Pendidikan Dalam Hubungan Anak dan Orang Tua

Pergeseran peran ayah dari kasih sayang dan kehangatan menjadi penjaga jarak dan pendiam, meskipun hanya satu langkah dalam keseluruhan rangkaian peristiwa yang dengannya anak mempelajari konsep khas Jawa tentang pengendalian diri dan rasa hormat, mungkin merupakan hal yang paling penting. Hal ini paling signifikan karena peran penting ayah dalam kehidupan emosional anak dan karena masa transisi ini terjadi selama periode krisis oedipal. Namun hal ini tidak akan berdampak apa-apa jika tidak diprakirakan dan ditindaklanjuti dengan peristiwa-peristiwa lain dalam kehidupan anak, atau mungkin lebih penting lagi, jika bukan karena konteks makna dari gagasan dan nilai-nilai Jawa yang mendasari keseluruhan transisi tersebut. . (Geertz 1961, 110)

Dalam istilah psikodinamik, perlindungan dari keterkejutan atau frustrasi dapat menunda atau mengurangi intensitas individuasi anak dengan mencegah putusnya perasaan menjadi bagian dari lingkungan keluarga yang menyenangkan yang diciptakan oleh orang tua dan saudara kandungnya. Pola ini terkait dengan apa yang diamati Bary, Child, dan Bacon (1959) melalui observasi lintas budaya. Dalam konsep ketaatan Jawa yang merupakan ciri khas masyarakat agraris atau penggembala, anak-anak dilatih untuk lebih patuh, patuh, dan bertanggung jawab dibandingkan anak-anak dari masyarakat berburu atau menangkap ikan.

Ada sedikit perbedaan antara orang tua petani dan keluarga priyayi berpangkat lebih tinggi atau keluarga bangsawan dalam hal hukuman (Koentjaraningrat 1985). Filosofi priyayi dalam mendidik anak adalah Tut wuri andayani yang artinya “mengikuti dari belakang, senantiasa memberi semangat” (Koentjaraningrat 1985, 241). Oleh karena itu, anak-anak dalam keluarga priyayi lebih leluasa mengeksplorasi dunianya sendiri, yang menurut Koentjaraningrat mencerminkan pengaruh awal Eropa atau Belanda. Namun anak dibimbing secara aktif untuk menyesuaikan diri dengan perilaku yang dapat diterima secara sosial. Berbeda dengan ayah dalam keluarga tradisional, ayah dalam keluarga priyayi juga berperan aktif dalam membimbing anak-anaknya, lebih sering menerapkan hukuman. Namun hukuman fisik jarang dilakukan karena anak-anak Jawa, menurut Geertz, berperilaku baik, patuh, pendiam, dan pemalu.

Jika seorang anak tidak berperilaku sesuai norma, perhatian atau kontak dengan saudara laki-laki atau perempuannya dapat ditarik, dan dia tidak dapat diajak bicara (disatru). Teman bermain pun saling satru atau menjauhi selama beberapa hari. Mengenai hal ini, Geertz mencatat: “Ini adalah mekanisme yang sangat baik untuk penyesuaian permusuhan dalam masyarakat yang meremehkan kekerasan dan ekspresi perasaan yang sebenarnya, karena mekanisme ini memungkinkan untuk menghindari pecahnya kemarahan sambil tetap memungkinkan ekspresi kemarahan yang signifikan. (Geertz 1961, 117-118). Perkelahian fisik antar anak jarang terjadi (Geertz 1961). Orang tua selalu menjaga hubungan baik dengan tetangganya. Mereka selalu menghukum anaknya sendiri jika bertengkar dengan anak lain di lingkungannya, tidak peduli siapa yang salah. Dengan cara ini, anak-anak mempersiapkan diri untuk interaksi sosial di kemudian hari di mana mereka harus berhasil menyembunyikan amarahnya.

Ketaatan dianggap tidak hanya sebagai kualitas yang berguna dalam interaksi sosial, tetapi juga dianggap lebih aman (Koentjaraningrat 1985). Tindakan mengalah pada orang lain yang tidak dikenalnya dianggap aman, menghindari konflik. Ketaatan dipuji secara luas baik dalam nilai-nilai petani maupun priyayi. Seorang anak diajarkan ketaatan dengan memaksakan rasa takut akan akibat yang tidak menyenangkan dari suatu tindakan, atau wedi (takut). Cara yang biasa dilakukan orang tua, yang menurut Koentjaraningrat sangat disayangkan, adalah menakut-nakuti anak dengan ancaman hukuman dari tangan makhluk halus atau orang asing. Lebih lanjut ia menjelaskan, hal ini memicu mudahnya munculnya perasaan takut terhadap orang lain. Menurut Geertz, konsep wedi diajarkan sebelum konsep shaming ditanamkan. Geertz juga menjelaskan cara orang tua menanamkan wedi dengan cara menakut-nakuti anak. Dia pernah mengamati “anak berusia dua tahun, diam dalam ketakutan bahwa laki-laki asing yang datang berkunjung, seperti yang telah diperingatkan ibunya, akan menggigitnya jika dia membuat keributan …” (Geertz 1961, 113). Perasaan ini menyampaikan norma-norma orang Jawa dewasa dalam pergaulan sosial untuk merasakan wedi terlebih dahulu ketika berhadapan dengan orang asing. Karena tidak mengetahui apakah mereka akan mencelakakan, menyakiti, atau mempermalukannya (Koentjaraningrat 1985), orang Jawa menunggu dan tidak melakukan apa-apa hingga ia yakin bagaimana situasi akan berkembang.

