Terkecoh Lomba Blog

Banyaknya lomba Blog yang menjamur di dunia maya menjadikan para pegiat keyboard semakin termotivasi. Melalui media penyelenggara web dan pendukungnya twitter dan facebook, para penulis ala keyboard ini semakin jauh beranjak memaksimalkan otak dan keinginan untuk terus berekspresi dan maju.

Dalam paruh tahun pertama sudah ada puluhan lomba yang diselenggarakan oleh Blog berbasis pemerintah, lembaga sosial, lembaga swadaya, dan individu web blog. Yang banyak dishare saat ini adalah kebudayaan, seni, pariwisata dan support bidang iklan. Memang kadang asik sekali menggeluti tulisan-tulisn berkompetisi. Banyak penulis-penulis mengandalkan informasi-informasi dunia maya, sehingga sangat terlihat secara eksplisit dalam tulisan-tulisannya bahwa dia hanya berpegang pada intuisi dan bukti-bukti non otentik, seperti informasi maya.

Namun banyak pula yang mengandalkan pengalaman telah melaksanakan perjalanan jauh. Dengan berbekal pengalaman tersebut seorang penulis jauh lebih menguasai apa yang akan ditulis dan didukung dengan foto-foto yang akurat dan sesuai. Penulis semacam ini sangat terlihat jelas secara eksplisit dalam tulisannya, mudah dipahami alurnya, dan tidak berbelit-belit.

Apakah ada kriteria-kriteria tertentu untuk Lomba Blog? Menurut hemat saya sejak awal sudah ditentukan keberadaan lomba ini mencantumkan kriteria-kriteria yang papar agar supaya tidak ada kekecewaan peserta lomba dikemudian hari. Blog memang sangat banyak fitur-fitur rumit dimana setiap pembacanya bisa menikmati. Apabila slaah satu kriteria lomba tersebut adalah desain blog yang menyesuaikan dengan tulisan, maka sangat laik diungkapkan di awal pengumuman lomba dimana setiap blogger akan juga berusaha mendesain template blog masing-masing. Apabila tidak maka desain blog akan sangat mempengaruhi hasil keputusan juri lomba blog tersebut. Maka blog-blog dengan tulisan-tulisan menarik namun diiringi dengan desain blog yang minim akan langsung tersisih.

Tulisan-tulisan peserta yang saya baca sangat beragam gaya. Hal ini disebabkan karena latar belakan penulis yang bukan orang-orang bahasa atau linguistics. Salah satu peserta yang menang saya acung jempol karena memakai diksi-diksi khas. Seperti lagu-lagu milik KLA Katon Bagaskara, terkenal dengan kata-kata baru yang bahkan tidak ditemukan di KBBI. Namun dengan memahami konteks secara keseluruhan, diksi-diksi beragam yang dipakai oleh penulis ini sangat bisa dipahami dan dinikmati. Lain halnya dengan pemenang-pemenang lain yang mengandalkan pengalaman dan info-info statistik. Informasi seperti itu kadang membuat pembaca menjadi jenuh. Berkutat dengan angka-angka yang memedihkan mata. Namun itulah yang terjadi, justru tulisan ini yang muncul sebagai pemenang. Belum lagi dengan tulisan definisi-definisi layaknya kamus, menunjukkan specs-specs sebuah lokasi wisata, atau informasi-informasi ingredients sebuah produk yang sangat identik satu sama lain. Namun apa yang terjadi sungguh di luar dugaan.

Tulisan-tulisan itu memenangkan lomba ini!! Oh my God!

Semuanya menjadi mungkin. Betapapun usaha-usaha mempromosikan wisata daerah dengan gaya artikel fiksi agar tulisan menjadi tidak kaku dibaca menjadi termarginalkan dengan tulisan yang penuh dengan specs-specs lokasi wisata. Dan tulisan itu hanyalah sebagai sebuah pepesan kosong. Nepotisme dan kolusi akhirnya sangat erat kaitannya dengan lomba Blog. Sebuah komunitas milis dan blogger akan berpikir dua kali untuk tidak membalas memberikan penghargaan pada komunitas lain yang telah memberikan hadiah sebelumnya. Iming-iming berbentuk iPad memang sangat menarik. Namun bila merujuk pada event-event lomba sebelumnya yang saling berkait dan seolah hanya bertukar hadiah saja menjadikan event ini terlihat sangat memuakkan.

Mungkin perlu berpikir panjang untuk memasukkan tulisan-tulisan berbobot, tulisan yang telah dipuji secara offline tetapi tidak di online, tulisan-tulisan yang secara tidak langsung mempromosikan kepada dunia tentang satu produk, satu lokasi geografis dan wisata. Kadang melintas pikiran-pikiran jorok, kenapa harus pusing mempromosikan wisata daerah yang jauh dari tempat tinggal kita. Kota kecil ini masih banyak membutuhkan jari-jari lentik untuk memperkenalkan bahwa kota ini ada. Merujuk pada tulisan saya sebelumnya.

Dan Lomba Blog hanyalah sekedar ajang bertukar hadiah semata, dan bukannya evaluasi terhadap tulisan dan promosi yang sesungguhnya. Ciyan!

Salam

Salam

Cita Rasa Kartini

Cita Rasa Kartini

Banyak yang tidak tau diantara kita bahwa Ibu Kartini pernah mengarang sebuah buku. Yang kita tau ibu Kartini adalah menulis banyak surat yang telah dikompilasi oleh orang berkebangsaan Belanda, Abendanon. Buku yang telah beliau karang tersebut adalah sebuah buku sederhana yang dipergunakan sebagai materi bahan ajar di sekolah yang beliau bangun tepat di belakang kediaman R.A. Kartini, di belakang keraton tersebut.

Surat-surat R.A Kartini yang dikompilasi dengan tajuk Habis Gelap Terbitlah Terang begitu sangat membahana hingga sekarang. Perjuangan seorang wanita bangsawan yang dikungkung dalam tembok penghapus peradaban. Motivasi didalam dirinya yang sangat kuat tersebut tak pupus menghentikannya untuk terus belajar. Rasa iri terhadap kakaknya R. Sosrokartono yang lanjut studi di Italia membuat dirinya tersadar bahwa ilmu itu luas tanpa batas, tak memandang siapa pembelajarnya. Persepsi belajar itu bebas bagi siapapun yang menginginkannya tampak suram di masyarakat lingkungan keraton.

