Soto adalah masakan khas Nusantara. Hampir di semua daerah di Indonesia memiliki kuliner Soto masing-masing dengan segala macam kekhasannya. Kali ini saya akan menampilkan resep Soto Bandung yang segar, berkuah bening dan terdapat irisan buah lobak di dalam kuah sotonya. Inilah resepnya.
Bahan:
2500cc air untuk merebus
750gr sandung lamur/kikil/jerohan campur
100gr lobak iris tipi bundar
3sm minyak goreng untuk menumis
Bumbu:
3 siung bawang putih, kupas dan memarkan
50gr lengkuas memarkan
2cm jahe memarkan
3 batang jahe memarkan
1sdm gula pasir
1bks kaldu ayam
Pelengkap:
3sm bawang goreng
100gr kacang kedelai rendam 2jam lalu goreng
5sdm irisan daun bawang
5 sdm irisan daun seledri
merica bubuk sesuai selera
irisan jeruk nipis
emping goreng
sambel rawit
Untuk sambel rawit:
15 cabe rawit tua rendam sebentar dalam air mendidih
1/2st garam
1/2sdm gula pasir tumbuk kasar
1/2st cuka
50cc air
Cara membuat:
Didihkan air, masukkan daging. Masak sambil ditambah air bila perlu hingga daging lunak. Angkat dagingnya lalu potong kecil-kecil. Sisihkan.]
Tumis bawang putih hingga kuning, masukkan ke dalam kaldu bersama bumbu lainnya dan potong daging. Didihkan, masukkan irisan lobak. Masak sebentar. Angkat.
Cara menghidangkan: Tempatkan merica bubuk dalam mangkok saji, beri perasan air jeruk nipis. Tuang kaldu beserta isinya, taburi bawang goreng dan kedelai goreng, daun bawang dan sledri. Hidangkan dengan emping goreng, kecap dan sambal rawit dalam tempat terpisah.
Semua orang tahu tauge. Negeri Indonesia yang kaya akan budaya dan kuliner khas selalu ada menu-menu berbahan tauge. Tauge atau toge atau kecambah atau tokolan dan banyak lagi istilah untuk menyebut tumbuhan dari biji kacang hijau.
Di Maluku misalnya, gado-gado dengan tauge adalah kuliner mahal yang disajikan jarang-jarang, yaitu hanya pada saat lebaran. Hal ini karena bahan baku gado-gado yang sebagian harus didatangkan jauh-jauh dari pulau Jawa seperti misalnya kentang, daun selada, kerupuk udang dan wortel. Masyarakat lokal Maluku terutama di pulau Buru biasa mengolah sendiri kacang hijau menjadi kecambah lalu menghidangkan bersama-sama bahan gado-gado yang lain. Kacang tanah, ketimun, dan lontong biasa mereka sediakan sendiri tanpa harus mengimpor dari pulau Jawa.
Di Solo, kecambah disebut dengan tokolan. Tokolan artinya tumbuh atau tetumbuhan. Berasal dari kata tumbuh atau tukul (Jawa red). Namun saat kita menyebut kata kecambag saat membeli bahan ini di pasar, mereka pun tahu bahwa kita sedang ingin membeli tokolan.
Beda kota beda ukuran ternyata. Kalau kita bicara tentang bahasa, bahkan beda kecamatan pun bisa beda kosakata seperti bahasa yang ada di Flores. Banyak sekali bahasa lokal yang ada disana, bahkan pada setiap kecamatan memiliki bahasa sendiri. Sehingga Flores sangat dikenal memiliki banyak bahasa lokal.
Kembali ke kecambah tadi (sebenarnya ada hubungannya gak ya), bahwa ternyata saya menemukan kecambah di Solo berbeda dengan yang saya temui di kotaku, Malang Jawa Timur. Kecambah di Malang ada 3 jenis atau ukuran. Perbedaanya adalah pada ukurannya (panjangnya). Yang pertama adalah kecambah kedelai, dia berukuran panjang sampai 5 cm dan berbiji lumayan keras. Biasa dieprgunakan sebagai campuran sayuran. Lalu kecambah yang kedua adalah kecambah kacang hijau yang panjangnya sekitar 3cm. Usia persemaian kecambah ini adalah sekitar 2-3 hari. Sedang kecambah yang terakhir adalah yang disebut dengan kecambah pendek. Usia persemaiannya biasanya adalah 1-2 hari. Ukurannya sangat pendek, hampir 1/2cm saja.
