salah satu anggota yang dibuat
surprised. Aku tenggelam dalam gegap gempita celoteh mahasiswa asal Celebes
yang cukup nano-nano bagiku. Kadang mengernyit karena tidak tau artinya. Tapi
pelahan kupahami apa yang mereka bicarakan, apa yang mereka ungkapkan dan apa
yang mereka lakukan dan inginkan.
Mahasiswa IKAMI
SULSEL MALANG sangat peduli dengan lingkungan. Beberapa kali saya diundang
untuk memperingati Hari Bumi, Hari Ibu dan juga hari-hari lainnya. Saat itu
mereka berduyun-duyun menuju alun-alun kota Malang dan membantu membersihkan
daun-daun disana. Benar-benar cape menjadi mahasiswa IKAMI MALANG sepertinya
karena tiada hari tanpa kegiatan bagi mahasiswa. Sampai ada yang sakit hingga
dirawat di RS karena lumayan parah. Sehingga berduyun-duyunlah teman-teman
IKAMI ini, ikutan nginep di RS jagain Syifa Rasyid. Kemanapun mahasiswa IKAMI
selalu grubyak grubyuk, rame dan bersama-sama.
Sesekali mereka
sembelih kambing dan mengolahnya menjadi Coto Makassar. Itulah untuk pertama
kalinya saya merasakan kuliner terbaik Celebes yang sangat legendaris ini.
Sempat kuajak teman kantor yang berasal dari Sengkang untuk ikut menikmati Coto
di Asrama DIeng. Sempat dia ungkapkan dengan nada gurauan bahwa setiap hari dia
makan pecel yang disajikan oleh istrinya yang orang Jawa. Sehingga menyantap
Coto Makassar membuatnya merasa refreshing. Semua teman disana ketawa renyah
mendengar curhatannya.
Setelah kenyang
menyantap Coto, seperti biasa kubrowsing makna kuliner ini. Ternyata sangat
mengejutkan. Coto Makassar dahulu adalah hidangan para raja. Tidak seperti
soto-soto Nusantara yang lain yang memiliki latar belakang budaya lokal, Coto
ini sangat dikenal legend. Dan baru kutahu bahwa isi Coto Makassar adalah
jerohan sapi dimana hidangan ini sangat disukai oleh para Raja Bugis dan
Makassar. Pertanyaannya kalau jerohannya disantap oleh para raja, apakah rakyat
jelata kemudian yang mengkonsumsi dagingnya. Ini masih menjadi pertanyaan
bagiku. Namun kalau saat ini kita bisa memilih karena sudah banyak yang peduli
dengan kesehatan, untuk tidak terlalu banyak mengkonsumsi jerohan sapi. Setuju
lah.
Beberapa kali
mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG mengadakan kegiatan pra acara BUDAYATA. Meski
begitu tidak mengurangi hingar binger kegiatan BUDAYATA yang sesungguhnya.
Akupun mencoba hadir di kegiatan yang mereka adakan, sambil korek-korek
kebiasaan rakyat SULSEL yang tercermin pada sahabat-sahabat IKAMI SULSEL
MALANG. Ada tari-tari yang menggambarkan permainan saat masa kecil, drama-drama
dengan dialog Bugis bahkan kegiatan permainan anak-anak. Permainan anak sangat
seru apalagi kalau dihadiri oleh mahasiswa Pasca S2 dan S3 asal Bugis Makassar.
Kebanyakan mereka berumur hampir paro baya, sehingga saat diajak main kelereng,
egrang, dende-dende dan permainan lainnya, mereka sangat menikmati. Teman-teman
mahasiswa bahkan sudah pada pulang, tapi teman-teman Pasca masih bertahan
lompat-lompat disana, Kasiang..
Pengalaman yang
paling berkesan saat itu adalah saat Irma, salah satu mahasiswa IKAMI SULSEL
MALANG asal Kalimantan meminjamiku baju Bodo atau baju Tokko. Baju-baju
tersebut adalah koleksi pribadi komunitas, termasuk pula perhiasannya. Wah
betapa bahagianya aku mengenakan baju dan sarung tersebut. Dan surprised,
kemudian kukenakan baju adat Sulsel, ini adalah moment yang kutunggu-tunggu.
Bangga sekali rasanya, setelah sekian lama hanya bicara dan menulis, akhirnya
aku mengenakan. Baju ini yang akhirnya kukenakan saat acara BUDAYATA pertama di
café itu.
Foto 3. Festival
Budayata pertama
Adalah Abi, seorang
mahasiswa jurusan Teknik yang memiliki jiwa seni dan budaya cukup kental yang
dengan ikhlas menyerahkan koleksi keluarga di Bone kepada komunitas mahasiswa
IKAMI. Baju-baju, sarung dan pernak perniknya inilah yang salah satunya kupakai
pada BUDAYATA. Gelang lengan yang tadinya belum lengkap, dengan petunjuk Abi,
akupun mencoba untuk menjahit. Dan jadilah sebuah gelang lengan yang sesekali
dipergunakan menari oleh mahasiswi-mahasiswi. Tari Angin Mamiri, tari Kipas dan
yang paling heboh tari yang para penarinya membawa obor. Abi pun dengan sangat
serius mengolah acara ini dari sejak pemilihan busana hingga mata acara yang
ditampilkan. Abi tipe orang serius, berpuluh toko telah dia lewati bersamaku
dengan Irma. Tapi sedikitpun tidak ada yang menggoyah hatinya. Kain-kain di
Malang tidak ada yang sesuai dengan kata hatinya. Walhasil teman-teman pun
mendatangkan kostum-kostum ini dari Makassar sekaligus dengan pemain
perkusinya. Heboh banget pokoknya.
