Cucu Margaret Tatcher begitu cantik, bicaranya tegas dan mantap meski dalam acara Mourning of Tatcher, penghormatan terakhir untuk mantan perdana menteri Inggris itu. Pidato yang dia baca hampir mirip seperti baca deklamasi. Meski orang tak memahami bahasa Inggris pun akan menyukai cara dia membaca dengan sangat syahdu. Wajahnya yang cukup cantik mengenakan busana duka hitam dan memakai topi sedang berwarna hitam pula. Kehadirannya di Gereja St. Paul tempat dimana Kate dan Andrew menikah menjadikan warna tersendiri di acara Mourning Tatcher tersebut. Sedianya wasiat mantan perdana menteri Inggris yang seorang sosialita ini memang ingin dimakamkan dengan menggunakan adat milter setempat, khas Inggris. Sebuah negeri yang sudah ratusan tahun berpengalaman di bidang militer ini.
Gereja St. Paul memang beda, situasinya sangat khas. Dan gereja inilah yang dipergunakan kegiatan kerajaan dalam bentuk apapun. Namun sebenarnya ada gereja yang lebih besar dari St. Paul. Hanya Kate dan Andrew memutuskan menghelat adat pernikahan mereka disana. Begitupun dengan Charles dan Lady Diana. Apa yang membuat gereja ini jadi sangat exlusive.. Saya pribadi hanya bisa menyaksikan di TV betapa sangat megah dan agung sebuah gereja yang dibangun seabad lalu.
Saat ratu hadir di gereja ini, dari sejak di pelataran beliau sudah disambut oleh para pendeta. Satu pendeta yang berdiri di pelataran yang membawa tongkat kayu mirip pedhel wisuda, pendata ini menyerahkan kepada Ratu dan mengambilnya kembali. Lalu berjalanlah sang Ratu menuju ke dalam dan disambut oleh puluhan pendeta berbusana formal. Satu-satu sang ratu memberikan salam kepada mereka diiringi dengan suaminya di belakang, raja Phillip. Setelah menyalami mereka dan berbincang-bincang sebentar ratu melanjutkan jalan menuju altar namun masih di dekat sekumpulan pendeta itu berdiri dua orang remaja putra dan putri membawa dua bantal beirisi benda-benda kecil yang akan mereka bawa juga ke depan altar. Dialah cucu perdana menteri Tatcher. Dan keduanyapun mengikuti jalan ratu dan raja Philip diiringi dengan sekelompok anak-anak usia belasan juga memakai baju pendeta. Mereka adalah kelompok paduan suara yang nantinya akan mengiringi segenap mata acara dalam prosesi pemakaman Maragaret Tatcher.
Ada beberapa keunikan yang saya lihat saat keranda perdana menteri wanita ini diantar dari kediaman menuju gereja. Semua orang berdiri di pinggir jalan, siap dengan berbagai macam kamera dan alat-alat elektronik gadget. Kuda-kuda yang cukup besar dan tinggi hitam kemilau dikendalikan oleh puluhan polisi, sedang kerandapun ditarik oleh beberapa ekor kuda yang dikendalikan oleh polisi-polisi militer juga. Meski ada pula para perwira-perwira dan kadet yang berjalan beriringan di depan kelompok berkuda ini. Mereka berjalan pelan namun tetap tegap yang sedianya akan membawa keranda ke depan altar gereja. Para perwira yan masih cukup muda ini berasal dari semua angkatan militer, darat laut dan udara. Terlihat dari seragam yang mereka pakai berbeda-beda, ada yang memakai seragam khas pelaut popeye, seragam matros. Saat kereta kerandamelewati rakyat Inggris yang akan memberikan penghormatan terakhir kepada perdana meneteri mereka, yang terjadi adalah mereka bertepuk tangan riuh dan tersenyum. Ini hal yang sangat kontras pada acara bertajuk MOURNING. Tapi mungkin hal ini memang sudah membudaya, seorang yang sangat dikagumi dan disegani sebagai pemimpin wanita, kemudian dilakukan proses pemakaman yang cukup panjang yaitu seminggu, hal ini menjadikan rakyat Inggris begitu tersentuh. Tersentuh mereka direspon dengan senyum dan tepuk tangan yang riuh.
Kontras!
Sesampainya di depan geraja yang berundak-undak tinggi dan cukup panjang tersebut, dengan hati-hati para perwira ini mengambil keranda dan memindahnya ke bahu mereka masing-masing. Dan berjalanlah ke 8 perwira, 6 dibawah keranda dan 2 di depan dan belakang. Satu di depan yang memimpin jalan dan satu di belakang yang menahan keranda agar supaya tidak melorot jatuh ke bawah saat menaiki undak-undakan. Saat bendera Inggris yang menutupi keranda ini agak compang camping, satu perwira di depan inilah yang membetulkan posisi bendera yang menutupi seluruh keranda. Lalu diletakkanlah keranda tersebut pada tempat yang telah disediakan di tengah-tengah altar, yang sudah dikelilingi oleh puluhan lilin berpenopang tinggi.
Altar ini bukan ujung gereja, ternyata letaknya di tengah. Dan bagian belakang masih ada lorong panjang. Disanalah tempat para penyanyi paduan suara duduk. Sehingga bagian tengah ini seolah mirip alun-alun, mengitari ruangan berbentuk bola. Tetap di tengah, dimana keranda diletakkan, disitu pula terdapat podium dimana sang cucu, si cantik ini akan membaca sambutannya.