Di Solo saya menemukan 2 macam kecambah, yang pertama adalah kecambah kedelai. Kecambah ini sama ukuran dan bahan bakunya dengan kecambah kedelai di kotaku. Nah kecambah yang kedua adalah kecambah kacang hijau yang ukurannya berbeda dengan kecambah di kotaku. Kecambah yang ini berukuran kurang lebih 1cm. Namun penggunaan kecambah ini adalah untuk sayur mayur dan soto khas Solo. Baik mentah atau matang. Kematangannya adalah dengan menyiramnya dengan air panas saja. Rasa kecambah 1 cm yang mentah ini cukup manis dan tidak langu.
Kecambah pendek di kotaku, kota Malang yang biasa disebut dengan cambah rawon itu memang berasa sedikit langu. Dia lebih pendek dari kecambah 1cm dari Solo. Dan seringkali dikonsumsi mentah. Itulah mengapa berasa agak langu. Namun karena kecambah ini seringkali disajikan bersama masakan khas jawa Timur Rawon, maka rasa kecambah pendek ini jadi berasa istimewa.
Seperti layaknya
Asam Laksa dari Malaysia dan Bak Ku Teh dari Singapura, Soto layak mendapatkan
predikat hidangan khas Indonesia diantara ratusan kuliner Indonesia lainnya.
Hidangan ini memang patut mendapatkan acungan jempol oleh setiap yang
menyantapnya. Dari sejumlah rempah-rempah yang dipergunakan dalam kuliner yang
satu ini, kita bisa pahami akan kekayaan budaya, herba dan sistim olah yang
sangat memanjakan lidah. Seperti yang disampaikan oleh Murdijati Gardjito, Guru
Besar UGM menyebutkan ada 75 variasi
Soto yang tersebar di negeri kaya rempah ini.
Termyata cukup banyak
juga varian kuliner segar yang satu ini, ada 75 judul resep yang bisa kita
cicipi sambil sarungan dengan membaca Koran, dan si ibu belanja rempah-rempah
Soto memakai daster. Dengan begini semua bahan dan bumbu Soto kemudian tersedia
di dapur dan siap untuk disantap dengan nyaman oleh segenap keluarga. Dan
sepertinya tidak ada yang tidak suka dengan kuliner berkuah yang satu ini. Mungkin
tidak bisa dibahas semua dalam artikel karena akan menjadi Ensiklopedi Otos
seperti Arema bilang. Namun hidangan berkuah ini memang cocok untuk semua umur,
gender, dan di segala macam event. Salah satu contoh kali ini saya sebutkan
Soto paling legendaris di dunia perkulineran NKRI ini yaitu Soto Lamongan.
Mudah-mudahan teman-teman dari kota selain Lamongan tidak mengernyitkan alis
karena kotanya belum saya sebut.
Namun kuliner Soto
Lamongan ini cukup digemari oleh semua kalangan. Soto khas Jawatimuran yang
cukup kaya dengan rempah ini bisa dibilang paling lengkap rempah-rempahnya
diantara soto-soto yang lain. Dan juga dibarengi dengan topping yang beraneka
ragam membuat Soto Lamongan menjadi semakin digemari. Hampir semua bumbu ada di
dalamnya, kecuali rimpang kunci. Bisa disebutkan yaitu : bawang merah, putih,
jahe, kunyit, kemiri, ketumbar, merica, daun jeruk purut, daun salam, batang
sereh dan rimpang laos. Toppingnya pun sangat menggoyang lidah yaitu bawang
putih goreng, bawang merah goreng dan kerupuk udang yang ditumbuk halus menjadi
Koya. Koya inilah yang menjadi kunci kelezatan dari kuliner Soto Lamongan. Dan
tentu saja ditambah dengan topping beragam yaitu rajangan daun bawang, batang
seledri, sohun, tauge, rajangan kol, telur rebus, perasan jeruk nipis dan
kentang. Penggunaan kentang ini yang memang bervariasi di Jawa Timur.