Sampailah kemudian
pada moment paling penting, aku bisa datang dan hadir melihat Makassar secara
langsung. Saat kuinjak pulau Celebes, udara hangat menyelimuti. Tapi
kebahagiaanku sudah terbayar karena 6 tahun menunggu agar bisa menginjak pulau
Celebes. Adalah Prof. Aminuddin Salle yang banyak membaca tulisanku tentang
Karaeng Galesong di website, beliaulah yang memfasilitasiku untuk datang ke
Galesong dan mengijinkan tulisan-tulisanku untuk diterbitkan oleh Yayasan AS
Center. Merupakan suatu kebanggan dan kehormatan bagiku karena dengan tulisan
yang remeh temah namun membawa dampak cukup terasa bagi keluarga keturunan
Karaeng Galesong hingga raja terakhirnya sekarang yaitu Prof. Aminuddin Salle.
Seorang guru besar bidang Hukum Tanah Adat Universitas Hasanuddin. Dan beliau
pula yang mengantarku ke Bala Lompoa Galesong dan memberiku nama Paddaengang
yaitu Daeng Te’ne. Beberapa kali masih tergagap-gagap karena belum hafal dengan
nama ini. Namun kemudian menjadi terbiasa karena banyak yang memanggilku dengan
nama paddaengang ini, Daeng Te’ne.
Foto 4. Launching
Novel Karaeng Galesong Sang Penakluk Mataram
Tiba di Bala Lompoa
Galesong adalah sebuah keniscayaan, namun siapa nyana aku bisa mencapai Istana
Galesong dimana disana masih tersimpan artefak-artefak peninggalan Raja
Galesong pertama hingga sekarang. Ada juga Bungung Baraniya, sebuah sumur yang
tak jauh dari Bala Lompoa Galesong dimana para lasykar-lasykar Karaeng Galesong
yang hendak berangkat menuju medan laga, dimandikan di sumur ini. Sumur ini
cukup tua, legend dan berbau sejarah cukup kuat. Akupun sudah mencoba minum air
dari Bungung Baraniya, segar dan viral. Karena setelah aku minum air ini, fotoku
tersebar ke socmed. Dibilang seorang peneliti sejarah minum air dari Bungung Baraniya. Waduh!
Foto 5. Minum air
dari Bungung Baraniya Galesong Takalar
Wajo, Sengkang, Barru,
Sidrap dan Takalar adalah daerah yang sudah kulalui, sangat membahagiakan sudah
berada di tanah Bone. Seorang sahabat mengajakku kesana. Beberapa tempat
kulalui, yaitu Tosora dan makam Syekh Jamaluddin Akbar Al Husaini dan juga tak
lupa pula mendatangi makam La Madukeleng. Saat melalui Tosora, temanku banyak
bercerita bahwa daerah ini adalah daerah pertempuran Aru Palakka. Dan
sepertinya aku bisa rasakan itu disana. Sempat mampir sebentar setelah melihat
seorang wanita menenun kain, dan semangat selfie ku jadi membara melihat mesin
tenun manual tersebut. Lalu jadilah sebuah foto seorang cewek asal kota Malang
yang menenun di Tosora. Ngakak berkali-kali melihat polahku yang tak
terkendali.
Foto 6. Di Tosora
Kalau selama ini aku
mendengar lagu Danau Tempe, nah saat itu aku melihat secara life danau
tersebut. Memang airnya sudah sangat berkurang. Hal ini karena pasokan air dari
Sungai Sa’dang Toraja yang juga berkurang. Sungai Sa’dang adalah sungai yang
acap kali dipergunakan para rafter karena geografi sungai yang lumayan
menantang. Namun tidak mengurangi rasa bahagiaku bisa melihat Danau Tempe ini
dari dekat sambil nyanyi-nyanyi Bulu Alauna Tempeeeee.. yihaaa.
Banyak kenangan manis
yang kudapatkan dari mahasiswa IKAMI SULSEL MALANG. Jayalah IKAMI SULSEL,
Jayalah IKAMI SULSEL MALANG.
Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan) 🙏
👉 Hadits di atas mengisyaratkan suatu perilaku yang dapat mengantarkan seseorang meraih cinta Allah SWT dan manusia. Perilaku itu adalah zuhud. Secara etimologi, zuhud adalah menjauhkan diri dari sesuatu karena menganggap hina dan tidak bernilai. Bagi para sufi, zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang lebih dari keburukan hidup walaupun sudah jelas kehalalannya.