Dalam mengajarkan pengendalian diri dan perilaku hormat pada anak Jawa, orang tua menekankan konsep isin atau mempermalukan. Orang tua selalu berusaha membangkitkan rasa malu terhadap perilaku buruk yang akan “diperhatikan oleh orang-orang jalanan” (Koentjaraningrat 1985, 242) Hendaknya anak merasa isin terhadap atasannya. Geertz menemukan, akibat penanaman isin, anak-anak Jawa bisa duduk tenang dan berperilaku baik selama berjam-jam di setiap kesempatan publik. Dalam budaya Jawa, mengetahui kapan harus merasa isin berarti mengetahui “sifat sosial dasar dari pengendalian diri dan menghindari ketidaksetujuan” (Geertz 1961, 114).

Ketika anak memasuki masa remaja, konsep sungkan (kesantunan penuh hormat) (Geertz 1961), diperkenalkan secara bertahap. Perasaan ini ditujukan kepada atasan atau orang asing yang sederajat. Koentjaraningrat (1985) menggambarkannya sebagai “perasaan canggung” terhadap atasan atau orang yang dihormatinya. Mereka akan bertindak malu-malu dalam interaksi sosialnya, berusaha untuk tidak mengganggu atasannya. Menurut Geertz, konsep sungkan merupakan dasar bagi orang Jawa “untuk mampu melakukan minuet sosial dengan anggun” (Geertz 1961, 114).

Ajaran wedi, isin, dan sungkan dianggap sebagai prasyarat untuk mengadopsi unsur-unsur dasar keutamaan manusia. Seperti disebutkan sebelumnya, ketaatan, kemurahan hati, menghindari konflik, memahami orang lain, dan empati merupakan nilai-nilai dasar orang Jawa dalam menjalin hubungan, tercermin dari penekanan mereka pada interkoneksi sesama manusia. Nilai ini mewajibkan masyarakat Jawa untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat dalam pergaulan sosialnya.

Bagaimana Mengajarkan Sopan Santun dan Nilai

Budaya Jawa menghargai kebajikan yang berkontribusi pada integrasi sosial yang harmonis. Kebajikan manusia yang ideal meliputi ketaatan kepada atasan (manut), kemurahan hati, menghindari konflik, pengertian terhadap orang lain, dan empati (Geertz 1961; Koentjaraningrat 1985; Magnis-Suseno 1988). Pandangan tradisional Jawa bahwa semua laki-laki tidak setara secara sosial ditunjukkan dalam berbagai aspek perilaku sosial. Oleh karena itu, perilaku hormat selalu ditanamkan pada anak-anak Jawa.

Sikap permisif yang dikemukakan sebelumnya terhadap anak-anak di bawah lima atau enam tahun terutama bertujuan untuk mengatur urusan-urusan agar meminimalkan munculnya dorongan-dorongan yang mengganggu kehidupan sosial. Anak dianggap durung Jawa (belum orang Jawa) atau durung ngerti (belum paham) (Geertz 1961), sehingga penggunaan kekerasan atau hukuman atas kesalahan yang tidak dapat dipahami dianggap tidak ada gunanya. Magnis-Suseno (1988) mengamati bahwa orang tua jarang marah terhadap anak kecilnya.

Perilaku yang tidak dapat diterima secara tidak langsung ditentang dengan menakut-nakuti anak dengan hantu, orang asing, atau anjing, yang menurut MagnisSuseno (1988), juga mengarahkan anak kepada orang tuanya demi keamanan emosional. Namun, Koentjaraningrat (1985) mencatat bahwa beberapa petani di Jawa mengancam anak-anak mereka dengan hukuman, dan bahkan dengan kemarahan. Namun ia setuju bahwa perilaku anak-anak pada umumnya dikendalikan tanpa hukuman.

Berbeda dengan pentingnya hukuman di kalangan suku Yoruba, hanya 5 persen ibu di Jawa yang menampar atau memukul anaknya ketika ada pengawas, dan hanya 10 persen yang menghukum anak tersebut lebih dari sekali dalam seminggu. Geertz (1961) mencatat bahwa seiring bertambahnya usia anak, pelatihan untuk masa dewasa mungkin melibatkan disiplin bahkan hukuman fisik untuk menanamkan perilaku yang “benar”. Anak-anak yang lebih tua dalam kumpulan data kami cenderung lebih disiplin dibandingkan anak-anak yang lebih muda.