Namun itulah Kartini, semangat belajar dan tetap menulis yang beliau miliki ternyata tidak bisa stagnant. Semangat itu mengalir dalam jutaan butir darah dalam dirinya. Ia ingin dan terus ingin belajar. Kakak yang dikasihinya tau betul semangat adiknya yang ingin terus lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga saat itu disaat kertas masih sangat langka, kakak Kartini mengirimkan berim-rim kertas untuk adik tersayangnya, untuk menulis. Baru ingat ibunda saya saat beliau mengenyam pendidikan SR atau setara SD saat itu, mungkin buku masih langka. Hingga kemudian sebuah buku yang habis ditulis dengan menggunakan pena tinta (saat itu belum ada ballpoint), kemudian buku yang telah habis ditulisi tersebut dicelup kedalam seember air. Tentu saja air itu kemudian menghitam. Semakin menghitam air di dalam ember, maka semakin bersih dan habis tinta yang menempel pada buku tersebut.

Dan hilanglah semua ilmu yang tertulis di buku itu. Menyedihkan!

Padahal peristiwa itu terjadi di sekitar tahun 50an. Buku masih langka apalagi kertas. Dan apa yang terjadi saat ibu Kartini masih gencar-gencarnya belajar dan hoby menulis surat. Sungguh tak bisa saya bayangkan.

Namun pada abad ke 16 di Sulawesi orang sudah mempergunakan teknologi kertas alam yang sangat dikenal hingga saat ini, LONTARAK. Huruf yang dipergunakan juga bernama Lontarak. Hingga kemudian puluhan ribu lembar lontarak telah ditulis dimana satu diantaranya menggambarkan kisah yang melegenda I LA GALIGO.

Itulah teknologi kertas saat itu, kertas yang kemudian menjadi inspirasi dan motivasi kuat ibu Kartini untuk menulis. Dan buku itu, banyak yang belum tau bahwa ibunda Kartini telah menulisnya. Buku itu adalah buku resep sebagai materi mengajar di sekolah yang telah beliau bangun bersama Ibu Kardinah. Sebagai seorang wanita, ibunda Kartini ternyata hobby memasak. Perkenalannya dengan warga Belanda saat masih berada di Jepara dilanjutkan dengan korespondensi dengan mereka memberikan nuansa penting dalam menekuni hobi memasaknya. Oleh karena itu banyak resep-resep Kartini dipengaruhi oleh resep-resep dari negeri Belanda.

Negeri Belanda memang dipengaruhi oleh cuaca yang cukup dingin. Oleh karena itu makanan-makanannya seringkali dibumbuin dengan bahan-bahan penghangat seperti kayu manis, jahe, cengkeh, pala, dan merica. Salah satu resep masakan yang telah ditulis oleh beliau adalah setup pisang. Setup ini menggunakan bahan pisang, gula dan kayu manis. Karena bahan ini bisa menghangatkan tubuh maka resep setup ini begitu digemari di negeri Belanda. Ini adalah salah satu resep yang ditulis oleh beliau di bukunya disamping resep-resep yang lain. Kue yang sangat disukai oleh bunda Kartini adalah kue Soes dan penganan kecil yang kita kenal dengan Perkedel yang di dalam bahasa Belanda disebut dengan Vrikadel. Selain itu pula ada juga panekoek tabur gula kayu manis yang juga sama, bersifat menghangatkan tubuh. Panekoek mempergunakan bahan tepung terigu, tepung yang sangat terkenal dari negeri Belanda karena tepung ini diolah dibawah kincir angin.

Ibunda Kartini adalah wanita yang tidak hanya menginspirasi kehidupan sosialita di saat ini, namun juga kecerdasannya begitu mengilhami saya khususnya untuk tetap maju dan berkembang. Masalah yang menyelimuti beliau sebagai putri bangsawan tidak menyurutkan beliau untuk tetap belajar dan maju, dan hal ini sangat mempengaruhi saya pribadi. Masalah pasti ada, namun jangan masalah membuat saya berhenti untuk maju dan berpikir. Kalau toh orang tidak bisa menerima hasil karyamu disini, di tempat lain kehidupan masih sangat luas dan bisa menampung segala keinginan dan kemauan. Insya Allah bunda Kartini, saya akan teruskan perjuanganmu.

 

Festival Budaya

Festival Budaya, BUDAYATA’ II

Malam perhelatan festival budaya, Budayata’ ke II diselenggarakan 11 Mei 2013 dari sejak siang pukul 12.00 sampai malam pukul 11.00.

Kegiatan tahunan yang diadakan oleh mahasiswa IKAMI SULSEL cabang Malang ini adalah kali kedua. Awalnya festival diadakan di café yang kemudian tahun ini diadakan di taman terbesar di kota Malang, Taman Krida Budaya yang berlokasi di jalan Soekarna Hatta.

Siang itu kegiatan festival diisi dengan dialog budaya dengan nara sumber kanda Suryadin Laoddang, budayawan dari Yogyakarta kemudian ayahanda Asmat Riyadi seorang budayawan penyusun kamus bahasa Bone berasal dari Bone. Dialog berlangsung sangat meriah karena banyaknya pertanyaan dan opini-opini dari para audience yang berasal dari bermacam-macam latar belakang. Sebenarnya saya banyak berharap ayahanda Asmat Riyadi ini bicara tentang adat istiadat juga bahasa Bone. Namun mungkin karena dicecar dengan pertanyaan di luar konteks maka beliau pun menanggapi sesuai dengan opini. Salah satu yang dikatakan beliau adalah tentang kedatangan para anggota UNESCO ke Bone beberapa waktu lalu yang mengatakan bahwa 100 tahun lagi bahasa anda akan hilang apabila tidak dilestarikan. Hal ini sangat mengkhawatirkan terutama bagi kanda Suryadin Laoddang yang juga telah bertahun-tahun ini susah payah memelihara kelestarian bahasa Bugis. Nasehat-nasehat dalam bentuk puisi berima dengan kemasan I La Galigo tersebut yang saat ini masih bisa kita nikmati dan kita banggakan. Namun kekhawatiran para anggota UNESCO ini benar-benar menghentak kanda Suryadin Laoddang. Beliau kemukakan bahwa apabila kita tidak ikut menjaga bahasa ini, mungkin kepunahan tersebut benar-benar akan terjadi.