Berlaku zuhud tidak berarti berdiam diri dan tidak melakukan usaha apa pun untuk mendapatkan rezeki yang halal. Zuhud bukan sikap malas. Seorang zahid (orang yang zuhud) sama sekali tidak identik dengan orang fakir yang tidak mempunyai harta apa pun. Seorang zahid adalah orang yang mendapatkan kenikmatan dunia tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Ia tidak diperbudak dunia dengan segala kenikmatannya, dan mampu menahan diri untuk tetap berada di jalan yang diridhai Allah.
Zuhud adalah perbuatan hati (af’al al-qulub). Seorang zahid, dalam hatinya tumbuh keyakinan bahwa apa yang ada dalam genggaman Allah lebih bernilai daripada yang ada dalam genggaman manusia. Ia yakin Allah adalah al-razzaq, penjamin rezeki semua makhluk. Imam Husain bin Ali berkata, ”Salah satu ciri lemahnya iman seseorang adalah menganggap bahwa yang ada pada manusia lebih bernilai daripada yang ada pada Allah.”
“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadapp apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”
Perilaku zuhud juga sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Zuhud dalam bermasyarakat adalah dengan menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan sosial yang dapat merusak keharmonisan hidup bermasyarakat seperti menggunjing, mengadu domba, berjudi, dan mengonsumsi narkotika, psikotropika, dan barang terlarang lainnya. 🌿
👉 Dalam hidup bermasyarakat, seorang zahid mampu menahan diri untuk tidak mengambil hak milik orang lain dengan cara yang dilarang oleh agama. Allah SWT berfirman, ”Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari harta benda orang lain itu dengan jalan berbuat dosa, padahal kamu mengetahui.” (QS. 2: 188). 🙏
👉 Seorang zahid tidak akan dengki terhadap kenikmatan yang dimiliki orang lain. Ia sadar, perbedaan nikmat yang diberikan Allah kepada manusia adalah ujian bagi ketaatannya kepada Allah. Rasulullah SAW memerintahkan setiap Muslim untuk menjauhi sifat dengki karena dapat menghapus semua pahala kebaikan seperti api melalap kayu bakar. (HR Abu Daud).🎋
👉 Setiap Muslim hendaknya mampu menanamkan zuhud dalam hidupnya agar mampu menyikapi kenikmatan dunia searif mungkin dan mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.
Berbicara “Maulud Nabi” (Nabi Muhammad saw) atau kelahiran Nabi, berarti berbicara Islam, itu dilahirkan. Sebab, Islam tidak akan diketahui tanpa kelahiran Nabi Muhammad saw yang lahir di Makkah dengan seorang ibu bernama Aminah dan seorang ayah bernama Abdullah, berbangsa dan berbahasa Arab. Maka, dengan kelahiran seorang Nabi yang sangat mulia ini, wujud basyar atau manusia biasa, agar mudah dicontoh suri tauladannya oleh umat manusia pada umumnya; Beliau Nabi Muhammad saw dilahirkan dan dibangkitkan dengan misi dan tugas utamanya untuk memperbaiki akhlaq budi manusia. Maka, dengan demikian, Islam dapat diketahui. Artinya, mengetahui dan bertemu Islam adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yaitu Nabi Muhammad saw, agar manusia selamat mulai awal diadakan sampai kembali ke asal muasal manusia berasal, yaitu Allah swt.
Lalu apa Islam itu, kiranya perlu dijelaskan agar didapatkan suatu pengertian. Sehingga, seseorang yang telah mendapatkan pengertian, sedapat mungkin dirinya bisa mempraktekan atau memperlakukannya secara tepat dan benar. Perlakuan atau praktek yang tepat dan benar, maka akan didapatkan paham yang benar, demi terhindarnya seseorang dari kesalah pahaman atau pahamnya menjadi salah.
Islam, sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah swt, di dalam surat Ali Imron ayat 19 adalah yang di sisi Allah. Artinya, Islam itu, yang di sisi Allah. Jalan tempuh menuju yang di sisi-Nya adalah agama (QS 3 : 19). Maka,yang di sisi Allah (‘inda-llah) itulah, al Islam yang musti ditemukan melalui jalan tempuh agama (diin), atau lebih jelasnya disebut “diinul haq”, yaitu jalan kebenaran, berupa petunjuk risalah kenabian beliau Muhammad saw (QS. 48 : 28). Untuk bertemu dengan al Islam yang di sisi Allah, jalan tempuhnya adalah bertemu dengan yang membawa Islam, yakni Nabi Muhammad saw. Bertemu dengan yang membawa Islam, maka bertemu Islam.