Geertz (1961) mengilustrasikan sikap permisif yang mungkin ditunjukkan ibu terhadap anaknya:

Jika seorang anak ingin begadang biasanya tidak ada keberatan dari orang tuanya, dan pada saat wayang kulit anak-anak duduk semalaman di depan layar, menonton dan tidur siang secara bergantian. Pada malam hari biasa, ibu hanya akan bertanya kepada anaknya apakah ia ingin tidur dan akan terus bertanya hingga ia menjawab ya. Jarang terjadi pertarungan keinginan; tidak ada pertentangan langsung… Jika anak menjadi lepas kendali dan cara diam tidak berhasil, ibu mungkin akan menakutinya dengan pembicaraan tentang lelaki hantu yang akan dia lihat jika dia tidak menutup matanya. (Geertz 1961, 103)

Ibu juga umumnya sangat permisif atau memanjakan anak dalam memberikan camilan dan makanan lain sesuai permintaan, dan anak biasanya tidak diharapkan untuk menunggu makanan sepanjang hari (Geertz 1961; Tan dkk. 1970). Hanya 26 persen ibu dalam sampel kami menjawab bahwa anak tidak boleh ngemil kapan pun dia lapar dan harus menunggu hingga waktu makan untuk diberi makan; 84 persen anak-anak mengonsumsi makanan ringan manis dan asin – menyediakan 1$ persen dari total energi yang dikonsumsi. Produk makanan ringan ini, atau “makanan cepat saji Jawa” (produk singkong manis dan beras ketan, kue goreng asin yang diproduksi secara komersial, dan minuman) umumnya rendah zat gizi mikro. Bukti anekdot menunjukkan bahwa anak-anak mungkin mengonsumsi begitu banyak makanan ringan berkalori tinggi dan kepadatan nutrisi rendah di antara waktu makan sehingga makanan yang lebih “bergizi” dalam makanannya mungkin akan segera diubah.

Menurut Geertz, anak-anak kecil memiliki sedikit kesempatan untuk mengembangkan inisiatif mereka sendiri dan mandiri, karena mereka sangat terlindungi dari frustrasi dan bahaya. Menurut Koentjaraningrat, hal ini hanya berlaku sampai anak tersebut mencapai usia sekitar lima tahun, setelah itu ia bebas bermain dengan teman-temannya di lingkungan sekitar. Namun sebaliknya, Megawangi, Sumarwan, dan Hartoyo (1994) menemukan bahwa 94 persen orang tua di Jawa ingin memiliki anak yang mandiri.

Seiring bertambahnya usia anak, lambat laun ia ditanamkan konsep Jawa tentang pengendalian diri dan kepatuhan. Dia menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya tidak memberikan respons seperti dulu, dan mereka menghukumnya jika dia tidak patuh. Transisi ini, menurut Geertz, mempunyai dampak yang signifikan.

Matematika Dalam Perspektif Budaya

Dalam studi baru-baru ini tentang epistemologi praktik ahli dan peneliti matematika  dan bagaimana hal ini terkait dan memengaruhi praktik disipliner mereka, saya mengidentifikasi perbedaan antara budaya matematika, aspek-aspek matematika yang terkait dengan disiplin ilmu (seperti sikap tertentu terhadap kecantikan, ketelitian, keringkasan, dll.) dan budaya matematika, sikap sosio-politik, nilai-nilai dan perilaku yang menentukan bagaimana ahli matematika, dan siswanya, mengalami matematika dalam suasana konferensi, ruang kelas, tutorial, dll. Dalam bab ini, saya menyediakan pembenaran empiris untuk menggambarkan perbedaan ini dan kemudian mengeksplorasi cara-cara di mana budaya matematika dan budaya matematika mempengaruhi sikap, perilaku dan nilai-nilai dalam disiplin ilmu. Meskipun aspek budaya matematika, secara historis, telah didefinisikan sebagai bagian integral dari matematika dan dipandang sebagai bagian dari apa yang diharapkan diperoleh siswa dalam proses menjadi ahli matematika, budaya matematika adalah produk dari stereotip dan bias yang mengontrol siapa yang bisa. memasuki disiplin dan bagaimana mereka melakukannya. Namun, membedakan keduanya tidaklah mudah. Saya berpendapat bahwa budaya matematikalah yang menciptakan hambatan masuk bagi anggota kelompok tertentu dan memfasilitasi kelompok lain. Konsekuensinya, budaya matematikalah yang menjalankan kekuasaan atas bagaimana budaya matematika dipahami. Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa budaya matematikalah yang harus diatasi jika matematika ingin mencapai aksesibilitas yang luas

Seorang pakar matematika dan budaya mengungkapkan pengalamannya di bawah ini.

Saya juga tahu bahwa kita adalah orang-orang intelektual yang memahami sistem dan pola (misalnya bagaimana dunia saling terhubung), yang merupakan aspek penting dari hubungan mendalam kita dengan Negara. Masyarakat kita memahami dunia secara matematis dengan cara kita sendiri dan pengetahuan ini belum diakui. Anak-anak kita terus-menerus dirugikan dalam sistem pendidikan dan statistik pendidikan saat ini tidak mencerminkan kecerdasan dan kemampuan mereka.

Lalu bagaimana kita bekerja sama untuk mengubah hal ini? Setelah bertahun-tahun menjadi ahli matematika terapan, saya memutuskan untuk berpindah bidang dan bekerja di bidang pendidikan matematika bagi pelajar Aborigin dan Penduduk Pribumi Selat Torres. Saya tertarik untuk mengeksplorasi apa artinya mengajar matematika yang menghargai budaya kita. Saya ingin mengeksplorasi hubungan antara budaya kita dan matematika untuk memberikan informasi lebih lanjut pada pendidikan matematika bagi semua pelajar Aborigin dan Penduduk Pribumi Selat Torres.