Salah satu contoh sederhana diberikan kepada kita saat dialog Budaya, yaitu dengan cara memanfaatkan cyber media facebook. Beliau menyarankan untuk sekali-sekali update status dengan menggunakan bahasa daerah. Namun timbul pertanyaan bagaimana kalau kita tidak paham bahasa tersebut. Beliau pun memberikan solusi untuk membuka untaian-untaian I La Galigo sekaligus artinya dalam website pribadinya untuk dicopas dan dijadikan update status. Beliau sudah mengikhlaskan..katanya begitu. Ini cara sederhana, namun sangat efektif menurut saya. Update status adalah hal yang biasa kita lakukan sehari-hari, dari mulai bangun tidur sampai mau tidur. Namun pernahkah kita update status dengan mempergunakan bahasa Bugis??

Ini penting!

Aswan yang mantan ketua IKAMI Surabaya menyempatkan datang di Festival Budaya sempat menyampaikan kegalauannya. Pria yang baru saja melangsungkan pernikahan dengan adat Bugis ini berkeluh kesah bahwa seringkali perusahaan-perusahaan dalam merekrut karyawan memandang latar belakang calon karyawan dengan nada negative khususnya bagi alumni mahasiswa dari daerah asal Makassar dan sekitarnya. Mereka mengira hal-hal seperti ini akan mengganggu stabilitas perusahaan.

Ini aneh sekali!

Mungkinkah sikap anarkis itu identik dengan performa kerja? Dimana letak logika seseorang yang akan mengkorbankan status karyawannya, bukankan mencari kerja saat ini tidak gampang. Dan itu bukan semangat para jejaka asal Sulawesi Selatan. Mungkin anda ingat uang panaik? Inilah sering dikaitkan dengan semakin semangatnya para muda untuk bekerja dengan giat demi mendapatkan seorang gadis Sulawesi yang memang dibutuhkan dana yang tidak kecil. Dan untuk mengerahkan karyawan perusahaan untuk demo??

Saya yakin tidak ada!

Sering teman-teman mahasiswa saya mengeluh dan curhat cara dosen-dosen mereka memperlakukan para mahasiswa asal SULSEL ini tidak terlalu baik. Bahkan di depan kelas mereka mengatakan

‘kamu mahasiswa asal Makassar ya?’

‘Kamu pasti kuliahnya lama!

‘Temenmu kan yang demo di TV itu?’

Ini ungkapan-ungkapan yang biasa dilontarkan para dosen di PTS terkenal. Dan itu menyedihkan!

Saya dengan yakin mengatakan tidak ada mahasiwa IKAMI SULSEL di Malang yang seperti itu. Mungkin banyak yang mengira orang Makassar itu kasar. Ini karena kata Makassar itu dikira identic dengan kata kasar. Padahal salah besar. Kanda Suryadin Laoddang sempat mengatakan di beberapa kali presentasi, juga Ucheng atau Cheng Prudjung. Mereka mengatakan hal yang sama, dan didukung dengan referensi kuat bahwa Makassar itu tidak kemudian membuahkan kata generalisasi kasar. Kata Makassar sendiri menurut Suryadin dalam presentasi Dialog Budaya di festival Budayata mengatakan bahwa Makassar itu memiliki dua huruf s, yang beda dengan kata kasar yang hanya memiliki satu huruf s. Kata Makassar memiliki beberapa arti interpretasi.

Pertama Makassar berasal dari bahasa Portugis macazzart yang artinya orang yang hitam. Dari suku kata ma yang berarti orang dan cazzart yang berarti hitam. Dan memang kebanyakan orang Makassar berkulit gelap dan beralis tebal. Interpretasi kata Makassar yang kedua yaitu kata ini berasal dari kata mengkassar. Konon Rasulullah SAW pernah memperlihatkan diri di bumi Sulawesi Selatan ini yang kemudian diungkapkan dengan kata mengkassar atau menampakkan/memperlihatkan. Selanjutnya kemudian bumi SULSEL dikenal dengan sebutan negeri serambi Madinah, hal ini disebabkan karena negeri serambi Mekkah Aceh telah mendapatkan anugerah tertinggi dengan mendapatkan sebutan ini karena kehidupan spiritual yang cukup kuat. Dan hal ini pula kemudian muncul istilah negeri Serambi Madinah yang diberikan khusus kepada bumi SULSEL.

Sesaat kadang kita kurang banyak mengkoreksi diri sendiri namun sibuk dengan menghujat orang lain. Kalau toh adanya Andi Mallarangeng, Abraham Samad, dan Fathanah sangat rancu mewarnai berita-berita saat ini, hal itu hanyalah nama-nama yang tak seharusnya mewakili satu daerah. Siapapun bisa berbuat salah, dari mana asal mereka? Bisa dari seluruh penjuru di Indonesia. Namun giliran para oknum itu berasal dari SULSEL, kenapa kemudian menjadi bom berita nasional?

Festival Budaya ini adalah salah satu kegiatan yang bisa menyadarkan kita kepada kebaikan, menjadikan diri kita semakin bijak, menanggapi hal-hal negative memang sulit juga. Namun demikian semangat rasa menuju kedamaian menjadi lebih positif.

Salamaki

 

 

Cucu PM

Cucu Margaret Tatcher begitu cantik, bicaranya tegas dan mantap meski dalam acara Mourning of Tatcher, penghormatan terakhir untuk mantan perdana menteri Inggris itu. Pidato yang dia baca hampir mirip seperti baca deklamasi. Meski orang tak memahami bahasa Inggris pun akan menyukai cara dia membaca dengan sangat syahdu. Wajahnya yang cukup cantik mengenakan busana duka hitam dan memakai topi sedang berwarna hitam pula. Kehadirannya di Gereja St. Paul tempat dimana Kate dan Andrew menikah menjadikan warna tersendiri di acara Mourning Tatcher tersebut. Sedianya wasiat mantan perdana menteri Inggris yang seorang sosialita ini memang ingin dimakamkan dengan menggunakan adat milter setempat, khas Inggris. Sebuah negeri yang sudah ratusan tahun berpengalaman di bidang militer ini.