Untuk bisa bertemu dengan yang membawa Islam, janganlah seseorang bersikap keterlaluan (baghyan) dan ingkar terhadap berbagai ayat Allah dengan memperselisihi catatan (imannya) dan ilmu yang ada di dalam dadanya. Maksudnya, setiap diri manusia hendaknya mengikuti catatan (al kitab) yang tiada keraguan di dalamnya, ia bersifat benar, terpercaya, jujur dan tidak dungu (QS. 2 : 2). Catatan itulah, yang disebut dengan iman, ilmu (QS 29 : 49), nikmat (QS QS. 55 : 13, 16, 18, 21 dst) dan taqwa (QS. 22 : 32). Mengikuti iman, ilmu, nikmat dan taqwa, berarti manusia tidak mengikuti keinginan (hawa) nafsu yang bersifat mendorong untuk melakukan kejahatan (ammarah bi su’), wujud mencela selain dirinya (lawwamah). Sehingga, kedua dorongan nafsu nafsu tersebut menjadi tertundukan. Selanjutnya, ia (nafsu) mendorong diri manusia untuk melakukan kebaikan (mulhamah), sehingga didapatkan ketenangan (muthmainnah, kerelaan (radhiyah), demi untuk mendapatkan ridho Allah swt (mardhiyah), agar diri manusia mampu bergabung dengan seluruh manusia (QS. 89 : 27, 28, 29, 30), bagai hamba Allah yang selalu berkasih sayang laksana saudara sekandung (rahim ibu), sebagai cerminan atau pantulan dari rahmah Nabi Muhammad saw (QS. 21 : 107) sebagai Rasul utusan Allah Yang Maha Rahman dan Rahiim.
Manusia yang mengikuti imannya, maka ia bersifat mukmin dan mukminlah yang menegakkan sholatnya (QS 23 : 1, 2). Maka, manusia yang bersifat mukmin itu, akan menjalankan sholat secara rukun (fisik) yang dipimpin oleh imannya yang di dalam dadanya, minimal 5x dalam sehari semalam. Yaitu, Maghrib, Isya’, Shubuh, Dhuhur dan Ashar.
Maka, “maulud” atau dilahirkan, itu pada diri Nabi Muhammad saw, dan “maulid” adalah pada diri mukmin yang menegakkan sholatnya. Oleh karena itu, lahirnya diri mukmin pada diri manusia dengan menegakkan sholat, merupakan pertemuannya dengan diri Nabi Muhammad saw yang telah dilahirkan atau “maulud” sang pembawa yang di sisi Allah atau atau al Islam. Bertemu dengan yang membawa keselamatan atau Islam, berarti bertemu dengan yang di sisi Allah. Bertemu dengan yang di sisi Allah, berarti kembali kepada Allah. Kembali kepada Allah, berarti kembali kepada asal muasal manusia berasal, yakni Allah swt, bersama dengan yang di sisi Allah, yaitu Nabi Muhammad saw sebagai Rasul utusan Allah. Sebab, beliau Nabi Muhammad saw sebagai Rasul utusan Allah, adalah “wasilah” perantara bagi manusia yang dipimpin oleh imannya untuk bisa sampai kepada Allah swt.
Setiap menjelang lebaran hampir semua orang disibukkan mempersiapkan untuk hari Lebaran, hari kemenangan, hari yang ditunggu-tunggu setelah sebulan menahan diri dengan berpuasa selama 30 hari.
Apa saja persiapan yang biasa dilakukan menjelang lebaran?
Yang jelas selain baju lebaran, ibu-ibu selalu menyiapkan hidangan apa yang nanti akan disantap sepulang dari sholat Ied. Sehingga nggak heran orang belum salam-sal;aman memohon maaf, hidangannya disikat duluan. Mungkin karena nggak sabar menunggu dan sudah menahan selama 30 hari.
Beberapa masyarakat di tanah air banyak menyediakan ketupat untuk hidangan utama di saat lebaran. Yaitu di hari pertama Iedul Fitri. Namun mungkin beda yang terjadi dengan masyarakat di Jawa Timur khususnya di kota Malang, di kota kelahiran saya.
Ketupat.. ketupat..ketupat.. hanya ada di hari ke 5 lebaran. Mungkin banyak yang bertanya kenapa ketupat muncul di hari ke 5 lebaran. Hal ini karena di banyak tempat, ketupat merupakan hidangan wajib di saat lebaran. Apalagi selalu dibarengi dengan opor ayam, sambal goreng kentang hati dan rendang.
Ketupat yang muncul di hari setelah Iedul Fitri berfilosofi bahwa pada hari tersebut adalah hari dimana mereka yang berpuasa Syawal merayakan hari Raya yang sesungguhnya yaitu di hari ke 5. Budaya ini sehingga mengakar di kalangan masyarakat kota Malang dan sebagian kota Blitar..
Kadang kita tidak menemukan daun janur di pasar pada sehari menjelang lebaran. Sehingga digunakanlah daun pisang untuk membuat lontong beras.
Setiap daerah memang memiliki kebiasaan yang unik untuk menyediakan hidangan lebaran. Teman yang berada di Lampung ternyata menyediakan pempek khas Lampung saat lebaran. Kemudian teman-teman di Makassar sudah pasti menyediakan Coto Makassar untuk hidangan lebarannya. Dan pasti disediakan dengan lontong khas mereka yaitu buras. Bagi masyarakat Ambon, kota kelahiran orang tua, hidangan yang cukup penting dan jarang ada di hari -hari biasa yaitu Sup Sayuran dan Gado-gado.
Apa yang membuat hidangan ini sangat istimewa? Nah ternyata karena kesulitan untuk mendapatkan bahan bakunya yang membuat hidangan ini menjadi hidangan wajib saat lebaran.