Dalam monograf ini, saya berpendapat bahwa pendidikan matematika yang lebih kaya berasal dari pengajaran matematika dari perspektif budaya. Dari cara pengajaran ini, jenis pendidikan matematika yang berbeda dapat diciptakan; potensi siswa untuk mengembangkan pemahaman konseptual matematika yang lebih mendalam serta mengembangkan koneksi dengan matematika.

#math

#matematika

Philology of Ancient Manuscript

Filologi

Filologi (dari bahasa Yunani Kuno φιλολογία (philología) ‘cinta kata’) adalah studi tentang bahasa dalam sumber-sumber sejarah lisan dan tertulis; ini adalah titik temu antara kritik tekstual, kritik sastra, sejarah, dan linguistik yang memiliki ikatan kuat dengan etimologi. Filologi juga diartikan sebagai studi tentang teks sastra dan catatan lisan dan tertulis, penetapan keaslian dan bentuk aslinya, serta penentuan maknanya. Seseorang yang menekuni studi semacam ini dikenal sebagai seorang filolog. Dalam penggunaan yang lebih tua, khususnya di Inggris, filologi lebih umum, mencakup linguistik komparatif dan historis.

Filologi klasik mempelajari bahasa-bahasa klasik. Filologi klasik pada prinsipnya bermula dari Perpustakaan Pergamus dan Perpustakaan Alexandria sekitar abad keempat SM, dilanjutkan oleh bangsa Yunani dan Romawi di seluruh Kekaisaran Romawi dan Bizantium. Filologi ini akhirnya dilanjutkan oleh para sarjana Eropa pada masa Renaisans, dan segera diikuti oleh filologi dari Eropa lainnya (Jerman, Celtic), Eurasia (Slavistik, dll.), Asia (Arab, Persia, Sansekerta, Cina, dll.), dan Bahasa Afrika (Mesir, Nubia, dll.). Studi Indo-Eropa melibatkan filologi komparatif dari semua bahasa Indo-Eropa.

Istilah filologi berasal dari bahasa Yunani φιλολογία (philología), dari istilah φίλος (phílos) ‘cinta, kasih sayang, dicintai, dicintai, sayang, teman’ dan λόγος (lógos) ‘kata, artikulasi, alasan’, menggambarkan kecintaan terhadap pembelajaran, sastra, serta argumentasi dan penalaran, yang mencerminkan berbagai aktivitas yang termasuk dalam gagasan λόγος. Istilah ini sedikit berubah dengan bahasa Latin philologia, dan kemudian masuk ke dalam bahasa Inggris pada abad ke-16, dari bahasa Prancis Tengah philologie, dalam arti ‘cinta sastra’.

Kata sifat φιλόλογος (philólogos) berarti ‘suka diskusi atau argumen, banyak bicara’, dalam bahasa Yunani Helenistik, juga menyiratkan preferensi argumen yang berlebihan (“sophistic”) dibandingkan cinta akan kebijaksanaan sejati, φιλόσοφος (philósophos). Sebagai alegori pengetahuan sastra, filologia muncul dalam sastra pascaklasik abad kelima (Martianus Capella, De nuptiis Philologiae et Mercurii), sebuah gagasan yang dihidupkan kembali dalam sastra Abad Pertengahan Akhir (Chaucer, Lydgate).

Arti “kecintaan terhadap pembelajaran dan sastra” dipersempit menjadi “studi tentang perkembangan sejarah bahasa” (linguistik sejarah) dalam penggunaan istilah tersebut pada abad ke-19. Karena kemajuan pesat dalam memahami hukum yang masuk akal dan perubahan bahasa, “zaman keemasan filologi” berlangsung sepanjang abad ke-19, atau “dari Giacomo Leopardi dan Friedrich Schlegel hingga Nietzsche”. Filologi juga mencakup studi tentang teks dan sejarahnya. Ini mencakup unsur kritik tekstual, mencoba merekonstruksi teks asli seorang penulis berdasarkan varian salinan naskah. Cabang penelitian ini muncul di kalangan sarjana kuno di dunia berbahasa Yunani pada abad ke-4 SM, yang ingin menetapkan teks standar dari penulis populer untuk interpretasi yang baik dan transmisi yang aman. Sejak saat itu, prinsip-prinsip asli kritik teks telah diperbaiki dan diterapkan pada teks-teks lain yang tersebar luas seperti Alkitab. Para sarjana telah mencoba merekonstruksi bacaan asli Alkitab dari varian manuskripnya. Metode ini diterapkan pada kajian klasik dan teks abad pertengahan sebagai cara untuk merekonstruksi karya asli pengarangnya. Metode ini menghasilkan apa yang disebut “edisi kritis”, yang menyediakan teks yang direkonstruksi disertai dengan “peralatan kritis”, yaitu catatan kaki yang mencantumkan berbagai varian naskah yang tersedia, sehingga memungkinkan para sarjana memperoleh wawasan tentang keseluruhan tradisi naskah dan berdebat tentang varian tersebut.

Metode studi terkait yang dikenal sebagai kritik tinggi mempelajari kepengarangan, tanggal, dan asal teks untuk menempatkan teks tersebut dalam konteks sejarah. Karena permasalahan filologis ini seringkali tidak dapat dipisahkan dari permasalahan penafsiran, tidak ada batas yang jelas antara filologi dan hermeneutika. Ketika teks memiliki pengaruh politik atau agama yang signifikan (seperti rekonstruksi teks Alkitab), para ahli mengalami kesulitan mencapai kesimpulan yang obyektif.