Gereja St. Paul memang beda, situasinya sangat khas. Dan gereja inilah yang dipergunakan kegiatan kerajaan dalam bentuk apapun. Namun sebenarnya ada gereja yang lebih besar dari St. Paul. Hanya Kate dan Andrew memutuskan menghelat adat pernikahan mereka disana. Begitupun dengan Charles dan Lady Diana. Apa yang membuat gereja ini jadi sangat exlusive.. Saya pribadi hanya bisa menyaksikan di TV betapa sangat megah dan agung sebuah gereja yang dibangun seabad lalu.

Saat ratu hadir di gereja ini, dari sejak di pelataran beliau sudah disambut oleh para pendeta. Satu pendeta yang berdiri di pelataran yang membawa tongkat kayu mirip pedhel wisuda, pendata ini menyerahkan kepada Ratu dan mengambilnya kembali. Lalu berjalanlah sang Ratu menuju ke dalam dan disambut oleh puluhan pendeta berbusana formal. Satu-satu sang ratu memberikan salam kepada mereka diiringi dengan suaminya di belakang, raja Phillip. Setelah menyalami mereka dan berbincang-bincang sebentar ratu melanjutkan jalan menuju altar namun masih di dekat sekumpulan pendeta itu berdiri dua orang remaja putra dan putri membawa dua bantal beirisi benda-benda kecil yang akan mereka bawa juga ke depan altar. Dialah cucu perdana menteri Tatcher. Dan keduanyapun mengikuti jalan ratu dan raja Philip diiringi dengan sekelompok anak-anak usia belasan juga memakai baju pendeta. Mereka adalah kelompok paduan suara yang nantinya akan mengiringi segenap mata acara dalam prosesi pemakaman Maragaret Tatcher.

Ada beberapa keunikan yang saya lihat saat keranda perdana menteri wanita ini diantar dari kediaman menuju gereja. Semua orang berdiri di pinggir jalan, siap dengan berbagai macam kamera dan alat-alat elektronik gadget. Kuda-kuda yang cukup besar dan tinggi hitam kemilau dikendalikan oleh puluhan polisi, sedang kerandapun ditarik oleh beberapa ekor kuda yang dikendalikan oleh polisi-polisi militer juga. Meski ada pula para perwira-perwira dan kadet yang berjalan beriringan di depan kelompok berkuda ini. Mereka berjalan pelan namun tetap tegap yang sedianya akan membawa keranda ke depan altar gereja. Para perwira yan masih cukup muda ini berasal dari semua angkatan militer, darat laut dan udara. Terlihat dari seragam yang mereka pakai berbeda-beda, ada yang memakai seragam khas pelaut popeye, seragam matros. Saat kereta kerandamelewati rakyat Inggris yang akan memberikan penghormatan terakhir kepada perdana meneteri mereka, yang terjadi adalah mereka bertepuk tangan riuh dan tersenyum. Ini hal yang sangat kontras pada acara bertajuk MOURNING. Tapi mungkin hal ini memang sudah membudaya, seorang yang sangat dikagumi dan disegani sebagai pemimpin wanita, kemudian dilakukan proses pemakaman yang cukup panjang yaitu seminggu, hal ini menjadikan rakyat Inggris begitu tersentuh. Tersentuh mereka direspon dengan senyum dan tepuk tangan yang riuh.

Kontras!

Sesampainya di depan geraja yang berundak-undak tinggi dan cukup panjang tersebut, dengan hati-hati para perwira ini mengambil keranda dan memindahnya ke bahu mereka masing-masing. Dan berjalanlah ke 8 perwira, 6 dibawah keranda dan 2 di depan dan belakang. Satu di depan yang memimpin jalan dan satu di belakang yang menahan keranda agar supaya tidak melorot jatuh ke bawah saat menaiki undak-undakan. Saat bendera Inggris yang menutupi keranda ini agak compang camping, satu perwira di depan inilah yang membetulkan posisi bendera yang menutupi seluruh keranda. Lalu diletakkanlah keranda tersebut pada tempat yang telah disediakan di tengah-tengah altar, yang sudah dikelilingi oleh puluhan lilin berpenopang tinggi.

Altar ini bukan ujung gereja, ternyata letaknya di tengah. Dan bagian belakang masih ada lorong panjang. Disanalah tempat para penyanyi paduan suara duduk. Sehingga bagian tengah ini seolah mirip alun-alun, mengitari ruangan berbentuk bola. Tetap di tengah, dimana keranda diletakkan, disitu pula terdapat podium dimana sang cucu, si cantik ini akan membaca sambutannya.

 

 

 

Drama Korea

Banyak teman bercerita summary kisah-kisah dalam drama Korea. Entah mengapa drama Korea beberapa tahun belakangan ini menjadi hits dan digemari oleh orang Indonesia. Namun kemudian baru saya sadar setelah menonton beberapa judul drama Korea di TV. Saya kira memang banyak kesamaan yang bisa kita lihat di dalam sinetron luar negeri ini. Kehidupan remaja di Korea Selatan sepertinya hampir sama dengan kehidupan remaja umumnya di Indonesia. Mungkin ada beberapa gelintir saja yang berbuat di luar kebiasaan umumnya. Namun secara garis besar banyak didapat kesamaan kebiasaan antara remaja Korea dan Indonesia. Hal ini menyebabkan penonton Indonesia merasa melihat refleksi atau cermin kehidupan.

Ada beberapa judul yang telah saya saksikan baik melalui VCD, TV maupun Indovision. Beberapa drama ini selalu berakhir bahagia. Namun juga tak jarang berakhir tragis. Ada dua genre kalau boleh saya bedakan diantaranya, yaitu drama modern dan drama sejarah. Drama modern memiliki setting abad ini dan tahun-tahun terakhir. Namun drama sejarah kebanyakan bersetting abad ke 18 kebawah dan lebih banyak memasukkan unsur-unsur sejarah dan budaya. Kesimpulan-kesimpulan sementara boleh diambil karena kehidupan remaja Korea selatan tidak banyak saya ketahui, apakah mereka memiliki kemiripan dan kesamaan dengan kita di Indonesia atau tidak.