Seperti misalnya Soto
Madura. Dengan menggunakan bumbu yang nyaris sama dengan Soto Lamongan, maka
kuliner yang satu ini tidak kalah lagi dengan saudara kembarnya. Penggunaan
kentang di dalam Soto Madura, Soto Bondowoso dan Soto Malang hampir mirip
dengan Soto Banjar yang juga menggunakan kentang sebagai topping. Soto Madura
menggunakan kentang rebus yang dipotong-potong sedang Perkedal Kentang
dipergunakan sebagai topping kuliner Soto Banjar. Di Malang, dengan bumbu yang
nyaris sama, keripik kentang dipergunakan sebagai topping lezat. Soto ini
sangat dikenal sebagai hidangan khas acara pengantin dengan metode unik Piring
Terbang. Dan seperti juga saudara kembar lainnya, Soto Surabaya juga memiliki
kekhasan tersendiri sebagai kuliner yang sangat dibanggakan oleh arek Suroboyo.
Soto Ambengan adalah salah satunya. Kuah Soto Ambengan agak bening karena
beberapa rempah cukup dengan digeprek. Namun bahan utama yang dipergunakan adalah
ayam kampung yang sudah cukup tua sehingga kuah Soto ini sangat legit dan
memiliki penggemar tersendiri. Disamping juga dipergunakan Koya di Soto
Suroboyoan tersebut.
Di Kalimantan sebagian
besar penduduknya menggemari Soto Banjar yang memiliki kekhasan kuliner
Banjarmasin dengan bumbu tambahannya adalah kayu manis, pala dan cengkeh.
Rempah tambahan ini yang membuat Soto Banjar lebih lekoh seperti Gulai Kambing.
Sebagian penduduk Kalimantan menyukai Soto Banjar yang khas rempah-rempahnya.
Seperti misalnya di Balikpapan. Pada beberapa kegiatan sosial seperti selamatan
pemberangkatan haji, acara pernikahan, dan aqiqah dipergunakan dua macam Soto
dalam sekali waktu yaitu Soto Banjar dan Coto Makassar. Kita tahu bahwa
sebagian penduduk Balikpapan adalah pendatang dari Makassar, sehingga banyak
sekali kuliner di Balikpapan berasal dari berbagai tempat di Indonesia. Seperti
misalnya Pecel Madiun, Sup Ayam Pak Min Klaten, Soto Lamongan, Gudeg Jogja, Coto
Makassar, Sate Madura, Warung Padang, dll. Jarang kita temui masakan asli
Balikpapan. Ini karena kota ini baru saja didirikan seiring dengan pengeboran
minyak di lepas pantai Balikpapan. Hingga kemudian tidaklah aneh bila kita
temui dalam satu kali waktu terdapat dua hidangan cantik yaitu Soto Banjar dan
Coto Makassar. Ini yang membuat tamu-tamu jadi bingung mau pilih yang mana,
karena semua enyak.
Karena menyebut Coto
Makassar, maka inilah cerita yang patut disimak. Hidangan berlatar belakang
sejarah yang cukup kuat ini berasal dari pulau Sulawesi tepatnya dari Sulawesi
selatan. Kita bisa menemui Coto Makassar hingga ujung paling utara Sulsel yang
berbatasan dengan Sulteng. Konon khabarnya, Coto Makassar dahulu adalah
hidangan para raja. Suktan Hasanuddin yang berkuasa di Gowa sangat menyukai
Coto Makassar. Juga raja-raja Bugis
Makassar yang lain termasuk Aru Palakka, Raja Bone dan La Madukelleng, Raja
Wajo. Dan memang seluruh raja di pulau Celebes menjadikan kuliner ini sebagai
hidangan sehari-hari. Bagi kita yang sudah banyak menjauhi jerohan sapi seperti
hati, paru, ginjal, limpa dan usus, namun tidak dengan kuliner Soto yang satu
ini. Dengan mempergunakan rempah Soto Nusantara, kecuali kunyit, Coto Makassar
menjadi kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan karena mengandung nilai sejarah
cukup tinggi. Resep Coto Makassar seperti Soto lainnya, mempergunakan bumbu
Soto Nusantara standar. Dan bahan utama Coto adalah jerohan. Uniknya,
dipergunakan air cucian beras yang terakhir dalam kuah Coto. Hal ini
dimaksudkan agar kuah Soto menjadi kental. Kalau rajanya makan Soto jerohan,
pertanyaannya rakyatnya makan dagingnya kah? Pertanyaan yang harus ditelusuri
jawabannya. Namun belakangan bila kita ingin menyantap Coto Makassar di
warung-warung Coto, biasanya kita ditanya mau daging atau jerohan. Coto
Makassar disantap dengan sejenis lontong yang disebut dengan Buras. Buras lebih
kecil dari Lontong dan tidak dihidangkan dalam bentuk irisan layaknya Lontong
atau Punten melainkan langsung digigit seperti Nogosari. Dan orang Makassar
sangat menyukai masakan yang asam-asam sehingga banyak terdapat irisan jeruk
nipis di meja hidang. Bila persediaan jeruk di Sulsel menipis ini menjadikan
kiamat kecil bagi orang Makassar, maka dipergunakanlah cuka masak sebagai
pendamping. Atau mendatangkan jeruk nipis dari luar pulau. Hal ini sering
dilakukan oleh para pedagang jeruk nipis karena permintaan cukup tinggi.