Di Malang pun saat ini banyak kuliner lebaran sudah mulai bergeser. Bakso adalah makanan khas kota Malang yang cukup digemari. Sehingga bakso seringkali menjadi pilihan untuk disediakan saat lebaran.
Mudik menjadi sebuah budaya yang cukup kental dan dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tidaklah afdol kalau tidak mudik. Mudik merupakan wujud dari silaturahim dan kasih sayang kepada keluarga, orang tua dan sanak saudara..
Hal ini sudah berlaku lama pada budaya masyarakat Indonesia. Persiapan untuk mudik pasti dibuat sedemikian rupa, matang dan mantap. Hal ini karena mudik dilakukan berbatas tempat yang kadang sangat jauh. Sehingga apabila persiapan kurang matang maka kurang sempurna kegiatan mudik nanti
Kata mudik berasal dari kata udik yang berarti desa. Namun kata udik dalam hal ini seringkali berkonotasi kurang pantas. Seperti contoh begini :
“Dasar orang udik lu” (dasar orang desa kamu)
Maka kata udik sering disebut berkonotasi kurang baik karena ungkapan ini.
Namun tidak pernah diungkapkan seperti ini
“Saya berasal dari udik” (saya berasal dari desa)
Karena apabila akan mengungkapkan hal seperti ini maka istilah yang dipergunakan adalah tetap menggunakan kata desa.
Kadang kata membawa makna yang cukup luas. Mudik memang bagi orang kebanyakan adalah pulang ke desa. Namun Desa saat ini sudah tidak lagi berkonotasi sebuah tempat yang jauh dari istilah teknologi . Desa saat ini sudah menjadi lokasi yang lengkap dan modern meski masih diwarnai dengan suasana alam yang indah dan menawan.
Seorang guru di Sampang meninggal dengan cara yang kurang elok, dipukul bertubi-tubi oleh siswanya. Seorang siswa SMU kelas XII di SMAN Sampang. Miris sekali mendengar kejadian yang mencoreng moreng pendidikan di Indonesia. Guru yang masih muda, masih panjang masa depannya, dengan kreatifitasnya yang masih tinggi dan terbuka lebar. Diketahui sang guru adalah seniman berlatar belakan pendidikan cukup tinggi yaitu sarjana Seni Universitas Negeri Malang. Seorang pria muda yang akan menimang putra yang masih berada 4 bulan dalam kandungan ini dengan terpaksa tergeletak tepar tak sanggup menghadapi maut gegara batang otaknya yang sudah tersakiti oleh siswanya. Siswa yang bisa jadi berkebutuhan khusus, memiliki masalah psychologis hingga tega menghabisi gurunya tanpa ampun.
Entah kenapa di zaman seperti ini, zaman yang disebut zaman now nilai mental dan spiritual sudah makin menipis. Mungkin siswa ini bangga atau bahkan bahagia dengan ulahnya bisa menganiaya gurunya, bisa berbuat anarkhis. Kepada orang yang seharusnya dia hormati. Guru dalam singkatan bahasa Jawa kependekan dari digugu dan ditiru. Artinya guru itu itu sebagai contoh baik yang diambil sisi kebaikannnya. Kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan atas segala contoh yang telah diberikan.
Teringat masa kuliahku di tahun 2016 semester ganjil, saat aku menjalani kuliah S3 ku secara klasikal di Pasca Sarjana Universitas Sebelas Maret. Selama dua semester kuliah kujalani disana hampir-hampir stress rasanya. Stress bukan karena materi kuliah nya. Tapi justru salah satu dosen yang bikin kesal sangat. Kalau ingat-ingat siswa yang menganiaya gurunya di Madura, mungkin hal itu sudah akan kulakukan. Alhamdulillah saya tidak gelap mata. Beliau masih kuanggap sosok guru yang digugu dan ditiru. Entah ditiru apanya, naudzubillahi min dzalik. Hampir setiap kali mengajar, mulut beliau (maaf) tidak pernah lepas dari kata-kata jorok apapun itu. Hampir setiap kali bibirnya dihiasi dengan ungkapan-ungkapan tak layak. Belum lagi yang suka menggoda mahasiswa perempuan. Miris sekali rasanya bertemu dengan beliau. Sehingga di grup WA pun beliau masih menjadi bahan perbincangan hangat (baca:bully) oleh kita semua. Sesekali ada mahasiswa yang dulu mantan mahasiswa beliau di S1 dan S2 membela beliau. Diungkapkan dengan sedikit menghibur bahwa kita ambil baiknya sajalah dan apalagi semester ini sudah hampir berakhir. Heran juga ya masih ada saja teman yang bilang, diambil baiknya. Selama setahun berkutat dengan kelas beliau, rasa2nya nggak dapat apa-apa. Satu semester bahas Cuma 7 lembar dan metode mengajarnya aneh, kita disuruh menerjemahkan dan menjelaskan. Lalu apa fungsi guru disana? Binun..
Guru itu sudah pasti diambil hikmah, ilmu dan berkahnya. Dan guru seperti Prof Edi itu diambil apanya coba?