Sepertinya kehidupan remaja Korea Selatan santun dan banyak membatasi diri. Norma agama dan sosial masih dijunjung tinggi. Sebagai contoh mereka akan selalu berat melakukan adegan ciuman dan bahkan hanya dengan berpegangan tangan. Kemudian belum pernah juga saya melihat adegan-adegan di ranjang ataupun yang menuju ke atas ranjang. Kalau boleh dikatakan, justru sinetron-sinetron di Indonesia lebih mengarah kesana.

Ada sebuah drama berjudul TO THE BEAUTIFUL YOU, sebuah drama diilhami dari legenda SAMPEK ENG TAY. Yaitu seorang wanita yang ingin melanjutkan studi namun terhalang boleh tradisi bahwa wanita tidak boleh bersekolah lebih tinggi. Hingga kemudian si gadis bernama Eng Tay ini menyamar dan menyelundupkan diri ke dalam sekolah yang dikuasai oleh kaum pria. Dan drama Korea TO THE BEAUTIFUL YOU tersebut juga memakai tema ini. Hanya saja motivasi si gadis bukan karena studi namun karena ingin memberikan motivasi kepada atlit pujaanya, seorang atlit lompat tinggi. Walhasil romantika kehidupan seorang remaja wanita di dalam sebuah sekolah pria menjadi rumit dan menjadi tema besar dalam drama lucu ini. Drama ini berakhir dengan diketahuinya si lembek (panggilannya), ternyata adalah seorang perempuan. Hal ini mengakibatkan dia tidak bisa menyaksikan atlit idolanya berlaga di kompetisi nasional. Namun kemudian bisa saya simpulkan, bahwa benar-benar remaja Korea tidak begitu banyak berpikir negatif untuk beradegan porno. Hal ini karena adat dan budaya yang ratusan tahun berkembang disana.

Lain halnya dengan drama berjudul MY DAUGHTER THE FLOWER. Kisah ini didasari oleh perbedaan miskin dan kaya, yang begitu banyak mendominasi drama-drama Korea. Seorang gadis yang sederhana kemudian yang tiba-tiba bertemu dengan seorang pria tampan dan kaya. Dan kemudian diisi dengan konflik-konflik keluarga. Gadis dan pria ini menjalin hubungan cinta yang cukup rumit karena diketahui bahwa ayah bunda mereka ternyata adalah suami istri. Namun kemudian hubungan percintaan yang sulit ini tidak membuat mereka menjadi surut. Mereka tetap melanjutkan hubungan dengan berbagai macam masalah yang muncul. Di awal-awal saya masih melihat batasan-batasan norma agama, sosial dan budaya sebagai warga Korea Selatan yang patuh dan menjunjung tinggi adat. Tidak banyak saya melihat adegan-adegan khusus bahkan yang mengarah ke ranjang. Saya simpulkan sementara bahwa remaja Korea Selatan memang sama, bahkan dari puluhan drama yang telah saya saksikan.

Namun kemudian cerita berubah. Si gadis ini lalu hamil..

Sungguh perasaan saya jadi ILL FEEL!!

Saking marahnya pada diri sendiri karena menganggap bahwa drama Korea adalah cermin dari masyarakat Korea, saya jadi berekspresi suntuk. Judul drama ini dengan perasaan marah saya ganti menjadi ‘THE FLOWER HAS DAUGHTER”. Meskipun dia melahirkan anak laki-laki. Saya sadar ini hanya drama, semua sudah diatur oleh sutradara. Bagaimana sebenarnya kehidupan remaja Korea Selatan itu sebenarnya, wallahu alam.

Pada dialog ini

Gadis : Ibu, maaf ibu, saya sebenarnya sudah hamil 2 bulan

Ibu : Apah? Hamil?

Ini dialog yang menurutku menyeramkan, saya memprediksikan dialog selanjutanya adalalah kemarahan sang ibu kepada anak bahwa hamil di luar nikah itu adalah pelanggaran agama dan adat Korea Selatan. Toh sahabat si gadis juga diamarahi oleh orang tuanya bahwa hamil di luar nikah itu adalah salah, yang benar adalah nikah dahulu kemudian baru hamil. Hal itu betul-betul saya benarkan. Artinya wanita ibunda dari sahabat si gadis ini menunjukkan kepada audience bahwa di Korea Selatan wanita dan pria itu haru menjalankan nikah terlebih dahulu baru kemudian hamil dan melahirkan. Saya anggap norma ini sudah dipercayai oleh masyarakat Korea Selatan seperti itu.

Namun dengan adanya dialog ini, saya benar-benar menjadi ILL FEEL lagi.

Gadis : Maafkan saya bu

Ibu : Seharusnya kamu bilang pada ibu kalau kamu hamil, kamu tidak bisa rasakan itu sendiri.

Kenapa sang ibu kemudian mengatakan hal itu, dan bukannya memarahi putrinya bahwa ini adalah perbuatan asusila dan tidak dibenarkan oleh adat dan budaya Korea Selatan.

Saya benar-benar tidak habis pikir.

Namun sekilas, dari puluhan judul yang saya saksikan, beradegan sama. Semua masih didasari akhlak dan budi luhur yang tinggi. Dan dibumbui dengan kehidupan dan zaman yang sangat berkembang di KORSEL.

 

Aneyongseo

 

Menulis Adalah Terapi

Menulis Adalah Terapi

Teringat akan instruksi atasan saya, rektor Universitas Islam Negeri Malang memacu saya untuk selalu menulis. Entah tadinya saya anggap ungkapan beliau hanyalah suatu himbauan kosong, namun saat ini bahkan menjadi stigma positif bagi diri saya khususnya. Terinspirasi dengan cara-cara beliau menerjemahkan ide ke dalam sebuah artikel, sayapun berusaha mengikuti cara-cara ini  bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan juga pengalaman-pengalaman adalah inspirasi terbaik untuk mengekspresikan diri ke dalam tulisan.

Dulu banyak tulisan-tulisan yang ingin saya masukkan ke berbagai media. Sebelum ada wadah blog seperti sekarang ini kita harus rela mengantri dan bahkan tidak diterima oleh media karena harus berkompetisi dengan tulisan-tulisan lain. Dulu hanya media cetak yang bisa menampung tulisan-tulisan kita. Namun sekarang saat booming dunia netter dan blogger, para penulis semakin menggeliat dan menunjukkan eksistensinya.