Beberapa sarjana menghindari semua metode kritis filologi tekstual, khususnya dalam linguistik sejarah, yang menganggap penting untuk mempelajari materi rekaman yang sebenarnya. Gerakan yang dikenal sebagai filologi baru menolak kritik tekstual karena memasukkan interpretasi editorial ke dalam teks dan merusak integritas naskah individu, sehingga merusak keandalan data. Pendukung filologi baru menekankan pendekatan “diplomatik” yang ketat: terjemahan teks yang tepat persis seperti yang ditemukan dalam naskah, tanpa perubahan.

#philology

#filologi

#manuscript

Binahong Mampu Stop Gagal Ginjal

Daun Binahong

Binahong merupakan tanaman menjalar yang bersifat perenial dengan nama latin Anredera cordifolia. Panjang tanaman perenial (berumur panjang) ini dapat tumbuh hingga mencapai 5 meter.

Tanaman binahong yang termasuk dalam ordo Caryophyllales merupakan tanaman obat potensial yang mampu mengatasi berbagai jenis penyakit. Binahong diketahui berasal dari dataran China dengan nama asli Dheng shan chi.

Daun binahong mampu memperbaiki fungsi ginjal dengan menurunkan kadar kreatinin. Gagal ginjal memamng buka penyebab kematian nomor wahid, tetapi  gagal ginjal merupakan penyakit yang menempati urutan ke 6 penyebab kematian pasien yang dirawat di RS di seluruh Indonesia. Oleh karena itu gagal ginjal tidak bisa dipandang sebelah mata. Pasalnya, penyebab gagal ginjal semakin akrab di kalangan masyarakat seperti mengkonsumsi makanan berpengawet dan minuman berkarbonasi.

Sanitasi yang buruk juga mampu memperburuk fungsi ginjal, maka dari itu pasien gagal ginjal terus meningkat tiap tahunnya. Menurut Kemenkes 58% [asien gangguan ginjal akut meniggal dunia pada tahun 2022.

Menurut Dr Zainal Gani, dokter sekaligus herbalis di Malang Jawa Timur, gagal ginjal merupakan penyakit akibat menurunnya fungsi ginjal sebagai penyaring bahan toksik yang dikeluarkan melalui kencing tidak optimal. Akibatnya tubuh kita tak dapat mengeluarkan sisa metabolisme dan akhirnya masuk ke pembuluh darah, hal itulah yang membuat kita harus cuci darah.

Ciri-ciri orang yang terkena gagal ginjal adalah : selalu ngerasa lelah, pembengkakan di bagian tangan, kaki dan wajah, kesulitan berpikir jernih, urine tidak normal, kulit gatal-gatal.

Lalu bagaimana cara mengkonsumsi binahong:

Cukup rebus 10-15gr daun binahong dalam satu gelas air sampai mendidih lalu diminum saat hangat. Atau bisa juga dikeringkan dengan cara dioven pada suhu 50 hingga kadar airnya tersisa 50%. Air rebusan daun binahong dikonsumsi 3-4x sehari dan diminum dalam kondisi perut kososng atau sebelum makan karena dalam perut kosong penyerapan senyawa aktif lebih optimal.

#binahong

#herbal

#JSR

Manfaat Daun Krokot Yang Dahsyat

Daun Krokot

Daun Krokot (Portulaca Oleracea L) memiliki khasiat dan manfaat cukup besar. 1. Krokot mencegah stroke karena mengandung asam lemak omega 3 yang dapat menurunkan kadar lemak dalam darah termasuk trigilserida. krokot juga mengandung kalium yang baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah.

2. Krokot juga menyehatkan mata karena mengandung vit A yang tinggi sehingga  mampu mencegah terjadinya gangguan penglihatan seperti rabun senja dan degenerasi makula.  Makula merupakan bagian mata yang diperlukan untuk penglihatan sentral yang tajam yang memungkinkan kita melihat benda yang lurus ke depan. Degenerasi makula biasanya terjadi di usia 50 tahun ke atas. Orang tua yang terkena penyakit ini akan merasakan pandangannya menjadi buram, yang dimulai dari tengah penglihatan.

3. Krokot menjaga kesehatan tulang dan gigi karena mengandung kalsisum, magnesium dan juga fosfor. Sehimgga baik untuk tulang dan gigi serta mencegah osteoporosis.

4. Krokot menjaga daya tahan tubuh karena mengandung Vit A dan C sehingga bisa menjaga sistem imun.

5. Krokot bisa menangkal efek radikal bebas karena mengandung beta karoten, alfa tokoferol dan asam askorbat yang diketahui bisa menangkal radikal bebas.

6. Krokot bisa menghidrasi tubuh karena mengandung banyak air. Tubuh yang terhidrasi dengan baik akan meningkatkan konsentrasi dan sehat.

7. Krokot bisa mengurangi kram saat haid karena mengandung kalium. Kalium merupakan salah satu mineral yang dibutuhkan untuk membuat otot lebih rileks dan tidak tegang, sehingga bisa mengurangi kram saat haid.