Dengan mempergunakan
topping kacang goreng atau kedelai goreng, kita bisa temukan kuliner Soto
Nusantara di Bandung yaitu Soto Bandung dan Soto Pacitan yaitu Saoto. Soto
Bandung berwarna bening karena tidak mempergunakan kunyit dan kemiri. Yang
membuat Soto Bandung sangat segar adalah adanya bahan irisan lobak. Topping
yang dipergunakan adalah irisan daun seledri, kedelai goreng, bawang merah
goreng, jeruk nipis dan telur rebus. Untuk bahan pedasnya yaitu potongan cabe
rawit hijau yang direndam dengan cuka. Meskipun bertekstur bening, Soto ini
cukup digemari di Jawa Barat termasuk juga sangat digemari oleh suami saya.
Eh..
Di Pacitan, Sotonya
berbasis Jawatimuran. Artinya bahan-bahan, rempah=rempah dan topping yang
dipergunakan adalah khas Jawatimuran. Topping kacang tanah dipergunakan pada
Soto ini, sehingga rasa gurih muncul saat kita mengunyah kacang dan menyeruput
kuah soto bebarengan. Mudah-mudahan nggak batuk-batuk.
Di sebuah desa di
Saradan Madiun, terdapat kuliner Soto yang cukup sederhana. Masih mempergunakan
bumbu Jawatimuran namun siapa sangka, Soto ini tidak mempergunakan daging ayam
atau daging sapi. Melainkan tahu. Tahu ini digoreng setengah matang dan menjadi
bahan utama dalam Soto Klangon, sebuah desa yang terletak di puncak gunung
Pandan diantara pepohonan Jati milik Perhutani. Desa yang cukup pelosok dan
lumayan terpencil ini, tinggalah disana sekelompok masyarakat yang cukup
sederhana yang hidup dari menanam palawija di tengah-tengah jati, mengkonsumsi
ulat jati dan daun krokot. Namun bukan berarti Soto Klangon ini berkurang rasa
legitnya. Rasa Soto khas Jawatimuran masih bisa ditemukan dalam Soto ini karena
bumbu yang dieprgunakan cukup lengkap dan mempergunakan topping kacang tanah
goreng, kerupuk dan perasan jeruk nipis.
Seperti halnya Soto
Jawatimuran, Soto Jawa Tengah juga sangat lezat. Seperti misalnya Soto Solo
yang dikenal dengan nama Soto Rempah. Sesuai dengan namanya, Soto Solo ini
mempergunakan rempah lengkap meski tidak sekental Soto Lamongan atau Coto
Makassar. Soto Rempah Solo ini lumayan bening. Tapi penjualnya bisa saja
berkelakar, kalau mau agak kental dan berempah datang saja subuh. Masih
kimleq-kimleq (kental dengan lemak) ungkapnya. Solo terlenal dengan warung hiq
nya (hik) yaitu sejenis warung lesehan yang buka pada malam hari. Sajian yang dihidangkan di warung
hik kebanyakan adalah gorengan dan nasi kucing. Gorengannya banyak ditemukan
dalam bentuk tusukan atau sundukan. Nah sundukan-sundukan inilah yang selalu
tersedia di meja-meja hidang Soto Rempah Solo. Tadinya Soto Rempah hanya
disajikan dengan topping irisan daun seledri dan bawang merah goreng, namun
karena setiap orang selalu menyantap Soto Rempah Solo dengan pendamping
sundukan maka resep khas Soto Rempah Solo menjadi sedikit bergeser. Tambahan
hidangan pendamping ini menjadi resep tetap Soto Rempah Solo. Diantaranya
adalah : tempe goreng, tahu goreng, sundukan bakso, sosis solo tahu dan tempe
bacem, dan karak.