Begitu pula dengan saya yang juga disibukkan dengan kegiatan akademis, dan juga mengembangkan hobi sebagai blogger. Tulisan-tulisan saya yang sempat mengendap di flashdisk dan laptop saat ini sudah saya coba untuk share di website pribadi.

Sebagai seorang ibu seringkali justru disibukkan dengan urusan domestik. Dari sejak pagi setelah sholat shubuh mempersiapkan keperluan anak sekolah, sarapan dan seragam mereka sampai berangkat. Waktu luang hanya saat mereka sudah selesai mengerjakan PR. Itupun kadang kita  sudah lelah. Malam menjelang tidurlah saat yang paling cocok untuk menulis. Teringat pesan atasan saya, rektor UIN Malang untuk selalu menulis kapanpun itu. Beliau selalu menyempatkan diri disaat pagi agar menulis minimal 2-3 tulisan dan menguploadnya ke dalam website. Sehingga dalam satu tahun bisa terkumpul kurang lebih 300 tulisan. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa dan patut ditiru.

Sharing pengalaman dengan memanfaatkan blog dengan tema berbeda saat ini adalah salah satu bagian dari aktifitas blogging saya. Ada 5 blog yang saya kelola berdasarkan tema yang berbeda. Misalnya salah satu blog saya adalah tentang trik dan tips sehat mempersiapkan hidangan sehat untuk keluarga. Saya yakin semua wanita Indonesia memiliki resep-resep favorit keluarga sehingga saya hadirkan dalam blog keluarga Apel Batu saya adalah tips dan triks mempersiapkan hidangan terbaik untuk keluarga. Begitu pula dengan website pribadi saya Lingua Franca yang mencerminkan keingintahuan saya terhadap budaya Indonesia populer.

Kata Bugis atau Makassar seolah-olah seperti energi yang diberikan oleh Tuhan kepada saya untuk menulis. Ada puisi, ada budaya, ada pula sejarah. Kedekatan saya terhadap mahasiswa dan teman-teman asal SULSEL ini cukup menjadi inspirasi bagi saya untuk menulis. Sehingga ada puluhan tulisan di website pribadi saya diantara 120 yang ada, yaitu tulisan-tulisan mengenai interaksi saya dengan mereka. Tulisan saya lainnya adalah mengenai informasi dan laporan pandangan mata tentang kota Malang, kota dimana saya tinggal. Kota ini benar-benar tak habis-habis memberikan inspirasi untuk menulis. Terutama karena banyaknya candi-candi dan situs yang tersebar di bermacam tempat.

Beberapa lomba blog yang saya ikuti ternyata menjadi cambuk kepada saya untuk tetap menulis dan mencurahkan inspirasi yang telah didapat. Ada tulisan saya yang mengkritik salah satu lomba blog dimana pemenangnya adalah orang-orang yang sama. Seperti ada unsur nepotisme disana. Walhasil tulisan ini menyebabkan derasnya virus hacker dan spamer yang datang bertubi2 ke dalam website saya. Meskipun sempat sedikit kelabakan dan down karena saya yang tidak begitu paham dengan spamer dan hacker maka ini adalah bahan bagi tulisan saya selanjutnya. Belum lagi puluhan email yang ditujukan kepada saya yang mengecam tidak menyurutkan keinginan saya untuk menulis. Artinya dengan menuliskan sebuah akibat dari sebab yang ada, maka tulisan yang baru adalah sebagai terapi. Setelah mengklik publish di dashbor, hati terasa lega dan ringan.

Maka apa yang bunda simpan di dalam hati, di dalam otak, tuangkanlah dalam bentuk tulisan. Dan tulisan adalah sebagai ajang untuk mengekspresikan diri, menuangkan inspirasi dalam bentuk tertulis seperti artikel dan karya seni misalnya puisi, prosa dan novel. Kesemuanya itu begitu melegakan setelah tulisan tersebut dibaca oleh netter. Maka sebenarnya, menulis adalah terapi.

Semangat bunda.. 😀

Analysa Lyric Lagu Genjer2

Latar belakang penciptaan lagu Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia (1942-1945), petani di pedesaan sama sekali tidak mampu mengolah lahan karena kebanyakan pria dikerahkan untuk mendukung romusha . Akibatnya terjadi kekurangan pangan dan orang terpaksa memakan segala yang tersedia di lingkungan rumah. Banyak di antaranya yang mengonsumsi genjer , suatu gulma sawah yang sangat pesat tumbuh. Lagu ini memotret situasi pada masa itu.  Kepopuleran lagu Setelah kemerdekaan Indonesia, lagu Genjer-genjer menjadi sangat populer setelah banyak dibawakan penyanyi-penyanyi dan disiarkan di radio Indonesia. Penyanyi yang paling dikenal dalam membawakan lagu ini adalah Lilis Suryani dan Bing Slamet .  Keterkaitan dengan politik  Penggunaan dalam propaganda PKI Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), Partai Komunis Indonesia (PKI) melancarkan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas. Lagu ini, yang menggambarkan penderitaan warga desa, menjadi salah satu lagu propaganda yang disukai dan dinyanyikan pada berbagai kesempatan. Akibatnya orang mulai mengasosiasikan lagu ini sebagai “lagu PKI”.  Pelarangan oleh pemerintahan Orde Baru Peristiwa Gerakan 30 September pada tahun 1965 yang melibatkan PKI membuat rezim Orde Baru yang anti-komunisme melarang disebarluaskannya lagu ini. Menurut versi TNI , para anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat menyanyikan lagu ini ketika para jendral yang diculik diinterogasi dan disiksa. Peristiwa ini digambarkan pada film Pengkhianatan G 30 S PKI  besutan Arifin C. Noer . Dalam aksi “pembersihan” terhadap komunis di tahun 1966 -1967 di Indonesia, Muhammad Arief , pencipta lagu Genjer-genjer meninggal dibunuh akibat dianggap terlibat dalam organisasi massa onderbouw PKI.  Paska Orde Baru Setelah berakhirnya rezim Orde Baru pada tahun 1998 , larangan penyebarluasan lagu Genjer-genjer secara formal telah berakhir. Lagu Genjer-genjer mulai beredar secara bebas melalui media internet . Walaupun telah diperbolehkan, masih terjadi beberapa kasus yang melibatkan stigmatisasi lagu ini, seperti terjadinya demo sekelompok orang terhadap suatu stasiun radio di Solo akibat mengudarakan lagu tersebut.