Kadang salah kaprah ingin memanggil seseorang. Dengan cara bagaimana, kosakata apa. Perlu kita tahu lebih dalam bagaimana cara memanggil, jangan-jangan kita menggunakan kosakata yang salah.
Suatu contoh, panggilan kanda. Mungkin anda tidak menyangka kalau panggilan ini sering dipergunakan di Sulawesi khususnya Makassar. Kanda adalah panggilan hormat kepada orang yang lebih tua dengan tujuan ingin menghormati mereka dan membawa suasana menjadi lebih akrab namun masih dalam batas formal. Kanda di pulau Jawa padahal, adalah kosakata yang sudah jarang lagi dipergunakan. Kanda adalah panggilan istri terhadap suami. Dan itupun sudah jarang kita temui. Kanda hanya bisa ditemui di cerita-cerita rakyat klasik.
Panggilan seperti ustadz seringkali dilayangkan kepada orang-orang yang khusus memiliki dan mengenyam ilmu agama atau bahasa Arab. Sehingga biasanya mereka dipanggil ustadz oleh muridnya, audience di kelas, masjid atau komunitas. Namun demikian saat ini ustadz banyak dipergunakan di perguruan tinggi terutama Islam. Sehingga seluruh dosen dipanggil dengan nama panggilan ustadz ini. Kadang disayangkan karena tidak semua dosen memiliki ilmu agama yang cukup kuat sehingga untuk dipanggil dengan julukan tinggi seperti ini mungkin agak rumit jadinya.
Panggilan gelar seperti professor juga menggelitik. Banyak diantara mereka tidak terlalu ribet ingin dipanggil dengan gelar ini. Namun tak sedikit dari mereka ingin dipanggil dengan gelar tertinggi bidang akademis. Kadang ada pula yang moody, ingin dipanggil professor namun disisi lain dipanggil ustadz. Ini justru sungguh menggelikan.
Haji juga sangat mempengaruhi seseorang untuk bertindak. Saat di pasar, seorang ibu yang belum berangkat ke tanah Makkah, dipanggil dengan panggilan umi atau bu haji. Secara tidak sadar wanita itu senyum-senyum dan segera membeli barang yang ditawarkan. Oleh karena itu panggilan haji ini begitu mujarab dilakukan oleh para penjual di pasar, terutama pasar tradisional. Pak haji dan bu haji adalah akal-akalan para penjual agar dagangannya bisa laku.
Kuliah pasca bukan lagi barang baru saat ini. Kuliah di pasca bukan lagi barang mewah di era ini. Ratusan mahasiswa berkehendak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi setelah melalui masa wisuda S1 dan atau memang mengambil program elit tersebut dikarenakan kebutuhan kerja yang semakin menantang.
Banyak institusi pendidikan mendirikan program pasca untuk memfasilitasi kebutuhan dan permintaan banyak mahasiswa dan alumni S1 di Indonesia. Sehingga hal ini menjadi kebutuhan dan keinginan banyak orang untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
Sekitar tahun 95an sudah banyak permintaan para mahasiswa untuk melanjutkan studi, terutama di perguruan tinggi negeri penyelenggara program pasca sarjana. Saat itu kebanyakan hanya orang-orang yang sudah bekerja dan berumur yang mengikuti program studi pasca sarjana. Namun saat ini bahkan fresh graduate pun tak kalah ambil alih untuk bisa mengupgrade diri melalui studi lanjut ini.
Sekedar ingin memberikan saran, tulisan ini mudah-mudahan menjadi inspirasi bagi para mahasiswa pasca dalam memilih perguruan tinggi maupun menjalaninya selama tiga semester ke depan.
Penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di program pasca biasanya dilakukan selama 3 semester. Dan selama itu pula biasanya mahasiswa pasca dikenai biaya administrasi sampai menjelang ujian tiba. Apabila bijak memanage waktu, sisa 1 semester bisa dipergunakan untuk menyelesaikan thesis. Bagi mahasiswa S3 diperkirakan satu tahun bisa menyelesaikan disertasinya setelah 3-4 semester teori dilaksanakan.
Banyaknya buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa pasca, mengakibatkan biaya studi menjadi membengkak. Buku-buku tersebut sangat besar dan tebal. Salah satu strategi mahasiswa pasca untuk mengurangi beban biaya buku yang membengkak adalah dengan meminjam kakak tingkat atau dowloand buku-buku e-book. Saat ini buku-buku sudah banyak didapatkan dalam bentuk PDF atau print document file. Buku-buku lama terutama, sudah banyak yang telah dikonversikan ke dalam versi PDF.
Namun demikian banyak para dosen pasca dalam rangka mengisi angka kredit, mereka membuat buku-buku yang terutama ditujukan untuk kepentingan mahasiswa. Buk-buku ajar ini menjadi ajang bisnis para dosen pasca yang bisa dijual langsung kepada mahasiswa pasca. Namun demikian, buku-buku ini juga beragam. Ada buku yang memang sengaja dibuat dan tidak ada hubungannya dengan mata kuliah yang diambil oleh mahasiswa. Sehingga mahasiswa membeli buku ini sebagai pelengkap materi saja. Sedangkan ada juga dosen yang mendesain bukunya yaitu memeras dari puluhan buku-buku wajib yang telah diajarkan dan dipakai oleh mahasiswa pasca sebelumnya.