Seperti halnya Soto
yang lain, Soto Pekalongan sangat legendaris. Sebutannya adalah Tauto atau
Tauco Soto. Dari sebutannya sudah bisa kita bayangkan bahwa bahan dasar Tauto
adalah tauco. Tauco adalah bahan fermentasi yang sudah dikenal cukup lama
sebagai warisan dari masyarakat Chinese
yang pernah bermukim di nusantara. Masyarakat Chinese banyak menggunakan metode
fermentasi karena banyaknya panenan sehingga membuat mereka harus memutar otak
bagaimana menyimpan hasil panenan agar tidak busuk. Dan tauco ini adalah salah
satunya. Karena mempergunakan bahan tauco, maka Soto Tauto berasa segar karena
adanya rasa asam tauco di dalam Soto ini. Topping yang dipergunakan masih
lumayan sama yaitu bawang goreng dan irisan daun bawang. Seperti Coto Makassar,
Soto Tauto ini disantap dengan lontong atau ketupat. Warna merah dari Soto
Tauto berasal dari tauco dan kecap sebagai topping. Dan yang membuat Tauto
lezat adalah daging yang dipergunakan sebagai bahan utama adalah daging kerbau.
Hmm jadi pingin L
Rendang Padang memang
paling top di Nusantara ini karena rempahnya yang cukup kuat dan kualitas
memasak dengan rentang waktu cukup lama. Tidak ada yang bisa mengalahkan
Rendang Padang di negeri ini sepertinya. Para jamaah hajipun dengan berbagai
cara ingin membawa rendang sebagai sangu ke tanah Suci. Namun siapa sangka Soto
Padang mampu mengejar kakaknya agar bisa setara dan mendapatkan predikat soto
nusantara terdebest. Hal ini karena bumbu Soto Padang tidak jauh beda dengan
Gulai Kambing, sehingga rempah yang cukup banyak dan lengkap ini sanggup menyaingi
Rendang Padang. Sebut misalnya adanya tambahan bunga lawang, cengkeh, kayu
manis, kapulaga, pala dan jintan hijau. Dari ragam bumbunya bisa dicermati
bahwa Soto Padang ini sangat berempah dan layak bersaing dengan Rendang Padang.
Kerupuk pink yang sering digunakan oleh masyarakat Betawi pada Ketoprak,
Gado-gado, Karedok, dan Soto Betawi, juga ditemukan sebagai topping di Soto
Padang. Sehingga menambah kecantikan soto ini hingga menimbulkan lapar mata.
Disamping kerupuk pink, soto ini juga menampilkan perkedel kentang seperti Soto
Banjar dan juga irisan jeruk nipis sebagai salah satu topping. Memang orang
Indonesia tidak bisa jauh-jauh dari yang asam-asam.
Mirip dengan Coto
Makassar, Soto Betawi ini mempergunakan jerohan sebagai bahan utamanya.Bahan
yang dipergunakan adalah paru, babat dan sebagian lemak sapi. Yang membuat Soto
Betawi ini menjadi cukup legit adalah penggunaan santan sebagai kuahnya. Di
beberapa tempat di Jakarta, Soto Betawi dihidangkan dengan kuah susu, sehingga
rasanyapun menjadi semakin nendang. Bagi mereka yang punya masalah dengan
dengkul linu sepertinya menghindari dulu. Layaknya kerupuk pink, orang Betawi
dangat menyukai emping belinjo sebagai topping, apapun hidangannya. Baik
karedok, ketoprak, gado-gado, bakso, nasi goreng. Hingga Soto Betawi pun
menggunakan topping emping belinjo. Topping lain digunakan juga potongan
kentang rebus seperti soto Jawatimuran.
Bumbu Soto Nusantara
memang tak terkalahkan, hingga banyak orang berkreasi menciptakan hidangan
lezat Soto ala-ala. Seperti misalnya Rujak Soto. Penganan terdebest di
Banyuwangi ini menjadi ikon penting dan menjadi jujukan wisata Banyuwangen. Hal
ini dikarenakan banyak orang yang penasaran dengan Nusantara Fusion ini.