Begitu juga halnya dengan Genjer-Genjer.

Bukalah koran-koran Orba, terutama Api Pantja Sila dan Berita Yudha, edisi hari-hari dekat sesudah 1 Oktober 1965. Selain bercerita tentang perempuan sukarelawan Jamilah yang bersaksi tentang pemotongan penis dan pencungkilan mata para korban, juga bercerita tentang upacara maut sebelum korban dibunuh dengan sadis. Upacara yang berlangsung di Halim itu dinamai “Harum Bunga”, berupa tarian-tarian mesum anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat, di sertai iringan nyanyian bersama lagu Genjer-Genjer. Baris syair yang berbunyi “esuk-esuk pating keleler” (pagi-pagi pada berhamparan), ulangan dari baris yang sama “neng kedhokan pating keleler” (di lahan pada berhamparan), itulah kalimat kunci tentang makna gerakan Letkol Untung. Juga suatu tanda, bahwa G30S sudah dirancang jauh-jauh hari, setidaknya ketika lagu Genjer-Genjer digubah.      Tafsir halusinasi pengidap angst psychose tersebut di atas dikuatkan dengan penemuan berbagai “dokumen” di Halim Perdanakusuma, tempat pasukan Dewan Revolusi berkubu. Salah satu “dokumen” itu berupa buku stensilan kumpulan lagu-lagu untuk paduan suara, yang diterbitkan oleh CC PKI sebagai sumbangan untuk sukarelawan Dwikora yang dilatih di Halim. Isi buku berukuran kertas A4 ini kebanyakan lagu-lagu rakyat, dari berbagai daerah yang diaransemen untuk paduan suara. Yang menarik di antaranya ialah lagu-lagu rakyat Betawi Kr. Kemayoran, Jali-Jali, dan Glatik Nguk-Nguk, aransemen Moh. Sutijoso, dengan syair baru berupa penuangan isi Manipol. Tapi yang lebih menarik lagi ialah dua lagu rakyat Jawa Timur, Madura dan Banyuwangi, yang sejak akhir tahun 1964 telah dinyanyikan sangat meluas, yaitu Tonduk Majeng dan Genjer- Genjer.      Semuanya itu menjadi alasan cukup kuat, bahwa Genjer- Genjer lebih dari sekedar sebuah lagu yang “mempunyai indikasi”. Tapi justru digubah untuk mempersiapkan untuk melakukan gerakan politik, yang diawali dengan pembunuhan secara keji terhadap beberapa jendral TNI Angkatan Darat.

Namun kemudian ini hanya cerita2 non fiktif dibalik lirik lagu Genjer-genjer yang hanya sekedar lirik atau pantun berirama. Secara semantic tak satu katapun mencerminkan konsep gerakan G30S PKI ataupun paham Marxis yang saat itu masih menjadi kontroversi yang cukup kuat tentang kemana arah negara ini akan berada.

Lirik lagu  Versi asli

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler

Genjer-genjer nong kedo’an pating keleler

Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer

Ema’e thole teko-teko mbubuti genjer

Oleh satenong mungkur sedot sing toleh-toleh

Genjer-genjer saiki wis digowo mulih

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar

Genjer-genjer esuk-esuk didol neng pasar

Dijejer-jejer diuntingi podo didasar

Dijejer-jejer diuntingi podo didasar

Ema’e jebeng podo tuku gowo welasar

Genjer-genjer saiki wis arep diolah

Terjemahan Bahasa Indonesia

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan

Genjer-genjer ada di lahan berhamparan

Ibunya anak-anak datang mencabuti genjer

ibunya anak-anak datang mencabuti genjer

Dapat sebakul dipilih yang muda-muda

Genjer-genjer sekarang sudah dibawa pulang

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Genjer-genjer pagi-pagi dibawa ke pasar

Ditata berjajar diikat dijajakan

Ditata berjajar diikat dijajakan

Ibu saya beli genjer dimasukkan dalam tas

Genjer-genjer sekarang akan dimasak

(Jebeng=Saya)

#genjergenjer

Port Rotterdam

Pada suatu kesempatan sekali saya menunjukkan gambar kepada mahasiswa sebagai salah satu dari tujuan pembelajaran yaitu mempergunakan media. Gambar sederhana diperlukan untuk merangsang mahasiswa untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Sebuah gambar langsung saya upload di computer server di ruang laboratorium bahasa dan gambar tersebut dengan jelas tampil di computer mahasiswa sejumlah 24 unit itu.

Saat itu mereka diinstruksikan mengemukakan pendapat apa saja terhadap apa yang mereka lihat, tentu saja dengan mempergunakan bahasa Inggris.

Ini adalah gambar yang dimaksud..

 

Dan setelah gambar ini muncul di PC mereka masing2, saya member pertanyaan sederhana.

“ What do you see in this picture?”

Memandang gambar penuh pesona dengan kualitas warna yang cukup, gedung yang sangat otentik dan lumayan terlihat kuno ini membuat setiap mahasiswaku berkata bahwa gambar ini lokasinya adalah di luar negeri.

Mereka mengatakan “maybe in Europe”

“ Maybe in A village in Dutch”

“ I saw an old house in village”

“ The grass is beautiful that I  never see them in this country”

Sangat beragam opini2 yang muncul sehingga mereka benar2 menyimpulkan bahwa lokasi gambar ini diambil di Eropa.

Akhirnya dengan pelan2 saya menjelaskan dengan hati2  bahwa ini adalah gedung Roterdam.  Gedung ini lokasinya bukan di Belanda atau negara di Eropa lainnya.

Inilah Roterdamm yang letaknya di Makassar Sulawesi Selatan.

Hanya satu pertanyaan yang mereka lontarkan setelah penjelasan itu “Are you sure it is in our country?”