Sehingga mungkin sangat disayangkan apabila mahasiswa tidak memanfaatkan buku intisari dari seluruh materi yang telah pernah diajarkan sebelumnya. Buku-buku research banyak direproduksi kembali oleh para dosen agar bisa memanjakan mahasiswanya dengan buku-buku research yang lebih mudah dipahami bahasanya. Kebanyakan buku-buku research terkenal dengan bahasanya yang kurang bisa dipahami. Para pakar research seperti Bogdan dan Bilken tak urung menjadi rujukan utama dosen yang mendesain buku ajar research. Salah satu buku yang sangat enak dibaca dan menjadi rekomendasi untuk mahasiswa pasca adalah buku Research Methodology yang disusun oleh Prof. Adnan Latief. Buku berbahasa Inggris yang mudah dipahami ini mudah juga didapat di UNISMA Malang.
Kuliah di pasca memang berat, namun banyak trik dan cara yang membuat anda menjadi tidak berat. Semisal contoh kelompok diskusi. Banyak kegiatan belajar di pasca sarjana diisi dengan diskusi dan presentasi. Disamping itu pula tugas-tugas mingguan, tengah semester dan tugas akhir semester. Semua itu membutuhkan prioritas penuh dari kita untuk menjalaninya. Trik sangat diperlukan agar tidak menumpuk di awal, tengah maupun akhir. Oleh karena itu saat awal dosen membeberkan silabus perkuliahan saat itulah terbentuk kelompok-kelompok diskusi dan presentasi. Saat itu pula anda mengajukan diri untuk tampil di kelompok awal. Misal kelompok satu atau dua. Apapun yang terjadi, mungkin anda grogi. Namun ini adalah titik awal dari seleuruh presentasi di kelas anda.
Sebenarnya presentasi di depan kelas adalah sekedar test speaking. Apabila anda lancar berbicara, anda pahami apa yang anda tulis dalam paper, dan anda jawab setiap pertanyaan dan tanggapan dengan jelas dan sopan itu sudah lebih dari cukup. Jawaban-jawaban yang tidak menggurui, jawaban yang komprehensif dan jelas tanpa ada rekayasa karena anda tidak paham isi paper, ini akan menjadikan diskusi menjadi hangat. Terima setiap masukan dari rekan di kelas, pula masukan dari dosen pengampu. Yang jelas jangan sampai berargumen dengan dosen dan mempotong bicara mereka. Ini akan menjadi petaka anda seumur hidup, apalagi bila dosen pengampu mata kuliah anda adalah dosen killer.
Ternyata masih ada dosen pasca yang masih mempergunakan OHP atau over head projector dalam kegiatan mengajarnya. Sungguh out of date!
Namun apa yang disajikan oleh dosen Landasan Pendidikan ku ini sangat luar biasa. Pengalamannya sebagai dosen puluhan tahun dan melanglang buana ke seluruh dunia sangat berarti bagi kami mahasiswa yang notabene buta dunia. Tau dunia hanya dari globe! Itu masalah besar sebenarnya.
Namun professor saya ini tak lekang oleh zaman. Staff pasca pun dengan tergopoh-gopoh gotong mesin OHP tersebut ke dalam ruang kelas. Banyak kelakar teman-teman yang mengatakan ingin copy file dan memasukkan flash disc. Lalu mau dimasukkan dimana?? (gue juga binun)
Apa yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasaca justru bukan pada masalah belajar atau masalah keuangan. Mereka semua sudah siap secara finansial. Mereka mendaftar karena ada dana tersebut. Atau mereka mendaftar karena ada yang menyokong dana dari institusi dimana mereka bekerja. Secara finansial dan strategi belajar, sebenarnya justru tidak ada masalah. Itu adalah masalah-masalah yang banyak dihadapi oleh mahasiswa S1 sepertinya.
Namun apa sebenarnya yang sering dihadapi oleh mahasiswa pasca??
Anda tau apa? Hanyalah kesulitan pada masalah-masalah sosial malah! Seperti contoh : masalah yang muncul saat tengah studi adalah nikah, hamil, putus dana SPP karena kebutuhan lain, jarak yang jauh dengan rumah yang mengakibatkan masalah komunikasi, keadaan dirumah yang tidak memungkinkan untuk belajar dengan lancar, situasi kelas dimana harus bersosialisasi dengan orang-orang dewasa (pembelajar dewasa) yang memiliki strategi belajar berbeda dan lain-lain.
Artinya apa? Hal-hal seperti kesulitan keuangan malah bukan mendominasi masalah-masalah mahasiswa pasca.
Saat dosen memberikan tugas-tugas terstruktur, itu adalah prioritas kerja mahasiswa pasca. Semakin kiuta menunda kerja, semakin bertambah masalah. Saat tugas menumpuk di akhir semester, kita tidak tahu apa yang terjadi. Bila sakit melanda, atau masalah lain yang harus diselesaikan saat itu, maka tiada kata lain. Kita hanya bisa mengatakan menyesal kenapa tidak dari awal kita kerjakan.