8. Krokot membuat tidur lebih nyenyak karena mengandung melatonin. Seimbanganya kadar hormon ini bisa membantu mengatasi gangguan tidur.

Cara mengkonsumsi krokot

1. Bisa dikonsumsi dalam bentuk sayur bening dengan bumbu bawang putih dan rimpang kunci.

2. Bisa dikonsumsi dengan cara diseduh dengan air panas dan diminum airnya saat hangat

3. Bisa dibikin sayur lainnya seperti urap-urap atau gudangan. Hindari penggunaan cabe rawit dalam jumlah besar.

4. Hindari daun krokot yang sudah tua (yang berbiji) karena tidak baik untuk ginjal

#daunkrokot

#herbal

#JSR

Relativitas Dalam Konseptualisasi Ruang: Kasus Guugu Yimidhirr

Konsekuensi kognitif potensial dari perbedaan sistem absolut geosentris untuk penghitungan ruang Guugu-Yimidhirr dan bahasa egosentris bersifat relatif dari bahasa-bahasa Eropa, seperti bahasa Inggris yang bermacam-macam. Desainnya sangat sederhana dan mudah, sistem Guugu-Yimidhirr selalu membutuhkan kemampuan luar biasa untuk menentukan letak yang tepat dari keempat kuadran di wilayah geografis manapun. Di negara terbuka dan pada kondisi siang hari, hal ini mungkin tidak terlalu berat karena menggunakan matahari sebagai panduan, tetapi biasa juga dilakukan dalam kondisi hutan hujan lebat dan di malam hari. Apa yang memang dilakukan adalah adalah penutur Guugu-Yimidhirr membawa peta mental negara mereka memenuhi kuadran dan membiarkan mereka memperbaiki lokasi benda apapun di dalamnya sehubungan dengan posisi mereka sendiri. Memang, mengingat kondisi ekologisnya, sistem absolut Guugu-Yimidhirr nampaknya sangat sesuai untuk navigasi di dalam negara mereka. Hal ini karena selalu memberikan koodinat tetap untuk posisi penutur dan arah tenggara yang ingin dia gambarkan.

Sistem bahasa Inggris egosentris yang sebenarnya agak kurang sesuai dengan kondisi ini, karena ada orang yang hilang di hutan akan mengatakan, arah seperti “pergi 3 km ke kiri, lalu 6 km ke kanan, dan akhirnya 2 km ke kanan lagi”. Sangat tidak mungkin untuk mendapatkan satu rumah untuk makan malam. Arah Guugu-Yimidhirr seperti pergi 3 km kea rah timur, lalu 6 km kea rah selatan, dan akhirnya 2 km ke barat, mungkin juga.

Sementara itu, di Angkola penanda ruang yang digunakan adalah tu jae ‘ke hilir’ dan tu julu ‘ke hulu’. Mengapa penanda ruangnya demikian? Karena daerah Angkola dilewati sungai Batang Angkola sepanjang daerahnya. Selain itu, masyarakatnya memiliki pengalaman di bidang agraris. Karena hal inilah maka penanda ruang utamanya adalah tu jae dan tu julu dari sungai tersebut. Untuk informasi tambahan arah, maka disesuaikan dengan arah mata angin juga, sama seperti Guugu-Yimidhirr ditambah dengan arah siamun ‘kanan’ dan siambirang ‘kiri’ atau juga tu ginjang ‘ke atas’ dan tu toru ‘ke bawah’.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

#Guugu-Yimidhirr

#egosentris

#kognitif

 

Pengusulan Semesta Ruang

Konsepsi ruang sangat bergantung pada background knowledge yang mungkin berdasarkan biologis, semesta, sehingga pada dasarnya sama dalam semua bahasa dan budaya. Dengan kondisi semesta dan relung ekologis kita sebagai makhluk yang telah diklaim bahwa kita cenderung membayangkan sumbu dalam istilah relativistik dan egosentris yang diproyeksikan dari ego, titik referensi pusat deiksis untuk semua perhitungan ruang di sepanjang dua sumbu horizontal dan satu vertikal. Dengan demikian, istilah universal mengenai konsep ruang dalam hipotesis (Foley, 1997) ini seperti pada bahasa Inggris dan bahasa-bahasa Eropa, istilah seperti KIRI-KANAN, DEPAN-BELAKANG seharusnya tidak hanya bersifat semesta pada leksikalnya di antara bahasa-bahasa dunia, namun penggunaannya sebenarnya harus sejajar dengan istilah bahasa Inggris.

Jika demikian, dalam bahasa Angkola juga mengenal istilah yang sama. Penyebutan istilahnya adalah SIAMBIRANG-SIAMUN ‘KIRI-KANAN’ dan JOLO-PUDI ‘DEPAN-BELAKANG’. Kesemestaan ruang juga dialami oleh bahasa Angkola.

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

 

Relativitas Konsep Ruang dan Pemerolehan Bahasa

Prinsip relativitas linguistik akan meramalkan bahwa perbedaan linguistik sistematis seperti ini harus tercermin dalam proses pemerolehan bahasa. Pemerolehan bahasa menunjukkan pengetahuan yang berkorelasi dengan mitra penutur. Secara khusus, jika sifat-sifat tertentu dari bahasa-bahasa yang dimaksud ditemukan pada awal proses pemerolehan bahasa, maka hal ini kan mengindikasikan bahwa setiap hambatan universal untuk organisasi informasi ruang tidak begitu kuat. Karena pengalaman yang dibentuk dari bahasa ini sangat berperan penting dalam penataan domain ini (Foley, 1997).