Gigi

Kata kunci memang sangat penting, dalam bahasa Inggris disebut dengan key words. Saat kita sibuk browsing dengan mempergunakan search engine, kata kuncilah yang akan bermain peran disana. Namun kata kunci juga menentukan eratny hubungan antara judul lagu dengan lyric lagu tersebut. Mungkin banyak penikmat lagu yang tidak menyadari bahwa judul lagu dan text lyric lagu tersebut sema sekali tidak berhubungan. Hal ini disebabkan banyak hal. Salah satunya adalah karena performance dari vokalis yang cukup meyakinkan hingga penikmat lagu bisa menikmati hasil karya musisi ini. Yang lain adalah karena tone lagu bisa diterima oleh semua penggemar lagu di tanah air, baik yang professional maupun  yang tidak, mudah dilantunkan dan bahkan menjadi lahan baru bagi para pengamen karena grip2 yang mudah dimainkan.

Namun perlu kita simak judul lagu ini “My Facebook”. Tadinya harapan saya ingin tahu lebih dalam tentang apa Facebook itu..

My facebook

Berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba, bekas kekasih yang lama hilang, satu dari kekasih yang terbaik, mungkin waktu yang ku persalahkan, mungkin saja keadaan yang salah, terpikir hati untuk mendua, tapi nurani tak bisa mendua, ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama, ku hanya bisa membagi cerita nostalgia, cuma itu yang ku berikan, cuma itu yang ku bisa persembahkan, karna aku ada yang punya, tapi separuh hati ini untukmu, ku bisa saja putuskan dia, ku bisa menutup semua cintaku, tapi apakah kau pun setuju, menyakiti seorang manusia, ku hanya bisa membagi kisah-kisah lama, berawal dari facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba hmmm

Dan lalu bandingkan dengan judul lagu dibawah ini “Online” dan simak liriknya.

Online

Siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line.

Tidur telat bangun pagi pagi, nyalain komputer online lagi, bukan mau ngetik kerjaan, e-mail tugas diserahkan, tapi malah buka facebook, padahal face masih ngantuk, beler kayak orang mabuk, pala naik turun ngangguk-ngangguk, sambil ngedownload empitri, colok i pod usb kiri, ngecekin postingan forum, apa ada balesannye? belum

Biar belum sikat gigi belum mandi, tapi kalo belum on line paling anti, liat friendster myspace, youtube, me and him, everybody you too, siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line, jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line.

Nah udah mandi siap berangkat, langsung cabut takut terlambat, tak lupa flash disk gantung di leher, malah lupa sepatu jadi nyeker, flashdisk isinya bokep atau lagu, kalau ada kerjaanpun gue ragu, kalo emang berani coba pada ngaku, cek isi foldernya satu satu, di kantor online pakai proxy, walau diblok server bisa dilolosi, namanya udah ketagihan internet, produktifitaspun kepepet, jam kerja malah chatting ym, ngobrol online sama ehehem, atasan lewat langsung klik data, pura pura kerja di depan mata, siang malam ku selalu , menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line, jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line

Makan siangpun aku cari sinyal wifi, mengapa ku kecanduan oh why why, kadang terasa bagai tak berdaya, ingin ku berubah.. eh ada e-mail dah dulu ya,

Cek e-mail spam semua, email benerannya cuma dua, yang satu email lama, yang satu forwardan yang sama, ngarep komentar buka friendster, loading, gue tinggal beser, pas balik ngecek komputer kok lagi maintenance server, ya udah download lagu, bajakan gratis gak pake ragu, saykoji satu album, setengah jam bisa rampung, sore sore bosen hambar, ide nakal cari cari gambar, download video dengan sabar, ketahuan pacar digampar, siang malam ku selalu, menatap layar terpaku, untuk on line on line, on line on line, jari dan keyboard beradu, pasang earphone dengar lagu, aku on line online, on line on line

 

Saya setuju lagu  berjudul Online sangat selaras dengan lirik, dan itulah memang yang terjadi bila seseorang sedang melakukan online. Lain lagi dengan My Facebook, lagu ini mengisahkan tentang seorang pria yang bertemu dengan teman lamanya, sedang dia sudah tidak mungkin lagi untuk melanjutkan hubungan kembali. Kadang memang sama sekali tidak sesuai dengan harapan saya. Harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Hmm..

Ini hanyalah lagu..bukan yang lain.

Komoditi Kompor

Kompor sudah menjadi komoditi dan home industry bagi sekumpulan warga Joyo. Sejumlah warga aktif memproduk dan  menghasilkan kompor minyak tanah dalam rumah industry mereka. Hasilnya bahkan dikirim ke beberapa negara manca, tentunya yang masih menggunakan kompor sebagai salah satu alat masak mereka.

Seperti salah satunya adalah ibu Simun. Wanita super kaya ini baru saja meninggalkan kita pagi tadi 8 Januari 2009. Rupanya beliau sudah tidak kuasa menahan penyakit diabetes yang telah berpuluh tahun menggerogotinya. Seperti orang kaya yang lain semasa hidup beliau sangat hobby mengenakan perhiasan mas apabila lagi berbelanja ke pasar. Penampilannya sangat menyolok dan membuat mata kita berbinar karena perhiasannya yang berbinar2 pula. Gelang yang beliau pakai bias sampai ke siku2nya. Rantai kalungnya pun lebih dari satu.

Anehnya setiap wanita yang berjualan ataupun para pembeli wanita yang berseliweran di dalam pasar Dinoyo, apabila berpapasan atau bertemu, mereka mencium tangan bu Simun. Seolah2 bu Simun adalah orang yang patut dan sangat dihormati. Dan yang unik lagi bu Simun selalu memanggil setiap wanita di pasar Dinoyo dengan nama panggilan yang sama “Nduk”. Padahal belum tentu mereka lebih muda dari bu Simun. Halah..

Itulah maka, dari sejak puluhan tahun yang lalu, beliau juga mendapat julukan yang khas karena penampilannya. Dialah BUPATI JOYO. Bupati karena beliau adalah salah satu warga Joyo yang cukup berada dan berpenampilan sangat mencolok. Joyo adalah karena beliau dah bertahun2 tinggal di Joyo, desa dengan penduduk yang penghasilannya berasal dari membuat kompor minyak tanah.

Selamat jalan bu Simun..