Oleh karena itu strategi menempatkan kelompok di awal menjadi penting karena anda bisa cepat mengerjakan tugas-tugas yang lain yang masih menunggu. Belum lagi tugas-tugas dari institusi dimana anda bekerja yang belum terselesaikan. Ini bisa anda kerjakan sembari menghabiskan kuliah selama tiga semester.
Teman saya, mahasiswa S3 Ekonomi Universitas Brawijaya Buyung Romadhoni sempat cerita yang keteteran karena tugas-tugas yang menumpuk gunung. Tugasnya mencengangkan! Yaitu mengumpulkan referensi berupa PDF sebanyak 2000 judul. Hal ini mengakibatkan dia mengusung 2 buah laptopnya dari Makassar, karena satu laptop saja ternyata tak cukup. Satu dipakai untuk dibawa kuliah di kelas. Satu tetap di kos2annya sedang mendownload tanpa henti. Memang mencengangkan temenku yang satu ini.
Mungkin anda masih ingat, atau tau mahasiswa S1 itu selalu berpenampilan segar, trendy dan modis. Cowok-cowok juga berambut klimis dan ngebut dengan motornya masuk ke dalam kampus. Lain halnya dengan mahasiswa pasca. Prof. Baradja dosenku sempat berkelakar saat mengajar di kelas S1 mencium bau harum dan segar karena mereka adalah para muda yang selalu tampil fresh. Lalu Prof. Baradja sambil tersenyum mengungkapkan, inilah bedanya kalau mengajar di S1 dan di pasca. Kalau di pasca para mahasiswa ini bau minyak angin. Ahahaha..ada-ada saja Professor satu ini. Hmm cara mengajar beliau juga sangat out of date, menggunakan OHP dan transparansi. Mudah-mudahan beliau diberi kesehatan yang prima. Prof. Baradja, dosen favorit kita di UM. Doa selalu saya ucapkan untuk beliau.
Yang lucu lagi, dulu ada teman yang punya profesi paranormal. Hal ini dia lakukan dari sejak SMP karena kemampuan itu dia dapatkan secara turun temurun. Jadi mau tidak mau dia harus legawa menyimpan kemampuan tersebut. Namun asiknya dia bisa mengetahui soal-soal UTS dan UAS sebelum test itu diadakan. Sehari sebelumnya dia sempat telpon dan menunjukkan kisaran soal-soalnya. Dan woila! Ternyata benar apa yang dia bilang. Haha..
Tapi itu tak lama. Setelah itu sahabat saya ini cepat lulus dan pulang terlebih dahulu ke Kalimantan.
Hmm sebuah pengalaman yang (masih) pendek. Panjang tapi susah untuk diceritakan kembali.
Sedianya sahabat saya Aswan akan menikah beberapa minggu nanti, maka beberapa jam lalu dia sempat melaksanakan upacara adat Bugis “Mappacci”. Dalam adat Jawa seorang calon pengantin akan pula mengadakan upacara ini yang disebut malam midodareni. Malam dimana sang pengantin putri melaksanakan upacara adat dengan menghabiskan malam dengan berdoa memohon kasih dan kuasa Allah SWT. Dalam adat Bugis, upacara ini pun dilaksanakan oleh pihak pengantin putra. Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya mengenakan busana pengantin adat Bugis berwarna kuning keemasan yang khas dengan ikat kepalanya berwarna merah dan beberapa ornamen dan asesoris yang menyala.
Senyumn Aswan pun merebak semenjak pukul 7 malam itu. Upacara Mappacci ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Basenang Saliwangi dan sahabat saya RinaSari yang dihadiri oleh keluarga dan sahabat dari KKSS dan IKAMI SULSEL Cabang Malang. DIawali dengan pemberian tanda daun sirih secara adat dan simbolis di kedua telapak tangan Aswan dari bapak dan ibu keluarga KKSS yang menyempatkan hadir disana tadi. Kemudian dilanjutkan dengan ceramah oleh bapak Basenang Saliwangi.
Beberapa sahabat IKAMI SULSEL Cabang Malang pun hadir ingin memberikan ucapan selamat kepada Aswan. Dan yang tak pernah ketinggalan kue-kue adat khas Bugis seperti Biji Nangka, Lidah Tedong dan lain-lain. Ornamen daun pula menghiasi beberapa lipatan sarung yang disusun rapi dan diletakkan tepat diatasnya. Daun tersebut membentuk sebuah ornamen bulat matahari, sebagai bagian dari syarat upacara adat Mappacci
Semua ini baru bagi saya dan pertama kali melihat upacara adat Bugis, Mappacci. Saat sahabatku Rina Sari sms bahawa akan ada even ini di kediamannya, saya langsung tekan gas menuju kediaman bapak Basenang.
Sungguh luar biasa, ini adalah sebagian budaya Indonesia yang adiluhung dan agung. Selamat bagi Aswan yang telah melaksanakan upacara adat sehingga budaya ini akan masih terpelihara dengan baik sampai anak cucu kita nanti.