Kedua gambar di atas adalah kaitan antara bahasa dan pikiran dan alur pengembangan pikiran dan bahasa anak-anak. Steinberg (1990 dalam Santoso dan Muslich, 2014) menyatakan bahwa sistem pikiran yang terdapat pada anak-anak dibangun sedikit demi sedikit apabila ada rangsangan dari dunia sekitarnya sebagai masukan atau input. Hal yang dapat menjadi input adalah apa yang dilihat anak, didengar, dan yang disentuh yang menggambarkan benda, peristiwa, dan keadaan sekitar anak yang mereka alami. Lama kelamaan pikiran anak akan terbentuk dengan sempurna. Apabila pikiran telah terbentuk dengan sempurna dan apabila masukan bahasa dialami secara serentak dengan benda, peristiwam dan keadaan maka barulah bahasa mulai dipelajari. Lambat laun, sistem bahasanya (perbendaharaan kata dan tata bahasa) pun terbentuk. Sebagian dari sistem bahasa tersebut adalah sistem pikirannya. Mengapa demikian? Karena makna dan semantik bahasa yang digunakan adalah ide yang merupakan bagian dari isi pikirannya. Sistem pikiran dan bahasa menyatu melalui makna dan ide.

            Selanjutnya, pemerolehan bahasa pertama yang dialami oleh anak terdiri dari empat strategi, yaitu:

  1. Strategi pertama adalah meniru. Pedomannya, tirulah apa yang dikatakan orang lain. Contoh: Seorang anak terlalu asyik menonton tv acara film kesukaannya. Tidak disadarinya jarak antara tv dan dirinya terlalu dekat. Melihat hal ini, Ibunya menegur anaknya: Jangan dekat-dekat Toni, nanti matamu rusak. Kalau mata Toni rusak, Toni tidak bisa membaca dan belajar di sekolah lagi. Mundur sedikit ya, Sayang! Di saat yang lain Ibunya terlihat terasa keheranan karena samar-samar terdengar suara Bu Joko, tetangganya muncul di TV, serta merta ia menghampiri TV untuk meyakinkannya. Karena sedang tidak mengenakan kacamaat, ia berupaya mendekati TV. Si Toni, anaknya, yang juga sedang menyaksikan iklan perdana itu dengan lantang berkata: Ma, jangan dekat-dekat dong nanti mata mama rusak. Kalau mata mama rusak, nanti tidak bisa melihat Toni membaca dan belajar di sekolah. Mundur sedikit, ya, Ma!
  2. Strategi kedua adalah produktivitas. Pedomannya adalah buatlah sebanyak mungkin dengan bekal yang telah Anda miliki atau Anda peroleh. Contoh: seperangkat bunyi, kata, struktur kalimat yang terbatas dapat dihasilkan kata, frase, kalimat, dan wacana yang tidak terbatas. Dalam hal bunyi, misalnya, dengan bunyi /k/, /t/, /u/, /a/ kita dapat menyusun kata dalam bahasa Indonesia setidaknya empat kata yaitu:

[kuta]

[kuat]

[tuak]

[akut]

Dari empat kata itu pula, dapat dihasilkan kalimat-kalimat yang tidak terbatas jumlahnya. Contohnya sebagai berikut.

  1. Orang kuat itu terlihat terkapar di pantai Belakangan diketahui ia menderita jantung akut.
  2. Ada indikasi bahwa orang kuat di Kuta itu senang minum
  3. Memang tuak tidak baik meskipun bagi orang kuat karena dapat menyebabkan penyakit yang

Berdasarkan fakta di atas menyadarkan kita bahwa bukan hanya dengan sedikit perangkat saja dapat dihasilkan sejumlah komunikasi bahasa tak terbatas tetapi juga dengan berbagai cara dapat dihasilkan jumlah tak terbatas komunikasi bahasa. Jadi, perangkat terbatas tadi baru menjadi tak terbatas jika diterapkan dengan berbagai cara atau kombinasi berbahasa.

  1. Strategi ketiga adalah hubungan umpan balik antara produksi ujaran dan response. Pedomannya adalah hasilkanlah ujaran dan lihatlah bagaimana orang lain memberi response. Contoh: percakapan anak wanita yang berumur 19 bulan dengan ibunya, yang mendemostrasikan suatu praktik strategi produktif.

Anak         : Saya makan.

Ibu             : O, kamu makan?

Anak         : Saya makan nasi. Saya makan nasi goreng.

Ibu             : O, kamu makan di situ.

Anak         : Ya, makan di sini. Makan?

Ibu             : Ya, kamu boleh makan.

Anak         : (Dia makan). Saya makan.

Ibu             : Ya, kamu boleh makan. Ayo makan.

Anak         : Makan nasi.

Ibu             : Makan nasi goreng.