Bayangkan saja Soto dicampur dengan rujak petis dimana keduanya mempunyai bumbu
yang cukup berbeda. Namun hidangan ini menjadi cukup viral karena rasanya yang
unik. Kalau pernah mencicipi Tahu Campur Lamongan, maka Rujak Soto ini memiliki
rasa yang hampir mirip karena ada beberapa unsur yang sama. Yaitu petis, tauge,
daun selada, daging, tahu goreng, dan sohun. Namun di Banyuwangi memang tidak
mau kalah seru dengan adanya Rujak Soto, ada pula Rujak Bakso dan fusion-fusion
lainnya.
“Bila kita ingin
mengenal budaya sebuah negeri, kenalilah dulu kulinernya”
Minum kopi Phoenam di Makassar..wow jauh juga. Tapi hal ini tidak menciutkan keinginan minum kopi karena ada di Cafe Makassar di jl Galunggung, kota Malang. Seperti apa kopi Phoenam yang legendaris itu?
Salah satu hal yg menarik ditemui di Makasar adalah banyaknya kedai kopi atau warkop. Kota ini menjelma menjadi surga buat “maniak kopi” ditanah air, khususnya buat yg ingin menjajal selera kopi Toraja murni tanpa campuran bahan lain.Makasar akan menjelma menjadi “kota warkop” kedua terbesar setelah Aceh yang memang disebut sebagai “propinsi sejuta kedai kopi”.<p> </p>
Bicara kopi, maka kita harus segera melirik salah satu pionir warkop disini yg terkenal disebut dengan nama “Phoenam”.Didirikan tahun 1946 oleh salah satu warga keturunan, Phoe Nam atau Phoenam memang hanya mengkhususkan menjual kopi. Phoenam sendiri artinya “terminal” atau “tempat singgah”. Nama yang unik, dan brand ini sudah ada sejak puluhan tahun silam. Secara geografis, Makasar bertetangga dg Toraja sebagai penghasil kopi torabika dengan rasa khas (Toraja adalah gudang kopi terbesar di wilayah timur Indonesia). Kopi Toraja adalah “kopi toraja”, memiliki cita rasa yang berbeda dan khas dibanding dengan dengan kopi dari wilayah lain didunia ini. Mutu kandungan tanah (soil) dipegunungan Sulsel ini yang membuat rasa kopi ini menguat saat disruput.
Bila sudah berada di Cafe Makassar, rasanya tak lengkap bila tidak mencicipi jajanannya. Ada semacam pastel dengan isian yang cukup mengagetkan juga saat mendapatkan gigitan pertama. Isinya ternyata abon ikan, bihun dan sayur2an dan juga lemper yang khas dibungkus dengan daun pisang dan dibakar. Isinya juga cukup memanjakan lidah dan tenggorokan, bumbunya berasa begitu hangat. Kebetulan ajak temen2 sekantor untuk menikmati jajanan khas Makassar ini, mereka berbondong2 pesan Es Pisang Ijo. Mungkin pada penasaran bentuknya yang hijau panjang, dan sausnya yang legit2 manis gurih. Hmm ternyata rasa campuran santan dan sirup merah memberikan sensasi yang berbeda. Maklum di Malang kebanyakan yang dijual adalah es teler.
Dan yang pasti Coto Makassarnya, semua temen rata2 nambah lontongnya. Kecil tapi gurih..rupanya lontong ini dimasak dengan santan. Konon Coto Makassar ini adalah hidangan para raja Sulsel. Hmm bisa membayangkan saat menyantap sesendok demi sesendok dipadu dengan es pisang ijonya.
Saat menyantap temen2 mengira, lontong tersebut dipotong dan dimasukkan kedalam mangkok, walhasil mangkoknya jadi kepenuhan. Maklum mangkok yang dipergunakan untuk coto Makassar ini lumayan kecil.
Hingga kemudian saya jelaskan bahwa lontongnya cukup digigit aja, nggak perlu dimasukkan ke dalam mangkok coto. Di Malang kita memang biasa memasukkan lontong ke dalam mangkok bakso.
Dan memang kita sungguh puas, pulang perut kenyang dan yang penting serasa berada di Makassar. 🙂