Ibu secara informal atau secara konvensional, memberikan umpan balik kepada sang anak. Walaupun barangkali strategi ini hanya merupakan salah satu dari sekian banyak kemungkinan, tetapi dapat memberi nilai tertentu. Secara khusus “ukuran” informal bagi perkembangan bahasa seorang anak adalah apa yang “dikatakan” atau yang “diucapkan”nya, bukan apa yang dipahami oleh anak itu. Strategi produktif bersifat sosial dalam pengertian bahwa strategi tersebut dapat meningkatkan interaksi dengan orang lain dan sementara itu bersifat “kognitif” juga.

  1. Strategi keempat adalah prinsip operasi. Pedomannya adalah gunakan beberapa prinsip operasi umum untuk memikirkan serta menetapkan bahasa. Pemikiran ini dikembangkan oleh Slobin (dalam Santoso dan Muslich, 2014). Karya Slobin mengenai prinsip-prinsip operasi atau operating principles sungguh menunjang gagasan mengenai anak-anak sebagai pemerhati dan pemakai aktif pola-pola dalam pemerolahn bahasa. Slobin dan mahasiswanya dengan penuh semangat mengumpulkan data mereka sendiri dan telah menelaah secara intensif data yang telah dikumpulkan pakar lain mengenai pemerolehan bahasa pertama lebih dari 40 bahasa. Selain dari “perintah terhadap diri sendiri” oleh anak, prinsip operasi Slobin juga menyarankan “larangan” yang dinyatakan dalam avoidance terms; misalnya “hindari kekcualian”, “hindari pengaturan kembali”.

Dengan demikian, dengan keempat strategi pemerolehan bahasa ini diharapkan anak tidak akan mengalami kesulitan ketika memasuki tahap pembelajaran bahasa untuk kemudian menjadi sosok yang terampil berbahasa.

 

Referensi

Foley, William A. 1997. Anthropological Linguistics: An Introduction. China: Blackwell Publisher Ltd.

Santoso, Anang dan Muslich, Masnur. 2014. Teori Belajar Bahasa. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka.

Properti Tipologi Ruang

Pada banyak kasus, sebuah benda (gambar) terletak berkenaan dengan beberapa tempat atau objek (tanah) dengan menentukan beberapa topologi sifat tanah. Partikel ruang seperti preposisi bahasa Inggris membawa informasi penting tentang semantis untuk menemukan gambar sehubungan dengan tanah. Namun, informasi semantik yang dibawa oleh partikel semacam itu sangan bervariasi dari bahasa ke bahasa.

Sederhananya, preposisi ini misalnya akan dijelaskan dalam contoh bahasa Angkola sebagai berikut. Preposisi dalam bahasa Angkola menurut Sohuturon (1960) terbagi pada empat bagian, yaitu: di, tu, sian, dan ni. Cara penulisannya harus dipisah. Contoh:

  1. Preposisi di ‘di’
  2. Maridi di pancur. ‘mandi di pancur’
  3. Modom di bilik. ‘tidur di kamar’
  4. Marsiajar di sikola. ‘belajar di sekolah’
  5. Tulangta di Medan. ‘paman kita di Medan’
  6. Preposisi tu ‘ke’
  7. Kehe tu poken. ‘pergi ke pekan’
  8. Markopal tu Jawa. ‘berkapal ke Jawa’
  9. Mardalan tu saba. Berjalan ke sawah’
  10. Preposisi sian ‘dari’
  11. Ro sian pasar. ‘datang dari pasar’
  12. Ro ngon Moka. ‘datang dari Mekkah’
  13. Madabu sian tarup. ‘jatuh dari atap’
  14. Preposisi ni ‘dari’
  15. Pat ni meja. ‘kaki dari meja’ à kaki meja
  16. Ulu ni kudo. ‘kepala dari kuda’ à kepala kuda
  17. Jop ni roha. ‘senang dari hati’ à senang hati
  18. Godang ni ate-ate. ‘besar dari hati’ à besar hati

Tetapi pada saat preposisi bertemu dengan kata-kata on, i, adu, indon, indi, indadu, menjadi demostrativa dan harus digabungkan cara penulisannya. Tetapi harus ditambahkan dengan huruf s sebagai penghubung suaranya, dan hal ini khusus hanya untuk kata di dan tu saja.

  1. di ‘di’
  2. di ‘di’+ on ‘ini’ = dison ‘di sini’
  3. di ‘di’+ i ‘itu’ = disi ‘di situ’
  4. di ‘di’+ adu ‘itu’ = disadu ‘di sana’
  5. di ‘di’ + indon ‘ini’ = disindon ‘di sini’
  6. di ‘di’ + indi ‘yang ini’= disindi ‘di sebelah sini’
  7. di di’ + indu ‘yang itu’ = disindu ‘di sebelah situ’
  8. di ‘di’+ indadu ‘yang itu’= disindadu ‘yang di situ’
  9. tu ‘ke’
  10. tu ‘ke’+ on ‘ini’ = tuson ‘ke sini’
  11. tu ‘ke’+ i ‘itu’ = tusi ‘ke situ’
  12. tu ‘ke’+ adu ‘sana’ = tusadu ‘ke sana’
  13. tu ‘ke’+ indi = tusindi ‘ke sini’
  14. tu ke’+ indu = tusindu ‘ke situ’

Demikianlah pemaparan contoh dalam preposisi dan demonstrativa yang dapat memberikan batasan topografi ruang dalam pembahasan ini.